Origami POV
.
.
.
"Hhhh... kenapa sebanyak ini sih. Tohka?"
"Akukan cuma membeli satu, apanya yang terlalu banyak, Naruto?"
Hhh.. mereka mulai lagi. Salah mereka juga yang ikut-ikutan beli tadi, kan?
Alasan kami bertiga buru-buru dari gereja adalah ini. Kami mampir ke toko perlengkapan untuk membeli futon. Ya, sebenarnya hanya aku yang ingin membelinya. Dan kenapa sampai seperti ini adalah...
'Waahh! Lihat ini! Warnanya bagus juga. Aku ambil ini!'
'Oke! Ambil saja Tohka. Tapi yang Orange ini juga bagus. Kubeli buat jaga-jaga deh.'
Itu yang mereka katakan saat di toko. Itu bukan masalah. Tapi, mendengar mereka yang menggerutu tak jelas sepanjang perjalanan pulang sangat menyebalkan.
"Hhh.. siapa suruh kalian membelinya."
Ujarku dengan kemalasan tingkat Dewa.
Atas perkataanku barusan, mereka hanya tertawa hambar.
Masih dengan tawa hambarnya, Naruto mengatakan alasannya.
"Sebenarnya aku membeli futon ini karena aku suka warna orange. Tebayo."
"Aku... aku juga membeli yang ini karena suka warnanya hihii..."
Alasan macam apa itu? Tak bisakah kalian memakai alasan lain?
"Hhh.." aku hanya menghela nafas sebagai reaksi alasan mereka.
《Hohooo. Aku mencium bau yang sangat enak》
Kami semua langsung berhenti. Bersamaan dengan 'detektorku' yang bergetar, kami mendengar suara berat dan lebih seperti geraman hewan atau desisan ular. Entahlah.
Kemudian saat kami menatap bangunan tua yang sudah tak perpenghuni, yang tampak di sana adalah sepasang mata merah.
Aku memeriksa detektorku. Hm.. aku hanya mengernyit saat melihatnya.
"Ini..."
Drap. Drap. Drap. Drap.
Selagi aku sedang sibuk menganalisa pembacaan energi ini. Kami mendengar suara langkah berat yang mendekati kami dari bangunan tua itu. Kemudian saat aku melihat asal suara itu...
"Monster."
Itulah kata yang tepat untuk menjabarkan apa yang kulihat.
Sosok dengan empat kaki, berbadan ular dan... berwajah wanita.
《Umn... sepertinya aku akan makan besar hari ini》
Bahkan lidahnya juga ular.
"Naruto. Kita lawan dia."
"Baiklah!"
"Biar aku yang menyelesaikan ini,Tohka, Naruto."
Saat mereka hendak maju, perkataanku barusan menghentikan langkah mereka.
Keduanya menatapku serius.
"Kau yakin?"
Naruto bertanya dan aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
WUUSSHH!
Tiba-tiba monster itu sudah di hadapan kami sambil mengayunkan kapak besar.
《Makan besar!》
BLAARR!
Tanah tempat kami berpijak hancur dan retak saat kapak monster itu terayun ke bawah.
《A-apa》
Namun kapak itu tertahan oleh satu tangan. Itu... tangan Tohka.
"Nu... sebaiknya selesaikan dengan cepat karena aku ingin pulang dan makan."
Tohka melempar monster itu kedepan setelah mengeluh. Ya ampun!
"Identifikasi: Tobiichi Origami. Basic Realizer. Luncurkan!"
Tak lama setelah aku mengaktifkan mode tempurku, kini aku telah memakai Armor AST. Lengkap dengan pedang cahaya dalam genggaman tangan kananku.
《Ugh. Exorcist, kah?》
Aku tersenyum senang. Ini seperti nostalgia saat terakhir kali aku menggunakan ini demi tujuan hidupku.
Membunuh Spirit yang telah menewaskan Ayah dan Ibuku
Tapi, kali ini berbeda.
《Baiklah! Hidangan pertama!》
WUUSSSHH!
Aku akan menggunakannya demi mereka.
TRANKKK!
Demi ikatan yang akhirnya kudapatkan...
TRAANNKK!
Ikatan yang sangat berharga...
Bwussshh!
Keluargaku...
.
.
.
Origami POV END
.
.
.
Debu dan batu kerikil beterbangan tersapu gelombang angin yang sangat kuat.
Itu terjadi saat pedang cahaya dan kapak raksasa saling menghantam.
Origami dengan kecepatan di atas rata-rata menerjang sosok monster yang kini membuka mulutnya lebar-lebar.
《Matilah》
ZZZUUUTTT!
Dari dalam mulut monster itu, melesat laser berwarna merah dan siap menembus kepala Origami sebagai target.
Alih-alih bertahan atau menghindar, Origami malah terus berlari menerjangnya tanpa ragu kemudian...
TERITORI!
Di sekeliling tubuhnya muncul lapisan pelindung berwarna hijau, dengan struktur yang mirip sarang lebah dan membelah laser itu hingga melewati sisi tubuhnya.
BLAARR!
Tanah yang menjadi tempat pendaratan laser itu langsung hancur, begitu juga dengan dinding bangunan itu yang kini hanyalah puing-puing reruntuhan.
"HAAAAAA!"
Masih dengan laser ditembakkan ke arahnya, Origami Terus melesat sambil mengaktifkan 'Teritori'. Membelah laser itu. Mengabaikan sorot mata monster itu yang kini membulat dalam keterkejutannya. Dia menusukkan pedangnya.
JRAAASSS!
Tanpa teriakan, monster itu tamat menjadi abu setelah pedang cahaya menembus lehernya.
"Selesai."
Dia bergumam untuk dirinya sendiri setelah memperhatikan situasi di sekitarnya.
"Maaf, menunggu lama, ayo pu-"
DOOONG!
Matanya berkedut saat melihat duo berisik malah duduk manis di pojokan sambil menyantap ramen instan. Lengkap dengan kompor virtus dan teko yang berisi air panas.
"Nih, satu untukmu. Hati-hati masih panas."
Naruto dengan santai menawarkan satu cup ramen yang sudah masak. Terlihat di samping kirinya tumpukan cup ramen kosong. Mungkin 10 cup. Di kanan, Tohka masih menikmati ramen ke-12-nya.
Dengan kaki yang dihentak-hentakan, Origami mendekat dan langsung merampas cup ramen yang disodorkan padanya. Kemudian makan dengan ekspresi kesal.
"Tambah!"
Naruto melongo di tempat. Mendapati permintaan dan nada bicara yang bisa dibilang langka dari sosok Origami.
.
.
.
Disc:
Naruto: Masashi Kishimoto
High School DxD: Ichiei Ishibumi
Date A Live: Koshi Tachibana
.
.
.
A NINJA AND THE GUARDIAN ANGEL
By Bayu
.
.
.
Chapter 7. Persahabatan itu indah
.
.
.
Pinggiran sungai kota Kuoh.
Dinginnya udara malam, suara serangga dan binatang malam, ditambah suara aliran sungai yang tenang. Tampaknya telah menjadi bagian dalam kehidupan pria paruh baya dengan hobinya yaitu memancing. Dilihat dari fisiknya, mungkin pria itu berusia 30 tahun dengan rambut coklat gelap dan poni depan berwarna pirang. Bermata coklat dan wajah yang berekspresi layaknya pria nakal.
"Hhh... ayolah ikan, datanglah ke papa."
Mungkin karena lebih dari 5 jam tanpa mendapat pancingan, pria itu menggerutu dalam kejengkelan. Terlihat di sampingnya. Ember air yang kosong melompong.
Angin berhembus pelan bersamaan bulu hitam yang berguguran, sosok gadis muda berambut biru turun dari langit sambil mengepakkan sepasang sayap hitam di punggungnya. Gadis itu mendarat di samping pria yang masih setia dengan pancingannya.
"Azzel-sama," panggilnya dengan nada sopan.
Sebagai respon, pria yang diketahui bernama Azzel itu hanya melirik sekilas,"Apa ada perkembangan?"
"Um... bocah mesum itu telah menjadi iblis dan... dia baru saja tiba sore ini. Mungkin dia sedikit tersesat."
"Begitu. Dia sedikit ceroboh rupanya."
Menanggapi ucapan atasannya, gadis itu mendadak panik, karena dia sangat tahu siapa yang dikatakan 'ceroboh' barusan.
"Ta-tapi... dia melakukan ini demi kaum kita, meski di-dia begitu tapi dia sangat memikirkan kita semua. Karena itu... Tolong jangan menghukumnya, Azzel-sama."
"Hoi, hoi! Aku hanya sedikit mengeluh! Kenapa kau malah panik sih! Ya ampun! Tak bolehkah seorang pimpinan berkeluh kesah sedikit pada bawahannya? Hhhh."
Menanggapi kegugupan bawahannya, sang atasan hanya bisa berucap seperti itu. Awalnya hanya ingin membagi sedikit beban di pundaknya. Dia mengerti alasan mengapa bawahannya kadang melakukan hal di luar perintahnya. Dia juga tahu jika hal itu dilakukan bawahannya demi semua kaumnya.
Tapi, hei! Pernahkah mereka berpikir sulitnya memutuskan langkah kedepan dari seorang pemimpin kepada bawahannya?
Ibarat rakyat yang bebas mengeluh kepada presiden tentang masalah mereka. Tapi, bisakah presiden mengeluh pada rakyat atas masalahnya? Hal seperti itu... MANA ADA...!
"Eheheheee...! Maaf, maaf."
Sebagai balasannya, si gadis hanya tertawa kikuk sambil menggaruk pipi dengan telunjuknya.
"Lupakan saja. Hei, namamu Kalawarner. Benar."
"Ha i, Azzel-sama."
"Maukah kau menjadi istriku?" Pertanyaan itu terlontar dengan lancar dan terlalu percaya diri.
"Ogah!" Jawabannya pun sama lancarnya. Lengkap dengan wajah penuh keyakinan
"Ke-kenapa?" sang atasan mendadak gagap.
"Kau lebih cocok dipanggil ayah."
"Oh ayolah... apa aku setua itu? Memang berapa umurku?"
"340 tahun."
"Hei! Aku masih 339 tahun, tahu!"
"Apa bedanya? Dasar jomblo ngenes!"
Hilang sudah rasa hormatnya kepada pemimpinnya digantikan ekspresi malas dan datar menanggapi topik yang dibahas pemimpinnya itu.
Menanggapi situasi yg mulai absurd berdehem sekali. Azzel berucap.
"Lalu... bagaimana dengan yang itu.?"
Seketika ekspresi sang bawahan, yaitu Kalawarner langsung cerah berseri.
"Ouh! Kalau yang itu... dia membuat yang sangat bagus! Lihat saja ini!"
Dia berucap dengan semangat sambil menyodorkan sebendel kertas berhiaskan tinta hitam di atasnya.
Sementara Azzel hanya berwajah murung saat melihat gambar seorang gadis berambut biru pendek dengan sayap kertas di punggung dilengkapi tulisan. "Malaikat pembawa Pesan."
"Apa naskahnya jelek? Kau tampak tak senang."
Merasa kebingungan, Kalawarner bertanya demikian.
"Kenapa?" gumam Azzel ambigu.
"Huh?" Kalawarner bingung.
"Kenapa... malah kau yang jadi modelnya! Harusnya aku! Karena lebih tampan dan imut!"
'Oh... kami sama! Inikah hukumanmu untuk hambamu yang telah jatuh ini! Diberi atasan yang super percaya diri, Narsis, tak tahu malu dan tak sadar umur. INI KELEWATAAAN!'
Menanggapi ocehan atasannya, Kalawarner hanya bisa merutuki nasibnya. Setelah lima menit, akhirnya dia kembali berucap.
"Umm... maaf, bukan maksudku menyela tapi, dulu anda memang sangat imut, Azzel sama."
"Hoo... benarkah! Jadi, sekarang kau mengakui kalau aku tampan dan imut."
"Ya... itu dulu. Terutama saat anda masih balita."
Kalawarner mulai menyiapkan sihir teleportasi miliknya. Sementara Azzel tersenyum lebar.
Selesai merangkai formula sihir. Kalawarner melanjutkan.
"Tapi sekarang, penampilan dan ekspresi anda lebih... Amit... Amiiiitt!"
Bersamaan dengan kalimat terakhir itu, Kalawarner menghilang dengan teleportasinya. Meninggalkan Azzel yang kini pundung di tempatnya.
DOOONG!
"Itukah alasanku menjadi jomblo ngenes sampai sekarang."
Begitulah katanya.
.
.
.
Ruang Klub penelitian ilmu gaib.
Di ruang bergaya eropa abad pertengahan dengan lukisan dan aksesoris khas eropa. Mulai dari dinding, langit-langit, sampai lantai. Terdapat simbol-simbol aneh yang lebih mirip lingkaran sihir, beberapa sofa dan meja juga tersusun rapi di dalamnya. Dan yang paling mengejutkan adalah adanya tempat mandi shower. Membuat suasana yang awalnya seram saat pertama masuk, menjadi absurd saat melihatnya.
Tak hayal memang cocok bila dinamakan ruang klub penelitian limu gaib.
"Jadi, begitulah ceritanya, Buchou."
Seorang siswa, Hyodou issei baru saja selesai bercerita kepada seorang siswi berambut crimson (Rias Gremory) selaku presiden klub. Atau bisa dibilang King-nya perihal mengapa dia melanggar larangan mendekati gereja, juga semua kejadian yang dilaluinya tanpa terkecuali.
Sementara sang Buchou hanya mampu memijit pelipisnya karena kepalanya pusing mendengar cerita dari lawan bicaranya. Dengan menghela nafas, dia bersuara.
"Maaf, sudah menamparmu. Aku tidak tahu tentang apakah seorang de tensi mempunyai pekerjaan sambilan menjadi penerbit novel atau dia memiliki niat lain. Tapi, Ise, apapun yang terjadi jangan dekati gereja itu lagi. Karena jika sampai kamu mendapat masalah dan terbunuh maka satu-satunya yang akan kamu terima adalah ketiadaan. Paham!
Menghadapi ketegasan King-nya, Issei hanya menunduk. Dengan lesu dan pipi kiri yang terdapat stempel telapak tangan, dia berucap,"Maafkan aku."
Mendengar jawaban dari satu-satunya pion yang dimilikinya, Rias Gremory hanya tersenyum dan mengelus puncak kepala Issei.
"Bagus."
.
.
.
Kediaman Uzumaki.
"Huhh..." entah berapa kali Naruto menghela nafas pagi ini.
Saat ini, semua penghuni rumah berada di dapur. Origami sedang memotong sayur dan Tohka memanaskan air sambil mengolah rempah-rempah. Naruto hanya menatap mereka sayu dari kursi di meja makan, dengan rasa kantuk dan bekas merah di hidungnya. Pandangannya bergulir melihat jam dinding yang menunjukan waktu pukul 05 : 00 pagi.
Oh, bagus! Ada apa gerangan sehingga laki laki yang terkenal susah bangun memperhatikan dua bishojo bersama aktifitas memasak mereka dengan wajah kantuknya?
"Jadi?" Tohka membuka percakapan lewat satu kata yang bisa dipahami sebagai sebuah pertanyaan.
Saat ini dia sedang memanaskan minyak untuk menggoreng telur.
"Kenapa kau bertingkah aneh akhir-akhir ini? Kau sudah mengatakan akan menjelaskannya, bukan? Kemarin."
Rupanya Tohka merasa sedikit khawatir tentang keadaan teman kuningnya ini. Sejak pertama sampai di kota ini (lebih tepatnya Kuoh Gakuen), saat menerima tantangan Murayama, bahkan hari-hari berikutnya, dia tidak seperti biasanya. Memang dia terlihat ceria seperti biasanya. Tapi, bagi orang yang sudah mengenal dan hampir mengetahui semua tentangnya, terlebih tinggal satu tahun lebih bersamanya. Tentu bukan hal sulit mengetahui apakah dia sedang ada masalah atau tidak. Hal yang sama juga dirasakan Origami. Meskipun tidak pernah menanyakannya secara langsung.
Naruto hanya menggeser kursi di sampingnya. Tohka yang menganggap hal itu sebagai isyarat untuk dia duduki, segera melangkah mendekatinya.
Namun hal selanjutnya membuktikan bahwa anggapannya salah.
Cahaya keemasan keluar dari tubuh Naruto. Perlahan cahaya itu berkumpul dan memadat membentuk sosok manusia. Sosok itu duduk di kursi yang baru saja digeser oleh Naruto.
Baik Tohka maupun Origami, sontak menghentikan aktifitas memasak mereka. Dengan mata membulat karena kaget dan syok. Pandangan mereka tertuju pada cahaya yang kini meredup dan menampakkan wujud seorang gadis berambut merah cerah sepunggung dengan mata violet yang indah, memakai kimono putih. Tengah menatap mereka dengan senyum ceria.
"Yo! Ini pertama kalinya kita bertemu secara langsung, namaku Asami Kurama. Juubi no youkou (Ten tiles Demon Fox) partner si baka ini. Salam kenal Tohka, Origami."
"Na-Naruto... A-apakah ini nyata?"
PLAK!
"KYAAA!"
"Hm... Reaksimu itu cukup normal. Jadi, ini memang nyata."
"Apanya yang normal, eh! Mau mengajak ribut. Huh! Jika ingin menguji. Cobalah kau tampar pipimu sendiri!"
Tohka berkata dengan kesal seraya mengacungkan codet yang diambil dari atas wajan berisi minyak panas tepat ke depan wajah Origami. Yang sudah seenak jidatnya menampar pipi kirinya untuk memastikan mimpi atau kenyataan.
Padahal itu sebatas sampai bersuara, mungkin karena kaget akibat ketidakpercayaan atas kejadian di depan matanya.
Seorang laki-laki bisa melahirkan. Apa lagi sudah langsung besar, Cantik pula! Dan anehnya, tidak ada kemiripan sama sekali di antara keduanya.
Naruto sweetdrop.
'Apa-apaan mereka?'
Tanpa mempedulikan codet yang teracung ke wajahnya. Origami menghela nafas.
"Hhh.m. souka. Singkatnya, saat kami kira kamu sedang melamun, itu karena kamu sedang berbicara kepada Kurama-san. Apa aku benar?"
Nàruto mengangguk.
Tohka menoleh.
"Lalu, apa yang kalian bicarakan?"
"Ini berhubungan dengan alasan kenapa kalian bisa sampai di sini. Arus waktu dan riak dimensi?"
"Tunggu dulu, Kurama! Bukannya yang kau katakan saat itu adalah lubang hitam?"
"Aku belum selesai. Dasar payah!"
"Tapi..."
BLETAK!
"Sudah diam! Lebih baik cukup, dengarkan saja. Oke."
'Meskipun kemungkinannya kau tidak akan paham.'
Naruto hanya mengelus kepalanya yang benjol dan berasap.
"Hai... hai.. aku mengerti."
Kemudian Kurama mulai menjelaskan tentang banyak hal kepada mereka. Mulai dari pertarungan terakhir Naruto yang mencengangkan saat melawan Kaguya, kesalahan dan kecerobohannya, peristiwa saat pingsan di celah dimensi hingga mempertemukan mereka bertiga yang berakhir seperti sekarang ini.
Kurama juga membagi pengetahuannya mengenai batas dimensi dan ruang lingkup yang digambarkannya seperti pohon yang memiliki cabang, dan di setiap cabang memiliki ranting dan nantinya juga bercabang pula.
Sementara para gadis mendengarkan sembari melanjutkan kegiatan mereka, Naruto terus mendengarkan. Meski harus kesal dan kepala berasap. Yang benar saja! Semua penjelasan itu seperti rumus atau apapun yang membuatnya tambah pusing saat berada di dalam kelas.
Sepertinya kejadian saat ujian chunin tingkat 1 terulang kembali di dunia ini. Benar-benar nomor 1 penuh kejutan.
"Dari semua penjelasan tadi, kesimpulannya adalah kekacauan arus ruang dan waktu yang membentuk lubang hitam adalah hal yang mempertemukan kami."
Origami berkata seraya menghidangkan nabe di atas meja.
Kurama mengangguk dengan sebuah senyuman.
Tohka datang menyajikan telur goreng dan kopi susu hangat.
"Dan kemungkinan untuk pulang adalah nol. Tapi, siapa peduli."
Dia menaruh secangkir kopi susu hangat di hadapan semua orang yang duduk.
"Lagipula, tempatku pulang ya di sini.
"Aku sama denganmu, Tohka, tempatku ya di sini. Bersama kalian."
Setelah mengatakan isi pikirannya, Origami menyesap kopi susu di depannya. Kemudian pandangannya tertuju pada Naruto yang menyesap kopi susu juga.
"Kalau kamu sendiri, bagaimana, Naruto?"
Naruto hanya menyengir. Rasa kantuknya menghilang setelah meminum kopi susu hangat, diletakannya cangkir dengan isi setengah ke atas meja.
"Tempatmu pulang adalah dimana ada orang yang selalu memikirkan dan menunggumu. Dulu... aku selalu sendirian dan tidak ada yang menganggapku ada. Aku selalu ingin menjadi Hokage agar mereka mau mengakui keberadaanku..."
'Naruto.'
"Tapi setelah sampai di sini, aku malah sering kesal karena ulah dua gadis aneh dan semua hal-hal merepotkan lainnya."
"Siapa yang kau bilang aneh, huh?"
"Dan berkat itulah aku bisa merasakan hal seperti ini. Hal yang ku impikan sejak dulu. Hal yang kurasakan satu tahun terakhir ini bersama kalian. Suasana rumah! Dan mulai saat itu, tempatku pulang adalah 'kalian semua'."
Mendengar itu semua, Tohka dan Origami tersenyum. Berbeda dengan Kurama yang kini menenggak habis minumannya dengan ekspresi kesal.
'Bagus! Kau mengatakan apa yang kau rasakan saat ini pada mereka. Tapi pernahkah kau berpikir makna kata berdasarkan situasi! Kau mengatakan kalimat itu di depan dua gadis. Maksudku... tempatmu pulang adalah keluarga Yasaka dan mereka bukan? Baka! Baka! Baka! Baka! Kalau kau mengatakan hal tadi kepada mereka di situasi begini, kau lebih terlihat seperti mengatakan 'Origami, Tohka. Kalian berdua adalah tempatku untuk pulang.' Dasar payah! Apa kau akan melamar dua orang sekaligus! Payah! Payah! Payaaaah!'
Karena berteman, tidak memerlukan persyaratan.
Itu benar, kan?
.
.
.
Grigory.
Seorang gadis muda berambut biru panjang dengan poni menjuntai menutup mata kanan, dia berjalan dengan santai melewati lorong. Di sampingnya, berjalan seorang gadis berambut hitam panjang dengan gugup dan kikuk.
"Jadi... a-apa aku akan mendapat hukuman?"
"..."
"Katakan sesuatu..."
"..."
"Hei. "
"..."
"Kalawarner!'
"Panggil aku Izumi."
"Eh. Kenapa begitu?"
Menanggapi pertanyaan lawan bicaranya itu, Kalawarner atau sebut saja Izumi, menyerahkan map yang berisi beberapa kertas.
Gadis berambut hitam, Raynare, terbengong sesaat. Namun segera saja ia raih map itu dan memeriksa lembar pertama dalam kertas itu. Pupil matanya mondar-mandir men-scen tiap kata dalam kertas itu. Diperhatikannya dengan seksama biodata dengan foto sahabatnya itu.
[Nama: Izumi Konan.
Gender: perempuan
Usia : 20 Tahun.
Job : Editor Novel, Translator, and English teacher.]
Raynare langsung menutup map itu dan menatap Izumi guna menuntut penjelasan.
"Apa-apaan ini?"
"Itu sudah jelas, bukan? Lagipula di situ juga ada catatan mengenai dirimu."
Mengetahui hal itu, Raynare langsung memeriksa lembar lain yang berisi catatan tentangnya. Matanya menyipit saat menemukan apa yang dicarinya.
[Nama: Obino Reine.
Gender: perempuan
Usia : 18 Tahun
Status: pelajar.]
"Apa maksudnya ini!?"
Tak mempedulikan tatapan De Tensi lain padanya, Raynare meninggikan suaranya guna mendapat penjelasan yang memuaskan dari mulut teman birunya ini.
"Hei! Hei! Tenanglah sedikit. Kau mau merusak gendang telingaku ya?"
Izumi menutup telinganya sambil mengeluh, namun hal yang ia dapat hanyalah sebuah pelototan tajam.
Tak menghiraukan hal itu, Izumi menghentikan langkahnya.
"Kita sampai."
Mereka berhenti di depan pintu logam dengan arsitektur gaya klasik dengan aksen warna emas.
"I-inikan..."
"Azzel-sama sudah menunggu kita."
Izumi memuka pintu itu perlahan, menampakkan sosok pria paruh baya dengan rambut hitam dan poni depan berwarna pirang duduk di belakang meja yang penuh tumpukan kertas yang menggunung.
Pria itu, Azzel menatap keduanya dengan serius.
"Aku sudah menunggumu, The light Arrow. Dan oh... jadi dia yang kau ajak rupanya."
"Hei! Apa maksud semua ini? Dan siapa The light Arrow yang anda maksud, Azzel sama?"
Meski rasa bingung menguasai dirinya dan sempat panik, Raynare atau sebut saja Reine dalam biodata yang ditunjukkan Izumi berusaha bersikap seformal mungkin. Karena bagaimanapun di hadapannya saat ini adalah pemimpin tertinggi kaumnya.
Namun dia harus membulatkan matanya saat dengan santainya, Azzel mengarahkan jari telunjuknya ke arah Izumi. Kemudian berkata.
"Tentu saja teman birumu itu. Memangnya ada yang lain?"
Tarik nafas, tahan, hembuskan.
Reine mengatur nafas guna mendapatkan ketenangannya kembali. Semua rentetan kejadian ini benar-benar membuatnya pusing dan letih.
Pertama, teman birunya ini mendatanginya dan mengatakan bahwa dia mengetahui rencananya mengekstrak secret gard dari dal tubuh suster gereja Asia Argento dan membawa (menyeret) ke Grigory untuk diproses. Kedua, temannya ini seenaknya saja menunjukan profil samaran (mungkin) beserta biodata lengkap kepadanya, ditambah nama samaran baru untuknya yang justru membuatnya jengkel.
'Kenapa Obi (kain tenun) harus jadi margaku?'
Dan yang ketiga, kenapa dia sampai tidak tahu kalau orang yang ada di sampingnya ini memiliki julukan khusus dari atasannya?
"Jadi, kenapa aku dibawa ke sini? Kala.. ah maksudku Izumi pasti suda mengatakan semua tentangku kepada anda bukan, Azzel-sama?"
"Ya... dan itulah salah satu sebab kau dipanggil ke sini."
Reine menunduk,"Maaf."
Mengabaikan reaksi Reine, Izumi melangkah ke depan. Dia menyerahkan map yang sebelumnya dia perlihatkan kepada Reine kepada atasannya. Membungkuk sedikit kemudian melangkah mundur ke posisi awalnya.
Azzel membaca lembar demi lembar dengan seksama. Selesai dengan itu, dia berucap tegas.
"Izumi! Reine!"
"H-hai!"
"Mulai saat ini kalian kutugaskan dalam satu tim. Tim ini kuberi nama Red Cloud (Akatsuki) dan tugas pertama kalian adalah menggagalkan rencana pembelot untuk mengakstrak secret gard. Kegagalan berarti mati karena misi ini juga menyangkut ketiga Fraksi kalian mengerti!"
"KAMI MENGERTI!"
Mendengar kata-kata tegas dari pemimpin mereka, baik Izumi maupun Reine yang awalnya putus asa. Kini mendapatkan semangat dan cahaya baru. Cahaya dimana semua perasaan mereka berkumpul. Cahaya yang juga mewakili semua mimpi mereka. Mimpi untuk terlepas dari bayang peperangan. Cahaya... yang bisa disebut...
Harapan.
Azzel menunjukkan senyum penuh semangat. Senyum yang lama tak ia tunjukkan kepada siapapun.
"Sekarang laksanakan! Aku bergantung pada kalian, Red Cloud."
"Yokai/Roger!"
Bersamaan dengan selesainya sahutan itu, tim dadakan, Red Cloud, langsung menghilang layaknya memakai sunsin no jutsu menyisakan helaian bulu gagak hitam yang berjatuhan.
Azzel terkekeh. Pandangannya tertuju pada buku kecil di laci meja yang terbuka. Buku terbuka yang berisi percakapan dalam novel.
"Heheheheheee... ternyata seru juga memakai gaya Hokage saat memberi perintah. Selain itu..."
Pandangannya beralih kepada gambar wanita berambut pirang dengan nama "Godaime Hokage: Senju Tsunade."
"Mueheheheee... Meski dahinya lebar tapi, bagian depan besar juga. Andai dia adalah istriku... ah! Senangnya..."
Mendengar itu, editor menjadi kesal. Sementara penulis membatin.
'Andai orang yang kau bicarakan itu ada di depanmu. Bisa dipastikan nasibmu 11-12 dengan si pertapa genit dari gunung mioboku saat ketahuan mengintipnya sedang mandi.'
Begitulah kira-kira akhirnya.
.
.
.
Kuoh Gakuen. Waktu istirahat.
"Itadakimasu!"
Di ruang kelas XI B di salah satu sudut ruangan, sembilan remaja berkumpul layaknya keluarga. Tampak jelas raut kebahagiaan saat menyantap bento yang mereka bawa di waktu istirahat. Mereka duduk dan merapatkan empat meja untuk menambah kesan kebersamaan. Duduk membentuk cekungan dalam suasana santai dan sukacita.
"Hiks... Hiks... Aku sangat bahagia hari ini!"
"Kau sudah mengatakan itu lima kali hari ini, Matsuda. Tapi kau benar! Ini adalah saat paling membahagiakan dalam hidupku!"
"Hoi, berhentilah menangis dan makan bentomu itu! Dasar kepala bakso. Kau juga! Aku tak percaya kau mengatakan hal seperti itu sambil menangis tebayou! Ero magane."
Matsuda pundung.
"JANGAN SEENAKNYA MEMBERI JULUKAN! Julukanku itu, KALKULATOR BWH, TAHU!" teriak Motohama.
"Itu malah lebih parah. Tebayoo."
"Hei! Kalian bertiga! Berhentilah mengoceh dan makanlah!"
Seorang siswi berambut coklat twintail, Murayama si ketua klub kendo berceletuk karena tidak tahan dengan suara berisik tiga orang laki-laki yang ada di depan mejanya.
"Itu benar. Lagian kalau makan sambil bicara, kalian bisa tersedak lho."
Siswi lain berambut pink pendek, Katase, turut menyetujui sambil memberikan nasehatnya.
"Iya, iya... aku mengerti. Dasar bawel."
"Berisik! Dasar kuning!"
"Pingky."
"Kucing!"
"Jidat Lebar."
"Mattaku."
Origami menghela nafas, menyaksikan perdebatan kembali terjadi.
Yang lain hanya memperhatikan sambil mengutas senyuman. Meski kadang ribut dan saling ejek (terutama bagi orang berisik) ekspresi mereka tampak cerah, berseri dan penuh kehangatan.
Ya... begitulah acara makan yang mereka lalui setiap jam istirahat. Duduk berkumpul dalam suasana yang ricuh namun hangat. Semua yang mereka lakukan hanyalah kebiasaan untuk bisa saling mengenal dan mempererat persahabatan mereka.
Sementara semua orang sedang larut dalam kehangatan itu. Siswa berambut coklat model pantat bebek malah melamun. Entah apa yang dipikirkannya, sampai tidak memperhatikan keadaan sekitarnya, bahkan bento yang dibawanya pun tak ia sentuh.
"Kau kenapa? Ise, apa kau sakit?"
Matsuda yg sempat pundung, bertanya heran.
"A-aah... tidak. Aku tidak apa-apa kok. I-itadakimasu!"
Matsuda ingin bertanya lebih. Namun harus ia urungkan saat mendengar suara lain yang memanggil teman sejawatnya itu.
"Ise-kun! Yang lain sudah berkumpul di klub. Mereka meminta kami untuk menjemputmu."
Siswa kelas XI A, Yuuto Kiba, menghampiri mereka dengan senyuman yang selalu melekat di wajahnya. Di belakangnya juga ada siswi angkatan pertama, seorang gadis berambut putih sebahu, bertubuh kecil. Mata emasnya memandang datar kedepan. Dialah Toujou Koneko.
"Issei-senpai dan kebiasaan barunya."
"Ugh... entah kenapa, kau seperti ingin mengataiku raja telat, Koneko-chan."
"Itu hanya perasaanmu."
"Mungkin?"
"Karena kau sering datang terlambat."
"Huaaa! Kau kejam! Koneko-chan."
"Sudah pergi sana! Dasar pengkhianat!"
Motohama berkata dengan kesal sambil mendorong punggung sahabatnya agar lekas pergi. Bukan karena membenci atau hal semacamnya. Ini memang kebiasaannya, dia tidak ingin membuat teman mesumnya ini ditunggu terlalu lama oleh rekan seklubnya.
"Iya... Iyaa...! Maaf deh. Aku menapaki jalan kedewasaan lebih cepat dari kalian. Hahaha!"
"Berisik!" ungkap Matsuda dan Motohama kompak.
"Baiklah! Buchou dan Akeno-san pasti sudah menunggu. Kita pergi, Kasanova!"
"Tunggu, Ise-kun! Ah... dia itu... Maaf, jika Ise-kun banyak merepotkan kalian. Ja nee... Minna."
"Um.. tidak masalah. Lagipula Issei orang yang baik kok."
"Itu benar! Hanya saja... kemesumannya harus dikekang sedikit."
Kiba terkekeh. Setelah menyampaikan permohonan maaf, Kiba segera menyusul Issei yang terlebih dahulu meninggalkannya. Diikuti Koneko yang mengekor di belakangnya.
"Ne... nee... aku tak pernah tahu kalau ketua klub kendo yang terkenal galak, bisa mengatakan hal yang bagus."
Matsuda yang kebetulan berseberangan dengan Murayama berkata sedikit bercanda sambil memperhatikan bento yang kebetulan berada di depan dada Murayama.
SIINGG!
GLEK!
"Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan. Dan sekali lagi pandanganmu turun ke bawah saat bicara denganku!..."
Murayama berucap seraya mengacungkan sumpit tepat di depan bola mata Matsuda. Nada bicaranya penuh penekanan.
"A-aku mengerti. Maafkan aku."
Matsuda harus mencatat ini dalam otaknya.
'Perempuan itu sangat menakutkan.'
Kiryu yang sejak tadi hanya memperhatikan, hanya terkikik melihat interaksi teman sekelasnya.
'Katakanlah jika klub kendo dan trio mesum itu musuh bebuyutan. Maka, Naruto-san, Tohka-san, dan Origami-san adalah trio penuh kejutan yang bisa membuat dua kubu yang awalnya musuh menjadi teman ya... meski kadang ribut dan heboh. Kalian bertiga telah membuka mata kami semua dengan menunjukkan bahwa tidak ada batasan dalam sebuah persahabatan.'
.
.
.
Tempat yang tidak diketahui.
Di sudut ruangan yang gelap bertempat di ruang pengap, tanpa cahaya mempertegas bahwa ruangan itu berada di bawah tanah. Jeruji besi yang mendominasi adalah hal yang menjelaskan tempat itu adalah penjara.
Di salah satu ruangan yang diterangi cahaya lilin, seorang gadis kecil berambut pirang twintail duduk sambil menyandarkan punggungnya ke dinding. Mata birunya yang masih memancarkan harapan terus mondar-mandir memperhatikan tulisan di buku kecil yang berada dalam genggaman tangan kanannya. Kondisi tubuh, bisa dikatakan kurang baik. Kedua kaki dan tangan dirantai ditambah luka memar dan lebam di beberapa bagian karena hantaman benda tumpul membuatnya meringis karena sakit.
Meski begitu...
Seutas senyuman masih terukir di wajahnya. Itu bukan senyuman pasrah atau karena menertawakan keadaannya. Itu... karena dia memahami dengan jelas apa arti tulisan terakhir yang dibaca olehnya.
[Bersabarlah sedikit lagi. Malam ini kami akan membebaskanmu bersama dengan Asia-chan dan membawa mereka ke hadapan Azzel-sama.]
"Hati-hatilah. Nee-chan."
Dia berucap sambil mengingat saat dirinya merelakan tubuhnya sebagai tameng untuk dua orang mata-mata yang ia anggap sebagai kakaknya sendiri dari orang-orang yang mulai mencurigai mereka berdua sehingga berakhir seperti sekarang ini.
.
.
.
Saat ini trio penuh kejutan sedang dalam perjalanan pulang. Mereka pulang sambil membicarakan hal serius setelah Origami menunjukan hal yang mengejutkan.
"A-apa-apaan ini?!"
Lewat smartphone, mereka melihat video sekelompok anak SMA bertarung melawan monster di sebuah pabrik tua.
"Hm... pantas saja aku merasa tidak enak saat berpapasan dengan kelompok si mata empat itu. Tebayoo."
Sambil mengotak-atik smartphone miliknya, Origami kembali bersuara.
"Ya. Dan lihat betapa cerobohnya dirimu."
Kali ini kedua mata Naruto membulat.
Di sana tampak video saat dirinya beberapa kali memakai kekuatan ninjanya untuk menaiki dinding.
"Da-darimana?"
"Aku tanpa sengaja menemukan ini di komputer ruang OSIS. Sepertinya itu komputer pribadi. Kebetulan saja aku ada di sana saat sepi."
"Pantas saja tadi siang dia mengawasi kita terus. Lalu, apa masih ada video yang lain? Dan bagaimana kau mendapatkannya, tebayoo?"
"Tentu. Itu dari alat pengintai yang aku rancang sendiri, dua di antaranya kau hancurkan kemarin."
Tampaklah dua video berdurasi 10 detik dengan ending full face dari Naruto.
"EEEEEEEHH! Jadi itu ulahmu?! Pantas saja saat aku menepuk nyamuk di kamar mandi, tanganku jadi sakit!"
Tohka gagap,"K-k-k-k-kamar mandi!? Hei, sialan! Apa kau mau mengintip Naruto saat mandi, huh!"
"Aku tidak mengintipnya."
"Lantas?"
"Aku hanya menonton si kurus ini saat mandi."
Tangan Tohka mengepal kuat, "Grr..."
Naruto panik,"A-apa kau melihat semuanya?"
"Bagian belakang, iya."
'Ugh... paling tidak berbohonglah dengan mengatakan aku tidak melihat apa-apa, bodoh!' batin Naruto meratapi nasib.
"Yohohooo! Halo semua! Waahh! Ada anak sekolahan sedang main! Melihat kalian, aku jadi ingin membunuh kalian! Bolehkah? Apa? Boleh saja. Ouh... Bagus! Dengan senang hati akan kulakukan!"
Saat sampai di daerah sepi, tiba-tiba seorang pria berpakaian ala pendeta. Berambut perak dari nada bicara dan apa yang ia katakan. Sepertinya dia gila.
'Iiiihh... amit... Amiiit!' Batin Tohka.
'Orang ini bicara apa sih?' Naruto swwetdrop.
'Pasien rumah sakit jiwa yang kabur ya?' batin Origami.
"Hohhohoho!... kalian takut! Jangan khawatir, karena aku akan memotong kalian kecil-kecil. Hahaha..." pria itu mulai tertawa saat selesai berucap sambil memutar pedang cahaya di tangan kanannya searah jarum jam.
Kemudian...
WUUSSH!
Bersamaan hembusan angin, dia mulai melesat sambil menebaskan pedang cahayanya ke arah Naruto.
"Wuaaaahh! Kenapa kau menyerangku, tebayoo!? Apa salahkuuu?!"
"Kesalahanmu adalah warna rambut yang mirip kotoran. Itu menjijikkan lho!"
"JANGAN SEENAKMU SENDIRIII! DASAR UBANAANN!"
"NAMAKU FREET! INGAT ITU! KEPALA KOTORAN!"
"SIAPA YANG TANYA NAMAMUUU! UBAN GILAA!"
Si pria gila. Freet terus memberikan serangan kepada Naruto. Meski begitu, dengan kelincahan dan pengalamannya dalam pertarungan membuat semua serangan itu hanya menuju kegagalan. Tentu saja di sertai saling ejek di antara keduanya lewat teriakan. Adegan pertarungan itu, lebih mirip opera sabun bagi yang melihatnya.
Beralih ke sudut lain, tampak dua gadis muda sedang memperhatikan kejadian itu sambil bersandar di bawah pohon. Yang satu sedang asyik memakan pisang, satu lagi asyik dengan layar smartphone miliknya.
"Hei, Tohka."
"Apa?"
"Lihat ini."
Setelah membuang kulit pisang di tangannya, Tohka menggulirkan pandangan ke smartphone Origami.
Wajahnya langsung merah seketika.
"Ja-jangan beritahu Naruto. Oke."
"Ufufufufufufu... negosiasi. Eh?"
"Be-berisik!" Tohka menunjuk wajah Origami. "Pokoknya jangan beritahu dia. Dan sejak kapan kau meniru kebiasaan 'ekor kuda' kelas tiga itu, huh?"
"Himejima-senpai."
"Ya! Itu maksudku!"
Seolah mengingat sesuatu...
"hihihihihihiii...," Tohka terkikik.
Origami jadi penasaran,"Apa kamu habis terbentur?"
"Hehehe... jika kau ingin menunjukkan 'itu' pada Naruto, silahkan saja."
"Hn."
"Maka aku akan menceritakan 'kebiasaan' Origami terhadap pakaian Naruto."
Origami gagap,"U-u-itu..."
"Hei. Apa candaanku membuatmu sakit? Wajahmu merah."
.
.
.
Naruto pov.
.
.
.
"Shuriken! Kagebunsin no jutsu!"
Bagus! Kau tak akan bisa menghindar lagi!
Satu 'Shuriken' hasil jutsu dadakanku berhasil mengenai wajah si uban gila dan melumpuhkan penglihatannya untuk sementara. Dan empat Shuriken lain hanya jatuh di sekitar kakinya. Mungkin, karena tekanan angin.
['Sudah cukup. Jangan berlagak sok pintar dengan tingkah payahmu itu']
Berisik! Jangan mengganggu saat-saat terkeren dalam aksiku!
['Huh. Benarkah?']
"Woi, Kuning! Lain kali cobalah menggandakan jumlah pisangnya juga!"
Ugh... baiklah, baiklah! Yang kugandakan bukanlah shuriken asli. Itu hanya kulit pisang yang entah darimana jatuh di atas kepalaku.
Jika bertanya soal Shuriken/senjata ninja sejenisnya. Sebenarnya aku tidak membawanya karena bisa repot jika aku sampai mendapat titel buruk karena membawa senjata tajam ke sekolah.
['Padahal kau bisa menyimpannya ke fuin penyimpanan.']
Diaaamm! Kurama payah! Payah! Payah!
Selagi aku terus mengumpat kepada Kurama, si uban gila merogoh saku celananya lalu mengeluarkan... Handphone? Eh, dari petugas rumah sakit jiwa, kah?
"Baiklah, aku mengerti. Sepertinya waktunya telah tiba jadi..."
Hm... sambil bicara dia mengeluarkan benda lain dari kantung celananya.
"Sampai jumpa lagi!"
FLAAASSSH!
Uh... dia memakai bom cahaya untuk pergi. Apa-apaan ini?
['Naruto! Sejak tadi aku mengamati pria itu, dan kau tahu apa yang kudapatkan?']
Tidak! Selain kegilaannya.
['Aku belum selesai! Dasar payah! Yang ingin kukatakan adalah... orang itu, meski sedikit. Aku merasakan aura yang sama dengan yang dipancarkan editor novelmu.']
Aku terdiam sesaat. Mendadak perasaanku jadi tidak enak. Kemudian kukepalkan tinjuku.
"Kita pergi ke gereja."
.
.
.
Naruto pov End.
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Review kalian akan kami balas satu persatu di PM. Maaf, jika balasannya nanti lama.
Konflik mulai terlihat.
Bagaimana kelanjutan selanjutnya?
Saksikan di chapter 8.
Dari Bayu dan Hikasya
Minggu, 4 Juni 2017
