Judul: The Beginning of Spring
Disclaimer: Sayangnya punya Tite Kubo, bukan saya
Rating: T menjerumus ++ (Bercanda)
Warning: OOC, cerita gak jelas, alurnya mainstream (menurut gue), typo (penyakit lama) dll
Chapter 7
"Momo, apa yang terjadi dengan Rukia?" Tanya Riruka. Melihat ekspresi Rukia yang merengut. Setelah kembali dari ruang osis.
"Etto..."
BRAK
Suara nyaring itu berasal dari Rukia yang menggebrak meja. Membuat seluruh penghuni ruangan tersebut bergidik kaget.
"Oi Rukia kau kenapa sih? Bikin kaget saja." Gerutu Renji menghampiri Rukia.
"Diam kau babon!" Ujar Rukia berteriak di depan wajah Renji.
Melihat Rukia yang meneriaki Renji. Semua orang disana mulai menatap keheranan. Perempuan mungil dihadapan mereka.
Dari mata mereka terlihat awan hitam bersama petir yang mengelilingi perempuan bermata amesty itu. Semua orang disana, sepakat tidak akan mendekati perempuan itu. Untuk sementara waktu.
"Hei Momo, apa yang sebenarnya terjadi dengan Rukia?" Tanya Riruka lagi. Setelah melihat perilaku Rukia yang tidak biasanya.
"Sebenarnya tadi..."
Momo mulai menceritakan apa yang terjadi sebelumnya. Semua orang dalam ruangan tersebut mendekatkan diri kepada Momo. Bermaksud mendengar cerita Momo.
Meninggalkan Rukia yang sudah duduk di kursi. Dengan tangan yang mengepal kuat menahan amarah.
Momo menceritakan semua hal yang terjadi. Pertemuan tidak sengaja dengan Ichigo yang mendatangkan sebuah insiden. Yaitu pertaruhan antara Rukia dan Ichigo.
"Hah taruhan?" Momo hanya menganggukan kepala. Mendengar pertanyaan Kira.
"Hhahh kenapa juga Rukia harus mengibarkan bendera perang ke kepala jeruk itu." Celetuk Renji sambil menghela nafas.
"Gomen. Aku tidak bisa mencegah Rukia untuk ikut taruhan itu."
"Sudahlah Momo. Ini bukan salahmu yang penting kita harus mengalahkan mereka." Ujar Riruka menyemangati Momo.
"Apa bisa? Klub kepala jeruk itu pemenang tiga kali berturut-turut dalam festifal ini." Buka Hitsugaya sembari melipatkan tangannya.
"Hhhah apa yang dikatakan Hitsugaya benar. Terlalu sulit melawan mereka." Gumam Kira yang juga ikut menghela nafas.
BRAK
Terdengar suara nyaring lagi. Berasal dari meja yang digebrak dengan keras. Semua mata mulai tertuju kepada pelaku yang telah membuat mereka bergidik kaget lagi.
"Kita pasti menang." Gumam Rukia masih dengan suara sangat pelan. Hampir tidak bisa didengar.
Rukia berdiri dari duduknya. Menghampiri mereka berenam, yang masih menatap keheranan. Perempuan mungil yang bejalan ke arah mereka.
"Kita pasti menang." Gumamnya masih dengan suara pelan.
"Eh?"
"Kita pasti menang."
"Rukia kau baik-baik saja?" Tanya Riruka. Menggoyangkan bahu Rukia dengan pelan.
"KITA PASTI MENANG!" Teriak Rukia dengan suara menggetarkan jiwa.
"Hah?"
"Ketua kita pasti menang pada festifal besok!"
"Mm soal itu—"
"Tenang saja ketua aku pasti akan melakukan sesuatu. Supaya kita menang dari para makhluk aneh itu!" Potong Rukia dengan menggebu-gebu.
"Rukia tenanglah." Ujar Riruka. Bermaksud menenangkan Rukia yang sudah seperti orang gila.
"Riruka ayo kita hias stand. Supaya lebih menarik lagi." Rukia menarik tangan Riruka. Membawanya keluar dari ruang klub tersebut.
"Rukia tungg—" Mereka berdua telah menghilang dari dalam ruang klub tersebut. Meninggalkan lima orang sisanya.
"Sepertinya Rukia sudah menjadi orang gila sungguhan." Celetuk Renji masih menatap pintu yang terbuka sebelumnya.
"Hush Renji jangan mengatakan hal itu." Tegur Ishida.
"Aku benar kok. Rukia menjadi gila. Gara-gara berurusan dengan kepala jeruk itu."
"Hhahh apa yang harus kita lakukan. Minggu lalu sensei sialan itu yang menjadi gila. Sekarang Kuchiki-san jadi ikut gila seperti dia." Kira kembali duduk di kursinya. Sambil memegang kepalanya yang berdeyut pusing.
"Bersabarlah ketua." Tenang Hitsugaya sembari menepuk-nepuk pundak Kira.
.
Hari yang ditunggu-tunggu telah datang. Yaitu festifal tahunan Seireitei Gakuen. Sekarang salah satu peserta festifal itu. Sedang bersiap menyiapkan dirinya pergi ke sekolah.
Saat ini Rukia sedang berkaca di depan meja riasnya. Pakaian yang ia kenakan. Sama dengan pakaian yang selalu dia kenakan saat di sekolah. Pakaian musim semi. Kemeja lengan pendek dan rok pendek. Ditambah dengan sweater berbahan kain tebal berwarna merah marun.
"Yosh hari ini aku harus menang dari si alien kepala jeruk!" Ujarnya bermaksud menyemangati dirinya sendiri.
"Rukia ayo sarapan!" Terdengar suara dari teriakan dari luar kamar itu.
"Ya ne-san!" Rukia berdiri dari kursinya. Sekaligus mengambil tas ranselnya.
.
"Rukia bukankah festifalnya hari ini?" Tanya Hisana sembari memberikan sepiring sandwich kepada Rukia.
"Ya. Memangnya kenapa ne-san?" Rukia menyambut piring yang diberikan oleh Hisana.
"Aku dan Byakuya akan mengunjungimu di festifal nanti."
Rukia langsung menyemburkan air yang ia minum tadi.
"Kau kenapa Rukia?" Tanya Hisana dengan tatapan khawatir.
"Tidak boleh."
"Eh?"
"Ne-san dan ni-sama tidak boleh datang ke sekolah ku!" Jawab Rukia dengan nada panik.
"Ehh kenapa?"
"Pokoknya kalian berdua tidak boleh datang!"
"Kalau ne-san dan ni-sama datang ke sekolah. Bisa terjadi keributan besar nantinya." Gerutu Rukia di dalam hati sanubarinya.
"Aku dan Byakuya juga ingin melihat sekolah barumu." Ujar Hisana masih tidak terima dengan larangan Rukia.
"Pokoknya tidak boleh titik!"
"Aku sudah selesai." Rukia meletakan piringnya yang sudah kosong ke wastafel. Setelahnya ia mengambil tas ransel yang berada di atas meja.
"Ne-san dan ni-sama tidak boleh datang ke sekolahku. Kalau kalian berdua datang. Aku akan marah." Ancam Rukia sembari berjalan ke arah pintu rumah.
"Mou kenapa Rukia tidak membolehkanku pergi sekolahnya." Buka Hisana setelah melihat Rukia sudah keluar rumah.
"Byakuya kau tau alasannya?" Tanya Hisana kepada suaminya yang masih berkutat dengan koran paginya.
"Tidak." Jawab Byakuya dengan pendek. Wajah Hisana yang cemberut sebelumnya. Bertambah cemberut karena mendengar jawaban yang keluar dari suaminya itu.
Tanpa diketahui Hisana. Byakuya mengetahui alasan Rukia tidak membolehkan mereka berdua pergi ke sekolah. Tapi Byakuya sama sekali tidak ada niat untuk memberitahukannya kepada istri cantiknya itu.
.
"Pagi semuanya!" Seru Rukia dengan semangat.
"Pagi. Kau semangat sekali Kuchiki-san." Ujar Kira menghampiri Rukia yang sudah berada di depannya.
"Tentu saja ketua! Karena hari ini adalah hari perayaan dimana aku akan menang dengan kepala jeruk itu khu khu khu khu." Jawab Rukia beserta dengan tawa jahatnya. Aura-aura hitam mulai menyebar di sekelilinginya.
"Apakah Kuchiki-san masih belum sembuh dari gilanya?" Bisik Kira kepada Riruka yang berdiri di sebelahnya.
"Rukia tidak akan sembuh. Sebelum tujuannya tercapai. Ketua sebaiknya kau jangan dekati Rukia dulu. Nanti kau kena kutuk." Ujar Riruka dengan suara pelan.
"Haha baiklah kalau begitu." Celetuk Kira dengan tawa yang dipaksakan.
BRAK
Terdengar suara nyaring. Dari pintu yang terbuka dengan keras. Menampakkan sensei dengan tubuh sexynya.
"Halo semuanya!" Serunya menggoyangkan tubuhnya. Sampai dapat menggoyangkan dadanya yang besar itu.
"Apa yang kau lakukan disini." Ujar Kira dengan nada sinis.
"Keterlaluan sekali. Aku kan juga salah satu bagian klub ini." Gerutu Rangiku sensei.
"Cih kau saja tidak pernah membantu kami mempersiapkan semuanya."
"Aku kan juga sibuk menyiapkan persiapan festifal sekolah ini." Ujar Rangiku sensei membela dirinya.
"Daripada itu bagaimana persiapan kalian? " Tanya Rangiku sensei kemudian.
"Tenang saja sensei. Kami sudah menyiapkannya dengan sempurna." Jawab Riruka dengan senyum berseri.
"Kalau begitu kita bisa menang dari kepala rubah itu khu khu khu." Dengan wajah cantiknya Rangiku sensei mulai mengeluarkan tawa nenek sihir.
"Itu mustahil."
"Apa maksud mu kepala kuning!?"
"Kita tidak mungkin menang dengan klub yang sudah menang tiga kali berturut-turut. Sebaiknya kau menyerah saja." Jelas Kira dengan gamblang.
"Jangan bercanda kepala kuning! Aku tidak mau menyerah dari muka rubah itu. Aku tidak sudi!"
"Itu kan urusanmu sendiri. Jangan bawa-bawa kami."
"Apa ka—"
"Tenang saja sensei, kita pasti menang!" Kata-kata Rangiku sensei terpotong di saat ada seseorang menyela perkataannya.
Rangiku sensei memutar kepalanya. Bermaksud melihat orang yang berbicara tadi.
"Benarkah apa yang kau katakan?"
"Ya. Sensei tenang saja kita pasti menang di festifal hari ini. Karena aku sudah menyiapkan senjata rahasia." Jelas Rukia dengan nada menyakinkan.
"Kya kau memang murid ku yang paling berbakti dan pandai." Tanpa aba-aba Rangiku sensei memeluk Rukia dengan eratnya.
"Seupsei." Rukia menepuk-nepuk badan sexy Rangiku sensei. Bermaksud melepaskan pelukan maut darinya. Rangiku sensei pun melepaskan pelukannya.
"Kalau begitu kita pasti bisa menang dari muka rubah itu."
"Ya sensei."
"KITA PASTI MENANG!" Teriak Rangiku sensei dengan semangat.
"OOOOHH!" Diikuti juga Rukia dengan mata membara.
"Mereka berdua mirip." Gumam Kira.
"Haha kau benar ketua mereka berdua mirip dari sisi yang berbeda." Jawab Riruka membenarkan perkataan Kira.
.
"Hhhhahhh."
"Riruka bagaimana hasilnya?" Tanya Kira setelah kembali dari toilet.
Sekarang festifal tahunan Seiretei sedang berlangsung. Sekolah sudah ramai dari murid-murid Seiretei maupun dari sekolah luar.
"Seperti yang kau lihat ketua." Jawab Riruka sambil melihat depan stand yang sepi dari pengunjung.
"Sudahlah Riruka jangan murung seperti itu. Ini kan juga pertama kalinya kita ikut festifal ini." Hibur Kira.
"Kau benar Ketua."
"Mana yang lainnya." Tanya Kira lagi. Setelah melihat stand yang hanya dijaga oleh Riruka.
"Renji dan Uryuu katanya ingin melihat-lihat festifal. Sedangkan Rukia, Momo, dan Hitsugaya keliling festifal menjual produk dagangan kita."
"Yo ketua." Datang seorang lelaki berambut merah. Dengan empat pisang coklat di kedua tangannya.
"Renji kenapa kau lama sekali!?" Gerutu Riruka dengan wajah kesal.
"Aku lapar jadi beli makanan dulu."
"Kenapa yang dibeli pisang semua. Memangnya kau monyet!?"
"Enak saja kau bilang aku monyet. Ini enak tau!" Bela Renji. Sambil menunjukkan pisang coklat dihadapan wajah Riruka.
"Sudah sudah kalian berdua. Jangan bertengkar." Lerai Kira.
"Renji mana Ishida? Bukankah kata Riruka kau bersamanya."
"Tidak tau. Katanya ia ingin terus keliling dulu melihat stand klub lain."
.
"Silakan minumannya." Kata penjaga stand minuman. Menyodorkan jus jeruk kepada pria berkepala jeruk (?)
"Terima kasih."
"Ichigo! Cepat kemari!" Panggil salah satu temannya yang memiliki tato 69 di wajahnya.
"Yayaya." Jawabnya dengan wajah bosan. Berjalan setengah hati menghampiri Hisagi, yang sudah menonton kontes kecantikan yang diadakan oleh sekolah.
"Ichigo menurutmu gadis mana yang cantik?" Tanya Hisagi menunjuk beberapa gadis yang sedang berlenggok di atas panggung. Menampilkan wajah cantik dan tubuh sexy mereka.
"Menurutku mereka semua biasa saja." Jawabnya tidak tertarik. Setelah melihat beberapa gadis cantik yang lewat di hadapannya.
"Hah? Kau buta ya masa tidak ada menarik perhatianmu." Ujar Hisagi tidak percaya dengan pernyataan teman berkepala jeruknya ini.
"Tidak ada."
"Aish kau sakit ya tuan Kurosaki?" Tanya Hisagi menempelkan tangannya ke dahi Ichigo.
"Aku tidak sakit baka!" Sangkal Ichigo menghentakan tangan Hisagi yang berada di dahinya.
"Hm sekarang kau bertingkah seperti Kokuto saja. Jangan-jangan kau sedang menyukai seorang gadis." Tuduh Hisagi menatap Ichigo dengan intens.
"Hah? Jangan asal tuduh ya!" Sangkal Ichigo tidak terima.
"Ck aku pergi." Sambil berdecak kesal. Ichigo meninggalkan Hisagi di kerumunan orang yang sedang menonton kontes.
"Oi Ichigo tunggu!" Panggil Hisagi kemudian. Setelah tidak melihat Ichigo yang tenggelam di kerumunan orang itu.
Ck apa-apaan sih Shuhei. Kenapa juga dia menuduh Ichigo sedang menyukai seorang gadis. Seorang Kurosaki Ichigo tidak akan jatuh cinta. Hanya wanita lah yang harus mencintainya. Karena mencintai seseorang itu sangat merepotkan. Merasakan cemburu dan tidak bisa mendekati wanita lain. Itu lah definisi cinta dari Kurosaki Ichigo.
Dengan alis yang mengerut. Ichigo berjalan di sekitar festifal dengan perasaan kesal. Menghiraukan pandangan beberapa siswi yang berniat menggodanya.
Tiba-tiba saja langkah pria itu terhenti. Di saat mata hazelnya, menangkap bayangan seorang gadis yang selama ini ia cari. Melihat senyumnya yang menawan bak malaikat. Membuat jantung Ichigo berdegup kencang.
"Silakan di lihat-lihat aksesorisnya!"
Ichigo langsung terbangun dari lamunannya. Saat mendengar suara gadis bersurai hitam itu, yang berjarak hanya beberapa meter darinya.
Sambil meneguk ludah. Ichigo berjalan berlahan ke arah gadis bermata amesty itu. Hari ini dia harus mengetahui namanya!
"Ichigo ternyata kau ada disini!" Langkah Ichigo terhenti saat ada seseorang memeluk lengannya.
"Nel!" Kejutnya melihat gadis bersurai hijau itu. Menghentikan langkahnya menemui gadis pujaannya?
"Kenapa kau terkejut melihat ku Ichigo? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Nel dengan herannya.
"Eh tidak ada apa-apa kok. Nel bisakah kau lepaskan tanganku. Ada hal yang harus ku kerjakan sekarang." Sambil berusaha melepaskan pelukan Nel. Mata Ichigo masih mencari gadis bersurai hitam itu yang mulai menghilang dari pandangannya.
"Hah kau kenapa sih? Siapa yang sedang kau cari?" Tanya Nel sembari mengalihkan pandangan ke kerumunan orang yang dari tadi dilihat oleh Ichigo.
"Bukan siapa-siapa kok. Sudah ya Nel." Akhirnya dengan menggunakan sedikit tenaga. Ichigo berhasil melepaskan pelukan Nel. Meninggalkan gadis berambut marimo itu sendirian di kerumunan orang. Dengan wajah bingung menghiasi wajah cantiknya.
Ichigo mempercepat langkahnya. Di saat gadis bermata amesty itu hilang dari pandanganya. Sambil menabrak beberapa orang yang berlalu lalang. Ichigo tetap berusaha mencari gadis yang sudah membuat jantungnya berdegup kencang.
Dengan nafas terputus-putus. Ichigo menghentikan langkahnya. "Ck sial!" Decaknya kesal. Tidak berhasil menemukan gadis bersurai hitam itu.
.
Satu jam kemudian. Datanglah Rukia dan Momo dengan wajah tertunduk lesu.
"Bagaimana hasilnya Rukia?" Tanya Riruka menghampiri mereka berdua.
"Huee Rirukaaa tidak ada yang mau membeli The Legend of Chappy." Rengek Rukia langsung menghambur ke dalam pelukan teman pinknya itu.
"Sudah Rukia jangan sedih seperti dong."
"Huh kan sudah ku bilang nggak akan ada orang yang mau membeli kelinci alien an—"
DUK
Kata-kata Renji terhenti. Saat Riruka menginjak kakinya.
"Diam kau kepala nanas!"
"Loh dimana Hitsugaya. Bukan kah tadi kalian bersamanya?" Tanya Kira kemudian. Sama sekali tidak melihat pria dengan rambut awan itu.
"Aku disini ketua." Celetuk Histugaya. Muncul secara tiba-tiba dari belakang Kira.
"Waaaa kau mengejutkan aku saja. Bagaimana hasilnya Histugaya?"
"Seperti yang ketua lihat tidak berkurang sedikit pun." Jawab Hitsugaya padat dan jelas. Dengan memperlihatkan kotak yang masih banyak dengan barang jualan stand klub.
"Hhhhaahhh apa yang harus kita lakukan." Kira terduduk di kursi stand dengan wajah tertekuk.
"Ketua semangatlah."
"Hitsugaya benar ketua. Pasti akan ada keajaiban menghampiri klub ini." Ujar Rukia dengan wajah yang tertekuk lesu tadi berubah cerah seperti matahari.
"Tidak ada keajaiban menghampiri klub saat in—"
DUK
Lagi-lagi kaki Renji di injak oleh Riruka. Renji pun loncat-loncat kesakitan di sudut stand.
"Aku kembali teman-teman."
"Uryuu kau sudah kembali." Ujar Riruka menghampiri pria kacamata itu.
"Apa yang sedang dilakukan oleh babon itu?" Tanya Ishida bingung setelah melihat Renji yang loncat-loncat di sudut stand.
"Sudahlah biarkan saja si kepala nanas itu. Kau mendapatkan sesuatu?"
"Yah begitulah. Sekarang aku mengetahui apa yang di jual oleh klub Kurosaki."
"Benarkah itu Uryuu? Apa yang mereka jual di stand mereka?" Tanya Rukia dengan menuntut.
"Kalau soal itu aku membawa barangnya." Ishida memasukkan tangannya ke dalam kantong baju. Mengeluarkan benda berbahan kertas berbentuk persegi panjang.
"Ini yang mereka jual." Ujar Ishida memperlihatkan benda berukuran sedang itu. Kepada seluruh penghuni stand.
Semua orang di dalam stand itu pun mendekatkan diri bermaksud melihat lebih jelas benda yang sedang di pegang oleh Ishida.
Hening melanda stand tersebut. Mereka semua terdiam setelah melihat benda yang di bawa oleh Ishida. Benda itu bukan barang aneh maupun menjijikan. Benda itu hanyalah sebuah foto berukuran sedang.
Gambar dalam foto itu pun bukanlah gambar mesum ataupun mengerikan. Tapi gambar seorang lelaki tampan dengan pose kerennya. Yang membuat mereka terdiam adalah model dari foto itu. Adalah orang yang sangat mereka kenal dan di benci oleh si pemilik amesty. Siapa lagi dan tidak bukan pria itu adalah Kurosaki Ichigo!
"DEMEE JADI MEREKA MENJUAL FOTO SI KEPALA ALIEN ITU!" Teriak Rukia dengan amarah yang meledak-ledak.
"Tidak aku sangka mereka menjual foto si Kurosaki." Celetuk Hitsugaya masih menatap foto yang di bawa oleh Ishida.
"Hm jelas saja mereka melakukan hal itu. Kurosaki Ichigo adalah model terkenal. Hampir seluruh siswi sekolah ini adalah penggemarnya." Ujar Kira memuji kepopuleran Ichigo.
"MEMANGNYA SI KEPALA ALIEN ITU PERSONIL AKB 48 YANG FOTONYA SELALU ADA DI STAND FESTIFAL!" Sungut Rukia dengan wajah yang sudah berubah menjadi merah padam.
"Rukia tenanglah." Ujar Momo menenangkan.
"Tapi kacamata dari mana kau mendapatkan foto ini. Jangan-jangan kau membelinya?" Tuduh Renji dengan wajah tidak percaya.
"Mana mungkin aku membelinya babon! Aku meminjamnya dari teman sekelasku." Jelas Ishida dengan wajah kesal.
"URYUU BERIKAN FOTO SI ALIEN ITU KEPADAKU. BIARKAN AKU MENGUTUKNYA!" Rukia langsung menghampiri Ishida dengan tangan menggapai foto Ichigo.
Tapi Rukia tidak berhasil mengambil foto Ichigo. Karena Riruka sudah memenjarakan Rukia dengan pelukannya.
"Rukia tenanglah itu hanya foto!" Ujar Riruka dengan nada panik.
"WAA LEPASKAN AKU RIRUKA BIARKAN AKU MENGUTUKNYA!" Teriak Rukia dengan tanduk akuma di kepalanya.
"Uryuu cepat simpan foto itu sekarang!" Dengan sigap Ishida menuruti perintah Riruka. Mengembalikan foto tidak bersalah itu ke dalam kantong bajunya.
.
"Rukia minumlah." Riruka mesodorkan sebuah botol minuman. Rukia pun menyambutnya.
"Makasih Riruka."
"Sudah agak mendingan?"
"Sama sekali tidak. Sebelum aku mengutuk foto itu aku tidak akan puas." Ujar Rukia dengan wajah tertekuk.
"Rukia itu hanya foto."
"Itu bukan hanya foto Riruka! Apa kau tau dalam foto itu si kepala alien itu menetertawakan kita!"
"Itu hanya perasaanmu saja Rukia."
"Sebaiknya kalian berdua makan ini." Ujar Ishida sembari memberikan satu bungkusan plastik berisikan makanan.
"Apa ini?" Tanya Rukia penasaran.
"Yakisoba. Pasti kalian lapar, makanlah."
"Wah Uryuu sensei memang baik. Berbeda dengan seseorang." Sindir Riruka dengan menatap Renji.
"Deme kau menyindirku ya Riruka!" Gerutu Renji sembari menunjuk Riruka.
"Heee siapa juga yang menyindirmu. Jangan kegeeran ya." Ujar Riruka dengan lidah menjulur keluar mengejek Renji.
"Kau—"
"Sudah kalian berdua berhenti. Cepat makan Yakisoba ini." Tegur Ishida memberikan satu demi satu kotak yakisoba kepada teman-temannya.
"Ini untukmu ketua."
"Sankyuu Ishida."
Dalam suasana ramai tersebut, semua klub astronomi menikmati makan siang mereka.
"Permisi."
"Ya selamat datang di stand astronomi." Rukia menghentikan kegiatan makannya. Bermaksud menyapa pengunjung stand.
"Rukia?"
"Ashido!?" Celetuk Rukia dengan kaget.
"Ternyata kau anggota klub astronomi ya Rukia."
"Iya itu benar." Jawab Rukia dengan senyum manisnya.
"Oh ternyata kau Ashido." Ujar Renji ikut menyapa Ashido.
"Hei Renji."
"Kalian berdua sudah saling kenal?" Tanya Renji penasaran. Setelah melihat kedekatan antara Rukia dan Ashido.
"Ashido lah yang menolongku saat aku dijahili oleh si kepala alien jeruk itu." Jelas Rukia sembari melipat kedua tangannya.
"Hahaha itu cuma kebetulan saja kok. Oh iya apakah ini barang-barang yang kalian jual?" Ujar Ashido menunjuk gantungan kunci yang berada di atas meja stand. Rukia hanya mengangguk kepala kecil mengiyakan pertanyaan Ashido.
"Kalau begitu aku ambil satu. Berapa harganya?" Ashido mengambil satu gantungan kunci berbentuk bintang di atas meja.
"500 Yen!" Ashido memberikan satu koin 500. Rukia pun menerima uang tersebut dengan wajah berbinar. Sedangkan Ashido hanya tersenyum kecil melihat ekspresi lucu Rukia.
"Oi Ashido stand klub kalian ramai sekali ya. Pasti kalian menang lagi." Celetuk Renji.
"Haha sepertinya begitu. Aku tidak menyangka bisa seramai itu."
"Tidak ku sangka klub kalian hanya menjual selembar foto."
"Sebenarnya aku sama sekali tidak mengetahui kalau mereka menjual sebuah foto di stand. Aku baru mengetahuinya saat melihat fotoku ikut terpajang sebagai barang jualan stand juga." Jelas Ashido dengan wajah lesu. Mengingat kembali saat fotonya terpampang untuk diperjualbelikan.
"Hah serius!?"
"Tentu saja aku serius."
"Ashido cepat!"
"Iya tunggu sebentar! Sudah ya Renji, Rukia aku pergi dulu." Pamit Ashido. Kemudian berlari ke arah temannya yang sudah menunggu sedari tadi.
"Hei Rukia sampai kapan kau melihat koin 500 itu." Buka Renji setelah melihat Ashido pergi.
"Koin ini sangat berharga Renji." Ujar Rukia dengan menggebu-gebu.
"Percuma saja kalau hanya satu."
DUAK
"AW kenapa kau menendang ku Rukia!" Gerutu Renji sambil memegang tulang keringnya yang mulai nyeri kesakitan.
"Diam lah babon aku tidak butuh pendapatmu." Ujar Rukia dengan sinis.
"Hei semuanya~~~" Rukia dan Renji memutarkan kepala. Melihat seorang perempuan yang berjalan dengan gemulainya ke depan stand mereka.
"Glek apa yang kau lakukan disini sensei sialan." Ujar Kira muncul tiba-tiba dari balik meja.
"Memangnya salah aku ke sini. Aku hanya melihat keadaan saja. Jadi bagaimana hasilnya?" Semua orang dalam stand tersebut mulai terdiam saat mendengar kalimat terakhir Rangiku sensei.
"Etto sensei sebenarnya..."
.
"APA!"
Semua orang dalam stand tersebut. Mulai menutup telinganya saat mendengar lengkingan Rangiku sensei.
"JANGAN BERCANDA KEPALA KUNING!" Ujar Rangiku sensei dengan wajah panik. Menggoyangkan bahu Kira dengan cepatnya.
"Aku tidak bercanda. Sudah ku bilang kan memang mustahil menang dari mereka!" Tembak Kira secara langsung. Menusuk jantung Rangiku sensei yang langsung terduduk di tanah.
"Ini tidak boleh terjadi."
"Sudah lah kau menyerah saja."
"Ini tidak boleh terjadi!" Rangiku sensei berdiri lagi dari duduknya.
"Hei sudah ku bilang per—"
"Mana sudi aku kalah dari kepala rubah itu. Apa boleh buat aku akan mengeluarkan senjata rahasia yang selama ini aku sembunyikan." Ujar Rangiku dengan wajah super serius.
"Senjata rahasia?" Tanya semua orang dalam stand tersebut. Tetap melihat Rangiku sensei yang mulai berdiri di atas kursi.
"Hei apa yang ingin kau lakukan?" Tanya Kira kemudian.
"Aku akan menari disini."
"APA!"
Tanpa basa-basi Rangiku mulai melepas satu demi satu kancing bajunya. Berniat memperlihatkan lekuk tubuhnya yang seksi.
"WAA TURUN KAU DARI SANA SENSEI SIALAN!" Ujar Kira dengan wajah panik.
"LEPASKAN AKU KEPALA KUNING! BIARKAN AKU MEMBANTU KALIAN!" Rangiku sensei masih bersikeras mempertahankan posisinya dari tarikan Kira.
"Hei kalian cepat bantu aku menghentikan sensei gila ini!" Tersadar dari lamunan. Mereka semua mulai membantu Kira menghentikan aksi gila Rangiku sensei.
"Cepat ikat dia dengan tali ini!"
"WAAA LEPASKAN AKU KEPALA KUNING!" Rangiku sensei mulai berontak di saat tubuh sexynya terikat oleh tali.
.
"Hhhhaahh akhirnya selesai juga." Hela Kira dengan lelah. Setelah selesai menjinakkan satu hewan liar. Sekarang hewan liar itu sedang di seret ke ruang klub oleh Renji dan Ishida.
"Tidak aku sangka Rangiku sensei bisa seperti itu." Celetuk Rukia. Mulai duduk di kursinya karena terlalu lelah menghentikan aksi gila Rangiku sensei.
"Sensei sialan itu kadang memang suka melakukan hal gila. Untung saja kita bisa menghentikannya sekarang. Kalau kita tidak berhasil melakukannya. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan festifal ini."
Beberapa menit kemudian. Datanglah Renji dan Ishida setelah kembali dari ruang klub.
"Bagaimana?"
"Seperti yang ketua perintahkan. Kami mengunci Rangiku sensei di ruang klub." Jawab Renji memberikan kunci ruang klub kepada Kira.
"Hhhah baguslah. Dengan begini sensei sialan itu tidak akan melakukan hal gila lagi."
.
"Hei teman-teman ayo kita pergi ke klub basket."
"Ayo! Kyaa aku tidak sabar membeli koleksi terbaru foto Kurosaki senpai."
"Aku juga hahaha."
"Arghhh menyebalkan." Gerutu Rukia setelah melihat pemandangan sekumpulan siswi yang teriak-teriak histeris memuja si kepala jeruk.
"Sepertinya klub basket sudah menjadi calon pemenang festifal tahun ini." Celetuk Renji.
"Argh aku tidak mau itu terjadi. Aku tidak sudi kalah dari alien itu dan menjadi budaknya." Ujar Rukia frustasi mengacak rambut pendeknya kasar.
"Sebenarnya ada satu cara lagi yang bisa mengalahkan mereka."
"APA ITU RIRUKA!?" Tanya Rukia dengan tatapan menuntut.
"Yang bisa mengalahkan mereka hanyalah Byakuya-ni san." Jelas Riruka dengan wajah super duper serius.
"Ni-sama? Apa hubungannya ni-sama dengan semua ini?"
"Apa yang dikatakan Kuchiki benar. Apa hubungan kakak Kuchiki dengan menangnya kita dalam festifal ini?" Tanya Kira bingung. Masih belum menangkap apa yang dimaksud oleh Riruka.
"Baiklah akan aku jelaskan. Dekatkan diri kalian." Semua orang dalam stand tersebut itu pun, mulai bergumul dan memasang telinga mereka mendengarkan rencana busuk (?) Riruka.
"AKU TIDAK MAU!" Sungut Rukia setelah mendengarkan rencana Riruka.
"Ayolah Rukia hanya ini satu-satunya cara yang bisa mengalahkan si Kurosaki." Bujuk Riruka.
"Tidak mau! Mana mungkin aku mempergunakan ni-sama dalam rencana ini! Itu sama saja aku mempermalukannya! Aku tidak mau!" Ujar Rukia tetap bersikeras tidak menyetujui rencana Riruka.
"Kalau begitu kau rela jadi budaknya Kurosaki."
"TENTU SAJA TIDAK!"
"Kalau begitu kita harus menjalankan rencana ini." Ujar Riruka dengan tatapan menyakinkan Rukia.
"Apakah tidak ada cara lain lagi?"
"Tidak ada."
"Ukh baiklah aku setuju dengan rencana ini." Kata Rukia dengan wajah mulai tertekuk lesu. Riruka pun hanya mengeluarkan senyuman kegirangan karena Rukia sudah setuju dengan rencana gilanya (?)
"Jadi Riruka apa yang harus kita lakukan sekarang? Byakuya tidak ada disini, kau tidak mungkin menyuruhnya kesini kan?" Tanya Renji mulai penasaran pada rencana Riruka yang menurutnya gila.
"Mana mungkin aku menyuruh Byakuya-ni san kesini. Akan terjadi keributan sangat besar nantinya kalau dia datang."
"Eeehh apakah kakaknya Rukia adalah orang terkenal?" Tanya Momo dengan wajah cengo.
"Ya Momo kakak laki-laki Rukia adalah orang yang sangat terkenal."
"Sudahlah daripada kita terus bicara seperti ini. Sebaiknya jalankan saja rencanamu Riruka." Kata pria bersurai awan itu-Hitsugaya.
"Hm baiklah pertama-tama Rukia pinjam ponselmu."
"Eh untuk apa?" Tanya Rukia dengan wajah bingung.
"Sudah lah berikan saja." Rukia pun memberikan ponselnya kepada Riruka.
"Baiklah langkah kedua, aku akan menelpon Hisana-nee."
"Hah? Kenapa kau harus menelpon ne-san?" Panik Rukia setelah melihat Riruka menggunakan ponselnya menelpon Hisana.
"Hush diamlah aku sedang menjalankan rencana kita." Semua orang dalam stand tersebut terdiam termasuk Rukia. Menunggu orang menjawab telpon di seberang sana.
.
Matahari bersinar dengan teriknya. Menandakan bahwa musim panas sebentar lagi akan datang. Cahaya matahari pun meyinari seluruh kota Tokyo. Juga sebuah rumah bergaya khas eropa yang terletak di perpadatan perumahan kota Tokyo.
Di dalam rumah tersebut, terlihat sepasang suami isteri yang sedang menikmati teriknya sinar matahari yang memasuki rumah. Dari celah-celah kaca jendela. Tapi sepertinya hal itu tidak berlaku bagi sang isteri. Karena ia sedang sibuk berberes beberapa barang pindahan yang belum sempat di bereskan.
"Hm vas bunga ini akan aku letakan disini. Terus foto ini akan aku letakan di sini." Gumam seorang wanita bersurai hitam. Sibuk menata ruang keluarga rumah nya.
"Kau perlu bantuan Hisana?" Tanya sang suami tampan.
"Ah tidak perlu. Sebentar lagi selesai. Kau bersantai saja Byakuya." Jawab Hisana mengeluarkan senyum manisnya.
Suami kakunya itu pun hanya mengangguk kecil dan melengos pergi meninggalkan isterinya.
"Hm guci ini aku letakkan dimana ya?"
TRALALALALALALALALALALALALA
Kegiatan Hisana terhenti, saat mendengar suara nyaring dari ponselnya. Hisana pun bergegas mengambil ponselnya. Melihat siapa yang menelponnya. Dalam mata amestynya terlihat nama adiknya. Dengan cepat Hisana menerima panggilan adiknya.
"Moshi-moshi ada apa Rukia?" Tanya Hisana langsung.
"Hhhah akhirnya. Selamat siang Hisana-nee."
Hisana terkejut saat mendengar suara dari telepon adiknya itu. Karena suara itu sama sekali bukan suara adiknya. Suara siapa? Hisana hanya menatap bingung ponsel yang di pegangnya.
"Maaf ini dengan siapa ya?"
"Oh iya aku lupa! Hisana-nee ini aku Riruka-chan."
"Riruka-chan! Wah sudah lama sekali ya." Wajah bingung Hisana pun mulai berubah menjadi senyum ramah.
"Iya Hisana-nee. Sudah lama sekali tidak bertemu nee-san."
"Kalau begitu datanglah ke rumah kami kapan-kapan."
"Iya nee-san. Aku nanti akan ke rumah nee-san bersama Renji dan Uryuu."
"Wah itu ide bagus. Byakuya pasti senang bertemu dengan kalian." Di sudut ruangan rumah itu Byakuya sedang duduk santai menonton televisi. Tetapi telinganya tetap fokus mendengar percakapan isterinya. Takut kalau isterinya menelpon laki-laki lain #plak.
"Hm Hisana-nee sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan."
"Eh apa itu?"
"Sebenarnya aku butuh bantuan Hisana-nee."
"Hah bantuanku?"
"Sebenarnya—"
"Riruka sebaiknya hentikan saja rencana ini."
"Rukia kita sudah setengah jalan. Cepat berikan ponselnya padaku!"
"Tidak mau!"
Terjadi perseteruan di balik telepon itu. Hisana hanya menatap ponsel nya lagi dengan bingung. Mendengarkan suara-suara berisik yang keluar. Penasaran sebenarnya apa yang sedang terjadi.
"Hei kalian semua bantu aku."
"Waaa lepaskan aku."
"Halo Hisana-nee kau masih disana kan?"
"Ah iya aku masih disini." Hisana bergidik kaget saat Riruka memanggilnya.
"Hm Riruka-chan sebenarnya apa yang terjadi disana?"
"Tidak terjadi apapun kok Hisana-nee. Tapi klub kami sedang mengalami kesulitan."
"Apa!? Sebenarnya apa yang terjadi Riruka-chan?" Ujar Hisana dengan wajah khawatir.
"Hm sebenarnya..." Riruka pun mulai menceritakan kesulitan yang dialami oleh klub astronomi. Dengan menambahkan sedikit garam agar Hisana percaya dengan perkataan Riruka.
"Kasian sekali kalian."
"Hhahh begitulah nasib kami Hisana-nee. Karena itulah kami butuh bantuan nee-san."
"Baiklah aku akan membantu kalian."
"Benarkah Hisana-nee?"
"Ya! Aku akan membantu kalian menang di festifal." Ujar Hisana dengan semangat 45.
"Arigato Hisana-nee!"
"Tapi apa yang harus aku lakukan untuk membantu kalian? Apa aku perlu datang sekolah Rukia juga?"
"Tidak tidak nee-san tidak perlu datang kesini. Kami hanya ingin nee-san mencarikan sesuatu untuk kami."
"Eh apa itu?"
"FOTO PANAS BYAKUYA NI-SAN!"
"Foto panas Byakuya? Maksudnya foto Byakuya saat dia pergi ke pantai?" Tanya Hisana dengan wajah polosnya.
"Bukan foto seperti itu nee-san. Tapi foto Byakuya ni-san yang menggairahkan." Hisana hanya mengeluarkan ekspresi bingung sambil berpikir. Apa yang dimaksud oleh Riruka. Foto yang dapat menggairahkan? Memangnya ada?
"Nee-san?"
"Ah iya. Kalau aku menemukan fotonya. Aku akan mengirimnya ke email Rukia."
"Oke nee-san. Mohon bantuannya"
Panggilan itu pun berakhir menyisakan tanda tanya besar di kepala wanita cantik itu.
"Hm aku sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Riruka. Katanya bukan foto saat Byakuya di pantai. Padahal itu sudah panas. Tapi apa? Foto panas?" Hisana mulai berpikir keras untuk menemukan apa yang dimaksud oleh Riruka.
Tidak mau terlalu pusing memikirkan hal itu. Hisana langsung berselancar di jaringan internet. Melalukan pencarian foto panas (?) di mbah google.
Tidak sampai dua detik pencarian pun selesai. Keluarlah foto-foto laki-laki maupun perempuan bertubuh sexy dan atletis. Tidak mengenakan pakaian apapun!
"KYYYAAAAAAAAAA!" Teriak Hisana histeris. Melepar ponsel sampai menghasilkan bunyi keras. Setelah melihat foto hina dan nista yang menodai mata sucinya.
Byakuya bergidik kaget saat mendengar sebuah barang pecah "Apa yang terjadi Hisana?" Tanyanya mulai berdiri dari duduknya.
"A-a-i-itu ti-dak ada apa-apa kok." Jawab Hisana gagap. Menghentikan langkah Byakuya yang akan mendatanginya.
"Benarkah?" Tanya Byakuya masih menatap khawatir Hisana yang mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Iya. Tadi aku hanya kaget ada kecoa lewat hahahaha."
Mendengar jawaban Hisana yang menurutnya masuk akal. Byakuya pun melanjutkan acara nonton televisinya. Hisana menghela nafas lega saat Byakuya tidak jadi menghampiri.
Dengan sigap Hisana mengambil ponsel yang sebelumnya terjatuh tadi. Dan berlari dengan cepat ke arah toilet.
Sesampainya di toilet. Hisana membuka kembali ponselnya yang sudah mati karena ulahnya tadi. Setelah di nyalakan dalam kayar ponsel tersebut terpampang dengan jelas foto panas yang dimaksudkan oleh Riruka.
Wajah Hisana langsung memerah seperti buah cery. Saat melihat foto-foto bugil (?) tersebut.
"Masa Byakuya harus berpose seperti ini!? Tidak tidak tidak boleh. Byakuya hanya boleh berpose seperti ini di hadapanku (?)"
Di dalam kamar mandi itu, Hisana mulai membayangkan suami tampannya sedang memperagakan pose-pose pada foto yang dilihatnya. Wajah Hisana yang sebelumnya memerah tadi menjadi semakin merah seperti lampu lalu lintas.
"Kyyyaaaa apa yang aku pikirkan. Kenapa aku jadi hentai seperti ini." Hisana mulai melakukan tarian gaje. Karena malu dengan imajinasi liar yang dia hasilkan sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin mengirim foto Byakuya seperti ini. Kalau aku menyuruhnya melakukan hal ini. Bisa-bisa akan berakhir dengan permainan panas kami di ranjang (?) Kyaa apa yang harus lakukan. Pikirkan sesuatu Hisana." Dengan wajah serius Hisana berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi. Memikirkan mendapatkan foto panas Byakuya.
Setelah sekian lama berpikir, lampu pijar muncul di atas kepala wanita bersurai hitam itu.
"Aku dapat ide!" Ujarnya sambil menjentikan jari.
"Dengan ide ini. Pasti Byakuya tidak akan menyadari kalau aku mengambil foto panasnya. Baiklah saatnya menjalankan rencana." Dengan senyum malaikat atau akuma (?) Hisana keluar dari dalam kamar mandi.
Berjalan dengan riangnya menghampiri suami tampanya yang sedang menonton acara olaharga di televisi.
"Suamiku apa kau sibuk hari ini?" Buka Hisana setelah duduk di samping Byakuya.
"Tidak. Ada apa?" Tanya Byakuya singkat padat dan jelas.
"Bisakah kau membantuku menyiram tanaman di halaman belakang?" Ujar Hisana sambil mengeluarkan jurus mata puppy eyes.
"Baiklah akan aku lakukan." Dengan wajah datarnya. Byakuya berdiri dari duduknya. Berjalan ke arah halaman belakang.
"Makasih banyak suamiku~~"
"Yosh rencana pertama berhasil. Sekarang menjalankan rencana kedua." Masih dengan ponsel di genggamannya. Hisana mulai mengendap ke halaman belakang mengikuti suaminya.
.
Di halaman belakang rumah bergaya khas eropa tersebut. Terpampang dengan jelas berbagai macam tanaman rambat maupun bunga. Menghiasi halaman tersebut. Membuatnya mengeluarkan kesan indah dan asri.
Tapi sekarang semakin indah. Saat seorang pria tampan bak pangeran berkuda putih. Bersurai hitam legam mendatangi halaman tersebut. Sambil membawa selang panjang di tangan kanannya. Untuk menyiram tanaman.
Apapun akan Byakuya lakukan untuk isteri cantiknya. Disuruh memanjat pohon pun akan ia lakukan asalkan isterinya bahagia. Itu lah yang sedang dipikirkan oleh pria kaku tersebut.
Masih dengan wajah datarnya. Byakuya mulai menyiram satu demi satu tanaman di halaman tersebut. Tidak menyadari bahwa ada makhluk (?) sedang mengintainya. Yaitu isterinya yang sedang bersembunyi di balik tembok rumah dengan seringai ala akumanya.
"Yosh saatnya menjalankan rencana kedua." Gumamnya berjalan mengendap ke arah keran yang sedang mengalirkan air. Ke dalam selang yang sedang dipegang Byakuya.
Tanpa diketahui oleh Byakuya. Hisana sudah berada tidak jauh di belakangnya. Dengan kaki yang menginjak selang yang dialiri air itu.
Air dalam selang itu pun berhenti mengalir. Menimbulkan ekspresi bingung di wajah Byakuya. Sambil menggoyangkan selang yang sedang di pegangnya. Byakuya berusaha mengeluarkan air dalam selang tersebut. Tidak menyadari tatapan intimidasi dari isterinya yang masih menginjak selang air.
"Aneh kenapa airnya tidak keluar?" Gumamnya. Memutar kepala selang tersebut ke depan wajahnya. Bermaksud melihat lubang selang. Apakah ada sebuah benda yang menyumbat selang tersebut.
Melihat pemandangan tersebut. Hisana langsung mengangkat kakinya. Mengalirkan derasnya air ke selang berwarna biru itu.
BRRUUUSSHHH
Air langsung menyembur dengan derasnya dari dalam selang. Membasahi wajah dan tubuh atletis Byakuya yang tidak sempat menghindar dari semprotan air.
"Byakuya kau baik-baik saja?" Hisana mulai menjalankan rencana ketiga. Menghampiri Byakuya dengan wajah akting khawatirnya.
"Uhuk aku baik-baik saja." Ujarnya sembari melap wajah dengan tangannya.
"Tunggu sebentar. Aku akan ambil handuk dan baju ganti dulu." Hisana berlari dengan tergesa ke dalam rumah. Mengambil handuk dan baju milik suaminya.
Tidak selang beberapa menit. Hisana datang dengan handuk dan baju kaos di tangannya.
"Cepat lepas bajumu sekarang Byakuya." Byakuya mulai melepaskan satu demi satu kancing kemejanya. Menampakan tubuh atletisnya.
CEKLEK
Byakuya menghentikan kegiatan melepas bajunya. Setelah mendengar sebuah suara yang dihasilkan oleh benda bernama kamera.
"Suapa apa itu?" Tanyanya kemudian menatap isterinya.
Hisana langsung menyembunyikan ponsel ke belakang tubuhnya. "Hah suara apa? Aku tidak mendengar apapun kok hahaha."
Byakuya pun melanjutkan kegiatan melepas bajunya. Dengan air yang masih membasahi tubuh dan rambutnya.
Hisana hanya bisa meneguk ludah. Saat diberikan pemandangan panas yang disuguhi suaminya sendiri. Tangan Hisana masih senantiasa memencet tombol kamera. Mengabadikan pemandangan panas yang sedang dilihatnya.
Hisana meneguk ludahnya lagi. Di saat melihat air yang turun dari rambut Byakuya. Dengan anggunnya mengalir di lekuk-lekuk tubuh atletis milik suaminya. Wajah Hisana yang mulanya merah. Semakin memerah seperti buah cery. Setelah melihat pemandangan surga dunia di depannya.
Kalau saja sekarang bukan siang hari. Mungkin sekarang Hisana sudah menyerangnya. Oohh suaminya ini sangat menggoda untuk di sentuh (author mode on mesum).
Byakuya mengambil handuk di tangan Hisana. Menyapukannya di rambut panjangnya. Merasa tidak ada air lagi di rambutnya. Byakuya menarik poni rambutnya ke belakang. Menampakkan rahang tegas di wajah tampannya.
Melihat pemandangan tersebut. Panas mulai menjalar di wajah imut Hisana. Semakin membuat merah wajah cantiknya.
"Hisana kau baik-baik saja?" Tanya Byakuya dengan tangan yang sudah berada di pipi Hisana. Memeriksa apakah isterinya ini sedang sakit atau tidak. Karena melihat wajah Hisana yang memerah seperti orang demam.
Wajah Hisana semakin memerah kembali saat merasakan tangan suaminya. Dengan lembut mengelus pipinya. Ditambah dengan keadaan suaminya yang sekarang sudah melepas baju atasannya. Dengan jarak sedekat ini. Hisana dapat melihat tubuh sexy suaminya. Ooh Hisana bukankah kau sudah sering melihatnya.
"Em et-to a-ku baik-baiknya." Jawab wanita bermata amesty itu dengan gagap. Tidak sanggup melihat pemandangan menggiurkan di depannya.
"Eh benarkah?" Tanpa Hisana duga. Byakuya menundukkan sedikit tubuhnya. Menempelkan kepalanya ke kepala Hisana. Memeriksa suhu badan isterinya itu.
Panas langsung menjalari wajah dan tubuh Hisana. "Et-to aku..."
"Hm." Masih menatap intens mata Hisana. Byakuya menyematkan tangannya ke pinggang mungil isterinya. Mendekatkan tubuh mungil tersebut ke tubuh setengah telanjangnya.
Refleks tangan Hisana menghalangi tubuhnya semakin menempel di tubuh suaminya. Dengan menempelkan tangannya di dada kekar milik suaminya.
"Et-to a-ku..." Hanya itu kalimat yang bisa keluar dari mulutnya. Entah kenapa tidak ada kalimat lain yang keluar dari mulutnya. Setelah melihat tatapan menawan dari suaminya.
"Hm?" Masih bergumam pelan. Byakuya menundukkan sedikit demi sedikit kepalanya. Berniat menghampiri bibir merah merona milik isterinya.
"A-ku..." Ujarnya dengan gugup. Saat merasakan bibir Byakuya. Hampir bersentuhan dengan bibir mungilnya. Satu gerakan lagi maka mereka akan—
"AKU BAIK-BAIK SAJA!" Pekik Hisana secara tiba-tiba di depan wajah Byakuya. Menghasilkan wajah terkejut di wajah tampannya.
Hisana langsung mendorong tubuh Byakuya. Melepaskan pelukan suaminya. Kemudian berlari dengan wajah masih memerah seperti tomat. Meninggalkan pria tampan itu. Dengan segudang tanda tanya.
"Apakah aku melakukan kesalahan tadi?" Tanya pria kaku tersebut kepada dirinya sendiri.
.
.
.
TBC
Haloha minnnaa saan Jabu kembali. Oke pengumuman saya melakukan ptong kambing kembali mengganti nma pena sya yang dulunya Minami Suna menjadi Bokujabu. Kok gnti namanya jadi tambah aneh ya#plak. Akhirnya selesai juga chapter ini #gulinggulingdiranjang. Chapter ini spesial ByaHisa! Maafkan Jabu klau chapter nggak ini ada Ichirukinya #nundukhormat. Tapi chapter depan Jabu janji akan ada scene Ichirukinya bwahahaha. Jabu mau curhat nih, Jabu dapat FLAME YANG SANGAT MANIS BANGEET. Oke Jabu telah menerimanya dengan lapang dada. Gra-gra flame tersebut Jabu semakin termotivasi menulis lbh bagus lgi. Terima kasih pembaca yang sdh ngeflame Jabu #memberikanpelukanhangat.
Untuk crita Jabu lainnya yaitu White. Akan mncul chapter keduanya tidak lama lagi! Kalau Hentai man, sepertinya akan sedikit lama karena Jabu harus mode on mesum banget supaya bisa nulis crita itu #plak. Jadi tunggu aja ya kelanjutan crita Jabu.
Please kritik, read, and review
Allen Walker : Arigato Allen-san sudah selalu mereview dan membaca fanfic Jabu #pelukhangat. Ini chapter brunya maaf lama hehehe. Klau mslah typo nma itu Jabu juga bingung mana yg benar Kakuto atau Kokuto hehe maafkan Jabu yang selalu khilaf ini. Soal Ichigo mengetahui klau cewel yg ditaksirnya itu tunggu aja ya. Terus baca dan review ffn ku ya hahahaha
Rukichigo: Arigato ne ruki-san sudah bca dan review ffn ku. Klau mslah scene Ichiruki sprtinya blum bsa terealisasikan di chapter ini maafken Jabuuuuu. Tpi Jabu janji chapter dpan interaksi Ichiruki akan lebih banyak bhahahaha. Jadi tunggu aja chapter selanjtunya.
