Disclaimer: KnB hanyalah milik Fujimaki Tadatoshi semata.
.
.
Chapter 7
.
.
.
Hyuuga hanya bisa merasakan kalau tangan yang digenggamnya semakin lama semakin meluruh daya cengkramnya. Bukannya merasa sombong ataupun memang itu harapannya. Namun dia merasakan desir yang aneh ketika telapak tangan yang digenggamnya merespon telapak tangannya.
Namun telapak tangan yang cukup halus bagi pemain basket itu akhirnya hanya bisa mengikuti gerakannya untuk menuju ke daerah yang cukup sepi berupa taman kecil yang memisahkan antara fakultas MIPA dan fakultas kedokteran.
Hyuuga berbalik menghadap Izuki yang menunduk. Dia berjalan mendekat dan mendapati jejak airmata yang baru saja dihapus oleh lengan kemeja Izuki.
Diraihnya kedua bahu sang point guard dengan perlahan.
Apakah air mata itu muncul akibat dirinya?
Perasaan bersalah yang seharusnya berkurang ketika dirinya meminta maaf akhirnya menumpuk lebih banyak lagi dari sebelumnya. Apakah Izuki takut kalau kejadian yang berada di perpustakaan itu terulang lagi?
Kalau begitu kenapa dirinya tidak berlari saja?
"H-hei…."
"Hyuu-ga… aku minta maaf…"
Kenapa?
Bukankah seharusnya dirinya yang minta maaf? Kenapa harus Izuki?
Pikir Hyuuga! Mikir!
Namun Hyuuga merasa kalau otaknya benar-benar tidak bisa diajak kompromi saat ini. Melihat orang yang kau sayangi menangis tanpa tahu apa yang membuatnya menangis. Ataukah merasa kalau dirimulah yang membuatnya sedih?
Apakah Izuki trauma dengan kejadian yang dulu-dulu?
Tangan yang niatnya merengkuh Izuki pun mengurungkan niatnya. Izuki sendiri hanya menunduk. Tanpa diberitahu pun Hyuuga dapat merasakan kalau Izuki menahan air matanya.
"Kenapa kau yang harus minta maaf?"
Izuki mendongak.
"K-kau tahu, seharusnya sejak awal aku meminta maaf padamu. Mengenai kejadian itu. Kau tidak salah apa-apa. Akulah yang seharusnya salah disini."
"Ie, seharusnya aku yang minta maaf. Dan maafkan aku yang…."
"Ciuman itu?"
"Hn."
Hyuuga menarik napas dalam. Jadi karena ini?
Jadi Izuki tidak mempermasalahkan dirinya yang waktu itu berniat untuk menjelajahi bagian dalam mulutnya?
Jadi bukan karena pelecehan?
Jadi karena Izuki merasa bak peng-
Tunggu dulu…
Itu artinya….
"Seharusnya akulah yang meminta maaf padamu. Melakukan hal itu di tempat umum dan tidak berhasil mengejarmu."
Izuki mendongak namun akhirnya menunduk. Dia juga merasa bersalah mengenai kenapa dirinya yang malah terbawa suasana saat itu. Namun Hyuuga sendiri juga merasa bersalah.
"Njaaa…."
Belum sampai meneruskan kalimatnya, Hyuuga yang sejak tadi berganti pose dengan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal di interupsi oleh Izuki yang menghela napas.
"Kita impas?"
"Eh?"
Pandangan Hyuuga yang tidak bisa diartikan membuat Izuki menyimpulkan kalau Hyuuga masih belum bisa menganggap semuanya impas. Apakah Hyuuga masih gusar?
Namun disisi lain dia tidak ingin kehilangan Hyuuga lagi.
Biarlah berpura-pura sebagai teman. Setidaknya dia ingin sekali mendekat pada Hyuuga. Namun dengan respon yang seperti itu…
"Aku.. aku tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Kumohon, maafkan aku. Selama ini aku menjauh karena aku takut padamu. Namun disisi lain aku merasa kalau…..hiks…."
Oi oi..
Hyuuga merasa bak seorang penjahat sekarang. Belum urusan yang dulu-dulu terselesaikan, sekarang dia malah membuat Izuki menangis. Tangannya yang secara reflek berniat untuk meraih tubuh Izuki ke pelukannya segera terhenti.
Dia segera menoleh ke arah lain.
Namun Izuki yang malah tetap saja menangis membuatnya mendecih dan menarik Izuki ke pelukannya. Dibawanya tangan kanannya untuk mengusap belakang kepala Izuki dengan perlahan. Lalu dengan gerakan lembut dipandunya Izuki untuk bersandar di dadanya.
Hyuuga segera merutuki dirinya sendiri mengenai reaksi tubuhnya yang tidak mau dikontrol oleh otaknya. Namun yang jelas dia harus fokus pada Izuki. Dibimbingnya Izuki menuju ke tempat yang agak sepi dengan maksud agar tidak terlihat oleh orang lain.
Apalagi ketika langit sudah mulai mendung begini.
"H-hei…"
"Hiks… aku… aku minta maaf…."
"Oi oi… wakatta wa… kita impas…. Sudah Shun… sudah…." (1)
Hyuuga berniat untuk mengubur dirinya sendiri saat itu juga. Apa-apaan tadi? Shun?! Jikalau ada lubang yang muat dengan tubuhnya di sekitar situ, Hyuuga dengan senang hati menyeburkan dirinya yang tiba-tiba saja keceplosan saat itu.
Dan panggilan yang seharusnya menetap di hatinya pun terlepas juga. Membuat Izuki mendongak kaget karena baru pertama kalinya Hyuuga memanggilkan begitu.
"Ehm.. sudahlah! Lebih baik kita mencari tempat berteduh dahulu! Lihatlah! Sebentar lagi mendung!" ucap Hyuuga yang sukses membuat Izuki menaikkan sebelah alisnya. Namun perasaan hangat muncul begitu saja ketika menyadari bahwa mereka bisa bertingkah seperti biasanya.
Izuki tidak berharap banyak.
Yang jelas keadaan seperti ini membuatnya menghangat. Apalagi ketika Hyuuga kembali meraih lengannya dan mengajaknya untuk berteduh. Biarlah saat ini berlalu dengan lambat hingga dirinya bisa menikmatinya hingga detik terakhir.
Yang jelas, meskipun menyakitkan,
Izuki akan tetap menjaga rahasianya mengenai perasaannya.
Menjauh dari Hyuuga begitu menyiksa.
Mereka telah sampai di sebuah gazebo dan titik-titik air pun mulai berjatuhan. Hyuuga menaruh tasnya di tengah-tengah sedangkan Izuki dengan perlahan melepaskan sepatunya.
"Izuki…."
Entah kenapa perasaan hangat itu menghilang. Izuki mencoba untuk memberikan stimulus pada otaknya berupa penyebab dari semua itu adalah hujan yang mulai mengguyur daerah itu. Namun dia tidak bisa membohongi hatinya yang mengatakan bahwa dia begitu menginginkan panggilan tadi.
"Hai?"
"Mengenai hal tadi… lebih baik kita lupakan saja ya?" ucap Hyuuga sambil melepaskan kacamatanya dengan maksud membersihkannya dari embun yang muncul. Izuki memiringkan kepalanya ke kiri.
"Maksudnya?"
"Mengenai kejadian waktu di perpus itu…. Bisakah kita sepakat untuk melupakannya?"
Mau tidak mau Izuki tersenyum miris. Bagaimana tidak, dirinya yang sejak dulu berniat untuk menjauh dengan harapan melupakan semuanya akhirnya menyadari bahwa dirinya kembali membohongi diri sendiri.
"Aaa…."
Hyuuga menghela napas lega. Sedangkan Izuki tersenyum simpul. Kenyataannya, mereka kembali seperti waktu SMA dulu. Biarlah semuanya terkubur dan tertutupi secara sempurna.
"Njaaa… jadi kita berteman… kan?" ucap Hyuuga dengan nada kikuk. Membuat Izuki mengangguk sambil tersenyum. Senyum simpul yang ditemani dengan tatapan lembut dari seorang Izuki Shun.
Indah.
Dan tanpa sadar Hyuuga ikut tersenyum.
Namun pemikiran mengenai Imayoshi cukup menggelitik pikirannya. Tidak! Tidak mungkin. Namun perkataan dari Mibuchi membuatnya memacu adrenalinnya.
Better late than never.
Just like Mibuchi said.
"Ehm Izuki…."
Izuki yang sedang sibuk memperhatikan rintikan hujan menoleh ke arah Hyuuga yang memasang muka aneh (bagi Izuki). Namun dia tidak mengetahui bahwa sang clutch shooter berusaha untuk mengeluarkan isi hatinya.
Namun yang muncul hanyalah ekspresi yang tidak bisa dibaca di mata sang eagle eye.
"Ada apa? Apakah kau ada kuliah jam segini?"
"Sebenernya sih iya."
'Hyuuga! Kau benar-benar bodoh! Baka! Aho!' ucap Hyuuga dalam hati. Kenapa yang muncul malah itu?!
Izuki tersenyum geli. Namun dia bernapas lega. Setidaknya dia tidak harus menjauhi Hyuuga lagi. Hingga tiba-tiba saja dia tertawa.
"OI!"
"Warui warui…. Ekspresi yang kau eskresikan bener-bener ekspresif banget! Ah! Kitakore!"
"Izuki!"
Hyuuga pun meraih kerah belakang Izuki dan mencekik leher sang point guard dengan lengan kirinya. Sedangkan telapak tangan kanannya dia kepal untuk menjitak kepala Izuki. Setelah puas dengan jitakan, dia segera menggosok-gosok kepalan tangannya itu dengan kasar di atas tempurung kepala Izuki.
"Hyuugaa…. Yametee….! Ha-hageruuuu!" ucap Izuki sambil berusaha melepaskan dirinya dari pitingan mematikan ala mantan kaptennya. Meskipun dia hanya berpura-pura saja mengingat betapa dekatnya dirinya dengan Hyuuga. (2)
"Kau tidak akan botak hanya dengan begini!" ucap Hyuuga dengan masih menganiaya ubun-ubun Izuki. Namun keduanya merasakan hal yang sama.
Hangat.
Menyadari akan sesuatu yang mungkin saja keluar batas, mereka segera menjauhkan diri secara serempak. Hyuuga dengan melepaskan kacamatanya (lagi) dan Izuki yang mengelus-elus ubun-ubunnya. Hingga terdengar suara yang menarik perhatian mereka berdua.
"Hyuuga-kun! Are… kok kamu ada disini? Kuliahnya Anko-sensei batal ya?"
Dua pasang mata menoleh dan menemukan seorang gadis dengan celana panjang serta kemeja casual serta sebuah payung berlari ke arah mereka. Namun dikarenakan hujan yang cukup deras, gadis itu memilih untuk berteduh di emperan gedung di dekat gazebo.
Izuki menatap Hyuuga dengan penuh nada penasaran lalu menatap ke arah gadis yang masih sibuk melihat-lihat rintikan hujan sambil melambai ke arah mereka.
"Teman satu kelas," ucap Hyuuga datar. Izuki tersenyum.
"Aku tahu. Kalau begitu kenapa kau tidak segera menjemputnya? Aku akan kembali sendiri,"ucap Izuki sambil melihat jam digital di ponselnya. Hyuuga menghela napas. Rencananya tertunda untuk hari ini.
Tidak, untuk saat ini.
"Kau ada waktu sore nanti?" tanya Hyuuga was-was. Was-was karena takut dianggap sesuatu oleh seseorang yang akhirnya mau menerimanya.
"Hm… kuliahku berakhir jam tiga sore nanti."
"Oke, aku jam setengah empat. Bagaimana dengan perpustakaan?"
"Baiklah. Emangnya ada apa?"
Hyuuga ingin sekali menjawab dengan 'Karena aku ingin menyatakan perasaanku, D'aho!'. Namun segera ditamparnya mukanya sendiri. Untung saja tidak keceplosan.
"H-Hyuuga?!"
"A-ah.. tidak apa-apa kok. Teeheee… sudah lupakan! Jam setengah empat di perpustakaan umum kampus ya!" ucap Hyuuga sambil memakai sepatunya dan membuka payung.
"Aku kan nanyanya tentang masalah apa. Bukan waktu sama tempatnya."
"Akumaumenyatakansesuatupadamu."
"HE?! Kau bilang apa tadi?!"
Hyuuga segera berlari menuju ke arah Akira yang segera menyusulnya. Mereka berjalan beriringan sedangkan Izuki masih belum mengerti mengenai apa yang dibicarakan Hyuuga. Namun Izuki hanya menaikkan bahunya.
Setidaknya mereka bisa bertingkah seperti dulu lagi.
Jam-jam kuliah dia lewati dengan sempurna. Bahkan dia sanggup menjawab beberapa pertanyaan mematikan dari dosen-dosen yang terkenal akibat sikap garang mereka. Berkali-kali teman-teman sekelasnya menempelkan telapak tangan mereka ke dahi Izuki akibat tingkahnya yang begitu berbeda.
"Hey! Izuki! Kau tidak apa-apa, 'kan?"
"Izuki-kun! Kau tidak apa-apa kan? Apakah kau salah minum obat?!"
"Kurasa bukan itu penyebabnya, Harakiri-san."
"Jangan-jangan dia meminum sesuatu tadi malem!"
Izuki hanya menghela napas ketika teman-temannya satu kelas sibuk menanyainya mengenai perbedaan dirinya saat ini. Emang salah ya kalau seharian penuh menguarkan aura keramahan dan senyum manis?
"Kau yakin tidak apa-apa? Jangan-jangan…."
"Minnaa… aku tidak apa-apa! Salah ya kalau aku bersikap begini?!" ucap Izuki risih. Waktu telah menunjukkan pukul setengah empat kurang lima belas menit. Sebentar lagi Hyuuga selesai kuliahnya.
"Ya tentu saja salah! Kau berhasil membuat Hori-sensei bengong akibat seorang mahasiswa yang malah tersenyum senang bak dapat predikat A+ ketika disuruh menjawab soal olehnya!"
"Eh? Emangnya ada yang salah ya?"
"Soal yang dia berikan itu adalah soal yang materinya muncul di semester depan."
"Oo….. heehh….. HE?!"
"Minna, kurasa Izuki-kun tadi pagi kepalanya kejedot pintu kamar mandi," ucap Mizu selaku ketua kelas dengan nada menyimpulkan.
.
.
.
Hyuuga mengutak-atik ponselnya. Berkali-kali melihat ke arah jam digital yang terus bertambah angka di layarnya. Berkali-kali dirinya menghela napas sambil bersandar di dekat tempat duduk sekitar perpustakaan.
Setelah berjalan bersama temannya, dirinya menyadari mengenai tempat bertemu mereka.
Tempat ciuman pertama mereka.
Hyuuga berharap-harap cemas mengenai Izuki yang masih trauma mengenai hal itu. Namun semuanya sirna ketika melihat siluet yang dinanti-nanti olehnya bergerak melaju menghampirinya.
"Hyuugaa….! Maaf aku terlambat! Hosh..hosh… hosh…."
Hyuuga segera membuka tasnya dan memberikan sekaleng minuman isotonic untuk Izuki. Izuki dengan tanpa rasa bersalah segera duduk di sampingnya dengan posisi punggungnya yang bersandar pada bahu Hyuuga. Membuat Hyuuga merasa bak seseorang yang terlalu banyak makan wasabi.
Izuki benar-benar bertingkah seenak udelnya. Tidak tahukah bahwa Hyuuga yang dibelakangnya sedang sibuk mengatur detak jantungnya yang suatu saat memberikan indikasi bahwa dirinya terkena darah tinggi?
Namun Hyuuga menyukai perasaan hangat yang menyentuh dadanya.
"Uhuk! Uhuk! Uhuok!"
"Aish! Pelan-pelan kenapa! Dasar hage!" ucap Hyuuga sambil berbalik dan menepuk-nepuk punggung Izuki. Izuki sendiri masih sibuk dengan batuknya. (3)
"Aku enggak botak, uhuk! Hyuuga…"
Hyuuga segera melancarkan aksinya berupa pitingan dengan lengan kiri dan jitakan dengan kepalan telapak tangan kanan.
"NAH! Seharusnya kau ganti katamu tadi dengan belum!" ucap Hyuuga dengan gusar.
"Ampun! Ampun!"
Hyuuga pun melepaskan Izuki dan mengajaknya untuk berjalan-jalan. Dengan iming-iming ditraktir Hyuuga (padahal tanpa ditraktir pun Izuki juga mau ikut), Izuki berjalan beriringan dengan Hyuuga.
Ketika sampai di taman yang cukup sepi, Hyuuga menghentikan langkahnya.
"Izuki…"
"Hm?"
"Hm.. sebenarnya…"
"Iya?"
"Sebenarnya… sebelumnya kau jangan marah dulu,ya…"
"Hm?"
"Sebenarnyaakusukapadamu."
Izuki mematung. Namun dengan cepat diraihnya kesadarannya kembali mengingat bahwa mungkin saja yang dimaksud oleh Hyuuga itu suka sebagai teman. Lagipula mungkin saja dia yang berkhayal mengingat suara Hyuuga yang pelan dan kurang jelas.
"Tentu saja aku suka juga padamu. Kalau tidak tentu saja kita tidak berteman dan ujung-ujungnya bermusuhan,'kan?"
Hyuuga ingin sekali menjitak kepalanya sendiri mengenai dirinya yang kurang jelas dalam berkata-kata. Dia segera meraih bahu Izuki dan menatap cowok berwajah oriental itu dengan seksama. Yang ditatap hanya memiringkan kepalanya sebagai gesture tanda tanya.
Meskipun dalam hati Izuki berusaha untuk memberikan komando kepada jantungnya untuk tidak bergerak terlalu cepat.
"Mak-maksudku… bisakah kita menaikkan hubungan relationship kita? Naik level gitu?"
"Hm? Maksudmu dari friend ke best friend?"
"Bu-bukan!"
"Oh, maksudmu super best friend gitu? Kaya Kuroko sama Kagami? Ataukah kaya Takao sama Midorima dari Shutoku itu?"
"Yang kuinginkan adalah dirimu yang menjadi b didepan friend bagiku."
"Iya. Best friend kan maksudnya?"
"Aarrrggghh!"
Tangan Hyuuga yang awalnya memegangi bahu Izuki pun berpindah ke kepalanya sendiri dengan tujuan untuk mengucek-ucek rambutnya hingga berantakan. Sedangkan Izuki sendiri begitu takut untuk mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud adalah boyfriend.
Bukankah itu mustahil?
Mengingat Hyuuga ingin sekali melupakan ciuman itu…
"Lho? Salah ya?" ucap Izuki dengan nada penuh tanda tanya. Namun dalam hatinya dia berusaha untuk mengatur diri agar tidak terlalu percaya diri mengenai Hyuuga yang kemungkinan besar dekat dengan Kantoku maupun cewek yang tadi.
Mungkin sebagai teman curhat mengenai percintaan…
Biarlah,
Meskipun terasa sakit, setidaknya…
"Oo… maksudmu boyfriend? Ie.. ie.. aku cuman bercanda…" ucap Izuki. Dia merutuki dirinya yang malah keceplosan. Membuat Hyuuga yang sudah tidak berbentuk lagi rambutnya itu menatapnya kembali.
"A-apa? Sudah kubilang aku bercanda. Jangan dimasukin hati. Mungkin maksudmu itu mengenai temen curhat masalah cewek kan? Tenang saja. aku akan siap sedia membantumu!"
Hyuuga menghela napas. Namun bertahun-tahun mengenal Izuki membuatnya tertarik akan manik hitam itu. Manik yang memancarkan hal yang berbeda dari yang dikatakan pemiliknya. Manik itu terlihat sunyi dan kesepian. Hyuuga tersenyum.
Izuki,
Kau tidak bisa membohongiku.
Oleh karena itu izinkanlah aku untuk mengenalmu lebih dalam.
Agar aku bisa membuat manik matamu yang indah itu berbinar tiap harinya.
"Maksudku adalah, maukah kamu menjadi pacarku? Aku tahu kalau ini benar-benar kecepatan mengingat kejadian waktu itu. Kalau seandainya tidak, maafkan aku yang sudah lancang mengatakan hal ini. Kau boleh melakukan apa saja padaku asal jangan kau putuskan pertemanan kita," ucap Hyuuga.
Dipandanginya Izuki yang membatu.
'Apakah itu artinya Izuki kembali teringat akan kejadian lampau dan trauma?'
"Hn."
Sedikit suku kata dan anggukan Izuki membuat Hyuuga membelalak tidak percaya. Berkali-kali dia mengerjap-ngerjap dengan harapan bahwa yang dia lihat adalah nyata. Yah, Izuki masih didepannya dengan muka yang tertunduk.
Dan Hyuuga bersumpah demi minus matanya yang bertambah mengenai semburat merah yang muncul di kedua pipi Izuki.
"Apakah itu artinya.."
"I-iya…"
Demi minus matanya yang suatu hari berbalik menjadi plus, Hyuuga yakin seyakin-yakinnya kalau cintanya diterima. Dengan perlahan diraihnya telapak tangan Izuki. Izuki sendiri membiarkan dirinya dipandu Hyuuga.
Dan matanya terbelalak sempurna ketika bibirnya menyentuh sesuatu yang lembut. Namun dengan cepat dirinya dapat merespon gerakan selanjutnya. Hyuuga sendiri begitu kagum mengenai bibir Izuki yang terasa meleleh di mulutnya. Masing-masing saling memberikan sentuhan lembut dan mencoba untuk bergerak secara perlahan.
Hyuuga melepaskan diri dari Izuki dengan perlahan. Dilihatnya Izuki yang sudah semerah tomat.
Kawaii
Dan Hyuuga tersenyum.
"Itu untuk yang dulu. Maafkan aku yang terlalu jahat untuk memintamu melupakan kejadian yang di perpustakaan itu."
"I-ie…"
"Soudesuka ne… maa, anggap saja sebagai ganti dari yang dulu," ucap Hyuuga sambil bertingkah kikuk lagi. Membuat Izuki tersenyum geli akan tingkahnya. Tiba-tiba saja Hyuuga mengulurkan tangannya ke arah Izuki. Izuki pun melihat sekeliling.
"O-oh… gomen. Bagaimana dengan akhir pekan?"
"Hn."
Dan mereka berjalan beriringan.
.
.
.
Owari….
.
.
.
A/N:
(1) Wakatta wa: Aku tahu kok.
(2) Yamette : hentikan. Hageru : jadi botak.
(3) Hage: Sebenernya ini bisa berarti 'botak' ataupun 'bego'. Tapi Izuki salah presentasi.
.
.
Say good bye for this fanfic. Thanks buat para reader yang ngasih fave, follow ataupun review selama fic ini berjalan. Juga buat para silent reader yang mendukung Kasumi dari belakang (?). Oh ya, thanks juga buat orang yang gak mau disebutin namanya buat rekomendasi lagu-lagunya (aku tahu kau disana dan sedang browsing-browsing fanfic tanpa login. Muahahahaha #plakk!). 2 Lagu endingnya anime Blood+ memang sasuga banget buat nulis nih chapter. Ada yang mau nyoba? #abaikan.
Yups, Kasumi enggak bisa kata-kata lagi. Sudah cukup sampai disini #plakk!
Ada yang mau omake? Meskipun enggak nge-angst sih. Soalnya ini cerita dari mereka berdua yang lovey-dovey dan gitu deh….
Akhir kata,
See you somewhere in this ffn (?) *lambai-lambai sambil naik burung gambaran cowok dari fandom sebelah*
