Kaito terbangun, dia tidak tahu keadaan di luar karena dia berada di ruang bawah tanah. Dia melihat ke sekelilingnya, namun Gakupo tidak ada di sana. Dia berdiri dan mengenakan pakaiannya. Lalu dia berjalan meninggalkan ruangan tersebut.

Sesampainya di permukaan, matahari menyinari kuil Shion dan seperti tadi malam, suasananya benar-benar hening karena semua orang telah mengungsi. Kaito mulai berjalan mencari Gakupo, dari depan kuil hingga ke halaman belakang, dia tidak menemukannya. Bahkan di pohon-pohon besar pun dia tidak ada. Kaito mulai terlihat cemas.


Jauh dari kuil Shion, di sebuah gunung tua ada sebuah rumah bobrok yang sudah ditinggalkan cukup lama. Di sana sangat sepi dan terisolasi, tidak ada tanda-tanda manusia, bahkan binatang liar. Di dalam rumah itu, Neishi terlihat sedang menderita dan mencoba menutupi lukanya, tetapi matanya terus meneteskan darah. Dia mulai kesal dan menendang kayu-kayu di sekitarnya.

"Kau terlihat menyedihkan."

Neishi langsung menoleh dan terkejut melihat Gakupo berdiri di halaman rumah itu. Neishi mulai berubah menjadi rubah, namun kembali menciut karena dia tidak memiliki kekuatan penuh.

"Hentikan." Gakupo melangkah maju dan mulai masuk ke ruangan Neishi berada. "Tidak sulit menemukanmu. Anggap saja aku memiliki teman yang tahu tempat-tempat persembunyian mahluk sepertimu."

"Kau akan membunuhku?" Neishi terlihat siaga.

Gakupo mengangkat bahunya, "Tidak. Aku tidak akan repot-repot melakukan itu."

"Lucu sekali." Neishi menyeringai, "Kau memiliki kekuatan Seiran yang jauh lebih besar dari milikku dan kau mengabaikannya begitu saja."

"Karena aku tahu membunuhmu dengan tanganku sendiri bukanlah sebuah keputusan yang bijaksana." Gakupo berjalan mundur, "Kau tahu apa yang akan aku lakukan setelah meninggalkan tempat ini."

"Kau akan memberitahu kekasihmu jika aku berada di tempat ini dengan keadaanku yang rentan?" Neishi tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Kau benar-benar seekor rubah, Kamui Gakupo. Kau licik, sadis, dan mungkin lebih dari apa yang kau ketahui."

"Setidaknya aku tidak membunuh manusia dan youkai untuk kepentingan pribadi." Gakupo menatapi Neishi dengan dingin, "...Yuuma."

Neishi mengangkat kedua alisnya dan sedikit terkejut. Dia pun tertawa kecil dan menutup matanya yang terluka. "Oh... nama yang sudah lama tidak aku dengar."

Gakupo melihat ke sekelilingnya, di ruangan bobrok ini Gakupo merasakan sebuah energi yang kuat namun menderita. Lalu dia kembali menatap Neishi, "Apa yang kau lakukan dengan tempat ini sebelumnya, Yuuma?"

Mata Neishi tiba-tiba menyala menjadi merah terang—begitupula matanya yang terluka, taringnya keluar dan dia tersenyum sinis. "Sepertinya kau tahu apa yang terjadi."


Beberapa tahun setelah Neishi meninggalkan dunia youkai, dia menjajah seluruh desa dan membunuh manusia agar dia bisa mengambil jiwa-jiwa mereka. Dia tidak terkalahkan dan bagai seorang iblis yang terlepas dari rantai besi. Neishi menghabiskan waktunya berburu sendirian dan dia tahu Seiran sedang mengejarnya saat ini. Kekuatan Neishi sudah jauh lebih dari apa yang dia bayangkan, dan dia sudah siap menghancurkan dunianya sendiri.

Saat dia melewati sebuah desa kecil, dia melihat sebuah rumah sedernhana di gunung yang jauh dari pemukiman. Neishi merasakan banyak jiwa di sana, dia pun berhenti dan berencana untuk membunuh semua orang yang ada di rumah tersebut.

Seperti biasa, Neishi memperlihatkan kemampuannya dan masuk dengan dramatis. Dia menjebolkan pintu ruang tengah dimana semua anggota keluarga sedang berkumpul. Saat mereka melihat Neishi, mereka benar-benar ketakutan dan yang dipikirkan oleh mereka hanyalah sebuah kematian.

Neishi menoleh ke arah sang orangtua, dengan mudahnya, Neishi melemparkan bola api ke kepala orangtua keluarga itu. Mereka berteriak kesakitan sementara anak-anaknya mencoba keluar dari ruangan itu, namun entah bagaimana Neishi bisa menahan pintu tersebut tanpa menyentuhnya. Anak-anaknya menangis melihat orangtua mereka menderita sementara Neishi menarik jiwa mereka.

Tak lama kemudian, jiwa mereka berdua lepas dari tubuhnya. Neishi meremasnya dan tiba-tiba sebuah cahaya berjalan dari tangannya ke seluruh tubuhnya, jiwa itu masuk ke tubuh Neishi. Dia terkekeh dan memiringkan kepalanya sambil menatapi kedua anak dari pasangan tersebut.

Sang kakak perempuan mencoba untuk melindungi adik laki-lakinya. Dia memang ketakutan, matanya dipenuhi air mata namun dia berdiri di hadapan adiknya dan menghalangi Neishi untuk mendekat.

"Yuuma! Tetaplah di belakangku!" teriak sang kakak.

"Ta—tapi..." anak kecil itu—Yuuma, melihat ke arah orangtuanya yang kepalanya sudah menghitam karena terbakar dan tergeletak tak bernyawa. "Ayah... Ibu..."

"Yuuma!" sang kakak tetap berdiri tegak.

Dengan memberanikan diri, tiba-tiba Yuuma berlari ke arah orangtuanya. Neishi tersenyum dan menahan tubuh Yuuma dengan kekuatannya, dia tidak bisa bergerak dan dia seperti tertarik ke arah Neishi.

"Lepaskan, Yuuma!" teriak sang kakak yang juga tidak bisa menggerakan tubuhnya. "Aku bersumpah jika kau menyentuh adikku, aku akan—"

Neishi menoleh ke arah sang kakak dengan cepat dan matanya menyala dengah cepat, seketika sang kakak terdiam dan matanya memutih.

"Mizuki!" teriak Yuuma sambil menangis, dia mencoba menggerakan tubuhnya tetapi dia tetap terperangkap.

"Kakak yang manis." Neishi menyeringai, "Pasti jiwanya juga manis."

Neishi menggerakan jemarinya dengan gemulai, sebuah gumpalan cahaya keluar dari mulut Mizuki dan itu adalah jiwanya. Neishi terlihat kagum, "Aku selalu menyukai jiwa wanita seumurannya. Begitu bersih, naif, malu-malu, dan... mudah untuk diambil." Setelah tubuh Mizuki tergeletak, Neishi menoleh ke arah Yuuma yang dibanjiri air mata. "Dan kau, anak muda. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padamu."

Sama seperti apa yang dia lakukan pada Mizuki, Neishi dengan mudahnya menarik jiwa Yuuma dari tubuhnya. Neishi berhasil memakan jiwa keluarga tersebut dan dia merasakan jiwa mereka merambat di dalah tubuhnya. Dia merasakan sesuatu yang berbeda dari jiwa-jiwa tersebut, namun Neishi tidak tahu jiwa siapa yang paling kuat.

Tiba-tiba, sebuah anak panah tertembak meleset ke arah samping. Neishi terkejut dan membalik badannya. Di hadapannya, ada kepala keluarga Shion saat itu. Dia datang bersama pasukan kecil namun sangat terlatih, mereka mengangkat busur mereka dan bersiap membidik anak panah ke tubuh Neishi.

"Neishi..." ucap kepala keluarga Shion. "Beraninya kau datang ke tempat ini."

Neishi tersenyum sinis, "Sepertinya ini adalah tempat persembunyianmu." tiba-tiba Neishi merasa mual dan dia memuntahkan darahnya, "A—apa ini...?"

Darah di tatami berubah menjadi kobaran api, Neishi menatap kepala keluarga Shion dengan penuh amarah, "Apa yang kau lakukan?!"

Kepala keluarga Shion melihat semua korban yang dibunuh oleh Neishi, begitpula dengan tubuh Yuuma. Mata kepala keluarga Shion terbelalak, kini dia juga diliputi amarah. Dia mengangkat busurnya dan menggertak giginya.

"Kau mengambil jiwa mereka?!"

"Persetan dengan itu!" Neishi masih terlihat menderita. "Kenapa aku—?!" Neishi mulai berubah menjadi rubah besar dan menghancurkan setengah dari pondasi rumah tersebut. Dia meraung dengan keras dan kobaran api di seluruh tubuhnya menghancurkan atap.

Karena merasa menderita, Neishi pun terbang meninggalkan tempat itu secepat mungkin dan menghilang dari tatapan Shion dan prajurit khususnya. Setelah dia pergi, kepala keluarga Shion berlari menghampiri Yuuma. Dia sudah tidak bernyawa dan tubuhnya sedingin es. Dia menangis dan memeluk Yuuma dengan erat.

"Anakku... Anakku yang malang." ucapnya sambil menangis memeluk erat Yuuma.


Gakupo tersenyum namun wajahnya terlihat prihatin ke arah Neishi, "Siapa yang tahu."

Neishi kembali mereda dan berubah ke tubuh manusia. Dia membalas senyuman Gakupo dengan sinis, "Sejak kapan kau tahu tentang ini?"

"Tidak lama." Gakupo menghembuskan nafasnya agar suasana di tempat ini tidak panas karena amarah Neishi yang baru saja keluar. "Aku menemukan sebuah gulungan riwayat milik sang kepala keluarga Shion saat itu di tempat yang bahkan pemiliknya tidak tahu." Gakupo berhenti tersenyum, "Shion Yuuma, anak haram dari Shion Akaito. Itu adalah jiwa pertama keluarga Shion yang ada dalam tubuhmu. Keluarga Shion mengutukmu dengan sebuah sumpah jika kau memakan jiwa mereka kau akan terbakar hingga mati, dan kau yang tidak tahu apa-apa mengambilnya. Tetapi kita adalah siluman rubah, sebuah kutukan manusia tidak akan sepenuhnya bekerja pada kita. Sebagai gantinya, kau akan selalu merasa terbakar meskipun kau memiliki kekuatan api."

"Hmm..." Neishi mendesis, "Aku tahu mereka senang mengutuk youkai."

"Mereka mengutukmu dan youkai yang tunduk padamu." Gakupo mendekat, "Saat kau disebut Neishi, dan mengamuk ingin disebut Yuuma, itu karena jiwa Yuuma tercampur dengan jiwamu. Dia berusaha keluar dari tubuhmu, sebagai jiwa keluarga Shion pertama, dia tidak akan memipih begitu saja di dalam tubuhmu, keluarga Shion terkenal dengan keberanian dan kadang dengan kekeras kepalaan mereka. Lalu aku sadar..."

Neishi mundur, merasa dia terpojok, "Apa—?"

Gakupo menatap dingin ke arah Neishi, "Sebenarnya... siapa yang mengendalikan Akagitsune no Neishi?"

Gakupo langsung berubah menjadi rubah besar dan menindih tubuh Neishi yang masih dalam bentuk manusia. Cakarnya menahan seluruh sendi Neishi dan dia kesusahan untuk berubah. Gakupo meraung ke wajah Neishi dengan keras. Raungan tersebut membuat Neishi berteriak lebih kencang dan tiba-tiba mata merah Neishi berganti menjadi hitam. Tetapi, matanya pun kembali berwarna merah.

"Yuuma! Sadarlah! Kau bukan Neishi!" Gakupo masih meraung.

"Tidak! Sekarang aku adalah Akagitsune no Neishi!" teriak Neishi dengan taring yang tiba-tiba keluar.

Gakupo berhenti meraung tetapi tancapan cakarnya lebih dalam, "Jika kau terus seperti ini, Neishi akan menang dan Kaito tidak bisa memenuhi takdirnya. Jika dia datang melawanmu, kaulah yang akan mati, bukan Neishi!" Gakupo berusaha menstabilkan tubuh Neishi agar tidak keluar, "Aku membaca riwayat keluarga Shion! Jika keluarga Shion membunuh satu sama lain, mereka akan runtuh dan terjebak dalam lingkaran waktu yang tidak berujung!"

"Aku adalah Akagitsune no Neishi! Dan namaku adalah Yuuma!" amarah Neishi pun berhasil membuatnya lepas dari cengkraman Gakupo, dia tersenyum dan mulai berubah menjadi rubah merah.

Gakupo kembali ke tubuh semula, dia tampak kecewa, "Aku tidak akan pernah membunuh keluarga Shion, tidak satupun."

"Berarti kau lemah." Neishi mulai menyerang Gakupo.

Gakupo menahan serangan Neishi sebelum dia berubah menjadi rubah putih. Ini ada di luar rencana Gakupo, jadi dia tidak yakin harus menyerang kembali. Gakupo bisa mengalahkannya dengan mudah tetapi 2 alasan utama adalah penghalangnya. Pertama, dia adalah Neishi. Kedua, dia adalah anggota keluarga Shion, terlebih lagi youkai yang sehat tidak boleh membunuh manusia. Setelah menghindari serangan Neishi, Gakupo akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Neishi di tempat itu. Memang tidak mudah, karena Neishi benar-benar merepotkan untuk dilewati. Serangannya sangat barbar.

Gakupo pun berubah menjadi rubah putih, dia tidak meraung atau memberitahu posisinya, dia terdiam dan siap untuk terbang keluar. Tiba-tiba, ekornya berubah menjadi merah dan mata putihnya memudar menjadi merah. Dia menahan rasa sakitnya dan berusaha tetap pada tubuh rubahnya. Neishi pun muncul di hadapannya.

"Kenapa buru-buru?" Neishi mengeluarkan bola api dari mulutnya dan menghantam wajah Gakupo.

Akhirnya Gakupo kembali menjadi manusia dan terlihat kelelahan. Dia mencoba untuk berdiri dengan tegak dan tidak terlihat goyah. Namun Neishi tidak akan memedulikan hal itu, dia pun berlari ke arah Gakupo dan hendak menginjaknya dengan kaki rubah besarnya.

"Neishi!"terdengar suara anak kecil dari belakang.

Neishi pun terkecoh dan dia menoleh ke belakang, di sana ada wajah yang sudah tidak asing bagi mereka. Neishi tersenyum sinis, "Kagamine Rin... bocah pembuat onar. Di mana saudaramu?"

"Di sini." ada suara di arah yang berlawanan, Neishi menoleh dan Len memukul wajah rubah tersebut dengan keras. Memang tidak ada efeknya, tetapi bisa mengecoh Neishi agar Gakupo bisa lari dari tempat itu. "Aw sial! Tanganku!" Len menggoyangkan tangannya yang kesakitan. Lalu, dia pun menghilang dari hadapan Neishi.

Neishi melihat sekelilingnya dan semuanya sudah tidak ada di sana. Dia meraung.


Kaito sudah berpakaian lengkap dan membawa beberapa senjata. Saat dia sedang menata anak panah, terdengar suara bantingan di halaman belakang. Dia terkejut dan mengambil sebuah pedang kecil untuk jaga-jaga. Saat dia diam-diam melihat ke halaman belakang, di sana ada Gakupo dan Kagamine bersaudara.

"Gakupo!" Kaito memasukkan kembali pisaunya dan berlari ke arah mereka. "Kau kenapa?" Kaito menahan tubuh Gakupo sementara Kagamine bersaudara pergi untuk mengamankan daerah kuil. Kaito terkejut melihat mereka, "Itu... Kagamine?"

"I—iya..." ucap Gakupo parau, lalu dia batuk cukup keras.

"Dari mana saja kau?" Kaito pun pergi untuk merebahkan tubuh Gakupo di ruang tengah.

Di ruang tengah, Kaito melihat luka bakar di tubuh Gakupo, dan masih terlihat baru. "Apa kau... baru saja bertemu dengan Neishi...?"

"Begitulah." Gakupo mencoba untuk berdiri, "Aku tidak apa-apa. Aku bisa mengobati serangannya." dia pun menghela nafasnya dan menggenggam tangan Kaito dengan erat, "Ada sesuatu yang harus kuberitahu."


Rin dan Len telah selesai memeriksa kuil Shion dan semuanya sudah aman. Mereka pun berjalan kembali ke ruang tengah untuk bertemu dengan Kaito dan Gakupo.

"Apa menurutmu Shion Kaito benar-benar mencintai Seiran?" tanya Len lalu dia mengernyit, "Apa itu sejalan dengan hukum alam manusian dan youkai? Maksudku, manusia dan youkai tidak bisa hidup berdampingan, apalagi saling mencintai."

"Diamlah, Len. Seiran ini dulu adalah manusia, dan tidak ada salahnya untuk mencintai seseorang." Rin pun menghela nafasnya menggelengkan kepalanya, "Seiran datang ke tempat persembunyian kita dan menyuruh kita untuk mengecoh Neishi jika dia sudah terpojok. Memang kita apanya? Babu?"

Len juga terlihat protes, "Dia memiliki semacam sihir yang kuat karena dengan senyumannya saja, kita bisa tunduk di hadapannya."

"Itu dia masalahnya, mungkin kita harus menutup mata kita saat dia memohon pada kita." Rin terkekeh, begitu pula dengan Len.

Mereka pun sampai di ruang tengah, namun suasana di tempat itu cukup berat bahkan bagi Kagamine bersaudara. Kaito terlihat gusar dan Gakupo mencoba untuk menenangkannya.

Rin menoleh ke arah Len dan tersenyum kaku, "Len, kau mau memeriksa kembali seluruh kuil?"

Len mengangguk dengan cepat, "Tentu saja. Ayo kita periksa kembali kuil ini."

Mereka pun meninggalkan Kaito dan Gakupo yang terlihat sedang berselisih.

"Aku tidak percaya kau tidak memberitahuku terlebih dahulu dan memutuskan untuk menghadapinya begitu saja." Kaito terlihat kecewa, "Aku pikir kita akan selalu bersama setelah malam itu. Kita sudah berjanji, Gakupo!"

"Aku menemukan gulungan riwayat itu tadi pagi dan aku tidak ingin membangunkanmu." Gakupo beralasan.

"Oh tentu saja kau tidak mau membangunkanku tapi kau selalu datang dengan tiba-tiba dan tidak peduli apa yang sedang aku lakukan. Gakupo, berhentilah bermain sembunyi seperti ini. Aku sudah muak. Dan apa yang kau ceritakan..." Kaito menghela nafasnya. "Aku tidak percaya Yuuma memiliki darah keluarga Shion."

Gakupo menatap Kaito dengan penuh harapan. "Tetapi dia bukanlah anggota keluarga Shion murni. Dia anak haram, Kaito. Dia tidak ada hubungannya dengan misi utama keluargamu. Aku harap kau tidak menahan takdirmu karena ini."

"Tentu saja tidak." Kaito membuang muka, "Jiwanya tercampur dengan Neishi dan selama ini dia hanya duduk menonton Yuuma melakukan tugasnya. Sementara dia memakan seluruh jiwa—" Kaito berhenti dan mengingat sesuatu, "Tunggu dulu... jika keluarga Shion tidak bisa membunuh satu sama lain. Lalu bagaimana dengan Amagoto?"

Gakupo melirik Kaito dengan mata pasrah, "Lalu kenapa kita terus menerus mengulang masa lalu? Inilah kutukan keluarga Shion jika mereka membunuh satu sama lain." Gakupo kembali menggenggam tangan Kaito, "Terjebak dalam lingkaran waktu yang tidak berujung. Satu-satunya cara untuk mengakhiri semua ini adalah dengan membunuh Neishi, bukan mengurungnya, karena kutukan itu masih melekat pada Yuuma yang membunuh Amagoto."

Di dalam keheningan, mereka dikagetkan dengan kemunculan Megurine di hadapan mereka. Kaito dan Gakupo tampak terkejut karena Megurine menginjakkan kakinya di permukaan.

"Ada apa ini?" tanya Gakupo yang berdiri dan menghampiri Megurine.

"Ada youkai yang melihat Neishi. Matanya... telah kembali pulih." Megurine tampak khawatir.

"Tidak mungkin!" Kaito berdiri dan terlihat tidak percaya, "Tidak mungkin dia bisa sembuh. Gakupo saja belum sepenuhnya pulih."

"Shion Kaito." Megurine menoleh ke arah Kaito, "Neishi memiliki jutaan jiwa manusia dalam tubuhnya. Pasti kekuatan jiwa itu yang menyembuhkannya."

"Apakah aku, Gakupo yang terluka, dan mungkin bantuan dari Kagamine bersaudara, bisa mengalahkan Neishi?" tanya Kaito yang terlihat tidak yakin dengan pertarungan terakhir mereka.

"Kaito..." Gakupo menoleh, "Mengalahkan Neishi adalah takdirmu, bukan kami. Dan lagi aku dan Neishi tidak bisa membunuh satu sama lain, kecuali jika orang lain yang melakukannya."

Kaito menghela nafasnya dalam perasaan terbebani, "A—aku tahu... tapi, mungkin kalian bisa menolongku..."

"Kami tidak bisa campur tangan dalam pertarunganmu dan Neishi. Kemungkinan youkai pengikut Neishi akan muncul dan mencoba menghentikanmu." jelas Gakupo, "Kami bisa menahan mereka dan mungkin dengan kekuatan Megurine, dia bisa membuka mata mereka. Dan untukmu... kau harus menghadapi Neishi sendirian." Gakupo mengernyit, "Masalahnya adalah... bagaimana kita menyingkirkan Yuuma dari pertarunganmu."

Megurine pun tidak memiliki jawaban untuk ini karena ini adalah kehendak Yuuma. Yuuma harus sepenuhnya rela jika dia mati di tangan Neishi.

"Ini akan sangat sulit." ucap Kaito yang sudah tidak bisa berpikir lagi. "Jika kita tidak bisa membunuh Neishi bersama-sama, setidaknya kita bisa menyadarkan Yuuma bersama-sama."

Megurine pun menunjukkan wajahnya yang sepertinya memiliki sebuah ide, "Aku tahu sebuah cara, tetapi ini akan membahayakanku dan Seiran."

Kaito menoleh ke arah Gakupo dengan wajah khawatir, namun Gakupo hanya memberikan senyuman simpul. "Tidak usah khawatir. Kita akan baik-baik saja."


Malam pun tiba, malam hari adalah waktu yang sangat menguntungkan bagi Neishi, karena manusia biasa seperti Kaito tidak bisa melihat dalam kegelapan. Di kuil Shion, semuanya sudah mulai berjaga dan menunggu kedatangan Neishi. Kagamine bersaudara memang memiliki kemampuan mengendalikan pikiran, tetapi mereka tidak bisa mengendalikan pikiran Megurine dan para rubah. Akhirnya mereka ditugaskan untuk menjaga pintu depan dan belakang, kemampuan fisik mereka memang tidak seberapa, tetapi keberanian mereka membuat mereka bertambah kuat.

Kaito menatapi anak panahnya, dia mencoba untuk membulatkan tekadnya. Bukan Neishi yang dia permasalahkan, namun Yuuma. Jika Yuuma masih berada di tubuh Neishi, Kaito akan merasa ragu-ragu untuk menghabisinya. Gakupo tiba-tiba muncul di belakang Kaito.

"Kau sudah siap?" tanya Gakupo.

Kaito menyimpan semua anak panahnya pada tas di punggungnya, dia juga mengambil pedang milik Amagoto. Dia menarik busurnya dan membalik badannya, menunduk tanpa menatap mata Gakupo. "Jika... jika semua ini selesai." kini dia mengangkat wajahnya, "Apa yang akan terjadi pada kita semua?"

Gakupo sempat tidak menjawab. Perlahan tangannya yang dingin membelai pundak Kaito, "Masa depan bagaikan genangan air. Jika kita menyentuhnya, gelombangnya pun akan berubah. Kau tidak tahu bagaimana kau akan menyentuh air tersebut, dan dari sentuhan itu tidak ada yang tahu bagaimana gelombang itu akan seperti apa."

"Megurine bisa melihatnya." Kaito menyela.

Gakupo tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, "Dia tidak bisa melihat apa yang akan terjadi di pertarunganmu nanti. Mungkin alam semesta akan melakukan sesuatu yang besar, bahkan Megurine tidak bisa melihatnya."

Tiba-tiba Kaito memeluk Gakupo dengan erat. Kepalanya tenggelam dalam pelukan Gakupo yang dingin. Kaito tidak menangis, namun dia merasa ini adalah terakhir kalinya dia akan melihat Gakupo.


Suasana kuil tiba-tiba memanas, Rin pun akhirnya berlari ke ruangan dimana Kaito berada. "Dia di sini." ucapnya.

"Baiklah. Ingat rencana kita." Kaito pun pergi dari ruangan tersebut terlebih dahulu meninggalkan Gakupo dan Rin.

Rin terlihat kagum, "Dia benar-benar keturunan Shion sejati. Lihatlah betapa bersemangatnya dia."

Gakupo tersenyum.

Megurine berada di titik tengah halaman belakang. Di sana sangat luas dan akar berwarna putih merambat dari kakinya hingga ke seluruh penjuru halaman, akar-akar itu bercahaya dan membuat seluruh halaman yang gelap menjadi terang. Kaito melihat perubahan Megurine dan sempat terkesima, dia belum pernah melihat Megurine seperti ini. Lalu, Megurine pun berhenti dan menatap Kaito di hadapannya.

"Megurine akan melindungi Shion Kaito."

Kaito tersenyum, "Terima kasih."

Akar-akar tersebut semakin lebat, dan salah satu akarnya melilit di kaki Kaito. Megurine bisa merasakan jiwa Kaito, kini tubuh Megurine bercahaya melebihi Gakupo, "Megurine bukanlah seorang Shion. Megurine adalah Penguasa Gunung Youkai Utara."

Neishi datang dan hendak mendarat di halaman belakang keluarga Shion. Dia tidak pernah melihat Megurine mengeluarkan kekuatan seperti ini. Dia tidak melihat Kaito karena entah kenapa akar-akar tersebut menghalangi pandangan Neishi. Gakupo terlihat keluar dari kuil, dia menatapi Neishi dengan pedas.

"Oh lihatlah siapa yang baru datang." Neishi menyeringai ketika melihat sosok Gakupo.

Gakupo pun berubah menjadi Rubah Putih dan melayang ke angkasa menghampiri Neishi. Tidak mau kalah, Neishi pun ikut berubah menjadi Rubah Merah.

"Aku akan membunuh kalian semua dengan tanganku sendiri." Neishi tampak percaya diri.

"Syukurlah kau membunuhku dengan tanganmu bukan dengan bokongmu." Gakupo menyeringai, lalu memberikan serangan mendadak.

Gakupo meniupkan angin es yang tajam dan mengenai wajah Neishi dengan cukup parah karena angin es itu terus-terusan keluar dan membuat tubuh Neishi terhenti. Saat Gakupo mengambil nafas, Neishi menyerang kembali. Kini kobaran api mengelilingi Gakupo. Dia mencoba untuk memadamkan api tersebut namun, api Neishi yang kini bagaikan api neraka kekal dan hanya bisa dihentikan dengan es khusus. Gakupo tidak akan membuang-buang tenaga terkahirnya hanya untuk mematikan lingkaran api, akhirnya dia hanya terdiam terperangkap dalam bola api.

Neishi tampak bangga dan dia akan menyerang Gakupo untuk terakhir kalinya, namun sebuah sosok besar muncul di belakang Neishi. Tubuh Rubah Merah memang besar, namun sosok di belakangnya jauh lebih besar dari apa yang bisa dibayangkan oleh Neishi. Sosok itu bercahaya putih kebiruan dan membentuk sebuah tubuh dan wajah yang tidak asing di mata Neishi. Sosok putih kebiruan itu terlihat seperti Kaito. Namun Neishi hanya bisa merasakan jiwa Megurine dari sosok itu.

"Apa-apaan ini?!" Neishi tampak bingung.

Jauh di bawah, Kaito tertutupi oleh akar-akar putih milik Megurine. Akar tersebut membentuk sebuah kotak dan membiarkan Kaito berada di dalamnya. Kini Kaito seperti berada di sebuah ruangan yang berdinding akar putih bercahaya. Kaito pun mengambil anak panah kayu biasa dan mengangkat busurnya.

Sosok besar putih tersebut mengikuti persis apa yang dilakukan Kaito. Neishi mengernyit terkejut dan dia berusaha untuk kabur dari bidikan tersebut.

Kaito memejamkan matanya dan bergumam, "Yuuma."

Sosok besar itu menerbangkan sebuah anak panah yang terbuat dari akar putih bercahaya milik Megurine. Dengan cepat, anak panah itu melesat dan hampir mengenai tubuh Neishi. Kaito berkedut dan menyadari jika tembakannya meleset. "Ayolah, Megurine. Dia ada di depanmu. Fokus."

Megurine mengambil nafas dan kembali berpose seperti akan menembakan anak panah. Neishi tidak akan berhenti begitu saja, meskipun Megurine berubah menjadi sosok besar dan bercahaya, namun kelemahannya adalah dia tidak terlalu cepat. Neishi dengan mudahnya menembakkan bola api ke wajah sosok besar putih kebiruan itu.

Gakupo melihat sekelilingnya dan api tersebut masih mengelilinginya. Dia harus berbuat sesuatu sebelum Megurine kewalahan. Saat dia berpikir, tiba-tiba terdengar suara kecil dari belakang bola api tersebut.

"Kau saja!"

"Kenapa harus aku?!"

"Cepatlah!"

Tiba-tiba, bola api itu bercelah. Gakupo terkejut melihat Rin dan Len menggerakan sebuah besi yang cukup besar, namun mereka tidak menyentuhnya dengan tangan mereka.

"Apa ini?" tanya Gakupo.

"Berhentilah bertanya! Cepat keluar! Besi ini bisa membunuh kami!" Rin mengomel.

Gakupo pun keluar dari celah tersebut dan terbebas dari bola api Neishi. Rin dan Len tidak menyentuhnya, tetapi mereka mengendalikannya dengan pikiran mereka. Setelah Gakupo benar-benar keluar, besi itu pun terjatuh ke bawah dan tergeletak di tanah samping kuil Shion.

"Kalian mengambil besi murni untuk membuat anak panah keluarga Shion?" Gakupo tampak terkejut namun banga dalam waktu yang bersamaan. "Kalian benar-benar hebat."

Neishi merasakan hawa Gakupo di udara bebas. Neishi yang kewalahan menarik bola api yang mengurung Gakupo dan dia melihat Gakupo sedang melayang bersama Kagamine bersaudara, "Kalian!"

Neishi terkecoh dan anak panah akar putih Megurine mengenai jantung Neishi. Dia pun kembali ke tubuh manusianya. Suasana saat itu terasa lambat, mereka melihat Neishi yang tidak berkutik namun mulutnya menganga dan matanya terbelalak.

Dengan mata yang hampir mati, Neishi menatap Gakupo dengan air mata yang turun ke pipinya. "...Sei...ran..." dia menelan ludah. Jiwa Yuuma mulai terlihat naik ke mulut dan siap untuk keluar dari tubuh Neishi. "...aku...mencoba..." kini Neishi tampak seperti akan muntah, "...menahan...Neishi...yang..." cahaya putih terlihat di mulut Neishi, jiwa Yuuma mulai hampir keluar. "...sebenarnya." Jiwa Yuuma pun memipih ke angkasa.

Rin dan Len tampak bahagia, mereka bertepuk tangan sementara Gakupo mencerna ucapan Yuuma. Lalu, Gakupo pun sadar. "Tidak... tidak..."

Tubuh Neishi terbakar dengn hebat, api merahnya merambat ke angkasa. Namun, api tersebut berubah menjadi biru, hijau, dan berganti-ganti seiring tubuh Neishi terlihat berubah menjadi Rubah Merah.

"Megurine! Keluarkan Kaito! Biarkan dia menembak Neishi sekarang!" Gakupo tampak gusar dan melayang turun dengan cepat ke bawah untuk menarik Kaito keluar dari ruangan akar putih.

Megurine benar-benar lambat dalam tubuh besarnya. Akar-akar yang menutupi Kaito terbuka dengan sangat pelan. Rin dan Len melihat Neishi berubah menjadi sosok yang lebih mengerikan. Tubuh rubahnya lebih besar, warna matanya berubah-ubah dari merah, biru, dan hijau.

"Seiran! Ada apa ini?!" Rin berteriak dari atas.

Gakupo masih menyingkirkan akar putih dari tubuh Kaito sambil menatap ke sosok Neishi yang tidak pernah dia bayangkan. "Ayolah, ayolah!" Gakupo mencoba untuk tidak melukai akar itu karena itu masih bagian dari tubuh Megurine.

Tak lama kemudian, Gakupo melihat Kaito yang kebingungan. Dia tidak tahu kenapa Gakupo terlihat begitu panik. Gakupo menyulurkan tangannya dan tersenyum lega.

"Lebih baik kau keluar sekarang. Saatnya kau membunuh Neishi."

Kaito meraih tangan Gakupo yang dingin, dia bisa melihat kabut putih di sekitarnya. Kaito pun berhasil menggenggam tangan Gakupo dan seketika Gakupo menariknya. Mereka kini mencoba menghindari akar putih Megurine. Kaito terkejut melihat perubahan Neishi, Kagamine bersaudara pun ikut turun dan takut melihat apa yang terjadi pada Neishi.

"Mu—mungkin ini saat yang tepat untuk membunuhnya." Rin terlihat gemetaran.

"Baiklah." Kaito menarik anak panahnya dan mempersiapkan busurnya.

Gakupo pun menggendong Kaito ke atas langit agar dia bisa menembak anak panahnya dengan cepat dan lebih akurat. Kaito memejamkan sebelah matanya dan mengarahkan anak panah itu ke dada Neishi. Tubuh Neishi sendiri tidak stabil, dia berubah-ubah menjadi manusia dan Rubah Merah.

"Gakupo..." ucap Kaito pelan. "Aku akan membidiknya."

"Lakukan." jawab Gakupo tegas.

Anak panah pun mulai melayang ke arah dada Neishi. Kagamine bersaudara tampak senang melihatnya. Megurine pun terlihat lega karena ini akan segera berakhir. Saat anak panah itu hendak menancap di dada Neishi, tiba-tiba sebuah lahar panas keluar dari mulut Rubah Merah. Gakupo pun melemparkan Kaito ke akar-akar putih Megurine dan mencoba untuk melindunginya.

"Gakupo!" teriak Kaito ketika dia mulai tersangkut di akar Megurine.

Lahar itu mengenai lengan kiri Gakupo dan saking panasnya, lengan Gakupo pun terputus. Sementara itu, Neishi meraung dan tiba-tiba langit malam berubah menjadi merah darah. Gakupo pun terjatuh ke tanah dengan darahnya yang mengalir dari lengan kirinya.

Neishi mengeluarkan cakarnya yang terlihat tajam dan menjijikan, dia mencakar tubuh besar Megurine hingga Megurine sendiri terluka kembali di tubuh aslinya. Akar-akar putih Megurine pun menghilang dan menjatuhkan Kaito. Kagamine bersaudara mencoba untuk menolong mereka, dan mengeluarkan mereka dari jangkauan Neishi.

"Cepat, Len! Ke ruang bawah tanah!" Rin menarik tubuh Megurine.

Len menarik tubuh Kaito yang setengah sadar. "Bagaimana dengan Seiran?!" Len melihat tubuh Gakupo yang tergeletak cukup jauh dari tempat mereka.

"Kita harus menyelamatkan Kaito! Itu yang terpenting!"

Sementara mereka mencoba untuk lari, Neishi mengeluarkan lahar dan api pada saat yang bersamaan ke arah Kagamine bersaudara. Rin dan Len memang menarik tubuh Kaito dan Megurine, tetapi menggerakan pepohonan untuk menghindari serangan tersebut.

Kaito membuka matanya perlahan, semuanya tampak remang-remang dan tidak jelas. Dia bergumam nama Gakupo namun dia tidak melihatnya dimana-mana. "Mana... Gakupo...?"

Len pun sampai terlebih dahulu di depan pintu menuju ruang bawah tanah, dia menendang pintu tersebut. "Tenanglah, Shion Kaito. Kau akan selamat."

"...Gakupo..." Kaito pun sepenuhnya membuka mata, "Mana Gakupo?!"

Rin pun datang sambil menarik tubuh Megurine. "Cepat masuk! Shion Kaito, lebih baik kau memasang segel Penahan Youkai di dalam. Biarkan kita terjebak di sana untuk sementara."

"Gakupo!" Kaito masih berteriak dan mencoba lepas dari pegangan Len, namun Len tidaklah lemah, dia menarik Kaito seperti menarik sebuah keranjang kosong.

"Kita tidak bisa meninggalkan dia! Lepaskan aku!" Kaito tidak memiliki kuasa akan tubuhnya, dia melihat Rin menutup pintu ruang bawah tanah.

Mereka akhirnya sampai di ruang bawah tanah dan meninggalkan Gakupo tergeletak sendirian di luar bersama Neishi.


to be continued...