LOVE FOR YOU
Pairing : Yewon, Twins!Kyusung, slight!kisung
Genre : Yaoi, Brothership, Romace, Hurt/Comfort, Family, Drama etc.
Rate : T (Akan berubah seiring berjalannya cerita ^^)
Warning : BL, Un-official Pair, aneh, alur maksa, etc.
Disclaimer : Adapted from Summer Breeze by Orizuka ( I'll make some modification on the plot) and Inspired by Brother Step-Brother by Babycloudy
A Yewon Fanfiction © 2012 by Fairy_Siwoonie
.
~ HAPPY READING ~
.
Kyuhyun melompat turun dari mobilnya dan langsung berlari masuk ke dalam rumah disusul oleh Sungmin dan teman-temannya yang lain. Begitu sampai di ruang tamu, ia melihat Mr. Kim tengah menelepon seseorang sementara Mrs. Kim menangis di sofa.
Kyuhyun langsung menghampiri Mrs. Kim, "Ada apa, Mom? Yesung di mana?" Tanyanya panik.
"Tidak tau, Kyu-ah. Tadi saat Mommy dan Daddy pulang Yesung sudah tidak ada di rumah. Mommy takut terjadi apa-apa pada Yesung," Jawab Mrs. Kim dengan terisak.
"Anak itu selalu saja merepotkan," Ujar Mr. Kim membuat Kyuhyun langsung menatapnya.
Teman-teman Kyuhyun pun langsung ikut menatap Mr. Kim terkejut. Selama ini mereka mengenal Mr. Kim sebagai sosok ayah yang baik, namun dari nada bicaranya tadi ia sama sekali tidak terlihat cemas. Yesung sedang sakit dan sekarang menghilang, bagaimana bisa ia sebagai seorang ayah berbicara seperti itu?
"Yesung sedang sakit dan itu karena Daddy! Bagaimana bisa Daddy berbicara seperti itu?!" Seru Kyuhyun.
"Sudah, Kyu-ah.." Mrs. Kim menggenggam tangan Kyuhyun masih dengan terisak.
"Daddy hanya memberi Yesung pelajaran! Dan bisa saja anak itu pergi hanya untuk mencari perhatian kita,"
Kyuhyun membelalakkan matanya seolah tidak percaya kalimat tadi baru saja keluar dari mulut Mr. Kim.
"Sudahlah, Daddy sudah menyuruh orang untuk mencari Yesung. Kalian tenang saja dan tunggu di sini," Ujar Mr. Kim lagi.
"Aku tidak mungkin diam saja di sini sementara aku tidak tau bagaimana keadaan Yesung di luar sana! Aku akan mencari Yesung!" Seru Kyuhyun yang kemudian langsung keluar dari rumahnya.
"Kyuhyun!" Seru Mr. Kim.
Namun Kyuhyun tetap berjalan keluar rumahnya tanpa menghiraukan panggilan Mr. Kim.
"Kyu, kami ikut mencari!" Seru Sungmin yang berlari di belakang Kyuhyun bersama temannya yang lain.
Kyuhyun menghentikan langkahnya dan berbalik, "Kalian benar-benar ingin ikut?"
"Yesung adalah adikmu, jadi dia teman kami juga. Kami akan membantu mencarinya," Jawab Sungmin seraya tersenyum disambut anggukan dari teman-temannya.
Kyuhyun ikut tersenyum, "Terima kasih,"
"Lebih baik kita berpencar saja!" Usul Taecyeon.
"Baiklah, aku dengan Yoochun. Kyuhyun dengan Sungmin. Taecyeon dengan Nichkhun. Bagaimana?" Tanya Changmin.
"Terserah. Cepat pergi!" Sahut Kyuhyun yang kemudian langsung masuk ke dalam mobilnya.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Siwon melemparkan ponselnya dengan kesal di atas meja. Seolah tidak peduli jika benda yang cukup mahal itu bisa saja rusak atau bahkan hancur. Eunhyuk yang duduk di sampingnya hanya menggelengkan kepala maklum.
"Sudahlah, Siwon-ah. Sebentar lagi Yesung pasti akan datang." Ujar Eunhyuk seraya menutup buku yang sedari tadi dibacanya.
"Seharusnya hari ini kami belajar jam 1, Eunhyuk-ah! Dan kau tau sekarang jam berapa? Jam 2! Yesung sudah terlambat 1 jam dan dia sama sekali tidak menjawab telepon ataupun membalas pesanku!" Sahut Siwon seraya bangkit dari kursinya.
"Kalau seperti ini kau jadi mirip dengan guru les adikku yang sudah berusia 40 tahun," Ejek Eunhyuk membuat Siwon menganga protes.
"Sudah, lebih baik kau duduk. Nanti kalau Yesung datang, kau bisa menghukumnya." Lanjut Eunhyuk seraya menarik Siwon duduk di tempatnya semula.
Siwon hanya memutar bola matanya kesal. Namun tiba-tiba ponselnya bergetar menandakan panggilan masuk. Siwon langsung meraih ponselnya dengan cepat.
Siwon mendesah kecewa saat melihat nama Donghae tertera di layar ponselnya. Padahal tadinya ia berharap Yesung yang meneleponnya. Dengan malas, Siwon menjawab panggilan Donghae.
"Apa ada, hyung?" Tanya Siwon tidak bersemangat.
"Siwon, cepat ke sini!" Seru Donghae di line seberang membuat Siwon harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya jika masih ingin pendengarannya berfungsi dengan baik.
"Haiz! Bisakah sekali saja kau tidak berteriak, Lee Donghae?!" Balas Siwon kesal.
"Maaf! Tapi ini benar-benar darurat! Kau harus segera ke rumah sakit sekarang!"
Siwon mengerutkan keningnya, "Rumah sakit? Untuk apa?" Tanyanya bingung.
"Aku tadi menemukan Yesung pingsan di jalan. Jadi aku membawanya ke rumah sakit,"
Mata Siwon seketika melebar, "Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit yang paling dekat dengan Universitas! Cepat kesini!"
"Baik, aku akan segera ke sana!"
Siwon mematikkan teleponnya dan langsung menyambar tasnya, "Eunhyuk-ah, katakan pada dosen aku ada urusan sebentar!" Serunya seraya berlari keluar dari kelas.
"Apa? Hey! Kau mau kemana?!" Seru Eunhyuk bingung.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Siwon berlari menyusuri koridor rumah sakit tanpa mengindahkan teriakan protes dari beberapa orang yang tidak sengaja ditabraknya. Langkahnya terhenti di depan pintu sebuah ruangan yang bertuliskan angka '104'.
Brak!
Siwon membuka pintu kamar itu dengan sedikit kasar. Matanya menelusuri ruangan itu dan segera menemukan Donghae duduk di tepi ranjang yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. Masih dengan napas terengah, Siwon langsung menghampiri Donghae. Dan seolah ada sesuatu yang menusuk hatinya begitu melihat Yesung terbaring dengan mata tertutup dan wajah pucat di ranjang itu. Terlihat perban berwarna putih melingkar menutupi kening sang namja manis.
"Hyung, apa yang terjadi?" Tanya Siwon pada Donghae.
"Aku sendiri juga tidak tau. Tadi aku aku sedang dalam perjalanan ke Universitas, tiba-tiba aku melihat Yesung tergeletak di jalan dikelilingi banyak orang. Dia terserempet mobil dan aku langsung membawanya ke rumah sakit," Jawab Donghae.
"Terserempet mobil?" Mata Siwon melebar.
"Iya. Tapi menurut beberapa orang yang melihatnya, Yesung memang sudah hampir pingsan sebelum terserempet mobil. Tadi Dokter juga mengatakan Yesung sedang demam dan itu bukan akibat dari kecelakaan."
Siwon meletakkan punggung tangannya di kening Yesung. Dan benar saja, suhu tubuh Yesung memang sangat tinggi.
"Kau tidak perlu tertalu khawatir, dokter sudah memberinya obat penurun panas dan lukanya karena kecelakaan tadi juga tidak terlalu serius," Tambah Donghae seraya menepuk bahu Siwon.
Siwon menatap wajah Yesung yang masih terlelap karena pengaruh obat bius. Terlihat lingkaran tidak beraturan berwarna merah menghiasi perban putih di kening Yesung. Bahkan Siwon yakin, 2 luka di kening Yesung kemarin belum benar-benar sembuh. Dan sekarang namja manis itu harus mendapatkan luka yang baru lagi.
Wajah Yesung yang tidak pernah bersinar kini terlihat semakin redup. Terdapat lingkaran hitam samar di sekeliling matanya. Dan Siwon yakin, saat ini Yesung tidak benar-benar tertidur dengan nyaman.
"Siwon-ah, aku ada kelas sore ini. Tidak apa-apa 'kan kalau aku pergi?" Tanya Donghae membuat Siwon tersadar.
"Tidak apa-apa, hyung. Aku akan menjaganya." Jawab Siwon.
"Baiklah, aku pergi dulu. Nanti selesai kuliah aku akan kesini lagi bersama Eunhyuk."
Siwon hanya mengangguk pelan.
Donghae menepuk bahu Siwon lalu keluar dari kamar rawat Yesung.
Siwon kembali menatap Yesung. Ada rasa sakit di dadanya melihat namja yang dicintainya itu terluka. Siwon bahkan tidak pernah tau sebelumnya jika ia bisa merasakan sakit di saat kenyataannya tidak terjadi apapun pada dirinya sendiri.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
"Kyu, boleh aku bertanya sesuatu?" Tanya Sungmin. Kini ia dan Kyuhyun tengah berada di dalam mobil Kyuhyun.
"Apa?" Tanya Kyuhyun tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan. Ia dan Sungmin telah mencari Yesung sejak 2 jam yang lalu, namun mereka sama sekali belum menemukan petunjuk.
"Apa hubungan Daddy-mu dengan Yesung tidak terlalu baik?" Tanya Sungmin hati-hati, berusaha agar tidak membuat Kyuhyun tersinggung.
Kyuhyun menatap Sungmin sekilas lalu kembali fokus ke jalanan, membuat Sungmin sedikit salah tingkah.
"Ma-maaf, seharusnya aku tidak bertanya—"
"Hubungan Daddy dan Yesung memang tidak baik sejak dulu," Ujar Kyuhyun memotong ucapan Sungmin.
Sungmin mengerutkan alisnya.
"Apapun yang dilakuan Yesung selalu salah di mata Daddy. Daddy selalu memperlakukan Yesung dengan buruk sejak kecil. Tapi aku tidak pernah bisa melakukan apapun untuk membantunya."
"Tapi aku lihat Daddy-mu sangat baik padamu. Dia juga baik padaku dan anak-anak yang lain?"
Kyuhyun menghela napas, "Aku tidak tau. Tapi itulah kenyataannya. Daddy tidak akan segan-segan melakukan apapun setiap kali Yesung melakukan kesalahan. Kemarin Yesung menyanyi di sebuah Cafe untuk membantu temannya. Dan sayang sekali ada salah satu teman daddy yang melihatnya."
"Apa itu yang kau maksud Yesung sakit karena Daddy-mu?"
Kyuhyun mengangguk pelan, "Daddy mengguyur Yesung di kamar mandi tadi malam sampai Yesung pingsan,"
Sungmin membelalakkan matanya tidak percaya, "Ha-hanya karena itu Daddy-mu menghukum Yesung sampai seperti itu?"
Tiba-tiba Kyuhyun menepikan mobilnya membuat Sungmin sedikit terkejut.
"Aku tidak tau aku harus melakukan apa, hyung. Aku selalu melihat Yesung terluka sejak kecil tanpa bisa melakukan apapun. Tapi sekarang aku ingin bisa melakukan sesuatu. Aku ingin bisa melindunginya!" Ujar Kyuhyun seraya mengusap rambutnya dengan kasar.
Sungmin menatap Kyuhyun terkejut. Namun detik selanjutnya ia tersenyum.
"Kau belum terlambat, Kyu. Sekarang kita cari Yesung, dan kau buktikan ucapanmu itu!" Sungmin mengepalkan tangannya.
Kyuhyun menundukkan kepalanya, "Tapi aku takut tidak bisa menemukannya," Ucapnya pelan.
"Hey! Sejak kapan seorang Kim Kyuhyun tidak optimis, huh? Kau selalu berhasil dalam melakukan apapun! Jadi sekarang kau pasti juga berhasil menemukan Yesung!" Ujar Sungmin seraya tersenyum.
"Aku harap begitu.."
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Kedua mata Yesung terbuka. Menampilkan dua iris caramel yang tertutup rapat sejak lebih dari 5 jam yang lalu. Tangannya bergerak kecil membuat Siwon yang menggenggam jemari mungil itu tersadar dari tidurnya.
Siwon langsung mengangkat kepalanya dan menemukan Yesung tengah mengerjap bingung. Tak ayal sebuah senyuman langsung terukir di wajah tampan namja beriris emerald itu.
"Yesung.." Panggil Siwon membuat Yesung langsung menatapnya.
"Si-Siwon hyung? A-aku di mana?" Tanya Yesung lemah.
"Kau ada di rumah sakit. Tadi kau kecelakaan." Jawab Siwon seraya tersenyum, "Bagaimana perasaanmu sekarang? Apa ada yang sakit?"
Yesung memejamkan matanya sejenak lalu kembali menatap Siwon, "A-aku tidak mau di sini,"
Siwon mengerutkan keningnya, "Apa?"
Tiba-tiba Yesung bangkit membuat Siwon tersentak.
"Yah! Kau mau kemana, Yesung-ah?!" Seru Siwon seraya menahan tubuh Yesung agar tidak bangkit.
"Aku tidak mau di sini.." Yesung tetap berusaha bangkit tanpa mempedulikan rasa sakit yang tiba-tiba mendera kepalanya.
"Kau tidak boleh kemana-mana, Yesung-ah! Kau harus istirahat!"
"Aku tidak mau di sini, hyung!" Yesung menyentakkan tangan Siwon dan menarik jarum infus yang terpasang di tangannya dengan paksa.
"YAH ! APA YANG KAU LAKUKAN?! APA KAU BODOH, HUH?!" Seru Siwon dengan suara keras membuat Yesung tersentak.
Yesung menatap Siwon dengan raut wajah terkejut dan bibir bergetar membuat Siwon langsung mengutuk dirinya sendiri. Seharusnya ia tau Yesung saat ini tidak sedang berada dalam emosi yang stabil. Dan what the hell?! Apa kalimat terakhir yang ia ucapkan tadi?
Yesung menundukkan kepalanya, "Ma-maaf.." Ucapnya dengan suara bergetar. Dan Siwon berani bertaruh namja yang berada di depannya itu saat ini tengah menangis. Terlihat jelas dari tubuhnya yang mulai gemetar.
"Ye-Yesung.. ma-maaf.. aku tidak marah padamu.." Ucap Siwon salah tingkah.
Bingung apa yang harus ia lakukan, Siwon langsung meraih tubuh kecil Yesung ke dalam pelukannya.
"Yesung maaf.. aku tidak bermaksud seperti itu.." Ucap Siwon menyesal.
"Aku tidak mau di sini, hyung.. hiks.." Isak Yesung.
"Tapi kau—"
"Aku mohon, hyung. Aku tidak mau di sini.."
Siwon menghela napas putus asa, "Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang, okay?"
Yesung menggeleng pelan, "Aku tidak mau pulang hiks.. aku takut.."
Siwon mengerutkan keningnya. Ia tidak tau apa yang terjadi pada Yesung sebenarnya. Tapi ia yakin ada masalah yang serius sampai membuat Yesung seperti ini.
"Ba-baiklah, kalau begitu kita ke apartment-ku saja, ne?"
Yesung hanya mengangguk pelan masih dengan terisak.
"Aku akan mengurus administrasimu dulu baru setelah itu kita pergi dari sini. Kau tunggu di sini, ne? Jangan kemana-mana?!" Ujar Siwon seraya melepaskan pelukkannya.
Yesung kembali mengangguk pelan.
Siwon lalu keluar dari kamar Yesung untuk mengurus segala adsministrasi dan keperluan check-out namja itu. Sebenarnya ia tidak yakin Yesung bisa pulang dari rumah sakit saat ini. Keadaannya masih sangat lemah. Tapi apa yang bisa ia lakukan kalau melihat Yesung menangis dan memohon seperti tadi? Menolaknya? Tentu saja tidak!
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Siwon membantu Yesung berbaring di atas tempat tidurnya dengan sangat hati-hati. Ia lalu menarik selimut tebal miliknya dan menutupi tubuh namja manis yang sedikit menggigil itu. Siwon sendiri tidak yakin membawa Yesung keluar dari rumah sakit adalah pilihan yang baik. Karena saat ini wajah Yesung terlihat lebih pucat daripada ketika masih berada di rumah sakit tadi.
"Hyung.." Panggil Yesung lirih membuat Siwon yang tengah menyelimutinya langsung mengangkat kepala dan menatap namja bermata caramel itu lembut.
"Maaf.." Ucap Yesung masih dengan suara pelan. Bahkan nyaris terdengar seperti sebuah bisikan.
Siwon mengangkat alisnya tidak mengerti, "Untuk apa kau minta maaf?"
"Aku merepotkanmu, kan? Sebenarnya kau tidak perlu membawaku ke sini. Aku bisa-"
"Dan membiarkanmu di jalanan sendirian, begitu? Tentu saja tidak!" Potong Siwon, "Yesung-ah, aku sama sekali tidak merasa direpotkan olehmu. Jadi kau tidak perlu berpikiran seperti itu,"
Yesung menundukkan kepalanya, "Terima kasih.."
Siwon tersenyum, "Kau tunggu di sini, ne? Aku akan membuatkan makanan untukmu," Ujarnya seraya bangkit.
"Tidak perlu, hyung!" Cegah Yesung membuat Siwon menghentikan langkahnya dan kembali menoleh.
"Aku tidak lapar," Lanjut Yesung.
Siwon menggelengkan kepalanya, "Kau harus makan!" Putusnya lalu keluar dari kamarnya tanpa menghiraukan panggilan Yesung.
Tidak lebih dari satu jam kemudian, Siwon kembali masuk ke dalam kamar itu dengan membawa semangkuk bubur yang masih hangat. Ia lalu menghampiri Yesung dan meletakkan mangkuk yang dibawanya tadi di atas meja.
Yesung mencoba bangun, namun sepertinya tubuh mungil itu terlalu lemah. Siwon lalu membantu Yesung bangkit dan meletakkan sebuah bantal di belakang punggung Yesung sebagai penyangga.
"Aku benar-benar tidak lapar, hyung.." Tolak Yesung dengan suara lemah.
"Kau harus minum obat, Yesung-ya! Dan sebelum minum obat, kau harus makan sesuatu. Tenang saja, bubur ini tidak akan membunuh. Bukan aku yang membuatnya," Ujar Siwon seraya tersenyum, "Aku tidak bisa memasak. Jadi daripada nanti memperburuk keadaanmu, lebih baik aku minta tolong Ahjumma yang tinggal di sebelah,"
Yesung menatap Siwon dengan raut wajah yang sulit ditebak. Tiba-tiba air matanya mengalir di kedua pipi chubby itu membuat Siwon terkejut.
"Yah! Kenapa kau menangis lagi, Yesung-ah? Apa ada yang sakit?" Tanya Siwon panik.
Yesung menggeleng pelan seraya menghapus air matanya, "Kenapa kau sangat baik padaku, hyung? Mereka saja tidak pernah peduli padaku," Ucap Yesung dengan sedikit terisak.
Siwon tidak perlu meminta Yesung untuk memperjelas ucapannya. Ia tau dengan pasti siapa 'Mereka' yang dimaksud Yesung di sini. Hanya saja, ia tidak tau apa yang sebenarnya terjadi kali ini. Namun ia yakin ini sesuatu yang berat. Dari semua kisah yang ia baca dari notebook milik Yesung, namja itu sudah melalui masa-masa yang berat sejak kecil, tapi ia tidak pernah mengeluh. Jadi kalau kali ini Yesung sampai mengeluh, itu berarti apa yang baru saja terjadi mungkin sudah sangat keterlaluan.
"Sshh~ kau tidak perlu takut lagi sekarang. Karena mulai saat ini aku akan selalu menjagamu. Aku tidak akan membiarkan kau sendirian lagi," Siwon tersenyum seraya menghapus air mata di kedua pipi Yesung.
"Sekarang kau harus makan, okay? Aku tidak suka melihatmu sakit seperti ini," Ujar Siwon seraya mengambil mangkuk berisi bubur yang ia bawa tadi.
Yesung hanya mengangguk pelan dan membiarkan Siwon menyuapinya.
Yesung tidak tau. Tapi ia merasa begitu nyaman berada di samping Siwon. Siwon selalu memperlakukannya dengan sangat lembut. Sebuah perlakuan yang tidak pernah ia dapatkan selain dari Kibum beberapa tahun yang lalu. Siwon seolah memiliki kehangatan tersendiri. Kehangatan yang berbeda dengan milik Kibum dulu, meskipun sebenarnya keduanya sama-sama membuat ia nyaman.
Siwon menyuapi Yesung dengan sabar. Ia bahkan meniupkan bubur yang akan ia suapkan pada Yesung terlebih dulu sebelum namja di depannya itu memakannya. Ia menunggu dengan sabar Yesung yang mengunyah makanannya dengan begitu lambat. Tidak jarang bubur yang ia suapkan pada Yesung jatuh ke bed atau pangkuan Yesung. Dan ia sama sekali tidak merasa segan untuk membersihkannya.
Yesung membiarkan Siwon menyuapinya dalam diam. Hanya sesekali Yesung berbicara, itu saja hanya mengucapkan kata 'maaf' ketika tanpa sengaja ia menjatuhkan makanannya. Namun ia tersentak ketika tiba-tiba jemari Siwon menyentuh wajahnya.
"Kau makan seperti anak kecil saja," Siwon terkekeh seraya mengusap sisa makanan di sudut bibir Yesung. Namun senyum itu seketika memudar begitu matanya bertemu dengan caramel milik Yesung yang tengah menatapnya.
Lagi-lagi Yesung tidak tau. Ia hanya menyukai cara emerald itu menatapnya dengan lembut. Ia seolah tidak bisa mengalihkan tatapannya dari mata yang memancarkan kehangatan itu.
Jemari Siwon perlahan beralih mengusap bibir Yesung yang sedikit terbuka. Entah apa yang saat ini menguasai pikirannya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya lalu mencium bibir Yesung.
Mata Yesung sontak melebar ketika tiba-tiba Siwon mencium bibirnya. Namun ia hanya diam. Tidak menolak ataupun membalas ciuman itu bahkan ketika Siwon mulai melumat bibirnya lembut. Sebuah ciuman lembut yang sama sekali tidak menuntut.
Dan Siwon memang hanya melumatnya lembut. Tidak lebih. Siwon bahkan tidak pernah tau jika bibir yang terlihat pucat itu bisa terasa begitu manis hingga membuat ia enggan melepaskannya.
Namun tiba-tiba akal sehat Yesung kembali. Ia langsung mendorong dada Siwon membuat tautan bibir mereka terlepas.
Mata Siwon langsung melebar begitu menyadari apa yang baru saja ia lakukan.
"H-hyung, ap-apa yang kau lakukan?" Tanya Yesung. Namun Siwon sama sekali tidak menangkap kemarahan dari suara baritone yang sedikit serak itu. Bahkan Yesung masih mengucapkannya dengan lirih. Hanya saja, Siwon bisa melihat dengan jelas keterkejutan terpancar dari kedua caramel yang menatapnya itu.
Siwon tidak tau harus menjawab apa. Ia bahkan tidak tau darimana ia mendapatkan keberanian untuk mencium Yesung tadi.
"Ye-Yesung, aku.." Siwon menggantungkan kalimatnya. Atau lebih tepatnya, ia tidak menemukan kalimat lain untuk melanjutkannya. Apalagi ditambah dengan Yesung yang masih terus menatapnya.
"Yesung, aku menyukaimu," Dan lagi-lagi Siwon bahkan tidak tau darimana ia mendapatkan keberanian untuk mengucapkan tiga kata itu. Matanya mulai menatap khawatir iris caramel Yesung yang kini melebar.
Yesung terdiam dan terus menatap emerald milik Siwon selama beberapa detik. Ia seolah membutuhkan waktu cukup lama untuk sekedar memahami tiga kata 'sederhana' yang baru saja diucapkan Siwon tadi.
"Jangan bercanda, hyung." Akhirnya Yesung menemukan kembali suaranya yang sempat hilang. Kepalanya menunduk menghindari tatapan Siwon.
"Aku tidak bercanda, Yesung! Aku benar-benar menyukaimu," Ucap Siwon tegas. Ia menerima penolakan. Itu memang salah satu resiko pernyataan cinta, bukan? Namun ia tidak menerima jawaban Yesung tadi yang seolah meragukan perasaannya.
"Kau tidak tau apa yang kau ucapkan, hyung! Kau pasti akan menyesalinya,"
"Aku tau dengan pasti apa yang aku ucapkan, Yesung! Dan aku tidak akan pernah menyesalinya! Aku sungguh-sungguh!" Siwon mengangkat wajah Yesung membuat mata caramel itu menatapnya, "Lihat aku! Aku tidak bercanda dan aku tidak berbohong! Aku benar-benar menyukaimu," Ucapnya masih berusaha menyakinkan Yesung.
Yesung menatap jauh ke dalam iris sewarna permata hijau terang itu. Cukup lama sampai akhirnya ia menunduk.
"Aku tidak tau." Ucap Yesung lirih. Dan itu sama sekali bukan jawaban yang diharapkan Siwon. Namun Siwon tau, Yesung membutuhkan waktu. Ia harus mengerti. Ia benar-benar mencintai Yesung, bukan?
Siwon meraih tubuh Yesung dan kembali memeluknya.
"Aku mengerti. Tapi aku ingin kau tau, apapun yang terjadi hari ini tidak akan merubah apapun. Aku akan tetap menjaga dan menyayangimu." Ucapnya seraya mencium puncak kepala Yesung lembut. 'Dan akan menunggu sampai kau mengatakan hal yang sama denganku..'
Yesung tidak tau. Bukan, bukan tidak tau. Ia hanya takut. Ia bisa melihat iris emerald itu tidak berbohong. Ia bisa melihat ketulusan di sana. Namun lagi-lagi ia takut. Ia takut untuk kembali percaya. Ia takut untuk kembali terluka lebih dalam.
Tapi Yesung tidak bisa membohongi perasaannya sendiri. Ia suka aroma maskulin yang tercium dari tubuh Siwon. Ia suka ketika Siwon memeluknya. Ia suka berada di samping Siwon. Pelukan Siwon memang tidak sehangat pelukan Kyuhyun, namun ia menyukainya. Ia tidak ingin melepaskannya.
Siwon mengeratkan pelukannya dan mengusap rambut halus Yesung lembut. Ia tidak peduli Yesung tidak membalas pelukannya. Ia hanya ingin meyakinkan Yesung, membuat namja itu percaya. Jika Yesung tidak mempercayai ucapannya, mungkin Yesung akan bisa merasakannya melalui pelukan itu.
Dan Siwon benar. Yesung memang bisa merasakannya. Hanya saja, ia terlalu takut.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Donghae.
"Demamnya sudah turun. Luka di keningnya juga sudah tidak mengeluarkan darah lagi." Jawab Siwon tanpa mengalihkan tatapannya dari sosok Yesung yang kini terlelap.
Bagi Siwon, saat ini tidak ada yang lebih membuat hatinya tenang selain melihat Yesung tertidur dengan nyaman. Wajah manis itu kini juga tidak terlihat pucat lagi. Napas Yesung berhembus teratur dan terdengar halus. Tidak tersengal-sengal seperti sebelumnya. Tidak ada lagi keringat dingin yang membasahi wajah dan leher Yesung. Selimut tebal itu juga masih berada di sana, memastikan bahwa namja yang dicintainya itu tetap merasa hangat.
"Kau tidak mengantarnya pulang?" Tanya Donghae lagi dengan suara pelan. Tidak ingin membuat Yesung terusik. Wajah Yesung yang terlihat begitu polos layaknya seorang bayi yang tengah tertidur dengan nyaman, pasti membuat siapapun tidak ingin mengusiknya.
"Yesung tidak ingin pulang. Sepertinya dia sedang ada masalah dengan keluarganya."
"Tapi aku rasa membawanya ke sini tanpa memberitahu keluarganya bukan pilihan terbaik, Siwon-ah. Aku yakin, Yesung tidak akan bisa benar-benar tenang sebelum masalah dengan keluarganya selesai,"
"Lalu aku harus bagaimana? Memaksanya pulang, begitu?"
"Kau tidak perlu memaksanya. Katakan baik-baik dan buat dia mengerti. Aku rasa emosinya saat ini sedang labil. Dia hanya membutuhkan kata-kata yang halus,"
"Aku rasa kau benar, hyung. Aku akan mengantarnya pulang besok pagi. Aku tidak mungkin membangunkannya malam ini. Dia baru saja tidur,"
Donghae tersenyum, "Aku tau. Biarkan dia istirahat dulu. Mungkin besok keadaannya akan lebih baik,"
Siwon hanya mengangguk pelan seraya menyingirkan anak rambut yang jatuh di kening Yesung. Perlahan ia menunduk dan mengecup lembut kening Yesung yang masih tertutup perban.
Donghae hanya tersenyum dan menggeleng pelan.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
"Aku tidak mau pulang, hyung!" Seru Yesung seraya melepaskan tangan Siwon yang menggenggamnya.
"Yesung-ah, kau harus—"
"Aku tidak mau pulang. Kalau kau keberatan aku di sini, aku bisa pergi—"
"Bukan seperti itu, Yesung! Aku sama sekali tidak keberatan kau ada di sini! Kau boleh berada di sini selama apapun yang kau inginkan. Tapi aku ingin kau menyelesaikan masalahmu terlebih dulu."
Yesung membuang muka. Air mata mulai mengalir di kedua pipinya.
Siwon mengusap rambutnya dengan sedikit kasar. Mencoba mencari kalimat apa yang tepat untuk diucapkan agar tidak membuat hati namja yang rapuh itu semakin terluka.
"Yesung, dengarkan aku.." Siwon meraih wajah Yesung lembut dan sedikit memaksa iris caramel itu untuk menatapnya, "Aku menyayangimu, kau ingat? Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Masalah ada bukan untuk dihindari. Kau tidak akan merasa tenang jika lari dari masalah."
"Tapi hiks.. aku takut.." Isak Yesung.
"Aku akan menemanimu. Kau tidak perlu takut," Ucap Siwon seraya tersenyum lembut, "Lagipula, bagaimana kalau keluargamu sedang mencarimu sekarang? Kau pergi dalam keadaan sakit, kan? Mereka pasti sangat khawatir padamu,"
Yesung kembali menundukkan kepalanya, "Baiklah. Aku akan pulang," Ucapnya membuat Siwon tersenyum.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Siwon menghentikan mobilnya di halaman rumah Yesung. Ia lalu menoleh dan menemukan Yesung tengah menunduk di sampingnya. Ia bisa melihat kedua tangan Yesung mencengkeram erat ujung bajunya sendiri, menandakan namja manis itu ketakutan.
Siwon meraih jemari mungil Yesung dan menggenggamnya erat membuat Yesung langsung menatapnya.
"Kau tidak perlu takut," Ujar Siwon seraya tersenyum hangat yang mau tidak mau membuat Yesung tanpa sadar ikut tersenyum.
"Hyung.."
"Ya?" Siwon mengangkat alisnya.
"A-aku rasa lebih baik kau pulang saja."
"Apa? Bukankah aku sudah berjanji akan menemanimu?" Siwon mengerutkan keningnya heran.
"A-aniya, hyung. Aku rasa aku bisa menyelesaikannya sendiri. Aku tidak apa-apa," Ucap Yesung seraya tersenyum, berusaha meyakinkan Siwon.
"Tapi—"
Yesung meremas lembut tangan Siwon yang menggenggam jemarinya membuat Siwon tidak menyelesaikan ucapannya.
"Aku akan baik-baik saja," Ucap Yesung lagi masih dengan tersenyum.
Siwon menatap Yesung ragu sebelum akhirnya ia menghela napas, "Baiklah kalau begitu. Tapi kau hati-hati, ne?"
Yesung mengangguk dan tersenyum.
"Terima kasih sudah membantuku, hyung." Ucap Yesung lagi sebelum kemudian keluar dari mobil Siwon.
"Byee~~" Yesung melambaikan tangannya.
Siwon balas melambai melalui kaca mobilnya seraya tersenyum sebelum kemudian melajukan mobilnya meninggalkan Yesung.
Yesung masih terdiam di sana. Sebenarnya ia takut jika harus menghadapi Mr. Kim sendirian. Namun ia juga tidak bisa membawa Siwon. Tidak ada yang tau apa yang mungkin bisa dilakukan Mr. Kim padanya nanti, ia tidak mungkin membiarkan Siwon melihatnya. Paling tidak, jika ia harus kembali terluka, tidak ada orang lain yang perlu tau. Cukup ia sendiri yang merasakannya.
Dengan ragu dan wajah yang kembali memucat, Yesung melangkahkan kakinya memasuki rumah besar itu.
Sepi.
Yesung tidak melihat siapapun di ruang tamu. Ia menghela napas lega. Lagipula ia belum benar-benar siap untuk bertemu Mr. Kim saat ini. Mungkin akan lebih baik jika ia beristirahat dulu.
"Yesung!"
Sebuah suara yang begitu Yesung kenal tiba-tiba terdengar membuat langkah Yesung yang baru menaiki satu anak tangga terhenti. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang. Ia bisa menangkap nada tidak bersahabat dari suara Mr. Kim tadi.
Dengan sedikit gemetar, Yesung berbalik dan menemukan Mr. Kim tengah menatapnya tajam, Yesung langsung menundukkan kepalanya.
"Da-Daddy aku—"
"Tidak pulang. Membuat semua orang cemas. Dan ternyata kau pergi semalaman bersama seorang namja, huh?" Potong Mr. Kim sinis membuat Yesung langsung mengangkat kepalanya terkejut.
"Daddy ini tidak seperti yang Daddy pikirkan!"
"Kemarin kau pergi dan tidak pulang. Lalu pagi-pagi seorang namja mengantarmu pulang. Apa yang harus Daddy pikirkan? Kalian tidak sengaja bertemu, begitu?" Ujar Mr. Kim sarkastik.
Yesung menatap Mr. Kim tidak percaya. Bagaimana bisa ia berpikiran seperti itu. Bahkan perban yang melingkar di kepala Yesung saja belum terlepas. Apa ia tidak melihatnya?
"Kau tau Kyuhyun tidak pulang semalaman karena mencarimu? Dan kau justru bersenang-senang bersama seorang namja? Apa yang ada di dalam pikiranmu, huh?!" Nada sinis Mr. Kim kini berubah menjadi emosi. Ia lalu melangkahkan kakinya dengan gusar menghampiri Yesung.
Tubuh Yesung semakin gemetar. Ia bisa merasakan aura kemarahan terpancar jelas dari raut wajah Mr. Kim.
"Sepertinya air dingin tidak cukup untuk membuatmu menyesali perbuatanmu. Kau justru melakukan hal yang lebih mengecewakan!" Seru Mr. Kim seraya menyiramkan kopi di tangannya pada Yesung.
"Argh!" Sontak Yesung mengerang kesakitan begitu merasakan kopi yang masih panas itu menyentuh kulit wajah dan tubuhnya.
Prankk!
Mr. Kim membanting cangkir yang tadinya berisi kopi itu lalu mencegkeram erat tangan Yesung.
"Da-Daddy sa-sakithh.." Rintih Yesung.
Namun Mr. Kim tidak mempedulikannya. Ia terus menarik tangan Yesung keluar dari rumahnya.
Bugh!
Mr. Kim menghempaskan tubuh Yesung di teras rumahnya membuat namja itu kembali memekik tertahan.
"Pikirkan baik-baik apa yang sudah kau lakukan! Daddy harap setelah ini kau tidak lagi melakukan hal-hal yang membuat Daddy kecewa!" Seru Mr. Kim lalu kembali masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu dengan kasar.
Yesung menangis. Wajah dan tubuhnya yang terkena siraman kopi tadi terasa begitu panas. Luka dipunggungnya kembali terasa sakit karena membentur lantai. Ia juga dapat merasakan luka di keningnya kembali mengalirkan darah dan terasa perih. Namun itu semua tidak seberapa jika dibandingkan dengan satu luka yang kembali tertoreh di sana. Jauh di dalam hatinya telah tercipta luka baru.
Dengan gemetar, Yesung menyeret tubuhnya ke sudut pintu dan menyandar di sana. Ia memeluk kedua lututnya erat dan menenggelamkan wajahnya. Tubuhnya bergetar semakin keras menandakan ia masih terus menangis. Menyesali perbuatannya? Entahlah. Bahkan Yesung sendiri tidak tau perbuatan mana yang pantas disesali.
.
.
~ 예 원 ~
.
.
Kyuhyun keluar dari mobilnya dan iris sewarna hazel itu segera menemukan seseorang meringkuk di samping pintu rumahnya. Kyuhyun tau dengan pasti siapa sosok itu. Seulas senyuman terukir di bibir tebal Kyuhyun. Dengan cepat ia langsung berlari menghampiri sosok itu.
"Ye—" Senyuman di bibir Kyuhyun seketika memudar begitu ia mendekat dan menemukan tubuh kecil di hadapannya itu bergetar, "Yesung?!"
Kyuhyun berlutut di depan Yesung. Tangannya terulur meraih wajah Yesung dan mengangkatnya. Dan matanya melebar begitu melihat wajah itu sedikit pucat dan memerah. Iris caramel Yesung terlihat sembab dan begitu redup. Ada aliran darah dari kening Yesung yang bercampur dengan air mata. Terlihat cairan berwarna cokelat kehitaman di sana, dan Kyuhyun bisa mencium aroma kopi menguar darinya. Semua itu, keadaan Yesung saat ini benar-benar mengenaskan di matanya. Seolah ada belati yang tak terlihat mengiris hati Kyuhyun.
"Siapa yang melakukan ini padamu?" Tanya Kyuhyun masih dengan menangkup wajah Yesung. Kedua sudut matanya mulai terasa panas.
Yesung tidak menjawab. Ia masih terus terisak dengan bibir bergetar. Caramel-nya menatap mata Kyuhyun dengan sorot yang sungguh membuat hati Kyuhyun semakin terasa sakit. Kepedihan terpancar jelas dari kedua iris caramel itu.
"Kita masuk dulu, okay?" Ucap Kyuhyun lagi setelah yakin Yesung tidak akan menjawab pertanyaannya sebelumnya.
Kyuhyun lalu bangkit dan menarik tangan Yesung namun Yesung menahannya. Kyuhyun menatap Yesung bingung.
Yesung hanya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah ketakutan.
"Ada apa, Yesung?" Tanya Kyuhyun bingung.
"Aku.. ak-aku takut.."
Kyuhyun kembali berlutut dan mengusap rambut halus Yesung lembut, "Kau tidak perlu takut. Ada aku di sini," Ujarnya dengan seyuman hangat yang seolah menjanjikan perlindungan.
Yesung tetap menggeleng.
"Aku berjanji tidak akan ada yang menyakitimu. Sekarang kita masuk, okay?" Bujuk Kyuhyun lagi dengan suara lembut.
Yesung masih tidak menjawab. Namun kali ini ia hanya menundukkan kepalanya.
Kyuhyun menghela napas. Ia lalu mengangkat tubuh lemah Yesung dengan bridal style dan membawanya masuk ke dalam rumah. Kyuhyun sedikit terkejut. Ia tau tubuh Yesung memang lebih kecil darinya. Namun ia sama sekali tidak menyangka Yesung akan seringan ini.
Yesung tidak memberontak. Ia hanya membenamkan wajahnya di perpotongan leher Kyuhyun dan membiarkan kakak kembarnya itu membawanya ke kamar. Paling tidak, ia merasa aman saat ini.
Kyuhyun merebahkan Yesung di atas tempat tidur dengan bed cover sewarna lautan miliknya.
"Kau tunggu di sini, ne? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu," Ucap Kyuhyun.
Namun Yesung tidak menjawabnya.
Kyuhyun kembali menghela napas. Ia lalu masuk ke kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Yesung mandi. Setelah itu ia kembali menggendong Yesung dan membawanya ke kamar mandi.
Yesung hanya terus terdiam ketika perlahan Kyuhyun mulai melepas semua pakaiannya. Entahlah. Ia hanya merasa begitu nyaman ketika melihat mata sewarna hazel di hadapannya itu memancarkan rasa cemas untuknya.
Yesung masih terdiam sampai ketika Kyuhyun selesai memandikannya dan kembali mengangkatnya ke kamar. Setelah itu Kyuhyun menghilang beberapa saat untuk mengambilkan pakaian Yesung di kamarnya. Tidak terlalu lama, ia kembali dengan membawa baju Yesung dan juga sebuah kotak kecil.
Kyuhyun membantu Yesung memakai bajunya. Ia juga mengeringkan rambut Yesung dengan handuk. Setelah itu ia membersihkan luka di kening Yesung dengan alkohol lalu kembali menutupnya dengan perban.
Kyuhyun tersenyum samar. Yesung terlihat jauh lebih baik daripada saat ia menemukannya di depan pintu tadi. Hanya saja, ia masih bisa melihat sorot kepedihan dari iris caramel yang menatapnya tanpa ekspresi itu.
"Kau lelah, kan? Lebih baik sekarang kau tidur," Ucap Kyuhyun setelah cukup lama keduanya terdiam.
Kyuhyun kemudian membantu Yesung berbaring di atas tempat tidurnya. Kyuhyun menarik selimut dan menutupi tubuh Yesung ketika tiba-tiba ia merasakan jemari Yesung menggenggam tangannya. Ia lalu mengangkat kepalanya dan menemukan Yesung tengah menatapnya dengan raut wajah yang masih sama.. ketakutan.
"Aku akan menjagamu di sini. Sekarang kau tidur, okay?" Ucapnya lagi seraya tersenyum lalu mengecup kening Yesung lembut.
Kyuhyun mengusap pipi Yesung dengan lembut seiring dengan Yesung yang mulai memejamkan matanya. Tidak lama kemudian Kyuhyun bisa merasakan hembusan napas teratur dari Yesung.
"Aku akan menjagamu. Aku berjanji," Lirih Kyuhyun.
TBC~~~
A/N : Ini chapter 7 nya, mohon dikasih koreksi kalo salah update lagi XD
Ohya, FF Tell Me A Lie chapter 6 tunggu aja sekitar seminggu lagi ya ^^a
