Chapter 7 : Showdown

Sejak itu, para penjaga menyerah. Mereka sudah capek mengejar Blue Spirit. Kedamaian pun tercipta di desa Jang Hui, kecuali di bagian polusinya.

Setelah banyak penyakit kulit terjangkit dan beberapa bayi terlahir cacat karena limbah, kepala desa mengadakan rapat sekali lagi membahas kesejahteraan hidup mereka. Akhirnya Hakoda memutuskan untuk memperkenalkan desa Jang Hui pada pemerintah setempat. Ia masih percaya bahwa pemerintah pasti mau menyelamatkan mereka, andai desa Jang Hui sudah resmi menjadi wilayah Negara Api.

Karena hari masih pagi, Hakoda tidak mau membuang waktu. Ia membawa Sokka untuk ikut bersamanya berjalan menuju kantor pemerintahan untuk melaporkan ketidak nyamanan mereka di desa.

Namun terjadi pro kontra akan keputusan Hakoda. Terutama dari Katara. Ia sangat marah. "Tidak perlu, Ayah! Hanya membuang waktumu saja."

"Setidaknya kita berusaha, Katara." Kata Hakoda.

Katara menegaskan pendapatnya. "Pangeran Negara ini, Zuko pernah tingal berbulan-bulan dengan kita di sini, dan sekalipun ia sudah menjadi bagian dari warga Jang Hui, namun ia tetap menolak untuk menolong kita! Bahkan pangeran sendiri pun menasihati kita untuk pasrah saja pada nasib! Apalagi bawahannya!"

Sokka berusaha menasihati adiknya dengan pelan-pelan. "Katara, ia mengatakan itu karena Jang Hui tidak diketahui oleh administrasi Negara. Barangkali akan lain ceritanya bila kita sudah memperkenalkan desa ini pada Negara."

"Barangkali? Tidak, Sokka. Kau lihat pabrik itu, siapa pemiliknya? Pasti orang kaya dan berpengaruh di Negara ini. Tapi kenapa dia bisa mendirikan pabriknya di sana? Tidak mungkin orang bisa mendirikan pabrik bila tidak memiliki surat resmi. Dengan adanya pabrik itu, berarti pemerintah pun sesungguhnya sudah mengetahui keberadaan daerah ini, tidak mungkin mereka tidak mengetahui Jang Hui!" Kata Katara.

"Aku setuju dengan Katara." Kata Aang. "Aku menolak usul damai. Menurutku kita harus berjuang sendirian."

Mendengar itu para penduduk menjadi geger. Hakoda menasihati Aang. "Kau gila!? Kita ini hanya masyarakat miskin dan lemah yang sudah terkontaminasi limbah. Bagaimana mungkin bisa menang melawan mereka?! Kau sendiri melihat para penjaga tersebut, mereka sangat kuat! Kita bisa apa? Kita hanya bisa berharap pada pemerintah."

Aang kemudian memutar tubuhnya menghadap seluruh warga Jang Hui yang berdiri dibelakangnya. "Kurasa ini saatnya aku mengungkapkan jati diriku. Aku ini adalah seorang avatar. Percayalah padaku. Aku akan membela kalian!"

Para penduduk sangat senang mendengar hal tersebut. Mereka mendadak seperti mendengar kabar yang luarbiasa bagusnya dan mengelu-elukan Aang. "Hidup avatar! Hidup Avatar!"

Pada awalnya, Aang hanya mengajak mereka yang pandai berkelahi saja untuk menyerbu pabrik itu. Akan tetapi serbuan itu tidak berlangsung mulus. Beberapa warga malah ditawan. Para penjaga memanggil para bounty hunter untuk turut membantu mereka sejak mereka menyerah memburu Blue Spirit. Mereka takut Blue Spirit dan Painted Lady menyerbu pabrik dan mereka dikalahkan lagi.

Dengan bantuan para bounty hunter, serangan pertama mereka berhasil dipatahkan dan para penyerang pun kocar-kacir melarikan diri. Aang terbang ke tengah hutan untuk mencari mereka yang tersesat di hutan.

Para penduduk desa yang terpencar di hutan berhasil kembali dengan selamat ke desa mereka pada malam harinya. Malam itu para kepala keluarga kembali mengadakan rapat, kali ini Aang terlibat. Aang meminta maaf karena usulnya benar-benar gagal. Namun para penduduk tidak mengambil pusing. Mereka sudah siap akan kegagalan itu dari awal.

Keesokan harinya, Sokka yang sedang berjalan-jalan di sekitar pabrik, melihat bahwa banyak bounty hunter yang mendatangi pabrik itu. Dan melihat itu, ia pun sadar bahwa para oknum pabrik sedang membangun pasukan untuk menyerbu Jang Hui. Dan dari percakapan mereka, diketahui bahwa yang mereka incar adalah Avatar. Karena Avatar masih memiliki nilai bounty tinggi atas kepalanya.

Sokka segera kembali sambil membawa kabar mengejutkan itu. Aang pun bertekad untuk memancing para bounty hunter untuk pergi menjauhi desa, dengan ia bertindak sebagai umpan. Namun Katara melarangnya. "Jangan bodoh! Jangan kau hadapi mereka sendirian, kita ini keluarga besar!"

Namun Aang bertekad bulat. "Aku tidak bisa. Kedatangan para bounty hunter itu adalah demi kepalaku."

Sokka pun melarangnya. "Tapi, Aang, kalaupun para bounty hunter itu pergi dari sini, para penjaga itu juga pasti akan berani datang ke mari untuk membalas serbuan kita kemarin."

Hakoda lalu mengambil keputusan. "Tidak apa-apa, Aang. Tetaplah bersama kita."

Pemuda desa yang lain berkata dengan semangat. "Ya! Kita bertarung dengan avatar! Kemarin kalian kalah karena kalian tidak membawa orang yang lebih banyak! Kali ini, kita semua akan bertempur!"

Keputusan satu desa sudah bulat. Mereka akan menghadapi para musuh yang akan datang menyerbu mereka. Malam itu, Aang dan Sokka tidak bisa tidur. Mereka sibuk mempersiapkan diri untuk hari esok. Namun Aang merasa ironis. "Sungguh ironis… di kampung halamanku, terjadi perang saudara dan aku merasa muak dan kabur kemari. Tapi aku sendiri malah memperjuangkan perdamaian di tanah orang lain."

"Hei, Aang, santai saja. Kau tidak harus berpikir demikian. Karena mereka sendiri yang membuatmu muak, bukan? Maksudku, orang mana yang memperlakukan anak kecil seperti piala bergilir?? Bila kau ada di sini membantu Negara lain, maka itu bukan salahmu. Mereka yang harus mengintrospeksi diri." Kata Sokka.

Aang tersenyum padanya. "Terima kasih, Sokka."

"Tapi aku penasaran juga, seperti apa tanah para Penggembara Angin itu?" kata Sokka.

"Padang pasir. Dan ada beberapa kuil juga. Kapan-kapan kita ke sana?"

Sokka sangat senang. "Ide yang sangat bagus! Sudah lama aku ingin pergi keluar dari desa kecil yang terpuruk ini!"

"Shh..!! jaga bicaramu, bisa menyinggung orang yang mendengar." Kata Aang memperingati.

Keesokan harinya, para oknum pabrik ditemani para bounty hunter berbaris untuk menyerbu Jang Hui. Mereka mengepung desa tersebut dan menyuruh mereka menyerahkan diri sebelum dibumi hanguskan. Namun para warga sudah siap dengan perlengkapan mereka. Mereka malah melempari musuh dengan bom rakitan sendiri.

Musuh menjadi marah dan menyerbu desa itu. Para bounty hunter berdiam saja, menunggu kemunculan Aang. Para warga melawan sesanggup mereka. Mereka mampu menyulitkan para oknum pabrik, sekalipun beberapa dari mereka menderita luka bakar akibat semburan api para fire bender.

Saat beberapa rumah sudah terbakar, Aang pun menggunakan Air Bendernya untuk meredakan api. Pada saat itulah para bounty hunter bergerak. Aang melawan mereka dengan tangguh. Akan tetapi mereka terlalu banyak. Aang pun kabur ke hutan untuk menghindari perusakan di pemukiman Jang Hui.

Melihat Aang melarikan diri, para warga mengikuti Aang untuk menolongnya. Terjadi kejar-kejaran dan pertempuran sengit di hutan. Katara menenggelamkan dan membekukan para musuh yang tercebur ke air sungai.

Aang bertarung dengan gigih. Ia menghadapi puluhan bounty hunter itu dengan membuat mereka terpencar, kemudian melumpuhkan mereka satu persatu. Saat ia kewalahan, ia kabur. Akan tetapi ia malah menemukan kemah Pangeran Zuko.

"Apa yang kau lakukan di sini, avatar?" tanya Zuko.

"Para bounty hunter menginginkan kepalaku. Zuko, kenapa kau tetap di sini? Bukankah kau tidak ada urusan dengan desa ini?" tanya Aang.

"Sudah bosan kukatakan bahwa alasanku di sini itu sama sekali bukan urusanmu!" kata Zuko dengan marah. Ia masih menganggap bahwa Aang adalah penyebab ibunya menghilang dan ia kerepotan di sini. Namun setelah dipikir-pikir, sesungguhnya Aang memang memiliki urusan tentang keberadaan Zuko di sini. Maka dari itu, Zuko melunak dan berkata. "Aku mencari sebuah penjara…. Ada orang yang ingin sekali kukeluarkan dari sana."

Aang menjadi prihatin. "Penjara? Jang Hui? Kau serius ada penjara di sini?"

"Aku tidak mampu menemukannya dari dulu! Aku mencarinya setengah mati. Aku takut bila aku terlambat, maka akan terjadi sesuatu pada ibuku…" kata Zuko.

Aang menunduk dan dengan sedih ia berkata. "Aku kini mengerti mengapa kau tetap berada di sini, namun menolak mengurusi urusan lain. Maafkan kami telah menuntut macam-macam darimu. Semoga kau segera menemukan penjara itu dan menyelamatkan ibumu."

Aang kemudian membuka tongkatnya dan hendak terbang pergi dari sana. Zuko merasa kesal karena ia berterima kasih atas simpati dan pengertian Aang. Tapi ia tidak dapat menghindarinya. Lalu ia memanggil Aang. "Kenapa dari kemarin aku mendengar suara gaduh?"

Aang tidak jadi terbang dan berkata dengan penuh penyesalan pada Zuko. "Itu salahku. Aku pikir kita mampu mengalahkan para oknum pabrik itu dan mengembalikan kedamaian di Jang Hui tanpa bantuan pemerintah. Tapi aku salah. Aku tidak menduga banyak bounty hunter di sana. Dan kini, setelah kita kalah kemarin, mereka mulai berani untuk meratakan kami. Tapi tidak apa-apa, Zuko, aku akan terus berusaha untuk menolong desa Jang Hui."

Setelah itu Aang terbang pergi meninggalkan Zuko tanpa sempat Zuko memanggilnya lagi. Sepeninggal Aang, Zuko menjadi frustasi sendiri. Kemudian ia marah dan segera mengemasi barangnya.

Seorang bounty hunter menemukan Aang dan menembaknya dengan tali jaring. Aang terperangkap dan tertangkap. Bounty hunter itu merayakan keberhasilannya bersama teman-temannya. Selagi mereka bersenang-senang, tiga buah bola api menyembur ke arah mereka. begitu panasnya sehingga membuat kulit mereka melepuh.

Rupanya itu adalah Blue Spirit. Setelah para bounty hunter itu kesakitan, ia melumpuhkan mereka dengan pedang kembarnya. Para bounty hunter melarikan diri. Blue Spirit mengoyak jala tersebut sehingga Aang bisa keluar dengan bebas.

Tapi belum cukup. Para warga desa masih bergulat dengan maut melawan para bounty hunter. Dan Katara ada di sana, sedang melawan mereka dengan menggunakan Water Bendingnya. Dan ia tidak memiliki banyak waktu.

"Tolong!" pinta Aang dengan sungguh-sungguh pada Blue Spirit.

Blue Spirit tidak membuang waktu dan segera menolongi mereka. Ia menyerang musuh tersebut dengan menggunakan fire bendingnya yang bagai ledakkan melukai para musuh. Katara terkejut melihat Aang datang dengan Blue Spirit dan tidak menyadari ada yang hendak menyerangnya dari belakang. Blue Spirit meraih tangan penyerang itu dan menempelkan tangannya di perut orang itu. Tak lama, orang itu menjerit-jerit dan menggeliat. Kemudian ia mati dengan mengeluarkan bau hangus dari kerongkongannya.

Blue Spirit segera menyerang oknum dan bounty hunter lain. Bersama dengan Aang, ia melumpuhkan para penjaga dan bounty hunter sehingga mereka kabur tunggang langgang. Sebelum kabur, seorang oknum berseru pada Blue Spirit. "Kukira kita sudah selesai? Awas kau! Tunggu pembalasanku!"

Para penduduk merayakan kemenangan mereka. Kini mereka percaya, bila mereka bersatu, mereka akan menang. Mereka mengelu-elukan Aang yang dianggap sebagai pahlawan. Namun Katara mencari-cari Blue Spirit yang sudah menghilang. Di atas dahan pohon, Katara menemukannya. Blue Spirit sedang mengamatinya.

"Aku tak tahu siapa kau, tapi…"

Belum selesai Katara bicara, Blue Spirit sudah pergi dari sana. Katara mengeluh. "Aku hanya ingin berterima kasih…"