Main Pairing:

Jongin x Kyungsoo

Other Casts:

Kim Yoora

Kim Joonmyeon

Krystal Jung

etc.

CHANBIE PROUDLY PRESENT

•••••••••

INI sudah minggu ketiga sejak Kyungsoo menghentikan pengobatan pada Jongin, dan dia belum tahu apa reaksi yang terjadi pada tubuh Jongin.

Krystal menyadari bahwa Kyungsoo menghentikan pemberian obat pada Jongin. Dan sekarang dia tengah melangkah cepat, menuju kamar Jongin.

"Kyungsoo-ya,"

Kyungsoo menoleh ke arah pintu, dia sedikit meremas tangan Jongin dan kemudian berdiri--melihat Krystal berjalan mendekati dirinya.

"Kau menghentikan pengobatan Jongin?" Krystal bertanya serius. mimik wajahnya terlihat seram, membuat Kyungsoo sedikit bergidik ngeri dalam hati.

"Krystal--"

"Apa maksudmu menghentikan pengobatannya? Kau ingin membuat Jongin mati cepat?"

"Kau yang ingin membuatnya mati cepat!" Kyungsoo berseru, membuat Krystal terhenyak.

Gadis di depan Kyungsoo itu memalingkan wajahnya ke arah yang lain, diam tidak bisa berkata apapun lagi. Namun dirinya tahu bahwa ini bukan kali pertama dirinya seperti ini. Krystal menatap Kyungsoo lagi ketika Kyungsoo bertanya,

"Siapa kau sebenarnya?"

"Kyungsoo!"

Yang dipanggil namanya beserta Krsytal menoleh ke arah pintu kamar. Itu Junmyeon, dengan wajah yang terlihat menahan amarah.

"Kau--silakan angkat kaki dari rumah ini!"

"Apa?" pendengaran Kyungsoo seperti tuli dalam waktu beberapa detik. Dia menganga tak percaya dengan pernyataan Junmyeon yang terucap sekali lagi--

-- "Pergi sekarang juga! Bawa barang-barangmu!"

"Tapi, Hyung--"

"Kau mencium Jongin! Kau memberi makan dengan cara yang aneh! Kau menghentikan pengobatan Jongin!" Junmyeon berseru tepat di depan wajah Kyungsoo. Dia tampak marah, terlihat dari bola matanya yang memerah dan sedikit air menggenangi ekor matanya. "Aku percaya padamu tapi kau malah berbuat sebaliknya!"

Kyungsoo menggeleng cepat. Dia berharap Jongin segera memberi respons agar penghentian obat yang dilakukannya berefek positif dan Junmyeon berbalik percaya padanya-- atau minimal, Yoora ada disini bersamanya. "Hyung, Krystal yang--"

"Kau ingin kuusir dengan cara yang tidak hormat, Kyungsoo-ssi?" Junmyeon merendahkan suaranya, lebih mengintimidasi dari sebelumnya.

Kyungsoo menghela napasnya kasar. "Ne, Hyung. Aku pergi." Dia menatap Jongin cukup lama hingga dia tidak menyadari--kalau Jongin menatapnya dengan kedipan yang mampu membuat air mata Jongin jatuh.

•••••••

"Aku tidak percaya Junmyeon seperti itu."

Yoora berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya. Tiga minggu terakhir ini dia tengah sibuk di rumah sakitnya mengenai obat-obatan seperti apa yang dapat menyembuhkan Jongin--hingga ia lupa memberi kabar pada Junmyeon tentang penghentian obat secara tiba-tiba.

"Junmyeon Hyung tidak mempercayaiku, Noona," Kyungsoo bergumam lirih. Dia menunduk, memerhatikan kedua kakinya yang terbungkus sepatu.

Tok ... tok ... tok ...

Yoora menoleh pada pintu ruangannya yang tertutup rapat itu. "Masuk."

Clek.

Itu Kim Hee Mi, salah satu partnernya dalam pengamatan obat khusus Guillain Barre Syndrome.

"Maaf mengganggu perbincangan Anda, Yoora-ssi," Heemi membungkuk sopan. "Aku sudah menemukan obat yang cocok untuk penderita Guillain Barre Syndrome,"

Dan seperti tersambar petir Kyungsoo refleks berdiri menatap dokter yang menjadi partner kakaknya itu.

Yoora tersenyum tipis dan dia mengangguk. "Katakan pada dokter lainnya untuk meeting mengenai obat tersebut dalam waktu satu jam lagi."

"Ne, Yoora-ssi."

Dan setelahnya, Kim Hee Mi segera pergi setelah dirinya membungkuk sopan.

Yoora menghembuskan napasnya lega. Tatapannya kini jatuh pada Kyungsoo yang sedari tadi tidak dapat menahan senyum. "Kau bahagia?"

Kyungsoo menatap Yoora dengan binar yang terlihat memupuk harapan. "Sangat."

•••••

Ini masih pagi sekali dan Yoora melangkahkan kakinya menuju bagasi rumahnya. Dia berkali-kali menelepon seseorang, namun yang ditelepon tersebut tidak juga mengangkatnya.

"Kim sialan Junmyeon!" dia menggerutu, masuk ke dalam mobil dan mengendarainya dengan kecepatan diatas rata-rata.

Ini masih terlalu pagi dan jalanan sangat mendukung karena terlalu lengang untuk Yoora yang mengendarai mobil seperti orang kesetanan.

Sepuluh menit waktu yang Yoora habiskan di jalan menuju kediaman Junmyeon. Dia membuka kaca mobilnya dan penjaga pagar rumah itu sudah tahu siapa Yoora.

Kamar Junmyeon terlihat rapi dengan interior yang dominan berwarna abu elegan. Yoora menyalakan lampu, membuka gorden besar dan tidak menemukan Junmyeon dimanapun. Dan dia tahu, pria itu pasti tengah berkutik dengan lembaran kertas sialan yang mampu membuat siapapun ingin muntah karena membaca diagram yang sulit dimengerti orang awam.

"Kim Junmyeon,"

Yang dipanggil segera mendongakkan wajahnya ke arah pintu. Dia menopang dagunya dengan kedua kepalan tangannya, menatap Yoora yang kini duduk di kursi depannya dengan tenang. "Kau datang pagi-pagi sekali."

"Kau yang membuatku datang sepagi ini." Nada bicara Yoora tidak terdengar santai, tidak juga terdengar mengintimidasi. Dia hanya mencoba berbicara serius sebagai seorang dokter yang sedang menangani pasien dari adik seorang CEO pemegang saham terbesar nomor 2 di Korea ini.

Junmyeon berdeham sesaat dan dia menyingkirkan laptopnya ke pinggir meja untuk sesaat. "Katakan."

"Kau sahabatku sejak lama dan kau pun tahu pasti bahwa aku tidak akan melibatkan orang lain sembarangan pada orang terdekatku sendiri."

Yoora membuka tas hitam keluaran brand ternama miliknya itu. Dia mengambil dua lembar kertas, lalu diserahkan pada Junmyeon sembari dirinya menjelaskan.

"Jongin bukan lagi pengidap bipolar ataupun depresi berat. Dia mengidap Guillain Barre Syndrome, gangguan sistem kekebalan tubuh yang menyerang syaraf. Dan obat yang dikonsumsi Jongin selama ini, Oxyhexedrine--diberikan oleh Krystal padanya. Kau bisa membaca tentang penjelasan obat tersebut, di kertas itu."

"Kau bercanda?" Junmyeon tertawa kering namun gelengan kepala Yoora membuatnya hampir pingsan saat itu juga. "Mengapa kau tidak memberi tahuku sejak awal?!"

"Kyungsoo yang menyadari semuanya. Kau telah mengusir orang yang salah."

Tiga hari yang lalu Junmyeon tengah mengadakan rapat penting di Australia mengenai proyek baru yang akan dilaksanakan olehnya disana, namun begitu Krystal mengatakan di telepon bahwa Kyungsoo menghentikan pengobatan Jongin--dia segera menyuruh sekretarisnya disana untuk menggantikannya yang langsung beranjak pergi untuk terbang kembali menuju Korea.

Namun fakta lain menyebutkan kalau yang dituduhnya kemarin adalah--yang berbuat baik pada adiknya sendiri. Junmyeon mengusap wajahnya frustasi.

"Pengobatan seperti apa lagi yang harus dilakukan oleh Jongin, sekarang?" Junmyeon bertanya dengan lirih.

"Perawatan intensif di rumah sakit dengan biaya kurang lebih dua ratus lima puluh"

"Aku tidak peduli dengan biaya." Junmyeon menatap Yoora dengan serius. "Bawa Jongin untuk perawatan intensif dan aku akan membayar berapapun biayanya."

Tipikal orang yang sangat peduli dengan keluarga, bukan?

Yoora mengangguk dan segera menghubungi rumah sakit tempatnya bekerja. Dia menelepon sedang Junmyeon merapikan pekerjaannya yang masih bertumpuk-tumpuk di meja tersebut.

"Halo? Kirimkan ambulan ke Nonhyeon-dong, kediaman Kim Junmyeon. Apa aku perlu mengirimkan alamat lengkap?" Yoora bertanya dan dengan cepat bawahan di rumah sakit miliknya itu menjawab "tidak perlu".

"Bagus. Tolong kirimkan sekarang juga. Terima kasih."

"Aku akan menghubungi Kyungsoo." Yoora berujar dan Junmyeon mulai menghentikan kegiatannya.

"Biar aku saja."

Dan Yoora memilih untuk mengiyakan saja.

••••

Kyungsoo baru saja tertidur pukul satu dini hari dan telepon Junmyeon pada pukul 7 pagi mampu membuatnya terlihat seperti mayat hidup yang tengah berjalan di sekitar Perumahan Gangnam ini.

Dengan hanya mandi lima menit dan menghabiskan waktu lima menit lainnya untuk memakai baju, Kyungsoo segera mengunci pintu dan berlari menuju halte busberharap penuh jika bus yang ditunggunya segera datang.

Dan dia kembali menghabiskan waktu tiga puluh menit untuk perjalanan menuju Seoul Hospital.

Kyungsoo berlari di koridor, memainkan jari-jarinya dengan cemas ketika di dalam lift dan tersenyum hangat ketika pandangannya bertemu dengan pandangan Junmyeon.

"Aku minta maaf," Junmyeon membungkuk dan Kyungsoo refleks memegangi bahu pria itu.

"Tidak Hyung, tak apa."

"Aku benar-benar minta maaf karena telah berkata kasar padamu. Maaf Kyngsoo, maaf," dan Junmyeon tetap pada pendiriannya untuk meminta maaf.

"Kau hanya tak ingin ada yang melukai Jongin. Aku mengerti, Hyung."

Junmyeon mengangguk dan tersenyum tipis. "Terima kasih, Kyungsoo-ya."

Kyungsoo mengangguk. "Dengan senang hati." Dia menoleh pada pintu dengan kaca di tengah yang berbentuk sedikit memanjang. Di dalam sana ada Yoora dan beberapa perawat yang tengah memberi penanganan pada Jongin. Dia berkali-kali mengharapkan permohonan pada Tuhan, dalam hatinya.

"Aku meletakkan beberapa CCTV di kamar Jongin yang dapat aku pantau melalui ponsel, Soo." Junmyeon berujar tiba-tiba, membuat Kyungsoo diam tak berkutikuntuk menjawabnya.

Junmyeon tertawa kecil melihat ekspresi Kyungsoo yang tak biasa. "Itu sangat kecil hingga kau tidak bisa menyadari keberadaannya."

Kyungsoo menjilat bibir bawahnya, menghilangkan kegugupan yang mulai merasuki pikirannya. "Maaf sudah berbuat yang tidak mengenakan pada adikmu, Hyung."

Junmyeon menggeleng. "Sangat lucu ketika aku melihat bagaimana dirimu yang terlihat malu ketika berusaha membuat makanan di dalam mulut Jongin tidak tumpah. Itu menjadi hiburanku tersendiri ketika aku sedang lelah oleh pekerjaan dan kemudian memilih untuk melihat rekaman CCTV di kamar Jongin,"

"Lupakan," Kyungsoo mengalihkan wajahnya lagi pada pintu kaca itu. Dia tahu bahwa Junmyeon tengah menahan tawa di depannya.

Junmyeon menepuk bahu Kyungsoo, membuat pria itu kembali menoleh padanya. "Rawat Jonginku denganmu, ya. Aku kembali mempercayaimu."

Dan Kyungsoo tersenyum lebar dengan anggukan yang terlihat antusias.

••••••••••

see you. x