"Sudah berapa lama kau di situ?" suara Johnny bahkan sedingin tatapannya. Tiba-tiba saja Ten merasa takut. Kenapa Johnny yang berdiri di depannya ini sangat berbeda dengan Johnny yang ramah, yang tadi pagi berbelanja kepadanya?
"Eh... saya memanggil karena makanan sudah siap." Ten bergumam gugup bingung menghadapi tatapan mata Johnny yang dingin dan penuh kemarahan. Sebenarnya lelaki itu sedang marah kepada siapa? Kenapa dia memainkan musik seperti itu? musik yang bergolak yang membuat siapapun yang mendengarkannya pasti tahu bahwa sang pemain biola sedang marah.
Tetapi kemudian Johnny tampaknya bisa menguasai diri. Kemarahan tampak surut dari matanya, dan dalam sekejap ada senyum di sana. Ekspresi lelaki itu kembali penuh canda dan ramah seperti yang selalu ditampilkannya di depan Ten sebelumnya,
"Aku perhatikan, kau tetap saja menggunakan 'saya' dan 'anda' kepadaku, ini sudah ketiga kalinya aku mengingatkanmu." Bibir lelaki itu menipis, "Awas kalau sampai ke empat kalinya, coba ulang kata-katamu dengan menggunakan 'aku dan kau'." Johnny mengangkat alisnya dan tampak keras kepala.
Ten menatap lelaki itu dan menyadari bahwa dia seharusnya memberikan apa yang Johnny mau karena sepertinya lelaki itu tidak akan menyerah sebelum mendapatkan keinginannya,
"Aku kemari hendak memberitahumu kalau makanan sudah siap." Gumam Ten akhirnya dengan canggung, menggunakan 'aku' dan 'kau' seperti yang Johnny mau, dan kemudian dia ternyata menciptakan senyum mempesona yang melebar di bibir Johnny.
Oh astaga, lelaki ini memang tampan, dan ketampanannya naik berkali-kali lipat kalau dia tersenyum seperti itu. Kalau saja Ten tidak merasa canggung dan malu, dia pasti sudah memegang ambang pintu dan menarik napas panjang, karena udara seakan tertarik dari paru-parunya, terpesona oleh ketampanan Johnny.
"Bagus." Johnny tersenyum, lalu melangkah ke pintu dan melewati Ten, "Ayo kita makan aku lapar!"
Ketika Ten mengikuti Johnny hendak melangkah ke dapur, pintu kamar Taeyong terbuka dan lelaki itu muncul. Acak-acakan karena bangun tidur dan tampak cemberut, matanya menatap marah ke arah Johnny.
"Kalau kau memang ingin tinggal di apartemen ini Johnny, seharusnya kau menghormati jam tidurku, aku tidak suka berisik, dan alunan biolamu itu sampai menembus alam mimpiku, memaksaku bangun." Gumamnya tajam.
Johnny tampaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan Taeyong, dia malahan tertawa,
"Maafkan aku, aku lupa kalau kau sangat sensitif, dan kau punya mood yang sangat jelek ketika bangun tidur. Aku janji tidak akan memainkan biola di saat kau tidur lagi."
Taeyong terdiam, menatap Johnny dengan tajam, lalu mengangkat bahunya,
"Oke aku pegang kata-katamu." Gumamnya tak kalah tajam, lalu mundur dan setengah membanting pintu kamarnya itu, membuat Johnny menatap dengan geli.
Sementara itu Ten masih terdiam di sana agak bingung. Dua lelaki ini memang bersahabat, tetapi sepertinya mereka bersikap seperti anjing dan kucing. Ten mengangkat bahu, lalu melangkah ke dapur
Malamnya, Taeyong ikut bergabung bersama mereka untuk makan malam, lelaki itu sudah segar sehabis mandi, dan berpakaian rapi. Syukurlah. Ten semula ketakutan kalau Taeyong akan datang ke ruang makan dengan celana dan bertelanjang dada seperti kemarin.
"Sepertinya moodmu sudah baik." Taeyong mengambil nasi dan memakannya dengan sup daging dan wortel buatan Ten, caranya makan seolah begitu menikmati, tampaknya dia suka dengan apa yang dimakannya karena tiba-tiba Johnny mengangkat matanya dan menatap Ten – yang dipaksa untuk makan bersama – dengan tatapan puas dan menggoda,
"Enak Ten, masakan rumahan memang paling enak, bahkan kokiku di rumah tidak bisa membuat makanan seenak ini. Rasanya sederhana tetapi murni, kurasa kokiku tidak bisa membuatnya karena dia terbiasa membuat rumit segala resep demi menunjukkan tekniknya." Sambil menyuap sendok ke mulutnya Johnny mengedipkan matanya, "Mungkin aku akan mensabotasemu dari rumah Taeyong dan menjadikanmu tukang masak pribadiku."
Pipi Ten memerah mendengar pujian Johnny yang dilemparkan secara langsung itu, dia menatap Johnny dengan malu-malu,
"Terimakasih." Gumamnya pelan, tiba-tiba merasa berdebar. Mimpi apa dia sehingga bisa makan bersama dengan dua lelaki yang sama-sama tampan ini?
Taeyong menyuap supnya, tetapi matanya menatap ke arah Johnny dan kemudian berganti ke arah pipi Ten yang merah padam. Johnny telah menyebarkan rayuannya tentu saja, Lelaki itu memang perayu alami dan Ten yang polos sepertinya telah tersihir oleh rayuan Johnny,
"Jangan termakan rayuan Johnny, Ten." Taeyong bergumam lugas, memberi Johnny tatapan penuh peringatan, "Aku sarankan kau hati-hati kepadanya, Johnny memang perayu ulung yang tidak pandang bulu dan kau harus waspada."
Pipi Ten makin merah padam mendengarkan saran Taeyong itu. Tetapi rupanya Johnny malahan tertawa mendengarkan peringatan tentang dirinya yang diucapkan tetap di depan mukanya,
"Aku tidak akan mengganggu Ten tentu saja." Gumam Johnny, mengedipkan sebelah mukanya kepada Ten, "Ten dan aku bersahabat, iya kan Ten?"
"Iya." Mau tak mau Ten menganggukkan kepalanya, meskipun dia tidak tahu bagaimana deskirpsi sahabat menurut Johnny, mereka kan baru bertemu tadi pagi?
Taeyong mencibir, menyuapkan sup itu ke mulutnya, dan dia kemudian menyadari kata-kata Johnny. Sup buatan Ten memang enak, rasanya ringan tapi penuh aroma. Tidak sia-sia Taeyong menjadikan Ten pelayannya, gumam Taeyong dalam hati.
Ketika Ten sedang mencuci piring di dapur dan Johnny masuk ke kamarnya untuk berlatih biola lagi – mumpung Taeyong sedang terbangun, katanya – Taeyong berjalan ke arah ruang tengah dan duduk di sana, pekerjaannya hampir beres dan sepertinya akan tiba saat-saat dimana Taeyong bisa sedikit bersantai.
Ponselnya berdering lagi, dan Taeyong tidak bisa menahankan kemarahannya ketika melihat nomor di sana. Pengacara ayah kandungnya lagi! Kenapa mereka tidak pernah menyerah mengganggunya?
Karena tahu bahwa pengacara ayah kandungnya sangat gigih, Taeyong akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon itu,
"Kenapa kau tidak berhenti menggangguku?" dia langsung menyapa dengan kasar, membuat pengacara tua di seberang itu tertegun,
"Aku tidak mengganggumu Taeyong, aku hanya ingin menginformasikan kepadamu."
"Menginformasikan apa?" rasa ingin tahu yang aneh menggelitik benak Taeyong,
"Tentang ayahmu." Pengacara ayah kandungnya berdehem, "Sebelumnya aku meminta maaf, selama ini aku berbohong kepadamu..." suara si pengacara tampak tersendat, "Aku selalu bilang bahwa ayahmu sakit dan sekarat serta menginginkanmu datang, sebenarnya itu hanya taktikku supaya aku bisa membujukmu datang kemari menengok ayahmu. Tetapi ternyata alasan itu tidak bisa meluluhkan hatimu, kau tetap keras dalam pendirianmu." Suara si pengacara tampak menuduh, "Kenyataannya ayahmu sebenarnya sehat, meskipun jantungnya lemah karena usia, dia tidak dalam keadaan sekarat. Dan karena seluruh usahanya untuk membuatmu datang ke London tidak berhasil, beliau memutuskan untuk mengunjungimu ke Korea."
Dasar tua bangka sialan. Taeyong mengutuk, langsung mengeluarkan kata-kata kasar dalam benaknya, mengutuk ayah kandungnya dan pengacara liciknya yang sama-sama pembohong besar. Untung Taeyong sama sekali tidak termakan oleh kebohongan itu dulu.
"Jadi si tua itu datang ke Korea?" Taeyong bergumam sinis, "Apakah dia pikir aku mau menemuinya?"
"Ayah kandungmu sangat keras kepala, dia memutuskan akan datang mengunjungimu dan akan berangkat lusa segera setelah semua surat-suratnya beres, aku sudah mencegahnya mengingat penyakit jantungnya dan usianya, tetapi dia tidak mendengarkan aku." Pengacara ayahnya menghela napas panjang, "Aku harap kau mau memberikan kesempatan untuk ayahmu, Taeyong. Beliau sudah tua dan meskipun tidak sekarat, tetap saja penyakit jantungnya mengkhawatirkan."
"Aku tidak peduli." Taeyong meradang lalu menutup ponselnya, memutus pembicaraan dengan kasar. Punya hak apa pengacara tua itu menyuruhnya mempedulikan kesehatan ayah kandungnya? Kenapa pula dia harus peduli kepada seorang lelaki yang membuangnya begitu saja?
Sudah terlambat untuk menginginkannya sekarang. Taeyong tidak akan membiarkan ayah kandungnya yang arogan itu mendapatkan apa yang dimauinya dengan mudah!
"Aku ingin kau besok siang ikut denganku." Taeyong muncul di ambang pintu dapur, menatap tajam ke arah Ten yang sedang mengelap meja dapur sampai licin. Dia ingin semuanya bersih sebelum dia tidur nanti.
"Ikut kemana?" tatapan Ten tampak bingung, bukankah Taeyong biasanya tidur kalau siang?
Taeyong tampaknya menyadari pertanyaan di benak Ten,
"Aku tidak bekerja malam ini, jadi besok siang aku akan bangun. Kau ikut denganku aku akan membawamu." Lelaki itu setengah membalikkan tubuhnya tak peduli.
"Ikut kemana?" Ten mengulang pertanyaannya, buru-buru sebelum Taeyong meninggalkan ruangan itu, kalau sampai tidak mendapatkan jawaban, mungkin Ten akan tertidur malam ini dengan mata nyalang penasaran.
"Ke butik dan mall." Taeyong yang sudah membalikkan tubuhnya menatap Ten setengah menoleh, "Kita akan berbelanja pakaian untukmu." Dan kemudian Taeyong pergi meninggalkan Ten yang kebingungan.
Berbelanja pakaian? Apakah maksud Taeyong seragam pelayan seperti yang dia lihat di buku-buku komik? Tapi apakah perlu memakai seragam?
Ten tak henti-hentinya bertanya-tanya, bahkan sampai dia berbaring tidur di malam harinya
Rupanya Taeyong serius dengan maksudnya, jam satu siang lelaki itu keluar dari kamarnya dan sudah berpakaian rapi, dia menatap tajam ke arah Ten yang sedang membersihkan karpet dengan penyedot debu. Sementara itu Johnny sedang menonton TV di ruang tengah, lelaki itu menoleh dan mengangkat alisnya melihat penampilan Taeyong yang rapi.
"Mau pergi kencan?" godanya cepat.
Taeyong menggelengkan kepalanya, "Bukan." Matanya mengarah kepada Ten, "Kenapa kau belum berganti pakaian?"
Karena Ten mengira Taeyong sudah lupa dengan ajakannya kemarin, atau lelaki itu sedang bercanda... tetapi ternyata lelaki itu serius.
"Sa... saya sedang membersihkan karpet..." jawab Ten akhirnya.
"Tinggalkan itu, ganti bajumu, kita berangkat sekarang dan cepatlah!." Gumamnya tegas tak terbantahkan, hingga Ten terbirit-birit meletakkan pembersih debu di tangannya dan melangkah setengah berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Sementara itu, Johnny yang masih duduk di sofa mengamati seluruh penampilan Taeyong yang memilih berdiri, suaranya terdengar serius ketika berbicara, tidak penuh canda seperti yang ditampilkannya di depan Ten,
"Apa yang sedang kau rencanakan, Taeyong?" tanyanya datar dan menyelidik.
Taeyong menatap ke arah kamar Ten yang tertutup rapat dan kemudian menatap Johnny tajam,
"Itu bukan urusanmu."
Johnny mengangkat bahunya, "Memang." Gumamnya, "Apakah ini berhubungan dengan ayah kandungmu?"
Johnny tentu saja tahu kisah tentang ayah kandung Taeyong. Mereka memang bersahabat dekat karena memiliki kisah yang sama. Kisah yang sama-sama tragis, mereka sama-sama dibuang oleh salah satu orang tua kandung mereka. Bedanya sekarang ibu kandung Johnny yang jahat dan mata duitan telah mendekam di penjara, menerima ganjaran atas perbuatannya. Sedangkan ayah Taeyong masih hidup dan seperti kata pengacara ayahnya tadi, masih lumayan sehat dan gigih mengejar apa yang dia mau, menjadi batu sandungan dan ganjalan bagi langkah Taeyong.
"Ya." Taeyong mengangguk, percuma membohongi Johnny, sahabatnya ini punya insting yang kuat, "Lelaki tua itu mau datang kemari."
"Kemari?" Johnny mengangkat alisnya, "Dia tidak mudah menyerah ya."
"Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia mau, aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai ayah di depannya dan membuatnya puas. Bagiku ayahku bukan dia."
"Hati-hati Taeyong." Johnny bergumam, "Sepertinya ayah kandungmu itu sama keras kepalanya denganmu, kalian sepertinya sama-sama berpegang kuat kepada pendirian kalian masing-masing." Johnny lalu melemparkan pandangannya ke arah kamar Ten, "Dan akan kau gunakan sebagai apa Ten nanti?"
Taeyong tersenyum, senyum yang dalam dan penuh rencana,
"Ten adalah tamengku. Tameng terbaik yang pernah ada. Alat pembalasan dendam yang paling hebat."
Suara Taeyong terdengar mantap, bergaung di ruang tengah apartemen itu.
TeBeCe~~
