Naruto © Masashi Kishimoto, W Juliet © Emura
Thank's to Nae-koi
*Beta-Ed by FBSN*
Sedikit A/N sebelum mulai! XD
Sebenarnya cuma sedikit promosi sih. Jadi, FBSN yang tertulis di atas itu bukan cuma pajangan. Seperti yang sudah diketahui, FBSN yang merupakan Federal Bureau of Sasuke and Naruto adalah organisasi yang berisi kumpulan para author yang bersedia membantu author lain untuk membeta alias mengedit fic-nya. Fic-fic yang ingin dibetakan di FBSN nggak terbatas pada anggotanya saja, tapi untuk SEMUA AUTHOR yang ingin fic-nya dibeta. Dibeta sendiri bukan berarti karya asli kita diganti oleh pembeta, tapi hanya diperbaiki, diedit dan diberi saran, yang boleh kita ikuti atau tidak. Jadi semuanya masih tergantung pada author asli, mau menggunakan hasil betaan atau tidak. Saia sendiri juga nggak terlalu nurut sama Nae kok…XP hehehe…
Bagi yang butuh bantuan dalam memperbaiki fic-nya, bisa PM kami di akun FBSN, atau kirim email ke rasenchidori2310 yahoo (dot) com
Kami harap dengan adanya FBSN ini, bisa membuat fic Anda makin sempurna, dan dijauhi flamer. Semoga saja. Amien.
*FBSN khusus untuk fic ber-pairing Sasuke dan Naruto. Include gender bending*
_Chapter 7_
Naruto diam seharian itu. Duduk di kursinya, menatap kosong ke depan, dan memainkan pensil mekaniknya. Tak perlu seorang jenius untuk tahu kalau terjadi sesuatu padanya.
"Uzumaki, coba kerjakan soal di papan tulis," kata Iruka, guru Fisika yang sangat ramah itu dengan senyum manis.
Semua mata tertuju ke arah Naruto. Yang ditatap malah memandang keluar jendela, menghisap ujung pensil mekaniknya dengan santai.
Iruka berdehem, berharap mendapatkan respon dari murid barunya, tapi sia-sia. "Uzumaki," panggil Iruka lagi, lebih keras kali ini. Naruto belum bereaksi. Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Apa dia lupa kalau namanya sekarang Uzumaki Naruto?
"Uzumaki, kerjakan soal di papan tulis," Iruka setengah berseru.
Sasuke tahu kalau Naruto tak akan merespon panggilan Iruka, maka dia menendang kaki Naruto pelan di bawah meja, membuat Naruto tersadar dari trans-nya.
"Eh?" celetuk Naruto kaget, menoleh ke arah Sasuke dengan tatapan mencela. Sasuke hanya mengedik pelan ke arah Iruka. Naruto mendadak paham. "Eh? I-iya, Sensei…Ada apa?" tanyanya linglung. Aduh, kebodohan macam apa lagi yang sudah aku lakukan kali ini?
"Uzumaki, dilarang melamun saat pelajaran. Sekarang kerjakan soal di papan tulis ini," kata Iruka tegas.
Naruto menggigiti bibirnya dengan gugup dan bangkit perlahan dari kursinya. Tapi, seperti yang selalu terjadi kalau Naruto sedang gugup, dia terserimpet kakinya sendiri dan kehilangan keseimbangan. Tangannya mencoba menyambar ujung meja untuk menahan dirinya jatuh, tapi terlambat. Ia merasakan tarikan kuat di perutnya yang membuatnya ambruk begitu saja. Naruto memejamkan matanya rapat-rapat di saat terakhir, pasrah menunggu pantatnya yang ia akui keseksiannya itu mencium lantai.
Tapi itu tidak terjadi. Naruto cepat-cepat membuka matanya ketika ia merasakan sesuatu yang empuk di bawahnya alih-alih lantai keras. Yang dilihatnya pertama kali adalah, wajah Sasuke yang sudah berada tepat di hadapannya, hidung mereka nyaris bersentuhan. Mata onyx itu menatapnya dingin. Naruto menunduk ke bawah, mencoba menganalisis posisinya saat ini.
Ia. Berada. Di. Pangkuan. Sasuke.
Tangan pucat Sasuke melingkari pinggangnya, sementara kedua tangan Naruto berada di dada bidang Sasuke. Mengingat Naruto adalah cewek sekarang, maka posisi ini bisa disebut romantis di mata semua orang. Ia mendongak lagi, bermaksud menatap Sasuke, tapi matanya terhenti di bibirnya. Tiba-tiba saja sebuah ingatan mengenai suatu malam berbintang di Hinamizawa yang diiringi dengan suara tonggeret terlintas di otaknya, membuat wajahnya memanas. Ia langsung melompat bangun dan…
PLAK!
Menampar pipi seorang Uchiha Sasuke. "Nggak sopan!" ucap Naruto dengan nada tinggi ala ceweknya sebelum berbalik badan dan berjalan ke arah papan tulis. Nafasnya memburu, dan detak jantungnya tak terkendali. Ia benar-benar tersinggung.
Semua orang di kelas menatap Sasuke dengan mulut ternganga lebar, termasuk Iruka. Sakura dan Ino yang tadinya sudah mau berteriak marah melihat posisi Sasuke dan Naruto sekarang hanya bisa melongo, memandang bekas jari yang sangat merah di pipi kiri Sasuke. Kontras sekali dengan kulit pucat cowok itu.
Naruto sudah berdiri menghadap papan tulis, tangannya terkepal menahan marah. Kurang ajar sekali Teme sialan itu. Dia memang harus diberi pelajaran. Dia memang kuijinkan menciumku tempo hari, tapi bukan berati dia bisa seenaknya memeluk orang begitu. Aku kan bukan cewek murahan. Aku ini cowok! Cowok! Aku—
PLETAK!
Pikiran Naruto terhenti ketika sesuatu yang keras mengenai belakang kepalanya, membuatnya berdenyut sakit. Ia membalikkan tubuhnya, menatap seluruh kelas untuk melihat siapa yang baru saja melemparnya dengan buku yang sekarang sudah tergeletak di kakinya. Dilihatnya Sasuke bangkit berdiri dari kursinya. Jelas, dialah yang melempar buku itu.
"Apa-apaan kau?!" seru Naruto tidak terima, mengacungkan spidol yang digenggamnya ke muka pucat Sasuke. "Kenapa melemparku dengan buku?!"
"Kau menamparku duluan," jawab Sasuke. Seluruh kelas sudah menonton pertengkaran itu dengan asyik, rumus-rumus fisika tersapu dari otak mereka.
"Itu karena kau mesum!" Naruto membela diri.
Sasuke membelalak, begitu juga seluruh kelas. Tak ada yang menyangka ada yang berani mengatai Sasuke begitu. "Kau pikir badanmu cukup bagus untuk membuatku berpikiran mesum?" balas Sasuke.
Seluruh kelas terbelalak lagi. Mereka lebih tak menyangka Sasuke akan membalas ejekan itu. Sasuke kan terkenal stoic dan lebih banyak diam, apalagi jika berhadapan dengan cewek. Kenapa Sasuke mau-maunya meladeni Naruto?
"Jadi kau bilang aku nggak seksi gitu?" tantang Naruto sambil berkacak pinggang. Ia menatap Sasuke garang dengan mata birunya.
"Menurutmu?"
"Kau—"
"Cukup!" akhirnya Iruka memutuskan untuk menghentikan pertengkaran itu. "Kalian berdua, berdiri di lorong! Sekarang!" perintahnya. Kelihatan jelas kalau dia jengkel. Naruto membuka mulut hendak membantah, tapi Iruka berkata lagi. "Protes, atau kutambah hukuman kalian." Maka Naruto menutup mulutnya dan berjalan keluar kelas dengan lesu. Sasuke mengikuti di belakangnya.
"Ini semua gara-gara kau, Teme," keluh Naruto, meniup poni pirangnya.
"Siapa suruh menamparku duluan?" Sasuke masih tidak terima, tamparan Naruto sangat keras, dan masih nyeri sampai sekarang. Apa yang akan dikatakan kakaknya yang nomor tiga kalau tahu dia ditampar cewek? Dia pasti akan ditertawai habis-habisan.
Naruto menoleh menatap Sasuke sambil mencibir. "Siapa suruh main peluk duluan? Kau pikir aku apaan, hah?"
Sasuke membalas tatapan marah Naruto. "Aku nggak memelukmu, Dobe. Jangan GR."
Naruto mencibir. "Tanganmu yang melingkari pingganggku itu kau sebut apa, Teme? Mencolek?"
Sasuke menahan diri untuk tidak menendang selangkangan Naruto. "Memangnya kau senang kalau kau kubiarkan jatuh dan mempermalukan dirimu sendiri?"
Naruto menyipitkan matanya. "Kenapa kau menolongku? Aku nggak memintamu melakukan itu!" suara Naruto sudah naik setengah oktaf.
"Mana kutahu? Tubuhku bergerak sendiri, bodoh!" begitu juga suara Sasuke.
"Kalian berdua! Diam!" seru Iruka dari dalam kelas.
Sasuke dan Naruto langsung tutup mulut, kembali berdiri tegak, tak ingin hukuman mereka ditambah.
"Jangan cari masalah denganku, Teme," Naruto buka mulut lagi, berbisik kali ini.
Sasuke hanya melirik sosok di sampingnya. "Kau melamunkan apa tadi?" tanya Sasuke, akhirnya.
"Eh, anu…itu…" Naruto mendadak salah tingkah. Sasuke menunggu. Naruto menghela napas untuk menenangkan dirinya. Toh Sasuke sudah terbukti cukup bisa dipercaya dengan tidak membongkar rahasianya. Jadi apa salahnya kalau dia cerita? "Eh…itu, sebenarnya…" Naruto menelan ludah dengan gugup. "Tadi siang Nara-kun bicara denganku di atap. Aku menjelaskan padanya tentang ucapanku tadi pagi pada Sakura dan Ino. Dia bilang dia mengerti itu."
"Bagus kan?" ucap Sasuke, mangabaikan pikirannya tentang Naruto yang memanggil Shikamaru dengan cara yang sedikit berbeda. Setahunya, Naruto tidak biasa memanggil seorang cowok dengan embel-embel.
Naruto menghela napas lagi. "Dia juga bilang, 'ciuman Sasuke pasti masih membekas di pikiranmu.' Begitu…" Naruto mengulang kembali apa yang dikatakan Shikamaru padanya. "Aku khawatir dia melihat kita…eh, ciuman, di Hinamizawa waktu itu. Padahal kan aku nggak pakai penyamaran waktu itu. Gimana kalau dia tahu? Nara-kun kan jenius. Dia pasti sudah sampai pada kesimpulan tentang genderku yang sebenarnya…"
Sasuke menoleh menatap Naruto yang tertunduk lesu. Ia menepuk bahu Naruto pelan. "Kekhawatiranmu nggak beralasan. Shikamaru anggota klub drama. Bisa jadi ciuman yang dilihatnya itu ciuman waktu kita latihan minggu lalu kan?"
Naruto langsung mendongak menatap Sasuke. "Aku nggak berpikir sampai situ."
Sasuke menurunkan tangannya dari pundak Naruto. "Jelas. Otakmu nggak akan sampai."
Naruto merengut dan meninju lengan Sasuke. "Sialan kau."
-
"Naruto…kau ada dendam pribadi ya dengan Sasuke?" tanya Tenten saat ia, Naruto, Sakura dan Ino berjalan menuju ke ruang klub untuk ganti baju sebelum latihan drama. "Aku belum pernah lihat ada cewek yang berani memperlakukan orang terpopuler di sekolah ini kayak gitu…"
Naruto tertawa canggung. "Tampangnya sih memang cakep…tapi dia kan menyebalkan…"
"Tapi kan dia cowok idaman gitu…" kata Tenten lagi. "Masa kau sama sekali nggak tertarik padanya?"
Ih…amit-amit. Aku nggak bakal tertarik dengan cowok emo itu. "Nggak… aku—"
"Naruto kan naksir Shikamaru. Ya kan, Naru?" potong Sakura tiba-tiba, membuat Tenten membelalak.
"Yang benar?" tanya Tenten antusias.
"Eh…" Naruto tak bisa berkata-kata. "Hehe…ya begitulah…" responnya sambil tertawa garing. Walau sekarang dia sedang mendalami perannya sebagai cewek, dia sama sekali tidak pernah paham tentang kehebatan bergosip seorang cewek yang bagaikan Tinju Bintang Utara (1).
Tenten berdecak, menggelengkan kepalanya yang bercepol dua itu. "Kau benar-benar cari mati, Temari-senpai kan galak sekali…"
Naruto membuka pintu ruang klub dan mempersilakan gadis-gadis di belakangnya masuk lebih dulu. "Oh, begitu ya?" tanggap Naruto santai terhadap perkataan Tenten. Tenten, Sakura dan Ino hanya bisa bertukar pandang heran ketika mendengar nada bicara Naruto yang kelewat santai.
"Eh, Tenten, kau bisa hilangkah adegan ciuman di halaman dua puluh satu itu?" tanya Sakura, mengalihkan pembicaraan sambil mengeluarkan kaos putih dan celana jeans selutut dari dalam tasnya.
Tenten hanya nyengir. "Maaf, Sakura. Aku nggak bisa. Akan merusak jalan cerita," Tenten membela diri.
Naruto yang mendengar percakapan itu sambil memasukkan beberapa barang ke dalam lokernya ikut nimbrung. "Hilangkan saja," katanya tegas, dan mendadak penuh dendam, membuat yang lain menghentikan gerakan mereka karena terpengaruh aura membunuh yang tiba-tiba muncul dari gadis secantik Naruto.
"Tapi…" Tenten mencoba mempertahankan pendapatnya, namun tak ada yang keluar dari mulutnya.
Naruto menghela napas, membuat atmosfer santai lagi. "Kalau nggak bisa ya nggak apa-apa juga sih…" katanya. "Tapi jangan harap kali ini aku akan pasrah saja dicium olehnya!"
"Pasrah gimana? Bukannya yang kemarin itu malah kau sepertinya melakukannya dengan senang hati?" sindir Ino, melepas kancing kemejanya satu persatu dan memberi lirikan tajam pada Naruto.
Naruto menutup lokernya dengan jengkel dan membalikkan badannya menghadap gadis-gadis di belakangnya. "Pasrah ba—!" kata-katanya terhenti, seiring dengan makin membulatnya mata Naruto. Sakura, Ino dan Tenten sudah setengah telanjang, dengan santai ganti baju di depan Naruto.
Wajah Naruto sontak merah padam, tanpa melewati merah lebih dulu.
"Kenapa wajahmu jadi merah begitu? Kau demam?" tanya Sakura, sudah mulai melepas roknya juga.
"A-aku ke kamar mandi dulu!" kata Naruto gugup, langsung melesat keluar ruangan, tak mempedulikan tasnya yang tanpa sengaja tersenggol jatuh dalam usaha buru-burunya untuk segera keluar dari tempat penuh kemaksiatan itu.
Sakura, Ino dan Tenten hanya bisa cengok melihat Naruto yang sudah melesat keluar dengan kecepatan empat koma dua detik itu.
"Dia kenapa sih?" tanya Ino heran, melanjutkan acara ganti bajunya.
Sakura menggeleng tak paham. "Sampai menjatuhkan tasnya segala…" cewek berambut pink terang itu membungkuk untuk mengambil tas Naruto yang terjatuh dan hendak mengembalikannya ke atas meja, ketika sesuatu meluncur keluar dari dalam tas yang dibiarkan terbuka itu, menjatuhi kakinya.
Mata hijau Sakura melebar melihat apa yang jatuh dari tas itu. Ia memungutnya dan menyenggol lengan Ino untuk menarik perhatian cewek pirang itu.
"Apa?" tanya Ino.
"Ini kan…" Sakura menunjukkan benda yang jatuh dari dalam tas Naruto itu. Mata Ino juga membelalak kaget. Mereka berdua bertukar pandang penuh arti, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan ingin tahu Tenten.
-
Naruto tidak berhenti berlari sampai di ujung koridor, memastikan jaraknya dengan ruang klub cukup jauh. Ia terengah sambil memegangi dadanya, tempat di mana kira-kira paru-parunya terletak. Tangan satunya bertumpu pada tembok di sampingnya.
"Hah…sial… aku lupa kalau acara ganti baju itu sangat berbahaya buat kesehatanku…untung saja aku ini dididik baik-baik…" ucapnya pada dirinya sendiri. "Yang tadi itu nyaris saja…" Naruto menelan ludahnya dengan gugup ketika tiba-tiba bayangan akan belahan dada Ino memenuhi pikirannya. "Tidak!" ia mencengkram kepalanya, mengibas-ibaskan rambut pirangnya, mencoba menghilangkan pikiran-pikiran kotor dari otaknya. "Dewa Jashin, maafkan hambamu yang berdosa ini…"
"Memangnya kau habis melakukan apa?"
Naruto menoleh dengan kaget. "Eh, Nara-kun…sejak kapan kau ada di situ?" tanya Naruto gugup, melihat Shikamaru yang berdiri tepat di belakangnya.
"Kau berlari melewatiku tadi. Memangnya kau habis melakukan apa?" ulang Shikamaru.
Aku tadi melewatinya? Kok aku sampai tidak sadar ya? "Eh, bukan sesuatu yang penting kok…ehehehe…" jawab Naruto, langsung mengeluarkan tampang inosennya. Tapi entah kenapa dia berpikir kalau ekspresi itu takkan mempan pada Shikamaru. Cowok itu lebih mengandalkan logika daripada percaya begitu saja pada apa yang dilihatnya. "Kok kau nggak latihan di audit?" tanya Naruto, buru-buru mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau ke kamar mandi," jawabnya singkat, dan langsung ngeloyor pergi begitu saja. Naruto mengawasi punggung Shikamaru sampai dia menghilang di tikungan, dan menghela napas lega. Ia berbalik, membatalkan niat awalnya untuk sembunyi di kamar mandi selama beberapa menit, dan berjalan kembali ke ruang klub. Aku harus ingat untuk jauh-jauh dari Shikamaru mulai saat ini. Dia berbahaya.
-
Naruto membuka pintu ruang klubnya perlahan, dan mengintip lebih dulu ke dalamnya sebelum akhirnya melangkah masuk. Sudah tidak ada siapa-siapa di dalam. Sakura, Ino dan Tenten pasti sudah lebih dulu berangkat ke audit. Naruto menutup pintunya lagi dan menguncinya, sebelum bergegas ganti baju. Ia sama sekali tidak menyadari kalau, sekali lagi, identitasnya terancam.
-
"Hinata-chan~… aku akan membantumu!" seru Naruto riang beberapa menit kemudian, saat ia sudah berada di audit. Ia sedang tidak mengerjakan apapun karena Sasuke masih melatih adegannya dengan Sakura di awal drama. Ia berlari-lari kecil, menghampiri Hinata yang sedang mengurus pembuatan balkon. Tak ada Kiba di klub drama. Haha. Pikir Naruto riang.
"T-terimakasih, Naruto-chan…" kata Hinata, dengan senyum malu-malunya, membuat pikiran kotor Naruto tentang lekukan dada Ino menghilang sepenuhnya. "Tapi apa tidak apa-apa? B-biar yang cowok saja yang naik ke atas…"
Naruto tersenyum penuh semangat dan menepuk kepala Hinata pelan. "Tenang saja. Aku jago kalau masalah ketinggian. Dan Uzumaki Naruto ini tidak takut apapun!" kata Naruto sesumbar, membuat Hinata tertawa kecil.
"K-kalau begitu tolong ya…" kata Hinata penuh terimakasih. Cowok-cowok di tim dekorasi sedang sibuk membuat set medan perang yang memang sangat sulit. Padahal set itu akan digunakan paling akhir, tapi berhubung yang paling susah, maka diputuskan untuk dibuat lebih dulu. "Tolong perbaiki posisi jendelanya…" pinta Hinata.
Naruto mengangguk, dan mulai menaiki tangga. Rambut pirangnya yang diikat satu melambai indah di punggungnya. Dengan cepat, ia sudah sampai di atas, berdiri di atas balkon buatan itu. "Jendela yang mana?" seru Naruto sambil memandang ke bawah, ke arah Hinata.
"Y-yang itu…" Hinata menunjuk. "Yang b-belum ada lantainya…"
Naruto memandang ke arah yang ditunjuk Hinata, ke arah jendela yang masih mengambang di tempat yang mengerikan. "Ok!" kata Naruto sebelum berjingkat menuju jendela yang memang posisinya masih agak miring itu.
-
"Aku tak peduli dengan apa yang dilihat kecoak-kecoak pers itu, Haruno." Kenapa juga Tenten tetap menggunakan nama asli kami sebagai nama tokoh? Pikir Sasuke tak mengerti sambil mengucapkan dialognya pada Sakura.
"Tapi di The New York Gazette muncul artikel kalau Anda…"
"Jendela yang mana?" suara Naruto membuat Sasuke mengalihkan perhatiannya dari dialog yang sedang diucapkan Sakura. Ia mencari sumber suara dengan ujung matanya, dan langsung menemukan Naruto yang sedang berdiri di atas balkon, berseru pada Hinata. Dia masih belum menyerah pada cewek itu ternyata.
"Aku sudah mengatakan padamu kalau aku tak peduli dengan apa yang ditulis pers. Kalaupun mereka mengatakan aku gigolo sekalipun. Kau bisa keluar dari ruanganku sekarang, Haruno," Sasuke membalas dialog Sakura, begitu cewek itu selesai dengan dialognya sendiri, walaupun matanya masih tertuju pada sosok Naruto yang berada di atas balkon. Inilah salah satu keunggulan Uchiha Sasuke. Ia bisa membagi konsentrasinya dengan sangat baik.
Sakura yang berdiri di hadapan Sasuke mengangguk pelan dan hendak berbalik dan meninggalkan set ketika Sasuke tiba-tiba bangkit berdiri dari kursinya dan melesat melewatinya lebih dulu. Sakura terlonjak kaget dengan gerakan Sasuke yang terlalu mendadak. Gerakan Sasuke tadi kan nggak ada di naskah? Lantas kenapa… pikir cewek itu bingung. Ia menoleh, mencari tahu kemana Sasuke pergi. Dan detik berikutnya, ia merasa menyesal karena mencari tahu.
-
Sasuke masih mengawasi Naruto ketika Sakura hendak berbalik dan melangkah pergi. Dan prediksinya tepat. Naruto memang punya masalah dengan keseimbangan tubuhnya. Semua gerakan Naruto yang berada beberapa meter di depannya tampak seperti gerakan slow motion di mata Sasuke. Ketika Naruto berjingkat menuju sisi lain balkon, mencoba meraih bingkai jendela di sana, satu tangannya berpegangan pada pinggiran balkon, berusaha keras mencapai jendela yang dasarnya belun diberi lantai itu. Dan, sudah seperti Sasuke duga, Naruto kehilangan keseimbangan.
Refleks, Sasuke langsung bangkit berdiri dari kursinya, melesat cepat ke arah Naruto. Kali ini timing-nya pas. Ia sudah berada di bawah Naruto sebelum cewek itu jatuh menghantam lantai. Ia memandang ke atas, ke tubuh Naruto yang jatuh dengan mulusnya ke bawah. Sasuke mengangkat kedua tangannya, bersiap menangkap tubuh Naruto. Sasuke mundur selangkah, dan selangkah lagi, memastikan posisinya tegak lurus dengan sasarannya.
Naruto mendarat tepat di kedua lengan Sasuke yang terjulur dengan suara 'bluk' pelan. Cewek itu memejamkan kedua matanya, jelas sekali menantikan saat-saat dia sudah terkapar di lantai. Sasuke mendengus geli melihat ekspresi konyol itu.
"Jatuh kok pasrah," sindir Sasuke sinis.
Suara Sasuke membuat Naruto membuka matanya. Jantungnya berdegup kencang ketika mata birunya menatap wajah Sasuke yang menunduk di atasnya, dengan senyum meremehkan. Senyum yang sangat dibencinya itu tampak sangat berbeda. Wajahnya memanas.
Tapi dengan segera Naruto menemukan kesadarannya. Ia memukul-mukul dada bidang Naruto dengan gaya kecewek-cewekan. "Mesum! Mesum! Mesum! Mesum! Mesum! Mesum! Me—!"
BRUK.
Kesal, Sasuke menjatuhkan tubuh Naruto begitu saja.
"Aw…" keluh Naruto yang tergeletak di lantai, memegangi pantatnya yang sangat nyeri. Hinata bergegas menghampiri Naruto, dan berlutut di sampingnya.
"Naruto-chan…k-kau baik-baik saja?" tanyanya panik.
"Eh…aku baik-baik kok, Hinata-chan… nggak usah khawatir," jawab Naruto cepat, tersenyum semanis mungkin pada Hinata. "Kau bisa mundur sebentar? Habis ini ada adegan yang sebaiknya tidak dicoba di rumah lho…" Naruto memperingatkan, masih dengan senyum manis.
Hinata memandang Naruto bingung, tapi ia segera menyingkir. Naruto bangkit berdiri dan berkacak pinggang di depan Sasuke yang masih berdiri dengan gaya sok cool-nya.
"Apa?" tanya Sasuke ketus ketika mata Naruto menatapnya garang.
"Ini kedua kalinya hari ini, Teme!" seru Naruto emosi. "Ini kedua kalinya kau pegang-pegang tubuhku seenaknya!"
"Itu namanya refleks, Dobe. Kalau nggak mau ditolong, ya sudah," kata Sasuke dingin, dan membalikkan tubuhnya, berjalan kembali ke arah Sakura yang masih melongo di depan set tadi. Sebenarnya bukan hanya Sakura yang berekspresi begitu. Semua orang yang ada di audit menghentikan kegiatan mereka hanya untuk menonton Sasuke dan Naruto. Jari Ino malah sudah berdarah-darah karena tertusuk jarum saat ia menjahit kostum, tapi dia mengabaikannya. Rasa sakit di jarinya tak ada artinya dibandingkan dengan rasa sakit di hatinya.
"Jangan panggil aku dobe!!" jerit Naruto sebal, mengarahkan tinjunya ke belakang kepala Sasuke.
Sasuke yang refleksnya bagus langsung menggeser posisi kepalanya sehingga kepalan tangan Naruto mengenai udara kosong. Ia memanfaatkan jeda yang ada untuk menangkap tangan kecoklatan Naruto dan memelintirnya, membuat Naruto mengumpat keras, melupakan tata kramanya sebagai cewek yang membuat semua cowok di audit mengernyit, kecuali Sasuke.
"Sialan kau, Teme!" seru Naruto, meringis kesakitan. Ia mengarahkan mulutnya ke tangan pucat Sasuke yang memelintirnya, berniat menggigitnya.
Sasuke langsung melepaskan pelintirannya, tidak mau tertular rabies karena gigitan Naruto.
Naruto mendelik pada Sasuke, tapi beberapa detik kemudian dia langsung mengeluarkan air mata buayanya, menangis keras dengan kedua tangan menutupi wajahnya. "Hwee…Uchiha kasar padaku… dia membenciku…hwee…"
Suigetsu yang sejak tadi memperhatikan pertengkaran dengan serius langsung berjalan ke arah Naruto dan merangkulnya dengan lembut, membuat Sasuke merasakan sengatan kecil di dasar perutnya.
"Heh, Sasuke, kau ini nggak bisa ya nggak kasar sama cewek secantik Naruto?" labrak Suigetsu emosi. Beginilah kalau playboy kelas kakap mulai beraksi, sok ksatria di depan incaran.
Sasuke hanya mendengus. Ia tiba-tiba merasa sangat kesal pada Suigetsu, dan itu bukan disebabkan karena cowok itu termakan tangis palsu Naruto.
"Tempo hari kau mengintimidasinya, sekarang kau menyakitinya. Maumu apa sih?" tantang Suigetsu, mengeratkan rangkulannya pada Naruto.
Mata Sasuke terarah pada tangan Suigetsu di kedua bahu Naruto. "Itu bukan urusanmu," jawab Sasuke, masih sedingin es.
"Kalau aku melihatmu menyakiti Naruto lagi, kau akan kuhabisi," desis Suigetsu, mengelus lengan Naruto lembut, mencoba menghentikan isakannya.
Mata Sasuke menyipit melihat gerakan Suigetsu barusan. "Memangnya kau bisa apa melawanku?"
Suigetsu membelalak marah. Ia sudah mengenal Sasuke sejak SMP, dan bisa dibilang hanya dia teman dekat Sasuke. Ia belum pernah merasakan ketajam mulut Sasuke, tapi tampaknya kali ini Sasuke sudah melupakan ikatan di antara mereka. Suigetsu tak mengerti kenapa Sasuke bisa jadi emosi juga, ia pikir cowok pucat itu akan langsung menyingkir begitu ia merangkul Naruto tadi. Seperti itulah cara kerja Suigetsu. Menghampiri cewek yang patah hati karena Sasuke, dan membuat mereka berpikir kalau Suigetsu lebih baik. Tapi sepertinya kali ini berbeda.
"Kau—"
"Suigetsu, lepaskan Uzumaki dan lanjutkan pekerjaanmu," potong Shikamaru mendadak. "Ngapain kau cari masalah dengan ketua klub? Merepotkan saja."
Suigetsu masih beradu pandang dengan tatapan tajam dengan Sasuke.
"Suigetsu," panggil Shikamaru lagi.
Suigetsu mendecak kesal, dan melepaskan rangkulannya di tubuh Naruto, berjalan ke arah Shikamaru yang tadi membantunya menyelesaikan setting.
Sasuke menoleh ke arah Shikamaru, yang bergumam, "Mendokusei," dengan tampang malas seperti biasa, sebelum menyerahkan palu pada Suigetsu yang masih kesal. Naruto sudah menghentikan tangis pura-puranya, tapi mata Sasuke masih terarah pada Shikamaru. Instingnya mengatakan kalau Shikamaru sengaja memotong pertengkarannya dengan Suigetsu barusan. Dan perbuatannya itu disebabkan oleh suatu alasan yang hanya diketahui cowok jenius itu sendiri. Pikiran itu membuat Sasuke tidak tenang, entah kenapa. Tidak biasanya wakilnya di klub drama itu mau melakukan hal merepotkan seperti melerai pertengkaran orang lain.
Sakura yang masih mematung di kejauhan mencengkram benda yang tadi diambilnya dari tas Naruto dengan kesal. Aku akan memberi cewek pirang itu pelajaran. Lihat saja nanti.
_Tsuzuku_
(1) nama salah satu jurus di Saint Saiya kayaknya O.o
Happy NaruSasu day! ^^ gomen semuanya, saya malah buat SasuNaru di hari istimewa ini….u.u
Kapan fic ini masuk ke perumitan yang sebenarnya….=3=
Mind to review? ^^
