Jongin terbangun karena cahaya matahari yang sebenarnya cukup lama menyinari dinding kamarnya di apartemen. Jongin menggeliat malas dan bergerak ke samping untuk menghindari refleksi cahaya itu ke retina matanya ketika kelopaknya terbuka.
Sebentar.
Siapa yang membukakan jendela kamarnya?
"Kyungsoo!"
Jongin sontak terduduk—dengan wajah gelisah memandangi sekelilingnya. Jongin tahu dan sepenuhnya sadar bahwa semalam ia sudah meniduri Kyungsoo—ia juga ingat ia merengkuh Kyungsoo dalam pelukannya sampai pemuda mungil itu jatuh tertidur sambil menahan nyeri di bagian bawahnya.
Jongin meremas rambutnya kasar dan sedikit menjambaknya. Ia sangat kesal mengetahui Kyungsoo tidak ada di sebelahnya pagi ini.
Dimana Kyungsoo sekarang?
.
.
Secret Delta © Thousand Spring
Cast: Do Kyungsoo, Kim Jongin, Kim Junmyeon, Zhang Yixing etc (new chara; Oh Sehun)
Rating: T+ disini
Warning: boyslove! AU! OOC! Kaisoo slight!junkyung pair! (and maybe sulay or layho soon?) Beware of typo(s)!
.
.
Jongin—dengan-sungguh-sangat-terpaksa—akhirnya memutuskan untuk pergi ke rumah keluarganya. Ia sangat clueless sekarang setelah nomor ponsel Kyungsoo tidak dapat dihubungi. Terserah—meskipun nanti Junmyeon akan melihatnya dan menyuruhnya untuk menjilat kembali ludahnya, Jongin tidak peduli.
Terserah.
"Kyungsoo tidak ada disini, Jongin. Bukankah semalam ia ada di apartemenmu?"
Wajah Jongin pucat ketika Nyonya Kim berkata demikian, "A-apa?"
"Kau kenapa, Jongin? Ada apa dengan Kyungsoo?" kali ini Nyonya Kim yang balik bertanya—wajahnya terlihat begitu khawatir. Memikirkan kemungkinan terburuk bahwa Kyungsoo menghilang.
Jongin tidak menyahut ucapan Nyonya Kim. Pemuda itu bergegas naik ke lantai atas—ke kamar Junmyeon.
Ia berpikir dengan kepanikan dan kekalutan, mungkin saja Junmyeon tengah menyembunyikan Kyungsoo sekarang. Tapi, nihil. Begitu sampai di kamar Junmyeon, yang Jongin lihat adalah Junmyeon yang sedang duduk di ranjangnya dengan seorang pemuda—awalnya Jongin pikir itu Kyungsoo—namun, pemuda itu lebih tinggi dan rambutnya lebih terang dibandingkan dengan rambut Kyungsoo yang hitam legam. Pemuda asing itu tampak tengah menyuapi Junmyeon.
Junmyeon yang baru saja menelan kunyahan pertamanya menangkap siluet Jongin yang berdiri di depan pintu kamar. Yixing yang penasaran jadi ikut mengarahkan pandangannya ke arah yang sama dengan Junmyeon dan menemukan sosok Jongin disana.
"Dia kah adikmu?" tanya Yixing pelan pada Junmyeon—ia tahu hubungan kedua saudara se-ayah itu tidak baik dan Yixing pikir ia harus berhati-hati dalam bertanya untuk masalah ini.
"Benar." Junmyeon menjawab lemah.
Yixing menatap kearah Jongin dan tersenyum, "Kau mau masuk?"
"Dimana Kyungsoo?"
Eh?
Junmyeon menatap Jongin tidak mengerti, "Kau bertanya pada siapa, Jongin?"
Jongin menggertakkan gigi—ia tahu Junmyeon tidak berbohong, tapi, ia juga tahu akalnya menolak untuk percaya. Jongin menari nafasnya dan bertanya sekali lagi.
"Dimana Kyungsoo?"
"Jongin, aku bersumpah aku tidak mengerti. Semalam Kyungsoo sudah pergi dari sini dan Umma sudah mengatakan ia ada bersamamu." Junmyeon menyahut, "Oh, apa kau tidak bisa memperlakukannya dengan baik sehingga ia memilih pergi, huh? Aku benar kan?"
Sial! Kata-kata Junmyeon benar-benar menusuknya.
Yixing menatap datar kedua saudara tersebut, lalu ia membisiki Junmyeon, "Jangan memancing emosinya, dia sedang tidak stabil, Junmyeon."
Junmyeon menatap Yixing dengan tatapan terganggu, "Apa-apaan kau?"
"Junmyeon, ingatlah, dia adikmu." Ujar Yixing lagi. " Bukannya semalam kau sudah memutuskan akan bertindak lebih baik padanya? Kau sendiri yang berkata Kyungsoo tidak memilihmu. Seharusnya kau harus bisa lebih sabar pada Jongin jika menyangkut Kyungsoo." kali ini berhasil membuat Junmyeon terdiam.
Hah. Junmyeon menghela nafas. Ia mengangguk pelan pada Yixing dan kembali menatap Jongin.
"Aku benar-benar tidak tahu dimana Kyungsoo berada, Jongin." Ujar Junmyeon—lebih tenang dengan suara yang lebih rendah dibanding biasanya.
Jongin yang mendengar ucapan lemah kakaknya juga jadi lebih luluh. Pemuda yang tadinya sempat meluap akan kemarahan itu menghela nafasnya pelan.
"Maaf mengganggu waktumu, hyeong." Ujarnya lalu beranjak pergi.
Nyonya Kim ternyata sudah berada di bawah tangga sejak tadi. Wanita itu meraih lengan Jongin ketika pemuda itu hampir melewati posisinya.
"Umma pikir, dia mungkin berada di rumahnya yang lama sekarang, atau mungkin berada dirumah ibunya." Ujar Nyonya Kim, "Umma akan menyuruh Kris untuk mengantarkanmu ke sana, Jongin. Jika Kyungsoo begitu penting untukmu, kau pasti tidak akan menolak tawaran Umma sekarang."
Jongin menatap Nyonya Kim lalu meraih tangan wanita itu, "Umma."
"Ya?"
"Terima kasih..."
.
.
Kris menatap Jongin di belakangnya yang kelihatan begitu gelisah. Pemuda yang lebih tua berdehem—membuat atensi Jongin teralih padanya.
"Apa yang kau lakukan dengan Kyungsoo tadi malam?"
Jongin menatap balik Kris dengan pandangan yang—entah seperti apa bila dijabarkan, gelisah namun datar.
"Dia memintaku menciumnya, kami tidak bisa mengendalikan diri, dan akhirnya aku menidurinya di ranjangku."
Sukses. Ucapan Jongin sukses membuat Kris tersedak ludahnya sendiri.
"Apa? Jongin—kau—bernyali sekali." Ujar Kris pada akhirnya, "Aku tidak menyangka Kyungsoo sudah disentuh."
"Itu semua salah." Jongin mendesah lelah, "Seharusnya aku bisa menahan diriku. Tapi, perasaan ingin diakui itu terlalu menggebu-gebu. Aku kesal padanya. Aku tahu dia juga menyukaiku, tapi, Kyungsoo tidak mau mengakuinya. Bahkan—" Jongin menghela nafas lagi, "Bahkan setelah kami melakukan semuanya semalam, aku belum mendengar pengakuannya."
Hening sejenak. Diam-diam Kris khawatir dengan kondisi Jongin. Sambil tetap fokus menyetir, Kris bertanya lagi.
"Apa menurutmu pengakuan itu harus dengan kata-kata, Jongin?"
Jongin terdiam.
"Menurutmu, apa kata-kata dapat lebih dipercaya dibandingkan tindakan?"
Jongin tertunduk, lantas memejamkan matanya.
"Tidak... tahu."
Ya, Jongin memang tidak tahu.
Ketika ia memimpikan Kyungsoo dalam tidurnya tadi pagi—Kyungsoo yang berucap bahwa pemuda mungil itu juga mencintainya—
—Itu adalah kenyataan.
.
.
Jongin menatap rumah lama Kyungsoo yang kelihatan tidak terawat. Rumah itu sederhana, jauh dari rumah keluarganya jika dibandingkan dengan kemewahan. Jongin terdiam, ingatannya tiba-tiba mengenang Tuan Do yang selalu terlihat sederhana meskipun ia sudah jadi kepala pelayan rumahnya selama dua tahun sebelum ia meninggal.
"Pintunya dikunci, Jongin. Kyungsoo sepertinya tidak ada disini."
Jongin menoleh kearah Kris yang berjalan kearahnya, "Benarkah? Bagaimana dengan jendela-jendela lainnya, hyeong?"
"Semua tertutup. Kyungsoo kemungkinan tidak ada disini. Lagipula, tetangga yang memegang kunci rumah ini juga bilang bahwa tidak ada Kyungsoo—tidak ada orang yang meminta kunci rumah untuk membuka rumah ini sejak terakhir kali ibu Kyungsoo mencari sertifikat rumah ini untuk digadaikan setahun lalu."
Jongin menghela nafasnya—nyaris putus asa. "Jadi, kita kemana lagi?"
"Rumah ibu Kyungsoo? Mungkin Kyungsoo ada disana, Jongin."
Jongin menganggukkan kepalanya. Tanpa bicara lagi, pemuda itu segera menuju mobil yang tadi dikemudikan Kris dan masuk ke dalamnya dengan sedikit gusar.
"Sabarlah, Jongin." Kris masuk tidak lama kemudian dan memasang sabuk pengamannya, "Kita pasti akan menemukan Kyungsoo."
Jongin mencoba tersenyum.
"Aku harap begitu, hyeong..."
.
.
"Umma!"
Ibu Kyungsoo—Nyonya Do—atau mungkin lebih baik memanggilnya Nyonya Oh sekarang—sedikit terkejut mendapati putra suaminya—Sehun—memanggilnya dari ruang depan.
"Ada apa, Sehun?" tanya wanita itu.
"Ada dua orang laki-laki yang mencari Umma di depan. Aku tidak mengenali mereka." Ujar Sehun. Rambut anak laki-laki itu terlihat berantakan dan wajahnya terlihat kusut.
"Kau baru merakit motor orang lagi, Hunnie?"
Sehun tersenyum tipis, "Tao bilang dia akan memberikan banyak upah untuk ini. Aku tidak mau menunggu Appa membelikan sepatu bola yang kuinginkan."
Nyonya Oh tersenyum, "Baiklah, bekerjalah lagi kalau kau menyukainya. Umma akan menemui orang itu."
Sehun mengangguk dan Nyonya Oh bergegas menemui dua tamu yang masih menunggu di depan rumahnya—Jongin dan Kris.
"Ah.." Nyonya Oh sedikit terkejut ketika mendapati ada sosok yang dikenalnya—Kris diantara dua lelaki itu.
"Annyeong, Nyonya Oh." Kris bergegas membungkuk—berikut Jongin yang mengikutinya, "Anda masih mengingat saya?"
"Kau suruhan keluarga Kim waktu itu kan?"
"Benar, Nyonya." Kris tersenyum, "Ada yang ingin kami tanyakan kemari."
Mata Nyonya Oh melebar, entah kenapa firasatnya tidak baik, "Ada apa?"
"Apa Kyungsoo ada disini?" tanya Jongin—mengambil cepat jatah Kris—yang sebenarnya baru ingin membuka mulutnya.
"Kyungsoo?" Nyonya Oh merubah mimik wajahnya menjadi panik, "Apa maksud kalian?! Jangan bilang Kyungsoo menghilang!"
Sudah pasti—
—Kyungsoo tidak ada disini.
Jongin hanya mampu menunduk dan Kris menggumamkan kata maaf untuk Nyonya Oh serta menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Nyonya Oh kemudian terisak-isak sambil menyebut nama Kyungsoo berkali-kali. Hal itu membuat Jongin merasa semakin bersalah.
Ya Tuhan. Ia harus mencari Kyungsoo kemana lagi? Jongin meringis. Tubuhnya memanas tiba-tiba. Ia tidak mau menyerah mencari Kyungsoo. Tapi, apa yang harus ia lakukan sekarang?
"Nyonya..." Jongin berucap pelan dan menyentuh lembut pundak Nyonya Oh dengan kedua tangannya. Nyonya Oh mengangkat wajahnya dan menatap wajah serius Jongin.
"Aku berjanji aku akan mencari Kyungsoo. Aku berjanji akan mendapatkannya."
.
.
Jongin dan Kris pergi dari rumah ibu Kyungsoo—rumah keluarga Oh ketika jam menunjukkan pukul lima sore. Jongin banyak memijat kepalanya saat mereka menyusuri padang rumput yang di tengahnya ada banyak sekali domba gembalaan. Kris menatap Jongin sebentar untuk memastikan keadaan anak itu sebelum kembali fokus ke jalanan mirip pedesaan yang mereka lewati.
"Mau kemana lagi, Jongin?"
Jongin menatap Kris dengan malas, "Lebih baik cari makanan dulu, hyeong. Aku lapar."
"Kau mau makan apa?"
Jongin menyengir—sedang berpikir, "Hmm.. aku sedang ingin makan jajanan pinggir jalan."
"Whoa, seleramu memang beda dari orang rumah ya?"
Kris menepikan mobilnya ketika matanya melihat ada orang yang menjual jajanan kaki lima. Jongin langsung bersorak dan keluar dari mobil dengan cepat. Melihat tingkah anak itu, Kris hanya tertawa dan menyusul Jongin yang sudah mengambil setusuk odeng dan memakannya dengan lahap. Suasana di lapak pedagang itu cukup tenang, hanya ada Kris, Jongin, dan seoarang wanita dengan jaket bertudung berwarna abu-abu yang meminta dibungkuskan tteokbokki.
"Ooi, Jongin. Kau akan bayar sendiri kan?" tanya Kris begitu melihat Jongin mulai mengambil tusukan kedua.
Jongin tersenyum konyol dengan mulut menggembung penuh makanan, "Tenang saja, hyeong. Aku bawa uang kok."
Wanita yang sedang menunggu pesanannya sedikit terkejut begitu mendengar pembicaraan mereka. Ia menoleh kearah kedua pemuda disampingnya dan tanpa sengaja pandangan matanya bertumbukan dengan Jongin.
Dan saat itulah waktu terasa seperti berhenti.
"Nyonya, ini pesanan Anda."
Wanita itu segera memutus kontak matanya dengan Jongin, meraih bungkus plastik tteokbokki yang ia pesan dan membayar dengan uang pas, "Terima kasih."
Jongin masih menatap tidak percaya wanita dengan setelan celana training dan jaket tebal abu-abu itu bahkan sampai wanita itu berlari menjauh dari kedai makanan kecil tersebut.
Kenapa? Kenapa begitu mirip?
Kenapa wanita itu sangat mirip dengannya?
"Jongin, kau kenapa?" tanya Kris, begitu menyadari Jongin terus menatap wanita yang tadi membeli tteokbokki. Jongin menggelengkan kepalanya lalu menatap Kris.
"Hyeong, apa kau tadi melihat wajahnya?"
Kris menaikkan sebelah alisnya, "Siapa? Wanita tadi?"
Jongin mengangguk, tapi, Kris membalasnya dengan gelengan, "Wajahnya tertutup hoodie yang dia pakai."
Ah. Jongin menghela nafasnya. Memilih untuk kembali memakan odeng tusuk keduanya yang belum habis, lalu ia melirik bibi penjual makanan di depannya. Jongin menelan kunyahannya.
"Bibi, apa Bibi mengenal perempuan yang tadi?" tanya Jongin.
Bibi yang terlihat tua itu tersenyum hangat, "Oh, yang tadi itu. Dia pelanggan tetap disini. Aku tidak tahu namanya, tapi, yang kutahu dia adalah seorang penulis manhwa. Lihat ini, dia pernah memberi anakku manhwa buatannya." Bibi itu memperlihatkan manhwa dengan sampul dua orang anak yang saling berpegangan tangan. Jongin meraih manhwa itu dan membaca nama penulisnya.
Mata Jongin melebar begitu melihat nama pengarang yang tertera di buku berukuran cukup kecil itu.
"J-Jung Soomi..."
.
.
"Aku tidak tahu dimana ibumu sekarang ini, Jongin."
Jongin menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya, "Benarkah?"
"Yang aku tahu dia sekarang bekerja sebagai penulis manhwa—karena ia sangat menyukai seni dan menggambar. Namanya adalah Jung Soomi."
.
.
Jung Soomi! Perempuan tadi... ibunya—ibu kandungnya.
"Kris-hyeong... wanita tadi..." Jongin sedikit terengah, pemuda itu menelan ludahnya dengan kasar dan Kris memegangi pundaknya lalu sedikit mengguncang bahu Jongin.
"Jongin, kau baik-baik saja? Ada apa?"
Jongin menyingkirkan tangan Kris di pundaknya dan menatap pemuda yang lebih tinggi dengan mata yang menunjukkan frustasi—dan sedikit kebingungan.
"Wanita tadi—wanita yang membeli tteokbokki tadi—" Jongin sekali lagi menelan ludahnya dengan kasar, "Dia ibuku—ibu kandungku!"
.
.
Junmyeon menatap salju yang turun malam ini dengan mata kosong dari pintu kaca balkon kamarnya. Yixing ada di sampingnya—sibuk menggunakan ponsel.
"Apa Jongin belum juga kembali?" tanya Junmyeon.
Yixing yang tadinya menunduk untuk melihat layar ponselnya menatap Junmyeon yang masih menatap salju dengan pandangan kosong. Yixing tahu pemuda yang satu itu sedang gelisah.
"Kau akhirnya bisa mengkhawatirkan adikmu juga." Ujar Yixing—tidak bermaksud menyinggung. Namun, Junmyeon sedikit tersentak begitu menyadarinya. Pemuda yang tengah terduduk di kursi rodanya itu ingin mengucapkan sebuah denialisasi yang sesungguhnya sudah ia rancang—yaitu, ia yang sebenarnya lebih mengkhawatirkan Kyungsoo yang sedang dicari Jongin. Tapi, kalimat yang sudah berada di pangkal lidahnya itu memang hanya sampai di ujung tenggorokannya saja begitu Junmyeon bertemu pandangan dengan Yixing.
Tercekat.
Junmyeon tidak tahu kenapa. Tapi, Yixing memang bukan pemuda sembarangan. Menatapnya saja membuat orang lain tidak bisa berkata bohong. Yixing seperti memiliki aura yang bisa membuat orang lain tanpa sengaja membuka tabir yang sudah disembunyikan dengan baik-baik. Pemuda itu memang manis—dan sesungguhnya memiliki sesuatu yang tajam dibalik keramahannya.
"Tidak ada kalimat penyangkalan lagi?"
Junmyeon tertawa sinis mendengar Yixing bicara seperti itu, "Sebelum aku membuka mulutku pun, kau pasti sudah tahu apa yang ingin aku katakan."
Yixing tersenyum manis. Akhirnya memilih menyimpan poselnya di saku celana dan benar-benar duduk menghadap Junmyeon yang beranjak untuk membuka pintu balkon kamarnya. Pemuda itu memutar roda di kursinya untuk maju ke balkon. Angin dingin menerpa wajah Junmyeon dan sedikit menerbangkan helai rambut yang menutupi dahinya. Yixing terkesima untuk sesaat ketika tangan Junmyeon terangkat guna merasakan serpihan salju tipis yang turun dari langit dengan perlahan. Memperhatikan wajah asli Junmyeon yang sesungguhnya sangat murni dan tenang.
"Apa musim dingin selalu seperti ini?" gumam Junmyeon, "Gelap, sepi, dan beku."
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tany Yixing. Menumpukan sikunya pada lutut dan dagunya ditumpukan pada jari punggung tangan yang bertaut.
"Ketika musim dingin, ayahku akan jarang pulang. Ketika musim dingin, ibuku lebih senang mendongengkan cerita sedih. Ketika musim dingin, Jongin selalu sakit demam—waktu-waktu dimana aku tidak malu menegakkan wajahku di depan mukanya yang memerah dengan kompres. Ketika musim dingin, rumah akan semakin dingin. Dan tahun ini yang terparah." Junmyeon memperhatikan salju yang meleleh perlahan diatas jari telunjuknya. Wajahnya berubah menjadi datar dengan sendu yang semu—karena ini hanya terlihat dari sudut pandang Yixing saja.
"Apa mungkin ini semua kesalahanku juga, Xing?" tanya Junmyeon dengan gigi bergemeletuk—tanpa sadar pemuda itu sudah kedinginan.
Yixing bangkit dari kursi yang ia duduki. Pemuda itu mendekap tubuh Junmyeon dari belakang—Yixing bisa merasakan leher dan sisi rahang Junmyeon yang terasa dingin.
"Kesalahan—bahkan yang fatal sekalipun sebenarnya adalah hal yang wajar bagi manusia. Tapi, menurutku, kesalahan terbesarmu adalah menganggap Jongin sebagai musuh dan tidak peduli pada dirimu sendiri. Kau selalu menyerah pada kondisimu, Junmyeon. Padahal kau masih begitu berharga, kau masih punya masa depan yang menjanjikan—terutama dengan keadaan keluargamu yang sesungguhnya selalu bisa mendukung keinginanmu."
Junmyeon sedikit terengah karena udara dingin. Ia sedikit menyamankan posisinya pada dekapan Yixing dan memejamkan matanya, "Kau bisa berkata seperti itu, Yixing. Karena dirimu masih sehat. Fisikmu tidak kurang suatu apapun."
"Omong kosong."
Junmyeon sedikit terkejut ketika Yixing menyingkap lengan bajunya—memperlihatkan sebuah bekas luka sayatan tipis namun bekasnya begitu banyak jahitan.
"I—ini."
"Aku punya hemofilia." Aku Yixing. "Luka kecil saja bisa membuatku hampir meninggal. Kau jauh lebih beruntung dibandingkan aku, Junmyeon."
Junmyeon tidak bisa berkata apapun, ia meraba bekas luka Yixing dengan perlahan—merasakan guratan kasar pada permukaan kulit di bawah pergelangan tangan Yixing.
"Dokter Jeon bilang, kau masih punya harapan untuk kembali normal, Junmyeon. Tapi, itu bergantung pada niatmu—meski kemungkinannya kecil sekali, aku yakin kau pasti bisa kembali seperti dulu. Mungkin untuk mengembalikan kondisi pikiran dan emosimu memerlukan waktu lama dengan banyak terapi. Tapi, aku yakin kau masih punya cita-cita bukan? Dulu aku juga hampir menyerah menjadi perawat karena ku memiliki trauma dengan darah—" Yixing tertawa mengingat dirinya yang dulu sangat takut meski hanya dengan setitik darah yang kering, "Keluargaku begitu mendukungku, dan aku nekat pergi ke Seoul seorang diri. Kau tidak akan tahu betapa jauhnya Changsa dari sini."
"Lalu Dokter Jeon menemukanku. Beliau dengan istrinya mengangkatku sebagai anak setelah mengetahui bakatku dalam teori di bidang medis—dan tentunya setelah mereka tahu bahwa aku memiliki hemofilia."
Junmyeon meneguk ludah, "Kau memiliki waktu yang jauh lebih berat daripada aku."
Yixing tertawa, "Diatas langit ada langit, Kim Junmyeon. Ketika kau merasa bahwa kau adalah yang paling memiliki penderitaan, maka akan ada orang yang memiliki penderitaan lebih berat darimu."
.
.
Jongin menjatuhkan dirinya di sofa ruang tamu sambil memijat pelipisnya. Pemuda itu memejamkan matanya dengan erat—memikirkan apa saja yang sudah terjadi hari ini.
Pertama, ia tidak menemukan Kyungsoo dimanapun.
Kedua, ia malah bertemu penulis yang diduganya kuat adalah ibu kandungnya—dan Jongin dibuat kaget dengan rupa mereka yang begitu mirip, ia dan wanita pembeli tteokbokki itu.
Ketiga, ia cukup lelah hari ini—dan ia tidak siap ketika nanti Junmyeon akan melemparinya dengan sejumlah ucapan remeh karena tidak berhasil menemukan Kyungsoo.
"Jongin."
Jongin tersentak ketika ia mendengar suara Junmyeon—mengejutkan menemukan kakaknya itu belum tidur pada malam selarut ini. Kris bahkan langsung menuju kamarnya dan tertidur sehabis tiba di rumah majikannya itu. Jongin menghadap Junmyeon yang sekarang sedikit memaksakan dirinya menggunakan kruk dengan wajah sangat kaget.
"H-hyeong..."
Junmyeon meringis ketika dengan susah payah ia berusaha menuruni tangga. Namun, sampai di tiga tangga terakhir, kaki Junmyeon yang belum terlalu kuat melangkah kurang seimbang dan membuat tubuhnya oleng. Junmyeon pasti akan jatuh tersungkur apabila Jongin tidak cepat tanggap dan berlari menuju tangga untuk menahan tubuhnya.
Jongin merasakan keringat dinginnya mengalir, "Kau ini apa-apaan, hyeong?"
Junmyeon tersenyum kecil selagi Jongin membimbing tubuhnya menuju sofa dan mendudukkannya disana.
"Jongin, apa kau sudah tahu dimana Kyungsoo?" tanya Junmyeon.
Jongin meneguk ludahnya, ia menatap Junmyeon yang menatapnya penasaran sebelum akhirnya menggeleng dengan kepala tertunduk.
Diluar dugaan, Jongin tidak menerima ucapan remeh seperti yang sudah ia perkirakan. Junmyeon malah mengusap rambutnya dengan sedikit kasar—hampir seperti menggusak. Jongin menatap Junmyeon yang menatapnya dengan senyum canggung.
"Hyeong—" suara Jongin tercekat, "—kenapa?"
"Jongin, aku ingin memperbaiki semuanya..." bisik Junmyeon, "Aku sadar aku hanya mementingkan amarahku padamu selama ini. Maafkan aku..."
Apa?
Jongin menatap Junmyeon dengan pandangan yang tidak bisa dipercaya. Bibirnya sedikit terbuka karena rasa keterkejutan itu. Pemuda itu belum habis dari rasa terkejutnya saat Junmyeon mengusap pelan sebelah matanya.
"H-hyeong—kau menangis?" Jongin jadi sedikit panik, sementara Junmyeon terkekeh pelan.
"Tidak apa, mataku hanya sedikit perih. Kau tidak perlu khawatir, Jongin." Ujar Junmyeon, kembali menatap Jongin—kali ini penuh harap.
"Apa, hyeong?"
"Kau tidak mau memaafkan aku?"
Jongin tersenyum canggung sebelum memeluk tubuh kakak lelakinya yang sedikit lebih kecil. Junmyeon menepuk bahu Jongin dan tertawa lirih dengan nada bahagia—sebelum akhirnya pemuda itu menguap lebar. Mengantuk.
Jongin terkekeh, "Tidurlah, hyeong. Aku akan membantumu ke kamar."
Jongin membawakan kruk Junmyeon dengan tangan kirinya sementara lengan kanannya ia lingkarkan ke tubuh Junmyeon untuk menahan tubuh kakaknya.
"Hyeong, kenapa belum tidur?" tanya Jongin ketika mereka menaiki tangga bersama-sama.
"Aku tadi memaksa Yixing untuk mengajariku berjalan dengan menggunakan kruk." Junmyeon menjawab jujur. "Orang itu sampai kelelahan mengajariku. Ia tertidur di sofa kamarku, tapi, aku tidak tega membangunkannya."
Jongin tersenyum merespon ucapan Junmyeon, "Dia sangat baik sepertinya."
"Dia memang perawat yang baik, Jongin."
Jongin mendudukkan Junmyeon di tempat tidurnya dan Junmyeon sendiri mulai menyamankan posisinya untuk tidur. Sesaat, kedua saudara itu bertemu pandang kembali dan Jongin menggaruk tengkuknya dengan canggung.
"Selamat tidur, hyeong." Ujarnya. Beranjak keluar dari kamar Junmyeon.
Junmyeon sendiri menarik selimutnya sebatas pinggang dan mengucapkan selamat malam sebelum Jongin benar-benar menutup pintu kamarnya. Pemuda itu lalu menoleh kearah Yixing yang masih berada dalam posisi tidur yang sama di sofa sejak setengah jam lalu.
"Mimpilah yang indah, Yixing." Bisik Junmyeon lirih.
.
.
-to be continued-
.
.
Big-big-big thanks to: ChangChang, leny, Jung Eunhee, kadislove, jongsoo, Insooie Baby, RirinSekarini, yixingcom, Chris1004, opikyung0113, Kim Hyunshi, indi1004, HunhanKaisoo, baekhyunniewife, KyungOc, KaiSoo Fujoshi SNH, kaisoo13, SlytherSoul d'Malfoy, Guest, dokydo91, Park soohee, KaiSa, Crayson, Lalala Kkamjong, Diary1412, leedongsun3, junghyema, luthfieannha aryhanhiiey, kimsangraa, Raein Ren, jessica syahputri.7, thanks soooooo much guys! Dan, uhm, maaf gak bisa bales reviewnya ;-;
A/N: akhirnya chappie ini rampung juga. Disini alurnya lebih santai kan? Saya abis uas, pikiran jadi santai juga soalnya (gak nyambung, oke?) tapi, gak sepenuhnya santai karena belum bagi rapor, uhuhu. Dan, well, Kyungsoo sama sekali tidak muncul di chapter ini. Uhuhu, hayoloh tebak Kyungsoo dimana?(?) Jongin akan terus mencari Kyungsoo di chappie-chappie mendatang(?)
Sehun jadi adik tirinya Kyungsoo, meski munculnya gak banyak sepertinya di chappie mendatang dia akan muncul lagi.
Itu aja deh ya? Bingung mau ngomong apa lagi. yang terakhir, yang saya harapkan sebagai penyemangat untuk saya buat nulis,
.
.
Mind to RnR?
