MinYoon
Park Jimin
Min Yoongi
Boys Love, Romance, Hurt/Comfort

Previous Chapter 6
"Membalas cintamu dengan percintaan panas kita" setelah mengatakan itu, jimin mendaratkan bibirnya di bibir tipis milik Yoongi.

.

My Boyfriend Cassanova

.

Dengan nafas yang memburu, Jimin melumat habis bibir ranum Yoongi, seakan ia akan menelannya. Lidah Jimin terjulur untuk menjilat bibir bawah Yoongi. Meskipun Yoongi belum membalasnya, tetapi Jimin masih semangat untuk membangkitkan hormon hormon namja yang berada di bawah kukungannya itu.

"Eunghh" Lenguhan kembali terdengar, dikala Jimin telah berhasil memasukan lidahnya ke dalam goa hangat milik Yoongi. Tangan Yoongi yang awalnya berada di dada Jimin untuk memukulnya dan berontak itu, kini merambat naik ke leher jenjang Jimin.

Bunyi kecipak tiap lumatan yang mereka lakukan sungguh membuat atmosfer dalam kamar kini meningkat, Suhu tubuh mereka kini naik hingga peluh mulai membasahi tubuh masing-masing. Tangan Jimin dengan nakalnya mengelus kebanggaan Yoongi, membuat yang berada di bawah melenguh tertahan akibat panggutan bibir yang membuat candu di antara mereka.

"Anghh" Jimin meremas junior Yoongi dengan gemas, seakan itu adalah mainannya. Membelai dan mengurutnya dalam tempo yang beraturan, sesuai dengan lumatan yang ia berikan pada Yoongi.

Setelah di rasa pasokan udara di dalam mulut Yoongi semakin menipis, Yoongi memberikan sebuah kode pada Jimin dengan mengacak surai hitamnya. Jimin yang mengerti akan hal itupun, segera menurunkan ciumannya panasnya ke dagu runcing Yoongi. Menghisapnya dengan gemas, sambil menurunkan lidahnya ke tiap permukaan kulit leher Yoongi.

"Ahh nghh Jiminhh" Desahan demi desahan tak pernah berhenti terlontar di bibir Yoongi. Setiap sentuhan yang Jimin berikan seakan menjadi kebutuhan untuk tubuhnya, seperti zat adiktif yang dapat mematikan, namun begitu nikmat untuk di rasakan.

Jimin menghisap leher Yoongi sangat kuat, hingga memunculkan tanda merah keunguan yang sangat kontras di kulit putih dan mulus milik Yoongi. Tak hanya di bagian leher, Jimin pun dengan seenaknya membuat tanda itu sangat banyak. Yoongi di buat melayang akibat perlakuan Jimin padanya. Panas dan Halus, itulah hal yang di rasakan oleh Yoongi saat ini.

"Jimhh Jiminnhh lepasshh" Yoongi menarik-narik seragam Jimin, dengan tangan yang bergetar. Jimin tersenyum karena perbuatannya berhasil membuat nafsu Yoongi tersulut, Jimin menegakan tubuhnya di atas Yoongi. Melepaskan kancing seragamnya satu per satu, membuat Yoongi tak tahan untuk tidak menggigit bibir bawahnya.

"Hey baby, jangan mengigit bibir seperti itu" Seragam yang Jimin berikan kini sudah terlepas, ia melanjutkan kegiatannya untuk melepaskan celananya juga. Dengan sangat perlahan dan itu menurut Yoongi sangat, sexy.

Jimin kembali menundukan tubuhnya, untuk kembali ke aktifitas awalnya, yaitu membuat sunbaenya kembali bernafsu. Tangannya mulai menanggalkan kancing seragam milik Yoongi, dengan bibirnya yang tak henti memberikan lumatan pada permukaan leher Yoongi.

"Ahh Jiminhh" Yoongi meneguk salivanya sendiri dengan susah payah, ia di buat kewalahan dengan apa yang di lakukan Jimin padanya. Jimin menjilat nipple Yoongi dengan ujung lidahnya, mengecupinya hingga pada akhirnya Jimin menghisap nipple Yoongi gemas. Tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk memilin nipple yang tak tersentuh oleh bibirnya.

Yoongi sudah tak tahan dengan ini semua, ia ingin Jimin melakukan yang lebih padanya. Yoongi melebarkan pahanya untuk menggoda junior Jimin yang berada di atasnya, Ia menurunkan tangannya dan meraih junior milik Jimin yang sudah tegang itu. Meremasnya dengan kasar dan menggesekan ke miliknya sendiri.

"Jiminhh ahh Jimhh" Yoongi meneriakan nama Jimin, seakan ia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi selanjutnya di antara mereka.

"Hey baby kau sudah tak tahan eoh?" ia mensejajarkan wajahnya di atas wajah Yoongi. Jimin memberikan Yoongi sebuah jilatan sensual di bibirnya. Yoongi menarik tengkuk Jimin dan meraup bibir Jimin dengan kasar, kakinya ia lingkarkan di pinggang Jimin. Menggodanya dengan begitu sensual.

Mereka kembali melakukan ciuman panas dan Jimin mulai mengarahkan juniornya ke lubang ketat Yoongi. Ia sedikit merasakan lengket di juniornya saat juniornya telah menyapa permukaan lubang Yoongi. Saat itu juga Jimin teringat bahwa ia baru mengobati Yoongi. Jimin melepaskan ciumannya dan di hadiahi kerucutan di bibir Yoongi, karena ia tak suka di lepas secara tiba-tiba.

"Kau yakin ingin melakukannya lagi?" Jimin bertanya dengan suara rendahnya, membuat birahi Yoongi bertambah. Yoongi menutup matanya dan mengangguk untuk mengiyakan bahwa ia ingin.

"Cepat lakukan sebelum aku berubah fikiran" Yoongi kembali menarik tengkuk Jimin dan melumat bibirnya tanpa aturan. Jiminpun dengan perlahan memasukan juniornya kedalam lubang hangat Yoongi.

Yoongi menakan kepalanya sendiri ke belakang, melampiaskan rasa sakit di dalam dirinya. Matanya kembali mengalirkan air mata, membuat Jimin tak tega.

"Maafkan aku baby" Jimin memberikan kecupan di kening Yoongi. Mengelus pipinya penuh dengan kehangatan.

"Agghh ahh Jiminhh cepat bergerak" Yoongi menggerakan pinggulnya untuk membuat Jimin mulai menungganginya.

"As Your Wish babyhh" Jimin memberikan kecupan di bibir Yoongi dan mulai menggerakan pinggulnya. Tangannya ia gunakan untuk mengangkat pantat Yoongi dan meremasnya dengan gemas.

"Ahh Jiminhhh fasterhh" Yoongi meggerakan pinggulnya berlawanan arah, Bibirnya terus meracau. Mengungkapkan rasa nikmat yang Jimin hujamkan padanya.

Hentakan demi hentakan mereka lakukan tanpa henti, mengejar kenikmatan yang mereka cari. bunyi gesekan kulit yang licinpun mengiringi kegiatan mereka yang begitu panas.

"ohh ahh Jimhh fellsshh goodhh ahh damn" Tubuh Yoongi terhentak dengan begitu kuat, tangan Jimin meraih junior milik Yoongi. Mengocoknya dengan sangat erotis, seirama dengan bunyi gesekan bagian dalam mereka. Jimin di buat semakin bergairah melihat keadaan Yoongi saat ini. Begitu cantik dan menggoda di matanya.

"Jimhh i wanna cumhh" Yoongi menggelengkan kepalanya, karena kenikmatannya yang akan segera ia keluarkan. Bibirnya terus merapalkan nama namja yang kini sedang menyetubuhinya.

"Bersamaahh Yoongihh" Jimin semakin menusuk lubang Yoongi dengan brutal, ia ingin keluar bersama dengan Yoongi, namun sepertinya Yoongi sudah tak tahan hingga cairan Yoongi lebih dulu keluar. Jiminpun mengeluarkan cairannya di dalam perut Yoongi.

"Yoongi-ah Johayeo" Jimin membisikan kata katanya disaat Yoongi telah terlelap dalam tidurnya. Iapun memeluk Yoongi begitu posesif dan menyusulnya ke alam mimpi.

.

My Boyfriend Cassanova

.

"Tuan muda Jimin membawa seorang namja ke dalam mobilnya, ia juga membawanya ke apartementnya. Seingat saya, tuan muda tidak pernah membawa orang lain kecuali ke lima temannya ke dalam apartemtnya" Ucap seorang mata-mata keluarga Park. Dengan kepala yang menunduk hormat dan tak berani menatapnya.

"Wajah namja ini terlihat manis, bagaimana dengan sikapnya pada Jimin? apa dia mirip dengan mantan-mantan nya yang sering ia tiduri?" Tanya Tuan park sambil memperhatikan tabletnya yang menapkan foto Jimin yang sedang menggendong Yoongi.

"Yang saya amati, namja itu berbeda dengan mantan tuan muda sebelumnya. Ia lebih terlihat sangat menakutkan, akan tetapi tuan Jimin tak pernah marah padanya, bahkan saat tuan Jimin di pukul olehnya" Tuan Park kembali mengerutkan keningnya mendengar penuturan suruhannya.

Namun detik itu juga tuan Park memberikan seringaian tampannya, Ia telah mengetahui satu hal tentang putra tunggalnya.

"Siapkan mobil, malam ini kita datangi apartement Jimin" Tuan Park menyuruh suruhannya untuk segera pergi dari ruangannya, iapun kembali mengerjakan perkerjaannya yang sempat tertunda karena mendengarkan info tentang putra kesayangannya.

.

.

Hoseok meraih obat-obatan di dalam tasnya. Ia menghela nafas saat mengingat ia harus menenggak obat-obatan itu setiap lima jam sekali, Jika tidak ia akan kembali terjatuh dan rapuh. Bibirnya menampilkan seringaian yang sangat menyedihkan, ia selalu berfikir bahwa hidupnya tak lagi berguna. Menggantungkan hidup hanya kepada obat.

Leukimia, penyakit yang Hoseok idap di saat ia masih kecil ini terkadang membuatnya selalu menangis sendirian. Ia tak memiliki harapan untuk hidup lagi, namun saat bocah berusia lima tahun yang masih duduk di bangku Tk itu membuatnya selalu bersemangat melawan penyakitnya.

Hingga saat usianya telah menginjak delapan tahun, rasa suka kepada namja ceria itu semakin berkembang. Park Jimin, seseorang yang membuatnya terus berusaha untuk melanjutkan hidupnya. Seseorang yang selalu menjadi impian kecilnya. Ia telah menunggu Jimin untuk membalas cintanya, menunggu Jimin melihat ke padanya, bukan sebagai hyung, tapi sebagai lelaki yang mencintainya dengan sepenuh hati.

Hoseok selalu percaya bahwa kebahagiaan akan datang pada akhirnya, ia selalu meneguhkan dirinya untuk bisa memiliki Jimin. Bahkan ia rela menjadi pelampiasan nafsu Jimin yang selalu sulit untuk di kendalikan.

Jimin telah berbeda, ia jauh berbeda dari sebelumnya. Ia merindukan Jimin yang selalu menempelinya, menanyakan keadaannya, memeluknya jika penyakitnya mulai menyerang dirinya dan mengecup keningnya saat dirinya telah jatuh terbaring di ruangan yang selalu ia benci.

Hoseok meneteskan air matanya, tangannya mulai bergetar untuk membuang semua obat yang berada di genggamannya. Ia tak harus seperti ini, ia tak memerlukan obatnya lagi. Hidupnya sudah tak berharga, ia tak memiliki seseorang yang bisa merengkuhnya ke dalam pelukan hangat. Hoseok tak memperdulikannya lagi.

Ia membuang obat yang tadi di genggamnya, kini obat itu tergantukan dengan sebotol tequila dengan kadar alkohol yang begitu tinggi. Ia sangat tau bahwa dirinya sangat di larang untuk menenggak alkohol jenis apapun, namun yang ia fikirkan hanyalah menikmati hidupnya tanpa obat obatan yang selalu membuatnya menitikan air mata.

Tak sampai gelas ketiga ia minum, tubuhnya terasa melayang dan penglihatannya mulai mengabur. Ia sama sekali tak memperdulikan rasa sakit yang saat ini ia rasakan, Hoseok hanya tersenyum hingga akhirnya ia menutup matanya.

.

Jam menunjukan pukul tujuh malam, namja manis yang sedang dalam rengkuhan hangat seseorang itu melenguh dan mengerjapkan matanya. Ia melihat sekelilingnya sangat gelap karena lampu kamar yang tidak di nyalakan. Yoongi menatap wajah Jimin yang sedang tidur menghadapnya dengan tangan yang melingkar di pinggangnya. Membuat Yoongi bersemu merah, apalagi kini penerangan hanya berasal dari luar apartement, membuat wajah Jimin tampak begitu tampan.

"Ahh aku lupa belum makan" Yoongi bangkit dari tidurnya dan menyingkirkan tangan Jimin dengan perlahan. Ia segera meraih membuka lemari Jimin dan memakai baju Jimin yang ukurannya lebih kecil dari baju yang lainnya, namun tetap saja saat di pakai olehnya masih tampak kebesaran.

Yoongi melangkahkan kakinya keluar kamar dengan perlahan saat ia telah membersihkan dirinya di kamar mandi milik Jimin. Yoongi berjalan tertatih ke dapur dan melihat lemari es, apakah masih ada bahan makanan atau tidak. Namun yang ia lihat hanya sayuran yang membuatnya bergidik ngeri, Yoongi tak menyukai sayuran.

Iapun beralih mencari bahan makanan lain dan mendapatkan dua bungkus ramen. Yoongi tersenyum, setidaknya ia tak akan kelaparan malam ini. Yoongipun segera menyeduh ramen, dengan kaki yang sulit di gerakan akibat perbuatan Jimin tadi siang.

Namun gerakannya terhenti saat ia merasakan sepasang tangan melingkar di pinggangnya, memeluknya dengan begitu posesif. Yoongi merasakan deru nafas hangat menjalar di sekitar kulit lehernya, membuat Yoongi melenguh.

"Jimin diamlah aku sedang memasak" Yoongi bergeming saat Jimin dengan seenaknya memberikan kecupan di pipi Yoongi.

"Kau sedang memasak untuk kita berdua?" Jimin tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada Yoongi.

"Iya, maka dari itu, kau diamlah sebentar Jim" Yoongi merengut lucu dan mendorong Jimin pelan agar ia dapat bergerak.

"Baiklah sweety aku akan menunggumu di meja makan" Jimin terkekeh dan segera pergi ke meja makan, untuk menunggu Yoongi.

"Jangan memanggilku seperti itu pabbo, itu menjijikan"

"Menjijikan? tapi kenapa pipimu memerah hyung?"

"Tidak"

"Iya"

"Tidak"

"Iya"

"Ahh baiklah terserah kau saja lah, ini makanlah dan jangan memanggilku seperti itu lagi" Jimin akhirnya menuruti perkataan Yoongi, ia memakan ramen yang telah Yoongi buat itu dengan tenang.

Setelah beberapa menit, ramen yang berada dalam mangkuk masing-masingpun telah habis. Yoongi mengelus perutnya yang telah terisi makanan, ia meminum air putihnya dengan tenang.

"Hyung kau memakai baju ku tanpa izin dari pemiliknya" Yoongi mendelik, mendengar perkataan Jimin barusan. Iapun menyandarkan tubuhnya di kursi dan menatap Jimin.

"Siapa suruh membawaku ke apartement mu eoh?" Yoongi berucap dengan nada tenangnya, meskipun sebenarnya ia tak ingin mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Sungguh memalukan.

"Tapi seharusnya kau meminta izin padaku" Jimin dengan jahilnya berpura-pura kesal pada Yoongi, namun sebenarnya ia tak bermasalah dengan hal itu. Tapi karena ia melihat Yoongi begitu manis memakai bajunya, membuat Jimin gemas sendiri.

"Baiklah-baiklah tuan park aku mohon izin menggunakan pakaianmu" Jimin terkekeh melihat raut wajah yoongi yang berubah.

"Apa kau memakai underwere ku juga hyung?" Jimin bertanya dengan seringai liciknya dan membuat Yoongi membelalakan matanya.

"Tentu saja tidak, pabbo" Sebelum Yoongi berhasil memberikan pukulan ke kepala Jimin menggunakan sendoknya. Ia di kejutkan dengan dua orang namja yang menggunakan jas mahal. Mereka menatap Yoongi dengan heran dan Jimin yang melihat itu segera mencubit pipi Yoongi agar berhenti melamun.

"Oh hai appa" Jimin melambaikan tangannya tanpa malu dengan penampilannya saat ini. Rambut acak-acakan dan tak memakai baju, hanya sebuah celana pendek yang menutupi tubuhnya.

"Appa ingin berbicara padamu Jim, cepat gunakan bajumu dan kau ikut saya juga" Yoongi di buat terkejut kembali saat appa Jimin menunjuknya, iapun menuruti appa Jimin untuk duduk di sofa milik Jimin.

"Apa status kau dengan Jimin, Yoongi-shi?" Tuan Park dengan wibawanya bertanya pada Yoongi yang sedang menunduk.

"A-ah saya hanya seniornya di sekolah ahjushi" Yoongi menjawab pertanyaan dari appa Jimin dengan bergetar dan berkeringat, seakan ia sedang di introgasi karena telah mencuri.

"Benarkah? tapi kenapa kau bisa berada disini?" Tuan Park menatap Yoongi penuh tanya meskipun sebenarnya ia sudah tau semua tentang Jimin.

"Ah itu eumm itu"

"Aku ingin membawanya pada appa" Potong Jimin dengan seenaknya merangkul Yoongi.

"Jadi kau sudah menentukan pilihanmu jim? kau tak akan menyesal di kemudian hari?" Tanya tuan park lagi.

"Ku harap semuanya akan berjalan dengan lancar appa" Jimin tersenyum dan memberikan Yoongi kecupan di pipinya.

"Baiklah, jangan sakiti dia Jim. Kau harus menjadi namja yang bertanggung jawab. Dan soal hoseok appa akan membatalkan semuanya. Appa tau kau hanya menyayangi hoseok sebatas hyungmu saja. Appa mendukung hal positif dari tindakanmu" Tuan park tersenyum dan menepuk bahu Jimin dengan sayang.

Hingga bunyi handphone Jimin mengganggu kegiatan mereka.

"Yo, Namjoon hyung?" Jimin bertanya dengan nada dinginnya seperti biasa.

'Jimin, Hoseok sekarat. Ia membutuhkanmu sekarang'

"Apa? kau dimana sekarang hyung aku akan segera kesana"

'Aku di rumah sakit, datanglah jim cepat'

.

.

To Be Continue

.

"Usianya di dunia hanya tinggal seminggu lagi, temani dia dan berikan senyuman padanya"

"Jimin aku mencintaimu selalu"

"Hoseok hyung kau harus tersenyum, kau sangat manis jika sedang tersenyum"

"Jimin, bolehkah malam ini kau menjadi miliku?"

.

My Boyfriend Cassanova

.

.
Hai hai balik lagi dengan Jimbbb hehe maaf yak kalo jim lama post chap tujuhnya soalnya udah males lanjutin lagi huhu repiewnya duh. Maaf yak kalo alurnya kecepetan soalnya ini sesuai mood begete.

Makasih yang udah mau repiew di chap sebelumnya mwah jimb sayang kalian. Buat si olaf nih gua udah nyebut nama luh ah, ini udah hurt belom? sorry ye gua kaga ikhlas bikin yoongi ama jimin jauh jauhan jadi gua nyakitin hoseok dah muahaha.

See you next chapter beibih mwaah /ketjup basah/