Hai! Okey, saya kembali lagi walau belum tahun 2015. Saya geregetan. Dan akhirnya, menulis cerita sesuai request Quratul ain-san~! Walau bukan tentang tahun baru keluarga Hiruma dan Kobayakawa, tapi ini tentang tahun baru juga. Jadi dibaca saja yaaa XD
Dan sebagai tambahan, saya sudah buat tiga chapter bersambung. Jadi, chapter berikutnya saya upload tgl 24, dan chapter terakhir saya upload tgl 31.
Jadi ditunggu saja ya guy. And enjoy~!
.
Special Chapter : Disaster New Year Part 1 - Mika
.
Mika menuruni anak tangga, tepat saat telepon berdering. Mika menoleh ke bawah tepat ke ruang tengah. Ayahnya sedang duduk di kursi meja makan dan sibuk dengan laptopnya. Sedangkan Keiichi tengah bersantai tiduran di sofa sambil membaca buku. Keduanya sama sekali tidak ada niat untuk mengangkat telepon. Mika menghela napas. Dia membayangkan saat-saat kalau ibunya hanya berdua dengan kedua lelaki tidak pedulian ini di rumah, ibunya pasti sangat kerepotan.
"Dengan Keluarga Hiruma. Ada yang bisa dibantu?" ujar Mika, setelah mengangkat teleponnya. "Oh. Ayaka-san, apa kabar?"
Mika melirik ke samping sofa, melihat kakaknya menurunkan bukunya dan melihat Mika.
"Ya. Nii-chan ada. Dia lagi malas-malasan."
Keiichi bangun dari tidurnya dan berniat menyambar telepon dari Mika.
"Nii-chan. Aku lagi ngobrol sama Ayaka-san," protes Mika sambil menghindari tangan Keiichi yang berusaha merebut teleponnya.
"Berikan Mii." Keiichi menjulurkan tangannya lagi.
"Tidak." Tolak Mika menyembunyikan telepon ke belakang punggungnya.
"Berikan."
"Kalian ini," sahut Mamori yang turun dari tangga dengan membawa ember dan melihat kedua anaknya sedang berebut sesuatu. "Ada apa ribut-ribut?"
"Nii-chan mau merebut teleponku padahal aku lagi ngobrol ma," adu Mika.
"Keiichi." Mamori memperingatkan Keiichi.
"Itu telepon untukku," bela Keiichi.
"Mika." Kali ini Mamori memperingatkan Mika.
Mika menoleh ke Mamori. "Mama sebenarnya bela siapa sih? Aku atau Nii-chan?"
"Mama tidak bela siapa-siapa. Mama bela yang benar, dan mama tahu siapa yang benar. Cepat berikan teleponnya." Mamori lalu masuk ke kamar mandi
Mika memberenggut lalu memberikan teleponnya. "Dasar Nii-chan jelek." Mika lalu masuk ke dapur untuk membuat cokelat hangat.
Keiichi kembali duduk di sofa setelah mendapat teleponnya. "Ya," sapa Keiichi seraya melihat Ayahnya yang tengah menatapnya penuh pikiran. "Bukan apa-apa. Ada perlu apa?" jawabnya lagi lalu bangkit dari sofa untuk menuju ke ruang tamu.
"Telepon dari siapa itu Mii?" tanya Mamori seraya keluar dari kamar mandi menuju dapur.
"Pacar Nii-chan ma."
"Pacar?" pikir Mamori. "Oh, Sakuraba-chan!"
"Mama kenal?"
"Ya," jawab Mamori sembari mengambil cangkir untuk membuat kopi. "Waktu itu dia pernah telepon ke rumah saat Keiichi tidak ada. Jadi mama ngobrol saja dengannya." Mamori tersenyum jahil. "Mama tanya-tanya dia. Habis kakakmu tidak mau cerita," tambahnya lalu memasukkan kopi dan sedikit gula ke dalam cangkir.
"Dia cantik sekali ma."
"Jelas saja. Dia anak Sakuraba dan Keiko."
"Mama kenal orang tuanya?"
"Lho? Memang mama tidak pernah cerita?"
"Mama belum pernah cerita!" protes Mika. "Mama gimana, padahal Ayumi kan juga Sakuraba."
"Lho? Berarti Ayumi adik Sakuraba-chan?" tanya Mamori tambah kaget. "Mana mama tahu. Kamu hanya cerita 'Ayumi-Ayumi'. Saat ke rumah pun dia cuma bilang namanya Ayumi."
"Lalu, bagaimana mama kenal dengan mereka? Yang aku tahu cuma sekolah modeling Sakuraba." Mika menuangkan teko air panas ke dalam gelas cokelatnya.
"Sakuraba itu waktu mama SMA, dia model sekaligus atlet American Football. Dia rival sekolah papa dulu."
"Pasti dia tampan saat muda dulu."
Mamori tersenyum. "Ah ya. Memang sangat tampan. Penggemarnya tersebar dimana-mana." Mamori lalu menuangkan air panas ke kopi Hiruma. "Setelah itu dia berhenti menjadi model dan menekuni Amefuto sampai jadi atlet nasional, sama seperti papa."
"Lalu kenapa aku tidak pernah mendengar namanya?"
"Dia pensiun muda saat kamu kecil, kamu belum ada satu tahun. Yang mama tahu mereka punya dua anak perempuan. Dan setelah Keiko pensiun beberapa tahun lalu, mereka mendirikan sekolah modeling Sakuraba."
Mika mengangguk-angguk. "Sampai sekarang aku heran kenapa Ayumi tidak pernah mau sekolah disana."
"Mungkin dia tidak mau jadi model?" jawab Mamori menjeda pembicaraan mereka dengan membawa kopi ke ruang tengah tempat Hiruma sudah pindah duduknya ke sofa. Mamori duduk di sebelah Hiruma dan melihat Hiruma yang tengah menatapnya. "Kenapa?"
Hiruma lalu kembali ke laptopnya.
Mika duduk di sofa satunya di sebelah Hiruma sambil menyeruput cokelat hangatnya. Dia lalu menyalakan televisi.
Mamori melihat Keiichi kembali ke ruang tengah setelah selesai menelepon. "Keiichi, tolong nyalakan penghangat ruangannya."
Keiichi menyalakan penghangat ruangannya. "Ma," panggilnya sambil berjalan untuk menaruh telepon ke tempat semula. "Lusa besok saat tahun baru, aku boleh ke kuil Minamoto?"
"Kamu mau pergi sama pacarmu ya?" tanya Mamori tersenyum jahil.
"Ayaka bukan pacarku ma," protes Keiichi.
"Memang tadi mama menyebut nama Ayaka?"
Mika ikut tertawa lalu menambahkan, "sekarang Nii-chan menyebut Ayaka-san dengan nama kecilnya."
"Diam kau Mii." Keiichi kembali ke mamanya. "Aku dan Yuki mau pergi kesana. Yah, dengan Ayaka juga."
"Kalau begitu ajak Mika juga."
"Aku tidak mau," tolak Mika cepat.
"Ya. Aku tidak mau ajak Mika," tambah Keiichi sama cepatnya.
Mamori berpikir sesaat lalu bertanya, "Kenapa memang?"
"Karena aku mengajak Yuki."
Hiruma langsung menghentikan kegiatannya dan menengok ke Keiichi sesaat lalu memaku tatapannya ke Mika. Dan Mika terlihat panik mendapati Hiruma yang menatapnya tajam.
"Lho? Memang kenapa dengan Yuki? Kalian bertengkar?" tanya Mamori kepada Mika.
"Sudah." Hiruma akhirnya bersuara dan tatapannya tetap kepada Mika. "Kau boleh pergi," ujarnya kepada Keiichi. "Tapi kau tidak boleh ikut," tambahnya lagi menegaskan kepada Mika.
Mika hanya bisa serba salah melengos ke televisi sedangkan Mamori hanya memandang bingung mereka bertiga.
.
.
Lusa. Pagi hari, sebelum malam tahun baru...
Mika membuka pintu kamar masih dengan piyamanya untuk menuju kamar mandi. Dia berjalan dengan mata setengah terpejam dan rambut acak-acakan. Hari ini dia bangun hampir jam sembilan lewat karena semalam dia keasyikan chating dengan teman-teman sekolahnya tentang malam tahun baru nanti. Mika membuka pintu kamar mandi dan menutupnya. Beberapa detik Mika berdiri di depan cermin, lalu mengambil ikat rambut dan mencuci mukanya. Kesadaran Mika sudah utuh sepenuhnya. Matanya sudah bisa melihat jelas, dan dia mulai menggosok gigi.
Setelah selesai, Mika membuka pintu kamar mandi untuk mengambil minum ke dapur. Tiba-tiba saja napas Mika tertahan, saat melihat orang yang sedang menuruni tangga. Sebelum Keiichi dan Yuki melihatnya, dengan cepat Mika pura-pura tidak lihat dan masuk ke dapur.
Kenapa ada Yuki-Nii disini!? Sejak kapan!? pikir Mika bergelut dalam hati.
"Ma, aku mau― lho, Mii, mama mana?" tanya Keiichi yang tiba-tiba muncul di pintu dapur.
Mika lalu pura-pura mengambil gelas. "Aku tidak tahu. Aku kan baru bangun."
"Aku tahu kamu baru bangun," ujar Keiichi dengan wajah meledek. "Bagaimana aku tidak tahu kalau ada zombie yang keluar dari kamar adikku?" Keiichi lalu tertawa dan langsung keluar dapur sebelum Mika menendangnya.
Mika hanya bisa menahan marah sekaligus malunya, berarti tadi Yuki-Nii melihatnya baru bangun tidur!?, pikir Mika tambah panik.
"Bilang mama, aku mau nonton pertandingan."
"Ya," jawab Mika malas. Dia lalu menghela napas.
"Mika, nanti malam kamu ikut pergi ke kuil?" tanya Yuki yang tiba-tiba menongolkan kepalanya ke dapur.
Mika kaget, tidak menyangka Yuki akan bertanya kepadanya. "Ah, mm. Aku, nanti malam aku ada janji dengan teman-teman."
Yuki tersenyum, "Baguslah. Aku kira kamu akan di rumah saja."
Mika kemudian balas tersenyum.
.
.
"Kenapa kamu mengajakku kesini Hiruma-kun? Bagaimana kalau ada anak sekolah kita yang melihat kita disini." tanya Ayaka.
"Bukan masalah. Biar saja," jawab Keiichi malas.
"Karena itu Ketua. Dia mengajakku sebagai kamuflase kalian," tambah Yuki.
"Kamu ini Kobayakawa-kun, jangan berkata seolah aku pacarnya."
"Memang pacaran kan?"
"Tidak," bantah Ayaka lagi.
.
.
"Kenapa kita kesini!?" protes Mika sambil berbisik.
"Memang kenapa?" tanya Ayumi polos. "Kakakku juga kesini."
"Aku tahu. Karena ada kakakku juga. Bagaimana nanti kalau mereka melihat kakakku!" tunjuk Mika melirik ke dua temannya yang berjalan di depan mereka.
"Mika. Mereka tidak kenal kakakmu. Dan tenang saja. Kita tidak akan berpapasan dengan mereka."
"Lagian," balas Mika cepat. "Kemarin kita kan bukan mau kesini? Kenapa tiba-tiba jadi kesini?"
"Kemarin kamu tidur duluan. Jadi kita ganti tempat."
"Kau gila! Bukan cuma itu masalahnya."
"Apa lagi!?"
"Lho, Mika?"
Mika menoleh ke belakang, dan tidak menyangka melihat Yuki.
"Aku kira kamu tidak kesini." Yuki tersenyum menghampiri Mika.
"Oh. Pantas saja kamu begitu panik," sahut Ayumi pelan namun Mika masih bisa mendengarnya. "Jadi ini yang namanya Yuki? Persis seperti yang ada di foto." Ayumi memperhatikan Yuki. Dia heran, bagaimana bisa Mika, yang menurut Ayumi, menyukai Yuki, tapi tidak mau bertemu dengannya. Dimana-mana kalau suka, orang itu pasti ingin bertemu dengan orang yang disukainya sesering mungkin.
"Kau berisik Ayumi," balas Mika sama pelannya. Mika lalu beralih ke Yuki lagi. "Mana Nii-chan?"
Yuki mengangkat bahu. "Aku tidak tahu. Tadi dia menghilang begitu saja dengan Ketua Sakuraba. Mungkin mereka mau pacaran."
Ayumi kaget dari pikirannya yang mengamati Yuki. "Kakakku dan kakakmu pacaran?"
Mika lebih kaget dengan reaksi Ayumi, "aku tidak tahu. Jangan bikin kaget, bodoh."
"Sebenarnya belum," jawab Yuki membantu Mika yang masih syok. "Oh, jadi kamu adik Ketua Sakuraba?"
"Ya. Aku Ayumi." Ayumi tersenyum menjabat tangan Yuki.
"Aku Kobayakawa Yuki." Yuki balas tersenyum. "Wah, kalian kakak beradik yang cantik."
"Terima kasih."
Beginilah yang terjadi. Kalau Mika bersama Yuki, dirinya jadi tidak terkendali dan selalu ingin menangis tanpa sebab. Tapi sekarang, bukan tanpa sebab. Yuki terlihat begitu tertarik dengan Ayumi. Bagaimana tidak, Ayumi cantik. Mika merasa kalau dirinya bukan saingan Ayumi.
Sekarang, Mika berjalan di belakang Yuki dan Ayumi yang asyik mengobrol melupakan dirinya. Kedua temannya yang lain pun, menghilang entah kemana. Mika pun akhirnya ikut menjauh dan memisahkan diri dari mereka. Dia sudah tidak tahan. Rasanya dia ingin menangis saja.
.
.
"Mika?" Yuki menyadari Mika yang hilang dari pandangannya. Dia lalu melihat Mika menghilang di tengah kerumunan orang.
"Oh, ya ampun." Ayumi menutup mulutnya. "Mika. Ya ampun. Ini salahku, Kobayakawa-san."
Yuki tambah tidak mengerti. "Kenapa salahmu? Terus kenapa Mika pergi? Aku akan susul dia."
"Bilang padanya aku minta maaf," teriak Mika saat Yuki sudah berlari di kerumunan.
.
.
Yuki sudah berlari sampai ke tempat yang tidak begitu ramai orang-orang. Namun dia tetap tidak menemukan Mika. Mika tidak mungkin pergi jauh. Yuki memandang ke sekitar. Dan akhirnya menemukan punggung gadis dengan sweater ungu sedang duduk di batu besar, sambil menunduk menulis-nulis sesuatu di bekas sisaan salju. Yuki lalu menghampirinya.
"Dasar Yuki-Nii bodoh."
Yuki mendengar gumaman gadis itu. "Maaf, kalau aku bodoh."
Mika tidak menoleh tapi tahu siapa orang itu. "Jangan kesini. Pergi saja sana."
Yuki duduk di samping Mika. "Aku tidak mengerti kenapa kamu marah."
"Itu karena kamu bodoh, makanya tidak mengerti."
Yuki mengejapkan mata, "sudah lama aku tidak mendengarmu bicara ketus lagi padaku Mika. Aku pikir kamu membenciku, makanya kamu seperti menjaga jarak dariku."
Mika akhirnya mendongak dan menatap Yuki. "Yuki-Nii duluan yang benci padaku."
Yuki tertawa, "bagaimana aku bisa benci padamu?" tawa Yuki terhenti, ketika benar-benar melihat mata Mika yang merah dan basah, "Mika. Kamu menangis? Kenapa kamu menangis?"
"Yuki-Nii bodoh! Aku benci Yuki-Nii..," Tangis Mika meledak lagi dan dia menunduk menangis di lututnya.
"Kau ini. Jangan nangis. Sudah mengataiku bodoh terus, sekarang malah menangis." Yuki mengelus kepala Mika untuk menenangkannya. "Aku tidak mengerti. Tapi tadi Sakuraba-chan bilang dia minta maaf. Kenapa dia minta maaf?"
Mika tiba-tiba mengangkat kepalanya, "bisa tidak Yuki-Nii jangan tanya kenapa-kenapa terus? Pikirkan saja sendiri!"
"Aku sudah memikirkannya dari tadi. Tapi aku masih tidak mengerti."
"Kalau begitu, pikirkan saja sampai kamu mengerti."
"Nah." Yuki mencubit pipi Mika dengan tangan yang merangkul pundaknya. "Ini baru Mika-ku yang jujur. Selamat datang kembali."
"Apa sih! Yuki-Nii bodoh."
Yuki meraih tangan Mika dan membersihkannya dari salju. "Tanganmu penuh yuki (salju). Nah, sekarang penuh sama Yuki." Yuki tersenyum sambil menggenggam tangan Mika.
Mika bersyukur karena tempat ini gelap. Karena sekarang, wajahnya sudah sangat merona karena perkataan Yuki dan tangan Yuki yang menggenggamnya.
"Ayo kita susul Sakuraba-chan. Dia pasti cemas melihatmu kabur tadi," lanjut Yuki lagi. "Terus. Kenapa tadi kamu kabur?"
Mika melotot. "Sudah kubilang, pikirkan saja sendiri."
Yuki tertawa mendengar jawaban Mika. Mereka akhirnya berjalan bergandengan tangan kembali ke kerumunan perayaan tahun baru.
.
.
Next : Disaster New Year Part 2 - Keiichi
.
Catatan Kecil:
Quiz: Ada yang tahu arti tatapan Hiruma ke Keiichi dan arti tatapan Hiruma ke Mamori di scene pertama?
Hayooo tebaak XD
