MAAF SERIBU MAAF, SODARA! Saya telat update bukan tanpa alasan... saya tuh lagi disiksa abis2an pas ospek dan mau ambruk rasanya... makanya saya baru bisa update sekarang... hehehe...

Dan melalui ospek ini, meski nggak enak banget, sekarang saya jadi ngerti perasaannya Lu Xun yang disiksa abis2an tapi juga nggak boleh membantah cuma gara2 diancem dengan sandera si Yangmei tuh... Yaaahhhh, tentu saja saya disiksanya nggak separah itu... XDDDD (Yaeyalah!) Tapi beneran, deh... nggak boleh bantah! Soalnya kalo membantah, ntar malah dihitung pelanggaran dan nantinya malah bisa nggak lulus... T-T

Kesimpulan: Jadi, jangan salahkan saya kalo Lu Xun disini melas banget... soalnya authornya juga pengen melampiaskan kedongkolannya dari ospek ke chara satu kepunyaan KOEI yang tampangnya sangat mudah disiksa ini... *dinuklir KOEI dan semua readers plus difury mode Lu Xun*

Yahhh... saya nggak akan bacod lebih banyak lagi! Happy reading! ^^


Lu Xun

"Yang Mulia Pangeran Cao Li!"

Aku menoleh ke arah kedua jendral yang memanggilku. Sudah kuduga, ternyata Jendral Xiahou Dun dan Jendral Xiahou Yuan. Aku tersenyum ke arah mereka. "Silahkan masuk, Jendral Xiahou." Kataku mempersilahkan mereka masuk ke dalam dan duduk.

Aku menuangkan teh untuk mereka, tetapi mereka malah kelihatan sungkan sendiri. Mungkin karena aku sekarang seorang pangeran? Masalahnya, aku merasa tidak perlu merepotkan dayang-dayang itu kalau hanya untuk menuang teh, sebab mereka pasti punya kesibukan sendiri. Setelah itu, aku duduk di hadapan mereka. "Ada apa pagi-pagi kalian datang kemari?" Tanyaku penasaran. "Ada sesuatu yang ingin kalian beritahukan?"

Seperti biasa, Jendral Xiahou Dun yang lebih tua yang menjawab. "Ya, hari ini Yang Mulia Kaisar Cao Cao memanggilmu."

Aku mengerutkan kening karena heran. "Ayahanda Kaisar memanggilku? Ada apa?"

"Kami juga tidak tahu."

"Baiklah kalau begitu, aku akan segera bersiap." Kataku pada mereka. Kemudian aku masuk ke ruang dalam dan berganti pakaian. Baru sesudah itu aku keluar dan menemui mereka lagi. "Mari kita pergi."

Kami bertiga berjalan ke arah Istana Qianqing. Untung saja Cao Pi sudah tidak ada di tempat itu sehingga aku bebas pergi ke tempat ayah. Kalau tidak, dia pasti melarangku, atau menanyaiku macam-macam. Sebenarnya, seharian ini aku tidak melihatnya. Baguslah, mungkin hari ini dia sedang berkeliling kota, atau mungkin bertemu dengan jendral-jendral lainnya. Yang pasti, aku tidak peduli dengan itu. Bukankah menyenangkan sekali melewatkan sehari tanpa Cao Pi dan Sima Yi?

Akhirnya, kami tiba di depan kamar ayah. Aku masuk duluan. "Kalian tidak ikut masuk?"

"Kelihatannya Kaisar Cao Cao sedang ingin menghabiskan waktu bersamamu sendiri." Jawab Jendral Xiahou Dun. "Masuklah. Beliau sudah menunggumu. Kami akan menunggu di luar."

Aku mengangguk, meski masih tidak begitu mengerti. Memangnya apa yang ingin dibicarakan ayah sampai memanggilku sendirian begini? Ayah yang kulihat hari ini tidak terlalu berbeda dengan ayah yang kulihat beberapa hari yang lalu. Masih saja terbaring lemah di pembaringannya tanpa dapat melakukan apa-apa.

Aku trenyuh melihatnya. Bagaimana bisa seorang yang dulunya sangat berkuasa dan memerintah dengan tangan besi, serta yang ambisinya membuat beratus-ratus ribu pasukan maju ke medan perang, kini hidupnya harus selalu bergantung pada orang lain? Memang nasib manusia tidak bisa ditebak. Dia bahkan tidak bisa menyadari kehadiranku, sampai aku yang kemudian memanggilnya. "Ayahanda Kaisar."

Ayah menoleh dan tersenyum lemah ke arahku. "Ah... Li... kau datang juga akhirnya..." Katanya. "Mendekatlah, Li..."

Dengan perintahnya itu, aku maju mendekat padanya dan berlutut di sisi ranjangnya. Ayah meletakkan tangannya di atas kepalaku, kemudian memandangku lama sekali, sampai rasanya dia sudah berubah menjadi patung batu. Akhirnya aku membuka mulut. "Ayahanda Kaisar," Panggilku memecah keheningan. "Ada apa ayah memanggilku? Apa aku yang rendah ini pantas bertemu seperti ini dengan ayah?"

Seolah tidak mendengar pertanyaanku, ayah menanyakan hal lain. "Cao Li... itu namamu?" Ayah menanyakan hal yang pasti. "Apa itu benar namamu? Atau Cao Pi-kah yang menyebutmu begitu?"

Aku bingung harus menjawab bagaimana. Akhirnya aku mengarang cerita saja untuk menutup-nutupi fakta sebenarnya. Aku sangat berharap ayah tidak tahu siapa aku sebenarnya.

"Ayahanda Kaisar, sejak awal ananda sebenarnya tidak punya nama, sebab ananda hidup dengan gerombolan Gaibang. Tetapi biasanya memang ananda dipanggil 'Li' saja. Kemudian, dengan kebaikan hati Pangeran Cao Pi, ananda diangkat menjadi adiknya dan mendapat marga 'Cao' ini." Jelasku panjang lebar sambil menyunggingkan seulas senyum. Aku bingung, bagaimana aku bisa menceritakan kebohongan selancar ini?

Ayah memalingkan wajah dariku, kemudian menatap langit-langit lama sekali sampai dia kemudian berbicara lagi. "Aku hanya penasaran dengan namamu itu. Namamu itu berarti 'budak'." Katanya dengan suara rendah yang semakin pelan. "Kenapa kau disebut begitu? Aku tidak sedang mengintrograsimu, tapi bisakah kau ceritakan?"

Dengan patuh aku mengangguk dan menceritakan, tetapi tentu saja menceritakan kisah karanganku sendiri, bukan kejadian yang sebenarnya. "Sejak kecil, ananda tidak berayah dan beribu, sehingga terpaksa menghidupi diri sendiri dan tinggal bersama orang gerombolan Gaibang di balik gunung Song. Sebagai yang temuda, ananda seperti menjadi budak mereka, dan dari situlah ananda mendapat nama itu. Suatu kali kami mengembara dan masuk ke kota Luo Yang ini. Dalam perjalanan, kami bertemu dengan rombongan Pangeran Cao Pi dari istana. Besar sekali kemurahannya sehingga entah kenapa ia mengangkatku sebagai saudara." Tuturku.

Setelah mendengarkan ceritaku, ayah mengangguk lagi. Wajahnya menjadi semakin tidak bercahaya. Sepertinya setelah mendengar ceritaku, ia seperti dihujani berjuta-juta ton beban. Aku tidak tahu apa yang dipikirkan ayah sekarang, sampai gantian dia yang menceritakan masa lalunya. "Dulu aku pun pernah menemukan anak yang sepertimu. Kedua orangtuanya meninggal... karena kubunuh. Tidak hanya orang tua tetapi juga seluruh penduduk di kota tempat tinggalnya kubunuh. Ia lolos, tetapi aku tidak tahu apakah ia masih hidup atau tidak. Mungkin jika ia hidup, ia akan sepertimu, hidup bersama gerombolan Gaibang."

Ayah menatapku dalam-dalam "Apakah mungkin anak itu adalah kau?"

Aku tidak menyangka, sungguh aku tidak menyangka ayah akan mengingat kejadian itu, bahkan jika sampai bertanya apakah itu adalah aku. Tubuhku bergetar dan keringat dingin mulai membasahi keningku. Tanpa terasa jantungku berdengup semakin kencang. Aku harus menyangkalnya, aku tidak bisa mengakuinya, tidak dengan keadaan ayah yang seperti ini! Jika dia mendengarnya, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. "T-tidak mungkin, ayahanda! Ibu ananda sudah meninggal saat melahirkan saya, sementara ayah saya meninggal karena sakit. Juga, alasan saya bergabung dengan gerombolan Gaibang bukan karena saya tidak memiliki tempat tinggal, melainkan untuk mencari penghidupan yang lebih baik dengan bertarung..."

Ayah menggeleng, kemudian menatapku dalam-dalam. Tatapannya itu sekarang kelihatan lelah sekali, dan ayah kelihatan seperti lima puluh tahun lebih tua. "Sudahlah, Li... mulutmu bisa saja berbohong. Tapi matamu tidak..." Katanya. "Mata emasmu yang jernih itu tidak akan bisa berbohong. Mata emasmu yang seperti cerminan hatimu, aku bisa melihat semunya melalui itu..."

Begitu kata ayah. Ayah sudah sadar aku membohonginya. Mata emasku telah membangkitkan ingatannya empat belas tahun lalu. Aku tidak tahu harus berkata apa. Jam air yang berada di kamar itu seolah-olah ikut menghentikan aliran airnya. Kedua tanganku menggenggam erat selimut putih yang ayah pakai.

"Aku tahu, kau adalah anak yang empat belas tahun yang lalu ingin kudapatkan." Cetus ayah. "Karena kejadian itulah ayah dan ibumu, dan seluruh penduduk Wujun terbunuh. Kau sendiri hampir mati tetapi bisa meloloskan diri. Saat pertama kali melihatmu, aku tahu kau adalah dia!"

Tidak. Tidak bisa begini! Aku tidak bisa membiarkan ayah tahu semua kejadian itu! Bukan hanya akan mempergawat keadaanku di sini, tetapi aku juga tidak mau menyiksa ayah dengan perasaan bersalah! Aku hanya berharap mungkin lebih baik ia menjadi pikun dan lupa akan hal itu, daripada sekarang aku membuatnya mati karena masih disiksa rasa bersalah itu. "Ayahanda, tolong jangan bicara begitu!" Aku berseru, hampir berteriak karena mati-matian meyakinkan ayah akan kebohonganku. "Ananda sama sekali tidak tahu-menahu tentang kejadian empat belas tahun lalu, apalagi kejadian di Wujun yang begitu jauh dari Wei! Ananda sungguh adalah penduduk asli Wei, mana bisa ayahanda menemukan anada di Wujun yang letaknya di Wu? Ananda yakin ini adalah kali pertama kita bertemu, mungkin anak yang ayahanda temukan itu adalah orang lain yang mirip ananda!"

Ayah menggeleng lagi, membuatku semakin bingung harus mengatakan apa. Kini tangannya menggenggam tanganku yang bergetar. Mau tidak mau dia semakin tahu bahwa memang membohonginya. "Masih juga berbohong..." Ayah mendesah penuh kekecewaan. "Mata emasmu itu sudah merupakan bukti yang sangat kuat. Kau adalah orang yang empat belas tahun lalu ingin kudapatkan karena memiliki kekuatan Feng." Kali ini matanya menatap tajam ke arahku. Genggaman tangannya semakin kuat di kedua tanganku.

Kepalaku tertunduk dalam-dalam, seperti sedang ber-kowtow padanya. "Ayahanda! Tentang kekuatan Feng atau apa itu, mana mungkin orang seperti hamba bisa seperti itu?" Aku menggeleng keras-keras, tetapi tidak membiarkan ayah melihat wajahku. "Kumohon ayahanda, jangan bicara seperti itu lagi!"

Mendengar kata-kataku yang terdengar seperti teriakan, bahkan tubuhku yang sekarang membungkuk dalam-dalam dengan wajah terbenam di ranjangnya, ayah malah menjawab dengan tenang. Wajahnya menjadi lebih rileks dari sebelumnya. "Kau lihat sendiri, Li. Aku kini sudah tua, sudah tidak bisa apa-apa lagi." Katanya sambil menganggkat wajahku, kemudian jemarinya menyentuh ujung-ujung rambutku. Dia menatapku lama sebelum melanjutkan. "Semua ini adalah hukum karma karena aku telah melakukan perbuatan yang begitu kejam pada anak yang memiliki kekuatan Feng. Melihat keadaanku yang seperti ini, apa kau masih mau menyangkal?"

Aku tahu ayah memaksudkan segala penyakit yang ia derita sekarang. Bahkan mungkin bukan hanya itu. Meski ayah seorang Kaisar Wei, tetapi dia sama sekali tidak bisa memerintah atau menguasai apapun. Kekaisaran Wei sekarang diatur oleh Cao Pi, bukan ayah lagi. Tidak hanya itu, Cao Pi juga tidak pernah mempertemukan aku dengan Permaisuri Bian. Jadi, dimana Permaisuri Bian sekarang? Kurasa, sama seperti Cao Pi memisahkanku dari Yangmei, begitulah dia memisahkan ayahnya dari ibunya sendiri. Dan yang terparah, kenapa sekarang ayah hidup seperti sebatang kara saja? Anak-anaknya tidak ada bersamanya. Hanya Jendral Xiahou Dun dan Jendral Xiahou Yuan, kedua sepupu ayah, yang tetap bersamanya.

Sejujurnya, aku tidak tahu apa benar ini hukum karma atau tidak. Tetapi, melihat kejadian kemarin saat aku bertemu dengan prajurit-prajurit itu, aku merasa mungkin memang ini karma, meski aku sendiri tidak yakin. Apapun itu, aku benar-benar tidak tahu harus mengatakannya atau tidak. Sampai lama sekali, yang terdengar hanya desahan panjang ayah. Kedua kakiku semakin lama semakin kaku.

"Kau jangan takut mengakuinya, justru akulah yang harusnya malu. Keadaanku yang di antara hidup dan mati ini pun pasti adalah hukuman dari Tian." Ayah berusaha menenangkanku. Telapak tangannya diletakkan di pipiku, sepertinya berusaha mendekatkan wajahku padanya agar ia dapat melihatku dengan lebih jelas. Aku merasakan wajahnya perlahan melembut, seperti bagaimana seorang ayah melihat anaknya. Aku pun merasakan hal yang sama. Tidak peduli apa yang telah dilakukannya empat belas tahun lalu, tidak peduli kami tidak sedarah, tidak peduli dia masih Kaisar Wei yang adalah musuh Wu, aku tau satu hal. Dia adalah ayahku sekarang, dan aku anaknya.

"Li... Cao Li... itu bukan namamu, kan?" Ayah bertanya. Dari nada suaranya yang tegas, aku tahu kali ini dia bertanya untuk terakhir kalinya, dan menuntut sebuah jawaban yang jujur. Ayah menatap wajahku yang mulai memerah karena harus mati-matian menahan tangis. Ayah menatapku dalam sekali, seolah saat melihatku ayah bisa melihat seluruh kejadian empat belas tahun lalu terputar lagi. "Aku sudah tua... aku benar-benar lupa..." Gumamnya. "Kau... apa kau bernama Lu Yi?"

Ternyata ayah masih mengingatku.

Ayah masih mengingat namaku yang dulu.

Seperti saat pertama kali bertemu dengannya, aku tidak bisa menahan diri lagi. Kepalaku terasa berat dan pusing, seperti aku sedang dipaksa untuk mengingat hal yang sudah bertahun-tahun ingin kulupakan. Aku menggenggam tangannya erat-erat, airmataku jatuh begitu saja membasahinya. Jika keadaannya sudah begini, bagaimana aku bisa berbohong lagi? Semakin aku berbohong, mungkin aku akan semakin menyiksa ayah, dan aku tidak mau hal itu terjadi...

"Benar... benar, ayah..."

Ayah tersenyum lega saat mendengar jawabanku. Tangannya ia tarik perlahan sebelum mengerahkan segenap kekuatannya untuk melingkarkan kedua tangannya di leherku dan memelukku, seperti seorang ayah memeluk anaknya. "Ternyata benar... akhirnya, setelah menunggu sekian lama aku bisa juga bertemu denganmu." Ayah melepaskan pelukannya, kemudian menatapku, kali ini dengan tatapan yang sangat serius, tetapi juga sangat menusuk. "Lu Yi, kau yang adalah Feng itu sendiri, bolehkah aku memohon sedikit belas kasihan darimu untuk memaafkan kesalahanku? Aku tahu aku memang pantas mati." Katanya dengan nada memohon. Aku bisa mendengarnya dengan jelas dari nada suara itu.

Aku tersenyum lemah saat mendengarnya. "Ayahanda, kejadian itu sudah berlalu lama sekali. Tolong jangan berkata seperti itu padaku. Mana pantas aku menerimanya?"

Saat mendengarku menjawab begitu, ayah bukannya semakin tenang. Dia mengepalkan tangannya, kemudian meninju-ninju ranjangnya. Apa ayah marah mendengar jawabanku? Aku berusaha menenangkanya dengan sia-sia. "Aku tidak peduli! Yang aku tahu sekarang adalah aku harus memohon pengampunan darimu!" Serunya sekuat yang ia bisa. Aku tahu tindakannya itu pasti bisa membunuhnya. "Lu Yi, aku memang tidak tahu diri! Kesakitan yang aku alami ini sudah tidak tertahankan lagi! Jika kau tidak mengampuniku, maka selamanya aku akan menderita seperti ini!"

Ayah masih tidak berhenti menumpahkan amarahnya. Dengan tubuh ayah yang selemah itu, ayah masih tidak berhenti. Tidak! Kalau begini dia akan mati! Dan kalau dia mati, maka akulah yang membunuhnya! Aku tidak bisa membiarkannya mati seperti ini! Tidak pada saat dia masih menyimpan perasaan bersalah seperti ini. Jika tidak, dia akan selamanya tidak tenang, dan matinya pun akan penasaran! Ayah sudah cukup menderita beberapa tahun ini, dan aku tidak mau membuatnya semakin menderita!

Dengan cepat kugenggam pergelangan tangannya, kemudian menjawab dengan penuh kesungguhan. Aku hampir saja berseru, dan sekali lagi airmataku membanjiri ranjangnya. "Ayahanda... aku... aku memaafkanmu, ayahanda!" Mataku menatapnya dengan tatapan memohon, memohon padanya agar percaya padaku. Sebab yang kukatakan kali ini bukan kebohongan melainkan perkataan dari dalam hatiku! Aku memaafkannya, aku memaafkannya seperti aku sudah memaafkan prajurit-prajurit itu kemarin! "Aku sudah memaafkanmu sebelum aku berada di tempat ini. Untuk segala perlakuanmu empat belas tahun yang lalu, aku sama sekali tidak menyimpan dendam apapun! Aku tidak ingin menuntut balas, sama sekali tidak ada keinginan itu!" Kataku dengan suara yang lebih pelan. Suaraku mulai sesenggukan. Aku menunduk, tidak bisa menatap ayah dengan wajah seperti ini. Aku memang telah memaafkannya, bahkan sejak saat Yangmei menanyakan hal itu ketika ayah Ling Tong gugur dulu. Tetapi kali ini barulah aku dapat menyampaikannya, dan itulah yang membuat hatiku merasa ringan sekali, rasanya aku baru saja menjatuhkan berkarung-karung batu yang dibebankan di punggungku.

Saat ayah mengusap rambutku, barulah aku menatapnya. Kali ini gantian aku yang menatapnya dalam-dalam. "Melihat keadaan ayahanda seperti ini, sungguh sayang aku hanya punya kekuatan Feng saja, tidak punya kekuatan Huang untuk menyembuhkan ayahanda. Aku sendiri tidak bisa melakukan apa-apa untuk ayahanda." Kataku penuh penyesalan.

"Menyembuhkanku? Jangan lakukan itu!" Kemudian ayah mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah sebuah lemari yang terletak di sudut ruangan. "Sekarang bukalah laci itu dan ambil benda di dalamnya."

Aku bingung, tetapi tetap melakukannya. Aku membuka laci itu dan kulihat ternyata laci itu hampir sepenuhnya kosong. Hampir. Hanya ada sebilah pisau yang berada di dasar laci itu. Aku mengambilnya dengan perasaan tidak enak dan takut. "Kenapa... Ayahanda Kaisar?"

"Bunuhlah aku! Aku tidak bisa hidup seperti ini! Menghadapi kutuk seperti ini lebih baik aku mati saja!" Seru ayah penuh kesungguhan, membuatku seperti baru saja dihantam palu besar. "Aku memang seorang pengecut! Tanpa berpikir terus-menerus melakukan kekejaman demi kekejaman. Sekarang saatnya menghadapi hukuman, aku malah lari dan memilih mati saja! Lu Yi, kemarilah dan bunuh aku!" Serunya kuat-kuat sambil memanggilku.

Pisau berkilat-kilat itu meluncur jatuh dari tanganku. Suara dentingan pisau yang jatuh di lantai terdengar seiring dengan langkahku berlari mendekat ayah, kemudian segera berlutut lagi di sisi ranjangnya.

Kenapa? Kenapa ayah tidak percaya aku telah mengampuninya? Kenapa sekarang dia memintaku untuk membunuhnya? Apa begitu sulitnya mempercayai hal seperti ini? Seperti kemarin ketika prajurit-prajurit itu awalnya tidak bisa sepenuhnya yakin aku memaafkan mereka.

Apa mungkin... apa mungkin ayah merasa perbuatan yang dilakukannya sudah tidak terampuni lagi? Atau mungkin karena selama ini saat ia bersalah, tidak ada orang yang bisa memaafkan perbuatannya? Apa dia masih tidak percaya karena rupanya semudah itu mendengar perkataan bahwa aku memaafkannya?

Asal tahu saja, aku tidak melakukannya dengan mudah. Tetapi aku mau melakukannya. Aku memaafkannya, tidak peduli apapun yang dia lakukan! Bahkan aku ingin melupakan kejadian itu, kemudian melalui kehidupan yang baru dengannya sebagai ayahku dan aku sebagai anaknya, meskipun mungkin sangat singkat.

"Ayahanda! Bagaimana ananda bisa berpikir demikian? Ananda benar-benar sudah memaafkan ayahanda!" Seperti saat pertama kali bertemu, aku mencium punggung tangannya dan membiarkan airmataku membasahinya untuk waktu yang lama sekali. Dia kelihatan sama terkejutnya seperti saat itu, dan kali ini dia pun juga menangis sama sepertiku sekarang.

"Tetapi..." Ayahanda mendesah lemah. Punggungnya ia sandarkan lagi pada tembok "...Penyakit ini akan terus menyiksaku sampai aku mati! Sekarang kau sudah memaafkanku, maka mati pun aku akan merasa senang." Nada suaranya seperti orang yang sama sekali tidak punya pengharapan. Padahal bukan itu mauku! Aku ingin setelah aku memaafkannya, dia bisa menjalani hidupnya dengan lebih optimis, memiliki keingian yang kuat untuk hidup apapun yang ia alami sekarang.

Aku melakukannya, karena aku sadar satu hal.

Aku menyayanginya seperti aku menyayangi ayahku sendiri. Jauh dalam hatiku, aku merasa mungkin aku tidak pernah tidak punya ayah. Aku merasa aku punya keluarga sekarang, meski bukan keluarga kandung. Keluarga yang hanya aku sebagai anak ayah saja. Tidak ada Cao Pi yang menganggapku budak dan bukan adiknya.

Dengan sungguh-sungguh aku melanjutkannya, dengan harapan penuh dia akan mendengarku dan sesudah ini berharap lagi dalam hidupnya. "Ayah, ayah tahu bukan bahwa sebentar lagi ananda akan menikah dengan Putri Mingzhu dari Kerajaan Han?" Melihat ekspresinya yang terkejut, aku tahu sepertinya Cao Pi belum pernah memberitahukan masalah ini. Pikir-pikir tentang itu, memang kenapa Cao Pi harus memberitahukan pada ayahnya? "Setelah itu, dalam waktu dekat biasanya akan Kaisar Xian beserta seluruh keluarga kerajaan akan sembayang di Tiantan-Kuil Surga. Ananda akan berdoa untuk kesembuhan ayahanda. Ayahanda tidak perlu takut lagi! Doa yang dipanjatkan di Tiantan oleh kaisar dan keluarganya akan didengar Tian. Ayahanda pasti akan sembuh!" Kataku berusaha meyakinkannya.

Ayah menghela nafas panjang. "Sungguh mulia sekali hatimu, Lu Yi. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih. Kukira kematian adalah jalan satu-satunya..." Ayah menatapku seperti tidak percaya, tetapi dia tidak punya pilihan lain, bukan? Aku tidak akan mengecewakan ayah.

"Ayah, kematian tidak akan pernah menjadi jalan keluar." Kataku padanya dengan seulas senyum. "Tidak peduli apapun yang terjadi, ayah harus tetap berharap."

Aku tidak tahu kenapa aku menasihati ayah. Tetapi setelah mendengarnya ayah cukup kaget. "Benar-benar kau adalah Feng, Lu Yi."

"Ayahanda, jika boleh, ananda ingin ayah jangan memanggilku dengan nama itu lagi. Dua tahun lalu ananda mengganti nama menjadi Lu Xun." Kataku. Mendengar itu, ayah mengangguk.

Setelah itu, tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang jarang sekali terdengar olehku sebelumnya. Sesuatu yang hanya pernah terdengar satu kali saja, hanya ketika aku berbicara bersama abdi Langit itu, Jiang Taigong atau yang juga disebut Taigong Wang. Dia mengatakan bahwa aku adalah Feng, bukan aku memiliki kekuatan Feng. Kali ini aku mendengarnya lagi, dan ini membuatku terkejut. "Tunggu... tadi ayahanda bilang apa?"

Ayah mengulanginya. "Aku bilang, kau adalah Feng, Lu Xun." Jawabnya singkat sebelum melanjutkan. "Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau pasti ingin tahu kenapa aku tidak mengatakan kau punya kekuatan Feng, bukan?" Ayah begitu mudah membaca pikiranku, seolah aku ini seperti buku cerita anak-anak yang mudah sekali ditebak akhirnya. Tanpa mengatakan apapun, aku menjawabnya dengan sebuah anggukan.

Jadi, ayah melanjutkan lagi. "Sebenarnya aku sudah tahu ini sejak dulu, Lu Xun, bahkan jauh sebelum peristiwa di Wujun itu." Tuturnya. "Mungkin kau tidak tahu, dulu aku pernah bertemu dengan seorang teman dari kakekmu saat perang melawan Gerombolan Sorban Kuning. Namanya Sun Jian. Dia menceritakan berbagai macam hal padaku tentang Phoenix."

Sun Jian... kalau tidak salah dia adalah kakek Yangmei...

"Entah sudah berapa lama China menantikan Phoenix..." Ayah menerawang. Tangannya menggenggam tanganku semakin erat. "Kau tahu bukan apa yang terjadi selama ini di China? Beribu-ribu tahun China tidak pernah merasakan kedamaian. Yang ada hanyalah perang."

"Ayah..."

Ayah menatapku kali ini. "Sejujurnya, aku pun menantikannya. Tetapi... aku kecewa..."

Aku terkejut mendengar kata-katanya. "Mengapa kecewa, ayah?" Sejujurnya, aku sama sekali tidak dapat menebak alasan kekecewaan ayah.

Matanya terpejam lama, aku tidak mengerti ayah sedang mencari kata-kata yang tepat atau merenung. Namun tangannya semakin erat menggenggam tanganku, entah kenapa. Aku menatapnya dengan mata lebar oleh rasa penasaran ketika ayah akhirnya membuka matanya dan menjawab. "Karena kukira seorang kaisar yang menyatukan seluruh China seperti Fu Xi dulu akan datang. Itulah Phoenix yang selama ini kubayangkan." Tutur ayah setengah berbisik.

Tiba-tiba saja perkataan ayah mengingatkanku pada tulisan yang kubaca beberapa hari yang lalu. "Lalu, apa yang membuat ayah kecewa?" Tanyaku pura-pura tidak tahu-menahu tentang teks itu.

"Sun Jian, jendral teman kakekmu itu, sering mencari-tahu tentang Phoenix." Ungkapnya. "Suatu hari kami bercakap-cakap dan aku bertanya padanya tentang hal itu. Kemudian dia memberikanku sebuah teks yang sampai sekarang masih disimpan dengan baik di istana ini, di Yanxindian." Saat itulah ayah menatapku dalam-dalam. Tatapannya seolah dapat menembus sanubariku. "Lu Xun, apa kau pernah membacanya?"

Aku tahu teks itu. Teks itu adalah teks yahng kutemukan di dalam lemari di Yanxindian. Awalnya aku tidak tahu sama sekali teks itu ditujukan pada siapa. Tapi, sesudah ayah mengatakannya, dengan jelas aku mengetahui maksud teks itu. Teks itu sedang membicarakan tentang Phoenix, tepatnya tentang Feng.

Tentang... aku.

Tapi daripada mengatakannya, aku lebih memilih untuk pura-pura tidak tahu. Aku menggeleng.

Ayah membuka mulut hendak mengungkapkannya. Tetapi kalimatnya itu tidak sampai keluar dari mulutnya, melainkan yang keluar hanyalah sebuah perintah pendek. "Pergilah ke Aula Yanxindian, Lu Xun. Di sana ada sebuah lemari tua di sudut ruangan. Ambillah seberkas kertas yang ada di tumpukkan paling atas. Hati-hati, di sana ada banyak buku dan perkamen lainnya." Katanya. "Aku tidak tahu cara mengatakannya. Kau bacalah sendiri."

Jadi, meskipun aku sudah pernah membacanya, aku menuruti perintah ayah. Kembali ke kamarku, kemudian mengambil teks yang berumur sudah tua itu. Kemudian aku kembali ke kamar ayah secepat yang kakiku bisa.

"Ini, ayah."

"Kau bacalah." Katanya singkat.

Jadi sekali lagi aku membaca tulisan itu, tetapi aku lagi-lagi tidak bisa menangkap apapun dari beberapa baris tulisan itu. Yang ada hanyalah sebuah kalimat yang seperti berisikan hal yang akan terjadi di masa depan, karena ada banyak kata 'akan' disana. Kalau memang teks ini berisi tentang masa depan dan tentang aku sendiri, kenapa aku sama sekali tidak mengerti?

"Teks itulah yang membuatku sangat kecewa." Ungkap ayah dengan mata menatap lurus ke langit-langit. "Kenapa Phoenix yang sudah lama dinantikan ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan?"

Aku tersenyum tipis sambil kembali berlutut di sebelah ranjang ayah. "Ayah, kurasa tidak seluruh hal yang ayah yakini itu benar." Kataku mencoba menghiburnya. "Kemungkinannya hanya dua. Satu, teks ini tidak sepenuhnya benar, atau mungkin tidak mengatakn tentang Phoenix. Dua, aku bukan Phoenix."

"Bagaimana bisa?" Ayah memandangku dengan dahi berkerut.

"Ada banyak alasan, ayah." Jawabku. "Pertama, aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang kota yang disebut Yu Yao ini. Yang aku tahu Yu Yao adalah kota kecil yang terletak di daerah paling timur Wu." Jelasku panjang lebar. "Kedua, disini dikatakan yang menemukannya adalah orang-orang rendah seperti Gaibang. Tetapi kenyataannya, yang menemukanku pertama kali adalah Yang Mulia Kaisar Sun Ce dari Wu."

Sebagai balasan atas penjelasanku itu, ayah hanya menggeleng. "Kalau begitu, aku ingin memastikan sesuatu." Kata ayah sebelum memulai. Aku sedikit tegang ditatap olehnya setajam itu. "Kau lahir dimana?"

"Di Wujun." Jawabku pendek.

"Kau tahu darimana?"

Aku mengangkat bahu. "Entahlah, tapi memang sejak kecil aku ada di Wujun."

Ayah diam sejenak. "Ternyata memang kau sama sekali tidak tahu apa-apa." Aku mengangkat alis, kaget mendengarnya. Ayah kemudian memandangku. "Kau lahir bukan di Wujun, Lu Xun. Apa kau tahu apa yang terjadi di Wujun saat kau lahir?"

Ini akan menjadi sesuatu yang baru untukku. Aku menggeleng, menunggu jawabannya.

"Beberapa saat sebelum kau lahir, kakekmu pergi untuk berperang melawan pemberontak Sorban Kuning." Tuturnya. "Dia bersama dengan temannya, Sun Jian, memerangi Sorban Kuning untuk melindungi tanah Wu ini dari huru-hara yang mereka timbulkan. Sayangnya..." Ayah mendesah. "Kakekmu gugur di dalam suatu penyergapan malam Sorban Kuning saat melindungi temannya itu."

Itu aku tahu. Aku dan Yangmei pernah melihatnya dengan mata kepala sendiri dalam suatu... mimpi, katakanlah.

"Sesudah itu, tentara mereka dipukul mundur, dan Sun Jian terpaksa mundur untuk bergabung dengan pasukan Han yang lain, terdiri dari aku, Liu Bei yang sekarang menjadi Kaisar Shu, Yuan Shao, dan beberapa penguasa daerah lainnya."

"Namun itu artinya pasukan Sorban Kuning berhasil menembus perbatasan Wu, dan Wujun, kota yang letaknya sangat dekat dengan perbatasan, akhirnya terkena serangannya." Jelas ayah sambil mengingat masa lalu. "Seluruh penduduk Wujun dilarikan ke kota lain oleh para prajurit Angkatan Perang Han yang diberi mandat. Saat itu, ibumu yang sedang mengandung terpaksa dibawa oleh ayahmu melarikan diri, dan satu-satunya tempat yang aman adalah kota yang terletak di pojok paling timur, yang tidak mungkin diserang, yaitu kota Yu Yao."

Mataku terbuka lebar saat mendengarnya. Bagaimana tidak? Selama ini aku sama sekali tidak tahu tetang itu! Kukira aku adalah orang yang lahir dan dibesarkan di Wujun, kemudian Lujiang dan baru Jian Ye. Tapi ternyata, aku lahir di Yu Yao. Hal lain yang membuatku kaget adalah... kebenaran teks itu. Dan satu lagi... ada yang aneh saat ayah mengatakan 'timur', seolah dia berusaha menekankan kata-kata itu.

"Ayahanda?" Tanyaku tanpa bisa menyembunyikan keterkejutanku. "A-ayahanda yakin? Aku tidak tahu sama sekali! Ayahanda tahu darimana?"

Sepertinya ayah sudah menduga aku akan terkejut seperti ini. "Sun Jian-lah yang menceritakannya padaku. Sepertinya sejak kematian Lu Yu, kakekmu itu, dia sangat ingin menggali dan mencari tahu tentang Phoenix." Katanya sebelum melanjutkan lagi. "Selain itu, dia banyak menulis semua pengalamannya. Segala tulisannya bisa kau temukan di lemari Yanxindian itu."

Aku mula-mula ragu, tetapi kemudian aku menggeleng kuat-kuat. "B-baiklah ayah, seandainya itu benar, tetapi apa teks itu benar sepenuhnya? Atau apakah memang aku adalah yang sedang dibicarakan di teks itu?" Tanyaku, tetapi ayah masih menatapku dengan mata yang tegas dan penuh keyakinan. "Maksudku, aku tidak seperti yang teks itu katakan..."

"Tidak seperti yang teks itu katakan?" Ayah mengulang perkataanku. "Lu Xun, sejak kau masih kecil pun kata-kata di teks itu sudah terbukti."

Aku cepat-cepat membuka mulut untuk membantah, tetapi aku teringat kembali kejadian empat belas tahun lalu. Belum lagi ditambah kejadian di He Fei, dan apa yang baru beberapa hari kualami di sini. Jika dilihat-lihat, mungkin memang teks itu ada benarnya.

"Teks itu memang aneh. Usianya sudah sangat tua, seperti ramalan dari zaman dahulu." Ayah memberitahuku. "Mungkin sudah ditulis sejak zaman Zhou, lima ratus sampai seribu tahun lalu."

Mulutku masih tidak dapat mengucapkan apapun.

"Kurasa kau akan mengalami apa yang ada di teks itu." Dengan perasaan menyesal, ayah mengungkapkannya. Matanya yang cekung menatapku dalam-dalam, seolah ia akan menyampaikan bahwa aku akan mati sebentar lagi. "Seperti yang teks itu katakan, kau akan pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk melarikan diri. Kau tidak akan berada di istana, melainkan di kalangan rakyat jelata, bahkan dengan Gaibang. Dan juga..." Ayah menelan ludah, berusaha mengeluarkan suara yang sudah ia himpun di tenggorokannya. "... kau akan menerima tanda budak itu."

Aku nyaris saja akan berseru membantah kalau tidak mengingatnya terlebih dahulu. Perkataan itu tidak salah, sama sekali tidak salah. Bukankah di punggungku sekarang ada tanda itu? Tulisan 'Li' yang tertulis dengan besar dan jelas sekali, menandakan siapa aku sebenarnya? Aku tidak bisa mengelak lagi. Kurasa, itulah kebenarannya.

Ayah sepertinya sadar akan keterguncanganku mendengar semua itu. Mataku sekarang kosong tetapi lebar, menatap tanpa fokus sama sekali. "Lu Xun," Ayah memanggilku sekali, dan aku mengangkat kepalaku untuk memandangnya, masih dengan mata yang kosong. "Kau sepertinya benar-benar tidak siap mendengar ini. Kembalilah ke tempatmu. Jika kau sudah merasa siap untuk mendengarnya, kemarilah, dan aku akan menceritakan padamu semuanya."

Sesudah berkata begitu, ayah mempersilahkanku untuk keluar, dan aku pun menurut saja.

-o-o-o-o-o-o-

Yangmei

Aku bosan. Bosan sekali sampai mau mati rasanya. Menjadi selir itu ternyata tidak enak sekali, ya? Setiap hari cuma duduk-duduk saja di kamar tanpa bisa melakukan apapun. Kalau di Istana Jian Ye, masih jauh lebih enak. Kalau bosan, aku masih bisa bermain-main di taman, kadang bisa sendirian, atau kadang ditemani Lu Xun atau Zhou Ying atau papa dan mama atau Bibi Sun Shang Xiang. Yang pasti, aku tidak pernah merasa sebosan ini seumur hidupku. Sudah tiga hari berlalu tanpa kejadian berarti, selain segala percekcokanku dengan Zhen Ji. Seharusnya dia tidak perlu iri padaku, toh aku hanya seorang selir sementara dia istri Cao Pi, pangkatnya lebih tinggi dariku. Kalau suatu saat ini semua berlalu, akan kutunjukkan pada nenek sihir itu bahwa dia bisa memiliki Cao Pi sepuasnya, sebab aku punya seorang yang benar-benar kusayangi, jauh lebih tampan, lebih baik, lebih pintar, lebih menyenangkan, lebih segalanya dari Cao Pi itu. Oh, dan yang terpenting, yang juga benar-benar menyayangiku.

Satu hal lagi. Yang lebih parah, akhir-akhir ini Zhang He juga tidak pernah kemari. Dia bilang dia punya banyak sekali urusan sehingga tidak bisa berkunjung kemari lagi. Yah, aku tahu dia memang tidak bisa selamanya membantu kami, sih. Tepatnya, dia kan sejak awal memang tidak perlu membantu kami, tapi dia tetap saja melakukannya meski tahu resikonya, dan aku sangat menghargai niat baiknya itu.

Setelah lama menyendiri, akhirnya seseorang mengetuk pintuku. Baguslah! Aku suka begitu, daripada harus sendirian terus menerus. Aku bisa jungkir balik kalau kesepian.

Tapi setelah melihat siapa yang datang, aku berubah pikiran. Lebih baik aku sendirian dan jungkir balik, daripada dikunjungi oleh seorang monster Wei yang berkedok pangeran. Dari suara gedoran pintunya saja aku sudah tahu siapa itu. Aku memutar bola mataku sebelum beranjak menuju ranjang.

Ternyata memang benar itu Cao Pi. Anehnya, yang kulihat bukan Cao Pi yang biasa.

Aku tidak tahu ada angin atau hujan darimana yang menghantar Cao Pi kemari dengan wajah lesu penuh penyesalan begitu. Sima Yi tidak ada bersamanya. Jadi di dalam kamar hanya ada aku dan dia saja sesudah semua dayang disuruhnya keluar. Kalau di dalam kamar sendirian bersama serigala licik seperti Cao Pi, aku harus hati-hati. Tapi kali ini aku mengendorkan sedikit pertahananku saat melihat keadaan Cao Pi yang seperti itu.

"Yangmei..." Panggilnya. Ia tidak berjalan melewati batas kamar bagian dalam. "Kemarilah."

Dengan langkah sedikit ragu, aku menghampirinya. Dia duduk di sebuah kursi, kemudian menelungkupkan kepalanya di atas meja.

"Ada apa?" Sebenarnya aku ingin mengeluarkan suara sedingin mungkin, tetapi saat melihatnya seperti itu, mau tidak mau aku hanya bisa berkata lembut padanya karena kasihan.

Dia mengangkat kepalanya sedikit untuk bertemu pandang denganku, sebelum tatapannya jatuh kembali ke meja. "Apa yang membuatmu..." Ia mendesah. Heran, ada apa dengan pangeran Wei satu ini? Tidak biasa dia seperti ini, malah boleh dibilang ini pertama kalinya aku melihatnya kacau begini. "... menyayangi Lu Xun?"

Mendengar pertanyaannya, aku seribu kali lebih kaget! Bayangkan saja, seorang Cao Pi bisa bertanya begitu pada seorang Yangmei yang baginya bukan siapa-siapa! Hmmm... apa dalam pertanyaannya dia berarti sedang mengaku kalah pada Lu Xun? Ini adalah waktuku untuk sesumbar, tetapi melihat keadaannya seperti ini, bagaimana aku bisa bersombong-sombong?

"Hmmm... aku sayang Lu Xun karena..." Aku diam sejenak. "Dia pintar, baik hati dan tampan seperti malaikat!" Kataku dengan tegas. "Lalu dia juga sangat perhatian, sabar, tidak suka marah-marah kalau kesalahanku tidak benar-benar keterlaluan. Tapi yang paling aku suka, dia sangat mudah memaafkan, apalagi kalau aku salah." Sebutku satu persatu. "Memangnya kenapa, Cao Pi?" Penasaran, aku pun menanyakannya. Hmmm... baru kali ini aku bertanya dengan baik menggunakan namanya. Kenapa, ya?

"Semua yang kau sebutkan tentangnya itu benar..." Dia mengakui.

"Tentu saja! Aku selalu benar!" Aku menjawab dengan lantang dan senyum lebar. Eh, baru kali ini aku bisa tersenyum di depan Cao Pi. "Tapi, kenapa kau bertanya?" Kemudian, aku memamerkan sebuah senyum nakal, sambil berkacak pinggang. "Jangan-jangan... kau suka padaku juga, ya? Dan kau sekarang cemburu karena aku sangat sayang pada Lu Xun! Ya, kan?"

Aku pikir dia akan menamparku atau mengataiku yang bukan-bukan. Kalau tidak pun aku kira dia akan menjawab dengan dingin lalu pergi dari ruangan ini. Anehnya, ternyata dia hanya menatapku dengan kedua mata birunya itu dalam-dalam. Sejujurnya, aku sempat tegang saat itu, terutama setelah dia menjawabnya dengan tegas. "Kalau iya, lalu kenapa? Tidak boleh?"

Mulutku terbuka lebar, seolah kalau misalnya cangkir teh di atas meja dimasukkan mulutku, mungkin saja bisa. "A... a... a..." Anehnya, dengan mulut selebar itu, tidak ada satupun kata-kata keluar. "A... a... a..."

Cao Pi tertawa kecil melihatku. Hei, dia tertawa! Bukan tertawa mengejek tetapi tertawa betulan! Dan aku membuatnya tertawa! "Ada apa? Dari mulutmu hanya keluar 'a...a...a..' saja."

"a... a... a..." Tanganku kupukul-pukulkan ke kepalaku, sampai Cao Pi heran melihatnya. "AIYAAAA! Aku sudah tuli! Atau kau yang gila!" Kemudian aku langsung berlari ke tembok terdekat, kemudian dengan gaya yang kupikir sangat berlebihan, aku membentur-benturkan kepalaku ke tembok. "Ya Tian! Ini pasti mimpi! Tolong bangunkan aku! Aku masih tidur! Aku masih tidur!"

Sebelum satu kali lagi kepalaku kubenturkan di tembok, tangan Cao Pi sudah terlebih dahulu menarikku, dan kalau aku tidak sedikit berhati-hati, hampir saja aku jatuh ke pelukannya. Dia membalikkan badanku untuk menatapnya. Kulihat senyumnya itu masih mengembang. "Apa kau juga selalu begini di depan Lu Xun?"

Aku mengangguk kuat-kuat. "Tentu saja! Kata Lu Xun, aku selalu bisa main gila seperti ini meski tidak ada apa-apa. Tapi kali ini kasusnya beda! Ini bukan aku yang main gila, tetapi gila betulan!" Seruku sambil menghentak-hentakkan kaki, membuat Cao Pi tertawa lagi.

"Siapa yang gila? Bukannya kau yang gila?" Tanyanya sambil menyengir.

Tanpa izin, aku pun menudingnya. "Kau yang gila!" Seruku. "Kau kan biasanya kejam, sadis, jahat, tidak berprikemanusiaan, seenaknya sendiri, dingin, tidak punya perasaan, congkak, sombong, angkuh, tinggi hati, egois, suka marah-marah, suka mengejek, gila hormat, seenaknya sendiri, suka merendahkan dan memanfaatkan orang lain padahal kau sendiri tidak ada apa-apanya, dan..." Aku mulai kehabisan kata-kata, terutama saat melihatnya mati-matian menahan tawa. "... anehnya hari ini kau bisa bilang begitu! Jangan-jangan kau sakit, ya? Sakit jiwa."

Baru sesudah bisa menghentikan tawanya, ia menjawabku. "Memang aku seburuk itu di matamu, ya?" Tanyanya, membuatku bingung harus menjawab apa. "Apa yang membuatmu berpikir begitu?"

Kalau dipikir-pikir, Cao Pi ini jahat sekali. Tapi saat dia bertanya begitu, aku jadi bingung harus menjawab apa. Jadi akhirnya aku hanya menjawab apa yang ada di kepalaku. "Yah... karena kau memaksaku menjadi selirmu hanya karena kamu ingin kekuatanku ini. Padahal aku kan sudah cinta setengah mati sama Lu Xun." Jawabku sambil memikirkan hal-hal lainnya. "Apalagi dengan Lu Xun. Kau jahat sekali padanya padahal dia tidak pernah salah apa-apa. Tidak di He Fei, tidak juga disini. Aku dengar kau memaksanya menikahi Putri Mingzhu, lalu..."

Cao Pi memotong perkataanku. "Kalau tentang aku memaksamu menjadi selirku, tahukah kau kenapa, Yangmei?" Aku menggeleng sebelum kembali menatapnya. Tetapi saat aku melihat sepasang mata berwarna biru gelap itu, pandanganku jatuh lagi ke lantai. Aneh, padahal sejujurnya wajah Cao Pi lebih enak dipandang daripada lantai kayu ini. "Karena aku pun sayang padamu. Bukan hanya Lu Xun saja yang bisa."

"A...! A...! A...!"

Cao Pi cepat-cepat meletakkan satu jari di depan bibirku. "Kau jangan berteriak lagi. Telingaku sakit mendengar suara sumbangmu itu." Katanya, bukan nada mengejek tapi nada bercanda. Kemudian dia melanjutkan. "Aku akan mengaku, Yangmei. Memang aku dulu hanya tertarik karena kekuatanmu, dan itupun atas usulan Sima Yi. Tapi saat melihatmu sekarang..." Tangannya diletakkannya di bawah daguku, kemudian mengangkat wajahku sehingga mataku bertaut dengan matanya. "... Aku jadi menyukaimu. Tingkahmu yang lucu dan pemberani itu mana ada putri yang punya? Aku menyesal menjadikanmu selir saja."

Untuk sesaat, aku seperti terbius oleh perkataan manis Cao Pi. Tetapi aku cepat-cepat melepaskan diri darinya sebelum terlena lebih jauh lagi. "Tidak bisa begitu!" Aku mengangkat tanganku menjaga jarak dengannya. "Kau kan sudah punya Zhen Ji sebagai istrimu yang sah! Sementara aku cuma selir!"

"Benar. Dan itulah yang kusayangkan, kenapa aku bertemu dengannya dulu, bukan denganmu." Tuturnya.

"Tapi..." Aku masih berusaha membantah, dan kali ini aku mengeluarkan alasanku yang terakhir, yang paling kuat di atas yang lainnya. "... aku kan sayang pada Lu Xun! Dan Lu Xun juga sangat sayang padaku! Pokoknya yang ada di hatiku cuma dia saja!"

Sesudah aku mengatakan sederetan kalimat ini, Cao Pi yang baik hati tadi berubah kembali jadi Cao Pi yang asli. Dia menatapku dengan mata tajam, seolah siap menerkamku. Tangannya terkepal kuat-kuat sampai bergetar. Aku sampai takut melihatnya.

Seolah itu belum cukup untuk membuatku takut, Cao Pi menggenggam erat kedua bahuku. "Justru karena itulah aku sangat kejam pada Lu Xun! Aku benci padanya! Benci sekali sampai kalau mendengar namanya saja aku sudah sangat kalap!" Serunya keras sekali, membuatku merinding ketakutan.

"Tapi Lu Xun kan baik hati..." Kataku dengan suara berbisik. Tubuhku masih kaku dalam cengkramannya. "Lu Xun tidak benci padamu, kok. Tapi kenapa kau sangat membencinya?"

"Bodoh, apa kau tidak melihat?" Cengkramannya melemah. "Karena aku cemburu. Aku iri padanya atas semua yang dia punya." Katanya mengakui. "Dia memiliki hati yang bersih dan lembut. Dia punya kekuatan Feng. Dia bisa dengan mudahnya memaafkan orang-orang yang menyiksanya di He Fei dulu. Tidak hanya itu, dia bahkan bisa sangat dekat dengan ayahku, padahal dia bukan siapa-siapa. Dan terutama..." Cao Pi menatapku, lama sekali. "... dia memiliki hatimu, sementara aku tidak mendapat satu bagian pun."

Saat tangan Cao Pi lepas seluruhnya dari bahuku, aku baru bisa bernafas lega. Perlahan kutatap Cao Pi. Pangeran Wei satu ini kasihan juga kelihatannya. Tapi aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

"Padahal, Yangmei, aku pun sayang padamu seperti Lu Xun menyayangimu."

Mataku terbelalak lebar. "Apa?" Seruku tidak percaya. "Kau jangan salah! Lu Xun benar-benar-benar-benar sayang padaku sampai kejadian di He Fei itu dia yang mengalami, bukan aku! Kupikir, mana ada orang yang bisa menyayangiku seperti itu kalau bukan dia?" Jelasku panjang lebar.

"Bukalah matamu lebar-lebar, Yangmei." Katanya. "Baik aku maupun Lu Xun sudah harus hidup dengan wanita lain. Aku dengan Zhen Ji sementara dia dengan Putri Mingzhu. Lalu apa bedanya kami berdua? Tetapi kenapa kau memilihnya?"

Aku menggaruk kepalaku, bingung harus mengatakan apa-apa. Kalau dipikir-pikir, perkataan Cao Pi ini ada benarnya juga. "Nggg... bedanya kau kan menginginkanku karena aku punya kekuatan Huang. Tetapi Lu Xun sayang padaku apa adanya."

"Kau masih tidak percaya?" Tanya Cao Pi dengan nada menantang. "Aku pun bisa menyayangimu apa adanya."

"Yang bisa cuma Lu Xun."

Dia mendengus kesal. Nafasnya memburu. Kelihatan sekali kalau dia sedang menahan amarah. Eh? Apa benar dia sayang padaku sampai sebegitu bencinya pada Lu Xun? Aku jadi serba salah sendiri. "Lu Xun! Selalu yang kau pikirkan cuma Lu Xun!" Bentaknya. "Ini yang membuatku ingin terus-menerus menyiksanya, membuatnya menderita! Aku muak padanya! Kenapa di otakmu hanya ada dia saja?"

Aku benar-benar sekarang tersentuh melihatnya. Terutama sesudah dia membelakangiku sambil menundukkan kepala. Tangannya masih saja terkepal kuat sampai memutih. Dengan takut-takut aku mendekatinya, kemudian memegang tangannya selembut mungkin. "Sebenarnya aku tidak sebenci itu padamu, kok!" Kataku berusaha menghibur. "Tapi kau biasanya jahat sekali padaku dan pada Lu Xun. Makanya aku jadi benci padamu. Coba kalau dari awal kau sebaik ini, mungkin aku pun tidak perlu jahat padamu." Kataku. Sejujurnya, aku agak memaksakan diri saat mengatakannya, meski aku tidak bohong.

"Benarkah?" Dia berbalik. "Kalau begitu, apa ada kemungkinan bagiku untuk mendapatkanmu?"

Ditanya begitu, aku jadi bingung menjawabnya. Mataku berkedip berkali-kali sambil memiringkan kepalaku. Bingung harus menjawab apa. Aku sayang, sayang sekali pada Lu Xun. Tapi kalau Cao Pi bilang begitu, aku jadi tidak tahu harus bagaimana. Susah juga, kenapa seorang gadis yang tidak ada keistimewaannya sepertiku bisa disayangi dua orang sekaligus? Ah! Sial! Ini tidak adil! Tidak mungkin kan aku suatu saat bersuami dua orang? Kalau jadi laki-laki lebih enak, bisa punya istri lebih dari satu.

Eh? Kenapa aku bisa berpikir begini? Ini kan artinya aku mendua? Meski Cao Pi mengakuinya dengan sungguh-sungguh, tetap saja aku tidak boleh mendua! Aku kan sudah punya Lu Xun? Tapi kalau aku menjawab 'tidak', kok rasanya aku jahat sekali.

"Nggg..." Aku tidak tahu harus memandang pada siapa, yang pasti bukan pada Cao Pi. "...m-mungkin ada... coba saja." Kataku.

Cao Pi cuma tersenyum, dan ini membuatku kaget. "Ya sudah kalau begitu." Kemudian dia berbalik akan meninggalkan kamarku. "Aku akan berusaha mengalahkan Lu Xun untuk mendapatkanmu." Katanya dengan senyum yakin padaku, sebelum hilang di balik pintu kamarku.

Aku tertegun sejenak, tanpa bisa berkata-apa. Apa mungkin jawabanku salah, ya? Apa aku sedang membuka celah untuknya? Bagaimana kalau Lu Xun sampai tahu?


Yeahhh... Yangmei mulai jadi Anti-Sue... (Makin kasian aja si Lu Xun... XDDDDDD Yahhh... sekali lagi karena authornya sedang pelampiasan... XDDD *dinuklir*)

BEWARE! SPOILER STARTS HERE!
Sebelum sodara menuding dan menuduh Yangmei sebagai Mary-Sue, saya akan menekankan sesuatu: CAO PI TUH NGGAK MUNGKIN JATUH CINTA AMA YANGMEI! Di chap ini, Cao Pi cuma istilahnya 'membohongi' Yangmei doank... Lagian nggak mungkin lah ada yang suka ama cewe nggak aturan kayak Yangmei selain Lu Xun... XDDDD
SPOILER ENDS HERE.

Tentang jam air, sejujur-jujurnya saya juga nggak pernah liat jam air China... XDDDD saya cuma tahu kalo zaman dulu di China tuh pake jam air...

Ehm, sejujur-jujurnya, scenenya Lu Xun ama Cao Cao itu mirip banget ama scene di Breath of Fire IV (ada yang maen?) pas Ryu lagi ngomong2 ama nenek tua yang tau segala itu... (aku lupa siapa namanya... XDDD). Yah, emang dari situ juga sih inspirasinya... wkwkwkw... (Emang game RPG?).

Trus, yang kedua, PENTING! Tentang kota Yu Yao ntu... Kenapa aku pengen banget bikin si Lu Xun ntu lahirnya di Yu Yao aja... bukan di Wujun...?
1. Soalnya Lu Xun tuh nggak jelas lahir dimana... cuma tertulis kalo dia dibesarkan di Wujun... XD (Pembenaran... pembenaran... *dinuklir*)
2. INI ALASAN YANG SEBENARNYA: Ceritanya tuh pas aku jalan2 ke China, aku ketemu lukisan yang gambarnya bangunan Forbidden City ama Temple of Heaven (Tiantan yang disebut Lu Xun itu ya Temple of Heaven...). Trus di atasnya ada gambar matahari gede dan besar banget... Nah, di matahari itu ada gambarnya Phoenix! Ternyata, sodara, Phoenix (tepatnya Feng) itu identik dengan matahari juga... Trus hubungannya ama Yu Yao itu gini: Kan matahari terbit di sebelah timur. Yu Yao tuh tempat paling timur, paling deket ama matahari terbit... makanya getu ceritanya kenapa aku bikin si Lu Xun bukan lahir di Wujun doank... Biar seru dan lebih banyak 'simbolisnya'... XDDDD *dinuklir* (tapi tenang... ini cuma sedikit berhubungan ama plot, kok... nggak terlalu banyak...)
Kalo tentang Yangmei, tentu aja ada 'special'nya juga kayak Lu Xun gini... ^^ Kalo Phoenix yang cewe (Huang), itu identik dengan bulan... Tapi itu pengungkapannya nanti... XDDDD

BTW, baru hari ini aku nyadar sesuatu... Bagi yang pernah nonton ato baca novelnya Putri Huan Zhu, tuh kan ada chara yang namanya Xiao Yanzi (yang diperankan ama Vicky Zhao), sama Yong Qi, pacarnya si Xiao Yanzi (diperankan ama Tommy Su). Nah, kalo dilihat2, Xiao Yanzi sifatnya hampir mirip ama Yangmei, trus berarti kalo diibaratkan tuh si Lu Xun jadi Yong Qi-nya... Yong Qi tuh seorang Pangeran Kelima... dan di bagian ini, Lu Xun kok juga Pangeran Kelima? o.O Wewww... ini ketidaksengajaan belaka, kok... XDDDDD

Yahhh... Update hari Kamis! Kali ini saya jamin nggak bakal telat!

Next chap: Letter from An Old Friend (lagi2 judulnya nggak genah...)

Thnx for reading! ^^ Review?