Malam itu, Rin berterimakasih pada Tuhan, karena saat itu Tuhan telah mengabulkan satu permohonannya.
Satu permohonan yang selalu diucapkan gadis itu sebelum menutup matanya dan bermuara ke tempat dimana tak ada batasan waktu dan tempat bernama mimpi.
Satu permohonan yang kini berwujud nyata di malam ini.
Satu permohonan…. Untuk ada seorang malaikat yang berjanji akan menjaganya, dan malaikat itu mempunyai nama… dia, malaikat itu…
Len Kagamine.
.
.
.
.
Inilah aku dan segala takdir yang kubawa di pundakku
Sesekali berhenti berpijak dan mengkhayal sedang terbang diangkasa
Tuhan, aku tak meminta beban yang ringan
Tapi kumohon, kuatkan langkahku
Aku sudah lelah mengeluh dan bertanya mengapa
Untuk itu
Jika aku telah merasa lelah, yakinkan aku senyum-Mu menanti diujung sana
Chef vs Singer
Disclaimer: Vocaloid isn't mine
Typo(s), berantakan, abal, gaje
.
.
.
Kriiiiiiiinggggg….!
Sebuah alarm yang berbentuk persegi panjang berwarna hijau muda itu menyala tepat pada waktu yang sebelumnya telah dipasang oleh pemilik apartemen itu. Suaranya yang nyaring dan tiba-tiba tak mampu mengusik ketenangan tidur dari pemuda pirang yang masih setia memejamkan matanya.
Tapi tidak dengan seorang lainnya yang juga ada di ruangan itu. Gadis itu menggeliat kecil, memaksa kedua kelopak matanya terbuka walau perlahan. Dengungan di kupingnya sangatlah mengganggu, dan itu membuatnya berdecak kesal karena tidur nyenyaknya harus berakhir di pagi ini.
Perlahan dia menggerakkan tubuhnya, berniat mematikan alarm itu dan kembali melanjutkan mimpi indahnya, tapi sebuah lengan kokoh yang mengalungi perutnya membuat pergerakan gadis itu terhenti. Seseorang tengah memeluknya erat dari belakang, dan dia baru menyadari itu sekarang.
"Kyaaaaaaaaaaa…!"
Dan sebuah teriakan cempreng pun menggema di pagi itu beriringan dengan deringan alarm yang tak kunjung berhenti. Kombinasi dua suara memekakkan itu sukses membuat pemuda itu bangun dengan tiba-tiba, terkejut dan juga panik mendengar suara perempuan yang melengking tinggi menyambut hari barunya.
Len mendengus jengkel saat tahu siapa oknum utama yang merusak tidur lelapnya itu, siapa lagi kalau bukan gadis manis yang semalaman terus meracau hingga mau tidak mau Len menenangkannya dan baru tidur pukul empat pagi. Dan kini dia jugalah yang mengacaukan istirahatnya yang sangat berharga mengingat dia jarang sekali memilliki banyak waktu untuk beristirahat.
"Ck. Apa masalahmu?" tanya Len kesal.
Gadis itu menatap Len dengan raut yang tidak biasa, hingga Len tidak bisa menebak apa yang dipikirkan oleh chef manis itu.
"Masalahku? Tentu saja kau! Kenapa kau tidur seranjang dengankuu? Apa yang sudah kau lakukan padaku, pisang?"
Len kembalimendengus sebal, pandangannya yang masih belum terbuka sempurna itu mengarah pada wajah Rin, seketika niat jailnya timbul melihat kepanikan yang terulas di wajah manis itu.
"Memang kau tidak ingat? Semalam kau menyuruhku melakukan sesuatu, kan?"
Rin mengernyit, melakukan sesuatu apa?
"Tidak, kau jangan mengada-ada!"
"Hm? Benarkah? Lalu apa kau tak ingat saat kau berteriak semalam?"
Rin terdiam sejenak, hingga kemudian dia menggelengkan kepalanya sekali.
"Begitu? Kalau begitu biar kuberitahu." Len berdiri lalu membalik badan Rin kearah pintu, dituntunnya pelan gadis yang masih memasang wajah bingung itu hingga tiba di daun pintu yang telah Len buka sebelumnya.
"Nah, gadis manis. Sudah ingat?"
Rin menggeleng, ah betapa polosnya gadis itu Kami-sama.
"Lihat telunjukku baik-baik. Perhatikan, jangan berkedip." Len mengayunkan telunjuknya tepat di depan kedua manik biru Rin, memutarnya beberapa kali di udara, dan terakhir menyentil dahi Rin cukup kencang hingga membuat gadis itu terdorong kebelakang beberapa langkah.
"Jangan mengganggu tidurku, jeruk aneh!"
Brak!
Dan pintu pun sukses mendapat bantingan dari penyanyi muda itu, menyisakan seorang gadis dengan wajah merah padamnya,
"SHOTA SIALAAAAANNNN!"
Ah, pagi yang indah. Bukan begitu?
.
.
.
.
"Rin! Len! Lama tak jumpa! Aku merindukan kalian tahu."
Len memandang Mikuo malas, pemuda negi itu langsung berkata seperti itu ketika Len membukakan pintu apartemen untuknya. Dan ditambah dengan adegan mellow dramatis dimana Mikuo memeluk Len sambil berpura-pura menyeka air matanya. Sungguh pemandangan syarat akan kekeliruan bagi siapa saja yang belum mengenal hubungan kedua pemuda beda warna itu.
Bletak!
Dan adegan ala sinetron itu pun terhenti begitu Len bisa melepas sandal rumah miliknya yang langsung menghantam kepala Mikuo kencang.
"Kau baru bertemu kami semalam, hijau aho."
Mikuo mengerucutkan bibirnya, sedikit menggerutu akan sambutan hangatnya yang dibalas dengan sikap segunung es dari artisnya itu.
"Ohayou, Mikuo. Makan bersama kami, ya?" Rin tersenyum kearah Mikuo begitu melihat pemuda itu berjalan melewati meja makan.
Bibir Mikuo kembali tertarik, matanya berbinar senang dan lehernya mengangguk bersemangat. Setidaknya sikap manis Rin mampu membuat pemuda itu sedikit melupakan kekesalannya pada si pisang shota itu.
"Ohayou, Rin-chan. Wah, apa tidak merepotkan? Aku jadi tidak enak." kata Mikuo sambil menundukkan wajahnya sedikit dan menggaruk tengkuknya. Tingkahnya jadi seperti seorang gadis yang malu-malu saat berhadapan dengan orang yang disukai. Dan itu membuat Len bertambah malas melihat si hijau itu.
"Tidak usah basa-basi. Setiap pagi juga kau selalu ke apartemenku untuk menumpang makan. Dan jangan bersikap menjijikan seperti itu, membuat selera makanku hilang."
Mikuo memicing kearah Len yang sudah duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja kayu jati itu, sekali lagi, Mikuo kembali menggerutu dengan sikap Len yang sungguh menyebalkan.
"Huh, tapi kan ini beda. Setiap hari aku sudah memakan masakanmu, dan sekarang yang memasak adalah koki dari restoran bertaraf internasional. Apalagi dia juga menyandang status sebagai Professional Chef of The Year. Jadi wajar saja kan aku sedikit basa-basi." Mikuo lalu mendudukkan dirinya di bangku yang berhadapan dengan Len, sesekali mencuri keripik pisang milik Len saat pemuda itu sibuk dengan PSPnya.
"Tidak apa-apa, Mikuo. Aku justru senang kau bisa bergabung. Nah, ini makananmu." Rin mendatangi kursi Mikuo sambil meletakkan semangkuk Chawan Mushi yang masih hangat di hadapan pemuda itu.
"Waah, Chawan Mushi. Aku sudah lama sekali tidak makan ini. Arigatou, Rin-chan."
"Semoga kau menyukainya, Mikuo. Dan Len, ini makananmu." Rin berputar arah ke kursi Len, dan juga meletakkan makanan yang sama di hadapan Len.
Len tidak berkata apa-apa selain mengangguk sekali, lalu meletakkan PSP gold miliknya dan mengambil sendok bebek yang diletakkan Rin di samping mangkuknya.
"Itadakimasu." Ketiga orang di meja makan itu berkata serempak, lalu memakan sarapannya masing-masing dengan tenang. Mikuo yang biasa ribut pun kini tengah lahap memakan Chawan Mushi buatan Rin yang langsung habis kurang dari sepuluh menit.
"Ano, Rin. Apa kau masih punya Chawan Mushi lagi?" Mikuo menatap Rin malu-malu, ditatapnya lagi mangkuk putih miliknya yang sudah habis tak bersisa padahal perutnya masih berdemo minta diisi lagi.
Rin tertawa kecil, "Ada dua mangkuk lagi. Sebentar kuambilkan ya."
"Ah, biar aku saja." Mikuo yang melihat Rin hendak berdiri langsung menyanggah, tidak ingin merepotkan gadis manis itu lebih dari ini, dirinya langsung melesat kearah dapur sebelum Rin sempat berkata lagi.
"Dasar rakus." Len mendengus sebal melihat tingkah manajernya yang sama sekali tidak elit baginya.
"Apa kau tidak ingin nambah lagi, Len? Sebaiknya kau makan yang banyak, besok kau mulai bekerja lagi kan?" Rin memandang Len yang masih sibuk menyendoki makanan seperti bubur itu dengan lahap.
"Sebaiknya kau yang makan banyak. Tubuhmu kecil sekali, sudah masuk musim hujan, bagaimana kalau kau terbawa angin dan hanyut di kubangan?"
Tuing!
Sudut siku-siku tak kasat mata tampak di kepala Rin, matanya memicing sebal kearah Len yang masih saja belum lepas dari mangkuk keramiknya. Menggeram kecil, Rin menudingkan telunjuk kanannya tepat di depan kedua mata Len.
"Sekecil-kecilnya tubuhku, aku tidak pernah terbawa angin apalagi sampai hanyut di kubangan. Kau kira kubangan itu sungai yang bisa menghanyutkan? Dasar jelek bodoh menyebalkan."
Kini giliran Len yang menunjukkan sudut siku-siku itu, matanya menatap Rin tajam dan menepis telunjuk Rin yang masih menunjuk kearahnya, "Oh ya? Kalau begitu kusebut kau apa? kecil sok dan urakan?"
"Kau yang memulai, kenapa kau yang sewot?"
"Kau yang mengejekku terlebih dulu."
"Enak saja, kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!"
"Kau!
"Kau!"
"Len Kagamine…."
"Rin Kagamine…."
"MIKUO HATSUNEEE….!"
Krik… Krik…
Len dan Rin serempak menoleh kearah masuk dapur, dan disanalah Mikuo dengan mulut yang belepotan Chawan Mushi dengan sendok yang masih meluberkan makanan itu di tangan kanan dan mangkuk putih keramik di tangan kirinya. Berdiri bersemangat dengan cengiran lebar dan mengangguk-angguk ceria.
"Kalian sedang apa? Main ya? Wah aku ikuuuuttt."
Hening. Dua pirang itu berpandangan dengan tatapan aneh satu sama lain, kemudian memutuskan untuk menyudahi acara sarapan konyol itu. Len berdiri setelah mengelap mulutnya dan langsung bersiap mengantar Rin. Sedangkan Rin membereskan alat makan yang kotor dan menaruhnya di wastafel untuk direndam mengingat ada sisa telur yang lengket jika dicuci langsung.
Mikuo? Dia hanya menatap dua orang yang sibuk dengan urusannya masing-masing itu dengan tatapan bingung, ditambah lagi kedua orang itu yang juga tidak bersuara sedikit pun, membuat Mikuo menggaruk kepalanya.
"Ada apa sih?" Sekarang kalian sedang main apa?"
Dan dua Kagamine itu semakin yakin untuk segera meninggalkan apartemen itu yang berarti juga meninggalkan pemuda hijau yang sekarang sedang eror entah karena apa.
"Ittekimasu." Sahut keduanya serentak begitu melangkah melewati pintu apartemen.
Mikuo kembali menggaruk kepalanya, masih memasang raut bingung dan tidak mengerti,
"Dasar dua pirang aneh."
Untung kedua orang itu telah pergi, jika mereka mendengar gumaman Mikuo tadi, bisa dipastikan besok Mikuo akan menjadi headline utama semua media pemberitaan yang bertajuk 'Produser serta Manajer ternama meninggal setelah dilempar artisnya dari kaca jendela di lantai tujuh puluh dengan kondisi mengenaskan setelah sebelumnya dipanggang selama dua jam.'
Mikuo, Kami-sama masih melindungimu. Bersyukurlah, kawan.
.
.
.
.
.
"Cepat naik!" Len menekan emosinya untuk kesekian kali. Pasalnya, sudah lima belas menit dia menyuruh Rin untuk naik ke mobilnya tetapi gadis itu malah bernyanyi keras-keras sehingga membuat Len kesal.
Berkalli-kali dia menepuk bahu Rin agar gadis itu mengalihkan perhatian padanya dan mau menuruti apa yang diperintahkannya. Tapi Rin hanya menatap Len sekilas lalu kembali berpura-pura seakan Len tidak ada disana. Dan cukup, seorang Len Kagamine tidak akan bertahan untuk tidak marah jika sedang kesal selama lebih dari lima menit tanpa berkesudahan.
Apa yang dilakukan oleh Rin sudah membuat darahnya naik ke ujung kepala, membuat buku-buku jarinya memutih akibat pemuda itu mengepalkan kedua tangannya kencang. Andai saja Rin bukan seorang gadis, maka sudah dipastikan sedaritadi dia menghantam wajah manis itu.
"Sekali lagi. Naik!" Len menaikkan nada suaranya, sedikit membentak agar membuat Rin menurut, karena selama ini tidak ada yang tidak didapatkannya dengan sedikit bentakan seperti itu.
Tapi sepertinya Rin mempunyai kekebalan yang luar biasa, dirinya bahkan kini menatap Len meremehkan dan masih bernyanyi tidak jelas dengan suara yang benar-benar membuat telinga berdengung.
Len menggeram kesal, ditariknya lengan gadis itu kencang dan mendorongnya masuk di bangku sebelah kemudi yang sedaritadi pintunya terbuka. Tapi Rin sekuat tenaga menahan agar dirinya tidak masuk ke mobil itu, bahkan kini nyanyiannya berubah menjadi teriakan.
"Jangan berteriak! Masuk cepat!"
Rin menambah teriakannya, setidaknya cara itu ampuh membuat Len menyerah dan menatap Rin marah. Tentu saja Len tidak mau mendapat image tidak baik. Dengan memaksa Rin seperti itu, orang yang melihatnya akan menganggap hubungan mereka sedang bermasalah, dan Len sedang dalam mood terburuknya untuk berhadapan dengan pers nantinya.
Len menghela nafas panjang, menghadapi Rin memang selalu membuat kepalanya kembali berdenyut dan deru nafasnya tidak beraturan. Gadis itu selalu tahu cara terbaik untuk membuatnya lepas kendali, walau terkadang dirinya bisa membalas perlakuan Rin tak kalah menyebalkannya.
"Apa maumu?" Len berkata dingin, padahal kalau bisa, dia akan berteriak frustasi dengan menjambak rambutnya sendiri sambil menatap Rin nyalang. Tapi tidak, dia bukan Mikuo yang suka mendramatisir keadaan.
Rin tersenyum penuh kemenangan, ditatapnya Len dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat Len tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan gadis yang serupa dengannya itu kali ini.
"Kau mau mengantarku ya, pisang?" Masih dengan senyum kemenangannya, kali ini Rin sedikit menggoda Len dengan mencolek dagu pemuda itu, yang langsung disambut dengan death glare andalan dari Len.
"Sudah jelas kan, jeruk? Cepat naik! Aku tidak tanggung jawab jika kau terlambat!"
"Ah, tidak usah terburu-buru begitu. Selalu ada waktu toleransi untukku, harusnya begitu kan, Lenny-chan?"
Len memicing tidak suka, apa-apaan itu Lenny-chan? Adakah yang lebih manis dari itu? Katakan saja sekarang, mumpung Len masih bisa menahan agar tidak muntah.
"Apa maumu? Cepat!"
"Hmmm… bagaimana kalau kita ke restoranku dengan bus saja? Akan lebih mengasyikkan jika kita pergi bersama dengan orang lain bukan?"
"Tidak usah macam-macam. Cepat naik, atau kau pergi sendiri."
Rin menundukkan wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca, "Jadi, Lenny-chan tidak mau mengantarku naik bus?"
"Tidak."
"Hiks."
"Aku tidak akan terpengaruh."
"Hiks… kau tega."
"Terserah."
"Hiks."
"Baiklah aku kembali ke apartemen. Selamat bekerja. Jaa." Len melangkahkan kakinya kembali masuk ke pintu apartemen, baru saja lima langkah Len terpaksa menghentikan langkahnya karena…
"Huuaaaaaaa… hiks… tunanganku jahaaaatttt… dia meninggalkanku sendiri huaaaaaaa….!"
Beberapa pasang mata yang juga ada di parkiran terbuka depan apartemen itu langsung saja menoleh kearah Rin, mereka mengamati dengan intens seorang gadis yang tengah menangis sesenggukan karena ditinggal tunangannya yang mereka ketahui adalah Len Kagamine, penyanyi terkenal itu.
Segera saja kasak kusuk mulai terdengar, mulai dari mereka yang bersimpati dan kasihan dengan Rin, dan mereka yang menyumpah serapahi Len karena dianggap pemuda yang tidak bertanggung jawab, lalu ada yang menyimpulkan beberapa permasalahan yang mungkin terjadi dengan dua sejoli itu.
Dan semua itu membuat kuping Len panas, menggeram frustasi, dirinya bersumpah akan bersyukur jika ada yang menabraknya dengan truk saat itu juga.
Len kembali mendekat kearah Rin, kedua pasang bola mata sewarna itu saling berpandangan, yang satu dengan amarahnya dan yang satu dengan tatapan polosnya. Sambil menghela nafas pendek, Len membuat gerakan seolah menenangkan gadis itu dengan membelai kepalanya lembut.
Dari kacamata orang-orang disana, adegan itu sungguh manis sekali. Pasangan yang sedang bertengkar, lalu salah satu diantaranya mengalah dan meminta maaf dengan cara yang romantis. Si pemuda yang merengkuh kepala gadisnya agar bersandar di bahunya, lalu wajah pemuda itu yang tenggelam di leher si gadis. Ah, romantis sekali bukan?
Tapi, benarkah seperti itu?
Len dan Rin memang terlihat seperti apa yang dipikirkan orang-orang, hanya saja yang sebenarnya adalah Len menarik paksa kepala Rin agar mendekat, wajah Len berada di samping kanan kepala Rin, seolah sedang menenggelamkan wajahnya disana. Tapi Len ternyata hanya ingin memposisikan mulutnya tepat di telinga kanan Len, lalu membisikkan kata-kata yang 'romantis'.
"Kali ini kuturuti apa maumu, jeruk picik. Bersikap manis dan jangan berbuat ulah lagi, atau aku akan memotong habis surai indahmu ini dengan gunting rumput. Mengerti, tunanganku sayang?"
Entah karena apa, Rin mengangguk pelan. Len kemudian kembali ke posisi biasa, berhadapan dengan Rin. Hanya saja, kali ini mereka harus terlihat seperti sepasang kekasih yang mesra, jadi mau tak mau Len menghapus jejak air mata di pipi Len dengan lembut, kemudian membenahi rambut Rin yang sedikit berantakan. Setelah itu dia menggenggam tangan kanan Rin dan meninggalkan tempat itu, setelah sebelumnya Len melempar senyuman ramah ke beberapa orang disana.
Kehadiran pasangan terpanas tahun ini mampu membuat ratusan pasang mata tak bisa mengalihkan pandangan mereka, terlebih pada si pemuda yang mereka ketahui adalah seorang penyanyi yang mempunyai nama. Pekikan senang para gadis dan bermacam gerutuan melihat dua tangan mereka yang saling bertaut menjadi soundtrack yang mengiringi mereka menuju halte bis terdekat.
Len terlihat sangat risih, tapi bagaimanapun juga dia harus (berpura-pura) senang dengan kehadiran mereka. Rin kembali mengukir senyum kemenangan, rencana pertamanya berhasil. Membuat Len Kagamine berada di tengah publik tanpa penyamaran, dan membuat pemuda itu harus mengikuti semua permainan seru yang telah dibuat Rin sebelumnya. Lihatlah Len, gadis bertampang malaikat terkadang bisa lebih buruk dari iblis manapun.
"Len Kagamine…! Kyaa… minta fotomu."
"Tanda tangaaan! Minggir kau, gendut! Jangan halangi jalanku meminta tanda tangan Len!"
"Aaaa… dia menuju kesini!"
"Lihat, mereka mesra sekali! Aku patah hatiii…!"
"Itu Len! hei, dia bersama tunangannya! Aku ingin berfoto dengan mereka!"
Teriakan yang berlanjut pada kefrontalan…
"Jangan injak kakiku, jelek!"
"Hei, kau yang menabrakku, kemari kau!"
"Minggir! Aku ingin menyentuhnya!"
"Tidak bisa! Aku duluan!"
"Awas kalian! Jangan pernah menyentuh pangeranku!"
Hingga berakhir menjadi sebuah siksaan bagi Len…
Sret! "Aw, siapa yang mencakarku?"
"Hei, jangan tarik bajuk!."
"Lepaskan tanganku!"
"Kembalikan topiku!"
"Jangan berdesakkan seperti ini, aku sesak."
"Kumohon, kalian semua tenanglah."
Dan bagaimana dengan Rin? Oh gadis manis itu sedang berdiri menjauh dari halte tempat penyiksaan Len itu, dengan tangan memegang cone renyah berisi tiga scoop besar es krim berbagai rasa dan tubuh yang menyender pada sebuah tiang listrik di pinggir jalan.
Sesekali sudut bibir gadis itu terangkat saat melihat betapa 'senangnya' Len berkumpul dengan para fansnya disana.
Dua puluh menit penuh perjuangan bagi Len untuk dapat lepas dari cengkraman gadis-gadis dengan kebrutalan yang tinggi itu, sekuat tenaga dirinya menerobos kumpulan manusia yang baginya menyebalkan itu. Semenit dua menit tak ada yang menyadari keberadaan Len, hingga salah satu dari mereka melihat Len berlari menjauh kearah Rin yang masih sibuk dengan es krimnya.
"Hei, itu Len! Dia lari!"
Len berdecak kesal, "Ah, sial."
Pemuda itu semakin cepat berlari kearah Rin, lalu langsung menarik tangan gadis itu dan memaksa Rin ikut berlari menjauhi fans-fans maniak itu. Len langsung mencegat sebuah taksi yang seakan ditakdirkan untuk menolongnya, dan segera saja Len mendorong Rin masuk ke bangku belakang yang juga kini dia tempati.
"Sekali lagi kau memaksaku berada di tempat umum seperti tadi, tak akan segan aku menembak kepalamu." Len menggeram marah, sudah benar-benar diluar batas kesabarannya. Tunggu, Len selalu tidak mempunyai kesabaran sih.
Sedangkan Rin hanya mengangkat bahunya ringan, lalu kembali menjilati es krimnya sambil melihat keluar jendela. Dan itu membuat Len kesal, pemuda itu jadi mengerti jika Rin memang berencana membuatnya berada di situasi seperti tadi.
"Putar arah taksinya. Ke apartemen Platinum Castle."
"Baik, Tuan."
Rin sontak memandang Len, berharap pemuda itu memberikan sebuah kejelasan mengapa harus kembali ke apartemennya itu. Alih-alih mendapat kejelasan, Rin malah mendapat senyuman sinis dari pemuda itu, "Apa? Ini taksiku, aku yang berhak menentukan tujuan."
"Tidak, Paman. Ke restoran Petrichor terlebih dulu, nanti baru ke apartemen."
"Apartemen! Jangan pernah kau turuti si cerewet yang satu ini."
"Baik kalau begitu aku turun disini. Tolong berhentikan taksinya, Paman."
"Jalan terus, dan aku minta lebih cepat."
"Aku akan lompat!"
Len menggendikan bahunya, bersikap acuh sambil memejamkan matanya, menikmati alunan musik yang mengalir melalui earphone yang dipakainya. Sama sekali tidak mengindahkan omelan Rin beserta ancamannya yang terus mengatakan jika dia akan lompat.
"Kau dengar, shota? Aku akan lompat dari jendela jika memang kau menyuruh Paman mengunci pintunya."
"Tidak. Lakukan saja."
"Baiklah, aku benar-benar akan lompat dari sini."
"Hm."
"Aku lompat! Lihat Len, aku sudah membuka pintunya."
"Aa."
"Aku akan lompat di hitungan ketiga."
"Ya."
"Satu…. Dua…."
"Hm?"
"D-d-dua…"
"Salah, yang benar tiga."
"Diam! Kau itu banyak protes seperti perempuan!"
"Aa."
"D-dua setengah…"
Len menaikkan alis kirinya mendengar hitungan dan suara Rin yang mulai meragukan aksinya sendiri.
"T-ti-tiga.."
"…"
"TIGA!"
"…"
"TIGA! AKU BILANG TIGA, SHOTA!"
"Ya aku dengar, lalu kau kenapa belum lompat?"
"A-aku.."
"Hm? Kau mau kubantu?"
"A-apa?"
"Kubantu mendorong dari sini, baik sekali kan pria tampan ini?"
"Tidak perlu."
"Hm?"
"A-aku… umhh aku.."
"Sudahlah, bocah. Ikut saja denganku dan jangan cerewet. Aku pusing."
"Tapi aku harus bekerja, bodoh!"
"Masalahku?"
"Kau…"
Dan seterusnya, perjalanan singkat itu kini diambil alih oleh Rin seorang yang tak henti berceloteh ini-itu tentang kejengkelannya pada Len, sedangkan objek yang menjadi alamat sumpah serapah Rin itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Len menurut? Oh tidak, kawan. Dia begitu karena menikmati alunan musik beat yang mengalir enerjik di kedua telinganya.
"Entahlah kesialan apalagi yang akan menimpaku nanti, hari ini saja sudah banyak hal-hal konyol yang terjadi. Dan ini gara-gara kau, shota! Aku bersumpah akan mengganggu anak cucumu jika aku sudah menjadi arwah nanti. Kau dengar itu, shota?"
"Mmm…"
"Awas saja, aku akan buat perhitungan kepadamu. Kau lihat saja apa yang akan kulakukan, dan jangan menangis seperti anak kecil jika nanti aku membalasmu. Kau harus ingat, jika ak- Hei! Kau mau kemana, sialan? Aku belum selesai bicara!"
Rin berdecak kesal melihat Len turun begitu saja dari taksi yang mereka tumpangi, oh rupanya Rin belum sadar jika mereka sudah sampai sejak lima menit yang lalu, dan itu membuat Len kesal setengah mati karena gadis itu terus mengabaikannya yang menyuruh gadis itu untuk turun terlebih dulu. Dan jadilah sekarang, Rin yang masih asik mengoceh ditinggal begitu saja oleh Len yang sudah bosan setengah mati.
"Aku kira kau ingin bermalam di taksi itu, bocah." Len menatap Rin sinis, gadis itu baru saja keluar dan tergopoh-gopoh mengejar Len yang berjalan santai di depannya.
Rin balas menatap Len tajam, mendongakkan dagu keatas, seolah menantang Len yang memang lebih tinggi darinya, "A-pa-ka-ta-mu-sa-ja."
"Hhhh… naik ke mobilku! Tak ada bantahan atau aku akan meninggalkanmu disini." Len menunjuk mobil sport mewahnya yang duduk manis di parkiran apartemen megah itu, membuka kuncinya lewat sebuah tombol yang di genggamnya.
"Dan jangan tanyakan apapun!" tambah Len melihat reaksi Rin yang hendak menanyakan sesuatu, dan kini gadis itu sukses merengut dengan menggembungkan kedua pipinya sambil berjalan kearah mobil Len, disusul oleh pemuda itu sendiri yang kini sudah menempati kursi kemudinya.
Sedetik kemudian, mobil Citroen GT itu melesat angkuh meninggalkan apartemen Platinum Castle.
.
.
.
.
Salah satu lukisan alam terbaik yang diciptakan Tuhan dalam mahakarya-Nya bernama bumi. Dengan komposisi berbagai warna yang menyatu lembut, menenangkan setiap sapuan mata yang merekam setiap sudutnya.
Bauran pasir putih yang menggelitik tiap-tiap kaki telanjang yang menyentuhnya, mengalirkan sedikit rasa panas lewat syaraf sensorik yang ada di permukaan telapak kaki, menenangkan adalah sensasi yang justru timbul bagi setiap jiwa yang menikmati.
Gambaran langit biru dan hamparan laut yang memiliki warna senada namun lebih gelap itu seolah memaku pandangan, bias cahaya matahari yang memantul di air memberi kesan damai dan menambah keindahan. Seperti kristal yang bisa muncul kapan saja dari permukaan pasir yang terendam air laut itu.
Dan disinilah mobil milik Len berhenti, pemuda itu memarkirkan mobilnya tak jauh dari pasir putih itu berkumpul, sejenak meregangkan badannya yang terasa kaku setelah dua jam menyetir tanpa henti menjauhi pusat kota untuk sampai ke tempat ini.
Mata biru itu melirik sekilas gadis yang tertidur pulas di sampingnya, menghela nafas, dirinya memutuskan untuk tidak mengusik ketenangan tidur yang jarang didapat oleh gadis yang serupa dengannya itu.
Sebelum turun, Len sengaja membuka kaca jendela mobilnya, membiarkan angin laut menyapa Rin yang masih bertamasya di alam mimpi, setelah itu dirinya berjalan pelan menyusuri pantai indah itu dengan kaki-kaki telanjangnya dan mata yang tak henti memandangi laut lepas di depan sana.
Ah, pantai. Rasanya dirinya sanggup hidup hingga seribu tahun pun di tempat ini.
"Nii-san?"
Len menghentikan langkahnya saat dirasa ada seseorang yang menarik ujung bajunya, pemuda itu menengok ke samping kanannya, dan mendapati seorang anak laki-laki berumur sekitar tujuh tahun yang menatapnya polos.
"Hm? Ada apa?" Len merendahkan tubuhnya, berusaha menyamai tinggi dari anak itu.
"Nii-san bisa main gitar tidak?"
Len melihat sebuah gitar yang diseret anak itu di genggaman tangannya, jadilah sebagian badan gitar itu rebah di pasir putih.
"Kenapa? Mau aku ajari?" tanya Len.
Mata anak itu berkilat senang, dengan ceria dia menganggukkan kepalanya mantap, "Tidak apa-apa, Nii-san?"
"Hm, tentu. Memang kenapa kau ingin bisa main gitar?"
"A-aku…"
"Hm?"
Anak itu menunduk malu, terlihat dari pipinya yang menghadirkan rona merah, "Aku ingin bernyanyi untuk temanku."
Len tersenyum geli, niatan jahil kembali hinggap di kepala pirangnya, "Aa, wakatta. Kau menyukai temanmu itu ya?"
"A-ano.. aku."
Kekehan kecil terdengar dari mulut Len, "Kita ke tepi pantai sana saja ya. Siapa namamu?"
"Yowane Hakuo. Nii-san?"
"Aku Len."
"Nani? Len?"
"Ya, ada yang salah?"
"Tidak, hanya saja temanku itu sering sekali membicarakan tentang orang bernama Len. Apa itu Nii-san, ya?"
Len tersenyum simpul, "Apa kau kira nama Len hanya satu saja?"
"Ah, benar juga. Ayo kita ke tepi, Nii-san!" anak itu menarik tangan Len cepat, gitar yang tadi dibawanya sudah diambil alih oleh Len. Biar bagaimanapun juga Len masih punya hati untuk tidak membiarkan anak kecil membawa-bawa gitar yang ukurannya bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri.
"Nah, kau ingin bisa lagu apa?" tanya Len begitu mereka sampai di tepi pantai dan duduk di permadani pasir putih itu.
"Temanku suka sekali lagu Butterfly on Your Right Shoulder. Tapi aku bahkan belum dengar lagunya seperti apa."
Sekali lagi, Len tersenyum simpul sambil menyeruput air kelapa yang baru saja diantarkan oleh penjualnya, "Aku tahu."
Jelas Len tahu, itu adalah lagu miliknya yang bisa menembus pasar internasional. Ditambah lagi, lagu itu Len sendiri yang menciptakan.
Len lalu memberikan gitar itu kepada Hakuo, memosisikannya sedemikian rupa agar membuat anak itu nyaman.
"Aku ajari kau kunci dasar. Nah pertama, kunci C…." Len memberi instruksi, tangannya membimbing jari-jari Hakuo untuk ada di senar yang tepat. Begitu seterusnya hingga satu jam kemudian.
Hakuo sendiri termasuk mudah diajari, dia dengan cepat menyerap segala hal yang Len ajarkan. Bahkan sekarang dia sudah bisa memindahkan jari-jarinya dari kunci yang satu ke kunci yang lain dengan lebih luwes, tidak kaku seperti sebelumnya. Ya walau Len harus bersabar saat Hakuo mengeluh jari-jarinya sakit atau kulitnya yang terkelupas.
"Jangan bilang kau bisa main gitar jika jari-jarimu belum merasakan sakitnya menekan senar." Itulah yang diucapkan oleh Len, dan Hakuo akan berhenti mengeluh dan bertekat lebih dalam lagi.
Siapa yang menyangka pemuda dingin seperti Len bisa mudah sekali akrab dengan anak kecil? Dirinya bahkan terlihat dewasa dan hangat menghadapi sikap Hakuo yang memang masih kekanak-kanakkan itu. Len bahkan lebih sering tertawa lepas, kepalanya terkadang mengacak-acak rambut abu-abu Hakuo lembut sambil tersenyum.
Len tidak tahu, jika setengah jam terakhir ada sepasang manik biru yang memerhatikannya dari belakang. Rin, dia duduk di bawah pohon kelapa yang melindunginya dari matahari sambil terus melihat Len dan seorang anak kecil di sampingnya.
Rin tersenyum kecil, niatnya yang semula akan memarahi Len karena seenaknya membawa dirinya membolos kerja luntur seketika saat melihat kehangatan yang diperlihatkan pemuda itu. Tak ada niatan Rin untuk bergabung dengan dua orang yang sedang asik dengan kegiatan mereka, Rin merasa cukup melihat sisi lain seorang Len Kagamine dari jauh.
'Ternyata sikapnya sangat hangat. Apa ini sifat aslinya sebelum dia benar-benar kesepian?' tanya Rin dalam hati.
Sementara itu, Hakuo menatap matahari yang mulai terpantul di permukaan laut, membuatnya tersadar hari sudah petang dan dia harus kembali pulang jika tak ingin dimarahi ibunya.
"Nii-san, aku harus pulang. Terimakasih banyak sudah mengajariku."
Len menatap Hakuo, sejujurnya dia tidak rela anak itu pergi, tapi mau bagaimana lagi? Memang hari sudah senja dan matahari mulai terbenam.
"Nii-san mau pulang juga ya? Memangnya Nii-san pulang kemana?" tanya Hakuo lagi.
"Hmm.. jauh dari sini. Kau tau Tokyo?"
Hakuo menatap Len dengan kedua bola matanya yang melebar, "Woaah, Nii-san dari Tokyo? Kata Kaa-chan itu jauh sekali dari sini, harus naik kendaraan hingga berjam-jam, kan?"
Len mengangguk, "Kau sudah pernah kesana?"
"Belum. Aku ingin sekali kesana dengan Haku suatu hari nanti!"
"Haku?"
"Iya, temanku itu."
Len mengacak pelan rambut Hakuo, "Oh, pacarmu itu ya?"
"E-eh? B-bukan Nii-san!"
Len tertawa lepas, senang sekali rasanya membuat anak itu cemberut dan salah tingkah seperti itu.
"Nii-san kapan kesini lagi?" Hakuo memandang Len penuh harap.
"Entahlah."
Hakuo menunduk sedih, "Jadi aku tidak akan bertemu Nii-san lagi?"
"Mungkin besok kita bisa berjumpa lagi. Aku akan menginap disini, bagaimana?"
"Janji?" Hakuo menyodorkan kelingkingnya, sejenak Len merasa ada sesuatu yang menghantam dirinya.
Dulu, dulu sekali. Dia sering membuat janji dengan orang itu, saling menautkan jari kelingking masing-masing sambil mengucap janji. Tapi itu dulu. Sebelum kenyataan membanting dirinya habis-habisan.
"Janji." kata Len sambil menyambut kelingking mungil Hakuo.
"Kalau begitu Nii-san bawa gitarku. Besok Nii-san harus berjanji akan mengembalikan gitar itu padaku. Oke?"
Len mengangguk sambil tersenyum, "Ya, besok aku akan ada di pantai ini."
"Baiklah Nii-san. Mata ashita!"
"Jaa, Mata ashita."
Hakuo berlari meninggalkan Len yang masih menatap anak itu hingga menghilang di ujung sana, sesaat kehampaan kembali menyapanya. Gitar Hakuo masih ada di kedua tangannya, dan tanpa sadar dia memainkan gitar itu sambil bernyanyi kecil. Tidak menyadari sepasang kaki yang berjalan mendekat, hingga pemiliknya rebah di samping pemuda itu.
"Sunset! Ah, indahnyaaa….!"
Suara dari kiri Len mampu membuat kesadaran pemuda itu kembali, dilihatnya Rin sedang tidur terlentang di atas pasir putih sambil memandangi langit yang mulai berubah jingga.
"Sejak kapan kau disini?" tanya Len heran.
"Hm? Mungkin sepuluh menit yang lalu."
"Kenapa aku tidak tahu?"
"Kenapa kau tanya padaku?"
"Kenapa kau tidak menegurku?"
"Kenapa aku harus menegurmu?"
"Kenapa kau balik bertanya?"
"Kenapa kau terus bertanya?"
"Kenap- Ah, sudahlah." Len berdecak kesal. Pandangannya lalu ikut tertuju pada titik yang sama yang dipandangi Rin. Sunset. Mahakarya Tuhan lainnya dalam satu hari ini.
"Len?" Rin memanggil pemuda itu tanpa menoleh dari pemandangan langit luas itu.
"Hm?"
"Kenapa berhenti bernyanyi?"
"Kau ingin aku nyanyikan apa?"
"Lagu yang paling kau sukai saja."
Len terdiam sesaat, hingga kemudian suara petikan gitar kembali terdengar. Mengalun lembut, semakin mengisi keindahan senja yang menenangkan ini.
"When I was younger I saw my daddy cry
and curse at the wind."
Rin tersentak saat Len mulai bernyanyi. Suara itu begitu jernih. Begitu menenangkan. Begitu dalam. Mungkinkah?
"He broke his own heart and I watched
as he tried to reassemble it."
Mata itu. Kosong. Hampa. Seperti terjebak di suatu tempat dan sulit untuk menggapai pintu keluar.
"And my momma swore
that she would never let herself forget."
Ketegaran. Tidak itu hanya topeng. Dia rapuh, selama ini berjuang mencari remah-remah kayu yang sekiranya dapat menyangganya. Tapi tetap, dia kembali tersungkur.
"And that was the day that I promised
I'd never sing of love if it does not exist."
Dia bukan bernyanyi. Dia bercerita. Tentang dirinya. Perasaannya. Dan terutama tentang masa lalunya. Kelam.
"But darling, you are the only exception.
You are the only exception.
You are the only exception."
Pengecualian. Dia berharap adanya pengecualian. Dengan segala kebencian yang ditaruhnya pada banyak hal, dia ingin setidaknya ada satu pengecualian yang membuatnya bahagia.
"You are the only exception."
Mungkinkah rasa kehilangan yang selama ini Rin rasa juga pemuda itu rasakan?
Rin mengambil nafas panjang, sesaat rasa menyesakkan itu kemballi hadir. Dan dia yakin bukan hanya dirinya seorang yang merasakan itu. Entah keyakinan darimana, Rin merasa dia dan Len sama.
"Maybe I know somewhere, deep in my soul.
That love never lasts."
Kini giliran Len yang tercekat. Rin melanjutkan nyanyiannya sebelum sempat pemuda itu mengeluarkan suara. Len baru tahu kalau suara cempreng Rin bisa luar biasa indahnya seperti ini. Seperti nyanyian surga menurutnya.
"And we've got to find other ways
to make it alone.
Or keep a straight face."
Len menatap Rin yang masih asik melihat matahari. Sebuah keyakinan. Wajah itu, menyimpan perih. Tapi dia masih yakin akan adanya sebuah harapan.
"And I've always lived like this
keeping a comfortable distance."
Mata itu. Menyerap luka dan ingatan masa lalu yang terkuak perlahan. Sorot cahayanya mulai memudar walau tak terlalu nampak.
"And up until now I've sworn to myself
that I'm content with loneliness."
Sepi. Keceriaan itu ternyata hanyalah selipan diantara rasa kesepian yang menyergap. Saat sendiri dan tak ada teman berbagi. Len mengerti bagaimana rasanya. Hanya satu: Perih.
"Because none of it was ever worth the risk."
Karena bagaimanapun juga, hidup terus berlanjut. Dan terus menangisi masa lalu bukanlah pilihan terbaik. Terus melangkah, dan percaya Tuhan yang akan memberi petunjuk arah.
"Well you are the only exception.
You are the only exception.
You are the only exception.
You are the only exception.
You are the only exception."
Pengecualian. Len tersenyum kecut. Seandainya bisa dia mencentang daftar-daftar hal yang tak akan dia benci, tapi sepertinya tak ada pengecualian untuk itu.
"I've got a tight grip on reality,
but I can't let go of what's in front of me here."
Keduanya bernyanyi. Dengan pandangan yang terlempar jauh pada langit yang kian menggelap. Inilah kenyataan, dan terkadang rintangan di depan membuat mereka merasa tak sanggup untuk pergi. Butuh teman. Butuh palung hati yang terbuka untuk mau memercayai.
"I know you're leaving in the morning
when you wake up.
Leave me with some kind of proof it's not a dream."
Dan saat kebahagiaan datang, mereka takut menutup mata. Takut jika kenyataannya mereka masih berada di dunia hitam putih. Takut jika terbangun nanti semuanya masih sama. Terkadang, hidup dalam mimpi buruk bukan suatu hal yang menakutkan jika kau tahu hantaman realita.
"You are the only exception.
You are the only exception.
You are the only exception.
You are the only exception."
Seandainya memang takdir mereka harus berputar, bisakah nanti agar luka tidak turut menyertai? Atau jika memang harus hadir, bisakah agar jangan terlalu dalam?
"You are the only exception.
You are the only exception.
You are the only exception.
You are the only exception."
Atau nanti saat mereka benar-benar lelah dan lebih memilih mati, adakah pengecualian untuk mereka agar tidak terus terhanyut dalam perih?
"And I'm on my way to believing.
Oh, and I'm on my way to believing. "
Dan mereka terus percaya. Selalu percaya. Dan tetap percaya. Bahwa Tuhan tak akan mengingkari janjinya tentang kebahagiaan setiap ciptaan-Nya.
.
.
.
.
.
.
A/N: ehehehe *nyengir* lama ya updatenya? *garuk2 kepala*
Gak ada alasan khusus sih, selain aku gak tahu ngelanjutinnya gimana. Dan jadinya yaaah kaya yang diatas itu tuh tuuuhh.
Aneh? Iya iya tahu.
By the way, thank you so much yang udah review yaah, sini aku kecup basah *dilempar*
Yo, makasih banyak yang udah review, fave, follow, dan yang udah baca. Terimakasih sudah menghargai karya saya yang aneh ini.
Ada yang mau ngasih ide? RinLen misalnya anyut ke laut gitu.. *heh!*
Yo, untuk semangat update saya! Review, minna…. 8D
Oke, ketemu chapter depan!
Jaa ne, mmwwaaaahhhh….!
