Marriage

Disclaimer : Naruto so pasti punya om Masashi Kishimoto. Etha mah.. cuma pinjem karakternya aja 😁😁😁

Pairing : Sasuke-FemNaru, Gaara-FemNaru, Sasori-FemNaru, Sasuke-Sakura, Sai-ino, dan masih bnyk lainnya sesuai dg pengembangan cerita 😝😝😝

Rated : T bs naik jd M (Tergantung mood author yee 😜😜)

Genre : Romance, hurt, marriage, divorce, family.

Warning : OOC, Gak jelas kyk yg nulis, alur maju mundur cantik...cantik... (Loh kok jd lagunya syahrini sih?!) #abaikan authornya yg lagi sinting, Typo(s), gender switch, dan masih bnyk lainnya, so yg gk suka gk usah baca. Okay 😜😜

Info umur karakter :

1. Uzumaki Naruto : 29 tahun

2. Uchiha Sasuke : 30 tahun

3. Akasuna Sasori : 30 tahun

4. Sabaku Gaara : 30 tahun

5. Haruno Sakura : 29 tahun

6. Uchiha Sarada : 6 tahun

.

.

.

.

.

Chapter 6 : He's back

.

.

.

.

.

Selamat membaca! πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

.

.

.

~0~0~0~

Naruto berjalan menuju ruang manager HRD maskapai tempat ia bekerja dengan kesal, sedangkan Sasori mencoba menenangkan kekasihnya yang terlihat hendak mengamuk pada Manager HRD mereka. Dalam hati Sasori terus mengumpat pada Ino, sahabat Naruto yang sudah bermulut lebar dan menceritakan masalahnya pada Naruto.

"Sasori, jangan hentikan aku! Aku mau protes kepada manager yang seenaknya memindahkanmu menjadi co-pilot disini!"

Sasori merentangkan kedua tangannya dihadapan Naruto, menghalangi wanita bertubuh ramping itu untuk masuk kedalam ruangan manager. "Tidak Naru, jangan! Kau akan mendapat masalah karena ini, lagipula aku dengar pilot baru itu adalah pilot professional. Dia terbiasa menerbangkan pesawat dengan rute internasional"

Naruto menarik bahu Sasori untuk menyingkir dari hadapannya. "Aku tidak peduli! Mau pilot baru itu adalah presiden sekalipun aku tidak peduli! Manager telah menyalahi kontrak kerjamu Sasori! Aku tidak terima!" Ujar Naruto dengan kekeras kepalaannya.

Naruto langsung membuka pintu ruangan Manager HRD maskapai penerbangan tempat Ia bekerja dengan amarahnya. Namun sosok pria yang bersama dengan manager HRDnya membuat Naruto terdiam mematung bahkan tidak mampu mengucapkan satu katapun.

"Naru sudah aku katakan jangan~" Perkataan Sasori ikut terhenti saat ia melihat siapa yang berada di dalam ruangan itu selain manager HRD. Sasori tahu, siapa sosok pria yang berada dalam ruangan itu.

Dia adalah Sabaku Gaara, mantan suami Naruto. Sasori memang tidak mengenal Gaara, tetapi Ia tahu bagaimana wajah Gaara dari foto pernikahan Naruto dengan Gaara yang ditunjukkan oleh Naruto.

Gaara bangkit berdiri bersamaan dengan manager HRD yang juga bangkit berdiri melihat kedatangan Naruto dan Sasori. "Hai Naruto?! Senang bisa bertemu denganmu lagi" sapa Gaara dengan senyum hangatnya.

Naruto ingat senyum itu, senyum yang mampu membuat Naruto merasa aman dan merasa yakin bahwa tidak perlu ada yang Naruto khawatirkan sebab Gaara akan selalu ada bersamanya, menemaninya menghadapi apapun.

"Sepertinya kalian sudah saling mengenal, Sabaku-san?! Kalau begitu saya merasa lega karena kalian akan bisa bekerjasama dengan baik" Orang yang disebut sebagai Manager itu tertawa senang sambil menepuk bahu Gaara. "Kalau boleh saya tahu, apa hubungan kalian berdua?!" Tanyanya sambil menunjuk Gaara dan Naruto secara bergantian.

Gaara melirik ke arah Sasori yang seakan memasang aura permusuhannya padanya. Walau begitu dia tidak terpengaruh oleh Sasori dan tetap tersenyum dan menjawab. "Uzumaki-san adalah mantan istri saya, sir" jawabnya dengan enteng, walau tidak dipungkiri sang Manager itu langsung berhenti tertawa karena terkaget dengan ucapan Gaara.

Dengan airmata yang sudah mengumpul dipelupuk matanya dan tinggal menumpahkannya saja, Naruto langsung berlari keluar menerobos keberadaan Sasori disana. Entah kenapa Naruto merasa akhir-akhir ini cobaan semakin berat menimpanya...

Kenapa kedua pria itu harus muncul disaat Naruto ingin melepaskan semua kenangan tentang mereka berdua?!

Begitu Naruto berlari keluar ruangan, Gaara juga langsung mengejar keberadaan Naruto diikuti Sasori dibelakangnya. Di dalam hati Sasori sangat ingin memukul wajah Gaara yang masih terlihat mengharapkan cinta dari kekasihnya. Tetapi Sasori tahu, ia harus membiarkan kedua insan itu menyelesaikan permasalahan di antara mereka demi kebaikan hubungannya dengan Naruto kedepannya.

"Naruto, berhenti!" Panggil Gaara pada Naruto dengan setengah berteriak diantara kerumunan orang dibandara. "Kenapa kau menghindariku?"

Naruto menghentikan langkahnya dan berbalik ke belakang menatap Gaara dengan matanya yang penuh airmata. "Aku menghindarimu?! Selama ini kau yang menghindariku Gaara! Sekarang katakan padaku, untuk apa kau kembali ke Jepang, Gaara?! Untuk apa?!" jawab Naruto dengan nada tingginya.

Gaara terdiam menatap wanita yang selama ini selalu ada dihatinya.

"Apa kau sudah kembali menikah dengan wanita yang sanggup melahirkan anak untukmu?! Bukankah kau yang bilang kepadaku kalau kau ingin meneruskan hidupmu lalu menetap di London dan melupakan semua kenangan kita?" Naruto berjalan cepat menghampiri Gaara lalu mengguncangkan kedua bahu Gaara dengan perasaannya yang kacau. "Kenapa kau kembali, Gaara?! Kenapa kau kembali disaat aku mulai mampu hidup tanpamu?" Keluh Naruto lalu memukul dada Gaara yang tidak seberapa sakit menurut Gaara.

Gaara menangkap kedua tangan Naruto dan menariknya ke dalam pelukannya. Gaara sangat merindukan aroma tubuh wanita yang sangat dicintainya ini. Sedangkan Sasori mengamati interaksi yang dilakukan Gaara dan Naruto dengan perasaannya yang campur aduk.

Sasori langsung menghampiri keberadaan kekasihnya kemudian menarik Naruto dari pelukan Gaara dan memukul wajah Gaara dengan bogeman kuatnya hingga sudut bibir Gaara berdarah. Katakanlah Sasori cemburu melihat kedekatan mereka...

Naruto menghampiri Gaara yang terjatuh karena pukulan Sasori dan mengusap sudut bibir Gaara yang berdarah dengan sapu tangannya. "Sasori, apa yang kau lakukan? Kenapa kau memukul Gaara?!"

Sasori kembali menghampiri Gaara dan menarik kerah kemeja Gaara. "Karena dia pantas mendapatkan itu!" Naruto berusaha mencegah Sasori yang ingin kembali memukul Gaara, ia berusaha melepaskan cengkraman tangan Sasori dari Gaara. Sedangkan Gaara, pria itu hanya diam tanpa perlawanan apapun. Sejenak Ia memejamkan matanya dan tersenyum tulus.

"Kau sangat bodoh Gaara?! Kenapa kau hanya diam saja dan malah tersenyum tanpa sebab seperti ini!" Seru Naruto kebingungan mencegah amarah Sasori yang kembali meluap. "~dan kau Sasori! Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melukai Gaara lagi! Aku tidak suka dengan pria yang lebih suka menggunakan kekerasan daripada logikanya!" Ancam Naruto yang membuat Sasori melepaskan Gaara dari cengkramannya.

Tanpa melepaskan tatapan tajamnya pada Gaara, Sasori menarik tangan Naruto untuk mengikutinya. "Hari ini kita mendapat tugas pada jam penerbangan pertama. Jadi sebaiknya kita bersiap-siap sekarang! Sebentar lagi akan ada briefing dengan awak pesawat lainnya" kata Sasori dengan nada datarnya disertai anggukan setuju dari Naruto.

.

.

.

.

"Papa, kita mau kemana? Papa bilang kita akan tinggal di Konoha dalam waktu yang cukup lama?" Tanya Sarada bingung.

Pagi ini Sarada sangat bingung karena tiba-tiba, papanya membangunkannya pagi-pagi sekali dan mengajaknya ke Bandara. Bukannya Sarada tidak ingin mengikuti kemana saja papanya pergi, hanya saja Sarada tidak ingin meninggalkan kota ini secepat mungkin. Jika Sarada pergi dari kota ini dan berpindah ke kota yang lain, dia harus kembali beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan berpisah dengan teman-teman lamanya. Sarada bukan typikal anak yang mudah bergaul dengan lingkungannya, dia sangat tertutup dengan orang yang tidak dikenalnya.

Tetapi dari semua alasan itu, Sarada takut bila dia tidak akan bisa bertemu dengan tante cantiknya lagi.

"Kita akan ke rumah utama. Kau akan bertemu dengan nenek Mikoto dan kakek Fugaku. Kau senang'kan?!"

Sarada menggeleng pelan, membuat Sasuke merasa bingung karena untuk yang pertama kalinya Sarada tidak antusias bertemu dengan kakek dan neneknya. "Sarada?! kau tidak suka kita pulang ke Amegakure?"

Sarada menggeleng pelan membuat Sasuke semakin bingun menebak apa yang diinginkan oleh putrinya ini.

"Kau tidak ingin bertemu dengan mama Sakura?!"

Sarada kembali menggeleng pelan.

Sasuke berjongkok di hadapan putrinya, menyamakan tingginya dengan putrinya. Sasuke menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik putrinya ke belakang telinga dan memberi pengertian kepada putrinya. "Ada barang yang perlu papa periksa disana, kita akan pulang sebentar dan papa akan menyelesaikan urusan papa secepat mungkin. Baru setelah itu kita bisa kembali ke kota ini, selama yang Sarada inginkan. Sara-chan mau'kan?!"

Senyum Sarada kembali terbit, membuat Sasuke langsung mencium sayang pipi putrinya dan menggendong putrinya dalam dekapannya. Sasuke hanya berharap bisa cepat sampai di mansion keluarganya dan cepat menyelesaikan masalahnya dengan Naruto.

Jika benar ia meninggalkan dobenya dalam keadaan mengandung anaknya, berarti ia memiliki seorang putra atau mungkin seorang putri yang seumuran dengan Sarada.

Sebagian hatinya memuncah bahagia saat memikirkan Ia memiliki buah cinta bersama dengan wanita yang di cintainya, namun sebagian dari dirinya seolah mengejeknya telak bahwa ia tidak mungkin berhak atas anak itu setelah apa yang ia lakukan pada wanitanya...

.

.

.

.

.

"Flight attendants, door closed, arm slide and report"

"Door closed, slided armed, and crossscheck"

Sasori mendengus kesal saat ternyata Ia harus bekerja sama dengan Gaara di dalam satu ruang kemudi yang sama. Sasori akui, pria ini begitu cekatan dalam mempersiapkan penerbangan mereka. Bahkan briefing yang di lakukan tadi pagi terasa berbeda. Ia melihat semua orang terlihat antusias memperhatikan arahan Gaara, termasuk Naruto yang terus memperhatikan Gaara yang sedang berbicara. Sasori bertambah kesal karena posisi Gaara sebagai pilot, memungkinkan untuk berkomunikasi lebih kepada Naruto yang berposisi sebagai supervisor flight attendant seperti saat ini.

"Senang bisa kembali berkomunikasi dengan 'mantan istrimu' ?" tanya Sasori dengan nada sinisnya.

Gaara melepas headphonenya sebentar dan menyeringai kecil melihat Sasori yang sangat terlihat cemburu dengannya. "Pesawat segera take off, sebaiknya kita tidak melibatkan masalah pribadi ke dalam pekerjaan kita" jawab Gaara tenang. "Apa kau sudah mengecheck semua panel disini?" Tanya Gaara pada Sasori.

Bukannya menjawab perintah Gaara, Sasori malah berbicara dengan Gaara dengan kesal. "Aku tahu, kau masih mencintai Naruto. Aku bisa melihatnya dari tatapan matamu. Apa kau menyesal telah menceraikan Naruto dan kembali hadir ke dalam kehidupannya berharap bahwa Naruto akan kembali denganmu?"

Gaara tersenyum kecil dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. "Kau sangat tidak professional, bagaimana kau bisa menjadi pilot internasional bila sikapmu seperti ini?!" Gaara menghembuskan nafas berat dan tersenyum miris. "Sampai detik ini juga, aku selalu mencintainya. Tapi kau tenang saja! Maksud kedatanganku disini, bukan untuk merebutnya darimu. Dia terlalu sempurna untuk ku miliki, dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku"

Sasori mendengus dan terkekeh kecil. "Kita lihat, sejauh mana kau akan menepati kata-katamu itu" ucap Sasori sebelum akhirnya bekerja sama dalam pekerjaan mereka untuk menerbangkan 'burung besi' itu.

.

.

.

Sasuke sama sekali tidak menyangka bahwa pagi ini dirinya akan berada di dalam satu pesawat dengan Naruto. Wanita itu tampak sangat cantik dengan seragam pramugari yang membungkus tubuh rampingnya. Naruto semakin terlihat menawan dengan senyum manisnya saat melayani penumpang.

"Papa, Sarada ke toilet dulu. Sarada ingin buang air kecil" kata Sarada membuyarkan lamunan Sasuke.

Sasuke hanya mengangguk cepat, lalu cepat-cepat menutupi mukanya dengan koran saat ia melihat Naruto berjalan menghampiri bangku nya dan menawarkan pelayanan jasanya seperti yang dilakukannya dengan penumpang lain. Sebenarnya Sasuke sangat ingin menarik wanita itu untuk berbicara empat mata dengannya, tapi ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Naruto pasti akan langsung pergi dan menghindarinya begitu melihat keberadaannya.

"Apa ada lagi yang anda butuhkan, sir?!"

Sasuke mengangkat sebelah telapak tangannya tanpa mengalihkan pandangannya pada koran yang ia baca. Sasuke membuang nafas lega saat Naruto pergi meninggalkannya menuju kabin. Untuk saat ini biarlah Sasuke hanya menatapnya dari kejauhan saja, dia senang karena kehidupan Naruto berubah jauh lebih baik dari terakhir mereka dekat dulu.

Naruto kembali ke dalam kabin pesawat dengan perasaannya yang aneh. Entah kenapa dia merasa tidak asing dengan sosok penumpang yang sedang membaca koran tadi. Naruto tidak mengerti kenapa jantungnya berdegub kencang saat dia berada di dekat penumpang itu.

"Tante cantik?!"

Naruto terkejut dan menoleh ke arah seorang gadis kecil yang tengah memanggilnya. Senyumnya merekah saat melihat sosok Sarada yang ia perkirakan baru saja keluar dari dalam toilet.

Naruto langsung menggendong gadis mungil itu dan membawanya ke dalam kabin. Naruto mendudukkan Sarada di atas sofa yang terletak disana. "Mau susu?!" tawarnya pada Sarada.

Sarada mengangguk antusias dan bangkit berdiri mendekati Naruto yang sedang sibuk membuatkan segelas susu hangat untuknya. Sarada memeluk kedua kaki jenjang Naruto dengan kedua tangannya. "Sarada senang bisa bertemu tante cantik disini. Sarada kangen sama tante cantik. Sarada juga kangen kue enak buatan tante"

Naruto mengambil segelas susu yang telah ia buat dan berjongkok menyamai tingginya dengan Sarada. "Ayo minum susumu dulu!" Ujar Naruto sambil memberikan segelas susu pada Sarada. Naruto tersenyum dan mengusap sayang rambut hitam Sarada. "Kapan-kapan tante buatkan lagi kue yang banyak hanya untuk Sarada"

"Benarkah itu tante?"

Naruto tersenyum dan mengangguki pertanyaan Sarada. "Tentu saja cantik!" Naruto mengambil gelas yang sudah kosong dari tangan Sarada dan meletakkannya di atas meja. "Sarada, bolehkah tante memelukmu sayang?! Sekali saja!"

Sarada membuka kedua tangannya dan memeluk Naruto. "Kenapa harus sekali tante?! Berulang-ulang juga boleh. Sarada sayang banget sama tante"

Sarada melepaskan pelukannya saat ia mendengar isakan tangis Naruto. "Tante menangis?!" Sarada menarik kedua lengan Naruto untuk berjongkok di hadapannya dan mengusap airmata Naruto dengan tangannya yang mungil. "Tante cantik jangan menangis, nanti cantiknya hilang loh kalau tante menangis! Tante terlihat jelek jika tante menangis seperti ini"

"Jangan menangis, dobe! Kecantikanmu akan hilang jika kau menangis seperti ini. Kau benar-benar terlihat jelek, dobe!"

Naruto terkejut, sebuah kalimat yang sedikit berbeda namun memiliki makna yang sama. Sebuah ejekan yang dilayangkan untuknya dari seseorang yang berarti dimasa lalunya.

Sekali lagi Naruto sedikit meringis menertawai dirinya yang masih saja mengingat semua kenangannya dengan laki-laki brengsek itu.

"Tante tidak akan menangis lagi sayang" ujar Naruto mengusap airmatanya dan memasang wajah senyumnya. "Tante hanya merasa sangat merindukan putra tante" Naruto membelai pipi Sarada dan membingkai wajah gadis kecil itu.

Sarada kembali memeluk Naruto. "Jika tante tidak keberatan, tante boleh menganggap Sarada sebagai putri tante. Sarada akan merasa sangat senang bila tante mau menjadi ibu Sarada"

Naruto langsung mengeratkan pelukannya pada Sarada dan mencium puncak kepalanya. "Terima kasih sayang, terima kasih" Sarada melepaskan pelukannya dan mencium punggung tangan Naruto.

"Berarti mulai sekarang, Sarada boleh memanggil tante dengan sebutan 'ibu' ?!"

Naruto mengangguk terharu dan kembali memeluk Sarada. "Katakan sekali lagi sayang"

"Ibu" panggil Sarada sekali lagi.

Hati Naruto terasa melonjak bahagia saat dirinya di panggil ibu oleh gadis kecil ini. Dia tidak menyangka, ternyata Tuhan masih baik kepadanya sehingga Tuhan memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi seorang ibu dengan mengirimkan malaikat kecil kepadanya.

Malaikat kecil yang bernama Sarada...

"Flight attendant, 10 minutes for land"

Naruto melepaskan pelukannya pada Sarada dan membingkai wajah cantik gadis mungil itu, setelah ia mendengar sebuah suara perintah dari pilot mereka.

"Sayang, sebaiknya kau kembali ke tempat dudukmu dan pasang kembali sabuk pengamanmu. Sepuluh menit lagi kita akan mendarat." Naruto menggandeng tangan Sarada untuk menuju ke tempat duduknya. Namun belum sampai di tempatnya Sarada menghentikan langkahnya dan menatap Naruto dengan sendu. "Apa kita akan berpisah bu?! Sarada tidak ingin berpisah dengan ibu"

Naruto kembali berjongkok dihadapan Sarada dan membingkai wajah Sarada dengan penuh kasih sayang. "Maafkan ibu sayang, ibu harus menjalankan tugas ibu dulu. Ibu yakin kita pasti akan bertemu lagi. Sampai jumpa!"

Sarada menatap kepergian Naruto sambil melambaikan tangannya ke arah kepergian Naruto. Sarada kembali duduk di bangkunya dan memasang kembali wajah datar tidak bersahabatnya itu.

"Apa yang kau lakukan di dalam toilet 'hm?! Kenapa lama sekali?"

Sarada menatap Sasuke sebentar lalu kembali memegang krayonnya dan menggambar lagi. "Toiletnya penuh, Sarada harus mengantri dahulu pa"

Sasuke hanya mengangguk pelan. Sasuke mengerti, Sarada tidak menyukai kepulangannya kali ini. Sasuke tertawa geli melihat tingkah Sarada, sikap Sarada benar-benar khas seorang Uchiha.

'Dobe bila benar aku mempunyai anak denganmu, apakah sifatnya akan mirip sepertiku atau'kah dia akan mirip sepertimu yang sangat ceria dan hangat?! Bolehkah aku berharap bila mimpi itu benar adanya?' Ucap Sasuke dalam hati dengan tatapan menerawangnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Hai gaess... 😁😁😁

Chapter 6 udh update yaa πŸ˜‰πŸ˜‰πŸ˜‰

Disini babang Gaara udh nongol kn? πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ abang Gaaranya udh selesai ksih makan Shukaku kok πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

Sedikit menjawab pertanyaan kalian, utk yg d ffn emang agak sedikit lbh lamban drpd wattpad yahh...

Jd klo ada yg nanya knp chapternya kok msh dr sni, bknnya kmrn dr Saso-naru yg ketemu sm sarada pas dinner. Mungkin yg kamu liat itu yg di wattpad aku 😳😳

Oh iya apa salahku bakal etha lanjutin kok yg dsini, tp bentar yaa...

Satu persatu deh kelarinnya. Etha lg ngejar bwt nyamain ff ini biar chapternya sm kyk yg di wattpad, Ok?! πŸ˜‰πŸ˜‰

See u next chapter guys

Rabu, 05 April 2017

Ethatata😘😍