Siang ini, Jongin dan Kyungsoo memilih menikmati istirahat makan siang mereka di salah satu rumah makan yang terletak tak jauh dari kantor mereka. Jongin segera mengajak Kyungsoo kesana setelah Kyungsoo mengatakan bahwa gadis itu tidak membawa bekal untuk makan siang karena dirinya bangun kesiangan pagi ini.

"Minggu depan, mas pergi keluar kota."

Kyungsoo yang sedang sibuk dengan makannya seketika menengadah, melihat Jongin yang memulai percakapan.

"Tugas?" tanya Kyungsoo. Jongin mengangguk. "Tiap bulan, mas memang punya jadwal dinas ke luar kota." Jelas Jongin pada Kyungsoo yang manggut-manggut di depannya.

"Berapa hari mas?"

"Biasanya sih empat sampe lima hari."

"Lima hari?!" tanya Kyungsoo. Gadis itu terlihat terkejut sehingga tak sadar nada suaranya meninggi. Ia membungkukkan badan pada orang-orang disekitarnya atas keributan yang ia buat. Sedangkan Jongin tersenyum geli melihatnya.

"Kenapa?" tanya Jongin.

"Kok lama…" lirih Kyungsoo yang masih didengar jelas oleh Jongin. Pria itu tersenyum makin lebar.

"Kenapa kalo lama? Adek takut kangen sama mas ya?" goda Jongin. Kyungsoo menggeleng cepat, kendati pipinya sudah merona hebat.

"Kita kan masih bisa komunikasi dek. Sekarang udah ada video call juga. Nanti mas kabarin adek kok kalo mas udah luang waktunya disana." Ujar Jongin memberi pengertian pada Kyungsoo. Ia tahu dan merasakan jelas bahwa Kyungsoo pun merasakan hal yang sama seperti apa yang ia rasakan pada Kyungsoo. Walau hubungan mereka belum genap satu bulan, namun pertemuan mereka yang hampir setiap hari serta komunikasi yang selalu terjalin, hati mereka pun ikut terjalin seiring berjalannya waktu.

"Ya-yang berangkat berapa orang mas?"

Jongin menaikkan satu alisnya. "Biasanya sih bertiga." Jawab Jongin. Kyungsoo makin dibuat penasaran.

"Yang berangkat paling cuma pak bos, mas, sama asistennya pak bos." Jelas Jongin lagi. Kyungsoo tergagap. Ia tahu betul bahwa asisten bos mereka adalah seorang perempuan.

"Adek gak mikir mas tidur satu kamar sama asistennya pak bos 'kan?" tanya Jongin. Kyungsoo menggeleng cepat.

"Eng-enggak! Enggak kok! Ngapain juga adek mikir mas tidur satu kamar sama asistennya pak bos."

Bohong. Jongin tahu Kyungsoo berbohong. Pria itu tertawa kecil sambil mengusak pelan rambut Kyungsoo yang tergerai. Ia lalu mengambil tangan Kyungsoo yang terkepal di atas meja. Menggenggamnya lembut.

"Adek percaya sama mas 'kan?" tanya Jongin sambil menatap Kyungsoo dalam. Sambil merona, Kyungsoo mengangguk.

"Mas gak akan macam-macam. Udah ada adek dihati mas sekarang. Gak akan ada yang bisa ngerubah posisi adek."

Kyungsoo memicingkan mata tiba-tiba.

"Jadi kalo sekarang adek gak ada, mas mau macam-macam?" tanya nya ketus. Jongin terkikik geli. Kyungsoo semakin kesal.

"Maaaas~ adek serius!"

Jongin meredakan tawanya. Sambil tersenyum, pria itu berujar "Tau gak? Adek makin cantik kalo lagi cemburu." Sukses membuat Kyungsoo merona lagi.

"Mau ada adek atau gak ada adek, mas tetap gak akan macam-macam. Mas tipe orang yang agak pemilih kalo urusan pendamping hidup." Kata Jongin. Kyungsoo hanya diam. Masih dibatas ambang kesadaran atas rayuan Jongin padanya.

"Adek mau titip oleh-oleh gak? Nanti mas beliin disana."

Kyungsoo menggeleng.

"Yakin?"

Kali ini Kyungsoo mengangguk.

"Trus mau titip apa?" tanya Jongin lagi. Dengan malu-malu, Kyungsoo menjawab.

"Titip rindu yang banyak, boleh?"

.

.

.

.

.

TBC