#Author's Corner

Hai – hei update kilat datang…

Rin lagi semangat nulis nih… jadi bisa cepat update… hehe…

Semoga kalian belum bosan dengan fic ini…

.

.

.

-Happy Reading-

A Little Secret : Alasan

Naruto Masashi Kishimoto

A Little Secret Rin Mizuki

Genre : Romance & Friendship

Rate T

Cast :

Haruno Sakura x Sasori

.

.

.

.

.

Suasana hari ini benar – benar saat aneh dan membuat Sakura serba salah. Beberapa kali Sakura mencoba mencari kesempatan untuk bicara dengan Sasori tapi selalu gagal. Pelajaran olah raga hari ini telah selesai, Sakurapun langsung mencari – cari sosok Sasori yang kebetulan memiliki jadwal olah raga yang sama dengan kelasnya. Tak butuh waktu lama bagi Sakura untuk menemukan Sasori yang kini tengah beristirahat di bawah pohon Sakura sembari memandangi langit. Sakura pun bergegas menghampirinya dan kemudian duduk di sampingnya dengan sebotol air dingin di tangannya.

"Kau tidak haus?" tawar Sakura sembari menyodorkan air dingin itu tapi Sasori hanya mengabaikan tawarannya.

"Atau kau mau makan siang? Aku akan mengambil bentomu sekarang." Sasori masih diam.

"Sasori ah Honey, aku kan sudah minta maaf padamu. Kenapa kau masih marah padaku?"

Sakura kembali menyesali pilihannya kemarin. Andai saja ia bisa memutar waktu kembali. Sejenak Sakura mulai menyadari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia sadari sebelumnya.

'Kenapa aku harus repot – repot menjelaskan semua padanya? Memangnya dia siapa? Kenapa aku harus merasa sangat bersalah? Dia? Dia kan hanya menganggapku budaknya tidak lebih. Benar. Kenapa aku harus repot – repot?' pikir Sakura.

Sakura berdiri dan mulai memandang sebal ke arah Sasori tapi pria itu tetap membeku ditempatnya.

"Terserah padamu. Aku sudah berusaha untuk mengatakan apa yang seharusnya ku katakan tapi kau malah mengacuhkanku. Lagi pula kenapa aku harus merasa bersalah padamu, aku ini kan bukan siapa – siapa untukmu kecuali hanya seorang budak yang selalu kau permainkan sesuka hatimu. Harusnya aku terima saja tawaran Sasuke kemarin jadi aku bisa terbebas dari orang sepertimu." Sakurapun cepat – cepat meninggalkan tempat itu tanpa menoleh ke belakang.

.

.

Flashback

"Aku memilih… Sasuke-kun"

Para pendukung Sasuke bersorak sedangkan Sakura hanya menatap Sasori yang kini berbalik dan hendak pergi meninggalkan panggung.

"Seperti yang sebelumnya sudah ku katakan padamu, ada hal yang ingin aku sampaikan. Aku akan mengatakannya disini, didepan semuanya bahwa aku -" Sasuke menarik napasnya dalam – dalam.

"Aku menyukaimu Sakura…"

"Heh?"

"Aku ingin tahu apa kau benar – benar menyukai Sasori? Jika kau benar – benar menyukainya aku tidak bisa melakukan apa – apa. Tapi, jika tidak, maukah kau meninggalkannya dan datang padaku?" ungkap Sasuke.

"Eh itu bisakah kita tidak membicarakannya disini?"

"Aku rasa dia juga ingin mendengarnya langsung darimu." Ungkap Sasuke sembari menunjuk Sasori yang kini tengah berdiri di ambang pintu.

Sakura pun menatap sosok itu. Deg. Jantungnya mulai berdegup tak karuan, ada rasa sakit di dalam hatinya terlebih saat ia melihat Sasori yang pergi begitu saja. Padahal Sakura berharap Sasori akan mendengarkan jawabannya untuk Sasuke.

"Aku bersama dengannya karena keinginanku, meski dia terkadang begitu pemaksa dan sangat menyebalkan tapi aku selalu ingin bersamanya dan selalu ada disampingnya. Jika kau bertanya apa aku menyukainya, jujur aku tidak tahu. Tapi aku mulai menyadari satu hal, dalam pikiranku aku hanya melihat dirinya seorang bahkan ketika aku tidak bersamanya. Aku, entah mengapa mulai mencari sosoknya dimanapun aku berada. Jadi Sasuke – kun maafkan aku, aku tidak bisa meninggalkannya."

"Aku mengerti. Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja."

Flashback End

.

.

Sasuke menggunakan permintaannya dari festival musim panas untuk liburan bagi seluruh murid Konoha High School. Pagi ini semua murid sudah berkumpul di Sekolah dan akan bersiap untuk berangkat. Ketika semua orang bersuka cita mendapatkan liburan, berbeda dengan Sakura yang kini hanya malas – malasan duduk di bawah pohon Sakura.

"Kau kenapa Sakura?" tanya Ino yang kemudian duduk disamping Sakura.

"Kau masih bertengkar dengan Sasori?" lanjut Ino. Sakura hanya menghela napas pendek.

"Oh iya, Sakura. Apa yang kau katakan saat festival itu benar?"

"Hm, yang mana?"

"Saat Sasuke menyatakan perasaannya padamu yang malah kau tolak begitu saja."

"Menurutmu bagaimana? Apa aku jujur?"

"Aku bertanya padamu karena aku tidak tahu, tapi kau malah bertanya padaku."

"Ino. Sebaikanya aku pulang saja." Ucap Sakura yang kemudian meraih tasnya.

"Eh? Apa kau yakin?"

"Kenapa tidak? Lagi pula aku juga tidak begitu ingin ikut." Sakura pun mulai melangkahkan kakinya saat ada seseorang yang menarik kerah bajunya dari belakang.

"Hei INO! Apa – apaan k-" Sakura baru saja akan memukul Ino saat ia bersiap berbalik tapi bukannya Ino yang ia dapati.

"Mau kemana?"

"Lepaskan." Sakura berusaha melepaskan tangan Sasori dari kerahnya. 'Dia kira aku anak kucing.'

"Aku tanya, kau mau kemana?" Sasori kembali mencengkeram kerah Sakura.

"Aku bilang lepaskan!" Sakurapun menginjak kaki Sasori jengkel.

Sasori mengabaikan Sakura dan mulai menarik lengan gadis musim semi itu untuk masuk ke dalam bis kemudian duduk disampingnya.

"Aku tidak bilang kalau aku akan ikut liburan ini." Sakura mulai bangkit.

"Duduk."

"Tidak, aku mau pulang."

Sasori kemudian berdiri lalu mendorong pelan tubuh Sakura agar duduk dengan tenang dan kemudian menyandarkan kepalanya pada pundak Sakura.

"Apa – apaan ini? Singkirkan kepalamu atau-"

"Apa kau tidak bisa tenang sebentar? Aku lelah."

"Itu masalahmu, kenapa bisa jadi masalahku."

Sasori menatap Sakura tajam, tapi gadis itu malah berbalik menatapnya tajam.

"Itu tidak akan berhasil! Kau pikir dengan kau menatapku seperti itu aku akan takut."

Sasori mulai memutar akalnya untuk menghadapi gadis yang ada disebelahnya itu. Ia pun kemudian mendekatkan wajahnya mendekat. Sakura tampak terkejut dan Sasoripun hanya tersenyum licik.

"Kau, apa aku perlu menciummu agar kau bisa tenang?" bisik Sasori.

"Ci-c-cium! Hey!"

Melihat Sakura yang mulai tergagap Sasori hanya bisa tersenyum jail dan kemudian kembali menyandarkan kepalanya di bahu Sakura sementara gadis musim semi itu berubah merah padam dibuatnya.

"Sudah baikan?" sindir Ino.

Sakura hanya terdiam menanggapi pertayaan sahabatnya itu.

"Oh iya Sakura, bis kita kelihatannya berbeda. Apa kau tidak akan pindah? Sebentar lagi kita akan berangkat." Terang Ino.

"Ah, iya aku harus pergi." Sakura akan bangkit dari kursinya saat ia menyadari Sasori menggenggam tangannya erat.

"Lepaskan! Aku harus kembali ke bis ku." Ucap Sakura yang berusaha melepaskan genggaman itu namun sia – sia.

Sasori nampaknya tidak berniat melepaskan genggamannya dan terus menyandarkan kepalanya di bahu Sakura dengan mata terpejam. Melihat hal itu Sakura hanya menghela napas pendek dan mengalihkan pandangannya kea rah Ino.

"Ino bisakah kau mengatakan pada Anko-sensei kalau aku akan naik bis ini? Tolong."

"Merepotkan!"

.

.

.

Tiga jam telah berlalu dengan cepat. Kini rombongan bis sampai di sebuah penginapan dan semua orang bergegas untuk turun. Penginapan dibagi menjadi dua bagian, timur untuk para siswi dan barat untuk para siswa. Sakura sudah bersiap turun saat Sasori kembali menarik kerah bajunya.

"Kau mau kemana? Angkat barang – barangku baru kau boleh pergi."

'Apa dia tidak sadar aku ini gadis? Bagaimana bisa dia memperlakukan gadis seperti itu.' Gumam Sakura.

"Kau mengatakan sesuatu?"

Sakura hanya diam dan mengangkat barang bawaan Sasori dan meletakkannya di kamar pria itu dan kembali lagi untuk mengambil barang bawaannya.

.

Ino dan Sakura sedang duduk di depan sebuah toko sembari menikmati es krim yang baru saja mereka beli. Mereka tampaknya menikmati acara liburan ini.

"Ino, aku ingin menanyakan sesuatu."

"Tanyakan saja."

"Apa kau menyukai kaichou?"

Mendengar pertanyaan Sakura barusan membuat Ino tersedak hingga terbatuk – batuk. Sakurapun langsung menyodorkan air mineral yang ia bawa sebelumnya.

"Apa sejelas itu?" tanya Ino setelah menenangkan dirinya dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh Sakura.

"Sejak kapan?" tanya Sakura mulai penasaran.

"Sejak… entahlah aku tidak ingat."

"Apa – apaa itu. Bagaimana bisa kau tidak ingat? Atau kau hanya tidak ingin menceritakannya padaku."

"Aku tidak ingat Sakura. Aku tidak tahu sejak kapan. Tapi bukankah cinta memang seperti itu datang tanpa kita sadari? Seperti halnya kau dengan honeymu itu."

Kini giliran Sakura yang tersedak dan memukul sahabatnya ringan.

"Honey!"

"Ah… kenapa akhir – akhir ini aku selalu mendengarnya memanggilku ya. Mungkin otakku mulai bermasalah." Curhat Sakura pada Ino.

"Otakmu tidak bermasalah, dia memang sedang memanggilmu forehead." Ucap Ino sambil menunjuk ke arah belakang Sakura.

"Ikut aku!" Sasori pun meraih tangan Sakura dan kemudian menariknya pergi.

"Hey, kau mau bawa aku kemana?"

"Diam dan ikut saja."

.

Sasori kemudian membawa Sakura ke tepi sungai. Mereka duduk berdampingan dalam diam. Sakura sesekali akan melirik ke arah Sasori hanya untuk mengamati apa yang sedang dilakukannya.

"Jadi, kenapa kau membawaku kemari?" ucap Sakura yang berusaha membuat percakapan diantara mereka tapi Sasori hanya diam saja.

"Kalau kau tidak mau bicara, aku akan kembali ke penginapan." Sakura mulai beranjak dari tempatnya saat Sasori menarik pergelangan Sakura.

"Ada yang ingin ku tanyakan padamu."

"Hm? Tentang apa?"

"Sebelumnya kau berkata padaku bahwa kau sudah berusaha untuk mengatakan apa yang seharusnya kau katakan tapi aku malah mengacuhkanmu. Bisakah aku mendengarnya sekarang?"

"Kenapa itu jadi penting sekarang?"

"Tidak bisakah kau mengatakannya? Aku ingin mendengarnya darimu."

"Aku tidak yakin kau akan memahaminya atau mungkin saja kau hanya akan menganggap apa yang akan aku katakan hanya sebuah alasan yang kubuat - buat."

"Ceritakan. Ceritakan kenapa kau lebih memilih si bodoh itu."

"Kenapa kau selalu menyebutnya bodoh. Ah. Kau. Kau tidak mungkin cemburu padanya kan?" Sasori hanya menatap Sakura tajam.

"Baiklah aku mengerti. Kau ingat saat kau marah padaku terakhir kali?" ucap Sakura setelah mendapati Sasori menatapnya dengan tajam.

"Terakhir kali? Yang ku tahu kau selalu membuatku marah."

"Saat kau dan Gaara berkelahi tempo hari. Saat itu aku bertemu dengan Sasuke – kun. Dia baru saja kembali dari Iwa karena mengunjungi ayahnya yang sedang sakit."

'Kau bahkan memanggilnya dengan sebutan Sasuke-kun.' Gumam Sasori.

"Kau mengatakan sesuatu?"

"Kau salah dengar. Lanjutkan."

"Saat itu Sasuke – kun berkata padaku jika ada hal penting yang ingin ia sampaikan padaku dan dia akan mengatakannya saat ia berhasil memenangkan festival padahal aku sudah mengatakan padanya kalaupun dia tidak berhasil memenangkan festival itu, dia masih bisa mengatakannya padaku karena aku pasti akan dengan senang hati mendengarkannya." Sakura melirik Sasori.

"Saat aku tahu kau juga mengikuti festival itu, terus terang aku sempat terkejut. Ditambah aku harus memberikan keputusan siapa yang akan memenangkan festival kemarin. Karena aku pikir Sasuke memiliki motivasi untuk memenangkan festival itu dan kau, aku tidak yakin apa motivasimu mengikuti festival kemarin. Dan bukankah itu sudah menjadi tanggung jawab untuk membantu seorang teman yang sedang membutuhkan bantuan."

"Lalu kenapa kau menolak si bodoh itu?"

"Berhenti menyebutnya bodoh. Aku bahkan tidak tahu sesuatu yang ingin ia katakan itu-" Sakura berbalik menatap Sasori.

"Sungguh aku tidak tahu kalau pada akhirnya dia akan menyatakan perasannya padaku."

"Lalu?" tanya Sasori.

"Lalu?" ucap Sakura mengulangi pertanyaan Sasori.

"Kenapa kau menolaknya?" tanya Sasori mulai kesal.

"Aku tidak ingin mengatakannya. Salahmu sendiri pergi disaat aku menjelaskan semuanya. Lagi pula aku tidak akan menceritakan bagian itu padamu meski kau memaksaku, aku tetap tidak akan mengatakannya padamu."

"Aku bersama dengannya karena keinginanku, meski dia terkadang begitu pemaksa dan sangat menyebalkan tapi aku selalu ingin bersamanya dan selalu ada disampingnya. Jika kau bertanya apa aku menyukainya, jujur aku tidak tahu. Tapi aku mulai menyadari satu hal, dalam pikiranku aku hanya melihat dirinya seorang bahkan ketika aku tidak bersamanya. Aku, entah mengapa mulai mencari sosoknya dimanapun aku berada. Jadi Sasuke – kun maafkan aku, aku tidak bisa meninggalkannya." Ucap Sasori.

"Bukankah itu yang kau katakan padanya? Aku bahkan bisa mengingat setiap kata yang kau ucapkan." Lanjut Sasori.

"Ck. Jadi sebenarnya kau sudah tahu? Lalu kenapa kau masih marah padaku? Benar – benar membuang waktuku."

"Apa kau masih belum menyadari kesalahanmu?" tanya Sasori.

"Kesalahan? Memang aku berbuat salah padamu?"

"Ingat saat kau mengatakan, jika kau bertanya apa aku menyukainya, jujur aku tidak tahu. Bagaimana bisa kau tidak tahu?"

"It-itu bukan urusanmu. Lagi pula untuk apa kau mencampuri urusan pribadiku."

"Urusan pribadimu? Meskipun itu menyangkut diriku?" ejek Sasori.

"Tunggu, jadi kau marah karena itu?"

"Kau pikir mana ada kekasih yang mau mendengar kalau kekasihnya bahkan tidak yakin apa dia menyukainya atau tidak."

"Kekasih? Apa sekarang kau menganggapku sebagai kekasihmu? Ckck."

"Bukankah kenyataannya memang seperti itu?"

"…" Sakura bahkan tidak bisa membalas kata – kata Sasori.

"Jika kau memang tidak tahu perasaanmu padaku. Bagaimana kalau kita pastikan saja sekarang."

Sakura berbalik menghadap Sasori dan hendak menyerang pria itu dengan kata - kata yang sudah ia siapkan. Namun, sekejap tubuh Sakura membeku saat mendapati bibir Sasori tengah menyentuh bibirnya. Terkejut. Sakura pun mendorong Sasori dan meninggalkan pria itu.

.

.

.

Deg

Deg

Deg

Sakura mendekap mulutnya. Jantungnya masih saja berdetak tak karuan meski ia sudah berhasil menjauh dari setan merah itu.

"Sial. Dia mencuri ciuman pertamaku! Setan merah sialan!"

.

.

.

.

.

-to be continued-

.

.

.

#Author's Corner

Yuhu~

Apa kalian menikmati chapter kali ini… rin harap kalian akan menyukainya…

Rin akan senantiasa nunggu kritik dan sarannya dari minna - san…

Oh iya…

Rin ada sedikit pertanyaan buat minna – san sekalian…

Kalian lebih suka cerita yang di updatenya gk tentu (kadang cepet kadang lama) updatenya..

Atau yang sesuai jadwal? (kayak tiap hari senin atau seminggu sekali)..?