OHAYOU GOZAIMASU, KONNICHIWA, KONBANWA MINNA-SAN!
Nggak mau banyak cingcong deh :P yang pasti author minta maaf karena— /evil smile.
SELAMAT MEMBACA!
Jeng jeng jeng /anggap ini backsound.
.
.
.
Pagi itu matahari sudah sedikit tergelincir ke arah barat. Bukan pagi lagi ternyata, hari sudah siang. Beberapa orang pelayan sudah sibuk berlalu lalang sepanjang koridor kediaman Uchiha untuk membersihkan rumah dan menyelesaikan pekerjaannya yang lain. Tetapi sepertinya kegaduhan itu tidak menganggu Sasuke yang masih lelap tertidur setelah tadi malam sempat mabuk karena terlalu banyak meneguk sake.
TOK TOK TOK!
Pintu diketuk, tetapi tidak ada sahutan dari dalam kamar Sasuke. Si pemilik kamar tidak bergeming dari kasurnya. Tangannya yang kekar malah memeluk erat gundukan selimut disebelahnya.
TOK TOK TOK!
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tetap tidak ada jawaban dalam kamar. Tetapi sekarang, Sasuke merasa terusik dengan suara ketukan pintu yang memaksanya kembali dari dunia mimpinya. Walaupun matanya masih terpejam, sebenarnya Sasuke sudah terbangun. Merasa ada yang ganjil, tangannya meraba-raba kasur disebelah kanannya. Frustasi karena yang dicari tidak juga ditemukan. Akhirnya Sasuke beringsut dari tempatnya dan mulai terduduk dikasurnya. Ditariknya selimut yang berada disebelahnya dengan kasar hingga terlempar kesembarang tempat. Matanya terbelalak melihat pemandangan yang tidak biasa dilihatnya, pemandangan yang dalam dua minggu ini menjadi santapan sehari-harinya. Tapi tidak untuk hari ini.
"Permisi, Sasuke-sama." Rupanya sang tamu sudah tidak sabar lagi dan akhirnya memilih untuk masuk walaupun tidak mendapatkan izin Sasuke.
Dengan cepat Sasuke langsung menoleh untuk melihat rupa sang tamu yang dengan lancangnya masuk kekamarnya. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal, mata onyxnya dipenuhi oleh kilatan amarah. Tanpa membalas sapaan dari tamu tersebut, Sasuke langsung menanyakan satu pertanyaan yang sudah berputar-putar dikepalanya.
"Sai, dimana Haruno-san?" Tanya Sasuke dengan suara berat yang serak karena memang baru saja bangun tidur.
Sai menatap sejenak mata onyx milik Tuannya itu. Dengan tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Tuannya, Sai hanya bisa menghela nafas sembari mempertahankan atmosfir mencekam yang sejak tadi memenuhi kamar Sasuke. Ragu-ragu dengan jawabannya, Sai terlihat berpikir keras untuk memilih kata-kata yang tepat agar Tuannya tidak merasa tersinggung.
"Sai!" Sekali lagi Sasuke memanggilnya. "Dimana Haruno-san?" Ulang Sasuke dengan nada yang sudah tidak bisa bersahabat lagi.
Dipertanyaan kedua inilah Sai pun akhirnya membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sasuke.
"Dia—" Sebelum meneruskan kalimatnya Sai sempat untuk bernafas sejenak. "—ada di kamarnya." Imbuhnya cepat.
Salah satu alis milik Sasuke terangkat mendengar jawaban yang keluar dari mulut Sai. Dikamarnya sendiri? Bukankah kamar Hinata sudah dipindahkan—secara sepihak— oleh Sasuke ke kamarnya? Merasa tidak paham dengan ucapan Sai, akhirnya mau tidak mau Sasuke harus kembali bertanya.
"Maksudmu?" Tanya Sasuke singkat sambil membenahi kimononya yang berantakan.
"Ke—kemarin—malam—" Hore! Sejak kedatangan Hinata sepertinya satu persatu orang dikediaman Uchiha mulai tertular penyakit gagap. Dan hal itu juga berlaku bagi Sai yang mulai tergagap saat menjawab pertanyaan Sasuke. "Hinata kabur ke kamarnya sendiri." Lanjut Sai singkat-jelas-padat.
"Kabur? Kenapa?" Singkatnya Sasuke masih belum paham, dan hal itu berujung dengan sebuah pertanyaan yang lagi-lagi dihadiahkannya pada Sai seorang.
"Karena Sasuke-sama berusaha untuk—" Lagi-lagi rasa ragu menyergap Sai. Apa benar keputusannya tepat untuk menceritakan hal tersebut dengan sejelas-jelasnya?
"Aku kenapa?" Kalimat Sai yang menggantung membuat sang Uchiha penasaran.
"—memperkosanya." Lanjut Sai tanpa mengulang kalimat pembukanya.
.
.
.
LOVE TACTICS
DISCLAMER : MASASHI KISHIMOTO
Story by Neiyha (based from VN: Iza Shutsujin! Koi Ikusa-Oda Nobunaga's Route) dengan banyak perubahan ala seorang Neiyha /abaikan (dan nggak tahu kenapa dichapter ini kecampur sama sedikit rutenya Akechi Mitsuhide -_-)
Pair : Sasuke Uchiha x Hinata Hyuuga
Rate : M ( walaupun nggak ada lemonnya tapi ada beberapa konten kata-kata dewasanya XD )
Warning: Typo,OOC,Gaje,Failed Romance, Alur kecepetan, Bahasa monoton, dan lain-lain.
Bandung—03.06.2012
.
.
.
"Hinata-sama, tolong buka pintunya!" Pinta Sakura sambil tetap mengetuk pintu kamar Hinata.
"Ti—tidak mau!" Tolak Hinata. "Kumohon Sakura! Ti—tinggalkan aku sendiri!" Sahut Hinata dari dalam sambil tetap menahan pintunya agar tetap tertutup.
"Tapi Hinata-sama, sejak tadi pagi anda belum makan dan minum!" Teriak Sakura frustasi karena khawatir akan keadaan Hinata.
"A—aku tidak apa-apa! Sungguh!" Balas Hinata mencoba meyakinkan Sakura.
Mari kita tengok kejadian sebelumnya. Apa yang kalian pikirkan? Kalian pikir dengan kalimat mengantung seperti itu, maka malam itu Hinata akan benar-benar menjadi milik Sasuke? Sayang sekali, semuanya salah besar. Malam itu Hinata berhasil kabur setelah mati-matian memberontak dan berakhir dengan satu gigitan keras ditangan Sasuke yang mau tidak mau membuat Sasuke melepaskan cengkramannya. Ditambah dengan teriakan minta tolong dari Hinata yang beruntungnya didengar oleh Sai yang memang malam itu sedang berpatroli disekeliling kamar Sasuke. Sehingga pada akhirnya, Sai pun turut berperan serta dalam melepaskan Hinata dari terkaman nafsu serigala Sasuke.
Dan semenjak kejadian tadi itu. Hinata mengurung dirinya di kamar yang pernah Sasuke sediakan padanya. Sejak pagi sampai siang ini, Hinata tidak sedikit pun beranjak dari kamarnya. Bahkan untuk sekedar makan dan minum sekalipun. Tentu saja hal yang tak lazim ini membuat Sakura yang merupakan pengasuh Hinata menjadi sangat khawatir dengan keadaan Hinata. Sudah lama Sakura berada didepan kamar Hinata untuk membujuk Hinata membukakan pintunya. Tapi semua usahanya tidak ada yang berhasil mengingat Hinata yang masih bersikeras untuk menahan pintunya.
Alasannya? Baiklah kalau kalian bertanya begitu. Bukan karena Hinata takut akan bertemu dengan Sasuke lagi. Tapi karena dia malu. Kenapa dia malu? Jadi, walaupun belum sempat melakukan 'itu' tetapi Sasuke sudah berhasil menjamah sebagaian besar tubuh Hinata yang menurut Sasuke memang suatu mahakarya ciptaan Tuhan yang belum pernah dilihatnya. Salahkan tubuh Hinata yang begitu menggoda dan kulitnya yang putih bagaikan salju. Malam itu juga, Sasuke tak henti-hentinya memberikan kissmark untuk menandai bahwa Hinata adalah miliknya. Dan bukan hanya satu-dua, tetapi banyak sekali kissmark di leher sampai perut Hinata.
"Hinata-sama, kumohon! Apapun yang terjadi saya tidak akan marah." Bujuk Sakura sekali lagi melihat pintu yang masih tertutup dan tak bergeming.
Tidak marah? Bagaimana mungkin! Yang Hinata tahu pasti setelah melihat 'tanda' yang ditinggalkan oleh Sasuke dilehernya. Hinata akan menjadi bulan-bulanan ceramah Sakura. Mana mau Hinata menerima ceramah yang jelas-jelas bukan karena perbuatannya. Semua inikan salah Sasuke, kenapa pula harus Hinata yang mendapat pelajaran langsung dari Sakura?
"Su—sudahlah Sakura, aku bilang aku ingin sendiri!" Lagi-lagi yang terdengar hanyalah sebuah penolakan dari diri Hinata.
TAP TAP TAP!
Terdengar suara langkah kaki orang berjalan dari balik punggung Sakura. Ah—bukan berjalan rupanya, orang tersebut sedang berlari mendekati tempat Sakura sedang berpijak. Dengan segera Sakura membalikan badannya dan refleks membungkuk memberi salam saat melihat siapa orang yang sedang berlari mendekatinya.
"Haruno-san didalam?" Tanya orang itu tanpa basa-basi, langkahnya terhenti tepat didepan Sakura yang masih berdiri membentengi pintu kamar Hinata.
Sakura mengangguk, Sakura sudah tahu pasti bahwa yang disebut orang itu Haruno-san bukanlah dirinya. Melainkan Hinata yang saat ini masih berada dikamarnya. Sakura pun akhirnya menyingkir untuk memberi jalan kepada orang itu agar sekedar lebih dekat berada dipintu Hinata. Tanpa perlu menunggu lagi, orang itu kembali mengetuk pintu kamar Hinata. Hinata yang sejak tadi mendengar suara pintu sedikit jengah juga. Amarah yang daritadi ditahannya akhirnya menyembur keluar.
"Sakura! Su—sudah kubilang jangan—"
"Ini aku Sasuke!" Potong pria itu cepat sehingga bisa dipastikan bahwa yang sedang mengetuk pintunya memang seorang Sasuke Uchiha—pria yang hampir melakukan percobaan pemerkosaan pada Hinata. "Buka pintunya!" Pinta Sasuke atau harus diartikan sebagai perintah?
Mendengar suara yang membuatnya ketakutan semalam. Tiba-tiba irama nafas Hinata berubah menjadi tidak teratur. Darahnya berdesir cepat diantara pembuluh nadinya, membuat pacuan jantungnya menjadi tidak karuan. Tubuh Hinata yang tadinya masih kering tiba-tiba berubah basah kuyup karena dibanjiri oleh keringatnya sendiri. Mukanya terlihat pucat diiringi suara gigi gemeretak karena gemetar. Ternyata efek gugup menghadapi Sasuke hari ini semakin menjadi-jadi.
"Haruno-san, kau bisa dengar aku?" Panggil Sasuke sekali lagi—cukup sabar rupanya. "Kita harus bicara sekarang!"
'TIDAAAAK!' teriak Hinata dalam hati.
Saat ini kondisi Hinata terlalu kacau untuk sekedar membahas hal yang hampir terjadi padanya. Tangan Hinata masih terus menahan pintu yang ada didepannya. Dalam hati Hinata berharap bahwa Sasuke akan segera meninggalkannya sendirian. Cukup hari ini saja, dan besok Hinata akan kembali seperti biasanya. Tapi rupanya Kami-sama tidak mengabulkan do'a Hinata. Karena Hinata bisa merasakan bahwa pintu yang dipeganginya mulai bergeser dan dibuka dengan paksa.
BRAAAK!
Dengan satu hentakan kuat akhirnya pintu kamar terbuka. Hinata yang daritadi berusaha menjaga agar pintu tetap tertutup terpental jatuh kebelakang karena gerakan tiba-tiba itu. Siluet seorang pria mulai tergambar di mata Hinata. Tidak perlu dijelaskan lagikan siapa itu?
"Syukurlah, Hinata-sama." Ucap Sakura lega akhirnya bisa melihat Hinata kembali. "Saya sangat—"
BRAAAK!
Dan dengan satu dorongan yang keras lagi, pintu itu kembali tertutup. Sehingga bisa dipastikan bahwa hanya ada dua makhluk hidup yang ada didalam kamar tersebut. Hanya Hinata dan juga Sasuke yang memaksa masuk kedalam.
"AP—BAGAIMANA BI—"
Sebelum protes keluar dari bibir Sakura atas perlakuan Sasuke. Sai sudah menarik tangan Sakura yang bersiap untuk kembali menggedor pintu kamar Hinata. Ditatapnya mata hijau emerald milik Sakura dengan pandangan tajam. Dan akhirnya keluar sebuah permintaan yang terucap dari bibirnya yang tipis.
"Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya—BERDUA!" Pintanya pada Sakura dengan penekanan pada satu kata di akhir kalimatnya kemudian menyeret Sakura untuk menjauhi ruangan tersebut.
.
.
.
"A—aku rasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Uc—Uchiha-sama. Sungguh aku tidak apa-apa!" Ucap Hinata terbata-bata sambil tetap menjaga jarak dengan orang yang berada dihadapannya.
"Tidak!" Potongnya cepat. "Kita harus bicara! H-A-R-U-S!" Imbuhnya dengan mengeja kata-kata terakhirnya.
Hinata hanya bisa mengalah kepada permintaan Sasuke yang cukup keras kepala. Akhirnya Hinata duduk bersimpuh dihadapan Sasuke dengan mengambil jarak yang aman tentunya. Mata pearlnya menatap lurus ke arah mata onyx milik Sasuke. Disilangkannya jari-jarinya sekedar untuk mengatasi sedikit rasa gugupnya.
"Ba—baiklah Uchiha-sama." Balas Hinata yang akhirnya pasrah. "A—aku harap ini bukan pembicaraan yang lama karena aku—" Gelapan, akhirnya Hinata pun mencoba mencari alasan untuk menyingkat percakapannya dengan Sasuke.
"Tidak akan! Aku kesini cuma mau bilang—" Sasuke menggantungkan kalimatnya kemudian melirik sedikit ke arah kanannya. Bukan karena disana ada makhluk lain atau sejenisnya, tapi karena Sasuke ingin menghindari tatapan puppy eyes milik Hinata. "Maaf." Gumamnya pelan dengan suara sangat-sangat kecil.
Sekecil-kecilnya suara yang dihasilkan oleh pita suara Sasuke. Tetapi dengan keadaan kamar yang hening sekali, membuat telinga Hinata dengan mudah mendengar gelombang suara yang dikeluarkan oleh Sasuke. Sedikit rasa terkejut memenuhi hatinya, karena Hinata pun tidak bisa membayangkan bahwa seorang Sasuke Uchiha akan meminta maaf atas perbuataannya kemarin. Kalian tahukan Sasuke Uchiha? Orang kaya nan berkuasa! Pastinya kata maaf tidak ada pada kamusnya. Baginya cukup berikan uang saja pada orang yang dirugikan, dan kasus pun ditutup.
"Ma—maaf, bisa diulangi sekali lagi? Tadi a—aku tidak mendengarnya." Bohong memang, tapi Hinata hanya ingin memastikannya sekali lagi.
"Geezz—tidak akan kuulangi lagi!" Sahut Sasuke marah karena merasa diabaikan oleh Hinata.
Sasuke pun dengan cepat memalingkan wajahnya dari hadapan Hinata. Dengan punggung tangan kanannya, Sasuke berusaha untuk menutupi wajahya yang memerah karena malu. Ya, dia malu! Karena ini adalah pengalaman yang jarang sekali dilakukannya, mungkin bisa dihitung dengan jari dan mungkin juga tidak pernah sama sekali.
"Pfft—" Hampir saja tawa Hinata keluar karena tingkah pria didepannya ini. Lucu memang melihat seorang Sasuke yang angkuh dan biasanya hanya bisa memerintahnya tiba-tiba minta maaf. Tetapi tentu Hinata masih sayang dengan nyawanya sendiri, sehingga tidak mungkin dia tertawa di depan Sasuke. "Ti—tidak apa-apa, Uchiha-sama. A—aku mengerti kok, pasti kemarin anda sedang mabuk." Ujar Hinata sambil mencoba memperbaiki raut mukanya.
"Kemarin, apa yang kau lakukan dengan Dobe?" Tanpa merespon peryataan yang diucapkan Hinata, Sasuke kembali bertanya tanpa memalingkan wajahnya untuk melihat Hinata.
Hinata terdiam sejenak. Kemudian ingatannya kembali pada kejadian tadi malam. Kalau tidak salah, sebelum melakukan 'itu', Sasuke juga menanyakan hal yang sama pada Hinata. Tetapi saat itu, Hinata belum sempat menjelaskan semuanya karena keburu diserang oleh Sasuke yang marah dengan jawaban jangan—ikut—campur yang keluar dari bibir Hinata. Tidak mau hal yang sama terulang lagi, akhirnya Hinata mencoba untuk menceritakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Ke—Kemarin Uzumaki-sama datang mencari, Uchiha-sama." Ujar Hinata mengawali ceritanya yang mungkin akan sedikit memakan waktu. " Te—Tetapi karena saat itu Uchiha-sama tidak ada Uzumaki-sama akhirnya mengajakku berkeliling itulah ceritanya."
"Oh—" Hanya 2huruf itulah yang menjadi balasan Hinata atas semua cerita yang dijelaskannya, tetapi itu sebelum Sasuke kembali menanyakan semua hal lebih detail. "Hanya itu?" Pertanyaan yang singkat, tapi itu cukup membuat Hinata mengerti bahwa Sasuke memintanya untuk lebih detail dalam menceritakan kejadiannya.
"Si—siangnya Uzumaki-sama menraktirku makan di restoran. Dan—Oh iya, Uzumaki-sama menceritakan tentang perkembangan pasukan disebelah barat. Apakah Uchiha-sama ingin mendengarkannya?" Tawar Hinata pada Sasuke.
"Tidak usah." Tolak Sasuke. "Aku bisa mendengarnya langsung dari Dobe nanti." Imbuhnya.
"Ah—Ba—baiklah."
Keduanya pun kembali terdiam setelah percakapan mereka selesai. Tiba-tiba Sasuke kembali menoleh untuk melihat lagi rupa Hinata yang sudah kembali sedikit—lega. Dengan hati-hati, Sasuke mulai merangkak mendekati Hinata. Hinata yang tidak menyadari gerakan tiba-tiba yang dilakukan Sasuke tidak punya persiapan sama sekali. Sehingga yang bisa dilakukan Hinata hanyalah mematung ditempatnya sendiri. Sasuke yang sudah berada dekat dengan Hinata kemudian menyibakan rambut indigo panjang milik Hinata yang menutupi lehernya. Disentuhnya 'tanda merah' yang tercetak dengan jelas dileher jenjang Hinata.
"Ini perbuatanku?" Tanyanya sambil mengabsen satu persatu kissmark dileher Hinata dengan jari-jarinya yang panjang.
Hinata yang kembali gugup hanya bisa mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Sasuke. Jari-jari Sasuke yang bergerak pelan-pelan dilehernya bisa dirasakan dengan mudah oleh kulit sensitif Hinata. Hinata hanya bisa menelan ludah, berharap kejadian kemarin tidak akan terulang untuk yang kedua kalinya. Detik berikutnya Hinata dikejutkan dengan perlakuan Sasuke yang tiba-tiba memeluknya dengan lembut sembari mengusap surai-surai indigo miliknya.
"Maaf." Bisiknya pelan ditelinga Hinata. "Kau pasti takutkan? Maafkan aku!" Sekali lagi Sasuke meminta maaf atas kelakuan kurang ajarnya pada Hinata.
Hinata yang tersentak dengan perlakuan lembut yang tiba-tiba dari Sasuke hanya bisa terisak didada bidang milik pemimpin klan Uchiha itu. Tumpah sudah semua ketakutan Hinata atas kejadian yang hampir menimpanya tadi malam. Sungguh, sejak semalam tadi Hinata sudah mati-matian untuk tidak menangis karena memikirkan hal tersebut. Tapi satu kalimat dari Sasuke sanggup menjebol pertahanan diri Hinata, hingga disinilah Hinata sekarang menangis sejadi-jadinya dipelukan Sasuke.
"Ssshh—Tidak apa-apa Haruno-san, sekarang sudah tidak apa-apa." Bujuk Sasuke mencoba menenangkan Hinata yang masih menanggis sambil terus mengucap puncak kepalanya.
Sedikit demi sedikit, suara tangis Hinata menghilang. Sasuke pun mengangkat dagu milik Hinata untuk melihat wajah Hinata. Butiran air mata masih terlihat bermuara disela-sela matanya. Matanya yang berwarna pearl terlihat berkaca-kaca dengan hidung semerah tomat—makanan favorit Sasuke. Pelan-pelan Sasuke mendekatkan wajahnya untuk mendaratkan ciumannya didahi Hinata yang tertutup poni ratanya sambil bergumam.
"Aku berjanji tidak akan menyakitimu lagi." Ucap Sasuke lirih ditengah-tengah ciumannya.
Setelah ciuman itu berakhir, Hinata kembali ditarik Sasuke untuk bersandar di dada bidangnya. Awalnya Sasuke mengira bahwa setelah itu Hinata akan menolak perlakuannya. Yah, kalian tahu sendirilah Hinata orangnya seperti apa? Diakan pemalu tingkat akut. Tetapi kali ini reaksinya berbeda, setelah beberapa menit bersandar didada Sasuke sepertinya Hinata tidak berniat untuk beranjak dari sana barang sedetik pun. Merasa ada yang janggal akhirnya Sasuke mencoba mengecek kondisi Hinata yang terbilang—aneh itu.
"Haruno-san? Kau tidak apa-apa?" Panggil Sasuke sambil mendorong tubuh Hinata untuk melihat keadaannya.
Mata onyx milik Sasuke memandang tidak percaya akan apa yang terlukis dalam penglihatannya saat ini. Bagaimana bisa Hinata— Sasuke yang sudah panik tidak bisa berpikir lagi, yang dilakukannya sekarang hanyalah menggendong Hinata dalam pelukannya kemudian keluar dari kamar secepat-cepatnya.
"SAI! SAKURA! KEMARILAH CEPAT!" Teriaknya disela-sela larinya.
.
.
.
Akhirnyaaaaa /nari ala cheerleader
Chapter 7 akhirnya selesai juga -_- setelah 3hari stuck gara-gara nggak ada ide dan berakhir dengan cerita setengah-setengah. Maaf ya kalau kurang panjang dan maaf kalau—
MENGHANCURKAN SEMUA IMPIAN READERS :p
Kan nggak asik kalau ceritanya mudah ditebak :D jadinya ya ehem— /dihajar rame-rame
Many thanks for :
Pooh / tobaru / rqm3490 / hikari / Yukio Hisa / IndigOnyx / Mamoka / pryscil-chan / sasuhina-caem / me / Onie / Yushitsune Nakajima / Aki / n / daisuke / Dae Uchiha / Sugar Princess71 / Kertas Biru / Akeboshi / ore / Sky pea-chan / Guest / ikkaarifin
Karena udah selalu ngasih semangat buat aku supaya tetep nulis FF ini :)
All question will be answer at here :
Peran Naruto sebenarnya apa sih? Dia itu panglima perangnya Konohagakure, begitulah settingnya. Yang mimpin Suna itu Gaara? Yah, di awal juga keluarga Sabakukan? U know what i mean lah :P Kenapa Sasuke cemburu secepat itu? Apa nggak terlalu terburu-buru? Menurut saya sih nggak :P soalnya— hwahahaha. Maaf karena menghancurkan impian anda. Apa Sasuke bakal ngelakuin itu sama Hinata? Hahaha, nggak thu :p nggak jadi :P Gimana nasib Hinata dong? Nggak gimana-gimana :P kan nggak jadi, hahaha :D Hinata nanti nikah sama Sasuke? Nikaah nggak ya :P hahaha, ntar deh lihat aja. Hinata kenapa nurut banget sih? Loh? Bukannya sifat 'aslinya' juga gitu ya? Itu perbaikin lagi pemenggalannya ya Haaa—makasih atas masukannya. Apa ntar ada NaruSaku-nya? Saya rasa tidak -_- soalnya dichapter sebelumnya aja si Naru juga kan jadi orang ketiga :v Kapan ketemu Gaara? Hmm—nanti juga ketemu kok, kalau sudah ditakdirkan sama saya, hahaha. Kapan Sasuke suka sama Hinata? Yah, nanti saja tergantung perkembangan cerita. Wkwkwkw
And last!
REVIEWMU SEMANGATKU!
MIND TO RnR?
