Disclaimer: selamanya milik Masashi Kishimoto. Saya cuma minjem chara dari beliau. Series ini milik saya.
Warning: AU. Semoga sih ga OOC. Series type. Genre utama: drama. Bukan chara-bashing.
.
.
.
"Tidak, tidak. Sayang sekali tidak ada Hamasaki," katanya sambil mengibaskan tangan. Shizune bersandar ke punggung sofa, memosisikan diri senyaman mungkin. "Akan ada banyak cameo di sini, tapi tidak ada Hamasaki dalam daftar."
"Lalu, siapa saja yang main?"
"Hanya beberapa orang artis yang namanya belum terlalu besar—kurasa Kakashi-san ingin menjadikan mereka aktor terkenal; drama ini batu loncatan mereka." Wanita itu menunjuk pria berambut perak yang masih berbicara pada Sasuke—yang tampaknya sudah bosan setengah mati.
"Oh..." adalah satu-satunya yang bisa dikatakan Sakura.
"Tapi ada satu nama yang pasti pernah kau dengar, Haruno-san. Gadis ini akan menjadi lawan main utama Sasuke."
Kening Sakura berkerut. Akan ada lawan main? Jadi... drama yang dimainkan Sasuke sejenis drama percintaan? Ckck, kasihan sekali aktris itu kalau harus berpasangan dengan—
"Akagai Karin. Itu nama aktris yang akan berpasangan dengan Sasuke."
Dan napas Haruno Sakura serasa berhenti.
.
.
.
RAINBOW!
Chapter 7: Sky
.
.
by mysticahime™
© 2013
.
.
.
"But baby there you go again, there you go again making me love you
Yeah I stopped using my head, using my head let it all go
Got you stuck on my body, on my body like a tattoo~"
Haruno Sakura melirik lewat kaca spion, menemukan Uchiha Sasuke menyanyi-nyanyi sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Asyik sendiri. Seolah tidak ada orang lain di sini. Seolah dia berada di dalam mobil yang bisa dikendarai dengan kontrol dari tangannya.
Seolah 'supir'nya sama sekali tidak merasa terganggu dengan suara si majikan.
Tapi Uchiha Sasuke memang bisa menjadi orang yang paling menyebalkan di dunia kalau dia mau. Selama nyaris dua minggu tinggal bersamanya, Sakura sudah hapal sebagian besar kebiasaan buruk Sasuke. Misalnya, sarapan sambil membuka internet—hanya untuk melihat apakah hari ini website-nya dikunjungi banyak penggemar. Pernah juga Sasuke melemparkan baju-baju kotornya ke kamar Sakura; maksudnya minta dicucikan namun tak mau repot membawa ke kamar cuci.
Dan dari pengalaman berbagi atap dengan Sasuke... hanya secuil hal manis yang pernah dilakukan pemuda itu padanya. Satu dari seratus. Mencuci piring setelah makan paginya habis, itu juga karena Sakura sedang kelewat sibuk mengganti lampu apartemen sementara mereka sudah harus berangkat ke lokasi pemotretan.
"Kau suka menyanyi, ya?" Gadis itu mencoba membuka pembicaraan ketika mereka terjebak lampu merah. Diperbaikinya tatanan rambut agar tidak menusuk-nusuk leher, tapi percuma. Rambut Sakura memang baru dirapikan sehingga panjangnya tidak melewati bahu.
Sasuke hanya meliriknya—bisa dilihat dari kaca tengah—kemudian melanjutkan bernyanyi. "And now I'm feeling stupid, feeling stupid crawling back to you..."
Oke. Jelas sekali dari tindakannya dia tak mau bicara dengan Sakura. Orang ini benar-benar menyebalkan.
"Kau bawa script dramamu?" Pemilik rambut merah muda itu mencoba bertanya lagi. Dia bisa gila kalau terus-menerus mendengar nyanyian Sasuke. Bukannya jelek, hanya saja... suara rendahnya terkesan memaksa saat di bagian 'uuu' yang seharusnya cenderung meliuk naik itu.
"So I cross my heart and I hope to die..."
"Aku tidak mau mengantarmu pulang lagi kalau kita sudah sampai!" gerutu gadis itu, kesal karena diabaikan terus-menerus.
Nyanyian itu berhenti sementara si pemuda memandanginya dengan tatapan tajam.
"Apa?" Sakura berbalik, menantang.
"Tuh." Telunjuk pemuda itu menuding ke arah depan.
"Eh, ap—"
TIIIIIINNNN!
"Astaga!" Sakura buru-buru menurunkan rem tangannya dan menginjak pedal gas. Lampu hijau telah menyala kurang-lebih lima belas detik dan dia masih berada di depan barisan, tidak bergerak sehingga pengemudi lain di belakangnya merasa jengkel.
Dalam hati, Sakura bersungut-sungut karena merasa bodoh. Ini semua karena Sasuke yang tidak mau menjawab pertanyaannya!
Sementara itu, di kursi belakang, Sasuke mendengus. Menertawakan dalam hati.
.
.
.
.
"'Tequilla, satu shot.'"
Pemuda berseragam itu mengangkat alisnya. "'Kau sudah mabuk, Nona.'"
Sepasang mata merah itu menatapnya dengan sebal. Sasuke tidak bisa melihat gerakan alisnya karena tertutup oleh poni merah berantakan. Wajah gadis itu pucat namun sarat akan kekesalan. Bibirnya mencebik.
"'Jangan cerewet, kau. Aku punya uang, aku bisa membayar minuman sebanyak apa pun di sini,'" dengusnya kesal. Disorongkannya lagi gelas ke arah pemuda itu. "'Sudahlah, jangan cerewet. Aku perlu minum untuk menghilangkan kekesalanku!'"
Sasuke hanya berkedip beberapa kali.
"CUT!"
Seruan Hatake Kakashi membuat para staf berhamburan untuk membereskan set. Dua orang penata rias langsung mendekati kedua pemeran yang barusan berlakon dan memberikan mereka handuk untuk mengelap keringat—tentunya sudah siap untuk memoles ulang wajah mereka.
Uchiha Sasuke digiring menuju kursi terdekat dan langsung duduk. Pemuda itu memijat-mijat pelipisnya dengan kesal. Dia mengerti mengapa barusan Kakashi memotong adegan itu. Ini bukan kali pertama. Hari ini mereka sudah lima kali take untuk adegan yang sama, dan permasalahannya hanya satu: Sasuke tidak bisa menjiwai perannya dengan baik.
Pemuda Uchiha itu menerima botol air mineral yang diberikan oleh salah satu staf dan meneguk isinya banyak-banyak. Apa saja yang bisa ia lakukan untuk mengalihkan perhatiannya.
Merutuk dalam hati, kesal karena dia belum menguasai perannya di drama ini. Dia bahkan belum hapal sebagian besar dialognya—mempertegas nilai minusnya di mata aktor dan staf yang lain.
Sasuke benci menjadi pecundang. Dia memang pendatang di dunia akting, tapi dia tidak menyangka kalau kemampuannya sepayah ini. Dapat dibayangkannya wajah teman-temannya sesama artis kalau dirinya mengakui kalau Uchiha Sasuke tidak berdaya di depan kamera; mereka akan mengejek dan menertawainya, lalu menjadikannya bulan-bulanan.
Tentu saja, Uchiha Sasuke tidak mau hal itu terjadi.
"Oi, Hataji," panggilnya pada sang sutradara. Hataji adalah nama panggilan yang biasa dia dan Itachi sebut untuk Hatake Kakashi. Saat pria berambut perak itu menoleh, barulah Sasuke bicara lagi. "Aku keluar sebentar."
Penegasan, tidak butuh pertanyaan 'ke mana'. Sasuke memang tidak meminta izin, kok. Dia hanya ingin Kakashi tahu saat ini dia butuh udara segar.
.
.
.
.
Udara Tokyo di musim semi tak bisa lebih dingin dari ini. Pertengahan musim semi sudah nyaris lewat, namun temperatur masih berada di dekat nol. Entah siapa yang bertanggung jawab akan hal ini, ia menduga kalau pemanasan global-lah yang menyebabkan terlambatnya musim semi yang seperti biasanya.
Bunga sakura sudah nyaris gundul, malah—sisa-sisa rerontokannya menyebar di jalanan, sebagian tertiup ke angkasa dan jatuh, kemudian mengering. Bunga Satsuki yang menggantikannya bahkan sudah nyaris layu lagi.
Dia ada di sana, diam dan mengamati betapa kota dan sirkumstansinya adalah sebuah ironi. Ramai tetapi hening. Hening tetapi ramai. Dan dari ketinggian ini, Uchiha Sasuke bisa menyesap dua ritme kehidupan yang berbeda itu dalam satu tarikan napas.
Beruntung sekali syuting hari ini diadakan di bar yang berada di gedung berlantai tujuh—bukan hal yang mencengangkan di Tokyo, karena sejauh mata memandang, yang tertangkap hanyalah gedung-gedung pencakar langit yang menembus cakrawala; kebanyakan visualisasinya menabrak sisi gedung, memandangi jendela-jendela yang merefleksikan sekitarnya. Bertumpu pada kedua lengan yang terlipat di atas pembatas besi, Sasuke memandang pada satu titik tak kasat mata.
Oh, ada satu saat dimana ia ingin menyobek-nyobek kertas drama itu, membuangnya ke tempat pembakaran sampah setelah yakin menciptakan sobekan terkecil. Kalau perlu sekalian kontrak sialan itu. Terlalu memusingkan, perannya menyebalkan. Banyak omong dan—sangat bukan dia.
Uchiha Sasuke menghela napas, sekali ini mengakui bahwa impian menjadi aktor adalah sia-sia.
Dia ini begini, lebih suka memendam segalanya sendiri. Menampilkan topeng beku di depan publik, tidak mengacuhkan orang lain yang tampak kacau. Memangnya karakternya barusan—apa tadi, bartender sok perhatian yang jatuh cinta pada wanita langganannya? Menggelikan.
Tanpa perlu jadi bartender itu pun, Sasuke sudah mendapatkan wanita itu. Pemerannya kan Akagai Karin, pacarnya.
Satu lagi alasan dia kesal sekarang: Karin melihat aktingnya yang buruk dengan kedua mata kepalanya sendiri.
Sasuke mendecih dan membenamkan kepalanya ke lipatan lengan, membiarkan angin berhembus di tengkuknya. Dengung metropolitan terdengar di kejauhan, satu-satunya suara yang ia dengar saat ini.
Juga suara langkah kaki.
Sasuke kembali menegakkan kepala—kali ini dagunya bertumpu pada punggung lengan kanan—menggigit kuku jempolnya dua kali sebelum bicara. "Mau apa kau?"
Disambut nada dingin begitu, Haruno Sakura jiper juga. Maksudnya naik ke sini kan... ingin menghibur tuannya. Tadi dia melihat Sasuke kesal setelah retake yang kelima, jadi diputuskannya untuk menyusul saat pemuda itu pergi.
"Mencegahmu bunuh diri," balas Sakura tak kalah ketus. Kesal juga saat ditodong dengan menyebalkan seperti itu. Padahal niatnya kan baik.
"Siapa juga yang mau bunuh diri." Rotasi bola mata, lalu pemuda itu berbalik. "Mau mentertawakanku?"
"Nggak. Nggak ada yang perlu ditertawakan." Sakura mencebikkan bibirnya. Kedua kakinya melangkah mendekati Sasuke dan akhirnya berhenti di sebelah pemuda itu. "Ternyata langit Tokyo itu biru pucat..." komentarnya, berbelok dari topik barusan.
Uchiha bungsu mengangkat alisnya. Kenapa jadi membicarakan langit?
"Aku pernah pergi ke Hawaii sekali," gadis itu membuka suara lagi. "Duluuuu sekali, saat aku baru masuk SMP. Kebetulan, sih, soalnya ayahku memenangkan undian perjalanan ke Hawaii untuk satu keluarga."
"Bukan urusanku," gumam Sasuke kesal.
"Lalu, di sana aku melihat langitnya," Sakura mengabaikan Sasuke yang jelas-jelas sudah mendumel sarkastis. "Dan langitnya sangaaat biru." Kali ini lengannya dibentangkan ke udara—nyaris menghajar leher si pemuda. "Aku sempat bingung kenapa langit yang sama bisa berbeda warna seperti itu."
"Memangnya aku peduli."
Kalau saja tidak ingat niatnya, Sakura pasti sudah menjitak kepala Sasuke minimal sepuluh kali. Tak peduli meskipun Sasuke lebih tinggi darinya dan beratnya nyaris dua kali lipat bobot tubuh Sakura. Pemuda ini memang tidak tahu terima kasih!
Namun, Sakura malah menghela napas panjang, kemudian menghadap kepada pemuda itu. Ditepuknya pundak Sasuke dengan tangan kiri, lalu gadis itu tersenyum.
"Dilihat dari mana pun, langit yang dilihat itu langit yang sama. Mau warnanya berubah atau tetap biru, dia tetap langit yang sama. Siapa pun yang melihat... dia tetaplah langit yang ada di atas kepalamu, iya kan?" Tatapan hijau emerald itu melembut. "Makanya, Sasuke. Mau berperan jadi apa pun, kau tetaplah Uchiha Sasuke. Kau tetap dirimu sendiri!"
Diremasnya pundak pemuda itu, Sakura berusaha menyalurkan semangat kepadanya. "Wakarimashitaka?" Sekali lagi, ia menepuk pundak Uchiha muda tersebut. "Ne, ganbatte!"
Sasuke hanya bisa menatap gadis itu dengan sorot mata datar. Luarnya saja, padahal jauh di dalam hatinya, pemuda itu merasa campur aduk. Bagaimana mungkin 'manajer'nya tahu apa yang ia pikirkan? Bagaimana mungkin Sakura bisa—
"Berisik," gumam Sasuke masam sambil berlalu meninggalkan gadis itu seorang diri di sana.
Sakura mengernyitkan dahinya—miksturisi sempurna antara bingung dan jengkel. Sia-sia usahanya untuk menghibur pemuda itu, padahal dipikirnya Sasuke memerlukan dorongan semangat karena merasa kesal dengan hari pertamanya bermain drama. Gadis itu tahu, kok, kalau Sasuke memutuskan menyepi karena ingin menenangkan diri. Tapi kalau diperlakukan seperti ini, sih...
"Sesukamu, deh." Gadis itu membalikkan badan dan meninggalkan laki-laki itu di atap gedung sendirian. Peduli amat Sasuke mau bunuh diri betulan atau bagaimana; laki-laki itu memang terlalu kepala batu untuk dinasihati.
Pintu tertutup di belakangnya, kembali mengisolasi Sasuke dari peradaban.
Pemuda itu kembali menelungkupkan kepalanya pada lipatan lengan. Mengingat-ingat apa saja yang barusan Sakura katakan. Langit itu tetap sama, eh?
Diam-diam ia tersenyum.
.
.
.
.
"'Tidak mau tahuuu. Pokoknya aku mau segelas lagi... berikan!'"
"'Aku bartender,'" pemuda itu bersedekap, "'aku membiarkan pelangganku minum, tapi aku tidak membiarkan mereka mabuk, oke?'"
Gadis itu mengerucutkan bibirnya, kesal dengan kata-kata Sasuke. Pandangannya semakin kacau dan suaranya mulai serak. Ia berusaha menggapai gelasnya, namun direksi tangannya meleset. "'Jangan cerewet kau, Tuan Bartender. Hari ini aku mau minum sampai puasss... Jadi jangan cegah a—'" kepalanya terkulai, "'—ku...'"
"CUT! SAVE!"
Bersamaan dengan seruan Hatake Kakashi, seluruh pemain dan staf berhamburan. Bersiap-siap untuk pulang. Pakaian-pakaian diganti, sepatu-sepatu ditanggalkan, rias wajah dihapus dengan krim pembersih dan toner, lampu-lampu dimatikan, lensa kamera ditutup, dan kursi-kursi dilipat. Pengambilan gambar hari ini sudah selesai, dan adegan pertama sudah siap digarap oleh tim editing.
"Lumayan untukmu."
Uchiha Sasuke yang baru saja selesai berganti pakaian mendapatkan tepukan bahu dari Kakashi. "Lumayan apanya?"
"Perkembangan dari take lima sampai take delapan."
"Oh." Pemuda itu mengangkat bahu. "Biasa saja, Hataji."
"Pertahankan, ya, untuk besok." Kakashi menempelkan kepalan tinjunya ke lengan Uchiha muda itu. "Yuk ah, aku harus bicara dengan staf lain."
Sasuke hanya mengangguk menyahuti sepupunya yang berlalu begitu saja. Menghela napas, ia merapikan setelan kostumnya. Setidaknya, dia bisa mempermudah pekerjaan stylist-nya besok. Kalaupun tidak, minimal dia tidak akan terkena omelan 'manajer'nya yang kelewat cerewet itu.
Ngomong-ngomong, si Rambut Permen ke mana?
Diletakkannya kemeja yang sudah terlipat (agak) rapi itu ke atas kursi meja rias. Sasuke merogoh saku celana jeans-nya dan mengeluarkan ponsel. Kalau bisa, sekarang dia pulang langsung ke apartemannya, tidur hingga besok pagi. Sasuke baru tahu kalau syuting film seperti ini begitu melelahkan. Dikiranya, berakting itu semudah meniupkan udara.
Saat membuka flip ponselnya, tiba-tiba saja keinginannya untuk menelepon sang manajer musnah sudah tatkala kedua matanya menangkap ada pesan baru dari sebuah nama yang sudah lama ia rindukan.
From: Akagai Karin
20.35
nice work today. mau minum kopi bareng di kafe depan?
Kurva tipis terukir pada bibirnya—salah satu hal yang jarang dilakukan oleh Uchiha Sasuke. Pemuda itu segera mengetikkan pesan singkat sebagai balasannya.
To: Akagai Karin
20.37
mau kuantar?
Tidak sampai satu menit, pesan balasan dari Karin tiba di ponsel si pemuda.
From: Akagai Karin
20.38
nggak merepotkan?
To: Akagai Karin
20.38
nope.
From: Akagai Karin
20.39
sure. kutunggu di kafe depan ya ;)
.
.
.
.
Haruno Sakura sedang sibuk mengunyah takoyaki yang disediakan oleh staf bagian konsumsi ketika ponselnya bergetar dengan heboh. Dengan tangan yang sempat terkena soyu, gadis itu berusaha mengeluarkan ponselnya dari saku tanpa membuat celananya kotor. Ketika berhasil, ternyata getarannya sudah berhenti.
Krik.
Gadis itu mendengus lalu membiarkan ponselnya di atas meja, melanjutkan makanannya. Dia hapal getaran yang barusan—sengaja ia atur agar tahu bahwa yang menelepon itu Uchiha Sasuke. Bahkan di caller ID-nya sengaja Sakura pasang nama 'Kacamata Bertopi'.
Drrtt... drrrt... drrrt...
Bergetar lagi.
Kali ini, Sakura mengelap tangannya dengan tisu terlebih dahulu, baru menerima telepon.
"Hmmmpph?" Karena mulutnya penuh, hanya itu yang bisa dikatakannya. Sakura menunggu jawaban Sasuke sambil mengunyah takoyaki.
"Kunci mobil." Hanya itu yang dikatakan oleh Sasuke sebelum memutuskan panggilan. Dua kata singkat yang sebenarnya tidak jelas maksudnya apa. Meminta, melaporkan, atau bertanya? —Sakura yang sudah mengantuk tidak mau repot-repot mengambil kesimpulan sendiri. Jadilah, ia pergi ke tempat yang seingatnya dimana Sasuke terakhir berada. Sambil membawa kunci mobil dan takoyaki jatahnya, tentu saja.
Mungkin saja, Sasuke ingin pulang sekarang, kan? Hari sudah malam, Sakura sendiri sudah mengantuk.
Eit, bukan bukan. Kalau dia mengantuk, siapa yang akan menyetir mobil Sasuke? Oh, makanya Sasuke meminta kunci. Hari ini si Kacamata Bertopi bakalan menyupiri mereka pulang. Tumben sekali dia berlaku ba—
"Lama sekali," komentar Sasuke saat akhirnya mereka bertemu. Kata-kata itu memutus asumsi Haruno Sakura.
Nyengir, tidak bisa menimpali karena barusan menyuap sebuah takoyaki lagi. Bulatan terakhir, ngomong-ngomong.
"Kunci?" Sasuke mengulangi kata-katanya, kali ini jelas bernada meminta.
Tanpa berpikir panjang, gadis bermata hijau itu mengulurkan kunci yang sedari tadi ia kantongi. Sasuke menerimanya dengan santai, lalu melempar-lemparkannya ke udara dan menangkapnya dengan satu tangan.
"Oke, hari ini aku yang bawa mobilnya," kata pemuda itu sambil melarikan jari-jarinya menelusuri helai rambutnya yang sudah terbebas dari pengaruh hairspray berbau obat itu. Sakura mengangguk saja. Berarti hari ini dia bisa duduk santai di kursi penumpang! Hahaha.
"...kau pulang sendiri. Terserah mau naik apa."
. . .
HEH?!
Kedua manik emerald itu membulat sempurna. Sisa kunyahan takoyaki-nya meluncur keluar dan mendarat di lantai tanpa bisa dicegah. Sasuke mengernyitkan keningnya.
"Belum jelas?" tanyanya dengan nada datar. "Mobil kubawa. Kau pulang sendiri."
Sakura merasa paru-parunya kering. Ia berusaha menarik napas sekuat mungkin. Mengerjap. "Aku salah dengar. Kudengar, kau menyuruhku pulang sen—"
"Memang iya," potong Sasuke tak sabar. "Sudah, sana. Jam segini masih ada kereta. Atau bus. Atau taksi, kalau kau punya uang."
Kemudian pemuda itu berlalu dalam langkah-langkah yang cepat—terlampau cepat untuk kategori orang yang ingin lekas pulang. Pulih dari kekagetannya, gadis itu segera mengejar Sasuke; peduli setan dengan bekas makanannya yang terjatuh ke lantai.
"Tunggu!" Sakura meraih pundak Sasuke, menyentaknya agar berbalik. "Kau menyuruhku pulang sendirian? Setelah seharian ini aku menungguimu?"
"Hn," adalah respons si pemuda, membuat kekesalan Sakura memuncak.
"Kalau kau mau pulang, kenapa kau menyuruhku naik kendaraan umum?" Sakura masih belum mau menyerah. Diremasnya pundak sang tuan untuk menyadarkannya—siapa tahu Sasuke sedang mabuk. Namun, pada kenyataannya sang pemuda sedang sadar seratus persen.
"Bukan urusanmu," ujarnya sarkastik. "Sana pulang."
Lalu Sasuke melepaskan diri dari cengkraman Sakura. Mendengus. "Tenaga babon." Kemudian ditinggalkannya gadis itu... yang langsung mengomel-ngomel sambil menendangi udara.
.
.
.
.
Chikatetsu di malam hari begini tidak terlalu ramai, cenderung sepi malah. Ada banyak kursi kosong yang tersedia—tidak perlu sampai bergelantungan sampai tempat tujuan segala. Haruno Sakura mendudukkan dirinya di salah satu kursi, mengatur napasnya yang terengah-engah karena menahan marah.
Jujur saja, ia jengkel pada Uchiha Sasuke. Seenaknya sekali pemuda itu meninggalkannya supaya pulang sendiri sementara ia memakai mobilnya untuk bersenang-senang. Oh, memang mobil itu milik Uchiha Sasuke (dan dia hanya seorang manajer merangkap 'pacar')—TAPI BUKAN BEGITU CARANYA MEMPERLAKUKAN WANITA!
Sakura meradang, gemas ingin meninju Sasuke namun ingat kalau di kontrak kerjanya yang paling baru tertulis 'harus menuruti apa kata Sasuke selama tidak melanggar norma dan agama', jadi diurungkannya niat tersebut. Daripada gajinya akhir bulan nanti dipotong? Biarpun pekerjaannya luar biasa menyebalkan, dia tetap memerlukan gaji. Dan 'tambahan' sebagai 'pacar' itu membuat gajinya ber—
Pacar?
Sakura menegakkan punggungnya, tersadar akan sesuatu. Ide cemerlang melintas di kepalanya. Cepat-cepat ia mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu di sana.
To: Kacamata Bertopi
20.49
bagaimana rasanya mendapat lawan main PACAR sendiri? :)
Balasan dari Sasuke tiba beberapa menit kemudian.
From: Kacamata Bertopi
20.52
bukan urusanmu.
Reaksi Sasuke seperti yang ia duga. Sakura terkekeh sendiri membayangkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
To: Kacamata Bertopi
20.53
pelit nggak mau cerita :P pacarmu yang ini dicuekin, nih?
From: Kacamata Bertopi
20.54
apa maumu?
Sakura menutup flip ponselnya tanpa membalas pesan terakhir Sasuke. Biar saja pemuda itu kesal, hal itu bisa dibahas belakangan—hal-hal yang Sakura mau kalau Sasuke masih ingin dirinya selamat. Gadis itu mengepalkan tangannya.
Kali ini, bukan Sasuke yang akan berpuas hati.
.
.
.
.
tbc
.
.
.
.
Author's Bacot Area
Oke, lama lagi update-nya. Maklumin yak, ada ujian di tengah bulan ' ')/
Chapter kali ini... no comment. Saya bingung sendiri mau ngomentarin hasil tulisan beberapa jam ini. Cenderung... apa ya? Bunglon abis? Dan –uhuk- pace-nya mendadak cepet, ya? Sori ' ')v
Makasih aja deh buat yang udah baca~
Thanks to: shawol21bangs, Guest, SweetCrystal9, omonatheydidit, Nagi Sa Mikazuki Ananda, Azakayana Yume, .58, aikoishiara, Kim Na Na Princess Aegyo, Neerval-Li, Mizuira Kumiko, Riepiwu425, fitrianadewi97, Scarlet Rose Crimson, zetta hikaru, Tsurugi De Lelouch, , skyesphantom, Guest, Cupcakes, karimahbgz, AcaAzuka Yuri chan, Retno UchiHaruno
Review? No silent readers!
Me ke aloha,
mysticahime™
26012013
