Disclaimer: Harvest Moon dan segala karakternya bukan milik saya, saya cuma punya plot ceritanya :3

.

.

.

~7~

"Date"

.

.

.

Mata Claire berbinar saat membaca undangan pernikahan bertuliskan "Mary & Jack" di kotak suratnya. Ia tak kaget karena sudah mendengar rencana pernikahan Mary dari Anna dan Basil. Dalam hati ia iri pada Mary karena jalannya pada Jack berjalan sangat mulus. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan perjalanannya merebut Gray. Mau bagaimana lagi, kepribadian Gray yang tertutup dan keras kepala membuatnya sulit di dapatkan.

Hehe, tapi hari ini aku mendapat kesempatan langka!

Yup, kencan dengan Graaay!

Oh, sebenarnya bukan. Claire hanya akan menemani Gray belanja. Dengan kata lain, tugasnya adalah membantu membawa belanjaan. Tapi pikiran positif Claire berusaha menyamakannya dengan kencan. Ia bahkan memakai baju feminim khusus untuk hari ini: dress midi berwarna biru tua dengan motif polkadot kecil, lengkap dengan couch cokelat dan sepatu hak tujuh sentinya. Sebagian rambutnya ia jepit dengan jepitan bunga, dan sisanya ia biarkan tergerai. Tak lupa sedikit make up untuk membuat wajahnya lebih cantik.

Hahaha! Lihatlah Senpai! Kau akan jatuh cinta padaku!

~000~

Gray sudah menunggu Claire di pelabuhan sejak lima menit lalu. Karena ia akan ke kota, ia tak mengenakan baju kerjanya. Ia hanya memakai celana panjang hitam, kaos putih lengan panjang plus kemeja kotak-kotak sebagai luarannya. Matanya memicing saat ada seorang gadis yang melambaikan tangan dari kejauhan. Ketika gadis itu mendekat barulah ia mengenalinya. Itu Claire. Claire yang sangat berbeda dari biasanya.

"Bukankah sudah kubilang kita hanya akan belanja kebutuhan blacksmith? Dan jangan berlebihan?" tanya Gray dengan kerutan dalam di dahinya.

"Ehehe! Ayolah, tak apa kan? Kapan lagi aku jalan denganmu?" bujuk Claire tak mau kalah.

Gray hanya menghela napas pasrah, lalu melanjutkan dengan ancaman, "Terserah deh, tapi awas kalau kau merepotkanku!"

"Tidak akan!" jamin Claire sambil tersenyum lebar dan membentuk huruf V dengan jari tengah dan telunjuknya.

Mereka lalu naik kapal yang menuju pelabuhan kota. Butuh waktu setengah jam untuk sampai ke sana. Mereka memilih duduk di dek kapal untuk menikmati pemandangan laut biru yang luas. Beberapa kali Claire perhatikan Gray terus menguap. Ia melihat ini sebagai sebuah kesempatan.

"Senpai, mau bersandar padaku?" Claire menepuk-nepuk bahu kanannya yang dekat dengan Gray, isyarat agar Gray bersandar di sana.

Lagi-lagi Gray mengerutkan dahinya, "Apa kau bodoh?"

Dikatai bodoh membuat bibir Claire manyun. Tapi cemberutnya langsung hilang saat matanya menangkap kawanan tiga lumba-lumba yang melompat di kejauhan.

"Woah, lihat, Senpai!" serunya seraya bangkit dari duduknya dan berlari ke pagar kapal, seolah lupa bahwa ia memakai high heels. Alhasil, ia hampir jatuh. Ya, hampir. Kalau saja Gray tidak segera menangkap lengan Claire, gadis itu pasti sudah jatuh.

"Hati-hati!" omel Gray yang langsung melepas pegangannya pada Claire. Claire tersenyum simpul, lalu berjalan ke pagar kapal, mengistirahatkan kedua lengannya di sana, dan memperhatikan lumba-lumba yang semakin menjauh.

Sementara Gray memandangi tangannya yang tadi menangkap lengan Claire. Lengan Claire lebih kecil dari perkiraannya. Dan karena hari ini Claire berhias serta memakai dress, ia seolah diingatkan bahwa petani bernama Claire yang selalu menggunakan overall biru itu adalah wanita yang cukup manis.

"Senpai, kemari!" ajak Claire sambil melambaikan tangannya. Ia menyuruh Gray melihat ke bawah. Dan di laut yang jernih itu Gray bisa melihat segerombolan ikan perak dari permukaan laut. Bukan pemandangan yang luar biasa baginya. Namun gadis disampingnya ini excited hanya karena hujan, pelangi, atau festival. Tampaknya semua hal menyenangkan di matanya. Ya, hanya tampaknya. Sebab Gray tahu dari cerita Kai, bahwa ada seseorang yang dibenci Claire. Bahwa Claire androphobia. Bahwa dibalik semua senyum dan kegembiraannya itu pastilah ada kegelapan yang menimpanya.

Sesampainya di kota mereka langsung pergi ke toko yang menjual alat-alat pertukangan. Gray membeli banyak mur dan paku, cat, lem tembak, pernak-pernik untuk aksesoris, dan berbagai suku cadang untuk membuat food maker nya. Pada akhirnya Claire benar-benar melakukan tugasnya sebagai 'pembawa barang' seperti kata-kata Saibara... meski barang yang Gray bawa lebih banyak darinya.

"Claire, kau lapar tidak?" tanya Gray ketika mereka sedang berjalan di wilayah pertokoan. Claire mengangguk tiga kali, tanda bahwa ia benar-benar lapar. "Mau makan apa?"

Deg!

Lagi-lagi Claire blushing. Kalau Gray bertanya seperti itu, bukankah acara belanja ini jadi seperti kencan sungguhan?

"A-apa saja boleh!" jawab Claire yang salah tingkah. Tindakan yang membuat dahi Gray berkerut entah untuk kesekian kalinya hari ini. Mata Gray menyusuri sekitarnya dan dengan cepat memutuskan tempat makan mereka: sebuah restoran okonomiyaki sederhana.

"Kenapa?" tanya Gray. Ia merasa terganggu karena sejak tadi Claire terus senyum-senyum sendiri.

"Hehe, dulu juga senpai suka makan okonomiyaki," Claire mengenang masa lalu.

Aku dulu juga suka okonomiyaki?

Pikiran Gray melayang pada masa SMP nya. Dulu sepulang sekolah ia sering mampir di kedai yang menjual okonomiyaki bersama teman-temannya. Mereka senang karena bisa memasak okonomiyaki mereka sendiri. Dulu dia cuma anak kecil yang tak pernah memikirkan masalah yang rumit. Dunianya saat itu hanya bermain bersama teman-teman cowoknya, belajar, dan kadang diam-diam mendalami ilmu blacksmith yang dia sukai. Kata 'cinta' sangat asing baginya saat itu. Dan gadis ini... sudah menyukainya sejak saat itu.

"Senpai, sudah saatnya dibalik!" Claire menunjuk okonomiyaki di atas wajan rata mereka. Gray membalik adonan okonomiyaki yang cukup besar itu dengan sempurna, membuat Claire bertepuk tangan tanpa suara.

"Wuah, kau hebat, Senpai!" puji Claire.

Gray mendengus sambil tersenyum bangga, "Huh, begini-begini aku juga bisa masak."

"Yup!" sahut Claire sambil tersenyum lebar. Senyuman yang menggambarkan bahwa dirinya benar-benar bahagia saat ini.

So simple minded...

"Claire?"

Gray langsung berbalik ketika mendengar suara laki-laki dari belakangnya. Ia kira itu Kai, sebab suaranya mirip. Suara yang rendah dan lembut. Tapi bukan, secara fisik ia berbeda sekali dengan Kai. Ia memakai kemeja putih, rambutnya pirang, berkaca mata, dan penampilan keseluruhannya rapi. Ia tak pernah kenal pria itu, maupun wanita cantik yang berdiri di sebelahnya.

Tapi Claire jelas mengenalnya.

Matanya berkedip cepat beberapa kali kerena kaget, dan ia berusaha keras menelan makanannya. Ia gemetar ketakutan saat mulutnya mengucapkan, "Nii-sama... "

"Nii-sama?" ulang Gray. Ia kembali melihat orang yang sepertinya kakak Claire itu. Tidak mirip.

"Claire! Bukankah kau di Mineral Town? Kenapa kau di sini? Dan dengan cowok? Kenapa kau tak pernah membalas suratku?" cerocos Kakak Claire tanpa henti. Suaranya rendah. Tak ada nada tinggi di sana. Tapi Gray tahu persis tekanan dan ancaman yang diberikan pria itu pada adiknya.

Claire menggeleng. Bibirnya membentuk senyum kecil, "Aku... sedang belanja."

"Itu benar. Dia membantuku belanja, Brother," Gray menambahkan kata-kata Claire dengan senyum playfulnya. Kakak Claire melihat Gray dengan ekspresi tidak suka.

"Dan kau siapa?" tanyanya.

"Gray," jawab Gray sambil mengulurkan tangan. Sang kakak menyambut uluran tangan gray dan berjabat tangan.

"Mikhail," ia memperkenalkan diri tanpa senyum. Kembali dilihatnya sang adik yang tengah menundukkan wajahnya, dan wajah juteknya berubah menjadi senyum lembut.

"Claire, ibu merindukanmu. Sebenarnya kenapa kau meninggalkan rumah?" tanya Mikhail sambil tangannya meraih bahu Claire. Tapi Claire langsung menghindari sentuhan Mikhail.

Sementara wanita di samping Mikhail tak bicara apapun, hanya melihat dengan simpati. Ekspresi perhatian Mikhail entah kenapa membuat Gray kesal. Seperti... dibuat-buat?

Lagi-lagi Claire menggeleng. Matanya yang tadi bersinar penuh kebahagiaan kini tampak gelap. Ia kelihatan khawatir sambil melihat wanita yang sepertinya istri Mikhail.

Wanita itu akhirnya bicara, "Maaf, Claire... apa karena aku? Kau... tidak suka aku tinggal di sana? Jika begitu..."

"Bu-bukan begitu!" sanggah Claire kuat-kuat, hampir berteriak. "Bukan karena Rena-san... aku... hanya..."

Keheningan merambah mereka. Bahkan pengunjung lainnya mulai memperhatikan karena keributan yang ditimbulkan Mikhail.

"Dia pergi untuk mengejarku," kata Gray dengan senyum penuh rasa percaya diri. Matanya lalu melirik Claire, "Ya kan?"

"Eh? Eh... I-iya! Aku... ke Mineral Town karena mengejarnya!" seru Claire. Ia lalu berdiri dan memegang kedua tangan Rena, "Aku tak pernah tidak suka padamu, Rena-san."

Gray membawa barang-barang belanjaannya, berjalan ke sisi Claire dan menyerahkan satu plastik besar belanjaan pada Claire. Dengan sopan ia menundukkan kepalanya sedikit, memberi salam perpisahan pada kedua pasangan suami istri itu.

"Ayo," ajak Gray sambil menggandeng salah satu tangan Claire yang kosong. Claire mengikuti Gray tanpa perlawanan. Tanpa tenaga, melangkahkan kakinya kemanapun Gray menuntunnya.

Mereka berhenti di pinggir jalan yang menghadap laut. Jalan itu hanya beberapa ratus meter dari dermaga dan bukan jalan utama, sehingga cenderung sepi. Di pinggir jalan itu ada taman kecil dengan sebuah bangku panjang.

"Duduklah," kata Gray. Ia melepaskan gandengannya dan mendudukkan Claire di bangku. Membiarkan mata Claire merambati pemandangan langit mendung dan laut di hadapannya. Gadis itu tak menangis. Pun tak tersenyum seperti biasa. Hanya diam memandang lurus. Merasakan angin membelai rambutnya. Tapi ia ingin menangis saat ini. Ia tak mau kembali jadi dirinya yang tak bisa menangis...

"Senpai," Claire memegang ujung kemeja Gray. "Bisa kau menepuk kepalaku?" pinta Claire dengan wajah menunduk.

Kali ini Gray tak banyak komentar ataupun melawan keinginan Claire. Ia menepuk kepala Claire dengan lembut. Segera setelah itu air mata Claire langsung menetes. Sentuhannnya mengaktifkan hati Claire yang sempat ter-pause tadi.

"Maaf Senpai, padahal kita belum makan okonomiyaki-nya," ucap Claire menyesal. Air matanya masih terus mengalir, tapi ia tak terisak-isak. Hanya membiarkannya mengalir begitu saja.

"Tak apa. Kita bisa makan yang lain nanti," respon Gray datar.

"Senpai..."

"Hm?"

"Hujan..."

Gray baru sadar kalau titik-titik air mulai jatuh dari langit. Sedetik dua detik kemudian hujan deras tetiba turun seolah air dari langit tumpah ruah. Gray dan Claire berlari ke toko terdekat untuk berteduh. Namun sayang, baju mereka terlanjur basah kuyup. Keduanya berdiri di depan pintu supermarket, dengan Claire masih memegang ujung baju Gray. Gadis itu membuat Gray kaget karena tiba-tiba saja ia tertawa.

"Hahaha, kita basah kuyup," tawa Claire. "Seperti kata ayahku, aku selalu membawa kesialan," lanjut Claire dengan senyum pahit di bibirnya.

Gray memandang Claire dari ujung matanya. Air mata gadis itu telah berhenti, hanya wajahnya kini dibasahi oleh butiran air hujan. Hujan yang tadinya Gray benci. Hujan yang Claire suka. Dan hujan yang mulai disukai olehnya.

Kesialan?

Yang benar saja...

"Groowwwlll~"

Claire cuma cengengesan saat perutnya berbunyi. Gray mendesah, seperti biasa. Ia lalu mengajak Claire masuk ke supermarket untuk mencari sesuatu yang bisa mengisi perut mereka. Makan siang okonomiyaki mereka terpaksa digantikan oleh onigiri supermarket dan sebotol air mineral. Hambar. Mereka memakannya di bangku dan meja panjang yang disediakan di sisi toko.

"Eeeeh, kenapa kau kembali lagi?" tanya salah seorang kepada rekannya yang tampak basah kuyup. Ia menutup payungnya yang rusak, lalu menggeleng lemah.

"Tiba-tiba saja ada badai. Kapal di dermaga tak ada yang jalan. Kudengar badainya bisa sampai malam," jelasnya.

Gray dan Claire hanya bisa saling pandang dengan dahi berkerut. Gray merosot ke tempat duduknya, sedangkan Claire membenamkan wajahnya di atas meja.

"Sepertinya kita tidak bisa pulang hari ini..." kata Gray.

"Maafkan aku... seharusnya senpai memang tak usah mengajakku," ucap Claire tanpa mengangkat wajahnya.

Merasa kesal karena lagi-lagi Claire menganggap dirinya pembawa sial. Menyalahkan dirinya meski ia tak salah. Seperti saat kejadian dengan Kai, atau saat Mary meninggalkan Mineral Town. Gray memberi pukulan chop ke punggung gadis itu.

"Ugh, sakit, Senpai!" Claire mengaduh sambil memegangi punggungnya.

"Kau ikut atau tidak, badai hari ini tetap akan datang. Kenapa kau suka sekali menyalahkan diri sendiri sih?" omel Gray.

Dimarahi oleh senpai kesayangannya membuat Claire sedikit terpana. Dan ia membentuk selengkung senyum di bibirnya.

"Cepat makan!" perintah Gray yang merasa tak nyaman dengan cara Claire tersenyum padanya. Setelah ini mereka harus mencari penginapan... karena memang tak ada kapal yang mau berlayar dalam cuaca seburuk ini.

Mereka berjalan dalam badai dengan jas hujan sekali pakai yang mereka beli di supermarket, mencari tempat bermalam. Namun lagi-lagi Harvest Goddess tampaknya tak berpihak pada mereka. Badai yang datang tiba-tiba membuat semua penginapan telah terisi penuh. Setelah berputar-putar mencari akhirnya mereka mendapat satu kamar kosong. Ya, tepat sekali. Hanya satu kamar di motel yang sangat sederhana.

"Hatcchooo!" Claire bersin keras sekali begitu mereka sampai kamar.

Gray membuka bungkusan yang dibelinya di supermarket, dan menyerahkan satu dari dua setelan piyama padanya. "Ganti bajumu," kata Gray.

"U-uhn," sahut Claire dengan wajah memerah. Ia tak tahu Gray membelikan satu stel piyama untuknya. Segera ia memasuki kamar ganti dan mengganti dressnya yang kuyup dengan piyama ukuran besar itu. Begitu keluar ditemukannya Gray yang sudah berbaring di atas futon dengan piyama sama.

Ia tak tahu harus bereaksi bagaimana saat ini. Kakinya terlalu kaku untuk melangkah lebih dekat. Ia tak yakin harus tidur di mana. Ia juga takut androphobianya akan bereaksi pada Gray karena situasinya seperti ini...

"Ada satu futon lagi di lemari. Tidurlah," kata Gray seolah dapat membaca kegelisahannya. Ia mengangguk, menggantung bajunya di samping baju Gray yang sama-sama basah, lalu menggelar satu futon lagi.

Tetap saja kamar yang kecil ini membuat jarak antar futon mereka nyaris tak ada. Ditambah suara ribut badai di luar sana, Claire merasa mereka terisolasi berdua di tempat ini.

Lama Claire hanya duduk di atas futonnya. Jantungnya berdetak sangat kencang. Terlalu kencang hingga ia tak bisa berbaring tidur. Ia tahu Senpai nya tak akan 'melakukan apapun' padanya, tapi tetap saja tubuhnya ketakutan.

"Kau tidak tidur?" Gray membalik tubuhnya sehingga ia berbaring menghadap Claire.

Claire menggigit bibir.

"Aku tak akan melakukan apapun, jadi kau tak perlu takut, Claire," kata Gray dengan tatapan serius.

Pernyataan Gray ini melesatkan kesadaran ke otak Claire. Normalnya Gray tidak akan bilang begitu. Normalnya ia tak akan peduli dan bilang, 'aku tidak tertarik padamu', bukannya 'kau tak perlu takut'. Mungkinkah...

"Senpai... kau tahu?" tanya Claire dengan suara sedikit bergetar.

"Hm?"

"Kai memberitahumu?"

Mata Gray melebar saat melihat ekspresi takut Claire. Ah, tentu saja. Claire pasti tidak ingin ia tahu tentang phobianya. Haruskah ia pura-pura tidak tahu? Tidak. Ia tak bisa melakukan itu. Apa yang membuat gadis itu ketakutan... apa yang membuatnya kabur dari rumah... dan konflik apa yang terjadi antara gadis itu dan keluarganya... Ia ingin membantunya. Ia tak ingin melihat Claire menangis dengan penuh kesedihan lagi...

"Maaf," ucap Gray sambil bangkit dari futonnya. Ia duduk bersila di atas futon, menghadap Claire. "Aku sudah tahu soal androphobia-mu," akunya. Ditatapnya Claire dengan tatapan lurus. Hal yang tentu saja membuat air mata Claire menetes kembali. Air mata yang segera dihapus oleh punggung tangannya sendiri.

"Hahaha! Lucu kan?" Claire tertawa dengan air mata terus menetes. "Aku mengejar senpai, meminta senpai menikah denganku, padahal tubuhku seperti ini... disentuh saja aku gemetar..."

Ia lalu mengerudungi kepalanya dengan selimut futon, berusaha menyembunyikan wajahnya. "Maaf, Senpai... Kau pasti membenciku sekarang..." bisiknya.

Alis Gray berkerut. Matanya memicing. Ia tak mengerti, "Kenapa aku jadi membencimu?"

Tanpa mengeluarkan kepalanya dari selimut, Claire menjawab dengan suara gemetar dan semakin kecil, "Ka-karena... cowok tidak mungkin suka dengan cewek... yang tidak bisa... diajak... hu-hubungan... s-se-seks?"

Saat kata-kata tak terduga itu keluar dari mulut Claire -yang masih bersembunyi dalam selimut, Gray hanya bisa berekspresi datar. "Siapa yang bilang begitu padamu?" tanya Gray dengan nada monoton.

Tak ada jawaban dari dalam gumpalan selimut. Gray yang kesal lalu menyingkap selimut itu dengan paksa, "Claire!"

Apa yang ditemukannya di balik selimut adalah Claire yang wajahnya super merah. Ah, tentu saja. Seberapapun blak-blakannya Claire, mengatakan hal seperti itu pada cowok yang disukainya membuatnya merasa ingin bersembunyi di dalam lubang. Terlebih sekarang mereka hanya berdua di kamar kecil ini, di tengah badai...

Dan kesadaran itu membuat wajah datar Gray berubah warna menjadi merah sampai ke kupingnya. Gray menyerah. Ia menjauhi Claire dan memalingkan wajahnya ke arah pintu.

"Siapa... yang mengatakannya?" tanya Gray setelah hatinya lebih tenang.

"Ma-mantan pacar...ku..." jawab Claire takut-takut.

"Haa?" Gray menyahut secara refleks. Bukankah gadis ini androphobia? Tapi dia punya mantan pacar? Jadi selain Gray ada cowok lain yang bisa menyentuhnya?

Claire yang menyadari ekspresi gelap Gray itu segera menimpali perkataannya tadi. Ia berkata dengan sangat cepat, tanpa jeda, "A-aku! Sebelum menemukan Senpai, aku pernah mencoba pacaran untuk menyembuhkan androphobiaku, tapi begitu tahu aku seperti ini ia memutuskanku! Kami cuma pacaran satu minggu! Dan itu sekali-kalinya aku pacaran! Maaf senpai!"

Setelah menggebu-gebu menjelaskan, ia memberanikan diri melihat Gray. Wajah senpainya yang tadi gelap kini berubah.

"Oh, gitu," respon Gray sambil menghela napas. Seperti... lega? Ah, tapi Claire tahu itu tidak mungkin. Gray pasti hanya kaget atas penjelasannya yang sangat cepat. Kamar motel kecil itu hening untuk beberapa saat. Rasa canggung tiba-tiba menyergap mereka.

"Ehem! Sebaiknya kita tidur," Gray berusaha memecah kecanggungan. Ia berbaring dan kembali berselimut.

"I-iya!" sahut Claire dengan wajah memerah. Ia merangkak ke dalam selimutnya, tapi keluar kembali dan menghadap Gray.

"Senpai," panggilan Claire membuat Gray kembali membuka matanya.

"Apa?"

"Euhm... terimakasih karena tidak membenciku. Dan meskipun aku selalu mengganggumu, kau tetap baik padaku. Aku bersyukur... orang yang kusukai adalah Senpai!" ungkapnya dengan senyum tulus dan berseri. Senyum yang mengirimkan sinyal panas pada wajah Gray. Tapi Gray tak begitu ingin menyembunyikan wajah merahnya saat ini. Ada yang lebih ingin dikatakannya pada gadis di hadapannya itu.

"Claire, kau bisa mengandalkanku," kata Gray.

"Eh?"

Mata Gray menatap Claire sungguh-sungguh, "Tentang androphobiamu, kakakmu, atau keluargamu... kau bisa membaginya padaku. Jangan menangis sendirian."

Tatapan Gray berubah jadi sangat lembut hingga membuat hati Claire sakit.

"Aku tidak ingin melibatkan senpai,aku tak ingin... senpai melihat sisi burukku," kata Claire dengan kepala tertunduk.

"Bicara apa kau?" Gray mengulurkan tangannya dari dalam selimut, ke dekat Claire. "Sejak kau datang ke Mineral Town untuk mengejarku, bukankah kau sudah melibatkanku? Kau terlibat dalam hidupku, dan aku terlibat dalam hidupmu. Seperti kau yang membuat sekelilingku menjadi lebih baik, biarkan aku membantumu, Claire. Kau bilang hanya aku yang bisa menyentuhmu?"

Si cengeng Claire hanya bisa menangis mendengar kata-kata Gray itu. Selama ini Claire membangun dinding di sekelilingnya. Dinding yang menyembunyikan bagian tergelap dari dirinya. Dan di dalam dinding itu, ia selalu merindukan ketukan yang menyuruhnya keluar. Bagi Claire, kata-kata Gray barusan adalah ketukan terlembut di dunia yang selama ini telinganya rindukan.

Claire mengulurkan tangannya dan meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Gray.

"Aku sebenarnya hanya anak angkat di keluargaku. Tapi ibu dan ayahku selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Bagiku... mereka seperti keluarga terbaik. Tapi semuanya berubah... ketika.." kata Claire dengan suara tangis yang gemetar. Gray bahkan bisa merasakan tangannya yang sangat dingin dan gemetar. "Nii-sama... memperkosa...ku... di SMA..."

Rasanya seperti ada tombak besar yang menusuk dada Gray. Ia mengenggam tangan Claire erat, berusaha memberi Claire kekuatan, sekaligus memberi dirinya sendiri kekuatan.

"Tapi tak ada yang percaya padaku... karena Nii-sama selalu baik, pintar, dan sempurna, tidak sepertiku... Kalaupun terjadi, mereka bilang, pasti aku yang memulainya…"

Kali ini Gray bangkit dari futonnya. Ia menggenggam kedua tangan Claire. "Mereka bilang aku bermimpi... atau yang kulihat hanyalah hantu... tapi mana mungkin... rasanya aku mau gila, Senpai...!"

Claire melanjutkan ceritanya dengan sesegukan,"Gara-gara masalah itu ibuku sakit, jadi aku harus menjaganya. Agar keluargaku tetap utuh, aku terpaksa menyembunyikan kebenarannya... Dan Nii-sama, dia belajar di luar negeri. Tapi begitu ia kembali, dia ternyata melakukan hal yang sama... di saat aku merasa sangat frustasi... hanya senpai dan novel itu yang membuatku tetap waras... tapi aku tak tahan lagi, jadi aku meninggalkan rumah, bilang bahwa aku ingin mengejar... mimpiku..."

Gray bergeming.

Kepalanya seperti ditusuk-tusuk jarum, berusaha memahami cerita Claire.

Jadi tak hanya sekali? Nii-sama nya itu...? Dan berani sekali dia masih muncul di depan Claire!

Sampai disini rasa sakit di hati Gray sudah mencapai puncaknya. Ia memeluk Claire. Erat, erat sekali. Ia tak tahu ia bisa seperti ini kepada manusia lain. Ia bahkan tak yakin ia melakukan ini hanya karena simpati. Ia tak tahu lagi, ia tak peduli. Ia hanya ingin mengangkat penderitaan gadis yang selalu tersenyum di depannya ini, walaupun hanya sedikit...

~000~

(Bersambung)