Bist du einsam neben mir?

Nie.

Apa kau kesepian di sampingku?

Tidak pernah.

Lima jam adalah waktu yang terlalu lama. Perjalanan dari lepas timur Regenbogen membutuhkan waktu tidak sedikit. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka tidak memiliki ban cadangan di bagasi belakang. Setelah dengan cepat mengganti kedua ban kiri yang meleleh, mereka bergegas kembali menuju Konoha.

Seperti mendapatkan represi dalam benak mereka, dengan kuat Naruto menginjak pedal gas. Mereka melaju dengan kencang. Tidak jauh di belakang mobil Tsunade dan yang lainnya mengikuti. Mereka beruntung karena ban mereka dalam keadaan baik-baik saja, mungkin Akatsuki tidak menganggap mereka sebagai ancaman lalu hanya menjadikan pihak Sasuke sebagai target.

Keadaan ini tidak memberikan waktu untuk mereka beristirahat sejenak. Tenaga terus terkuras untuk berpikir dan berharap. Berpikir bagaimana bisa Konoha diserang oleh Akatsuki dan berharap semuanya akan baik-baik saja.

Naruto dengan kuat menggenggam setir mobil, mengepal kuat dan menahan napas sejenak. "Sasuke?"

Sasuke hanya terdiam. Ia masih berada di dalam dasar pikirannya sendiri. Amarahnya sudah mencapai puncaknya, ia sudah bersiap untuk bertemu Itachi. Menghabisi laki-laki itu, nanti saat mereka bertemu. Bahkan jika memungkinkan pada detik pertama ia melihatnya, ia akan membunuh Itachi.

Namun, jangan pernah menyebut seorang sebagai laki-laki, jika tidak dapat menahan dirinya. Serancu apa pun keadaan, ia tidak boleh gegabah. Salah langkah saja bisa jadi itu menggali lubang kubur sendiri. Menggunakan logika dan pemikiran stabil, menetralisir hal negatif yang tidak penting adalah kegiatan yang bisa Sasuke lakukan saat ini. Walau toh, pikirannya masih bercabang dalam dua arah saling berlawanan.

Pertama, Akatsuki—persetan dengan semua anggotanya, ia hanya peduli dengan Itachi. Memedulikan kakak yang dulu ia kagumi, hanya sekadar untuk mengakhiri hidupnya. Tentu semuanya sudah tergambar jelas bagaimana nanti ia akan membunuh kakaknya karena setiap saat ia telah memikirkannya, selama dua belas tahun hidupnya setelah kejadian itu. Selalu tidak pernah terlewat satu hari tanpa memikirkan seribu kemungkinan untuk membunuh Itachi.

Kedua, ia memikirkan Sakura. Entah mengapa ia memikirkan gadis itu dengan segala kewarasan dalam dirinya yang masih tersisa. Tipis ia mengkhawatirkan gadis itu, walau sebenarnya ia yakin ia akan baik-baik saja. Ia tidak akan terluka karena Sasuke yakin efek Leben masih tersisa.

"Sasuke?" kali ini Sasuke menoleh, melihat ke arah Naruto yang menyetir.

"Akatsuki, apa tujuan mereka?"

"Genosida," ucap Sasuke pelan dan mengambil jeda satu embusan napas, "untuk mereka yang masih murni dan kemungkinan mengembalikan dunia pada titik seharusnya," lanjutnya.

"Ini salah pemerintah, eh?" tanya Naruto dengan kening berkerut, kedua tangannya kuat memegang setir, dan pandangannya semakin tajam melihat ke depan.

Terdiam sejenak. Bukannya menjawab pertanyaan Naruto, Sasuke menoleh ke arah Ino yang masih berkutat dengan komputer tabletnya. "Bagaimana?" tanyanya.

"Tidak bisa masuk. Shikamaru juga tidak menjawab pesanku."

Cih.

Naruto meninjak pedal gas lebih kuat saat pandangannya menangkap gerbang Konoha empat ratus meter di depannya.

Otot-otot mereka mulai berkedut, semakin dekat dengan kerangkeng raksasa itu—Konoha semakin pula mereka was-was. Ino dan Sasuke kembali bersiap dengan senapan semi otomatis mereka yang tersisa, mengarahkan ujung senapan ke depan. Penuh konsentrasi walaupun Naruto mengemudikan mobil yang mereka tumpangi tersebut dengan kasar.

Well, mereka telah dilatih menjadi tentara sejak kecil. Atau bahkan saat mereka masih di dalam kandungan, ayah atau ibu mereka telah membisikkan ke dalam perut di mana ia tumbuh tentang peperangan di dunia ini. Peperangan menuju akhir dunia dan kehidupan manusia, dengan harapan bahwa mereka akan bertahan dan mengubahnya.

Saat itu mereka telah sampai di gerbang depan Konoha. Segera mereka membuka pintu mobil dan berlari mendekat. Mengamati situasi. Setelah dirasa cukup aman terkendali, mereka bergerak memasuki gerbang yang tidak lagi dijaga.

Hingga mereka melihat mayat pertama yang menyambut mereka sesaat setelah mereka melewati gerbang Konoha.

Mata mereka enggan berkedip, seolah tidak percaya dengan apa yang mereka lihat di hadapan mereka. Keadaan wajah Konoha dari depan sudah tidak seperti saat mereka meninggalkannya sekitar sepuluh jam yang lalu. Perisai kaca raksasa yang semula mengurung manusia retak dan berlubang di mana-mana.

Konoha porak poranda.

"Sasuke, Naruto, Ino!" Sai berlari mendekati mereka sembari memegang lengan kanannya, agar tidak terjatuh. Rangkaian kabel dan logam itu sungguh terlihat merepotkan.

"Sai? Bagaimana?" tanya Naruto dengan nada melengking dan sedikit bergetar.

Sai terdiam sejenak, kemudian ia berbalik dan meminta mereka untuk mengikutinya.

Hal selanjutnya yang mereka lihat membuat perut kosong mereka seolah ingin memuntahkan segalanya, walau itu angin dan asam lambung sekalipun.

Ribuan mayat manusia tergeletak di sembarang tempat. Jika saja mereka mati karena racun atau hal lain yang setidaknya membuat tubuh mereka tetap utuh, itu bisa disebut dengan keberuntungan. Namun yang ada sebagian besar dari mereka tewas karena tebasan dan timah panas yang menembus tubuh.

Para petugas medis dan orang-orang yang selamat berusaha mengumpulkan mereka dalam satu titik. Mencatat data seperlunya, berjalan ke sana dan ke mari tanpa lelah walau mereka dalam keadaan terluka, bahkan dengan darah yang masih menetes pelan.

Kematian mereka pastinya bukanlah hal yang menyenangkan dan tanpa rasa sakit. Ada banyak dari mereka yang masih berusaha meraih oksigen untuk mengisi paru-paru mereka, dengan suara tenggorokan keras yang tidak nyaman didengar dengan indera pendengaran. Suara atas usaha mempertahankan napas tetap ada yang tercekat di kerongkongan, bergeseh dengan faring. Suara perjuangan hidup mereka agar jantung mereka tetap berdetak. Bernapas dan terus bernapas tanpa pernah sedetik pun memperdulikan luka dari timah panas yang menembus beberapa bagian tubuh mereka, atau luka dari sayatan logam yang dalam—bahkan ada yang tersayat hampir putus. Semuanya terlihat begitu menyedihkan. Mereka mungkin sebelumnya adalah manusia yang ditakuti dan angkuh, namun di saat ini mereka tidak ada bedanya dengan sepotong daging tanpa nyawa.

Ya, embusan napas mereka sudah tidak berharga lagi. Tidak ada yang bisa dimungkiri lagi.

Ada banyak bagian-bagian tubuh manusia berceceran di tanah, dengan warna merah yang semakin menghitam. Lalu, tidak sedikit robot dan manusia setengah robot yang hancur menjadi kepingan rongsok tidak berguna. Seperti halnya manusia, mereka sudah bertemu pada titik akhir hidup.

Ada banyak denyut jantung elektrik yang masih berfungsi. Terlalu banyak. Namun sayang, tubuh dari pemilik jantung buatan itu telah hancur. Sama saja—tidak ada artinya.

Saat mendengar informasi bahwa mereka musnah dari ketidakmampuan Konoha sendiri membuat segalanya menjadi lebih ironis. Rangkaian logam yang menyebar ke mana-mana. Robot rekayasa Konoha sendiri telah menghancurkan diri mereka sendiri. Akatsuki telah berhasil mengusai sistem jaringan Konoha, mengendalikan para robot tersebut untuk menghancurkan Konoha, kemudian dihancurkan dengan asumsi bahwa Akatsuki tidak ingin terlalu repot mengurusi robot-robot tersebut.

Kehilangan dua per tiga dari penduduknya dan hanya menyisakan sebagain besar anak-anak dan wanita, membuat Konoha mau tidak mau harus memulai segalanya dari titik nol.

Entah mereka akan menghitung maju untuk kemajuan atau menghitung mundur kehancuran, tidak ada yang tahu.

Apa yang bisa anak-anak itu lakukan? Berperang balik melawan Akatsuki? Itu sama saja dengan tindakan bunuh diri. Mungkin akan membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun untuk memperbaiki segalanya.

Detik dan menit sudah tidak dapat disadari berjalan lagi, tidak terasa waktu dalam satu hari itu berlalu dengan cepat. Hanya dengan sebuah rapat kecil antara para petinggi Konoha yang masih tersisa, jabatan-jabatan yang telah kosong kembali diisi. Tsunade diangkat menjadi Hokage. Sasuke diangkat menggantikan ayahnya.

Semua berlangsung hanya dalam satu hari. Roda kehidupan tidak pernah terasa berbalik secepat ini.

Tidak ada upacara pelantikan atau pesta atau semacamnya. Ya, bagaimana mungkin mereka berpesta di atas tanah kubur orang-orangnya sendiri yang baru digali beberapa waktu yang lalu? Apa pun itu hanyalah sebuah formalitas untuk mengantisipasi serangan dari negara lain. Mereka sudah setengah hancur, jadi tidak mungkin meminta lebih dan sepenuhnya hancur.

Sasuke menatap tanah lapang yang dulu ia gunakan sebagai tempat latihan. Dari sudut jendela ini dulu ia sering melihat Itachi berlatih.

Ck. Saat mengingat hal itu, ego Sasuke seakan hendak memegang kendali penuh. Menghancurkan segala benda di sisinya, semacam egonya tidak mengizinkan deru napas mengusik ruang kecil hidupnya. Seperti Itachi, kakak yang telah mengusik kehidupannya, memutuskan setiap helai benang kehidupannya, dan merebut semua milik Sasuke. Bukan untuk dimiliki oleh Itachi sendiri, namun untuk dihancurkan—dimusnahkan hingga sirna dari dunia ini. Dan agar Sasuke tidak dapat merasakan kehidupan itu lagi.

Sebenci apa Itachi pada Sasuke waktu itu, apa bisa sebanding dengan kebencian Sasuke pada Itachi saat ini?

Suara decit engsel pintu mengalihkan perhatian Sasuke. Pria itu berbalik dan menatap ke arah daun pintu, dari sana dengan pencahayaan yang minim, ia bisa melihat Tsunade berjalan masuk. Wanita paruh baya tersebut sudah berganti pakaian lengkap dengan atribut kenegaraan sesuai jabatannya—tidak lain tidak bukan jabatan yang baru saja diperolehnya kurang dari 12 jam yang lalu.

"Kau ingin bertemu denganku?" tanya Tsunade.

Tanpa ada obrolan pembukaan ringan, Sasuke berjalan mendekati Tsunade. Ditatapnya coklat madu kembar tersebut lekat-lekat untuk mencari sebuah jawaban tentang segala hal yang belum ia ketahui mengenai Sakura.

Dalam diamnya Sasuke, wanita paruh baya itu tampaknya bisa menyimpulkan sesuatu.

"Sakura, ya," Tsunade berdecik pelan, "kau sudah tahu apa yang perlu kau ketahui. Informasi lebih akan menghancurkanmu."

"Aku tidak pernah utuh," jawab Sasuke kemudian ia berjalan mendekati Tsunade, melepaskan lencana militer yang menempel di pakaiannya dengan kuat dan menyerahkannya pada Tsunade, "bagaimana bisa aku hancur?"

Perlahan tangan Tsunade meraih lencana itu. Sebuah lencana yang biasa dipakai oleh menteri pertahanan Konoha. Sebuah lencana yang baru saja berpindah tangan, dari Fugaku ke Sasuke, namun tetap masih ada Uchiha mengekor di belakangnya.

Tidak ada kata yang terlontar dari mulut keduanya.

Kemudian Sasuke berjalan keluar melewati Tsunade.

"…apa ini?"

Sasuke melihat Tsunade dari ujung matanya, menerka apa yang dipikirkan wanita itu dengan sebuah kemungkinan bahwa semuanya akan menjadi sedikit lebih cerah. Ia sudah muak dengan kegelapan dan imitasi hidup ini.

"Aku akan membawanya kembali."

Terus kedua onyx kembar itu mengamati Tsunade. Berusaha memancing sebuah reaksi. Apa mungkin dengan menyebut nama Sakura membuat wanita itu olah? Benar saja, suara gemertuk gigi dan decakan kaku Tsunade perlihatkan.

Well, itu sudah cukup. Karena Sasuke menjadi tahu, bahwa Sakura juga berharga untuk Tsunade. Mungkin seperti putrinya sendiri yang belum sempat ia miliki?

Sasuke akan membawa Sakura kembali. Itu sebuah janji. Bukan ditujukan untuk Tsunade melainkan untuk dirinya sendiri. Agar Sakura kembali, ke sisinya, kembali meneruskan kehidupan singkat yang sempat Sasuke rasakan. Walau itu hanya sejenak, di samping Sasuke untuk membuat segalanya menjadi lebih baik.

Tidak bisa dimungkiri, walau tidak lebih dari tiga bulan Sakura bersama Sasuke, keberadaannya membuat perubahan besar yang tidak pernah Sasuke sendiri bayangkan. Mengubah bagaimana ia memandang dunia, bagaimana ia menyikapi hidup, dan menyadari siapa dirinya sendiri. Menemukan sebuah tujuan hidup lain selain untuk membunuh Itachi.

Itu akan membutuhkan pengorbanan yang besar.

Setiap tetes keringat Sasuke saat berlatih untuk menjadi lebih kuat, semuanya akan terbayar.

Ia akan membunuh Itachi dan kembali bersama Sakura, walau Sasuke sendiri tidak yakin dengan batas waktu hidupnya, kapan nyawanya akan terlepas dari raga—setidaknya ia sudah memutuskannya, bukan?

"Tunggu," Tsunade menghalanginya. Wanita paruh baya tersebut memberikan sebuah botol kecil yaitu cairan Leben yang terakhir.

"Gunakan dengan bijak. Waktu kalian sama-sama terbatas."

Sasuke menerimanya dan mengangguk, kemudian pergi.

"Sasuke, kami akan menyusulmu besok."

"Aa."

Dan ia menghilang dari balik pintu. Berjalan dengan pasti tanpa melihat ke belakang lagi. Terus ke depan, menguatkan setiap langkah, pergi ke mana seharusnya ia berada, di tempat mereka membawa Sakura.

Satu-satunya tempat yang memungkinkan adalah satu dari sekian banyak markas Akatsuki berada, dan kali ini mungkin Sasuke akan berterimakasih pada ikatan darah kental yang ia bagi bersama Itachi. Karena dengan mutasi terkutuk yang telah turun temurun ada dalam darah mereka, Sasuke bisa merasakan keberadaannya, walau itu perlu sedikit pengorbanan.

Menyeringai tipis, Sasuke memejamkan mata. Onyx kembar kemudian tertutup kelopak, saat mereka terbuka yang terlihat adalah mata merah gelap dengan bentuk pupil yang aneh—tidak pernah terlihat sebelumnya, namun dengan bintik hitam pada beberapa bagian yang sama.

"Aku datang mengantarkan kematianmu, Nii-san."

Sasuke menggigit ibu jarinya dengan kuat, perlahan darah merah segar mengalir. Namun sedetik kemudian darah keluar dengan hebat, mengambang di udara dan bergerak menuju arah barat. Membimbing Sasuke menuju Itachi.

Semoga tidak terlalu jauh, sebelum ia kehabisan darah dan mati. Itu akan terlihat konyol.


die Farbe

Chapter 7 : Braun


Mata Sakura terasa sangat berat untuk dibuka. Tubuhnya lemas dan nyeri bukan main. Sekuat tenaga ia berusaha memperoleh penuh kesadarannya.

"Dia sudah bangun."

Ketegangan aneh Sakura rasakan. Kedua tangannya diborgol dengan rantai besi menjuntai ke lantai. Mengerjap perlahan, ia membuka matanya. Menemukan mata onyx kembar dalam pandangannya. Mata onyx yang hampir serupa dengan milik Sasuke. Itu bukan milik Sasuke karena beberapa skala lebih dingin dan tajam, lalu tidak ada rasa nyaman yang menjalar menyebar di dalam tubuhnya saat melihat kedua bola mata onyx tersebut.

"Terkejut, huh?"

Sakura mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Ia melihat beberapa laki-laki yang sepertinya sedang menunggunya untuk terjaga. Kemudian perhatiannya kembali teralih ke seorang pria berambut pirang yang sembari tadi berbicara.

Bak dilempar sebuah kerikil, dalam benaknya ia mengutuk dirinya sendiri. Sakura sangat sadar bahwa kini ia berada di wilayah musuh.

"Atasi dia, Sasori," ucap salah seorang dengan beberapa logam besi kecil bertancap di wajahnya, kemudian orang tersebut beranjak dari tempatnya berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan itu.

Saat seorang pria berambut merah berdecak sebal, Sakura menduga bahwa pria itu adalah Sasori.

Semua orang di ruangan itu keluar satu per satu, meninggalkan Sasori dan Sakura.

Setelah beberapa saat, Sasori mendekati Sakura kemudian berjongkok untuk mengambil posisi sebuah garis linier antara pandangan mereka, menyamakan tinggi kepala mereka. Sasori mengamati gadis itu sejenak.

"Kau bisa hidup selama sembilan belas tahun," Sasori mengangkat dagu Sakura dengan tangannya, memaksa gadis itu untuk melihat ke arah Sasori, "terlalu hebat untuk seorang mutasi, huh?"

Sasori berdiri dan berjalan mendekati sebuah meja berisi penuh dengan gelas-gelas kaca dengan berbagai ukuran. Kemudian ia mengambil sebuah jarum suntik.

"Kami mendapatkan ini dari Konoha," ucap Sasori sembari mengisi jarum suntik tersebut kemudian menyeringai tipis, "kau tahu? Walau belum sempurna setidaknya ini cukup untuk menetralisir Leben di tubuhmu."

Sakura mengerutkan keningnya.

Sasori kembali mendekati gadis itu, "Kau hanyalah sebuah kelinci percobaan." Menarik rambut Sakura dengan kuat hingga membuat gadis itu mengerang kesakitan. Sakura berontak, ia menggerakkan badannya sekuat tenaga, berusaha terlepas dari Sasori. Terus dan terus tanpa berpikir bahwa hal itu akan sia-sia, karena bagaimanapun juga sebuah borgol dengan rantai menjuntai telah mengikat dirinya dari dunia luar sana. Menahannya melihat dunia, mengikatnya dari dunia, dan menyegel harapannya untuk bebas.

Sebuah sentakan lengan kuat dari Sasori membuat tubuh mungil Sakura terhentak ke lantai. Rasanya beberapa tulang dalam tubuhnya terlepas—dislokasi.

"Aah," Sakura hanya bisa mengeluarkan sebuah jeritan kecil. Sisa tenaganya ia gunakan untuk mengencangkan otot-otot dalam tubuhnya agar rasa sakit berkat tulang-tulang yang ia sendiri tidak tahu masih utuh atau tidak itu hilang, karena rasa sakit itu menusuk terlalu dalam.

Sakura menatap sayu Sasori. Pria itu perlahan menyisihkan lengan Sakura, mengamatinya sejenak mencari sebuah pembuluh darah yang akan membawa cairan dalam suntikan tersebut cepat menyebar ke tubuh gadis ini. Lagi, ia menyeringai tipis dan memposisikan jarum suntiknya, "Di neraka nanti, ucapkan salamku pada gadis berambut merah itu."

Rambut merah? Karin?

Gadis itu adalah satu-satunya orang berambut merah yang Sakura temui. Hal itu mengingatkannya pada rasa gigitan semut aneh yang tipis ia rasakan. Ya, walau saat itu ia belum bisa merasakan lingkungan sekitarnya dengan penuh karena baru saja ia mendapatkan asupan hidup bagi mereka yang bermutasi—cairan Leben. Mungkin ia tidak cerdas dan tanggap, tapi ingatannya sangat kuat. Sakura berani bertaruh bahwa saat itu Karin melakukan sesuatu padanya.

Kemarin ia belum sempat menanyakannya pada Sasuke.

Ah, Sasuke.

Lalu kejadian berubahnya sebuah botol kecil menjadi pasir lembut di kamar Sasuke. Kedua tangannya mengubah sebuah botol tidak berdosa menjadi butiran pasir lembut.

"Kau lumayan cantik," Sasori menyeringai mengalihkan perhatian Sakura. Tatapan mata Sakura mengeras. Jika tatapan bisa membunuh, mungkin Sasori telah mati beberapa kali dalam beberapa menit mereka bersama di ruangan ini. Perlahan tangannya menelurusi rambut panjang Sakura dengan lembut. Sedetik kemudian tangan itu menjambak rambut Sakura.

"Tenang. Kau tidak akan mati sia-sia," Sasori menguatkan cengkraman tangannya di rambut Sakura, "kau akan kuubah menjadi salah satu koleksiku."

Sakura mengangkat alisnya.

"Seni yang abadi sama sepertiku."

Sakura merasakan sebuah tusukan jarum membenam cukup dalam menembus kulitnya. Bertemu dengan pembuluh nadinya. Sekuat tenaga ia berusaha menahan setiap rasa yang akan muncul beberapa detik berikutnya. Bukan sekadar rasa sakit bak gigitan semut, melainkan hal yang lebih emosional. Ia ingin hidup, terus hidup, dan selalu hidup.

Apa itu adalah hal yang terlalu serakah untuk diminta? Tidak tahu, sungguh ia tidak tahu.

Sakura menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Pikiran Sakura buyar. Otaknya berkerja dengan keras berusaha menemukan solusi untuk keadaan ini. Ia tidak akan mati setelah menemukan segalanya kembali. Tidak akan setelah ia menemukan Sasuke, Tsunade, dan yang lainnya. Memiliki teman-teman dan hidup selayaknya sebagai manusia.

—tunggu.

Hingga titik demi titik yang menganggu pikirannya bisa ia hubungkan. Otot-otot dalam tubuhnya menjadi sedikit lebih rileks. Tipis, sangat tipis Sakura menyeringai.

Sasori mencabut jarum suntik itu dengan sembarang, membuat luka goresan tipis di lengan Sakura. Pria itu berdiri dan berbalik berjalan membelakangi gadis yang kini tengah berusaha mengatur napasnya. Napas itu tidak berat dan memaksa, namun napas yang kian melembut seolah empunya telah sadar bahwa mengambil napas lebih tidak akan berguna karena kematian sudah ada tepat di hadapannya matanya.

Sasori salah besar hingga ia tidak sadar bahwa rantai besi yang mengikat kedua tangan Sakura perlahan luluh menjadi pasir. Tidak ada lagi rasa kaku terbelit besi. Sakura telah bebas.

Ia tidak akan mati, Sakura sadar itu karena cairan yang Sasori tusukkan ke dalam tubuhnya bukan sebuah permainan. Bagaimanapun juga, Sakura harus tetap berusaha hidup dan keluar dari tempat ini.

Perlahan Sakura berdiri tanpa disadari oleh Sasori. Saat ia yakin keseimbangan tubuhnya sudah cukup untuk bergerak. Memejamkan matanya perlahan dan mengela napas sedalam-dalamnya, Sakura bersiap untuk mengambil sebuah risiko besar.

Sasuke, apa dia pernah mengorbankan sesuatu yang besar untuk orang lain? Sakura bertanya tentang itu, karena ada sebuah perasaan bahwa Sasuke juga melakukan pengorbanan yang besar dalam hal ini. Tidak adil rasanya jika hanya Sasuke yang menderita. Sakura juga turut akan melakukannya bersama, walau itu seharga dengan nyawanya sendiri.

Mengepalkan tangannya kuat, Sakura berlari menerjang Sasori. Mereka berdua terjatuh. Saat ada kesempatan kedua tangan Sakura dengan sigap mencekik leher Sasori dengan kuat. Seluruh emosinya ia tuangkan ke dalam cengkraman tersebut. Peluh menetes dari pelipis matanya, napasnya menderu bersamaan dengan semakin menguatnya cekikan itu.

Berguling dan mengambil posisi duduk di atas tubuh Sasori.

Sasori hanya melihat Sakura tanpa ekspresi. Sekadarnya Sakura heran. Jika saja memang Akatsuki itu adalah kumpulan orang-orang kuat, mengapa Sakura bisa dengan mudah melumpuhkannya?

Hah, memikirkannya membuatnya semakin ingin memperkuat cekikan itu hingga leher pria di hadapannya itu putus.

Sakura terkejut saat sebuah tangan menangkap pergelangan tangannya, namun tidak bergerak. Dilihatnya Sasori yang kini menyeringai lebih lebar dari sebelumnya.

"Percuma. Aku bukan manusia."

Sakura terkejut. Pantas saja ia tidak merasakan arus aliran darah kecil yang mengalir, tidak merasakan rasa hangat suhu tubuh manusia, tidak merasakan embusan napas yang berarti. Seperti disiram air es dengan suhu nol derajat celcius—atau lebih jika sesuatu yang bersuhu di bawah nol derajat bisa disebut air—tangan Sakura berkeringat dingin dan gemetar. Ia mengutuk segala benda yang terlintas di dalam benaknya. Persetan dengan mutasi, robot, atau manusia. Sakura hanya ingin bebas dan keluar dari tempat ini.

Memperkuat cengkramannya. Kuat, semakin kuat, dan sangat kuat. Sampai-sampai Sakura seakan merasakan setiap tulang ruas jarinya akan rontok. Gigi-giginya bergemertak sambil terus menggumamkan kata-kata kasar yang ia tahu. Sungguh nalarnya telah menguap bersamaan dengan suhu tubuhnya yang semakin dingin. Menjadi dingin yang Sakura terka karena cairan entah apa yang tadi.

"Kau sebuah benda," gumam Sakura yang perlahan kembali pada nalarnya. Kemudian tersenyum tipis.

Sasori mengangkat sebelah alisnya, lalu pada tangannya ia mulai memberikan sebuah perintah untuk bergerak menyingkirkan tangan Sakura. Namun gadis itu tetap bersikeras pada posisinya, "Justru karena bukan manusialah kau akan mati!"

Lagi, memperkuat cengkraman kedua tangannya hingga membuat Sakura harus memejamkan mata. Seluruh tenaga dan pikirannya ia fokusnya pada cengkraman tangannya. Berusaha mengingat bagaimana bisa ia mengubah sebuah botol menjadi butiran pasir. Saat itu ia merasa marah dan tidak tahu lagi yang harus ia lakukan.

Sebuah suara retakan benda tidak mengendorkan tangan Sakura. Saat leher manusia buatan Sasori retak, Sakura tidak sadar. Perlahan pasir-pasir mulai terbentuk. Dari leher menyebar bersamaan ke dua arah, kepala dan badan hingga menuju ujung kaki. Kedua tangan Sakura bertemu tanpa terpisahkan oleh leher Sasori. Tubuh Sasori telah berubah menjadi pasir. Ya, tidak ada bekas keberadaan Sasori selain butiran-butiran pasir lembut tak berguna.

Tidak menyisakan sedikit pun sejak kehidupan.

Tubuh Sakura melemas. Ia merasakan detak jantungnya semakin melemah. Namun napasnya semakin ringan dan terasa damai. Perlahan ia berdiri dan hendak berjalan keluar saat ia merasakan kakinya bertemu dengan lantai besi. Mengamatinya sejenak kemudian kembali berjongkok. Diusapnya butiran pasir 'mayat' Sasori. Sakura menemukan sebuah pintu terowongan bawah tanah. Saat masih kecil ia sering bersembunyi dan kabur melewatinya.

Tunggu. Apa mereka sebodoh ini dengan membiarkan Sakura berada di sebuah ruang dengan jalan keluar yang begitu mudah? Atau mereka menganggapnya remeh? Atau mereka telah menyiapkan sebuah perangkap?

Suara langkah kaki dari kejauhan samar terdengar. Sakura sedikit panik. Sekilas ia melihat ke sekeliling ruangan itu.

Sebelum tubuhnya benar-benar tidak berdaya dan sebelum pemilik dari langkah kaki itu datang, Sakura harus segera pergi. Lupakan segalanya pertanyaan tentang terowongan tersebut. Ia membuka pintu besi tersebut dan dalam satu pijakan pasti ia memasuki terowongan tersebut. Berjalan menjauh sejauh yang ia bisa, mengikuti ke mana terowongan ini akan membawanya.

Saat ia keluar dari terowongan yang terbenam di bawah tanah. Kakinya terasa lemas seperti dipotong-potong menjadi beberapa bagian, napasnya menderu, dan pandangannya kabur. Menerawang melihat ke dapan, dalam pandangannya terbentang padang savana yang luas. Walau itu samar dan gelap, setidaknya angin masih sudi membimbingnya. Mungkin pernah menjadi buta adalah hal yang menguntungkan, karena indera perabanya menjadi semakin peka.

Padang savana ini terlalu luas, bahkan Sakura tidak melihat adanya cahaya lampu atau tanda-tanda manusia dalam jarak pandangnya.

Ini akan membutuhkan banyak tenaga lagi setelah beberapa jam ia berjalan menelusuri terowongan gelap dan pengap.

Sekali lagi melihat ke arah di mana ia baru saja muncul, memastikan tidak ada yang mengikutinya dari belakang. Lalu dalam gelapnya malam ia berjalan sendiri ke arah yang kakinya tentukan untuk membawa dirinya. Karena pada dasarnya Sakura tidak mengenal arah dan tujuan.

Sendirian dan terlupakan. Mungkin kematian tidak lebih menakutkan dari kedua hal itu. Merasakan kesepian saat itu membuat harapannya semakin menciut.

Ia berusaha tetap terjaga agar tidak terjatuh, membiarkan kakinya tetap tegap berjalan. Luka-luka di tubuhnya belum juga menghilang walau mereka menutup secara perlahan.

"Sakura."

Sakura menghentikan langkahnya saat ia merasa ia mendengar suara Sasuke. Dalam benaknya ia bertanya, apa seberharga itukah Sasuke untuk dirinya sehingga Sakura terus mengharapkan kehadiran pria itu? Bahkan tanpa koordinasi yang disadari, Sakura sendiri akan selalu ada untuk Sasuke. Ia pelengkap hidupnya.

"Sakura."

Sakura mendonggak melihat lurus ke depan dan matanya membulat. Di sana berdiri Sasuke, di depan sebuah mobil van tua. Tubuh Sakura menegang dan gemetar secara bersamaan.

Satu langkah, Sasuke mendekati Sakura. Tatapan mata mereka bertemu namun mereka masih terdiam di tempat masing-masing.

Sasuke kembali melangkah mendekati Sakura. Selangkah demi selangkah. Dalam pandangan mata Sakura yang buyar, sosok Sasuke tidak jelas. Dua, tiga, dan empat langkah hingga kini mereka hanya terpisah satu meter.

Mata onyx itu menatap lurus ke emerald kembar milik Sakura. Seperti tenaga Sakura telah terkuras habis dan membuat kakinya tidak mampu menopang seluruh tubuhnya, ia terjatuh. Namun sebelum benar-benar menyentuh tanah savanna yang kering, tangan kekar Sasuke menopangnya. Kuat, sangat kuat mendekapnya.

Seolah lega karena dapat bertemu kembali dengannya dan tidak ingin lagi kehilangannya. Apa bisa digambarkan dengan kalimat sesederhana itu? Tidak. Tidak bisa karena semuanya ada bertumpuk-tumpuk, tidak tahu mana yang harus diutarakan terlebih dahulu.

"Kau baik-baik saja, Sakura?" tanya Sasuke dengan nada tipis kekwatiran.

Sakura dengan lemah mengangguk dan mencoba mengembalikan fokusnya. Perlahan berdiri namun sekali lagi Sasuke menopang tubuhnya. Membimbing Sakura menuju mobil van.

Beberapa menit sebelum Sasuke menyadari ada sebuah gerakan di depannya, sensor darahnya sudah berhenti membimbingnya menuju Itachi dan itu menandakan bahwa kakaknya itu sudah hampir terlihat dalam jangkauannya.

Mungkin Sasuke harus menunggu hingga esok hari untuk melanjutkan perjalannya, saatpikiran bala bantuan datang. Karena dimensi waktu sudah tidak mau bersinergi dengan hidupnya. Detak jantungnya semakin melambat seolah ingin menghemat energi yang tersisa.

"Masuklah, di luar dingin."

Mereka masuk ke jok belakang mobil dan Sasuke membaringkan Sakura di sana.

Dalam gelapnya malam pun, Sasuke bisa mengetahui bahwa di tubuh Sakura ada beberapa luka goresan yang masih terlihat dan terasa saat ia menyentuhnya tadi. Lalu erangan kesakitan saat ia berjalan tadi. Gadis ini tidak baik-baik saja. Belasan pertanyaan mengenangi Akatsuki dan Sakura sekuat tenaga Sasuke telan kembali agar tidak terucap. Ia menyadari bahwa Sakura tidak dalam kondisi yang tepat untuk menerima dan menjawab pertanyaan tersebut.

Saat Sasuke menjauhkan dirinya dari Sakura, dengan lemah gadis itu mengambil posisi duduk menahannya. "Jangan pergi."

Sasuke terdiam lalu mengamati Sakura dengan saksama, kedua tangan gadis itu mengepal dan bersandar di dadanya. Perlahan suara napas terdengar semakin jelas.

Sakura gemetar dan Sasuke menyadari hal itu.

"Kau terluka?" tanya Sasuke.

"Aku baik-baik saja."

"Hn."

Sasuke agak ragu dengan kebenaran dari jawaban Sakura tersebut.

"Aku baik-baik saja," ucap Sakura lagi.

Tapi dengan ucapan itu, Sasuke hampir seribu persen yakin bahwa Sakura tidak baik-baik saja. Peristiwa apa yang gadis itu alami selama mereka terpisah menjadi pengganjal utama pikiran Sasuke saat ini.

"Apa yang—"

"Aku baik-baik saja," lagi, kata itu terlontar dari bibir Sakura yang memucat untuk ketiga kalinya dalam rentang waktu dua menit. Seolah meminta Sasuke untuk menyimpan segala pertanyaan atau terkaan yang tersusun di benaknya. Simpan untuk nanti, karena saat ini semuanya begitu berat untuk dipikirkan dalam satu waktu.

Memijat pelipis matanya pelan berusaha menipiskan rasa pening yang ia rasakan, Sasuke perlahan merengkuh Sakura ke dalam kedua lengannya. Menjaganya tetap dekat dan menyiratkan bahwa Sasuke ada di sini, di depan Sakura, bersamanya. Maka semuanya ketakutan itu akan sirna, itu harapannya.

Semua akan baik-baik saja, semua pasti baik-baik saja.

Dalam satu lini masa, mereka kembali bersama. Itu fakta yang harus mereka sadari.

Sasuke menatap horizon dengan nanar. Batas waktu hidup mereka telah terpangkas beberapa inci. Kemudian ia melihat luka memar di pergelangan tangan Sakura yang perlahan kembali seperti semula, menjadi daging dan kulit segar mulus. Memang gelap tapi Sasuke bisa merasakan dan mencium keanehan dari bagian tubuh tersebut. Walau telah bermutasi, Sakura tetaplah manusia.

Ya, tidak seperti dirinya yang mendapatkan organ-organ elektrik. Bukan setengah robot, tapi hampir mendekati.

Sakura tersenyum lemah dan Sasuke bisa merasakan hal itu. "Senang, eh?"

Sakura mengangguk pelan dan semakin membenamkan wajahnya di dada bidang Sasuke. Menghirup aroma khas yang tidak pernah gagal membuat tubuhnya lemasmerasakan sensasi aneh.

Sasuke tersenyum tipis. Ia mengacak-acak rambut Sakura, kemudian mencium lembut kepala gadis itu.

Sasuke mendekap Sakura erat. Semakin lebih erat dalam mikromosmos mereka sampai matahari berada pada derajat yang bisa menerangi daun-daun dari pepohonan kecil yang layu, dalam bentang savana, tanpa kehidupan malam tersebut.

Die Blätter, die grün sind, werden braun. Sie flattern im Wind und zerkrümeln in deiner Hand.

Daun-daun yang hijau menjadi cokelat. Mereka bergetar dalam angin dan hancur di tanganmu.