Fang melangkah tanpa suara menyusuri halaman rumput yang terpotong rapi. Sesekali ia melirik ke belakang untuk memastikan tak ada siapa pun yang mengikutinya. Langkahnya baru terhenti saat ia telah berdiri di depan kolam air mancur dengan patung batu seorang wanita yang berdiri anggun di bagian tengah.

Malam sudah larut. Awan mendung yang bergelayut di langit menutupi cahaya bulan dan membuat halaman itu hampir sepenuhnya gelap gulita, kecuali cahaya samar yang terpancar dari patung di kolam.

Dengan perlahan Fang mendekati kolam dan menatap airnya yang segelap langit malam. Fang menggerakkan tangannya perlahan di atas permukaan air hingga menciptakan riak kecil dan kemudian menggumamkan beberapa kata asing yang terdengar berirama seperti lagu. Saat air telah kembali tenang, Fang tetap memandang lurus ke arah kolam dan berbicara cepat dengan suara rendah.

"Aku menemukan petunjuk untuk menemukan orang yang kita cari. Tapi aku masih belum terlalu yakin. Aku akan memberikan laporan lengkap saat semuanya sudah lebih jelas."

Saat Fang selesai berbicara, sebuah gelembung air muncul di permukaan kolam dan perlahan naik ke udara. Saat gelembung itu telah sejajar dengan matanya, Fang menjentikkan jari dan membuat gelembung itu berpecah menjadi banyak gelembung-gelembung kecil yang berkilauan sebelum akhirnya menghilang dengan banyak bunyi plop pelan.

Fang kemudian membenarkan letak kacamatanya dan menatap sesaat ke langit malam yang sehitam tinta.

"Kuharap dugaanku salah …" gumamnya.

Fang menghela nafas panjang sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan tempat itu saat tetes-tetes hujan mulai turun.

.

.

.

It's You, Chapter 7

By Fanlady

Disclaimer : Boboiboy © Animonsta Studio

Warning : BoboiboyxYaya Kingdom!AU, all human!characters, OOC, typo(s)

.

.

.

Sepasang iris karamel Yaya menatap tak berkedip api yang menari-nari di perapian di depannya. Derik api perapian sedikit ditenggelamkan oleh suara hujan di luar. Kedua lengannya digunakan untuk memeluk lutut, dan menyandarkan dagunya di sana. Bibrinya bergerak pelan menggumamkan nada-nada lembut.

"I love to dance, I love to sing …

When I am queen, you'll be my king …"

Suara ketukan dari pintu membuat Yaya menghentikan nyanyiannya. Ia menoleh memandang pintu kamarnya dan bertanya-tanya siapa yang mengunjunginya selarut ini. Munginkah Siti? Atau Ying?

"Masuklah," kata Yaya akhirnya.

Pintu berderit pelan dan sebuah sosok melangkah masuk kemudian menutup kembali pintunya secepat kilat. Yaya terperangah melihat siapa tamunya dan segera bangkit dari sofa tempatnya duduk sejak dua jam yang lalu.

"Boboiboy, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Yaya kaget. Kamarnya sedikit gelap karena lampunya telah dimatikan, seingga hanya cahaya api dari perapian yang menerangi wajah Boboiboy yang kini tengah nyengir lebar.

"Aku baru saja berhasil menyelinap kabur dari para pengawal yang menjaga pintu kamarku," kata Boboiboy dengan nada bangga. Yaya menahan diri untuk tidak menendangnya keluar dan memilih untuk memijit kepalanya pelan.

"Boboiboy … Kalau kau menyelinap kabur seperti ini mereka pasti akan panik mencarimu ke mana-mana," kata Yaya dengan penuh kesabaran.

"Jangan khawatir. Mereka tidak akan menyadari kalau aku sudah tidak ada di kamar," Boboiboy berujar seraya mengacungkan jempolnya. "Yaah, kecuali kalau mereka memeriksa ke dalam," lanjutnya dengan sebelah tangan menggaruk pipi.

Yaya menghembuskan nafas panjang. Percuma walau pun ia berbicara panjang lebar, Boboiboy pasti tetap tidak akan mau kembali ke kamarnya.

"Jadi, untuk apa kau menyelinap kabur dari para penjagamu dan mengunjungiku tengah malam seperti ini?" tanya Yaya.

"Ini belum tengah malam, Yaya," kata Boboiboy, sama sekali tidak menjawab pertanyaan yaya.

"Tapi tetap saja ini sudah larut malam."

"Yah, memang sih," Boboiboy kembali menggaruk pipinya canggung. "Aku … aku hanya penasaran kenapa kau tadi tidak ikut makan malam di bawah, makanya aku ke sini," gumamnya.

"Oh … aku …" Yaya terlihat bingung harus memberikan alasan apa, namun Boboiboy sepertinya sudah tahu.

"Aku sudah dengar dari kakek. Besok kau akan kembali ke Gaileta, kan?" Boboiboy bertanya pelan.

"Oh, ya … Besok aku akan kembali ke kerajaanku …" balas Yaya dengan wajah tertunduk.

Boboiboy diam-diam mengulum senyum tipis. "Oh, jadi karena itukah kau mengurung diri di kamarmu? Kau sedih karena akan berpisah denganku?"

"Tentu saja aku sedih! Aku—aku masih belum ingin pulang … Aku … masih ingin di sini bersamamu," gumam Yaya sambil memain-mainkan jarinya malu.

Boboiboy tertawa kecil dan menepuk-nepuk puncak kepala Yaya. "Jangan sedih begitu. Hanya karena kau kembali ke kerajaanmu bukan berarti kita tak bisa bertemu lagi, kan? Kita sudah bertunangan, ingat? Tak lama lagi kita akan menikah, dan setelah itu kau dan aku bisa tinggal bersama sampai kapan pun yang kita mau," ujarnya sambil mengecup lembut dahi Yaya.

"Tapi … aku tidak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini …"

"Justru lebih baik kalau kau menjauh dulu dariku untuk sementara ini. Berada di dekatku akan membuatmu berada dalam bahaya, dan aku sudah bilang aku tidak ingin melihatmu terluka, kan?"

"Aku juga sudah bilang aku akan berada di sampingmu apa pun resikonya," kata Yaya keras kepala. Sebenarnya Yaya merasa kecewa, dan juga sedih. Ia berharap Boboiboy akan menahannya agar tidak pergi, tapi sang Pangeran justru terlihat setuju dengan kepergiannya yang mendadak. Apa Yaya terlalu banyak berharap?

"Aku tau. Tapi kau tidak boleh mengorbankan dirimu karena aku. Berada di sampingku akan membuatmu terluka, Yaya," kata Boboiboy mencoba memberi pengertian pada Yaya.

"Tapi …" Saat Yaya terlihat ingin membantah lagi, Boboiboy segera memotong ucapannya.

"Dengar, aku tau kau mengkhawatirkanku, tapi kau seharusnya tak perlu secemas itu. Aku sudah bilang aku sering menghadapi hal seperti ini, kan? Aku akan baik-baik saja. Jangan khawatir, oke?"

Yaya menggigit bibir kuat-kuat, berusaha menahan diri agar tidak menangis. Kenapa Boboiboy tidak bisa mengerti? Yaya tidak ingin pergi, Yaya tidak ingin meninggalkan Boboiboy seperti ini. Firasatnya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada Boboiboy kalau ia sampai meninggalkan pemuda itu. Bagaimana kalau Boboiboy terluka lagi dan Yaya tak ada di sana untuk menyembuhkannya? Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi dan ia tak akan bisa bertemu Boboiboy lagi untuk selamanya?

Boboiboy merangkul Yaya dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. "Maafkan aku …" bisiknya. "Aku juga tak ingin kau pergi. Tapi ini jalan terbaik untuk kita saat ini. Jadi, bersabarlah untuk sementara, oke? Aku janji kita pasti akan bertemu lagi …"

Yaya menganggukkkan kepala dan membenamkannya di dada Boboiboy. Ia balas mendekap Boboiboy erat sekali, sampai semua beban di pikirannya sedikit berkurang karena kenyamanan yang diberikan Boboiboy.

Setelah cukup lama bertahan di posisi itu, Boboiboy kemudian menarik diri dari Yaya. Ia tersenyum saat menatap kedua mata cokelat Yaya yang memantulkan cahaya api dari perapian.

"Nah, malam sudah semakin larut. Kau harus segera tidur supaya tidak terlambat bangun besok," kata Boboiboy dengan senyum sedih. "Aku akan kembali ke kamarku. Selamat tidur, Yaya," Boboiboy mengecup singkat kening Yaya dan berbalik hendak pergi, namun Yaya menahan tangannya.

"Tunggu dulu, Boboiboy …" Yaya tiba-tiba saja meraih wajah Boboiboy dengan kedua tangannya dan mencium pemuda itu. Boboiboy terbelalak, tapi bahkan sebelum ia sempat bereaksi Yaya telah menarik diri kembali. Wajahnya terlihat bersemu merah dalam cahaya temaram.

"Kau suka sekali menyerang tiba-tiba, ya?" kata Boboiboy menggelengkan kepala, masih sedikit terkejut dengan perbuatan Yaya barusan. "Itu apa? Ciuman selamat tinggal?"

Yaya menggeleng dan memalingkan wajahnya yang merona merah. "Bukan …" gumamnya pelan. Ia berusaha keras menahan diri untuk tidak melompat ke dalam api saking malunya. Apa yang tadi dia pikirkan sampai mencium Boboiboy seperti itu, sih? "Itu janji … janji kalau kita pasti akan bertemu lagi …" kata Yaya akhirnya.

Boboiboy terlihat sedikit terkejut, namun kemudian ia tertawa kecil. "Kau memang tak bisa ditebak …" katanya sambil tersenyum.

Tanpa berkata apa pun lagi, keduanya kembali mendekatkan diri hingga tak ada jarak lagi di antara mereka. Yaya memejamkan mata saat bibir mereka kembali bersentuhan. Rasa sakit kembali menyerang dadanya, namun Yaya tak lagi peduli. Tidak apa-apa, ia akan bisa menahannya sesakit apapun rasanya. Tanpa Yaya sadari, setetes air mata perlahan jatuh membasahi pipinya.

.

.

.

Saat terbangun keesokan harinya, yang pertama kali dilihat Yaya adalah wajah Boboiboy yang tengah tertidur pulas. Kali ini Yaya tidak lagi menendang sang Pangeran dari tempat tidur, melainkan memilih untuk menatap wajah Boboiboy yang masih terlena di alam mimpinya.

Boboiboy tidur dengan posisi meringkuk ke samping, menghadap Yaya. Suara dengkuran halus keluar dari mulutnya, seiring dengan dadanya yang bergerak naik turun dengan teratur. Mau tak mau Yaya tersenyum melihat betapa polosnya wajah Boboiboy saat sedang tidur.

Perlahan Yaya menggerakkan tangannya menyusuri rambut Boboiboy yang sedikit berantakan. Kedua mata Boboiboy terbuka saat Yaya mulai memain-mainkan rambut pemuda itu dengan jarinya.

"Selamat pagi, tukang tidur," kata Yaya dengan senyum tipis.

Boboiboy menguap lebar, "Selamat pagi," gumamnya dengan suara mengantuk. Ia menarik Yaya ke arahnya dan memeluknya erat, mengabaikan protes Yaya yang berusaha melepaskan diri. "Aku bersyukur kau tidak menendangku lagi hari ini," kata Boboiboy.

"Ya, kau memang harus bersyukur. Dan lebih baik kau melepasku sekarang kalau tidak aku benar-benar akan menendangmu sampai keluar," ancam Yaya.

"Kenapa tuan putriku berubah jadi galak setiap pagi, sih? Padahal tadi malam kau manis sekali," kata Boboiboy. Ia akhirnya melepaskan pelukannya dari Yaya walau sedikit tak rela.

Yaya mengabaikan ucapan Boboiboy dan memilih untuk turun dari tempat tidurnya. "Aku harus bersiap-siap. Kau juga sebaiknya kembali ke kamarmu sebelum para penjaga panik karena kau menghilang …"

Saat itu pintu kamar Yaya menjeblak terbuka, membuat Boboiboy dan Yaya sama-sama terlonjak kaget. Ying menghambur masuk dan langsung berseru panik dengan nafas tersengal.

"Yaya! Apa kau sudah dengar kalau Pangeran Boboiboy menghilang dari kamarnya dan …"

Kedua safir Ying membelalak lebar melihat Boboiboy yang kini tengah duduk bersender di tempat tidur Yaya. Gadis berkacamata itu ternganga lebar memandang bergantian antara Yaya yang meletakkan tangan di wajahnya dengan sikap pasrah dan juga Boboiboy yang hanya bisa nyengir lebar melihat wajah shock Ying.

"Oh!" Ying terlihat tak sanggup berkata apa-apa selama beberapa saat. Lalu wajahnya tiba-tiba merona merah. "Oh, maaf … Maaf aku tidak bermaksud …" Ying berharap ia bisa mengenggelamkan dirinya di kolam air mancur di halaman belakang sekarang juga.

"Tidak apa-apa, Ying," kata Yaya menghela nafas pelan. "Bisa tolong beritahu yang lain kalau Boboiboy tidak apa-apa? Dia … bersamaku sejak tadi malam, jadi mereka tak perlu khawatir," lanjut Yaya lagi. Ia sebenarnya tidak ingin orang-orang tahu kalau dirinya dan Boboiboy tidur bersama lagi. Tapi kalau sudah seperti ini apa boleh buat.

"Y-ya, ba-baiklah… Kalau begitu aku akan memberitahu mereka," gumam Ying gugup. Lalu tanpa mengucapkan apa-apa lagi Ying bergegas pergi meninggalkan kamar Yaya dan menutup pintu di belakangnya.

Setelah Ying pergi, Yaya berpaling pada Boboiboy yang terlihat sangat santai dan mendelik kesal. "Lihat, ini semua gara-gara kau!" tukasnya.

"Lho, kenapa aku? Bukannya kau yang memintaku tidur di sini tadi malam?" kata Boboiboy kalem.

"Tapi kau seharusnya segera kembali ke kamarmu sebelum semua orang tahu!" seru Yaya sebal. Ia kemudian mendesah panjang. "Sekarang mereka semua pasti akan berpikir macam-macam lagi."

"Tak perlu dipikirkan. Lagipula kita tidak melakukan apa-apa, kan? Jadi untuk apa merisaukan perkataan orang lain?" kata Boboiboy santai. Ia mengabaikan Yaya yang terlihat frustasi dengan sikap santainya dan akhirnya bergerak turun dari tempat tidur. "Kalua begitu aku akan kembali ke kamarku dulu. Sampai bertemu nanti."

Yaya tetap memasang wajah cemberut saat Boboiboy mencium keningnya. Dan saat sang Pangeran akhirnya melangkah pergi, Yaya tiba-tiba merasa kesepian. Ia terus menatap pintu tempat Boboiboy menghilang beberapa menit yang lalu, sebelum akhirnya berbalik dan memaksa dirinya untuk segera bersiap-siap.

.

.

.

Ying berlari cepat melewati aula depan istana Scelerisque hingga ia akhirnya tiba di halaman depan yang tertutup lantai pualam. Kedua netranya melihat serombongan pasukan berkuda tengah bersiap-siap di depan gerbang, dan matanya menangkap sosok dengan rambut hitam yang mencuat berantakan seperti landak.

"Tunggu!" pekik Ying panik saat melihat rombongan itu tengah bersiap pergi. Walau sisi perutnya mulai terasa kram, tapi Ying memaksakan diri berlari menghampiri mereka.

"Apa?" tukas Fang kasar saat melihat Ying berlari menghampirinya.

"Tunggu … jangan … pergi … dulu …" kata Ying terengah-engah sambil memegangi perutnya.

"Hah? Kenapa?" tanya Fang kesal karena Ying tiba-tiba menghalangi mereka untuk pergi mencari Boboiboy. Tapi Ying tidak menjawab karena masih berusaha mengatur nafasnya yang memburu. "Aku tidak punya waktu untuk meladenimu sekarang, oke? Kami harus segera mencari Pangeran Boboiboy," kata Fang akhirnya.

Fang menarik tali kekang kuda hitamnya dan mengisyaratkan para pengawal untuk pergi. Namun Ying menarik tangan Fang kuat sekali hingga ia hampir terjungkal dari kudanya.

"Kau ini apa-apaan, sih?" hardik Fang marah.

"Kubilang jangan pergi dulu!" balas Ying tak kalah keras. "Dengarkan aku dulu kenapa, sih? Aku tau di mana Pangeran Boboiboy."

Fang membelalakkan matanya. "Kau tau? Di mana dia?" tanyanya segera.

Ying mengedikkan kepala ke belakang mereka, ke arah istana. "Pangeran ada di dalam. Dia di kamar Yaya —ah, putri Yaya maksudku," ujarnya datar. "Mereka … sepertinya tidur bersama tadi malam." Entah kenapa wajah Ying kembali merona merah.

Fang ternganga tak percaya. Kenapa ia tidak berpikir untuk mencari ke sana? Tentu saja Boboiboy akan berada di kamar Sang Putri. Bodoh sekali Fang tidak berpikir sampai ke situ.

Para pengawal terlihat geleng-geleng kepala. Mereka sudah panik setengah mati karena Pangeran mereka menghilang dari kamarnya, ternyata sang Pangeran malah tengah asyik bersama tunangannya.

"Dasar Boboiboy …" Fang mengepalkan tangannya geram, berharap bisa melayangkannya tepat ke wajah sang Pangeran. Mungkin Fang telah membuat kesalahan saat menerima pekerjaan sebagai pengawal pribadi putra mahkota Scelerisque itu.

"Nah, sekarang sudah tau, kan? Jadi kalian tidak perlu lagi berkeliling ke seluruh pelosok kerajaan untuk mencari Pangeran," kata Ying memandangi satu persatu para pengawal yang masih duduk di kuda mereka.

"Ya, terima kasih karena sudah memberitahu kami, nona," kata salah seorang dari mereka sambil tersenyum pada Ying.

"Sama-sama," balas Ying.

Para pengawal yang terdiri dari tujuh orang pemuda itu berbalik dan membawa kuda mereka kembali ke istal, sementara Fang lebih memilih untuk turun dari kudanya dan menghampiri Ying.

Ying menyilangkan lengan di depan dada, menunjukkan posisi pertahanan, seolah berpikir Fang bisa menyerangnya kapan saja. Fang berdiri beberapa langkah dari Ying dan berdeham pelan.

"Maaf karena tadi aku membentakmu," kata Fang tanpa menatap Ying.

"Tidak apa-apa, sudah kumaafkan" balas Ying tak acuh.

Fang menggaruk kepalanya canggung. Tangannya tanpa sadar memainkan tali kekang kudanya. Ia melirik Ying yang masih berdiri bersidekap di depannya dan menghela nafas pelan.

"Yah, tak ada yang perlu kita bicarakan lagi jadi … aku mau masuk dan menghajar Boboiboy dulu," kata Fang kemudian.

Ia baru saja hendak menuntun kembali kudanya ke dalam, namun sekali lagi Ying menahan tangannya.

"Jangan," kata Ying menggeleng pelan. "Kurasa … kita harus memberi mereka berdua sedikit waktu lagi. Pangeran Boboiboy dan Yaya maksudku," gumamnya.

Fang memikirkan kata-kata Ying sejenak sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah," ujarnya. "Aku akan menahan diri sampai Putri Yaya pergi nanti sebelum memukul Boboiboy."

Ying tertawa kecil, lalu saat menyadarinya wajahnya merona merah. Bodoh, apa yang ia lakukan di sini mengobrol santai dan tertawa dengan si kepala landak yang terus-terusan menantangnya berduel? Ying menggelengkan kepala untuk menjernihkan pikirannya, kemudian menghembuskan nafas panjang.

"Nah," ucapnya. "Aku harus segera bersiap-siap untuk perjalanan pulang nanti. Sampai bertemu lagi." Ying melambai sekilas dan segera membalikkan badan, namun suara Fang menahannya.

"Namamu Ying, kan?" tanya Fang.

Ying berpaling dan menatap kedua mata Fang di balik lensa kecamatanya. "Ya, aku Ying. Senang berkenalan denganmu, Fang." Senyum tipis terukir di wajah Ying, sebelum ia berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.

Tangan Fang beregrak untuk menyisir rambutnya ke belakang. Diam-diam ia ikut tersenyum, dan kemudian sambil bersiul ia menuntun kuda hitamnya kembali ke istal istana.

.

.

.

Yaya membiarkan Siti membantunya memakai mantel perjalanannya, sementara ia melamun memandangi langit biru di luar jendela sambil mendengarkan suara kicauan burung yang saling bersahutan riang.

"Anda baik-baik saja tuan putri?" tanya Siti pelan. Ia selesai mengancingkan mantel Yaya dan memandang sang putri dengan ekspresi khawatir. "Wajah anda kelihatan pucat."

"Aku tidak apa-apa, Siti. Cuma sedikit tidak enak badan," kata Yaya sambil tersenyum kecil.

"Apa anda ingin saya ambilkan sesuatu? Mungkin Putri ingin minum teh hangat sebentar sebelum berangkat?" tawar Siti.

"Tidak, tidak usah," tolak Yaya halus. "Aku ingin berbaring sebentar. Panggil aku saat hendak berangkat nanti, oke?"

"Baik, tuan putri." Siti membungkuk sejenak sebelum berbalik dan meninggalkan kamar Yaya.

Yaya baru saja hendak melangkah ke tempat tidurnya saat terdengar ketukan di pintu kamarnya. Ia sudah bisa menebak siapa yang datang, dan saat sosok Boboiboy melangkah masuk Yaya sama sekali tidak merasa terkejut.

"Kau ini benar-benar tidak tahan berpisah denganku walau cuma sebentar ya?" tanya Yaya sambil menyeringai tipis.

"Tentu saja. Berpisah darimu walau hanya sedetik rasanya membuatku merasa ingin mati," balas Boboiboy.

Yaya memutar bola matanya. "Kau terlalu berlebihan, Pangeran," katanya. "Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan saat aku pulang nanti? Melompat bunuh diri dari balkon kamarmu?"

"Yah, kurasa itu pilihan bagus," kata Boboiboy sambil berpikir-pikir. "Atau aku bisa mencari orang yang hendak membunuhku dan memintanya untuk meracuniku lagi atau apa …"

"Jangan bilang begitu," tegur Yaya. Senyumnya mendadak lenyap, digantikan ekspresi takut dan juga khawatir.

"Cuma bercanda, jangan dianggap serius," kata Boboiboy saat melihat ekspresi wajah Yaya. Ia kemudian melirik beberapa koper yang diletakkan bertumpuk di dekat perapian. "Sudah selesai berkemas?" tanyanya.

Yaya mengangguk, "Yep," gumamnya.

Boboiboy menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan yang kelihatan baru saja dibersihkan. Taka ada satu barang milik Yaya yang tersisa yang mungkin bisa membantunya mengingat gadis itu. Kecuali aroma manis stroberi yang samar-samar menggantung di udara.

"Kau tidak meninggalkan apa pun untukku, ya? Apa yang harus kulakukan saat aku merindukanmu nanti?" tanya Boboiboy sambil melangkah mendekati Yaya.

"Kita bisa berkirim surat," balas Yaya enteng.

"Surat … benar juga …" gumam Boboiboy. Ia sekarang berdiri tepat di depan Yaya dan bisa mencium aroma stroberi yang berasal dari gadis yang berdiri di depannya. Boboiboy menunduk untuk menyejajarkan wajahnya dengan Yaya dan menatap gadis itu yang balas memandangnya dengan alis terangkat. "Kelihatannya kau sudah tidak keberatan lagi karena harus pulang?"

Yaya memasang wajah cemberut. "Tentu saja aku masih keberatan —sedikit, sih. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa, dan kau juga sepertinya lebih suka kalau aku pergi, kan?" katanya sedikit menyindir.

'Oh, ayolah. Kita sudah membicarakan ini tadi malam. Aku bukannya ingin kau pergi. Aku cuma tidak ingin kau terluka karena berada di dekatku."

"Iya, iya, aku sudah mengerti. Makanya lebih baik kita tidak membahas itu lagi, oke?"

"Oke." Boboiboy mengangguk setuju. Ia kemudian mengulurkan tangannya dan bergumam, "Kemarilah."

Yaya tak perlu diminta dua kali. Ia langsung melangkah mendekat dan melingkarkan kedua lengannya di tubuh Boboiboy. Gadis itu menghirup sebanyak mungkin aroma tubuh Boboiboy agar ia bisa mengingatnya saat mereka berpisah nanti.

"Aku akan merindukanmu …" bisik Boboiboy sambil mendekap erat Yaya.

Yaya juga mengeratkan pelukannya dan membenamkan wajahnya di dada Boboiboy. "Aku juga …"

.

.

.

"Nah, jaga dirimu baik-baik." Yaya menjauhkan diri dari Boboiboy dan menatap lama wajah pemuda itu.

"Kau juga," balas Boboiboy.

Keduanya saling bertatapan tanpa ada yang berniat mengalihkan pandang. Para pelayan di sekitar mereka berjalan mondar-mandir membawakan barang-barang ke dalam kereta kuda yang telah menunggu di belakang Yaya. Tak ada seorang pun yang berani menginterupsi mereka berdua. Sampai sebuah dehaman pelan akhirnya membuat Yaya dan Boboiboy sama-sama menoleh.

"Sudah saatnya berangkat, Yaya," kata Raja Yah yang baru saja berjalan menghampiri keduanya.

"Ya, ayahanda," sahut Yaya dengan wajah tertunduk.

Raja Aba muncul di belakang Raja Yah dan tersenyum sedih memandang cucunya dan sang putri Gaileta. "Sayang sekali anda harus kembali secepat ini, Putri Yaya. Kalau saja situasinya tidak seperti ini, putri mungkin bisa tinggal sedikit lebih lama," ujarnya. "Maafkan kami atas kekacauan yang terjadi belakangan ini, yang mungkin membuat anda semua kurang nyaman berada di sini," lanjut Raja Aba dengan kepala sedikit membungkuk.

"Tidak apa, Yang Mulia. Tak ada yang bisa memperkirakan hal seperti ini akan terjadi, jadi anda tak perlu minta maaf," balas Yaya sopan sambil ikut membungkuk.

Raja Aba tersenyum dan Yaya pun membalasnya. Sang putri melirik Boboiboy yang sedari tadi berdiri diam di sebelah sang kakek. Ada banyak hal yang ingin Yaya ucapkan pada pemuda itu, tapi semuanya terasa tersangkut di tenggorokannya, maka Yaya memilih untuk ikut diam.

"Terima kasih atas semua keramahan yang anda berikan selama kami di sini, Raja Aba," ujar Raja Yah. Kedua raja itu kemudian berjabat tangan sebagai salam perpisahan. "Kami akan senang sekali kembali ke sini menjelang pesta pernikahan nanti, untuk membantu mempersiapkan semuanya," katanya sambil tersenyum.

"Tentu saja. Kami akan berusaha mempersiapkan semuanya sebaik mungkin sebelum kedatangan anda sekalian nanti," balas Raja Aba. Raja Yah mengangguk dengan senyum yang masih terus terukir di wajahnya. Ia kemudian berpaling pada Boboiboy yang masih bergeming di sebelah sang kakek.

"Sampai bertemu lagi, Pangeran. Terima kasih karena sudah menjaga putriku selama di sini," kata Sang Raja Gaileta.

Boboiboy sedikit tersentak, namun ia buru-buru mengangguk gugup. "Ya, sama-sama, Yang Mulia," ujarnya. Kedua matanya melebar terkejut saat Raja Yah tiba-tiba merangkulnya.

"Jaga dirimu baik-baik," kata Raja Yah, menepuk-nepuk punggung Boboiboy pelan.

Boboiboy tak tahu harus berkata apa, maka ia hanya mengangguk. Ia merasa sedikit lega saat sang raja akhirnya melepaskan rangkulannya.

"Nah, Yaya, ayo kita pergi," Raja Yah berbalik dan melangkah ke arah kereta kuda yang telah menunggu.

Yaya berjalan mengikuti ayahnya, namun baru beberapa langkah ia kembali berbalik dan menghambur ke pelukan Boboiboy. Mengabaikan Raja Aba —yang masih berdiri di sebelah Boboiboy dan terlihat sedikit terkejut— dan juga orang-orang yang berada di sekitar mereka, Yaya berbisik pelan di telinga Boboiboy. "Kirimi aku surat, oke?"

"Setiap hari, kalau kau mau," balas Boboiboy dengan suara tercekat. Ia memeluk Yaya erat untuk terakhir kalinya, mati-matian berusaha menahan diri untuk tidak mencegah Yaya pergi.

Yaya mengangguk, kemudian keduanya sama-sama saling melepaskan diri. Tanpa berkata apa pun lagi, Yaya berbalik dan melangkah masuk ke dalam kereta kudanya. Boboiboy memandangi kereta yang perlahan bergerak menjauh dari istana, kemudian ia membalikkan badan dan berlari masuk ke dalam istana.

.

.

.

Fang memasukkan koper terakhir ke dalam kereta, dibantu oleh seorang pelayan pria yang dengan sigap merapikan koper-koper itu. Fang kemudian menepuk-nepukkan kedua tangannya dan berbalik untuk melihat Gopal yang tengah menangis tersedu-sedu, sementara Siti dengan panik berusaha menghiburnya —sekaligus menjaga agar Gopal tidak terlalu dekat dengannya.

"Sudahlah, Gopal, hentikan drama bodohmu itu. Kau membuat gadis itu ketakutan," kata Fang bosan. Ia menarik kerah baju Gopal dan membawanya menjauh dari Siti yang akhirnya bisa menghembuskan nafas lega.

"Huhuhu, Fang … Jangan menggangguku, aku sedang mengucapkan salam perpisahan untuk Siti," kata Gopal dengan air mata bercucuran.

Fang memutar bola matanya, "Salam perpisahan apanya?" ujarnya. "Daritadi kulihat kau cuma menangis tak jelas dan membuat Siti jadi ketakutan setengah mati."

Gopal melirik Siti yang buru-buru memalingkan wajah malu. Pemuda itu akhirnya menghapus air matanya dan menggelengkan kepala sedih.

"Padahal aku hampir saja berhasil mendekatimu, Siti, tapi kenapa kau malah harus pergi?" ujar Gopal sedikit dramatis.

"Yah, dia tidak mungkin tinggal sendiri di sini, kan?" balas Fang tak acuh.

"Tapi kan ada aku di sini. Siti bahkan boleh tinggal bersamaku kalau dia mau."

"Jangan sembarangan," Fang menjitak kepala Gopal cukup keras, membuat pemuda bertubuh gempal itu mengaduh kesakitan.

"Dey! Sakit, lah!"

Sementara Gopal mengelus kepalanya yang terkena jitakan Fang sambil mengumpat pelan, Fang memalingkan wajahnya dan menatap sekelompok orang yang berdiri tak jauh dari mereka.

"Kelihatannya mereka sama sekali tidak ingin berpisah, ya?" Suara bernada tinggi dari sebelahnya membuat Fang terlonjak. Ia menoleh dan melihat Ying telah berdiri di sampingnya dan ikut menatap ke arah yang sama dengan Fang, di mana Raja dari kedua kerajaan dan juga sang Pangeran dan Putri tengah mengucapkan salam perpisahan.

"Yah, kelihatannya begitu," ujar Fang, kembali memandang Boboiboy dan Yaya yang berdiri saling berhadapan dalam diam.

"Padahal awalnya Yaya sangat kesal karena dijodohkan oleh ayahnya, tak kusangka dia akan jadi seperti ini," kata Ying sambil tersenyum tipis.

"Boboiboy juga begitu. Dia bahkan mengamuk dan menantang semua orang duel setelah Raja Aba memberitahunya tentang perjodohan itu. Sekarang dia malah jadi lengket sekali dengan putri Yaya," kata Fang menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Cinta bisa merubah segalanya, kau tau," ucap Ying.

"Benar …" Fang bergumam pelan. Ia melirik sedikit ke belakangnya untuk melihat Gopal yang kembali berusaha mengucapkan kata-kata perpisahan pada Siti, sebelum kembali memalingkan wajahnya ke depan.

Raja Yah dan Yaya terlihat berjalan ke kereta kuda mereka, dan kemudian Fang dan Ying melihat Yaya yang berlari kembali dan memeluk Boboiboy. Ying tersenyum kecil melihat adegan itu, namun Fang memilih untuk memalingkan wajahnya.

"Kau pengawal pribadi Pangeran Boboiboy, kan?" tanya Ying.

"Ya," jawab Fang.

"Kalau begitu, jagalah Pangeran, oke? Aku tidak mau Yaya bersedih kalau terjadi sesuatu padanya."

"Jangan khawatir. Aku prajurit nomor satu di kerajaan ini. Boboiboy akan baik-baik saja dalam pengawasanku," kata Fang sedikit angkuh. Ying mengangkat alisnya sangsi. "Apa? Kau tidak percaya padaku?" tanya Fang saat melihat ekspresi wajah Ying.

"Berapa umurmu?" tanya Ying, mengabaikan pertanyaan Fang.

"Aku …"

Suara ringkikan kuda dari belakang mereka membuat Fang dan Ying menoleh. Kereta kuda yang akan dinaiki Ying dan Siti telah bersiap berangkat, dan Siti yang berhasil melepaskan diri dari Gopal segera berjalan menghampiri Ying.

"Nona Ying, sudah saatnya berangkat," katanya.

"Naiklah duluan, Siti. Aku akan menyusul sebentar lagi," kata Ying. Siti mengangguk dan berlari ke arah kereta kuda, setelah sebelumnya memberanikan diri untuk menjabat tangan Gopal.

"Jadi, kita berpisah di sini," kata Fang setelah beberapa menit mereka berdiam diri.

"Yap," balas Ying. Mereka berdua terlihat sama-sama canggung dan tak tahu harus berkata apa. "Kau tau, aku merasa sedikit aneh bisa berbicara denganmu seperti ini. Selama ini kita kan … yah, kau tau sendiri," Ying mengangkat bahu untuk menutupi rasa canggungnya.

"Yah, kita lebih banyak menghabiskan waktu untuk berduel daripada mengobrol, jadi ini memang terasa aneh," kata Fang menyetujui. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya, bingung harus mengucapkan apa lagi. "Tapi setidaknya di saat terakhir kita bisa berdamai, kan?"

Ying tertawa kecil dan mengangguk. "Yah, benar juga. Jadi sekarang kita berdamai?" katanya.

"Tentu saja. Itulah tujuannya sejak awal, kan? Boboiboy dan Putri Yaya berkorban —yah, sekarang tidak lagi terlihat seperti itu sih— untuk perdamaian kedua kerajaan. Jadi, untuk apa kita terus bermusuhan?" Fang mengukir senyum tipis yang membuat wajah Ying sedikit merona.

"Kau benar," Ying menundukkan wajah untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia melirik kereta yang akan dinaikinya yang kini tengah bersiap berangkat. "Aku … harus segera pergi," katanya.

"Kalau begitu sampai bertemu lagi, Ying." Fang mengulurkan tangan untuk menjabat Ying, dan dengan sedikit ragu Ying akhirnya menyambut uluran tangannya.

"Ya, sampai bertemu lagi, Fang …"

.

.

.

Boboiboy mengayunkan pedangnya membelah udara dengan sedikit brutal. Untunglah tak ada seorang pun di ruangan itu selain dirinya, jadi tak perlu khawatir ada yang terluka terkena tebasan pedangnya yang sembarangan. Ekspresi Boboiboy mengeras seiring setiap ayunan pedang, dan ia berusaha menahan diri untuk tidak menghancurkan seisi kamarnya. Kakeknya mungkin akan mengurungnya di ruang bawah tanah kalau ia melakukan itu.

Suara pintu kamarnya yang terbuka membuat Boboiboy berpaling secepat kilat. Ia menghunuskan pedangnya ke arah pintu dan melihat Gopal yang berdiri membeku dengan kedua tangan terangkat.

"Whoa, tenanglah, Boboiboy," kata Gopal sedikit ketakutan melihat ekspresi dingin Boboiboy dan juga pedang yang terhunus ke arahnya. "Kau tidak berniat membunuhku, kan? Ingat, kita ini kawan baik, Boboiboy."

Boboiboy menurunkan kembali pedangnya dan menghembuskan nafas panjang. "Maaf, Gopal. Aku tidak bermaksud …" Ia sekali lagi menghela nafas kemudian melangkah gontai ke arah tempat tidurnya dan menghempaskan diri di sana.

"Tidak apa-apa. Aku tau kau sedang sedih," kata Gopal. Ia berjalan menghampiri ranjang Boboiboy dan ikut mendudukkan diri di sana. "Aku juga merasa sedih, sama sepertimu. Kita sama-sama dipaksa berpisah dengan gadis yang kita sukai. Malang sekali nasib kita berdua, ya?" Boboiboy tertawa pelan mendengar ucapan Gopal, namun ia memilih untuk tidak berkata apa-apa.

"Tapi kita tak perlu risau, Boboiboy. Mereka akan kembali lagi nanti, kan? Pernikahanmu dan Putri Yaya akan diadakan di Scelerisque, jadi mereka pasti akan kembali ke sini tak lama lagi. Lalu saat kau menikah dengan Putri Yaya dan tinggal di sini, Siti juga otomatis akan ikut tinggal di sini. Kan dia pelayan pribadi Putri Yaya," celoteh Gopal panjang lebar. Boboiboy hanya bergumam tak jelas dengan wajah terbenam di bantalnya.

"Mana Fang?" ucap Boboiboy akhirnya. Gopal yang masih sibuk berceloteh terpaksa menghentikan ocehannya.

"Entahlah. Tadi kulihat ia mengambil kudanya dan pergi entah ke mana," kata Gopal sambil mengangkat bahu.

"Dengan kuda? Memangnya dia mau ke mana?" tanya Boboiboy heran.

"Kan sudah kubilang aku tidak tahu," jawab Gopal, memutar bola matanya.

Boboiboy terlihat berpikir sejenak, kemudian berkata, "Gopal, ayo kita berduel."

"Hah?" Gopal membulatkan mata kaget.

Boboiboy bangkit dari tempat tidurnya dan mengambil kembali pedang yang ia letakkan di atas meja. "Biasanya aku mengajak Fang untuk berduel, tapi karena sekarang dia tidak ada maka kau yang harus duel pedang denganku," kata Boboiboy dengan nada memerintah.

"Tidak, tidak, tidak, tidak. Maaf saja, tapi aku tidak jago bermain pedang seperti kau dan Fang," tolak Gopal mentah-mentah. Gopal sudah hafal kebiasaan Boboiboy yang satu ini. Ia akan menantang siapa pun untuk berduel dengannya saat suasana hatinya sedang buruk. Dan tak ada yang bisa mengalahkannya saat sedang dalam suasana hati seperti itu, kecuali Fang mungkin.

"Ini perintah, Gopal. Kau mau aku menyuruh pelayan untuk mengurangi jatah makanmu setiap hari?" ancam Boboiboy.

"Boboiboy … kenapa kau kejam sekali padaku, sih?" rengek Gopal putus asa. "Sudah kubilang kita berbagi nasib yang sama, kan? Jadi harusnya kau bersikap lebih baik padaku," lanjutnya lagi.

"Sudahlah, cepat ambil pedangmu. Aku akan menunggu di halaman."

Setelah berkata begitu, Boboiboy berjalan keluar dari kamarnya dan meninggalkan Gopal yang hanya bisa meratapi nasibnya dengan putus asa.

.

.

.

Yaya melangkah turun dari kereta dan memandang kastil yang berdiri megah di hadapannya. Walau merasa letih, mau tak mau Yaya tersenyum karena akhirnya bisa pulang kembali ke istananya. Yaya sudah hampir lupa betapa ia sangat merindukan rumahnya ini.

"Kak Yaya!" seorang anak laki-laki berlari keluar dari aula depan dang langsung menubruk Yaya hingga membuatnya hampir terjatuh.

Yaya tertawa kecil dan mengusap rambut hitam anak laki-laki itu. "Aku pulang, Totoitoy," ucapnya.

"Selamat datang!" sahut Totoitoy riang. Bocah —ah, tidak, ia sudah remaja sekarang— pemuda itu tersenyum lebar dan memamerkan deretan gigi putihnya, kemudian ia beralih memeluk sang ayah yang juga baru saja turun dari kereta.

"Kau jadi anak baik selama ayah dan kakakmu pergi kan, Totoitoy?" kata Raja Yah sambil mengusap rambut anak angkatnya itu. Walau Totoitoy sekarang sudah hampir berumur 16 tahun, tapi ayah dan kakaknya tetap saja menganggapnya masih anak-anak.

"Tentu saja! Aku mengikuti semua kelas dari Miss Timy tanpa membolos sekali pun, dan aku juga berlatih setiap hari di arena pelatihan!" kata Totoitoy penuh semangat.

"Bagus. Kau pasti akan menjadi raja yang baik suatu hari nanti, menggantikan ayah," Raja Yah berujar sambil tertawa pelan.

"Lho, bukannya kak Yaya yang akan menggantikan ayah memimpin kerajaan ini?" tanya Totoitoy polos.

"Kakakmu sebentar lagi akan menjadi ratu di kerajaan Scelerisque," kata Raja Yah, melirik putrinya yang menundukkan wajah malu. Ia kemudian beralih kembali pada putra angkatnya. "Jadi, Totoitoy saja yang menggantikan ayah, ya?"

"Siap, ayah!" Totoitoy menegakkan tubuhnya dan membuat gerakan menghormat.

Yaya tertawa melihat tingkah adiknya yang masih begitu polos. Namun sesaat kemudian tubuhnya terasa limbung. Untunglah Ying yang baru saja tiba dan berdiri di belakang Yaya berhasil menangkap tubuhnya sebelum Yaya terjatuh ke lantai.

"Yaya!"

"Kak Yaya!"

"Tuan Putri!"

Semua orang dengan panik menghampoiri Yaya yang terlihat sudah setengah pingsan. Raja Yah berlutut di sebelah putrinya dan menyentuh kening Yaya dengan tangannya. Wajah Yaya yang pucat pasi terasa sedingin es.

"Aku tidak apa-apa …" gumam Yaya lemah. Matanya sudah hampir terpejam. "Aku … cuma kecapekan …"Ia kemudian benar-benar jatuh pingsan.

"Cepat bawa Yaya ke dalam dan segera panggil tabib!" perintah Raja Yah. Para pelayannya mengangguk dan dengan sigap bertindak. Beberapa menggotong sang putri masuk ke istana, dan yang lain berlari untuk mencari tabib. Totoitoy berjalan cepat di belakang Ying dan Siti yang membantu membawa Yaya masuk ke dalam.

Saat semua orang telah pergi, Raja Yah menoleh untuk melihat Adu Du yang maish setia beridir di belakangnya. Sang penasehat mengerti maksud tatapan tuannya dan mengangguk pelan.

"Jangan khawatir, Yang Mulia. Sebentar lagi semuanya akan beres," ujar Adu Du.

Raja Yah mengangguk kaku. Ekspresinya sekeras batu saat ia menatap langit yang perlahan berubah jingga di atasnya. Kemudian tanpa berkata apa pun ia pun melangkah masuk ke dalam istananya.

.

.

.

Malam sudah sangat larut, tapi Boboiboy sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Sedari tadi ia terus bergerak-gerak gelisah mencoba mencari posisi yang nyaman agar bisa tertidur, tapi matanya tetap menolak untuk terpejam. Akhirnya Boboiboy berhenti membalik-balikkan tubuhnya dan memilih untuk berbaring terlentang dengan kedua tangan terlipat di belakang kepalanya. Kedua netranya menerawang memandang tirai transparan yang menutupi tempat tidurnya.

Apa Yaya sudah sampai, ya? gumamnya dalam hati.

Perjalanan dari kerajaan Scelerisque ke kerajaan Gaileta tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu kurang dari dua hari. Jika rombongan kerajaan Gaileta berangkat dari Scelerisque kemarin pagi, seharusnya mereka sudah sampai sore tadi. Tapi Boboiboy belum mendengar kabar apa pun dari Yaya. Apa putrinya itu berhasil sampai dengan selamat? Mereka tidak mungkin kecelakaan di jalan atau semacamnya, kan?

Suara burung hantu yang beruhu di luar sama sekali tidak membantu mengurangi kegelisahan Boboiboy. Entah kenapa ia merasa cemas. Rasanya ada sesuatu yang buruk sedang terjadi, atau akan terjadi. Tapi apa?

Pikiran Boboiboy yang dipenuhi berbagai hal tersentak saat ia mendengar suara-suara samar dari luar pintu kamarnya. Ia segera bangkit dari posisi tidurnya dengan ekspresi tegang. Suara-suara di luar terdengar semakin keras dan mendekat ke arah kamarnya. Firasatnya benar, ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Boboiboy melirik perapian yang terletak bersebrangan dari tempat tidurnya. Ia menyimpan pedangnya di sana, tapi mungkin ia tak akan sempat mengambilnya sekarang. Tangan Boboiboy perlahan meraba bagaian bawah bantalnya dan menemukan pisau kecil yang disimpannya di sana. Ia memegangi pisau itu erat-erat, menanti dengan wajah tegang siapa pun yang akan muncul nantinya.

Pintu kamarnya terbuka dengan bunyi keriut pelan. Walau kamarnya hampir sepenuhnya gelap, tapi berkat cahaya yang berasal dari pintu yang terbuka Boboiboy bisa melihat sosok-sosok samar yang menyelinap masuk ke kamarnya. Saat pintu tertutup, ruangan itu kembali ditelan kegelapan. Boboiboy mendengarkan langkah-langkah berat yang menghampiri tempat tidurnya dengan jantung berdebar keras. Kemudian saat mereka sudah cukup dekat ia melompat turun dan mulai menyerang secepat kilat dengan pisaunya.

Keadaan kamar yang gelap sepertinya menguntungkan Boboiboy. Orang-orang yang menyusup ke kamarnya terlihat tak siap dengan serangannya yang tiba-tiba, membuat Boboiboy dengan mudah bisa mengimbangi mereka yang sepertinya berjumlah empat atau lima orang.

Para penyusup itu menggunakan senjata mereka untuk menangkis serangan Boboiboy. Dua orang dengan pedang panjang, seorang dengan sebilah belati, dan bahkan ada yang menggunakan balok kayu yang diayun-ayunkan dengan liar.

Boboiboy menunduk tepat pada waktunya saat balok kayu itu nyaris menghantam kepalanya. Ia mendengar suara keras saat balok itu menghantam salah satu musuhnya yang tidak sempat menghindar. Tapi ia tak sempat menarik nafas lega karena serangan berikutnya kembali datang bertubi-tubi. Dua pedang dihunuskan tepat ke arahnya dan lagi-lagi Boboiboy harus berkelit. Sang Pangeran Scelerisque mengumpat pelan saat merasakan salah satu pedang menggores wajahnya. Ia merasakan panas di pipi sebelah kirinya dan segera mengusap darah yang mulai mengalir dari sana.

Sadar ia tak mungkin bisa melawan para penyusup itu dengan hanya sebilah pisau kecil, Boboiboy berusaha mencari celah untuk berlari ke arah perapian dan mengambil pedangnya. Namun karena terlalu fokus pada tujuannya itu, Boboiboy tak sadar saat balok kayu kembali melayang ke arahnya dan kali ini tepat menghantam perutnya. Ia tersungkur ke belakang dan menghantam tempat tidurnya dengan keras.

Boboiboy terbatuk-batuk hebat dan memuntahkan darah dari mulutnya. Pisau masih tergenggam di tangannya, namun tenaganya telah tersedot habis. Ia mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya yang terasa remuk. Seleret cahaya bulan yang masuk melalui celah jendela menyinari wajah yang dibingkai rambut hijau gelap dengan mata semerah darah.

Satu hantaman keras kembali mengenai kepala Boboiboy, dan kemudian semuanya menjadi gelap.

.

.

.

to be continued

Maaf lagi-lagi updatenya ngaret :'' Biasa lah, penyakit malas nulisku kambuh lagi /digebuk

Doakan saja penyakit itu bisa pergi jauh-jauh supaya aku bisa update lebih cepat ya x''D

Aku baca-baca review di chapter yang lalu kok jadi banyak yang pengen Boboiboynya disiksa ya? Nggak kasian apa ngeliat Boboiboy disiksa terus? Aku malah jadi nggak tega nyiksa Boboiboy karena baca review-reviewnya ;;; /tapi ujung-ujungnya disiksa juga/ *dilempar keris petir*

Tapi yah … chapter ini harusnya nge-angst sih, cuma aku nggak yakin feel-nya dapet. Mana banyak adegan yang nggak jadi kumasukin lagi /pundung

Oh iya, adakah yang mau berbaik hati bantuin aku ngarang lagunya Yaya? Tapi jangan dari lagunya Rapunzel, lho x'D Kalau mirip-mirip bolehlah :'''

Makasih yang udah mau menyempatkan diri membaca cerita ini~

Ayo ayo, kasih aku semangat dong di kolom review, siapa tau nanti bisa update kilat /ngarep banget lu/ /ditabok

Yosh, saatnya balas review! (Semua reviewnya kubalas di sini ya. Seriously, bales review pake PM lewat Hp itu ribet banget x'c)

Ni-chan XD : Hiks, keren apanya, ini aja aku updatenya lama :'' /nangis/ Uwuwu, yes, pasangan tsundere emang paliing best deh x'D Ah, Ni-chan sok tau nih. Nggak boleh sembarangan nuduh lho, kasian ayah Yaya kan kena fitnah /plak/ Ini udah dilanjut, semoga suka ya x3 Makasih reviewnya Ni-chan~

Egmist : Hmm, bener nggak ya, bener nggak ya~? Hayoo, Yaya Elvitch atau bukan? Maybe yes, maybe no /ditabok/ Nantikan saja jawabannya di chapter-chapter yang akan datang~ Makasih reviewnya~~

IntonPutri Ice Diamond : Yesh, sekali-kali mereka emang harus dipisah biar greget (?) Yaah, nggak ada salahnya berharap happy ending, kan? xD Makasih reviewnya~

Ililara : Nggak kok, nggak salah. Yep, Adu Du itu penasihatnya ayah Yaya dan dia yang ngerencanain pembunuhan Boboiboy. Makasih reviewnya~

Rampaging Snow : Hmm, bisa jadi sih. Liat aja nanti ;) Makasih reviewnya~

aisyah humaira : Ah, maaf lagi ya, kali ini juga nggak bisa update kilat :''( Ah, aku nggak bisa jawab pertanyaan-pertanyaan itu dulu. Liat aja di chapter-chapter depan nanti ya~ Makasih reviewnya~

Guest : Ini udah next, maaf nggak kilat. Makasih udah mampir~

Chikita466 : Ah iya, sama-sama~ Makasih review dan semangatnya~~

Vanilla Blue12 : Waalaikumsalam~ Emm, yah, pertanyaan itu bakal terjawab nggak lama lagi kok, jadi tunggu aja ya~ Makasih reviewnya~

blackcorrals : ahaha iya dong, harus selalu sedia plan B dalam hal apa pun /halah/ Ah, untuk GopalSiti aku masih belum ada ide, jadi mereka juga nggak banyak muncul di sini x'' Ah iya, kita sama-sama saling mendoakan aja ya supaya bisa terus ngelanjutin fanfic x''D Makasih reviewnya Corra~

Cellina274 : Iya dong~ Umm, mungkin sih /plak/ Maaf ya nextnya nggak kilat x( Makasih reviewnya~

Nurul2001 : Ah iya, ditunggu aja nanti yaa~ Bagus deh kalau paham :') Makasih reviewnya~

laurenzaaa : Nggak kok, belum. Matinya nanti-nanti aja /oi/ makasih reviewnya~

Cansa4003 : Eh iya, aku lagi pengen bikin fluff BoYa sih, jadinya banyakin yang kayak gitu :'') walau ujung-ujungnya nge-baper sih x'D Ecieee, iya dong, masa cuma pasangan utama yang terus maju, mereka kan juga mau xD Aku sebenarnya juga bayangin lagunya Tangled lol Ah, oke oke, diusahain nggak ada yang mati kok, mungkin sih /plak/ Makasih reviewnya~

wrkshtt : Ah, aku bakal usahain happy ending kok :') Jawaban itu tunggu bentar lagi ya, udah hampir kejawab kok. Makasih reviewnya~

siderz : Kaizo belum saatnya berperan, nanti dia juga bakal muncul kok x'D Iya dong, Probe di mana-mana harus tetap dinistain /ditabok/ Nggak kok, nggak sad end … mungkin sih xD Hayooo, Yaya Elvitch bukan ya~? Makasih reviewnya~

Baekday : Ah, nggak apa-apa. Makasih banyak udah mau membaca x'') Err, eheheh, mungkin aja mereka sama-sama bakal mati. Lebih baik daripada cuma salah satunya, kan? /oi/ Makasih reviewnya~

Airyn yyin : Iya, Totoitoy sebenarnya emang perlu kok, cuma aku nggak bisa sering munculin dia, susah cari momen yang tepat soalnya. Tapi Totoitoynya udah muncul sedikit di sini, kan? Makasih reviewnya~

Meltavi : Ah, Boboiboy belum saatnya mati, makanya nggak mati dulu /plak/ Di sini dia udah disiksa lagi kok :'' Yah, untuk sementara anggap aja masih misteri ya. Tenang aja, nggak lama lagi bakal terjawab kok x') Ah, nggak pernah menyinggung kok, malah aku senang banget sama review-reviewnya. Sering-sering yaa x'''D Uhuhuhu, makasih banyak buat doa dan semangatnya~ Dan makasih buat reviewnya~!

tasha : Thank youu~~ x'') And thanks for the review~

EruCute03 : Ah, belum kerasa ya? Aku nggak tega sih nyiksa Boboiboy terus :'' /tapi tetap aja disiksa/ Nanti deh ya kalau mau yang lebih sadis x''D Makasih reviewnya~

Fancy Candy : Uwaah, maaf menunggu lama x'' Ah di sini udah kutambahin FaYi, nanti bakal lebih banyak lagi kok tenang aja :') Makasih reviewnya~

Name urang : Ah, kalau mau tau nantikan aja kelanjutannya ya x''') Makasih udah mampir~

Dhiaz Rusyda N : Huhuhu, why minta Boboiboynya disiksa terus? Kan kasian dianya :'' /elus-elus kepala Boboiboy/ Wkwkwk ciuman panas, ya? xD Kasian banget ya mau ciuman aja sampe kena sial terus x''p /ditabok/ Yaah, Yayanya udah pulang tuh, gimana dong~? xD Ah maaf ya nggak bisa next kilat :''( Nggak abis kok, ini baru diisi ulang /emang apaan/ Makasih review (panjang) nya~

Yasmine : E-e-eeh, thank youuu~ x'''') But I don't think I can be called as 'International Author' yet, still thank you so much for that compliment (is it?) x'')

Jejjy Aul 29 : Ehehe makasih~ x') Makasih banyak dukungannya, dan reviewnya juga makasih~~

cutemuslimah : Ini udah next ya, maaf menunggu lama~ Ummm, diusahain happy ending kok, tenang aja x) Iya nggak apa-apa kok, yang penting kan review xD Makasih reviewnya~

lisarofita : Ini udah chapter 7 x'D Makasih semangatnya~ Maaf ya nggak bisa update kilat. Makasih reviewnya~

Syarif : Ini udah next ya, makasih udah mampir~

Riris liasari : Haloo, makasih udah menyempatkan diri membaca fanfic ini x') Iya, hehehe, nanti juga terjawab kok, ditunggu aja ya~ Oh, gambar? Aku biasanya pake aplikasi PaintTool SAI di komputer. Makasih untuk reviewnya~

karli sweet : Well, I'm glad you were enjoying that chapter~ Betul nggak ya~ Liat aja nanti, oke? /kedip-kedipin mata/ Thanks for the review~

Diah NF : Waah, makasih udah mau membaca fanfic ini x') Ah, makasih banyak x'') Dan makasih lagi untuk reviewnya~

Kalau ada yang reviewnya lupa kubalas bilang aja ya, aku sering silap soalnya x'D

Sampai jumpa di chapter depan~!