Author's Note :
Hai, jangan tanya kenapa Author's Note terletak di awal~ Lagi pingin aja. Maaf karena telat update, nyari SMA itu cukup sulit rupanya. Hihihi...
Untuk chapter ini gak ada flashback, dan saya harap kalian semua bisa menghubungkan potongan-potongan scene di chapter-chapter kemarin dan chapter ini untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang sudah terjadi. Kalau beruntung, kalian bisa menebak bagaimana alur yang saya bentuk /plak/
Ibunya Inaho baik loh sebenernya. Jangan dibenci ya /plak/ Kalau ada typo di chapter ini, mohon dimaafkan dan diingatkan. Biar bisa saya ganti~
Warning; apaya?-hmm, mungkin terlalu banyak fluff dan ada kejutan nanti.
.
.
Salju kembali menghantam kota di pagi hari, meredam suara cicitan burung yang sering terdengar. Ditemani dengan secangkir kopi dan sepotong croissant, Kaizuka Yuki lebih memilih bermalas-malasan di apartemen. Sofa yang dibuat untuk tiga orang itu dipakainya sendiri.
Inaho hanya bisa membatin heran ketika melihat kakaknya asyik menggonta-ganti channel TV menggunakan kakinya, sedangkan tangannya dia gunakan untuk memegang ponsel pintar berwarna hitam. Inaho mendudukkan diri di sofa tunggal dengan tangan membawa secangkir kopi.
"Pagi, Nao-kun." Yuki menyapa dengan mulut berisi croissant.
"Hmm." Inaho membalas tanpa menatap Yuki, asap yang mengepul di atas cangkir kopinya terlihat lebih menarik daripada paras ayu kakaknya.
"Berhasil menemukan Slaine?"
Inaho yang hendak meminum kopinya langsung mengurungkan niat. Darimana kakaknya tahu?
Yuki menyeringai. "Hubunganku dengan Slaine baik ya, sampai rasanya tidak mungkin dia akan menghindariku seperti dia menghindarimu." Menebak Inaho memang urusan paling mudah baginya.
"Apa?"
"Jangan pura-pura bodoh. Aku tahu Slaine-kun menghindarimu," ucap Yuki. "By the way, selamat, ya, sudah baikan sama Slaine."
Inaho masih memertahankan wajah teflonnya walaupun hati merasa dongkol setengah mati. "Trims."
Yuki tertawa. "Hari ini ada acara apa?" tanyanya, sekedar berbasa-basi.
Inaho menyesap kopi paginya sejenak lalu barulah ia menjawab, "Hanya kuliah. Dan mungkin aku akan pergi mampir ke toko."
"Ck. Kalian baikan terlalu cepat," sahut Yuki.
Inaho hanya mendengus.
.
.
Setelah Inaho pergi untuk berangkat kuliah. Yuki langsung menelepon ibunya. Bibir bawah digigit kuat sementara dada bergemuruh kencang. Batinnya berteriak agar panggilan cepat dijawab.
"Halo? Dengan keluarga Kaizuka di sini." Suara sang ibu langsung menghampiri telinganya sedetik setelah panggilan itu terjawab.
"Ibu!" Yuki nyaris berteriak. "Astaga, Ibu, apa yang sudah Ibu lakukan pada Slaine?"
"Tenanglah, Yuki. Apa yang kau maksud dengan 'apa yang aku lakukan pada Slaine'?"
"Tolong jangan berpura-pura tidak tahu," kata Yuki sinis. "Aku sudah berkata pada Ibu, 'kan? Kalau jangan ganggu hubungan mereka!"
Helaan napas terdengar dari ujung sana. Ibunya mendengus kasar. "Oh. Aku hanya tidak ingin Nao-kun terluka hanya karena bocah bernama Slaine, Yuki."
Yuki menggertakkan gigi. Ia tidak menyangka akan melawan ibunya sendiri demi adiknya—dan mantan pacar adiknya. "Ibu sudah tahu, bukan, kalau Slaine itu—"
"Ya. Ibu sangat mengerti. Maka dari itu, jangan dekatkan Nao-kun dengan Slaine." Yuki sedikit mengerutkan kening tidak suka ketika ibunya memotong ucapannya. Terlebih suara ibunya terdengar tegas dan seakan tidak ingin dibantah di sini.
"Nao-kun seperti mayat hidup kalau tidak ada Slaine di dekatnya. Aku sudah pernah bilang, 'kan?" gerutu Yuki pelan, tapi tak cukup pelan agar sang ibu tidak bisa mendengarnya.
"Ya, Ibu tahu."
"Dan juga… Nao-kun menyukai Slaine, Bu. Sangat menyukainya." Yuki melanjutkan.
Shiori terdiam di ujung sana.
"Itu yang dia katakan padaku."
Lalu panggilan terputus.
.
.
Aiko Shimazaki present
Liebesleid
.
Aldnoah Zero © A-1 Pictures
Sho-ai
.
.
Inaho dan Calm sedang duduk asyik di kantin kampus. Ini jam makan siang, dan Inaho cukup senang makan siang di kantin bersama Calm atau teman-temannya yang lain. Hari ini menu yang dipilihnya adalah burger ayam lengkap dengan kentang dan minuman bersoda.
"Maaf untuk waktu itu." Calm berucap tanpa melepaskan sedotan dari bibirnya. "Kau tahu, Slaine terlalu imut untuk tidak dipeluk—"
"Jangan membahas itu, Calm"
Calm menutup mulutnya rapat-rapat. Diam-diam memutar kedua bola mata jengah.
Inaho menggigit burger-nya dalam satu gigitan besar. Mengunyahnya cepat untuk melampiaskan emosi. Calm tahu benar bagaimana cara menyulut emosi Inaho. Dan sesaat setelah Inaho menelan makanannya, ia melihat Lemrina berjalan cepat di antara meja-meja kantin dengan tangan membawa sekotak kardus.
"Lemrina." Inaho memanggil tanpa niat, karena suaranya terlalu pelan untuk memanggil seseorang. Tapi entah bagaimana, Lemrina bisa mendengarnya dan menoleh ke arah Inaho.
"Inaho-senpai!" Lemrina Vers Envers berjalan ke arah Inaho. Sebuah senyum terukir di wajahnya. "Selamat siang."
Inaho mengangguk, Calm tetap bungkam tanpa minat di sebelahnya. Mata Inaho tertuju pada kotak yang ternyata adalah kotak donat di tangan Lemrina. "Kau mau kemana?"
"Rumah sakit. Temanku masuk rumah sakit," jawabnya. Mata birunya kemudian melirik jam tangan berwarna merah yang melingkar manis di tangannya. "Maaf, aku harus segera pergi, sudah dulu ya, Inaho-senpai."
Inaho mengangguk saja, tidak ingin tahu lebih lanjut. "Hati-hati di jalan, Lemrina."
Lemrina hanya tersenyum.
.
.
Slaine Troyard memijat pelipisnya. Waktu luang yang ingin digunakannya untuk bersantai harus terenggut secara cuma-cuma karena Inaho mampir ke apartemennya lagi sore ini. Apalagi yang diinginkan lelaki itu? Padahal hujan salju sedang terjadi di luar, kenapa Inaho tetap nekat main ke mari? Lebih dari itu, Slaine rasanya ingin beristirahat hari ini, badannya terasa lelah sekali.
"Ada apa?"
"Aku mencarimu di toko tapi kau tidak ada di sana. Inko bilang kau meminta izin untuk tidak berkerja. Apa kau sakit?" Inaho berucap panjang-lebar. Slaine mendesah. Uh, mendengar perkatan Inaho membuat kepala Slaine pusing.
"Aku baik-baik saja. Apa kau mau makanan kecil? Aku punya donat." Tanpa menunggu jawaban Inaho, Slaine melangkah menuju dapur dan mengambil sekotak kardus berisi donat.
Inaho memerhatikan Slaine yang membawa kotak itu menuju meja rendah di hadapannya. Dahinya berkerut saat menyadari kotak itu tidak asing baginya. Dimana ia melihat kotak itu—?
—tunggu sebentar. Sepertinya kotak itu adalah kotak yang sama yang dibawa oleh Lemrina tadi siang.
"Slaine, darimana kau mendapat donat ini?"
"Eh? Temanku memberikanku ini tadi siang."
Tadi siang, bukankah Lemrina mengunjungi temannya di rumah sakit?
Inaho merasa suaranya ditelan ke dalam keheningan walaupun Slaine sudah menawarkan salah satu donat kepadanya.
.
.
Inaho melirik ponselnya hanya untuk sekedar melihat pukul berapa saat ini. Kini ia tengah duduk manis menunggu seseorang di kafe yang terletak tepat di depan toko kue Aldnoah. Toko itu masih buka, Inaho bisa melihat seorang gadis berambut hitam yang sedang berbincang dengan salah satu pembeli dari tempatnya duduk.
"Inaho-senpai—eh, selamat malam."
Inaho menoleh dan mendapati Lemrina Vers Envers sudah berdiri di hadapannya. Gadis itu mengenakan kemeja berwarna merah dan rok pendek berwarna putih. Stoking hitam dan sepatu boots cokelat menghiasi kakinya. Rambut ungu muda digelung ke belakang, menyisakan beberapa helai anak rambut untuk membingkai wajahnya.
"Halo, Lemrina. Keberatan aku memintamu makan malam bersama?"
"Tentu saja tidak."
.
.
"Aku pulang." Inaho sampai di rumahnya ketika jam dinding menunjukkan waktu jam setengah satu malam. Ia menaruh alas kakinya di rak, kemudian melangkah masuk. Inaho tidak merasa terkejut saat melihat kakaknya masih duduk di kursi makan sambil menikmati makan malam.
"Oh, kau baru pulang, Nao-kun."
Inaho memanting diri di sofa dan menyambar remot tv. "Kau sendiri juga begitu, Yuki-nee." Ia menekan tombol 'power' dan menunggu TV menyala.
"Mau sushi? Aku membelinya saat pulang tadi," tawar Yuki, yang dibalas gelengan Inaho. Yuki mengambil sepotong sushi dan memakannya. "Baiklah kalau kau tidak mau."
"Aku sudah makan tadi sama Lemrina."
Yuki mengangguk-angguk mengerti.
Lalu tidak ada lagi yang berbicara. Mereka membiarkan televisi berceloteh sendirian. Inaho mulai memerhatikan acara yang menampilkan pertandingan sepak bola.
Acara televisi tiba-tiba berubah. Headline news.
"Oh, ya, Yuki-nee." Inaho menoleh menghadap sang kakak. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Ya?"
"Bagaimana kau bisa mengenal Slaine?"
Yuki terdiam dan tak kunjung menjawab. Hingga suara televisi mengintrupsi mereka berdua.
"…terjadi kebakaran di apartemen di jalan Kiyosu-shi. Belum diketahui penyebab kebakaran, namun bangunan apartemen terbakar habis. Selama ini belum ditemukan korban jiwa, sedikitnya ada lima orang menderita luka bakar ringan dan—"
Inaho memutar kepalanya, menghadap televisi.
"Nao-kun," panggil Yuki dengan suara bergetar tak percaya. Topik pembicaraan sebelumnya sudah dilupakan sepenuhnya. Kini mereka lebih memilih mendengarkan televisi.
"Tidak salah lagi." Suara Inaho tetap datar dan tenang meskipun dadanya bergemuruh hebat di dalam. "Itu apartemen Slaine."
"Astaga." Yuki beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat. "Bagaimana bisa?"
Inaho tidak menghiraukan pertanyaan Yuki—yang ia sendiri tidak bisa menjawabnya—lalu berdiri dan menoleh ke arah Yuki. "Yuki-nee, aku pinjam mobil."
Yuki—masih dengan ekspresi terkejutnya dan mata memandang sang televisi—hanya mengangguk mengiyakan dengan gerakan kaku.
Inaho melangkah dengan cepat. Menyambar kunci mobil milik Yuki dan sebuah mantel berwarna hitam.
.
.
Mobil berwarna hitam ini memang jarang dipakai oleh Inaho, karena memang mobil itu milik kakaknya. Inaho pernah mengendarai mobil milik Yuki sekali-dua kali, itupun di saat-saat terdesak saja.
Malam ini suhu mendadak menjadi sangat dingin, salju kembali turun dan Inaho belum menemukan sosok Slaine Troyard. Pikirannya tidak tenang dan mulai ngelantur kemana-mana. Pertanyaan yang sama terus diulang oleh otaknya; Slaine dimana?
Inaho turun dari mobil dan memandang sekeliling.
Tak lama kemudian ia menemukan Slaine Troyard berdiri di pinggir jalan dengan kedua tangan memeluk siku. Ia hanya memakai piyama dan sebuah syal tersampir di bahunya, tidak dipakai dengan benar.
"Slaine!"—Inaho terkejut saat mendengar suaranya sendiri—kenapa suaranya terdengar sangat cemas?
Slaine perlahan mendongak dan menatap dirinya. Ya Tuhan, Inaho baru pertama kali ini melihat pandangan Slaine yang dipenuhi akan sarat ketakutan.
"Kau baik-baik saja?"
Slaine mengangguk dengan gerakan patah-patah.
Inaho menyampirkan mantel hitam yang ia bawa di bahu Slaine dan membenarkan letak syal yang dipakai lelaki pirang itu. "Apa kau terluka?"
"T-tidak." Slaine menjawab dengan suara serak.
Inaho mencengkram erat bahu Slaine. Selama beberapa saat, Inaho lebih memilih memerhatikan bagaimana raut takut yang tercetak jelas di wajah Slaine.
"Bisa kau ceritakan padaku apa yang terjadi?"
Slaine menarik napas dan menghembuskannya. "Aku sedang menonton televisi."—Inaho mengernyit, selarut ini? Seingatnya Slaine tidak pernah tidur di atas jam sepuluh ketika masih tinggal di apartemennya—"Lalu, alarm kebakaran tiba-tiba berbunyi."
"Nyaring sekali. Telingaku sakit mendengarnya. Dadaku seketika dipenuhi oleh rasa takut. Alarm itu terus berbunyi bagaikan dering bel kematian bagiku." Slaine berusaha keras agar suaranya tidak terdengar bergetar. "Aku mengambil syalku untuk menutup hidung. Dan ketika aku keluar dari kamarku, semuanya sudah dipenuhi asap."
"Mereka semua berteriak. Bahkan ada yang menangis." Tangan Slaine kemudian terangkat untuk memegang sisi kepalanya yang mendadak sakit. "Kemudian… kemudian…"
"Sssh. Baiklah, aku mengerti." Inaho mendesis, berusaha menenangkan. Padahal sebenarnya ia sudah tidak kuat mendengarkan cerita Slaine.
Slaine pun diam setelah Inaho berkata seperti itu. Inaho menariknya sampai masuk ke mobil.
.
.
"Slaine!" Yuki menghambur memeluk Slaine sesaat setelah mereka kembali ke apartemen Kaizuka bersaudara. Setelah memeluk Slaine sampai puas, Yuki meraba-raba wajah Slaine. "Kau tidak apa-apa?"
Inaho melenggang masuk ke dalam apartemen, meninggalkan Slaine dan Yuki di depan pintu. Ia memutar kedua bola matanya, Yuki kalau sudah khawatir pasti bersikap berlebihan. Maka dari itu ia menghindar darinya dan memilih masuk ke dalam dapur.
Inaho mengambil beberapa cangkir dan mulai membuat cokelat panas.
"Yuki-san benar-benar bisa membuatku merasa lebih baik." Slaine menghampiri Inaho kemudian. Ia memegang pipi kanan yang memerah, mungkin bekas cubitan sayang dari Yuki.
Inaho tidak menyahut, ia memberikan secangkir cokelat panas yang baru saja dibuatnya pada Slaine. Slaine menerimanya dengan dua tangan.
"Makasih." Slaine meniup uap yang mengepul di atas cangkir. "Um, Inaho-san."
"Ya?"
"Apa aku boleh tinggal di sini? Se-sementara saja…"
Inaho menahan tawa melihat wajah Slaine yang terlihat malu mengucapkan kalimat itu. Inaho yakin lelaki itu dipaksa oleh Yuki untuk mengucapkan kata-kata barusan. Baru saja ia hendak membalas, Yuki sudah terlebih dulu mengintrupsi.
"Cokelat panas untukku mana, Nao-kun?"
Inaho ingin memasang wajah datar yang membosankan khas miliknya, tapi bibirnya mengkhianatinya dengan melengkung menciptakan senyum tipis, kemudian dia menyerahkan secangkir cokelat panas untuk Yuki.
Yuki menerima itu dengan wajah bahagia. "Hehe, makasih. Ngomong-ngomong, aku akan menelepon ibu sebentar," beritahunya. Ia menyesap cokelat panasnya dengan santai, mengabaikan fakta kalau ia melihat bahu Slaine menegang setelah ia mengatakan hal itu.
"Untuk apa kau memberitahu ibu?" Inaho menyahut malas.
Yuki menghela napas, Inaho memiliki sifat yang kurang ajar sebenarnya. "Oh, Nao-kun, bagaimanapun juga dia ibu kita. Dia berhak tahu soal apapun yang terjadi dengan kita."
"Slaine masuk ke dalam kata 'kita'?"
Slaine hanya diam, menonton dalam diam perdebatan kecil antara kakak-beradik Kaizuka ini.
"Oh, sudahlah. Lupakan," Yuki akhirnya mengalah, "tapi aku tetap akan menelepon ibu."
"Dan sekali lagi, Yuki-nee, untuk apa kau menelepon ibu?"
"Nao-kun, jangan buat pembicaraan ini semakin panjang."
.
.
Inaho duduk di atas ranjang kamarnya. Ia membaca buku dengan santai, punggung disandarkan dan kaki diluruskan. Sebuah kacamata baca bertengger manis di hidung. Ia membaca hanya ditemani dengan cahaya lampu kecil yang menyala remang.
Pintu diketuk dari luar, disusul dengan panggilan lirih. "Inaho-san?"
"Masuk saja."
Suara pintu berderit terbuka terdengar, Inaho menutup bukunya dan melepas kacamatanya. Ia meletakkan kedua benda itu di sebelah lampu kecil. Mata cokelatnya jatuh pada sosok Slaine Troyard yang berdiri di depan pintu.
"Ada apa, Slaine?"
Slaine menatap ragu. "Aku—"
"Takut tidur sendiri?"
Slaine hanya memberengut.
Inaho menepuk bagian kosong di sisi kirinya. "Kemarilah, Bat."
Slaine mendudukkan diri di sana. "Inaho-san," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Maaf."
"Untuk?"
"Aku kembali merepotkanmu sepertinya."
Inaho mendengus. Ia menjatuhkan kepala cokelatnya ke bahu Slaine. "Kau selalu merepotkanku, jangan khawatir," katanya.
"Apa kau bilang?" Slaine mendelik marah. Lalu ia mendengus. "Oh, ya, baiklah, maaf."
"Jangan harap kau akan dimaafkan dengan mudah."
Slaine memicingkan mata tidak suka. "Aku tidak tahu kalau kau bukan tipe pemaaf."
Inaho mengangkat alis tinggi. "Aku tipe pemaaf, terkecuali padamu."
"Apa-apaan itu?" Slaine tidak terima.
Inaho terkekeh, mengabaikan Slaine yang marah-marah seperti anak kecil. "Kau tahu? Dengan masuk ke kamarku itu artinya kau menggodaku."
Slaine menggerutu, "Astaga, jangan melakukan hal yang tidak-tidak, Inaho-san. Aku mau tidur." Ia menarik selimut sampai sebatas dagu.
"Aku tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak," sanggah Inaho. "Tapi melakukan hal yang iya-iya."
Slaine menimpuk kepala Inaho dengan bantal lalu menarik selimut sampai menutupi kepalanya. "Selamat tidur," ujarnya.
Inaho ikut membaringkan diri di samping Slaine dan menarik selimut sebatas dagu. "Mimpi indah, Bat."
Slaine bersyukur karena Inaho tidak bisa melihat rona merah yang kini menjalar cepat di wajah hingga telinga Slaine.
.
.
Kaizuka Shiori tidak bisa menahan ekspresi bodohnya saat melihat isi kamar Inaho di pagi hari. Karena pemandangan yang menyambutnya cukup ekstrim—Shiori bahkan sampai menahan napas melihatnya.
Inaho. Dan. Slaine. Tidur. Seranjang.
Apa maksudnya ini? Kepala Shiori mendadak pusing. Semalam ia menerima telepon dari Yuki, katanya apartemen Slaine kebakaran dan lelaki itu menginap di apartemen kedua anaknya sekali lagi. Tapi yang dilihatnya sekarang seperti Inaho dan Slaine seperti pasangan suami-suami yang baru saja menikah dan malas bangkit melawan gravitasi ranjang.
Yang lebih dulu bangun adalah Inaho, kelopak matanya terbuka dan mengerjap beberapa kali sebelum ia mendudukkan diri di atas ranjang. Kepala cokelat Inaho masih terantuk-antuk sampai akhirnya ia bisa memahami situasi.
"Ibu?" panggil Inaho dengan suara serak.
Nyonya Kaizuka melipat kedua tangannya dan berdecak. "Pagi, Nao-kun."
Lalu kesadaran Inaho sepenuhnya terkumpul. Matanya menatap bingung eksistensi ibunya di kamar, seakan Inaho baru saja melihat hantu. Bahkan dia sampai berkedip beberapa kali dan menggosok matanya, memastikan bahwa sosok di hadapannya bukanlah hantu ataupun sejenisnya.
"Apa yang Ibu lakukan di sini?"
"Menjenguk Slaine."
"Hah?"
Suara Inaho dan Shiori membangunkan Slaine. Dalam sekejap, tubuh Slaine terduduk tapi matanya masih terpejam. "Ung—Inaho-san?"
Inaho menggoyang-goyangkan tubuh Slaine, si pirang satu itu harus digoyangkan tubuhnya agar bisa sadar dari alam mimpi. "Bangun, Slaine."
Tak lama, Slaine membuka mata dan menatap sekeliling, tentu saja hal pertama yang dilihatnya adalah sang bungsu Kaizuka, kemudian—
"Bibi?"
.
.
Ruang duduk tidak pernah terasa secanggung ini sebelumnya. Slaine berulang kali mencengkram piyama bagian bawahnya karena Shiori tidak berhenti menatapnya dari atas sampai bawah. Inaho tetap memertahankan wajah datar ala pantat pancinya. Slaine diam-diam berharap kalau wajahnya bisa sama seperti Inaho.
Entah sudah berapa lama mereka bertiga terdiam seperti itu. Tidak ada yang berniat membuka suara karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Psst—sebenarnya daritadi di telinga Inaho tersumpal earphone, dan entah bagaimana caranya ia bisa membuat earphone itu tidak bisa dilihat oleh dua orang lainnya, makanya dia bisa memasang wajah kalem dan kepalanya sekali-kali mengangguk mengikuti aliran musik.
Shiori berdiri dari duduknya tapi mata tidak lepas dari Slaine. Tiba-tiba wanita itu menjatuhkan diri di atas Slaine.
Inaho melotot. Ibu—kau tidak berniat merebut Slaine dariku, 'kan?
"Eh—Bibi?" Slaine tidak tahu harus bereaksi apa ketika Shiori memeluknya erat.
"Slaine—"
Bahu Slaine menegang saat mendengar suara lirih Nyonya Shiori yang memanggilnya. Suara itu pelan nyaris tak terdengar, namun seakan memintanya untuk tetap tinggal.
Slaine tidak tahu harus bagaimana saat menyadari bahwa bahunya tiba-tiba basah.
.
.
Sudah tiga hari Slaine Troyard tinggal di apartemen Inaho. Harklight mau berbaik hati mengantarkan baju-bajunya kemari, dan Slaine tidak tahu kenapa Inaho terlihat sangat ingin mengusir Harklight saat itu.
Helaan napas terdengar sekali lagi, diikuti dengan dentingan manis dari oven yang menandakan kue telah matang. Slaine pun mengambil kue buatannya dari oven lalu mulai menghiasnya.
Toko kue Aldnoah seakan telah menjadi salah satu tempat favoritnya di kota ini. Mungkin karena di tempat inilah Slaine berhak berkreasi menciptakan kue buatannya sendiri. Jujur saja, waktu libur Natal dan tahun baru kemarin, toko kue Aldnoah menjadi tempat yang paling dia rindukan selain apartemen Kaizuka bersaudara.
"Slaine."
"Ya?" Slaine menoleh dan mendapati Asseylum berdiri di ambang pintu dapur, memanggilnya. "Ada apa Asseylum-san?"
"Aku ingin berbicara sebentar padamu."
Slaine pun mengangguk. Ia melepas celemeknya dan segera menggantungnya. "Umm, Rayet," ia memanggil dengan ragu, sebab di antara semua rekan kerjanya, Rayet lah yang sering memergoki dirinya bermesra-mesraan dengan Inaho. Setelah Rayet menoleh ke arahnya, Slaine melanjutkan, "Bisakah kau menghias sisa kue di mejaku? Sudah aku buatkan contohnya di sana."
Rayet mengangguk dan Slaine tersenyum canggung. "Terima kasih," katanya.
Slaine pun keluar dari dapur dan menuju ruang pribadi Asseylum. Ini adalah kali pertamanya masuk ke dalam ruangan itu. Dan Slaine dibuat kagum dengan lukisan-lukisan yang terpajang di dinding ruangan itu sebelum matanya beralih pada Asseylum yang duduk santai di kursinya.
"Ada apa, Asseylum-san?"
"Lemrina memberitahuku kondisimu semakin memburuk," katanya, mata hijau Asseylum menatap nanar Slaine. "Aku tidak mau kau memaksakan diri, Slaine."
Slaine tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Lemrina terlalu berlebihan, lagipula aku sehat-sehat saja, Asseylum-san."
Asseylum menghela napas. "Katakan hal itu pada orang yang kemarin jatuh pingsan di dapur."
Mendengar hal itu, Slaine hanya tersenyum masam.
.
.
"Achoo!"
Inaho menoleh ke arah Slaine yang kini sibuk mengusap-usap hidung menggunakan sebelah tangan. Ini sudah kelima kalinya Inaho mendengar Slaine bersin. Memicingkan mata, Inaho seakan menuntut penjelasan dari Slaine.
"Aku baik-baik saja, Inaho-san," kata Slaine ketus. Ia tidak suka ditatap dengan pandangan seperti itu oleh Inaho.
"Bohong." Inaho menutup buku yang sedari-tadi dibacanya. Ia melangkah mendekati Slaine yang sibuk mengocok telur. Tangan Inaho terangkat, menyibak helai rambut yang menutupi dahi si lelaki pirang.
Slaine berjengit saat merasakan tangan dingin Inaho menyentuh dahinya. "Tanganmu dingin sekali, Inaho-san!"
"Dahimu yang panas, Bat. Tanganku biasa-biasa saja."
Slaine melepaskan mangkuk dan pengocok telurnya, ia menggerakkan tangannya untuk menyingkirkan tangan Inaho yang masih bertengger di dahi. "Aku baik-baik saja."
"Wajahmu memerah."
Slaine tidak ingin menjawab kalau wajahnya memerah karena alasan yang lain. "Hmm, dan biarkan aku memasak makan malam, Inaho-san."
"Biar aku yang melanjutkan, kau istirahat saja."
Slaine menghela napas dan menyerah. Memang benar, akhir-akhir ini Slaine merasa sedang tidak enak badan. Tepatnya setelah ia terjatuh dan tidak sengaja tertidur di dapur toko—ia tidak mau menyebut itu pingsan karena terdengar berlebihan.
Baru selangkah Slaine bergerak, tubuhnya limbung ke depan. Inaho dengan sigap menangkapnya sebelum benar-benar membentur lantai. "Bat?"
"A-ah. Maafkan aku Inaho-san."
"Kau bisa berdiri?"
Slaine buru-buru menegakkan tubuh dan menumpukan seluruh beban tubuhnya pada sepasang kaki. "Bisa," jawabnya penuh keyakinan. Terdengar helaan napas dari Inaho, dan Slaine buru-buru berjalan menuju kamarnya.
.
Liebesleid
—Kesedihan Cinta
.
Ini pagi yang cerah. Tidak turun salju, dan matahari mau menyapa bumi, walaupun awan segelap malam masih senantiasa menemani. Tapi ini lebih baik daripada pagi-pagi sebelumnya yang malah dihiasi dengan butiran es menari di udara.
Dapur menjadi sasaran pertama Slaine setelah kamar mandi. Ia mencari obat—sepertinya ia benar-benar terkena flu—sembari berpikir sarapan apa yang harus ia siapkan. Berhubung Inaho belum terbangun dan Yuki tidak ada di tempat. Slaine mengingat-ingat kemana perginya Yuki semalam sampai ia tidak pulang begini.
Slaine menemukan obat yang ia cari. Ia menggenggam botol berisi pil-pil obat dan melangkah mendekati kulkas.
Lalu tubuhnya ditarik oleh gravitasi bumi.
"Eh?" Slaine memasang wajah bingung. Jelas saja, ia merasa tidak tersandung apa-apa lantas, kenapa ia harus terjatuh?
Slaine menghela napas. Oke, abaikan saja, mungkin ini karena kecerobohannya. Yang terpenting ia masih bisa berdiri la—
"Eh?"
Kakinya kaku. Tidak bisa digerakkan. Botol obat yang ikut jatuh bersamanya dibiarkan begitu saja. Pil-pil obat bersrakan. Slaine masih bergeming di tempatnya.
"Kenapa?" Pertanyaan itu mengambang di udara sebelum ditelan keheningan. Slaine frustasi. Kakinya terus dipaksa bergerak. Tapi tidak ada yang terjadi.
"Kenapa!? Kenapa!? Kenapa!?"
Akal sehat Slaine habis. Ketakutan menguasai dirinya. Tangan digerakkan untuk memukul kaki. Mulut terus berteriak, bertanya entah kepada siapa.
"—Slaine?"
Dan dunia Slaine seakan berhenti di sana. Kaizuka Inaho berdiri di ambang pintu dapur. Melihatnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan olehnya.
"I-Inaho-san…" Suara yang mirip cicitan tikus itu memanggil, menyebut nama Inaho ditengah ketakutannya.
"…kakiku…"
"…tidak mau bergerak."
.
.
to be continued.
special thanks buat yang review chapter kemarin;
yuri-sweetyoja || undeuxtroisWaltz || Rosiel-AcyOrt || Kiyu desu || Seijuurou Eisha || yuanita-antariksa-3 || Puuch || Yozorra || Shoujo Record || capungterbang
