Parody/Romance
Disclaimer: Bukan punya saya. Kalau punya saya, saya buat Sena dengan Shin forever. Ini punya senpai saya, Riichiro Inagaki dan Yusuke Murata
Eyeshield 21
Pairing: HiruMamo
Warning:
OOC, GaJe, etc.
Via: maaf telat update. Soalnya otak saya lagi pusing. Jadi telat gini deh.
Balasan Reviews:
Chrystha McDohl Suikogirl: itu mimpiku. Jadi, kubuat aja jadi mimpi hiruma.. update nih..
Ririn Cross: tentang ibunya rahasiain namanya bakal nongol di chapter-chapter selanjutnya. Update nih…
Micon: napa kamu elus-elus? Update ni..
RisaLoveHiru: itu ngetiknya di kom. Jadi banyak typo. Motong mimpinya? Itu mimpiku, memang kayak gitu mimpinya. Update ni…
Oke, langsung aja.
Silakan dibaca n jangan lupa reviewnya….
Come Back To Me
Chapter 7: Riku Kaitani
By: Shield Via Yoichi
KRING! YA-HA!
Jam weker berbunyi membangunkan Yoichi. Yoichi terbangun dan langsung melihat seisi kamarnya.
Dia menarik nafas, "Untung cuma mimpi. Mimpi yang aneh sekali."
Yoichi membereskan tempat tidunya,segera mandi dan sarapan. Lalu dia berangkat ke sekolah.
Yoichi sampai di sekolah dan masuk ke kelasnya. Tempat dimana dia harus berubah menjadi Akuma. Dia duduk lalu mengeluarkan buku berwarna hitam dan mulai menulis.
Di tulisnya nama Mamori Anezaki. Lalu mencatat sifat-sifat si pemilik nama. Dia menulis seperti ini di bukunya:
- Baik
- Cantik
- Suka sekali tersenyum
- Mata biru safir-nya yang bagus
- Rambutnya yang tersisir rapi
Ditutupnya buku itu sambil tersenyum. Dipangku kepalanya dengan tangan kanannya. Masuk ke alam imajinasi.
-Beralih ke Riku Kaitani-
Riku Kaitani, siswa kelas tiga SD bersama Sena. Dia salah satu sahabat Mamori. Anak yang berwajah polos. Tapi bukan berarti hatinya juga polos. Dia tidak polos seperti dugaan orang-orang yang melihatnya. Itu karena dia sudah mengerti apa itu cinta.
Itu disebabkan oleh anikinya, Taka Honjo berumur 15 tahun. Riku sering mendengar pernyataan cinta Taka ke beberapa gadis lewat telepon dan rayuan-rayuan gombal lainnya. Serta juga sering membaca diary book anikinya yang berisi tentang perasaan Taka.
Perasaan bila jatuh cinta seperti jantung berdetak kencang, bayang-bayang selalu menghantui dan lain sebagainya. Riku sekarang juga merasakan itu. Dia menyimpan perasaannya kepada kakak kelasnya. Siapa lagi kalau bukan Mamori.
Tapi bukan hanya Riku yang mengerti cinta. Teman sekelas Riku, Jumonji dan Togano. Anak-anak nakal yang sudah pernah mengirim surat cinta kepada perempuan-perempuan di kelas mereka.
Tapi tidak untuk Riku. Dia hanya menyukai dan mencintai satu orang, Mamori.
-eyeshield21-
Yoichi alias Akuma menjalani harinya seperti biasa kecuali adanya rona bahagia yang terpancar dari wajahnya.
KRIING!
Bel pulang berbunyi. Tak terasa sudah pulang saja. Padahal Yoichi ingin terus menerus dekat dengan Mamori.
Yoichi berpikir bagaimana caranya tetap dekat dengan Mamori. Tiba-tiba otaknya terisi ide yaitu mengikuti Mamori pulang secara diam-diam alias menguntit. Untung-untung bisa tahu rumah Mamori.
Yoichi berlari menuju gerbang sekolah. Dicarinya orang yang ingin di kuntitnya dan berhasil.
Yoichi mengikuti Mamori yang ditemani seorang adik kelas.
"Mamo-nee, tunggu!" kata adik kelas itu.
"Eh, Riku. Ayo cepat! Mana Sena?" tanya Mamori yang baru sadar kalau mereka hanya berdua.
"Sena, ya? Hmm... Tadi dia dijemput oleh ibunya." jawab Riku.
'Dia ku tinggalkan di sekolah. Aku mau berdua denganmu.' batin Riku.[1]
"Tak biasanya. Tapi tak apa-apalah." kata Mamori yakin dengan pernyataan Riku.
Mereka terus berjalan. Sementara itu, Yoichi yang membuntuti mereka terus membuka telinganya lebar-lebar.
"Cih, suaranya samar-samar." keluh Yoichi.
Yoichi sedikit memperpendek jaraknya dengan Mamori dan Riku. Didengarnya lagi percakapan antara Mamori dan Riku ditengah keramaian.
"Mamo-nee."
"Ada apa, Riku?" tanya Mamori.
"Aku mau berbicara sesuatu padamu." jawab Riku.
"Hn? Apa itu? Katakan saja." kata Mamori penasaran.
"Aku sering merasakan jantungku berdetak sangat kencang." kata Riku.
"Hah? Kamu sudah pergi ke dokter?" tanya Mamori khawatir kalau Riku mengalami sakit jantung.
'Bukan itu!' marah Riku dalam hati.
"Aku belum selesai. Selain itu, aku juga sering bermimpi tentang seorang perempuan." jelas Riku, "Kata aniki, itu perasaan cinta."
"Siapa perempuan itu? Apa itu cinta? Bukannya itu rasa yang dirasakan oleh orang dewasa?" tanya Mamori sangat polos.
Yoichi yang mendengar langsung mengambil buku hitamnya lalu mencatat apa yang dikatakan Riku. Sekarang Riku berbicara tentang cinta, apa perbedaan menyukai dan mencintai.
Riku tampak lihai dengan topik itu. Mamori tetap berdiri dan mendengar perkataan Riku walau sudah bosan. Yoichi yang bersembunyi sibuk mencatat apa yang didengarnya.
Yoichi berhenti menulis ketika Riku mulai menjawab pertanyaan berikutnya.
"Perempuan yang ada di mimpi itu adalah..." kata Riku sepertinya sengaja memotong perkataannya.
Yoichi yang ingin mendengar lebih jelas, maju melangkah ingin memperpendek jaraknya.
BRUK!
Yoichi menabrak tiang listrik. Bunyi yang sangat keras itu membuat Mamori dan Riku menoleh ke arah sumber bunyi.
Sebelum itu terjadi, Yoichi bangkit dan berjalan mencari tempat persembunyian dengan tertatih-tatih.[2]
"Bunyi apa itu tadi?" tanya Mamori.
"Tidak tahu. Mau ku lanjutkan jawabannya?" tanya Riku balik mengalihkan perhatian.
Mamori mengangguk.
Yoichi yang bersembunyi melebarkan telinganya.
'Untung pendengaranku tajam' gumamnya.
Riku menghela nafas, "Dia adalah ..."
"Kamu, Mamori-chan." lanjut Riku setelah memberanikan dirinya untuk memanggil nama Mamori.
Mamori tertawa kecil, "Ha ha! Hentikan leluconmu, tidak lucu tahu!"
Mamori melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Riku.
"Tidak! Itu benar. Aku menyukaimu. Aku mencintaimu!" teriak Riku menghentikan Mamori.
Yoichi memalingkan wajahnya ke arah mereka. Ingin melihat reaksi Mamori.
Mamori menggeleng, "Tidak! Aku tak mengerti apa itu cinta! Cukup Riku! Aku..."
"Aku... Aku mau pulang. Biarkan aku sendiri." kata Mamori dan langsung berlari.
Air matanya mengalir membasahi pipinya.
Sementara, Yoichi merasakan sakit di bagian dadanya dan amarahnya memuncak. Yoichi menatap Riku dingin dari kejahuan. Tampak dia mengepalkan tangannya, ingin menghajar Riku. Tapi niatnya tertahan dan Yoichi pun berjalan ke rumahnya dengan jalur yang berbeda dengan Mamori dan Riku tadi.
Hiruma's POV
Sialan! Beraninya dia membuat Mamori menangis! Siapa tadi namanya? Riku? Riku Paktani atau Riku Kaitani? Anak yang sering dihukum guru dikelasnya. Dasar, rambut uban sialan!
Aku terus berjalan dengan amarah yang meluap-luap.
Eh, tunggu dulu! Kenapa aku harus marah? Mamori eh, tukang makan sialan itu bukan siapa-siapaku. Jadi, untuk apa aku marah? Lalu kenapa tadi aku mengikutinya? Apa benar aku menyukai tukang makan sialan itu? Ciri-ciri yang dikatakan rambut uban sialan itu mirip seperti yang sedang kurasakan. Hm, aku perlu mencari lebih dalam tentang perasaan ini.
End of Hiruma's POV
Mamori's POV
Air mataku terus berjatuhan membasahi pipiku. Aku tak tahu kenapa aku menangis. Mungkin aku hanya kaget karena Riku bilang kalau dia menyukaiku. Tapi, kenapa hatiku rasanya sakit? Lalu, apa yang harus kulakukan kepada Riku? Aku belum siap untuk mendengar yang seperti itu. Kami masih terlalu kecil untuk itu. Itu hanya untuk orang dewasa.
Argh! Aku pusing...
End of Mamori's POV
-eyeshield21-
Sudah tiga bulan berlalu setelah kejadian itu. Kini Mamor tidak lagi berangkat bersama dengan Sena dan Riku. Dia jadi lebih sering datang lebih awal dari yang biasa untuk menghindari pertemuan dengan Riku. Dia tak tahu harus berlaku apa bila bertemu dengan Riku.
Sedangkan Riku menjadi lebih akrab dengan Sena. Dia jadi lebih sering menggoda Sena dan terkadang mencium pipi Sena. Sena yang jadi korban sering menangis.
-eyeshield21-
Hari ini Riku pulang sekolah sendiri. Sena pulang dengan ibunya karena takut dengan Riku.
Riku terus berjalan tanpa melihat arah. Hati dan otaknya tertuju pada Mamori. Diingatnya kejadian tiga bulan yang lalu.
Riku's POV
Aku terus memikirkanmu, Mamo-nee. Aku tak bisa melupakanmu. Aku telah melakukan berbagai cara sampai Sena pun menjadi korban. Aku berhenti di depan lampu merah. Menunggu lampu hijau menyala. Tapi, mataku melihat Mamori dan seorang teman laki-lakinya berjalan pulang. Jadi, begini ya, Mamo-nee?
Aku langsung berlari menerobos lampu merah itu. Kendaraan-kendaraan kulewati dengan kecepatanku. Setelah berhasil ditengah jalan yang agak sepi, aku berjalan dengan santai walau hatiku penuh amarah.
End of Riku's POV
Riku berjalan di tengah kepadatan lalu lintas dengan santai. Tampak diujung jalan sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
TIIIN!
"Hei, awas!" kata para pejalan kaki diseberang sana.
Sayang, Riku tak dapat mendengar itu karena terlalu ribut. Alhasil, mobil tersebut menabrak Riku dan melemparkan badan Riku.
Kepala Riku terbentuk ke jalan aspal yang keras dan pecah.
"Mamo-nee, selamat tinggal. Bahagialah dengan anak itu." Itulah kata-kata terakhir Riku sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.
Semua orang yang melihat langsung membawa Riku kerumah sakit.
-eyeshield21-
Pagi ini semua anak bersekolah dengan gembira. Kecuali satu yaitu Sena. Dia tampak murung. Penyebabnya tentu saja karena meninggalnya Riku, sahabatnya itu. Dia ingin bertanya kepada Mamori apakah dia tahu Riku meninggal atau tidak. Dia berencana pulang sekolah nanti menemui Mamori.
-pulang sekolah-
Bel pulang berbunyi. Sena dengan cepat memasukkan bukunya dan melesat menuju kelas Mamori. Tampak Mamori keluar bersama Yoichi.
"Mamo-nee!" panggil Sena.
Merasa namanya dipanggil, Mamori menoleh kearah suara.
"Eh, Sena. Ada apa?" tanyanya.
"Ehm, begini. Ada sesuatu yang mau ku bicarakan. Ini penting." Kata Sena agak gemetaran.
"Katakan saja."
"Ri-Riku.."
"Ya, kenapa dia?"
"Riku… meninggal, Mamo-nee."
"Apa? Yang benar saja. Itu tidak mungkin, Sena." kata Mamori hendak menangis.
Sena mengangguk, "Iya, itu benar. Aku tidak bohong."
Mendengar itu, tangis Mamori makin menjadi-jadi. Sementara, Yoichi hanya diam. Tak tahu harus bagaimana.
"Aku harus ke rumahnya. Harus." kata Mamori sambil menarik tangan Yoichi dan Sena.
Mereka pun mengikuti Mamori menuju rumah Riku. Disana banyak sekali orang-orang berpakaian hitam melayat Riku. Tampak ibu Riku menangis disamping peti Riku. Mamori pun mendekati ibu Riku.
"Mamori." kata ibu Riku.
"Kenapa ini bias terjadi?" tanyanya.
"Dia kecelakan. Kepalanya pecah." kata ibu Riku tambah sedih.
Sena dan Mamori menangis mendengar perkataan ibu Riku. Sedangkan, Yoichi diam tanpa ekspresi walau dalam hati dia sangat senang.
Setelah beberapa jam, akhirnya Riku dimakamkan. Makamnya dihiasi dengan bunga-bunga dari pelayan. Nisannya begitu indah bertuliskan, 'Tidurlah dengan tenang. Riku Kaitani'.
Mamori duduk disamping makam itu bersama dengan Taka Honjo, kakak Riku.
"Riku, maafkan aku, ya. Aku telah melukai hatimu. Tapi, aku sama sekali tidak bermaksud begitu. Tidurlah dengan tenang di Surga sana." kata Mamori menangis.
Yoichi meletakkan tangannya dipundak Mamori. Bermaksud menenangkan Mamori. Tapi, Mamori malah memeluknya sambil menangis. Yoichi membalas pelukan itu.
"Ayo, pulang. Pasti ibumu mencarimu." ajak Yoichi.
Mamori melepaskan pelukannya dan mengangguk. Dia berdiri,
"Sampai jumpa, Riku."
Lalu, Mamori, Sena dan Yoichi pulang ke rumah masing-masing dengan berbagai macam perasaan.
TBC
Omake:
[1]
KRING!
Bel pulang berbunyi.
"Riku, Ayo pulang." ajak Sena.
"Aku mau ke toilet, ikut?"
"Baiklah." Sena pun setuju.
Mereka berjalan menuju toilet. Lalu masuk ke dalam kamar kecil yang ada di dalam toilet itu.
Riku tidak masuk. Dia hanya menipu Sena. Setelah yakin Sena sudah masuk, Riku langsung pergi mencari Mamori.
Sena keluar dari kamar kecil itu.
"Riku, apa kau sudah selesai?" panggilnya.
"…"
Tiada jawaban.
"Riku." panggilnya sambil mendobrak pintunya.
Berhasil didobrak. Tapi tidak ada orang di dalam.
"Riku?" Sena berlari keluar toilet, mencari Riku. Namun hasilnya nihil.
"Huah…. Riku, diman kau?" Sena menangis.
End of omake [1]
[2]
Yoichi bersembunyi di balik gerbang rumah orang.
GRAOOO
Suara anjing mengagetkan Yoichi.
"Anjing sialan, diam!"
GUK GUK GUK!
"Bodoh! Diam bukan ribut!" marah Yoichi.
GUK!
"Cih, sebentar lagu kau akan jadi milikku, anjing sialan."
End of omake [2]
Via: kya…. Panjang banget….. capek. Sialan tuh Shien-kun. Asyik-asyik ke mall. Bukannya bantuin, malah cari cewek seksi. Parah!
?: kau yang parah.
Via: siapa tuh?-merinding-
?: aku! Riku Kaitani. Ku gentayangi kau.. hihihi
Via: huah…. Hantu! Mohon reviewnya ya. Review kalian membantuku jadi semangat.-lari dari Riku-
