Pair : SasuHina

Rate : T

Genre : Fantasy, Romance, Humor (maybe)

Warning : OC, OOC, Typos, etc


-Fantasia-The Realm of Thanos-

{Sasuhina Version}


-The Exiled Immortal 3-

"Bagaimana tidurmu? Kau tidur nyenyak semalam?"

"…."

"Ada apa?"

"Y-ya… tentu saja…". Hinata mengernyitkan kening bingung dengan sikap Sasuke yang normal seperti tidak pernah terjadi apa-apa di antara mereka semalam. 'jadi pertengkaran antara kami semalam tidak mengubah apapun? Atau dia hanya pura-pura tenang seperti biasanya?'

"Siapa target kita selanjutnya, Kid?"

"Itu… terserah kau saja…"

"Kupikir kita harus menargetkan Toneri terlebih dahulu".

"Bukankah dia meninggalkan kota ini?".

"Aku bisa mencari jejaknya dalam waktu singkat".

"Bagaimana?"

"Suigetsu". Sasuke memanggil salah satu iblisnya.

"Ya, tuan?"

"Bawa Juugo bersamamu dan temukan keberadaan Toneri sekarang… dan sebagai imbalannya, aku akan memberikan kalian berdua jadwal membunuh"

"Benarkah?". Suigetsu antusias mendengarnya. "Kami akan segera menemukannya…". Ia membungkuk dan dalam sekejab menghilang.

"Jadwal membunuh?". Tanya Hinata penasaran.

"Hn. Seperti meledakkan kota misalnya… dan yang harus kita lakukan sekarang hanyalah menunggu, Kid"

'Aku tidak tahu apakah aku harus menanyakannya tentang Shion-san atau tidak…Tapi aku tidak tahan dengan sikapnya yang seolah-olah baik-baik saja dan seperti menyembunyikan sesuatu dariku'. Hinata meremas tangannya. "Ummm Sasuke?"

"Hn"

"Te-tentang Shion…"

"Ada apa?"

"Kau masih mencintainya?"

Sasuke menatap Hinata dan mengernyitkan kening. "Apa maksudmu?"

"Kau pasti masih mencintainya kan?". Tanya Hinata lagi, memastikan.

"Tidak"

"Kau bohong"

"Aku sama sekali tidak bohong….

"Tapi-"

"Kalaupun aku bohong… itu sama sekali tidak ada urusannya denganmu". Kata Sasuke dingin.

"Ta-tapi aku adalah orang yang membantumu mendapatkan kembali kekuatanmu… dan tentu saja itu menjadi urusanku juga…"

"Sayang sekali aku tidak berkewajiban menjawab pertanyaan dari pelayanku".

'Pelayan?'

"Tapi yang jelas sekarang ini, aku benar-benar sedang mencari waktu yang tepat untuk membunuh wanita itu."

'Membunuh Shion-san?'. Hinata membulatkan mata tidak percaya. "Tapi Sasuke?"

"Hn?"

"Kau terlihat sedikit senang saat kau bilang "jangan pergi, Shion…" semalam".

Hinata bisa melihat dengan jelas wajah Sasuke yang bersemu merah. "Kapan aku bilang begitu? Kau hanya berhalusinasi saja, bodoh"

Hinata memalingkan wajahnya. "Terserah kau saja… aku lelah berdebat denganmu…"

"Tuan, aku sudah menemukannya". Suigetsu datang kembali.

"Ck kau terlalu lamban, Suigetsu". Sasuke mendecih tidak suka.

"Menurutku dia melakukan pekerjaannya dengan cepat". Hinata mencoba membela Suigetsu yang wajahnya terlihat ketakutan.

"Itu terlalu lama bagiku… Dimana dia?". Tanya Sasuke dengan kesal.

"Umm tuan… dia ada di desa kristal…"

"Benarkah? Bagus… sekarang pergilah!".

"Hai…". Setelah itu Suigetsu melangkah pergi meninggalkan Sasuke dan Hinata.

"Desa Kristal?". Tanya Hinata bingung dengan nama desa yang mereka sebutkan.

"Kudengar itu adalah desa lamanya"

"Tempat asal Toneri-san?"

"Hn. Dia membekukan semua yang ada di sana… kau belum mendengar tentang itu?"

"Be-belum…". 'sebenarnya hanya sedikit yang kutahu'.

"Kita pergi sekarang, kid".

"Ha-hai"

Sasuke dan Hinata dalam sekejab berteleportasi ke tempat yang asing. Tempat itu hanya dipenuhi dengan es dan tidak ada tanda-tanda kehidupan. Bahkan Hinata sendiri ragu ada semut hidup di tempat itu.

"Dia datang… bersikaplah seperti biasa, lalu kita akan menangkapnya". Bisik Sasuke pelan.

Seperti yang Sasuke katakan, tidak lama kemudian Toneri datang. Ia terlihat terkejut saat melihat mereka di tempat itu. Tapi dengan cepat wajah terkejutnya tergantikan dengan senyuman. "Ohayo…". Sapanya.

"Toneri-san?". Hinata melihat Toneri dengan ekspresi antara sedih dan senang. Ia memang senang melihat pria itu lagi, tapi ia juga sedih dengan apa yang akan terjadi.

"Apa yang kau lakukan di sini?". Tanya Sasuke dengan tenang pada Toneri.

Toneri melihat Sasuke dengan tatapan heran. "Di sini dulunya adalah kampung halamanku… aku hanya sedang mengenangnya di sini…". Lalu ia menoleh ke arah Hinata. "Apakah dia ini kekasihmu, Hinata-san?"

"Ti-tidak… tentu saja tidak…". Hinata menggeleng cepat.

"Benarkah? Aku pikir kalian berdua adalah sepasang kekasih…"

"A-apa? Itu tidak benar…". Hinata tetap menyangkal.

"Tapi kau terlihat senang menikmati waktu bersamanya, Hinata-san…".

"Benarkah?". Sasuke yang mendengarnya sedikit tertarik dengan apa yang dikatakan Toneri. "Senang menikmati waktu bersama kami, huh? Menarik….". Ia menatap Hinata dengan seringaian lebarnya. "dan bagian mana yang bisa disebut menikmati waktu bersama?"

"Eh?"

Sasuke menatap Toneri lagi. "Mungkin kau buta atau semacamnya, karena kami sama sekali tidak pernah menikmati waktu bersama"

"Tapi-"

"Tapi mungkin kami memang menikmatinya… karena kami adalah pasangan"

Toneri dan Hinata terdiam sesaat mendengar pernyataan Sasuke. "Jadi… apa yang kalian lakukan di sini?". Tanya Toneri kemudian.

"Kami kesini untuk- agh". Sasuke mencubit pipi Hinata.

"Sshh kau hampir mengatakannya, bodoh". Bisik Sasuke pelan.

"Gomen"

"Kami… sedang kencan". Sasuke merangkul pundak Hinata. "Ya benar, kami sedang kencan sekarang"

Toneri mengernyitkan kening. "Aneh sekali… kalian kencan di tempat seperti ini? Tempat ini jauh dari kota, kalian tahu itu kan?".

"Ya, memang… tempat ini agak terisolasi… tapi ini tempat yang bagus untuk- agh". Hinata menginjak kaki Sasuke dengan kuat.

"Bukan untuk bercinta, dasar kau idiot!!! Kau… dasar kau pedofil"

"Beraninya kau menyebutku pedofil… penampilanku tidak setua itu, dasar bodoh… lagipula kau juga bukan anak kecil". Lalu tiba-tiba Sasuke menyeringai. "Tapi, bagaimana kau bisa tahu aku akan bilang begitu?".

"Tentu saja aku sudah terbiasa dengan pikiranmu itu, dasar kau idiot"

"Apa? Disini kau yang idiot… lagipula aku hanya bercanda… dasar gendut"

"Apa? Kau… kau adalah musuh semua wanita di dunia ini…".

Sasuke dan Hinata saling menatap tajam satu sama lain. Sedangkan Toneri sendiri hanya bisa menatap bingung dengan pertengkaran mereka. "Hmm kalau begitu, aku akan pergi sekarang…". Katanya kemudian.

"Kau tidak bisa pergi dari sini". Sasuke dengan cepat menghalangi Toneri yang akan melangkah pergi meninggalkan mereka.

"A-apa yang kau lakukan?"

"Kau hanya bisa pergi setelah aku mengambil kekuatanmu… Xemnahort faas abis vaxe seeivu habx luna"

Ekspresi Toneri tidak berbeda dengan Sasori saat ingatan dan kekuatannya diserap paksa. Dia terlihat sangat kesakitan. "Hentikaaannnn aaaaarrrghhh Kau… kau sangat kejaammm aaaaarrrgghhhhhhh"

Hinata dengan cepat mengeluarkan bola kecil itu lagi dari sakunya dan mulai menyerap sedikit kekuatan dan ingatan Toneri seperti yang dilakukannya pada Sasori. Ia melakukannya dengan sangat berhati-hati agar tidak diketahui Sasuke.

"Tidaaakkkkk, kaasaaaaaannnnnn…. Kenapa semua orang membeku??? Maafkan aku…. aku tidak sengaja membekukan kalian…. Tolong maafkan aku… aku tidak cukup kuat untuk mengembalikan kalian kembali seperti semula… maafkan aku… aaaaaarrrgggggghhhhhh". Toneri menangis dengan air matanya yang jatuh ke pipinya. Lalu air matanya dengan cepat membeku saat mencapai area dekat mulutnya. Dan perlahan kesadarannya mulai memudar dan ia pingsan.

Setelah melihat Toneri yang pingsan, dengan cepat Hinata memasukkan kembali blue orb itu ke dalam sakunya, tepat sebelum Sasuke menoleh ke arahnya.

"Kuso, mendengarnya berteriak seperti itu mengingatkanku padanya". Kata Sasuke tiba-tiba.

Hinata mengernyit. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa… lupakan saja". Sasuke kemudian berjalan masuk ke celah es. Dan saat ia kembali, ia menggenggam sebuah permata di tangannya.

Entah kenapa Hinata merasa Sasuke tiba-tiba terlihat murung. 'Apakah dia mengingat Shion-san? Dia pasti sedang mengingatnya sekarang…'. Tanpa sadar matanya mulai berair.

'Kenapa?

Padahal aku di sini bersamamu…

Aku lebih mencintaimu daripada dia…

Sasuke…'.

"Aku lelah…". Kata Sasuke tiba-tiba. "mungkin aku harus istirahat sebentar…". Ia duduk tidak jauh dari Toneri yang pingsan. "Ada apa?". Tanyanya saat menatap Hinata.

"Eh?"

"Tidak perlu menangisinya… dia tidak mati". Katanya saat melihat Hinata meneteskan air mata. "Kemarilah!". Ia menepuk tempat di sampingnya.

Hinata menghapus air matanya cepat. "Kau tidak merencanakan apapun kan?"

"Apa? Aku tidak akan melakukan apapun… Di sini sangat dingin, dan kau akan merasa hangat jika ada seseorang di dekatmu"

Hinata tersenyum tipis dan mulai duduk di samping Sasuke. "Kadang kau membuatku lupa kalau kau adalah Raja Iblis".

"Itu karena dia… aku bahkan dulunya lebih buruk…"

"…."

"Dia memberitahuku ini sekali… Dia bilang cinta bisa mengalahkan kebencian… tapi sekarang aku harus menghapus ingatan itu". Sasuke tersenyum kecut. "Tsk, aku terlalu banyak bicara".

'Dia memanfaatkanku…

Untuk menghapus Shion-san dari ingatannya…

Hanya untuk menghapus ingatannya tentang kebersamaan mereka…

Aku hanya pengganti…

Aku hanyalah…'

"Ada apa?"

"….."

"Apa kau kedinginan?"

Hinata menggelengkan kepalanya. "Tidak…".

"Kalau begitu, apa kau mendapatkan periode bulananmu?"

"A-apa? Tentu saja tidak, dasar idiot". Wajah Hinata memerah karena kesal.

Sasuke menyeringai. "Biar kutebak… apa kau gugup di dekatku sekarang?"

"A-apa?". Hinata gelagapan mendengarnya.

"Ngomong-omong, bagaimana menurutmu tentang ciuman pertama kita?"

"APA??"

"Jangan bertingkah seperti kau lupa…"

"Itu sama sekali tidak romantis… sangat sangat tidak romantis….". Kata Hinata kesal.

"Benarkah? Kau ingin yang romantis, huh? Hmm kalau begitu bagaimana kalau kita coba lagi sekarang?"

-blushhhh-

"A-apa?"

"Hahaha hanya bercanda…".

"Sama sekali tidak lucu…". Hinata mendengus kesal.

Sasuke tiba-tiba terdiam. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia terlihat memikirkan sesuatu dan seperti mengabaikan Hinata yang masih terlihat kesal.

Hinata yang menyadari itu, mengernyitkan kening bingung. Ia menatap Sasuke yang terdiam cukup lama. "Sasuke?".

"Hn?"

"Ada apa?"

"Hanya mengenang masa lalu"

"Hmm?"

"Waktu itu, entah kenapa semuanya menjadi berantakan… aku selalu ingat, dia terus bicara tentang meninggalkan kebencian dan memulai untuk mencintai seseorang… ck, dan dengan bodohnya aku mengikutinya… tapi kemudian kutahu, dia hanya main-main denganku… Dasar jalang."

Hinata hanya bisa mendengarkan dalam diam.

"Aku tidak tahu kalau cinta bisa mengubah segalanya…"

"…."

"Ck, seharusnya aku melupakan itu semua… tapi aku sama sekali tidak bisa…."

"Dia hanya ingin kau berubah, Sasuke…"

"Aku dulu memang berubah… aku melakukan semua yang ia inginkan…"

"…."

"Sekarang aku kembali ke diriku yang sebenarnya…". Sasuke menggigit bibir bawahnya. "Bagaimana perasaanmu jika ada seseorang memberitahumu bahwa dia mencintaimu, lalu dia juga mengatakan hal yang sama pada orang lain dan bahkan mereka berciuman?"

"…."

"Jika saja aku tidak mengikutinya diam-diam, Aku tidak akan tahu kalau dia hanya main-main denganku"

"Aku… aku merasakan hal yang sama… setiap kali aku mendengarmu membicarakannya, aku merasakan hal yang sama… aku…"

"….."

"Tidak bisakah kau melupakannya?"

"…."

"Sekarang kau memiliku…"

Mereka saling menatap satu sama lain.

"Kita harus temukan target selanjutnya!". Kata Sasuke kemudian.

Hinata tersenyum kecut. Sasuke selalu mengganti topik pembicaraan. "Baiklah"

"Cukup untuk hari ini… kita pulang sekarang…"

Dan tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah kembali ke istana.

"Kau istirahatlah… aku akan membuat diriku terbiasa dengan kekuatan baru ini dan tidur"

"Un". Setelah itu Sasuke menghilang dari hadapannya. 'Aku lega, dia mulai terbuka padaku sekarang…'

Keesokan harinya…

Hinata PoV

Aku keluar dari kamar dan menemukan Sasuke berdiri di depan pintu kamarku. Aku menatapnya bingung, karena beberapa saat ia melihatku tanpa mengatakan apapun.

"Ohayo". Katanya kemudian dengan memalingkan wajahnya.

"O-ohayo…"

"Hari ini ada sesuatu yang harus kulakukan… kau tetaplah di sini"

"Eh?"

"Aku ingin mengumpulkan lebih banyak iblis hari ini… dan kuyakin gadis yang lembut sepertimu tidak akan tahan melihatnya"

"Kenapa?"

Ia menatapku sejenak. "Kupikir melihat darah akan membuatmu takut".

"Ba-baiklah kalau begitu…". Setelah itu Sasuke menghilang dari hadapanku.

Aku memutuskan melihat keadaan Gaara-kun dan memberinya makanan. Aku bergegas masuk ke dalam kamar Sasuke dan mendekatinya. Dia berbaring dan memejamkan mata, tapi aku tahu ia sama sekali tidak tidur. Saat aku mendekat, ia dengan cepat duduk dan melihatku dengan tatapan memohon.

"Makanan…". Gaara-kun terlihat antusias melihat makanan yang kuletakkan di depannya.

"Baiklah Gaara-kun, Ini dia makan-". Aku melihat makanan yang baru saja kuletakkan sudah lenyap. "Kau makan terlalu cepat, Gaara-kun…"

"Aku lapar…"

"Apakah Sasuke tidak memberimu apapun untuk dimakan?". Tanyaku khawatir.

"Tidak…"

"Apa?"

"Master bilang jika aku lapar, aku bisa membunuh banyak orang…"

"Ga-Gaara-kun, itu…"

"Itu bagus kan? Benar kan?"

"Tentu saja tidak…"

"Kenapa tidak?"

"Karena itu sangat kejam… kau akan membuat orang-orang kehilangan nyawanya…"

"Aku tahu itu… Tapi master bilang itu bagus, karena dengan cara itu orang-orang yang menentangnya akan mati… Dan jika mereka dibunuh olehku, jiwa mereka akan lenyap dan mereka tidak akan pernah bisa lahir kembali…"

"….."

"Apakah aku boleh memanggilmu dengan sebutan kaasan?"

Aku mengangguk. Gaara-kun sudah beberapa hari ini memanggilku dengan sebutan itu. "Kalau begitu, kau juga harus memanggil Sasuke dengan sebutan tousan!"

"Yeeyyy aku memiliki orang tua sekarang…. Tapi tetap saja aku tidak berhak memanggil Master dengan sebutan tousan… meskipun dia yang menciptakanku, aku tidak akan memanggilnya begitu… Dia bahkan memasukkan semacam permata ke dalam tubuhku kemarin, jadi sekarang aku adalah pemakan cahaya, bukan bayi yang baru lahir lagi…"

"Pe-pemakan cahaya?"

"Kami para iblis memiliki tiga tingkatan. Tingkat pertama adalah saat kami masih bayi atau baru lahir dan kami masih belum bisa bertarung. Tingkat kedua adalah pemakan cahaya. Setelah kami menjadi pemakan cahaya, maka kami bisa melawan dan mengeluarkan kekuatan potensial kami… Dan tingkat terakhir adalah tingkat petarung yang cukup rumit. Tidak ada iblis yang pernah ke tingkat itu, karea di tingkat terakhir itu membutuhkan persyaratan khusus, tapi tidak ada yang tahu apa itu…"

"Apakah Sasuke yang memberitahumu semua itu?"

"Un…"

"Souka… jadi, apakah kau ingin menjadi petarung?"

"Aku tidak tahu…"

-Dia hanya belum sempurna dan dia masih kecil… saat dewasa nanti dia akan tumbuh menjadi iblis yang kuat dan sempurna-

Aku ingat yang dikatakan Sasuke saat itu. Mungkin memang benar jika dewasa nanti, Gaara-kun akan menjadi iblis yang kuat dan sempurna. Ia akan menjadi petarung yang hebat. Tapi kuharap, ia bisa menemukan apa yang ia inginkan segera. "Baiklah, pertanyaan terakhir…. Apakah kau tahu bagaimana keluar dari tempat ini?"

"Pintu keluar ada di bawah tempat tidurnya Master…".

Aku mengangguk mengerti. "Arigatou Gaara-kun…"

"Kaasan… aku mengantuk…"

"Un, kau tidurlah… aku harus pergi sekarang… sampai jumpa lagi, Gaara-kun…"

"Sampai jumpa lagi kaasan… jangan lupa mengunjungiku lagi…".

Setelah itu aku bergegas keluar dari kamar Sasuke dan berencana kembali ke kamarku. Tapi sebelum aku sampai ke kamar, aku mendengar suara Naruto lagi.

"Hei, apa kau ada waktu untuk bicara denganku?"

"Y-ya…"

"Bagus… Apa kau tahu tentang kepribadian lain? Shion dan Itachi selalu menyebutnya dengan diri mereka yang kedua"

"Aku tidak tahu itu…"

"Pada dasarnya aku adalah Sasuke itu sendiri… Kau tahu kenapa, kan?

"….."

"Karena aku lahir saat Sasuke mendapatkan bentuk padatnya, saat ia berusia dua puluh tahun… dan kami berdua mempunyai kemampuan yang sama, yang berbeda adalah aku tidak mempunyai kemampuan untuk mengendalikan kekuatanku sendiri… Tapi tetap saja kami berdua berbagi kekuatan dan kehidupan yang sama… jadi, apa yang terjadi padaku akan terjadi juga pada Sasuke…"

"…."

"Tapi itu hanya akan terjadi setelah dirinya yang kedua mencapai usia satu tahun… Ah, kau mungkin penasaran kenapa Shion dan Itachi tidak memilikinya…"

"Un…"

"Itu karena Sasuke membunuh mereka tepat setelah mereka lahir…"

"Ja-jadi Sasuke adalah yang pertama mendapatkan dirinya yang lain?"

"Ya, dan setelah dia menyadari semua fakta itu, dia melenyapkannya… Waktu itu dia adalah pria yang baik, sebelum-"

"Aku tahu itu… kau tidak perlu mengatakannya…"

"Aku masih memikirkan tentang percakapan terakhir kita… apakah dia menyalahkanku untuk semua ini? Padahal itu adalah kesalahannya sendiri karena terlambat menyadarinya… dia membenciku, tapi dia tidak bisa membunuhku… Aku tetap terus mematuhinya selama aku mendapatkan makanan… tapi sekarang, aku ingin melampauinya…"

"A-apa?"

"Ya, itu adalah keputusanku… aku akan membutuhkanmu nanti…"

"Tapi-"

Tidak ada jawaban. Sepertinya dia sudah pergi. Melampaui Sasuke? Bagaimana? "Oh, tidak… ini buruk…"

"Hei, Kid…"

"Ahh". Aku tersentak kaget dengan kemunculan Sasuke yang tiba-tiba.

"Ada apa?". Tanyanya seperti mencurigai sesuatu.

"Ti-tidak ada apa-apa… umm Sasuke?"

"Hn"

"Aku ingin bicara denganmu…"

"Baiklah"

"Apa yang akan kau lakukan setelah kekuatanmu kembali?"

"Tentu saja menghancurkan dunia ini dan membuat Gaara menjadi tangan kananku, lalu menciptakan dunia baru yang bisa kukendalikan."

"Aa so-souka... Tapi Sasuke, aku tidak pernah melihatmu membunuh orang seperti yang Sasori-san lakukan…"

"Membunuh manusia? Ck, anak buahku yang akan melakukannya… selain itu, membunuh manusia lemah tidak bisa membuatku merasa puas". Sasuke menyeringai. "Tapi itu akan sangat berbeda jika aku membunuh makhluk abadi lainnya… selain itu aku sedang tidak ingin membunuh sekarang ini… semua yang ingin kulakukan adalah mengembalikan kekuatanku, mangambil alih dunia dan melakukan apapun yang kuinginkan".

"…."

"Dan melupakan jalang itu tentu saja".

Kemudian haripun berlalu tanpa ada sesuatu yang terjadi. Entah kenapa aku merasa, Sasuke mencoba menjaga jarak dariku.

Keesokan harinya…

"Aku ingin keluar dan bersenang-senang hari ini"

"Lagi?"

"Hn"

Dia menghilang. Lebih baik aku pergi menemui Shion-san sekarang. Aku dengan cepat pergi ke kamar Sasuke dan merangkak di bawah tempat tidurnya. Gaara-kun benar, ada jalan memanjang yang terhubung dengan pintu yang ada di tepian kota. Aku merangkak mengikuti jalan itu hingga aku berhasil keluar dari istana. Setelah itu aku bergegas mencari Shion-san. Tapi dimana aku harus mencarinya? Aku berjalan mengelilingi kota, tapi sama sekali tidak bisa menemukannya. Aku ingat, tempat dimana Sasuke disegel. Aku bergegas ke tempat itu, dan tepat sekali dugaanku.

"Itu dia... Tapi, huh?". 'Sasuke?'.

-TBC-