FF Yunjae
Title: The Jung Sitter
Genre: Romance, humor
Rated: chap yg kemaren sih T, mungkin chap ini/depan M
Warn: yaoi, typos.
Disclaimer: PUNYA SAIA SEMUA! wakakak
Chap sebelumnya
.
Yoochun menepuk pundak Yunho keras-keras, menimbulkan erangan dari mulut namja tampan dihadapannya itu.
"Apa kau tidak tahu rencanaku mengundang kalian berdua, untuk datang kepestaku nanti malam?" tanya Yoochun serius.
Yunho mengernyit, dan menatap Yoochun aneh.
"Aku sudah menyiapkan sebuah kamar, untuk kau dan Jaejoong nanti malam"
"What the..."
"Ssh... Jangan munafik Yun. Aku tahu kau menginginkan Jaejoong. Cepat atau lambat, namja itu juga akan mengakui perasaannya padamu. Buktinya, dia hanya diam saja saat kau menciumnya!"
Yunho terdiam. Benar juga, jika Jaejoong mau menerima ciumannya, kenapa ia masih ragu?
"Nanti malam... Pastikan kau menyiapkan dirimu"
.
.
The Jung Sitter 06
.
.
Jaejoong mematut dirinya didepan kaca malam itu. Saat pulang sekolah tadi, ia menerima sebuah paket dari Yunho, yang berisikan satu stel jas berwarna putih. Sebuah memo kecil terselip disana, menuliskan bahwa pakaian itu adalah kostumnya untuk pesta Yoochun malam ini.
Yang lebih mencengangkan lagi. Siang itu, seseorang menculiknya, dan menyuruh seorang wanita untuk memperkosanya didalam sebuah salon mewah. Ia sungguh tidak habis pikir oleh orang suruhan Yunho itu. Bukankah mereka bisa menjawab pertanyaan Jaejoong, juga mengajak namja itu secara baik-baik. Bukan dengan cara, ia dibekap kemudian diseret dan dilemparkan kedalam sebuah mobil, yang berakhir dengan tubuhnya yang diikat diatas kursi salon. Sehingga ia harus merelakan pegawai-pegawai(yang entah berapa jumlahnya) itu merubah penampilannya.
Namja cantik itu menggembungkan kedua pipinya. Ia sedikit ragu dengan penampilan barunya saat ini.
Rambut hitam panjangnya, telah berubah menjadi berwarna cokelat dan bermodel seperti jamur(?)
Ia belum pernah memotong rambutnya seperti ini meskipun tadi ada beberapa pegawai salon, yang secara terang-terangan menyukai gaya barunya dengan meminta foto ataupun tanda tangan. Namun ia masih ragu. Hanya ummanyalah yang ia percayai. Jika ummanya berkata bagus, itu berarti bagus. Begitu juga sebaliknya.
Lamunan Jaejoong dibuyarkan oleh suara ketukkan pintu. Ia sedikit gugup untuk membukanya. Karena pasti yang berada dibalik sana adalah Yunho. Ia belum bertemu dengan namja itu sepanjang hari ini.
Namun saat telah membukanya, ia harus menelan kekecewaan, karena orang lainlah yang berdiri isana.
"Tuan Jung sudah menunggu anda dibawah" Namja berpakaian buttler itu membungkuk dan menggiring Jaejoong turun.
Ia mempersilahkan Jaejoong untuk memasuki sebuah limousine hitam, yang terparkir dengan anggun tepat didepan rumah Yunho.
"Hai, Jae~" Jaejoong tersentak, dan buru-buru menoleh kearah orang yang memanggilnya didalam mobil itu.
Namun ia bahkan tidak mampu berkedip menatap penampilan Yunho saat ini. Astaga, jika ada orang yang lebih tampan darinya. Pasti Jaejoong tidak akan menampilkan ekspressi yang tidak enak dilihat itu.
Yunho dengan potongan rambut yang rapi, juga setelan hitamnya. Tampak seperti Yunho leader DBSK yang tengah menghadiri acara penghargaan besar di Korea.
Mereka sama! #plak!
Cukup lama mereka berdua sibuk mengagumi penampilan satu sama lain. Sampai akhirnya Jaejoong memutuskan pandangannya.
Namja cantik itu berdehem, kemudian memilih untuk menatap pemandangan kota dari jendela. Ia menumpukan kakinya, dan berusaha untuk terlihat normal. Astaga, ia rasa ia tengah gugup hebat sekarang. Detak jantungnya menggila, dan ia merasa amat canggung untuk sekedar menatap Yunho.
Jika Jaejoong sama sekali tidak kuat untuk menatap Yunho. Tidak dengan sebaliknya. Yunho tidak akan pernah menyia-nyiakan pemandangan indah didepannya. Ia harus menahan dirinya sekuat tenaga, untuk tidak mengambil kameranya kemudian menjadikan Jaejoong objek fotonya yang baru.
Tak berselang lama, mereka telah sampai kedepan sebuah rumah, yang Jaejoong kira lebih besar dari milik Yunho. Ia bahkan tidak pernah mengira kalau itu adalah rumah, jika tidak melihat jemuran didepannya(hahaha XD #dicekek)
"Yun..." ia mencoba memanggil namja kelewat tampan, yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya darinya.
"Yunho" Jaejoong melambaikan sebelah tangannya, kedepan wajah Yunho. Yang berhasil membuat namja itu tersadar dari fantasinya sendiri.
"Eh? Iya?" Jaejoong tersenyum, dan menunjuk kearah jendela.
"Kita sudah sampai" katanya.
Mereka berdua turun dari limousine Yunho bergantian(ya iyalah -_-)
Meskipun pada awalnya Jaejoong merasa canggung karena Yunho memaksa untuk merangkul pinggangnya, tapi mau tidak mau, ia harus menahan geli, dan membiarkan Yunho merangkul erat pinggang rampingnya.
Wow, adalah kata pertama yang dikatakan oleh Jaejoong, saat mereka memasuki ballroom rumah itu. Ballroom luas dengan karpet merah maroon, juga pencahayaan berwarna putih keemasan dari berbagai lampu krystal gantung yang ada itu.
Yunho mengajaknya menemui namja yang ia yakini bernama Yoochun. Namja itu tengah berbincang dengan seseorang sambil menggendong seorang anak kecil di dadanya.
"Yunho! Jaejoong-sshi! Aku tidak menyangka bahwa kalian akan benar-benar datang berdua. Wow, lihat penampilanmu, Jaejoong-sshi. Kau luar biasa" pujinya jujur.
Jaejoong hanya mampu tersenyum miris mendengar pujian orang-orang disekitarnya. Jika saja mereka tahu bagaimana perjuangannya mendapatkan penampilan seperti ini.
"Oh, tunggu sebentar. Aku ingin memperkenalkan pasanganku pada kalian" Yoochun menengok kebelakang, dan menghampiri seorang namja lain.
Satu langkah, Jaejoong merasa familiar dengan namja itu.
Dua langkah, ia benar-benar yakin bahwa ia mengenal namja itu.
Tiga langkah, kedua mata bulat Jaejoong membesar.
"Kim Junsu!" jeritnya tidak percaya.
Sementara objek jeritan(?) Jaejoong hanya tersenyum canggung. Ia sudah mengira bahwa kedoknya akan terbongkar sebentar lagi, hanya tidak menyangka bahwa secepat itulah rahasianya terbongkar.
"Hi, Jae" Kedua mata Jaejoong berkedip tidak percaya.
"Aku akan menjelaskannya padamu" Junsu mengambil bocah cilik dari gendongan Yoochun, kemudian menggeret tangan Jaejoong memasuki sebuah kamar.
Ia memangku namja berumur 2 tahun itu, kemudian mempersilahkan Jaejoong untuk duduk didepannya.
"Yeah, seperti yang kau lihat. Aku berbohong pada kalian semua" mulainya.
"Aku dan Yoochun sudah dijodohkan sejak kecil. Dan kami memutuskan untuk menikah saat aku berumur 14 tahun. Kau pasti tidak akan percaya bahwa aku sudah berumur 18 tahun sekarang" ia berkata ragu.
"Hmm... Aku hanya ingin merasakan tahun terakhirku bersekolah, dan Yoochun menurutinya. Selama ini aku memang berhome schooling, namun setelah Ihwan lahir, dan cukup besar untuk kutinggal bersama dengan nanny. Aku tiba-tiba ingin merasakan bersekolah seperti anak normal lainnya. Jadi Yoochun menyuap seisi sekolah, dan mengatakan kebohongan itu" Junsu tersenyum memaksa.
Namja cantik didepannya itu hampir saja tidak dapat menangkupkan mulutnya lagi setelah mendengar penuturan ajaib dari Junsu.
"D-dia... Anakmu? Tapi kau nam-ja, Junsu-ah" Jaejoong menatap horor pada namja cilik didalam dekapan Junsu itu.
"Yaah... Di jaman serba modern ini. Aku mendapatkan sebuah keajaiban. Kau tahu... Male pregnant? Aku memiliki rahim" Junsu tersenyum lebar.
Jaejoong menatap horor pada namja manis itu, tak menyadari tangannya terangkat menyentuh perut datarnya.
"Eum... Bagaimana rasanya?" tanya Jaejoong hati-hati.
"Bagaimana rasanya mengandung dan melahirkan, Junsu-ah" jelas pemuda itu saat melihat tatapan bingung Junsu.
"Eumm... Maksudku, kau kan... Namja" bisik Jaejoong.
"Hu'um, mengandung itu menyenangkan, Jae-ah. Merasakan versi kecil dari perpaduanmu juga orang yang kau cintai, hidup dan bergerak didalam tubuhmu. Merasakan detak jantungnya, tendangannya, semua yang ada padanya. Kau tahu? Itu terasa ajaib" kedua mata Junsu berbinar menatap pemuda itu.
Jaejoong tertegun mendengarnya, ia menatap anak kecil berumur 2 tahun itu dengan tatapan sendu. Aneh... Ia merasa, iri?
Namja cantik itu meremas perutnya samar. Kenapa ia juga ingin mengalaminya? Tapi, apakah ia bisa? Mungkin saja, ia adalah namja normal yang tidak memiliki rahim didalam perutnya.
"Oh ya, Jae. Bagaimana kau bisa bertemu dengan Yunho?" tanya Junsu tiba-tiba.
Jaejoong terkesiap dan berdehem mengembalikan kesadarannya.
"Uhm... Saat itu aku pulang sekolah, dan ia menawariku pekerjaan. Berhubung saat itu aku baru saja dipecat dari pekerjaanku, jadi aku menerimanya. Itu saja" Junsu berkedip tidak percaya.
Tidak mungkin Yunho menawari pekerjaan pada sembarang orang. Apalagi pekerjaan itu sangat menyangkut dengan kehidupannya.
Aah... Ia tahu. Pasti si ahjusshi Jung itu tengah jatuh cinta sekarang. Kalau tidak, memangnya alasan logis apa lagi, yang membuat Yunho mengijinkan orang lain untuk berdekatan dengannya?
Junsu tersenyum senang. Ia juga dekat dengan Yunho sebenarnya, jadi ia tahu bagaimana kisah hidup namja itu.
Mungkin... Ia bisa membantu?
"Aah... Kau tahu, Jae?" Ia memicingkan kedua matanya menatap Jaejoong.
"Aku rasa, dia menyukaimu" lanjutnya lagi.
"Aku tahu. Dia memberitahuku"
Doeeng~
Junsu meneguk ludahnya kasar. Sebenarnya sejauh apa hubungan temannya ini, dengan Yunho?
"Aku juga menyukainya. Tapi... Dia suka menciumku" Jaejoong mencebilkan bibirnya dan menaruh satu tangannya disana untuk mengusapnya.
Junsu bersweatdrop lagi.
"Jae. Apakah kau menyukaiku?" tanya namja itu.
Jaejoong mengangguk mantap.
"Aku juga menyukaimu... Juga Changmin, juga teman-teman yang lain" Namja 17 tahun itu menjawab dengan nada ceria. Menghiraukan Junsu yang sekarang ingin sekali menelannya hidup-hidup.
"Maksudku, Jae... Yunho itu mencintaimu. Bukan mencintai ataupun menyukai sebagai teman ataupun keluarga. Tetapi mencintaimu seperti seorang pria mencintai wani..." Junsu terdiam. Teringat bahwa Jaejoong dan Yunho sama-sama namja.
"Seperti pria mencintai pasangannya! Pacarnya! Istrinya! Selingkuhannya! Seperti itu, Kim Jaejoong!" entah kenapa ia menjadi emosi sendiri menghadapi namja yang seharusnya lebih tahu darinya itu. Mungkin terlalu banyak berkumpul bersama Yoochun, membuat pengetahuan Junsu tentang hal-hal seperti ini, meningkat juga.
Jaejoong tertegun di tempatnya. Ia merasa, bahagia?. Entahlah, dia memang memiliki keluarga yang mencintainya. Namun, dicintai oleh orang lain itu terasa... Menyenangkan.
Yeah, meskipun Jaejoong sendiri tidak yakin bagaimana rasanya jatuh cinta. Ia belum pernah berpacaran sebelumnya. Ia penasaran, jika ia menerima perasaan Yunho, akankah ia bisa jatuh cinta pada namja itu juga?
"Jae... Sebagai teman Yunho. Aku memiliki satu permintaan padamu" Junsu menggenggam tangan Jaejoong.
"Dibalik semua kelebihan Yunho. Sebenarnya ia hanyalah seorang anak kecil yang membutuhkan seseorang yang bisa mencintainya apa adanya. Dan ia jatuh cinta padamu, Jae. Aku tidak pernah melihat Yunho yang begitu bersemangat selama ini. Namun beberapa hari yang lalu aku melihatnya, dan ternyata kaulah penyebabnya" Junsu memandang Jaejoong penuh harap.
"Yunho tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini. Dan aku tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi padanya jika ia patah hati. Maka dari itu, aku mohon, Jae" Jaejoong menatap kedua mata Junsu dengan serius.
"Jangan tinggalkan dia. Jangan pernah tinggalkan dia. Aku yakin, dia bisa memberi apapun yang kau inginkan. Kau hanya perlu membuka hatimu untuknya, kemudian selalu bersamanya. Itu saja" namja cantik itu menundukkan kepalanya.
Jika bisa, jika ia akhirnya benar-benar jatuh cinta pada Yunho. Apakah itu akan menjadi akhir yang bagus?
Jika tidak, jika ia tetap tidak dapat jatuh cinta pada namja itu. Tegakah ia meninggalkan Yunho? Bukankah namja itu amat tergantung padanya.
"Junsu-ah... Bagaimana rasanya jatuh cinta?" tanya Jaejoong menatap kosong pada Ihwan.
"Hmm... Yang kutahu, rasanya sangat menyenangkan. Jantungmu akan berdebar saat bersamanya, kau akan merasa rindu padanya meskipun baru satu jam yang lalu melihatnya, kau akan cemburu jika ia bersama dengan orang lain. Yah... Seperti itu"
Jaejoong masih diam menatap Ihwan.
"Kenapa, Jae?" tanya Junsu.
"Ani... Hanya saja, aku rasa... Aku belum pernah merasakannya" lirih pemuda itu, hampir tidak terdengar.
Junsu mengajak Jaejoong untuk kembali ke aula rumahnya. Kembali pada pasangan mereka masing-masing.
Jaejoong menundukan kepalanya, ia berjalan perlahan menghampiri Yunho yang tengah berbincang dengan seorang namja paruh baya yang cantik.
"Jae? Kau sudah kembali?" suara berat namun halus itu memaksa namja ini untuk mengangkat kepalanya.
Yunho tersenyum manis padanya. Membawa pinggangnya untuk merapat pada tubuh tegapnya.
"Dia manis sekali, Yunho-sshi. Apakah dia pasanganmu?" ujar namja cantik yang tidak dikenali Jaejoong tadi.
Yunho tertawa senang. Ia mengeratkan rangkulan tangannya pada pinggang Jaejoong, kemudian mengangguk mantap.
"Iya, Heechul-sshi. Dia pasanganku" ujarnya lantang.
Jaejoong menggigit bibir bawahnya dan kembali menunduk. Ia tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi ia merasa malu.
"Ah, dia benar-benar cantik dan cocok untukmu. Siapa namanya?"
Yunho hendak menjawab namun tertahan saat merasa tangannya dicengkeram oleh Jaejoong. Ia menoleh dan tertegun melihat bahu Jaejoong yang bergetar.
"Hiks" satu isakan mampu membuat Yunho seketika kelabakan sendiri.
"Ma-maafkan aku, Heechul-sshi. Aku rasa, kami harus pergi sebentar" ia tersenyum canggung kemudian menggiring Jaejoong keluar dari kumpulan manusia berlabel m
mahal itu.
Ia sempat menoleh pada Yoochun, dan bertanya melalui isyarat dimana kamar yang namja itu maksudkan kemarin.
Yunho membawa Jaejoong ke sebuah kamar yang terletak lumayan jauh dari kamar-kamar yang lain. Ia membuka pintunya, namun buru-buru menutupnya lagi saat melihat kamar itu di desain untuk pengantin. Lengkap dengan lilin-lilin yang belum dinyalakan, juga kelopak-kelopak mawar bertaburan disana.
Meskipun ia ingin, tapi tidak sekarang. Yunho merasa sedikit lega karena Jaejoong masih menundukan wajahnya dan tidak sempat melihat kamar mengerikan tadi.
Yunho memasuki sebuah kamar dengan asal. Beruntung karena ruangan itu adalah kamar tidur yang normal.
Ia berlutut didepan Jaejoong yang ia dudukan dipinggir ranjang. Mengusap lengan namja kelewat cantik itu dengan lembut.
"Jae... Gwenchana? Ada apa denganmu, hum? Kenapa menangis?" ujarnya lembut.
Jaejoong masih sedikit terisak itu mengangkat kepalanya menatap Yunho. Namun beberapa saat hanya diam, ia secara tiba-tiba kembali menangis dengan keras.
Yunho tersentak lalu mengambil duduk disebelah Jaejoong. Memeluknya lembut, dan menenangkannya seperti seorang bayi.
Ia jadi heran, sebenarnya siapa yang pengasuh disini?
Namun ada sesuatu yang tidak ia sukai, saat melihat Jaejoongnya menangis tadi. Ia merasa sedih dan sakit, membuatnya ingin menangis juga.
"Sst... Ulijima, Jae... Aku disini... Jangan menangis, kau membuatku sedih" Suara Yunho menjadi serak tiba-tiba.
Jaejoong menghentikan tangisnya, dan mendongak menatap Yunho dengan wajah basahnya.
Kedua bola mata besar itu menatap mata musang Yunho dalam diam. Membuat Yunho menelan ludahnya gugup melihat mata itu amat dekat dengannya.
"Kenapa kau menangis tadi?" tanya namja tampan itu mencoba mengalihkan suasana.
Jaejoong berkedip sebelum mengusap bekas-bekas air matanya seperti seorang anak kecil.
"A-apakah karena perkataanku tadi?" tanyanya hati-hati. Ia takut Jaejoong tersungging*eh?! tersinggung maksudnya.
Namja berambut coklat itu menganggukkan kepalanya. Yunho melonggarkan dasinya, yang tiba-tiba terasa mencekik. Rasa takutnya semakin menjadi-jadi.
"A-aku merasa... Malu" ujar Jaejoong kembali tertunduk.
"Apakah kau merasa malu jika berpasangan denganku?" namja tampan itu menjadi was-was seketika.
"Ani... Aku malu... Eum... Malu, ya malu saja. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya" baiklah Yunho bingung sekarang.
Jaejoong malu tetapi bilang tidak malu. Namja cantik itu benar-benar membuat author pusing.
"Yun-ah... Kata Junsu, kau eum... Mencintaiku. Apakah itu benar?" Jaejoong tidak dapat membendung rasa penasarannya lagi saat ini.
Yunho terlonjak. Tiba-tiba merasa gugup sekaligus sedih untuk saat ini. Gugup karena pertanyaan itu. Dan sedih karena Jaejoong malu berpasangan dengannya.
Ia menundukan kepalanya dalam-dalam. Entah kemana perginya Yunho yang tegas itu.
"Yunho... Apa benar?" namja cantik itu melongokkan kepalanya untuk menatap wajah Yunho.
"Hmm... Iya" Yunho menjawab seakan ia adalah tersangka kejahatan.
Jaejoong menangkup kedua sisi wajah Yunho, menghadapkannya kedepan wajahnya.
"Katakan!" perintah namja cantik itu.
Yunho terdiam. Astaga, jantungnya seakan hendak meledak saat ini juga. Ini adalah pertama kalinya, ia menyatakan perasaannya pada orang lain.
"Kim Jaejoong... Aku, mencintaimu" ujarnya sedikit bergetar karena gugup.
"Sangat... Mencintaimu" Lanjut namja tampan tadi tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua mata Jaejoong.
Jaejoong merasa sesak di dadanya. Ia merasakan sesuatu yang lain saat ini, tapi ia yakin, itu bukan cinta. Rasanya berbeda dengan apa yang dijabarkan Junsu tadi.
"Jika aku menerima perasaanmu... Bisakah kau membuatku jatuh cinta, Jung?"
Yunho merasa pendengarannya kurang bagus untuk saat ini. Atau ternyata, ini hanya mimpi? Mana mungkin Jaejoong berkata seperti itu. Eum... Benarkan?
Yunho terlonjak merasakan sesuatu yang lembut dan basah menempel pada bibirnya. Ia sadar, ini bukan mimpi. Ia menyatakan cintanya pada Jaejoong, Jaejoong menerimanya, dan Jaejoong menciumnya.
Astaga, ia merasa ingin pingsan sekarang juga. Ia bahagia, sangat bahagia sampai-sampai kepalanya terasa sakit.
Yunho memejamkan kedua matanya, menunggu pergerakan Jaejoong selanjutnya. Namun, sampai sekarang Jaejoong belum juga menggerakan bibirnya.
Namja cantik itu hanya menempelkan kedua bibir mereka. Sebelum melepaskannya setelah cukup lama.
Ia tertunduk malu menatap Yunho.
"Maaf, a-aku... Belum pernah mencium orang sebelumnya" Lirihnya.
Yunho memegang kedua bahu Jaejoong tiba-tiba.
"Jae... Apakah aku sedang bermimpi sekarang?" tanyanya seperti orang bodoh.
Namja cantik itu tidak bisa menahan senyumannya, ia meringis sebelum mencubit pipi Yunho keras-keras.
"A-ah, auw! Appo!" Jaejoong terkikik melihat Yunho mengerucutkan bibirnya, dengan kedua pipi yang memerah.
"Ini bukan mimpi, tuan Jung" Jaejoong kembali menangkup kedua sisi wajah Yunho, dan memasang ekspressi yang dibuat serius.
"Mungkin aku memang belum jatuh cinta kepadamu saat ini. Namun, aku akan mencobanya" ia tersenyum manis. Membuat Yunho berdebar.
"Terima kasih" lirih namja tampan itu.
Yunho menarik tubuh Jaejoong kedalam pelukan eratnya. Ia begitu bahagia, sampai-sampai ia ingin menempelkan Jaejoong pada tubuhnya, sehingga ia bisa melihatnya setiap saat.
Jaejoong menempelkan kepalanya pada dada Yunho. Tertegun mendengar debuman keras dari jantung namja itu. Senyumannya terkembang diwajahnya, benar yang dikatakan Junsu. Yunho mencintainya.
"Yun..." suara Jaejoong terdengar mencicit.
"Hmm?" Yunho masih memeluk erat namja itu, mencium wangi dari kepala Jaejoong.
"Aku... Ti-dak... Bisha... Berna-pash" Yunho tersentak dan langsung melepaskan pelukannya, membiarkan namja berkulit putih itu mengambil napas sebanyak-banyaknya.
Ia menggaruk belakang kepalanya gugup saat Jaejoong memberikan "The Look" padanya.
"Hehe... Mian" sesal Yunho.
Jaejoong mengibaskan sebelah tangannya pertanda tidak masalah. Satu tangannya masih memegangi dadanya, dan napasnya masih tersengal juga.
Ia tidak mengira, Yunho sebegitu teganya memeluknya seakan hendak menyatukan kedua tubuh mereka, yang malah berakibat buruk pada pernapasannya.
Mereka berdua terdiam didalam kecanggungan. Jaejoong yang sibuk mengetuk-ketukkan kakinya pada sisi ranjang, juga Yunho yang sibuk menetralkan detak jantungnya.
"Ja-jae..." Setelah cukup lama terdiam. Dengan segenap keberanian yang ia miliki, akhirnya Yunho berhasil mengatakan 3 huruf itu *apaandah -..-"
"Bolehkan aku menciummu?" ujarnya.
"Aku... Tidak benar-benar bisa berciuman, Yunho. Aku hanya pernah melihatnya saat menonton film bersama Changmin, ataupun saat... Dulu" doe eyes milik Jaejoong menghindari tatapan Yunho.
"Changmin? Dulu? Kau pernah berciuman dengan Changmin, Jae?" ujar namja itu histeris.
"Aish... Aku menonton film bersama Changmin. Dan berciuman dengan... Mu" ujarnya malu-malu.
Seketika pipi kedua pasangan ini memerah, mengingat beberapa adegan hangat(?) yang pernah mereka lakukan sebelumnya.
"A-aku... Bisa mengajarimu" Yunho menatap langit-langit kamar dengan cemas.
"Hmm... Baiklah" Jaejoong mengangguk malu.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya lagi.
Yunho terdiam. Haruskah ia memanfaatkan keadaan ini?
Ia memundurkan tubuhnya, dan mengisyaratkan agar Jaejoong duduk diatas pahanya. Beralasan bahwa dengan cara itu, ia bisa lebih mudah menciumnya.
"Tutup matamu" kata Yunho pelan.
Ia menatap wajah Jaejoong dengan ragu. Ia menginginkan namja ini, tetapi ia juga takut jika Jaejoong membencinnya nanti.
"Ikuti apa yang aku lakukan. Kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan padaku, Jae" kata Yunho seduktif.
Perlahan ia membawa bibir Jaejoong untuk menempel pada bibirnya, sebelum dengan gerakan yang amat lembut, bibir tebalnya menggesek bibir basah Jaejoong. Tubuh Jaejoong bergetar karena kedua benda lembut itu seakan mengalirkan sesuatu pada tubuhnya.
Yunho memagut bibir bawah Jaejoong dengan amat lembut, membiarkan namja itu memperlajari gerakannya. Cukup lama ia hanya memagut bibir bawah dan atas Jaejoong bergantian. Sebelum ia merasakan Jaejoong mulai bergerak. Dengan gerakan yang amat kaku ia menggerakan bibirnya, merasakan bibir Yunho.
Jaejoong tidak sadar, bahwa kedua tangannya bergerak meremas-remas sekitar telinga juga kepala Yunho. Ia hanya merasa begitu malu untuk melakukan ini.
Setelah cukup lama, Yunho menjauhkan kedua wajah mereka. Ia menatap wajah Jaejoong yang memerah dengan tatapan kagum.
"Pelajaran pertama, selesai" Yunho merapikan poni Jaejoong dengan tangannya.
Namja cantik itu terdiam menatap Yunho. Ini adalah perasaan yang selalu muncul saat Yunho menciumnya. Ia merasa menginginkan lebih, dan lebih.
Yunho terlonjak saat tiba-tiba Jaejoong melepaskan jas putihnya, dan menggulung lengan kemejanya hingga siku. Namja cantik itu kemudian berkata.
"Aku siap untuk pelajaran kedua"
.
.
AKU PUNYA 2 PERTANYAAN
1. Ini mau dibuat Mpreg gak?
2. NCnya mau chap deket2 atau chap jauh2?
Tolong dijawab ^_^
TBC
SPECIAL THANKS:
ajid yunjae, vampireyunjae, JungJaema , ndapaw, Taeripark , YunHolic , Desty Cassie , qyuwithJJ, yoon HyunWoon , Dennis Park , BooJaejoongie is Mine, ayy88fish , wulandarydesy, IJun-chan , KimShippo, aZEEnk, Lady Ze, KimYcha Kyuu, KMsDhae, rara,
irengiovanny, Guest, HISAGIsoul, kyu7, Phoenix Emperor NippleJae, I was a Dreamer, anara17, MaghT, runashine88 , Jihee46, KJhwang, sparkyumin-08, Jaejung Love , Guest, missy84, L HyeMi, Eternal YunJae , giaoneesan, , hana6002, aoi ao, yoonjaepark, YuyaLoveSungmin, Eternal YunJae, irengiovanny, MaghT, sisuka, 1kiss1blood, KJhwang.
*ngos2an*
TENGKYU BUAT YANG UDAH MAU BACA
AKU MENCINTAIMUUU*abaikan
