Naruto is belongs to Masashi Kisimoto

.

.

Suara gemericik air terdengar dari halaman belakang mansion Akasuna. Disana terlihat seorang gadisbersurai merah muda yang sedang mengayun-ayunkan kakinya di dalam air yang tertampung dalam sebuah kotak yang berukuran jingga yang menghiasi langit yang merupakan pertanda bahwa malam akan segera menjelang tak diindahkannya. Dia hanya sedang ingin menikmati saat-saat kesendiriannya seperti ini. Teringat akan perjanjiannya dengan sahabat karibnya beberapa waktu yang lalu. Perasaan bersalah, menyesal dan sedih seketika menyelimutinya. Baru beberapa detik yang lalu gadis itu menyadari tindakan ceroboh dan bodohnya itu. Dia teringat akan sesosok makhluk kecil nan imut yang dia libatkan dalam taruhannya. Meskipun hanya binatang liar-sebelum dia curi dari hutan beberapa minggu lalu- tetap saja, Sakura menyayangi Shiro dan sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Saat dia merasa senang dia berlari pada Shiro. Saat kesepian menggerogotinya dia peluk dan mengelus bulu halus kelinci mungil itu. Dan sekarang dengan bodohnya dia menjadikannya bahan taruhan konyol bersama Ino. Sebenarnya Ino yang meminta, tapi tetap saja dia juga salah karena dengan entengnya menyetujui.

Dia benar-benar belum siap jika harus kehilangan Sakura yakin dia tak akan pernah memiliki perasaan khusus pada pemuda emo itu dan pada akhirnya dia keluar sebagai pemenang, tetap saja Sakura merasa tidak tenang.

"Shiro..maafkan aku.." ujar Sakura lirih. Diangkatnya kedua kakinya kamudian menekuknya dan membenamkan kepalanya disana.

PUK

Sakura kaget dengan tepukan halus yang sarat akan kasih sayang yang mendarat di pucuk kepala merah mudanya. Tapi dia tak mengacuhkannya dan tetap membenamkan kepalanya. Bukannya dia merasa takuta tau apa. Dia tahu benar jika orang tersebut pasti adalah orangsekitarnya. Tentu saja dia bisa seyakin itu karena siapa sih orang jahat yang dengan nekadnya berani menerobos masuk mansion Akasuna, berani mengambil resiko jika daging-dagingnya dikoyak oleh beberapa ekor Herder dan babak belur di tangan para pria berbadan besar hanya demi menepuk halus kepalanya lalu hilang begitu saja setelah berhasil melakukannya. Seperti yang pernah dia baca di buku-buku dongeng sewaktu dia masih duduk di bangku playgroup. Seorang pangeran yang rela berkorban bahkan dengan nyawanya hanya untuk mencium sang puti ketika sedang tertidur dan kemudian lenyap bersama angin malam ketika sang putri membuka matanya. Oke lupakan ini berlebihan. Sakura masih asyik dengan kegiatannya tanpa berniat untuk mendongak dan melihat siapa orang di belakangnya.

Orang tersebu tmendengu spelan. Lalu tanpa seijin Sakura diangkatnya tubuh mungil itu dan menggendongnya dengan paksa.

Mendapat perlakuan demikian membuat Sakura berontak dan mengayun-ayunkan kakinya menendang udara kosong.

"H-hey..Nii-san turunkan aku. Kau pikir aku barang apa?seenaknya saja mengangkatku sepertii ni. Turunkan aku!"

Gaara tak menanggapinya. Pemuda itu berjalan dengan santainya kedalam mansion mengabaikan tatapan aneh dari para maid. Pukulan Sakura yang melayang di dada bidangnya tak lebih dari pijatan kasih sayang baginya.

Sakura heran dengan perubahan sikap Gaara yang tiba-tiba. Dia benar-benar merindukan sosok kakak yang seperti ini. Lalu tangan yang tadinya dia gunakan untuk memukuli dada Gaara berbalik memeluk lehernya. Membuat tubuh Gaara menegang selama beberapa detik. Namun tak ayal membuat hatinya menghangat, menikmati sentuhan Sakura.

Sakura semakin heran saat Gaara membawanya kekamarnya lalu menuju kamar mandi.

"Matte..apa yang akan kau lakukan Nii-san?" Tanya Sakura saat Gaara meletakkannya di bath up.

"Aku tahu kau belum mandi, jadi.." ucap Gaara sembari menyeringai, membuat Sakura blushing.

"B-baka!"

"Mandilah..kau sangat bau. Kutunggu di meja makan" ucap Gaara kemudian berlalu dari Sakura yang masih merona.

.

"Sampai kapan kau akan terus memandangiku sepert iitu" Ucap Gaara pada Sakura yang tengah duduk diatas ranjangnya.

Seusai makan malam Gaara memutuskan untuk 'berkunjung' di kamar saja hal ini mengundang rasa penasaran menjawab pertanyaan Gaara, gadis itu malah semakin menatap lekat Gaara yang duduk di kursi di samping ranjangnya. Kemudian kepalanya tertunduk, beberapa helai rambutnya yang terjatuh menutupi sebagian wajahnya. Membuat Gaara tak bisa melihat raut wajahnya saati ni.

"Maaf" ucap Gaara lirih.

Sakura mengangkat kepalanya menatap sang Aniiki. Berharap bahwa telinganya memang benar-benar masih normal untuk sekedar mendengar kata barusan.

"Maaf atas sikapku selamai ni, Saki. Aku bukan sosok kakak yang baik,"

Sakura menggelengkan kepalanya lalu menerjang tubuh Gaara dengan pelukan mautnya. Matanya memanas, mati-matian dia tahan agar air matanya tidak keluar. Tidak. Egonya yang tinggi tak mengijinkannya untuk terlihat cengeng di depan pemudaitu. Sekalipun dia adalah kakaknya sendiri.

"Tidak..jangan meminta maaf Nii-san . Aku yang bersalah karena berani membentakmu waktu itu.." ucap Sakura dengan suara bergetar.

Tangan Gaara mengelus lembu thelaian yang selalu hadir dalam pikirannya hatinya terpatri untuk selalu melindungi gadis inid engan segenap nyawa yang dimilikinya. Karena dialah satu-satunya harta berharganya yang masiht ersisa.

Merasa heran dengan diamnya Sakura, Gaara mengguncang pelan tubuh gadis itu. Namun belum sempat melakukannya sebuah dengkuran halus terdengar di telinganya. Dilihatnya wajah damai dan polos itu. Senyum lembut tercetak di wajahnya. Lalu dibaringkannya tubuh Sakura lalu menyelimutinya. Jade-nya menatap dalam wajah gadis itu dan mendekatkan wajahnya. Meneguk susah payah ludahnya saat melihat bibir pink yang sedikit terbuka itu. Seakan tersadar sesuatu digelengkan kepalanya kuat. Lalu mencium dahi lebar Sakura sebelum meninggalkan kamarnya.

"Oyasumi, Hime.."

.

.

"Bunuh para manusia kotor itu, bocah"

JRASHH

Pisau yang menancap di leher pria yang tergeletak di depannya dengan mulut menganga itu dicabutnya paksa. Pupil onyx itu mengecil. Menatap ta percaya dengan apa yang baru saja dia lakukan.

Suara sirine mobil polisi membelah malam yang mencekam. Seorang pria berambut hitam panjang mendecih.

"Tou-chan!"

JDUG

Merasa penasaran dengan kedua suara tersebut, sang bocah mencoba untuk menoleh mencari sumber datangnya suara. Namun belum sepat dia melakukannya, sebuah tangan besar menggenggamnya dan membawanya pergi dari tempat yang dipenuhi bau anyir darah itu. sepasang mata beriris emerald tak luput dari pandangannya walaupun hanya sepintas.

.

Sasuke terbangun ketika dirasanya tenggorokannya kering. Setetes keringat sebesar biji jagung meluncur dari dahinya. Menegakan tubuhnya lalu diedarkan matanya menuju langit diluar. Gelap. Angka berwarna merah menyala pada sebuah benda berbentuk kotak yang terletak diatas meja samping ranjangnya menunjukan pukul 03.12 dini hari.

Diulurkan tangannya pada sebuah gelas berisi air putih dan menenggaknya habis. Dala keremangan cahaya lampu tidurnya dapat terlihat kerutan samar yang tercetak di wajah tirus itu. Sasuke termasuk tipe orang yan tidak mau mengambil pusing sesuatu hal yang menurutnya tidak jelas dan tidak penting. Tapi entah mengapa mimpi yang barusan dialaminya mengusik benaknya. Bukankah itu hanya mimpi?dan bukankah mimpi itu hanya bunga tidur? Jadi tidak mungkin dia mengenali atau mengalami mimpi 'aneh' tersebut.

Lagipula yang dia percayai adalah segala sesuatu yang bersifat real. Segala sesuatu yang bersifat konkret. Bukan mimpi tak bermakna yang mengganggu kenyamanan tidurnya itu.

Butuh beberapa belas menit untuk menetralkan pikiran kacaunya sebelum kemudian kembali merebahkan diri dan memejamkan matamembiarkan mimpi kembali membuainya dalam tidur.

.

.

Segala sesuatu yang bersifat ramai dan bising adalah hal yang paling dibenci oleh Uchiha Sasuke. Bukannya apa, dia hanya merasa tidak mendapatkan privasi dari orang-orang yang sebagian besar menatap damba padanya. Memang ada kebanggan tersendiri dalam dirinya karena pesona yang dia miliki, tapi tetap saja. Dia tetap merasa risih dengan perilaku para fangirl-nya yang menurutnya berlebihan.

Bising dapat disangkut pautkan dengan warna kuning, duren, dan tiga kumis rubah. Ya siapa lagi kalau bukan si pemuda Namikaze. Pemuda itu sedari tadi berceloteh tentang hal-hal mulai dari yang agak tidak penting, tidak penting, dan teramat tidak penting. Hal tidak penting yang dibicarakannya adalah mengenai rok indigo milik Hinata terlalu panjang yaitu 3 cm diatas lutut. Demi kerutan di dahi Itachi, Sasuke berani bertaruh bahwa sebagian isi kepala duren itu memang sudah terkontaminasi oleh ajaran 'menyimpang' Kakashi. Hanya dengan melihat saja pemuda itu tahu berapa panjang rok seorang siswi.

Hal tidak penting yang dibicarakan oleh pemuda Namikaze adalah soal ramen di kedai langganannya yang rasanya terlalu asin ketika dia sedang berkunjung kesana dua hari yang lalu. Pemuda itu mengeluhkan persembahan terakhir dari paman Teuchi untuknya sebelum berangkat 'misi'. Seharusnya di hari terakhir dia mencicipi ramen sebelum akhirnya harus berpisah jauh dari separuh nyawanya tersebut sang pemilik kedai menyajikan ramen spesial plus diskon 75%, hitung-hitung sebagai salam perpisahan. Tapi itulah manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan.

Dan hal paling tidak penting yang pemuda blonde itu katakan adalah mengenai seorang siswa berambut aneh yang baru saja turun dari Porsche 911 di depan gerbang dan disambut dengan kecupan di dahi lebarnya oleh seorang laki-laki yang mirip dengan panda berambut merah.

'Tunggu dulu, apa yang barusan dobe katakan?'

Kepala raven Sasuke bergerak mengikuti arah pandang Naruto. Beberapa meter dari tempatnya, berdiri dua orang berlain gender yang berdiri berhadapan. Pandangan si pemuda itu melembut menatap gadis di depannya. Sasuke hanya menatap datar mereka berdua sampai si pemuda merah beserta Porsce 911-nya melesat pergi dan sang gadis musim semi itu berjalan kearahnya. Sakura menatap dingin Sasuke yang baru saja dilewatinya. Sedangkan Sasuke hanya membalasnya dengan tatapan yang tak dapat didefinisikan.

.

"Kenapa kau duduk disini, Uchiha!" seru Sakura lantang seraya menunjuk Sasuke tepat di hidungnya.

"Hn berisik"

Sakura mendecak kesal melihat tingkah Uchiha satu itu. Diedarkan pandangannya menjelajahi seluruh kursi didalam bus yang sudah penuh. Menggigit bibir bawahnya, dengan berat hati Sakura mendudukan pantatnya di samping Sasuke. Tangan mungilnya memindahkan boneka ayam berukuran sedang yang dari tadi di dekapnya ketengah-tengah kuri. Menjadi pemisah antara dirinya dengan Sasuke.

"Berani kau melewati batas ini, kucukur habis rambut pantat ayammu. Mengerti!" seru Sakura sambil menunjuk Sasuke-lagi-tepat di hidungnya dan disingkirkan dengan paksa oleh sang pemuda.

Sasuke hanya memandang datar kepala Sakura yang berpaling darinya.

TBC

Inilah chapter terpanjang yang pernah saya buat dan saya harap tidak ada kesalahan teknos-lagi- –''

Tinggalkan jejak dengan review ^^ thank you