Written by Guannlin
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : Uchiha Sasuke, Senju Sakura
Rate : M
Genre : Romance, Comedy
(--)
--
--
(--)
Meski terik matahari begitu menyengat, Sakura semakin merapatkan tubuh hingga menciptakan sensasi aneh di sana. Hal itu menyebabkan Sasuke melenguh, kedua tangannya gemetar. Bibir saling menempel dengan sentuhan intim pada tubuhnya yang dilakukan cewek itu, mana mungkin dilewatkan. Diam-diam Sakura tersenyum merasakan payudaranya ditekan, sedikit sesak sekaligus nikmat di waktu bersamaan. Maka sekali tarikan napas, Sakura meraih rahang kokoh Sasuke agar ciuman mereka berlangsung kian dalam. Ah, sial sekali! Sakura menawarkan itu, lekukan indah dari mulai payudara hingga pantatnya yang sekal.
Sasuke ingin meremasnya!
Napas yang berhembus panas, sentuhan intim di tengah-tengah tubuh mereka yang tidak berjarak, semuanya menciptakan kegilaan. Sasuke melakukannya tidak main-main sembari menyentuh belakang telinga Sakura dengan jari. Peduli setan pada kenyataan jika mereka berada di situasi yang salah sekalipun, setiap detiknya Sasuke berpikiran liar. Hanya karena ego gilanya yang coba mengecup bibir perawan, Sasuke merasa dirinya terbakar. Lupakan beberapa pengunjung pantai yang menjadikan mereka sebagai tontonan, Uchiha Sasuke memilih masa bodoh dan membiarkan wangi cologne miliknya bercampur dengan wangi Sakura. Ditambah lagi air laut, tiupan angin, serta suara burung camar seolah mendukung tindakan yang tengah mereka lakukan.
Namanya juga halu, meski tidak sikron pun diiyakan saja.
"Lo suka?" Si cewek bertanya sejenak setelah berhasil memberi jarak.
Masih di posisi sama, doi menggendong tubuh seksi Sakura yang hanya berbalut bikini. Sepertinya Sasuke sudah lupa pada ambisinya. "Gue suka."
Senju Sakura menang telak.
Mereka kembali menekankan bibir masing-masing, mulai meluluh, lalu leleh bersama gairah. Sasuke sangat menikmati setiap pengalaman baru itu, tidak ada lagi bongkahan beku di hati lantaran kehangatan yang diberikan Sakura. Membakar pembuluh darahnya, menghangatkannya, merasuk ke tulang-tulang dan demi Tuhan Sasuke merasa dirinya terbang ke awan-awan. Tiba-tiba muncul pertanyaan itu, bagaimana mungkin Sasuke bisa hidup tanpa merasakan ini? Bagaimana bisa ia menepis sensasi ini?
"Lo kalah, Baby."
Sudah berani dan terang-terangan, mata Sasuke membulat begitu mendengar panggilan sayangnya. Mereka tidak memiliki hubungan spesial selain permusuhan tiada ujung, rasa dongkolnya pada Sakura bahkan masih ada hingga sekarang.Tapi apa?
Bedebah! Doi lemah karena tidak mampu mengendalikan nafsu.
Duk!
Itu lagi.
Berkali-kali Sasuke merasakan sakit yang sama ketika dia dengan sengaja membenturkan kepalanya sendiri di atas bangku, Naruto sampai meliriknya heran karena cowok itu tidak juga berhenti bertingkah bodoh. "Gue kayaknya perlu periksa ke psikiater."
Benar dugaannya. "Kenapa lo?"
"Pikiran gue ternoda."
Semua terjadi lantaran kekhilafan lalu yang tidak kunjung menghilang dari kepala Sasuke, terus-menerus berputar di sana. Sensasi aneh, ragu-ragu tetapi sayang jika tidak dinikmati. Dasar setan sialan! Sasuke mengacak rambutnya kasar, berusaha mengubur ingatan itu dalam-dalam namun hasilnya tetap nihil. Sakura dengan bikini maroonnya, aduh mak! Juga ciuman yang mereka lakukan, Sasuke semakin panas dingin jika mengingat. Bagaimana kulit basah mereka saling bersentuhan intim, panas, membakar. Apa lagi yang bisa didefinisikan untuk sensasi seluar biasa itu? Sasuke ingin lagi. Sinting! Semua salah Senju Sakura yang dengan berani memulai. Niat hati mencoba eh kok malah keterusan, itulah karma bagi Sasuke.
"Dari pada lo ke psikiater, mending lo cuci pikiran lo pakai detergen."
Teman tidak berguna.
- 0 -
Lari dari kenyataan bukanlah sesuatu yang bagus, berkali-kali pemikiran itu terlintas. Ayolah, ini tinggal lima hari. Sasuke menghembuskan napasnya berat sembari beranjak dari bangku, kemudian mulai keluar kelas dengan tenang bersama siswa-siswi lain lantaran bel akhir pelajaran berbunyi. Namun ketika baru mencapai pintu, Naruto sudah terlebih dulu menepuk pundak Sasuke hingga si empunya menoleh. Alisnya terangkat sebelah. "Ada apa?"
"Gue nebeng."
Waduh, berabe.
Ia dan Sakura kan telah membuat janji. "Nggak bisa Nar."
"Kok nggak bisa?"
"Gue nggak langsung pulang."
"Mau ke mana memangnya?"
Mau ngapelin cewek Senju, terus anu lagi. "Ya pokoknya ada lah, pulangnya juga masih entar sore."
"Oke deh, oke." Setelah itu, Naruto langsung cuss pergi. Takut ketinggalan angkutan umum katanya.
Kalau begini aman, Sasuke hanya tinggal mencari keberadaan cewek yang astagfirullah menjengkelkan itu. Sudah doi putuskan untuk merubah perilakunya, bahkan meskipun Sakura melakukan hal-hal gila. Ciee, nyariin cewek. Kok Sasuke tiba-tiba jadi bersemu merah begini? Sepanjang koridor dia tidak berhenti menjernihkan pikiran. Pelan-pelan saja, pikirnya. Sambil menunggu gedung sekolah sepi, Sasuke memilih menunggu Sakura di depan kelas cewek itu sembari menyedot susu puding.
"Cewek murahan!" Serius? Ia tidak salah dengar. Suara barusan kentara perempuan, tapi intonasinya sangat keras dan berasal dari kelas Sakura.
"Masa' sih?" Sasuke melirik sekitar, akhirnya doi memutuskan mengetahui langsung.
Diluar prediksi, seumur-umur Sasuke paling ogah berada di arena gulat cewek. Niatnya hanya ingin tahu, namun matanya malah mendapati Sakura dan Ino temannya berseteru dengan Shion. Tidak ketinggalan beberapa anak cewek ikut-ikutan menonton pertengkaran seru ini. Lah kok?
"Bacotan lo bisa dibeli berapa?"
"Sialan!"
"Heh brengsek!!!" Aduh.
Dari sini, Sasuke melihat Ino berseru murka lantaran Shion mendorong tubuh tinggi Sakura hingga cewek itu terduduk di lantai. Sudah kepalang tanggung juga, Sakura tidak bisa menahan diri dan buru-buru bangkit. Ia menjambak rambut panjang Shion, lalu sebagai balasannya Sakura langsung mendapati sebuah tarikan pada rok abu-abu yang dia kenakan. Sasuke yang melihat itu hanya melongo, khawatir juga jika sampai keterusan melorot ke bawah. Seperti bukan Senju Sakura sekali jika hanya diam tanpa membalas. Maka dalam sekali dorongan, dia berhasil menduduki perut Shion. Nenek lampir sebenarnya telah muncul! Lagi-lagi Sasuke bergidik ngeri. Sebenarnya ini permasalahan cewek, tapi doi juga tidak bisa diam saja menonton Sakura dan Shion saling jambak melampiaskan emosi.
"Bilang sekali lagi! Ayo coba, bilang kalau gue murahan. Sialan lo!" Tolol, semua orang di sana malah menikmati.
"ELO YANG SIALAN! SAKURA!"
Baiklah, tidak ada ampun. Kali ini semakin berapi, Sakura sudah berniat menampar Shion tapi gerakannya dihentikan oleh Sasuke yang tiba-tiba menengahi. "Berhenti!"
"Minggir lo!"
"Berhenti woii!" Dua lawan satu mana bisa.
Sasuke berada di tengah-tengah, alhasil menjadi bulan-bulanan. "Minggir, brengsek!!"
Kelas yang awalnya sepi, dalam sekejap mulai ramai oleh siswa-siswi yang masih berada di sekolah. Gawat nih! Ketahuan Kakashi Sensei, mampus! "Lo berdua bakalan nyesel kalau nggak dengerin gue!"
"Gue gak bakalan berhenti sebelum dia minta maaf."
"Elo yang harusnya minta maaf!"
"No, teman lo pegangin!" Yang diajak bicara malah melengos, sepertinya Ino lebih menurut pada Sakura dibandingkan dirinya. "Owalah cewek!"
Ribet astagfirullah.
Sasuke masa bodoh pada penampilannya yang sudah tidak berbentuk akibat menengahi dua cewek yang tengah saling jambak. Berharap semoga Kakashi Sensei tidak muncul dan melihat.
"ADA APA INI?" Baru juga dibatin.
Mampus! Beneran mampus!
(--)
--
--
(--)
To be continue...
