EVIL PRINCE
(confuse)
6
Sehun + Luhan
Romance, little bit hurt, drama, Yaoi, 18+
E
And as a human, saya tidak pernah luput dari kesalahan
.
.
.
Preview~
"pencuri" lanjut orang itu. Luhan masih terbatuk berusaha meraih sebuah gelas yang ada di seberangnya, menuang air dan meneguknya sambil menepuk dada.
"bahkan kau masih bisa minum setelah tertangkap basah? Ckckck.."
Luhan menelan ludahnya dengan paksa. Ia tak berani berbalik karna ia tau siapa pemilik suara yang di kenalnya itu, Oh Sehun.
Luhan tidak salah, Sehun memang sialan!
Ia juga bodoh karna percaya begitu saja kalau Sehun benar-benar sudah pergi. Nyatanya ia masuk perangkap
Sial!
…..Evil Prince / 6
BRAK!
"YAK!" Luhan berdiri menghampiri pintu yang baru saja di tutup oleh Sehun setelah melempar Luhan keluar rumah dengan tidak berperi kemanusiaan. Sudah Luhan jelaskan kalau ini bukan salahnya dan Taehyung terlibat dalam siatuasi. Namun, Sehun tak bergeming tetap menyeretnya
Bugh! Bugh! Bugh!
"Yak! Kau tak bisa seperti ini! Buka pintunya!" Luhan mengendor dan menendang brutal pintu tak bersalah sambil berteriak. Di balik pintu, Sehun dengan sekuat tenaga menahan ganggang pintu agar tak terbuka dan membiarkan Luhan masuk. Namun, pemuda di luar sana. Walau bertubuh kecil, tapi berkekuatan super hingga Sehun cukup kewalahan.
"setidaknya biarkan aku menghabiskan ramennya." Teriak Luhan lagi "yak! Oh Sehun buka pintunya!"
Bugh! Bugh! Bugh!...
Sejenak suara berisik di luar hilang. Sehun berpikir Luhan sudah menyerah dan memilih pergi, namun ia tak lengah dan masih memegang ganggang pintu dengan tubuh menempel di pintu agar tak terbuka hingga
BRAK!
Sehun melotot horror menatap kaki pintu. Sebuah celah telah tercipta di sana dan itu membuat pergerakannya melemah. Sehun melepas ganggang pintu, membiarkan pintu yang sudah bolong itu terbuka lebar memperlihatkan sosok Luhan yang juga menganga di depan pintu.
"a-apa yang kau lakukan pada pintunya?" mata kedua pemuda itu masih terpaku pada sisi pintu yang bolong sebelum beralih pada engsel pintu yang mengeluarkan suara aneh.
Sehun menelan ludah. Sedikit demi sedikit pemuda itu menggeser tubuhnya ke samping karna pintu terlihat akan roboh hingga beberapa saat kemudian pintu itu benar-benar roboh menimpa billboard Lee Min Hoo hingga sobek
Luhan meringis ngeri kearah pintu sebelum menatap Sehun dengan tampang polos layaknya tak terjadi apa-apa.
"eng, kau, tadi kau mengusirkukan? Kalau begitu aku pergi dulu." Luhan sudah melangkah menuruni tangga dengan cepat meninggalkan Sehun yang masih mematung di tempat hingga beberapa saat kemudian pemuda itu tersadar dan menyusul Luhan.
Luhan yang mendengar suara langkah kaki di belakangnya berlari menuruni tangga lebih cepat namun terlambat, Sehun lebih cepat menarik Luhan tepat di kerah belakang seragamnya, membuat tubuh Luhan terhuyung dan terduduk di tangga hingga bokongnya sakit.
"kau mau kemana, eoh?" Sehun mengangkat kerah seragam Luhan hingga pemuda itu berdiri dengan ekspresi tercekik "kau harus bertanggung jawab atas apa yang sudah kau lakukan pada pintunya." Sehun melangkah menaiki tangga sambil menyeret Luhan yang memekik tertahan karna Sehun menarik kerah seragamnya seakan pemuda itu tak punya tangan untuk ditarik.
Luhan berusaha melepas tangan Sehun dari kerah seragamnya, namun semakin ia melepas, Sehun malah menariknya kedepan dengan kasar membuat Luhan benar-benar tercekik dan terbatuk. Luhanpun memilih diam dan mengikuti pemuda itu tanpa perlawanan.
Sesampainya di atap gedung. Luhan hanya bisa menunduk menatap pintu malang yang roboh sambil menggertakan giginya berkali-kali menimbulkan suara berisik lainnya di sana selain hembusan angin malam.
"aku tidak mau tau, lakukan apapun yang kau bisa agar pintu itu kembali seperti semula." Sehun melangkah memasuki rumah dan keluar lagi dengan sebuah tas besar di tangan kirinya. Kakinya menginjak-injak pintu malang itu saat di dapatinya Luhan masih tak melakukan apa-apa.
Luhan mendongak dan langsung bertemu dengan raut wajah Sehun yang memerintahnya. Sadar atau tidak, Luhan berjalan masuk kedalam rumah dan kembali dengan beberapa perkakas.
Ia lalu mulai mendirikan pintunya, namun ia kembali menjatuhkannya mengingat sesuatu. Hei? Apa ini sepenuhnya salahnya? Kenapa ia harus melakukan ini?
Luhan menatap Sehun yang duduk di sudut atap gedung. Ia lalu membanting palu yang di pengangnya ke lantai yang saat itu mengenai pintu. Hal itu membuat Sehun mengalihkan pandangannya pada Luhan
"kenapa aku harus melakukan ini?! Kau pikir ini salah siapa hingga pintunya rusak?!" Luhan menghentakkan kaki kanannya menginjak pintu dengan kuat membuat kondisi pintu itu semakin parah.
Sementara pemuda berkulit pucat di sana sudah berdiri menghampiri Luhan membuat Luhan sedikit merutuki ucapannya
"kau masih bertanya?" Sehun mengangkat sebelah alisnya "kau pikir siapa yang menendang pintunya?!" Luhan mengalihkan pandangannya ke berbagai arah sebelum kembali menatap jakun Sehun
"aku yang menendang pintunya." Luhan menunjuk sisi yang bolong pada pintu "lalu salah siapa yang menahan pintunya hingga kakiku yang terbiasa menendang bola ini bergantikan menendang pintu, eoh?!" Luhan berkecak pinggang
"aku sudah bicara baik-baik, tapi kau tak mau mendengarnya. Aku hanya bilang, setidaknya biarkan aku masuk dan menghabiskan ramyeon yang sudah mengembang di panci sana" Luhan menunjuk kedalam rumah "tapi kau keras kepala." Sedetik kemudian tak ada yang bersuara, keduanya diam dan Luhan tau kalau Sehun tengah berwajah datar
"memangnya kau siapa hingga aku harus mengijinkanmu masuk dan memakan ramyeonku di dalam sana?"
Luhan mendongak menatap mata Sehun setelah ucapan datar pemuda itu. Ia tak tau harus menjawab apa. Benar, memangnya dia siapa? Memalukan sekali pikirnya mengingat kejadian tadi.
Tuan rumah tak mengizinkan masuk tapi ia malah memaksa. Dan kata-kata Sehun barusan masuk ke ulu hatinya yang paling dalam, meninggalkan goresan di sana menyadari betapa malangnya seorang Luhan saat ini.
Luhan tersenyum kecut dan menunduk "kau benar, maafkan aku." Ia lalu berbalik hendak mengembalikan apa yang sudah di rusaknya seperti semula sebelum sebuah tangan menghalaunya. Luhan berbalik dan mendapati Sehun tengah meletakan jari telunjuknya didepan bibir, mengisyaratkan Luhan untuk diam. Luhan menurut
Mereka terdiam seperti itu mendengar suara langkah kaki menaiki tangga yang sepertinya tak hanya satu orang, terdengar pula suara sahut menyahut tengah berbincang. Luhan menatap Sehun yang langsung menariknya menuju sisi atap lalu mengambil tas besar Sehun di sana sebelum berbalik dan pergi ke sudut pembatas atap dan tangga.
Sehun mengintip ke bawah sedangkan Luhan berada di belakangnya terlihat bingung namun tetap mengikuti apa yang di lakukan Sehun. Tak lama kemudian, beberapa orang terlihat menuju atap gedung, Sehun langsung menarik kepalanya dan bersandar ke pembatas yang bisa menyembunyikan tubuhnya dan Luhan dari jangkau pandang orang-orang itu.
Sehun melirik lewat ekor matanya saat orang-orang itu bertanya-tanya mendapati pintu yang roboh. Luhan sedikit menyembulkan kepala namun Sehun langsung menariknya kembali menempel di dinding membuat Luhan meringis kecil karna belakang kepalanya terbentur dan Sehun langsung membekap mulutnya agar tak bersuara.
"terakhir ku tinggal. Semuanya baik-baik saja."
"yeah, tapi nyatanya semuanya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Pintunya roboh, bodoh!"
"mana ku tau. Bukan aku pelakunya."
"sebaiknya kita jual saja tempat ini. Aku jadi merinding, beberapa kali aku menemukan hal aneh di sini."
"aneh bagaimana maksudmu?"
"ada banyak ramyeon di sana, itu mungkin terdengar bagus. Tapi, beberapa kali aku berkunjung. Terdengar suara percikan air di kamar mandi. Tapi, setelah ku buka tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya ada keran air yang menyala begitu saja."
"apa ada seseorang yang diam-diam tinggal di sini?"
"mungkin. Aku berharap itu seseorang, bukan sesuatu." kedua orang lainnya merinding mendengar cerita temannya.
"yeah, mungkin aku memang harus menyerahkan rumah ini ketangan orang lain dan menukarnya dengan uang." Ujar seorang pria gemuk. Dua lainnya hanya mengangguk setuju lalu mereka memasuki rumah
Dan intinya. Luhan mengetahui sesuatu dari percakapan orang-orang itu. Ia langsung melepas paksa bekapan Sehun di mulutnya
"kau menipuku?!" Sehun tak perduli dan berjalan keluar dari persembunyiannya menuruni tangga. Luhan tak terima di acuhkan mengikuti pemuda itu dari belakang dan terus menuduh pemuda dengan kulit pucat itu telah menipu.
"argh! Sial!" umpat Luhan menendang batu namun akhirnya kakinya yang sakit. Ia sangat kesal. Bagimana mungkin ia dengan bodohnya bersembunyi agar tak ketahuan dan membiarkan tubuhnya sakit dengan posisi tidur kemarin malam, lalu terlambat kesekolah, hampir mati tersedak hanya karna orang yang sama. Orang yang di kiranya si pemilik rumah—Oh Sehun—yang ternyata juga tinggal diam-diam di rumah itu.
Luhan terus melangkah mengikuti kemena Sehun pergi. Pemuda berkulit pucat di depannya itu sama sekali tak menghiraukan keberadaannya. Ia hanya terus berjalan menapaki kaki ke tempat tujuan membiarkan Luhan ikut dengannya
.
.
.
Ini kali kedua Luhan berada di studio tempatnya bertemu Taehyung. Pemuda itu hanya berdiri di luar gedung tak berani ikut Sehun masuk ke dalam sana. Ia tak mau mendengar ucapan sinis Sehun.
Waktu sudah menunjukan pukul 1 pagi. Cuaca mulai dingin hingga membuat Luhan menggigil. Ia beranjak dari tempatnya dan duduk di depan studio sambil mengamati jalan raya yang tak pernah sepi.
Kakinya ikut naik ke kursi dan melipatnya sambil memeluk diri sendiri menahan hawa dingin malam.
"eoh?" Luhan mendongak mendengar seruan seseorang di sampingnya dan mendapati pemuda berambut pink keriting "kau siapa?" pemuda itu betanya heran menatap intens Luhan
Merasa tak punya berhak berada di situ. Luhan berdiri dan membungkuk hendak pergi namun suara seseorang kembali mengintrupsi "Luhan?"
Luhan menoleh dan mendapati Taehyung berdiri di sebelah pemuda berambut pink keriting
"kau kenal dia?" tanya pemuda rambut keriting menunjuk Taehyun dan Luhan bergantian. Taehyung mengangguk dan menghampiri Luhan
"kenapa tidak masuk?" Luhan menggaruk belakang lehernya. Sebuah dengungan keluar dari mulutnya
"di luar dingin. Ayo masuk." Luhan membuka mulut hendak menolak, namun Taehyung lebih dulu menyeretnya masuk diikuti pemuda rambut keriting di belakang mereka.
Semua yang ada dalam ruangan menoleh mendengar suara berisik Taehyung yang berceloteh dengan pemuda rambut keriting dan Luhan hanya diam. Taehyung menuntun Luhan duduk di sofa tempat Luhan pernah duduk sebelumnya
Di sana Luhan melihat seorang pemuda yang tak asing baginya. Pemuda yang pernah Kyungsoo kenalkan padanya. Tapi, entah kenapa pemuda itu langsung melotot saat melihat Luhan membuat Luhan terheran-heran. Apa dia sedang coba meniru ekspresi Kyungsoo dengan mata besar?
"ku dengar, rumah itu akan di jual." Tutur Taehyung setelah Luhan duduk namun pemuda itu tak mengerti apa yang di maksud si cover Baekhyun "Sehun bilang dia pindah lagi." Luhan masih tak mengerti. Taehyung menatapnya dan memutar bola mata. Luhan sangat lalot
"rumah yang ku tawarkan padamu kemarin akan memiliki penghuni tetap dan pintu baru beserta kunci." Luhan hanya membulatkan mulutnya mengerti. Namun, detik berikutnya ia teringat hutang penjelasan dari Taehyung
"tunggu, jadi, kau tau Sehun juga tinggal di sana? La-lalu… kenapa.. kau?" Luhan merasa tidak ada yang lucu. Namun, Taehyung tertawa hingga terpingkal ke sandaran sofa
"hanya mengerjaimu saja." Luhan mendengus. Taehyung sialan karna ia berhasil
"ohya, bukankah kau sekolah di tempat yang sama dengan Sehun?" Luhan mengangguk dan Taehyung mengangkat tangannya memanggil seseorang. Luhan menoleh dan seorang pemuda yang Luhan lupa siapa namanya menghampiri mereka lalu duduk di sofa lainnya.
Taehyung menepuk bahu pemuda itu "ini Kai. Dia juga sekolah di tempatmu. Jadi, kalau kalau kau tak cukup akrab dengan Sehun. Mungkin kau bisa akrab dengannya." Kai, pemuda itu melotot kearah Taehyung saat pemuda itu memperkenalkannya pada Luhan.
Luhan tersenyum lembut "aku sudah mengenalnya, hanya aku lupa namanya." Kai menatap Luhan terheran-heran "Kyungsoo pernah memperkenalkanmu waktu itu." Kai masih terlihat berpikir sebelum kembali menatap Luhan tak percaya
"Kyungsoo? Kau kenal Kyungsoo?" Kai bertanya dengan antusias seakan memenangkan kupon undian mobil membuat Luhan dan Taehyung terheran-heran dengan reaksi Kai yang berlebihan
"n-ne" Luhan jadi kikuk menghadapi Kai yang tiba-tiba seperti ini
"kau, bisakah kau membawaku menemuinya? Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan. Ini berkaitan dengan Sehun." Luhan menautkan alis bingung
"ini sangat penting. Kami tak pernah bertemu lagi saat itu dan aku tak benar-benar mengenal Kyungsoo. Jadi, aku tak tau di mana dia tinggal. Ayolah, ini sangat penting." Kai menangkupkan kedua tangannya di depan dada seolah memohon. Luhan hanya menoleh menatap Taehyung yang mengedikan bahu tak tau menau sebelum menatap Kai dan mengangguk
.
.
.
Dan di sinilah Luhan. Dengan tidak sopannya berdiri di depan rumah Kyungsoo jam 3 pagi coba mngusik tidur si pemilik rumah dengan menekan bel . Semua itu ia lakukan karna Kai sangat tak sabaran dan ingin mereka segera berangkat saat itu juga.
Luhan kembali menekan bel saat tak mendapat respon di percobaan ke 2. Luhan melirik Kai yang berdiri gelisah di sampingnya. Luhan heran. Bukankah mereka partner? Lalu? Bagaimana mungkin Kai tidak terlalu mengenal Kyungsoo?
Masih tak ada respon. Luhan menoleh pada Kai "sebaiknya kau datang besok pagi saja. Tak baik berkunjung sesubuh ini. Eommanya bisa mengomel kalau mereka berada di rumah." Luhan menghela napas saat Kai tak mendengarnya dan malah menekan bel berulang-ulang hingga tak lama kemudin, pintu terbuka menampakan seorang pemuda dengan piyama tidur dan raut wajah mengantuk.
"sia—" Luhan menganga saat Kyungsoo yang hendak bertanya namun langsung terdorong ke dinding karna Kai menciumnya membuat Kyungsoo yang masih setengah sadar langsung membuka kedua bola matanya lebar-lebar.
Merasa tak berhak atas tontonan itu. Luhan mengalihkan pandangannya dari dua orang itu. Ia dapat mendengar leguhan Kyungsoo di sana dengan kalimat terpotong-potong.
.
.
.
"Lu, sudah ku bilangkan? Kalau kau butuh tempat bernaung. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu." Kyungsoo datang dari dapur membawa 2 gelas minuman di tambah omelan untuk Luhan mendengar penjelasan Kai saat Kyungsoo mempertanyakan kebersamaan mereka.
"aku hanya tak mau terlalu merepotkanmu." Luhan meneguk minuman yang di berikan Kyungsoo
"kalau kau terlontang lantung di jalanan, apa itu tak merepotkan? Itu bahkan lebih merepotkanku dari pada kau tinggal di sini." Luhan hanya megangguk-angguk sudah biasa dengan sikap sahabatnya yang satu ini
"sudahlah, beruntung Luhan tak tinggal denganmu. Jadi, aku bisa bertemu dengamu lagi lewat dia." Kai menengahi ucapan Kyungsoo namun malah mendapat tatapn tajam dari si pemuda pecinta masakan itu.
"aku bercanda." Koreksi Kai lagi
.
.
.
Luhan menekan bantal di kedua sisi telinga. Ia tak bisa tidur meski rasa kantuk menghantuinya. Bayangkan, ini sudah jam 4 pagi tapi tidur singkatnya karna besok ia sekolah harus terganggu dengan suara-suara erangan di sebelah kamarnya—kamar tamu dirumah Kyungsoo—
Tak bisakah mereka menahannya sampai besok? Ayolah, ini hari yang melelahkan
Merasa percuma uring-uringan di atas ranjang. Luhan memilih beranjak dan keluar kamar turun kebawah dan tidur di sofa ruang tamu. Setidaknya di sana suara erangan itu tak lebih jelas
.
.
.
Esok harinya. Luhan berangkat sendiri kesekolah sedangkan Kyungsoo diantar oleh Kai sebelum pemuda itu berangkat kesekolahnya sendiri. Sesampainya di kelas, Luhan melihat Sehun telah bertengger di bangkunya sambil mendengarkan music.
Pemuda dengan kulit pucat itu sedikit melirik Luhan saat ia berjalan ke bangkunya. Tak lama Luhan duduk, datang Jongin masuk terburu-buru. Pemuda itu berlari kearah Sehun dan terengah-engah bertumpu di meja Sehun membuat Sehun bingung.
"kakekmu…hhh… kakekmu ada diruang kepala sekolah."
Luhan yang melihat dan mendengar itu memasang raut wajah bingung mendapati Sehun yang melotot dan langsung berdiri sambil menyeret tasnya keluar kelas terburu-buru.
Ada yang aneh. Waktu itu juga, Luhan sempat mendengar seseorang menyebutkan soal kakek Sehun dan pemuda itu langsung pergi meninggalkan hotel membawa semua barang-barangnya.
Luhan masih bertanya-tanya saat Jongin duduk di sampingnya, Luhan menoleh.
"ada apa ?" Luhan akui, ia cukup penasaran walau ia bukan orang yang suka ikut campur. Jongin mengeluarkan sebuah buku sebelum menoleh pada Luhan.
"kakeknya datang." jawab Jongin membuka halaman buku
"lalu, apa masalahnya? Kenapa Sehun terlihat panic?" Jongin kembali menoleh menatapnya sambil memperbaiki letak kacamata besarnya
"ah~ sepertinya kau sangat ingin tau tentang Sehun." Luhan mengerjab dan memasang raut wajah yang sulit diartikan mendapati tatapan intimidasi dari Jongin.
"tidak, hanya penasaran. Sudahlah, lupakan saja." Luhan beralih menatap depan kelas. Jongin memutar tubuh menghadap Luhan, ia penasaran dengan pemuda ini yang sangat tertarik akan sesuatu menyangkut Sehun.
"Luhan?" sebuah gumaman keluar dari mulut Luhan. Jongin berdehem dan melipat kedua tangan di depan dada "kau… kau yakin hanya penasaran?" Luhan menoleh menatap Jongin dengan alis bertaut "bukan karna…. Karna kau menyukainya?" Luhan melotot. Ia tak menyangka Jongin akan beranggapan seperti itu hanya karna ia ingin tau
"m-mworago?!" Luhan mendorong lengan Jongin membuat lipatan tangan pemuda itu lepas "bicara apa kau ini?" Luhan membuang muka menatap papan tulis dengan alis berkedut-kedut, aliran darahnya tiba-tiba menjalar cepat dan berkumpul dikedua pipi.
Ia tak tau ia kenapa, entahlah, ia merasa malu mendapati pertanyaan seperti itu. Dan reaksi salah tingkahnya itu membuat Jongin memasang seringaian yang tak dilihatnya
"benarkah?" Luhan menoleh sekilas mendapati Jongin yang bertanya sambil mengangkat sebelah alisnya
"geurae!" Jongin sebenarnya tau apa saja yang sudah terjadi. Ia sudah menanyakan sesuatu yang ingin ia tanyakan pada Kyungsoo dan pemuda bermata bulat indah itu menceritakan sesuatu yang menyangkut pautkan Luhan didalamnya.
Ia tak menyangka dunia begitu sempit dan Sehun sangat bodoh. Mengingat itu membuat Jongin ingin tertawa dan kembali menggoda Luhan namun guru sudah memasuki kelas memulai pelajaran dan Jongin yakin kalau Sehun tak akan datang kesekolah berbulan-bulan atau mungkin selamanya. Sayang sekali kalau ia tak bisa bertemu pemuda itu lalu memberitau kabar mengejutkan ini.
Jongin yakin, Sehun akan bersembunyi dulu dari kakeknya.
Ckckck, Sehun payah!
.
.
.
Luhan pulang kerumah Kyungsoo karna sahabatnya itu memaksa agar Luhan tetap disana sampai Luhan mendapat tempat tinggal tetap dan pekerjaan. Kalau perlu, ia tinggal selamanya disana sampai kelulusan, atau, kalau perlu Kyungsoo akan meminta ibunya agar mengangkat Luhan menjadi saudara angkatnya. Luhan pikir Kyungsoo terlalu berlebihan dengan semua pemikirannya itu
Sesampainya di rumah Kyungsoo. Luhan mendapati Kyungsoo berdiri di depan pintu dan menyuruhnya masuk. Di dalam sudah ada Baekhyun dan Chanyeol yang sibuk bercumbu di depan Kai. Luhan hanya memutar bola matanya melihat kedua orang itu.
Apa mereka juga melakukan sex di jalan raya?
Yeah, jangan salahkan pertanyaan Luhan karna kedua orang itu benar-benar tak tau tempat atau tak mengindahkan siapa yang menonton mereka. Seingat Luhan, dulu kedua sahabatnya itu tak terang-terangan melakukan hal seperti itu. Tapi, ada apa dengan sekarang?
"cepatlah ganti bajumu dengan baju yang ada di atas tempat tidurmu. Kita akan pergi kesuatu tempat." Begitulah kata Kyungsoo saat Luhan akan menaiki tangga menuju kamar tamu. Luhan hanya mengangguk
.
.
.
Luhan tak bertanya atau setidaknya mencaritau kemana mereka akan pergi. Ia hanya diam dan ikut kemanapun mobil Kai membawa mereka hingga Luhan hanya bisa menyesal saat mereka tiba disebuah club.
Bukan club biasa. Ini menyangkut memori Luhan. club dimana ia mengenal Sehun sebagai DJ, club pertama kali ia bertemu Sehun—Xoxo club—
"kenapa kita kesini?" heran Luhan menatap teman-temannya yang berwajah sumringah
"wae? Kau tidak suka?" Baekhyun menepuk bahunya "tentu saja bersenang-senang. Ayolah Luhan, aku tau kau bukan Luhan si bocah polos lagi. Kau bahkan—"
"Baekhyun!" Baekhyun mempoutkan bibirnya sekilas dan memutar bola mata saat Kyungsoo memotong ucapannya membuat Luhan mengeryit heran dan ingin tau. Namun, tak ada yang bisa ditanyainya saat keempat orang itu telah memasuki club membiarkannya berdiri kaku diluar.
Haruskah ia masuk?
Dan, bukankah ini masih terlalu sore untuk memasuki club?
Hhh..yeah, di Seoul perputaran waktu tak ada bedanya jika orang-orang tetap dengan aktifitas mereka.
Luhan sedikit ragu untuk melangkah. Namun, merasa risih karna terus di pandangi orang-orang yang berlalu lalang keluar masuk club. Luhanpun memilih untuk melangkahkan kakinya kedalam, baru saja selangkah, pemuda itu berhenti bertepatan dengan keluarnya seseorang dari club.
Orang itu juga berhenti di tempatnya menatap Luhan heran
"kau/kau" ucap mereka berbarengan disusul deheman keras sebelum pemuda di depan Luhan itu membuka suara
"kau mengikutiku?" Luhan merubah raut wajahnya
"tidak, aku bersama teman-tmanku" ia hendak masuk namun tangan orang itu menahannya
"jangan masuk." Ucap orang itu—Oh Sehun—
"wae?" Luhan melepas tangannya dari genggaman Sehun "apa masalahmu jika aku masuk kesana?! Cih!" Luhan hendak masuk lagi namun Sehun kembali menahannya. Luhan memberontak, ia coba melepas tangannya dari Sehun hingga mereka menjadi tontonan beberapa orang yang lewat
"kubilang jangan masuk ya jangan masuk! Kenapa kau tak menurut sekali saja, eoh?" Luhan tak mengindahkan dan terus menarik lepas tangannya membuat Sehun geram menarik lengan kurus Luhan menjauhi pintu club
"yak! Apa masalahmu, eoh?" teriak Luhan didepan wajah Sehun. Ia heran dengan sikap Sehun padanya yang benar-benar aneh, mood pemuda itu sering sekali berubah.
"pulanglah, tempat seperti itu tak cocok untukmu." Sehun melepas tangan Luhan dan membuang muka. Sebenarnya apa yang dipikirkan Sehun? Entahlah, hanya Tuhan dan Sehun yang tau. Luhan bingung, ia sedang mencari maksud dari ucapan Sehun barusan
"SEHUN!" Luhan dan Sehun menoleh kesumber suara dan menadapti seorang lelaki tua dengan beberapa orang berpakaian hitam berdiri disisi mobil. Luhan beralih menatap Sehun yang melotot dan ternganga lalu beralih lagi menatap kakek tua itu dengan heran
"ha-harabojji?" gumam Sehun membuat Luhan mengulangi ucapan pemuda itu sambil memiringkan kepala kesamping masih dilanda kebingungan. Tapi, satu yang dapat ia simpulkan. Itu pasti kakek Sehun yang datang kehotel dan sekolah tadi pagi
.
To Be Countinue
.
Ell Note :
Yeah, updatenya lama lagi…
Tapi, sebelumnya Ell boleh promo? Ell punya rekomendasi FF baru buatan Ell. Ini rating T karna Ell gak sanggup bikin rating M jadi, mungkin FF yang ini bakal di kemukain dari yang M. Cuma, tenang aja, yang M tetap lanjut kok. Ell bikin rating T lagi, soalnya Ell ngerasa lebih enak dan cocok sama rating T
FF ini judulnya 'ROTATION OF TIME'. Pairingnya masih HUNHAN, tetap HUNHAN kkk~. Ok, Ell kasih tau dulu ceritanya dikit.
Ratu Sungmin diasingkan keselatan atas tuduhan yang sebenarnya tidak ia lakukan. Yang menentang akan disiksa. Sementara permaisuri Ryewook dinobatkan menjadi ratu. Namun, beberapa tahun kemudian raja Oh Kyuhyun mendapat kabar yang tak terduga bahwa ratu Sungmin tengah mengandung saat dibawa ke pengasingan selatan.
Raja sangat bahagia karna sebenarnya ia percaya bahwa ratu tak melakukan apa yang di tuduhkan. Ia tau wakil perdana menteri Yesung terlibat kasus ini atas perintah ratu Ryewook. Hanya saja, mencari bukti bukanlah hal yang mudah. Raja bertambah senang saat mendengar kabar, seorang anak yang sering mengacaukan pengasingan selatan itu adalah anak laki-laki, yang artinya ia akan menjadi putra mahkota.
Sementara ratu Ryewook melahirkan putri mahkota dan raja menginginkan putra. Raja berubah pikiran, pihak barat berencana mengembalikan ratu Sungmin ke kedudukannya secara diam-diam. Namun, perubahan pikiran raja tercium oleh wakil perdana menteri Yesung. Sebuah konspirasipun direncanakan untuk membunuh ratu Sungmin dan putra mahkota, Oh Sehun
Tapi, saat pelaksanaan konspirasi itu. ratu Sungmin menghilang dimalam dimana ia akan dibunuh. Putra mahkota masih berkeliaran di Selatan. Ia mencari ibunya dan bertemu seorang gisaeng teman ibunya. Gisaeng itu memberi Sehun sesuatu yang didapatnya dari kuil barat hingga suatu hari saat ia akan menghadapi maut ia muncul di tempat yang tak terduga.
Sementara itu, di cerita ini Luhan adalah seorang actor pemula dan bla..bla…bla..bla.. kalau tertarik silahkan dibaca kk~ ini kosa katanya gak mirip sama yang di cerita. Ell Cuma ringkas dikit.
…
Kakek Sehun kayak hantu yah ada dimana-mana. Wah, ini gimana yah? Kakeknya Sehun udah liat Sehun. kira-kira kakeknya bakal ngapain Sehun yah?
ok
Good bye~
Terimakasih buat yang bersedia mau bacaaa~
