SEVEN

START

"Jadi, apa langkah selanjutnya, Ino?"

"Kau sudah dekat dengannya 'kan? Lagi, panggil aku 'sensei'!Mengerti?"

Aku mengangguk saja menanggapi keinginan konyol Ino, lalu kembali

bertanya tanpa menghiraukan tatapan 'tidak enak' yang diberikan oleh Sakura dan Tenten.

"Oh~ jadi Hinata-chan…" Sakura mengerling masih dengan tatapan tidak enaknya padaku, diikuti oleh Tenten yang terkesan hanya ikut-ikutan.

Tidak kuhiraukan kedua temanku itu, aku hanya ingin bertanya pada Ino sekarang ini. Seharusnya tidak kuajak mereka ke kantin bersama. Ya, ini keputusan yang salah, seharusnya aku berdua saja dengan Ino.

"Hei, Ino…" rengekku mencoba menyadarkan Ino yang tampak berfikir keras layaknya orang bijak—memejamkan mata dan meletakkan jarinya di dagu—, namun gagal.

Ino membuka mata perlahan, menatapku serius dan memajukan tusuk dango yang sudah habis dilahapnya. "Kau katakan saja padanya," katanya enteng, lalu kembali mengambil tusuk dango baru. "Beres, kan?" kali ini ia berkata dengan mulut penuh bulatan kue manis kesukaannya.

Tanpa kesepakatan dan aba-aba, aku, Tenten, dan Sakura serempak menheluarkan suara. "Apa?" dari nada satu kata itu sudah jelas kami bertiga ragu dengan kata yang baru saja keluar dari mulut Ino. Semudah itukah?

"Ya memang begitu. Kau mau menunggu apa memangnya? Kalian 'kan sudah dekat, kulihat tadi juga berangkat bersama dengan mesra. Lalu mau menunggu apa lagi? Menunggu Naruto yang pendiam itu menyatakannya duluan? Oh Hinata, kau pasti akan menunggu sampai Dinosaurus bangkit lagi." ceramah Ino panjang lebar. Dan jika semua perkataan Ino dicermati dengan seksama, hampir seratus persen mengarah ke kebenaran, termasuk kata 'mesra' yang terselip disana. Benarkah?

"Tapi tak semudah itu, Baka Ino!" protes Sakura mewakiliku.

"Lah, kok jadi kau yang protes?" protes balik Ino tidak terima.

"Aku hanya mewakili Hinata-chan. Lihat! Kau tidak lihat wajah bingungnya?"

"Kau tidak berhak mewakilinya. Kau pikir Hinata anakmu?"

Kubiarkan Sakura dan Ino yang saling berdebat dengan topik yang semakin lama semakin tak jelas. Aku hanya memikirkan saran Ino saat ini. Apa mungkin bisa? Mungkin saran Ino itu bisa ia praktekkan sendiri, namun kurasa tidak untukku. Sudah kubilang ini memalukan.

"Bagaimana, Hinata-chan?" tanya Tenten yang berada di sampingku. Kujawab saja dengan mengangkat kedua bahuku. Aku benar-benar tak tahu harus apa.

"Hei Hinata-chan, lihat di sana!" kata Ino yang dengan cepat merangkulku. Aku dibuat kaget dengan aksinya yang tiba-tiba itu. Tak hanya merangkulku, kali ini ia memutar tubuhku dan tak lupa wajahku juga untuk melihat seseorang yang duduk di salah satu bangku kantin.

Naruto?

Ino dan yang lain juga kaget sepertiku. Kami berempat dengan berjamaah memandangi punggung Naruto yang sedang duduk manis di sudut kantin. Bukan itu yang membuat kami kaget, namun seseorang lagi yang duduk menghadap Naruto menemaninya makan siang.

"Kalau tidak salah dia—" Sakura berbisik membuatku menoleh ke arahnya.

"Konan-senpai!"

Kali ini aku beralih pandangan ke Ino yang menyebut nama gadis yang duduk berhadapan dengan Naruto. Oh, semua menatap Ino bersamaan lalu kembali memperhatikan Naruto di sana. Satu pertanyaan, kenapa mereka saling mengenal?

"Apa mereka saling kenal, Hinata?" tanya Tenten padaku. Serupa dengan pertanyaan di kepalaku.

"Mana kutahu."

Aku memberontak dan berhasil menyingkirkan ketiga temanku yang menempel lengket di badanku. Entah kenapa hatiku jadi gusar sendiri. Apalagi ditambah dengan tatapan tanda tanya yang dilayangkan Ino dan Sakura padaku. Mereka sama saja dengan Tenten.

"Sudah kubilang, aku-tidak-tahu!" kataku penuh penekanan.

Mendengar jawaban dariku, ketiga temanku yang haus akan informasi itu kembali duduk manis di tempat mereka semula. Masing-masing dari kami saling membuat pertanyaan sendiri di kepala. Kami terdiam berfikir tentang kemungkinan kedekatan Konan-senpai dengan Naruto. Mungkin saja kita bisa saling bertukar pikiran.

Kulirik Ino yang nampak berfikir keras. Sesaat kemudian kulihat ia hendak membuka mulut.

"Begini! Konan-senpai 'kan orangnya terkenal. Dia adalah anggota OSIS yang supel, anak orang kaya, pianis berbakat, cantik, dan tentunya sangat populer di mata para murid laki-laki." Ino menjelaskan apa yang semua penghuni sekolah ini tahu. Ia melirikku dengan tatapan waspada. Astaga, membuatku mual saja.

"Mungkin Naruto adalah salah satu orang yang mengaguminya." ucap Ino. aku layangkan tatapan tak mengerti pada Ino. Dia terlalu berputar-putar.

"Naruto menyukai Konan-senpai, Hinata-chan."

Aku, Sakura, dan Tenten manggut-manggut setuju.

Eh!? Apa benar?

"Tenang, Hinata-chan! Itu 'kan cuma hipotesis tak jelas dari Baka Ino…" Sakura menenangkanku sat melihat ekspresi kecewa yang terpancar dari wajahku.

"Kau yang Baka!"

Sakura dan Ino kembali berdebat tentang hal-hal aneh yang sebagian tak kumengerti maksudnya. Hiraukan saja mereka! Kali ini aku melirik Tenten—meminta apa tanggapannya.

"Tak apa, Hinata-chan. Kau tanya sendiri saja pada Naruto! Tuh, mumpung dia lagi sendiri." kata Tenten dengan lirikan mata yang menunjuk arah Naruto berada.

Yah, benar kata Tenten. Naruto sedang berdiam sendiri di pojok kantin, tak ada lagi Konan-senpai bersamanya. Seperti saran Tenten, aku putuskan untuk menghampiri Naruto. Namun ada rasa takut dan was-was di hatiku. Aku menoleh ke belakang lagi. Di sana kulihat Tenten, Sakura dan Ino—yang sudah selesai berdebat—sedang mengepalkan tangan di depan dada sambil berbisik; 'berjuanglah!'.

Aku mendekati meja tempat Naruto berada dengan pelan. Menghembuskan nafas panjang, lalu dengan segenap keyakinan aku duduk di samping Naruto. Ia sedikit tersentak menyadari keberadaanku yang tiba-tiba.

"Tak biasanya kau sendirian ke kantin." ucapku membuka obrolan.

Naruto memutar matanya seperti mencari alasan. Cukup lama ia tak menjawabnya. Menyebalkan. Walau begitu aku hanya memilih memperhatikannya dan menunggu jawaban apa yang akan keluar dari bibir manisnya.

"Tidak. Aku bersama dengan Konan-senpai tadi." aku sudah tahu itu!

"Sejak kapan kau mengenalnya?" Tanyaku cepat dengan nada yang menuntut.

Naruto gelagapan dan merasa aneh dengan reaksiku, tentu saja.

"Baru k-kemarin."

Aku menenangkan diri sejenak, lalu melirik ke arah tiga sahabatku di tepi sana. Mereka masih setia mendukungku dengan cara mereka.

"Kau makan siang dengannya? Ih, kenapa tidak mengajakku?" kali ini suaraku terdengar lebih halus. Aku harus menjaga intonasi ini untuk mencegah pemikiran-pemikiran aneh Naruto tentangku. Entah kenapa, rasanya dadaku panas menanyakan hal barusan.

"Tidak 'kok, kami tidak makan bersama." sanggah Naruto dengan senyum kikuk. "Soal Hinata… kupikir kau lebih senang ke kantin bersama teman-temanmu."

"Oh~" aku hanya ber-Oh ria mendengar jawabannya. Namun ada kejanggalan di kalimatnya.

"Tidak makan bersama? Lalu ngapain?" tanyaku lagi dengan nada menuntut yang tak kusengaja.

"Ini." tangan Naruto bergerak memperlihatkan sesuatu dari kantong seragamnya. Sebuah surat ia angkat perlahan hingga memperlihatkan setengah wujudnya. Dan surat itu… aku baru menyadari sesuatu setelah mengamatinya beberapa detik.

Surat cinta?

"Dia bilang, aku harus menemuinya di atap sekolah setelah bel pulang nanti jika menerimanya." ucap Naruto dengan polosnya.

Tidak mungkin!

.

.

.

Aitakata

Romance

Disclaimer : Masashi Kishimoto

T Fiction

Always NaruHina

Da Discabil Worm N.A

.

.

.

Aku berdiri sangat lama di dekat gerbang sekolah. Rasanya begitu lama hingga membuatku menggigil kedinginan walau sudah kulingkarkan syal merah panjang di leherku. Syal milik Naruto. Kuharap pemiliknya segera menampakkan dirinya dan membuatku tak perlu berlama-lama lagi menunggunya.

Hari ini pertama kalinya Naruto tak mengajakku pulang bersama atau sekedar menyuruhku menunggunya di dekat gerbang sekolah. Tapi aku tetap ingin menunggunya. Walau kenyataanya mungkin Naruto tak akan pulang bersamaku untuk hari ini dan hari-hari berikutnya.

Kenyataan yang pahit. Dan sepertinya itu akan benar-benar terjadi.

Beberapa saat lalu—setelah cukup lama aku menunggu, Naruto keluar bersama dengan si bungsu Uchiha mendekati tempat parkir di dekat gerbang sekolah. Aku mengulas senyum, kupikir ia akan menyambutku yang menunggunya dan segera pulang bersama seperti biasa. Namun ia berputar arah. Seperti melupakan sesuatu, ia berlari kembali ke gedung kelas dan kulihat ia menaiki tangga dengan buru-buru. Naruto kembali ke kelas, tidak, dia pasti sedang menuju ke atap sekolah… seperti perjanjiannya.

Hatiku sakit melihatnya.

"Naruto bilang untuk tidak menunggunya, kau bisa pulang sendiri." ucap si Uchiha saat itu lalu berlalu begitu saja.

Kutekan rasa sesak di dadaku kuat-kuat. Entah apa yang kupikirkan. Aku masih berusaha menolak kenyataan bahwa Naruto akan menemui Konan-senpai dan menerima pernyataan cinta gadis itu, walau kenyataannya memang begitu adanya. Aku ingin menolaknya! Tapi apa yang kupikirkan? Mungkin saja Naruto juga menyukai Konan-senpai. Memangnya laki-laki mana yang tidak terpesona olehnya?

Aku masih menolaknya, menolak segala pemikiran di kepalaku. Sekarang Naruto datang ke atap dan menerima cinta Konan-senpai. Tidak! Tidak mungkin!

Hatiku sakit memikirkannya. Jadi rasanya seperti ini menolak kenyataan yang memang terjadi. Kau tidak bisa berkutik walau sekeras apapun kau menolaknya. Sakit. Seperti tertimpa beban yang tak ternilai bobotnya.

Memangnya siapa aku? Memutuskan dengan yakin bahwa Naruto akan menolak cinta Konan-senpai. Memangnya siapa aku? Berani beranggap bahwa Naruto hanya milikku seorang. Men-cap bahwa sepenuhnya perasaan Naruto hanya untukku seorang.

"Sial. Sial. Sial." gerutuku pelan entah kepada siapa.

Pandanganku mulai mengabur. Sayup-sayup kurasakan dinginnya angin bertiup membuat pipiku serasa membeku. Mataku sembab oleh air mata yang mengalir jatuh melewati kedua pipiku. Aku menangis, lagi. Dan lagi-lagi air mataku keluar karena bodohnya diriku menganggap Naruto yang sulit diprediksi.

Kuusap gusar genangan air mata di pipiku. Aku sudah tidak tahan lagi di sini, berdiri dan menangis seperti orang bodoh. Aku putuskan untuk tak menunggu Naruto lagi. Kakiku sudah tak sanggup untuk berdiri menunggu si pirang itu, jadi dengan langkah pelan aku pulang sendirian—seperti pesan Naruto.

"Hinata, sedang apa?"

Samar-samar terdengar suara seseorang beserta suara mesin menyala dari belakang. Kutoleh siapa itu. Dan ternyata Yahiko tengah berdiri di atas motor sport-nya karena melihatku berjalan lunglai sendirian di tengah udara yang semakin dingin.

Yahiko memandangiku dengan wajah khawatir ketika ia melihat air mataku yang masih keluar walau sudah kusingkirkan berkali-kali. Yahiko mematikan mesin motornya lalu turun dan berjalan ke arahku. Aku tak tahu apa yang akan dia lakukan. Aku hanya bisa memandanginya dalam diam, tanpa memukul kepalanya seperti biasa.

Tanpa kuduga Yahiko membingkai wajahku cepat dan mulai mengusap air mataku dengan lembut.

"Grrr, kau dingin sekali? Sudah berapa lama kau di luar, hmm?" tanya Yahiko dengan cengiran khas-nya yang tak ketinggalan.

Aku tak menjawab pertanyaan Yahiko itu. Aku hanya diam membiarkannya menghapus semua sisa air mata yang menempel di pipiku. Andai saja tanganku tak terlalu lemas untuk bergerak, sudah kupastikan ayunan tinju mendarat di kepala oranye-nya.

Sesaat kemudian Yahiko melepas tangannya dari wajahku. Entah mengapa aku sedikit kecewa.

"Mau ikut denganku?" tawar Yahiko lembut. Aku mengangguk setuju. Entah ia akan mengajakku kemana, aku rasa itu tempat yang baik. Aku dapat merasakannya melalui tatapan lembut mata Yahiko saat mengatakan tawarannya itu.

Sekarang yang kulakukan hanya ikut dan menuruti apa kata Yahiko. Aku duduk di atas motor Yahiko yang berlari kencang membelah jalanan. Tak kuperhatikan jalan yang dilaluinya, mataku hanya memandang kosong pemandangan yang kami lewati tanpa tahu pasti dimana kami melaju. Tak ayal, beberapa saat kemudian aku tak sadar bahwa kami sudah sampai tempat tujuan—yang dituju Yahiko.

Mataku memandang sekitar. Kafe di pusat kota? Entahlah, aku tak ingat pasti ada kafe seperti ini di kotaku. Aku hanya mengikuti kemana langkah kaki Yahiko menuju. Yahiko masuk ke dalam kafe dan duduk di salah satu tempat duduk yang terletak di pinggir kaca yang memperlihatkan pemandangan luar secara langsung. Aku mengikuti Yahiko—duduk di hadapannya yang sudah memesan sesuatu pada pelayan yang datang.

"Kau suka tempatnya?" Yahiko tersenyum riang kepadaku. Dia terlihat sangat bahagia karena suatu alasan yang tak kuketahui.

Aku mengedarkan pandangan ke sekitar untuk menjawab pertanyaan Yahiko. Jika diperhatikan kafe ini cukup tenang, seperti yang kuharapkan. Pelayannya ramah, tata letak duduknya terkesan rapi, pencahayaan dan pewarnaan di dindingnya mengisyaratkan kehangatan—cocok untuk musim dingin, dan band yang menyanyikan musik jazz di depan sana juga tampil dengan bagus, musik yang mereka nyanyikan membawa suasana damai pada setiap pengunjung. Secara garis besar aku menyukai kafe ini.

Aku mengangguk setelah cukup lama memperhatikan sekeliling. Dan kulihat Yahiko tersenyum mengetahui jawabanku.

"Sudah sangat lama aku ingin mengajakmu ke sini." gumam Yahiko pelan.

Aku bingung dengan apa yang baru saja digumamkan Yahiko. Kulayangkan tatapan bertanya padanya. Ia tampak kikuk, namun pelayan segera datang menyerahkan minuman yang dipesan Yahiko—dua cangkir coklat panas. Menghalangi pemandangan wajah kikuk Yahiko.

Yahiko dengan cepat menyeruput coklat panas miliknya. Dia terlihat gugup dan lagi-lagi kikuk saat meneguk coklat panas itu. Lalu ia letakkan cangkir di tangannya ke meja seperti semula dengan sedikit keras, sampai suaranya yang beradu terdengar kasar di gendang telingaku.

"Kau… aneh…" desisku pelan ke arah Yahiko.

"Ehem," Yahiko berdehem layaknya ingin menghapus kesan anehnya. "Syukurlah… akhirnya kau bersuara juga. Tak bisa kubayangkan jika akhirnya kau mendadak jadi bisu." lanjutnya dengan cengengesan.

"Kau mau kubuat bisu?"

Seketika Yahiko terdiam mendengar ancamku. Dia telah membuat kesan nyaman dan damai di kafe ini menghilang. Yah, dia memang selalu seperti itu.

"Jangan marah, ya? Aku mengajakmu ke sini bukan untuk ribut." Yahiko mengalihkan pembicaraan.

"Lalu untuk apa?" tanyaku penasaran.

"Menghiburmu." jawab Yahiko singkat.

Cukup lama aku terdiam memikirkan perkataan Yahiko. Menghibur? Rasanya aneh bagi seorang macam Yahiko. Dia si usil yang hanya menggangguku saja setiap bertemu, lalu sekarang mencoba menghiburku? Aku butuh penjelasan disini.

Kupandang Yahiko lekat-lekat tanpa mengeluarkan suara. Yahiko mengeryit tak mengerti. Dia mengangkat cangkirnya lagi dan meminum coklat hangat di dalamnya dengan buru-buru. Lalu ia membuang muka dan memandang keluar. Rona merah tipis terlihat saat cahaya dari luar menerangi wajahnya.

Ada yang aneh dengannya.

"Minumlah dulu," gumam Yahiko sambil melirik ke cangkir berisi coklat panas milikku. "Itu cocok untuk seseorang yang sedang patah hati."

Memang ada yang aneh dengan Yahiko, bahkan ia tahu bagaimana perasaanku saat ini.

"Bagaimana kau tahu—"

"Konan itu teman sekelasku, jadi aku sudah tahu bahkan sebelum hari ini." potong Yahiko cepat. Ia memandangiku intens kali ini, membuatku sedikit gusar sampai memilih untuk menundukkan kepala.

"Relakan saja si kuning bodoh itu!" ucap Yahiko dengan nada tidak suka yang kental.

Aku mendelik tajam ke arah Yahiko. Tidak seharusnya ia berkata begitu. Bahkan ia tak tahu apapun tentang Naruto, dan dia berani menyimpulkan sesuatu dengan seenaknya sendiri. Aku marah untuk kali ini. Apalagi saat melihat raut wajah Yahiko yang penuh kebencian.

"Apa yang baru saja kau katakan, hah?" kataku melawan tatapan tajam Yahiko.

"Kau masih membela si bodoh itu?" Yahiko menggertak.

"Dia tidak bodoh! Kau saja yang tidak tahu apapun tentangnya!"

Suasana berubah menjadi semakin panas saat aku selesai mengatakan itu. Terus kulayangkan sorotan mata marahku pada Yahiko. Dia sekarang tengah memejamkan mata dengan tangan mengepal dan dahi berkerut emosi. Apanya yang menghibur, dia malah menambah kacaunya perasaanku. Cukup! Aku akan meninggalkan kafe nyaman ini.

Aku beranjak dari tempat dudukku. Berdiri dengan menekan kuat meja yang kami tempati. Aku akan melenggang pergi dan pulang dengan segera, aku butuh waktu sendiri sekarang! Namun sebelum aku melangkahkan kaki, tangan besar Yahiko memegang punggung tanganku dengan hati-hati. Aku tersentak. Ia begitu lembut dan hangat saat ini, tak seperti beberapa detik yang lalu.

"Tetaplah di sini dulu. Tolong dengarkan aku untuk kali ini, Hinata. Kumohon…" pinta Yahiko penuh harap. Ia memohon tulus tanpa melepas tangannya yang menyentuhku.

Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia begitu aneh hari ini? Mungkin karena pertanyaan itulah, aku memutuskan untuk kembali duduk.

"Kita mulai dari awal." ucap Yahiko sambil menatapku dengan santai. "Kau tahu kenapa aku mengajakmu ke kafe ini?"

"Menghiburku? Dengan alasan apa?" tanyaku sambil mencoba menenangkan diri.

"Sudah kubilangkan 'kan, coklat panas ini cocok untuk seseorang yang sedang patah hati." Yahiko mengangkat cangkirnya lalu meneguk semua coklat panas yang tersisa.

Kuamati gerak-geriknya.

"Kau juga sedang patah hati?" tanyaku memastikan.

"Ya. Hatiku seperti hancur saat melihat gadis yang kucintai menangis karena laki-laki lain." kata Yahiko datar. Ia mengamati cangkirnya yang telah kosong, lalu memanggil kembali pelayan dan memesan satu coklat panas lagi untuknya sendiri.

Aku tak tahu harus berkata apa. Seburuk itukah sampai memesan coklat lagi? Tampaknya Yahiko lebih terluka daripada aku saat ini.

"Laki-laki sialan! Rasanya ingin menghajarnya hingga mematahkan seluruh tulangnya!" Yahiko bergumam dengan nada penuh amarah. "Sudah kupastikan laki-laki itu masuk rumah sakit sekarang ini jika saja gadis yang kusuka tidak begitu menggilainya sampai rela menangis untuknya."

Yahiko melemas. Dia menarik nafas panjang lalu membuangnya. Tangannya yang kaku ia renggangkan lalu melipatnya ke belakang kepala—digunakan untuk penyangga kepala oranye-nya.

"Laki-laki bodoh! Jika aku menghajarnya aku juga bodoh, 'kan?" dia bergumam sambil memperhatikan pemandangan luar yang tak begitu menarik.

"Memang sulit 'ya, mencintai seseorang yang sedang jatuh cinta pada orang lain." Yahiko tersenyum padaku.

DEG

Perasaanku menjadi tak enak saat kulihat mata Yahiko yang sayu saat pandangan kami saling bertemu.

"S-siapa nama gadis yang kau suka itu, Yahiko?" tanyaku dengan ragu.

"Hyuga Hinata."

"Eh?"

Kalian tahu apa yang kurasakan detik ini? Hmm… rasanya seperti mendapat gurita saat memancing di sungai. Yang benar? Mustahil! Tidak mungkin! Jawabannya sungguh diluar dugaan. Namun jika mendengar ceritanya, itu memang aku 'sih. Tapi kutekankan lagi, jawaban Yahiko itu seperti panen ubi setelah menanam padi. Tidak mungkin!

"Apa aku tidak salah dengar?" tanyaku memastikan sepasti-pastinya agar mendapat jawaban super pasti yang dapat dipercaya.

Sedetik. Dua detik. Lima detik. Yahiko mengalihkan pandangan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal. Cengengesan seperti biasa. Namun senyumnya terlihat tak seperti biasa, terdapat rona merah yang muncul lagi di kedua pipinya.

"Ya begitulah…"

Pelayan datang dengan secangkir coklat panas pesanan Yahiko. Pelayan itu meletakkan cangkir yang dibawanya di meja depan Yahiko, cukup mengganggu penglihatanku ke arah wajah Yahiko.

"Hei—"

Belum sempat kuselesaikan perkataanku, Yahiko memilih fokus ke cangkir coklat yang baru saja datang. Ia meneguk coklat itu seperti orang kehausan. Yang benar saja, dia 'kan sudah menghabiskan satu cangkir penuh sebelumnya.

"Sejak kapan kau menyukaiku?" tanyaku menyempatkan diri setelah Yahiko selesai meneguk coklatnya.

"Yah, coklat panas memang cocok menghilangkan gugup." Yahiko menghindar.

"Hei, bagaimana bisa kau menyukaiku? Kau bahkan hanya berbuat usil padaku selama ini."

"Hn. Jika kau tanya coklat panas terbaik di kota ini, jawabannya adalah milik kafe ini."

"Kenapa tak mengatakannya dari dulu?"

"Itu karena coklat panas ini terbuat dari coklat impor terbaik."

"Apa kau benar-benar menyukaiku?"

"Ya, itu benar sekali." Yahiko menatapku setengah berteriak.

"Pengecut! Kenapa menghindari semua pertanyaanku?"

"Lebih baik jadi pengecut, daripada menjadi si bodoh yang hanya bisa membuatmu menangis." Yahiko menyambar pertanyaanku, membuatku berfikir ulang tentang apa yang baru saja ia katakan.

"Aku sudah menyukaimu sejak lama, Hinata. Bagaimana bisa?, aku pun tak tahu. Yang pasti aku hanya tahu untuk menjahilimu agar mendapat perhatian dan omelanmu, aku suka itu." Yahiko menatapku dengan kesungguhan. "Aku tak berani mengatakan semua itu karena seperti yang kau bilang—aku memang pengecut."

"Kau mau menerima perasaanku?" Yahiko meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat. Ia menatapku penuh harap.

Aku menggeleng dengan tatapan kosong. Aku tak tahu bagaimana perasaan Yahiko saat ini. Pasti hatinya bertambah remuk seperti yang dikatakannya. Walau begitu aku tak ingin menipu siapapun. Aku ingin jujur dengan jawaban yang sudah pasti ini sejak awal.

"Yah~, tentu saja kau menolakku… kau memang tak memiliki perasaan apapun padaku sejak awal hingga sekarang." Yahiko membuang nafas panjang dan melepaskan tanganku dengan sedikit kasar. "Ternyata benar, wanita akan lebih ingat kepada lelaki yang sering membuatnya terluka dibanding yang sering membuatnya tertawa."

Kami terdiam. Nafas Yahiko terlihat memburu. Dengan cepat ia meminum coklat panasnya lagi—yang ia yakini bisa mengurangi kegugupannya. Sedangkan aku hanya membulatkan mata mendengar penuturan yang keluar dari mulut Yahiko. Secara tidak langsung ia menyebut Naruto yang hanya bisa menyakitiku.

"Naruto tidak—"

"Sudahlah Hinata, jangan sebut dia! Aku tak suka orang itu dan apa yang dibuatnya padamu." Yahiko memotong perkataanku.

Aku menunduk sebentar. Pantas saja Yahiko terlihat begitu tidak suka pada Naruto saat di taman bermain sekolah saat itu. Ternyata memang benar.

"Aku tahu semuanya. Kau menangis di toilet, di jalan pulang, di depan rumahmu, dan yang terakhir di dekat gerbang sekolah tadi… semuanya karena si kuning itu, 'kan? Kenapa kau selalu dan masih saja membelanya, Hinata?"

Semua yang dikatakan Yahiko benar.

"Kau tahu kalau kita sedang ada di posisi yang serupa. Apa kau sanggup menahan sakit seperti apa yang kurasakan sekarang ini?"

Aku tak tahu harus menjawab apa.

Semua berjalan begitu cepat. Pengakuan, penolakan, kekecewaan, semuanya terjadi hanya dalam hitungan menit. Yahiko gusar ditempat, begitu tak nyaman walau suasana di kafe ini berkata sebaliknya. Ia berdiri cepat tanpa mengatakan apapun padaku. Membayar coklat panasnya dan milikku, lalu dengan cepat keluar dengan wajah ditekuk.

Aku merasa bersalah, tapi ini tak sepenuhnya salahku. Yahiko memang orang yang baik, walau terkadang menyebalkan karena sering menjahiliku. Tapi dibalik sifat jailnya, sekarang aku tahu perasaannya yang tersembunyi selama ini. Dia mempunya perasaan cinta seperti aku mencintai Naruto. Selalu ingin dekat namun tak bisa untuk menyampaikannya. Aku tidak peka, dan mungkin balasan dari Kami-sama adalah dengan mengikat perasaanku pada Naruto yang juga tidak peka. Apakah aku salah?

"Hinata, sedang apa di sana? Ayo pulang!" Yahiko tiba-tiba datang dengan mengetuk kaca yang menjadi batas dengan dunia luar. Dia nenungguku?

Aku mengangguk lalu berdiri dan berjalan keluar. Aku langsung disambut Yahiko dengan helm miliknya. Langsung saja kupakai dan segera memboceng Yahiko yang sudah menunggangi motornya. Tak sadar aku mengulas senyum. Dia memang baik, bahkan tetap memiliki tanggung jawab padaku meski mendapat penolakan dariku beberapa saat yang lalu.

"Siap?" Yahiko bertanya dengan menoleh ke belakang. Aku mengangguk sebagai jawaban. "Tolong berpegangan dengan erat."

"Ha? Jangan mengebut! Kau tak akan bunuh diri bersamaku, 'kan?"

"Jangan bodoh! Memangnya untuk apa memakai helm kalau mau bunuh diri?" Yahiko tertawa lepas. "Kau pikir aku akan depresi hingga mengakhiri nyawa hanya karena kau tolak?"

"Maaf."

"Sudahlah! Kau tidak usah memikirkannya." Yahiko menghidupkan mesin motornya yang sedikit berisik.

"Aku memang sedikit kecewa dan sakit hati, namun dibalik semua itu aku lega. Aku merasa lega karena sudah mengatakannya padamu. Lebih baik kau melakukan hal yang sama pada si kuning idolamu itu." suara Yahiko beradu dengan suara mesin motor yang bersisik. Tak jelas, namun aku masih menangkap inti pembicaraannya.

Dia merasa lega bahkan sampai memberiku saran yang berguna. Syukurlah.

Aku berpegangan kuat pada pinggang Yahiko—seperti permintaanya, tidak, kali ini aku memeluknya erat dari belakang. Yahiko menjalankan motornya dengan halus. Walau sedikit ngebut, tapi kurasakan jalannya lebih terarah dan nyaman dari sebelumnya. Efek pelukan? Kuharap begitu. Aku ingin memberikan sesuatu yang baik untuk membalas kebaikannya selama ini. Karena aku tidak bisa menerima perasaannya, mungkin hanya ini yang bisa kulakukan.

Semua yang menyenangkan itu terasa lebih cepat dari biasanya. Tak terasa motor Yahiko sudah berhenti di depan rumahku. Aku turun dengan hati-hati, melepas helm lalu memberikannya kembali kepada Yahiko. Yahiko ikut melepas helmnya. Ia nyengir dulu sebelum menatapku lembut.

"Satu pelukan lagi sebelum aku pergi?" ada semburat merah yang menghiasi pipi Yahiko saat mengatakan itu.

"Tidak. Yang tadi itu pelukan limited yang hanya terjadi satu-dua kali seumur hidup." aku membalas cengirannya.

"Yah~. Kalau begitu mau pulang atau berangkat bersamaku lagi?"

"Setelah ini libur panjang. Setelah libur aku tak yakin masih ingat tawaranmu ini."

"Ayolah, Hinata…"

Yahiko merajuk seperti anak kecil. Aku terkekeh melihat raut wajahnya yang berpadu antara nyebelin dan lucu.

"Mungkin sesekali."

Yahiko terlihat puas dengan jawabanku. Dia tersenyum sekilas lalu pergi melaju meninggalkanku. Dia baik dan selalu membuatku tertawa, aku terlambat menyadarinya. Walau begitu aku tetap tak merasakan sedikitpun perasaan yang disebut 'suka'. Jika aku bisa memindahkan perasaan atau semacamnya, aku akan memindahkan perasaan sukaku pada Naruto ke Yahiko, mungkin dengan begitu tak akan ada yang terluka. Seandainya… nyatanya perasaanku masih terpaku dengan Naruto.

Aku beralih memandang rumah di sebelah rumahku—rumah Naruto, memikirkan apa dia sudah pulang atau mungkin sedang kencan dengan Konan-senpai. Setelah cukup lama aku menatap rumah itu, baru kusadari Bibi Kushina tengah berdiri di depan gerbang dengan sekantong plastik sampah di tangan. Apa dia melihatku bersama Yahiko?

"B-bibi, berapa lama Bibi ada di sana?" Bibi Kushina tak menjawab dan lebih memilih menenggelamkan plastik sampahnya ke dalam tong sampah terlebih dahulu.

"Cukup lama." Bibi Kushina menepuk-nepuk tangannya yang kotor. "Dimana Naruto? Kenapa tidak pulang bersama seperti biasa?"

Naruto belum pulang? Jadi opsi keduaku tentang kencannya dengan Konan-senpai benar? Aku seperti naik darah saat ini.

"Dia bilang ada urusan dengan temannya, jadi dia menyuruhku untuk pulang duluan." jawabku datar ke arah Bibi Kushina.

"Menyuruhmu pulang dengan pria tadi? Siapa dia? Pacarmu? Kalian tampak akrab sekali…" Bibi Kushina memberondongku dengan berbagai pertanyaan 'aneh'. Pertanyaannya terlalu menekanku.

"Tidak, tidak, dan tidak! Dia temanku, dia akrab denganku karena kami sering bersama sejak kecil, tidak seperti Naruto. Jadi jangan salahkan aku jika aku dan Naruto tidak bisa seakrab dengan temanku tadi. Aku… aku…"

Nafasku tak teratur, omonganku melenceng hingga kemana-mana, dan aku membuat Bibi Kushina berwajah masam tidak mengenakan. Aku sendiri tak tahu apa yang baru saja kukatakan. Mungkin karena pertanyaan Bibi Kushina yang begitu menuntut—rasanya, aku mulai membicarakan hal yang tidak-tidak sampai menyebut Naruto di dalamnya. Apa yang kulakukan, pikiranku kacau.

Aku membungkuk pelan, "Maaf Bibi, aku hanya sedang lelah hari ini." setelah itu aku meninggalkan Bibi Kushina tanpa memandang dan mengetahui ekspresinya.

Apa yang salah denganku hari ini? Semua jungkir-balik perasaan yang kualami… begitu menyenangkan karena bisa begitu dekat dengan Naruto sampai menciumnya, sampai begitu melelahkan hingga membuatnya seperti semakin menjauh.

Kututup rapat pintu kamarku setibanya di sana. Lalu beralih ke jendela yang menampakkan kamar Naruto di seberang. Kututup rapat juga jendela itu. Menyatakan perasaanku pada Naruto seperti saran Yahiko? Rasanya tidak perlu! Aku hanya tidak ingin bertemu dengannya lagi untuk beberapa hari, atau minggu, bahkan berbulan-bulan kalau bisa.

.

To Be Continued

.

A/N : lah, kok jadi gini? Apakah ada reader sekalian yang kecewa? Kalo ada berarti sama seperti saya. Udah telat update, isinya kok jadi gini? Tenang, konflik sekaligus ff ini akan berakhir dalam 1 atau 2 chapter lagi. Semoga tidak lelet lagi updatenya :D

Re-review area :

LuluK-chan473

Okay, okay, okay :D

Detektif Kadal

Baru tahu kalo murid sekolah kejuruan jarang ada yang suka main di ffn. Okelah, terima kasih jika anda menunggu keleletan updatenya :v

Anggredta Wulan

Pasti lucu, sependapat. Tentang obat, nggak yakin ada obat buat gituan :p

rizkyuzumaki603

Konflik ringan, sudah dipastikan. Tapi ada orang ke-3 dan 4. Maaf mengecewakanmu… :v

Yeye

Gaara? Hmm, sudah terlalu mainstream. Kalo Toneri, apalagi ini… sama aja mainstreamnya. Jadi saya pilih Yahiko sebagai alternatif :D terimakasih dukungannya yooo

Tio756

Namanya juga OOC (Out Of Charakter) pak, jadi saya jadiin dia seperti itu, nggak seperti di cannon yang pendiam, anggun, dan tidak mendramatisir seperti di sinetron -_-

megahinata

Oke dilanjut, tapi isinya tidak selucu yang kemarin :D

Thanks for everyone for support this fanfict. So much thanks for you all

Terima kasihan :v

Salam, see ya

#HENSHIN ( jangan anggap hastag ini mengganggu ya)