Disclaimer : Amano Akira.

Rated : T (Mungkin bisa berubah karena kebutuhan cerita)

Warning :Shonen ai, kekerasan, OOC, OC, TYPO, dll.

Pairing: 1827, slight 8059, slight 6996

Betaed : Kazue Ichimaru

Very special thanks : Lazuardhi Arzasyah Adler x Kazue Ichimaru x Namikaze D. Aqobah

.

.

.

"Kemudian ia kami periksa di laboratorium dan hasilnya mengejutkan…" kata Ryohei.

"Ke-kenapa?" Oh, sekarang perasaan Tsunayoshi semakin tidak enak.

"Ada sebuah microchip didalam otaknya…"

"A-APA?!"

.

.

.

BAB 7 : The True Problem.

.

.

.

"A-APA?! Microchip?!" Tsunayoshi mengulangi perkataan Ryohei.

"Ya…" tutur Ryohei pasrah.

Reborn yang tertarik dengan isi pembicaraan kemudian berkata, "Dame-Tsuna, alihkan ke mode loudspeaker."

"U-um!" Tsunayoshi kemudian menekan tombol loudspeaker.

"Setelahnya,microchip itu kami periksa-…" sang Sun Guardian memotong pembicaraannya sejenak, "tapi kami tak bisa mendeteksi apa isinya."

"Ke-kenapa?" Tsunayoshi menaikkan nada bicaranya setengah oktaf.

"Virus," jawab Ryohei dengan nada serius. "Nampaknya microchip itu telah diprogram."

Sesaat Reborn nampak tersentak setelah mendengarnya. "Dame-Tsuna! Segera telepon markas!"

"Hi-Hieee?!" sang Decimo tampaknya agak panik dengan permintaan yang tiba-tiba itu.

"Hee? Ya sudah, aku akhiri sampai di sini." Ryohei yang mengerti keadaan langsung mematikan sambungan teleponnya.

"Cepat!" bentak Reborn.

Sang Decimo yang tak ingin membuang waktunya –karena membuang waktu di hadapan Reborn artinya mencari mati– langsung menekan beberapa tombol untuk menelepon markas.

"Katakan pada ilmuwan kita untuk mendiagnosis pria yang baru saja kita tangkap," perintah Reborn. Mata tajamnya menatap lurus Tsunayoshi.

Tsunayoshi yang mengerti kemana arah yang dimaksud langsung mengangguk. "Untuk menemukan microchip-nya, kan?"

"Ya."

Setelah Tsunayoshi menelepon markas, ia melihat kearah lorong rumah sakit dan menemukan seseorang bersurai perak yang ia kenal sebagai Strom Guardian-nya sedang berjalan menghampiri sembari membawa sebuah bungkusan plastik berisi minuman.

"Saya kira Juudaime telah pulang ke markas, lagipula ini sudah larut." Gokudera yang telah sampai didepan Juudaime-nya berkata dengan tenang. "Mau minum? Kebetulan saya beli banyak."

"Hee? Boleh, deh. Beli apa?" tanya Tsunayoshi dengan riang.

"Hanya beberapa teh, susu, dan kopi. Susu untuk Yamamoto," jawab Gokudera sembari mengacak bungkusan plastik itu. Memastikan isinya.

"Aku mau susu. Gokudera-kun beli berapa?" tangan Tsunayoshi sekarang telah masuk kedalam bungkusan tersebut. "Hee… ada dua. Kuambil susu satu dan kopi satu, ya?"

"Silahkan," jawab Gokudera sembari tersenyum simpul.

Tsunayoshi kemudian menoleh kearah Hibari. "Kau mau kopi, Hibari-san?"

Yang ditanya hanya mengangguk.

Setelah memberikan kopi kalengan kepada Hibari, Tsunayoshi kemudian membuka susu kotaknya. Sementara Reborn pergi menuju ruang smoking area. Sedangkan Gokudera masuk kedalam ruang tempat Yamamoto dirawat untuk memberikan obat kepada sang dokter.

"Hei, Hibari-san," ucap Tsunayoshi memulai pembicaraan sembari mengaduk-aduk isi susu kotaknya dengan sedotan.

"Hn." Hibari yang sedang duduk disamping Tsunayoshi hanya bergumam tanpa menoleh.

"Kau tahu, aku merasa ini semua belum selesai," kata Tsunayoshi sembari menengadahkan kepalanya.

Hibari kemudian menyandarkan punggungnya sembari memejamkan mata. "Ya, aku juga."

Trililit~

Sesaat saat Tsunayoshi akan membuka mulutnya untuk mengeluarkan kata-kata, handphone-nya berbunyi. Tanda ada sebuah Short Message masuk. Dengan segera, tangan Tsunayoshi merogoh kantung celananya dan mengambil benda tersebut.

"Ah, dari teman sekelasku…" gumam Tsunayoshi lirih.

.

.

From: Kei 2-C

Subyek:

Hai, bagaimana keadaanmu? ^^ Wali kelas kita mengatakan bahwa kau terkena encok dan darah tinggi. Well, kau jadi melewatkan ulangan harian dan PR-mu akan menumpuk lho~

.

.

Oke. Sekarang Tsunayoshi sweatdrop melihat SMS dari teman sekelasnya. 'Ini pasti gara-gara Reborn!'

"Kenapa, huh?" Hibari yang berada disamping Tsunayoshi melongokkan kepalanya untuk melihat isi SMS tersebut.

"Mana mungkin aku terkena encok dan darah tinggi!" rutuk Tsunayoshi sebal.

Hibari sendiri hanya mendengus geli.

Kemudian Tsunayoshi menghela napas dan mengetikkan deretan kalimat pada layar handphone-nya.

.

.

To : Kei

Subyek:

Keadaanku berangsur-angsur mulai membaik, semoga 2 minggu lagi aku masuk sekolah. Oh ya, bisakah kau meringkaskan pelajaran untukku, Kei-kun? Terima kasih.

.

.

Setelah Tsunayoshi mengirimkan SMS-nya, Hibari kemudian menyeletuk. "He? Kau masih sekolah, hm?"

"Tentu saja. Bukankah Hibari-san juga seharusnya masih sekolah?" Tsunayoshi balik bertanya.

"Tidak," jawab Hibari datar. "Aku sudah lulus kuliah dua bulan lalu."

"HAH?!" Tsunayoshi terperangah. "Memangnya usiamu berapa?"

"Delapan belas tahun," jawab Hibari singkat.

"Waaahhh…" Kagum, Tsunayoshi membuka mulutnya lebar-lebar.

Semenit kemudian Hibari beranjak dari tempat duduknya.

"Mau kemana?" tanya Tsunayoshi.

"Lapar," jawab Hibari sedikit ambigu.

"Hee? Aku juga, ayo cari bakpau daging di kantin rumah sakit."

Setelah itu, mereka berjalan melewati lorong rumah sakit yang sepi mengingat hari sudah larut. Perasaan Tsunayoshi sedari tadi tak enak. Bukan, bukan karena ada hantu. Didunia ini tak ada yang namanya hantu. Baik Tsunayoshi maupun Hibari sama-sama tak mempercayai adanya hantu.

Tsunayoshi tanpa sadar telah sampai di sebuah kantin rumah sakit tersebut. Kantin yang cukup besar. Temboknya dicat warna biru serta rak-rak yang penuh dengan barang kebutuhan seperti makanan, handuk, sabun, dan lain-lain. Sepertinya nama minimarket lebih cocok untuk bangunan ini. Dan, oh, di kantin ini juga terdapat sebuah televisi berlayar dua puluh tiga inci yang tertempel di sebelah kasir dengan beberapa bangku untuk menonton.

Tsunayoshi kemudian masuk dan bertanya pada seorang pria paruh baya yang notabenenya adalah seorang kasir. "Aku mau beli sandwich, belum kadaluarsa, kan?"

"Tetu saja belum, nak," jawab si kasir ramah. "Itu baru kubuat dua jam yang lalu."

"Hee, kalau begitu aku beli ini," ucap Tsunayoshi sembari meletakkan beberapa bungkus sandwich di dekat kasir.

Sementara itu Hibari sedang duduk di bangku sembari mengeluarkan salah satu laptopnya yang berwarna putih. Yah, ransel itu baru terlihat setelah Hibari mengambilnya dari tempat penitipan barang sewaktu ia pergi bersama Tsunayoshi tadi. Hening. Hanya ada suara dari televisi yang sedang menayangkan sebuah acara lawak.

"Ada apa?" Tsunayoshi menghampiri Hibari.

"Aku merasa ada yang aneh," kata Hibari singkat. Manik blue metallic itu masih terus berfokus pada laptopnya.

PIIIPP!

Tiba-tiba laptop Hibari berbunyi nyaring. Hibari tersentak kemudian segera mengetikkan beberapa rumus yang tidak dimengerti oleh Tsunayoshi.

"Ini gawat." Nada bicara Hibari tetap tenang tetapi matanya memancarkan sedikit rasa panik. "Satelit dunia telah diretas…"

"APA?!" Tsunayoshipun ikut tersentak. "Apa yang haru–"

"Wahaha! –KreeeskLadies and Gentleman!"

Perkataan sang brunette terpotong ketika mendengar suara televisi yang tiba-tiba berubah seakan berganti channel. Baik Hibari maupun Tsunayoshi langsung melihat ke arah seorang pria yang diduga memegang remote. Pria itu tertidur dan remote televisinya berada di atas lemari pendingin sebelah televisi.

Kemudian, nampak seorang gadis berambut pirang dengan mata blue sapphire berdiri dengan angkuh di depan sebuah gedung. "Kalian merasa dunia ini adil?"

"Tidak…" Seorang pemuda berjalan dengan tenang menghampiri gadis tersebut.

"Kami tidak merasakan keadilan itu!" Sang gadis menaikkan nadanya satu oktaf.

Sang pemuda kemudian memeluk sang gadis dari belakang. "Selama ini kalian hanya memandang rendah kami. Menganggap kami sampah…"

"SEKARANG LIHATLAH APA YANG BISA KAMI PERBUAT!" sang gadis dan sang pemuda berteriak serempak.

"Geh…" Tsunayoshi menahan napas ketika melihat apa yang di hadapannya. Begitu juga dengan Hibari.

Didepan mereka, nampak sesuatu atau yang lebih tepatnya seseorang yang telah menjadi mayat tergantung di gedung tersebut. Kameranya kemudian menyorot wajah sang mayat.

"I-itu!" Tsunayoshi tak dapat menyelesaikan perkataannya.

"Hn, Anderson Feith, ketua organisasi NATO saat ini." Nada bicara Hibari agak berubah. "Ini akan mengguncangkan dunia berhubung mereka meng-hack satelit."

"Ladies and Gentleman… tangkaplah kami jika kalian mampu!" Sang pemuda berambut cokelat tersebut berkata dengan nada meremehkan.

"AKAN KAMI TUNGGU!" Kemudian, kakak beradik itu langsung melompat terjun meninggalkan mayat tersebut. Kamera lagi-lagi berubah arah fokus. Kamera kemudian menyorot secara keseluruhan gedung tersebut. Nampak gedung dengan struktur aneh mirip dengan sarang rayap hutan terpampang di layar televisi.

"Itu… bangunan Burj Khalifa di Dubai…" Tsunayoshi semakin tersentak. "Keamanan mereka sangat tinggi, kenapa bisa–"

"Sabotase," jawab Hibari. Nadanya tenang seperti sedia kala.

Sedetik kemudian acara televisi kembali normal.

Gigi Tsunayoshi bergemeletuk. Tangannya terkepal erat hingga buku-buku tangannya memutih. Ia segera merogoh sakunya dengan kasar dan mengambil telepon genggamnya.

"Halo, Reborn…" sang Decimo rupanya menelepon mantan home tutor-nya. "Kau sudah tahu tentang acara yang ada ditelevisi barusan?"

"Ya." Jawaban penuh amarah terdengar dari seberang sana. "Kita adakan rapat dadakan!"

Setelah itu Tsunayoshi menelepon Gokudera dan Mukuro. Mereka akan mengadakan rapat dadakan di sebuah ruangan tak terpakai di dalam rumah sakit. Ketika semua orang telah duduk dan berkumpul, sang Decimo langsung berdiri dan menggebrak meja. Membuat para guardian-nya tersentak. Mereka tak menyangka sang Decimoakan semarah ini.

"Tangkap…" sang Decimo menundukkan wajahnya sejenak, kemudian menatap tajam dan lurus para guardian-nya, "DAN BUNUH MEREKA!"

Hari itu, adalah hari di mana mereka melihat sang Decimo meledak karena amarah untuk pertama kalinya.

.

.

.

TBC

.

.

.

VandQ :

Iya, Yamamoto jangan mati sekarang, nanti bakal susah… /oi! Jangan spoiler!/ makasih dah repiewwww~~ cayang dehhh~ :* /emotmu nak/

Hikage Natsuhimiko :

memang kerennnn /A/ Hibari pacar Kai /BUKAN!/ emang keren :3
btw, Kai tunggu repiewmu selanjutnyaa~~

Un-Know-Who :

Wehehehe… /ketawa laknat/ kita luluuusss!~~~~ makasih dah repiew

Natsu Yuuki :

Ngga tauuu~~ /VLAAKK/ baca aja, oke ^^ makasih dah revieeewwww

Kazue Ichimaru :

Ngga papa, kan Kai bilang ngga papa ^^ makasih dah review dan Beta Kai ^^

Terima kasih bagi yang telah membaca, review, fav, follow~~ tanpa Kalian fic ini hanyalah mikroba /alah!/

KAI