GyuMin407

Present

"Broken Angel"

Rated-T, GS, Typo's, Newbie, Gak jelas, Alur berantakan

Romance, Drama, Angst, School Life.

Enjoy^o^

.

.

.

Kyuhyun tengah asik memandang keluar jendela, diluar sana teman-teman satu klub nya dulu sedang serius berlatih untuk persiapan turnamen antar sekolah dua minggu lagi. Kyuhyun menghela nafasnya pelan lalu tangan kirinya beralih menyentuh bahu kanannya.

Andai saja saat itu dia bisa mengontrol lemparannya, andai saja saat itu dia bisa bergerak lebih cepat dan menghindar dari bola itu, andai saja bola itu tidak mengarah kearahnya, andai saja…. Bahkan sekarang kata 'andai saja' yang dulu tabu kini menjadi sesuatu yang biasa untuk Kyuhyun.

Benar, Kyuhyun putus asa. Kyuhyun terpuruk.

"Hm… Pasti kamu ingin ikut berlatih bersama mereka juga, kan? Uhh tentu saja, Cho Kyuhyun kan seorang pitcher handal kebanggaan sekolah."

Kyuhyun menoleh ke samping, ke sumber suara yang ternyata berasal dari seorang gadis manis bernama Lee Sungmin. Gadis itu kini tengah memandang lurus kebawah, kelapangan utama sekolah tanpa memperdulikan Kyuhyun yang kini tengah menatapnya.

"Berlebihan, sekolah ini memiliki banyak pitcher. Kehilangan satu pitcher bukan lah apa-apa."

"Tapi kamu istimewa, bayangkan saja bola yang kamu lempar memiliki kecepatan lebih dari 90 mil. Oh my… Aku bahkan tidak bisa membayangkan betapa cepatnya bola itu melayang di udara…." Ucapan Sungmin terhenti begitu ia menoleh dan mendapati Kyuhyun tengah memandangnya intens.

Sungmin menelan ludah. Tiba-tiba saja dia merasakan gugup dengan intensitas yang berlebihan, bahkan itu berlaku pada seluruh system ditubuhnya. Mata kelam itu, entah sudah berapa kali Sungmin memuji ketajaman mata itu dalam hati ketika menatapnya intens. Menghanyutkan.

Kyuhyun mendekatkan tubuhnya kearah Sungmin yang mematung ditempatnya, ia pun berbisik tepat disamping telinga Sungmin dengan nada bicara yang dia buat seseksi mungkin. Oh… Tidak perlu dibuat-buat pun suaranya memang sudah seksi, setuju kan?

"Berhenti membahas hal yang tidak penting ini dan mari kita berkencan di akhir pekan nanti? Bagaimana?"

Kyuhyun menjauhkan tubuhnya dari Sungmin. Gadis itu masih mematung ditempatnya. Pandangannya terlihat tidak fokus. Apa yang terjadi pada gadis itu?

"Diam aku anggap iya." Kyuhyun berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kelas, sebelum benar-benar pergi dia sempat-sempatnya mengacak rambut Sungmin asal.

Sungmin baru benar-benar sadar ketika Kyuhyun sudah sampai diambang pintu kelas. Gadis itu menggerjapkan matanya berkali-kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya.

"Aishhh… Cho Kyuhyun…. Kamu berbahaya." Gumam Sungmin, ia pun beranjak berdiri dan duduk manis ditempatnya.

.

.

.

"Whoaaa… Ada apa gerangan, seorang Cho Kyuhyun yang akhir-akhir menghilang tiba-tiba datang kemari?" Kyuhyun hanya mengibaskan tangannya menanggapi candaan Hyukjae, ia pun mendudukan tubuhnya dihadapan Donghae dan Minho.

"Sepertinya kamu dan Sungmin semakin dekat saja, yakan?" goda Minho sambil sesekali mencolek bahu Kyuhyun.

"Donghae-ah, siapkan saja mobil mu untuk kau serahkan padaku." Donghae memutar bola matanya malas mendengar ucapan Kyuhyun. Sementara Minho, Kyuhyun, dan Hyukjae sudah tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Donghae yang mulai cemberut.

"Aku jadi penasaran bagaimana ya reaksi Sungmin jika tau tentang taruhan ini?" ucapan Hyukjae membuat tawa Minho dan Kyuhyun terhenti. Terutama Kyuhyun, pemuda itu langsung terdiam ketika ucapan Hyukjae memasuki indera pendengarannya.

Ya, bagaimana jika Sungmin tau? Bagaimana reaksi gadis itu jika tau dirinya hanya dijadikan bahan taruhan? Dia pasti kecewa sekali..

Tiba-tiba kalimat itu terngiang-ngiang diotak Kyuhyun. Bagaimana jika Sungmin tau? Suatu saat, entah cepat atau lambat Sungmin pasti tau soal taruhan ini. Lalu bagaimana jika gadis itu kecewa? Gadis itu marah? Atau bahkan tidak mau lagi bertemu dengannya? Bagaimana nanti?

Kyuhyun tidak menjawab atau menyahuti ucapan Hyukjae, dia hanya terdiam ditempatnya sambil menunduk ke bawah, seakan-akan lantai kantin lebih menarik dari pada bercanda dan berbincang dengan teman-temannya. Dia sibuk dengan fikirannya sendiri, sibuk memikirkan bagaimana reaksi gadis itu jika tau bahwa selama ini dirinya hanya menjadikan gadis itu bahan taruhan serta lucu-lucuan bersama teman-temannya.

Bagaimana ini….

.

.

.

"Aku jadi penasaran bagaimana ya reaksi Sungmin jika tau tentang taruhan ini?"

"J-Jadi… Mereka Cuma menjadikan Sungmin bahan taruhan?" Seohyun membulatkan matanya, sedikit tidak percaya dengan sesuatu yang baru saja dia dengar.

Meja dimana tempat Seohyun duduk kini memang berada tepat dibelakang meja Kyuhyun beserta teman-temannya, dan sepertinya Kyuhyun cees sama sekali tidak menyadari keberadaannya.

Hari ini Seohyun tidak sempat sarapan dirumah makanya dia memutuskan untuk sarapan dikantin sekolah. Tapi tidak disangka dia malah mendapat sebuah informasi penting secara Cuma-Cuma.

Lama gadis itu terdiam ditempatnya, bahkan dia menghentikan aktivitas makannya karna masih sedikit shock dengan apa yang baru saja didengarnya. Namun, sedetik kemudian seringai terpantri diwajah mulusnya. Dia pun kembali melanjutkan acara makannya yang sempat terhenti, diotaknya kini muncul banyak ide licik yang ditujukan untuk satu nama, Lee Sungmin.

.

.

.

"Lee Sungmin!" Kibum berlari kecil ke bangku penonton di pinggir lapangan tempat Sungmin duduk sekarang. Gadis itu membalas senyum Kibum sambil melambaikan tangannya ke udara.

"Ini!" Sungmin menyerahkan minuman kaleng yang sejak tadi dipegangnya kehadapan Kibum yang diterima oleh pemuda berkulit seputih salju itu.

Kibum menegak minuman kaleng yang Sungmin berikan rakus, entah dia yang terlalu haus atau isi minuman kaleng itu yang terlalu sedikit, Kibum berhasil menghabiskan minuman kaleng yang Sungmin berikan kurang dari lima menit. Sungmin sampai ternganga dibuatnya.

"Hehe mian… Aku benar-benar haus, terima kasih ya." Ucap Kibum disertai cengiran tanpa dosanya.

"Ah.. Ya, sama-sama." Sahut Sungmin seadanya.

Hening beberapa saat. Kibum kini sudah tidak terlihat separah tadi, rambut hitam nya yang tadi lepek karena keringat kini sudah mulai mengering, keringatnya pun sudah tidak keluar habis-habisan dari dahinya.

"Kau membolos, Min? Setau ku ini masih jam pelajaran, kenapa kamu disini?"

"Oh… Kelas ku sedang tidak ada guru, makanya aku kesini. Kenapa? kamu tidak suka aku disini yaa?"

Kibum buru-buru menggeleng sambil menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Dia benar-benar tidak keberatan Sungmin datang melihatnya, justru dia malah senang Sungmin mau datang dan melihatnya berlatih. Ada suatu kebahagiaan tersendiri dihati Kibum ketika melihat gadis itu tengah duduk dipinggir lapangan sambil melihatnya berlatih.

"Bagaimana lemparan ku tadi?" Kibum menoleh menatap Sungmin penuh minat, sementara yang ditatap kini tengah mengerucutkan bibir serta mengerutkan dahinya berfikir. Kibum yang melihatnya pun mati-matian menahan diri untuk tidak mencubit pipi chubby itu sekarang.

'Sabar Bum… Jangan buat singa betina ini mengamuk karena kamu mencubit pipinya' batin Kibum menguatkan.

"Karna aku tidak terlalu mengerti baseball, menurutku lemparan mu bagus."

Kibum menghela nafas.

"Berarti kamu akan tercengang jika melihat lemparan Kyuhyun. Lemparan ku tadi masih belum ada apa-apanya dengan bocah itu. Kalau dia masih ada di klub, aku yakin posisi pelempar inti tidak mungkin jatuh ketanganku."

"Benarkah? Jangan merendah begitu ah. Lalu, kalau misalkan Kyuhyun tiba-tiba memutuskan kembali, apakah posisi itu akan kembali ditempati Kyuhyun?"

"Entahlah, sepertinya tidak. Pelatih Choi sangat kecewa dengan keputusan Kyuhyun. Jika mau masuk lagi ke tim, mungkin tidak akan bisa semudah dulu saat dia memutuskan untuk keluar dari tim."

Sungmin mengangguk-angguk tanda dia paham dengan ucapan Kibum. Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara keduanya. Baik Sungmin maupun Kibum tidak ada yang berniat menyudahi keheningan diantara mereka, mereka lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan dunia dan fikirannya masing-masing.

.

.

.

"Eomma…" Sungmin melangkah masuk kedalam ruang inap Leeteuk, dia tersenyum kala melihat Leeteuk tengah duduk bersandar ditempat tidurnya. Ia pun bergegas mendekati Leeteuk yang kini tengah tersenyum menyambutnya.

"Tumben tidak sama Kyuhyun, Min?"

"Setelah bel pulang sekolah Kyuhyun menghilang Eomma, sepertinya dia marah sama Sungmin." Sungmin mengerucutkan bibirnya sambil menopang dagunya dipinggir tempat tidur, Leeteuk tersenyum sambil mengelus rambut Sungmin lembut. Dia benar-benar bersyukur akhirnya Sungmin mau menerimannya dengan baik sekarang.

"Kenapa Kyuhyun marah? Kalian bertengkar?"

"Hm.. Bertengkar sih tidak Eomma… Eomma, memang salah ya jika aku membantu Kyuhyun untuk mempertahankan mimpinya? Kyuhyun itu sombong sekali Eomma, sok-sok bilang sudah bosan dengan baseball, padahal didalam hatinya aku yakin dia masih sangat ingin bermain baseball. Ck!"

Leeteuk tertawa kecil saat melihat raut kesal anak gadisnya itu. Anak gadis? Tidak apa-apa kan jika sekarang dia menganggap Sungmin anak nya? Toh Sungmin juga sudah mau menerimanya.

"Eomma dengar juga Kyuhyun tidak datang ke rehabilitasinya, ayahnya sampai marah besar loh katanya. Hm… Menurut Eomma sih kamu tidak salah, mungkin Kyuhyun masih butuh waktu untuk menerima cideranya. Eomma dengar dari Hangeng, Kyuhyun berlatih sangat keras untuk seleksi tim Nasional itu, wajar jika dia kecewa ketika gagal."

"Hah.. Sudah lah kita lupakan saja anak menyebalkan itu. Oiya, bukankah besok Eomma pulang? Apa sudah berkemas?"

"Sudah kok, suster Kim tadi sudah merapihkan barang-barang Eomma. Kita tinggal menunggu Appa dan Yunho Appa kemari saja."

"Baiklah, Eomma mau buah tidak? Aku kupaskan buah ya?" Leeteuk tersenyum lebut, membelai rambut Sungmin untuk yang terakhir kalinya lalu mengangguk.

Sungmin pun bergegas berdiri dan berjalan menuju meja nakas disamping tempat tidur Leeteuk. Dengan cekatan gadis itu mengupas berbagai macam buah-buahan yang ada di meja. Leeteuk hanya mampu diam dan memperhatikan, dia benar-benar senang dengan sikap Sungmin padanya sekarang. Do'a nya akhirnya terjawab, Sungmin akhirnya mau menerimanya sebagai ibunya.

.

.

.

"Tidak ikut rehabilitasi, keluar dari klub baseball sekolah, menolak pelatihan khusus dengan pelatih Choi. Sebenarnya apa yang ada diotak mu itu, hah?! Cho Kyuhyun!" Tuan Cho kembali menghempaskan map coklat yang berisi laporan kesehatan Kyuhyun kemejanya lalu beralih menatap anak semata wayangnya dengan tatapan tajam. Tapi, yang ditatap tidak menunjukan rasa takut sedikit pun, dia bahkan makin asik mengunyah permen karetnya.

"Kau mendengar ku tidak?!" suara Tuan Cho meninggi, membuat Kyuhyun yang sedang asik mengunyah permen karetnya kini mendengus kesal dan menatap ayahnya kesal. Matanya menggelap begitu bertemu dan beradu tatap dengan mata hitam ayahnya.

"Aku bosan dengan baseball. Aku sudah tidak ingin menyentuh baseball lagi. Apa alasan itu masih belum cukup?"

"Alasan macam apa itu? Cidera mu bisa pulih. Kamu bisa masuk tim Nasional jika kamu mengikuti saran ayah untuk ikut rehabilitasi."

Kyuhyun memandang ayahnya geram, bagaimana bisa ayahnya berkata seperti itu? Kenapa ayahnya hanya peduli dengan karir nya sebagai pelempar saja? Tidak bisakah dia bertanya bagaimana perasaanya kini? Perasaannya saat dinyatakan tidak lolos seleksi? Pernahkah?

Kyuhyun berdiri dari duduknya, menatap ayahnya yang kini tengah memandangnya bingung dibalik singgahsananya dengan tatapan tajam. Dia kecewa, kecewa dengan sikap ayahnya yang terlalu mementingkan karirnya dan tidak pernah bersikap seperti seorang ayah kepadanya.

"Aku tidak akan selamanya bermain baseball. Dan bagiku, ini lah akhirnya."

Ucap Kyuhyun sebelum membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar ruangan ayahnya tanpa sedikit pun menoleh kearah belakang. Kearah ayahnya yang kini tengah memandangnya sendu.

"Kenapa ayah sangat ingin kamu bermain baseball, nak… Itu karna baseball adalah mimpi terbesar mu dan mendiang ibu mu." Gumam Tuan Cho, menatap punggung Kyuhyun yang sudah menghilang dibalik pintu kaca ruangannya.

.

.

.

"Apa? Bahkan belum seminggu Appa disini, masa sudah mau kembali ke Jepang saja, sih." Sungmin merengut, melipat kedua tangannya kedada dan menatap Yunho sebal.

Yunho baru saja memberitahu Sungmin kalau dia harus kembali ke Jepang lusa, pekerjaan nya diJepang sudah menumpuk. Dan mengontrol perusahaan sebesar itu dari jarak jauh sungguh melelahkan untuknya. Ditambah lagi usia nya yang sudah tidak bisa dibilang muda lagi…

"Mian, ne? Perusahaan Appa benar-benar membutuhkan Appa… Lagi pula disini kan ada kedua orang tua mu, ada Heechul juga. Kamu tidak akan merasa kesepian."

"Tapi Appa yang akan kesepian diJepang sana…" ucap Sungmin pelan. Kangin dan Leeteuk hanya mampu memandang keduanya dalam diam, mereka merasa tidak perlu ikut campur. Yunho menghela nafasnya pelan, lalu beranjak memeluk Sungmin erat..

"Tentu saja, Appa pasti akan sangat merindukan kelinci manja ini…"

"YA! Appa!" Yunho terkekeh mendengar protesan Sungmin dan kembali memeluk anak gadis yang sudah dia anggap seperti anaknya itu erat. Sebenarnya berat melepaskan Sungmin, hampir lebih dari sepuluh tahun mereka hidup bersama diJepang sana. Senang sedih Yunho lalui bersama Sungmin-nya. Tapi bagaimanapun juga Sungmin masih memiliki orang tua kandung disini. Yunho hanya bisa menghela nafas kala membayangkan hidupnya diJepang sana tanpa seorang gadis manis bernama Lee Sungmin.

Leeteuk dan Kangin hanya tersenyum tipis sambil menatap haru interaksi Yunho dan Sungmin. Mereka tidak mengabaikan raut wajah sedih Yunho ketika memeluk Sungmin, tidak sama sekali. Mereka tau Yunho sedih, hampir sepuluh tahun hidup bersama Sungmin pasti akan terasa lain jika dia kembali menjalani kesehariannya diJepang tanpa kehadiran gadis itu. Tapi mereka juga tidak mau munafik, mereka membutuhkan Sungmin juga untuk hadir dikeseharian mereka setelah lebih dari sepuluh tahun gadis itu memilih untuk menjauhi mereka.

.

.

.

"Eonni, terima kasih sudah mau menampungku selama dua minggu belakangan ini. Maaf jika merepotkan mu." Heechul dan Sungmin kini tengah berada diambang pintu rumah Heechul, hari ini Sungmin memutuskan untuk tinggal dirumah kedua orang tua nya.

Heechul sebenarnya keberatan, dia kesepian dirumahnya yang besar ini. Namun sejak Sungmin menginap ditempatnya dia tidak lagi merasa kesepian setibanya dirumah. Tapi, bagaimanapun juga Sungmin punya orang tua, sudah sepantasnya dia tinggal dirumah orang tuanya.

"Jangan berlebihan begitu. Rumah ini selalu terbuka untukmu. Dan cepatlah pergi, sebelum kamu terlambat untuk berangkat ke sekolah."

"Eonni… Aku pergi dulu, ne? Berkunjunglah kerumah kalau sempat."

Sungmin memeluk Heechul sebagai salam perpisahan. Setelah itu Sungmin beranjak menuju mobil ayahnya yang sudah menunggu didepan gerbang sana. Sungmin menoleh kebelakang, lalu melambaikan tangannya kearah Heechul dan dibalas lambaian tangan juga oleh wanita cantik itu.

.

.

.

"Sebenarnya kemana guru-guru? Sudah dua hari kelas selalu kosong, sudah pada malas kerja ya.. Haahhh…."

"Loh kok aku malah kesini?" Sungmin menghentikan langkahnya tepat didepan pintu ruang olahraga lama sekolahnya, gedung itu sudah lama tidak dipakai karna ruang olahraga yang baru sudah selesai dibangun.

Sungmin tidak tau apa yang membawa kakinya kemari, tadinya dia hanya berjalan tanpa arah untuk menghilangkan bosan, tapi kakinya justru membawanya kemari.

BUG….. BUG…. BUG…..

Sungmin POV

BUG….. BUG…. BUG…..

Suara apa itu? sepertinya berasal dari dalam gedung, tapi…. Bukankah gedung ini sudah lama tidak dipakai? Jadi, mana mungkin ada orang didalam. Atau jangan-janga hantu lagi? Hiiiiiii…

BUG….. BUG…. BUG…..

Haishhh, gak mungkin ada setan siang bolong begini. Tapi aku penasaran, masuk gak yaa… Masuk ajadeh-_-

Ku langkah kan kaki ku masuk kedalam gedung olahraga yang gelap dan kotor ini, hahh apa tidak ada lagi yang membersihkan tempat ini? Kotor sekali, sarang laba-laba ada dimana-mana, debu dilantai tebalnya melebihi make up Heechul Eonni… Ups, yang terakhir mohon diabaikan saja~

Ku sipitkan mata ku saat retina mataku menangkap sebuah siluet didepan sana, sepertinya tidak asing… Dia namja, aku tau karna dia memakai celana bukan rok dan dari tingginya sih tidak mungkin yeoja. Dia tinggi sekali, tapi kenapa rasanya tidak asing dengan orang itu ya…

Ku perhatikan siluet itu dari bawah sampai atas, karna posisinya yang memunggungi ku, aku jadi tidak bisa melihat wajahnya. Tapi kenapa jika dilihat-lihat orang ini mirip dengan Kyuhyun ya…

Apa dia benar-benar Kyuhyun?

Loh, kenapa aku jadi mikirin bocah tengil itu? hahh mengingat namanya saja sudah bikin emosi fiuh~

Ku beranikan diri untuk lebih mendekat ke sosok itu, baju seragamnya lusuh dan basah karena keringat. Dan… Ahhh sejak tadi dia melempar bola baseball ke dinding tohh, pantas bunyinya berisik sekali.

Eh? Bola baseball?

"Kyu…" sosok itu menghentikan lemparannya. Aishh kenapa aku bisa memanggil nama bocah tengil itu? sosok itu pun membalikkan tubuhnya, dan betapa kagetnya aku saat tau sosok itu benar-benar Kyuhyun dan… OMO! Bahu kanannya! Bahu kanannya berdarah!

"Sungmin-ah…" astaga, ada apa dengan suaranya? Dia seperti orang yang sedang sekarat saja. Tapi, jika dilihat dari penampilannya sekarang… Sepertinya dia benar-benar sekarat.

"Apa yang kau lakukan? Bukankah cidera mu belum sembuh?" dia tidak membalas ucapanku, dia malah berbalik dan kembali melempar bola baseball itu ke dinding sambil sesekali meringis kesakitan.

"Apa kalian mengerti kenapa aku memutuskan berhenti?" aku diam, tidak mau menyahut atau menjawab ucapannya. Dia masih melempar bola itu ke dinding. Fokus ku kini tertuju pada bahu kanannya. Kini seragamnya bukan hanya basah karena keringat, tapi juga darah.

"Apa tidak ada yang mengerti?"

Cukup. Sudah cukup kau menyiksa dirimu sendiri seperti ini, Kyu.

Segera saja aku berlari kearahnya dan memluknya dari belakang, memaksa nya untuk berhenti.

"Cukup, Kyu. Jangan begini." Aku tidak tau apa yang terjadi dengan diriku sendiri, yang jelas aku merasakan sakit yang cukup hebat didada ku melihat keadaannya yang seperti ini. Aku tidak suka melihatnya begini, melihat gurat kesedihan diwajahnya, mendengar suara putus asanya, tidak.. aku tidak bisa melihatnya, aku tidak bisa melihatnya seperti ini.

Aku tidak merasakan pergerakan dari pemuda itu, kami hanya terdiam dengan posisi aku yang masih memeluknya dari belakang. Nafasnya sudah tidak tersengal-sengal seperti tadi. Nafasnya sudah terdengar lebih teratur sekarang.

"Lee Sungmin…" panggilnya dengan suara pelan, aku masih betah memeluknya dari belakang. Aku tidak mau melihat wajahnya yang jelek itu sekarang. Tidak mau.

Ku rasakan sebuah tangan lain menyentuh tanganku yang masih memeluk erat pinggangnya. Dada ku tiba-tiba berdesir, ini tangan Kyuhyun.

"Tolong, bantu aku…"

Pasti, Kyu. Aku pasti akan membantu mu. Seperti kamu yang membantu ku memperbaiki huubungan ku dengan ayah kandungku.

"Jika kau lelah dan ingin menyerah, bersandarlah padaku. Aku akan menjadi kekuatan mu."

.

.

.

To be continued

.

.

.

Cuap-cuapnya chapter depan aja yaaa hehe._.V

Tetep review yaaa supaya kisah ini akan terus berlanjut sampai KyuMin menemukan kebahagiaannya:")

Salam

GyuMin407