.

.

Arissachin production

Proudly present

Dark Moon © arissachin

The character belong to Masashi Kishimoto-san

While, The story is pure mine

.

"Aku lahir kembali dalam wujud yang baru,

Bukan sebagai bulan yang lemah. Tapi, menjadi bulan yang kuat."

.

.

.

ACT 7 : WEIRD FUCKING DATE!

.

Dengan gerakan tiba-tiba Sakura berbalik menatap Ibunya yang tengah menata rambut Sakura. "Ibu pasti bercandakan?" kata Sakura dengan nada heran. "Ibu membiarkanku berkencan dengan lelaki sialan itu? Bukannya ibu dulu tak suka dengan Sasuke?" tanya Sakura dengan mata yang menyipit.

Rin tersenyum manis. Ia lalu memutarkan bahu Sakura agar menghadap kaca kembali. "Oh sayang. Sasuke itu lelaki baik asal kau tahu. Saat kau di New York, ia sering menemani ibu mengobrol di acara bisnis. Kau tahukan acara aneh yang sangaaaaaaat membosankan itu?" kata ibunya ceria. "Dan, kami mengobrol banyak. Ia lelaki yang baik ternyata. Tak seperti yang ibu bayangkan dulu."

"Oh, bagus. Sekarang ia menjadi gigolo ibu." Kata Sakura sarkastik.

Rin dengan cepat memukul kepala Sakura. Sakura meringgis kecil. "Jaga omonganmu."

"Tapi itu kenyataan." Kata Sakura pelan. Ia lalu menghela nafasnya. Ia tak menyembunyikan ketidak sukaannya pada Sasuke. Ia malah dengan terang-terangan memperlihatkan ekspresi bencinya. "Tapi, sepertinya ibu memiliki kelainan. Ibu menganggap ia baik? Ibu belum tahu saja aslinya bagaimana." Gerutu Sakura pelan.

"Kau sepertinya sangat membencinya ya? Kenapa sih? Dulukan kau dan Sasuke-kun selalu menempel. Uh, dulu kau bahkan bisa membuat Sasuke jengkel setengah mati, dan meninggalkanmu berbicara sendiri. Kau tahu? ibu dan Mikoto baa-san bahkan dari dulu memiliki niat untuk menjodohkan kalian berdua. Tapi, karena kau ikut Sasori ke New York, ya itu di batalkan." Kata Rin seraya terkikik geli.

Sakura menghela nafasnya. Ia lupa, ibunya tak mengetahui masalahnya dengan Sasuke. Mengingat, pada malam itu, ibunya tengah berada di Seoul untuk urusan bisnis sialan itu. Terlalu sibuk untuk menanyakan kabar anaknya sendiri, bahkan lucunya ibunya tak mengetahui apapun dan berfikiran bahwa hubungannya dengan Sasuke itu baik-baik saja. Sial.

"Sudah selesai! Sekarang kita pilih baju untukmu!" ujar Rin seraya tersenyum lebar.

Sakura memutar bola matanya. "Kau benar-benar berniat mengumpankan anakmu ini ya."

.

.

"Wajahmu menyeramkan sekali sih. Atau memang sudah sejak dulu begini ya?"

Sakura mendelik ke arah Sasuke. "Ha-ha. Terima kasih pujiannya." Ujarnya datar.

"Sama-sama." Kata Sasuke seraya terkekeh pelan. Ia melihat ke arah Sakura. "Kau cantik malam ini."

Malam ini, Sakura mengenakan dress selutut berwarna putih bergradasi merah jambu, pangang lengan dress itu seperempat tangannya, bagian bawah dressnya mengembang, dan terdapat pita di belakang dressnya. Rambutnya di ikat setengah, dengan di ikalkan bagian bawahnya. Makeupnya cukup natural, hanya sedikit blush on berwarna peach, lipgloss merah jambu, eyeshadow berwana merah jambu-putih. "Kau merayuku? Itu tak berguna." Kata Sakura dingin.

"Kau masih marah gara-gara aku datang mendadak? Oh, ya ampun. Bukankah aku sudah bilang kalau aku akan datang untuk mengajakmu berkencan bukan? Jadi itu jelas bukan salahku." Kata Sasuke seraya mengangkat bahunya.

Sakura memutar bola matanya. "Menyebalkan." Gerutu Sakura pelan. Ia mendengus, dirinya sudah cukup bersabar hari ini terhadap lelaki berambut raven ini. Ya Tuhan! Dari membuatnya malu gara-gara menggendongnya, mengikutinya kemana-mana, bersikap sangat cerewet, hingga tiba-tiba ada di rumahnya untuk kencan! Kesabaran Sakura sudah habis juga kalau begitu.

"Kau mau makan kemana?" tanya Sasuke. Sasuke yang merasa dirinya tak dijawab-jawab menoleh kearah Sakura. Ia memlihat Sakura diam saja, dibandingkan menjawab pertanyaan Sasuke ia malah memilih untuk memandang keluar jendela dengan tatapan kosong. Sasuke menghela nafasnya. "Hey kau mau makan kemana?"

"Terserah." Jawab Sakura singkat.

Sasuke mengangkat bahunya. "Kalau begitu ya sudah."

Sasuke lalu memacu mobilnya lebih cepat. Sebuah senyum terukir di wajah sang Uchiha muda. Berbagai acara sudah ia siapkan untuk membuat gadis di sampingnya ini jatuh cinta pada dirinya lagi. Hmm, mungkin di awali dari sini? Bisa saja gadis ini akan mewarnai harinya kembali seperti dulu bukan?

Sasuke berdeham. "Umm, bicaralah. Suasana ini terasa aneh." Ujar Sasuke pelan.

"Kalau begitu kau saja yang berbicara." Kata Sakura singkat. Ia tetap memandang keluar kaca jendela tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sasuke.

Sasuke memutar bola matanya. "Baiklah, bagaimana kalau di mulai dari kenapa kau pergi dari Jepang?" kata Sasuke.

Sakura mendelik ke arah Sasuke. "Kalau kau tak mau aku menghancurkan makan malam sialanmu ini, jangan pernah ungkit masalah itu." Ujar Sakura tajam.

Sasuke tertawa kecil. "Oke, kita ganti pertanyaannya lagi. Hmm, kau masih menyukaiku?" tanya Sasuke dengan pandangan tetap lurus ke depan.

Sakura mendengus keras. "Kau mau mati hah?"

"Kenapa? Bukankah dulu kau menyukaiku bukan?" ujar Sasuke seraya menyeringai. "Jadi, apa salahnya aku menanyakan hal itu?"

Sakura tertawa sarkastik. "Atas segala yang telah kau lakukan, kau dengan mudahnya bertanya seperti itu. Kau benar-benar kehilangan akal sehatmu Uchiha."

Sasuke mendecih, dan menggelengkan kepalanya perlahan. "Kau selalu saja marah setiap kali aku bertanya, atau bahkan berbicara! Ya Tuhan, ada apa dengan dunia ini."

Sakura hanya memutar kedua bola matanya bosan. Ia lalu menatap ke arah Sasuke. Ia menganalisis penampilan Sasuke malam ini. Lelaki Uchiha ini selalu terlihat –oh fuck aku tak menyangka akan mengakuinya lagi, tampan dengan segala yang di pakainya. Dengan t-shirt putih polos, jaket kulit berwarna hitam, sepatu adidas putih, dan juga kalung rantai yang di pakai di lehernya, ia terlihat luar biasa. Berterima kasihlah pada leluhur Uchiha yang mewariskan keluar biasaannya dalam hal fisik itu.

"Aku yakin kalau dengan cara menatapmu padaku, kau telah jatuh cinta padaku lagi." Goda Sasuke seraya menyeringai. "Berhentilah menatapku dengan tatapan seakan-akan kau ingin menelanku hidup-hidup."

"Jangan bercanda." Ujar Sakura. Ia dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah kaca lagi.

Sasuke tertawa puas. "Jangan marah. Jika kau ingin menatapku lagi, it's ok Sakura." Goda Sasuke.

Sakura mendelik ke arahnya. "Jangan bercanda!Itu menggelikan."

"Upss, jangan marah!" kata Sasuke masih dengan tawanya. "Baiklah, kita ganti ke topik yang lebih ringan. Kau akan ikut study tour bulan depan?" tanya Sasuke.

Sakura menganggukan kepalanya singkat. "Ya."

Sasuke lalu terdiam. Dan ia memilih untuk fokus menyetir mobilnya. Jalanan di kota Tokyo terasa cukup lenggang. Biasanya jalanan di waktu pulang kantor seperti ini pasti penuh, tapi entahlah, malam ini jalanan terasa lenggang.

Perjalanan menuju restoran yang Sasuke tuju akhirnya sampai juga. Sasuke memarkirkan mobilnya di depan gedung restoran tersebut. Ia membuka sabuk pengamannya dan berjalan keluar mobil. Ia menoleh ke arah sisi mobilnya yang lain dan mendapati Sakura tengah mengerutkan keningnya seraya memandangi papan nama restoran itu. "Ada apa?" tanya Sasuke.

Sakura tersenyum sinis. "Kau mau mengajakku makan di sini?" tanyanya.

Sasuke yang kini balik mengerutkan alisnya. "Yeah, kenapa?"

"Kau bercanda bukan?" ujar Sakura dengan nada merendahkan. "Gedung restoran ini terlihat buruk! Kau bercanda untuk mengajakku makan disini? Ini menjijikan."

Sasuke menghela nafasnya. "Mungkin terlihat seperti itu dari luar. Tapi dari dal –"

"Aku tak mau makan di sini." Ujar Sakura seraya melengos masuk ke dalam mobil.

Dia meninggalkan Sasuke yang mematung memandangi bayangan dirinya yang sudah masuk ke dalam mobil. "Ya Tuhan…"

.

.

"Bagaimana dengan ini?" ujar Sasuke dengan sebuah senyuman lebar terpatri di bibirnya. Sebuah restoran di lantai 26, dengan pemandangan langsung ke kerlip-kerlip kota Tokyo. Sebuah restoran dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Sebuah keajaiban jika seseorang itu pergi dan mendapat tempat di restoran saat ia datang saat itu juga. Restoran yang terkenal karena memiliki koki lulusan universitas di Prancis itu memang terkenal akan sangat pemilih untuk tamunya. Bayangkan, mereka hanya menerima sekelompok tamu dalam 1 minggu! Berterima kasihlah pada nama Uchiha yang tersohor itu.

Sakura memandangi Sasuke seraya memiringkan kepalanya. "Kau tahu? Aku muak dengan makanan barat. Aku sudah muak dengan restoran di sana. Aku tak mau disini." Ujar Sakura acuh, ia lalu dengan ringan masuk ke dalam mobil.

Sasuke menganga dan terdiam menatap tempat Sakura tadi berada. "Apa dia gila?"

.

.

"Disini?"

"Tidak! Aku benci koki restoran ini! Dia pernah menumpahkan segelas air ke bajuku. Ganti."

"Tapi –"

.

.

"Disini bagaimana?"

"Kau gila hah? Kaukan tau aku alergi dengan makanan mexico."

"Kau tidak alergi bodoh."

"Pokoknya aku tidak mau."

.

.

"Keputusan terakhir disini."

"Restoran ini meninggalkan kenangan burukku denganmu! AKU TIDAK MAU!"

"A-APA?"

"Ayo cepat, kau membuang waktuku brengsek."

.

.

"Bagaimana?"

"Mau membunuhku hah? Aku tidak suka restoran di pinggir pantai ini! Meski terlihat romantis, tapi kita bukan pasangan kekasih! Lagipula kau mau aku sakit hah?"

"Sakura…"

.

.

"DISINI? BAGAIMANA?"

"Kenapa kau menekankan kalimat itu? Kau membuat moodkujelek saja, aku tidak mau disini. Cepat masuk ke dalam mobil."

"Kau pasti bercanda!"

.

.

Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah kafe sederhana, kafe yang berada di dekat perempatan Shibuya itu terlihat sepi. Melihat sekarang sudah pukul 11 malam, barangkali memang kafe ini sudah tutup. Jika bagi kebanyakan orang, kafe ini terlihat seperti kafe biasanya. Bagi Sakura kafe ini terlihat memuakkan. Ia benci kafe ini.

Sakura mendelikkan matanya ke arah Sasuke. "Kau bercanda mengajakku kemari?"

"Tentu saja tidak, bukankah kafe ini menyimpan banyak kenangan kita?" ujar Sasuke seraya menerawang ke dalam kafe.

Sakura mendengus tak percaya. "Kau bercanda." Gerutunya pelan, ia lalu menatap ke arah Sasuke."Kita akan makan malam disini? Yang benar saja!"

Sasuke menjulurkan kepalanya melihat keadaan sekitarnya. Merasa tak ada yang aneh, giliran ia memandangi Sakura dengan tatapan heran. "Yeah, kenapa?"

"Aku tak suka tempat ini! Kita ganti tempat!" kata Sakura seraya berjalan menjauh meninggalkan Sasuke yang terpaku memandanginya dengan tatapan tak peraya.

Sasuke menarik nafas panjang. "MAU KEMANA KAU? KITA MAKAN DISINI! KITA SUDAH BERGANTI TEMPAT SEBANYAK 7 KALI SAKURA! HEY!" teriaknya jengkel. Ia lalu menarik tangan Sakura untuk berbalik menghadapnya.

"Apa?" ujar Sakura kasar.

Sasuke menatapnya jengkel. "Kau sudah cukup mempermainkan aku malam ini Sakura. Kita akan makan disini. Suka atau tidak, kita akan makan disini. Mengerti?" kata Sasuke dengan serius.

Sakura mendengus, ia menghempaskan tangannya dan menatap Sasuke dengan tatapan jengkel. "Fine! Kau mau makan di sini? Oke! Tapi apakah kau buta? Lihat lampunya sudah padam! Ya Tuhan! Masa kau tak mengerti berarti itu artinya kafe ini sudah tutup bodoh!" gerutu Sakura jengkel.

"Kau akan makan malam bersamaku di sini jika kafe ini belum tutup?" ujar Sasuke tenang.

Sakura mendengus jengkel. "YA!" seru Sakura tanpa pikir panjang. Oh, ya Tuhan! Ia sudah merasa jengkel sekali pada lelaki berambut emo ini.

Sasuke tersenyum, lalu ia memutar Sakura untuk menghadap kafe itu, ia akhirnya mengambil tempat di hadapan Sakura. "Kau akan menyesal." Ujarnya dengan suara yang –oh ya Tuhan, menyebalkan.

Bersamaan dengan itu, Sasuke menjentikan jarinya. Dan, kafe itu… tiba-tiba semua lampu dalam kafe itu menyala. Oh, bukan lampu –oh ya ampun! Itu lilin. Dan, ya Tuhan, apa lelaki ini mencoba bersikap romantis?

"Bagaimana?" ujar Sasuke dengan bangga.

Sakura mendengus seraya memalingkan wajahnya. "Harusnya aku mengatakan tidak saja."desisnya jengkel.

Sasuke tersenyum tipis. "Kau lupa? Aku selalu bisa menciptakan keajaiban." Ujar Sasuke pelan. Ia lalu membalikan tubuhnya. Ia mengulurkan tangannya ke arah Sakura. "Boleh?"

"Tidak." Ujar Sakura ketus. Ia lalu berjalan masuk ke dalam kafe tersebut.

Sasuke memutar bola matanya, dengan cepat ia berjalan ke arah Sakura dan mengambil tangan gadis itu. "Sekali saja, ayolah." Ujar Sasuke seraya tersenyum tipis.

Sakura menghela nafasnya. "Untuk yang pertama dan terakhir." Gumamnya pelan. Ia lalu menyambut tangan Sasuke. Mereka akhirnya masuk ke dalam kafe tersebut.

Kafe yang biasanya terlihat klasik dan simpel. Tapi, kali ini entah apa yang Sasuke lakukan karena kali ini kafe terlihat lebih cantik dari biasanya. Kafe itu penuh dengan bunga mawar putih dan lili putih –yang merupakan kesukaan Sakura, lilin yang menjadi penerang, dan musik klasik yang menjadi suara latar belakang mereka.

Tunggu, kenapa hanya ada mereka dan para pemain musik?

Sakura menoleh dengan cepat ke arah Sasuke. "Kau yang merancang semua ini? Kemana para pelayan? Pasti ini pekerjaanmu." Gerutu Sakura.

"Tapi kau suka bukan?" ujarnya seraya menyeringai tipis. Ia menarik kursi dan mempersilahkan Sakura duduk. Setelah Sakura duduk, ia berjalan menuju kursi di hadapan Sakura. "Ya bukan?"

"Kau pasti bercanda." Ujar Sakura seraya mendengus. Ia lalu menatap makanan di depannya. Steak lengkap, dan wine. Sejak kapan si brengsek ini belajar untuk bersikap romantis pada dirinya?

Sasuke yang memperhatikan Sakura yang tengah menatap Steak itu tersenyum tipis. "Steak. Kesukaanmu." Terangnya.

"Kenapa kau mengetahuinya?" tanya Sakura balik.

Sasuke memutar bola matanya. "Cerewet sekali. Sudahlah, makan saja."

Sakura terdiam sesaat. Ia lalu mulai mengambil pisau dan garpunya dan mulai memotong steak itu. Potongan pertama akhirnya ia kunyah. Sakura terdiam sesaat, ia lalu tersenyum tipis menatap Sasuke. "Cheff Ai? Kau masih ingat rupanya." Ujar Sakura pelan

Sasuke terdiam menatap Sakura yang tersenyum. Walaupun itu nyaris kurang dari lima detik, tapi ia tetap saja sempat melihatnya. Gadis itu… akhirnya… "Kau tersenyum." ucap Sasuke pelan.

Sakura berhenti memotong steaknya. "Hah?"

"Lupakan." Ujar Sasuke seraya menggelengkan kepalanya. Oh, setidaknya senyum itu merupakan tanda bahwa gadis itu merasa senang bukan? Walaupun sedikit tetap saja. Setidaknya gadis itu masih bisa tersenyum. Sebuah kabar baik.

Mereka kembali melanjutkan acara makan malam mereka dalam diam. Tidak ada satupun yang membuka mulutnya untuk berbicara. Keadaan hening seperti ini rasanya begitu menyenangkan rasanya seperti bernostalgia. Saat Sakura dan Sasuke terdiam dan hanya di isi dengan suara deru nafas mereka masing-masing.

"Kau dekat dengan Sabaku itu?" tanya Sasuke.

Sakura mengaggukan kepalanya. "Ya, dia lelaki baik yangmenjagaku. Dia seperti ayah, kakak, kekasih yang di satukan." Ujar Sakura pelan.

Sasuke menatap mata Sakura. Mata onyxnya memancarkan keseriusan. Keseriusan yang paling jarang Sakura lihat. Keseriusan ketika lelaki itu berhadapan dengan ayahnya. Lelaki itu menarik nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya. "Apa… apa kau bersedia meninggalkannya?" ujar Sasuke. "Kembalilah padaku."

Sakura terdiam beberapa saat, Sasuke meminta padanya. Hal yang jarang di lakukan lelaki itu. Tapi, apa itu semua hanya kebohongan semata? Lelaki itu selalu berbohong padanya. Kenapa kali ini ia harus serius? Tapi, Sakura melihat ada kesungguhan di mata lelaki itu. Sasuke serius kali ini. Sangat serius. Tapi, Sakura tidak mau mempecayainya. Itu menyakitkan ketika ia mempercayai hal itu, dan ternyata itu hanya sebuah kebohongan bukan?

Sakura menggelengkan kepalanya. "Kau berbohong." Ujar Sakura pelan.

Sasuke menatap Sakura dengan pandangan yang melembut. "Bagaimana jika aku serius?" tanyanya.

Sakura memejamkan matanya erat-erat. Ia menggigit bibirnya pelan. "Kau pasti mempermainkanku."

"Aku serius kali ini Sakura." Ujar Sasuke pelan.

Sakura nyaris saja mempercayainya, tapi… memori tentang masa lalunya dan Sasuke kembali muncul. Ia menggelengkan kepalanya cepat. "Kau berbohong, kau pasti berbohong." Ujarnya keras kepala. "Aku tidak mau mempercayaimu."

Sasuke tersenyum tipis. "Aku akan membuatmu percaya nanti. Percayalah padaku, aku akan membuka hatimu lagi." Ujar lelaki itu dengan serius.

Sakura menundukan kepalanya. Ia berkali-kali menekankan pada dirinya sendiri. 'ia berbohong. Lelaki itu berbohong lagi. Kumohon jangan percayai dia.'

Sasuke tersenyum tipis. "Kau mau berdansa denganku?" Sasuke melihat Sakura membuka mulutnya. Sebelum gadis itu bisa menolaknya ia segera memotong perkataan gadis itu. "Ayolah malam ini kita usdah basah, kenapa tidak langsung saja?"

Sakura menghela nafasnya. "Hmm. Ayo."

.

.

Sasuke menatap jalanan di depannya dengan tatapan serius. Ia tidak mau terjadi sebuah kecelakaan bukan? Mobil yang lalu lalang di jalanan Tokyo saat ini lebih lenggang di bandingkan biasanya. Mungkin karena saat ini nyaris pukul setengah satu malam?

Sasuke tersenyum tipis, ia merasa seakan-akan hatinya melompat-lompat dari tempatnya. Oh, ia tidak akan pernah mengira makan malam dengan Sakura akan semenyenangkan ini. Gadis ini, memang tidak langsung berlaku luar biasa baik. Tapi, setidaknya Sakura berhenti mengatakan kata-kata tajam terhadapnya. Dan, yang terbaik gadis itu tersenyum. Tipis. Tapi tetap tersenyum.

Lampu merah menandakan mobil Sasuke harus berhenti. Lelaki itu memelankan mobilnya, hingga akhirnya mobil itu berhenti tepat di depan lampu merah.

Sasuke memutar kepalanya dan menatap Sakura. Dan, kau tahu apa? Gadis itu tertidur.

Wajah tidurnya terlihat begitu damai. Begitu tenang. Begitu cantik.

Sasuke mengulurkan tangannya, sebelum tangannya bisa sampai di wajah Sakura, tangan gadis itu dengan cekatan memegangi tangan lelaki itu.

"Jaga tanganmu itu Uchiha." Ujarnya masih seraya menutup matanya, perlahan mata itu membuka lagi dan menampakan iris emeraldnya. "Karena aku bersikap sedikit lebih baik, bukan berarti kau bisa seenaknya saja." Ujar Sakura pelan.

Sasuke terkekeh pelan. "Kukira kau tertidur."

"Tertidur di sampingmu? Kurasa tidak akan pernah. Itu sama dengan mengumpankanku pada seorang yang memiliki gangguan mental." Ujar Sakura pelan.

Sasuke tersenyum tipis. "Kukira kau sudah mulai jinak." Ujar Sasuke.

Sakura mendengus. "Jinak? Kau pikir aku ini seekor hewan?"

"Tentu saja tidak, mana ada seekor hewan yang sebegini cantiknya?" rayu Sasuke.

Sakura memutar matanya. "Kau merayuku? Selamat, tapi itu sama sekali tidak berpengaruh." Seru Sakura jengkel.

Sasuke tertawa seraya memegangi dadanya. "Ouch, jantungku."

"Ha-ha, lucu."

Sasuke mendengus dan kembali berkonsentrasi menyetir. Sementara Sakura. Ia memilih untuk mengalihkan pandangan dan memandangi pemandangan di luar kaca sana. Pemandangan kota dengan banyaknya lampu.

Sakura terdiam dan memegangi jantungnya yang berdetak kencang. 'Apa yang terjadi? Tidak, tidak. Ini semua hanyalah sebuah kebohongan. Kau tidak boleh tertipu. Ini sama sekali tidak nyata.' Ujar suara dari kepala Sakura.

Ya, ia tidak boleh tertipu.

Ia tidak boleh tertipu

.

.

Sakura berjalan menaiki tangga sekolah, banyak orang menatapnya dengan pandangan aneh ketika ia berjalan. Bahkan ,tak jarang ia melihat mereka berbisik-bisik dan menatapnya dengan pandangan jijik? Oke, apa gadis-gadis itu ingin mata mereka di congkel keluar?

Sakura hampir beranjak menanyakan pada seorang gadis berkacamata berambut merah apa yang ia lakukan dengan berbisik-bisik dan menatapnya dengan sinis, tapi hal itu urung ia lakukan. Karena,ia melihat Hinata berlari ke arahnya dengan wajah yang nyaris pucat. Gadis berambut violet itu terlihat panik. Sangat panik. Tidak biasanya gadis itu terlihat sepanik ini.

Ia berhenti tepat di hadapan Sakura. Ia mengatur nafasnya. "S-sakura, k-kau harus me-melihat ini!" serunya.

Sakura menautkan alisnya. Ia terlihat heran. Tidak biasanya gadis Hyuuga terkihat seperti ini, hey! Kemana Hinata yang selalu terlihat tenang itu? "Ada apa memang?"

"K-kau tidak akan menyukainya." Ujarnya masih dengan nafas yang terengah-engah. Ia dengan cekatan menarik tangan Sakura dan berlari menaiki tangga dengan cepat.

"Hey! Tunggu! Jelaskan apa yang terjadi!" seru Sakura. "Hinata!"

Hinata bahkan tanpa menoleh tetap berlari menarik Sakura. "Tunggu dan lihat dulu Sakura! Ya Tuhan! Kenapa kau bisa sebegitu bodoh! Gaara-senpai pasti tidak akan menyukainya!"

Perasaan Sakura tiba-tiba menjadi tidak enak. Entahlah, seperti ada seseorang yang mengocok perutnya. Dan, ia tidak menyukai perasaan ini. Seperti sesuatu yang buruk akan terjadi, hatinya berdetak cepat dan ia memiliki feeling bahwa ini semua berhubungan dengan lelaki Uchiha sialan itu.

Saat ia berlari, ia melewati Gaara. Lelaki itu tampak diam. Tenang. Terlalu tenang. Gaara menatapnya dengan dingin ketika ia berlari dan menubruk lelaki itu, Sakura bahkan tidak berhenti dan terus berlari –salahkan Hinata yang tidak mau berhenti menyeretnya.

"Maaf senpai!" seru Sakura.

Ada yang aneh.

Ada yang aneh dengan reaksi lelaki itu.

Gaara diam, ia bahkan memandangi Sakura dengan tatapan dinginnya. Tunggu! Apa yang sebenarnya terjadi! Gaara melemparkan pandangan dingin yang tidak pernah ia lihat. Apakah… Gaara marah padanya?

Hinata berhenti tepat di depan kerumunan orang-orang. Orang-orang yang melihat kedatangan Sakura dengan cepat menggeser dan memberikan jalan pada Sakura. Tapi, orang-orang itu berbisik-bisik dan menatapnya dengan pandangan merendahkan!

Ada apa dengan orang-orang saat ini!

"Kau harus melihat ini!" seru Hinata seraya menarik Sakura menuju mading di depannya. Orang yang awalnya berdesak-desakkan kini memberi jalan pada kedua gadis itu hingga akhirnya mereka berhenti tepat di depan mading itu.

Mata Sakura nyaris keluar dari tempatnya tepat saat ia membaca tulisan itu. Dunia seakan berubah menjadi hening sesaat. Warna yang biasanya terlihat cerah kini perlahan-lahan memudar. Dunianya tertuju pada satu hal. Kertas besar pada mading itu. kertas yang berisikan tulisan dan gambar.

Gambarnya dan Sasuke.

Gambar ketika lelaki itu menggendongnya di tangga.

Dan ketika mereka makan malam kemarin.

.

'Hottest gossip : Ready or not! Our prince ex want to hook up? A love triangle?'

.

Berita paling panas di seantero Konoha Gakuen. Uchiha Sasuke (17) know as a Casanova prince tertangkap bersama seorang gadis berambut merah jambu yang di ketahui sebagai murid baru yang merangkap sebagai mantan kekasih Casanova kita. Gadis yang merupakan murid pindahan dari Amerika ini berhasil menyita perhatian pangeran kita.

Banyak orang beranggapan bahwa gadis yang bernama Haruno Sakura(16) ini ingin kembali berpacaran dengan Sasuke! Tapi, tunggu! Bagaimana dengan Yamanaka Ino(17)? Gadis yang di ketahui sebagai it-girl-who-will-be-Sasuke-permanent-girlfriend dan sahabat dari Sakura sendiri!

Oh oh oh! Ini akan menjadi salah satu drama dari Konoha Gakuen. Akankah terjadi cinta segitiga? Siapa yang kalian anggap pantas bagi pangeran kira?

Ah, bahkan saya sendiri tidak sabar untuk mengetahui kisah selanjutnya!

.

Sakura dengan tenang menatap kertas di hadapannya. Ia mendengus lalu menggelengkan kepalanya tidak percaya. Dengan sekali hentakan ia menyobek kertas tersebut. Nafas para murid yang menontonnya terdengar seperti syok? Oh, ya ampun.

"Fuck. Siapa yang membuat berita murahan ini?" desis Sakura.

Hinata yang berada di sisinya terdiam dan menutup matanya pelan. "Sudah kukatakan kau tak'an menyukainya. Seharusnya Gaara-senpai sudah melihat ini." Ujar Hinata pelan.

Sakura mendengus dan berjalan menjauh dari mading, Hinata berada di belakangnya dan mengikuti gadis itu. "Aku akan membunuh siapapun orang yang membuat berita ini." Ia member jeda sesaat. "Pasti…"

Detik itu, rasanya Sakura sanggup mencekik siapapun di dekatnya. Oh, ya Tuhan! Ia tak pernah merasa semarah ini!

Tanpa ia sadari, sepasang mata aquamarine menatapnya dari lantai dua. Gadis itu terlihat dengan tenang menyangga kepalanya dengan sebelah tangannya. Matanya menatap gadis itu hingga gadis itu menghilang dari pandangannya. Sebuah senyum terukir di bibir gadis itu. "Dasar jalang, beraninya ia berkencan dengan Sasuke-kun."

Yamanaka Ino.

.

.

NEXT CHAPTER :

ACT 8 : High School Scandal

'Kau beraninya! Dasar wanita jalang!'

'Aku tidak butuh bantuanmu! Aku tidak memintamu untuk membelaku!'

'Kita perlu bicara.'

'Hell yeah, halo penghianat. Aww, bukankah ini reuni yang indah?'

'Kau tahu? Aku bisa membalasmu ratusan kali lebih jahat di bandingkan apapun juga. Membunuh itu hanya bisa membuatmu menderita sekejap. Bagaimana jika aku membuatmu menderita? Menyiksa? Mencemarkan nama baikmu? Ayolah, kau tahukan dari dulu aku sangat menyukai drama!'

'Kau kembali bukan hanya untuk membuat skandal baru Sakura.'

.

Author note's :

Halooooo~ #Smirkedandwavinghands

Sepertinya sudah ratusan tahun saya ga nulis ya! Gomen minna-sama! Berbagai macam alasan bisa aja sih dengan mudah di karang. Tapi, faktanya saya udah kasih taukan ACT 6 kemaren atau di aideen chapter 3 kalo saya bakal rada lama update darkmoon ACT 7. Soalnya saya rada susah ngejabarin chapter ini. Saya sampe berapa kali ganti plot yang ACT7 ini loh, soalnya rasanya kurang puas gimana gitu. Jadi di hapus, edit, tulis, hapus, edit, tulis, berulang-ulang~

Dan, oh ya! Kemaren emang ada humornya ya? Serius loh itu bukan humor! Tapi, kenapa orang-orang anggep itu humor =.= lagian, saya bikin kayak gitu biar fic ini ga terlalu serius banget, takutnya ngebosenin.

Special thanks for :

Vani Rama-Kun ; chocolates ; Rizuka Hanayuuki ; .crane ; Putri Luna ; uchihyuu nagisa; vvvv ; 4ntk4-ch4n ; Zhie Hikaru-chan ; Iya risaskey ; suzuna nuttycookie ; Riku Aida ; Michilatte626 ; Namiko CherryRan Mieko-chan ; jelena-chan sasori ; Eunike yuen ; Mona Rukisa-san ; Tabita pinky-bunny; Valkyria Sapphirre; Radit RedDevi'z ; Shiina Yuya ; ; jj ; Juga

Terakhir banget :

MOHON REVIEW!

.

Sign,

.

Arissachin