Red VOID
CH7
Part 6 : UNTOLD
There was hope and intoxication
Now all things are hallucination
Two beautiful soul who
Shared a dream together
None of them knew
When it got shattered.
—Richa Sahay
—*—
Warna jingga menyala dari pembakaran kayu di dalam perapian, terpias pada dinding ruang keluarga di sebuah rumah sederhana yang jauh dari kebisingan kota, memberikan kehangatan yang nyaman di awal musim gugur pada keluarga kecil yang tengah menikmati kebersamaan mereka. Gelak tawa riang seorang anak kecil berusia enam tahun, terdengar hingga ke luar rumah, selagi berbaring bercanda ria di atas karpet lantai yang hangat bersama sang Ayah sementara Ibu melipat baju di sofa, memperhatikan kedua jagoannya sembari sesekali ikut melepas tawa.
Kemudian anak laki-laki itu berlari menghampiri Ibunya selagi berseru antusias "Ibu, kata Ayah, Ibu bisa menirukan suara gajah, aku ingin mendengarnya aku ingin mendengarnya!"
Sang Ibu tampak terkejut, lalu mendelik pada suaminya yang kemudian tergelak berguling di lantai. "Ibu tidak bisa, sayang." Jawabnya pada si anak.
"Bohong, Ibu sangat mahir melakukannya." Sela sang Ayah, merasa tak puas mengerjai istrinya, ia memprovokasi anaknya.
"Tidak, sayang, Ayah lah yang berbohong." Balas sang Ibu sembari melempar tatapan tajam memberi peringatan pada suami yang tak terpengaruh sedikitpun dengan ancamannya namun justru melempar kedipan mata genit sebagai balasan.
Kening anak laki-laki itu bertaut melihat perdebatan kekanakan Ayah dan Ibunya, "Tapi...Ayah tidak pernah berbohong, Ibu." Ujarnya dengan bibir ditekuk.
Sang Ibu terhenyak melihat respon serius anaknya, lalu memandang dengan mata sendu, mendramatisir keadaan— "Jadi maksudnya, Ibu yang berbohong? Ah kau membuat Ibu sedih..."— berusaha mendapat simpati anaknya di balik senyum licik pada suaminya.
"Tidak, tidak... Ibu juga tidak berbohong, maafkan aku, Ibu." Dan sang anak mengambil umpan, membuat sang Ibu memberikan seringai kemenangan pada suaminya.
"Curang." Rajuk sang Ayah sembari berbaring miring memunggungi istri dan anaknya, sebelum kemudian merasakan pelukan dari tangan mungil anaknya dan tangan lembut istrinya dari belakang, lalu gelak tawa lepas seirama mengalun dalam kemas sebuah makna yang disebut bahagia.
Langit-langit loteng terlihat buram sebab genang air mata di pelupuk, menyisakan luka di awal pagi yang telah terbentang memancarkan sinar hangatnya ke dalam ruangan melalui jendela kaca. Kenangan kusam dari kebahagiaan semu di masa kecil yang ikut larut dalam mimpi, membuat ia enggan untuk keluar dari balut selimut sebelum syaraf otak menyodorkan petikan peristiwa tadi malam dalam seikat fragmen yang masih sangat segar, lantas seperti mengalami pengulangan yang nyata, sebuah ilustrasi berputar dalam benak, menyeret waktu berjalan mundur dan berhenti di saat ketika Profesor Kim masuk ke kamarnya, lalu cuplikan itu bergerak maju, dan maju...
"Ah," Desah Kyungsoo, menyeka sisa jejak air mata lalu mengubur wajah ke dalam bantal-, tiba-tiba ia tidak siap dengan perubahan yang terjadi.
"Kau menderita Dysania?"
Refleks tubuh berjengit, Kyungsoo mengangkat kepala untuk melihat ke arah pintu begitu mendengar suara Profesor Kim. Pria berkulit senada cokelat tembaga itu berjalan masuk ke dalam kamar, mengenakan kaus putih berukuran besar namun menjadi kecil di tubuhnya —yang Kyungsoo ketahui kaus itu adalah miliknya, tetapi untuk bagian bawah sepertinya Profesor Kim tak menemukan ukuran celana yang pas di lemarinya, karena itu dia tetap menggunakan celana yang dipakai sejak tadi malam, atau mungkin sudah sejak kemarin. Tentu saja, dia tidak akan menemukannya, karena perbedaan tinggi dan ukuran tubuh yang cukup signifikan.
Menyingkap selimut yang membalut tubuh, Kyungsoo bangun dari posisinya, "Ini pertama kali kau melihatku bangun di tempat tidur dan kau sudah bertanya apa aku menderita Dysania, Profesor Kim— ugh..." dan seketika menggeram kecil merasakan sedikit nyeri di antara selangkangan bagian belakang begitu ia dalam posisi duduk.
"Kau menangis?" Di samping ranjang, Profesor Kim berdiri, meraih pipi Kyungsoo ke dalam telapak tangan kala menyadari sembab di matanya.
Senyum kaku sebagai reaksi menyertai jawaban Kyungsoo. "Hanya sedikit bermimpi buruk." Ujarnya. Lalu ragu ia memandang Profesor Kim, dan Profesor Kim menangkapnya dengan ganjil.
"Ada apa?" Tanyanya.
Deham kecil mencerminkan kegugupan Kyungsoo, ketika ia juga menyadari bahwa piama yang dipakainya sekarang, bukanlah piama yang sama dengan yang digunakannya tadi malam. "Apa...kau mengganti piamaku?"
"Ya," Jawaban lugas dengan raut wajah bingung dan tampak polos Profesor Kim, tiba-tiba membuat Kyungsoo merasa seakan ia telah menyudutkan seorang pria tak berdosa.
Profesor Kim terkekeh kecil, tiba-tiba, yang mengundang kerutan bingung di kening Kyungsoo kali ini. "Aku harus mengganti piamamu karena kupikir kau tidak akan nyaman tidur dengan piama lengke— " Sigap tangan Kyungsoo menutup mulut Profesor Kim dengan tangannya sebelum Profesor itu menyelesaikan kalimatnya. Hanya...karena...
"...aku belum terbiasa." Kyungsoo melepas tangannya dari mulut Profesor Kim.
"Dengan?"
"Dengan perubahan sikap, dan obrolan kita."
Profesor Kim duduk di sisi ranjang, tersenyum lembut pada Kyungsoo, "Aku juga tidak bisa mengatakan bahwa aku sudah terbiasa. Tapi kita bisa menjalaninya dengan perlahan."
Kyungsoo terdiam menatap Profesor Kim lekat, sebelum membalas senyumnya. Sembari beranjak turun dari ranjang, Kyungsoo memegangi pantatnya sembari bertanya, "Apa terjadi sesuatu tadi malam?"
"Seharusnya terjadi. Jika kau tidak tertidur."
Ia menoleh pada Profesor Kim yang memberinya tatapan menyalahkan. Bola mata merengsek ke samping "Sepertinya aku tidak akan pernah terbiasa dengan obrolan ini."
"Padahal aku hanya menjawab pertanyaanmu." Lagi-lagi dengan wajah polos yang kini sangat terlihat dibuat-buat, Profesor Kim menjawabnya.
Kyungsoo menggeleng kepala selagi beranjak ke arah pintu, selama berjalan menuruni tangga, ia terus berpikir benarkah tadi malam tidak terjadi apa-apa? Mengapa ia merasa tidak nyaman di bagian bawahnya. Di sisi lain ia juga tidak bisa mengatakan bahwa telah terjadi sesuatu yang intim melebihi dari yang sudah terjadi tadi malam karena nyeri yang ia rasakan hanya sedikit, dan nyeri itu pun hilang begitu ia berendam air hangat di kamar mandi.
Selesai membersihkan diri, Kyungsoo melihat Profesor Kim menyiapkan sesuatu di ruang kerjanya, ia mengurungkan diri untuk naik ke kamarnya lalu menghampiri Profesor Kim.
"Apa ini?" Tanyanya.
"Hanya muffin, roti, susu dan pumpkin spice latte." Jawab Profesor Kim. "Aku tidak bisa menemukan bahan-bahan makanan di dapurmu, kita juga tidak memiliki waktu berbelanja dan memasak sebelum waktu sarapan pagi akan lewat, jadi aku keluar membeli ini, walaupun aku tidak tahu apa yang kau suka." Profesor Kim menggaruk tengkuknya, tanpa sadar. Beberapa terakhir Kyungsoo menyadari kebiasaan itu dilakukan Profesor Kim ketika sedang bingung atau gugup.
Kyungsoo mengambil duduk di sisi berseberangan dengan Profesor Kim, lalu mengambil sendok kemudian mencicipi muffin berwarna cokelat dengan taburan sesuatu yang renyah yang Kyungsoo bahkan tidak tahu namanya. "Aku tidak pemilih dalam hal makanan. Aku juga tidak memiliki bahan makanan karena aku tidak bisa memasak, tapi biasanya Minseok menyiapkan bahan-bahan makanan di dapur dan memasak untukku, hanya saja karena akhir-akhir ini toko sedang sangat sibuk, jadi dia tidak sempat mengurus hal-hal di dapur. Jika sudah begitu, kami hanya akan memesan makanan. Para karyawan di sini juga selalu makan di luar jika sudah waktunya makan siang." Di luar sadar, Kyungsoo berbicara tanpa henti, namun tersadar saat melihat Profesor Kim diam memandanginya. "Ah, aku membicarakan hal yang membosankan. Maaf."
"Tidak tidak, aku sangat senang mendengarnya. Ada banyak hal yang belum aku ketahui tentang kehidupanmu, dan mendengarmu berbicara banyak hal tentang dirimu itu membuatku sangat senang. Sadar atau tidak, kau sangat pendiam dan tertutup, jadi saat kau mulai banyak berbicara, itu membuatku terpaku. Kau terlihat seperti bocah polos yang manis." Cengiran lebar terbentuk di wajah Profesor Kim, dan berubah gelak tawa kala melihat tatapan tajam tak terima Kyungsoo atas kalimat terakhirnya.
Mengobrol, bercanda, tertawa, bersama Profesor Kim adalah hal yang sangat baru bagi Kyungsoo, hari dimana Profesor Kim resmi masuk dan menjadi bagian hidupnya. Pagi yang berlalu dengan damai dan menyenangkan, setidaknya sebelum lima menit ia kembali ke kamarnya dan menemukan sebuah kantong plastik putih di atas meja.
Kyungsoo mengeluarkan sebuah kotak panjang berwarna cokelat yang bertuliskan 'Lube' di bagian luar, sejenak memperhatikannya bingung. Kemudian ia mengeluarkan kotak kecil yang lain berwarna biru bertuliskan 'Rubber' di bagian sisi pojok atas kotak itu dengan huruf abjad kecil namun mencolok dengan warna tulisannya yang merah terang. Mulanya Kyungsoo tak mengetahui apa benda itu namun ia cukup tertegun saat memeriksa isinya hingga membuat telinganya memerah.
Kala mendengar pintu kamar dibuka, Kyungsoo berbalik dan mengangkat kotak itu sejajar dengan wajah Profesor Kim yang masuk ke dalam ruangan. "Kukira seseorang telah berkata kalau kita akan menjalaninya perlahan."
Nada menginterogasi Kyungsoo, mengundang tawa ringan Profesor Kim, ia menghampiri dan mengambil kotak biru dari tangan Kyungsoo. "Ini hanya untuk berjaga-jaga." Elaknya. "Tapi kukira juga seseorang tadi malam tidak keberatan jika melangkah lebih jauh?" Godanya sembari meletakkan dua kotak itu ke dalam laci meja Kyungsoo.
"Tidak." Suara tegas yang justru menyiratkan keraguan dalam raut wajah Kyungsoo, tidak cukup meyakinkan Profesor Kim.
"Tidak?"
"Tidak." Kali ini Kyungsoo mengalihkan pandangan, menghindari mata Profesor Kim.
"Hmm,, walaupun sekarang kau bilang iya, aku juga tidak akan melakukannya." Profesor Kim duduk di kursi depan meja, mendongak melihat reaksi Kyungsoo yang sedang berdiri di hadapannya.
Dan Kyungsoo tak bisa menyembunyikan perasaan luka dari kalimat Profesor Kim. Mengapa? Apa karena ia adalah seorang pria? Apakah Profesor Kim telah menyesali sesuatu setelah apa yang terjadi tadi malam? Apa—
"Apa yang kau pikirkan?" Sela Profesor Kim.
"Mengapa kau tidak mau melakukannya?" Sergah Kyungsoo.
Helaan napas berat Profesor Kim kemudian seolah menjadi ribuan jarum yang menusuk tubuhnya sekaligus. Hal itu membuat Kyungsoo gugup dan ekspresinya berubah muram.
"Karena kau belum siap."
"Jika sekarang aku berkata aku sudah siap apa kau akan melakukannya?" Tuntut Kyungsoo.
"Tidak."
"Kenapa?"
Jika tidak menahan diri, mungkin Kyungsoo akan benar-benar menangis, bukan karena sangat ingin 'melakukannya', tetapi entah mengapa Profesor Kim seolah telah menolaknya, seolah Profesor itu tidak bersungguh-sungguh dengan perasaan terhadap dirinya.
"Apa yang kau pikirkan?"
Kyungsoo tersentak saat Profesor Kim menarik tangannya dan menuntunnya duduk di atas pangkuannya.
"Dengar," Ujar Profesor Kim, menatap Kyungsoo sembari melingkarkan kedua tangan di pinggang Kyungsoo. "Terlihat jelas bahwa sekarang kau meragukanku tapi apapun yang kau pikirkan saat ini, kupastikan bukan itu alasannya. Kau, hanya belum siap, aku tidak menolakmu dan tidak akan pernah menolakmu. Jika kupikir kau sudah siap, maka aku akan memberitahumu dan aku akan menghargai keputusanmu jika kau ingin melakukannya atau tidak."
"Mengapa aku siap atau tidak kau yang memutuskan."
"Karena aku yang tahu."
Kerutan di dahi Kyungsoo menggambarkan kebingungannya.
"Lagi pula, bukankah aku yang seharusnya sedih sekarang? Pertama kau menolakku, dan kedua kau meragukanku. Bagaimana kau menjelaskannya?" Berbalik Profesor Kim yang menuntut dan sekarang Kyungsoo harus menjelaskannya.
"Aku tidak benar-benar menolakmu, aku hanya...hanya bingung. Bagiku, kehadiranmu masih terasa canggung." Kyungsoo tertunduk, memegangi kaus Profesor Kim dengan berharap bahwa perasaannya akan tersampaikan. "Kim Jongin yang sebelum menerobos ke dalam kamar ini dan Kim Jongin yang sesudah menerobos ke kamar ini, mereka berbeda dengan status berbeda. Aku masih merasa asing dengan Kim Jongin yang sekarang memelukku di pangkuannya."
Profesor Kim tersenyum mendengar pelabelan dirinya terucap dari bibir Kyungsoo. Dengan lembut ia menarik leher Kyungsoo kemudian berkata, "Boleh aku menciummu?"
Dan Kyungsoo mencium Profesor Kim lebih dulu tanpa menjawabnya dalam rangkaian atau sebuah kalimat. Inisiatif pertama Kyungsoo yang sesaat mengejutkan Profesor Kim namun segera menenggelamkan diri dalam kelembutan bibir Kyungsoo yang menciumnya dengan kaku, sangat terlihat bahwa Kyungsoo tidak pernah memiliki pengalaman dalam sebuah hubungan. Ia merengkuh tubuh Kyungsoo dalam pelukan, menyelam lebih dalam ke dalam kenikmatan yang ditawarkan bibir ranumnya. Mengecup kenyalnya seolah di sana tersimpan sari yang begitu manis dan tak akan pernah habis.
—
—
Malam kian petang. Lampu-lampu neon di sisi setiap jalan menyala satu persatu, mengundang kupu-kupu malam menghampiri dan terbang berkepak-kepak di bawah cahaya. Di bagian semak-semak yang gelap, kunang-kunang menebar pesonanya dengan cahaya hijau yang berkedip-kedip. Tak seperti di pusat kota, letak toko bunga berada cukup jauh dari keramaian, sehingga suasana malam menjadi sangat tenang, menyegarkan tubuh penat setelah bekerja seharian. Kyungsoo mendorong pintu toko, membuat lonceng yang tergantung di atasnya berbunyi, Minseok dan beberapa karyawannya menoleh padanya dan mengucapkan selamat datang, lalu melanjutkan merapikan toko yang sebentar lagi akan di tutup.
"Kenapa kau pulang terlambat? Ini sudah pukul sembilan." Minseok menyodorkan sebuah pot yang ditanami sebuah pohon bunga berkelopak warna putih dengan kuning di bagian tengah, pada Kyungsoo. "Letakkan ini di loteng, supaya mengusir serangga dan energi buruk di kamarmu."
Kyungsoo menerimanya sembari tersenyum kecil menangkap sarkasme Minseok, Profesor Kim pasti sudah berada di kamarnya. "Profesor Luhan memiliki banyak pekerjaan di laboratorium, aku harus membantu untuk menyelesaikan." Ia berjalan hendak masuk ke ruang kerjanya sebelum menyadari keberadaan beberapa bunga baru di rak kayu. "Hari ini hari pengiriman?"
"Ya. Ada beberapa bunga impor baru. Sebagian masih berada di gudang untuk perawatan." Jawab Minseok, melepaskan celemek merahnya lalu melipatnya.
Kyungsoo menunduk menatap bunga di pot yang dipegangnya. "Seingatku kita tidak pernah menjual Gardenia."
"Aku sengaja membelinya. Sudah kukatakan itu untuk mengusir hal-hal buruk dari kamarmu, sir." Penekanan pada kalimat terakhirnya membuat Kyungsoo menyadari satu hal,
"Kau sangat tidak menyukainya?"
"Aku ikut bahagia jika kau bahagia, tapi aku merasa dia hanya akan membawa kemalangan padamu." Meletakkan celemek ke dalam loker yang berderet dengan kasir, Minseok kemudian mengambil tas ransel miliknya. "Aku memang berkata bahwa tidak apa-apa untuk sesekali egois untuk kebahagian kita sendiri, namun jika itu hanya kebahagiaan semu yang direncanakan hanya berlangsung sementara, bukankah itu artinya tidak ada ketulusan di dalamnya?"
Kyungsoo terpaku atas kepekaan Minseok. Terdiam tak menanggapi para karyawan yang berpamitan untuk pulang, ia juga terjebak di dalam kalimatnya.
Pria bermata sipit menghela napas. "Maafkan aku." Ujarnya. "Aku hanya berharap kau tidak menyakiti dirimu sendiri, sir."
Senyap.
Kyungsoo tertunduk menatap bunga Gardenia, tak mampu membalas Minseok untuk menghilangkan kekhawatirannya.
"Selamat malam, sir."
Kyungsoo memandang kepergian Minseok keluar dari pintu toko. Ruangan luas menjadi sunyi, sesaat ia masih mematung di sana, lalu masuk ke dalam ruang kerja. Menaiki tangga ke atas loteng, pikirannya dipenuhi oleh kata-kata Minseok, lantas enyah kala ia membuka pintu kamar dan melihat profesor Kim sedang duduk membaca sebuah buku di atas ranjang dengan kaki panjangnya berselonjor hingga hampir mengalahkan panjang kasur. Rambut tampak masih basah menandakan bahwa belum lama dia selesai mandi, kaus abu-abu dan celana piama bermotif kotak-kotak warna merah dan hitam, dipakainya. Profesor Kim melepas kacamata yang digunakannya saat membaca, begitu melihat Kyungsoo masuk melewati pintu, kemudian pandangannya teralih pada bunga Gardenia yang tertanam di pot yang dibawanya,
"Secret love." Ujar Profesor Kim. "Untold love." Lanjutnya.
Terkekeh Kyungsoo berjalan meletakkan bunga Gardenia di meja samping jendela. "Di antara beberapa makna bunga Gardenia, kau dan Minseok benar-benar memilih makna yang berlawanan."
"Jika dia memberikan bunga itu padamu di saat dia tahu aku ada di sini, tidak heran jika dia memilih arti yang buruk." Senyum profesor Kim melukiskan pengertian, pemakluman yang bijaksana, yang Kyungsoo lihat itu adalah sisi Profesor Kim sebagai seorang pria dewasa.
Meletakkan kacamata dan bukunya di meja kecil dekat ranjang, profesor Kim lalu mengulurkan tangan pada Kyungsoo, menarik tubuhnya ke dalam pelukan ketika genggaman tangannya disambut. Kyungsoo menyandarkan kepala di dada Profesor Kim, tempat paling nyaman yang pernah ia rasakan.
Memandang pada seisi ruangan, Kyungsoo melihat kamarnya hampir penuh oleh barang-barang profesor Kim. Lemari pakaian yang sudah tidak muat lagi diisi baju-baju miliknya dan Profesor Kim. Buku-buku tebal bersusun-susun di lantai. Beberapa sepatu berjejer di dekat pintu. Ada banyak lebih dari itu, sejak profesor Kim tidak pernah pulang ke rumahnya.
"Tidak ada yang bertanya mengapa kau tidak pulang?" Mencoba membuat pertanyaan itu terdengar biasa, justru suara datar yang keluar, terdengar dingin.
"Kau ingin aku pulang?"
Kyungsoo tak menjawab. Ia merubah posisinya menjadi miring, semakin dalam meringkuk ke pelukan Profesor Kim.
"Aku malas mengganti baju karena aku sangat mengantuk." Dengan suara parau, Kyungsoo berkata selagi memejamkan mata.
Profesor Kim menepuk-nepuk punggung Kyungsoo perlahan. "Tidurlah." Ujarnya.
Lalu dalam sekejap ia terlelap. Menyerah pada lelahnya tubuh setelah bekerja seharian. Mimpi-mimpi dalam tidur terbentuk dalam sketsa buram, dan acak. Ia bahkan tak tahu itu hal baik atau hal buruk, hingga ia merasakan sesuatu yang asing, yang dirasakan tubuhnya. Ia menggeliat, mencoba melepaskan diri dari rasa tidak nyaman itu, merengek ketika rasa itu justru terus mengejarnya, enggan melepasnya. Rasa itu nyata, namun juga tidak nyata dalam tidurnya. Ia sadar bahwa ia sedang berada dalam alam tidur.
"Ah!" Terpekik, Kyungsoo merasakan sesuatu menggetarkan tubuhnya, mengirim gelenyar panas yang membungkus, membuat ia ingin berlari ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tidak, bukan air kecil, tetapi sesuatu yang lain.
Memaksa mata untuk terbuka, pandangan samar menangkap sebuah wajah tersenyum di atasnya. Kyungsoo mengerjap berkali-kali, mencoba menjernihkan penglihatan, dan ia mendapatkannya. Profesor Kim. Dia sedang tersenyum lembut menatapnya yang terkungkung di bawahnya.
"Tepat di saat aku menemukannya, kau terbangun. Setelah selama ini kau hampir tak pernah merespon."
Kyungsoo tertegun. Proses pikirnya membutuhkan waktu untuk menangkap kalimat profesor Kim, setelah tidur lelap sejenak membutakan kesadarannya.
"Apa yang kau katakan?" Kyungsoo bertanya dengan pandangan lugu yang menyiratkan kebingungannya.
Sesaat profesor Kim diam, tatapan tak lekang dari mata hitam berkilau Kyungsoo. Lalu Kyungsoo kembali terpekik, saat sesuatu yang keras bergerak menyentuh dirinya di antara selangkangannya kemudian. Meremas kaus abu-abu profesor Kim, ia mengangkat kepala untuk melihat ke bawah. Rasanya dagunya akan jatuh kala ia melihat situasi dirinya, telanjang, berkeringat, miliknya basah oleh precum yang lengket, dan...dan... Kyungsoo tidak tahu bagaimana menginterpretasikan apa yang ia lihat di bawah sana. Tapi, tiga dari lima jari profesor Kim berada di dalam dirinya. Saat jari-jari itu bergerak, akan menimbulkan reaksi yang hebat dari dirinya diluar kendali, membuatnya memekik mengeluarkan suara asing yang terdengar memalukan di telinganya.
"Apakah...ini yang kau maksud bahwa kau lah yang tahu kapan aku siap atau tidaknya?" Suara serak yang terengah-engah saat ia berbicara, juga membuatnya menyadari penyebabnya. Rasa nikmat. "Karena itu setiap bangun pagi aku merasakan hal aneh pada tubuhku." Ujarnya memberi tatapan menuduh pada Profesor Kim.
Mendekatkan wajah, Profesor Kim mencium ringan bibir Kyungsoo. Lalu menjelajahi ceruk lehernya dengan ciuman-ciuman kecil sembari menjawab ; "Karena jika nanti tiba pada saat kita sepakat akan melakukannya, aku tidak ingin kita terburu-buru. Sebab jika melakukannya tanpa persiapan, itu akan menyakiti kita berdua, terutama dirimu. Bagaimana pun, ini pertama kalinya untuk kita berdua."
Kyungsoo memejamkan mata, merasakan sentuhan-sentuhan halus bibir Profesor Kim. "Bagaimana kau mengetahuinya?"
"Luhan memberitahuku."
Ia membuka mata, terkejut. Luhan?
"Jadi Profesor Luhan..."
"Ya." Sela Profesor Kim.
Oh. Ia benar-benar tidak mengetahui jika Profesor Luhan lebih memilih laki-laki sebagai pasangan.
"Apa kau keberatan?" Berhenti menciuminya, Profesor Kim kembali pada mata Kyungsoo, siap mengkonfirmasi jawabannya.
"Setelah sejauh ini?" Ujar Kyungsoo.
"Jika aku bertanya terlebih dahulu apa kau akan keberatan?"
Memgetahui bahwa Profesor Kim dengan hati-hati mencari jawaban sejati ke dalam dirinya kala dia menatapnya lekat, Kyungsoo tahu bahwa apapun yang dilakukan Profesor itu tidak pernah dimaksudkan sebagai hal buruk. "Jika itu untuk kebaikan kita, maka tidak."
Lalu merasa puas dengan jawaban Kyungsoo, Profesor Kim kembali mencium bibir Kyungsoo, memyesapnya keras sementara jari-jarinya di dalam Kyungsoo kembali bergerak, mengekplorasi, menekan bagian yang akan membuat Kyungsoo mengejang dengan desahan erotis.
"Jadi... apa...aku belum siap?" Tanya Kyungsoo terengah.
"Setidaknya sudah sejak tiga hari yang lalu kupikir kau sudah siap." Jawab Profesor Kim di atas bibir Kyungsoo.
"Lalu apa yang kau tunggu?"
Pria yang lebih tinggi, diam. Termangu. Menatap Kyungsoo dalam, gejolak matanya melukiskan keragu-raguan, sebelum itu sirna kala Kyungsoo menarik kaus Profesor Kim ke kepalanya dan saat terlepas dari tubuhnya, Kyungsoo melemparnya ke lantai kayu kamar loteng. Lantas Profesor Kim bergerak seirama, menurunkan celana piamanya setelah mengeluarkan jari-jarinya dari dalam Kyungsoo. Kemudian memposisikan kejantanannya di permukaan pembukaan Kyungsoo yang basah dan kemerah-merahan. Napas memburu, namun ia menahan diri untuk tak terburu-buru langsung mendorong ke dalam Kyungsoo.
"Kau yakin?" Tanyanya.
"Kau benar-benar... masih menanyakannya?" Balas Kyungsoo.
Merasa semua keraguannya telah teratasi, Profesor Kim memegang pinggang Kyungsoo, dalam dorongan lambat ia membawa dirinya masuk, menembus ketatnya Kyungsoo yang ia pikir telah cukup teregang dan pas dengan miliknya. Berhenti ketika ia mencapai titik terdalam Kyungsoo, Profesor Kim menatapnya, Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, wajahnya memerah, air mata mengalir dari sudut mata yang terpejam, dalam kondisi itu Kyungsoo menjadi sangat seksi hingga membakar hasratnya, namun begitu menimbulkan rasa khawatir. Ia dapat merasakan bahwa Kyungsoo menahan sakit. Kemudian ia meraih milik Kyungsoo, mengocoknya lembut untuk mengalihkan rasa sakitnya.
"Aku baik-baik saja." Ujar Kyungsoo membuka mata.
"Tidak." Sergah Profesor Kim dengan raut wajah khawatir dan bersalah.
"Kau akan mengetahuinya jika kau bergerak." Balas Kyungsoo, tersenyum meyakinkan pada kehati-hatian Profesor Kim yang keras kepala.
Meraih bantal lalu meletakkannya di bawah pinggang Kyungsoo, Profesor Kim lantas bergerak, dengan gerakan yang sangat perlahan, kemudian ia mengerti bahwa Kyungsoo tidak hanya ingin menghibur dirinya, Kyungsoo sungguh tidak terlihat kesakitan, meremas seprai ranjang sementara bibir ranum terbuka melantunkan desahan nikmat. Profesor Kim tahu kemana ia harus mengarahkan kejantanannya untuk memberi kenikmatan lebih pada Kyungsoo, walaupun mulanya sedikit kesulitan menemukannya dibanding saat ia menggunakan jari, tetapi ia mengenainya. Tubuh Kyungsoo menggeliat, memandang Profesor Kim di atasnya dengan hasrat yang membuncah, namun Profesor itu masih hanya mendorong ke dalam dirinya dengan perlahan, mengontrol diri seolah takut akan menyakitinya.
"Jangan menahan diri... Kumohon." Tegur Kyungsoo, meraih leher Profesor Kim lalu menarik padanya untuk menciumnya, kesekian kali.
Jawaban Kyungsoo dapatkan, Profesor Kim meraih kedua pahanya, memegangnya lalu mendorongnya hingga lutut menyentuh dadanya, dari posisi itu Profesor Kim dapat melihat dengan jelas pada kejantanannya yang menghujam dalam ke dalam tubuh Kyungsoo. Geraman terlepas dari bibir Profesor Kim yang tertutup rapat saat ia mulai mendorong cepat, ujung kejantanan ia hantamkan pada prostat Kyungsoo sehingga jeritan melengking yang erotis ia dengar dari suaranya. Desahan demi desahan saling bersahutan, bunyi lecek dari basahnya permukaan mulut belakang Kyungsoo membangkitkan hasrat semakin ke ujung. Dinding yang berdenyut dan hangat di dalam tubuh Kyungsoo, berkontrasi setiap ia menghujam, membuat kejantannya terasa dibungkus serta diremas dengan sempurna, menyiksa karena ruang gerak menjadi sempit tetapi nikmat luar biasa ia rasakan.
Air mata tak henti mengalir dari sudut mata Kyungsoo. Ia gemetar di bawah gagahnya tubuh Profesor Kim yang terus menginvasi ke dalam dirinya. Desahan dan jeritan memalukan tak ia pedulikan lagi, terlalu larut tenggelam ke dalam lautan kenikmatan hasrat yang membara. Suara antara pantat dan paha yang saling terbentur, semakin nyaring seiring cepatnya tempo gerak Profesor Kim. Tubuh Kyungsoo terdorong hingga kepala terbentur ke punggung ranjang yang terbuat dari besi, namun Profesor Kim menunduk lalu meletakkan satu tangannya di kepala Kyungsoo, melingdunginya agar tak terluka. Sikap itu menimbulkan haru pada Kyungsoo, ia meraih kepala Profesor Kim dan mencium bibirnya penuh kasih.
Napas berderu berat, keringat membasahi. Perut Kyungsoo lengket oleh precum, ia ingin menangis sekerasnya karena terus dihujani kenikmatan yang tak henti Profesor Kim berikan. Dinding yang terus digesek dan permukaan prostat yang sepertinya telah membengkak oleh hujaman kejantanan Profesor Kim, menyeret ia pada kebahagiaan berbalut kepuasan. Jari-jari kaki menggulung, kuku-kuku jari tangan menancap mencakar punggung Profesor Kim, bibir bengkak berwarna merah gelap terbuka melepaskan desahan parau, kemudian ia mencapai pelepasan orgasmenya. Tubuh Kyungsoo gemetar tanpa henti, meracau dan merengek seperti anak anjing yang melebur dalam ekstasi. Sementara ia berenang di dalam kepuasan, terdengar geraman dari dalam dada Profesor Kim saat tubuhnya tegang tetapi pinggulnya tak henti bergerak. Dia pun berada di ujung, kejantanan yang keras menghentak dalam saat Profesor Kim ejakulasi di dalam Kyungsoo, membuat Kyungsoo menggeliat merasakan sperma Profesor Kim memenuhi dirinya dan membasahi dinding-dindingya. Ia kembali gemetar di bawah Profesor Kim, memandangi pria di atasnya yang menengadah selagi memejamkan mata dalam pelepasan nikmatnya, kemudian tertunduk menatap Kyungsoo setelahnya.
Mengubur wajahnya di ceruk leher Kyungsoo, Profesor Kim mengatur napas, lalu berkata, "Aku lupa menggunakan kondom."
"Kau harus bertanggung jawab." Canda Kyungsoo.
Kekehan kecil lepas di antara napas yang terengah. "Dengan senang hati." Balas Profesor Kim sembari mencium kening Kyungsoo kemudian.
Jika itu adalah kebahagiaan semu, maka biarlah kenangan pahitnya kelak mengukir sebagai bukti bahwa ia pernah ada bersamanya, di sisinya.
.
Continued...
— * —
