Best Mistake

.

By : Arlian Lee

.

Main Cast

Cha Hakyeon (GS) / Kim Wonshik (Ravi)

.

Other Cast

Kim Jiyeon (Kei) / Han Sanghyuk / Yoon Dujun / Lee Hongbin

..and others..

.

Genre(s)

Romance, family, hurt/comfort, drama, genderswitch, alternative universe, out of character

.

Length

Multichapter

.

Rate

T, T+, PG (16)

.

Navi! WonshikxHakyeon!

Slight! Rabin, HakyeonxDujun

.

Don't like don't read, don't do other bad thing.

.

Summary

Meninggalkan sesuatu yang sudah digariskan apakah sebuah kesalahan? Jika itu memang kesalahan, kenapa Hakyeon malah bahagia dengan kesalahan itu? Masih bisakah disebut dengan kesalahan? Dan mungkin Hakyeon akan tetap mengatakan itu sebuah kesalahan, namun kesalahan terbaik dalam hidupnya.

.

.

.

Happy Reading

.

07

.

.

Malam datang dengan damai. Bintang banyak bertaburan di atas sana. Hembusan angis kas musim panas juga turut mewarnai kelamnya malam yang tampak indah. Dan Hakyeon disana. Duduk di bawah hamparan langit dengan kelopak mata terpejam. Hakyeon sedang menikmati sebuah kelegaan yang baru saja menghampirinya.

Surat percerain yang telah ia tanda tangani merupakan salah satu bentuk kelegaan sendiri. Hakyeon senang, Hakyeon bahagia bisa lepas dari belenggu pernikahan yang sama sekali tak memberikan kebahagiaan padanya. Ia sangat senang dan ia bersyukur dengan apa yang telah ditakdirkan oleh Tuhan padanya.

"Kau disini?"

Hakyeon segera membuka matanya. Ia tersentak dengan kehadiran Wonshik di sisinya. Sejak kapan? Sejak kapan lelaki itu ada di sisinya?

Wonshik hanya menarik sebelah bibirnya melihat reaksi dari Hakyeon. "Kau terlihat jauh lebih baik. Wajahmu tampak lebih cerah dari sebelumnya." Wonshik menarik dalam nafasnya. "Sudah lega kau bercerai dari suamimu?"

"Uh?" Hakyeon mengangkat alisnya terkejut. Lalu ia tersenyum tipis disertai anggukan pelan. "Ya, sangat lega. Terima kasih."

"Terima kasih?"

Hakyeon mengangguk.

Wonshik tertawa konyol. Tawa garing yang entah mengapa tiba-tiba keluar begitu saja dari bibirnya. Ia menengadah. Mengarahkan atensinya pada kelamnya langit malam. "Kenapa mengucapkan terima kasih padaku?" Tanyanya masih dengan mata mengarah pada langit.

"Ucapan terima kasih kadang diucapkan tanpa alasan. Yang pasti aku sangat berterima kasih padamu."

Wonshik mangut-mangut mengerti. Ia tidak ingin berdebat dengan Hakyeon. Cukup menerima ucapan itu dan selesai, kan?

"Syukurlah kalau kau mulai menemukan kebahagiaanmu sekarang. Dengan lepas dari ikatan pernikahan itu." Wonshik menghela nafasnya yang tampak lelah. Selama itu Hakyeon memperhatikan air muka Wonshik yang tampak miris, entah karena apa. "Aku juga berharap bisa menemukan sebuah kebahagiaan tanpa adanya kepura-puraan."

Hakyeon mengernyit bingung. Kenapa Wonshik mengatakan hal itu? Apakah selama ini hidupnya tidak bahagia. Dan maksudnya kepura-puraan? Apakah ia tengah menyindirnya.

"Maaf?"

"Uh?" Wonshik langusng menoleh pada Hakyeon. "Kenapa kau minta maaf?"

Hakyeon menggigit bibir dalamnya. Ia juga menarik kuat nafasnya yang entah mengapa terasa tercekat. Ia menunduk. Menghindari sorot tanya milik Wonshik.

"Karena aku telah menipumu."

Seketika tawa pecah dari mulut Wonshik. Lelaki itu membiarkan tawa menggelegar dan menggantikan keheningan yang sempat merajai. Oh Tuhan! Hakyeon tampak lucu sekali di mata Wonshik. Kenapa juga ia harus meminta maaf berulang kali untuk hal itu? Tapi tunggu, tiba-tiba saja Hakyeon mengucapkan kata maaf. Apakah mungkin karena ucapannya tadi? Ya Tuhan.

"Yaa! Tidak usah minta maaf lagi. Aku sudah memaafkanmu." Wonshik mengusap ujung matanya yang berair. "Bukan maksudku menyindirmu. Tapi ini tidak ada kaitannya dengan kebohonganmu."

"Lalu apa? Apa kau ada masalah?"

Wonshik menghembuskan nafasnya. Saat itu juga otaknya memutar kembali memori dua hari yang lalu. Ia mengulum bibirnya sebentar lalu mengangguk ragu.

"Ya, sepertinya."

Dan Hakyeon hanya tersenyum. Ia tidak ingin ikut campur. Jika Wonshik mau, biarkan ia sendiri yang bercerita padanya tanpa diminta. Lantas Hakyeon menempatkan telapak tangannya pada paha Wonshik.

"Kau sudah makan?" Tanyanya lembut dan dijawab gelengan oleh Wonshik. "Kalau begitu ayo masuk. Biar aku buatkan sesuatu untukmu."

Menurut, Wonshik bangkit mengikuti langkah Hakyeon kembali ke apartemen Jiyeon. Wonshik tersenyum di belakang Hakyeon. Wanita ini memang memiliki kebaikan yang luar biasa meski ia juga memiliki masalah yang tak mudah namun ia begitu tegar melewatinya.

Wonshik sudah mendengar bagaimana kisah Hakyeon selama ini.

.

.

.

"Ternyata Kak Wonshik baik sekali yaa.."

Hakyeon yang sibuk dengan tumpukan pakaian menyempatakn diri untuk menoleh. Eunwoo disana tersenyum, melihat kearah Hakyeon yang mungkin sedang menampakkan ekspresi kaget.

"Beneran loh, Kak Wonshik itu baik sekali."

Mau tak mau Hakyeon ikut tersenyum. Kesan pertama yang diberikan Eunwoo pada Wonshik jauh berbeda dibandingkan kesan pertama yang ia berikan dulu. Ah, mungkin memang sikap Wonshik memang lumayan menyenangkan saat ini sehingga menimbulkan kesan yang baik pula.

Ia menyelesaikan melipat bajunya sebelum memasukkan ke dalam lemari. "Apa Wonshik memberimu sesuatu?" Hakyeon hanya bercanda bertanya demikian. Ia ingin tahu kenapa Eunwoo mengatakan Wonshik baik sekali.

"Kak Wonshik mengijinkan kita tinggal di apartemen ini saja sudah suatu kebaikan. Juga.." Eunwoo menggantungkan ucapannya seolah menggoda Hakyeon yang menanti kalimat berikutnya. "Kak Wonshik begitu peduli padamu."

Seketika Hakyeon tersentak. Satu kalimat terakhir dari Eunwoo mengobrak-abrik ketenangannya. Begitu peduli padamu. Dilihat dari mana? Kenapa Eunwoo bisa mengatakan seperti itu? Lalu Hakyeon mulai berpikir dan mengingat. Apakah ia telah merasakan bentuk peduli itu?

"Kak Wonshik tidak ingin kau kenapa-napa adalah salah satu bentuk kepeduliannya."

Lalu Eunwoo bangkit dan membantu Hakyeon untuk memindah pakaian itu ke dalam lemari. Mendengar ucapan Eunwoo membuatnya sedikit kurang fokus.

"Kak Wonshik juga memberikan beberapa suplemen padamu kan, kak? Kak Wonshik ingin kakak tetap sehat."

Hakyeon diam. Bibirnya mengatup erat.

"Dan yang paling penting adalah, Kak Wonshik melindungimu dari Kak Doojoon yang sudah menyakitimu."

Deg..

Dada Hakyeon tertohok. Tiba-tiba sesuatu meninjunya dan membuatnya tersadar. Ada gelenyar aneh yang mulai merambat di sekujur tubuhnya. Apa ini? Kenapa Hakyeon jadi bodoh seperti ini?

"Cha Eunwoo.." Eunwoo tersenyum mendengar suara pelan Hakyeon memanggil namanya. "Berhenti berucap yang tidak-tidak."

Alih-alih menanggapi, Eunwoo malah terkikik gemas. Ia mendekati Hakyeon lalu memeluk kakak tersayangnya itu. Satu kecupan di berikan pada pipi Hakyeon. Ia kembali memeluk erat Hakyeon.

"Kak, kalau seandainya Kak Wonshik jadi kakak ipar Eunwoo, Eunwoo bersedia kok. Eunwoo akan merestui kalian berdua."

Hakyeon memberengut mendengarnya. Ia memukul pelan kepala Eunwoo.

"Berhenti mengatakan yang tidak-tidak, Cha Eunwoo!"

Dan Eunwoo lagi-lagi hanya tertawa senang menjahili sang kakak tercinta.

.

.

.

Sejak Sanghyuk mengutarakan isi hatinya beberapa hari yang lalu, hubungan ia dan Jiyeon menjadi sedikit canggung. Tidak seperti biasanya. Jiyeon bahkan beberapa kali menghindari Sanghyuk. Entah memang menghindari atau perasaan Sanghyuk saja. Yang jelas ia merasa sedikit jauh dengan gadis itu.

Jinhwan tahu, ada yang berbeda di antara keduanya. Ia pun tersenyum dan menepuk pundak Sanghyuk yang tengah memperhatikan Jiyeon. Gadis itu sengaja duduk jauh dari kasir. Sendiri di samping jendela dengan telinga dibiarkan mendengarkan deru air mancur.

"Kalian bertengkar? Tidak biasanya seperti ini?"

Sanghyuk menghela nafasnya pelan. "Aku salah bicara." Sahutnya.

"Salah bicara?"

"Ya.."

Jinhwan siap mendengar cerita dari Sanghyuk. Namun sebelum itu ia lebih dulu memberi intruksi kepada Myungeun untuk melayani pelanggan di dua meja. Mereka masih belum diberikan pesananannya.

"Bagaimana?"

Lagi-lagi Sanghyuk menghela nafasnya. Ia menatap nanar Jiyeon yang terlihat tenang dengan catatan di tangan. Sesekali ia mengangguk-anggukan kepala sesuai dengan musik yang mengalun di telinga.

"Dia ingin move on dari Jimin."

"Lalu?"

"Aku menawarkan diri untuk menjadi penggantinya."

Jinhwan membuka lebar mulutnya. Terkejut. Tak menyangka jika Sanghyuk akan mengatakan itu. Hey, bukan hal aneh atau hal asing dan bukan rahasia lagi kalau Sanghyuk memang menyukai Jiyeon. Hanya Jiyeon saja yang tidak mengetahui itu. Hal wajar, soalnya baik Jinhwan maupun yang lain sekedar menebak-nebak saja tentang perasaan Sanghyuk.

"Wow.." Ia menggeleng-geleng gemas. "Adikku rupanya sudah besar yaa.."

Sanghyuk berdecak. "Kak!" Dengusnya kemudian. "Aku harus bagaimana? Jiyeon sepertinya menghindariku."

"Siapa yang menghindarimu?"

Tiba-tiba Hakyeon berdiri di belakang mereka. Sanghyuk dan Jinhwan menoleh dengan tatapan syok. Alih-alih menjawab, Jinhwan malah memeluk Hakyeon dengan erat. Ngomong-ngomong Hakyeon baru masuk kerja setelah seminggu berhenti sementara karena kejadian itu.

Hakyeon melepas pelukan Jinhwan dan menarik pipi tembam Jinhwan. "Hey, aku sangat merindukanmu kak!" Seru Jinhwan sebelum kembali memeluk Hakyeon.

"Aku juga." Hakyeon mengusak surai Jinhwan. Kebetulan tubuh Jinhwan jauh lebih kecil dari Sanghyuk dan hampir sama seperti Hakyeon jadi tidak susah untuknya mengacak-acak rambut cokelat Jinhwan. "Jadi siapa yang menghindarimu, Sanghyuk?"

Sanghyuk tersenyum. Kali ini ia yang mulai memonopoli Hakyeon. Tangannya bergelayut manja di lengan Hakyeon. Ia mulai merajuk, hal biasa yang dilakukan Sanghyuk pada Hakyeon beberapa waktu yang lalu.

"Kak, Jiyeon menghindariku."

"Uh? Jiyeon?" Hakyeon melirik Jiyeon yang masih pada posisinya. "Kenapa? Kenapa bisa?"

"Kakak!"

"Ya?"

Hakyeon memperhatikan Sanghyuk yang tampak tak tenang. Sepertinya memang menjadi beban saat merasakan dirinya berjauhan dengan Jiyeon. Sanghyuk tidak pernah merasakan hal ini. Mungkin ia menyesali apa yang telah terjadi padanya.

"Bantu aku mendapatkan Jiyeon."

Jinhwan yang hanya mendengar saja mendelikkan matanya.

"Membantumu?" Ulang Hakyeon.

Sanghyuk mengangguk. "Bantu aku mendapatkan Jiyeon. Aku benar-benar mencintainya, Kak." Ucapnya pelan.

Hakyeon tersenyum. Pada akhirnya Sanghyuk mau mengatakan hal itu. Sebelumnya Sanghyuk hanya menatap Jiyeon dan memendam perasaan itu pada Jiyeon. Ia mengangguk setuju. Yah, tidak masalah kan membantu Sanghyuk mendapatkan Jiyeon. Hakyeon juga mendengar tentang Jimin yang telah menyakiti Jiyeon. Walaupun mengenal sebentar, Hakyeon tahu kalau Sanghyuk memiliki sifat yang baik.

Satu pelukan diberikan Sanghyuk dengan antusias. Ia senang dan mengucap terima kasih kepada Hakyeon. Sanghyuk percaya jika Hakyeon bisa meyakinkan Jiyeon. Oh, jangan berpikir hanya menanti Hakyeon saja. Ia juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan Jiyeon.

Meyakinkan Jiyeon bahwa ia memang bisa membuatnya bahagia.

.

.

.

Sore ini Wonshik masih betah di agensi. Sejak tadi pagi Wonshik tidak keluar dari agensi. Ia juga tidak pergi makan siang. Hanya meminta bantuan dari Changkyun untuk membelikan makan siang tadi. Dan saat ini Wonshik sibuk dengan pikirannya yang melayang entah kemana.

Wonshik benar-benar melamun.

Saat ia sibuk memutar-mutar spinner di tangan, pintu ruangan Wonshik terbuka. Ada Kihyun disana. Ia baru saja kembali dari rumahnya. Kemarin malam Kihyun meminta ijin tidak masuk kerja untuk pulang atas panggilan sang ibu.

"Kau sudah kembali?" Sambut Wonshik. Lelaki itu cukup peka dengan kehadiran Kihyun. "Wajahmu menyedihkan sekali."

Kihyun berdecak pelan. Ia mengeluarkan Americano dari kotak kardus dan menyerahkannya pada Wonshik. Lalu Kihyun menyeruput miliknya yang sudah berkurang seperempat.

"Kau tahu kenapa ibuku ingin aku pulang?"

Wonshik tak menjawab, ia hanya memainkan alisnya tanda tertarik dengan ucapan Kihyun.

"Beliau ingin aku cepat menikah." Kihyun menghempaskan diri di atas sofa. "Ada-ada saja."

Dan Wonshik tertawa. Menanggapi informasi yang diberikan oleh Kihyun. Ia bangkit dari kursi pribadinya lalu mengambil americano sebelum duduk di dekat Kihyun. "Bukankah itu bagus? Kau memang harus segera menikah, Yoo Kihyun! Kasihan Seungyeon yang harus menunggumu lebih lama lagi." Cerocosnya menimpali ucapan Kihyun.

Kihyun mendengus. "Ya Tuhan! Seungyeon masih kecil. Dia bahkan lebih muda dari adikmu." Tanggapnya dengan bola mata berputar cepat. "Kau yang seharusnya cepat menikah! Usia sama dan..." Tiba-tiba Kihyun menghentikan perkataannya. Ia lupa. Sungguh, Kihyun lupa. Lantas ia mencondongkan wajahnya pada Wonshik yang membiarkan bibirnya terkatup erat. "Maaf, Shik! Aku lupa."

Wonshik menoleh cepat dengan senyum miring dari bibirnya.

"Aku sudah memikirkan itu." Lalu menyenderkan punggungnya pada senderan sofa. "Hongbin memang patut dicurigai."

Kihyun meletakkan americano di atas meja. Ia memberikan perhatian penuh pada Wonshik. Ada kehati-hatian disana. Apa mungkin Wonshik mulai memikirkan semua yang telah ia ungkapkan. Alasan kenapa ia bisa mengatakan kemungkinan Hongbin menjadi salah satu sosok yang perlu dicurigai.

Wonshik menarik dalam nafasnya. "Aku bahkan lupa kalau dia memang dekat dengan PD Jung." Lalu menerawang ke langit-langit ruangan. "Dan Jiyeon juga bercerita padaku Hongbin pernah makan berdua dengan PD Jung di kedai dekat taman."

"Jiyeon? Melihat?" Wonshik mengangguk. "Apa adikmu tahu siapa PD Jung?"

"Tidak. Tapi aku memperlihatkan dia foto PD Jung dan dia mengangguk yakin."

Kihyun ikut menghela nafasnya. Melihat Wonshik saat ini membuatnya sakit juga. Ada binar kekecewaan di kedua mata sipitnya. Kihyun tahu betapa ia mencintai Hongbin. Mendengar dugaan seperti ini saja sudah menyakitkan lalu bagaimana jika benar adanya?

"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Kihyun hati-hati.

Wonshik memejamkan matanya sejenak. Sedikit menenangkan gemuruh yang mulai melanda dirinya. "Kalau memang Hongbin dalang dibalik ini semua, aku akan benar-benar murka." Ucapnya tegas. "Dia sedang ada di Jepang. Besok baru kembali ke Seoul. Aku akan menyelidikinya besok."

"Ya, semoga berhasil."

Ia tidak ingin ikut campur lebih dalam lagi. Wonshik punya hak atas ini semua. Toh lagu itu juga bisa dibilang sebagian besar adalah milik Wonshik. Mau Wonshik melakukan apapun pada pelaku pencurian, Kihyun hanya akan menyetujuinya saja dan memberikan dukungan.

Dan Wonshik mulai memejam kembali. Pikirannya melayang lagi. Pikiran tentang kenyataan yang bisa saja ia hadapi nanti siap untuk membelenggunya. Bagaimana jika Hongbin memang pelakunya? Jika memang iya, Wonshik akan benar-benar menyesal tidak mengindahkan ucapan Jiyeon. Jika benar maka semua kalimat Jiyeon tentang Hongbin sama sekali bukan bualan belaka.

Ia hanya berharap kepada Tuhan semoga masalah ini cepat selesai.

.

.

.

.

Hakyeon tidak tahu apakah ia harus marah atau tak acuh saja. Sosok di depannya ini membuat mood-nya memburuk. Bahkan jika bisa ia ingin memukulnya sejak awal kemunculannya. Apa yang diinginkan sosok ini?

Ia duduk dengan gigitan di bibir. Antara menahan marah atau benci yang mulai perlahan merambat naik.

"Aku benar-benar senang bisa bertemu denganmu lagi." Ucapan sosok itu hanya bagaikan suara ledakan di telinga Hakyeon. Bukan sesuatu yang perlu dibanggakan dan sesuatu yang perlu diwaspadai. Sosok ini begitu pintar bermain kata. "Kau baik-baik saja?"

Hakyeon tersenyum aneh. Ia menunduk sekilas sebelum mengumpulkan semua rasa kesalnya yang sempat tercecer. Kedua mata cantiknya menatap dalam sosok itu. Tatapan terganggu yang luar biasa menyebalkan.

"Kau bisa melihatnya sendiri, kan?"

Dan ia tertawa.

"Kenapa sih? Aku kesini dengan niat baik kok." Rupanya ia sadar jika Hakyeon tidak menginginkan pertemuan ini. "Aku juga ingin mengucapkan terima kasih."

"Simpan saja terima kasihmu dan lebih baik kau pergi Heo Gayoon."

Gayoon –sosok itu- tertawa lagi. Tawa yang mungkin bisa menarik siapa saja untuk jatuh cinta padanya. Sayang, Hakyeon juga sama-sama wanita yang perlahan membenci wanita ini. Bukan apa-apa, mungkin karena wanita ini juga hubungannya dengan Doojoon menjadi rumit dan mungkin dari wanita ini juga Doojoon tahu dimana ia tinggal. Yah, walaupun sekarang itu bukan masalah lagi. Ia dan Doojoon sudah selesai.

Lalu ia mencuil sedikit kue di depannya. "Ya Tuhaaan.. Aku tidak menyangka kau jadi lebih berani setelah bercerai." Gayoon mengusap ujung matanya yang basah akibat tawanya. "Bagaimanapun rasa terima kasih tidak cukup aku berikan padamu."

Hakyeon tersenyum miring. Ia mendecakkan lidahnya. "Aku akan menerima terima kasihmu jika kau pergi dari hadapanku. Dan tolong, jangan mengatakan apapun lagi! Aku bosan melihat wajahmu." Tukasnya datar.

Gayoon mangut-mangut paham. Bukan hal aneh jika Hakyeon bilang seperti itu. Ia masih ingat betapa seringnya ia datang ke rumah Doojoon dan Hakyeon. Merusuh di rumah itu untuk menyakiti hati Hakyeon.

"Baiklah, baiklah!" Gayoon mengangguk berulang. "Aku minta maaf. Emm, aku juga ingin bilang kalau aku dan Kak Doojoon akan pindah ke Jepang. Jadi kau tidak akan ada yang mengganggu lagi."

Jujur, Hakyeon terkejut. Namun sebisa mungkin ia mengembalikan wajah tak pedulinya lagi.

"Kalau begitu aku pergi sekarang."

Hakyeon tak menjawab, ia hanya membiarkan Gayoon bangkit lalu berjalan pergi. Setelah kepergian Gayoon, Jiyeon datang dan duduk di depan Hakyeon. Wajahnya menyiratkan tanya yang perlu mendapatkan jawabannya dari Hakyeon.

"Kak, Kakak itu kenapa datang lagi?"

"Dia hanya pamit mau pindah ke Jepang."

Jiyeon mengangguk paham. "Kak, kakak kan sudah cerai sama Kak Doojoon. Lalu sekarang? Apa kakak mulai membuka hati lagi?" Tanyanya pelan. Jiyeon sedikit hati-hati mengenai hal ini.

Alih-alih menjawab, Hakyeon hanya mengulas senyum tipis. Ia bangkit dan pergi dari hadapan Jiyeon. Hakyeon tidak mengatakan apapun saat memilih pergi. Meninggalkan Jiyeon yang menggerutu kesal tak mendapatkan jawaban yang diinginkan.

.

.

.

Panas mulai menyerang Kota Seoul. Hal wajar jika Ibukota Korea Selatan itu sedang dilanda panas yang luar biasa. Musim panas sudah datang dua minggu yang lalu sehingga mau tak mau warga Korea harus terbiasa dengan rasa menyengatnya.

Sanghyuk merasakan itu. Rasa panas yang membakar tubuh juga hatinya. Ia masih berusaha mendekati Jiyeon yang menjauhinya sejak keluar kelas tadi. Ya, hari ini Sanghyuk sengaja menunggu Jiyeon di depan kelas tapi Jiyeon memilih pulang dengan Namjoo.

"Ji!" Sanghyuk memanggil Jiyeon. Ia tidak peduli pada Namjoo yang tampak kurang suka; sepertinya mereka terburu-buru. "Pulang sama aku aja yuk!"

Jiyeon melepas gandengan Namjoo demi melihat ke arah Sanghyuk. Ekspresinya masih belum bisa Sanghyuk baca dengan baik. Sanghyuk berharap Jiyeon tidak kesal padanya.

"Hyuk, aku ada perlu sama Namjoo. Kau pulang sendiri yaa?"

"Please! Kau masih marah padaku?"

Jiyeon menautkan alisnya jadi satu. Tatapan bingung diterima oleh Sanghyuk. Gadis itu menggeleng ragu. "Tidak, aku tidak marah padamu." Jawabnya.

"Tapi."

Namjoo yang tau kemana arah percakapan ini lantas berujar. Rasanya tidak enak hanya diam saja di antara mereka. "Lebih baik kalian selesaikan dulu masalah kalian deh!" Jiyeon memicingkan pandangannya pada Namjoo; sedikit tidak setuju padanya. "Aku bisa pergi ke perpustakaan sama Sungjae."

"Joo!"

"Aku akan baik-baik saja, Kim Jiyeon. Bye-bye." Namjoo menepuk pundak tinggi Sanghyuk. "Baik-baik ya kau dengan Jiyeon." Pungkasnya disertai senyum.

Sanghyuk menarik dalam nafasnya. Ia menggenggam lengan ranting Jiyeon seolah menahan gadis itu agar tidak pergi darinya. Kali ini Sanghyuk memperlihatkan sisi serius yang ia miliki. Bukan sisi cengengesan yang terkadang membuat Jiyeon sebal.

"Kenapa kau menghindariku kalau kau memang tidak marah padaku?" Tanyanya to the point.

Jiyeon gelagapan. Jelas sekali ada keterkejutan disana. Gadis itu bahkan menghindari sorot menuntut dari Sanghyuk. Ia tidak tahu jika Sanghyuk akan semenyeramkan ini. Sebelumnya Jiyeon tidak pernah mengetahuinya.

"Ti-tidak!" Gagap. Ucapan Jiyeon seakan tercekat di tenggorokan. "Tidak, aku tidak marah padamu. A-aku.."

Sanghyuk menghembuskan nafasnya pelan. Ia memegang lengan atas Jiyeon dan memaksa tubuh yang jauh lebih kecil itu untuk berhadapan dengannya. "Aku benar-benar minta maaf atas ucapanku tempo hari, Ji. Tapi asal kau tahu, aku bersungguh-sungguh." Perkataan Sanghyuk terasa sekali diberi bumbu kesungguhan yang tinggi.

Jiyeon menunduk. Ia juga tak tahu kenapa menjauhi Sanghyuk. Apa karena ucapannya? Atau karena ada hal lain? Tapi kenapa Jiyeon merasa sangat bersalah atas sikapnya itu? Jiyeon merasakan degupan berbeda kali ini. Wajahnya pun memanas dengan perut yang bergejolak aneh.

Dan Sanghyuk benar-benar minta dibunuh. Belum juga Jiyeon menanggapinya, Sanghyuk sudah membawa Jiyeon pada pelukannya. Saat ini Jiyeon bisa mendengar detak jantung Sanghyuk yang berdebar lebih cepat. Jiyeon menggigit bibir bawahnya. Ia seolah tersihir oleh perlakuan Sanghyuk. Sama sekali ia tidak berontak ataupun marah.

"Aku rela menjadi pelampiasanmu asal kau bahagia Ji."

Jiyeon menggigit bibirnya lebih dalam. Suara berat Sanghyuk mengalun begitu lembut di dalam telinganya. Jiyeon memejam, merasakan kehangatan yang mulai menjalar dalam dirinya.

"Ijinkan aku membantumu mendapatkan kebahagiaanmu. Ijinkan aku menjadi satu alasan kau bisa bahagia, Ji."

Dan Jiyeon tak tahu harus berucap apalagi. Ia hanya diam dengan tarikan nafas yang mulai tak teratur dan segala komponen dalam diri yang mulai bergemuruh tak karuan. Jiyeon tahu, jika sebentar lagi ia pasti akan jatuh juga.

.

.

.

"Oh, sayang.. Aku tidak tahu kau akan kemari."

Baru saja Wonshik masuk ke apartemen Hongbin, gadis itu sudah menubruknya dengan pelukan dan segala macam cumbuan di wajah. Hongbin merindukan kekasihnya ini. Bekerja di Jepang selama tiga hari cukup membuatnya harus menumpuk rindu untuk Wonshik.

Yang ditubruk hanya tersenyum lalu membalas sedikit cumbuan pada bibir Hongbin. Tiba-tiba ia merasa kurang bergairah dengan kekasihnya ini.

"Ayo masuk! Aku akan memasakkanmu makanan spesial." Wonshik menatap Hongbin dengan tatapan aneh; sejak kapan Hongbin mau memasak? "Hey, aku beli sashimi tadi. Aku akan buatkan ramen untukmu."

Wonshik mengangguk paham. Rupanya hanya ramen. Bukan hal sulit sih.

"Ya sudah, kau memasak sana. Aku akan langsung ke kamar." Kata Wonshik seraya mengecup kilat bibir Hongbin.

Hongbin menarik sudut-sudut bibirnya. "Siap, Tuan!" Tukasnya dan memberikan jalan pada Wonshik yang akan masuk ke dalam kamar.

Wonshik pun segera masuk ke dalam kamar. Ada satu misi yang akan ia lakukan. Meski ia tidak yakin apakah yang akan ia lakukan itu membuahkan hasil atau tidak. Wonshik memperhatikan Hongbin dari pintu kamar. Untungnya apartemen ini tidak memiliki sekat yang banyak sehingga ia bisa melihat dengan jelas Hongbin sedang sibuk dengan ramennya. Ia pun menutup pintu dan berjalan menuju laptop Hongbin yang ada di atas meja.

Lekas ia menyalakan laptop itu dan mencari sesuatu di dalamnya. Sebentar mengotak-atik tidak ditemukan tanda-tanda sebagai bukti atas kecurigaannya. Wonshik mendesah lelah, ia memijat keningnya kemudian. Lalu mengedarkan pandangan sejenak. Dalam waktu yang singkat mata sipitnya melebar. Ada flashdisk di atas sana. Apa mungkin...

Langsung saja ia menancapkan flashdisk itu dan mulai melihat isinya. Dan Wonshik harus benar-benar menerima kenyataan yang buruk hari ini. Ada satu file musik yang sama persis dengan miliknya. Bahkan judul file itu tidak diubah sama sekali. Wonshik memutar file itu dan mulai memejam.

Ya, file itu adalah kopian lagu yang sudah susah-susah ia buat bersama Kihyun. Wonshik melihat detail lagu itu. Kapan lagu itu dikopi ke dalam flashdisk. Lagi-lagi Wonshik harus menggeram kecewa. Lagu itu dikopi dua minggu sebelum lagu milik boyband MAX diluncurkan ke pasaran.

Jadi, yang mencuri lagu itu adalah Hongbin?

Ya, pasti. Karena Wonshik sama sekali tidak merasa telah memberikan lagu itu pada Hongbin. Jangankan memberikan, memperdengarkan saja tidak.

"Sayang! Ramenmu sudah siap!"

Wonshik menoleh pada Hongbin yang membuka pintu. Wajah penuh kekecewaan dan amarah itu tampak jelas terlukis disana. Wonshik bangkit lalu menampar Hongbin dengan punggung telapak tangan.

"Wonshik! Kenapa kau menamparku?" Pekiknya tak terima.

Wonshik menggeretakkan rahangnya. "Ini jauh lebih baik daripada aku membunuhmu!" Balasnya dengan pekikan juga. "Apa maksudmu mencuri karyaku lalu menjualnya pada PD Jung?"

Hongbin membelalak terkejut. Ia mundur ketika Wonshik maju mendekat. Tangannya yang masih memegang pipi berusaha menghentikan langkah Wonshik. Takut kalau lelaki itu kembali memukulnya.

"Jawab aku! Lee Hongbin!"

"Wonshik! Itu..."

"Apa!?"

Hongbin meneguk ludahnya susah payah. Ia terduduk di ranjang. Tak bisa lari kemana lagi. Sedangkan Wonshik masih menunjukkan rasa kesalnya dengan mendekat pada Hongbin. Ia sudah mengatakan pada Kihyun kan? Akan melakukan hal buruk jika benar kan?

"Katakan Lee Hongbin!"

Hongbin diam untuk beberapa saat. Ia memejam erat sembari mengepalkan tangannya. Saat ini ia tengah mengumpulkan keberanian melawan Wonshik.

"Yaa!" Hongbin berteriak dengan tatapan nyalang melawan Wonshik. "Aku memang mencuri lagumu! Aku menjualnya kepada PD Jung!"

Wonshik terperanjat dengan pengakuan Hongbin. Bahkan kali ini wanita itu mampu mengeluarkan suara tinggi yang juga bercampur emosi tidak terima.

Lalu tertawa. Wanita itu tertawa saat Wonshik menatapnya dengan tatapan terkejut.

"Aku memang memanfaatkanmu, Kim Wonshik! Memanfaatkan kebodohanmu untuk keuntunganku sendiri." Ia bangkit menantang Wonshik yang masih diam menunggu. "Dengan mencuri karyamu aku mendapat banyak sekali keuntungan. Selain uang, aku juga mendapatkan pekerjaan yang menjanjikan."

Wonshik mengepalkan tangannya dan rahangnya mulai mengeras. Manikan itu juga mulai memancarkan kemarahan bercampur kebencian yang kuat.

"Kenapa? Kenapa aku melakukan itu? Tidak ada alasan khusus sih, yang jelas aku hanya ingin kaya. Lebih kaya lagi."

Plak!

Satu tamparan keras mengenai pipi Hongbin. Wonshik benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya lagi. Bisa-bisanya wanita itu mengatakan hal bodoh di depannya. Wonshik lalu meloloskan nafas berat. Ia menunduk dengan bibir mengatup erat. Bodoh sekali dirinya. Bodoh sekali.

Sebenarnya ia masih ingin memukul Hongbin. Tapi itu tidak akan mengubah apapun. Semua sudah terjadi, kan?

"Aku benar-benar kecewa padamu, Lee Hongbin! Kau benar-benar wanita ular!"

Wonshik meraih jaket yang sempat ia letakkan di kursi lalu meninggalkan Hongbin. Ia tidak peduli lagi dengan Hongbin. Ia bahkan tak peduli apakah nanti Hongbin akan meminta maaf padanya atau tidak. Wonshik cukup tahu saja bahwa dugaan dan kecurigaannya memang benar. Bodoh sekali ia tidak mendengarkan kata-kata Jiyeon yang mengatakan bahwa Hongbin hanya memanfaatkannya saja.

Kenapa bisa seperti ini? Kenapa? Rasanya Wonshik ingin lompat saja ke sungai han.

.

.

.

Wonshik menangis. Iya, Wonshik menangis. Bagaimana pun ia mencintai Hongbin kan? Dan ia telah dibuat kecewa oleh kekasihnya itu. Wonshik tidak menyangka hal ini akan terjadi. Kurang apa coba ia hingga Hongbin melakukan hal keji ini padanya.

Malam ini Wonshik ada di kafe, di ruangan pribadinya. Kebetulan Jiyeon sedang ada urusan lain sehingga seharian tidak datang ke kafe. Wonshik bisa lebih leluasa untuk menumpahkan rasa kecewa dan amarahnya.

Wonshik tidak tahu kalau kafe sudah sepi setelah pukul sepuluh malam. Jooheon dan Myungeun yang kebagian shift malam juga sudah pulang, meninggalkan Hakyeon yang masih mengurus masalah keuangan. Wonshik mengintip dari jendela ruangan. Sepertinya lantai satu masih menyala lampunya. Menandakan kalau memang masih ada orang disana. Ia pun mengusap sisa air mata dan memutar kenop pintu. Ia lapar, ia ingin mencari sesuatu untuk bisa di makan.

"Wonshik?"

Wonshik terkejut. Hakyeon muncul tiba-tiba di dekat tangga. Ia menatap sebentar Hakyeon sebelum melewatinya begitu saja.

"Kau menangis?"

Sial, Wonshik mengumpat dalam dirinya. Apa terlalu jelas kalau ia baru saja menangis?

"Kim Wonshik." Hakyeon menyentuh lengan lelaki itu. Meminta sang pemilik untuk berhenti dan menjawab tanyanya. "Ada apa?"

Wonshik diam sebentar. Ia tak membalas tanya itu juga tak membalikkan tubuh. Beberapa detik hanya keheningan yang menguasai kemudian berubah menjadi sebuah tanya yang menggelitik Hakyeon. Wonshik memilih melepas sentuhan Hakyeon dan berjalan menuju arah dapur.

Hakyeon mengikuti langkah Wonshik tanpa tanya. Ia memperhatikan gerak tubuh lelaki itu. Wonshik mengambil segelas air putih lalu meneguknya. Sepertinya Hakyeon paham jika Wonshik butuh lebih dari segelas air putih. Lekas ia beranjak dari sana dan membuatkan teh hangat juga mengambilkan beberapa tangkup roti untuk Wonshik.

"Makanlah!"

Wonshik menoleh pada Hakyeon yang menyodorkan piring berisi tumpukan roti.

"Dan minumlah ini! Minuman hangat bisa membuatmu lebih baik."

Hakyeon geregetan dengan Wonshik yang tak menanggapinya. Ia meraih tangan Wonshik dan memindahkan gelas itu pada tangan Wonshik setelah meletakkan lebih dulu piring roti itu di atas meja. Wonshik sempat tertegun beberapa saat sebelum meletakkan gelas itu di atas meja.

Dan Hakyeon terkejut dengan tindakan tiba-tiba Wonshik. Lelaki itu memeluknya. Sungguh! Wonshik memeluk Hakyeon. Hakyeon yang kaget dengan aksi Wonshik hanya membalas pelukan itu. Mungkin saat ini yang dibutuhkan oleh Wonshik bukan makan atau minuman namun adalah sebuah pelukan. Ya, pelukan memang ampuh mengatasi rasa sedih kan?

Sekitar lima menit Hakyeon dipeluk Wonshik. Lelaki itu membenamkan kepalanya pada ceruk leher Hakyeon. Dan selama itu Hakyeon bisa merasakan lehernya yang mulai basah juga telinganya yang mendengar isakan halus dari Wonshik. Lelaki itu menangis.

"Wonshik!" Hakyeon mengusap punggung Wonshik dengan lembut. "Apa yang terjadi padamu?"

Wonshik melepas pelukannya dan mengusap air mata yang jatuh. Ia bisa melihat senyum hangat dari Hakyeon di balik genangan air yang membaurkan pandangannya. Senyum hangat yang menuntunnya menjadi lebih tenang.

"Maaf!"

"Uh?"

"Tiba-tiba memelukmu." Ucap Wonshik pelan dan dijawab tawa pelan oleh Hakyeon.

Hakyeon menggeleng sembari mengusap air mata Wonshik. Ia menarik lengan Wonshik untuk duduk di kursi makan. "Duduklah, dan ceritakan apa yang terjadi sampai kau menangis." Pintanya dengan lembut. Tentu saja Hakyeon tidak memaksa lelaki itu untuk bercerita.

"Ini masalahku dengan Hongbin." Hakyeon bungkam. Ia menyimak dengan baik kalimat apa yang akan keluar dari Wonshik. "Aku tidak menyangka jika Hongbin akan mengecewakanku. Hongbin telah merusak kepercayaanku dan Hongbin telah menumbuhkan kebencian di dalam hatiku."

Hakyeon menaikkan sebelah alisnya bingung. Apa yang terjadi?

"Hongbin memanfaatkanku untuk menambah kekayaan dan kepopuleranya."

Lalu tanpa sungkan Wonshik bercerita pada Hakyeon. Semua yang berkaitan dengan masalahnya diungkap begitu saja oleh Wonshik pada Hakyeon. Wanita itu mendengarkan dengan baik cerita Wonshik. Tak menyela ataupun membuat keadaan semakin buruk.

"Semua pasti akan berlalu." Hakyeon mengusap punggung tangan Wonshik. "Terkadang kita memang tidak dibolehkan untuk jatuh cinta dan terlalu percaya pada orang lain." Ia mengusap air mata yang kembali jatuh dari mata sipit Wonshik. Lelaki ini memang kuat, tapi menangis bukan hal yang salah kan?

"Tuhan punya cara sendiri untuk menunjukkan bahwa orang itu bukan yang terbaik untukmu. Dan cara yang dilakukan oleh Tuhan untuk memberi tahumu adalah melalui masalah ini. Sekarang tersenyumlah dan ikhlaskan apa yang terjadi. Serahkan saja semua pada Tuhan. Tuhan pasti akan memberi pelajaran yang pas untuk Hongbin."

Wonshik tak menjawab, ia hanya menggangguk saja. Dan selanjutnya ia membiarkan Hakyeon memeluknya. Dalam hati Wonshik mulai merasakan yang namanya kenyamaan dari wanita ini. Pengalaman hidup memang lebih banyak Hakyeon dan Wonshik bersyukur bisa membaginya bersama Hakyeon. Mungkin bagi Hakyeon ini bukan masalah yang seberapa jika dibandingkan dengan masalahnya.

Kehilangan harta benda kekayaan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kehilangan sebuah kepercayaan yang digantikan dengan sakit hati mendalam.

Wonshik membalas pelukan itu dengan erat. Ia berharap semoga hal baik akan mengikutinya setelah ini.

.

.

.

TBC

.

Oke lanjutannya sudah saya update..

Bagaimana?

Silahkan di review yaa kawaaan... ^^,

.

.

Salam hangat

.

.

~Arlian Lee~