Yuri : Halo Readers ! akhirnya chapter 7 rampung juga !

Ayame : sebenernya kita berkali-kali stuck buat lanjutin cerita ini !

Yuri : Habis Ayame ngungsi ke fandom lain siiih !

Ayame : oalaaah~ aku mencoba sesuatu yang lain dan ternyata malah keasyikan !

Yuri : kalo gitu kamu tanggung jawab sama readers yang udah penasaran !

Ayame : he-EH ? ja-jangan dong ! kita ini teman ! suka duka dilewati bersama !

Yuri : Gak deeeh ! *kabur*

Ayame : eeeeh ! Yuri tunggu ! *panik*

Kanon : daripada makin gak jelas kita mulai aja deh Chapter 7-nya !

Hizumi : SETUJU !

Eyes : Spiral bukan kepunyaan Authors gila nan gaje disana ! *nunjuk Authors* tapi kepunyaan Shirodaira Kyou and Mizuno Eita.

Kanon : saya 'katanya' milik mereka berdua ...

Eyes : aku kepunyaan Yuri...

Hizumi : seperti biasa aku punya Ayame !


The Final Battle


"Aku sudah menunggu kedatanganmu, Rutherford" kata Kiyotaka yang tersenyum santai saat melihat Eyes yang datang ke tempat persembunyiannya.

"Apa maksud dari semua ini ?" bentak Eyes yang berjalan cepat ke depan Kiyotaka yang sedang duduk santai di depannya.

"Kenapa ? Eyes Rutherford ? Kau ingin menanyakan kenapa sampai Hanon melindungi Iris seperti itu ?" tanya Kiyotaka sambil menyeruput kopi yang ada di cangkir biru itu.

"KAU ! ternyata benar kaulah yang telah mengaturnya !" seru Eyes yang kelihatannya sangat marah pada Kiyotaka.

"menurutku, tenangkan dirimu jangan biarkan emosi itu memakanmu Eyes Rutherford !" sahut Kiyotaka dengan senyuman kecil.

"APA YANG AKAN KAU RENCANAKAN SETELAH INI ?" bentak Eyes lagi. namun Kiyotaka hanya terdiam dan tetap mempertahankan senyumannya.

"KAU ! Kalau saja setelah ini kau masih melibatkan Hanon dan membuatnya terluka, aku akan membunuhmu !" lanjut Eyes yang sudah habis kesabaran.

Kiyotaka menghela napas dan lagi-lagi tersenyum, "Coba saja kalau kau bisa, Eyes Rutherford."

Mendengar hal itu Eyes merasa sangat jengkel, "Cih !" ia menggebrak meja dan segera meninggalkan tempat itu tanpa mengucapkan salam.

"Anak yang baik..." puji Kiyotaka dengan senyuman, ia kembali menyeruput kopinya.

Eyes berjalan cepat dan menaiki mobil yang telah menunggunya, ia masih saja kesal dengan Kiyotaka yang melibatkan Hanon lebih jauh, sampai Hanon terluka karena melindungi Iris yang jelas-jelas sudah memanfaatkan kebaikannya itu.

.

.

Iris membuka pintu rumahnya yang tidak sebanding rumah keluarga Antouniousse yang pernah ia tinggali, rumah itu sebenarnya telah dipersiapkan oleh Kiyotaka sebagai tempat persembunyian Iris, jauh dari keramaian kota namun suasananya berbeda dengan rumahnya yang dulu. Ia memasuki rumahnya yang mungil itu perlahan dan kemudian menutup pintu kembali. Ia membuka sepatunya dan kembali melangkah, seraya menyalakan lampu agar semuanya terlihat.

"Yo ! Aku sudah lama menunggumu Irisan bawang !" sapa seseorang yang sedang duduk menatap matahari terbenam. Iris terkejut dan bersikap siaga.

"khukhukhu ... kenapa ? kau takut kalau aku kesini akan mengambil nyawamu ?" tanya seseorang itu, yang ternyata adalah Hizumi.

"Hi-Hizumi ... " gumam Iris pelan, ia berjalan mundur karena ia dapat merasakan aura Hizumi yang semakin menakutkan, ia tahu saat ini nyawanya terancam. Ia mencoba membalikan badannya dan menggapai pintu untuk membukanya.

DOR !

Hizumi memberikan tembakan peringatan padanya, hampir saja tangannya terkena tembakan tersebut, Iris kembali menoleh kearah Hizumi yang semakin mendekatinya. Tubuhnya bergetar tak seperti biasanya, padahal tadi siang ia baru saja bersikap dingin seperti itu, namun melihat aura Hizumi yang begitu menakutkan ia tidak berdaya. Ia menghiraukan Hizumi dan mencoba membuka pintu itu lagi.

"Percuma kalau kau lari, Iris. Kau tidak akan bisa lepas dariku, fufufu..." gertak Hizumi yang mencoba menjatuhkan mental Iris saat itu.

Saat pintu terbuka Iris berlari secepat yang ia bisa, namun Hizumi mengejarnya dan beberapa kali melepaskan beberapa tembakan peringatan agar Iris berhenti. Saat itu, nyawanya benar-benar terancam, ia hanya ingin selamat dan memperbaiki semuanya lagi. Ia menyesal, karena dia, Hanon-lah yang menjadi korban.

Ia terus berlari tanpa memperdulikan tembakan dari Hizumi, kalau saja saat itu ia memiliki alat untuk melawan hizumi, mungkin ia akan berhenti dan melawannya untuk mempertahankan hidupnya.

"Mau sampai kapan kau terus berlari, Iris Weisheit ?" Tanya Hizumi yang mempercepat larinya.

"kuso ... !" umpat Iris, namun sial, Iris tersandung batu dan terjatuh. "Ukh !" Ia merasa sakit di pergelangan kakinya namun ia mencoba untuk berdiri, sayang, kakinya terkilir jangankan berlari ia susah untuk berdiri.

"sudah kubilang, kau takkan lolos dariku" kata Hizumi yang sudah meletakkan muka pistol miliknya di dahi Iris. Iris terkejut disaat yang sama, Jantungnya terasa sakit.

Namun ia masih mempunyai trik, di selengkatnya kaki Hizumi hingga Hizumi terjatuh, Iris kembali berlari walaupun dengan menyeret salah satu kaki.

"Gadis keras kepala" gumam Hizumi, ia tersenyum dan menganggakat tubuhnya. Ia kembali mengejar Iris yang tak jauh dari dirinya.

Sementara Hizumi mengejar Iris ala film Bollywood, mari kita beralih ke Ayumu dan kawan-kawan. #ditimpuk Hizumi dan Iris.

Ayumu dan yang lain menunggu Kanon dari ruang perawatan Hanon, sampai saat ini, Hanon masih belum sadarkan diri

"Ayumu, apa kita harus memburu mereka berdua?" tanya Hiyono ragu

"Cepat atau lambat, aku ditakdirkan untuk membunuhnya." kata Ayumu dingin

"Apa kalian punya strategi?" tanya Kanon

"Tentu!" kata Rio dengan percaya diri

"Tapi..." Kanon sempat ragu

"Tapi apa lagi?" kata Kousuke emosi

"Bagaimana kalau Hanon tidak ingin kalau Iris dibunuh? Hanon bukan tipe yang begitu dikhianati sahabatnya ia langsung dendam begitu saja, ia tipe orang yang tabah dan sabar. Hanon tak akan membiarkan kita membunuh sahabatnya itu. Bukankah itu sama saja dengan kita membunuh Hanon?" kata Kanon mengutarkan alasan keraguannya untuk membunuh Iris

"Cih! Untuk apa kau memikirkan itu? Lagipula, kalau Iris meninggal, mungkin Hanon akan cepat melupakannya. Jika ada kau di sisinya." kata Kousuke enteng

"Kau tak tahu apa-apa. Tapi main bicara begitu saja. Apa kau tahu? Dulu waktu aku memisahkannya dari Eyes, dia nekat memotong nadinya." kata Kanon

"Hmmm... Kalau Iris mati, bisa-bisa Hanon berniat untuk menyusulnya." kata Ayumu

"Yah~ Mau tak mau kita harus menganti rencana kita." kata Rio menghela nafas

Tak lama kemudian, Kanon, Ayumu, Hiyono, Rio, Ryoko dan Kousuke kembali terlibat pembicaraan yang serius dan menguras emosi. Kousuke terlihat sering memukul meja dan Ryoko berusaha menenangkannya. Sedangkan sampai saat itu, Hanon belum sadar. Mukanya terlihat pucat dengan raut wajah yang gusar. Sementara itu Eyes yang berada dalam mobil terlihat masih kesal dan marah pada Kiyotaka dan dua pengkhianat itu. Kesengsaraan ini seolah tiada akhir bagaikan roda yang terus berputar.

.

.

Iris tetap berlari tanpa memperdulikan rasa sakit yang ia rasakan di dada dan kakinya, Nafasnya sudah berat dan pandangannya semakin kabur, ia sudah tidak tahu bagaimana nasibnya jika ia terjatuh dan tak sadarkan diri.

kalau aku menutup mataku sekarang, mungkin ini adalah saat-saat terakhirku pikir Iris yang sudah putus asa.

DOR ! terdengar suara tembakan yang Hizumi lontarkan, tembakan tersebut mengenai Kaki Iris, namun hanya terserempet, hingga ia tersungkur jatuh, meskipun begitu Iris tetap mencoba menyelamatkan diri dengan menyeret tubuhnya. Ia ingin sekali membeberkan semua yang ia ketahui pada pihak Ayumu yang kini sangat membencinya, walaupun saat di rumah sakit ia menyuruh Hizumi menembaknya, namun Kini ia masih sangat menyesali perbuatannya kepada Hanon.

Kalau saja Hanon tidak melindunginya semuanya tidak akan terjadi, Hanon akan baik-baik saja dan tugas Iris sudah selesai saat itu. Kini hanya ada penyesalan yang ada di otak Iris, ia bahkan meyalahkan dirinya kenapa ia harus dilahirkan ke dunia ini.

Kaki Hizumi menginjak tubuh Iris yang tersungkur, agar ia tidak mencoba lari lagi dari Hizumi.

"Sekarang tidak ada yang bisa kau lakukan lagi, kedua kakimu tidak bisa digunakan saat ini !" kata Hizumi dingin, ia mengangkat kakinya dan membiarkan Iris membalikkan badannya.

"Hi-Hizumi ..." kata Iris "He-Hentikan permainan ini ... se-seharusnya saat itu kau tidak me-melanjutkan menembakkan peluru i-itu ... karena Hanon melindungiku sebelum kau menembakkan peluru itu ... ka-kau ... seharusnya dapat be-berhentikan ?"

"memangnya aku peduli ?" sahut Hizumi dingin "Ingatlah aku adalah The next Devil tidak ada kata berhenti di kamusku, aku tidak peduli siapa yang kubunuh."

"Hi-Hizumi ... ! bu-bukankah tujuan kita sama ?" tanya Iris pada Hizumi.

"Ya ... tapi ... untuk memudahkan tujuan kita, kau harus mati Iris..!" jawab Hizumi, "sekarang apa permintaan terakhirmu sebelum aku menembakkan peluruku tepat pada jantungmu itu ?"

Iris terdiam, ia sangat takut melihat wajah Hizumi, namun cepat atau lambat peluru itu akan membunuhnya dan ia akan meninggalkan dunia ini selamanya, banyak penyesalan yang ia punya saat itu.

"Jangan lakukan itu, Hizumi-kun !" larang seseorang yang tiba-tiba datang.

"KAU ?" seru Hizumi.

"Kalau kau membunuh Iris kau akan menyesal ingat itu" lanjutnya, "berhentilah mencoba menggagalkan rencanaku.."

"Kiyotaka ..." ucap Iris.

"tenang saja Iris, dia takkan tega untuk mencoba membunuhmu sampai kedua kalinya" kata Kiyotaka mencoba menenangkan Iris.

"Diam ! jangan mendekat atau kau yang kubunuh !" gertak Hizumi pada Kiyotaka.

"Aku yakin kau takkan bisa melakukan itu, Hizumi-kun." sahut Kiyotaka dengan santainya.

"DIAM !" teriak Hizumi. Tubuh Hizumi bergetar mendengar perkataan Kiyotaka, ia mengarahkan pistol yang ia pegang ke arah Kiyotaka dan menembakkannya, DOR !

"lihat ? meleset bukan ?" ujar Kiyotaka sambil tersenyum.

Melihat hal itu, Hizumi menjatuhkan pistolnya dan terduduk lemas, wajahnya menunjukan ia tak percaya ia dapat gentar dengan seorang Kiyotaka. Iris sudah menduga hal itu akan terjadi. Ia sama sekali tidak membenci Hizumi yang terus mencoba membunuhnya, karena sebenarnya mereka sudah memahami sifat masing-masing.

"Sebaiknya, kalian bersatu dan bersiap diri, karena Ayumu dan yang lain akan menyusun rencana untuk menangkap dan mengalahkan kalian" pesan Kiyotaka dan ia segera meninggalkan Hizumi dan Iris.

Hizumi masih terus menunduk, sementara Iris mencoba mendudukan tubuhnya yang sudah setengah mati berlari, ia mencoba menyeret tubuhnya mendekati Hizumi.

"Hizumi ... sudahlah... semua akan baik-baik saja ..." kata Iris menenangkan.

"Ya ... Gomen Iris ..." sahut Hizumi yang menekukan tubuhnya dan menyembunyikan wajahnya.

.

.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Eyes ketika melihat teman-temannya yang mengellilingi meja penuh senjata

"Apa? Tentu saja mau memburu pengkhianat." kata Kousuke

Eyes terdiam dan berpaling menatap Kanon. Kanon seolah mengerti pertanyaan yang ada di pikiran Eyes hanya mengangguk mantap.

"Kami hanya akan membunuh Hizumi. Iris hanya akan mengalami cidera." kata Ayumu

"Begitu..." timpal Eyes singkat.

"Bagaimana ? apa kalian tahu keberadaan Hizumi ?" tanya Rio yang sedang merakit senjata ditangannya.

"Untuk saat ini ... Kau ! Cari tahu !" suruh Ayumu pada Hiyono yang sedari tadi memegang sebuah pistol.

nih anak kalau nyuruh gak pake sopan santun ! awas saja kau Narumi-san ! pikir Hiyono sambil tersenyum tidak ikhlas.

"Tenang saja ! Hiyono-chin sudah mengetahui keberadaan Hizumi !" kata hiyono riang.

"Eh ? Benarkah ?" tanya Ryoko yang tak percaya.

"Hiyono-chin gitu lho~"

Hiyono pun segera memberitahukan dimana tempat Hizumi berada, semua mendengarkan secara seksama dan mereka kembali tenggelam karena pembicaraan mereka yang begitu serius. Semua ini dilakukan demi masa depan umat manusia, terutama Blade Children.

"Jadi begitu ..." gumam Ayumu yang kelihatan kembali berfikir.

"Kapan kita serbu 'orang itu' ?" Kousuke sudah tidak sabar ingin menghabisi Hizumi.

"Secepatnya ..." ucap Ayumu, "tapi aku ingin salah satu dari kalian menjaga Hanon ..."

"Aku saja ." pinta Eyes, "Lagipula skill Kanon sangat dibutuhkan untuk rencana ini"

"Ya ... Eyes benar !" kata Rio membenarkan.

Dia ini, benar-benar pandai mamanfaatkan keadaan! Geram Kanon dalam hati sambil menatap Eyes

"Baiklah, pertama kita memastikan bahwa tempat yang hiyono tunjukkan adalah tempat persembunyian mereka berdua." kata Rio mulai membacakan strategi mereka

"Lalu, jika sudah pasti, lebih baik kita giring domba-domba itu ke tempat yang sudah kita siapkan untuk bertarung." lanjut Kousuke

"Di tempat itulah kita akan menghabisi nyawa mereka." sambung Ryoko

"Formasinya, Ayumu dengan Hiyono, aku dengan Rio, Kousuke dangan Ryoko." kata Kanon

"Yang pertama maju adalah Kousuke dan Ryoko yang gesit untuk mengacaukan konsentrasi dan menghabiskan tenaga mereka berdua. Lalu Kanon dengan Rio. Kalian harus bisa membuat mereka cidera di beberapa tempat. Dan yang terakhir maju, aku dan Hiyono. Di situ, aku akan mengakhiri semua." kata Ayumu

"Kalian sepakat?" tanya Hiyono sekali lagi

"Ya." kata para Blade Children serempak.

Sementara itu,

"Hizumi ... Kau terlihat kesal saat orang itu menampakkan wajahnya ..." kata Iris yang berbaring di sofa.

"Entahlah ..." sahut Hizumi singkat, ia tetap memandangi setangkai blue Iris yang dipajang bersama vas antik di meja tamu.

Iris terus memperhatikan Hizumi yang duduk didepannya, wajahnya begitu muram, jelas saja, Hizumi tak mau kalah dari Ayumu yang akan membunuhnya nanti. Dan ia pun tetap berharap dapat menghancurkan rencana Kiyotaka. Matanya menunjukkan kesedihan namun tetap memperhatikan bunga cantik yang ada di hadapannya.

"Hizumi ... " kata Iris pelan, "Kau tidak apa-apa ? ... mmm... maksudku ..." sejenak Iris terdiam, "aaah ... ma-maksudku ... kau lebih... baik emmm ... bersikap seperti biasanya ..."

Hizumi mendelik kearah Iris dan menatapnya, Sementara Iris mendudukan tubuhnya yang sedari tadi berbaring di sofa, dan kelihatan salting menerima tatapan dari Hizumi.

"errm ... jujur saja, aku rindu senyumanmu yang licik itu, dan ... sifatmu yang tidak peduli keadaan apapun ... sifatmu yang seperti biasanya ..." kata Iris mengakui "y...ya aku tahu sih itu hanya topeng yang kau pakai, tapi ... aku rasa itu karakter yang cocok untukmu Hizumi ..."

Mendengar hal itu senyum Hizumi merekah "Waaaw ! pengakuan cinta dari Irisan bawaaang~" kata Hizumi yang membuat Iris kalang kabut.

"HAH ? DARI MANANYA PENGAKUAN CINTA ?" seru Iris yang ber-blushing ria.

"Irisan bawang rindu senyumanku~ senangnyaa fufufu" sahut Hizumi tidak peduli ia berdiri dan menari tak karuan, membuat Iris kembali terdiam.

"Kau ini... Sama sekali tak berubah..." kata Iris "Aku kagum padamu yang masih bisa tersenyum biarpun kau berada dalam kesulitan."

"Hehehe... Soalnya ada Irisan bawang disampingku. Karena itu, aku masih bisa tersenyum." kata Hizumi sambil terkekeh

"Ba-Baka!" kata Iris kembali ber blushing ria

"Oh iya, sepertinya Ayumu dan yang lainnya akan berusaha membunuh kita. Lalu, apa yang akan kita lakukan?" tanya Hizumi

"Apa perlu kita melawannya?" kata Iris malah bertanya kembali

"Sepertinya begitu. Kalau menurut rencana Kiyotaka, kita tidak akan melawan dan akan terbunuh begitu saja." kata Hizumi

"Untuk mematahkan rencananya... Kita harus melawan..." kata Iris

"Tapi, bagaimana kalau aku terbunuh?" tanya Hizumi

"Bukankah pada akhirnya kita akan mati? Melawan atau tidak, sepertinya hasilnya sama saja." kata Iris sedikit putus asa

"Hei, kamu tau nggak kenapa aku mau ngebunuh kamu?" tanya Hizumi

". . . " Iris hanya terdiam

"Soalnya, aku nggak mau kamu mengalami kesulitan seperti ini. Aku merasa, lebih baik kau mati di tanganku dari dulu daripada kau harus mengalami kesulitan seperti ini." kata Hizumi

" ... Mungkin, ini alasan kenapa Kanon ingin membunuh Eyes waktu itu." kata Iris

"Ya, sekarang aku bisa mengerti perasaan Kanon. Tapi aku rasa aku lebih sedih. Karena orang yang harus kubunuh adalah orang yang benar-benar berharga untukku." kata Hizumi. Iris tak menjawab dan hanya menunduk. Tapi rona merah di wajahnya tetap tak bisa disembunyikannya.

"Iris... Aku benar-benar minta maaf telah membuatmu ikut terlarut dalam masalah ini." kata Hizumi sambil mendekati Iris dan menepuk-nepuk pundak Iris.

"Tidak... Ini bukan salahmu." kata Iris sambil menggeleng, lalu ia melanjutkan, "Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan tetap berjuang di sisimu." kata Iris

"Arigatou... Arigatou..." kata Hizumi sambil memeluk Iris

A/N : Ayame : Yuri! Apa yang kamu tulis?
Yuri : fufufu~ Sekarang gantian, giliran Iris yang mesra-mesraan~
Ayame : Gimana kalau aku dibunuh Readers?
Yuri : Selamat menjadi "aku" pada saat chapter 3 *ngeloyor pergi*

"Hei ... Iris apa kakikmu sudah tidak apa-apa ?" tanya Hizumi yang melepaskan pelukannya.

"luka begini sih sudah pasti cepat sembuh, memangnya ada apa ?" sahut Iris yang bertanya lagi.

"Aku punya firasat Ayumu dan yang lain akan mengecek tempat ini" kata Hizumi, "Aku ingin kita bekerja sama lagi !"

"Tu-tunggu dulu ! Bagaimana mereka tahu keberadaan kita ? Rumah ini jauh dari keramaian kota lho, Apalagi Kiyotaka sud- ... ah iya ... aku lupa di pihak mereka ada gadis itu.." ucap Iris yang kemudian terdiam mengingat kemampuan gadis berkepang dua yang berada dipihak Ayumu.

"Aku ingin ... kita serahkan apa yang mereka mau ..." timpal Hizumi dan membuat Iris terkejut.

"Hah ? Apa kau yakin dengan pikiranmu ini? maksudmu ..."

"Kita ikuti permainan mereka, lalu ..."

.

.

Ketika keadaan sudah kembali tenang, Ayumu dan yang lain menjalankan rencana mereka. Sesuai rencana, Ryoko dan Kousuke yang maju pertama. Mereka berdua menge-cek keberadaan rumah yang Hiyono beritahu, mereka bersembunyi dibalik pepohonan yang mengelilingi rumah itu. Kousuke melihat keadaan rumah itu menggunakan teropong.

"Ternyata benar ! ini markas mereka" bisik Kousuke pada Ryoko yang menyiapkan walkie-talkie untuk menghubungi yang lain.

"Apa ada gerak-gerik yang mencurigakan dengan mereka berdua ?" balas Ryoko dengan berbisik pula.

"Saat ini belum ada ... ! Ayo bergerak !" Ajak Kousuke.

"Tunggu dulu ! jangan melakukan hal yang gegabah Kousuke !"

"Tunggu apalagi, Hah ? target sudah didepan mata !"

"Kita harus menunggu perintah selanjutnya dari Ayumu !"

Sementara itu,

Iris dan Hizumi tengah asyik menonton tayangan televisi yang mereka berdua sukai, terlihat mereka berkomentar dengan tayangan tersebut. Entah mengapa mereka terlihat santai padahal nyawa mereka tengah terancam oleh Ayumu dan yang lain.

"Gore abis !" komentar Iris sambil memakan popcorn rasa manis yang amat ia sukai.

"Aku jadi ingin mencontoh perbuatan si pelaku ! sepertinya seru !" tambah Hizumi yang menyomot popcorn yang dimiliki Iris.

"Memang bisa ? lagipula itu mustahil dilakukan oleh manusia, dan hanya bisa dilakukan oleh penyihir !" sahut Iris yang meragukan Hizumi.

"oi Irisan bawang, pelakunya sudah pasti memakai trick dan tidak memakai sihir sudah pasti tidak ada sihir !" sangkal Hizumi.

A/N : Ayame : Apakah readers tahu apa yang mereka bicarakan ?

Yuri : aku tahu !

"Dari pada itu, mereka sudah tiba, apa yang akan kita lakukan, air putih ?" tanya Iris pada Hizumi.

"Sesuai rencana, kita ikuti permainan mereka !" jawab Hizumi antusias.

Diluar, Kousuke dan Ryoko telah mengambil ancang-ancang untuk menyerbu mereka yang ada di dalam, sesuai rencana para target akan digiring ke tempat yang sudah direncanakan.

"Ayumu, kita akan menyerang mereka." lapor Kousuke

"Ya. Berhati-hati lah." kata Ayumu

Pip. Walkie Takie dimatikan. Kousuke dan Ryoko memeriksa peralatan mereka. Air gun, Pistol mitraliur tipe 79 , dan MAC 11 serta pistol bius. Tak ketinggalan peluru untuk isi ulang. Ada 10 bom dan masing-masing memiliki 8 pisau.

"Baiklah, kita akan mulai sekarang." kata Kousuke memberi aba-aba. Ryoko pun mengangguk.

Mereka pun mengendap-endap mendekati rumah dimana Hizumi dan Iris berada. Setelah mereka berhasil merapat ke dinding rumah itu, mereka pun bergegas mendobrak pintu. Iris dan Hizumi terlihat kaget, tak menyangka pihak lawan bertindak secepat ini. Mereka segera melompat, berlindung dibalik sofa. Mereka mencari-cari pistol yang telah mereka siapkan sebelumnya sementara Ryoko dan Kousuke berlindung di balik dinding.

Hening. Hanya ada suara TV yang sedang memutar film. Tak ada yang berani memulai melepaskan peluru mereka.

"Cih! Lebih baik kita yang mulai!" kata Kousuke tak sabar lalu memberi tembakan peringatan. Ia mengarahkan pistolnya ke TV yang menyala itu

"SIAL! PADAHAL LAGI SERU!" Iris terlihat kesal lalu membalas tembakan Kousuke.

"Irisan bawaaang~ kau tak seharusnya mementingkan acara TV itu~ nyawamu dalam bahaya lho~" bisik Hizumi dengan nada sedikit meledek.

"Cih !" ucap Kousuke lagi, Ia kembali menembakkan peluru-peluru itu, kini ke arah sofa yang melindungi keberadaan Hizumi dan Iris.

"Kousuke ! berhati-hatilah !" kata Ryoko dengan waspada.'

"Tenang saja Ryoko !" sahut Kousuke.

Terjadi baku tembak antara pihak Kousuke dan Hizumi, namun Hizumi dan Iris berhasil keluar dari markas mereka. Kousuke dan Ryoko membuntutinya dari belakang, mereka beberapa kali menembakkan peluru kearah musuhnya di depan. Sesekali Hizumi dan Iris membalas mereka namun tak cepat sasaran karena Kousuke dan Ryoko sangat gesit. Bisa dibilang mereka berdua kalah stamina.

Hizumi dan Iris mulai kelelahan namun mereka tetap berlari, saat itu Kousuke dan Ryoko bersembunyi dibalik pohon dan menghubungi ke 'pos' selanjutnya. Mereka menghubungi kelompok Kanon yang telah menunggu kedatangan musuh mereka.

"Kanon, Rio ! Bersiaplah ! mereka masuk dalam perangkap !" jelas Kousuke pada Kanon dengan Walkies Talkie.

"Baiklah ! Serahkan pada Kami !" sahut Kanon yang berada jauh.

Mereka berdua sudah bisa bernafas lega karena tugas mereka menggiring domba-domba itu berjalan lancar dan tidak banyak menguras tenaga mereka. Kini giliran Kanon dan Rio yang berjuang.

"Rio ... Target sudah memasuki daerah kita ! Siapkan bom itu !" perintah Kanon pada Rio.

"Tenang saja, sekali tombol ini pencet , mereka akan terluka parah dihadapan kita" sahut Rio optimis yang sedari tadi memegang boneka kelinci yang sebenarnya adalah tombol Bom yang telah ditana, dibawah tanah.

Tak lama setelah itu, terlihat Hizumi dan Iris yang berlari kearah mereka, dengan sigap Rio menekan tombol bomnya dan

DUAAAAR !

Terlihat asap yang menyelimuti tempat itu, ledakannya kecil namun berakibat fatal.

"Apakah kita berhasil ?" tanya Kanon pada Rio.

Rio memperhatikan asap itu yang perlahan menghilang, "Apa ? Hilang ?" seru Rio.

"Sepertinya mereka telah membaca taktik kita ..." lanjut Kanon yang dengan cepat mengambil pistol yang berada disakunya.

"Ya ... Kau benar Kanon Hilbert, takkan mudah untuk mengalahkan kami !" kata Hizumi yang tahu-tahu sudah menodong pistol yang ia pegang kearah kepala Rio.

"Cih ! Sial !" keluh Rio kesal.

"Tapi aku takkan meremehkan kalian juga sih~" lanjut Hizumi.

Rio segera memukul perut Hizumi dengan siku-nya. Selagi Hizumi meringis kesakitan, Kanon menggunakan kesempatan itu untuk menendang Hizumi. Menerima serangan beruntun seperti itu, Hizumi terlihat sedikit lelah dan kesakitan. Sementara itu, Iris bersembunyi sesuai dengan apa yang telah mereka berdua rencanakan. Kali ini Rio bertugas mencari Iris. Rio berusaha memperiapkan dirinya dengan membawa bom lempar serta pistol di tas kecilnya. Sesekali ia melihat ke arah Kanon dan Hizumi, saat ia lengah tiba-tiba..

"Mencariku ? Rio-chan ?" tanya Iris dengan senyuman yang tahu-tahu telah berada di belakang Rio, dengan sigap Rio membalikkan badannya.

"Ukh !" Rio tidak menyadari bawah sedari tadi Iris telah melumpuhkan gerakannya.

BUAKH! tengkuk Rio dipukul oleh Iris dengan keras. Rio pun jatuh tersungkur.
A/N : Bahasa gahoelnya "nyungsep"! XD

"Rio!" Kanon berteriak memanggil rekan "kerja"nya itu

"Aku tak apa!" kata Rio lalu menendang kaki Iris.

"Ukh!" Iris pun terjatuh dan dengan secepat kilat Rio berusaha menyerang Iris.

A/N : Terjadi pertarungan bebas ._.

Sementara itu, Kanon sedang berhadapan dengan Hizumi

"Keluar kau Kanon Hilbert!" gertak Hizumi, dan tiba-tiba saja sebuah peluru melesat ke arahnya. Tapi Hizumi berhasil menghindar. Ia berlindung di balik sebuah pilar.

"Cih! Kau lemah! Kau cuma bisa sembunyi!" kata Hizumi

"Yang dibutuhkan saat berperang tak hanya kemampuan fisik, Hizumi. Tapi kita juga butuh strategi. Yah, biarpun kemampuan otak maupun fisikku jauh lebih baik darimu." terdengan suara Kanon yang menggema.

Di sana! Kata Hizumi dalam hati sambil menekan pelatuk pistolnya ke suatu arah

"Sayang sekali kau meleset. Kembalilah kau ke dalam neraka!" kata Kanon masih di tempat persembunyiannya. Tiba-tiba saja sebuah bom yang sepertinya sudah di pasang di atas pilar yang Hizumi jadikan tempat perlindungan meledak. Pilar itu hancur seketika dan menimpa tubuh Hizumi.

"HIZUMI!" Jerit Iris panik. Begitu Iris terlihat lengah, Rio langsung mengeluarkan pistol kecil dalam sakunya dan melepaskan beberapa peluru. Peluru-peluru itu menghunjam bagian perut Iris. Beruntung ia mengenakan baju anti peluru.

"Ukh!" Iris meringis kesakitan

Sial, satu tulang rusukku patah, kata Iris dalam hati sambil menahan sakit

"Hi-Hizumi!" Iris memanggil Hizumi sambil berusaha melawan Rio yang semakin ganas

Tak ada tanda-tanda Hizumi masih hidup. Puing-puing pilar itu diam tak bergeming. Iris berusaha fokus ke pertarungannya. Tapi ia tetap tak bisa berhenti mencemaskan Hizumi.

"Sekarang Giliranmu, Nona Weisheit!" kata Kanon yang masih belum tampang batang hidungnya

Hizumi! Kumohon, jangan mati! Tolong aku! Pinta Iris dalam hati. Tiba-tiba puing-puing itu tampak bergerak. Dan dari dalam puing-puing itu, mulai terlihat rambut hijau Hizumi.

"Sebelum kau menyakiti Iris, kau harus melewatiku terlebih dahulu!" terdengar suara Hizumi dari tumpukan puing-puing itu

"Hizu..." Iris tak bisa berkata apa-apa. Kali ini aura Hizumi berbeda dari biasanya. Auranya adalah aura yang ingin melindungi seseorang yang berharga baginya.

"Aku... Aku tak akan membiarkanmu menyentuh Iris sehelai rambut pun!" akhirnya Hizumi keluar dari puing-puing yang menimpanya itu. Pelipisnya terlihat berdarah, tapi ia mengabaikan rasa sakit dari lukanya itu. Matanya menujukkan tatapan serius.

"Wah, wah, sepertinya kami harus mundur~ Ja ne~" kata Rio berlari dan diikuti Kanon yang tiba-tiba muncul entah dari mana

"Hei! Tunggu Kuso!" Hizumi berteriak sambil mengejar mereka

"Tu-Tunggu Hizu! Mungkin itu perangkap!" Kata Iris berusaha mengejar, tapi lukanya membuat gerakannya menjadi lambat.


TBC~

Ayame : To-Tolong di review ! *sujud tiga jari*

Yuri : Ayame tanggung jawab kalo readers kita ngurang !

Ayame : ho-hontou ni sumimasen ! *bowed* De-Demi Verloren saya akan membagi waktu untuk membuat cerita ini !

Yuri : Demi Profe ! Kapan selesainya ini cerita ?

Ayame : k-kok malah nanya ?

Yuri : kapan selesainya ini cerita kalau kamu main di fandom 07-Ghost terus ? NANTI AKU AMBIL ALIH HIZUMINYA NIH !

Ayame : hueeee JANGAAAN ! AMPUN OJOU-SAMA ! *nangis*

Hizumi : daripada makin gak jelas ... kita akhiri chapter 7 ini ... Ja ne ! Review-nya yaaa ! *wink*

mitraliur Tipe 79mitraliur Tipe 79mitraliur Tipe 79