Fate/Abnormal
Pride of Emperor
Haloo! Zhitachi muncul lagi nih!
Untuk chapter ini King Ozymandias akan datang loh! Kekuatan dan kepandaiannya akan terlukis dalam sebuah pertarungan nanti. Oh ya, akan ada sosok misterius yang nantinya akan mengejutkan kita di akhir cerita loh! Penasaran?.
Sebelum di mulai, Zhitachi akan beri tahu bahwa dalam waktu dekat ini Rating di Fate/Abnormal akan ada Rate M. Untuk adegan berdarah atau pembunuhan menurut Zhitachi masih kurang mainsteam *Calon Psikopat nih orang*, jadi, untuk beberapa chapter ke depan (Mungkin) akan ada bumbu rate M.
And so, daripada kelamaan mending langsung baca aja yah...
Disclaimer: Type-Moon, Ufotable, Delight Work Inc.
Genre: History, Supranatural, Tragedy, Action.
Character: All Classes Servant, OC, Chara in Fate Stay Night UBW.
Rate:K+ up to M.
Sinopsis: Kekacauan Grail Wars kelima telah selesai secara tidak terduga, membuat Emiya Shiro menjadi bintang utama dalam Grail Wars ini. 5 tahun kemudian, keluarga Satou masih tidak menerima kekalahan telak pada Grail Wars sebelumnya dan bertekad mendatangkankembali perang tersebut. Tanpa ada bimbingan pengatur perang, Grail Wars keenam menjadi tidak seimbang, sehingga tragedi 5 tahun yang lalu kembali terulang, di waktu yang sama, namun di tempat berbeda. Siapakah yang mampu menghentikan kekacauan Grail Wars kali ini?.
*A/N: Cerita ini Zhitachi ambil dari alur sesudah Emiya Shiro menyelesaikan sekolah sihirnya di inggris bersama Rin Tohsaka*.
~Not Like, Don't Read~
Opening : Kyoumei no True Force ( Opening Seirei Tsukai no Blade Dance).
- Kono mune ni michite yuke…
Taira mengarahkan tangan kanannya ke samping wajah dengan memperlihatkan segel perintah ke kamera.
- Kedakaki kyoumei no True force…
Servant Saber mengulurkan tangan ke kamera dengan senyuman lembut.
-Look into your inner light-
Memperlihatkan sekilas para Servant beserta Master mereka dan juga judul di setiap jeda.
- I must be gone and die, or stay and alive…
Memperlihatkan suasana kelam masa lalu Saber sampai akhir kematiannya.
- So, your decision is the same as I believe…
Ia percaya kepada keyakinannya sampai akhirnya ia terjatuh ke dalam kegelapannya sendiri.
- Every light has its shadow, I'll bet…
Suasana menjadi cerah ketika bertemu dengan Taira.
- Let's be optimistic, fear not…
Memperlihatkan pertama kali Saber bertemu dengan Taira, serta beberapa inti adegan di cerita selanjutnya.
- "Tsuyosa ni imi wa aru no ka" to…
Terlihat Machi tengah berdiri di tengah luar ruangan dojo beserta Servantnya.
- Owari no nai chihei ga waratta…
Memperlihatkan seorang pemuda berambut biru tengah duduk santai di atas gedung dengan ditemani oleh Servant.
- Umareta riyuu nado jibun de kimeru mono sa…
Servant Lancer muncul dari atas dan mendarat dengan gerakan halus sembari berjalan ke depan, di sampingnya ada gadis berambut kuning sedang membenarkan sarung tangan kanan.
- 'He that fears death lives not'…
Terlihat Rin Tohsaka tengah berjalan dengan tergesa-gesa.
- So take a step towards me, dear…
Ada adegan dimana Servant milik Rin mengibaskan rambutnya sekali.
- Wasurerarenai kako sae…
Terlihat ada dua Servant tengah duduk di sebuah batu dengan berlawanan arah.
- Sutesareru basho ga mieru kai?
Servant sebelah kanan perlahan tersenyum tipis.
- Kirisake yo sora mo umi mo daichi mo tamashii mo…
Servant Saber dan Lancer dengan dibantu Servant Archer tengah berlari dan bertarung dengan Servant Rider.
- Seigi mo shinjitsu mo nani mo kamo wo Terase yo Shimmering light…
Sementara itu Servant Caster dibantu oleh Servant misterius tengah berhadapan dengan Servant Berserker. Terjadi dua ledakan besar secara bersamaan di dua pertarungan.
- Ikusen oku no toki wo mo koete…
Di lain tempat, Shiro, Rin, dan Taira tengah menghadapi Servant Assasin yang dibantu 'Dark Grail'.
- Kimi to deaeta kono guuzen wo…
Serangan dari 'Dark Grail' mengenai Taira dan mengirimnya ke kegelapan.
- Mune ni dakishimeru yo…
Ia mendarat di tempat mimpi yang pernah ia alami.
- Me ni utsuru wa arasoi darou ka…
Taira melangkah ke sebuah pedang aneh yang tertancap di tanah, terlihat beberapa hologram kesedihan dari wajah Machi dan Karin.
- Soretomo kanau ka douka mo shirenai kibou na no ka…
Dengan sekecil harapan di tangannya, ia menarik pedang itu. Seketika seluruh ruangan berubah menjadi terang.
- Michibike yo Holy silver light…
Ledakan besar muncul di tempat terakhir Taira menghilang.
- Seinaru yaiba wo nuki Shoudou wo…
Taira Muncul dengan beberapa zirah emas yang mirip seperti seseorang di mimpinya. Ia mengarahkan pedang tumpul itu ke arah Assasin.
- Mo tenazuke shouri e to…
Tatapan Taira menjadi tajam dengan dibalas senyuman iblis dari Assasin.
- True Force!
Muncul judul "Fate/Abnormal : Pride of Emperor" dengan kobaran api melingkari setiap huruf.
Chapter Seven : King of Ozymandias.
Alam sunyi seakan menemani diriku dalam kesendirian di dunia gelap. Tanpa suara ataupun sekecil cahaya. Suara kecil bernama mimpi seperti bergema di telingaku. Mimpi untuk anak kecil yang telah menggerakkan hatiku.
Lambat laun sebuah perasaan dirasakan. Marah, benci, dendam, nafsu, perasaan tersebut tengah membara di hatiku. Seakan bergabung menjadi satu dan mengikat dadaku.
Perlahan, sebuah gambaran kecil muncul di ingatanku, seorang anak kecil berambut ungu tengah bermain ria bersama seorang gadis. Dilihat dari tinggi badannya, gadis itu seperti kakak dari anak kecil itu.
Aku membuka mataku, perasaan yang belum pernah aku rasakan kini mulai memasuki hatiku. Sebuah perasaan yang seakan pernah aku rasakan. Tidak asing namun belum pernah merasakannya.
Aku merasakannya seperti...
Kehangatan dari kasih seorang kakak.
Aku ingin merasakan, seperti apa keindahan dan kehangatan itu. Apakah diriku pernah merasakannya?
Sebelum aku mempertanyakannya, hati kecilku ingin berkata, untuk apa menjadi kuat?.
Jika diriku menjadi kuat, untuk apa hasil kekuatan itu?
Jika diriku tidak kuat, perasaan apa yang aku rasakan ini ketika melihat orang kuat di depanku?.
Sekuat apapun itu, sekuat apapun tekadku, sehebat apapun kemampuanku, selama aku tidak bisa melindungi seseorang, untuk apa aku menjadi kuat?.
Tuhan, untuk sekali saja, biarkan diriku menentukan takdirku ini. diriku yang penuh kebimbangan terasa sangat menyakitkan.
Jika kau tidak bisa mengabulkannya, maka, untuk apa diriku di ciptakan?.
Harapan kecil ini akan terus menggangguku, sampai arti kematian mendekati jantungku.
Mindscape End...
Diana duduk di samping kanan Taira sembari membenarkan posisi selimut. Saber terlihat cukup cemas di samping Diana, terlihat dari posisi duduknya yang tidak tenang.
"Tenanglah Saber, Lancer sudah memeriksa keadaan Taira. Aku juga sudah mengeceknya dan tidak ada kelainan dalam tubuh Taira".
"Entah kenapa perasaanku menjadi tidak tenang, Diana".
"Apa ini tentang pertarungan sebelumnya?".
"Ma-Mana ada! Aku tidak akan goyah ataupun takut melawan Archer sekelas itu!" Ucapnya dengan keras, namun sedikit ada kata gugup.
"Lalu, apa yang kau khawatirkan?".
Perlahan Saber mulai tenang, namun sorot mata tajam mengarah ke Diana.
"Apa kau akan menyerangku saat Masterku sedang terluka, Master dari Lancer?".
Diana terdiam sesaat, ia tertawa keras usai mendengar ucapan Saber.
"Hahaha! Mana ada! Lagi pula Taira-chan sudah seperti adikku sendiri... Mana mungkin aku akan menyerangnya, kan?".
Saber tidak bergeming ketika mendengar pengakuan dari Diana.
"Maaf saja, aku sedikit tidak percaya pada siapapun kecuali kepada Masterku".
Diana kembali tenang, ia memajukan jari telunjuk kanannya ke depan dirinya.
"Begini saja, sebagai tanda gencatan senjata kita, aku tidak akan menyerang Taira-chan sampai mengalahkan Archer, bagaimana?".
Saber terdiam sesaat untuk memikirkan tawaran dari Diana, kali ini ia tersenyum.
"Baiklah, jawaban itu yang aku butuhkan".
"Oke, deal!".
Suasana menjadi hening untuk sesaat.
"Ne Diana, kau bilang ada seseorang yang membenci Servant, memang siapa dia?" Ucap Saber membuka suara.
Diana menoleh ke arah Saber, pandangannya sedikit menghadap ke atas sembari memegang dagu sekali.
"Hm~ Benar juga, memang ada orang atau bisa disebut mantan Master yang sangat membenci Servant".
"Mantan Master? Apa orang itu pernah mengikuti perang ini?".
"Ya, ia pernah mengikuti perang Cawan Suci, namun itu sudah lama sekali. Ia sangat kuat, lebih kuat dariku ataupun para Servant".
Jujur saja, Saber masih sedikit takut dengan kekuatan yang dimiliki oleh Diana. Hanya dengan seorang diri Diana mampu membuat Servant sekelas Archer dibuat sekarat. Kali ini ia mendengar bahwa masih ada satu orang yang lebih kuat darinya, jika benar, bagaimana ia bisa memenangkan perang ini?.
"Apa dia masih seorang manusia?".
"Dia memang masih seorang manusia, hanya saja...".
Ucapan Diana terpotong karena teringat sesuatu.
"Maaf, dia memang manusia, sama sepertiku".
"Sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, Diana" Ucap Saber dengan nada tajam.
"Suatu saat pasti kau akan bertemu dengannya... Satu-satunya manusia yang mampu mendekati kekuatan dewa, hanya ada satu dari milliaran manusia di bumi ini yang bisa mencapai titik batas dalam dirinya. Dia adalah kakak dari Taira sekaligus senpaiku, namanya...".
"Fujimaru Karin" Sambung Diana.
Karin menghentakkan kakinya berulang kali dengan rasa cemas, kini ia tengah terjebak dalam kemacetan panjang di jalur kota Fuyuki. Seharusnya ia sudah berada di dojo saat sore tadi, karena ada kepentingan lain di suatu tempat, kini ia harus terjebak dalam kemacetan panjang ini.
"Kenapa hari ini menjadi sangat macet!".
"Ma-Maaf komandan Karin, ti-tidak biasanya jam segini macet seperti ini" Balas supir dengan gugup.
Ia melipat tangannya di dada untuk mengurangi rasa cemas.
'Aku harap kau baik-baik saja di sana, Taira-chan'.
~ZHITACHI~
"Fujimaru Karin?" Tanya Saber.
"Dia adalah manusia pertama yang berhasil bertahan dan menang dalam perang Cawan di Sumeria, 15 tahun yang lalu".
"Seorang pemenang? Sepertinya ia musuh yang cukup hebat bagiku".
"Jika kau melawannya, hanya butuh dua detik untuk menumbangkanmu, Saber" Balas Diana tersenyum tipis sembari memejamkan mata sekali.
Saber segera berdiri tegak sembari sedikit memajukan dadanya, tangan kanannya ia arahkan ke dada sementara tangan kirinya berada di pinggang.
"Selama itu indah dan mempersona di mataku, sekuat apapun lawanku nanti, aku pasti akan melawannya!".
Diana tertawa tipis.
"Aku akan menantikannya, tapi jangan mati yah".
"Umu!".
Saber merasakan suatu energi yang cukup besar dari belakang dirinya.
Lancer muncul di belakang Diana sembari memberi hormat.
"Master, kita kedatangan tamu tidak diundang".
Diana memejamkan kembali matanya.
"Ya, aku tahu, persiapkan dirimu, Lancer".
"Baik!".
Lancer segera menghilang meninggalkan tekanan udara ringan.
"Saber, persiapkan dirimu".
Saber menatap tajam ke arah jendela kaca, ia merasakan sebuah bahaya yang akan datang ke tempat ini.
Ia menggenggam erat pedang hitamnya, kali ini ia ingin sedikit berguna untuk Masternya.
"Ya".
~ZHITACHI~
*Tap! Tap! Tap!*.
Pemuda bernama Ozymandias melangkah pelan sembari menunjukkan tatapan tajam ke depan, senyuman iblisnya seakan tengah mengukir kalimat di atas udara malam.
Ozymandias menoleh ke atas ketika ia merasakan puluhan tombak merah mengarah padanya. Ia tidak menghentikan langkahnya sembari memajukan tongkat.
"Hum!".
Sebuah pola rumit berbentuk lingkaran besar muncul di depan dirinya dan menangkis puluhan tombak merah.
Lancer mendarat tak jauh dari posisi Ozymandias.
"Pola sihir, yah? Ternyata kau seorang Caster".
"Hum! Serangan barusan tidak akan cukup untuk menghibur Pharaoh agung sepertiku".
*Wush!*.
*Tap!*.
Diana dan Saber mendarat di dekat Lancer.
"Maaf Master, seranganku mampu dipatahkan".
"Tidak apa, kita akan melawannya bersama".
"Kenapa kau tidak menggunakan serangan mematikan itu lagi, Diana?" Usul Saber.
"Serangan sekelas 'penghancur' seperti itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar, lagipula teknik itu tidak harus digunakan dua kali" Balas Diana sembari membenarkan sarung tangan kanan.
"Berarti tidak ada jalan lain selain melawannya secara langsung" Ucap Lancer.
"Ya, kita buat dia menjauhi dojo" Balas Diana sembari memasang kuda-kuda menyerang, disusul oleh Saber dan Lancer.
"Sudah cukup reuni kalian, budak!".
"Tenang saja, akan kubuat kau terpesona oleh teknik pedangku" Balas Saber dengan percaya diri.
Saber segera melesat ke arah Ozymandias dengan kecepatan tinggi. Saber melakukan tebasan dari samping kiri bawah sebagai awal pertarungan.
*Wush!*.
*Trang!*.
Serangan Saber ditahan oleh perisai tak kasat mata.
"Itu percuma!".
Ozymandias menghempaskan tongkatnya ke arah Saber.
Saber mengetahui pola serangan dari Ozymandias dan segera menjauhinya.
"Kali ini giliranmu, Lancer".
"Ya, Master!".
Kali ini Lancer berlari secepat angin ke arah samping kiri Ozymandias. Ia melakukan serangan menusuk ketika sudah berada di samping Ozymandias.
*Sring!*.
Seberkas cahaya laser terang muncul dari langit dan mengarah ke arah Lancer. Lancer segera menoleh ke sumber cahaya dan dengan cepat menghindarinya. Cahaya laser itu terus mengejar kemanapun Lancer pergi.
Serangan tersebut muncul untuk kedua kalinya dan mengarah ke Saber. Sama seperti Lancer, ia berlari tak tentu arah sembari menghindari serangan cahaya laser.
Cahaya laser berhenti tak lama kemudian, namun kerusakan yang ditimbulkan cukup kuat. Mungkin serangannya sekelas Divine spirit.
"Huahaha! Pemandangan yang cukup menarik dari tarian budak seperti kalian!" Ucap Ozy sembari tersenyum puas.
*Set!*.
*Tap!*.
Saber dan Lancer mendarat dan berdiri bersampingan.
Ia menoleh ke arah Lancer dan Saber sembari tertawa terbahak, namun ia tidak melihat gadis berambut pirang berjas yang sempat berdiri di dekat mereka.
"Bisakah kau diam sebentar".
*Set!*.
*Wush!*.
Diana muncul tepat di depan Ozy sembari membawa dorongan angin yang kuat. Tangan kanannya berada di belakang dengan telapak tangan ia genggam.
"Atau kau ingin kubungkam dengan seranganku ini!".
"Bagaimana bisa kau...".
"Enchant...".
Dia menggenggam erat tangan kanannya.
"Enforce Bullet!".
*Duak!*.
Diana memukul keras bagian perut Ozy, sebuah ledakan angin keluar dari punggung Ozy.
"Ukh!".
Ozy melepaskan pegangan di tongkat karena merasakan rasa sakit yang luar biasa. Ia melangkah kebelakang sembari memegang perutnya.
*Wush!*.
Kepalan tangan Diana menjadi berasap usai memukul telak bagian perut Ozy. Namun, nafasnya terasa sangat berat. Tubuhnya terasa sangat melemah usai menggunakan serangan barusan.
*Wush! Wush! Wush!*.
Tiga laser kecil muncul dari langit dan melesat ke arah Diana. Ia menoleh sekilas ke langit dan menghindari serangan tersebut.
*Wush!*.
*Tap!*.
Diana mendarat di depan Saber dan Lancer.
"Seranganmu mengenai sasaran, Master" Puji Lancer ke arah Diana.
*Bruk!*.
Tubuh Diana jatuh ke tanah namun dihalau dengan kaki kiri yang sempat menahannya. Tangan kirinya juga ikut menahan berat tubuh agar tidak jatuh ke tanah.
"Master!".
Lancer yang terlihat panik segera menghampiri Diana dan memegang pundaknya, disusul oleh Saber dari arah belakang.
Nafas Diana terdengar sangat berat, wajahnya penuh dengan keringat dingin yang terus bercucuran. Tubuhnya terasa sangat lemas sekali, ia seperti tidak mampu berdiri lagi karena energinya seperti terkuras habis.
"Maaf Lancer, hanya serangan ini yang bisa aku lakukan".
"Tidak apa, Master. Biarkan aku yang akan menyelesaikan pertarungan ini".
Diana tersenyum lemas ke arah Lancer.
"Ya".
"Saber, bawa Masterku ke dalam ruangan" Perintah Lancer saat menoleh ke arah Saber.
"Tidak usah Lancer, biarkan aku istirahat sejenak".
"Tapi dengan keadaanmu seperti itu...".
"Aku akan membantumu jika tubuhku sudah agak mendingan".
Lancer terdiam usai mendengar jawaban dari Masternya, ia tidak mungkin mengela ucapan dari Masternya itu.
Ia membawa Diana ke tembok pagar dan mengistirahatkan tubuh Diana. Diana perlahan menutup matanya. Lancer segera berdiri dengan tegap, tatapan tajam terlukis ke arah Ozymandias. Ia tidak akan mengecewakan Masternya kembali.
Lancer memanggil kembali dua tombak merah dan memegangnya dengan erat.
"Ayo Saber".
"Umu, akan kubantu dari belakang!".
Mereka berdua melesat ke arah Ozymandias.
~ZHITACHI~
Mindscape Diana...
Kali ini aku kembali terbaring lemah dan mengandalkan orang lain untuk melakukan tugasku, kekuatanku seperti tengah membebani jiwaku. Aku ingin setenang mungkin menghadapi masalah yang ada. Apapun masalah itu, aku tidak mau kembali seperti diriku yang dulu.
Lemah dan selalu mengandalkan orang lain.
Siapapun itu, dimanapun itu, pada masa kapanpun itu, diriku seperti tidak berguna.
Aku tidak mengerti, kenapa benda pengabul keinginan itu mengabulkan doaku. Doa yang seharusnya tidak ingin aku ucapkan.
"Aku ingin menjadi orang terkuat agar bisa berdiri di sampingnya".
Sungguh doa yang tidak berguna.
Namun, aku mengerti satu hal. Rasa kehilangan yang menyesakkan ini mulai aku rasakan. Rasa yang pernah ia alami selama 10 tahun. Rasa kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi dirinya.
Sekuat mungkin aku tidak ingin membuat dirinya meratapi kehilangan tersebut. Aku akan selalu berada disampingmu...
Wahai temanku...
Mindscape End...
Diana membuka perlahan kelopak matanya usai 15 menit dirinya tertidur. Dalam waktu tersebut, ia mengingat kembali perjuangannya sewaktu ia masih muda sampai ia menjadi sekarang.
Diana mengangkat tangan kanannya ke arah depan wajah. Sebuah perasaan yang sempat ia tinggalkan kembali ia rasakan.
"Aku ingin melupakan perasaan yang mengangguku selama 15 tahun ini, aku ingin sekali saja merasakan kedamaian bersama dia".
Diana menurunkan kembali tangan kanannya dan mencoba untuk berdiri. Hal pertama yang ia lihat adalah bangunan rumah yang luluh lantah. Bangunan rumah hancur layaknya seperti lilin yang sudah meleleh, tidak ada bangunan apapun selain dojo milik Taira yang masih berdiri kokoh.
"Kerusakannya sampai separah ini".
*Dum!*.
Hembasan kuat terdengar cukup dekat dari posisi Diana berada. Ia menoleh ke ledakan kecil itu dan segera berlari.
Saber terdiam di tanah usai menghantam bangunan dengan kuat. Luka yang dialaminya lebih parah saat melawan Archer waktu lalu.
*Wush!*.
*Dum!*.
Tak jauh dari posisi Saber, Lancer juga ikut terhempas ke arah tanah dengan kecepatan tinggi. Saber berusaha untuk berdiri kembali dengan luka yang cukup parah.
"Serangan lasernya membuatku sulit untuk mendekati orang itu".
Ozymandias berdiri kokoh di atas langit sembari memandangi musuh di bawah. Tatapan hina ia tunjukkan dari atas langit.
"Sepertinya permainan ini akan segera berakhir, aku sangat bodoh mengharapkan pertandingan yang menarik dari kalian berdua".
Ozy mengarahkan tongkatnya ke atas.
"Wahai para dewa, terimalah persembahanku! Turunkan langit kelabu yang berani menutupi keagungan dari wajahmu. Bimbinglah mereka menuju kematian terdalam dari neraka. Bawalah makhluk yang mampu membimbing mereka dalam kematian".
Langit malam seakan menerima doa dari Ozymandias. Sebuah cahaya terang muncul di atas dirinya dan membentuk lingkaran besar dari langit.
Diana muncul di dekat Lancer sembari membantunya untuk bangun.
"Bagaimana keadaanmu, Lancer?".
"Aku baik-baik saja, berhati-hatilah Master, dia bukan musuh yang tidak bisa dianggap remeh".
Diana menoleh ke arah cahaya lingkaran yang dipanggil oleh Ozymandias.
"Aku tahu".
Sebuah bola emas muncul dari tengah lingkaran cahaya, tak lama segera membentuk tubuh makhluk.
"Muncullah bersama eksistensi agung bersamaku!".
Seekor monster dengan tubuh bagian atas manusia dan bagian bawah seekor singa muncul dari langit dan terbang mendekati Ozymandias.
"Zhea Sphinix".
~ZHITACHI~
Seekor Sphinix berukuran besar tengah terbang di belakang Ozymandias.
"Hoi-hoi, ini bercanda bukan?" Ucap Saber ketika melihat makhluk itu.
"Dia bisa memanggil makhluk sekelas Divine Spirit dalam sekali mantra" Tambah Diana.
"Tidak mungkin Caster bisa memanggil makhluk sekuat Divine Spirit. Tidak ada satu Servant pun yang mampu memanggil makhluk sekelas Divine Spirit seperti itu, kecuali..." Ucap Lancer sembari mengamati monster tersebut.
"Servant Rider" Balas Diana.
Saber mendarat di samping Diana usai melompati beberapa reruntuhan gedung.
"Dia tidak akan segan melawan kita dengan kekuatan setengah-setengah" Ucap Saber.
"Bagaimana keadaanmu, Saber?" Tanya Diana ketika menoleh ke arah Saber.
"Aku masih baik-baik saja, luka seperti ini tidak mampu menutupi keindahan dari diriku" Balasnya dengan ucapan anggun.
Diana tersenyum sekali, ia menoleh kembali ke arah Rider.
"Master, aku punya rencana untuk mengalahkan monster itu beserta menjatuhkan harga diri Servant Rider" Ucap Lancer dengan nada pelan.
"Apa itu?" Tanya Diana.
"Tolong tahan monster itu untuk beberapa saat agar diriku bisa memanggil senjata pusakaku. Entah berapa persentase yang ada, tapi aku yakin mampu untuk membunuh monster itu".
Diana menoleh ke arah Lancer dengan tatapan tajam.
"Apa kau ingin menggunakan 'Noble Phantasm'?".
"Ini bukan 'Noble Phantasm', tapi serangan ini cukup untuk menumbangkan monster sekelas Divine Spirit".
Diana menoleh kembali ke arah Rider.
"Baiklah, aku ijinkan".
Lancer menundukkan sekali kepalanya.
"Terima kasih, Master".
"Tapi, sebelum itu, aku hanya bisa menggunakan dua atau tiga teknik peluruku. Lebih dari itu aku sudah tidak sanggup".
"Itu sudah lebih dari cukup, Master... Sisanya biar aku yang akan mengakhirinya".
Tatapan Diana menjadi serius ke arah Rider.
"Saber, apa kau ingin membantuku lagi?" Tanya Diana ke arah Saber.
"Selama itu menyenangkan, akan aku terima" Balas Saber.
"Bisakah kau menahan monster itu selama tiga menit?".
Wajah Saber yang semula tenang berubah menjadi lemas.
"Tiga menit menahan monster itu? Yang ada malah aku dibunuh olehnya!" Jawab Saber dengan lemas.
"Aku akan membantumu dari belakang, namun aku hanya bisa mengeluarkan tiga seranganku. Lebih dari itu aku akan kesulitan membantumu".
Saber memegang dahinya, ia menghela nafas sekali.
"Kenapa aku datang di waktu yang kurang tepat seperti ini?".
"Cukup basa-basinya! Zhea, serang mereka!" Ucap Rider sembari memberi perintah.
Raungan keras terdengar bergema dari atas langit seakan seperti mengguncangnya. Sphinix tersebut terbang ke arah mereka bertiga dengan kecepatan tinggi.
Saber, Lancer, dan Diana bersiap menyerang.
"Dia datang!" Ucap Lancer sembari menghilangkan tombak yang ia pegang.
"Ayo Saber!".
"Ya-ya".
Saber segera melompat melesat ke arah Sphinix di susul oleh Diana dari arah belakang.
Sphinix mengawali serangan dengan kaki kanan depan ia arahkan ke Saber dan Diana. Kuku tajam nan panjang itu terasa seperti ingin membutuhkan darah segar.
*Set!*.
*Trang!*.
Saber menahan cakar tersebut. Tubuhnya bergetar karena daya kuat yang dihasilkan oleh serangan kaki Sphinix. Udara yang mereka pijak juga ikut bergetar karena tidak kuat menahan dua kekuatan yang saling beradu.
*Set!*.
Diana melompat ke arah atas dengan bantuan dari punggung Saber. Dia memutar sekali tubuhnya dan segera melakukan hantaman kuat.
"Hiat!".
*Duak!*.
Pukulan pertama mampu Diana kerahkan ke monster Sphinix dengan kuat, membuat monster itu menghantam tanah dengan kecepatan tinggi.
Mereka berdua mendarat ke tanah dengan posisi tak jauh dari monster Sphinix jatuh.
*Deg!*.
Tubuh Diana bergetar sekali, menandakan tubuhnya tidak dalam keadaan normal.
"Seranganku masih belum terasa. Bersiaplah, Saber!".
Saber mengangkat pedangnya ke depan.
"Umu!".
Rider menoleh ke arah monster Sphinix yang tengah berada di tanah.
"Serangan seperti itu tidak mampu menundukkan si penguasa langit... Bangunlah, wahai pelayan dewa! Hadapi mereka dengan kekuatan terkuatmu!".
Monster Sphinix berusaha berdiri dari keterpurukannya. Raungan keras kembali ia keluarkan ke arah Diana dan Saber. Raungan tersebut seperti mengatakan bahwa serangan sekelas teri tidak mampu membuatnya jatuh.
Diana tahu, tubuhnya sudah tidak seperti keadaan semula. Efek samping dari serangan pamungkas yang ia kerahkan ke Archer membuat dirinya kehilangan setengah dari stamina dan energi dalam tubuh. Jika ia memaksakan kembali menggunakan serangan tersebut, efek samping yang paling berbahaya akan langsung menghentikan kinerja jantungnya.
Dia menggenggam tangan kanannya dengan kuat, ia hanya bisa melakukan serangan sekelas menengah untuk dua kali saja karena sudah tidak mungkin baginya mengeluarkan kembali kekuatan yang membutuhkan stamina sebanyak itu di saat tubuhnya tidak prima.
Ia mungkin saja ini menyerahkan tugas ini kepada Saber. Namun, dilihat dari serangannya yang tidak menimbulkan efek apapun kepada monster Sphinix, walau Servant sekelas Saber sekalipun akan kuwalahan melawannya sendiri. Diana akan mencoba membantu rencana Lancer dengan mengerahkan dua serangan menengah. Setelah itu ia baru bisa menyerahkan tugas ini kepada Servant miliknya.
'Aku mengandalkanmu, Lancer' Ucap Diana dalam batinnya.
Lancer tengah memejamkan kedua matanya, ia tidak menggerakkan satupun bagian tubuhnya walau sedang dalam keadaan gawat seperti ini. Ia seperti memfokuskan sesuatu.
Saber dan Diana segera berlari ke arah monster Sphinix.
Posisi mereka kini saling berdekatan, monster Sphinix menghantamkan kaki depannya ke tanah, tempat dimana posisi Saber berada. Saber segera berguling ke depan tepat sebelum kaki tersebut menghantam tanah untuk mengenai dirinya. Saber segera melakukan tebasan menyamping ke bagian belakang di kaki depan.
"Hiat!".
*Slash!*.
Tebasan panjang terukir di kaki tersebut, membuat monster Sphinix meraung kesakitan. Posisi berdiri Sphinix menjadi miring akibat kakinya yang terluka.
Diana juga melakukan pukulan super ke kaki kiri depan monster Sphinix, membuat monster itu seperti bersujud ke depan.
Tidak mau membuang kesempatan, Diana segera melompat ke arah depan monster Sphinix dan berniat menghantamkan pukulan ke wajah monster tersebut.
"Enforce Bullet!".
*Duak!*.
Pukulan kuat tepat mengenai pipi kiri monster itu, memaksanya untuk memutar leher ke samping kanan dengan kuat.
*Deg!*.
Kali ini Diana merasakan sakit yang luar biasa dari tubuhnya.
'Tubuhku...'.
Diana akan jatuh ke tanah tanpa bisa menggerakkan tubuhnya. Kepala monster Sphinix kembali seperti semula dan melihat Diana tengah tidak berdaya di tanah. Monster itu kembali berdiri dan mengangkat kaki kiri depan untuk menginjak Diana.
*Set!*.
Saber segera membuang pedangnya dan berlari ke arah Diana. Ia mengangkat tubuh lemas Diana dan segera berlari.
*Dum!*.
Ledakan kecil muncul usai monster itu menghentakkan kakinya, Saber dan Diana terhempas beberapa meter karena belum sempat sepenuhnya menghindari serangan tersebut.
Diana membuka mata kanannya secara perlahan, ia menggerakkan kepalanya ke arah Saber dengan gemetar. Tubuhnya kini seakan seperti mati rasa.
"Maaf membuatmu repot, Saber" Ucapnya disaat tubuhnya sangat lemas.
"Tubuhmu memang sudah lemah, Diana. Kenapa kau memaksakan sampai sejauh ini?" Balas Saber sembari memanggil kembali pedang hitam.
"Aku hanya ingin semampu mungkin menjaga orang yang berada dibelakangku".
Saber menoleh ke arah belakang dirinya, ia tahu maksud dari Diana ucapkan.
"Aku tahu itu, Diana. Kali ini serahkan kepadaku!".
Mereka berdua merasakan aura kuat dari arah samping kanan.
Aura merah muncul dan perlahan berjalan seperti melingkari tangan kiri Lancer. Aura serta tekanan tersebut merasa seperti ingin menekan indra pernafasan.
"Maaf menunggu lama, Master".
Di tangan kirinya kini ada sebuah tombak dengan warna merah pekat. Ujung tombaknya menyala terang disusul aura merah tengah menyelimuti tombak.
Rider menatap serius ke arah Lancer.
"Zhea, serang orang itu!".
Raungan keras keluar dari mulut monster itu.
Saber mengangkat tubuh Diana dan pergi untuk menjaga jaraknya dengan monster Sphinix.
Monster Sphinix berlari ke arah Lancer. Hentakkan keras berbunyi seperti tengah mengguncang bumi.
Lancer mengubah posisi tombak, ia menarik tangan kanan yang tengah memegang tombak kebelakang. Tubuhnya ia putar 180 derajat, kaki kanannya juga ia tarik ke belakang sementara tangan kirinya sejajar dengan wajah.
"Gáe...".
"... Bolg!".
Lancer melesatkan tombak merahnya dengan kecepatan tinggi, melebihi kecepatan angin maupun cahaya. Suasana menjadi lambat ketika tombak Lancer tengah melesat ke arah monster Sphinix.
*Wush!*.
Kecepatannya bagaikan angin yang tengah dilesatkan, melebihi kecepatan peluru, melebihi kecepatan keluarnya laser. Sebuah tombak yang seakan mengikis udara dengan kecepatan tinggi.
*Jleb!*.
Hanya butuh satu detik tombak Lancer mengenai dada monster Sphinix. Bahkan tidak ada dorongan angin yang timbul ketika tombak merah itu saling beradu bersama udara, hanya sekilas meninggalkan kilatan merah di jalurnya. Tombak itu seakan tidak mengijinkan siapapun untuk mengedipkan mata mereka ketika tombak ini dilesatkan. Ketika mereka selesai berkedip, tombak itu telah mengenai sasarannya.
Monster Sphinix meraung kesakitan, setelah itu ia jatuh ke tanah.
Saber, Diana, dan Rider terkejut bukan main ketika melihat kecepatan dari tombak tersebut. Kecepatan dari tombak tersebut tidak mampu mereka baca walaupun mereka tidak berkedip.
"Berani sekali kau menjatuhkan hewan surga!" Ucap Rider dengan nada keras ke Lancer.
"Serangan yang... menakutkan" Ucap Diana ketika melihat monster Sphinix tumbang oleh satu serangan.
Sementara itu...
Karin membuka pintu mobil dan segera berlari melewati kemacetan. Perasaannya semakin tidak menjadi ketika ia merasakan sekilas energi dari kota Adachi.
'Tunggu Taira-chan, aku akan ke sana'.
Machi tengah memandangi kilatan merah yang sekilas muncul di kota Adachi dengan ditemani oleh Archer. Kedua tangannya memegang syal merah yang selalu ia pakai. Perasaan khawatir seakan terus menekan hatinya.
"Taira-kun".
Dari dalam dojo, Taira perlahan bangun dari tidurnya. Ia mengarahkan tangan kanannya ke arah wajahnya sembari memegangnya sekali. Ia memandangi tangan tersebut lalu menggenggamnya dengan erat.
Wajahnya ia arahkan ke depan ketika merasakan kilat merah muncul tak jauh dari tempat dojo. Ia berdiri dan melangkah ke depan kaca.
*Set!*.
Tangannya menarik erat pakaian yang ia pegang, sehingga membuat bajunya sobek. Bagian dada dan perutnya terdapat pola garis ukiran berwarna merah sampai ke arah bawah leher dan atas lengan, perutnya yang dulu terlihat biasa kini menjadi six path.
Senyuman dingin nan tajam terlukis dari balik kaca. Sebuah perisai emas perlahan muncul di lengan kanan atas Taira dan sepasang anting juga muncul di telinga. Rambut bagian atasnya berubah menjadi kuning emas disusul pupil mata yang berubah menjadi merah.
Rider terlihat marah karena hewan panggilannya mampu ditundukkan dengan satu serangan. Rasa kesalnya perlahan beralih seperti biasa.
"Fuhuhahaha! Hebat juga kalian bisa menumbangkan makhluk sekelas surgawi" Puji Rider ke arah mereka.
Sebuah getaran muncul di samping dada monster Sphinix, seperti akan mengeluarkan sesuatu.
"Namun, pertarungan kedua akan segera dimulai!".
Sepasang tangan muncul ketika monster Sphinix usai menyobek bagian samping dadanya. Monster Sphinix segera berdiri dan menarik tombak merah yang tengah menancap di dada dengan tangan kiri.
*Sleb!*.
Tombak yang menancap di dada sudah ditarik, monster itu segera membuangnya ke samping. Ia membentuk pola tanda X dengan kedua tangannya.
*Srak!*.
Kali ini sepasang sayap muncul di belakang dada monster Sphinix. Monster tersebut segera terbang ke udara.
"Hoi, monster gila itu berevolusi!" Ucap Saber ketika melihat monster itu tengah terbang ke udara.
Lancer lebih terkejut ketika monster itu kembali bangun setelah menerima serangan mematikan darinya.
"Aku yakin serangan tersebut mengenai jantungnya dan membuatnya mati di tempat, tapi kenapa bisa...".
Rider meregangkan kedua tangannya ke samping, ia tersenyum puas sekaligus bahagia.
"Fuhuhahahaha! Kalian pikir bisa menumbangkan hewan peliharaanku dengan sekali serang? Jangan berharap lebih, budak!".
Raungan keras kembali monster Sphinix lancarkan dari udara. Mereka berempat sudah kehabisan ide untuk melawan monster abadi tersebut.
*Wush!*.
Empat pedang beserta dua tombak melesat dari arah belakang mereka dan mengarah ke monster Sphinix. Monster Sphinix tidak sempat menghindarinya karena serangan tersebut cukup cepat, sehingga membuatnya harus kembali ke tanah.
Rider terkejut melihat serangan mendadak tersebut.
"Serangan ini, jangan-jangan...".
*Tap! Tap! Tap!*.
Suara langkah kaki seseorang terdengar oleh mereka.
"Siapa yang mengijinkan makhluk biadap seperti itu berani menginjakkan kaki di wilayahku!".
*Tap!*.
Pemuda berambut pirang bercampur dengan warna ungu menghentikan langkahnya tak jauh dari posisi mereka. Tangan kirinya berada di pinggang sementara tangan kanannya mengarah ke depan. Lengan kanannya terdapat perisai kecil tengah menutupi bagian lengan atas, dan sepasang sepatu emas sebagai alas kaki. Hanya yang membedakan pemuda itu tidak memakai pakaian dan hanya mengenakan celana ungu gelap dengan sepasang zirah emas melingkari pinggang pemuda itu.
Diana menoleh ke arah sumber suara. Suara yang tidak pernah ia lupakan sekaligus ia ingat...
"Taira?".
~TBC~
Ending : Edelweiss (Ending Centaur no Nanami).
- If as Edelweiss, Scaring for the dark…
Awan kelabu menutupi cahaya matahari, perlahan meneteskan air matanya. Saber berdiri memandangi rerumputan luas di temani batu berukuran sedang di sampingnya dengan pakaiannya bukan berwarna putih melainkan merah.
- Soshite sekai ga, boku no koto wasurete mo…
Pandangannya masih ke arah depan, tidak peduli walau hujan akan turun. Ia menoleh pelan ke arah batu di sampingnya, layar mulai terangkat ke udara sambal merekam hujan datang. Terlintas ada beberapa adegan Saber tengah memimpin rakyat dan berakhir tertidur di atas batu sembari dengan leher berlumuran darah.
- Nandome no, magarikado darou…
Di suatu tempat, Saber tengah memimpin rakyatnya dengan anggun.
- Boku ga mita, kibou nara koko de…
Tempat berganti di depan ruangan atas istana, Saber berdiri sembari meregangkan tangan ke arah kota, tidak lupa ia tersenyum ke arah kota tersebut.
- Dare demo nai, kimi ga iru sore dake de ii…
Terlihat beberapa perajurit sedang mendiskusi untuk melakukan rencana pembakaran kota.
- Waratte…
Penduduk kota berlarian karena seluruh kota tengah terbakar dengan kobaran api yang besar.
- Yagate!
Saber tersenyum puas ke arah kobaran api, ia seperti menikmati pemandangan yang dianggap indah itu.
- Rasen no you ni meguttemo…
Saber tengah meninjau kontruksi pembanguan Aiteus damestus yang dibangun di atas kota yang telah terbakar.
- Hana wa…
Ia menoleh sekilas ke arah samping.
- Kage no katachi o shiranai…
Seluruh warga mengecam pembangunan tersebut dan menyudutkan Saber. Waktu dan tempat berpindah, Saber duduk di dekat batu sembari memegang sebuah belati dan berniat mengarahkannya ke leher.
- If as Edelweiss, tenohira ni…
Waktu kembali ke awal, aliran waktu perlahan menjadi lambat. Saber menyentuh butiran air hujan dengan telunjuk kanan.
- If as Edelweiss, Scaring in the dark…
Beberapa cahaya perlahan muncul dari langit kelabu, menghapus beberapa bagian dari awan kelabu.
- Soushite sekai ga, boku no koto wasurete mo kidzukenai…
Ia perlahan menyadari bahwa perilakunya di masa lampau memang salah. Waktu di sekitar Saber mulai berjalan seperti semula.
- Kaze ni obieteta…
Dunia yang di tempati saber perlahan berubah, pakaiannya juga ikut berubah menjadi pakaian awal yaitu gaun putih.
- Boku mo mata, kawatteiku yo!
Di depannya kini ada Taira sembari mengulurkan tangan kanan dengan senyuman tipis ia tunjukkan ke Saber. Saber membalasnya dengan senyuman bahagia.
Cyaa, akhirnya selesai juga... Akhirnya Taira sudah sepenuhnya dirasuki oleh roh raja pahlawan aka Gilgamesh-sama! Di cerita ini akan ada dua Gilgamesh yang akan mengikuti HGW keenam. Namun, untuk Gilgamesh yang merasuki Taira tidak akan sepenuhnya aktif karena dia tidak memiliki tubuh fisik melainkan hanya merasuki orang lain.
Para readers pasti bingung karena Zhitachi sering mengsingkat nama Ozymandias menjadi Ozy, Zhitachi melakukan hal tersebut karena lebih mudah untuk di baca dan sekaligus gak ribet untuk ditulis *Diholy Light sama Ozy*.
Di chapter selanjutnya mungkin Emiya dan Rin akan muncul untuk menggantikan sementara heroin utama kita. Dan mungkin juga nanti Zhitachi akan jelaskan sedikit kemampuan dari Fujimaru Karin yang dikatakan mampu melenyapkan Servant dalam beberapa serangan saja.
Oke, mungkin itu saja yang Zhitachi sampaikan, sampai jumpa di minggu depan...
*Kritik dan Review dari Reader sekalian akan sangat memotivasi Zhitachi untuk menjadi lebih baik*.
