Chanyeol dan Jongin masih sibuk mempersiapkan peralatan untuk pemberian vitamin melalui sistem penyuntikan. "Kemana Luhan? Lama sekali membawa paket alat suntik itu." Jongin hanya terkekeh geli. Tidak sabaran sekali.
"Sabar hyung. Kau ini tidak ada bedanya."
Chanyeol mengedikkan bahunya pelan. Chanyeol memejamkan matanya sebentar. Mencoba mengurangi beban pikirannya yang akhir-akhir ini bertambah. Pikirannya melayang akan kejadian semalam. Obat itu.
Chanyeol merasa sangat menyesal karena terlalu sering menuduh hal negatif pada pasien kesayangannya itu. Pikiran Chanyeol melayang. Mengingat saat entah berapa kali Baekhyun 'kambuh'. Wajah yang biasanya terlihat datar tapi polos itu, ketika kambuh terlihat sangat mengenaskan.
"Maafkan aku, Baek"
Chanyeol berbisik sangat pelan. Penyesalan sangat terasa didirinya. "Yeol. Ada apa?" Chanyeol mendongak melihat Jongin memandangnya dengan tatapan bingung. Namun penuh penegasan bahwa Chanyeol harus menjelaskan.
Tapi Chanyeol menggeleng pelan. Enggan untuk menjelaskan. Jongin menghela nafasnya pelan. Ia sadar, bahwa Chanyeol berubah sejak tadi pagi. Melamun mungkin masuk dalam kegiatan rutin Chanyeol. Pemuda tinggi itu kadang tertangkap dengan bola mata yang kosong.
Jongin khawatir, Chanyeol akan gila.
Ouh. Katakan hal itu pada dirinya yang memang seperti orang tidak waras.
Jongin terkekeh kecil. Nah, kan. Dia sungguh tidak waras. Lamunan keduanya terhenti saat pemuda mungil berseragam khas office boy masuk kedalam ruangan diikuti dua orang intansi dinas kesehatan yang membawa beberapa box berisi alat suntik.
Jongin tersenyum singkat. Menatap Luhan yang terlihat manis dengan hairstyle barunya. "Luhan, kemana saja? Si Ketua itu sudah tidak sabar melihat dokter menusuk-nusuk pasien dengan jarum suntik" keduanya -Jongin dan Luhan tertawa. "Apa yang dimaksud Menyuntik?" Luhan bertanya dengan sedikit menyeringai.
"Ada apa denganmu, Lu" mendengar nada serius Chanyeol, Jongin dan Luhan semakin mengeraskan tawanya. Chanyeol itu, serius sekali. Tapi Chanyeol yang memang sedang dalam mood yang buruk. Ia tidak menanggapi. "Siapa dokternya, Lu?" Luhan menoleh kearah Chanyeol setelah menyuruh intansi kesehatan meletakkan duapaket berisi alat suntik.
"Bagaimana jika aku saja?" Jongin menoleh kearah Luhan. Dan menatap Luhan remeh. "Memang kau bisa?"
Luhan tertawa kencang. "Tentu. Aku ahli dalam bidang menyuntik" Chanyeol menatap kedua orang dihadapannya dengan tatapan aneh. Kekanakan sekali. Mata onyx Chanyeol menatap Jongin. "Dan kemudian orang itu akan mati karena bukan seorang dokter yang menyuntiknya. Melainkan seorang officeboy" Jongin berlari menuju pintu keluar sebelum simungil memukulnya.
"Aish. Bocah itu..."
Chanyeol terkekeh kecil. Sedikit terhibur. "Sudahlah, lu. Ayo bantu aku menyiapkan beberapa peralatan" Luhan mengangguk paham. "Kapan akan dilakukan penyuntikan vitamin ini?"
Chanyeol mengangkat tangan kirinya dan melirik sebuah jam tangan Rolex miliknya. "Sekitar pukul tiga sore. Biarkan para pasien berlibur dulu untuk hari ini"
Luhan mengangguk paham.
.
.
.
.
PSIKIS
(True Love)
Cast: ChanBaek and Other
Rating: M
Warn; YAOI! BXB! TYPO(s)
.
.
.
...
..
.
Baekhyun mengerjapkan matanya saat kerlip cahaya sang penguasa tata surya mulai berontak masuk melalui celah-celah jendela kamar hotelnya. Tubuh mungilnya bergerak untuk merenggangkan persendiannya. Namun Baekhyun sadar bahwa sosok perawat kesayangannya itu tidak berada dikamar.
Tapi Baekhyun mengedikkan bahunya. Mencoba tidak peduli. Tubuh mungilnya menatap langit-langit kamar hotelnya yang terbilang cukup mewah itu. Matanya terpejam. Mengingat awalnya ia sangat tidak menginginkan berada ditempat ini.
Dalam hati, Baekhyun terkekeh. Awalnya ia sangat ingin kabur dari rumah rehabilitasi ini. Tapi sekarang, ia sama sekali tak ingin pulang.
Aku tidak butuh rumah ini...
... Aku butuh kasih sayang
Tapi dirumah ini, Baekhyun mendapat banyak kasih sayang
Baekhyun tersenyum singkat. Dengan tak menunggu lama, tubuh mungil itu mulai mendekati kopernya, mengambil bathrobe dan bergegas untuk mandi.
Jemari lentik itu memutar keran shower dengan perlahan. Dengan perlahan ia mencelupkan jari telunjuknya. Memastikan air tersebut cukup hangat. Dan dengan perlahan, Tubuh mungil itu melesak masuk kedalam air
.
.
Masih jelas diingatannya bagaimana para sahabat dan keluarga dekatnya memperlakukan dirinya. Pada awalnya, Baekhyun sangat disayang dan dicintai oleh banyak orang. Namun...
Kejadian itu telah merenggut banyak apa yang ia inginkan. Baekhyun menginginkan menjadi seorang penyanyi terkenal. Baekhyun ingin mengajak sahabatnya, untuk berkeliling menjelajah dunia. Dan yang terpenting, Baekhyun ingin orang tuanya dengan bangga menyebut nama 'Byun Baekhyun' dihadapan orang banyak.
Baekhyun masih ingat, saat pertama kali tubuhnya memiliki reaksi yang begitu tabu, begitu sulit dipahami. Tubuhnya terus menerus mengeluarkan keringat dingin, dadanya sesak dan sedikit flu disertai dengan timbulnya beberapa bercak kemerahan.
Pada saat itu, ia masih memiliki sang ibu yang selalu memberikan pengobatan pertama untuk anaknya yang tengah jatuh sakit. Sang ibu begitu telaten meremas kain yang mengapung diatas baskom kecil berisi air dingin. Setelah cukup kering, Ibunya akan menempelkan kain tersebut didahi sang anak.
Biarpun kainnya terasa dingin, tapi Baekhyun merasakan kehangatan yang luar biasa.
Ingin rasanya ia memeluk tubuh mungil ibunya. Merengkuhnya pelan seolah sebagai pengungkapan rasa terimakasih. Namun tubuhnya tidak bereaksi demikian.
Malam itu, diakhiri Baekhyun yang merasakan kecupan hangat didahi-nya. Kecupan hangat khas seorang ibu.
.
Baekhyun memakai tas selempangnya asal. Kakinya bergerak cepat untuk menemui sahabat yang sudah ia anggap seperti hyung-nya sendiri. Mata bulan sabitnya bergerak tajam berusaha mencari sosok yang telah ia kejar. Dan Akhirnya mata hazel itu menemukan sosok sahabatnya.
"Hyung... Aku ingin bicara"
Namun sang sahabat memandang kawannya dengan pandangan gugup. "Aku tidak akan membunuhmu hanya karena kejadian kemarin, hyung. Asal kau mau menjelaskannya padaku."
Baekhyun menarik lengan sahabatnya dengan lembut. Membuat yang lebih tua semakin merasa bersalah.
Mereka telah sampai dihalaman sekolah mereka. Keduanya bertatapan dengan artian yang berbeda. Yang satu menatap dengan tatapan menuntut, sedangkan yang lebih tua menatap baekhyun dengan tatapan sendu.
"Maafkan aku..."
Baekhyun masih menunggu penjelasan yang lebih tua. "Aku tidak tau cairan apa yang telah kau masukkan dalam tubuhku, hyung" Baekhyun menghela nafas pelan. Mencoba mengontrol emosi. "Itu Narkotika, Baek. Itu adalah Narkotika!"
Baekhyun mendongak menatap sosok yang lebih tua itu. Menatap sahabatnya dengan penuh berkaca-kaca. "Kenapa, hyung? Kenapa?"
Pemuda yang lebih tua itu mengusap matanya yang mulai bercucuran air mata. Dia menatap Baekhyun seolah-olah dirinya yang tersakiti. "Pria biadab itu mengancam tidak membiayai pengobatan ibuku jika aku tidak membantunya menyebarkan Narkotika racikannya itu"
Baekhyun menatap sahabatnya yang sedang menangkup wajahnya dengan telapak tangan. Dengan perlahan, Baekhyun menarik sang sahabat kedalam pelukan hangatnya. Mencoba menenangkan. "Tidak masalah, hyung. Dosisnya tidak tinggi kan? Aku tau kau tidak akan sejahat itu..." Baekhyun mengelus pelan surai keemasan itu. Baekhyun dapat merasakan bahunya basah karena air mata.
"... Jika kau membutuhkanku, aku ada disini. Akan selalu ada disampingmu."
Baekhyun berjanji.
Tetapi sahabatnya tidak mengucapkan apapun.
.
1 Month Ago...
Baekhyun duduk dikursi ruang tunggu dengan penuh rasa tegang. Baekhyun, ditemani dengan beberapa sahabatnya sedang duduk menunggu nama Byun Baekhyun disebut.
Ketiganya terlonjak kaget saat seorang suster memanggil namanya. Dan Baekhyun menatap kedua sahabatnya. Memohon doa. "Doakan aku..." Kedua sahabatnya mengepalkan tangannya. Memotivasi.
.
Baekhyun dengan perlahan membuka pintu ruangan dengan tatapan kosongnya. Matanya memerah terlihat sedang menahan tangis. Kedua sahabatnya langsung bergerak mendekati pemuda mungil yang sedang memegang sebuah lembar kertas. "Apa yang terjadi, Oppa?" Sahabat wanitanya bertanya.
Namun Baekhyun tidak menjawab.
"Byun Baekhyun, katakan dengan tegas!" Baekhyun menatap bola mata ke pemuda berlesung pipi. Menatap dalam kedua hazel itu. Dan airmatanya tidak dapat dibendung lagi.
"Gejala Aids"
Baekhyun tersedu. Terisak. Tidak siap menerima semua kemungkinan ini. Kedua sahabatnya menganga kaget. "Brengsek! Siapa yang melakukan ini padamu?" Sahabat prianya menyalang. Marah. Dia sangat paham bahwa sahabatnya bukanlah seorang yang berandal. Sahabatnya adalah anak baik-baik.
Sahabat wanitanya mengelus pelan pundak kedua sahabat prianya itu. Agar tidak menimbulkan keributan, mereka lebih memilih mencari taman untuk mencari informasi lebih lanjut.
.
Baekhyun menatap sahabat prianya -atau kita dapat memanggilnya Yixing dengan tatapan sendu. Mata bulan sabitnya dapat melihat jelas airmata yang membendung diantara kedua mata Yixing. "Kau pernah melakukan sex, Baek?" Baekhyun menggeleng pelan. Airmatanya terus mengalir. Menatap kedua sahabatnya seolah bertanya solusi.
Yixing menarik Baekhyun kedalam pelukannya dengam lembut. "Lalu siapa yang membuatmu seperti ini, Baek?"
Baekhyun menggigit bibir bawahnya pelan. Berusaha menahan tangisannya agar tidak meledak. "Aku dijebak..."
Yah, bagaimanapun, Baekhyun bukanlah pihak bersalah disini, kan?
.
Air mata yang sedari tadi ia bendung akhirnya keluar dengan seluruhnya. Pipinya terasa panas. dalam artian merona. Tapi dalam artian rasa sakit. Baekhyun menunduk. Tidak berani menatap sang ayah yang yang saat ini sedang menatapnya dengan tajam.
Kertas berisi penjelasan tentang penyakit yang dideritanya sekarang menjadi tidak berbentuk. Setelah merasa isakannya mampu ia reda, Baekhyun mulai menatap kearah ibunya yang berdiri didekat pintu.
"Kau adalah sosok yang selalu aku banggakan dihadapan teman-temanku..." Baekhyun masih menunduk. Tidak ingin menatap tatapan sang ayah yang terlihat sangat kecewa. "
... Kau adalah anak yang paling selalu bisa kuandalkan"
"Aku tak pernah melihatmu keluar rumah pada malam hari" masih dengan nada yang halus tapi terdengar menggentak, sang ayah berusaha menumpahkan rasa kecewanya. Dengan emosi yang menyala, Tuan Byun -ayah Baekhyun meremas bahu mungil sang anak dengan kasar. "Tapi kau bisa mempunyai penyakit laknat itu..."
Sang ayah yang semakin geram karena tak kunjung mendapat jawaban, langsung mengangkat tubuh mungil sang anak dan kemudian menghempaskannya dengan kasar. "Arrrggh..." Baekhyun mendesis menahan rasa sakit. "Yeobo, cukup"
Namun seolah sudah kalap dan tidak mengenal sosok mungil dihadapannya ini adalah anaknya, sang ayah masih terus mengguncangkan tubuh Baekhyun dengan kasar. "Jawab aku, anak sialan!" Baekhyun yang mendengar sang ayah mengejeknya dengan kasar langsung menatap sosok yang selalu menjadi idolanya itu dengan tatapan sendu. Pertahanan yang ia buat, runtuh sudah. "Aku dijebak..." Namun seakan sadar dari kekalapan-nya, Tuan Byun langsung melepaskan cengkramannya. Membiarkan sang anak menceritakan kronologisnya.
isak tangis mulai menggema disekitar ruangan. Baekhyun menceritakan semua yang terjadi. "Ayah akan melaporkan anak itu ke pihak polisi" dan kemudian matanya membola.
"Tidak, Ayah, Jangan!" Baekhyun berusaha menentang sang ayah. "..Atau kau kumasukkan ke pusat rehabilitasi" Kali ini langkah mungilnya terhenti mendengar penuturan sang ayah. Langkah kaki tuan Byun yang sedang melangkah keluar sama sekali mampu membuat keadaan semakin beku. Dan akhirnya, Baekhyun bangkit. Mengejar sang ayah yang terlihat serius dengan omongannya.
Langkah tuan Byun terhenti saat kedua lengan kurus memeluk kedua kakinya erat. Berlutut dihadapannya. Dengan isak tangis yang mendera. "Ayah... Aku tidak membutuhkan rehabilitasi" Tuan Byun -sang ayah masih belum merespon. "... Aku jauh lebih membutuhkan kasih sayang dari orang-orang terdekatku" Baekhyun melepas sebelah tangannya dan jemari lentiknya menghapus airmatanya pelan. "... Aku yakin, Jika disekitarku banyak yang memberiku kasih sayang..." Baekhyun terisak semakin kencang. "...Aku pasti bisa sembuh... "
Baekhyun menoleh. Menatap wanita yang paling ia cintai sepanjang masa. Sang ibu. "Aku butuh pelukan ibu. Candaan ayah, pelukan sahabat-sahabatku..." dan terakhir, Baekhyun mendongak. Menatap sang ayah yang tampak enggan menatapnya. Hatinya semakin teriris.
"Aku ingin menghabiskan waktuku, dengan orang-orang yang aku cintai..." Baekhyun menelan ludah. Merasa tenggorokannya menyempit. "...Bukannya berada diruangan yang sempit dan minim kasih sayang"
Akhirnya, pertahanan sang ayah mulai goyah "Kau ku beri waktu sampai esok. Jika sahabat sialanmu itu tidak datang untuk memberikan penjelasan.." Baekhyun tertegun saat melihat mata ayahnya yang merah seolah sedang menahan tangis. "...Kau terpaksa aku masukan ke pusat rehabilitasi"
Perlahan uluran tangan itu terlepas. Baekhyun memejamkan matanya. Menyerap rasa sakit yang menghinggap didadanya. "Aku tak percaya ayah tega memasukan anaknya ke pusat rehabilitasi." Baekhyun berkata dengan lirih. Masih berharap semua yang terjadi hari ini adalah mimpi.
"Dan aku lebih tidak percaya bahwa anakku yang selalu kubanggakan, tidak pernah berbuat macam-macam, tetapi rela rusak hanya karena sahabatnya"
Dan kemudian sang ayah pergi meninggalkan kamarnya. Menyisakan seorang ibu dan anak yang saling memeluk. Mencoba menenangkan satu sama lain. "Semua akan baik-baik saja." bisikan dalam sang ibu seolah-olah melodi yang dapat menenangkannya. Dan karena lelah menangis, Baekhyun terlelap. Bersiap untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi esok hari.
.
.
.
.
Chanyeol berjalan masuk kekamar pasien kesayanganya. Namun mata onyx nya membola kaget saat tidak mendapati seorangpun dikamar ini. "Baek... Baekhyun!" mata Chanyeol membola saat melihat gorden pembatas dengan balkon itu terbuka. Namun ia menghela nafas lega saat melihat sosok pasien favoritnya berdiri membelakanginya. Menghadap kearah pantai yang terlihat sangat menyejukkan hati. "Baekhyun... " Yang dipanggilpun menoleh. Memastikan siapa yang berani mengacaukan lamunannya. Namun sedetik kemudian, ia tersenyum. Melihat sang perawat yang telah tersenyum lebar sekali.
Chanyeol mengangkat alisnya pelan. "Kau hanya menggunakan bathrobe sedari tadi?" Baekhyun yang melihat reaksi lucu dari Chanyeol hanya terkekeh. "Iya, Chanyeol. Udara disini sangat sejuk."
Chanyeol tersenyum singkat melihat keadaan Baekhyun yang semakin hari semakin membaik. Terlihat sangat bahagia namun pipinya terlihat tirus. Pemuda yang lebih tinggi bergerak menghampiri pemuda yang lebih mungil. Berdiri disamping pemuda mungil itu mampu membuat pikirannya rilex karena parfurm yang digunakan Baekhyun. Chanyeol menoleh menatap siluet Baekhyun yang entah mengapa terlihat sangat sempurna hari ini. "... Baek"
Baekhyun menoleh dan tersenyum manis. "Ya, Yeol?"
Chanyeol menelan ludah. "...Soal perkataanku yang kemarin, aku serius" Baekhyun menegang. Dan menggerutu dalam hati. Kenapa ia bisa lupa dengan perkataan Chanyeol kemarin. Chanyeol menarik tubuh mungil Baekhyun untuk mendekat kearahnya. Jemari besarnya tergerak untuk membelai pelan surai pemuda mungil dihadapannya ini. "Kau tidak akan memiliki masa depan jika hidup denganku" namun Chanyeol menggeleng.
"Peduli setan dengan statusku. Hubungan adalah mengenai sebuah cinta, bukan sebuah fisik atau apapun" Chanyeol mengelus pelan pipi sebelah kiri Baekhyun. Pipi tirusnya tidak menghilangkan kelembutan yang dimiliki simungil. "Kau tidak akan mengerti, Chanyeol" Baekhyun mendorong pelan dada Chanyeol.
"Uhm, Yeol. Apa kau lapar? Aku akan mencari makan disekitar sini" Baekhyun mencoba mengalihkan pembicaraan. Chanyeol sadar. Hanya saja, dirinya tidak ingin membuat masalah dan lebih pilih menurut saja. "Baiklah"
Baekhyun mengangguk dan tersenyum semangat. "Baiklah, aku akan mengganti baju" Chanyeol menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya kearah wajah cantik simungil. "Kau belum memakai baju sedari tadi"
Sialnya, Baekhyun merona.
.
Kedua pria dengan tinggi berbeda itu berjalan berdampingan. Keduanya asik mengobrol seraya melihat-lihat pemandangan yang sangat menyejukan mata. Tak ayal keduanya tertawa tanpa sebab yang jelas. Mereka bahagia dan memanfaatkan kegiatan ini dengan baik.
Baekhyun telah duduk menunggu pelayan cafe menghampirinya. "Yeol.. Kita makan dipinggir pantai saja" Chanyeol menyernyit bingung. "Aku hanya ingin makanannya dibungkus~" Chanyeol mengepalkan tangannyaa. Mencoba menahan agar tidak mencubit Wajah Baekhyun yang barusaja berbuat aegyo -tanpa sadar.
Namun akhirnya Chanyeol hanya mengusak pelan tatanan rambut Baekhyun. Dan Baekhyun nampak tidak keberatan. Chanyeol mengangkat tangannya meminta pelayan untuk melayani mereka. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"
Baekhyun meletakan jari telunjuk didepan bibirnya. Pose berfikir. "Aku mau Ayam Goreng Bawang. Tolong bumbunya dipisah dengan nasi" Pelayan itu dengan apik menulis pesanan pemuda mungil itu.
"Saya sama dengan dia" Chanyeol berkata dengan singkat. Dan pelayan itu mengangguk. "... Mohon ditunggu sebentar, tuan" keduanya mengangguk.
Baekhyun mengayunkan kedua kakinya. Sedikit bosan menunggu makanan mereka. Biasanya Chanyeol yang akan cerewet namun kali ini perawat tampan itu hanya memandang Baekhyun dalam diam. Baekhyun yang sebenarnya sadar bahwa dirinya sedang ditatap pun mulai jengah. "Aissh. Ada apa dengan wajahku?!" Chanyeol yang melihat Baekhyun memberontak, tertawa pelan. "Kau ini, bocah sekali"
Baekhyun membalas perkataan Chanyeol dengan tatapan tajam. "Aku ini dewasa" Chanyeol menyeringai. Mengejek.
Namun akhirnya kecanggungan ini berakhir saat Chanyeol melontarkan pertanyaan. "Jika kau diberi satu permintaan, apa yang ingin kau minta dari Tuhan?" Baekhyun sedikit tertegun dengan pertanyaan Chanyeol yang tepat menusuk dihatinya. Baekhyun memberi jeda sebelum menjawab. "Aku ingin..."
Chanyeol mulai tertarik dengan arah pembicaraan mereka. "... Kembali menjadi Byun Baekhyun yang dulu" Baekhyun menatap lekat pria dihadapannya. Seolah pria dihadapannya ini adalah seonggok buku diary "... Tapi aku sadar. Itu adalah hal yang mustahil. Karena masa lalu hanya untuk dikenang, benar?" Baekhyun terkekeh saat melihat Chanyeol menggeleng kaku.
Baekhyun melanjutkan perkataannya " ... Dimasa depan, Jika aku telah meninggalkan orang-orang yang aku cintai... " Baekhyun menahan air matanya mati-matian. "... Jika memang ini yang mereka harapkan, aku hanya ingin mereka tetap bahagia. Walau aku tidak ada" Jemari mungilnya bergerak untuk mengusap airmatanya yang perlahan jatuh membasahi pipi tirusnya.
"Walau mereka tertawa dan bahagia, bukan karena aku" dan semua berakhir Baekhyun yang berjalan lebih dulu mengambil makanan mereka dan membayarnya.
Chanyeol masih terdiam. Menatap meja yang terdapat setitik airmata membekas milik Baekhyun.
.
Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal. Saat ini, ia sedang duduk ditepi pantai. Dibawah pohon kelapa dengan dua bungkus makanan. Baekhyun menunggu kehadiran Perawat kesayangannya itu. Ia sedikit menyesal main lari begitu saja saat ia selesai menjawab pertanyaan Chanyeol tadi.
Lamunannya berakhir saat seseorang telah duduk disampingnya. Siapalagi kalau bukan Chanyeol? "kau ini, main lari saja. Jika tersesat, bagaimana?" Baekhyun terkekeh geli mendengar gerutuan pria yang lebih tua itu.
"Maaf. Aku tadi hanya ingin ke toilet"
Chanyeol memutar bola matanya malas. Tau jika Baekhyun berbohong. "Terserah. Nah, ayo kita makan!" kedua mahluk adam itu makan dengan tenang seraya menatap hamparan lautan yang terlihat mengkilap karena diterpa sinar matahari.
"Chanyeol, Apa aku boleh bertanya?" Chanyeol yang sedang mengunyah makanan itu mengangguk pelan. Dan memberi tatapan penuh penasaran. "Apa tujuan utama-mu menjadi ahli psikolog?"
Chanyeol tersenyum singkat mendengat pertanyaan Baekhyun. "Janji jangan tertawa saat aku beritau alasannya?" Baekhyun terkekeh pelan. Mungkin jawabannya adalah jawaban yang konyol. Tetapi Baekhyun mengangguk pelan. Chanyeol yang gemas pun kembali mengusak pelan surai Baekhyun. "Baiklah, dengarkan baik baik..."
Bagaikan seekor puppy, Baekhyun mulai memancarkan binar ketertarikan. "... Awalnya aku ingin masuk ilmu psikologi karena aku ingin mengetahui sifat seseorang." Baekhyun mengangguk lucu. "... Aku ingin tau bagaimana mengetahui seseorang apabila ia berbohong atau jujur padaku"
"Hey itu kekanakkan sekali!" Baekhyun memotong pembicaraan yang lebih tua. Namun, Chanyeol mengangguk setuju. "Tapi selain itu, aku ingin mengobati ibuku yang juga sedang mengalami sakit trauma" Baekhyun menatap Chanyeol dengan dalam. Seolah tengah merasakan apa yang Chanyeol rasakan.
Chanyeol mendecak. "Sudah Cukup, Aku tidak ingin menangis dihadapanmu" Baekhyun menggerutu. "pelit sekali"
Setelahnya menjadi hening.
Keduanya telah selesai dengan makanannya. Chanyeol tersenyum singkat saat melihat jemari Baekhyun yang dengan telaten merapihkan bekas makanan mereka berdua. Setelah mengikat kantung makanan tersebut, Baekhyun kembali duduk dan menatap Chanyeol. Sarat akan sebuah arti. "Chanyeol..."
Chanyeol berdeham. Keduanya fokus menyelami kedua bolamatanya itu. "Terimakasih untuk semuanya" Chanyeol tidak menjawab seolah menyuruh Baekhyun untuk melanjutkan kata-katanya. "Terimakasih telah mengajarkanku banyak hal. Aku yang tidak percaya tentang apa itu cinta dan kasih sayang namun karena tempat ini..."
Jemari Baekhyun terangkat untuk mengusap perlahan rahang tegas perawat tampan dihadapannya. "... Karena kau, karena Jongdae, karena Jongin, aku selalu ingin..."
Baekhyun memeluk Chanyeol erat. "Aku selalu ingin untuk bertahan hidup" dan Chanyeol tergerak untuk membalas pelukan yang lebih mungil. "Apapun untukmu, Baekhyun-ah..."
"Aku juga ingin mengucapkan terimakasih.." jemari Chanyeol terangkat untuk mengusap pelan surai Baekhyun. "Karena kau, aku banyak mendapat pelajaran bagaimana untuk menghargai hidup.."
Chanyeol kembali menghela nafas pelan. "Dan juga..."
"... Kau mengajariku tentang apa itu cinta yang sebenarnya"
Biarkan keduanya saling menumpahkan perasaan asing yang membentengi mereka berdua.
.
.
.
Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengurangi rasa panas yang menjalar diakibatkan dari sinar matahari. Antriannya cukup panjang. Chanyeol bilang hari ini ada penyuntikan vitamin untuk seluruh pasien.
Baekhyun awalnya mengelak karena masih ada trauma yang menjalar. Tapi, Chanyeol mengatakan semua akan baik-baik saja. Jadi Baekhyun menurut.
Baekhyun menoleh saat ia merasa suara Jongdae memanggilnya. Namun saat Baekhyun menoleh, matanya tidak fokus menatap Jongdae. Melainkan matanya fokus pada sesosok tubuh mungil yang berada tidak jauh didekat stand jualan minuman segar.
Jantungnya berdetak dengan cepat. Seolah emosi yang ia tahan hari ini akan terbakar begitu saja.
Tidak menghiraukan antrian yang sebenarnya sebentar lagi gilirannya, Baekhyun bergerak. Memutus barisan.
Baekhyun memejamkan matanya dan kembali membuka matanya saat melihat sosok sahabatnya, sedang berdiri disana, dengan penuh kebahagiaan. Sahabatnya benar-benar tidak merasa bersalah. Baekhyun, yang paling hancur sekarang. tetapi Sahabatnya, sekaligus penghancur masa depannya sedang tersenyum bahagia.
"Ini saatnya. Aku menyayangi sahabatku. Tetapi aku membenci perkataannya yang selalu mengatakan istilah..."
"... Kau Jatuh, Maka aku ikut terjatuh" Itu semua omong kosong. Omong kosong. Baekhyun tidak akan mempercayai semua orang didunia ini.
"Kau, brengsek!"
BRUK!
tinju yang cukup kuat. Padahal Baekhyun bergetar kuat saat itu
.
.
.
...
"Yixing! Kemana perginya?... dia?" dengan tergesa gesa, Baekhyun berlari. Menghampiri sosok sahabatnya yang berada diujung koridor. "Tidak tau, Baek. Guru-guru mengatakan... "
Jantung Baekhyun berdegup kencang. "Sahabat kita pindah sekolah, Baek. Otoke?" Kaki Baekhyun melemas.
"Aku beri kau kesempatan. Jika kau tidak membawa sahabatmu esok hari, maka kau akan kukirim ke pusat rehabilitasi"
Ucapan ayahnya terngiang. Baekhyun terisak.
"Dia meninggalkanku... "
...
.
.
END(?)
.
.
A/N : Udah bisa nebak belum yang bikin Baekhyun Kena AIDS itu siapa? kalo udah bisa, di end aja gimana? wakakak
kisah cinta bhxcy gantong gitu aja
atau mau dibuat satu chapter lagi aja?
Boleeeh~~ asal review dulu *kedip kedip*
.
.
...
Makasih untuk yang sudah review maaf ga bisa balas satuu satu *kedip kedip*
...
..
.
Last but not Least, Review please?
P.S: Aku bikin FF Chaptered lagi. Byun Twins judulnya. menceritakan tentang sikembar Byun Loh hehe
kalo minat baca, sok atuh buka akun ini. jangan lupa ninggalin review ya.
P.S.S: Untuk yang udah ingatin kalo cinta sesama jenis di dunia psikolog murni bukan guncangan jiwa makasih banget. sebenernya udh tau dr bbrp bulan yg lalu. cuma yaa bingung akunya diprolog udah bilang kaya gitu jadi, yaudah lah(?)
P.S.S.S : Untuk yang mau berteman sama aku di LINE, Bisa add id: dragtouse yaah~
TERIMA KASIH
