Plot Story from Unbroken ©Skylar Otsu.

Re-writing & editing by Christal Alice.


Pairing: Kim Taehyung/Jeon Jungkook

Genre: Mistery. Romance. Hurt Comfort.

Warning! BL. AU.


Part. 7


...

"Siapkan Ruang IGD! Pasien butuh penanganan segera!" seru seorang suster di depan lobi IGD setelah seorang pasien di turunkan dari belakang mobil ambulans.

Dua orang suster segera mendorong brankar tersebut masuk, bersama Taehyung yang tampak tegang dan agak pucat, ikut mendorong ranjang itu. Tanpa bisa mengalihkan tatapannya dari wajah pucat Jungkook yang mulai membiru. Dua suster yang lain segera memasukkan pasien ke ruang IGD dan salah seorang suster lain yang telah berada di dalam ruangan buru-buru menghadang Taehyung yang ingin ikut masuk ke dalam.

"Maaf Tuan, anda harus menunggu di luar." kata suster tersebut. Taehyung menghentikan langkah kakinya. Dan tidak bisa berbuat apa-apa ketika pintu ruangan itu di tutup, yang otomatis menyalakan lampu berwarna merah diatasnya. Tanda jika ruangan tersebut sedang di pakai.

Taehyung terdiam di depan pintu, sorot matanya absurd, dan tampak jelas di wajahnya ketakutan yang amat besar. Dari sekian banyak hal yang terjadi di dalam hidupnya, baru detik ini ia memperlihatkan ekspresi terguncang seperti itu.

Dalam keheningan, pria tampan itu tenggelam dalam kecemasan yang amat sangat, membuatnya lupa cara untuk berpikir dan menggerakkan kakinya. Pemandangan menakutkan itu masih terpampang jelas di matanya. Bagaimana sosok Jungkook yang terendam di dalam bath up, wajah pucatnya, bibirnya yang membiru, dan sayatan di pergelangan tangan kanannya yang mengeluarkan darah.

Sempat terbesit di pikirannya melihat pemandangan itu, bahwa Jungkook tidak akan pernah membuka matanya lagi. Tapi rasa takut akan hal itu membuatnya sadar akan kondisi yang sebenarnya, karena dirinya percaya tidak ada kata terlambat dalam hal apapun.

"Apa yang harus ku katakan pada Tuan Besar seandainya beliau masih hidup?" tanyanya gamang. Tangannya mengepal erat, dan dengan gerakan cepat meninju dinding di samping kanannya.

Tidak ada yang bisa di lakukannya, dan meski dirinya tahu jika tidak harus menyalahkan diri sendiri, tapi di dalam hati dan pikirannya ―Taehyung tetap merasa dirinyalah yang patut dipersalahkan atas kejadian ini. Jika tidak karena dirinya yang sudah menbuat seorang wanita bunuh diri dan mencelakai Jungkook.

Karena tinju mentah itu buku tangan kanan Taehyung terluka dan berdarah. Rasanya tidak sakit, dan bahkan tidak ada apa-apanya di bandingkan Jungkook yang kini sedang berada di dalam ruang IGD. Namun, di antara kekacauan pikirannya saat ini, setidaknya Taehyung masih dapat memikirkan sesuatu akan apa yang harus di lakukannya.

Entah sadar atau tidak pada kondisi buku tangannya yang kini mengeluarkana darah, Taehyung segera merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang.

"Saya Kim Taehyung. Maaf jika saya mengganggu waktu bekerja anda, Tuan Namjoon. Tapi, bisakah anda segera datang ke Last Bouquet hospital? Sesuatu telah terjadi pada Tuan Muda... Baik, terima kasih"

Suaranya terdengar goyah, tapi Taehyung sama sekali tak menyadari hal itu, ia pun kembali mengantongi ponselnya kemudian menghela napas samar. Dan dirinya tidak melihat tanda-tanda jika seseorang akan segera keluar dari ruangan di depannya dalam waktu dekat untuk memberikan penjelasan.

Keheningan yang semakin menambah kegelisahannya tidak juga berakhir setelah setengah jam berlalu, dan selama itu pula, Taehyung bertingkah gelisah dan tak bosannya menatap kearah pintu yang senantiasa tertutup. Membuat isi kepalanya semakin runyam, dan seolah tak memberi sedikit pun kesempatan untuknya memikirkan hal lain selain hal-hal buruk.

"Ketua Tim!" panggil Namjoon yang baru saja muncul. Taehyung yang sejak tadi berjalan mondar-mandir pun berhenti dan mengangkat wajahnya ketika mendengar seseorang memanggil dan melihat Namjoon yang masih mengenakan jas dokter melangkah cepat ke arahnya.

"Apa yang telah terjadi? Kenapa Jungkook bisa masuk Rumah Sakit?" tanya Namjoon khawatir. Taehyung sempat terdiam untuk beberapa saat, merasa bingung harus memulai dari mana untuk menjelaskan.

"Semua ini salah saya. Saya tidak cukup baik menjaganya." Jawab Taehyung, seiring dengan tenggorokannya yang tercekat saat mengatakan hal itu.

"Apa maksud mu? Pasti ada alasan kenapa Jungkook bisa berada disini. Aku tahu kau menjaganya dengan sangat baik. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Anda tidak akan percaya meskipun saya menceritakannya."

Di sela rasa panik yang menguasai, Namjoon merasa sedikit kebingungan,"Apa itu? Apa Jungkook terlibat hal yang berbahaya?"

"Tidak."

"Lalu apa? Ceritakan padaku."

Taehyung melihat keseriusan di sorot mata pria itu, meski ragu bagaimanapun juga pria di depannya itu adalah kerabat yang sangat dekat dengan majikan kecilnya, lagi pula tidak ada alasan untuk tidak menceritakannya pada situasi seperti ini. Dan akhirnya Taehyung mengatakan semuanya pada Namjoon. Menceritakan segala hal yang selama ini tidak diketahui oleh pria itu, tentang kelebihan apa yang di miliki oleh Jungkook sejak kecil. Dan, ia sudah bisa menebak reaksi seperti apa yang di tunjukkan oleh pria yang kini sudah memiliki dua orang anak itu. Setengah percaya dan juga tidak.

"Kau bercanda?" sengalnya. "Aku kakak sepupunya, dan bagaimana bisa aku tidak tahu jika Jungkook bisa melihat hantu? Sial, yang benar saja." lanjutnya tak percaya.

"Tuan Besar, Nyonya dan Nona Yein memang sengaja menyembunyikan hal itu. Selain itu hanya saya dan Jung Hoseok yang mengetahuinya." ujar Taehyung.

"...begitu? Kurasa itulah yang membuat Jungkook berbeda di mata orang lain. Jadi karena hal itu dia masuk Rumah Sakit?"

"Benar. Saya tidak waspada saat itu."

Namjoon menepuk pundak Taehyung pelan. Tepat pada saat itu, tak sengaja ia melihat tangan Taehyung yang berdarah. "Bukan salahmu. Dan sebaiknya kau obati tanganmu lebih dulu, karena jika Jungkook melihatnya, aku yakin dia tidak akan senang." Ujar Namjoon, layaknya seorang Ayah yang sedang menasehati sang putra.

Penantian mereka pun terjawab ketika pintu IGD dibuka. Baik Taehyung maupun Namjoon menoleh seperti anak kunci. Seorang pria berkacamata yang memakai jas putih menutup pintu di belakangnya kembali, sebelum menatap dua orang yang sejak tadi menanti di depannya.

"Keluarga pasien?" tanya Dokter itu.

"Saya Kakak sepupunya. Orangtua nya sudah meninggal." kata Namjoon. Dokter itu beralih menatap Taehyung.

"Anda yang membawa pasien?" tanyanya.

"Benar, dok."

"Baiklah. Begini, pasien mengalami hypothermia karena berada di dalam air terlalu lama, dan untuk luka sayatan di pergelangan tangannya, untungnya tidak sampai memotong urat nadinya. Kami sudah mengatasi hal itu. Namun, karena kondisi pasien yang sangat lemah dan cukup buruk…" Dokter itu menghela napas perlahan, "Pasien memasuki fase koma. Dan, semuanya tergantung pada ketahanan tubuh pasien sendiri. Jika dia cukup kuat, aku yakin dia tidak akan tidur terlalu lama." Jelas dokter tersebut panjang lebar. Taehyung tertegun dan Namjoon tak kalah terkejutnya.

"Tolong lakukan yang terbaik untuknya…" pinta Namjoon.

"Itu sudah pasti. Oh iya, apakah pasien pernah mengalami kecelakaan?"

"Tidak pernah. Sepupu saya memang tidak bisa berjalan sejak lahir."

Dokter itu mengangguk paham. "Baiklah, kalau begitu pasien akan di pindahkan ke ruang rawat, anda berdua bisa melihatnya nanti."

"Baik, terima kasih." Namjoon menundukkan kepalanya sopan, begitu pula dengan Taehyung.

Dokter itu pun kembali masuk ke ruang IGD, meninggalkan Taehyung yang masih berdiri termenung menatap pintu ruangan itu dengan hampa. Ternyata, penjelasan dari dokter tersebut sama sekali tidak meringankan ketakutannya akan kondisi Jungkook yang sebenarnya saat ini.

.


.

Malam tiba, membangunkan para pengendara angin yang tertidur pada sangkar-sangkar tersembunyi. Sudah sebelas jam berlalu sejak Jungkook di larikan ke Rumah Sakit. Memang penanganannya terbilang berjalan lancar, tapi tak lantas membuat pemuda itu segera tersadar dari tidurnya.

Hanya suara alat-alat medis yang terdengar, berbaur bersama suara detak jarum jam dinding yang bergema. Suara itu seolah menjadi pengingat bagi Jungkook yang tengah terbaring tak sadarkan diri agar tetap bernapas― agar tak tergoda oleh keheningan yang ada. Karena, kapan pun, udara dingin selalu mampu merayu jiwanya yang lemah untuk melebur di dalamnya. Kemampuan udara yang nyata.

Dan sejak berjam-jam yang lalu pula, Taehyung sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya yang berada tepat di sisi ranjang Jungkook. Sama sekali tidak melepaskan pandangannya pada pemandangan wajah pucat pemuda itu. Dimana ada sebuah alat bantu pernapasan yang menutupi hidungnya.

Taehyung merasa ketakutan, seolah jika ia mengalihkan tatapannya barang sedetik saja, sosok Jungkook akan berhenti bernapas.

Dan sungguh situasi yang aneh untuknya, menunggu sang majikan yang terlelap tanpa tahu kapan ia akan terbangun.

Pandangan matanya bergeser, memperhatikan tiap jengkal tubuh kurus Jungkook yang tak bergerak di balik selimut. Pemandangan yang sebenarnya tidak ingin ia lihat, karena sudah cukup banyak hal menyedihkan yang di lihatnya dari pemuda itu, termasuk kebakaran yang memakan korban jiwa dua anggota keluarga Jeon.

Ya, hari itu dirinya memang menjadi salah satu saksi peristiwa mengerikan tersebut, saat di mana keesokan harinya ia bertemu dengan Jungkook yang datang bersama ayahnya, karena memang ayah dan anak itu telah menetap di luar negeri sejak dua tahun lalu.

Taehyung menghela napas kecil, lalu melepas dua kancing teratas kemejanya. Namun suara pintu yang di ketuk membuat perhatiannya teralihkan. Ia baru saja bangkit berdiri saat pintu itu sudah lebih dulu di buka dari luar. Menampilkan sosok Namjoon yang datang bersama kedua anaknya. Taehyung menundukkan kepalanya kecil saat pria itu berjalan masuk.

"Ada perkembangan?" tanya pria itu, berdiri di dekat kursi.

"Tidak ada. Masih sama seperti tadi pagi." Jawab Taehyung sekenanya.

"Anak ini cukup sehat selain masalah diabetesnya, tidak ku sangka akan menjadi seperti ini." ujar Namjoon seraya mengusap pelan tangan Jungkook yang tergeletak di samping tubuhnya.

"Paman Taehyung," panggil suara renyah di samping kanan pria itu, menarik-narik celana sang bodyguard. Taehyung pun menunduk, melihat seorang gadis kecil berusia sekitar enam tahun.

"Ya Nona?" ia pun berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan bocah perempuan itu.

"Ini." Kairi menyodorkan sebuah kotak bekal kepada Taehyung. "Kata Ayah, Paman Taehyung belum makan sejak pagi. Jadi aku dan Ken meminta bibi untuk masak." ucapnya manis. Taehyung menatap kotak bekal di dalam kantong plastik tersebut, kemudian menerimanya.

"Terima kasih Nona." tak lupa ia tersenyum. Gadis kecil itu pun juga tersenyum.

"Paman Taehyung harus makan banyak supaya bisa membantu Kuki Hyung bekerja!" celotehnya lucu. Namjoon tersenyum melihat putrinya itu, lalu mengusap rambut Kairi. Taehyung tersenyum tipis, kemudian mengangguk.

"Ayah, kenapa Kuki Hyung tidur terus?" tanya Ken yang duduk diatas tempat tidur, tepat di samping Jungkook berbaring. Menatap pemuda itu dengan kedua mata kecilnya yang bulat.

"Jungkook Hyung sedang sakit Ken." jawab Namjoon kalem.

"Padahal aku ingin bermain game bersama Kuki Hyung. Kapan dia bangun?" mata kecilnya menatap sang Ayah.

"Ayah juga tidak tahu. Berdo'a saja agar Hyung mu cepat bangun." Ken mengangguk polos. Namjoon menengok pada Kairi yang masih berceloteh pada Taehyung.

"Kairi, biarkan Paman Taehyung makan dulu." ucapnya, Taehyung mengangkat wajahnya.

"Saya tidak masalah." ujarnya. Pria itu mengangkat tubuh kecil putrinya dan mendudukannya di pinggir ranjang.

"Sudah, sebaiknya kau makan saja dulu atau mandi. Biar aku, Ken dan Kairi yang menjaga Jungkook di sini." Namjoon memberikan saran, dan Taehyung pun bangkit berdiri.

"Baiklah. Saya permisi dulu." sahutnya patuh. Namjoon menepuk kecil pundak Taehyung saat pria itu berjalan melewatinya.

Taehyung keluar dari kamar rawat tersebut, dan menutup pintunya kembali dengan pelan. Tetapi, ia tidak segera beranjak dari sana, melainkan hanya diam berdiri memunggungi pintu kamar rawat Jungkook.

"Jungkook, apa kau juga melihatnya saat ini?" tanya Taehyung pada keheningan yang menyapanya di lorong panjang Rumah Sakit tersebut.


tbc

Otsu & Christal