Tittle : "LOVE LOVE LOVE"
Author : Desta Soo~
Main Cast :
-Do Kyungsoo (Girl)
-Kim Jongin / Kim Kai
Support Cast :
-Oh Sehun / Kai's Friend
-Lee Jongkook / Kyungsoo's Friend
-Han Minyoung (OC) / Kyungsoo's Eomma
-Do Minjoon (OC) / Kyungsoo's Appa
-Kim Jonghyuk (OC) / Jongin's Appa
-Yoo Innah (OC) / Jongin's Eomma
-And Other! (Seiring berjalannya cerita maka cast akan bertambah!)
Genre : Fluffly, Romance, Familly, Little Hurt
Length : Chaptered!
Disclaimer : "FF ini murni hasil pemikiran Desta Soo. Jika ada kesamaan dalam alur maupun cerita dengan milik orang lain, mohon beritahu Desta Soo lewat kolom Review!"
Summary : "Do Kyungsoo adalah siswi 'beasiswa' di sekolah XO HIGH SCHOOL yang sangat membenci kata 'Pem-bully-an'. Tapi, 'Pembully' nomor 1 dikelasnya membantu Ia ketika dirinya sangat membutuhkan uang untuk membayar biaya rumah sakit sang Ibu. Namun sayang dibalik itu semua, ternyata sang pembully memiliki 'alasan' tertentu saat membantunya!"
.
.
THIS IS KAISOO GS FANFICTION... IF YOU DON'T LIKE IT, I HOPE YOU GO AWAY FROM HERE !
.
.
.
WARNING !
DON'T LIKE 'SUMMARY', DON'T READ THE 'STORY' !
.
.
.
.
SORRY FOR TYPO !
.
.
.
.
NO SIDERS !
.
.
.
.
ENJOY !
.
.
.
.
CHAPTER 7
.
.
.
.
*0* === HAPPY READING === *0*
.
.
Hari minggu adalah hari dimana semua orang libur dari kegiatan sehari-hari yang mereka lakukan setiap harinya, mulai dari bekerja, sekolah ataupun kegiatan lainnya. Namun tidak bagi seorang Do Kyungsoo.
Di hari minggu ini Ia mulai pagi cerahnya dengan kerja paruh waktunya sebagai pengantar koran dan susu kotak dari rumah satu ke rumah yang lainnya. Ia melakukan pekerjaanya itu dengan menggunakan sepeda yang disediakan oleh agen pemilik koran dan susu kotak yang akan Ia antar ke pelanggan-pelanggan mereka nantinya.
Kyungsoo menganyuh sepeda berwarna hitam itu dengan semangat untuk melakukan pekerjaannya. Ia meletakkan koran pagi dan juga susu kotak didepan pagar rumah pelanggannya yang sudah tersedia tempat untuk menaruh benda tersebut. Dari rumah pelanggan pertama hingga pelanggan terakhir Kyungsoo berhasil melakukannya dihari pertama Ia berkerja ini.
"Hahh..." Kyungsoo menghembuskan nafas payahnya seraya mengelap bulir keringat yang turun dari atas kepalanya kepelipis dan juga pipi chubbynya.
Kyungsoo duduk disalah satu kursi yang ada ditaman yang tak jauh dari rumah pelanggan terakhirnya lalu mengeluarkan sebotol air mineral yang sempat Ia beli tadi di toko sebrang jalan sana untuk diminumnya. Ia mendesah legah saat air dari botol yang berada ditangan kanannya itu membasahi tenggorokannya yang terasa kering setelah Ia meminum airnya.
"Saatnya melakukan pekerjaan yang lain... Kyungsoo-ya.. Hwaitting!" serunya menyemangati diri sendiri lalu berdiri dari posisi duduknya untuk melakukan pekerjaan paruh waktu lainnya yang sudah menanti dirinya.
.
.
.
.
Seorang wanita cantik dengan dress berwarna soft pink tanpa lengan berjalan memasuki rumah megah keluarga Kim dengan heels berwarna hitam senada dengan tas kecil yang berada dipundak sebelah kanannya. Kedatangannya langsung disambut oleh kepala pelayan Im yang mana sudah menunggunya didepan pintu masuk keluarga Kim yang megah ini.
"Selamat datang nona Luhan.. Sudah lama tidak berjumpa dengan anda." ucap pria berjas hitam resmi itu yang merupakan kepala pelayan keluarga Kim.
"Iya, kau benar Pak Im.. Aku sudah lama sekali tidak berkunjung kemari.." ucap wanita cantik itu sambil tersenyum pada pria dihadapannya. "-Apa bibi dan paman Kim ada dirumah sekarang?" tanyanya.
"Tuan besar sudah berangkat ke kantor sedari pagi tadi karena akan ada meeting dengan kolega bisnisnya. Sedangkan Nyonya besar sedang melihat tanamannya ditaman, nona." jawab sang kepala pelayan.
"Ah begitu rupanya.. Baiklah aku akan menemui bibi Kim sekarang." ucap wanita tadi lalu mulai melangkahkan kakinya kearah samping rumah dimana taman keluarga Kim berada, tapi belum jauh Ia melangkah Ia berbalik kembali dan bertanya kepada kepala pelayan Im. "-Apa Kai ada di rumah paman?" tanyanya.
Kepala pelayan Im menganggukan kepalanya. "Ya nona, Tuan muda masih tidur dikamarnya saat ini." jawabnya.
Wanita cantik tadi menganggukan kepalanya sebentar lalu kembali melangkahkan kaki jenjangnya menuju taman keluarga Kim disamping kanan rumah mewah ini untuk menemui wanita yang sudah dianggapnya ibu sendii itu.
.
.
.
.
Drrttt Drrttt Drrttt
Ponsel hitam diatas meja nakas samping tempat tidur itu bergetar membuat sang pemilik yang masih menutup diri dengan selimut tebal berwarna putih itu merasa terusik dengan getarannya. Tangan berwarna tan itu keluar dari balik selimut terulur untuk mengambil ponsel diatas nakas yang bergetar tadi.
"Halo?"
"Kau dimana sekarang?"
Pria itu melihat layar ponsel miliknya saat mendengar suara wanita yang menelponnya. "Aku sedang keluar dengan Sehun sekarang." jawab sang pria dengan suara yang dibuat sesegar mungkin.
"Benarkah? Lalu dimana Sehun sekarang? Aku hanya melihat mu sendirian dikamar tengah berbaring diatas ranjang kesayanganmu dengan selimut putih menutupi hampir seluruh tubuh mu, Kim Kai." ucap wanita itu.
Kai yang mendengar ucapan panjang lebar dari wanita yang menelponnya ini langsung mengeluarkan kepalanya dari balik selimut untuk melihat seisi kamarnya.
"Luhan?" ucap Kai saat melihat sosok wanita cantik dengan ponsel pink ditelinga sebelah kanannya tengah duduk manis disalah satu sofa yang terdapat dikamarnya.
"Ini kah yang kau sebut sedang keluar dengan Sehun, hm?" tanya Luhan melalui ponselnya.
Kai bangun dari posisi tidurnya lalu mematikan sambungan telepon mereka.
"Kenapa kau bisa masuk ke kamar ku, Han?" tanya Kai tanpa menjawab pertanyaan Luhan sebelumnya.
"Tentu saja aku bisa Kim Kai! Apa kau lupa aku ini siapa, huh?"
Kai mendengus setelah mendengar ucapan wanita didepannya itu. "Ada apa kau kesini? Kau bisa menelpon ku dulu jika ingin bertemu." ucap Kai.
Luhan berdiri dari posisi duduknya lalu berjalan menghampiri Kai yang masih duduk diatas ranjangnya.
"Temani aku jalan-jalan hari ini, Kai.. Aku rindu suasana kota Seoul." ucapnya.
"Berjalan-jalanlah sendiri, aku sibuk hari ini." jawab Kai ketus.
"Ish kau ini! Ayolah Kai temani aku jalan-jalan hari ini, aku tidak punya teman yang banyak di Seoul selain kau dan Sehun."
"Kalau begitu kau ajak saja Sehun untuk menemani mu jalan-jalan. Aku sibuk hari ini."
"Sibuk tidur maksud mu? Kau tidak pernah berubah Tuam muda Kim!"
"Terserah.." ucap Kai lalu kembali berbaring diranjangnya dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya dari atas kepala hingga kakinya.
Luhan menarik sebelah sudut bibirnya keatas lalu mulai menganggu tidur Kai saat ini.
"Ayolah temani aku jalan-jalan hari ini Kai, kau jahat sekali pada ku." kata Luhan dengan kedua tangannya yang menarik-narik selimut yang menutupi tubuh Kai.
"Aku tidak mau, Han.. Pergi dengan Sehun sana. Aku sedang sibuk sekarang." Kai menarik kembali selimutnya yang sempat ditarik oleh Luhan.
"Aku tidak mau berjalan dengan Sehun, aku mau kau yang menemani ku Kai."
Dan kembali tarik menarik selimut itu terjadi hingga Kai lelah dan menyerah untuk menemani Luhan berjalan-jalan hari ini.
.
LOVE LOVE LOVE
.
"Selamat datang... Anda ingin memesan apa, Tuan?" tanya pelayan cantik bermata bulat itu kepada kedua pengunjung cafe dimana tempat Ia mengambil kerja paruh waktunya.
Kyungsoo mulai mencatat pesanan pengunjungnya itu lalu kembali kebelakang untuk menyiapkan pesanan pengunjungnya tadi setelah memastikan bahwa pengunjungnya itu tidak ingin menambah pesanan mereka lagi.
"Kyungsoo, waktu bekerja mu sudah habis sekarang. Pergilah biar aku saja yang menyiapkan pesanan pelanggan tadi." ucap pelayan wanita bernama Jihyun itu pada Kyungsoo.
"Ah kau benar Jihyun-ah, baiklah aku pergi sekarang. Maaf merepotkan mu, ya.." Kyungsoo mulai melepaskan celemek yang berlogo cafe tempat Ia bekerja ini lalu memberikannya pada Jihyun teman sesama pekerja paruh waktu di cafe ini.
Kyungsoo mengganti pakaian kerjanya dengan baju kemeja yang Ia pakai sebelumnya lalu keluar dari cafe menuju kedai bibi Min untuk mencuci piring-piring kotor disana.
Tepat setelah Kyungsoo keluar dari cafe, Kai dan Luhan memasuki cafe itu lalu duduk disalah satu kursi yang berada dibagian dalam cafe menunggu pelayan cafe menghampiri mereka.
Jihyun telah selesai mengantarkan pesanan pengunjung tadi lalu menghampiri meja nomor 17 untuk mencacat pesanan pengunjung yang baru datang itu.
"Selamat datang.. Silahkan memesan Tuan, Nona.." kata Jihyun ramah seraya memberikan buku menu kepada Kai dan Luhan yang duduk dimeja nomor 17.
Keduanya -Luhan dan Kai- menyebutkan pesanan mereka yang mana langsung dicatat oleh Jihyun dan tak lama setelah itu Jihyun meninggalkan meja mereka untuk membuatkan pesanan pengunjung cafe dimana tempat Ia bekerja ini.
.
.
.
.
Kai mengantar Luhan dengan mobil sport merah miliknya keapartemen wanita cantik itu setelah seharian mereka berdua berjalan-jalan keliling Seoul. Keduanya masih berada didalam mobil Kai setelah dua menit yang lalu mobil sport merah ini memasuki kawasan apartemen Luhan didaerah Gangnam dan berhenti didepan pintu masuk bangunan apartemen.
"Kai..." panggil Luhan membuka suara.
"Hm?"
"Tidak jadi."
Kai menolehkan kepalanya kearah Luhan yang berada disebelah kanannya saat ini lalu bertanya, "Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan?" tanyanya.
"Hubungan kita..." jawab Luhan. "-Apa saat ini kau masih mencintai ku?"
Kai belum langsung menjawab pertanyaan Luhan itu. Ia diam beberapa saat lalu hendak membuka suaranya namun kembali Ia tutup rapat bibir tebalnya.
"Kenapa? Apa perasaan mu terhadap ku sudah menghilang, Kai?"
Kai tetap diam. Ia bahkan sudah menolehkan arah pandangannya kejendela disamping kirinya untuk mengelak dari pertanyaan Luhan barusan.
Luhan yang mendapati Kai seperti itu langsung saja Ia membuka sabuk pengaman yang masih melekat ditubuhnya lalu keluar dari dalam mobil Kai tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi pada pemuda berkulit tan itu.
Kai hanya memandangi punggung sempit Luhan yang sudah keluar dari mobilnya tanpa niatan sedikitpun untuk mencegah wanita itu yang Ia yakini saat ini tengah marah terhadapanya. Setelah tidak melihat tubuh Luhan lagi dalam pandangannya, Kai segera melajukan mobil sport miliknya meninggalkan kawasan apartemen Luhan menuju rumahnya untuk mengistirahatkan tubuh dan juga fikirannya yang lelah.
.
.
.
.
.
Hari senin datang kembali. Hari ini Kai dan Sehun sudah datang kesekolah mereka pagi-pagi sekali tak seperti biasanya dikarenakan pangeran berkulit tan itu yang mengajak pangeran berkulit bak albino ini untuk datang kesekolah mereka pagi-pagi seperti saat ini. Keduanya berjalan beriringan menuju lantai dua dimana kelas mereka berada, setibanya dilantai dua Sehun langsung masuk kedalam kelasnya 2-D sedangkan Kai berjalan beberapa langkah lagi untuk sampai dikelasnya 2-A.
"Ternyata aku yang datang pertama hari ini." ucap Kai sambil terkekeh pelan saat mendapati kelasnya masih kosong tanpa satu muridpun yang berada disana.
Kai berjalan menuju mejanya disudut belakang kelas lalu mendudukkan dirinya dikursi miliknya dengan kepala yang Ia letakkan diatas meja belajar menghadap dinding kelas, tak lamapun kedua mata elang itu terpejam untuk tidur.
.
.
.
.
.
Dirumah kecil tempat tinggal Kyungsoo dan ibunya, terlihat seorang wanita muda bermata bulat sudah lengkap dengan seragam sekolah kebanggaan XO High School yang sudah melekat rapih ditubuh rampingnya tengah berjalan menuju salah satu kamar yang terdapat didalam rumah itu.
"Ibu..." ucap Kyungsoo sambil berjalan menghampiri sang ibu lalu duduk disisi kasur dimana ibunya tengah berbaring. "-Apa ibu sudah minum obat?" tanya Kyungsoo pada sang ibu.
Minyoung menganggukkan kepalanya pelan lalu menunjuk beberapa bungkus obat disamping gelas minumnya yang telah Ia minum tadi.
"Kalau begitu ibu harus istirahat kembali sekarang.." Kyungsoo membenarkan letak selimut yang menutupi tubuh ibunya. "-Kyunggie pamit keluar dulu ya bu, sebentar lagi Kyunggie akan pulang. Ibu cepat sembuh ya.." Kyungsoo mencium kening ibunya sebentar lalu berdiri dan berjalan keluar dari kamar sang ibu setelah melihat ibunya menganggukan kepala tadi.
Kyungsoo menutup pintu kamar ibunya lalu berucap pelan, "Maafkan Kyunggie, bu... Kyunggie sudah tidak bersekolah lagi mulai hari ini... Tapi biarkanlah seperti ini karena Kyunggie tidak ingin membuat ibu kepikiran karena Kyunggie sudah tidak bersekolah lagi disekolah mewah itu.." Kyungsoo menatap sendu pintu kamar ibunya beberapan saat. Setelah itu Ia mulai melangkah keluar dari rumahnya menuju tempat pekerjaan paruh waktunya sebagai pengantar susu dan koran pagi.
.
.
.
.
Tiga jam pelajaran sudah Kai lewati begitu saja dengan tertidur didalam kelas. Saat ini sudah memasuki waktu istirahat dan ajaibnya Kai bangun dari tidurnya setelah mendengar bunyi bel pertanda istirahat berbunyi sepuluh detik yang lalu. Ia meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku setelah tidur dengan posisi tubuh duduk diatas kursi dengan kepala yang berada diatas meja selama hampir empat jam lamanya.
Kai mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru kelas lalu terhenti ditempat duduk yang berada dibarisan kedua lebih depan sebelah kanan dari posisinya duduk tengah kosong tanpa adanya tas ataupun buku pelajaran diatas meja itu. Kai berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju meja kosong itu yang mana merupakan tempat duduk Kyungsoo.
"Apa dia tidak bersekolah?" tanya Kai dalam hati, lalu matanya mulai mengitari seisi kelas dan mendapati semua kursi murid terdapat tas disana dan juga buku-buku pelajaran diatas meja-mejanya. Kai mulai melangkah berjalan keluar kelas untuk mencari dimana teman wanita bermata bulat itu berada.
.
.
.
.
.
Disaat pagi menjelang siang tiba, Kyungsoo memulai pekerjaan paruh waktunya yang kedua sebagai penjaga toko bunga di Irene Flower ini.
"Selesai..." seru Kyungsoo setelah Ia menyusun bunga-bunga segar yang dijual ditoko tempat Ia bekerja paruh waktu ini dibagian depan toko agar bisa dilihat oleh para pejalan kaki maupun pengendara motor dan mobil yang melintas didepan toko bunga ini.
"Kyungsoo... tolong bantu letakkan bunga ini didepan.." teriak suara wanita dari dalam toko membuat Kyungsoo segera berjalan menghampiri wanita itu.
"Eonni... Ini bunga apa?" tanya Kyungsoo pada pemilik toko ketika Ia memegang sebuket bunga berwarna merah ditangannya.
"Oh itu.. Itu bunga Aster... Bunga yang sering disimbolkan sebagai rasa cinta, keindahan, kecantikan dan kesabaran karena warnanya yang cantik. Bunga Aster juga ada yang berasal dari Cina, tapi jika di Cina sendiri bunga Aster sering diartikan sebagai kesetiaan dan juga kecemburuan." jelas sang pemilik toko.
"Apa ini termasuk golongan Aster Cina, Eonni?" tanya Kyungsoo lagi.
Wanita itu menggeleng. "Bukan.. Itu bukan termasuk golongan Aster Cina... Bunga Aster Cina berwarna ungu dengan warna kuning dibagian tengah bunganya, sedangkan bunga yang kau pegang saat ini berwarna merah segar, Kyungsoo.." jawabnya.
"Oh.. Begitu ya cara membedakannya, eonni.." kata Kyungsoo dengan mata yang menatap bunga cantik dengan warna merah segar ditangannya itu.
"Letakkanlah diluar bunganya, Kyung.. Pasti sebentar lagi bunga itu akan dibeli orang." kata wanita berambut coklat itu. Kyungsoo mengangguk. Ia segera berjalan keluar dan meletakkan sebuket bunga Aster tadi untuk bergabung dengan bunga-bunga cantik lainnya yang dijual ditoko ini.
.
.
.
.
Jongkook menyeder ketakutan didepan loker miliknya setelah melihat Kai berjalan menghampirinya dan sekarang sudah berdiri tepat dihadapannya saat ini.
"Kau tau kenapa teman wanita mu itu tidak masuk hari ini?" tanya Kai langsung dengan mata tajamnya yang menatap wajah ketakutan Lee Jongkook.
Jongkook menggelengkan kepalanya pertanda Ia tidak tau jika hari ini Kyungsoo tidak masuk sekolah.
"Kau tau dimana Kyungsoo tinggal?" tanya Kai lagi, dan kembali Jongkook menjawab dengan gelengan kepalanya. Hey, Meskipun Jongkook tau dimana Kyungsoo tinggal Ia juga tidak akan memberitahukannya pada Kai secepat itu, karena Jongkook takut Kai akan menjadikan Kyungsoo bahan bullyannya bersama Sehun selanjutnya disekolah ini. Cukup dirinya saja yang sering dibully oleh Kai dan Sehun, tapi Kyungsoo... Ia harus melindungi wanita bermata bulat itu dari dua -katakanlah- iblis paling kejam penghuni XO High School ini.
Kai membuang nafasnya kasar lalu menggigit sebentar bibir bagian bawahnya sebelum kembali bertanya pada Jongkook. "Kau benar-benar tidak tau tempat tinggal Kyungsoo atau kau tidak mau memberitahukannya pada ku, hah?" bentak Kai pada Jongkook.
Jongkook mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk lalu balas bertanya pada pemuda tan dihadapannya itu.
"K-kenapa kau m-mencari Kyungsoo? B-bu-bukankah kau tidak menyukainya?" tanya Jongkook.
Kai yang mendengar itu langsung menurunkan bahunya yang sempat tegang beberapa saat yang lalu, lalu membuang wajahnya kesamping kiri. Bingung untuk memberi jawaban apa atas pertanyaan Jongkook barusan.
"Kenapa kau mencari Kyungsoo, Kai-ssi..." ulang Jongkook.
Kai langsung menolehkan kepalanyanya pada Jongkook lalu berucap, "Aku mau menagih hutang dengan teman mu itu." jawab Kai cepat lalu dengan gerakan salah tingkah Ia berjalan meninggalkan Jongkook sendirian didepan loker milik pemuda berkaca mata itu menuju kelasnya.
Sepanjang perjalanannya menuju kelas, Kai merutuki otaknya yang berjalan lamban saat menjawab pertanyaan dari murid yang sering Ia bully bernama Lee Jongkook itu.
"Aish! Kenapa juga aku harus memikirkan wanita itu? Jika dia tidak bersekolah ya sudah apa hubungannya dengan mu Kai?" tanya Kai pada dirinya sendiri. Ia mengacak rambut coklat lurusnya dengan frustasi lalu mendudukkan dirinya dikursi miliknya dengan kepala yang diletakkan diatas meja sambil mengahadap dinding, -posisi tidurnya pagi tadi.
.
LOVE LOVE LOVE
.
Empat hari berlalu begitu cepat yang mana bagi Kyungsoo terasa menyenangkan karena tidak memikirkan pelajaran disekolahnya yang mewah itu dan juga terasa melelahkan untuk tubuh mungilnya yang memiliki jadwal bekerja begitu padat demi mendapatkan uang yang banyak untuk segera membayar hutangnya pada sang ayah yang sekarang Ia pnggil Paman Do itu.
Setiap harinya selama empat hari terakhir ini dimulai Kyungsoo dengan bekerja sebagai pengantar koran dan susu kotak ke rumah pelanggan yang sudah berlangganan dengan tempat Ia bekerja paruh waktu itu dipagi hari, lalu Ia akan kembali bekerja di toko bunga Irene Flower sebagai pelayan toko hingga siang menjelang. Setelah pekerjaannya di Irene Flower selesai jam dua siang Ia akan bekerja sebagai pelayan di Kkamong cafe. Tak hanya itu, saat sore menjelang malam Kyungsoo menyambung pekerjaan paruh waktunya dikedai milik Bibi Min untuk mencuci piring-piring kotor disana.
Bisa dibayangkan betapa lelahnya tubuh mungil itu, bukan? Tapi setidaknya itulah pilihan terbaik yang Kyungsoo miliki agar Ia bisa cepat membayar hutanganya pada Paman Do dan tidak hidup bergantung pada orang lain lagi.
Lain Kyungsoo lain pula dengan seorang Kim Kai selama empat hari belakangan ini. Pemuda berkulit tan itu selalu datang kesekolah pagi-pagi dan tertidur selama hampir empat jam didalam kelas. Saat bangun dari tidurnya, pandangan pertama Kai tertuju pada kursi dimana Kyungsoo duduk, namun sayang selama empat hari terakhir ini Ia tidak mendapati sosok Kyungsoo duduk disana.
Berulangkali Kai bertanya pada Jongkook mengenai keberadaan Kyungsoo tapi hanya dijawab Jongkook dengan gelengan kepala ataupun suara 'Tidak tau' oleh pemuda itu yang mampu membuat seorang Kim Kai menjadi pusing sendiri karena perasaannya yang tidak tenang seperti ini, ditambah lagi dengan kehadiran mantan kekasihnya yang selalu mengajak dirinya untuk keluar hanya untuk jalan-jalan ataupun hal-hal yang menurut Kai tidak penting lainnya untuk Ia lakukan.
Seperti saat ini, Luhan mengajaknya berjalan-jalan yang mana harus membuat Ia membolos dari sekolahnya karena wanita itu memaksa dan mengancam akan mogok makan jika Kai tidak menuruti kehendaknya. Keduanya berjalan-jalan dipusat perbelanjaan ternama di kota Seoul dengan Luhan yang selalu menggandeng lengan kiri Kai agar pemuda berkulit tan itu tidak meninggalkannya pergi sendirian.
"Apa ini cocok untuk ku, Kai?" tanya Luhan dengan tangan kanannya yang menunjukkan dress berwarna soft pink dengan motif renda pada bagian tangannya yang hanya setengah lengan juga dibagian pinggannya terdapat lekukkan yang membuat tubuh si pemakai akan terlihat sexy.
Dengan malas Kai menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Luhan. Luhan tersenyum lalu memberikan dress yang Ia pegang tadi kepada pelayan toko untuk dibelinya.
Kai menyeret langkah lesunya kembali mengikuti Luhan keluar dari toko tadi menuju toko-toko lainnya untuk memuaskan nafsu belanja Luhan yang tidak pernah berubah sama sekali. Luhan itu orangnya gila shopping asal kalian tau saja.
Keduanya keluar dari Departement Store ternama di Seoul dengan mobil sport merah yang dikemudikan Kai menuju cafe terdekat untuk makan siang bersama.
.
.
.
.
.
Kyungsoo mengelap meja yang terbuat dari kayu jati itu setelah pelanggan yang duduk di meja nomor 21 tadi pergi. Saat sedang membersihkan meja itu, kejadian yang paling tidak Kyungsoo inginkan terjadi begitu saja. Cairan berwarna merah kental jatuh begitu saja dari hidung bangirnya ketika Ia menunduk untuk mengelap meja. Segera Ia dongakkan kepalanya keatas untuk mencegah mimisannya terjadi.
"Kenapa harus seperti ini?" ucap Kyungsoo pelan dengan tangannya yang mengelap darah tadi dengan saputangan yang sudah Ia sediakan disaku celemek berlogo cafe ini yang tengah Ia pakai.
Saat sedang membersihkan darah di hidungnya, lonceng diatas pintu cafe berbunyi menandakan adanya pengunjung cafe yang masuk kedalam. Kyungsoo mengelap hidungnya cepat lalu mengambil buku menu yang ada dimeja samping Ia berdiri kemudian berjalan dengan sedikit sempoyongan karena kepalanya yang terasa pusing mendadak untuk menghampiri pengunjung yang baru saja datang itu.
"Selamat siang... Selamat datang di Kkamong cafe.. Silahkan memesan Nona, Tuan.." Kyungsoo meletakkan buku menu itu diatas meja lalu mendorongnya mendekati tangan pengunjungnya.
Saat mendongakkan kepalanya yang menduduk, Kyungsoo mendapati wajah orang yang paling Ia hindari selama empat hari belakangan ini ada didepannya tengah menatap Kyungsoo dengan pandangan tajam yang ditutupi oleh wajah dinginnya.
Kyungsoo segera mengalihkan pandangannya dari Kai menuju wanita cantik yang datang bersama pemuda berkulit tan itu.
"Anda ingin memesan apa, Nona?" tanya Kyungsoo pada Luhan berusaha mengabaikkan sosok pria yang berada disebelah kirinya saat ini.
"Aku memesan..." Luhan menyebutkan satu persatu makanan yang ingin dimakannya yang mana langsung dicatat oleh Kyungsoo dibuku kecil yang Ia pegang.
Setelah mencatat semua pesanan Luhan, dengan malas Kyungsoo menghadapkan tubuhnya pada Kai guna menanyai apa saja yang ingin dipesan oleh pemuda itu.
"Anda ingin memesan apa, Tuan?" tanya Kyungsoo dengan mata yang menatap buku kecil yang berada ditangannya, tak berani untuk menatap wajah Kai.
"Aku memesan waktu mu untuk berbicara berdua." kata Kai tanpa ekspresi diwajahnya. Ia mendorong kursi yang didudukinya kebelakang lalu segera mengambil pergelangan tangan kanan Kyungsoo untuk mengajak wanita bermata bulat itu berjalan keluar dari cafe ini.
Luhan yang bingung hanya menatap punggung Kai dan pelayan cafe ini yang berjalan keluar dari cafe menuju mobil Kai yang terparkir dihalaman depan cafe.
"Lepaskan aku, Kai-ssi.." kata Kyungsoo dengan tangan kiri yang berusaha melepaskan pegangan tangan Kai dari pergelangan tangannya.
Pemuda berkulit tan itu mendorong Kyungsoo masuk kedalam mobilnya lalu Ia pun menyusul untuk duduk dibalik kemudi supir lalu melajukan mobil sport merahnya menuju kesuatu tempat.
.
.
.
.
Saat diperjalanan bersama Kyungsoo disamping kanannya, Kai menghubungi seseorang yang berada disana untuk menjemput Luhan yang Ia tinggal begitu saja di cafe tadi setelah dirinya bertemu dengan orang yang sangat mengganggu pikirannya beberapa hari beakangan ini.
"Kau mau mengajak ku kemana, eoh? Berhenti Kai.. Aku harus bekerja sekarang.. Kau bisa membuat ku dipecat dari pekerjaan ku.." kata Kyungsoo. Tapi Kai tak menanggapi ucapan wanita itu sedikitpun. Malah sekarang Kai semakin menginjak pedal gasnya yang mana membuat mobil yang sedang Ia lajukan itu melaju dengan kencangnya.
"Ya! Ya! Ya! Ya! Ya! Kau mau mati hah? Kai pelankan mobilnya ku mohon... Kai..!" jerit Kyungsoo ketakutan.
CIIITTTTTTTTT
Kai mengerem mobilnya mendadak yang mana membuat Kyungsoo memejamkan matanya erat.
"Oh.. Apa aku masih hidup sekarang?" tanya Kyungsoo. Ia memegangi pipi chubbynya lalu Ia tepuk-tepuk sendiri bermaksud meyakinkan bahwa saat ini Ia masih hidup.
"Keluar!" intruksi Kai. Pemuda itu membuka sabuk pengaman pada tubuhnya lalu keluar dari dalam mobil. Menyisahkan Kyungsoo yang menatap wajah tanpa ekspresi milik Kai dengan pandangan heran.
Kai membuka pintu disamping Kyungsoo seraya berucap, "Keluarlah." ucapnya.
"Tidak mau. Antarkan aku kembali ketempat kerja ku, Kai.. Aku masih memiliki jam kerja sekarang." tolak Kyungsoo.
Kai tak menjawab, Ia memasukkan tubuhnya kedalam mobil guna melepaskan sabuk pengaman yang melekat ditubuh mungil itu lalu kembali menarik tangan Kyungsoo untuk keluar dari dalam mobil.
"Hey! Kau mau mengajak ku kemana, eoh? Yak! Kim Kai.. Berhenti ku bilang.." pekik Kyungsoo keras sambil menepuk kasar tangan Kai yang menggenggam tangan kanannya.
"Diamlah cerewet!" ucap Kai dingin.
Kai membawa Kyungsoo memasuki sebuah taman yang terdapat di jantung kota lalu berjalan menuju tempat yang cukup sepi pengunjung untuk memberikan privasi agar Ia bisa bicara dengan wanita bermata bulat ini.
"Lepas!" kata Kyungsoo dengan menghentakkan kuat tangannya yang digenggam oleh Kai untuk dilepaskan.
"Kenapa kau melakukan ini, hah? Aku sudah tidak mempunyai hutang lagi pada mu Kai.. Jadi biarkan aku hidup normal tanpa ada bayang-banyang mu lagi dikehidupan ku."
Kai memilih diam. Kedua indra penglihatannya menelusuri setiap lekuk wajah Kyungsoo yang sekarang terlihat lebih tirusan dari terakhir kali Ia bertemu dengan wanita ini.
"Jangan bersikap baik pada ku lagi! Aku tidak ingin hidup dari belas kasihan orang lain, terutama kau!" kata Kyungsoo.
Kai melangkah mendekati wanita itu. "Apa kau makan dengan teratur?" tanyanya.
Kyungsoo mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah Kai yang bertanya padanya. "Aku baik-baik saja.. Aku tidak sakit, jadi kau tidak usah takut karena aku tidak akan meminjam uang pada mu untuk biaya berobat lagi, Kai-ssi.." ucap Kyungsoo.
"Kenapa kau tidak ke sekolah lagi, eoh?"
"Karena aku tidak mampu untuk membayar biaya sekolah disana."
"Tapi kau murid beasiswa, Kyungsoo.."
"Justru karena aku murid beasiswa jadi aku sangat mudah untuk dikelabuhi, bukan?"
"Apa maksud mu?"
"Tidak usah sok polos Kai-ssi... Aku sudah tau semuanya. Jadi, sekarang jangan pernah muncul dihadapan ku lagi karena aku juga akan melakukan hal yang sama terhadap mu mulai sekarang.." kata Kyungsoo akhirnya lalu berbalik untuk pergi meninggalkan Kai kembali ketempatnya bekerja.
Baru beberapa langkah Ia berjalan, kata-kata Kai yang berasal dari balik punggung sempitnya membuat langkah kaki itu terhenti seketika.
"AKU MENYUKAI MU DO KYUNGSOO!" teriak Kai tegas.
Kyungsoo berusaha mengabaikan ucapan Kai yang mampu membuat sesuatu dalam dirinya berdesir dengan kencang itu dengan kembali melangkahkan kakinya panjang untuk meninggalkan tempat ini.
SREETTT
Kai menarik pergelangan tangan Kyungsoo lalu mendongakkan wajah wanita itu untuk menatapnya dengan tangan kirinya.
"Apa kau tuli? Aku bilang aku menyukai mu Do Kyungsoo.." ucap Kai dengan pancaran mata yang serius disana.
Kyungsoo menatap mata elang itu untuk mencari kepura-puraan disana, namun tidak Ia temukan dari mata elang itu. Kyungsoo membuang wajahnya kesamping kanan menghindari pandangan menusuk dari Kai.
"Tatap aku Kyungsoo... Lihat aku sekarang.." perintah Kai namun tak dituruti oleh Kyungsoo. Kyungsoo masih tetap membuat wajahnya kesamping menolak untuk menatap wajah tampan itu.
"Aku menyukai mu... Apa kau dengar? Aku menyukai mu Do Kyungsoo.. Aku menyukai.."
"Berhenti Kai!" potong Kyungsoo. "Berhenti berbicara tentang bualan belaka." ucap Kyungsoo dengan pandangan marahnya pada Kai.
"Aku berkata jujur Kyungsoo.."
"Jika kau mengatakan menyukai ku hanya untuk mempermainkan ku untuk yang kedua kalinya, maaf saja.. Karena aku tidak akan mudah untuk dibohongi oleh orang seperti mu lagi Kai." Kyungsoo melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Kai lalu kembali melangkahkan kakinya. pergi dari tempat itu
"AKU AKAN BUKTIKAN BAHWA AKU BENAR-BENAR MENYUKAI MU DO KYUNGSOO.. KITA LIHAT SAJA NANTI.." kembali Kai berteriak dengan lantang dan tegas berharap wanita yang berlarian itu mendengar ucapannya ini. Kai menendang rumput tak bersalah dibawahnya itu dengan kesal karena wanita bermata bulat itu tidak mendengarkan ucapan seriusnya tadi, malah Kyungsoo semakin kencang berlarinya meninggalkan Kai sendirian ditaman ini.
"Aku harus mendapatkan mu, Kyung.." Kai tersenyum pasti setelah mengatakan itu. Lalu Ia berjalan keluar dari area taman menuju dimana mobilnya terparkir untuk membuat rencana agar Kyungsoo menjadi kekasihnya sesegera mungkin.
.
.
.
.
Esok harinya, Kai kembali bolos sekolah karena akan memulai rencananya untuk mendekati Kyungsoo hari ini. Ia kini berada dikamarnya sendiri tengah duduk diatas ranjang nyamannya menanti siang tiba, dan ketika jam sudah menunjukkan pukul dua belas siang, Ia akan segera keluar menuju Kkamong cafe tempat dimana wanita itu bekerja.
"Kenapa siang datang begitu lama hari ini?" keluh Kai saat kedua mata elangnya mengawasi angka yang terdapat pada jam tangan hitam yang Ia pakai saat ini tengah menunjukkan pukul sembilan pagi waktu setempat.
"Apa aku langsung ke Kkamong cafe saja sekarang?" tanya Kai, lalu.. "Tidak! Tidak! Tidak! Aku harus menunggu siang datang dulu baru ke sana." Ia menggelengkan kepalanya cepat.
Kai kembali berbaring diranjang nyamannya setelah Ia mengacak rambut berwarna coklatnya frustasi.
TOK TOK TOK
"Jongin... Apa kau didalam? Ibu masuk ya?" tanya suara dari luar kamar Kai.
Pintu berwarna coklat emas itu terbuka menampakkan seorang wanita berumur empat puluh tiga tahunan dengan senyum tipis diwajah cantiknya tengah berjalan mamasuki kamar sang anak.
"Kau kenapa, heum? Apa ada masalah dengan sekolah mu?" tanya Innah setelah Ia mendudukkan dirinya disisi ranjang sang putera.
"Ibu... Apa salah jika aku menyukai seorang wanita?" tanya Kai.
Innah mengernyitkan dahinya bingung dengan pertanyaan Kai. "Kenapa? Apa kau dan Luhan kembali bersama?"
Kai menggeleng. "Bukan Luhan, bu... Tapi Kyungsoo.." ucap Kai.
"Kyungsoo?" Kai mengangguk. "Bagaimana orangnya? Ceritakan pada ibu agar ibu bisa memberi masukkan untuk mu."
Kai mulai menjelaskan tentang Kyungsoo pada sang ibu. Mulai dari ciri-ciri wanita bermata bulat itu secara spesifik, lalu Ia yang meminjamkan uang pada Kyungsoo hanya untuk mempermainkan wanita itu saja, hingga perasaan khawatirnya yang datang begitu saja setelah tidak melihat Kyungsoo untuk waktu yang cukup lama -bagi Kai- di kesekolah mereka.
"Kau menyukai wanita bernama Kyungsoo itu?" tanya Innah lembut.
Kai menggelengkkan kepalanya lesu. "Aku tidak tau, bu.."
Innah mengelus kepala Kai yang berada dicelah pahanya dengan sayang. Beginilah sikap asli seorang Kim Jongin jika sudah bersama dengan sang ibu. Ia akan bermanja-manjaan pada Innah karena memang Ia adalah putera tunggal dikeluarga Kim yang mana selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya.
"Mengertilah dulu perasaan mu terhadap wanita itu, Jongin... Jika kau sudah yakin bahwa kau menyukainya, maka kejarlah Ia... Kesempatan tidak akan datang dua kali, nak.. Sekali kau mengambil langkah salah, maka kedepannya kau akan sulit untuk mendapatkan apa yang kau inginkan itu."
"Saat Ia tidak masuk sekolah awalnya aku merasa biasa-biasa saja, bu.. Tapi selanjutnya perasaan khawatir itu tiba-tiba saja muncul. Aku tidak tau itu bisa diartikan sebagai rasa suka atau bukan." aduh Kai pada Innah.
"Kau khawatir padanya?" Kai mengangguk pelan. "Apa yang kau khawatirkan dari wanita itu, hm? Apa perasaan mu ingin selalu melihat wanita itu dalam keadaan baik-baik saja, atau kau ingin membuat wanita itu selalu berada dalam pengawasan mu karena kau ingin selalu menjaganya?" tanya Innah kembali.
"Aku merasa ingin selalu melihat Kyungsoo setiap saatnya, bu... Aku ingin menjaganya, melindunginya, dan selalu mengawasinya, terlebih aku tidak ingin melihat dia didekati oleh laki-laki lain selain aku." jelas Kai pada sang ibu.
"Apa perasaan mu itu sama seperti saat kau ingin menjaga Luhan sebelumnya?"
"Bukan. Perasaan ini terasa lebih besar lagi dari pada saat aku menyukai Luhan."
"Ibu tau jawabannya. Kau bukan menyukai Kyungsoo, nak.. Tapi sekarang kau sudah mencintainya. Dulu ayahmu juga seperti mu, ayah mu berfikir ingin selalu melindungi ibu dan menjaga ibu setiap saatnya. Malah ayah mu pernah salah paham pada teman ibu karena waktu itu ibu diantar pulang teman laki-laki ibu saat kami masih kuliah dulu." jelas Innah.
"Apa ayah orang yang pencemburu, bu?"
"Sepertinya begitu.." jawab Innah.
Kai duduk dari posisinya berbaring dipaha sang ibu lalu menatap ibunya dengan senyum diwajahnya. "Jadi saat ini perasaan ku sebenarnya adalah 'mencintai' Kyungsoo.. Begitukah, bu?" tanya Kai antusian.
"Ya.." Innah menjawab sambil menganggukan kepalanya.
Kai tersenyum manis pada Innah lalu memeluk tubuh sang Ibu dengan erat.
"Terima kasih, bu... Aku menyeyangi mu." kata Kai kemudian Ia melepaskan pelukannya dari sang ibu dan segera keluar dari kamar menuju Kkamong cafe.
.
.
.
.
Sehun sudah tiba didepan pintu masuk sebuah apartemen dilantai tujuh dan bersiap untuk menekan belnya jika saja pintu itu belum terbuka terlebih dahulu.
"Kau sudah datang?" tanya gadis cantik itu. Sehun menganggukkan kepalanya. "Mau pergi sekarang atau masuk terlebih dahulu?" tanya gadis itu lagi.
"Kita pergi sekarang saja, Lu.." kata Sehun. Wanita itu menganggukkan kepalanya dan kembali masuk kedalam apartemennya untuk mengambil tas miliknya lalu kembali keluar apartemen dan mengunci apartemennya dengan beberapa digit angka sebagai paswordnya.
"Ayo.." Ajak Luhan pada Sehun. Keduanya melangkah turun dari lantai tujuh menuju lantai bawah untuk pergi ke taman bermain kenamaan di Seoul.
.
.
.
.
Kai memasuki Kkamong cafe dengan terburu-buru dan langsung berjalan menuju kasir cafe ini, bukan untuk membeli melainkan langsung menanyai dimana keberadaan Kyungsoo sekarang.
"Apa Kyungsoo bekerja hari ini?" tanya Kai langsung pada wanita penjaga kasir itu.
"Kyungsoo? Oh.. Kyungso belum datang, tuan... Karena waktu Kyungsoo bekerja dimulai dari jam dua siang hingga setengah lima sore." jawab wanita itu.
Kai melihat jam tangannya lalu membuang nafasnya kasar saat mendapati angka dibenda berwarna hitam itu menunjukkan pukul sepuluh pagi.
"Aku memesan cappucino ice satu." kata Kai. Ia menunggu beberapa menit lalu membayar minumannya dan duduk disalah satu meja kosong dekat kaca pembatas cafe ini dan jalan diluar sana.
.
.
.
Dirumah keluarga Kim, Innah berjalan mencari supir pribadi keluarga Kim untuk menemaninya ke butik tempat biasa Ia memesan pakaiannya.
"Pak Jung.. Antarkan aku ke butik langganan ku sekarang, ada beberapa baju yang harus aku ambil dari sana." kata Innah pada Pak Jung, supir pribadi kedua dikediaman keluarga Kim setelah Pak Kwon.
"Baiklah Nyonya.." jawab Pak Jung lalu berjalan duluan menuju mobil putih Hyundai Genesis untuk mempersilahkan Innah masuk kedalamnya.
.
.
.
.
Mobil Hyundai Genesis berwarna putih itu melaju dengan kecepatan sedang membaur dengan kendaraan lainnya yang melintasi jalan raya di kota Seoul ini. Innah yang tengah duduk dikursi belakang penumpang melihat sebuah toko bunga dipinggir jalan yang membuatnya teringat sesuatu.
"Pak Jung... Nanti berhenti di toko bunga depan sana sebentar, ya.." kata Innah. Pak Jung menurutinya. Laki-laki berumur empat puluh tahun itu menghentikan mobil yang Ia kendarai didepan toko bunga yang ditunjuk Innah tadi.
.
.
.
Kyungsoo sedang menata bunga-bunga segar nan cantik milik Irene Flower ini dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah imutnya. Ia bolak-balik kesana kemari demi menata bunga-bunga hidup ini agar tampak memikat saat dilihat oleh orang yang melintasi toko bunga ini dan sudi mampir untuk membeli setangkai atau bahkan sebuket dari jenis bunga yang dijual disini.
"Nah.. Dengan seperti ini tatanan kalian terlihat indah dan akan menarik pembeli datang kemari.." ucap Kyungsoo pada bunga-bunga dengan berbagai jenis dan warna yang berada dihadapannya saat ini.
Ia kembali merapikan beberapa tangkai bunga yang tidak terlihat ataupun terletak pada posisi miring lalu tersenyum manis -lagi- setelahnya. Kyungsoo membalik tubuh mungilnya lalu mebungkuk hormat saat melihat seorang wanita dengan pakaian modis mendatangi toko bunga tempat Ia bekerja ini.
"Selamat datang di Irene Flower Nyonya..." ucap Kyungsoo ramah dengan senyum manis dibelahan heart shapenya. Wanita itu balas tersenyum lalu mulai melihat-lihat bunga yang terpajang rapi dihalaman depan toko bunga ini.
"Nona... Apa kau tau bunga yang cocok untuk memperingati hari pernikahan?" tanya Innah.
"Bunga untuk hari pernikahan?" ulang Kyungsoo. Wanita berpakaian modis itu mengangguk.
Kyungsoo berjalan menuju sebuket bunga mawar merah dan melati putih lalu dibawanya untuk Ia tunjukkan pada pengunjung tadi.
"Menurut saya, bunga yang cocok untuk memperingati hari penikahan adalah bunga mawar merah yang dikombinasikan dengan bunga melati putih, Nyonya.. Kedua bunga ini sering dilambangkan sebagai cinta kasih dan kesetiaan.. Jadi saya fikir sebaiknya memilih rangkaian bunga mawar merah dan melati putih sebagai pembuktian cinta dan kasih sayang anda terhadap suami anda Nyonya.." jelas Kyungsoo.
Innah mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Kyungsoo lalu tersenyum setuju setelahnya.
"Baiklah.. Tolong rangkaikan bunga mawar merah dan melati putih ini untuk ku, nak.." katanya.
"Baik Nyonya.. Mohon tunggu sebentar." ucap Kyungsoo lalu masuk kedalam toko untuk merangkai bunga mawar dan melati putih ini dengan rangkaian yang rapi, cantik dan indah untuk dilihat.
Tak lama setelah itu, Kyungsoo kembali menghampiri wanita tadi dan memberikan rangkaian mawar merah dan melati putih karyanya sendiri pada Innah.
"Wah.. Indah sekali rangkaian bunga ini." puji Innah. Lalu Ia mengambil dompet dari dalam tasnya dan memberikan beberapa lembar uang ratusan ribu won kepada Kyungsoo.
"Maaf nyonya, tapi ini terlalu banyak.. Toko kami baru buka dan kami belum memiliki uang untuk kembaliannya."
"Ambil saja kembaliannya untuk mu, nak.. Itu tidak sebanding dengan cantiknya bunga yang kau rangakai untuk ku ini."
"Tapi..."
Belum sempat Kyungsoo menyelesaikan ucapannya, Innah sudah memasuki mobil putihnya lalu pergi mininggalkan toko bunga ini menuju butik langganannya.
"Terima kasih Nyonya..." ucap Kyungsoo sambil menatap mobil putih yang perlahan menjauh itu.
.
.
.
.
Tiga jam lebih Kai duduk disalah satu kursi Kkamong cafe menunggu kedatangan Kyungsoo namun wanita itu tak kunjung datang juga. Saat sedang menunggu kedatangan Kyungsoo, ponsel hitam miliknya yang Ia letakkan diatas meja kayu itu bergetar pelan menandakan adanya pesan masuk disana.
"Aku melihat Kyungsoo sedang bekerja ditoko bunga Irene Flower yang terdapat dipersimpangan tak jauh dari apartemen Luhan."
Itulah pesan singkat yang Kai terima dari Sehun yang mana membuatnya segera beranjak dari duduknya lalu berjalan kearah mobilnya yang terparkir dihalaman depan cafe untuk Ia kemudikan ketempat dimana Sehun mengatakan bahwa Ia melihat Kyungsoo pada pesannya tadi.
.
.
.
.
Kai memarkirkan mobilnya tepat didepan Irene Flower lalu berjalan masuk kedalam toko bunga ini untuk mencari keberadaan Kyungsoo.
"Maaf tuan, apa ada yang bisa dibantu?" tanya Irene selaku pemilik toko bunga ini.
"Noona.. Katakan dimana Kyungsoo sekarang?" tanya Kai langsung.
Irene mengernyitkan dahinya setelah mendengar pertanyaan dari pria dihadapannya ini lalu Ia teringat pada salah satu pekerjanya ditoko ini yang bernama Kyungsoo.
"Oh.. Kau mencari Kyungsoo? Kyungsoo baru saja pulang setelah menerima telepon dari tetangganya yang mengatakan bahwa ibunya jatuh pingsan dihalaman depan rumah mereka."
Tubuh Kai tiba-tiba menegang, Ia segera membuka suaranya untuk menanyai dimana alamat Kyungsoo tinggal.
"Noona.. Bisa kau memberitahu ku dimana alamat Kyungsoo tinggal? Aku harus segera kesana untuk memastikannya, noona.." pinta Kai dengan nada tidak santai -cemasnya- yang terlihat dari mimik wajahnya.
Kai menerima kertas yang berisi alamat rumah Kyungsoo yang sudah dituliskan wanita didepannya ini lalu segera keluar dari toko bunga ini menuju tempat dimana Kyungsoo tinggal.
.
.
.
.
Kyungsoo turun dari ambulance yang membawa tubuh pingsan ibunya lalu ikut mendorong kasur beroda ini menuju ruang ICU dengan wajah paniknya. Ia menggenggam tangan lemas sang ibu dengan gumaman lirih memohon agar ibunya tetap kuat dan bertahan untuknya. Ia menunggu diluar ruangan setelah beberapa perawat wanita dan laki-laki tadi masuk kedalam ruang ICU untuk menangani ibunya.
"Tuhan, selamatkanlah ibu ku... Aku masih sangat membuntuhkannya berada disisi ku, Tuhan..." do'a Kyungsoo pada sang pencipta dengan pandangan mata yang menerawang kebalik pintu bertuliskan ICU diatasnya itu.
Saat sedang menanti dengan cemas didepan ruang ICU, Kyungsoo mendengar seseorang memanggil namanya halus dari belakang punggungnya. Ketika Ia membalik tubuhnya kearah belakang, sosok itu berdiri disana dengan senyum sendu diwajahnya yang tak lagi muda.
Tanpa sadar, Kyungsoo mengucapkan satu kata yang sudah lama tidak Ia ucapkan untuk sosok yang berada beberapa langkah dari hadapannya saat ini dengan pelan.
"Ayah..." ucap Kyungsoo pelan setelah melihat sosok pria dihadapannya saat itu adalah Do Minjoon. Ayahnya...
.
.
.
.
.
.
To Be Continue...
.
.
.
.
.
.
Update chapter ini lama banget yakan? Iya Desta Soo tau kok.. Maaf ya T.T Ini juga bukan kemauan Desta Soo untuk update lama kayak gini.. Ini karena waktu hari sabtu kemarin pas mau update chapter ini ternyata akun FFn Desta Soo kena block.. Maaf untuk kalian yang sudah menunggu terlalu lama untuk kelanjutan cerita FF ini terlebih salah satu Reader setia Desta Soo yang sempet PM dan dijanjikan untuk update hari sabtu kemarin TT_TT
Diusahain chapter 8-nya Desta Soo bisa fast update... Do'ain aja agar semunya lancar dan waktu Desta Soo buat ngetik kelanjutannya ceritanya cukup banyak~ Hehe.. ^^
.
Bagaimana dengan chapter ini, Readers kesayangan Desta Soo ? Mudah-mudahan tidak mengecewakan yaa ^_^
WANNA GIVE ME YOUR REVIEW, GUYS ?
.
Desta Soo
11-02-15
