Chapter 7: Soundless
Soundless
»«
.
.
.
»«
Naruto © Masashi Kishimoto
Soundless © Uchiha Raighiluri
Summary: Pria raven maniak musik itu akhirnya menemukan sesuatu yang menarik dalam hidupnya selain nada, melodi, dan ritme dalam lagu-lagu klasik-romantik. Hingga akhirnya gadis itu menjelaskan siapa dia yang sebenarnya./"Naruto, bantu aku."/"Uchiha Sasuke bisa jatuh cinta? Kau ingin aku percaya?"
Words: 1.010
»«
.
.
.
»«
Semakin sering Uchiha mendekatiku, aku semakin heran. Memangnya apa kelebihanku? Aku juga jadi penasaran dengan gayanya bermain musik. Aku… hanya berani menyukai musik hingga saat ini.
Iseng, aku mengetikan nama Uchiha bungsu di sebuah bar pencari pada sebuah website pemutar video di internet.
Sederet video tentang konser muncul di hadapanku dalam satu kejapan mata. Di beberapa video lainnya, ia terlihat sedang mengiringi sebuah acara klasik. Diantaranya ada satu-dua video yang diambil saat dibalik layar ketika Sasuke disuruh untuk memainkan sebuah lagu yang akan dimasukkan ke dalam film dokumenter.
Saat aku iseng me-refresh beranda halaman, aku melihat sebuah video yang langsung di-publish di akun pribadi Uchiha Sasuke. Aku tahu karena latar belakang dari video tersebut adalah halaman rumahnya sendiri.
Aku penasaran dengan video ini, jadi aku membukanya. Amazing Für Elise. Aku tidak tahu kenapa dia memainkan lagu itu.
Saat nada pertama mengalun keluar dari grand piano miliknya, aku langsung mengerti. Ini lagu Für Elise yang itu.
Lagu yang membawaku ke kota ini. Lagu yang pertama kali aku mainkan di Konoha. Lagu pertama yang menyambungkan koneksi antara aku dan dia.
Di video tersebut, Uchiha sungguh terlihat berbeda. Ia memainkan lagu aransemenku. Aku… merasa… dihargai. Tanpa sadar aku mulai tersenyum kecil.
Sungguh pria yang sempurna. Sangat tidak pantas untuk bersanding denganku.
»«
.
.
.
»«
Aku menyeringai senang dengan beberapa list baru dalam acara mendekati Sakura dengan caraku. Naruto bisa saja mengenalku dengan baik, tapi hanya aku sendiri yang tahu bagaimana caranya untuk mendekatinya.
Dengan caraku sendiri.
Entah kenapa aku merasa sesemangat ini. Hal ini sama sekali belum pernah terjadi sebelumnya. Aku tahu ini hal yang spesial.
Hanya karena Akasuna Sakura.
Entah kenapa, rasanya menyenangkan. Selembut permen kapas. Semanis permen apel. Sekali pun aku membenci keduanya, namun aku menyukai hal ini. Lebih dari musik. Lebih dari biola. Bahkan lebih dari piano kesayanganku di ruang musik.
Sepertinya lebih indah daripada musik-musik ciptaan Mozart atau mungkin Beethoven dan semua composer dunia lainnya. Karena kali ini, setiap nadanya diciptakan sendiri oleh Kami-sama.
Rasa jatuh cinta untuk pertama kalinya.
»«
.
.
.
»«
Aku pikir pria Uchiha Sasuke akhirnya akan segera menyerah. Namun ternyata tidak. Dia selalu mengikutiku walau aku sama sekali tidak pernah menanggapinya.
Seperti hari ini, kami berjalan beriringan, tapi aku tidak ingin ini semua terus seperti ini selamanya. Aku tidak mau dia hidup di balik bayang-bayang sosokku yang ia anggap sempurna.
Aku sama sekali tidak sesempurna yang ia pikirkan.
Sungguh tidak ada yang sempurna di dunia ini. Hukum keseimbangan berjalan dengan sempurna.
Fisik, wajah, otak, atau sikap. Pasti ada saja diantara keempat hal tersebut yang tidak ada. Orang yang cerdas, cantik, dan baik hati, namun ia lemah secara fisik—hal yang umum terjadi belakangan. Ada juga orang kuat dan pintar, namun pemarah dan jelek.
Tidak ada yang sempurna.
"Sakura," entah atas motivasi apa, Sasuke memanggilku. Aku membalikkan tubuhku ke belakang. Berhadapan dengannya. Aku menutup mata. Enggan melihatnya.
Aku mengangkat tangan kananku. Diam. Kumohon. Hentikan di sini saja, Sasuke. Aku menggeleng. Bagi orang barat, berbuat seperti ini mungkin sangatlah tidak sopan. Talk to my hand. Kurasa tidak begitu di Jepang.
"Ada apa?" tanya Sasuke terlihat khawatir.
Aku menggeleng dengan tatapan yang tidak bisa kujelaskan. Cukup kau menatap bayangku, Sasuke. Entah kenapa mataku terasa mulai memanas.
Disisi lain, aku ingin dengan egois mengatakan pada Kami-sama bahwa aku tidak mau Sasuke mengetahui wujudku yang sebenarnya. Aku memalukan. Tidak layak untuknya.
"Sa—"
Sebelum sempat Sasuke berkata apa-apa, aku berbalik dan berlari meninggalkannya. Entah kenapa air mataku kini malah berhasil menerobos keluar dari pertahananku selama ini. Rasanya aku enggan berlari. Aku tidak mau, tapi aku harus.
Aku bahkan tidak mengerti pada diriku sendiri. Kenapa aku harus lari? Apakah… apakah ini pertanda bahwa aku selamanya tidak ingin dia tahu kenyataan? Apa… aku tidak rela?
Imajinasinya memang terlalu tinggi. Harapannya padaku sudah terlalu jauh. Namun… aku juga. Harapanku juga sudah terlalu jauh…
… kan?
Namun mungkin karena tubuh Sasuke yang lebih tinggi dariku dan kakinya yang panjang, ia berhasil mengejarku. Menahan tanganku. Aku juga tak tahu kenapa tiba-tiba kita bermain kejar-kejaran seperti ini.
"Sakura, ada apa? Kenapa kau berlari?" tanya Sasuke khawatir.
Apa maumu?
Aku mengisyaratkan dengan gerakan tangan kananku sembari berusaha berteriak keras di depan wajahnya. Suara yang kukeluarkan berakhir terdengar seperti suara orang yang mengerang tak jelas.
Kukungan jemarinya pada tangan kiriku perlahan melemah.
Sasuke terdiam melihatku. Terkejut. Aku tahu. Aku tidak sesempurna Uchiha Sasuke. An—absolutely—perfect man.
Air mata turun lagi. Membuat mataku memerah. Hatiku terasa sakit dan sekujur tubuhku lemas. Aku sudah tidak tahu lagi yang benar. Seharusnya aku senang. Ia akan menjauh dan tidak lagi melihat bayanganku. Akhirnya ia bisa melihat Akasuna Sakura yang sebenarnya.
Cantik dan pintar…
Pergilah. Aku tidak membutuhkanmu. Aku kembali mengisyaratkan dengan gerakan tanganku.
… namun pesimis dan bisu.
Sasuke mengernyit dalam. "Sakura."
Kau bisa pergi sekarang, kan?
Aku melihat jelas tatapan kecewa bercampur terkejut dari sepasang iris onyx yang per… maksudku, yang selalu berhasil menghipnotisku. Hingga kini.
Kau bisa pergi.
Aku mengisyaratkan ulang pada Sasuke sekali lagi. Dan benar saja, ia perlahan berbalik meninggalkanku tanpa menoleh ke belakang. Benar. Begitu lebih baik. Kau pasti tidak menginginkan seorang pasangan yang bisu, kan? Ya. Cantik dan pintar saja tidak cukup, benar?
Sebuah senyuman miris kembali mengakhiri kisahku.
»«
.
.
.
»«
Menyerah?
Aku menutup mata dan menatap Sakura yang kembali memainkan lagu pertamanya di sana. Di hatiku. Lagu pertama yang menusuk relung kalbuku. Aku hanya mendengarkan dengan seksama.
Lagu yang kumainkan dalam sebuah video yang baru saja kumasukkan ke dalam list di akun pribadiku di internet. Amazing Für Elise. Lagu yang indah—luar biasa.
Kali ini aku hanya mendengarkan dengan seksama. Mendengarkan nada-nada yang bermain di kepalaku seiringan dengan langkahku yang menjauhi Sakura. Aku hanya terdiam tanpa bisa melakukan apa-apa. Terpaku.
Persis saat pertama kali aku menatap emerald itu.
»«
.
.
.
»«
Tanpa musik, aku sungguh benar-benar bisu. Aku menjadi seseorang bagimu hanya karena musik. Musik juga yang membuat kita terhubung.
Lalu apa arti diriku? Sendirian. Tanpa musik… apa arti diriku bagimu?
Aku tidak pernah membenci musik. Namun dengan keadaanku seperti ini, semua seolah memaksaku menyadarinya.
Menyadari sebuah hal.
Bahwa aku bukanlah siapa-siapa bagimu tanpa musik.
»«
.
.
.
»«
To Be Continued…
»«
.
.
.
»«
Author's Bacot Ceria:
Yeeayyyy! *lompatgirang*
Satu lagi epilognya, yaaaaa….. khakhakhakha…. Keep waiting.
Oh iya, yang tentang "Fisik, wajah, otak, atau sikap. Pasti ada saja diantara keempat hal tersebut yang tidak ada." Terinspirasi stand up comedy-nya Raditya Dika. Judulnya lupa.-. pokoknya asa ada kata tampang/wajah gitu deh. Wkwkwk… lucu banget, nonton deh. XD *gaada yang peduli*
Btw akhirnya terjawab kalau Sakura bisu, kan? Tapi maaf kalau emang udah keliatan dari awal. XD Wkwkwk... sedih nggak sesuai rencanaku. XD
Balasan Review
Rein Riekho Kei : maafkan aku... T.T aku ga bisa buat chapter panjang. Biasanya 2k udah maksimal. T.T Kalau oneshoot paling banyak 7k kemarin. Mangga dicek. XD *promosi*
mikahiro-shinra : Ehehehe... *nyengir* makasih supportnya. Ini udah up.
ririsakura : Kejawab, kan di chapter ini? XD Terima kasih. Keep review, ya... XD
hanazono yuri : Ini udah up. ^^
zarachan : Ini udah lanjut. Maafkan kalau minggu kemarin lupa up, niat awal sih up minggu lalu. *nyengir*
Guest : Ini udah lanjut, ya. Mari kita tunggu bersama epilognya yang insya Allah aku up minggu depan kalau ingat.
Review kalian membantuku mengingat banyak hal, jadi sangat diharapkan menjelang jum'at sama sabtu kalian review banyakin biar inget. XD *modus*
Oh iya, buat penunggu setia "Gomenasai, Sakura" sama "Sincerenly of Relationship" nanti bakal aku lunasin, kok. Tenang aja, Cuma gatau kapan. XD As always, keep waiting! Oh iya, maaf ini nggak dicek lagi, aku banyak kerjaan. XD *alesan*
