King's Lover

Chapter 7

Main Casts : Oh Sehun and Xi Luhan (GS)

Support Casts : Find it by yourself

Genre : AU, Drama, Romance

Length : Multichapter

2017©Summerlight92


Luhan menyadari suasana di mansion keluarga Oh seketika berubah setelah kedatangan Seunghyun. Makan siang bersama yang seharusnya dipenuhi canda tawa sebuah keluarga, nyatanya justru didominasi dentingan suara sendok-garpu yang beradu dengan piring makanan.

"Kau mau tambah lagi lauknya, Seunghyun?"

Sejak Seunghyun memasuki mansion keluarga Oh, hanya Jaejoong satu-satunya yang bersikap baik terhadap pria itu. Kendati ada kecanggungan di antara keduanya, Jaejoong tetap mencoba bersikap seramah mungkin kepada Seunghyun.

"Terima kasih, Imo," sahut Seunghyun. Mengabaikan tatapan Jihoon dan Sehun, ia menunggu Jaejoong mengambilkan tambahan lauk, lalu kembali menikmati makan siangnya.

"Kapan kau pulang, Hyung?"

Agaknya keputusan Jaejoong untuk tetap bersikap ramah kepada Seunghyun berhasil memecahkan keheningan di ruang makan. Sehun perlahan mulai membuka suaranya setelah terdiam cukup lama, karena terlalu kaget akan kepulangan Seunghyun yang terkesan mendadak dan tanpa kabar.

"Aku tiba di Incheon tadi sekitar jam 11 siang," jawab Seunghyun jujur. "Kenapa? Kau tidak suka melihatku pulang?"

"Tidak, bukan seperti itu, Hyung." Sehun menggeleng cepat, "Aku hanya terlalu kaget karena kau pulang tanpa memberi kami kabar terlebih dahulu."

Seunghyun tersenyum penuh arti, "Kau juga sama saja, Sehun. Sudah memiliki calon istri dan sebentar lagi akan menikah, tapi tidak memberitahuku," ucapnya dengan nada dibuat seolah merajuk.

Sehun dan Jaejoong tertawa kecil, sedangkan Luhan menundukkan kepala dengan wajah merah padam.

Reaksi yang berbeda terlihat dari Jihoon. Pria berusia 70 tahun itu masih bertahan dengan aksi bungkam dan hanya menatap sekilas ke arah Seunghyun. Ia memilih fokus pada santapan makan siangnya, seolah enggan memperhatikan cucu tertuanya tersebut.

"Bagaimana kabar Harabeoji?"

Pertanyaan itu membuat Jihoon menoleh.

"Harabeoji tidak merindukanku, eoh? Sejak aku datang, Harabeoji sama sekali tidak mengajakku berbicara," kata Seunghyun sengaja memasang wajah memelas.

"Ck, salahmu sendiri yang terlalu lama berada di London," jawab Jihoon sekenanya dengan nada ketus.

Seunghyun tertawa lepas, begitu pun Sehun dan Jaejoong. Jihoon yang semula bungkam, akhirnya ikut tertawa.

"Senang bisa melihatmu pulang, Seunghyun." Jihoon menyunggingkan senyuman, "Kau bisa menginap di sini jika kau mau. Kau pasti lelah setelah perjalanan jauh dari London."

"Terima kasih atas tawaranmu, Harabeoji. Sayangnya, setelah ini aku akan pergi menemui appa dan umma. Aku yakin mereka sudah menungguku," jawab Seunghyun menolak secara halus.

"Ah, begitu rupanya." Jihoon mengangguk-angguk, lalu mengambil gelas dan meneguk minumannya secara perlahan. "Kapan-kapan, bawa orang tuamu ke sini. Sudah lama sekali kita tidak berkumpul untuk makan malam bersama."

"Baik, Harabeoji. Akan kusampaikan pada orang tuaku." Seunghyun melirik Luhan yang sedari tadi hanya menyimak obrolan mereka. "Sehun, kau belum mengenalkan calon istrimu padaku."

Luhan terkesiap mendengar kalimat Seunghyun, sedangkan Sehun hanya tersenyum lebar. "Kupikir tadi kau sudah berkenalan dengannya, Hyung," ucap pria itu.

"Memang sudah, tapi kau belum memperkenalkan secara resmi padaku," jawab Seunghyun dan disambut tawa Sehun.

"Baiklah," Sehun memandangi Luhan yang duduk di sampingnya, kemudian merangkul bahu gadis itu dengan mesra. "Kuperkenalkan padamu, Hyung. Dia calon istriku, Xi Luhan. Cantik sekali bukan?"

"Ya, kuakui dia memang cantik sekali." Seunghyun menatap Luhan lamat-lamat. "Apa kau sungguh-sungguh bersedia menikah dengan adik sepupuku, Lu?"

"Ya! Apa maksud ucapanmu, Hyung?!"

Selanjutnya terdengar gelak tawa memenuhi ruang makan.

Luhan hanya tersenyum tipis, sambil memandangi interaksi mereka dangan sorot mata sulit diartikan. Entah mengapa, ia merasa situasi ini tidak tercipta secara natural. Ada bumbu kebohongan yang mendominasi keakraban orang-orang di sekelilingnya tersebut.

..

..

..

Masih memakai kursi rodanya, Luhan menikmati pemandangan taman belakang mansion melalui balkon kamar. Momen seperti ini selalu Luhan gunakan untuk merenungkan diri. Ada banyak hal yang memenuhi isi kepala Luhan selama beberapa hari terakhir. Mulai dari statusnya yang sudah dikenal publik sebagai calon istri Sehun—meski belum secara resmi—hingga kedatangan Seunghyun yang diketahui merupakan kakak sepupu Sehun.

Luhan benar-benar penasaran bagaimana sosok Seunghyun.

"Nona Luhan?"

Lamunan Luhan buyar ketika mendengar suara lembut milik Yoona.

"Airnya sudah siap, Nona." Yoona tersenyum hangat. Ia baru saja selesai menyiapkan air mandi untuk Luhan.

"Terima kasih," Luhan berpikir sejenak, "Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"

Yoona mengangguk, "Apa yang ingin Nona tanyakan pada saya?"

"Berapa lama kau bekerja di sini?" tanya Luhan.

Yoona sempat menautkan kedua alisnya. Sedikit bingung dengan arah pembicaraan mereka. "Kurang lebih sekitar 5 tahun, Nona."

Mata Luhan membelalak lebar, "Itu artinya kau sudah bekerja di sini sejak umur 14 tahun? Kau seumuran 'kan denganku?" tanyanya tak percaya.

"Iya, Nona. Saya memang sudah mengikuti ibu saya sejak kecil. Tuan Jihoon dan Nyonya Jaejoong sangat baik sekali pada kami. Semenjak ibu saya jatuh sakit, saya diperbolehkan menggantikan beliau untuk melanjutkan pekerjaan di sini," tutur Yoona.

Mata Luhan tanpa sadar mulai berkaca-kaca. Selama ini ia mengira hanya dirinya saja yang mengalami hidup berat sejak usia belia. Nyatanya ada orang lain yang bernasib sama.

Bahkan selain Yoona, mungkin di luar sana juga ada yang lebih berat menjalani kehidupan.

Luhan bersyukur nasibnya sekarang jauh lebih beruntung dibandingkan sebelumnya.

"Nona, kenapa Anda menangis?" Yoona panik ketika melihat cairan bening mulai menuruni pipi Luhan. "Saya minta maaf jika ada yang salah dengan ucapan saya, Nona."

"Tidak, Yoona." Luhan tersenyum seraya mengusap kedua matanya, "Aku hanya salut padamu. Di usiamu yang masih muda, kau rela menggantikan ibumu untuk bekerja di sini. Sementara banyak di luar sana, gadis yang seumuran dengan kita tengah fokus menempuh pendidikan di bangku perkuliahan atau bahkan justru asyik menghambur-hamburkan uang hasil kerja keras orang tua mereka. Kau hebat, Yoona."

"Nona ..." Yoona terharu mendengar pujian yang dilontarkan Luhan.

"Sudah, kau jangan ikut menangis," Luhan mengusap wajah Yoona yang entah sejak kapan sudah banjir air mata. "Masih ada hal lain yang ingin kutanyakan padamu."

Yoona buru-buru mengendalikan diri dan menatap Luhan dengan senyuman, "Soal apa, Nona?"

"Kau pasti tahu jika Seunghyun-oppa adalah kakak sepupu Sehun."

Yoona mengangguk.

"Bisakah ... kau ceritakan sedikit tentang kepribadian Seunghyun-oppa?" tanya Luhan.

Ada kerutan samar muncul di kening Yoona. Namun gadis itu mencoba tetap berpikir positif soal pertanyaan Luhan. Mungkin saja nona mudanya itu ingin mengenal sosok anggota keluarga lainnya sebelum resmi menyandang status sebagai istri Oh Sehun.

"Yang saya tahu, Tuan Seunghyun usianya 3 tahun lebih tua dari Tuan Sehun. Beliau merupakan putra tunggal dari Nyonya Oh Yeonhee, kakak kandung mendiang Tuan Yunho. Ayah Tuan Seunghyun juga memiliki perusahaan besar. Ayahnya bernama Tuan Choi Jinhyuk. Menurut pengalaman saya selama beberapa kali bertemu dengan beliau sebelumnya, Tuan Seunghyun merupakan orang yang sangat ramah kepada siapa saja, Nona."

"Hanya itu saja?" tanya Luhan merasa belum puas dengan jawaban Yoona.

"Maafkan saya, Nona. Hanya ini yang saya tahu," jawab Yoona penuh sesal. "Mungkin Nona bisa bertanya lebih detail pada Chanyeol-oppa."

"Ah, kau benar juga." Wajah murung Luhan seketika berubah cerah. "Lain kali aku akan bertanya padanya."

Yoona sudah bersiap mendorong kursi roda yang dipakai Luhan, hingga sentuhan tangan gadis itu menghentikan tindakannya.

"Ada apa, Nona?" tanya Yoona panik karena menemukan sinar keraguan pada sorot mata Luhan.

Kepala Luhan tertunduk dalam. "Apa menurutmu aku pantas bersanding dengan Sehun?"

Bola mata Yoona membelalak lebar. "Kenapa Nona bertanya seperti itu?"

"Aku dan Sehun bagaikan bumi dan langit. Statusnya sebagai pewaris utama Royal Group, sementara aku hanya anak yatim piatu. Aku hanya lulusan SMA, pekerja serabutan mulai dari pelayan kafe, hingga pelayan di klub malam. Orang-orang pasti akan tahu dan menilai bagaimana latar belakangku sebelumnya. Aku khawatir itu bisa mempengaruhi citra Sehun di kalangan publik."

"Nona ..."

"Satu lagi, apa kau menyadari perubahan sikapku pada Sehun dibandingkan sebelumnya?"

"Ya, Nona. Saya lihat, sekarang Anda lebih sering bersikap manja kepada Tuan Sehun. Padahal sebelumnya Anda sangat liar dan sulit diatur karena selalu melawan perintah beliau," jawab Yoona kemudian menutup mulut karena sadar baru saja kelepasan bicara. "Maafkan saya, Nona. Saya pantas dihukum."

Bukannya marah, Luhan justru tertawa mendengar jawaban jujur Yoona.

"Apa yang kau katakan memang benar, Yoona." Luhan memandangi taman belakang mansion. "Awalnya aku memang selalu melawan Sehun karena menurutku dia sudah bersikap seenaknya. Siapa yang tidak marah, kau bertemu dengan orang asing yang tiba-tiba mengaku sebagai calon suamimu?"

Yoona tidak menjawab, hanya menunduk seraya tersenyum mendengar penuturan Luhan.

"Tapi, setelah tahu siapa dia sebenarnya, yang ternyata adalah pemuda yang pernah menghiburku waktu aku kecil, aku tidak bisa mengendalikan sikap kekanakkan yang kembali muncul dalam diriku. Entahlah, rasanya aku ingin sekali selalu bersikap manja pada Sehun. Aku senang mencari perhatiannya. Aku juga sangat senang saat ia memberikan perhatian penuh padaku."

Yoona tersenyum, "Itu tandanya, Nona mulai jatuh cinta pada Tuan Sehun."

Mata Luhan berkedip-kedip. "Aku ... jatuh cinta padanya?"

"Iya, Nona." Yoona terkekeh geli melihat wajah Luhan semakin memerah. "Jika boleh memberikan pendapat, saya lebih suka melihat Nona Luhan bersikap apa adanya. Sebelum kedatangan Nona Luhan, banyak wanita yang ingin mendekati Tuan Sehun. kebanyakan dari mereka selalu menjaga image, dan cenderung hanya mengincar latar belakang keluarga beliau."

"Jinjja?"

Yoona mengangguk lagi. "Jangan pikirkan apa yang dikatakan orang-orang di luar sana tentang Nona. Saya percaya, kebaikan hati Anda akan membuat semua orang menyukai keberadaan Anda. Jadilah diri sendiri, Nona."

Perlahan senyum Luhan mengembang. Ia menggenggam tangan Yoona dengan erat. "Terima kasih ..."

Setelah Baekhyun dan Yixing, ia menemukan teman terbaik untuk diajak bertukar pendapat.

..

..

..

Jihoon memejamkan matanya. Ia abaikan Sehun selama beberapa menit, semenjak pria itu datang memasuki ruangannya. Setelah kepergian Seunghyun, Sehun memilih bertahan di mansion dan kini menemui Jihoon untuk menanyakan sesuatu.

Apalagi jika bukan terkait rencananya memperkenalkan Luhan kepada publik dan kepulangan Seunghyun yang terkesan mendadak.

"Harabeoji ..."

"Sebentar, Sehun. Aku sedang berpikir," tutur Jihoon seraya mengangkat tangannya.

"Ck, kau sudah terlalu lama mendiamkanku, Harabeoji," decak Sehun mulai kehabisan kesaraban.

Jihoon terkekeh pelan, "Katakan apa pendapatmu soal kepulangan Seunghyun?"

"Aku hanya terlalu kaget, Harabeoji. Seunghyun-hyung tiba-tiba pulang tanpa memberi kabar terlebih dahulu," jawab Sehun jujur.

"Ya, aku pun juga sama kagetnya denganmu, Sehun." Jihoon bersedekap sambil menyandarkan punggungnya. "Kita sudah lama tidak bertemu dengannya semenjak dia pindah ke London. Kita tidak tahu apakah Seunghyun yang sekarang, masih sama seperti Seunghyun yang kita kenal sebelumnya."

"Apa maksudnya, Harabeoji?"

"Aku hanya ingin mengingatkan padamu untuk berhati-hati terhadap Seunghyun," lanjut Jihoon. "Jaga Luhan baik-baik. Siapa tahu Seunghyun akan merebutnya darimu."

Wajah tenang Sehun seketika berubah marah. "Kenapa Harabeoji berkata seperti itu? Seunghyun-hyung tidak mungkin merebut Luhan dariku."

Jihoon tersenyum penuh arti, "Siapa saja bisa tertarik pada gadis secantik Luhan, bahkan kakak sepupumu sendiri, Sehun."

Sehun terdiam. Ia masih menyelami saran yang diberikan Jihoon.

"Apa hanya soal Luhan saja?"

Giliran Jihoon yang menatap heran ke arah Sehun.

"Apakah ada hal lain yang ingin Harabeoji sampaikan padaku selain soal Luhan?" tanya Sehun lagi.

"Belum saatnya," jawab Jihoon lalu memutar kursinya, hingga ia berada di posisi membelakangi Sehun. "Nanti bila waktunya tiba, aku akan memberitahumu, Sehun."

Tangan Sehun mengepal kuat, tetapi perlahan melemas seiring sorot matanya yang berubah sendu. "Harabeoji masih belum bisa mempercayaiku rupanya. Aku bukan anak kecil lagi, Harabeoji."

Jihoon tidak menjawab.

"Jika memang Harabeoji tidak ingin menceritakannya padaku, tidak apa-apa. Aku bisa mencari tahu sendiri dengan kemampuan yang kumiliki," Sehun bersiap pergi meninggalkan ruangan Jihoon. "Aku tahu, Harabeoji selama ini terus mencari tahu siapa dalang di balik kecelakaan yang menimpa appa. Aku yakin kau sudah menemukan beberapa petunjuk yang mengarah pada si pelaku. Jika benar demikian, aku merasa sangat senang."

Tangan Jihoon mengepal kuat.

"Tapi kau juga membuatku kecewa, Harabeoji. Kau lebih memilih melibatkan Joonmyun-hyung dibandingkan aku yang jelas-jelas putra kandung Oh Yunho. Kau tak pernah melibatkanku dalam penyelidikan kasus kecelakaan yang menewaskan appa ..."

Jihoon bisa mendengar suara pintu ruangan yang dibuka dan akhirnya ditutup cukup keras. Ia menghembuskan napas panjang. Kepalan tangannya perlahan mengendur.

"Maafkan aku, Sehun-ah." Jihoon mendesah pelan, "Meskipun belum sepenuhnya terungkap, instingku tidak pernah salah. Aku hanya tidak ingin membuatmu semakin terluka setelah tahu siapa yang sudah membuat ayahmu pergi untuk selamanya."

Setelah menenangkan diri, Jihoon berjalan keluar dari ruangannya. Ia pergi menuju kamar Jaejoong.

"Jaejoongie ..." Jihoon memanggil menantunya dengan lembut, tetapi ia hanya menemukan wanita itu tengah memeluk bingkai foto sambil menangis. Jihoon tahu, foto tersebut adalah foto Yunho.

Cengkeraman tangan pada ujung tongkatnya pun menguat. Jihoon memutuskan untuk kembali ke kamarnya.

..

..

..

Luhan baru saja keluar dari kamar mandi dengan bantuan Yoona. Gadis itu terkejut menemukan Sehun sudah berbaring di atas ranjang. Semula ia ingin memanggil Sehun, tetapi melihat lengan pria itu menutupi wajahnya, ia pun memilih diam.

"Nona ..."

"Kau boleh kembali melanjutkan pekerjaanmu. Terima kasih sudah membantuku mandi, Yoona," ucap Luhan tulus. "Sudah ada Sehun di sini. Kau tidak perlu khawatir."

Yoona mengangguk paham.

Oh iya, tolong kau buatkan teh herbal untuk Sehun," pinta Luhan.

"Baik, Nona. Saya akan segera kembali."

Yoona undur diri hadapan Luhan. Perlahan gadis bermata rusa itu memutar kursi rodanya mendekati ranjang. Tangannya terulur dan mengusap lembut kepala Sehun. Aksinya itu membuat mata Sehun yang terpejam perlahan terbuka sempurna.

"Sehunnie~"

Sehun menoleh dan tersenyum mendapati Luhan sudah berada di tepi ranjang. "Oh, kau sudah selesai mandi?"

Luhan mengangguk, "Kau tidak kembali ke kantormu?"

"Tidak. Aku lelah, Lu. Aku ingin beristirahat sebentar," Sehun memijat pelipisnya, "Sekaligus ingin berduaan denganmu."

BLUSH!

Pipi Luhan bersemu merah. Ia memalingkan wajah ke arah lain, sebelum kembali fokus pada Sehun karena mendengar lenguhan pria itu. Luhan mendapati Sehun terus saja memijat kepalanya.

Dia pasti kelelahan—batin Luhan. "Sehunnie, kau mau aku pijat?"

Mendengar tawaran Luhan, wajah Sehun berubah cerah. "Kau tidak keberatan melakukannya untukku?" tanyanya tak percaya.

"Tentu saja tidak. Aku tahu kau pasti sedang kelelahan, Sehunnie," ujar Luhan.

Luhan mencoba berdiri dari kursi rodanya untuk pindah ke atas ranjang. Sehun buru-buru bangun dan membantu Luhan dengan hati-hati.

"Jangan memaksakan dirimu, Lu," kata Sehun mengingatkan.

"Tidak apa-apa, Sehunnie. Donghae-oppa bilang aku sudah diperbolehkan untuk mencoba berjalan sedikit demi sedikit." Luhan tersenyum lebar. "Lagi pula, jaraknya dari ranjang juga sudah sangat dekat. Aku tidak mungkin terjatuh."

"Tetap saja aku khawatir, Lu."

Melihat wajah penuh kekhawatiran milik Sehun, Luhan tersenyum haru. Ia tahu, Sehun masih tidak bisa melupakan kejadian saat dirinya nyaris meregang nyawa selama perawatan intensif di rumah sakit.

Setelah menyandarkan punggungnya pada headboard ranjang, Luhan menyuruh Sehun membaringkan kepalanya di atas paha gadis itu. Awalnya Sehun ragu dan sempat menolak, lantaran tak ingin membuat Luhan kelelahan. Namun Luhan terus meyakinkan bahwa kondisinya sekarang sudah jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya. Sehun pun akhirnya menurut dan mengikuti kemauan Luhan.

Jemari lentik Luhan mulai menyentuh bagian pelipis Sehun. Memberi pijatan dengan penuh kelembutan. Bibir Luhan melengkung sempurna melihat Sehun tampak menikmati pijatan yang ia berikan. Mata pria itu terpejam, dan sepertinya tak lama lagi Sehun akan pergi tidur.

Setelah merasa cukup, Luhan memandangi wajah Sehun yang tampak damai dalam pangkuannya. Jari tangannya mulai bergerak menelusuri setiap inci bagian wajah pria itu. Mengagumi pesona ketampanan yang dimiliki oleh Sehun.

Senyuman yang sempat menghiasi wajah Luhan mendadak sirna. Sorot mata gadis itu perlahan berubah sendu.

"Apa aku benar-benar pantas bersanding denganmu, Sehunnie?"

Luhan kembali menundukkan kepala, hingga tidak menyadari jika Sehun belum sepenuhnya terlelap dan pria itu mendengar suaranya.

"Kenapa kau berpikir seperti itu?"

Suara Sehun membuat Luhan terkesiap. "Sehunnie, kau belum tidur?" tanyanya kaget.

Bukannya menjawab, Sehun justru terbangun dari posisinya. Kini mereka duduk saling berhadapan. Sehun dengan wajah serius, sementara Luhan tampak gugup.

"Apa maksud ucapanmu tadi, Lu? Kenapa kau berpikir apakah kau pantas bersanding denganku atau tidak?" cecar Sehun.

Luhan menggigit bibir bawahnya, "Itu karena kita bagaikan bumi dan langit. Kau adalah pewaris utama Royal Group, sementara aku hanya yatim piatu. Aku hanya lulusan SMA, pekerja serabutan dari pelayan kafe, bahkan pernah bekerja di klub malam."

"Siapa yang membuatmu berpikir seperti itu?"

Luhan mulai ketakutan mendengar nada penuh amarah dari Sehun.

"Pikiran itu muncul dalam diriku sendiri, Sehunnie. Tapi ... kurasa orang-orang di luar sana juga akan berpikiran serupa setelah tahu latar belakangku yang sebenarnya," tutur Luhan.

"Jangan dengarkan apa kata mereka, Lu. Abaikan saja," sahut Sehun memberi pengertian. "Beberapa hari lagi kita akan mengadakan konferensi pers. Kau akan kuperkenalkan di hadapan publik sebagai calon istriku secara resmi."

Mata Luhan membulat sempurna, "Kau ingin memperkenalkan aku di hadapan publik?"

"Ya."

"Kau yakin?"

Sehun menautkan kedua alisnya, "Tentu saja. Dunia harus tahu siapa calon pendamping hidup Oh Sehun," jelasnya dengan senyuman lebar.

"Ta-tapi ..."

Sehun menggenggam tangan Luhan dengan erat. "Percayalah padaku, Lu. Semua akan baik-baik saja."

Luhan menatap Sehun dengan penuh keharuan. Melihat kesungguhan dari sorot mata pria itu, perlahan keyakinan Luhan kembali. "Maafkan aku, Sehunnie. Sampai sekarang aku belum bisa mengatakan apa yang kau inginkan ..."

Sehun terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk paham. "Tak apa. Kau tidak perlu terburu-buru. Kita masih punya banyak waktu, Lu. Lagi pula, aku sudah berjanji padamu akan membuat perasaan cinta itu tumbuh dalam hatimu, melalui cinta yang kuberikan padamu ..."

Cup!

Mata Luhan berkedip-kedip merasakan benda kenyal yang menyentuh lembut bibirnya.

"Aku mencintaimu ..."

"Sehunnie ..."

Sehun tersenyum lebar saat Luhan langsung memeluk tubuhnya dengan erat. Kendati belum mendapat balasan cinta dari Luhan, sikap gadis itu secara tidak langsung memperlihatkan jika Luhan sudah menerima statusnya sebagai calon istri Sehun.

Sehun merasa sangat bahagia. Mulai sekarang ia tidak akan terburu-buru memaksakan perasaannya kepada Luhan. Ia masih memiliki banyak waktu untuk membuat Luhan membalas cintanya.

..

..

..

Seunghyun memandangi bangunan rumah mewah dengan sentuhan tradisional khas Korea di depannya. Ia baru saja tiba di rumah orang tuanya yang terletak di daerah Cheongdam. Beberapa pelayan yang mengenalinya langsung bergegas menghampiri Seunghyun.

"Tuan Seunghyun, Anda sudah pulang?"

Seunghyun tersenyum ramah kepada pria paruh baya yang bekerja sebagai kepala pelayan di sana. "Lama tidak bertemu denganmu, Ahjussi."

"Saya senang melihat Anda pulang, Tuan. Bagaimana kabar, Anda?"

"Kabarku baik, Ahjussi. Bagaimana kabarmu? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Seunghyun sedikit berbasa-basi.

"Semua baik-baik saja, Tuan." Pria berkacamata itu tersenyum senang, "Apakah saya perlu menyampaikan berita kepulangan Anda pada Tuan Jinhyuk dan Nyonya Yeonhee?"

"Tidak perlu, Ahjussi. Kurasa ibuku sudah tahu jika aku akan pulang hari ini," Seunghyun terkekeh, "Ah, jangan lupa tolong siapkan makanan kesukaanku untuk makan malam nanti."

"Baik, Tuan."

"Di mana ibuku?" tanya Seunghyun. "Apa ayahku sudah pulang dari kantor?"

"Belum, Tuan. Mungkin sebentar lagi Tuan Jinhyuk akan pulang. Kalau Nyonya, beliau sedang bersantai di taman belakang rumah."

"Baiklah, aku akan ke sana menemui ibuku."

Seunhyun menggiring langkah kakinya menuju taman belakang rumah. Ia mendekati sebuah gazebo di taman belakang yang berdekatan dengan kolam renang. Senyum menghiasi wajahnya tat kala melihat sosok ibunya tampak asyik menikmati secangkir teh. Kebiasaan yang sangat dihafal oleh Seunghyun.

"Tidak ingin menyambut kepulangan anakmu, Umma?"

Seunghyun terkekeh melihat wanita paruh baya di depannya menoleh dengan mata mengerjap kaget.

"Seunghyun?"

"Aku pulang, Umma ..." Seunghyun memeluk tubuh ibunya—Oh Yeonhee—setelah wanita itu berlari menjatuhkan diri ke pelukannya.

"Umma senang sekali kau sudah pulang," Yeonhee menangkup wajah Seunghyun, kemudian menghadiahi ciuman bertubi-tubi di setiap jengkal wajah pria itu. "Selamat datang kembali putra kebanggaanku."

Seunghyun terkekeh, "Astaga, Umma. Aku bukan anak kecil lagi."

Yeonhee ikut tertawa, lalu memeluk tubuh putranya. "Kajja, kita masuk ke dalam. Umma akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan kesukaanmu untuk makan malam nanti."

Seunghyun tersenyum dan bersama ibunya ikut berjalan memasuki rumah. Namun langkah keduanya terhenti saat melihat sosok pria paruh baya yang sudah berdiri tak jauh dari posisi mereka.

"Yeobo, kau sudah pulang?" Yeonhee berseru senang. "Lihat, putra kebanggaan kita sudah pulang."

Choi Jinhyuk, pria itu masih terlihat tampan di usianya yang sudah melebihi setengah abad. Tak ada tanggapan yang keluar dari bibir Jinhyuk melihat keberadaan Seunghyun yang sudah berdiri di samping Yeonhee.

"Appa, aku pulang." Seunghyun menyapa ayahnya dengan ramah. Ia bergegas menghampiri Jinhyuk. "Kau tak ingin memberikan pelukan selamat datang padaku?"

Jinhyuk tak menjawab, tetapi kedua tangannya bergerak memberikan pelukan singkat untuk Seunghyun. Setelahnya, wajah Jinhyuk berubah serius. "Ikut ke ruanganku sebentar. Appa ingin bicara denganmu."

"Yeobo, Seunghyun baru saja kembali. Biarkan dia beristirahat dulu," sergah Yeonhee sedikit kesal atas sambutan Jinhyuk.

"Tidak apa-apa, Umma. Kami hanya akan berbicara sebentar," ucap Seunghyun memberi pemahaman pada ibunya. "Mungkin Umma bisa mengawasi pelayan lainnya untuk menyiapkan makan malam. Jangan sampai mereka lupa untuk menyiapkan makanan kesukaanku."

"Ah, benar juga!" Wajah Yeonhee berubah ceria. "Baiklah, kalian boleh berbicara berdua saja. Ingat, hanya sebentar. Jangan terlalu lama."

Seunghyun mengangguk, lalu menoleh ke arah Jinhyuk. "Kajja, Appa."

Jinhyuk tidak berkata lagi, memilih berjalan mendahului Seunghyun. Setelah mereka sampai di ruang kerja pribadi Jinhyuk, Seunghyun sempat memandangi ruangan itu cukup lama, mengenang kembali masa-masa sebelumnya ketika masih tinggal bersama orang tuanya.

Tak ada yang berubah di sana, hanya terlihat lebih rapi dan terawat dengan baik.

"Apa yang ingin Appa bicarakan denganku?" tanya Seunghyun setelah puas memandangi ruang kerja pribadi milik ayahnya.

Jinhyuk menangkupkan kedua tangannya di atas meja, "Tidak ada. Hanya ingin tahu apa alasan kepulanganmu ke sini."

"Aku pulang setelah mendapat kabar tentang rencana pernikahan Sehun, Appa," jawab Seunghyun.

Jinhyuk mengernyitkan kening, "Bukan karena alasan pekerjaan?"

"Ah, sebenarnya itu juga termasuk, Appa. Hanya saja, alasan utama tetap karena ingin menghadiri pernikahan Sehun dan Luhan," lanjut Seunghyun.

"Kau yakin sekali jika mereka benar-benar akan menikah?"

"Kudengar harabeoji sendiri yang mengeluarkan berita itu. Jika itu dari hareboji, pasti memang benar, Appa. Bukan sekedar rumor belaka," sahut Seunghyun kembali mengutarakan pendapat.

Jinhyuk terdiam, setelahnya tersenyum penuh arti. "Baiklah, kau boleh pergi. Istirahatlah di kamarmu, Seunghyun. Kau pasti lelah."

Sejujurnya Seunghyun sedikit heran dengan obrolan singkat tersebut, tetapi ia memilih tidak terlalu banyak bertanya. Toh memang tubuhnya sudah kelelahan dan ingin secepatnya berbaring di atas ranjang empuk di kamarnya. Pria itu pun membungkuk sopan dan undur diri dari hadapan Jinhyuk.

Setelah pintu ruangan tertutup rapat, wajah tenang Jinhyuk perlahan berubah. Ada gurat kekhawatiran yang mendominasi wajahnya. ia merogoh ponselnya dari balik saku jas, membaca kembali pesan yang dikirimkan oleh ayah mertuanya.

From : Jihoon-abeoji

Awasi putramu baik-baik, Jinhyuk.

Jinhyuk menghela napas. Ia pandangi potret keluarganya yang terpampang di sudut ruangan. "Kuharap memang itu alasan kepulanganmu, Seunghyun ..."

..

King's Lover

..

Yifan dan Zitao menunggu dengan cemas dari balik kaca jendela ruang terapi Luhan. Keduanya memperhatikan nona muda mereka yang tengah menjalani terapi bersama Donghae, dengan Chanyeol yang mendampingi di dalam ruangan tersebut.

Napas mereka tertahan ketika melihat Luhan hampir saja terjatuh saat baru berjalan dua langkah dari kursi roda. Beruntung Luhan berhasil menjaga keseimbangan.

"Yifan, apa Nona Luhan akan berhasil?" tanya Zitao was-was.

"Chanyeol sudah menceritakan padaku jika Nona Luhan selalu rutin mengikuti terapi. Aku percaya, Nona Luhan pasti berhasil berjalan seperti semula," jawab Yifan. Ia menoleh ke arah ruangan, lalu tersenyum. "Lihatlah."

Zitao yang semula memandangi Yifan, beralih mengikuti arah pandangan pria itu. Raut was-was yang menghinggapi wajahnya seketika memudar, kala melihat Luhan mulai berjalan perlahan mengikuti Donghae. Keduanya tersenyum senang atas kemajuan Luhan, sama halnya dengan Chanyeol yang langsung memandang ke arah mereka dengan senyuman lebar. Mereka bahkan bisa mendengar teriakan kegembiraan Chanyeol yang begitu keras dari dalam ruang terapi.

Donghae tersenyum puas melihat kemajuan Luhan. "Selamat, Lu. Aku senang sekali melihat kemajuanmu yang begitu pesat," ucapnya sambil menepuk bahu Luhan.

Gadis itu sudah beristirahat kembali di kursi yang disediakan oleh Donghae.

"Itu artinya aku sudah bisa berjalan normal seperti biasanya, Oppa?" tanya Luhan memastikan.

"Ya, kau tidak memerlukan lagi bantuan kursi roda. Hanya saja, kau belum boleh terlalu banyak berjalan karena otot kakimu masih harus menyesuaikan diri secara perlahan. Tidak boleh terlalu dipaksakan," jawab Donghae mengingatkan. "Chanyeol, kau bisa melaporkan pada Sehun soal kemajuan Luhan hari ini."

"Baik, Hyung!"

"Tunggu!" Luhan menahan Chanyeol yang hendak menghubungi Sehun. "Nanti saja, Oppa. Biar aku yang memberi kejutan pada Sehun."

Mendengar ucapan Luhan, Chanyeol dan Donghae terkekeh pelan.

"Baiklah, Nona." Chanyeol kembali mendorong kursi roda di dekat pintu ke arah Luhan.

"Donghae-oppa bilang aku tidak perlu memakai kursi roda lagi," ujar Luhan. "Kenapa kau tidak melipat kursi rodanya saja? Malah membawanya ke sini."

"Tidak, saya rasa Nona masih harus memakai kursi roda. Jarak ruangan ini sampai ke mobil tempat kita terparkir cukup jauh, Nona. Saya tidak mau Nona kelelahan," jelas Chanyeol. "Bukan begitu, Donghae-hyung?"

Donghae mengangguk, "Chanyeol benar, Lu."

"Ish!" Luhan terpaksa pindah ke kursi roda, "Aku 'kan ingin membiasakan diri berjalan normal seperti biasanya, Oppa."

"Ey, sudah kukatakan kau tidak boleh terlalu lelah, Lu. Biarkan semua kembali secara perlahan," tutur Donghae kembali mengingatkan.

"Arraseo, Oppa." Luhan tersenyum kemudian menggenggam tangan Donghae. "Terima kasih Oppa sudah banyak membantuku selama terapi."

"Itu memang sudah tugasku sebagai dokter, Lu." Donghae mengusap lembut kepala Luhan. "Titip salam untuk Sehun."

"Baik, Oppa."

Chanyeol bersiap mendorong kursi roda Luhan, "Kami permisi, Hyung."

Setelah keluar dari ruang terapi, Luhan langsung disambut oleh Yifan dan Zitao yang segera memberi ucapan selamat untuknya.

"Kami senang sekali atas kemajuan Nona. Selamat untuk Anda, Nona Luhan," tutur Yifan.

"Terima kasih, Gege." Luhan tersenyum lebar, kemudian terheran mendapati Zitao menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Astaga, Jiejie. Kenapa kau mudah sekali menangis, eoh?"

"Ma-maafkan saya, Nona. Saya hanya terlalu senang," ucap Zitao sambil mengusap kedua matanya. "Selamat untuk Anda."

"Terima kasih," Luhan tersenyum bahagia.

"Nah, sekarang Anda mau ke mana, Nona?" tanya Chanyeol. Ia tahu, Luhan tidak mungkin akan langsung pulang ke mansion keluarga Oh.

"Ah, antarkan aku ke kafe Yixing-eonni. Aku akan memamerkan kemajuanku padanya dan juga Baekhyun," pinta Luhan.

"Assa!"

Seruan Chanyeol membuat Luhan terkejut. Begitu pun Yifan dan Zitao yang langsung diam dengan dahi mengerut tajam.

"Kau kenapa, Yeol?" tanya Yifan bingung.

"Oh, tidak apa-apa, Hyung." Chanyeol menjawab sekenanya, tapi naas. Dia melupakan Luhan yang dengan mudah membaca pikirannya.

"Ah, aku tahu. Kau pasti tidak sabar ingin segera bertemu dengan Baekhyun," goda Luhan seraya menaik-turunkan alisnya.

"Ti-tidak seperti itu, Nona."

Melihat perubahan ekspresi wajah Chanyeol, Yifan dan Zitao pun tertawa. Apalagi Luhan yang dengan santainya menceritakan sosok Baekhyun, membuat Chanyeol semakin kehilangan muka di hadapan mereka.

Zitao menyadari ponselnya mendadak bergetar. Ia pun mohon izin sejenak untuk menjawab panggilan yang masuk di ponselnya.

"Halo?"

"Bagaimana kabarmu, Zi?"

Zitao terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tersenyum senang mendengar suara si penelepon.

"Kabarku baik, Mama."

"Apa semuanya berjalan dengan lancar?"

"Ya."

"Bagaimana dengannya? Dia baik-baik saja?"

Zitao mengalihkan pandangannya pada Luhan yang masih mengobrol bersama Chanyeol dan Yifan.

"Dia baik-baik saja, Mama."

"Syukurlah, mama senang mendengarnya."

Zitao ikut tersenyum. Ia bisa membayangkan bagaimana wajahnya ibu sekarang.

"Zi?"

"Iya, Mama?"

"Cepatlah kembali. Mama sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengannya."

"Bersabarlah, Ma. Aku pasti akan membawanya pulang untuk berkumpul kembali dengan keluarga kita," Zitao menyunggingkan senyuman. "Tolong sampaikan salamku untuk yang lainnya."

"Tentu. Jaga dirimu baik-baik, Zi. Setidaknya aku tenang ada Yifan yang menjagamu. Sampaikan salamku untuknya."

"Ya."

PIP!

"Jiejie!"

Tepat saat panggilan ponsel berakhir, Zitao mendengar suara panggilan Luhan. Gadis itu memberi isyarat padanya untuk bergegas karena sudah tidak sabar ingin segera pergi meninggalkan rumah sakit.

Dengan penuh semangat, Zitao berlari menyusul mereka.

..

..

..

Sehun mengalihkan pandangannya dari layar komputer, ketika mendengar suara ketukan dari arah pintu. Setelah pintu terbuka, Sehun refleks berdiri begitu melihat kedatangan Seunghyun.

"Seunghyun-hyung?"

Kakak sepupu Sehun itu hanya tersenyum seraya melambaikan tangan. "Sepertinya kau sedang sibuk sekali, ya?" tanyanya sedikit berbasa-basi.

"Tidak juga, Hyung." Sehun berjalan menuju sofa yang dikhususkan untuk para tamu. "Silakan duduk."

Keduanya duduk berhadapan. Sehun menelepon bagian pantry agar mengantarkan minuman untuk mereka.

"Ada apa perlu apa menemuiku, Hyung?" tanya Sehun. "Kupikir kau berada di kantor ayahmu."

"Ya, aku memang berencana akan ke sana setelah mengunjungimu ke sini lebih dulu." Seunghyun memperhatikan ruangan Sehun. "Kau menjalankan tugasmu sebagai pemimpin perusahaan dengan baik, Sehun. Keputusan harabeoji yang menunjukmu sebagai pewaris Royal Group memang tepat."

Sehun merasa tak nyaman dengan topik pembicaraan yang diungkap oleh Seunghyun. Ia hanya memilih diam, enggan berkomentar apapun. Beruntung kedatangan office boy yang mengantar minuman untuk mereka, sedikit mengalihkan perhatian Seunghyun. Setidaknya ia bisa mengganti topik pembicaraan.

"Hyung, bagaimana kabarmu selama di London?"

Seunghyun baru saja meletakkan cangkir teh yang dihidangkan. "Menyenangkan. Ada banyak hal yang aku lakukan di sana. Salah satunya mendirikan perusahaan dengan kemampuanku sendiri," ucapnya.

"Apa kau tak berencana meneruskan perusahaan yang dibangun Jinhyuk-samchon?" tanya Sehun lagi.

"Mungkin suatu saat nanti, aku akan mengambil alih perusahaan ayahku, Sehun." Seunghyun meneguk kembali minumannya, "Tapi tidak sekarang. Ada sesuatu yang harus kukerjakan terlebih dahulu."

Sehun mengangguk-angguk. Ia ikut menikmati sajian teh di depan mereka.

"Ngomong-ngomong, aku tidak menyangka kau memilih gadis seperti Luhan untuk menjadi pendamping hidupmu," celetuk Seunghyun dan sukses membuat bola mata Sehun melebar. Pria itu sedikit syok karena Seunghyun tiba-tiba mengungkit topik pembicaraan tentang Luhan.

"Kuakui, dia memang memiliki wajah yang sangat cantik." Seunghyun menatap ke arah jendela, "Saat pertama kali aku melihatnya, aku terkejut menemukan sosok gadis yang benar-benar menyerupai bidadari."

Tangan Sehun mengepal kuat. Bukannya merasa tersanjung, hatinya justru terasa panas mendengar Seunghyun memuji pesona Luhan.

"Seandainya saja aku bertemu dengan Luhan lebih dulu darimu, aku pasti tidak akan melepaskan kesempatan untuk memilikinya, Sehun."

"Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Luhan dariku. Tidak peduli jika kakak sepupuku sendiri yang menginginkannya, aku tidak akan menyerahkan apa yang sudah menjadi milikku," ucap Sehun penuh penekanan dengan mata berkilat marah.

Seunghyun terdiam selama beberapa detik, sebelum akhirnya tawa itu pecah memenuhi ruangan. "Astaga, Sehun. Aku hanya bercanda," ucapnya masih disertai tawa.

Ketegangan di wajah Sehun perlahan mengendur. Matanya berkedip tak percaya atas pengakuan Seunghyun.

"Tenanglah. Aku tidak mungkin merebut calon istri adik sepupuku sendiri," lanjut Seunghyun.

Sehun menarik napas panjang-panjang, melemaskan otot tangannya yang sempat tegang setelah mengepal kuat. "Bercandamu tidak lucu, Hyung," ucapnya jujur. Ia benar-benar terbawa emosi mendengar pengakuan Seunghyun yang rupanya hanya candaan belaka.

"Sudah lama aku tidak melihat wajahmu seperti itu, Sehun," kata Seunghyun masih bersemangat menjahili adik sepupunya.

Sehun hanya mendesah pelan dan menyandarkan punggungnya pada sofa. Sementara Seunghyun sudah berdiri dan bersiap keluar meninggalkan ruangan.

"Kau sudah mau pergi, Hyung?" tanya Sehun menyadari gelagat Seunghyun.

Seunghyun mengangguk, "Terima kasih untuk tehnya."

Tepat ketika Seunghyun membuka pintu, di saat yang sama Joonmyun muncul di depan ruangan Sehun.

"Joonmyun!" Seunghyun langsung menepuk bahu Joonmyun, "Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?"

Joonmyun yang semula tampak kaget, langsung membungkuk sopan di hadapan Seunghyun. "Kabarku baik. Bagaimana denganmu, Hyung?"

"Seperti yang kau lihat," Seunghyun tersenyum lebar. "Aku sangat baik."

"Kapan kau pulang, Hyung?"

"Kemarin." Seunghyun memeriksa ponselnya. "Ah, aku harus pergi sekarang. Mungkin lain waktu, kita bisa makan siang bersama."

Seunghyun melambaikan tangan dan bergegas pergi meninggalkan ruangan Sehun. menyisakan Joonmyun yang masih bertahan di depan pintu, dan Sehun yang sudah kembali duduk di kursi kebesarannya.

"Kau baik-baik saja, Sehun?" tanya Joonmyun sedikit khawatir melihat ketegangan di wajah Sehun.

Sehun hanya mengangguk. Buru-buru ia mengeluarkan ponsel dan mencoba menghubungi Luhan. Ia membutuhkan gadis itu untuk menenangkan pikiran yang mengusiknya.

"Halo?"

Suara Luhan yang begitu lembut dan merdu, berhasil menenangkan hati Sehun. "Kau di mana? Terapimu sudah selesai?"

"Ngg ... sudah, Sehunnie. Aku sekarang berada di kafe Yixing-eonni."

"Jinjja?" Sehun memperhatikan jam di tangannya, "Tunggu aku. 30 menit lagi aku sampai di sana."

"Arraseo."

PIP!

Sekarang giliran Joonmyun yang terbengong melihat gelagat Sehun. "Kau mau pergi ke mana?"

"Menyusul Luhan. Aku butuh dia, Hyung," tutur Sehun sekenanya.

Joonmyun mencekal lengan Sehun, "Tunggu sebentar. Aku baru saja mendapat kabar dari pihak pengadilan soal paman dan bibi Luhan."

Wajah cerah Sehun perlahan berubah serius, "Ada kabar apa, Hyung?" tanyanya tidak sabar. Ah, hampir saja Sehun melupakan kasus penting yang membuat Luhan nyaris kehilangan nyawanya.

"Sidang pertama sudah diagendakan. Lusa, Luhan harus datang ke pengadilan untuk memberikan keterangan sebagai korban," ucap Joonmyun.

"Aku mengerti, Hyung." Sehun mengangguk penuh keyakinan. "Akan aku pastikan Luhan datang menghadiri sidang itu. Pastikan tim pengacara yang sudah kita siapkan bisa memenangkan kasus ini."

"Jangan khawatir. Semua bukti yang kita miliki sangat kuat, Sehun. Kita pasti memenangkan kasus ini," ucap Joonmyun.

Sehun mengangguk senang, "Aku pergi dulu, Hyung. Tolong kau urus sebentar beberapa pekerjaanku."

Belum sempat memberikan respon, Sehun sudah melenggang pergi meninggalkan Joonmyun.

"Dasar, selalu saja mengambil keputusan seenaknya dan serba mendadak," gumam Joonmyun seraya menghela napas melihat kepergian Sehun.

..

..

..

Zitao menatap tak suka pada beberapa pasang mata yang terus melirik arah ruangan VIP di kafe Yixing tempat Luhan berada. Samar-samar ia bisa mendengar nada sumbang dari mereka yang mengkritik kondisi Luhan.

Yifan menyadari perubahan ekspresi wajah Zitao. "Abaikan saja mereka," ucapnya mengingatkan.

"Tidak bisa. Mereka menghina Nona Luhan," balas Zitao sengit.

Yifan mengehal napas. Ia sudah mendengar cerita dari Chanyeol soal reaksi publik tentang Luhan yang diketahui sebagai calon istri Sehun. Kebanyakan mereka menilai Luhan tidak pantas untuk menjadi pendamping Sehun lantaran kondisinya yang memakai kursi roda—padahal kondisi ini hanya bersifat sementara sampai Luhan dinyatakan sembuh usai menjalani terapi pemulihan. Belum lagi orang-orang mulai mencari informasi latar belakang keluarga Luhan, yang bisa dijadikan bahan untuk memberikan hujatan kepada gadis itu.

"Sudahlah. Percayakan saja semuanya pada keluarga Oh. Mereka sudah mengatur segalanya untuk melindungi Nona Luhan," lanjut Yifan. Ia memandangi sekeliling untuk mencari keberadaan Chanyeol. Sampai ia menemukan Chanyeol tengah sibuk mengobrol bersama salah satu pelayan yang bekerja di kafe. "Apa itu gadis yang bernama Baekhyun?"

Zitao melirik arah yang ditunjuk Yifan. Mengingat ciri-ciri yang sudah disampaikan Luhan sebelumnya, Zitao dengan mudah mengenali sosok Baekhyun. "Sepertinya memang dia. Astaga, bisa-bisanya Chanyeol langsung bertindak cepat. Kurasa memang benar jika sebenarnya Chanyeol menaruh hati pada gadis bernama Baekhyun itu."

Yifan pun tertawa menanggapi ucapan Zitao.

..

..

..

Mobil yang dinaiki Sehun berhenti di depan kafe Yixing. Setelah sang supir membukakan pintu, Sehun bergegas turun lalu berjalan memasuki kafe. Kedatangannya sontak mengundang pengunjung kafe yang ada di sana. Tak sedikit dari mereka yang saling berbisik, menilai kemunculan pewaris Royal Group itu untuk menemui Luhan yang sudah datang lebih dulu.

"Tuan Sehun?"

Yifan yang menyadari kedatangan Sehun lebih dulu segera mendekat dan menyapa pria itu. "Anda sudah datang?"

Sehun mengangguk, "Di mana Luhan?" tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun pemandangan Chanyeol yang masih asyik mengobrol bersama Baekhyun, bahkan sesekali membantu pekerjaan gadis itu, membuat Sehun tertawa geli. "Dia bekerja sambil berkencan rupanya?"

Celetukan Sehun tak pelak mengundang tawa Yifan dan Zitao.

"Nona Luhan ada di dalam, Tuan. Nona Yixing sengaja membawa beliau ke ruang VIP karena tak ingin Nona Luhan menjadi pusat perhatian," jelas Zitao.

"Aku tahu." Sehun melirik sekilas ke sekeliling. Ia sendiri juga masih menjadi pusat perhatian pengunjung kafe lainnya. "Lalu bagaimana dengan hasil terapi hari ini?"

"Nona Luhan sudah mengalami banyak kemajuan, Tuan," jawab Yifan tetapi kemudian mendapat pelototan tajam dari Zitao. Oh, rupanya wanita itu mengingatkan Yifan agar tidak mendahului kejutan yang akan diberikan Luhan pada Sehun. Yifan tersenyum tipis lalu menganggukkan kepala—tanda mengerti isyarat yang diberikan Zitao.

"Jinjja?" Sehun tersenyum lebar sekaligus menghela napas lega, "Bagus sekali. Aku senang mendengarnya."

Tanpa menunda waktu lagi, Sehun berjalan cepat menuju ruangan yang ditunjuk oleh Yifan. Pria itu menemukan Luhan tengah duduk di salah satu sofa sambil menikmati beberapa kudapan manis. Ia menghadiahi tatapan penuh tanya pada Yixing yang langsung menyadari keberadaannya.

"Ah, dia merengek ingin dibuatkan kudapan manis, Sehun," ucap Yixing dan sukses membuat Luhan mengerjapkan mata, sekaligus menengok ke belakang.

"Sehunnie!" seru Luhan gembira. Ia refleks berdiri dan berjalan cepat menghampiri Sehun.

Mata Sehun nyaris tak berkedip melihat Luhan sudah berada di depannya, berdiri dengan kakinya sendiri tanpa bantuan alat apapun. Bahkan kursi rodanya dibiarkan begitu saja di dekat sofa.

"Lu ... ka-kau sudah bisa berjalan?" tanya Sehun tak percaya.

Seakan tersadar akan kecerobohannya, mata Luhan mengerjap imut. "Ah, aku lupa. Ini kejutan untukmu, Sehunnie~" ucapnya dengan tawa menggemaskan.

Sehun tak kuasa lagi menahan kebahagiaannya. Ia langsung memeluk Luhan, membawanya berputar-putar hingga terdengar suara pekikan riang dari gadis itu.

"Syukurlah, Lu." Sehun menghadiahi kecupan bertubi-tubi di setiap jengkal wajah Luhan. "Aku bahagia sekali. Kau sudah bisa berjalan normal seperti semula."

Tak ada respon yang keluar dari Luhan. Gadis itu terlalu syok mendapat perlakuan manis—juga memalukan karena ada Yixing di ruangan tersebut.

"Lu, kenapa wajahmu memerah? Apa kau demam?!" tanya Sehun panik.

"Kau membuatku malu, bodoh!" protes Luhan langsung memeluk Sehun, menyembunyikan wajahnya yang sudah menyerupai kepiting rebus.

Sangat menggemaskan.

Sehun terkikik geli. Ia melirik Yixing yang sedari tadi menggelengkan kepala. "Maaf, Noona. Aku tidak bisa menahan diri karena terlalu bahagia," ucapnya santai tanpa merasa bersalah. Ia merintih kesakitan karena mendapatkan cubitan penuh kasih sayang di pinggangnya. Perlahan ia bisa mendengar suara kekehan menggemaskan milik Luhan.

"Apa kau ingin pergi jalan-jalan denganku, Lu?" tanya Sehun tiba-tiba.

Luhan mendongak dengan mata berbinar, "Jalan-jalan?! Aku mau, Sehunnie. Tapi ... kata Donghae-oppa aku masih belum boleh terlalu banyak berjalan. Otot kakiku masih harus menyesuaikan secara perlahan."

"Aku tahu. Kita jalan-jalan di taman pusat kota saja, bagaimana?" tawar Sehun.

"Memangnya kau tidak kembali ke kantor?" tanya Luhan memastikan.

"Satu jam juga cukup, Lu. Kau tahu, aku harus mengisi daya bateraiku yang habis sebelum kembali bekerja," jawab Sehun dengan cengiran lebar.

Pipi Luhan merona, "Gombal!" katanya seraya mendengus kesal.

"Tapi kau suka 'kan?" goda Sehun sambil menaik-turunkan alisnya.

"Sehunnie~"

Tawa Sehun pecah kala melihat bibir Luhan mengerucut imut.

"Astaga, mataku! Bisakah kalian melakukan adegan lovey dovey di tempat lain?" protes Yixing sambil bersedekap.

"Eonni juga bisa melakukannya dengan Joonmyun-oppa," celetuk Luhan polos dan sukses membuat Sehun menoleh kaget.

Jangan tanya bagaimana reaksi Yixing. Wajah perempuan itu sudah merah padam.

"Noona dengan Joonmyun-hyung? Sejak kapan?" tanya Sehun takjub.

"Sejak aku dirawat di rumah sakit, Sehunnie," jawab Luhan. "Sama seperti Chanyeol-oppa dan Baekhyun. Mereka menjadi dekat satu sama lain, hihi~"

"Luhaaaaan~"

"Omo!" Luhan langsung bersembunyi di belakang Sehun yang tergelak. "Eonni, kenapa kau marah padaku? Aku mengatakan hal yang benar 'kan?"

"Aish, kau ini benar-benar rusa bermulut ember!"

Sehun kembali tertawa melihat kelakuan Luhan. "Sudahlah, Noona. Luhan hanya bercanda, kecuali jika apa yang dia katakan memang benar adanya."

"Bela saja terus calon istrimu itu," cibir Yixing. Setelahnya ia tertawa melihat wajah canggung antara Sehun dan Luhan.

"Kami permisi dulu, Noona. Terima kasih sudah menemani Luhan di sini," pamit Sehun.

Yixing mengangguk, "Jaga Luhan baik-baik, Sehun."

"Tentu." Sehun memandangi Luhan, kemudian secara mengejutkan memilih untuk membopong tubuh gadis itu.

Terdengar pekikan Luhan yang begitu keras karena terkejut atas perlakuan Sehun.

"Apa yang kau lakukan, Sehunnie? Turunkan aku!" protes Luhan.

"Tidak mau." Sehun tidak mengatakan apapun dan terus berjalan keluar dengan posisi demikian. Sementara Luhan bersi keras mengeluarkan protes karena malu menjadi pusat perhatian.

Benar saja, dari berbagai sudut kafe terdengar pekikan tertahan dan jeritan histeris pengunjung yang syok melihat adegan manis antara Sehun dan Luhan. Yifan dan Zitao langsung bergegas mengikuti keduanya.

"Baekhyun, aku pulang dulu, ne? Sampai jumpa lagi," pamit Luhan sengaja dengan suara keras. "Lanjutkan saja kegiatan kalian. Aku tidak keberatan kok."

Seruan keras itu membuat Chanyeol gelagapan dan buru-buru menyusul Yifan dan Zitao. Ia pergi tanpa semapt berpamitan dengan Baekhyun.

Baekhyun yang menyadari aksi jahil Luhan hanya bisa menutupi wajahnya yang kini memerah. "Dasar rusa nakal," gerutunya.

Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mengawasi dari dalam mobil yang berhenti beberapa meter dari posisi kafe Yixing. Pria itu menurunkan kaca jendela dan mengamati pemandangan di depan sana.

Pikirannya kembali menerawang pada kejadian di masa lalu, saat ia kehilangan harga dirinya di usia remaja.

Flashback

"Pewaris utama Royal Group adalah putra tunggal dari putraku, Oh Yunho. Mari kita ucapkan selamat kepada Oh Sehun."

Sehun yang kala itu masih berusia 14 tahun tampak maju ke depan, menaiki podium dan berkumpul bersama Jihoon dan Yunho. Ia tersenyum penuh keyakinan di hadapan semua orang yang menghadiri pesta ulang tahun perusahaan sekaligus pengumuman pewaris Royal Group selanjutnya.

Semua orang menyambut pewaris utama Royal Group tersebut dengan penuh suka cita. Sampai-sampai melupakan keberadaan seseorang yang menatap kejadian barusan dengan tatapan penuh iri.

Pemuda berusia 17 tahun itu mengepalkan tangannya kuat sambil menatap tajam ke arah Sehun.

Flashback off

"Tuan Seunghyun?"

Pria itu tersentak kaget saat sang supir memanggilnya. Ia menatap datar ke arah Sehun dan Luhan yang baru saja masuk ke dalam mobil.

"Kita pergi sekarang," titah Seunghyun pada supir pribadinya.

"Baik."

Seunghyun menutup kembali kaca jendela mobil. Sekilas tatapan matanya terlihat kosong, tapi ada satu tekad kuat yang muncul dalam kepalanya.

Aku tidak akan semudah itu membiarkan hidupmu bahagia, Sehun. Kau juga harus merasakan apa yang kualami atas ketidakadilan yang dilakukan harabeoji padaku ...


TO BE CONTINUED

17 Juni 2017


A/N : Walaupun lewat dari target, niatnya tetep update pada tanggal di atas ya *nyengir*

Special for my birthday, update 2 FF sekaligus, yeay! *tebar confetti*

Terima kasih bagi yang sudah memberikan krisar tentang karakter Luhan di chapter sebelumnya. Kalau ada yang tanya ini sampai chapter berapa, saya belum bisa menentukan. Biarkan ceritanya mengalir. Terima kasih sudah membaca =)

P.S : Bagi yang punya akun BBM, silakan baca webnovel-ku yang sudah diterbitkan di fitur WebComics, dengan judul Beautiful Scandal. Kebetulan role modelnya HunHan loh =D