WARNING MOON
SCANDAL band X The GazettE fics.
A fanfic by. Summer Chii
Warning: OC,OOC, AU,AR,AT,typo(s),lit bit bloody
Disclaimer: Semua korban yang ada disini bukan milik Chii. Saya Cuma punya OC, story aja. Fic ini juga cuma fiksi yang kaga ada maksud lain selain menghibur
#eakz
Pair: Ruki x Mami, etc
_happi reading!_
CHAPTER 6
Kana Erizawa memandangi pemandangan dibawah jendela kamarnya dengan tersenyum puas. Di dekat pohon Sakura yang sudah mengering itu, orang-orang yang ia incar—target berkumpul disana. Seorang pemuda berambut madu yang berjarak sangat dekat dengan gadis mungil berambut coklat, kemudian orang yang dia benci ada disana, tak jauh dari pemandangan kedua 'lovebird' itu.
Jujur, wajah orang-orang itu tidak terlalu terlihat jelas, mengingat kamarnya lantai tiga, dan dia melihatnya dari sudut samping atas. Ditambah, teriknya matahari membuat kaca jendelanya sedikit silau.
Gadis itu meletakkan tangannya di alis, berharap jika cahaya tidak terlalu terang, dia bisa melihat ekspresi Mami Sasazaki.
"cemburu, eh?" ucapnya spontan ketika melihat Mami melarikan diri. Kemudian senyumnya mengembang, kemudian tawanya terlepas.
"dasar payah, segitu saja dia sudah lari, bagaimana denganku? Bodoh," ucapnya kesal sambil meremas roknya. Sesekali dia melirik bunga mawar putih segar yang ada divas kecil diatas meja belajarnya. Mengelus mahkota putihnya dan melepaskan sehelai kelopak putih yang lembut itu.
"sebenarnya, aku suka dengan sikap itu...hanya saja, 'dia' mengganggu," ucapnya dengan sorot mata menyeramkan, sambil menjatuhkan kelopak mawar itu ke lantai.
XXX
Mami berlari pergi dari tempat itu ke kamarnya secepat mungkin. Dia sangat bingung dengan perasaannya sekarang.
Gadis itu segera bersandar didepan pintu kamarnya sambil mengutuki dirinya sendiri yang lari begitu saja tanpa alasan. Dia bisa menjamin kalau Tomomi sebentar lagi akan menggebrak pintunya dan dia sudah memasang kuda-kuda untuk berdalih.
Sayangnya, semua persiapannya buyar ketika dia kembali memikirkan Ruki. Lebih tepatnya Ruki dengan Haruna yang *nyaris* berpelukan, oke, mungkin jarak mereka sangat dekat dan tubuh mereka nyaris bertempelan. Tapi perlu diingat, itu baru nyaris, nyaris lho, nyaris.
Kalimat itu berputar diotaknya, berusaha menghilangkan semua pikiran negatif yang ada diotaknya, dan bersikap seperti biasa. Tapi tetap saja, semua itu tidak berfungsi.
Dia merasa kecewa, napasnya terasa berat, sekan ada beban berat sewaktu melihat kedua orang itu. hatinya sakit, dan sedih melihat mereka. Entah kenapa dia jadi merasa kesal pada senpainya sendiri. Dan baru kali ini dia merasakan hal itu.
Tidak seharusnya dia merasa seperti ini, tidak seharusnya dia kesal pada senpainya. Kesal? Dia kesal?
Entah karena apa juga, airmatanya mengalir menuruni pipinya, membuat napasnya semakin berat. Semakin memikirkan kejadian kecil itu, hatinya semakin sakit, seakan membakar dirinya dari dalam.
XXX
Sebelumnya..
Rina mengejar Mami dengan full power, sedangkan Ruki yang menyadari keberadaan Mami sebelumnya langsung ikut mengejarnya. Sementara itu, Tomomi diam mengumpat sambil menontoni seorang pemuda berambut coklat menghampiri senpainya dengan santai.
Merasakan terik matahari tidak mengenai kepalanya lagi, Haruna menoleh kebelakang, dan mendapati pemuda jangkung berambut coklat itu ada disana.
"Ka—"
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Kai sudah menariknya, menempelkan bibirnya di sudut bibir gadis itu, mengecupnya dengan lembut. Semakin lama semakin ketengah, dan dia berusaha membuka bibir gadis itu.
'PLAKK'
Tamparan itu langsung melayang ke pipi kurus Kai, cukup keras untuk membuat pipinya memerah. Sedangkan Haruna hanya menatapnya dengan kesal sambil memegangi bibirnya yang hampir jadi sasaran empuk gigi-gigi rapih Kai.
"apa maumu?" ucapnya dingin sambil berusaha mengatur napasnya. Kai hanya diam, menatapnya dengan tenang seakan menembus benda kosong.
"aku akan memberitahu semuanya pada Ruki, dia harus tahu."
Haruna menatap pemuda itu tak percaya. Sedangkan Kai hanya tersenyum simpul pada Haruna.
"kau... kau gila?! Hah?" ucap Haruna tak habis pikir sambil mengepalkan tangannya, meremas ujung roknya dengan kasar.
"aku hanya ingin dia tahu kenyataan, dan membiarkan dia memilih jalannya sendiri. Biarpun dia indigo, jalannya harus dia pilih sendiri. Seberapa besarpun keterikatannya pada dunia lain," ucapnya panjang lebar sambil menatap lurus kebelakang sana, dengan pandangan penuh arti. Bibirnya tertarik, membuat senyum tipis itu tergambar di wajah tampannya.
"dan aku tidak ingin membuatnya seperti pengecut yang takut dengan apa yang belum tentu terjadi, dengan hal yang mengikatnya dengan masa lalu. Bagaimanapun dia harus berjalan kedepan kan?" tambahnya mantap sambil terus memandang kedepan. Menyadari arah pandang pemuda berambut kopi itu, Haruna segera menoleh.
Dan mendapati pemuda berambut madu itu berdiri dibelakangnya.
"apa maksudnya?"
Tomomi hanya bisa terdiam ditempat. Dia bisa mendengar semua perkataan itu, dia bisa melihat Ruki datang pada mereka dengan tatapan kosong, seakan kehilangan nyawanya, dia bisa melihat ekspresi kaget senpainya. Dia melihat semuanya. Semua hal yang tidak seharusnya dia lihat dan dia dengar.
XXX
Tomomi berlari kekamarnya dengan seluruh tenaganya setelah dia bertatapan mata dengan Kai. Tatapan lembut dengan senyum penuh arti, yang menurutnya sedikit menyeramkan. Dan lagi, seakan senyum itu memberinya sinyal padanya, untuk pergi jika ia tidak bisa mendengar semuanya lebih lanjut, dan menutup mulutnya.
Tomomi POV
Aku membanting pintu kamarku dengan sangat keras, sambil menggigiti jari telunjukku. Entah kenapa aku merasa takut untuk mendengar semuanya, entah kenapa aku seakan tidak boleh mendengar semuanya.
"ARGH! KENAPA AKU LARI?!" teriakku kesal sambil langsung berjongkok menghadap pintu kamar. Oke, tenang Tomo, tenang. Bukan masalah kalau kau lari, bukan masalah kalau kau sudah dengar sedikit. Kau baru dengar sedikit, Tomo, sedikit, sedikiiiittt sekali. Haru-nee tidak akan datang dan menerjang nanti malam. Oke, tenang, tenang.
Tapi aku ingin mendengarnya... aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Mamitasu dan si 'Ruki' itu. Dan siapa tahu... aku bisa mendapatkan kepastian tentang Haru-nee. Tapi aku takut. Apa aku nekad saja menguping?
'PLOKK'
"oke, jangan berpikir aneh, jangan berpikir aneh. Kau tidak boleh kesana, kau tidak boleh dengar, itu bukan urusanmu," ucapku berulang-ulang, berusaha mengubur niat untuk turun lagi kebawah dan menyusul ketiga orang punya sweet affair itu. Aku benar-benar bingung sekarang. Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus memberitahu Mamitasu dan Rinapii? Apa aku harus diam? Apa aku konsultasi dulu dengan Haru-nee? Dia pasti tahu segalanya.
Konsultasi...
ITU NAMANYA BUNUH DIRI! Aku akan ketahuan menguping, lalu... lalu... lalu...
Apa yang harus kulakukan? Apa sebaiknya aku diam saja? Apa itu lebih baik? Apa aku... harus membiarkan Mamitasu dan 'Ruki' bertemu? Apa sebaiknya aku tidak membiarkan mereka bertemu?
Seandainya aku bisa bicara pada seseorang...
XXX
-author POV- (malamnya,)
Aoi dan Uruha menatap Kai dengan tatapan tak percaya. Mereka bertiga sedang berkumpul di apartemen Kai.
"apa katamu?" tanya Aoi tegas dan dalam pada pemuda berambut kopi tersebut. Kai hanya diam, kemudian merongoh sakunya dan memberikan sebuah kantung kecil dengan sebuah logam bundar seperti replika uang kuno yang diperbesar.
"aku sudah memberitahunya, dan aku mendapatkan ini darinya. Dia memang belum percaya sepenuhnya dengan kata-kataku, tapi kurasa dia sudah mulai mengerti keadaannya. Dan—"
"apa kau tahu dia sudah mengenal gadis itu?" tanya Uruha memasuki pembicaraan dengan santai. Pemuda berambut kopi itu terdiam seribu bahasa.
"kubilang, apa kau sudah tahu kalau mereka sudah sering bertemu?" tanyanya sekali lagi dengan penekanan.
"aku sudah tahu sejak awal. Bahkan aku sudah tahu perasaan mereka masing-masing," ucapnya santai sambil menatap lekat-lekat kedua temannya. Mereka hanya bisa terdiam mendengar jawaban Kai.
"kenapa kau—"
"aku hanya ingin mereka memilih jalan mereka sendiri. Biarkan mereka berjalan sendiri, tanpa terikat masa lalu, tanpa takut akan apa yang belum tentu terjadi. Biarkan semua yang akan terjadi mengalir. Apapun itu," ucap Kai tegas sambil menatap lurus kedua orang itu.
"itu sama saja kau membiarkan mereka menghadapi hal yang lebih berat dari kita. Bagaimana kalau—"
"jika mereka memang tidak bisa bersama? Itu adalah hal yang harus mereka putuskan sendiri."
Uruha dan Aoi terdiam. Perlahan, Aoi mundur, membiarkan kekeraskepalaan pemuda berambut kopi ini mengambil alih.
"Kai... kau tahu resikonya kan? Apa maksudmu melakukan semua ini?" ucap Uruha frustasi, berharap kata-katanya bisa mencairkan kekeraskepalaan temannya ini. Namun pemuda itu tersenyum simpul.
"aku hanya ingin mereka memilih jalan mereka sendiri."
XXX
Malam itu, Ruki hanya bisa terdiam dikamarnya tanpa sepatah katapun. Dia masih bisa mengingat dengan jelas semua kata-kata yang dilontarkan dua orang itu tadi siang, dan dia masih sedikit tidak mengerti.
Flashback :ON
Pemuda berambut madu itu hanya bisa diam mendengar perkataan Kai. Kata-kata yang singkat, jelas, padat dan menusuk.
"nande?" ucapnya tak percaya dengan leadernya ini. Hal yang dikatakannya seakan hanya dongeng pengantar tidur ke mimpi buruk yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
"kau indigo. Kau tahu kan indigo itu apa?" ucap Kai sedikit memicingkan matanya. Dia menatap Ruki dengan tatapan tajam, sementara Haruna hanya diam sambil mendengus kecil.
Sepanjang pengetahuan Ruki, indigo adalah kondisi dimana seseorang memiliki indra keenam, atau sixth scene. Bisa melihat arwah, mendengarnya, dan merasakan keberadaan mereka secara nyata. Kebanyakan dari mereka terkucil dari masyarakat dan menyembunyikan keberadaan mereka. Tapi baginya, indigo atau apapun itu tidak pernah ada. Itu hanya bohong, dan imajinasi orang-orang belaka. Hal gila perwujudan imajinasi seseorang yang terlalu tinggi.
"mana mungkin. Aku.."
"indigo tidak semudah yang kau pikirkan. Semua potensi yang ada itu tidak muncul saat kau masih kecil atau lain sebagainya, tapi perlahan-lahan saat mentalmu sudah siap, dan kau sudah dewasa. Dan seharusnya proses itu tetap terjadi pelan-pelan tanpa campur tangan orang lain. Dalam kata lain, seharusnya kau tidak mendengar hal ini dari kami," ucap Haruna panjang lebar memasuki pembicaraan. Kai menatapnya dengan tajam, kemudian berpaling pada Ruki yang terdiam.
"semua yang kau alami; melihat bayangan samar, mimpi yang terasa nyata, mimpi berefek, lebam-lebam biru tanpa asal-usul jelas, suara-suara yang kau dengar, itu semua karena kemampuanmu. Dan sekarang ini, menurutku kau jalanilah hidup seperti biasa, anggaplah kalau semua ini—"
"lalu kenapa kau memberitahuku?" ucap Ruki dingin sambil memotong perkataan Kai. Haruna hanya bisa diam sambil memandangi Kai, bersiap-siap dengan kata-kata yang akan dikeluarkan pemuda itu.
"dalam kasusmu berbeda. Kau istimewa dari indigo lain," ucap Kai tenang dan datar, membuat Ruki mengerutkan keningnya. Sedangkan Haruna memalingkan wajahnya, dia tak bisa melihat ekspresi Ruki ketika dia tahu ada apa sebenarnya.
"kau terikat masa lalu. Penyebab utama kau indigo, adalah kehidupanmu di masa lampau, yang membuatmu berbeda dari indigo yang lain."
"dan ada satu hal lagi yang ingin kukatakan..." ucap Haruna pelan, membuat Kai menatapnya.
Flashback Off
'terikat', 'masa lampau'. Reinkarnasi. Itulah yang ada dipikiran Ruki saat ini. Apa semua indigo yang merupakan 'reinkarnasi' harus menggalami hal seperti dia? Seperti diikuti... sesuatu...
Mami POV
Pagi ini, perasaanku masih berantakan dan aku tidak tahu apa yang harus kuperbuat mengenai hal itu. Jujur, aku sendiri masih tidak begitu mengerti kenapa aku benar-benar jadi kesal pada Haruna, tapi sebisa mungkin aku menghindarinya hari ini.
Aku tahu dia terus mencoba untuk mendekatiku dan terus memperhatikanku, tapi aku tidak bisa menatapnya.
Dia berkali-kali memulai pembicaraan, dan setiap pertanyaannya akan kujawab dengan 'hm' atau 'oh'. Sejujurnya, aneh bagiku untuk bersikap acuh padanya, karena biasanya akulah yang memulai pembicaraan. Dan kalaupun dia yang memulai pembicaraan, pasti akan kujawab panjang sepanjang-panjangnya, sedetail mungkin.
"Mamitasu, kau dengar aku tidak sih?"
Suara itu mengagetkanku, membuatku memalingkan wajahku ke Tomomi yang sudah berdiri disampingku.
"sudah istirahat. Ayo keatas! Eh? Kenapa kau lesu sekali? Apa nyawamu tertinggal? Apa kau mau ke ruang kesehatan saja?" ucapnya sambil memukul mejaku pelan. Atap sekolah. Disana, aku pasti akan bertemu dengannya.
"hmm... sepertinya hari ini aku tidak ikut, aku ingin keruang kesehatan saja," ucapku berkelit pada Tomomi,dan gadis itu segera menepukkan (maksudnya menempelkan) tangannya didahiku, kemudian pipiku, dan lain sebagainya.
"Timo, aku baik-baik saja. Aku hanya ingin tidur disana sebentar. Jangan khawatir, kau keatap saja."
Maaf Tomo, aku berbohong. Aku ingin bolos.
"benar? Apa aku harus memanggil Haru-nee dan Rinapii sekalian ke ruang kesehatan? Apa kau ingin aku menemanimu? Apa kau ingin pulang saja, tidur di asrama itu lebih baik? Apa kau mau kubeli—"
"hai,hai. Daijoubu. Tidak usah repot-repot. Aku hanya ingin tidur sebentar kok," ucapku berbohong lagi padanya. Kemudian dia mengangguk, dan meninggalkanku sendiri, dikelas yang nyaris sepi ini.
Aku menatap kebawah, kosong. Kelas kami yang menghadap lapangan belakang ini memang tempat strategis.
Dengan perlahan, aku melemparkan tasku kebawah, kemudian berjalan keluar kelas, menuju lokerku dan mengganti uwagutsu-ku dengan sepatu lain. Dengan mengendap-endap tentunya. Loker juga tidak terlalu ramai, hanya jalan menuju loker yang cukup ramai.
Kemudian setelah menukarkan uwagutsuku, aku berlari mengendap-endap keluar, menuju ketempat tasku, dan baru berlari menuju asrama. Disana lebih aman.
Hanya saja, entah kenapa aku merasa diawasi sesuatu. Namun tiap aku menoleh kebelakang, aku tidak melihat apa-apa selain deretan loker yang kosong.
-author POV-
Erizawa Kana berdiri membelakangi pintu utama, bersembunyi diantara loker-loker tinggi itu setelah dia mengawasi Mami keluar dari sekolah di jam pelajaran.
Entah kenapa dia jadi senang men-stalk Mami seperti itu.
Kemudian dia tersenyum lembut sambil memegangi sehelai kelopak putih dan lembut itu.
XXX
Mami memasuki kamarnya secepat kilat. Hampir saja dia ketahuan oleh guru keliling tadi. Dan jika dia sampai ketahuan, matilah dia.
Gadis ituu mengganti pakaiannya. Sangat berbahaya jika pada jam-jam segini dia berkeliaran dikota dengan seragam. Bisa-bisa dia tertangkap dan dikembalikan kesekolahnya. Karena itulah dia kembali kekamarnya, khusus untuk mengganti pakaiannya agar dia bisa pergi kesebuah sungai kecil yang berjarak 10 menit dari asramanya. Memang tempat itu bukan tempat yang indah dan sangat sederhana. Tapi itu cukup untuk pelariannya.
Mami mengambil dompetnya, kemudian memijakkan kakinya di kusen jendela, menggunakan akses pohon Sakura yang sudah botak itu, dan melompat kebawah. Setelah itu dia memacu kakinya yang dibalut sneakers menuju ke tempat itu.
XXX
Ruki menatap bosan pemandangan diluar jendela kafe yang ia tempati itu. Orang-orang berlalu-lalang, matahari terik, beberapa arwah terdiam dipinggir jalan sambil memandangi zebra cross, beberapa diantaranya mengikuti orang-orang yang berlalu lalang, ada yang berdiri ditengah jalan, ditembus masyarakat, namun tetap diam disana.
Dan dia merasa matanya mulai sakit melihat hal-hal aneh itu.
Faktor kesal dan faktor tidak biasa membuatnya merasa sangat bosan di kafe itu. Jika tangannya sudah pulih dan memungkinkan dia untuk latihan, pasti gitar Uruha sudah jadi pelampiasan.
Dia mengheka napas berat.
'oh yeah, apa yang akan kulakukan sekarang? Diam begini saja? Membosankan, menyebalkan.' Batinnya sambil memutar-mutar sendok kecil dari gelas kopinya. Sudah pukul 10.35 pagi, dan dia juga sudah berada cukup lama di kafe itu.
Dia baru saja berpikir untuk meninggalkan kafe itu dan mengikuti lautan manusia itu pergi, namun matanya terhenti saat melihat sosok berambut panjang itu menerobos orang-orang disekitarnya dan berjalan cepat ke suatu tempat.
Menyadari jika orang itu adalah Mami, dia segera meletakkan uangnya di meja setelah memanggil pelayan kafe, dan menyusul Mami tanpa peduli dengan uang kembaliannya.
Ada hal yang harus dia pastikan pada gadis itu.
XXX
Mami sampai di pinggiran sungai itu, kemudian dia merenggangkan otot-ototnya, dan merebahkan dirinya pada hamparan rumput-rumput hijau yang ada dipinggiran sungai kecil itu.
"ah~ tenangnya disini," ucapnya lega sambil merenggangkan kaki dan tangannya yang sangat kaku. Dia tidak peduli dengan rambutnya yang berantakan, begitu pula jaketnya. Yang penting dia merasa tenang sekarang.
Gadis itu melipat kedua tangannya dan meletakkannya diatas kepala. Kemudian ia memejamkan matanya, sambil merenungkan kejadian kemarin. Dia hampir saja lupa kalau dulu dia menghindari Ruki karena takut padanya.
Entah kenapa perasaan takut yang pernah ia rasakan saat pertama kali bermimpi tentang pemuda itu sudah hilang sekarang.
Mami menepuk pipinya dengan keras, berusaha menghilangkan pikiran negatifnya pada pemuda itu dulu. Dan saat dia membuka matanya,
...dia melihat halusinasi pemuda bersurai madu itu didepannya.
Mami mengedipkan matanya berkali-kali, sambil mengusap matanya untuk memastikan penglihatannya. Penglihatan jarak dekat maupun jarak jauhnya memang masih bagus, karena itu dia merasa imajinasinya terlalu tinggi.
"ini aku. Kau pikir kau berkhayal ya?" ucap Ruki kesal sambil menyentil dahi gadis itu. Sekali lagi, Mami berkedip dan mengedipkan matanya, dan memicingkan matanya. Hal itu tentu saja membuat Ruki geli sehingga dia mengikutinya.
Dan setelah Mami sadar dia tidak berkhayal, Ruki mengangkat tangannya sambil tersenyum lebar, menunjukkan gigi-giginya.
"hai, sudah sadar?" ucapnya setengah bercanda sambil melambaikan tangannya. Diluar dia terlihat sangat ceria, tapi sebenarnya hatinya sedang suram dan menyugesti tubuhnya untuk memberikan 'senyum palsu' pada Mami daripada dia terlihat aneh.
Menyadari yang didepannya adalah Ruki 'sungguhan', Mami langsung mundur secepat mungkin, berusaha menjauh dari Ruki.
Sedangkan Ruki nyaris kehabisan rasa sabar pada gadis ini. Dia segera menangkap tangan gadis itu dan memasang wajah bad mood nan penjahatnya.
"mau kabur kemana kau? Kau tahu, susah untuk menikutimu dari jalan besar itu tahu! Dan sekarang kau mau kabur? Mau kuhajar habis-habisan ya?" ucapnya geram sambil memandang tajam Mami yang terlihat bingung dan sedikit takut. Beberapa kali dia mengibaskan tangannya, berusaha untuk lepas dari genggaman tangan Ruki.
Melihat reaksi Mami yang over itu, Ruki langsung melepaskan tangannya.
"lupakan. Kenapa kau disini? Seharusnya kau ada disekolah kan?" ucap Ruki dingin sambil berbaring disamping tempat Mami berbaring tadi. Kemudian dia menatap Mami yang masih membatu ditempat.
"bolos? Aku takkan melapor kok, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu," ucapnya santai sambil melipat tangannya dibelakang kepala, kemudian dia menempelkan sebuah minuman kaleng yang tadi dibelinya di vending mechine (untuk menyogok Mami) kepipinya.
"n-ne. Arigatou,"
Ruki hanya tersenyum kecil pada Mami, kemudian dia memejamkan matanya.
"apa kau bisa melihat 'hal yang tidak bisa dilihat manusia umumnya' juga?" ucap Ruki spontan to the point pada Mami, membuat gadis itu terbelalak kaget, dan menjatuhkan kaleng minumannya.
"kuanggap itu jawaban iya," ucap Ruki sambill menatap Mami yang masih syok. Logikanya, jika ia bukan 'indigo', dia pasti akan bersikap lain misalnya, memuntahkan minumannya, atau mengatakan 'hah?' menatapnya dengan tatapan aneh dan lain sebagainya. Entah itu kesimpulan dari sixth scenenya atau presepsi kelogisannya.
"apa kau tahu kalau aku indigo?" tanyanya sekali lagi sambil menatap tajam Mami dan mengocok-ngocok minuman kaleng Mami yang belum terbuka.
"a-anoo..."
"sudah kuduga kau tahu sesuatu," ucapnya memotong perkataan Mami. Sejak kemarin dia merasa lebih sensitif dan sok tahu tentang gelagat orang lain. Bahkan sejak tadi ia memperhatikan orang-orang untuk mengetes kemampuan anehnya.
"i-itu... a-aku.. karena aku.."
"'tidak boleh memberitahukannya padaku karena lebih baik jika aku menyadarinya sendiri,' ya kan?"
Mami hanya bisa diam membatu mendengar pemuda ini.
"kau... tajam sekali ya?" ucap Mami setelah cukup lama memilah-milah kata. Dia tidak mau menyinggung Ruki saat ini, karena menurutnya saat ini Ruki sedang *sangat* sensitif.
"hm. Kau tidak takut kan?" tanya Ruki polos seperti anak paranoid. Sedangkan Mami memasang wajah datar sambil sedikit menahan tawanya.
"tidak. Biasa saja," ucapnya santai sambil menatap Ruki.
Karena tatapan Ruki yang tidak kunjung lepas dari tatapannya, Mami berusaha menghindari sorot mata coklat gelap itu, namun semakin dia menghindari tatapan itu, Ruki semakin berusaha untuk menatapnya lekat-lekat.
"a-anoo..."
"irismu hitam pekat ya," ucap Ruki lembut sambil memperhatikan wajah gadis itu. Mami diam sambil menggigit bibirnya. Ruki menatapnya dengan jarak sangat dekat, membuat gadis itu sedikit memanas. Perlahan, Ruki mengelus pipi putih Mami yang memanas itu, kemudian mendekatkan wajahnya.
Nyaris saja bibirnya bertempelan dengan bibir gadis itu, kalau saja Mami tidak menghindar. Ruki menatap gadis itu dengan tatapan kaget, kemudian memandangi wajahnya yang sudah semerag tomat sekarang.
Dan tawa kecilnya terlepas begitu saja ketika melihat reaksi polos Mami, membuat Mami menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian Ruki menarik tangan gadis itu dari wajahnya dan menatapnya dengan lembut.
"aku boleh meminta satu hal darimu?" tanya Ruki lembut sambil memberikan Mami senyuman terbaiknya. Mami mengangkat sebelah alisnya bingung, kemudian mengangguk pelan, tanpa pernah tahu apa resiko dari anggukan kecilnya itu.
"jangan tinggalkan aku, oke? Kita sama kan? Dan kau... maukah kau berjalan bersamaku?"
XXX
Gadis berambut hitam sepunggung itu mengupas kulit apel menggunakan cutter dengan santai. Matanya masih menerawang kedepan, lebih tepatnya kesamping samping luar jendela, memandangi pohon sakura yang mengering itu. Dia memainkan kulit apel yang dikupasnya itu dengan ceria, kemudian memakannya.
Setelah selesai mengupas buah berwarna merah itu, dia tersenyum sendiri dan mengambil setangkai bunga mawar putih segar dari florist disamping meja belajarnya.
"hum... image yang pas, sangat cocok sekali dengan dia," ucapnya serius sambil menggigit apel yang sudah botak itu. Kemudian dia mengambil mahkota bunga itu dan meletakkannya diatas sampah kulit apel.
'JLEB'
Lalu menancapkan cutter tersebut hingga menghancurkan mahkota bunga itu. Gadis itu tersenyum lebar, kemudian tertawa layaknya seorang physco akut.
"jadi target kita; singkirkan pengganggu terlebih dahulu, begitu nee-san?" ucapnya dengan nada rendah sambil menatap kedepan. Kemudian angin dingin berhembus kearahnya. Dan perlu diingat: ini siang hari di musim panas.
Gadis itu mengambil kelopak-kelopak yang sudah hancur itu, kemudian meremasnya dan sengaja menjatuhkannya kebawah.
"musim semi sudah berakhir... dan ini akan jadi yang terakhir..."
Erizawa Kana menghadap belakang, menatap pintunya dengan tajam, kemudian tersenyum lebar. Kelopak-kelopak bunga yang tadi diremasnya semakin bertambah banyak, bertebaran dilantainya.
Namun kelopak-kelopak itu mencoklat.
"bagi senpaimu."
Rina hanya bisa diam membatu didepan pintu itu. jantungnya berdegup kencang, dan dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Suhu udara dikamar itu berubah—membuatnya ikut merasakan perubahan suhu itu.
'hari terakhir di musim semi, hari terakhir di musim panas akan terjadi diluar dugaanmu.'
Kemudian Rina berlari dari sana kecepat mungkin.
'Tomomi... dia harus tahu...'
XXX
Kai bersantai di apartemennya dengan keadaan kamarnya yang luarbiasa berantakan. Dia sangat tidak peduli dengan apapun yang berserakan di ranjangnya, di lantai dan lain sebagainya. Yang dia lakukan saat ini hanya memainkan ponselnya.
Sampai ia mendengar suara pintu terbuka dari depan, dia baru menghentikan kegiatannya.
'bukankah tadi sudah terkunci?' batinnya heran, kemudian dia berjalan menuju pintu depan, dan mendapati pintu itu masih tertutup.
Namun sudah tidak terkunci.
Pemuda itu memicingkan matanya heran, kemudian membuka pintu apartemennya dan mengecek keluar. Dia tidak menemukan apapun selain koridor apartemen yang kosong.
Kemudian dia mendengus kesal. Kalau sudah begini, bukan menggunakan logika lagi, tapi menggunakan pikiran abnormalnya yang mengatakan itu keisengan roh penasaran atau lain sebagainya. Dan dia berniat kembali ke kamarnya.
'SRAKK'
Suara gesekan kertas dengan debu itu membuatnya menoleh kebawah, dan dia mendapati sebuah amplop putih di kakinya.
AMPLOP PUTIH. DI. KAKINYA.
'jangan-jangan ini surat dari neraka? Tagihan? Atau ayah sialan itu yang mencabut semua kartu kreditku? Oh, tidak.' Batinnya tertekan ketika mendapat surat itu.
Karena selama ini dia tak pernah punya kenangan manis dengan namanya 'amplop putih' bisa diduga, dia kabur dari rumah dan ayahnya tidak menyukai itu. Dia sembunyi di kota ini karena bantuan Uruha dan Reita. Dan mungkin saja ini surat pernyataan ayahnya sudah mengetahui keberadaannya.
Oke, konyol. Dia sudah cukup dewasa untuk ini semua. Tidak seharusnya diperhatikan seperti itu kalau saja dia bukan pewaris tunggal Uke Corps.
Dengan berat hati, Kai mengambil kertas itu.
Tak ada nama pengirim dan nama penerima. Dia ragu jika amplop itu untuknya, tapi karena diletakkan didepan pintu rumahnya, itu miliknya.
Pemuda itu membuka amplop itu perlahan, kemudian mengambil isinya. Sebuah kertas kuning panjang dan kali ini bertuliskan kanji nama seseorang yang sangat ia hapal.
Dan dia langsung meremas kertas itu.
"kuso!"
XXX
Malamnya,
'BRAKK'
Haruna tersentak kaget sampai-sampai ia menjatuhkan kepalanya (oke ini horror) yang tadi ditopangnya dengan telapak tangangan kirinya ke meja. Suara itu benar-benar mengagetkannya, mana sangat keras lagi.
Gadis itu menoleh kebelakang dan mendapati Tomomi berdiri di depan pintu kamarnya dengan mata berair. Entah apa yang terjadi pada anak itu, dia hanya bisa diam sambil berjalan kearahnya. Niatannya untuk marah dan meneriaki gadis itu langsung hilang ketika Tomomi menerjang tubuhnya dan menggelayutinya bagai koala.
"nande, Timo?" ucapnya tenang sambil berusaha mengangkat lengan Tomomi. Berat, pasti. Dan sudah pasti. Sepowerful apapun dia, jika dia digelayuti seperti itu dia tak berdaya. Bisa- bisa tulangnya remuk semua.
Tomomi hanya diam sambil terus menangis di perut rata Haruna, sedangkan gadis berambut coklat itu hanya diam sambil berusaha menenangkannya.
"oi, oi, ada apa?" ucapnya pelan sambil meratakan tingginya dengan Tomomi yang sedang terduduk dilantai kamarnya. Karena tidak memperoleh jawaban, gadis itu bergegas menutup pintu kamarnya terleebih dahulu sebelum dia mengintrogasi Tomomi lebih lanjut.
"To—"
'GREP'
Genggaman erat dibahunya itu membuat Haruna menghentikan kalimatnya. Dia menggigit bibirnya agar suaranya tidak keluar. Tomomi menatapnya dengan tatapan berair, kemudian dengan nekad menarik kaus oblongnya sampai memperlihatkan bahu putih yang kurus itu.
Tomomi tak bisa menahan diri untuk menangis lebih keras lagi. Dia melihat bahu senpainya itu membiru, sama seperti bekas di leher Mami, namun lebih parah dari itu. Dia yakin 100% kalau apa yang terjadi pada Haruna berhubungan dengan 'Sadako dadakan' yang selama ini menghantui Mami.
Haruna tersenyum kecil melihat Tomomi, kemudian dia menepuk-nepuk kepala gadis itu, membuat pelukannya pada pinggang ramping Haruna makin erat. Dia tak bisa mengatakan apapun pada Tomomi. Tak bisa mengelak, dan tak bisa mengakuinya juga. Sudah tertangkap basah, namun dia tidak ingin menerima kenyataannya.
"sst... daijoubu he, daijoubu," ucapnya lembut sambil mengusap-usap kepala Tomomi. Sedangkan Tomomi semakin mengeratkan kedua tangannya pada pinggang kurus itu, membuat empunya merasa hampir kehabisan napas.
"H-Haru... Haru-nee... hiks... kenapa... kenapa tidak pernah... b-bilang pada kami? A-apa..apa ka-kau tak percaya pada kami... apa..."
"sst, bukan begitu Tomo, aku hanya merasa ini bukan hal penting ya—"
"INI PENTING, HARU! KENAPA KAU MENGANGGAP SEMUA YANG BERHUBUNGAN DENGAN DIRIMU TIDAK PENTING?! KENA—"
"pssst... jangan teriak!" ucap Haruna spontan sambil mencubit bibir Tomomi. Kemudian dia tersenyum pada kohainya, dan mengucapkan kata-kata yang benar-benar menusuk hati Tomomi.
"bagiku, semua itu tidak ada artinya. Asal aku bisa menyelesaikan 'tujuan'ku, aku tidak membutuhkan apa-apa lagi. Aku tidak peduli, karena tujuanku masih disini hanya satu..."
XXX
Mami menghela napas berat, kemudian menggulingkan tubuhnya menghadap tembok. Sudah hampir tiga jam dia melakukan hal itu; berguling kekiri-kanan sambil menghela napas. Hatinya masih berat sekarang, dia masih gelisah entah kenapa.
Ditambah, entah kenapa dia diserang insomnia dadakan.
Sesekali ia mengambil ponselnya dan mencoba menulis e-mail pada teman-temannya. Namun setelah dipikir-pikir lagi, batal. Dia merasa akan mengganggu teman-temannya jika ia mengirim e-mail selarut ini.
'DRRT'
Mami cepat-cepat membuka ponselnya, berharap e-mail baru itu dari Haruna atau seseorang yang bisa diajaknya bicara. Namun nyatanya, dia tidak mengenali—bahkan tidak bisa melihat nama pengirim email itu. Alamat e-mailnya invalid, atau mungkin orang itu mencoba merahasiakannya.
Isi e-mail itu adalah sebuah foto.
Mami ragu-ragu untuk membuka foto yang dikirimkan unknown sender itu. dia memutar matanya, berpikir sebentar... berpikir lama hingga akhirnya dia menghabiskan 5 menit lebih untuk berpikir, kemudian pada akhirnya dia membuka e-mail itu.
Mami menajamkan matanya pada e-mail itu, berusaha untuk menangkap lebih jelas gambar yang masih pecah di ponselnya.
Dan ketika gambar itu terbentuk sempurna, dia tidak bisa menahan diri untuk menjerit. Dengan cepat ia menggigit bibirnya, sambil menjauhkan layar ponsel itu dari wajahnya.
(warn: yang tidak terbiasa baca bloody, hindari paragraf dibawah sampai bertemu warn yg nunjukin bloodynya uda end)
Pada foto itu, dia melihat seseorang yang menggunakan blazer seragam sekolahnya tertancap pada tembok ruangan yang penuh darah, yang kemungkinan besar, ruang musik. Rambut panjang gadis itu menjuntai kebawah dan berantakan. Dia bisa melihat darah mengalir di paha gadis itu. Seluruh lantai ruangan itu sudah berubah jadi kolam merah yang membuat siapapun yang melihatnya bisa mati syok saat itu juga.
Dan yang membuat Mami semakin terkejut, di tengah kolam darah itu ada sebuah bunga mawar putih yang masih segar. Sedangkan disekitarnya banyak kelopak-kelopak bunga kering yang bertebaran.
(warn: bloody end)
'kau ingin tahu siapa itu?'
Suara itu mengagetkannya, membuatnya tersentak dan segera bangun dari posisi tidurnya. Matanya menatap cemas sekitarnya, kemudian dia kembali menatap ponselnya yang bergetar. Masih di foto itu, tiba-tiba dia melihat pergerakan angin yang berbeda disana, semakin lama semakin jelas—hingga membentuk sebuah bayangan yang tidak asing baginya.
Dan sinkornisasi angin itu menyapu kolam darah itu sehingga membentuk sebuah tulisan kanji yang sangat dikenalnya.
Dan kemudian dia merasakan sensasi dingin menyerangnya, dan sebuah tangan dingin membekap mulutnya.
'ini hukuman bagimu... karena kau, aku jadi seperti ini. KAU HARUS MEMBAYARNYA!'
Setelah itu dia tidak merasakan apapun.
Mami menahan napasnya.
Dia membuka matanya dengan cepat, kemudian menghadap sekelilingnya. Tidak ada siapapun. Tidak ada darah, bunga dan lain sebagainya. Ini kamarnya, dan dia sendirian disana.
Keringat dingin mengalir di keningnya, dan dia bisa merasakan tangannya masih bergetar. Mimpi itu benar-benar nyata, seakan benar-benar terjadi padanya.
Mami menggulung tubuhnya, menekuk lututnya dan menempelkan dahinya kesana. Dia benar-benar takut, takut kalau apa yang dilihatnya akan benar-benar terjadi. Dan sekarang, semua yang bisa ia lakukan hanyalah menangis, dan mengubur wajahnya dengan rambutnya yang menjadi tirai.
XXX
Ruki menatap bulan yang terang diluar sana sambil melamun. Bulan yang begitu terang, memancarkan sedikit kilau orange. Menyeramkan, memang. Membuat langit seakan lebih pucat.
Ruki menghela napas berat, beberapa kali ia tersenyum sendiri dan kemudian kembali berwajah datar. Semua itu akibat otaknya yang masih berantakan dan hatinya yang juga berantakan. 'kencan kecilnya' dengan Mami tadi siang membuat gadis itu sedikit bingung sepertinya, dan dia juga sudah membuat gadis itu salah paham.
Dia memang bermaksud untuk mendekatinya, tapi perkataannya tadi seakan 'keinginan memacari' Mami cepat-cepat. Jelas saja gadis itu sedikit bingung. Hal yang wajar. Ditambah lagi, dia masih sekolah dan Ruki sudah bekerja. Mungkin keadaan akan semakin sulit.
Tapi dia berharap agar gadis itu bisa bersamanya. Karena Ruki sudah mulai tertarik padanya sejak pertama. Dan mungkin saja kenapa selama ini ia selalu memimpikan Mami karena ia ingin memilikinya. Oke, itu terlalu realis, tapi yang pasti, dia ingin ada didekatnya sebagai orang yang 'sama' dengannya dan enak diajak bicara. Dan jika bisa, ia ingin melindunginya.
Niatan yang bagus, memang. Tapi jika semua itu mengganggu Mami? Jika mereka tidak sepaham? Jika itu hanya akan membuat nyaman sepihak?
Itulah yang mengganjal dipikirannya. Sampai-sampai dia lupa inti masalahnya sekarang.
Ruki berjalan ke kamar mandi, berniat untuk membasuh wajahnya lagi. Sekarang ini, kaca kamar mandinya sudah dihilangkan. Selain karena hancur, Kai sendiri yang menyarankan sebaiknya dia jangan melihat kearah kaca. Bukan karena wajahnya tapi refleksi lain dari belakangnya.
Pemuda berambut madu itu memejamkan matanya dan membasuh wajahnya dengan air. Namun saat dia membuka kedua matanya, dia menangkap bayangan asing didepannya.
Suatu bayangan blur dengan wajah menyeramkan; mulut lebar, mata lebar dan hitam yang terbelalak lebar, leher yang nyaris tidak terlihat... dan dia mendengar sesuatu yang asing ditelinganya.
'kau akan jadi milikku. Tubuhmu... hanya untukku...'
Ruki hanya bisa diam tanpa bersuara, sampai dia mendengar suara ketukan dari luar, dia baru sadar dari lamunannya.
Dan ketika dia beranjak keluar dari kamar mandi, kepalanya terasa sangat berat.
-TBC/chapter 6/end-
A/N:
Apa kurang memuaskan? ._.a
Review sangat membantu chii supaya semangat dan memperbaiki ff ini, mohon bantuannya,minna
Arigatou minna!
-summer chii
