Satu hal yang menjadi keyakinannya saat ia mengambil keputusan itu. Ia yakin bahwa Kuchiki Byakuya adalah tipe orang yang mau mengorbankan apapun demi melindungi orang-orang yang ia sayangi. Sebuah prinsip yang benar-benar harus dipegang teguh oleh seorang ahli Hiten Mitsurugi walaupun pada kenyataannya, sepuluh tahun yang lalu ia memahami prinsip itu dengan cara yang salah.

.

.

Disclaimer

Apaan sih? Mau saya koar-koar sampe tenggorokan sakit juga Bleach gak bakalan jadi milik saya dan teteup milik Tite Kubo.

Anime lain juga gitu kan? Milik masing-masing penulisnya.

.

.

Chapter 7

Keyakinan dan Kepercayaan

"Kau yakin dengan keputusanmu itu, Tuan Byakuya?" kata Kenshin kepada Byakuya. Mereka kini tengah berada di salah satu ruangan di dojo Kamiya. Ritual minum teh.

Byakuya mengangguk. "Saudaraku sakit jadi aku akan menjenguknya. Aku berterima kasih kalian telah menerimaku dengan baik selama ada di sini," katanya berdusta.

Kenshin tersenyum hambar sambil mengaduk serbuk teh yang kemudian ia seduhkan ke cangkirnya dan cangkir Byakuya. Ia kemudian melirik ke arah zanpakutou Byakuya yang tergeletak di samping kirinya. "Maksudmu dia?" tanyanya.

"Apa maksudmu, Tuan Himura?" tanya Byakuya kembali, kaget.

"Ia yang berada di dalam katanamu," jawab Kenshin singkat, menatap tajam ke arah mata Byakuya.

'Orang ini-'

Kenshin menghela nafas. "Sejak pertama kali aku memegangnya, aku tahu bahwa katana itu dihuni oleh suatu jiwa," lanjutnya.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Hn… insting."

Byakuya mengernyitkan dahinya, tidak paham dengan jawaban pria berambut merah di depannya yang kini melipat tangannya di dada. "Insting?" katanya sedikit terkesiap. Bagaimana bisa pria di depannya itu tahu tentang keberadaan Senbonzakura? 'Tidak mungkin ia-?'

"Aku tahu ada jiwa yang menghuni katana-mu, sejak pertama kali aku memegangnya. Aroma sakura dan… darah." Kenshin menatap tajam pada zanpakutou Byakuya. Mata ungunya memancarkan keyakinan yang tinggi. Tak ada keraguan di dalamnya.

Byakuya tersenyum. "Aku mengerti sekarang, Tuan Pembantai," ujarnya mengejutkan.

"Yah… kurasa kita sudah memahami satu sama lainnya, Tuan Shinigami," balasnya datar dan sedikit dingin. Aura di dalam ruangan itu terasa agak berat dan sedikit 'memanas'. Perbincangan antar kedua belah pihak yang ternyata sudah saling mengetahui identitas masing-masing tanpa pernyataan terlebih dahulu sebelumnya.

"Ternyata kau sudah tahu ya, Tuan Himura?" ujar Byakuya seraya menyesap tehnya. "Aku cukup terkejut kau bisa mengetahui siapa sebenarnya diriku. Secepat ini."

"Hn… karena aku sudah sering melihatnya, ketika aku masih menjadi pembantai," kata Kenshin dengan pandangan menerawang ke arah luar, menatap kedua gadis kecil -cucu dokter atasan Megumi- yang tengah bermain bola. "… dan kurasa aku pernah melihat salah satunya. Sepuluh tahun yang lalu ketika kalian merubahnya menjadi seekor kupu-kupu hitam."

'Begitu ya? Orang ini ternyata mengetahui lebih banyak dari yang kukira,' batin Byakuya sedikit kagum. 'Bahkan konshou dan shinigami lain. Orang ini istimewa.'

"Lalu… apa tujuanmu datang ke sini, Tuan Byakuya? Aku akan mencegahmu apapun yang terjadi, bila kau berani menghunuskan pedangmu pada orang-orang yang kusayangi," ujar Kenshin setengah mengancam tapi beberapa saat kemudian ia kembali tersenyum. Sorot matanya tidak lagi tajam, namun memancarkan kelembutan dan keramahan. "Tapi aku percaya kau tidak akan melakukannya," lanjutnya. Benar-benar pria yang tak terduga. Murah senyum namun terkadang ia juga bisa bersifat sedikit… bengis.

"Hn," Byakuya mengangguk. "Aku hanya ingin mencari kehidupan lain."

"Oh, begitukah? Hahaha… kau benar-benar mengingatkanku akan diriku yang dahulu, ya?" ujar Kenshin ceria. Ia kemudian terdiam, wajahnya kembali menampakkan keseriusan. "Um… tentang jiwa yang menghuni katana-mu itu-"

"Senbonzakura," potong Byakuya.

"Ah, maaf. Maksudku Senbonzakura, dia… sakit bukan?" tanya Kenshin.

'… dan itu ulah temanmu!' seru Byakuya kesal dalam hati mengingat penyebab Senbonzakura menjadi seperti ini. Sekarat.

"Aku bisa merekomendasikan seseorang untuk menyembuhkannya."

"Benarkah itu?"

"Nona Tsunade. Ia tinggal di desa ninja bernama Konohagakure. Lumayan jauh dari sini."

"Kenapa kau memberitahuku, Tuan Himura?" tanya Byakuya heran akan sikap Kenshin. Terlalu baik untuk orang yang baru saja mengenalnya. Ia sedikit tertohok dan malu akan diri sendiri, karena ia tidak pernah bisa bersikap sebaik dan seramah itu pada orang lain bahkan kepada adiknya sendiri, Rukia –apalagi kepada orang yang baru saja dikenalnya-.

"Tidak ada alasan khusus. Hanya saja, kurasa ia orang yang penting bagimu, bukan?" katanya.

"Ya… begitulah. Kau baik sekali, Tuan Himura," ucap Byakuya penuh rasa terima kasih.

"Tidak masalah. Jadi… bisa kita teruskan saja acara minum teh ini?"

"Tentu saja, Tuan Himura."

.

.

Markas Akatsuki

"Hey cepat, keluarkan aku!" Ikakku menggedor-gedor pintu besi yang terkunci dari luar, mengurungnya di dalam sebuah sel bawah tanah yang pengap dan gelap. Benar-benar menyesakkan. "Che…," decaknya kesal.

Ia tidak menyangka bahwa dirinya akan terjebak seperti ini, dengan Houzukimaru yang tidak lagi berada di sisinya. Sayup-sayup ia mendengar langkah kaki yang mendekat dengan suatu reiatsu yang aneh. 'Ah bukan. Ini bukan reiatsu. Ini lain. Ia memiliki aura lain selain reiatsu yang lumayan tinggi,' batinnya kaget.

Ceklek!

Ikakku mendengar seperti sebuah gembok yang terbuka. Benar saja, beberapa saat kemudian pintu besi itu terbuka, menampakkan sosok wanita muda berambut biru dengan hiasan jepit bunga di sisi kanannya. Jubah hitamnya yang bercorak awan merah tampak sedikit kebesaran.

"Keluar!" ucapnya datar.

"Ugh… dasar perempuan menyebalkan." Ikakku mendengus sebal. Tapi akhirnya ia pun mengikuti wanita itu menuju ruang utama. Jalan yang ia lalui hanya berupa lorong gua dengan pintu-pintu di kanan kirinya. Sepertinya di balik pintu itu adalah kamar yang dihuni oleh para pemilik nama yang terpampang di pintu tersebut. Nama yang cukup asing baginya.

Wanita itu mengernyit. Sedikit sebal dengan kata-kata itu. Ingin rasanya ia meremukkan tubuh laki-laki didepannya itu, mengubahnya menjadi kertas dan melipat-lipatnya menjadi origami. "Kau beruntung karena kami sedang mencari anggota baru. Kalo tidak kau sudah menjadi santap malam Zetsu," ucapnya datar.

"Haaah… aku gak peduli," balas Ikakku cuek, seraya berjalan mengikuti wanita itu menuju suatu tempat.

-$$$-

"Jadi dia?" kata seorang pria berambut orange jabrik dengan wajah penuh pierching, mengamati dengan seksama pada penampilan Ikakku. "Tidak meyakinkan," cibirnya.

"A-apa, un?" tanya Deidara gak terima. "Setidaknya hargai usahaku dong, un!" bentaknya seraya berdiri dari kursinya. "Dia kan aku bawa buat Zetsu yang lagi ngambek, un!"

"Tobi kan juga ikut berpartisipasi, Dei-senpai," ujar Tobi mewek sambil menunjuk dirinya sendiri.

"Huh, kau hanya merepotkanku saja, un," keluh Deidara kesal dan kembali duduk dengan wajah ditekuk dan kedua tangan melipat di dada.

Zetsu… orang yang menjadi biang pertengkaran Tobi dan Deidara itu hanya menatap bosan pada keduanya. Nafsu makannya langsung turun drastis, apalagi melihat keadaan calon mangsa yang terlihat tidak enak dipandang. Penampilan santapan adalah kesan pertama yang bisa membangkitkan selera makan, bukan?

Tunggu! Sepertinya ada kesalahpahaman disini. Tobi dan Deidara yang membawa Ikakku sebagai santapan Zetsu dan Pein yang menganggapnya sebagai calon anggota baru.

"Ck-ck-ck. Pein… apa kau yakin dengan keputusanmu ini, hm?" tanya pria bercadar yang merupakan bendahara kepada sang pemimpin yang bernama Pein. "Keuangan kita menipis, aku tidak mau keluar uang. Titik," ujarnya sambil memencet-mencet kalkulator dan mencoret-coret buku notes-nya. "Haaaah~!" Ia menghela nafas. "Kita bangkrut!"

"Itu karena kau korup, Kakuzu," cetus seorang pria berambut klimis padanya. Sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk simbol lingkaran dengan segitiga terbalik terlihat bertengger di lehernya yang agak terbuka. Hidan –pria itu- mendengus bosan mendengar celotehan partnernya yang temanya tidak jauh-jauh dari kata uang.

"Hidan, cukup!" Sebuah perkataan dingin meluncur dari pria lain yang berambut hitam. Mata merahnya terlihat menyala dengan tiga tanda koma di dalamnya. "Kau juga sangat boros! Dalam satu minggu ini, kau sudah menghabiskan 10 stel jubah Akatsuki, kan?" serangnya tidak kalah sengit.

"Tch."

Ikakku hanya bisa sweatdrop dan sedikit bingung dengan tingkah laku orang-orang di depannya itu. Kostum yang aneh dengan orang-orang yang aneh pula.

"Err… hallo?" ucapnya untuk menarik perhatian. Sejak debat aneh itu terjadi –yang bahkan ia tidak paham apa yang mereka perdebatkan- nyaris ia seperti patung yang dibiarkan teronggok.

Semua mata kini kembali tertuju padanya. Sepuluh pasang mata –ups- mungkin hanya 9 pasang plus 1 buah karena salah satu anggotanya memakai topeng berwarna orange yang hanya menampakkan satu mata berwarna sama dengan Itachi.

"Kenapa aku di sini?" tanya Ikakku seraya menggaruk-garuk pipinya. Sedikit OOC mungkin.

"Oh, kau," kata Pein singkat dengan mata rinnegan yang aktif membuat Ikakku berpikir bahwa ia kini berhadapan dengan sekumpulan orang-orang aneh. "Siapa namamu?" tanyanya.

"Madarame Ikakku," jawabnya mantap, menatap tajam kepada mereka. "Apa mau kalian, hah? Dan dimana pedangku?" tanyanya dengan suara menggelegar.

"Maksudmu ini, un?" ucap Deidara seraya menunjukkan pedang bersarung merah milik Ikakku.

Ikakku menyeringai senang. "Itu milikku."

"Tapi ini kan udah ada di tanganku, un. Jadi ini milikku," ucap Deidara santai, mengabaikan Ikakku yang sudah sangat emosi. Ia pun mencabut pedang itu, mengamatinya dan menjilatnya.

'Ugh jijik!'

"Eh, un?" ujarnya bingung ketika mendengar sebuah suara yang keluar dari pedang itu. Ia mengetuk-ngetuk bilah pedang Ikakku, lalu akan menjilatnya lagi.

"Jangan!" cegah Ikakku dengan muka syok. "Jangan coba-coba kau melakukan itu, Blonde!" ancamnya.

"Blonde, un?" ulang Deidara kesal dengan perempatan yang nongol di dahinya. "Dasar Botak, un!" balasnya.

"Banci!"

"Grrrrr! KA-!"

"Cukup, Deidara! Kau mau menghancurkan markas, hn?" Itachi memegang erat lengan kanan Deidara yang sudah mulai membuat segel, menatap tajam dan dingin dengan mata sharingan-nya yang merah menyala.

"Huh!" Deidara menyentakkan tangannya, terlepas dari cengkeraman Itachi. "Terserah, un!" ujarnya cemberut, menatap sebal pada rekannya yang sok dingin dan jaim itu dengan tangan terlipat di dada. Ia pun kemudian melemparkan pedang itu ke sembarang tempat, menimbulkan suara gema akibat benturan dengan batu karang di markas itu. Ngambek. Bagaikan seorang bocah yang sudah tidak lagi berminat pada sebuah barang yang dahulu diinginkan karena ulah orang tua yang melarangnya memiliki benda itu.

"Ita-chaaaan! Kau telah menyelamatkan pundi-pundi uangku! Huhuhu," ujar Kakuzu mewek seraya memeluk dan mencium koper yang berisi uang miliknya karena deidara batal meledakkan bomnya lagi di dalam markas. Err- sebenarnya tidak sepenuhnya miliknya sih, tapi… itu adalah uang kas Akatsuki yang dikumpulkannya dengan susah payah -baca : menteror dan memaksa dengan ancaman riba berpuluh kali lipat-. Yaya… uang kas Akatsuki yang amat sangat ia sayangi dan cintai seperti nyawanya sendiri.

Itachi sedikit menggeram dan juga kesal. "Jangan panggil aku dengan embel-embel itu, un!" jeritnya kesal.

"Eeeeeeh?" kor para Akatsuki yang lain, minus Ikakku yang sudah duduk bersila di lantai gua dengan muka sedikit manyun dan bosan sambil korek-korek telinga. Dan entah mengapa di sampingnya juga sudah duduk seorang pria bertubuh besar dengan warna hijau lumut dan berambut kemerahan. Houzukimaru –zanpakutou Ikakku- juga melakukan hal yang sama dengan masternya. Mungkin ia merasa jengah di dalam zanpakutou terus, uugh… emangnya enak ya kalau sedari tadi dijilat-jilat dengan air liur yang huff… tidak terbayangkan baunya?

"Houzukimaru, kita keluar aja yuk!" cetus Ikakku yang sudah mulai bosan melihat pertengkaran aneh kesepuluh orang di depannya itu. "Haaah… membosankan!" lanjutnya seraya berdiri dan berjalan ke arah pintu keluar gua diikuti oleh Houzukimaru.

"Bye-bye!"

-$$$-

-Beberapa saat kemudian-

"Loh? Kemana orang itu?!" teriak Pein kaget, begitu menyadari bahwa sang tawanan, Ikakku telah menghilang dari tempat itu.

Tawanan? Hmm… sebenarnya tidak juga sih, karena saat ini Akatsuki memang sedang mencari anggota baru. Bisa dibilang sebagai anggota tidak tetap alias asisten untuk menjaga markas selama mereka pergi menjalankan misi.

Uhuk… jangan bercanda, Pein! Markas Akatsuki kan hanya sebuah gua yang kotor! Tidak ada apapun yang berharga kecuali…

-Uang Kas-

Serius?

Yaaa… begitulah adanya. Kakuzu menolak mentah-mentah usulan para anggota lain untuk memasukkan uang kas ke bank. Alasannya sih macam-macam. Mulai dari para petugas bank yang korup, kebakaran, perampokan, sampai kebangkrutan yang menyebabkan bank mengalami likuidasi dan terancam ditutup. Nah… kalau sudah begitu, harta yang dikumpulkan Akatsuki selama ini untuk membangun negara baru akan ludes tak tersisa, bukan?

'Itu sih paranoid,' cibir kesembilan anggota Akatsuki yang lain dalam hati, saat itu.

Lah terus, kenapa mereka jadi nurut sama permintaan Kakuzu?

Alasan klasik. Riba.

"Ufufufu… aku akan menaikkan bunga hutang kalian menjadi 50x lipat bila kalian tidak menuruti kata-kataku," ancam Kakuzu waktu itu. Bola mata hijaunya sudah menjadi sebuah pola berbentuk simbol mata uang Yen karena membayangkan betapa besarnya jumlah keuntungan yang akan ia dapat.

'Masa' iya kita musti membayar bunga yang jumlahnya lebih besar dari setoran sih?!' pikir mereka geram, memandang dengan tatapan marah seakan ingin menelan bulat-bulat sang bendahara yang saat itu sedang asik berkutat dengan kalkulator dan uang-uangnya…-coret- uang-uang Akatsuki yang sudah ia anggap menjadi miliknya.

-$$$-

-Back to the topic.-

Emm… sepertinya teriakan sang leader tidak digubris sama sekali ya? Ia pun kemudian menggebrak meja kayu yang menjadi tempat mereka rapat. Hingga terbelah menjadi dua.

BRAK!!!

"Kalian dengerin aku gak, sih?!" teriaknya lagi. Marah? So pasti.

"Leader, meja itu harganya 30.000 ryo!" seru Kakuzu yang sudah mulai kumat lagi. Menghitung kerugian yang harus ditanggung Pein dengan harga yang benar-benar tidak pantas… -baca : berkali-kali lipat lebih mahal-

Pein tidak menggubrisnya. Ia mengulang kata-katanya lagi. Sang tawanan… ups sang calon satpam keuangan telah melarikan diri dengan informasi yang sangat penting, mungkin. Lokasi markas dan tentu saja lokasi uang kas yang tersimpan di dalamnya. Err… yang kedua itu adalah pemikiran Kakuzu.

Semuanya pun terdiam. Tidak mau menanggung derita karena kemarahan sang pemimpin.

"Ini karena pertengkaran tak berguna kalian! Mengerti?!" ujarnya dengan kedua tangan menyangga dagu. "Terutama kau! Deidara, Itachi," lanjutnya dingin, menatap sinis pada kedua provokator. Haaah… pertengkaran yang terjadi karena sebuah kata 'un' yang keluar dari mulut Itachi. Tentu saja Deidara tidak bisa menerimanya karena trademark-nya sudah dipakai tanpa ijin.

"Hn… maksudmu?"

"Iya, un! Apaan sih?"

Pein menghela nafas berat, mendengar protes-protes yang terus bermunculan terutama dari dua anggotanya itu. Apa boleh buat, sebenarnya ia amat sangat tidak menginginkannya tapi… satu-satunya cara menaklukkan kedua makhluk itu adalah… "Kakuzu!"

Kakuzu tersenyum –walau tak terlihat- dan mata hijaunya tampak berbinar. Time to Money! Ia menatap deretan angka dan mulai membacakan hutang-hutang Itachi dan Deidara, plus bunga-bunganya dan…penolakan misi tadi juga terhitung. Jadi… sang bendahara memberikan dua pilihan. Tangkap pria botak itu atau membayar kerugian karena adanya kebocoran informasi dalam organisasi ini.

Well… pilihan jatuh di nomor dua. Daripada membayar hutang yang bahkan sampai tujuh turunan tidak akan lunas, lebih baik menangkap orang bukan? Bisa jalan-jalan dan keluar dari markas pengap itu.

Itachi dan Deidara pun melenggang pergi. Mencari sang 'buronan' yang telah lari bersama informasi-informasi berharga –halah-. Pergi diiringin derai air mata dari partner masing-masing, Tobi dan Kisame. Huff… tentu saja karena tidak ada teman main bagi Tobi dan Kisame… sebagai teman dan tentu saja mereka adalah pasangan partner yang paling cocok diantara pasangan yang lain dalam Akatsuki karena kontras dalam setiap misi, mereka selalu kompak dan selalu mengisi kekurangan satu-sama lain. Tidak seperti pasangan Kakuzu-Hidan atau yang lebih parah lagi pasangan Deidara-Tobi.

Ia begitu mengkhawatirkan kesehatan Itachi akhir-akhir ini. Terutama… kesehatan matanya yang sedikit memburuk karena terlalu banyak menggunakan Mangekyou Sharingan.

Ia… tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Itachi bila matanya yang sedikit kabur itu kambuh. Oh yeah… bukannya ia gak mau memberikan solusi tapi… masa' iya sih seorang Uchiha yang tampan dan jenius memakai kaca mata?

"Hell No! Gak keren tau'!" tolak Itachi saat Kisame menyodorkan sebuah kacamata model Clark Kent dalam film Supermen yang sering ditonton Tobi kepadanya.

Lalu… bagaimana dengan lensa kontak? Umm… itu sangat tidak bermanfaat bila Itachi sedang bertarung. Lensa kontak menghalangi jurus matanya sehingga tidak akan berguna.

'Itachi-san, semoga kau selamat dalam perjalanan.' Kisame berdoa dalam hati seraya menatap kepergian sang partner yang kian menjauh.

.

.

Byakuya membungkukkan badannya kepada Kaoru dan Kenshin. Pagi itu, ia pamit untuk pergi ke tempat yang tadi malam direkomendasikan oleh Kenshin. Konohagakure no Sato.

Sano menatap dengan pandangan malas padanya. Cuek dan mungkin sedikit senang. Tentu saja kalau bukan karena satu pesaing yang telah pergi. Haaah… sejak Byakuya datang ke dojo, praktis semua perhatian Megumi dicurahkan padanya. Ia sebal sekali. Cemburu –walaupun ia enggan mengakuinya-

Ia pernah menanyakan pada wanita berambut hitam panjang yang sangat menyukai kimono ungu itu. Seorang dokter wanita yang begitu kompeten di bidangnnya. Bertangan dingin karena nyaris setiap penyakit yang ia obati sembuh. Tentu saja penyakit-penyakit yang wajar pada manusia dan bukan yang kompleks seperti yang dialami seorang arah penghuni katana seperti Senbonzakura.

Perihal perhatian yang dirasa berlebih kepada Byakuya.

"Kau cemburu, Sano?" tebak Megumi 2 hari yang lalu, setelah ia selesai mengganti perban yang membebat pergelangan kaki Byakuya yang terluka. Wajahnya terlihat sedikit nakal seperti rubah betina yang licik, lengkap dengan ekor dan sepasang telinga yang menyembul di kepalanya.

"Tidak," bantahnya seraya membuang muka.

"Ya… baiklah. Ufufufu." Ia tertawa renyah dengan salah satu tangan menutupi mulutnya dan kemudian kembali ke Byakuya. Berbicara sok kenal dengan sedikit rayuan, seperti yang pernah ia lakukan kepada Kenshin dahulu yang tentu saja membuat Kaoru langsung menginterogasi Kenshin dan melarang ini dan itu –padahal dulu belum ada hubungan khusus di antara mereka loh!-

Beberapa saat kemudian, tes kadar kecemburuan pun dimulai sudah, dengan penguji Nona Megumi, peserta Tuan Sanasuke Sagara, dengan korbannya adalah Tuan Pengembara, Kuchiki Byakuya yang tidak tahu menahu tentang perang dingin yang terjadi diantara kedua insan itu.

Membiarkan Sano melihat secara gamblang bagaimana seorang Megumi mengeluarkan kata-kata mautnya dan tertawa ceria dari kejauhan. Sedangkan Byakuya hanya meresponnya dengan dingin. Ingat! Dari kejauhan, yang tentu saja mata dan telinga tidak bisa menangkap setiap detail peristiwa dengan jelas.

Hasilnya… sudah bisa ditebak bukan?

"Jauh-jauhlah dari Megumi!" ancam Sano malam itu pada Byakuya yang hanya bisa terbengong bingung.

-$$$-

Kenshin membungkuk sebagai balasan. Ia kemudian memberikan sesuatu yang terlihat panjang dan ramping yang terbungkus dengan kain krem..

Byakuya menatap benda itu. Ia membukanya. Sebuah Sakabatou dan buku. 'Hiten Mitsurugi Ryuu? Sepertinya aku pernah menggunakan jurus itu? Jadi… orang ini adalah masternya? Kenapa memberikannya padaku?'

"Ini akan membantumu di saat-saat yang genting. Pergunakanlah dengan baik, Tuan Byakuya," ujarnya

"Tuan Himura?" Byakuya menatap mata ungu Kenshin, mencari sebuah arti dari semua pemberian ini.

Kenshin tersenyum. Entah mengapa ia dengan begitu mudahnya memberikan salah satu sakabatou-nya kepada Byakuya. Orang yang baru saja dikenalnya. Dan buku itu… adalah sebuah buku yang berisi teknik Hiten Mitsurugi.

Satu hal yang menjadi keyakinannya saat ia mengambil keputusan itu. Ia yakin bahwa Kuchiki Byakuya adalah tipe orang yang mau mengorbankan apapun demi melindungi orang-orang yang ia sayangi. Sebuah prinsip yang benar-benar harus dipegang teguh oleh seorang ahli Hiten Mitsurugi walaupun pada kenyataannya, sepuluh tahun yang lalu ia memahami prinsip itu dengan cara yang salah.

Ucapan kenshin tadi kontan saja menyentak pikiran teman-temannya. Yahiko, yang sejak lama ingin diajarkan jurus itulah yang paling tidak bisa menerima keputusan itu."Yang benar saja," protesnya.

"Kenshin!" seru teman-temannya.

Lelaki itu berbalik, tersenyum ceria menatap teman-temannya yang hendak protes. "Karena aku yakin kau bisa memegang teguh prinsip itu, Tuan Byakuya," ujarnya kemudian.

"Tapi kan-!" protes Yahiko lagi,

"Hiten Mitsurugi tidak cocok untukmu, Yahiko. Bukankah kau sudah sangat kuat dengan teknik Kamiya?" Kenshin mengacak-acak rambut hitam Yahiko yang kini membalasnya dengan wajah cemberut.

"Kalau begitu keputusanmu, aku tidak bisa mencegahnya, Kenshin. Nah… berhati-hatilah di jalan, Tuan Byakuya," ucap Kaoru seraya membungkuk. Byakuya mengangguk dan kemudian mengucapkan salam perpisahan.

Sebelumnya ia mendekati Sano yang berdiri bersandar pada bingkai pintu masuk dojo, dengan tangan terlipat di dada, kaki kanan menyilang, mata terpejam malas seraya menggigit batang rumput. Sano kemudian membuka matanya dan menatap Byakuya dengan sedikit enggan.

"Kurasa, kau bisa bebas memilikinya, Tuan Sagara," bisiknya di telinga Sano, yang membuatnya terkesiap.

Sano menoleh ke arah Byakuya. "Apa maks-"

Byakuya tersenyum tipis. "Kurasa kau bisa lebih meredam rasa cemburumu itu setelah aku pergi," lanjutnya masih berbisik di telinga Sano. Ia kemudian menarik dirinya dan membungkuk ke arah Kenshin dan kawan-kawannya.

"Byakuya nii-san," seorang gadis cilik berambut coklat menarik-narik hakamanya, membuatnya menoleh ke bawah. Menatap pada gadis cilik itu yang sedikit sembab. "Kenapa cepat sekali?" tanyanya.

Ia berjongkok, mengelus-elus kepala gadis kecil itu dan gadis lain yang berambut hitam namun lebih besar. "Maaf, nii-san harus pergi. Kapan-kapan nii-san akan mengunjungi kalian lagi," ucapnya agak datar. Ia kemudian berdiri, sekali lagi membungkuk, mengucapkan salam dan pergi dari dojo Kamiya.

"Ufufufu… Sano, kau puas sekarang?" tanya Megumi tiba-tiba, melirik jahil ke arah Sano.

"Huh, kau ini. Apa-apaan sih? Sudahlah aku mau main saja ke kasino," elaknya dan kemudian pergi dari tempat itu.

"Ahaha… pria itu," lirih Megumi tersenyum.

"Ne… Megu, ada apa di antara kalian?" tanya Kaoru penasaran. Akhir-akhir ini ia merasa memang ada sebuah konflik terselubung di antara Megumi dan Sano.

"Tidak ada," ketusnya dingin. "Aku sibuk, tidak ada waktu untuk menjawab pertanyaan konyolmu itu." Ia pun kemudian beranjak pergi, dengan alasan mengurusi pasien-pasiennya yang membludak jumlahnya.

'Ah… benih-benih cinta itu tampaknya sudah mulai bersemi walaupun keduanya tidak pernah menyadari, ya?' pikir Kaoru sambil tersenyum melihat tingkah aneh Sano dan Megumi saat itu.

.

.

.

To Be Continued… Masih lama kok, sabar ya!

.

-Pojok Author-

Ups… maaf saya merasa chapter ini garing banget terutama bagian yang Akatsuki itu, entah kenapa sense humor saya lagi nge-drop abis dan semangat nulis fanfic jadi turun karena mood yang bener-bener jelek. Alasannya sih –rahasia-

Mau nanya nih! Warna matanya Byakuu itu apa sih? Kok saya lupa yeeee… Terus nama lengkapnya Megumi di Rurouni Kenshin siapa ya? Lalu… 2 bocah cilik yang selalu maen-maen ma Kenshin juga lupa namanya. Aduh… ada yang tahu?

Ennn… maaf ya kalo scene di RK selalu serius hahaha, gak tahu kenapa kalo ke RK malah moodnya serius gitu –kebawa arus-nya Himura yang keren kalo pas serius kale ya, halah-

Nah mulai saja deh ngebales repiu-nya oke! Karena lagi cape' jadi gak ada talkshow ya…

Kuchiki Rukia Taichou : Yups mereka di RK. Hn… gitu yah ahaha master n zanpakutou emang sama kok, mereka kan kompak bener hehehe. Trims repiunya.

Shena Blitz-ryuuseiran : Ups… saya malah ketawa pas nulis ntu pose soalnya sambil ngebayangin Sen-chan tepar wkwkwk. Tentang Aoshi dan Soujiro… um entahlah, tergantung mood yah –maaf- dan makasih udah merepiu

Chariot330 : Sen-chan kan aroma sakura. Hnn saya sih ngeliat dari penampilane Sano, dia gak pernah mandi *disabit* jadi gitu deh, bau'! Makanya pas Sano pose gitu plus angin, baunya naudzubillah dan Sen-chan langsung ko'it. Trims repiunya

Ruki_ya : Sule mode on : Prikitiew! Hahaha… ada-ada saja eh, repiunya. Kompak dan sedikit saya bikin kocak dan gak terlalu OOC seperti yang di ASKM karena mau menonjolkan karakter aslinya. Ya… tapi malah jadinya garing seperti di Akatsuki itu. Trims repiunya.

Mayonakano Shadow Girl : kalau saya liat di RK, kok kayaknya Sano n Megumi itu ada rasa ya? Cuman mereka itu sama-sama egonya tinggi, jadi malu untuk mengakui perasaannya secara verbal. Uff… saya pikir di ending RK Sano n Megu mau nikah ternyata kagak *kecewa berat* dan tentang nasib Riku di chapter depan saja oke!

Kuroshiro6yh : Hmm tentang bagian HitsuRiku di chapter depan saja ya? Soalnya entar malah jadi kebanyakan –mood saya lagi drop buat nulis ff- Ups… maaf Dei muncul di chapter ini, un! Stress? Huff saya juga stress kok menunggu 3 minggu karena dosen saya –curhat mode on-

Jess Kuchiki : Err sekarang udah di Naruto tapi bagian Akatsuki dulu ya… Lalu ke OP mungkin di chapter depan ya! sedikit slight HitsuHina kalau sempat…. Makasih.

D31-ryuusei Hakuryuu : kembar siam? Hoeeee? Tapi emang bener sih. Ah gak tau juga kok bisa saya bikin Sen-chan sekarat gitu, maklum dia kan alergi bau gak sedap *kebanyakan di tempat bernuansa angin musim semi sih* Makasih repiunya.

MikiDaCAT : Oups… maaf ye, Light nulis namamu di DN, tapi tenang nyawamu gak akan terancam kok. Miki-chan hanya pename kan? Trus dia juga gak tahu nama dan wajah aslimu. Hohoho… sepertinya saya tertarik untuk memunculkan dia deh –uff pusing makin banyak chara anime yg muncul- trims repiunya.

Mizu_kun : Ahaha Sano kejam? Itu kan gak sengaja, neng! OP dan ES21 di chapter depan dan mungkin ada sedikit dari chara Bleach lain kalo sempet oke. Makasih repiunya.

Ruki4062jo : Ne… dua kembar beda orang tua kaleee, ya? Hahaha mereka emang lucu. Kalo dipikir2 sifat Riku yang sedikit err… dingin dan arogan juga mirip kok ma Hitsu *dipukul HitsuRiku* Ah… Byakkun emang mau pergi ke mana? Ndak kemana-mana kok cuma mau cari obat buat Sen-chan. Makasih repiunya.

Anezaki-Ai09 : Image Sano yang hancur? Idem deh ama balesannya chariot-san. Hiruma Youichi ya? Entar deh… chapter depan pas bagiannya ES21 ya. Arigato.

Hinaruto Youichi : Ehehe maaf deh bagi penggemar Sano. Huff… sejak pertama liat emang udah illfeel ama cowok satu ntu. Sebenarnya, gak bau-bau amat sih, cuman hidungnya Byakuu ma Sen-chan yang super sensitive. Maklumlah, terbiasa hidup mewah, bangsawan, wangi pula. Huhuhu… terjun ke dunia nyata emang berat loh! –halah-

.

Hiks… hiks… saya terharu banget temen-temen udah bersedia membaca en merepiu fic saya yang makin aneh saja sampe sejauh ini. Terima kasih banyak deh!

Mungkin akan sedikit lama untuk apdet –maafkan saya, soalnya mood lagi drop banget-

Jadi… maukah kalian merepiu lagi? Terima kasih.