Jihoon melangkahkan kakinya memasuki café yang pernah ia datangi dengan seseorang yang sedang mengisi relung hatinya untuk menemui seseorang. Gadis bersurai hitam itu mengenakan rok panjang berwarna abu, dipadukan dengan kaos putih dengan jaket jeans dan sepatu kets berwarna abu. Mata sipit itu semakin menyipit saat ia berhasil menemu orang yang ia sudah janjikan semalam. Gadis mungil itu berjalan mendekati pemuda yang mengenakan pakaian santai yang masih berkutat dengan buku, laptop dan beberapa kertas.
-gimmelatte-
PRESENT
Interesting Feeling
.
Cinta pandangan pertama adalah sesuatu yang mustahil untuk seorang Kwon Soonyoung. Namun saat bertemu dengan gadis mungil yang menarik perhatiannya, akankah Kwon Soonyoung menarik semua perkataan itu?
.
Kwon Soonyoung x Lee Jihoon
Slight! Jishua, Cheolhan, Junhao, Meanie
.
Genre : romance, sad
Rated : T
.
WARNING
Typo(s), genderswitch, au, alur tidak menentu.
"Oppa." Yang dipanggil mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang.
"Oh kau, Ji. Duduk ayo."
"Sudah menunggu lama ya?" Jihoon duduk di hadapan pemuda yang satu tahun lebih tua darinya itu.
"Oh, tidak kok." Pemuda bermata elang itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Biasanya dengan Jeonghan unni, dia kemana?"
"Jeonghan sedang pulang ke rumah orangtuanya." Jihoon hanya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan pemuda di depannya.
"Ada tugas apa?"
"Ini, Ji, aku tidak mengerti." Kemudian Jihoon memperhatikan setiap penjelasan Seungcheol. Terbesit rasa penasaran, Seungcheol memegang perusahaan keluarganya, namun pemuda itu malah mengambil study multi arts bukan bisnis.
Jihoon menjelaskan semuanya dengan jelas. Seungcheol menganggukkan kepalanya mengerti setiap mendengarkan penjelasan dari Jihoon, orang yang sudah lama ia sukai.
"Oppa mengertikan?" Seungcheol mengangguk, kemudian menghadap ke laptopnya untuk mengetik apa yang di jelaskan Jihoon tadi.
"Oppa, aku ingin bertanya."
"Tanyakan aja, Ji."
"Oppa kenapa mengabil study multi arts bukannya bisnis?"
"Ah, itu." Soonyoung mengalihkan pandangannya menju gadis di depannya ini. "Sebenarnya aku sudah lulus s2 bisnis, karena aku memegang perusahaan di bagian entertainment jadi aku putuskan untuk kuliah lagi mengambil study multi arts agar lebih mengerti." Jihoon menganggukkan kepalanya mengerti.
Tidak keduanya sadari, dari luar café, seorang pemuda sedang mengepalkan tangannya dengan ekspresi wajah yang tak bisa di tebak setelah melihat percakapan sekilas antara Jihoon dengan Seungcheol.
…
Pemuda berdarah China itu masih betah menggenggam tangan gadis yang lebih pendek beberapa senti darinya itu. Tawa sesekali keluar dari pemuda tersebut. Angin pagi sangat membuat moodnya baik terlebih ada sang kekasih di sampingnya.
"Ge~"
"Ya, Hao?"
"Aku ingin eskrim~" Minghao bergelayut manja di tangan kekar sang kekasih.
"Ini masih pagi, sayang, dan kau belum sarapan."
"Tapi aku ingin eskrim~" Minghao mempoutkan bibirnya lucu dan hal itu membuat Jun gemas di buatnya.
"Nanti ya, kalau kau sudah sarapan."
"Maunya sekarang, gege~"
"Astaga~" Jun mencubit hidung mancung sang kekasih dengan gemas.
"Belikan yayaya?" Minghao menatap iris hitam milik Jun dengan lekat membuat pemuda di depannya ini luluh.
"Ya, kajja! Kita cari kedai eskrim yang sudah buka." Jun kembali melangkahkan kakinya, di ikuti oleh sang kekasih yang masih asik bergelayut di tangannya.
"Xièxiè, gege~"
"Bùyòng xiè, Qīn~" Jun mengecup puncak kepala sang kekasih dengan sayang.
Minghao mengikuti langkah kaki sang kekasih yang cukup besar dari langkah kedua kaki jenjangnya. Kening gadis berumur 22 tahun itu mengerut saat ia melihat seorang pemuda yang baru ia temui kemarin tengah memandang sebal kearah dalam café.
"Ge." Jun hanya berdeham untuk menjawab panggilan sang kekasih.
"Itu disana!" Minghao menunjuk kearah pemuda yang sedari tadi menarik pelinghatannya. Jun mengikuti arah tunjukan sang kekasih, dan keningnya pun mengerut.
"Soonyoung-ssi?" Jun bertanya kepada gadis di sampingnya, sedangkan yang di tanya hanya mengendikkan bahu.
"Molla~" Minghao kembali bergelayut di tangan sang kekasih.
"Soonyoung-ssi!" Pemuda yang sedari tadi menjadi atensi sepasang kekasih berdarah China itu menengok.
"Ah, aku benar rupanya." Jun dan Minghao menghampiri pemuda yang sekarang tengah mengontrol nafas dan emosinya.
"Kau di depan saja? Kenapa tidak masuk?" Pemuda berdarah China itu langsung to the point.
"Ah, aku ingin mencari café lain saja, kalau kalian mau masuk, silahkan, aku permisi." Pemuda bersurai cokelat itu membungkuk, lalu berbalik arah, dan hal itu sungguh menimbulkan tanda tanya besar dari kedua pasangan berdarah China.
"Aigoo, ada apa dengannya?" Jun mendecih di akhir kalimatnya
…
Soonyoung duduk di salah satu ayunan dan mengayunkannya dengan pelan. Tatapannya kosong kearah tanah. Pikirannya sedang meluap entah kemana. Melihat kejadian tadi membuat hatinya tak karuan. Sekarang rasa takut akan kehilangan tengah menyelimuti dirinya.
"Aish, bagaimana kalau dia menyukai si Choi itu?" Soonyoung mencengkram rantai ayunan dengan kencang sehingga kuku-kukunya memutih.
"Aish, jinjja!" pemuda bermata sipit itu menghentak-hentakkan kakinya.
"Haaaah, bagaimana cara mendapatkanmu?" pemuda berumur 23 tahun itu mendongakkan kepalanya, menatap langit biru yang indah.
Soonyoung bangkit dari duduknya, mata sipitnya membulat dan bahunya bergetar karena seseorang yang di pikirkannya tadi, tiba-tiba saja ada di depannya dengan tatapan penuh tanya.
"Ya, gwaenchana, Kwon Soonyoung-ah?" Jihoon menatap datar pemuda di depannya.
"Bisa tidak kalau tidak mengagetkan?" Soonyoung mengelus dadanya yang berdebar kencang diantara kaget, senang, dan takut.
"Minggir." Jihoon mendorong badan Soonyong yang jelas-jelas lebih tinggi darinya itu untuk menyingkir agar ia bisa duduk di ayunan.
"Mau kemana? Rapih sekali." Soonyoung memberhatikan gadis di depannya dari atas sampai kaki.
"Ah, tadi aku keluar sebentar, temanku minta di ajarkan pelajaran yang tidak ia mengerti." Soonyoung hanya menganggukkan kepalanya, berpura-pura antusias padahal sebaliknya.
"Kau kenapa disini? Dan tadi…" Jihoon menggantung ucapannya membuat pemuda di depannya bergidik takut. Gadis bermata sipit itu menyipitkan matanya menatap Soonyoung penuh selidik.
"Ya, ya, ya, kau bisa tidak usah seperti itu?"
"Mendapatkannya? Hmm…" Gadis di hadapan Sooyoung ini sungguh membuat hatinya berdegup tak karuan.
"Ah, maja! Kau mau berkencan, ne?" Gadis bermata sipit itu menunjuk Sooyoung dengan tatapan curiga. Soonyoung mengepalkan tangan kanannya di belakang tubuhnya. Entah gadis di depannya ini memang tidak peka atau pura-pura tidak peka?
"Jawab aku, Kwon!"
"Anio!" Soonyoung menggeleng dengan cepat, namun Jihoon juga menggeleng tak percaya.
"Ayolah, kau mau kencan dengan adikku, kan?" Soonyoung membulatkan matanya, dan hal itu membuat gadis di depannya tersenyum puas serta mengangguk puas.
"Jangan rahasiakan apapun dariku, karena kau akan menjadi adik iparku, ingat itu?!" Jihoon tersenyum walau terpaksa. Ada rasa yang mengganjal di benaknya saat kata-kata itu terucap.
"Arrayo." Jawab Soonyoung santai. Ia mencuri pandang kearah gadis mungil yang air mukanya berubah setelah mengatakan kata 'adik ipar'.
'It's that, fakesmile right?' batin Soonyoung.
…
Wonwoo memasuki camino café dengan sang kekasih yang megikuti langkahnya dari belakang. Gadis bertubuh kurus itu tersenyum saat melihat sang sahabat yang tengah menunggunya.
"Jihoonie." Yang di panggil langsung menolehkan kepalanya.
"Oh, wasseoyo." Jihoon tersenyum kearah sepasang kekasih di depannya.
"Aish, melihat kalian berdua, aku jadi iri." Lanjut Jihoon. Mata sipit itu menatap iri kedua sejoli di depannya.
"Makanya, kau cepat cari pacar, nunn." Jihoon langsung menatap Mingyu dengan tajam, dan hal itu membuat Mingyu langsung bergidik ngeri.
"Memang kau kira mencari kekasih seperti bermain judi dan mendapatkan jackpot?" gadis bertubuh mungil itu menunjuk pemuda di depannya menggunakan sendok yang terletak di samping cangkir cappuccino miliknya.
"Kau yang mengatakannya, nunn, bukan aku." Wonwoo hanya bisa memutar bolamatanya jengah melihat pertengkaran yang terjadi di depan matanya. Gadis bertubuh kurus itu langsung mengangkat tangannya untuk memanggil waitress dan hal itu juga menyudahi pertengkaran kecil diantara Jihoon dan Mingyu.
"Kalau gini kan enak, kalian berdua kalau bertemu selalu saja bertegkar seperti anak kecil." Mingyu hanya bisa tersenyum canggung.
"Frape satu/Americano satu." Ujar Wonwoo dan Mingyu bersamaan dan hal itu menghasilkan decihan dari gadis bermata sipit di depan Mingyu dan Wonwoo.
"Cepatlah menikah." Jihoon menatap iri kedua sejoli di depannya.
"Kita menikah satu bulan setelah pertunangan Haina." Jihoon langsung mengatupkan bibirnya rapat saat kata-kata itu dengan mulus meluncur dari bibir Mingyu. Wonwoo yang menyadari perubahan sikap sang sahabat, langsung menyikut pinggang sang kekasih.
Mingyu langsung menengok dan memberikan tatapan penuh tanya dan hal itu membuat Wonwoo langsung mendorong kening Mingyu.
"Pabbo!" Ucap Wonwoo tanpa suara.
"Yak! Apa salahku?!" Mingyu membalasnya tanpa suara melaikan dengan mengendikkan bahu.
"Nunna." Jihoon berdeham ringan menanggapi Mingyu.
"Kau menyukai Soonyoung?" Jihoon yang sedang meminum cappuccino langsung menyemburkannya tepat kearah Mingyu saat pertanyaan itu meluncur dari mulut Mingyu.
"Ah, Mingyu, mian." Jihoon langsung mengelapkan cappuccino yang terkena baju Mingyu.
"Tidak apa, nunna, biar aku yang bersihkan." Mingyu langsung mengeluarkan sapu tangan miliknya dari dalam saku.
Wonwoo yang melihat itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Reaksi Jihoon seperti tadi sudah menjawab semuanya, tidak usah ada penjelasan panjang x lebar lagi.
"Kenapa kau bisa bertanya seperti itu, Kim Mingyu-ssi?" mata sipit itu memandang pemuda berparas tampan dengan penuh selidik.
"Aku hanya penasaran saja, ehe" Mingyu terkekeh diakhir kalimatnya.
"Mau aku jawab atau tidak?" Mingyu langsung menganggukkan kepalanya semangat.
"Cepatlah cerita, aku jadi ingin tahu." Wonwoo menatap serius kearah Jihoon.
"Jadi begini."
…
"Chagi, aku masih tidak percaya dengan Jihoon nunna." Mingyu merebahkan tubuhnya pada sofa nyamannya.
"Kau seharusnya percaya, dia sudah berkata jujur padamu."
"Apa aku harus bertemu dengan Soonyoung untuk bertanya hal yang sama?"
"Tidak perlu, tadi Jihoon sudah berpesan padamu kan?" Mingyu mengangguk. "Kalau Soonyoung tidak mempunyai perasaan kepada Jihoon, nantinya ia akan menjauhi Jihoon dengan perlahan, dan itu akan semakin menyakiti Jihoon." Lanjut Wonwooo.
"Aku ingin membantu."
"Jangankan dirimu, aku juga ingin membantu, tapi aku tetap mempertimbangkannya, agar dirinya tidak mendapatkan cinta bertepuk sebelah tangan lagi."
"Ah, benar, lagipula Jihoon nunna baru saja putus." Wonwoo menghampiri sang kekasih dengan membawa satu bungkus snack kentang berukuran besar dengan dua botol cola. Mingyu langsung merebut bungkus snack yang berada di tangan Wonwoo kemudian membukannya dan memakannya.
"Apa yang bisa kita bantu untuknya ya?"
"Aku saja sebagai sahabatnya bingung, apalagi kau."
"Kita benar-benar harus membantunya." Ujar sepasang kekasih itu dengan kompak dan di lanjutkan tawa dari keduanya.
…
Jihoon memainkan gitarnya sembari menyanyi. Perasaannya sedikit lega saat ia sudah menceritakannya semua kepada Mingyu dan Wonwoo.
FLASHBACK
"Aku dan Soonyoung pertama kali bertemu dengan Soonyoung saat acara makan malam keluargaku dengan keluarganya"
"Lalu?" tanya Mingyu antusias.
"Esoknya, aku bertemu dengannya lagi saat aku sedang ke kampus, dan saat ingin pulang dari kampus, ia mengajakku ke café, awalnnya aku tidak mau, namun ia memaksa, jadi ya aku ikut saja."
"Whoa, gentle sekali!" Wonwoo memutar bolamatanya jengah saat mendengar ucapan takjub Mingyu.
"Mingyu, aku sudah kenal aku berapa lama?"
"Hampir 6 tahun."
"Pernah sekali atau dua kali aku bercerita denganmu tentang masalah percintaan selain kau paksa?" Mingyu menggeleng dengan cepat.
"Itu juga yang aku herankan. Aku menceritakan masalahku dengan Jisoo kepadanya dengan santai tanpa ada ragu sedikitpun. Aku cerita kepadanya seperti orang yang sudah kenal lama." Jihoon menghela napas sebelum kembali berujar.
"Lusanya, dia datang ke apartmentku, tidak mencari Haina, namun ia bertujuan menanyakan apa keputusan yang akan ku ambil, keputusan putus dengan Jisoo atau menunggu Jisoo kembali, dan sehabis dari apartmentku, dia selalu menghubungiku baik melalui pesan atau lewat telepon, tanpa sepengetahuan Haina tentunya. Ia juga selalu ada di saat aku membutuhkan tempat curhat selain calon istrimu."
"Lama kelamaan, nunna ngerasa nyaman sama dia, mungkin karena dia selalu ada buat nunna. Awalnya, nunna juga tidak mau menyimpulkan terlebih dahulu kalau nunna suka dengannya, tapi ya namanya perasaan kan juga tidak bisa di bohongin. Nunna tau resikonya apa kalau nunna benar-benar jatuh hati sama dia, dan ini pasti jauh lebih sakit daripada di tinggal Jisoo tanpa alasan."
"Tapi…" Jihoon menatap Wonwoo dan Mingyu secara bergantian.
"Aku benar –benar tidak tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Entah harus senang karena Haina akan tunangan atau sedih karena cinta dengan orang yang akan jadi milik adik sendiri." Jihoon menatap sepatunya kosong. Air matanya menetes. Ia benar-benar tidak tahu apa yang ia harus lakukan sekarang."
Wonwoo beranjak dari duduknya dan duduk di sebelah Jihoon, kemudian memeluk tubuh mungil itu dari samping dengan erat. Tangannya terus mengelus punggung sang sahabat.
"Ji, sabarlah."
"Bahkan aku jauh lebih kaget saat appa memberitahuku pertunangan Haina dengannya tinggal tiga bulan lagi, padahal ia bilang ia akan bertunangan dengan Haina jika dia sudah mempunyai pekerjaan, Gyu-ya." Jihoon menyeka air matanya. Hatinya merasakan lega dan sesak bersamaan –lega dikarenakan sudah bercerita dengan Mingyu, dan sesak karena Haina akan bertunangan dengan Soonyoung-.
"Apa aku harus bertanya dengan Soonyoung hyung?" Jihoon menggeleng ceppat.
"Ku mohon jangan lakukan itu, biarkan ini jadi rahasia kita bertiga saja." Mingyu mengangguk menyanggupi.
"Aku janji." Jihoon tersenyum kearah pemuda berparas tampan tersebut dan hal itu membuat Mingyu juga ikut tersenyum.
FLASHBACK OFF
Jihoon menghembuskan nafas kasar. Ia beranjak menaruh gitarnya kemudian meraih ponsel dan jaketnya. Ia butuh udara segar untuk menyegarkan pikirannya. Jihoon melangkahkan kakinya keluar dari apartmentnya dan menyeret langkah tersebut hingga menimbulkan bunyi menggema di seluruh penjuru lorong apartment yang sepi. Jihoon berdiri di depan lift, menunggu pintu lift terbuka. Ia bersenandung kecil agar perasaannya bisa terkontrol.
Gadis bertubuh mungil itu mendongakkan kepalanya saat pintu lift terbuka. Mata sipit itu membulat saat melihat sang adik tengah bergelayut manja di lengan sang calon pengantinnya, sedangkan pemuda yang sebentar lagi menjadi pendampingnya –pendamping Haina- itu mengecup puncak kepala Haina. Jihoon tersenyum simpul saat melihat adegan manis yang membuat hatinya tersayat. Mata sipit pemuda yang berada di samping Haina itu menatap Jihoon kaget. Air mukanya berubah seketika.
"Unni? Mau kemana?"
"Mau cari udara segar." Jihoon tetap memasang senyumnya walau hatinya merasakan sesak.
"Aku beli jajangmyeon, ayo makan bersama."
"Aku sedang tidak ingin makan." Jihoon berjalan memasuki lift dan langsung menekan tombol "|" pada deretan tombol lift, ia masih menampakkan senyumnya hingga pintu lift tertutup meninggalkan wajah pemuda –yang berada di samping Haina- yang berubah menjadi khawatir.
Perlahan kedua manik cokelat itu mengembun. Air mata itu jatuh lagi. Jihoon menangis tanpa suara. Saat pintu lift terbuka, gadis bertubuh mungil itu langsung berlari menuju taman. Jihoon duduk di salah satu bangku kosong dengan posisi memeluk kakinya sendiri. Tubuhnya bergetar hebat.
"Haruskah aku merasakan ini lagi? Wonwoo-ya, aku membutuhkanmu~" Jihoon menangis hebat di akhir kalimatnya.
"ARGH!" Jihoon berteriak dengan kencang, namun itu sama sekali tidak membuat perasaannya tenang. Ia butuh sang sahabat untuk memeluknya sekarang.
Jihoon merogoh saku jaketnya saat ponselnya bergetar, dan tangis itu semakin pecah saat melihat nama sang sahabat tertera pada layar ponselnya.
"Wonwoo-ya.." Jihoon menangis dan hal itu membuat Wonwoo terhenyak.
"Yak, Lee Jihoon, gwaenchana?" nada khawatir itu sangat ketara sekali di indra pendengaran Jihoon.
"Wonwoo.." gadis bermata onyx yang di panggil namanya itu semakin kalang kabut saat mendengar suara lirih Jihoon.
"Kau jangan buat aku khawatir, Lee Jihoon!" Bentak Wonwoo dan hal itu bukan meredam tangisan Jihoon, melainkan membuat tangisan itu makin pecah.
"I need you, now, I need your hug.."
"Wonwoo-ya.. Ppalli nawara.."
"Arrayo!" Wonwoo langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak. Jihoon menaruh ponselnya di bangku. Air mata itu terus menetes.
"Ini jauh lebih sakit di bandingkan dulu." Jihoon mendongakkan kepalanya. Berbicara kepada angin malam.
…
Gadis yang berada di sebrang telepon langsung beranjak dari duduknya dan langsung menyambar dompet serta mantel hitamnya. Mingyu yang melihat kegelisahan Nampak dari wajah Wonwoo, langsung menghampiri sang istri.
"Jihoon membutuhkanku." Bisik Wonwoo kepada sang calon suami. Mingyu langsung mengangguk kemudian mencium kening Wonwoo sebelum gadisnya berlalu meninggalkan apartmentnya.
Sepanjang perjalanan di bis, Wonwoo terus menelpon Jihoon namun tidak di angkat dan hal itu sungguh membuat Wonwoo makin kalang kabut. Pasalnya tak biasanya Jihoon menelponnya di saat menangis hebat seperti ini.
"Nomor yang anda tuju sedang sibuk, silahkan tinggalkan pesan suara setelah nada-" Wonwoo langsung memutus sambungan teleponnya yang ke-10.
'Aigoo, Lee Jihoon sebenarnya ada apa ini?' Wonwoo menggigit bibir bawahnya hingga membekas. Pikirannya hanya tertuju dengan gadis mungil yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
Ketika bis berhenti di tujuan, Wonwoo langsung buru-buru turun dan berlari memasuki pelataran apartment. Onyx kembar itu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru pelataran apartment yang sepi. Wonwoo langsung melangkahkan kakinya terburu-buru menuju seorang gadis yang tengah memeluk kakinya di bangku taman sendirian.
"Aigoo, Lee Jihoon~" Wonwoo langsung memeluk tubuh sang sahabat yang masih bergetar itu.
"Wonwoo-ya!" Jihoon menjeritkan nama sang sahabat, kemudian memeluk gadis bertubuh kurus itu dengan erat.
"Kau kenapa? Ceritakan padaku." Wonwoo mengelus punggung gadis mungil itu dengan halus. Ia tahu Jihoon sedang kacau sekarang. Bukan jawaban, malah tangisan yang terus menerus Wonwoo dengar. Wonwoo melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Jihoon yang dingin.
"Ceritakan, Ji." Jihoon masih menangis. Onyx kembar itu menatap sang sahabat dengan iba.
"Soonyoung, nu, Soonyoung."
TBC
Bùyòng xiè, Qīn = Sama-sama, sayang.
Hallo~
Gim back niy, lanjutin ff abal ini. Entah kenapa gim semangat banget buat selesain ff ini karena memang udah mau masuk konflik yang sebenarnya juga sih *spoil dikit lah ya, biar kaya Hoshi kedua*
Kalau alurnya kecepetan, gim minta maaf, dan mungkin chapt selanjutnya, wordsnya akan lebih banyak dan lebih panjang, karena gim pengen bikin kalian gregetan dengan konflik yang masih gim kembangin biar kompleks kan jadinya makin greget wkwkwk.
And always, gim berterimakassih banget yang udah mau ninggalin jejak di ff ini walaupun makin kesini makin dikit yang review sih, tapi tak apa, dari beberapa orang yang sering review, makasih banget, kalian kunci utama gim buat semangat lanjutin ff ini.
Jangan lupa review ya kawan~
Sampai jumpa di chapter selanjutnya~
Salam dari Soonhoon hardship, gimmelatte.
Annyeong~
