A/N : HAAIIIII HAHAHAHA akhirnya aku udah selesai nyelesain chapter 7! Aku merasa story ini akhirnya sedikit demi sedikit udah naik ke konflik meskipun belum 100% di puncak. Ini masih ada di kaki puncak wkwkwk /apaan si, author/. ANYWAY! Aku minta saran kalian nama pacarnya Gumi siapa, soalnya aku dah kelanjur bilang kalau Gumi dah punya pacar dari smp lol :v Btw jangan Gumiya ya karena aku sudah menetapkan Gumiya dari awal ngebuat story line naskah ini, kalau si Gumiya kakaknya Gumi.Terima kasih yang sudah ngereview. Lagi-lagi aku nggak sempet ngebales karena yah... harus nyetor hafalan agama /nangis dipojokkan/. Makasih udah baca ni author notes yang sebenernya nggak perlu dibaca (ngga juga si hahaha). Selamat membaca!
"Hey, Gumi? Masih disanakah?"
"Aku bercanda! Hahaha! Musibah macam apa ya? Pokoknya kamu sudah kuserahkan dengan anggota Vocaloid lain yang menjadi tutor."
"Jangan serahkan aku pada Len."
"Aku tidak tahu, mereka yang memilih."
Aku langsung menghembuskan nafas, tanda lega. "Len tidak akan memilihku. Aku berharap Miku memilihku, sih."
"Well, baiklah! Itu saja! I hope you have a good day, Rin!"
"Good day your ass," balasku kesal mengingat kejadian yang barusan menimpaku.
Aku langsung mematikan HP-ku dan aku memutuskan untuk kembali tidur, tanpa memedulikan apa-apa. Aku benar-benar mengantuk.
.
.
~ Crypton Life ~
Disc : Yamaha Corp
Pairing : Len x Rin (NOT INCEST)
Genre : Romance, Friendship, Slice of Life
Rate : T
Warning : LenXRin! Typo(s)! Rude Word(s)!
Note : Sekali lagi ditekankan, di dalam cerita ini Len dan Rin sama sekali tidak ada hubungan darah. Jadi bagi yang tidak suka dengan pairing ini, bisa stop scroll dan klik tombol back. Dan terdapat BANYAK KATA KASAR disini.
.
.
[MIKU POV]
"So guys!"
Aku menghempaskan diriku di kursi meja bundar (kalian tahu konferensi meja bundar? Aha Itu berbeda dengan yang ini, hahaha... /ga penting, author, ini ga penting/). Kami sekarang sedang ada rapat dadakan terkait dengan izin dari Gumi karena musibah yang datang kepada keluarganya. Gumi yang malang, padahal dia ngetutorin sahabatnya, Rin, tapi malah mendapat masalah seperti ini. Well, who knows God's plan? Aku menyeruput teh panasku yang disiapkan oleh Luka ; Luka itu pintar memasak lho! Dan ketika kami sedang berkutat dengan pekerjaan kami, dia menyajkan berbagai makanan entah main course, dessert, anything! Dan teh panas is nothing for her. Menurut dia, bikin teh panas itu, kayak kita ngambil air akua (sensor dikit lah haha). Benar-benar cepat tapi rasanya akurat.
"Kalian pasti sudah mendengar kabar buruk yang datang dari teman kita, kemarin?" tanyaku sambil menaruh tanganku di daguku. Aku melihat satu per satu anggota-anggota Vocaloid yang tampaknya tidak secerah kemarin.
Len terdiam tak berkutik, matanya memancarkan kesedihan yang luar biasa, tangannya bergetar-getar.
Aku menarik napas. "Len, ikhlaskan Gumiya-san. Dia seharusnya sudah tenang di alam sana jika kau tidak sedih-sedihan dan merengek-rengek seperti itu."
"Hey, aku tidak merengek!" protes Len.
Yang diprotespun hanya tertawa kecil. "Okay, kutarik kata 'rengek'. Tapi, kau memang benar-benar sedih, kan?" tanyaku memastikan.
"Aku merasa, Gumi butuh waktu sendiri untuk sementara. Bagaimanapun juga yang meninggal adalah kakaknya sendiri," usul Gakupo. "Coba kita lihat, Len saja yang bukan saudara kandungnya saja merengek seharian dan tidak mau keluar dari kamarnya, apalagi Gumi yang malang itu?"
"Jangan gunakan kata 'malang', Gakupo. Itu seperti kau sedang menghina," timpal Meiko.
Gakupo mencibir. "Aku tidak bermaksud untuk menghina."
"Aku tidak bilang kau menghina."
"Hentikan," leraiku. Benar juga, sih. Pada saat kami mau rapat mendadak hari ini, Len tampak tidak mau keluar dari kamar dan terus menjerit-jerit 'Pendosa besar! Pendosa besar! Siapa pendosa besar? Oh, Kagamine Len! Ya, dialah pendosa besar!' dari dalam kamarnya. Mau tidak mau kami harus memancingnya keluar dari kamar dan setidaknya berhenti mengatakan pendosa besar. Kami memancingnya dengan embel-embel pisang lumut dari puncak dan dia baru mau membuka pintu kamarnya yang sudah kami dobrak-dobrak. Dan kita melihat matanya sembab berwarna merah, air matanya tampak habis tapi dia masih ingin menangis. Dan saat kami melengos ke dalam kamarnya, kami melihat berbagai macam barang dilempar-lempar olehnya.
Dan itu membuat Gakupo dan Kaito mengejeknya, 'orang gila lampu merah' (karena mereka bertiga bersama Len pernah bertemu dengan orang gila di dekat lampu merah dan orang gila itu sedang bernyanyi (baca : berteriak) sambil membawa gitar (baca : sapu ijuk hasil colongan) dan mereka sayup-sayup mendengar si orang gila itu bernyanyi For I Can't Help Falling in Love with You yang dinyanyikan oleh Elvis. Tapi, dia bernyanyi dengan nyanyian yang tidak jelas. Yang mereka dengar adalah : Waiiiss mannh taid onion furr trash inn, furr i can not harp falling in luvv white yaa, dan cara dia bernyanyi sukses membuat ketiga orang ini tertawa terbahak-bahak bahkan sampai guling-gulingan di jalan raya.
Dan sekarang yang menjadi korban adalah Len. Len yang malang. Dua sahabatnya tertawa tergelak ngakak sambil guling-gulingan di kamarnya dan itu membuat Len kembali ke wujud- maaf, asalnya, tsundere Len. Wajahnya seperti kepiting rebus ynag baru diangkut dari panci dan siap dimakan. Dan sekarang yang patut dipanggil malang adalah Gakupo dan Kaito, karena mereka sudah kehilangan dua kancing baju mereka, beberapa helaian ramut mereka, robekkan jeans mereka, dan pusing yang melanda kepala mereka. Tidak! Len tidak menyantet mereka! Len hanya menjitak saja.
"Jadi, sekarang what's the point of this meeting?" tanya Luka yang langsung to-the-point. By the way, kita lagi meeting di kafe Luka- tepatnya ibunya Luka, yang bertema Jepang namanya ; Sweetest Clock yang menjual berbagai macam snack Jepang yang sangat memainkan lidah kami.
"Tentu saja, Luka-cchin," dengus Meiko. "Kita mendiskusikan bagaimana anak tutor Gumi yang tak lain adalah Rin Kagamine si cewek cantik berambut pirang dengan gayanya yang lincah ini, menentukan nasibnya, takdirnya-
"Alay," potong Len. "Kau tidak perlu melebih-lebihkan udang itu, lho."
"Udang?"
"Ah ya, dulu ayam, sekarang udang," kata Len santai.
Aku menaikkan alis kananku. "Okelah, aku tidak butuh jawaban kenapa kau memanggil Rin itu udang-
"Itu jelas sekali, udang tidak bisa berpikir cepat, sama sepertinya," potong Len lagi.
"Aku tidak tahu, tapi aku ingin sekali beli golok sehabis meeting ini," Meiko kembali mendengus karena daritadi Len selalu saja memotong pembicaraan orang lain. "Dan jika kau bertanya akan kuapakan golok ini? Tentu saja, mengiris dagingnya dengan pelan, memotong rambutnya yang halus dengan kasar, lalu menggesek kulitnya dengan hati-hati takut ia kesakitan, dan terakhir memotongnya dengan cepat layaknya memotong tomat. Srak srak srak!" Meiko meniru bunyi orang sedang memotong tomat dengan cepat dan dia pun meragakannya. Tangannya diayunkan beberapa kali tepat dihadapan si player.
"Ew," Len bergidik ngeri. "Lanjutkan, Miku, LANJUTKAN."
"Uhm...," kataku tidak yakin. Apa yang harus kukatakan ya? "Nah tentu kita butuh mendiskusikan siapa yang menjadi tutor Rin Kagamine. Sebelum itu, aku ingin tahu jika tutor yang available, mau menjadi tutornya?"
Mereka semua saling berpandangan.
"Aku sudah punya Lily, dan kau tahu, satu orang saja sudah membuatku gerah," tolak Kaito dengan halus. "Maaf ya Miku-chan, tapi aku ingin yang terbaik untuk orang yang aku tutor."
Aku menggeleng. "That's not a big deal, Kaito-kun!" seruku dengan melemparkan senyumanku. "Ada yang lain?"
"Aku keluar ya," Luka mengangkat tangannya seakan-akan dia sedang ikut uji nyali di suatu tempat seram dan dia tidak kuat, itulah kenapa dia mengangkat tangannya. Kurang satu, melambaikan tangannya. "Teto sudah cukup untukku."
"Aku mengerti, Luka-chan..."
"Sama denganku, Miku," tambah Meiko sambil menyeruput shake-nya. "Piko sudah terlalu ribet dan aku tidak mau menambah bebanku. Bukan berarti aku tidak suka menjadi tutor, tapi kalau menjadi tutor untuk dua orang sekaligus rasanya tidak mungkin."
"Ah ya, tidak apa-apa...," kataku dengan senyum mengembang. Lalu aku menoleh ke arah Len sang player nomor satu di Crypton. "Bagaimana denganmu, Len?"
Len terdiam sebentar. Dia seperti berpikir. Aku berharap dia mau menerima Rin.
"Maaf tapi..."
"Ah!" kata maaf itu, sudah sering kudengar. Itu artinya, penolakkan kan? Tapi ada kata tapi? Tentu saja, itu sebagai alasan. "It's okay guys! Aku tahu menjadi tutor itu tidak segampang yang kubayangkan. Kalian harus memilihkan lagu lalu mengatur instrumen dan jadwal latihan. I know that! Baiklah, sudah diputuskan! Aku yang akan menjadi tutornya," kataku sambil berdiri dan sedikit menghentak meja. Tak lupa kukembangkan senyumanku agar mereka semua mengira aku senang-senang saja.
Padahal aku tidak senang.
Tapi mau bagaimana lagi.
Resiko ketua.
Aku berjalan pergi dan tidak mendengar sepenggal katapun yang keluar dari mulut mereka masing-masing. Aku kembali memaksakan senyumanku dan membalikkan badanku. "Aku akan menghubungi Rin untuk membiarkannya tahu aku yang menjadi tutornya. Kalian, do it your best! Kita mencari kualitas, ya," aku kembali membalikkan badan dan membuka pintu ruang VIP di kafe Luka.
"Meetingnya, sampai sini saja?" tanya Gakupo memastikan.
Aku mengangguk membelakangi mereka.
"Sampai disini saja. Selamat siang."
Dan menutup pintunya dengan pelan.
[LEN POV]
"Oke aku tahu anak Hatsune itu sedang marah kepada kita!" Meiko lagi-lagi mendengus setelah kepergian ketua klub Vocaloid yang awesome ini. Dia menghempaskan tubuhnya ke penyangga kursi dan melipat tangannya juga kakinya. "Dia marah dan menyebarkan senyuman-senyumannya yang menjijikkan! Kita semua tahu dia sedang marah dan kesal karena dialah yang dipilih menjadi tutor."
"Dia ketua, lho," aku memperingatkan.
"Dia manusia," Meiko membetulkan.
Luka terdiam lalu menarik napasnya. "Ah, dia sudah cukup berjasa untuk kita. Tapi kalau masalah tutor, aku tidak bisa main-main. Aku tidak mau kedua orang yang kututor jelek."
"Preach, Luka-chan!" tebak siapa yang berkata seperti ini, tentu saja Gakupo.
Dan Luka? Dia blushing berat mendengar sufiks yang diberikan oleh Gakupo untuknya. Luka-chan, Luka-chan, Luka-chan. Panggilan Gakupo itu pasti mengiang-ngiang di telinganya. Aku hanya tertawa melihat reaksi perempuan yang sedang jatuh cinta.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanyaku.
Mereka semua menaikkan bahu mereka.
"Masa iya kita harus menjadi tutor Rin dulu baru baikan sama Miku?" balas Meiko. "Ogah!"
"Kau itu membenci Rin atau Miku?" tanyaku sambil menghela napas.
"Aku tidak membenci keduanya! Aku hanya kesal kepada Miku!"
"..."
"Dia sedang dapet," bisik Luka ke telingaku, menjelaskanku apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada cewek berambut coklat yang suka sekali menghamburkan duit dengan membeli banyak baju. Apa itu namanya? Boros. Ya, boros. Dia adalah wanita yang boros. Aku mengangguk-angguk mengerti.
"Hey! Apa yang kalian omongin!"
"T-tidak! Tidak apa-apa!"
Meiko mendengus kembali- untuk kesekian kalinya. Dia beranjak dari kursi dan mendobrakkan meja. "Pokoknya kalau sampai ketua marah, Vocaloid bukanlah Vocaloid! Aku nggak mau tahu ya, pokoknya kalian yang harus bikin Miku kembali tersenyum seperti biasa!"
Aku hanya diam mendengarnya. "Woy, Meiko, lo kan yang buat dia kesel," ketusku sambil ikut-ikutan berdiri dan mataku dan Meiko bertautan. Oke, perasaan yang namanya di drama kalau saling menatap mata bisa salting. Lah ini? Bukannya salting, makin bikin kesal.
"Oh Len kau berani ngomong pakai lo ya sekarang?"
"Apa? Lo baru tau?!"
"Gue lebih tua dua bulan dari lo!"
"So what? Is it necessary? Nope nope," balasku dengan menjulurkan lidahku.
"Oke oke hentikan," kata Luka yang sebenarnya adalah yang paling dewasa di antara kami. Sikapnya teduh dan tenang, mandiri juga dewasa. Tapi mudah cemburu. Aneh, ya? Sedikit bertolak belakang. "Apa yang membuat kalian yakin Hatsune Miku alias ketua klub Vocaloid ini marah? Dia hanya tersenyum-senyum saja dan menutup pintu dengan pelan. Apa yang aneh?"
Oke, tambah lagi. Luka itu nggak peka.
"Aku rasa aku harus melakukan sesuatu," Kaito berdiri dari kursi.
Kami berempat tersenyum mengembang melihat seseorang akhirnya menyelamatkan kami.
"Tentu saja!" pekik Meiko. "Kita bahkan lupa ada pacarnya si Hatsune disini!"
"Hey bro, we're counting on you!" seruku sambil menepuk pundaknya.
"Leave it to me, dude..."
[MIKU POV]
Aku menyinggahi ke kafe Hailey sebentar sebelum aku pulang ke rumah. Kalau aku sedang bad mood atau kesal, biasanya aku akan pergi ke kafe ini dengan berjalan kaki, lalu meminum Cotton Candy shake ditemani ginger bread, dan menatap keluar kafe yang dilapisi kaca. Pas sekali untuk hari ini, hujan tiba-tiba turun tanpa ada tanda-tanda. Kata orang, sih ada yang baru meninggal.
Aku menyeruput Cotton Candy shake ini. Kalau kalian penasaran (kalian bisa beli di sbux /ditampar readers. 'no promosi, author'), kalian harus beli cotton candy atau permen gulali yang biasa dijual di abang-abang warna merah muda dan biasanya sih bentuknya gede kayak pohon. Tapi ada juga yang warna kuning dan biru. Beberapa tukang biasanya diorder dulu baru dibuatin. Nah dibuatinnya kan diputer-puter. Habis itu dikasih ke kita deh. Nah kurang lebih rasanya seperti itu. Cuma ini dalam bentuk minuman. Nggak beda jauh lah.
Kalau ginger bread ini juga rasanya gak jauh beda sama ginger bread yang biasanya muncul pas christmas day, yang betuknya kayak orang-orang. Tapi, kalau di Hailey bentuknya bukan kayak gitu, guys. Ini juga bukan kue kering bentuknya. Dia seperti, cake tapi crunchy, dan didalamnya ada krim dan marshmallow kecil-kecil. Biasanya kue ini dihangatin lagi, jadi makannya panas-panas. Sudah gitu, krim dan marshmallownya meleleh di mulut. Enak banget, deh! Manisnya nggak mencolok kok, soalnya ginger breadnya pake madu asli yang artinya gulanya nggak bikin tenggorokan sakit, dan marshmallownya pun buatan rumahan! Sebenarnya sih, ginger bread ini nggak cocok sama Cotton Candy, lebih cocok sama Americano two shots. Pahit-pahit, dan makanannya manis. Hmm... enak.
Tapi, aku tidak suka kopi! Jadi, aku memilih Cotton Candy untuk menemani ginger bread-nya yang unyu dan lucu.
"Mishiranu kao sagasu sasayaku ano koe ga~ Nigiri shime ta yaba tsuki tate..."
Aku langsung menggeser handphone ku dan menerima panggilan yang entah darimana. Tidak terlihat. Aku sedikit ragu karena takut ini adalah paparazzi atau apa, tapi apasalahnya mencoba? "H-halo?" tanyaku memulai obrolan.
"Halo! Dengan Hatsune Miku disana?"
Aku menerka-nerka siapa suara ini. Aku merasa pernah mendengar. "Iya. Kalau boleh tahu, siapa ya ini?"
"Oh, thank God! Ini Mayu! Mayu yang menjadi finalis audisi vocaloid," jelasnya.
Aku mengangguk-angguk. "Ada apa, Mayu-san?"
"Oke pertama-tama... aku ingin bertemu dengan Miku-san, berduaan saja? Bagaimana? Bagaimana kalau kita bertemu di kafe Hailey... sekarang?" tanyanya bertubi-tubi. Meskipun nafasnya tersengal-sengal, tapi dia bertayna layaknya tidak memperbolehkanku menjawab- lebih tepatnya, memaksaku.
"Aku sedang ada di kafe Hailey sekarang, jadi...," kataku.
Mayu terdengar kegirangan. "Ah, bagus! Aku sudah ada di depan luar kafe Hailey. Atau malah..."
"Sudah memasukinya."
Aku langsung menoleh, menjauhkan handphoneku dari telingaku, melihat siapa yang datang dari arah luar kafe. Seorang gadis remaja berambut gelombang, dia memakai dress bermotif flora dengan bandana yang senada dengan dress-nya. Dia memakai high heels yang tampaknya tidak terlalu tinggi, berwarna kuning dengan strip putih di beberapa bagian. Dia menjinjing tas bermerk Kaguya (yang harga tasnya bisa mencapai puluhan juta per tasnya) berwarna oranye. Dia adalah Mayu. Selagi dia berjalan, aku mematikan handphoneku dan menghembuskan napas. Apa lagi ini.
"Selamat siang, Miku-san," sapa Mayu sambil melambaikan tangannya, mendekati mejaku dan duduk diatas kursi.
"Siang, Mayu-san...," balasku, terpaksa tersenyum.
Mayu mengerutkan keningnya. "Fake smile, ya?"
"He?"
"Fake smile," ulang Mayu. "Ada apa, Miku-san? Awalnya aku ingin membicarakan tentang audisi Vocaloid berikutnya, aku lupa siapa tutor-ku. Tapi melihat Miku-san tersenyum seperti itu- tersenyum yang tidak biasa. Miku-san sedang mendapat masalah ya?"
Anak ini kenapa dia tahu?! Apa-apaan? Dia ini anak psikolog kah? "Um... tutormu Kagamine Len," kataku mencoba mengabaikan apa yang ditanyanya.
Mayu menaikkan alisnya. "Miku-san? Kau bisa cerita padaku, lho! Aku akan memberikanmu saran terbaik! Tapi sebelumnya, aku mau membeli kopi dulu."
"Ah, silahkan."
Selagi menunggu Mayu membeli makanan atau minuman yang dia inginkan, dan katanya dia kepengin kopi, aku mendapat berbagai Line yang tiba-tiba masuk. Oh ternyata HP-ku baru tersambung dengan wifi kafe Hailey ini. Aku memang tidak memasangnya secara otomatis, jadi harus di setting dulu. Dan bagaimana ini bisa-bisa masuk? Aku tidak tahu. Jangan tanyakan aku tentang itu.
[LINE ON]
~ VOCALOID GROUP~
kagaminesan : kagaminesan sent :( sticker
kagaminesan : mikuuu?!
meimei : hey miku, kau tidak keluar dari grup kan?
megurineluka : meiko, dia masih ada di grup. berpikirlah sedikit.
iscream123 : aku penasaran bagaimana seorang MEIKO bisa berpikir. Dia kan satu-satunya orang yang bodoh di klub kita.
kagaminesan : nanti tambah rin kalau dia dapet slot.
gumi_ch : OOOOOOOOOOO
iscream123 : buset-' gumii matikan hpmu! kau sedang dalam masa berkabung!
gumi_ch : I'll do anything for my otp :
kagaminesan : menjijikkan!
meimei : HEEE ICE CREAM FREAK! MEMANGNYA AKU BODOH SENDIRI? SETIDAKNYA NILAI EM TE KA KU TUJUH PULUH LIMA.
iscream123 : pffftt.. 75? bagus sekali, mei, karena biasanya kau dapat 25 :p
kagaminesan : ^
gumi_ch : ^
megurine luka : ^
meimei : ...stop it.
gakupooo : ^^
meimei : argh
Miku : hahaha :D
icecream123 : M-MIKU?!
"..-san? Miku-san?"
Aku langsung terbuyar, mematikan HP-ku dan tersenyum ke arah Mayu. "Maaf Mayu-san, tadi ada hal penting yang harus kita bicarakan. Um, jadi? Kenapa kau menyuruhku kesini? Ada sesuatu?" tanyaku yang langsung to the point. Aku memang tidak mau berlama-lama dengan anak ini. Rasanya aku bisa hancur, entahlah. Aku lebay? Mungkin.
Mayu mengangguk mengerti. "Tampaknya senyummu sudah kembali normal, Miku-san. Tapi tadi, ada apa?"
Aku merasa aku telah menghina sahabat-sahabatku jika aku menceritakan hal tadi. Aku menarik napas lalu tersenyum. "Nothing. Tadi, aku hanya menggerutu kenapa harus hujan sekarang padahal aku mau cepat-cepat pulang ke rumah."
Mayu kembali mengangguk-angguk, seakan-akan dia percaya apa yang barusan kukatakan. Itu adalah jawaban klasik, pasti kalian tidak akan percaya dengan teman kalian jika kalian penasaran dengan mereka. Jawabannya karena hujan? Mereka berbohong, camkan itu. "Yah... aku kesini untuk bertanya sesuatu- lebih tepatnya menawarkan."
"Um..."
"Aku dengar, nanti kalian akan mengadakan konser kira-kira dua-tiga bulan lagi? Benar itu?" tanya Mayu memastikan.
Aku mengangguk pelan. "Benar. Ada apa memangnya?"
"Yaa!" Mayu tertawa kecil. Dia menyeruput kopinya lalu menelannya. "Begini, tidak masalah jika aku diterima kalian atau tidak, tapi ini dari hatiku sendiri. Aku ingin sekali menyumbang sejumlah uangku untuk konser nanti."
"Apa?" aku kaget mendengarnya. "Kami sudah punya cukup uang kok. Kau tidak perlu menambahinya."
Mayu menggeleng. "Bagaimana dengan souvenirnya? Bukankah semakin mahal barangnya, semakin diminati? Aku ingin menyumbang beberapa uang dari dompetku saja, kok. Bagaimana? Itu memang tidak terlalu banyak sih. Tapi aku merasa berhutang pada kalian yang telah memilihku padahal ya... kalian tahu aku berusaha untuk... um," Mayu menundukkan kepalanya- seolah-olah dia menyesal atas niatnya yang cukup jelek.
Aku tersenyum dan menepuk pundak gadis berambut sutra itu, dan membuatnya cukup kaget. "Maaf ya, Mayu-san... aku tidak ingin menyusahkan anggota atau bahkan finalis kami sendiri! Kau lebih baik menyumbanginya pada orang yang tidak mampu dan sebagainya, atau gunakan saja untuk beli baju branded atau apa."
Mayu menggeleng lebih cepat. "Tolonglah, Miku-san!" dia menundukkan kepalanya.
Aku tertegun melihatnya. Tapi bagaimanapun juga, aku tidak mau menggunakan uang anggota Vocaloid meskipun dia memaksanya. Jika kami memasang rules seperti itu, rasanya kami akan tetap bergantung dan bergantung. Produser kami telah mengatur semuanya dengan baik dan dipastikan uang tidak akan pernah kurang. Walaupun kurang, tapi tidak terlalu merosot dan kami bisa mudah membayar lunas hutang-hutangnya kurang dari setahun. Jadi yah.. sebenarnya tidak perlu.
"Tolonglah!"
Aku kembali tersenyum. "Mayu-san, untuk sekarang aku tidak bisa menjawab. Nanti akan kupikirkan lagi."
Ia mendongak. Matanya bersinar. Ia langsung memegang tanganku dengan erat. "Benarkah itu?!" pekiknya.
Aku mengangguk pelan. "Tapi, bukan berarti aku akan menyetujui usulanmu. Aku harus berpikir lebih dalam dan berbicara dengan anggota lainnya."
"Tidak masalah!" seru Mayu. "Selama kau mengusahakannya, aku akan sangat berterima kasih! Miku-san, kau yang terbaik!"
"Baiklah. Aku akan menelponmu jika jawabannya sudah keluar. Aku pergi sekarang. Tampaknya hujan sudah reda," ucapku sambil beranjak dari kursi.
"Tentu, tentu! Silahkan!"
Aku pun berjalan keluar dari kafe Hailey dan selama perjalanan, aku memikirkan apa yang kami bicarakan dengan Mayu. Kalau untuk konser, itu pasti akan sangat membantu. Tapi, jika aku menerimanya, aku pasti tidak enak tidak meloloskannya ke kursi Vocaloid mengingat apa yang sudah dilakukannya. Apakah Mayu akan diikutkan ke konser? Tapi itu adalah konser Vocaloid dan hanya anggota Vocaloid yang bisa tampil. Tapi jika Mayu ditolak dan dia tidak ikut konser, aku pasti merasakan ketidakenakkan yang luar biasa.
This's really complicated.
Aku melirik HP-ku. Sinyal telkomina nggak bagus nih.
[LEN POV]
[LINE ON]
icecream123 : M-MIKU?!
kagaminesan : Hai, Miku. Sudah baikkan?
meimei : meimei sent :| sticker
gumi_ch : oke oke, be right back, guys!
gumi_ch : and gd afternoon, Miku-chan! :
meimei : es krim tampak meleleh
icecream123 : kenapa bisa?
meimei : aku juga tidak tahu
gakupooo : hahaha
kagaminesan : ya elah. btw gimana ni nasibnya rin, miku?
meimei : masih marah, miku?
kagaminesan : DIA GA JAWAB LAGI! ASTAGA!
gakupooo : apaan sii.. tadi dia ketawa juga.
icecream123 : miku-chan :(
meimei : dasar
meimei : ketua ga becus
meimei : gitu aja marah
meimei : bodo amat lah, dah dibaekkin sok sok jaim
kagaminesan : oh no...
icecream123 : hei meiko!
meimei : STFU!
meimei : JADI KETUA NIAT G SI LO
kagaminesan : ya tuhan, sabar mei...
[LINE OFF]
Aku menarik napas lalu mematikan HP-ku, kemudian merebahkan diriku ke sofa. Aku tidak tahu lagi bagaimana kelanjutan dari line. Aku tidak tahu dan aku tidak mau tahu. Pokoknya untuk sekarang aku nggak mau ikut campur urusan-urusan teman-temannku yang lagi dapet semua. Setidaknya, untuk sekarang. Bagaimana ya supaya mendinginkan suasana yang panas ini ya? Aha! Es krim!
Aku langsung memanggil Kaito untuk datang kerumahku. Awalnya dia tidak mau datang karean terlalu mendadak, tapi setelah kujanjikan es krim rasa vanilla-stroberi-cokelat-pisang-jeruk-kelapa dan semuanya, akhirnya dia mau datang dan tentunya dengan semangat empat puluh lima. Aku tersenyum, dan senyumanku semakin merekah setelah mendengar pintuku terbuka.
"Yo, dude..."
"Yo!"
Kaito langsung mengadahkan tangannya, matanya menyipit dan bibirnya tak tahan untuk tersenyum.
"Not now, Kaito."
"AELAH."
Aku menepuk beberapa kali di kursi yang tepat disampingku, mengisyaratkan si Kaito untuk duduk di sampingku. "Gue boleh curhat?"
"Anytime."
Aku menarik napas. "Jadi lo tahu, sekarang si Meiko dan Miku lagi sensi-sensinya?"
Kaito mengangguk. "Dan si Luka lagi jatuh cintanya sama Gakupo."
"Bukan itu yang mau kita omongin."
"Oh?"
"Lo gak mikir apa, kalau misalnya Meiko yang berada di tim inti, dan Miku yang di tim inti sekaligus ketua, lo tahu apa yang terjadi nanti?" tanyaku dengan kedutan di dahiku yang sedikit membesar karena ketololan si Kaito.
"Um... mereka berdua bertengkar?"
"Ya habis itu?"
Kaito tampak berpikir sebentar. "Makan es krim?"
"... gue gak tahu kenapa lo bisa jadi ranking satu," keluhku mendesis.
"GUE BUTUH ES KRIM MAAAK, GUE BUTUH ES KRIIM!"
"MBAAAAAK ES KRIM MBAAAAK!" teriakku tidak tahan dengan perilaku Kaito yang (sangat) kekanak-kanakkan. Tampaknya teriakkanku berhasil menembus dinding yang dilapisi beberapa wallpaper. Buktinya, pelayan-pelayan dengan sigap membalas dan membawakan es krim yang kupinta (lebih tepatnya, Kaito, dan dia juga maksa, bukan minta. Sebenernya si, es krim kebutuhannya ya, bukan jadi cemilan lagi bagi dia).
"Es krim apa nih?"
"Es krim import," cibirku.
"Woh!" katanya kagum sambil mencicipi es krimnya. "Apa merknya?"
"Err... Walls!"
"Walls? Dinding?"
"Ini es krim, duh..."
"Iya, trus import dari mana nih?"
"Indonesia... oke gue mau lanjutin curhat gue."
"Tunggu-tunggu!" celetuknya. "Es krim ini hebat! Harganya berapa?"
"Murah, kalau dalam Indonesia kira-kira tiga ribu dapet," kataku ngarang.
"Wah tiga ribu yen?"
"Ng-
"Ya ampun mahal tapi enak banget!"
Aku tidak bisa menahannya lagi. "OKE CUKUP KITA BALIK KE TOPI GIMANA?"
"Author, kurang 'k' lho," Kaito membetulkan. Aku tertawa melihat authornya yang memang malas sekali mengganti dari yang salah menjadi buruk. Akhirnya, author dengan sungut-sungut menjauhi kami padahal kami membutuhkan kebenaran. Oke, back to the topic.
"Jadi, lo mau cerita apa, Len?" tanya Kaito.
Aku terdiam kesal. "Jadi lo dari tadi nggak mudeng gue nanya apa aja ke lo?"
"Lah, lo kan tadi manggil mbak lo nyuruh bawain es krim!" balas Kaito dengan nada tinggi.
"SUMPAH, NTAR LAMA-LAMA GUE SANTET LO NGGAK BISA MAKAN ES KRIM LAGI!"
"AYE MAK!"
"MAK MAK, GUE LAKI-LAKI!"
"Laki-laki shota~," kata Kaito sambil menyantap es krimnya. Kalau saja saat ini aku sedang memakai sepatu sneakersku, pasti sepatu kesayanganku sudah melayang menuju kepalanya, tempat tumbuh rambut birunya.
"Oh mau beneran gue santet?"
"NO NO! MAAFKAN HAMBA, LEN-SAMA, MAAFKAN HAMBA!"
Aku mendengus kesal. "Jadi gini lho, Ice Cream Freak. Kalau misalnya Miku dan Meiko berantem, pasti kita terpecah menjadi dua kubu. Ada yang ngikut Miku, ada yang ngikut Meiko. Nah gue yakin lo pasti ngikut cewek lo karena bagaimanapun juga dia cewe lo. Nah Meiko? Luka dan Gakupo pasti ngikut Meiko dan kalau lo tanya kenapa, karena Luka dan Gakupo lebih dekat sama Meiko."
"Akurat," Kaito memegang dagunya sambil mengangguk-angguk. "Kalau lo sama Gumi?"
"Nah, Gumi pasti milih Miku juga. Karena dia sahabatan sama Miku."
"Nah, sisa lo. Lo ngapain? Jadi sapi disana? Mbeeek! Mbeeek!"
Ya Tuhan kenapa harus sapi? "Nah itu yang mau gue tanya! Dan lagian, suara sapi bukan mbek ya! Suara sapi itu, moo," kataku menunjukkan yang benar.
Kaito mengangguk-angguk. "Oh gitu, toh. Iya, soalnya gue bukan sapi sih. Jadi gatau. Pantas aja sih ya lo tau, orang lo sapinya, hehe," cengir Kaito sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya.
"...santet?"
"AYE MAK!"
"JANGAN MANGGIL GUE MAK! GUE BUKAN MAK LO DAN GUE BUKAN MAK!"
"AYE M- AYE, LEN-SAMA!" kata Kaito sambil hormat.
"That's better," dengusku kesal. "Jadi gimana?"
"Jadi gimana?" ulang Kaito.
"JADI GIMANA, KAITOO? NASIB GUE?! NASIB SEORANG BIBIT UNGGUL KAGAMINE LEN?!"
"Ye kutil," umpat Kaito pelan.
"Ye es ka," balasku kesal.
Bagi kalian yang bingung dengan maksud diatas, kami itu pemain werewolf sejati bersama anak-anak lainnya. Biasanya sih sama anak Vocaloid. Dan sebenarnya nggak ada kutil, yang ada itu 'cultist'. Tapi, cultist itu fungsinya sama kayak kutil, atau malah, nggak ada fungsinya. Ya tau parasit? Nah itu dia. Dan es ka? Sebenarnya ngga ada es ka juga, dan es ka itu bukan namanya es ka, tapi 'sk'. Dan sebenarnya bukan sk juga tapi serial killer. Itu pembunuh berantai yang ngebunuhin orang-orang nggak bersalah.
Dan tadi dengar? Kaito mengumpatku kutil? Karena selama permainan aku selalu jadi kutil.
Kasihanilah hambamu yang tak bersalah ini, Tuhan. Kenapa aku harus menjadi kutil?
"Yah...," kata Kaito pelan lagi.
"Jadi gimana?"
"Gimana apanya si?"
"SARAN LO, BUDEK."
"PENDENGARAN GUE BAGUS YA," ketus Kaito. "Dan kalau lo nanya saran, gue nggak bisa nyaranin lo karena itu udah dari jawaban lo sendiri. Gue nggak ada niatan untuk bantu atau apa di masalah ini. Dan kalau lo merasa risih dengan pertengkaran mereka lo seharusnya yang bikin first move."
"First move? Maksud lo-
"Please Len, kita lagi ngomongin tentang persahabatan. Segala pikiran tentang pacaran and such, tendang dulu," kata Kaito yang mendadak jadi serius dalam obrolan ini.
"Oke oke..."
"Nah, first move yang gue maksud itu, lo harus bikin mereka berdua seenggaknya mencair, kayak es krim gitu."
"Oh dengan gombalan?"
"... kutil, gue gak tahu lo ternyata bener-bener kutil."
"... iya iya, serius nih. Serius. Lanjutin," kataku menahan ketawa.
"Sekarang yang diperdebatkan kan tentang si Rin juga nih. Nah, pokoknya lo kan punya pikiran yang gak mentok. Nah lu pasang-pasangin aja dah itu," gumam Kaito tidak jelas. "Lo nggak mau apa jadi tutor Rin?"
"Yee... Mayu ajalah," tolakku mencibir.
"Kok nggak mau sih? Sebenarnya kalau gue dapet Rin, gue malah senang banget. Sayangnya gue udah ada yang punya. Hati gue kan cuma satu penuh, emang elo, satu hati dibagi-bagi," sindir Kaito sekaligus menggodaku.
"...sialan."
"Udah itu saran gue. Lebih baik lo jadi tutor Rin supaya Miku nggak bete lagi," kata Kaito sambil beranjak dari kursi yang harganya lumayan mahal.
Aku mendengus. "Sampai kapanpun nggak bakal."
"Nah, kalo gitu Miku dan Meiko NGGAK BAKAL temenan dan lo pikir sendiri kelanjutan klub kita," Kaito pun membuka pintu kamarku. "Well, that's enough for today. Dah. Sampai besok."
"Bodo amat. Gue gak mau pokoknya ngetutor Rin. TITIK."
Aku merebahkan diri ke tempat tidur, memikirkan apa yang barusan dikatakan Kaito. Ada benernya juga sih, tapi seriusan? Harus jadi tutor anak bebek itu? Tapi kalau nggak ngetutor dia, ntar si Miku makin menjadi-jadi apalagi Meiko udah manas-manasin suasana. Ini salah Meiko juga sih. Dapet sih dapet, tapi liat situasi juga dong. Gue emang cowok dan nggak ngerti tentang gitu-gituan, tapi ya cewe dewasa masa kaya gitu sih?
Aku memanggil pelayanku dan menyuruhnya untuk membersihkan es krim-es krim yang nggak diberesin lagi sama si Kaito jelek. Aku melirik jam dindingku. Sudah jam tujuh malam. Oh pantas tadi si Kaito buru-buru pulang. Dia kan bukan anak malam hahaha.
Eh, aku juga nggak kok :D.
Nigakute hotto na supaisu, kimi dake ni ima ageru yo~
Suara HP-ku bergetar menandakan ada yang menelpon. Aku melengos dan ternyata Miku-lah yang menelpon. Aku langsung cepat-cepat menjawab dan berkata-kata sebelum dia sempat mengomong. "Moshi-moshi Miku! Ada apa?!"
"Um... hai, ...Len?"
"Uh...," aku jadi canggung mendengar Miku ngomong seperti itu. Tampak berbeda, terlihat berbeda, terdengar berbeda. Sangat berbeda. "Ada apa, Miku? Kau tampak aneh hari ini, eh maksudku... terdengar aneh. Ya, hahaha."
"Um, haha...," kata Miku dengan tertawa yang cukup dipaksakan. "Len, kau dengar, saat siang tadi saat rapat?"
"Ada apa?" masalah itu.
"Aku bilang aku akan menjadi tutornya Rin," kata Miku pelan.
"Oh, iya, aku dengar. Ada apa dengan menjadi tutornya Rin?" tanyaku penasaran.
Miku terdiam sebentar. Dia menarik napas lalu berkata, "Hey Len... ini perintah ketua."
"...He?" jangan-jangan... JANGAN-JANGAN.
"Kita bertukar pasangan. Aku dengan Mayu, kau dengan Rin."
"... HOLY CHEESE?!"
Tuutt...tuttt...
Aku tidak percaya. TIDAK. INI SULIT DIPERCAYA.
"WHAT THEEE FF- pfftt.. ini di rumah, oke ini dirumah," aku langsung menahan diriku dengan sensor KPI yang tiba-tiba ada di otakku. Oh iya, tadi kan makan bareng sama Kaito. Dia itu punya otak KPI. Jangan-jangan... jangan-jangan...
[MIKU POV]
Aku tersenyum senang saat kembali ke rumahku. Ibuku menyambutku, ayahku sedang duduk di kursi sambil menghisap tembakaunya, dan adikku ; Mika Hatsune, memelukku dan mengajakku bermain. Maaf sekali ya, adikku, tapi aku tidak ada waktu untuk bermain. Terlihat beberapa pelayan menghampiriku dan bertanya-tanya tentang kebutuhanku. Hidupku, hidupku ini sangatlah sempurna, jauh dari kata kurang. Aku kaya, aku pintar, aku cantik, aku baik hati, aku tidak sombong, aku dekat dengan keluargaku. Semuanya baik-baik saja.
Apa yang kurang? Teman pun ada.
Aku masuk ke kamarku dan merebahkan diriku ke kasurku yang sangat empuk. Oh, nikmat mana lagi yang kau dustakan? Aku tersenyum dan mengambil HP-ku. Aku tercengang karena banyak sekali LINE yang masuk terutama dari grup VOCALOID.
Aku tertawa cekikikan melihat tingkah laku mereka. Mereka menganggapku marah tadi? Oh... sebegitu polosnya kah aku? Aku kira dengan senyum saja mereka tak akan tahu apa isi hatiku. Aku harus berhati-hati lagi untuk menjaga wajahku agar tidak terlalu kelihatan.
Tapi, aku tiba-tiba tertegun, kecewa, melihat apa yang ternyata mereka bicarakan.
Ketua tidak becus.
Ketua yang tidak ada niatan.
Hanya dengan kedua singgungan itu, sukses membuat air mataku berlinang jatuh dari pelupuk mataku. Oh ya Tuhan, hidupku yang baru kubilang sempurna tadi, tiba-tiba runtuh jatuh bagaikan sebuah pesawat menabrak suatu gedung yang baru saja dibuat dan gedung itu jatuh tak ada harapan lagi. Kata-kata yang menyinggungku itu dengan sangat, itu benar-benar kejam.
Mereka ini teman? Atau teman tanda kutip?
Atau sebenarnya mereka tidak mau menjadi temanku lagi?
Apa salahku?!
Aku terus menyalahkan diriku sendiri hingga aku ingat sesuatu, apa yang terjadi pada diriku di siang hari di suatu tempat. Aku mengangguk-angguk dan tanpa berpikir panjang apa pun resikonya, aku menelpon temanku yang cukup dekat denganku, dan dengan Rin- meskipun mereka seperti air dan minyak.
Tapi bukan itu yang kumaksud.
"Moshi-moshi, Miku! Ada Apa?!"
Aku mendengar suara cowok shota yang tampak gembira sekali. Aku jadi sedikit ragu, tapi aku tidak boleh ragu! Ayo, Miku! Ini untuk masa depanmu! "Um... hai, ...Len?" sial! Kenapa aku jadi tidak bisa berbicara dengan jelas?
"Uh...," dia terdiam sebentar. "Ada apa, Miku? Kau tampak aneh hari ini, eh maksudku... terdengar aneh. Ya, hahaha!"
Aku tersenyum kecut mendengarnya. Maaf Len, tapi aku sedang tidak mood dalam bercanda-canda seperti itu. Lebih baik kupalsukan saja tawanya. Lalu, langsung tanya to-the-point sebelum mengobrol lebih lama lagi. "Hahaha... um Len, kau dengar... saat sang tadi ada rapat?"
"Ada apa?" balasnya.
"Aku bilang aku akan menjadi tutornya Rin," jawabku.
"Oh ya, ada apa dengan menjadi tutornya Rin?" tanyanya.
Aku sedikit ragu-ragu jika dia menolak. Karena ini adalah langkah yang paling penting untuk menghapus rasa kekecewaanku. "Uh... ini perintah ketua."
"...He?"
"Kita bertukar pasangan. Aku dengan Mayu. Kau dengan Rin."
"...HOLY CHEESE!"
dan aku langsung mematikan panggilan itu dan menarik napas panjang-panjang. Pokoknya aku sudah bilang itu perintah ketua, yang artinya mutlak dan tak bisa diubah-ubah lagi. Oke, lanjut ke misi kedua. Aku kembali menekan beberapa digit nomor telepon dan memanggil seseorang.
"Halo, Miku-san! Ada apa?"
"Halo," jawabku lirih. "Aku punya dua berita untukmu."
"Oh ya? Apa itu?!"
"Yang pertama, aku akan menjadi tutormu, Mayu, bukan Len."
Gadis yang kutelpon itu tampak ragu mendengarnya. "Kenapa? Aku tidak masalah dengan Len, kok?"
Aku menggeleng. "Tidak, tidak, ini hanya masalah internal saja."
"Masalah internal?"
"Dan yang kedua... ini sangat penting."
"Apa itu?"
"..."
"Miku-san?"
"Jadi... berapa jumlah uang yang mau kau sumbangkan?"
A/N : Oke selesai! Fyuh... maaf kalau chapter ini mungkin agak sedikit kurang. Karena habis ini au harus ngapalin dua dalil dan itu gak gampang :v /jangan curhat woy/ thanks for reading! Ditunggu reviewnya 3
Salam
Shikioru.
