~Preview~
.
"Gaara no Sabaku".
Ucapan yang tertuju untuk satu-satunya makhluk yang masih memiliki irama detak jantung disini. Seringai dingin hadir di bibirnya yang tipisnya. Tangannya teulur menyambut sang adam dengan darah setengah iblis yang membebaskannya dari belenggu hukum para arch angel.
"Kemarilah. Aku sungguh sangat berterima kasih atas bantuanmu, teman. Tentu saja semua ini tidak akan pernah berakhir sia-sia. Sebagai gantinya maka aku menawarkan bantuan untuk mencapai tujuanmu," tawaran yang paling menggiurkan bagi siapapun yang mendengarnya. Begitu pula dengan sosok Gaara yang jelas di landa kekecewaan yang mendalam di hatinya.
Kekecewaan yang seolah yang membuat dirinya terasa semakin kosong dan tanpa ia sadari tangannya pun terulur untuk menyambut uluran tangan sang iblis andaikan sebuah suara lembut menyadarkan Gaara dan mengacuhkan Izuna yang kini melotot murka karnanya.
"Hentikan, Gaara kun!"
Sosok sang angel yang kini tersesat pada tempat tanpa cahaya.
"Hinata."
.
.
Angel And Devil
.
.
By Ashura
.
.
Disclaimer : Naruto Just Have Mr. Masashi Kishimoto
.
.
Chara : Sasuke Uchiha, Hyuuga Hinata, Sabaku no Gaara
Gendre : Drama, Sufranatural, Hurt Comfort
Rated : M
.
.
Warning!
OOC, TYPO, AU, LEMON, ABAL, GAJE, (Tidak patut dipercaya atau ditiru karna ini hanya fiktif belaka)
.
Don't Like? Don't Read!
Please Press Back/Exit
.
.
Summary
Kegegalapan ada karna adanya cahaya. Meskipun cahaya dan kegelapan hidup selalu berdampingan mereka tidak ditakdirkan untuk bersama karna jika mereka berkehendak demikian hanya akan ada kerhancuran yang didapatnya
.
.
.
Happy Reading
.
.
#7# Angel in Hell ( Part 1 )
"Hikari." Tatapan tak percaya yang ditujukan pada satu-satunya makhluk yang bercayaha di tengah-tengah makhluk yang kelam dan suram. Iris ruby dengan tomoe yang rumit layaknya pentagram yang tersusun secara rumit.
Sosok yang memukau dan sangat cantik masih seperti terlihat sama seperti terakhir kalinya ia bertemu. Wangi lavender yang memabukan dan sedikit percampuran hutan pinus..tunggu. Pinus?
Satu kesadaran menyentak pemikiran yang membuatnya tak segan untuk meneliti penampilan sang angel dari ujung kaki hingga kepala. Memang benar. Gaun putih sutra tanpa lengan yang menjuntai hingga ujung kakinya yang telanjang memang sangat cocok dan serasi ditubuhnya yang cukup proforsional. Hanya saja cahaya yang sedikit meredup dengan wangi yang tercampur dengan aroma yang lain. Selain itu, kemanakah bayangan sayap yang biasanya di miliki oleh sosok angel yang biasa di ketemukan di punggungnya?
"Hikari. Apa yang telah terjadi denganmu selama aku tidak ada?" pertanyaan yang mengejutkan berbagai macam eksistensi yang berada di dalam gua. Hinata yang di penggil demikian jelas sangat terkejut. Apalagi, mengingat nama yang disebutkan oleh iblis yang belum pernah di temuinya ini menyebutkan nama ibu kandungnya.
"Apa maksudmu. Aku bukanlah..." sebuah telapak tangan besar memblokir suaranya. Sosok iblis lainnya muncul di sampingnya.
'Sasuke.'
"Lama tidak bertemu, paman." Sapa Sasuke menatap dingin lelaki yang telah lama tidak di ketahui keberadaannya. Ia memposisikan dirinya di depan Hinata setelah ia melepaskan tangannya dari bibir kissable itu. Padahal dalam pikirannya lebih menginginkan bibirnya sendiri yang menghentikan percakapan yang terlihat sangat tidak biasa menurutnya. Ia tidak suka dengan pandangan sang paman kepada angelnya.
Kedatangan sang pangeran iblis membuat para makhluk penghuni neraka menunduk tunduk. Betapa sang pangeran adalah mekhluk yang jelas memiliki tingkatan kemampuan yang jauh dari atas mereka. Sang pemiliki perintah para penghuni neraka, penguasa tertinggi ketiga setelah lucifer dan satan.
"Ita.. bukan. Kau adiknya Itachi yang tidak berguna itu ya. Sasuke.." Izuna menyeringai berjalan lebih dekat ke arah keponakan yang terlihat semakin membencinya, "..ku rasa kau berhak tersinggung tapi, ku peringatkan, jangan sekali-kali kau ikut campur disini. Lebih baik kau selesaikan tugasmu dengan baik agar ayahmu tidak membuangmu ke pengasingan dan..."
Sreeet..
Cukup sudah Sasuke bukanlah orang penyabar. Dengan tanpa menunggu Izuna menyelesaikan ucapannya Sasuke bergerak cepat menghunuskan pedang kematiannya pada Izuna yang tentu saja dapat di hindari tepat pada waktunya.
Hanya saja tindakan yang ceroboh dari Sasuke membiarkan Izuna mendekati Hinata yang sedikitpun bergeming di tempatnya. Putri sulung dari pemimpin malaikat tertinggi ini hanya dapat terpaku saat jari-jemari pucat Izuna membelai pipinya. Iris ruby yang dalam mengekspresikan betapa merindunya ia pada gadis yang di dambanya selama ini.
"Aku sangat merindukanmu, Hikari. Apakah kau merasakan hal yang sama di sini."
Hinata sedikit tersentak saat tangan besar Izuna menyentuh dadanya. Dan iapun menyadari lelaki inipun sama menegangnya dengan dirinya. Seketika iris ruby itu bergulir menatap dirinya penuh kekecewaan.
Hinata masih diam terpaku. Tidak terkecuali dengan dua pemuda lainnya yang kini sudah bersiaga untuk merebut gadis pujaannya.
Kekehan hambar walaupun betapa tercekatnya ia saat mengingat kembali tragedi yang membuatnya menerima hukuman dalam dunia pengasingan yang gelap gulita. Berapa kalipun ia mengingatkan bahwasannya sang gadis telah tiada, dan sosok gadis didepannya adalah sosok gadis lain yang merupakan keturunan angelnya dengan pria lain. Bahkan kebodohan lain yang tidak bisa di terimanya adalah angel yang berada di depannya ini telah di tandai oleh pria lain.
"Aku tidak tahu seberapa banyak waktu yang telah ku lewatkan hingga saat aku menemukanmu, kau..." satu pelukan penuh melingkupi tubuh Hinata. Tidak hanya di situ keterkejutan Hinata saat sang iblis juga mencoba untuh menyentuh dirinya. Hinata mulai berontak. Hinata mengeluarkan cahaya terang mengakibatkan para penghuni neraka di sekitarnya panik pontang-panting kesana-kemari menciptakan kegaduhan dan kepanikan di sekitarnya. Izuna yang kesal membuat dirinya lengah dan Hinata menggunakan kesempatan itu untuk menarik dirinya sejauh mungkin dari iblis didepannya.
Satu tarikan di lengannya membuatnya masuk dalam dekapan yang sangat familiar.
"Sasuke kun."
"Aku tahu. Rencana pertama bawalah Gaara lebih dulu keluar dari tempat ini. Biarkan aku yang akan menangani sisanya." Perlahan dekapannya pada Hinata terlepas membuat perasaan tidak rela muncul dalam hati sang iblis. Namun ada hal yang lebih penting dari apapun saat ini. Keselamatan gadisnya lebih penting sekalipun dengan keterpaksaannya ia juga harus melibatkan makhluk yang paling di bencinya, manusia.
"Tapi denganmu.."
Sepintas ada rasa lega yang menguasai hati Sasuke saat angel yang selalu menjadi rivalnya ini mulai merasa khawatir padanya. Sekalipun ia tahu bahwa angel memang adalah makhluk setia dengan sikap tenggang rasa dan kepedulian pada hal terkecil sekalipun. Tapi, biarlah ia merasakan eforia ini barang sejenak saja jika memang itu berasala dari angelnya.
"Pergilah!"
Hinata terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berlari meninggalkan Sasuke yang tersenyum tipis memperhatikan punggung kecil angelnya. Hatinya meraung untuk menarik sang angel dalam dekapannya lagi dan meninggalkan gua ini dalam sekejab. Meninggalkan apapun yang menjadi skandal mereka selama ini. Namun, ia yakin sekalipun ia bisa berlari dan menghindari para petinggi kerajaan sang penguasa karna meninggalkan tanggung jawab tentang misi mereka. Hinata belum tentu untuk ikut dengannya. Bertindak sebagai seorang pengecut dan egois bukanlah sifat pemilik para angel tapi, dirinya para iblis. Entah kenapa kali ini ia merasa jijik dan kesal mengetahui fakta salah satu sifat kepribadian makhluk seperti dirinya.
Tapi, untuk kali ini. Iris ruby dan dark purplenya bergulir pada iblis lain yang juga sudah berdiri tegak menatap penuh padanya. Sepertinya ini akan menjadi akhir penentuan baik untuk sang paman atau mungkin untuk dirinya. Sayangnya Sasuke tidak akan membiarkan dirinya berakhir disini.
Iris lavendernya bergulir untuk menemukan satu-satunya manusia dalam gua. Hinata menarik napas lega dan segera berlari kearah Gaara yang berdiri waspada saat beberapa makhluk penghuni neraka mengincarnya.
"Gaara kun!"
Hinata segera menarik Gaara untuk berada di sampingnya saat beberapa makhluk penghuni neraka yang kelaparan mengincarnya. Namun sesuatu yang aneh terjadi saat ia memegang pergelangan pemuda tersebut. Ia seperti memegang sebuah benda yang perlahan hancur saat ia mengeratkan pegangannya. Penasaran ia pun menatap pergelangan tangan Gaara dan...
Kamishama!
"Gaara kun, tubuhmu..." Hinata menatap Gaara terkejut. Tubuh Gaara perlahan mengelupas.
"A..aku..." Gaara terlihat sedikit bingung tentang apa yang terjadi padanya. Iris jadenya menatap iris lavender yang menyorot khawatir padanya. Pada akhirnya ia mengerti akan apa arti hidupnya selama ini. Kemampuannya dalam melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh manusia lain. Neneknya pernah berkata itu adalah kemampuan spesial yang diberikan tuhan kepada manusia pilihannya. Namun bagi Gaara sendiri ini adalah sebuah kutukan yang memang di khususkan untuknya. Dan pemikiran itu masih tetap Gaara tanam dalam kepalanya. Dan memang apa yang menjadi buah pemikirannya memang benar adanya.
Jadenya bergulir menatap tangannya yang mulai mengelupas luruh menjadi debu. Kesalahan dan kekeliruannya mengakibatkan ia jatuh dalam jeratan yang paling berbahaya. Pembebasan sang iblis membuatnya terikat dalam perjanjian tak tersirat dengan sang iblis. Apakah kini ia menjadi sekutu mereka? Apakah kini ia bukan lagi manusia? Apakah...ia kini menjadi pendosa yang tidak akan bisa terampuni lagi? Jadenya yang mulai kebingungan bergulir pada pemilik sosok pelindungnya, cahayanya yang ia coba tinggalkan. Kekhawatiran yang begitu dalam membuatnya sedikit senang.
'Masihkah kau perduli setelah apa yang ku lakukan selama ini, my angel?' perlahan bayangan Hinata memudar.
'Aku telah menjadi pendosa besar, bukan?' pendengaran Gaara kini mulai senyap. Ia tidak bisa mendengar suara-suara di sekitarnya termasuk suara Hinata yang kini mulai berteriak padanya. Yang tersisa kini hanya suara lelahnya sendiri yang terdengar lirih dalam indra pendengarannya.
'Aku sudah tidak layak lagi untuk kau pertahankan.."
'Ku mohon. Lebih baik tinggalkan aku. Aku sudah tidak terampuni lagi.' Dan pada akhirnya pandangan Gaara mengabur lenyap menjadi warna putih polos.
Yuhuuaaa..hahaha..
Teriakan dan sorakan para penghuni neraka mulai terdengar di sekililingnya. Hinata menatapnya tidak percaya. Iris lavendernya bergulir menatap Sasuke yang juga menatapnya. Hinata memang tidak menemukan emosi apapun pada wajah Sasuke namun entah kenapa Hinata merasa Sasuke juga seperti turut merasa..kehilangan?
Gaara lenyap di hadapannya dalam bentuk pasir. Apakah ini akhirnya? Apakah ia gagal?
"S-sasuke khun.."
Sasuke yang mulai merasakan sesuatu yang tidak beres segera berlari menghampiri Hinata. Hanya saja nampaknya para penghuni neraka yang merupakan sekutu dari Izuna ini tidak membiarkan Sasuke pergi begitu saja. Secara serempak mereka menghadang sang pangeran iblis dan memblokir jalan ke arah Hinata. Ini memang sudah di rencanakan sejak awal.
!
"Sasuke sama.." Seorang gadis tanpa memakai sehelai benangpun menghadangnya. Wangi jasmine dan vanila merasuk kedalam indra penciumannya. Dia mencium aroma yang membuat darahnya berdesir apalagi dengan sentuhan yang tepat pada tubuhnya yang sensitif. Pantaslah makhluk seperti itu di sebut dengan iblis penggoda. Penyesat manusia dengan hormon dan zat afrodisiak yang memabukan sekaligus mematikan.
Succubus.
Dulu Sasuke pernah ingin mecoba untuk masuk kedalam perasaan itu tapi, hal itu justru membuatnya terasa menjijikan. Keangkuhan dan keegoisannya memilih untuk mencari yang lebih murni dan suci untuk pelampiasannya yang pertama. Tapi, tentu saja ia tidak akan bisa menemukan hal seperti itu dalam dunianya. Maka ia pun mencari menelusur berbagai tempat untuk menemukannya dan akhirnya bertemu dengan 'dia' dalam kondisi dan situasi yang sangat jauh dari kata 'mudah' untuknya. Hanya saja ia mengakui bahwa 'dia' begitu murni dan indah. Cantik dan sangat mengagumkan. Angel dengan sosok gadis dengan nama yang indah. Tempat yang terang. Hinata.
Deg.
Hinata.
"..."
Hinata!
Seketika Sasuke tersadar dengan apa yang telah menimpanya. Dengan kasar ia mendorong sosok wanita yang menjamah tubuhnya. Tanpa ampun ia menghunuskan pedangnya pada jantung wanita-succubus- hingga menjerit kesakitan sebelum akhirnya ia lenyap di telan kegelapan yang tercipta dari jiwa tergelap sang pemilik jiwa.
Sasuke melesat untuk melihat keadaan Hinata seketika ia terkejut bukan main saat sosok Izuna kini berada di sana. Menatapnya meremehkan dan senyuman dingin yang membuatnya semakin murka. Bahkan Hinatanya yang sudah tidak sadarkan diri dalam kedua lengannya. Izuna mundur beberapa langkah kebelakang masih ekspresi kepuasan yang begitu di benci Sasuke.
"Bersenang-senanglah Sasuke. Aku hanya ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
"KEPARAAT! DIA ADALAH MILIKKU! KEMBALIKAN DIA!" kemarahan yang dahsyat hingga membuat seluruh dinding bergetar. Namun nampaknya hal itu tidak membuat gentar Izuna maupun para penghuni neraka yang kelaparan. Mereka semuanya menyerang Sasuke dan tentu saja Sasuke tidak akan membiarkan para makhluk itu bisa menyentuhnya barang sedikitpun. Tapi, melihat jumlah yang terus bertambah membuatnya sedikit kewalahan. Sasuke melompat masih mengayunkan pedang kematiannya untuk melenyapkan makhluk menjijikan itu. Kembali Sasuke melompat berpijak pada dinding gua untuk menemukan Izuna di sudut ujung gua tidak jauh dari tempatnya berada. Geraman kemarahan yang tidak menghasilkan apapun saat Izuna mulai bergerak menjauhinya.
Senyuman menghinanya semakin mengembang saat dengan brutalnya sang keponakannya membabat habis iblis-iblis kecil yang di panggilnya dari dasar neraka. Walaupun kecil dan jelas dengan level kekuatan Sekuat apapun Sasuke masih tidak akan mampu mengalahkan para penghuni neraka yang jumlahnya mencapai jutaan makhluk merepotan itu.
Sasuke tahu Izuna akan pergi membawa Hinata bersamanya.
Sial.
Para makhuk sialan ini benar-benar menghalanginya.
Tubuh Izuna semakin terlihat karna begitu banyaknya makhluk yang menghalanginya. Semakin kesal dan marah Sasuke mulai mengayunkan pedangnya lebih brutal dan cepat. Tidak lupa ia menggunakan kekuatan empat elmennya untuk menghancurkan para para makhluk penghuni neraka. Tidak perduli dengan situasi dan kindisi dimana ia berada. Asalkan semua yang menghalanginya enyah dari jalannya.
"Sha. Kemarilah kalian semua. Dengan senang hati akan ku bakar kalian hingga menembus jiwa kalian yang menjiikan." Geramnya penuh kebencian.
..
..
Brak!
"Sial. kita di permainkan oleh iblis brengsek itu!" Geram Toneri meninju batu besar yang berada di depannya. Ia muak dan kesal. Bagaimana mungkin ia bisa sebodoh ini. Seharusnya sejak awal dia memang jangan mau untuk bekerja sama dengan iblis. Apalagi jika iblis itu sangat licik. Ia tentu paham hanya saja, jika itu menyangkut masalah sang angel tentu ia akan tertarik.
'Aku tentu akan membantumu sebagai bentuk balas budiku karna telah membantuku keluar dari penjara ini.'
"Aku menginginkan angel itu untuk membuatku kembali menjadi angel lagi."
'Aku kurang yakin jika gadis itu akan membantumu. Kesalahanmu saat masih angel dulu jelas karna perbuatanmu sendiri. Kau tidak akan bisa kembali menjadi angel lagi.'
"Urusai! Jangan mengguruiku! Kau bahkan tidak tahu apa-apa tentang para angel karna kau adalah iblis. karna baik iblis ataupun angel jelas..."
'Baiklah..baiklah. Kita sepakat. Aku bebas kau mendapatkan yang kau mau.'
"..."
'Ikuti intruksiku. Karna tentu saja kau tidak akan bisa membuka segel buatan para petinggi pasukan arch angel sialan ini.'
Di situlah letak kecerobohannya yang tentu menerima tawaran Izuna dengan mudah. Toneri lantas melirik sosok lain dalam bentuk sebenarnya menatap intens bukit yang tidak jauh dari tempatnya berada.
"Matsuri kau..."
DHUAAAR!
Sebuah ledakan yang cukup besar menghancurkan bukit setinggi 180 m dari permukaan laut. Lelehan magma perlahan menyembur keluar menghantarkan panas yang cukup kuat disekitarnya..
Ini... tidak mungkin!
Jelas bukit ini adalah bukit yang tidak memiliki cairan panas seperti itu. Gunung ralat bukit ini tidak berisikan lava ataupun bukanlah gunung berapi aktip. Tapi tentu saja sebenarnya api magma itu bukanlah magma biasa. Tak lama kemudian sesosok muncul dari tengah-tengah kepulan asap yang membumbung tinggi di puncak bukit. Sayap hitam yang mengepak dengan perlahan membawa sang pemilik melayang di udara. Sebuah pedang yang telah berlumuran dengan darah dan jangan lupakan sebuah tanduk hitam yang mencuat di atas kepalanya. Kemarahan yang berkilat di mata rubynya menandakan kemurkaan yang cukup besar.
"Sasuke."
Satu lirikan penuh dengan ekspresi tidak menyenangkan lalu sosoknya melesat cepat kearah Toneri dan Matsuri yang masih terdiam terpaku di tempatnya.
'Track.'
"Katakan padaku! Kemana Izuna membawanya?' Tanya Sasuke mengarahkan ujung pedangnya ke leher Matsuri. Tatapannya dingin penuh kebencian menusuk langsung pada iris onyx Matsuri. Tatapan yang seolah menariknya untuk masuk kedalam dunia keputus asaan yang terus begejolak oleh api kesengsaraan. Matsuri mulai gentar dan hatinya yang mulai terguncang. Fakta yang tetap membuatnya merasakan sakit hati untuk yang kedua kalinya saat ia mulai menerima penolakan Izuna padanya. Mengetahui bahwa Izuna masih mengharapkan sang angel untuk bersama dengannya. Tapi, belakangan ia sudah mulai mengikhlaskannya karna angel yang di buru iblis tampannya memang telah tiada. Terkecuali dengan Hinata yang jelas hanya memiliki wujud yang hampir sama. Terkecuali dengan bentuk wajahnya yang lebih terlihat lebih muda dari yang sebelumnya.
"A..aku.."
"Katakan! Jika tidak aku akan membiarkan pedang keputus asaanku akan menyiksamu dengan perlahan di dunia milikku, Kitsune!" ancam Sasuke penuh intimidasi.
"..."
"KATAKAN!"
Satu goresan kecil di leher Matsuri yang terasa sangat perih dan panas. Panas yang seakan merasuk kedalam organ tubuhnya. Ia sadar pangeran ibis tampan di depannya sama sekali tidak main-main dalam ucapannya.
"Di..dia.. dibawa ke neraka."
"Neraka mana!?" Tanya Sasuke tidak sabar.
"A..aku ti..tidak..." Matsuri semakin ketakutan. Ia mencoba untuk menunduk tapi, nampaknya pedang
Sasuke tidak membiarkannya begitu saja.
"Akh!" Matsuri terpekik saat ujung pedang kematian Sasuke mulai menembus tenggorokannya. "..ka kau.."
"Katakan padaku! Aku tahu kau mengerti maksudku," bentak Sasuke kasar. Tidak perduli jika Matsuri merintih kesakitan saat tanpa ragu pedangnya menembus lapisan luar kulit pucat sang yokai. "..Aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku, Kitsune." Geramnya mengintimidasi.
"Ne..neraka lapisan kedua..."
"Sial!"
Matsuri bernapas lega karna sang pangeran telah menjauhkan pedangnya dari leher kebanggaannya. Ia mengusapnya perlahan dan luka yang ditimbulkan oleh pedang kematian Sasuke pun menghilang tanpa bekas. Ia menatap benci pada Sasuke yang kini tengah membelakanginya. Cih. Pangeran iblis brengsek. Kalau saja pesonanya mempan terhadap pangeran iblis ini mungkin sekarang ia bisa menjamah tubuh sexy sepuas hatinya. menandainya dan mengklaim sebagai miliknya seorang. Iris onyxnya perlahan berubah menjadi warna biru. Ia menjilat lidahnya saat melihat begitu memukaunya warna kulit Sasuke. Apalagi dengan kemeja hitam yang dibungkus dengan jubah dengan warna yang sama. Saat bulan purnama menerpa kulit sang pangeran...sungguh memukau dan menggoda. Leher jenjang yang terlihat dari balik kerah kemeja hitamnya terlihat lezat dipandangan Matsuri.
Baiklah. Tidak perduli jika seandainya Izuna memang tidak menginginkannya karna, iblis sexy di depannya lebih menarik dan menggoda dari Izuna.
Tapi, tentu saja Matsuri harus berhati-hati dan harus bergerak tepat dan cepat mengingat seberapa hebatnya sang pangeran iblis di bandingkan dengan makhluk yang selama ini pernah di temuinya.
Gigi taringnya mulai keluar menandakan kesiapan dirinya untuk menyerang Sasuke. Lalu secepat kilat ia mencengkram dan memenjarakan tubuh Sasuke dalam pelukan eratnya. Tidak lupa dengan 9 ekor rubah khasnya yang turut andil dalam menjerat sang iblis.
"Jadilah milikku Sasuke..."
"..."
Saat taringnya hampir mencapai kulit leher Sasuke sesuatu yang panjang menyentak dadanya menembus hingga punggung kecilnya yang rapuh.
"A..apa ya..yang.."
BRUK.
Matsuri ambruk di tanah dengan darah yang merembes dari sela-sela tubuhnya yang tertarik gravitasi. Ia terbatuk mengeluarkan banyak darah dari mulutnya. Pandanganya sedikit mengabir meskipun ia masih jelas melihat Sasuke yang menjulang tinggi di depannya. Pandangan menghina dari sang prince devil untuknya.
"Kau benar-benar menjijikan. Pergilah kau ke neraka!" Sasuke menatap jijik Matsuri yang nampak berusaha menggapai tangannya. Sasuke berbalik membiarkan Matsuri menjerit kesakitan dan lenyap bagaikan asap yang di telan kegelapan.
"Kau ikut denganku." Pernyataan atau perintah yang absolut membuat Toneri selaku yokai dengan bentuk harimau putihnya menggeram kesal. Namun pada akhirnya ia mengikuti sang panggeran yang memang jauh lebih menyebalkan di bandingkan dengan Izuna. Ia tahu seberapa berbahayanya Sasuke saat melihat apa yang di lakukannya terhadap Matsuri beberapa menit lalu.
"Aku mengikutimu bukan tunduk padamu, iblis ayam." Ucap Toneri berusaha untuk tetap menjaga pikirinnya untuk tetap terfokus pada apa yang menjadi alasannya menuruti Sasuke. Tentu saja jika ada kesempatan ia akan menjalankan rencana awalnya untuk kembali menjadi dirinya yang sebelumnya. Angel.
"Lakukanlah apapun yang kau inginkan. Asalkan jangan pernah menyentuh atau mengganggu milikku." Ancam Sasuke dingin. Sasuke bisa mendengarkan apapun yang di ucapkan dalam hati para manusia. Tidak perduli itu baik ataupun buruk dia bisa mendengar dengan sangat jelas tidak terkecuali menyangkut dengan hati gelap dan niat jahat yang ditujukan untuknya. Niat jahat yang sudah biasa di dengarnya dari makhluk manapun yang di temuinya. Tidak terkecuali yokai. Harapan untuk mencelakakan dan menyakiti memang akan memberikan kesenangan tersendiri untuknya. Dan untuk kali ini ia sedang dalam perasaan itu.
Cih. Menyebalkan, bukan?
Tapi, inilah dunianya. Mau di kata apa inilah kehidupannya yang sebenarnya dan ia sangat menikmatinya. Kecuali untuk saat ini ia merasa sangat ... ketakutan. Untuk wanitanya yang sedang ter- ancam bahaya. Hal apa saja yang terjadi di sana Sasuke tidak bisa memperkirakan apapun. Apalagi diantara dirinya dan Izuna sama sekali tidak pernah memberikan kesan yang baik selain dari pada pertengkaran karna hinaan-hinaan yang dilontarkan oleh sang paman padanya.
Ck. Sialan
Hinata tunggulah. Pangeranmu akan segera menyelamatkanmu.
..
..
'Atsui'
Gumam Hinata dalam tidurnya saat udara panas menerpa tubuhnya. Perlahan Hinata mulai membuka matanya saat sebuah usapan lembut membelai wajahnya. Pandangan Hinata masih mengabur saat pelaku belaian tertangkap retinanya. Dan segera ia tersentak mencoba untuk menghindar mengetahui seseorang yang kini menatap tersenyum teduh padanya. Berbeda sekali dengan ekepresi keras saat sebelum ia terjatuh pingsan.
"Kenapa kau terlihat ketakutan seperti itu, hime?" tanya Izuna menatap lembut sosok yang sedikit beringsut menjauhinya.
"A..aku dimana?" Tanya Hinata mengabaikan pertanyaan Izuna. Matanya menjelajah khawatir saat ia melihat begitu banyaknya makhluk penghuni neraka yang bersujud padanya. Seolah-olah mereka _Hinata dan Izuna_ adalah makhluk suci yang wajib mereka puja dan mereka sembah. Sesuatu yang mulai membuatnya sedikit khawatir kala ia menyadari tempatnya berada.
"Ini adalah tempat tinggalku. Dunia kekuasaanku yang mungkin sebentar lagi akan menjadi kekuasaanmu juga."
"A..apa maksudmu?" tanya Hinata menatap Izuna yang kini tersenyum tipis menyadari seberapa lembut dan cantiknya Hinata dalam kondisinya sekarang. Gaunnya yang serba putih dan bersih dengan kulit putih yang terlihat cantik dan segar. Sosoknya bagaikan dewi keindahan yang tersesat di tanah berlumpur. Hanya saja tak tersentuh bahkan ternoda oleh apapun yang di sekitarnya.
"Aku tahu iblis dan malaikat tidak bisa bersatu. Tapi, itu bisa di rubah asalkan masing-masing diantara kita bisa menerima dirinya untuk memutuskan jalan yang akan di tempuh sesuai kesepakatan."
Satu belaian dari punggung tangan Izuna dipipi Hinata, tidak ada penolakan yang berarti saat fokus masih pada yang dbicarakan Izuna padanya "Aku ingin kau menjadi miliku, Hinata." Bisiknya tepat ditelinga Hinata.
"Kau... itu tidak mungkin. Para petinggi angel akan memburuku begitu juga kau. Hukuman pengasingan akan..."
"Tentu saja kita tidak akan mendapatkan hukuman itu karna.." Izuna mengeluarkan sebuah belati dari balih jubah hitamnya. "..Akan ku ubah kau menjadi manusia lalu kita akan menikah dan hidup selamanya di sini, hime."
"Ti..tidak. itu artinya..."
"Yah.. kau akan menjadi sepertiku, Hime. Tentu saja ini tidak akan seburuk yang kau kira. Aku berjanji akan membahagiakanmu, sayang." Bujuk Izuna mulai mendekati Hinata yang kini mulai merangsek menjauhinya lagi. Melihat sikap Hinata yang menjauhinya kembali mengingatkan dirinya akan masa lalu yang bergitu memuakannya. Saat-saat dimana Hikari selalu menolaknya dengan halus. Ia kesal dan kecewa tentu saja. Namun ia tidak bisa berbuat apapun mengetahui alasan Hikari menolaknya.
"Aku tahu Izuna kun adalah iblis yang sangat buruk. Berani membangkang tugas yang seharusnya dilakukan oleh para devil. Hanya tetap saja, sebaik apapun itu malaikat dan iblis tidak akan bisa bersatu dalam ikatan suci. Sekalipun mereka bisa melakukan kegiatan apapun tetap saja akan ada resiko yang ditanggung oleh para malaikat." Hikari memalingkan wajahnya untuk melihat langit yang gelap di sekilingnya. "Aku tulus menolong Izuna kun saat itu. Bukan karna aku mengharapkan imbalan apapun. Lagipula.. aku sudah terikat dengan angel lain. Aku juga sudah mendapatkan hadiah darinya dan aku sangat bahagia karnanya."
Mendengar kata-kata itu jelas hatinya meledak murka. Namun melihat wajah bahagia Hikari membuatnya harus menelan pil pahit karna kekecewaannya sendiri. Jika pada akhirnya sang pujaan menolak dirinya karna adanya pria lain yang lebih di cintainya maka ia harus menyingkirkan pria itu dari hidup angelnya. Maka setelah misinya selesai dengan kemenangan yang selalu didapatkannya ia menerobos gerbang heaven dengan memukul jatuh sang penjaga gerbang. Hal yang tak di duganya kala iris ruby menangkap sosok makhluk kecil yang begitu manarik perhatiannya. Sayap kecil bagaikan merpati putih dengan percikan bubuk fixy biru yang begitu indah. Rambut dan warna mata yang sama persis seperti Hikari namun pancaran yang jauh lebih indah dari Hikari.
Niatannya untuk mencari angel yang menjadi suami wanita tambatan hatinya hilang dari kepalanya. Hingga saat ia melihat wanita angelnya berlari menghampiri malaikat kecil itu membawanya dalam pelukan hangatnya.
"Kau jangan bermain terlalu jauh, Hime. Ibu sebentar lagi harus pergi bertugas. Ayah nanti marah lho kalau tahu Hinata Himenya bermain ke tempat jauh lagi." Goda Hikari yang di balas senyuman manisnya oleh gadis yang telihat masih berusia 5 tahun itu.
"I iya..bu. Kalau begitu ayo kita harus segera pulang." Ajak Hinata kecil langsung memeluk Hikari saat tubuh mereka mulai melayang di udara. Dalam sekali hentakan mereka pun melesat terbang meninggalkan sosok Izuna yang masih terpaku menatap dua sosok cantik yang menjauhinya. Ia merasakan suatu perasaan yang tak biasa saat melihat sosok Hinata kecil. Ini jelas berbeda dengan perasaan yang dimilikinya pada Hikari sang penolongnya. Ini jauh lebih berdesir dan menyenangkan bagi hati kelam iblisnya.
..
"Hinata."
Hinata tersentak saat Izuna membuyarkan lamunannya saat pria itu menceritakan masa lalunya kepada Hinata. Ia sesungguhnya tidak paham akan bagaimana hubungan Izuna dengan ibunya dulu. Tapi...
"...kau mendengarkannya tidak?" tanya Izuna mulai sedikit kesal saat Hinata sama sekali tak bergeming dan tidak merespon ucapannya. Meskipun ia tahu Hinata jelas masih mendengarkan ceritanya dengan seksama.
"Aku masih ingin mendengarkannya, maaf."
Satu belaian halus di dapat Hinata di rambutnya. Sesekali jari-jemari Izuna masuk diantara helaian-helaian suarai indigo panjangnya yang sangat lembut. Begitu lembut dan sangat cantik, Izuna mengakui itu. sesekali ia membawa helaian indigo itu untuk lebih mendekatkannya ke indra penciumannya. "aku mencari ibumu untuk menanyakan siapa dirimu. Dan aku dihadapkan dengan kejadian yang tidak ku duga." Izuna melirik Hinata yang masih terpaku memperhatikan dengan seksama.
"Apa yang terjadi?" tanya Hinata melihat keengganan Izuna untuk melanjutkan ceritanya.
"Ibumu meninggal ditangan seorang yokai bernama Matsuri. Dialah yang membunuh ibumu dan membuatku harus terkurung dalam dimensi hampa yang di ciptakan oleh ayahmu, Hyuuga Hiashi." ucap Izuna memelankan suaranya.
Deg.
Hinata terdiam saat satu kenyataan terdengar dari mulut iblis tampan nan gagah di depannya. Hinata tidak tahu harus bersikap apa. Namun, ia jelas sangat terkejut. Para malaikat memang tidak berhak untuk memiliki sifat dendam. Hanya terkadang dari rasa keterkejutan dan penerimaan kenyataan yang justru membuat hati gelap itu bisa muncul kapan saja dan Hinata jelas tidak bisa memungkiri sedang merasakannya. Namun, Hinata sangat menghormati ciptaan yang kuasa satu ini. Para manusia bukanlah makhluk jahat hanya saja, terkadang kebodohan dan keluguanya selalu dengan mudah di manfaatkan para iblis untuk mengikuti arahannya yang menipu.
Jemari yang lebar menarik dagunya lembut membawa pandangannya yang tertuju ke arah rok gaunnya teralihkan pada wajah rupawan sang iblis pengasingan.
"Lupakan semuanya. Kita bisa memulainya kembali dari awal." Bisikan dalam yang mengantarkan getaran dalam ekspresi yang jujur di wajahnya. Tapi, Hinata tidak ingin mengambil keputusan sepihak dari Izuna. Ia tidak ingin mengambil resiko untuk menyakiti hati sang ayah yang sebelum ini telah mengecewakannya. Maka sedikit mengingsut ia melepaskan diri dari kungkungan Izuna. Tapi nampaknya pria ini sudah memprediksi tindakan Hinata. Segera ia menahan tangan Hinata di masing sisi kepalanya.
"Apa yang terjadi padamu, Hime? Kenapa aku belum melihat sayapmu, hm?" tanya Izuna menggoda.
"..."
Satu pemikiran muncul di kepala Izuna. Ia menyeringai tipis membuatnya terlihat seperti iblis tampan yang siap memberikan kebagahagiaan dan siksaan.
"Aku bisa melihatnya," Hinata menggeliat menghindar saat tangan yang bebas meraba-raba punggungnya yang di lapisi gaun sutranya. "Ini adalah ulah Sasuke dan kau membalasnya hingga membuat mata kiri Sasuke buta sementara." Dikira Izuna hanya mengusap punggungnya tapi, ternyata pria itu menelusurkan jari jemarinya di sepanjangn tulang belakangnya dan berhenti di pantatnya yang berakhir dengan remasan disana.
Cukup!
Hinata tidak tahan lagi. Ia tidak suka di gerayangi seperti ini. Hinata berontak kembali. Kali ini ia mengeluarkan kekuatan cahaya terang dari tubuhnya. Kekuatan yang hanya di pakai selama sebulan sekali. Itupun jika dalam keadaan terdesak.
Para penghuni neraka berteriak kesakitan karna mata mereka yang seolah terbakar karna cahaya sang angel. Izuna pun mengerang kesakitan, namun efek yang di dapatnya tentu sedikit lebih ringan mengengetahui level kekuatannya jauh di atas para penghuni neraka. Meskipun begitu iblis tetaplah iblis dan mereka tidak menyukai cahaya.
"Sial!"
Mengabaikan Izuna yang mengumpat kesal Hinata segera beranjak saat cengkraman Izuna terlepas untuk menghalau cahaya yang seolah menusuk matanya.
Kakinya menapak lantai keras berbatu di bawahnya. Ia menuruni altar memanfaatkan para penghuni neraka yang panik dan ketakutan karnanya. Efek cahaya tidak akan bertahan lama. Energinya tidak cukup kuat untuk memperpanjang frekuensi cahayanya lebih dari 1 menit.
Setelah ia mengeluarkan senjatanya berupa busur dan anak panah tanpa batas dari ruang hampa udaranya segera ia menaiki undakan yang lebih lega dan bebas dari wara-wiri iblis yang berlari di sekitarnya. Andaikan ia masih memiliki sayapnya mungkin ia bisa terbang tinggi untuk melepaskan panahnya membasmi mereka. Itu jelas lebih mudah dari pada ia harus mengandalkan kekuatan kakinya untuk bergerak saat ini.
Tepat saat cahaya tubuhnya hilang ia melepaskan anak panahnya. Kecepatan tangan yang efektif dan kejelian yang seakurat mata dengan bidikan 10 penembak jitu tidak akan mampu menyamai kemahiran Hinata.
Craack.
Craat.
Craat.
Suara erangan dan jeritan memenuhi hampir seluruh penjuru. Hinata melompat melepaskan panahnya dan tepat dapat menembus 3 hingga 5 iblis penghuni neraka. Darah menciprat kemana-mana. Sesekali ia menyerang para iblis yang terlalu dekat dengannya. Ia memang tidak bisa terbang tapi, dengan kemapuan tubuhnya yang bergerak sangat gesit tentu membantu serangan dengan kesuskesan yang memuaskan untuknya.
Hinata harus segera keluar dari sini bagaimanapun caranya. Hinata berhenti saat menemukan jalan yang akan di laluinya habis. Tanjakan yang sangat tinggi dan tajam menjulang ke puncaknya. Hinata sendiri bahkan tidak bisa menemukan puncak gunung tersebut.
"Apa aku kuat berlari sampai kepuncak?" bisik Hinata pelan. Ia yakin di sanalah pintu gerbang neraka. Disanalah pusat cahaya yang lebih terang dari awan gelap yang menyelubungi langit neraka. Tapi..
"Jangan kau kira aku akan membiarkanmu keluar dari sini Hinata."
Hinata berbalik cepat saat suara dalam bariton terdengar di belakangnya. Izuna mengepakan sayapnya perlahan lantas mendarat tepat 5 meter dari posisi Hinata.
Sigap Hinata memposisikan dirinya untuk siap bertarung menarik tali busur memunculkan anak panah dengan aura cahaya biru di sekilingnya. Izuna memperhatikannya sekilas sebelum akhirnya ia kembali menatap Hinata yang depensif padanya.
"Aku tidak ingin menyakitimu, Hime. Jadi, menurutlah..."
"Aku tidak akan menyerahkan apapun padamu. Termasuk diriku." Potong Hinata cepat. Tidak perduli jika ucapannya akan menyulut amarah sang iblis yang mulai menunjukan wajah kekesalan padanya.
\"Kau yang memaksaku, Hinata. Jangan salahkan aku jika pada akhirnya ini akan menyakitimu. " ancam Izuna dengan suara dinginnya.
"Lakukan jika kau mampu. Akan ku pastikan kau tidak akan pernah bisa menyentuhku." Balas Hinata menantang.
Izuna menggeram marah. Namun, berusaha mengendalikan dirinya dengan memejamkan matanya.
"Sekali lagi ku beri kau kesempatan. Aku tidak ingin menyakitimu. Aku mencintaimu, Hinata. kekuatan kita sedang tidak sebanding mengingat sebanyak apa energi yang kau keluarkan saat aksi melarikan diri yang tidak berguna itu." Izuna maju satu langkah ke depan untuk memberikan ketegasan dalam perundingan yang tidak pernah ada dalam pilihan Izuna sebelumnya.
"Jadi.. kemarilah." Satu tangan terulur untuk meminta Hinata menyambutnya. Tapi, nampaknya Hinata tidak bereakasi apapun.
Sunyi tanpa ada yang mau merespon. Menunggu tapi, akhirnya harus kembali menelan kekecewaan.
"Kau yang memintanya Hinata."
Bersama dengan itu gerakan cepat tanpa bisa berkedip, Izuna melesat untuk mencengkram leher sang angel namun, Hinata mampu mengantisipasinya dengan menarik anak panahnya dan melepaskannya tepat ke arah wajah rupawan Izuna.
Tepat sasaran andaikan Izuna tidak menghindarinya dengan tubuhnya dan memberikan serangan balasan menerjang Hinata dan masih dapat dihindari sang angel.
Merasa terdesak dalam jarak dekat Hinata mengeluarkan anak panahnya berniat menancapkan ke tubuh sang iblis.
"Hinata."
Hinata tertegun saat suara berat yang di kenalnya terdengar membuat fokusnya terbagi. Sosok Sasuke dengan tatapan sendu yang tertangkap retinanya. Hinata bahkan dibuat tertegun. Namun, seringai kemenangan menyadarkannya kembali dan keputusan yang terlambat saat tubuhnya didesak kebelakang. Menghimpit dirinya antara tubuh Sasuke dan batu besar di belakangnya yang terasa panas.
"Andaikan jika kau menurutiku aku tentu tidak akan menyakitimu, Hinata."
Suaranya kini telah berubah menjadi sosok sejati yang lain. Izuna merubah dirinya menjadi Sasuke untuk mengalihkan perhatian angel dalam dekapannya.
Kali ini ia harus segera cepat menyelesaikan ritualnya. Menarik belati yang sudah disiapkannya di jubah hitamnya, ia menggoreskan belati tersebut ketanannya. Seketika darah segera merembes dari balik lukanya.
Ia menghisapnya sebentar memastikan darah tersebut cukup terkumpul di mulutnya. Lantas tidak lama kemudian ia mendaratkan ciuman di bibir Hinata.
Chu.
Hinata terbelalak saat sebuah tekanan kuat di rasakan dibibirnya. Tak lama kemudian Hinata meronta kembali saat lidah Izuna turut bermain dan sesuatu yang hangat dan berbau karat membuatnya terbelalak. Izuna mencoba memasukan sesuatu ke mulutnya.
Darah.
Tidak.
Hinata meronta sebisanya. Kekuatan cahaya tidak bisa digunakan dua kali. Keprustasian yang justru membuatnya sedikit tersedak dan terbatuk membuatnya tanpa sengaja menelan darah yang berikan Izuna padanya.
Izuna tidak membiarkan Hinata bergerak sedikitpun. Ia bahkan mencengkram lengan Hinata dan menekan tubuhnya agar Hinata tidak bisa bergerak terlalu bebas. Apalagi ciuman yang seharusnya nikmat ini menjadi siksaan tersendiri saat Hinata mulai terdesak dan ia tetap tak melepaskan ciumannya untuk memastikan darahnya dapat masuk ke tenggorokan sang angel.
Perlahan ia melepaskan ciumannya saat rontaan Hinata mulai melemah. Darahnya mulai bekerja. Efek yang ditimbulkan adalah membuat seluruh syaraf dan anggota tubuh angel melemah. Dan kekuatan yang dimiliki oleh sang angel akan lenyap untuk sementara. Setidaknya selama ia berada di neraka kekuatannya atau jati dirinya sebagai angelnya telah lenyap. Meminum atau memakan apapun yang berada dalam neraka sama saja kau mengikat dirimu menjadi bagian dari penghuni neraka itu sendiri.
Dengan perlahan dan selembut mungkin ia menarik Hinata membawanya dalan gendongan bridal style membawa kembali ke tempat ritualnya.
Izuna membaringkan Hinata kembali ketempat sebelumnya dan jangan lupakan keberadaan iblis lain yang kembali ke posisi mereka masing. Setidaknya yang masih tersisa.
Ia tersenyum kecil saat Hinata hanya menatapnya sendu. Sama sekali tidak bisa menggerakan tubuhnya kecuali mengedipkan matanya saja. tubuhnya terasa lelah tidak terkira.
"Darah yang ku berikan kepadamu sebagai ritual awal kita dalam peroses perubahanmu, hime." Bisik Izuna masih mempertahankan senyuman lembutnya.
"Yang selanjutnya kita akan melakukan ritual yang kedua." Kali ini Izuna menangkat tubuh Hinata kedalam pangkuannya.
"Ritual yang kedua adalah penyelamatanmu. Kau tahu kau akan menjadi makhluk terlemah disini jika kau tidak memiliki sisi gelap yang cukup besar untuk membuktikanmu menjadi yang terkuat."
Hinata menutup matanya pasrah saat Izuna menarik wajahnya untuk melumat bibirnya dengan lembut. Belaian demi belaian demi belaian di dapat Hinata di tubuhnya.
"Namun kau tidak perlu melakukannya karna tentu saja aku akan mengklaim-mu. Menjadi milik iblis penguasa dan ku pastikan kau akan mendapatkan perlindungan penuh dariku. Dari apapun yang menyakitimu." Bisik Izuna dalam jeda ciumannya.
Hinata tidak tahu harus melakukan apapun. Kekuatannya seolah lenyap begitu saja. Rasa lelah yang tak kunjung membuatnya tertidur.
Ia mulai bergetar saat Izuna mulai menarik turun gaun bagian atasnya. Rasa hangat dan lembab yang di dapatkan di dadanya. Astaga.. kamishama...Ini benar-benar...
Menyakitkan dan menyedihkan.
Saat kesedihan dan keputus asaan mulai menerjang jiwa Hinata. Sebuah suara yang begitu di hafal dan di kenalnya merasuk ke dalam indra pendengarannya.
"LEPASKAN DIA! KEPARAT!"
Hinata membuka matanya dan binar kebahagiaan memancar disana. Seseorang yang beberapa tahun ini selalu bersamanya.
"S..sasuke kun."
...
...
TBC.
...
...
Hi.. bertemu lagi dengan author yang malas update... so.. apakah ada yang menantikan cerita kelanjutan dari Devil and Angel? so.. otakku lagi penuh sama ide Sasuhina and Gaahina lainnya.. omg.. aku ga tahu aku bakalan segini sukanya ama ketiga chara yang bertolak belakang ini.
Untuk Gaara tercinta aku skip dulu sebentar. aku harus membuat alur yang baru untuk bisa menemukan Gaara di bagian depan.
Terus terang masih kesulitan untuk membuat alur yang singkat karna kadang otaknya suka koslet dan ngelantur kemana-mana. hhehe.. tapi sebisa mungkin untuk konsisten di alur cerita
Tapi makasih banyak bagi udah ngasih dukungan untuk cerita yang membosankan ini.. cukup pasaran dan... kadang suka mogok di jalan.#bupt*udah mulai ga nyambung.
Aa... gommenasi.. ga bisa balas review kalian di chap ini.. ˆ_ˆ.. tapi, aku sangat senang saat membaca semua komentar kalian tentang ff ini. hampir semuanya merespon baik dengan komentar yang sangat positif..
Hontou ni.. arigatou minna san...
Review kalian sangat berarti untukku
..
See you next Chap
..
