Hola MInna!
Saya kembali datang memenuhi fandom ini dengan karya saya yang luar biasa ancur ini. Mohon dimaklumi. Hehehehehehe
DISCLAIMER :TITE KUBO
RATE : M (For Safe)
WARNING : OOC, AU, MISSTYPO, Cerita Gak Menarik, Pasaran, Gaje!
.
.
.
Rukia menghela nafas panjang. Baru satu jam dia memejamkan mata setelah aktifitas―apanya yang aktifitas?―berat itu. Jari-jari mungilnya masih setia memegang erat selimut di dadanya. Tubuhnya masih tak mengenakan sehelai benang manapun. Satu tangannya dia letakkan di atas dahinya. Malam ini adalah malam terbodoh yang pernah dia lewati. Apa yang ada dalam pikirannya sehingga tanpa sadar dia menerima semua yang dilakukan bocah itu padanya. Bahkan... Rukia tanpa sadar begitu menginginkannya lagi. Bodoh? Gila? Tidak waras? Kata apa yang tepat untuk menggambarkan seorang Kuchiki Rukia saat ini? Apa?
Rukia menoleh ke samping tempat tidurnya. Alih-alih menelpon Senpai-nya untuk membawa pergi bocah ini, dia malah membiarkan pemuda 17 tahun ini tertidur di sampingnya. Dengan kondisi yang sama. Tanpa pakaian.
Pemuda orange itu nampak tidur dengan kerutan yang lumayan banyak di dahinya. Apakah bocah ini mimpi buruk? Kenapa tidurnya tidak nyaman seperti itu?
Dan ini adalah malam kedua dia tidur dengan bocah ini. Satu ranjang. Yang pada malam pertamanya, dia sama sekali tidak sadar. Rukia bermaksud untuk beranjak mengambil pakaiannya lalu pergi dari sana. Tidak ingin lagi tidur di sana. Tapi begitu akan beranjak, tangan mungilnya tanpa sengaja menyenggol lengan pemuda itu. Panas.
Rukia panik, langsung meletakkan tangannya di atas dahi pemuda itu. Panas. Sangat panas. Tentu saja. Dia memang demam. Dan masih nekat melakukan hal itu? Astaga!
Dengan langkah tergesa, dan Rukia mengambil dengan asal salah satu dress tidurnya untuk memeriksa kembali kondisi bocah itu. Pakaiannya tadi basah kuyup. Dan sudah pasti dia sama sekali tidak membawa pakaian ganti. Rukia mana mungkin membiarkan pemuda itu tidak memakai apapun dengan kondisi mengenaskan begitu'kan?
Akhirnya tengah malam begini, Rukia membongkar kloset pakaiannya. Siapa tahu ada pakaian yang bisa digunakan bocah ini. Jujur saja, Rukia tak sempat memikirkan apapun selain mencari pakaian yang pantas. Karena mana mungkin pemuda ini bisa mengenakan salah satu pakaian Rukia'kan? Dari ukuran baju saja sudah tidak memungkinkan. Akhirnya, setelah puas mengobrak abrik seisi klosetnya, Rukia menemukannya.
Satu baju kaos lengan panjang dan celana kaos panjang pula. Ini milik kakak iparnya yang tertinggal di apartemennya ketika kakaknya mampir kemari beberapa waktu lalu. Dan itu sudah terlalu lama. Saat itu kakak iparnya kehujanan juga. Tapi pakaian ini, Rukia yang belikan di mall terdekat karena kakak iparnya tidak membawa pakaian ganti dan pakaiannya basah. Dengan langkah tergesa pula, Rukia bergegas membangunkan pemuda itu. Meski Rukia tahu, saat seperti itu rasanya sulit bergerak.
"Bangunlah Ichigo. Kau harus pakai baju." Ujar Rukia selembut mungkin sambil menggoyangkan tubuh pemuda itu. Beruntung Ichigo membuka matanya yang memerah itu. Wajahnya juga ikut memerah. Mungkin masih terpengaruh panas tubuhnya. Rukia membantu pemuda itu duduk di atas kasurnya lalu menyerahkan baju-baju yang berhasil dia temukan tadi.
"Pakailah. Aku keluar sebentar." Kata Rukia lagi. Baru akan berpaling dari bocah itu, lagi-lagi lengan mungil Rukia ditangkap oleh Ichigo. Bahkan tangannya terasa panas di lengan Rukia.
"Mau... kemana?" lirih pemuda itu sambil menatap Rukia sayu. Suaranya serak dan berat.
"Kau pikir aku mau kemana? Aku tidak kemana-mana. Pakailah bajumu. Aku akan segera kembali." Rukia berusaha lembut kepada orang sakit. Itu sudah pasti.
"Kau... mau menghubungi... Kaien... untuk membawaku... pulang?" kata Ichigo bersusah payah. Karena suaranya seperti mau hilang akibat serak itu. Bahkan bicara tadi saja membuat tenggorokan Ichigo terasa sakit dan panas. Dia sampai batuk.
"Sudah. Jangan bicara lagi. Tenggorokanmu itu pasti sakit. Kalau kau masih tidak pakai baju, tubuhmu akan semakin panas." Nasihat Rukia.
"Karena... kau mau... meminta―uhuk!"
"Tidak. Aku tidak akan menghubungi Senpai." Potong Rukia cepat sebelum bocah itu bicara terlalu banyak. Ichigo mengangkat wajahnya melihat wajah wanita mungil ini. Wajahnya terlihat serius dan tidak main-main. Oh... kapan Ichigo pernah melihat wajah main-main Kuchiki Rukia?
"Benar... kah?" lirih Ichigo lagi.
"Yah. Asal kau menuruti kata-kataku. Aku tidak akan menghubunginya. Kau mengerti?"
Ichigo tersenyum lega dan mengangguk semangat lalu melepaskan tangannya dari lengan Rukia. Setelah merasa pemuda itu menurut padanya, Rukia keluar dari kamarnya dan menutup pintunya. Lagi. Rukia mengatakan hal yang tidak waras. Apa maksudnya dia mengatakan hal itu?
Tapi bukan itu yang harusnya Rukia pikirkan.
Wanita berambut hitam ini, bergegas menuju dapurnya. Membuka lemari es dan mengeluarkan beberapa kotak batu es yang sudah membeku ke dalam baskom. Mencari handuk kering yang bersih, lalu membuka lemari obatnya. Meneliti beberapa bungkus obat yang berguna. Obat penurun panas, obat flu, obat sakit tenggorokan. Dan oh ya! Termometer. Apa saja. Setelah semuanya beres, Rukia mencari sesuatu lagi. Apa yang biasanya diperlukan orang sakit? Karena Rukia sudah beberapa tahun ini tidak pernah lagi merawat orang sakit. Sejak kakaknya tiada. Sejak Senna sudah tumbuh jauh dewasa.
Mata Rukia berhenti mengedarkan pandangannya ketika melihat sebuah benda kotak kecil berwarna ungu tergeletak di ruang tamunya. Ponselnya.
Rukia mendekat dan mengambil ponsel itu. Ponselnya mati. Pasti karena terbanting tadi. Rukia menghidupkan ponselnya dan melihat banyak pesan dan panggilan gagal di ponselnya. Semua dari Senpai-nya. Pasti Senpai-nya satu itu khawatir bukan main. Besok saja Rukia urus. Yang ini jauh lebih penting.
Semua peralatan itu dia bawa masuk ke dalam kamarnya. Ichigo sudah memakai bajunya dengan lengkap dan kembali berbaring di atas kasur sambil memejamkan matanya. Rukia mendekat dan meletakkan segala macam peralatannya di meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya itu. Tampaknya bocah ini sudah tertidur lagi. Pasti tidak enak di saat seperti ini. Rukia mengambil termometer dan mengukur suhu tubuhnya.
"39,5 derajat? Panas sekali..." gumam Rukia sambil memandangi termometer itu.
Rukia menaruh handuk kering itu di dalam baskom dan mencelupkannya hingga basah di air es itu. Menaruhnya dengan hati-hati di atas dahi pemuda itu. Wajahnya masih terlihat gelisah dengan kerutan di dahinya. Apa yang membuatnya begitu gelisah?
"Kaa-san..." panggil pemuda itu lemah.
Ibunya. Pasti ibunya. Ichigo kembali bergerak dalam tidurnya dengan gelisah. Wajahnya terlihat ketakutan dan menggeleng sedari tadi. Rukia panik. Dia tidak tahu Ichigo kenapa. Wajah Ichigo terlihat seperti ingin menangis. Dengan spontan, Rukia meraih satu tangan Ichigo dan menggenggamnya. Lalu satu tangan lainnya membelai lembut pipi pemuda itu.
"Ichigo... kau kenapa? Itu Cuma mimpi... Cuma mimpi. Tenanglah..." bisik Rukia.
Berhasil. Ichigo berhenti bergerak gelisah dan wajahnya kembali tenang. Tapi beberapa detik kemudian, bocah itu membuka matanya. Rukia memilih duduk di sebelah pemuda itu sambil tetap membelai pipinya.
"Mimpi buruk?" tanya Rukia. Ichigo mengangguk.
"Tentang Ibumu?" sambung Rukia. Kembali Ichigo mengangguk.
"Kalau begitu. Kau harusnya pulang. Pasti dia khawatir padamu karena kau tidak pulang-pulang."
"Ibuku... sudah lama meninggal." Lirihnya.
Rukia terkejut. Tentu saja.
"Berarti... kau tadi... memimpikannya?" tebak Rukia.
"Ya... dalam mimpiku... Kaa-san pergi meninggal... kan aku. Dan aku..."
"Sudah. Itu Cuma mimpi. Minum obat dulu ya. Supaya kau langsung tidur dan tidak mimpi buruk lagi."
Sesaat Rukia sama sekali melupakan apa yang sempat dikatakannya pada bocah ini sebelumnya.
Semuanya teralihkan sesaat ketika dia mulai simpati pada pemuda ini. Ketika dirinya semakin tidak mampu menahan perasaannya. Jika berada di dekat pemuda ini, Rukia sempat melupakan semua yang sempat ingin dilakukannya. Balas dendamnya.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia menguap lebar. Matahari sudah naik. Semalam dia menjaga pemuda ini. Dan baru tidur 2 jam tadi. Tapi sepertinya itu juga bukan tidur. Rukia meletakkan tangannya di atas dahi Ichigo. Tidak sepanas semalam lagi. Tentu saja. Semalaman Rukia mengganti kompresnya dan mengusap leher pemuda ini sampai agak mendingan. Rukia mengambil termometernya sekali lagi. Panasnya sudah sedikit normal. Meski belum bisa dikatakan normal. Tapi paling tidak, panasnya tidak seperti tadi malam.
Rukia beranjak dari kasurnya. Ichigo masih tertidur lelap. Mungkin dia juga baru merasa nyaman tidur setelah panasnya semalam. Tapi sekarang tampaknya gantian Rukia yang panas. Badannya terasa tidak enak. Apa dia ketularan? Sebaiknya cepat minum obat sajalah. Rukia mengambil ponselnya. Sebaiknya hari ini tidak usah masuk kerja saja. Kalau kondisi seperti ini sebaiknya diam saja di rumah. Kalau dipaksakan, pasti Rukia ikutan tumbang.
Rukia menekan beberapa nomor sambil bergerak menuju dapurnya untuk minum. Ponselnya ditempelkan di telinganya menunggu sambungan. Dan ternyata tidak makan waktu banyak.
"Rukia?" dan suara Senpai-nya nampak panik di ujung sana.
"Ahh... Senpai. Maaf mengganggu pagi begini. Apa aku... mengganggu?" kata Rukia ragu setelah mendengar suara senpai-nya yang tampak panik.
"Apa maksudmu? Semalam aku benar-benar cemas padamu. Kupikir ada apa, karena setelah kau menelponku dan putus tiba-tiba, aku tidak bisa menghubungiku lagi. Ada apa? Kau baik-baik saja?"
"Senpai... aku tidak apa-apa. Maaf yang semalam. Tapi sungguh tidak ada apa-apa. Maaf kalau aku membuat Senpai cemas."
"Tidak apa-apa. Syukurlah kau baik-baik saja. Jangan membuatku cemas lagi. Kau mengerti!"
"Baiklah. Aku mengerti. Tapi Senpai... apa boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa?"
"Hari ini aku ijin tidak masuk yah. Badanku agak tidak enak. Besok aku sudah bisa masuk lagi. Tidak apa-apa'kan Senpai?"
"Apa? Tidak enak badan? Kau sakit? Apa perlu aku mengantarmu ke dokter? Kujemput sekarang?"
Rukia diam sesaat. Kenapa Senpai-nya panik begitu hanya karena Rukia tidak enak badan? Apakah Senpai-nya memang begini? Rasanya agak aneh. Rukia tak pernah merasa Kaien akan begini paniknya.
"Rukia? Kau masih di sana? Jawab aku..."
"Ahh ya Senpai. Aku masih di sini. Tidak perlu. Aku hanya perlu tidur saja. Senpai tidak usah repot-repot. Lagipula... pasti banyak pekerjaan di kantor'kan?" tolak Rukia halus.
"Begitu? Baiklah. Aku mengerti. Kalau kau perlu apa-apa segera hubungi aku. Aku akan marah kalau kau sekali lagi tidak mengabariku. Mengerti!"
"Oh, ya... aku mengerti."
Rukia menutup ponselnya. Senpainya aneh. Tentu aneh.
Yang Rukia ingat tadi... ada sesuatu yang aneh saat Kaien memanggilnya. Apa yang aneh itu ya? Apakah... kenapa terasa ada yang janggal ketika Kaien memanggilnya tadi?
Rukia.
Senpainya memanggilnya Rukia, bukan Kuchiki. Apa artinya ini?
Tiba-tiba wajah Rukia memanas bukan main. Belum pernah, sejak pertama kali bertemu hingga terakhir bertemu, Kaien memanggil nama kecil Rukia. Selalu memanggil nama keluarganya. Rukia tersenyum geli. Ada apa ya? Rukia penasaran sekali.
Baru akan kembali ke kamarnya, ponsel Rukia mendadak bunyi. Rukia tak melihat nomor siapa yang memanggilnya. Dia masih geli dengan tingkah Senpai-nya itu.
"Halo?" ujar Rukia ceria.
"Kapan kau akan datang ke kantor? Ada yang ingin kubicarakan."
Senyum lebar di wajah Rukia mendadak sirna. Suara ini.
"Maaf Presdir. Saya sudah ijin pada atasan saya kalau saya hari ini tidak bisa datang ke kantor. Saya akan menemui Anda besok." Kata Rukia datar. Tidak seceria dia mengangkat teleponnya pertama tadi. Mood-nya langsung berubah drastis kalau mendengar suara pria brengsek ini.
"Tapi aku ingin menemuimu hari ini. Apa kau benar-benar tidak bisa datang hari ini?" kejar Presdir-nya.
"Sayangnya benar-benar tidak bisa. Saya akan urus semua perintah Anda besok."
"Kalau kau tidak bisa datang kemari, bagaimana kalau aku yang datang ke rumahmu. Kau tinggal sendiri'kan?"
Mata Rukia membelalak. Bukan hal aneh baginya untuk menemukan alamat rumah Rukia. Bagaimana ini?
"Kalau boleh saya tahu, apa yang ingin Presdir bicarakan dengan saya? Kenapa begitu ingin membahasnya hari ini? Apa masalah pekerjaan?" tanya Rukia.
"Bukan. Ini... masalahmu."
Rukia kembali terdiam. Masalahnya? Masalah apa?
"Kalau saya boleh tahu, masalah apa?" tanya Rukia penasaran.
"Ini bukan masalah yang bisa dibicarakan di telepon."
Rukia diam kembali. Dia semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin dibicarakan oleh presdir-nya ini.
"Jadi bagaimana? Kau yang datang kemari... atau aku yang datang ke rumahmu? Kau hanya punya 3 detik untuk memutuskannya."
"Tidak. saya akan datang dalam waktu 20 menit."
Rukia memutuskan teleponnya. Memegang sebelah kepalanya. Masalah dirinya? Apa yang sebenarnya ingin dibicarakan itu?
Rukia membuka pintu kamarnya. Bocah itu masih tertidur pulas di kamarnya. Semalaman Ichigo sudah kesulitan tidur karena demam. Pasti sekarang dia tidak mungkin bangun hingga nanti siang atau nanti sore. Rukia kembali mengambil ponselnya dan menekan beberapa nomor yang sempat dia hapal karena suatu hal.
"Halo. Maaf. Saya wali dari Ichigo. Yah... kelas 2. Sepertinya dia hari ini tidak bisa masuk karena demam. Ya... tolong sampaikan pada wali kelasnya ya. Terima kasih."
Beruntungnya suara guru yang menjawab panggilan Rukia mengenal Ichigo. Sepertinya sebagai siswa populer dia terkenal juga di kalangan guru-guru. Tapi... Rukia masih bingung. Kenapa gurunya tidak menyebut nama Shiba? Bukankah... Ichigo adiknya Kaien?
.
.
*KIN*
.
.
Rukia sudah meninggalkan memo di kamarnya dan bubur hangat yang sempat dia masak tadi. Entah kapan Ichigo bangun dan memakannya. Rukia sudah berada di mobilnya sekarang. Kepalanya pusing dan tidak enak. Tapi dia memaksakan diri. segala sesuatu yang berhubungan dengan Presdir-nya selalu tidak pernah membuatnya tenang. Apalagi sepertinya tadi, Presdir-nya begitu serius bicara padanya.
Begitu tiba di lobby kantornya, Rukia bergerak sempoyongan. Ok. Dia tidak apa-apa. Tenang saja. Rukia orang yang kuat!
Kini Rukia tiba di depan kantor Presdir-nya. Setelah menarik nafas panjang dan mencoba bersikap santai, Rukia mengetuk pintunya dan langsung mendapat ijin masuk ke dalam. Rukia menunduk hormat lalu berdiri di depan meja Presdir-nya. Kurosaki Isshin. Pria itu masih menyebalkan seperti biasa. Setiap kali melihat wajahnya, amarah Rukia langsung memuncak.
Tapi sebisa mungkin Rukia harus bisa menahan emosinya. Menahannya.
"Akhirnya kau benar-benar datang. Kuchiki Rukia." Ujar Isshin sambil memandang datar pada Rukia.
"Ada hal mendesak apa yang ingin Anda katakan?"
"Kau selalu begitu. To the point. Aku ingin tahu apa alasanmu masuk kemari. Benarkah karena murni pekerjaan?"
"Apa maksud Presdir? Jadi hanya karena ini alasanku harus datang? Maaf Presdir. Saya rasa ini bukan hal mendesak dan penting."
Rukia berbalik bermaksud meninggalkan ruangan itu sampai...
"Hisana... aku tidak tahu kalau sekarang namanya... Kuchiki Hisana."
Mata ungu Rukia membulat. Tangannya bergetar lagi.
Isshin berdiri dari tempat duduknya dan berdiri tak jauh dari belakang Rukia.
"Yah... alasan kenapa kau tidak kaget, tapi terkesan marah padaku karena aku menceritakan Hisana dan isteriku padamu adalah... karena kalian punya hubungan yang cukup dekat."
Kini Isshin sudah berpindah di depan Rukia. Tapi wanita bermata indah ini hanya menundukkan kepalanya saja. Menyembunyikan emosinya.
"Alasanmu datang kemari. Sudah pasti... ingin menemuiku'kan? Kau pasti ingin... mengatakan sesuatu padaku soal Hisana bukan? Kalau kau tahu... aku mohon―"
"Anda pikir akan semudah itu aku mengatakannya? Setelah apa yang dialami oleh kakakku karena Anda?" kini Rukia mengangkat wajahnya dan menatap penuh emosi ke wajah pria itu.
"Semenderita apa Hisana selama ini? Aku siap menanggungnya. Aku siap membayar semuanya. Tolong katakan padaku dimana Hisana! Kau pasti tahu!" kata Isshin yang kalap. Dia sampai mengguncangkan tubuh Rukia.
"Meskipun kau ke akhirat sekalipun kau tidak akan pernah bisa membayar semuanya! 17 tahun! 17 tahun kau sudah meninggalkan kakakku. Kau pikir... apa yang sudah terjadi selama itu?" kali ini Rukia sudah tidak sanggup lagi. Karena terlalu emosi dirinya. Setiap kali membicarakan kakaknya, rasanya hatinya tersayat.
"Kau meninggalkan 'bekas luka' mendalam pada kakakku. Meninggalkannya... membuatnya begitu menyedihkan! Dengan cara apa kau bisa menanggungnya? Aku sungguh marah padamu. Aku benar-benar membencimu. Aku bahkan ingin membunuhmu dengan tanganku sendiri! Apa kau tahu itu? Apa kau pernah sekali saja merasakan penderitaan kakakku karena dirimu?" lanjut Rukia dengan emosi yang masih meluap begitu saja.
"Tidak hanya sekali. Seumur hidup aku selalu memikirkannya. Aku selalu memikirkan Hisana! Karena sejak dia mendengar aku akan menikah... dia menghilang seperti kabut. Dan sekarang aku ingin―"
"Kakakku sudah meninggal." Potong Rukia.
"Apa?" mata Isshin membulat tajam.
"Kakakku sudah meninggal. Jadi kau tidak perlu mencarinya lagi. Dia sudah tenang. Kuharap kau tidak mengusiknya lagi."
"Kenapa... kenapa dia meninggal?"
"Meninggal karena melahirkan. Sesaat setelah kau meninggalkan kakakku, dia menikah dengan pria lain. Pria yang jauh lebih baik dari pria brengsek sepertimu."
"Jadi... Hisana punya... anak? Anak siapa dia?"
"Kau pikir aku mau memberitahunya?"
"KATAKAN ANAK SIAPA ITU! APAKAH DIA ANAKKU?" bentak Isshin sambil mencengkeram erat pergelangan tangan Rukia. Rukia meringis kesakitan dan mencoba melepaskan tangannya. Tapi dia pria. Dan Rukia wanita. Ditambah lagi kondisi Rukia yang tidak memungkinkan untuk melawan.
"Lepaskan! Kau menyakitiku!" teriak Rukia sambil meronta.
"Tidak akan kulepaskan sampai kau mengaku! Dia anak siapa?"
BRAAKK!
Rukia menoleh mendengar suara pintu yang didobrak. Seseorang datang dengan cepat dan melepaskan tangan Presdir dari pergelangan tangan Rukia.
"Lepaskan dia. Presdir."
Kontan saja mata Rukia membelalak tidak percaya.
"Senpai?" gumamnya.
.
.
*KIN*
.
.
"Ichigo tidak masuk? Benarkah itu?" tanya Senna tak percaya. Setahunya Ichigo bukanlah tipe siswa yang suka membolos. Apapun yang dia lakukan, seperti pulang malam, bergaul dengan berandal, ataupun suka minum ke klub, Ichigo tak pernah sekalipun bolos sekolah. Dan ini adalah hal terlangka yang pernah terjadi.
Senna bermaksud mengajak Ichigo untuk belajar bersama karena ujian sudah dekat. Biasanya ini adalah kesempatan untuk Senna bisa dekat dengan Ichigo. Tapi...
"Yah... kudengar dari Ochi Sensei, walinya menelpon. Seorang wanita." Lanjut Keigo. Orang yang ditanyai Senna.
"Wanita? Bukan adiknya?"
"Hei... mana mungkin suara adik Ichigo sama seperti orang dewasa. Mereka itu baru 13 tahun. Entahlah..."
Itu benar. Pasti bukan adik kembar Ichigo. Tapi... wanita? Ichigo tak punya bibi. Juga tak punya ibu. Lalu... wanita mana yang memintakan ijin untuk Ichigo? Ini aneh.
Ahh ya! Kenapa Senna bisa lupa?
Bukankah bibinya mengenal kakak Ichigo? Pria tampan dewasa itu? Pasti kakaknya tahu dimana Ichigo. Kalau Ichigo tidak masuk karena sakit, ini kesempatan untuk Senna menjenguknya. Dan si gadis populer itu tidak akan ada kesempatan lagi untuk mendekati Ichigo kalau Senna sudah mengambil langkah duluan. Betul juga.
Sebaiknya pulang sekolah ini dia langsung menuju apartemen bibinya saja.
.
.
*KIN*
.
.
"Kuchiki sudah meminta ijin padaku kalau dia tidak masuk hari ini karena kurang sehat. Mengenai pekerjaan, Anda bisa membicarakannya denganku, karena aku yang mengawasi proyeknya. Maaf aku kurang sopan. Permisi Presdir. Kuchiki. Ikut aku." Jelas Kaien sambil menarik lengan Rukia. Rukia tak punya kesempatan untuk bicara banyak. Dia hanya mengikuti senpainya saja. Sesaat Rukia benar-benar merasa lega. Dia tidak perlu menghadapi Presdir-nya. Sebaiknya Rukia cepat-cepat pergi dari perusahaan ini saja. Semuanya jadi tidak terkendali dan di luar rencananya.
Kini Kaien membawa Rukia menuju koridor yang agak jauh dari ruangan Presdir-nya. Kaien mendudukkan Rukia di kursi yang berada di sepanjang koridor itu. Wajah Rukia terlihat pucat.
"Kau bilang kau kurang sehat. Kenapa masih datang kemari?" ujar Kaien sambil memberinya gelas kertas berisi teh hangat. Rukia menerimanya tapi hanya menggenggamnya saja.
"Ada... sedikit masalah." Lirih Rukia.
"Sebenarnya aku tidak mau tahu masalahmu. Tapi kalau kau butuh teman cerita, aku siap menampungnya. Anggap saja aku tong sampahmu. Jadi setiap kali kau mau membuang unek-unekmu, temuilah aku. Apa bisa?" kata Kaien yang kini duduk di sebelah Rukia sambil menatap wanita itu dengan lembut. Rukia menoleh menatap Kaien. Yah... Senpai-nya selalu memberikan senyum lembut dan wajah yang hangat. Selalu begitu. Kapanpun Rukia butuh, Kaien selalu ada untuknya.
"Apakah gajiku akan dipotong kalau aku memanggil bosku sendiri tong sampah?" gurau Rukia.
"Yah... untuk situasi karyawan lain... mungkin iya. Tapi kau tidak."
"Kenapa?"
"Karena kau bukan hanya karyawan untukku. Sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu. Tapi sepertinya... lagi-lagi situasinya tidak mendukung ya?"
"Apa yang ingin... Senpai katakan?"
"Suatu hal yang penting. Tapi aku tidak mau memberatkan masalahmu. Kau boleh menemuiku dan bertanya tentang hal ini lain kali. Kalau masalahmu sudah selesai. Aku akan menunggmu. Oh ya! Bagaimana kalau kau kuantar kau pulang? Kau tidak boleh menolak kali ini Kuchiki!"
"Tapi... mobilku bagaimana?"
"Hmm... begini saja. Biarkan aku menyetir mobilmu dan mengantarmu pulang? Apa itu bisa?"
"Hah? Lalu... Senpai bagaimana? Bukankah masih ada pekerjaan di kantor?"
"Sekarang kutanya padamu, apa gunanya bus umum? Bukankah untuk saat seperti ini? Sudah lama aku ingin naik bus. Terakhir... aku naik waktu SMA. Dan ini... waw... 17 tahun ya?"
Senpainya begitu baik pada Rukia. Tidak menutup kemungkinan Rukia tidak menyukai Senpai-nya. Yah... dia suka. Tapi bukan sebagai pria untuknya. Bukan posisi itu.
"Kuchiki... ada apa dengan lehermu?" tanya Kaien, begitu melihat kerah kemeja Rukia yang sedikit tersingkap. Spontan Rukia meraba lehernya. Lalu teringat sesuatu. Sial!
"Hah? Oh... nyamuk... semalam ada nyamuk yang menggigitnya dan kugaruk hingga merah. Apa kelihatan jelas?" tanya Rukia sambil berusaha menutupi lehernya yang sepertinya merah itu.
"Oh... kukira... apa..."
Kini Rukia dan Kaien berada di dalam mobil Rukia menuju apartemennya. Rukia bingung. Bagaimana caranya supaya nanti Kaien tidak masuk ke apartemennya. Di sana pasti masih ada Ichigo. Apa yang akan dipikirkan Kaien kalau sampai melihat Ichigo ada di apartemennya? Ini benar-benar tidak bagus. Rukia bisa gila kalau seperti ini.
"Kau tahu. Ichigo lagi-lagi tidak pulang ke rumah. Dia benar-benar membuat Tou-san, Yuzu dan Karin cemas. Sebenarnya aku dan Tou-san sama sekali tidak cemas dia mau kemana karena dia laki-laki. Tapi Yuzu dan Karin cemas padanya. Menunggu Ichigo hingga pulang." Jelas Kaien tiba-tiba.
"Yuzu dan... Karin?" ulang Rukia. Merasa aneh pada dua nama itu.
"Oh! Aku lupa. Dia adik kembar Ichigo. Usianya masih 13 tahun. Mereka sangat menyayangi Ichigo. Demikian pula sebaliknya. Tapi belakangan ini hubungan Tou-san dan Ichigo sedang tidak bagus. Sebenarnya aku ingin membantu mereka. Tapi... aku sudah tidak tinggal di sana lagi."
Hubungan ayah dan Ichigo tidak bagus? Apakah ada hubungannya dengan ibu Ichigo?
Baru Rukia akan melemparkan pertanyaan pada Kaien, ponselnya berbunyi. Aneh. Dari... Kuchiki Senna?
"Halo?"
"Oba-chan? Aku sudah dekat di apartemen Oba-chan. Oba-chan dimana?" kata Senna riang.
Apartemen? Apartemen mana maksudnya?
"Apa maksudmu?" tanya Rukia.
"Oh! Aku di depan pintu Oba-chan. Aku masuk ya?"
"JANGAN MASUK!" teriak Rukia.
Kaien sampai menghentikan mobil mereka mendadak. Rukia merasa tidak enak karena berteriak seperti itu. Lalu akhirnya tersenyum lembut pada Kaien dan menatapnya seolah mengatakan 'baik-baik saja' pada Kaien. Kaein melanjutkan tugasnya dan Rukia kembali pada ponselnya. Anak ini ada-ada saja.
"Kenapa sih Oba-chan teriak begitu? Aku masuk saja ya?"
"Hei! Kuchiki Senna! Kubilang jangan masuk ya jangan masuk! Apa yang kau lakukan di sana?"
"Aku mau tanya Oba-chan nomor ponsel... kakaknya Ichigo. Boleh ya...?" rengek Senna.
"Hah? Ponsel Senpai? Memang untuk apa?"
"Ada yang ingin kutanyakan padanya. Jadi aku masuk saja ya..."
"Kalau begitu, kau tunggu di bawah saja. Aku sudah dekat dengan apartemenku. Kau langsung tanyakan saja pada orangnya. Senpai sedang bersamaku."
"Benarkah? Baiklah!"
Senna mematikan ponselnya dan bergegas menuju lantai bawah. Tapi sesaat sebelum dia pergi, Senna mendengar suara pintu di buka dari dalam apartemen bibinya itu. Tapi bukankah sedang tidak ada orang di sana? Sudahlah... apa yang mesti dipusingkan?
Yang penting Senna bisa bertemu dengan kakak Ichigo dan menanyakan keadaannya.
.
.
*KIN*
.
.
Rukia tidak peduli apa yang mau dibahas anak nakal itu dengan Senpai-nya. Setelah mengantar Rukia, Senna langsung menarik Kaien untuk membicarakan sesuatu. Rukia hanya berpesan pada Kaien untuk mengantarkan anak itu ke halte bus terdekat dengan selamat. Rukia beralasan sedang tidak ingin menerima tamu karena kurang sehat dan ingin tidur. Tampaknya keponakannya satu itu menerima begitu saja. Apa yang membuat Senna semangat begitu?
Hari ini begitu benar-benar membuatnya pusing tujuh keliling.
Bagaimana kalau Presdir-nya nekat mencari tahu? Tapi Rukia harusnya tenang. Meskipun dia mencari tahu, tetap Presdir-nya tak akan tahu yang mana orangnya. Lagipula... Rukia belum memberi kepastian, soal anak siapa yang dilahirkan Hisana.
Ini sudah... melenceng jauh dari balas dendamnya.
Rukia membuka pintu apartemennya dan menemukan sesosok seorang pemuda yang duduk bersandar di sofa ruang tamunya. Rukia cepat-cepat mendekati bocah ini. Tidur lagi. Kalau dia tidur seharusnya tidur di kamar'kan?
Rukia meletakkan tangannya di dahi bocah orange itu. Panasnya sudah agak mendingan.
"Kau sudah pulang?"
Rukia terkejut. Tiba-tiba bocah itu membuka matanya dan menatap sendu pada Rukia. Wajahnya masih tidak sehat dan pucat. Rukia mengambil posisi duduk di sebelah pemuda itu.
"Orang sakit seharusnya berbaring di kasur. Bukan duduk di sofa." Jelas Rukia.
"Aku sudah sehat." Kata Ichigo pelan. Suaranya terdengar serak tapi tidak separah tadi malam.
"Sehat darimana? Kau mau sok kuat ya? Aku tidak mau tahu kalau nanti kau pingsan di jalan karena sok kuatmu itu!"
Ichigo menutup mulutnya dengan sebelah tangannya dan mulai batuk lagi. Rukia langsung mendekatinya dan berwajah panik.
"Kau batuk ya? Apa tenggorokkanmu masih sakit?"
Namun yang ditanyai malah bersikap geli. Dia tersenyum―nyaris tertawa―melihat wajah panik Rukia.
"Hei Bocah! Kau menggodaku?" kata Rukia hendak mengamuk.
"Melihatmu panik begitu lucu sekali tahu. Aku tidak menyangka, aku harus sakit seperti ini baru kau mau memperhatikanku."
"Apa?"
"Kenapa rasanya... aku ingin sakit terus saja ya? Supaya aku bisa melihat wajah panikmu seperti itu setiap hari."
"Menggelikan!"
Rukia mulai risih dengan sikap Ichigo yang seperti ini. Baru akan beranjak dari sofanya, lagi-lagi tangan Ichigo menahan pergelangan tangan Rukia. Rukia sempat meringis sebentar karena rupanya pergelangannya masih terasa sakit akibat cengkeraman menyakitkan tadi. Ichigo reflek melihat pergelangan tangan yang ditangkapnya itu. Merah. Perlahan, Ichigo menarik Rukia agar duduk di dekatnya dan kembali meneliti pergelangan tangan mungil itu.
"Apa yang terjadi? Kenapa tanganmu merah begini?" sekarang berganti Ichigo yang panik.
"Tidak apa. Jangan begitu." Kata Rukia tak enak.
Tapi Ichigo malah menarik pergelangan tangannya mendekat ke arah wajahnya. Lalu mengecup sekilas pergelangan tangan yang memerah itu. Wajah Rukia langsung memerah luar biasa.
"Apa yang kau lakukan?" bentak Rukia kecil.
"Apa terasa baik?"
"Tentu saja tidak! Memangnya Cuma dibegitukan saja bisa jadi baik? Perhatikan saja kesehatanmu supaya kau bisa pulang!"
Ichigo menarik lengan Rukia dan memeluk tubuh Rukia yang reflek tertumpu padanya karena tarikan Ichigo. Wajah mereka langsung begitu terasa dekat.
"Pulang? Aku belum mau pulang. Rukia... kau yang membuat bubur untukku ya?"
"Kalau iya kenapa? Keluargamu pasti cemas kalau kau tidak pulang? Lepaskan aku!"
"Tenang saja. Lagipula aku baik-baik saja. Mereka tidak perlu cemas. Rukia... suapi aku."
"Apa! Makan sendiri sana!"
"Aku sakit. Kau tidak boleh memperlakukan orang sakit begitu..." rengek Ichigo.
"Dengar bocah! Aku benar-benar tidak suka padamu dan aku tidak peduli―"
"Bohong. Semalam kau begitu perhatian padaku. Kau bahkan menjagaku semalaman. Bukankah itu artinya kau suka dan peduli padaku?"
"Tidak! Siapa yang begitu!" sangkal Rukia.
"Bahkan semalam kau melakukan 'itu' denganku."
"Apa? Tutup mulutmu! Jangan bicara aneh-aneh!" bentak Rukia lagi.
"Itu benar'kan?"
"Tidak! Tidak ada yang seperti itu! Dan kau cepat lupakan―"
Cup.
Ichigo mengecup sekilas bibir Rukia yang sedari tadi mengoceh tiada henti. Rukia terdiam dengan sikap tiba-tiba dari pemuda itu. Bermaksud untuk melontarkan makian lagi, pemuda itu kembali mencium bibir Rukia. Kali ini lebih hangat dan lama. Ichigo hanya memagut bibir itu sambil menutup matanya, mencoba menikmati setiap detik momen ini. Rukia masih tidak membalas pagutan itu. Tubuhnya mendadak kaku. Tidak bisa menghentikan ini. Karena Rukia tak kunjung membalas ciumannya, Ichigo menghentikan kegiatannya dan menatap dalam mata ungu yang sudah membuatnya terpesona itu. Mata indah itu.
"Tidak bisa. Aku tidak mau melupakannya. Terserah kau mau menganggap ini serius atau tidak. tapi aku sudah pernah mengatakannya padamu. Jika kau yang datang menghampiriku, jangan salahkan aku kalau aku tidak akan melepaskanmu. Kau masih ingat itu?"
"Tapi Ichigo... kita ini―"
Cup. Dan sekali lagi Ichigo menutup bibir itu dengan kecupannya. Menolak mendengar semua bantahan dari Rukia.
"Kau belum melaluinya Rukia. Siapa yang tahu tentang masa depan? Siapa yang tahu tentang hubungan kita selanjutnya? Aku dan kau... semua orang... tidak ada yang tahu. Kecuali Dia. Kenapa kau tidak mencoba untuk menjalani semua ini dulu? Kau harus memberi kesempatan pada semua kemungkinan. Dan berikan kesempatan padaku untuk membuktikan, bahwa aku... bukan seorang bocah labil yang kau katakan itu."
Rukia menunduk diam.
Tapi Ichigo tak melihat Rukia yang berpikir keras itu. Kembali, Ichigo mencium bibir mungil itu. Masuk ke dalam permainannya. Bibir Ichigo menekan lembut bibir Rukia. Lagi-lagi... entah apa yang merasuki Rukia saat ini. Tanp sadar, Rukia justru membalas ciuman itu. Rukia yakin dia sudah gila. Benar-benar... gila.
.
.
*KIN*
.
.
TBC
.
.
Hola Minna!
Huftt... akhirnya bisa update meski agak gaje ya? sekarang saya cuma mau fokusin IchiRuki dulu. mungkin chap depan baru deh masuk masalah utamanya. dan setelah masuk masalah utama, mungkin ada flashbacknya tentang Hisana. hohohoho...
maunya saya tuh update minggu kemaren. tapi banyak banget halangannya. suerr deh. nih udah ada di dokumen uplodnya tuh dari minggu kemarin. dan gak sempet banget buat ngpublishnya hehehehe...
maaf ya senpai kalo chap ini kurang bagus. atau malah gak bagus sama sekali. maaf banget yaaa... tulisan saya sepertinya kembali hancur gak karuan.
janji saya... saya bakal update semua fic saya yang udah ditunggu sama senpai. hehehe maaf kalo agak mengecewakan ya? soalnya beberapa hari ini saya rada gak enak badan. sebenernya sulit banget buat ngetik dalam keadaan gak enak badan. tapi ngeliat review dari senpai-senpai, rasanya jadi semangat 45 gitu. hehehee ok deh bales review... karena saya mulai ngelantur.
snow : makasih udah review senpai... hehehe Hisana sama Byakuya nikah ntar dibahas dichap depan. adegan flashback. hehehe Byakuya ama Rukia jelas tahu dong. hehehe kalo Isshin sih, kayaknya gak ngelepasin Rukia sampe dia bilang soal masa lalu Hisana 17 tahun lalu itu. hehehe tenang kok senpai saya usahakan ending yang bagus. hohoho
Zanpaku nee : makasih udah review senpai... hehehe maaf senpai. bener. saya yang saya tulis. harusnya 17 tahun yang lalu. maklum, saya suka lupa sama angka. makanya jadi gitu. yang bener 17 tahun. hehehehe makasih koreksinya senpai.
Wakamiya Hikaru : makasih udah review senpai... hehehe jadi dipanggil apa nih? Rukia ama Ichigo? ada dong. kan jelas tuh. hehehehe
nenk rukiakate : makasih udah review nenk... hehehe iya bersatu banget. hohoho tapi kayaknya jalan mereka gak mudah tuh... hhoho
Akirachan : makasih udah review senpai... hehehe iya banget ya? tante ama bocah. hohohoho...
Dewi Anggara Manis : makasih udah review senpai... bener loh. emang udah tahu. jadi apa ya entar? hehhehe
ichigo4rukia : makasih udah review senpai... hehhehe kayaknya si Ichi nafsuan banget ya? sampe gak mikirin dememnya lagi. ckckckck Rukia sama Isshin? nah itu di chap depan deh... hehehe
R : makasih udah review senpai... bener. Ichi nafsu! hahahahaah kayaknya suka tuh. secara ngingetin sama mantan... wkwkwkwkw
Voidy : makasih udah review senpai... hehehe lega rasanya chap kemarin bagus buat senpai... hehehe tapi saya gak yakin sama chap ini. heheheh
FYLIN-chan : makasih udah review senpai... Rukianya masih bingung senpai. kayaknya tuh. masih galau gak jelas. wkwkwkw wah adek atau kakak saya tiba-tiba jadi bingung nih... hehehe
Bad Girl : makasih udah review senpai... kan Ichi bilang bakal ngebenci selingkuhan bapaknya itu. hehehe tapi gak tahu ya reaksi Ichi pas tahu itu Hisana. kakaknya Ruki. pokoknya semua pertanyaan senpai ada di chap depan. deh. saya bakal kebutin di chap depan. hehehe
Purple and Blue : makasih udah review senpai... heheheeh
Lichigo : makasih udah review senpai... duh jangan senpai dong. saya belum setaraf itu. Kin aja gak papa... hehehe
Yosh... udah semua?
ok deh. untuk chap depan saya usahain cepet update. terus kayaknya chap depan juga bakal banyak kejutan. semoga gak ngejutin. hehehehehe karena saya mau kebutin biar ini cepet selesai. ada 2 fic yang mau saya luncurin. tapi beguyur dulu deh... hehehe kagak sanggup updatenya...
ok... yang baca wajib review ya... biar tambah semangat nih updatenya... hehehehe
Jaa Nee!
