My Evil Roomate

Disclaimer : THE GOD, THEMSELVES, THEY PARENT'S , ELF, SM ENTERTAINMENT.

Warning: EYD yang kurang baku, tak banyak menggunakan kosakata Korea, YAOI, alur aneh, jika tidak menyukainya silahkan keluar dari halaman ini.

Genre: Romance, School Life.

Rating: T/T+

Ket:

- Cho Kyuhyun(X) & Lee Sungmin(XII) = Berpacaran (dalam kontrak 1 bulan).

- Kim Jongwoon/Yesung(XII) & Kim Ryeowook(X) = Berpacaran.

- Kim Youngwoon/Kangin(XII) & Park Jungsoo/Leeteuk(XII) = Berpacaran.

- Tan Hangeng/Hankyung(XII) & Kim Heechul(XII) = Belum resmi (masalah keluarga).

- Choi Siwon(XI) & Kim Kibum(X) = Belum resmi (ada perjanjian masa lalu).

- Lee Donghae(XI) & Lee Hyukjae/Eunhyuk(XI) = Sahabat (mereka belum sadar tentang perasaannya).

- Zhoumi (XI)& Henry Lau (X) = Entahlah, tampaknya mereka baru mulai sadar tentang perasaannya.

.

(Saran: Fanfict ini sangat panjang, mohon dibaca dalam keadaan santai. Karena author tak menanggung jika kalian pegal membacanya ^^)

.

.


_HAPPY READING =) _

.

Chapter 7.

.

.

.

"Ya, Tuhan. Aku lelah sekali."

Seorang namja terlihat sedang beristirahat di sebuah kursi taman dengan badan yang penuh peluh. Sesekali dia menyeka keringat yang meluncur dengan mulus di pelipisnya.

.

.

"Gomawo hari ini sudah menemaniku olahraga, hehe."

.

.

Namja yang sedang beristirahat itu menoleh sekilas pada sumber suara. Dia tersenyum—sedikit dipaksakan.

.

"Ne, apapun katamu, lah."

.

"Kau tidak menyukainya, Hyukkie-ya?"

.

Oh itu dia. Suara itu kembali menyahutinya. Suara yang pagi ini membuat Hyukkie mampu mengumpat-ngumpat. Mempermalukannya sekaligus membuatnya seakan berharga.

.

"Aku menyukai olahraganya, Donghae-ya," timpalnya untuk menyenangkan sang lawan bicara.

.

Donghae tersenyum kecil. Dia berulang kali melirik Hyukkie yang terduduk lelah di sampingnya, pandangannya selalu ke objek yang sama. Ketika melirik ke arah Hyukkie sejenak, dengan tiba-tiba dia mengalihkan pandangannya ke depan—melihat beberapa orang melintas yang sepertinya baru pulang dari olahraga pagi— lalu kembali melirik Hyukkie. Aduh...

"Tatap aku saja kenapa? Tak perlu melirikku seperti itu." Hyukkie terkekeh pelan saat menangkap basah Donghae yang berulang kali meliriknya.

Donghae tersenyum canggung. Bodoh sekali.

Hyukkie tiba-tiba berdiri dari kursinya sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara pagi dengan wajah yang bisa dibilang kelewat bahagia.

.

.

"Yah, walau tadi badanku serasa mau patah. Aku cukup menikmati jogging pagi ini. Gomawo, Donghae-ya!" Hyukkie membalik badannya agar berhadapan dengan Donghae. Dia tersenyum lebar.

Donghae yang menatap Hyukkie yang sedang tersenyum begitu tiba-tiba ikut tersenyum dengan polosnya.

.

'Syukurlah dia sudah tidak dingin kepadaku,' batin Donghae cerah.

.

Jujur ya. Dia itu sempat panik sendiri saat sikap Hyukkie alias Eunhyuk itu menjauhinya. Dia bingung. Mereka selalu bersama. Selalu bertengkar dan bahagia bersama. Tapi sejak dia dan Eunhyuk masuk OSIS dan mempunyai patner yeoja, mereka jadi jauh.

.

Aiigoo~ Donghae sungguh bingung.

.

Bukannya Donghae tidak sadar. Tapi kemarin saat dia menempel dengan Eunhyuk, dia merasa ada tatapan menusuk dari rekan kerjanya—Jessica. Dan dia juga menyadari Eunhyuk melirik yeoja itu dengan tatapan mengejek.

.

Hei, ada apa, sih?

.

Sepertinya Donghae kita terlalu polos. Dia bahkan tak sadar bagaimana sekarang perasaannya.

.

'Masa aku gay, sih?' batinnya nelangsa. Dia normal! Pokoknya dia normal!

.

Yah, setidaknya itu prinsipnya selama ini. Dia hanya menganggap Eunhyuk sebagai sahabatnya. Titik!

.

Oh, benarkah?

.

"Ya! Kau melamun seperti orang bodoh!"

.

Deg!

Donghae tersadar dari lamunannya. Dia melihat di hadapannya Eunhyuk sedang menggembungkan pipinya tanpa dosa. Memandang sebal pada Donghae yang tiba-tiba speechless.

.

"E-eh, memangnya aku melamun, ya?" tanyanya dengan gugup. Dia menggaruk belakang lehernya yang tak gatal sama sekali.

.

Omonaaa, apa lagi sekarang?

"Seharusnya kau lihat betapa pabbo-nya wajahmu itu." Eunhyuk menggumam pelan. Donghae yang ditatap dengan singutan seperti itu tertawa pelan.

" Mianhae, kalau aku tadi melamun. Ah, sepertinya sudah mulai panas, kita kembali saja ke asrama, ya?" Donghae melirik pada arloji yang dia pakai. Pukul 09.35 a.m, pantas sudah lumayan panas.

Eunhyuk mengangguk semangat. Dia sangat lelah rupanya.

.

"Kajja! Aku lapar, ayo ke kafetaria!" serunya sambil menarik pergelangan Donghae secara tiba-tiba.

Donghae yang tiba-tiba ditarik hanya bisa menurut saja. Ah, kadang-kadang monyet itu benar-benar polos. Begitu juga dengan dia. Huh, tak sadar diri.

.

.

IoI

"Pelan-pelan, Hyukkie-ya! Aku tak akan pergi kemana-mana. Tak perlu menggandengku dengan semangat seperti itu."

.

Eh?
.

Eunhyuk yang baru sadar sedari menarik pergelangan tangan Donghae sontak melepasnya dengan cepat. Kaget juga dia.

.

"Eh—mian, hehe. Aku tak se—"

.

"OPPAAAA!"

.

Uhuuuk!

.

Eunhyuk yang kaget akibat adanya seruan tiba-tiba itu segera menoleh dengan horror ke arah sumber suara. Donghae juga yang sempat kaget ikut-ikutan melihat ke arah si peneriak.

.

Senyum Eunhyuk seketika mulai pudar melihat siapa yang memanggilnya dari kejauhan dengan pakaian yang bisa dia bilang kekurangan bahan. Dua orang yeoja yang amat sangat dia kenal. Dua orang perusuh. Jessica dan Hyoyeon.

.

Brrruugh!

.

Ketika jarak Hyoyeon sudah dekat dengan Eunhyuk. Tanpa pikir panjang dia menerjang tubuh mungil itu. Memeluknya sangat erat. Eunhyuk dan Donghae saja sampai kaget.

.

"Ya! Apa yang kau lakukan?" Eunhyuk berusaha melepaskan pelukkan maut itu.

.

Donghae yang sekedar tahu itu adalah Hyoyeon teman sekelasnya mengernyit aneh.

Memangnya dua manusia itu dekat, ya?

.

Hyoyeon yang merasa ditolak mengerucutkan bibirnya—sok ngambek. Jessica yang baru tiba di depan mereka tersenyum lebar saat melihat Donghae.

.

"Kau olahraga juga, Oppa?" tanyanya lembut.

.

Donghae mengangguk. Sedangkan Eunhyuk melirik tak suka—namun sepertinya dia juga punya masalah di hadapannya.

Yeoja sok mungil di depannya ini memandangnya dengan mata berbinar. Ahh, sudah jadi rahasia umum yeoja ini menyukainya. Tapi sepertinya Donghae tak tahu ya?

.

Ckck dia memang terlalu innocent.

.

"Kalian sudah mau pulang?" Jessica bertanya sambil tersenyum.

.

Donghae balas tersenyum sambil mengangguk.

.

"Ya, jika kalian tak tiba-tiba datang." Eunhyuk berkata dengan sebal. Apalagi Hyoyeon malah semakin mendekap lengannya. Hei,mereka ini bukan perangko dan amplop!

.

"Aah, mianhae. Kami menganggu kalian," ucap Jessica sambil pura-pura tertunduk sedih. Eunhyuk memutar bola matanya jengah.

.

"Gwaenchana. Ada apa, ya?" Donghae masih berusaha tersenyum ramah. Haaah, tak tahu kenapa dia berulang kali melirik ke arah Eunhyuk yang masih 'ditempeli' yeoja yang tiba-tiba hadir di antara mereka.

.

"Kami hanya ingin mengajak kalian sarapan. Mau tidak? Mau ya, Oppa. Yayaya?" bujuk Hyoyeon manja pada Eunhyuk.

.

Donghae baru saja ingin menjawab, "Boleh sa—"

.

"Shireo!" tiba-tiba Eunhyuk memotongnya dengan kasar.

.

Mereka bertiga memandang ke arah Eunhyuk heran. "Wae, Oppa? Donghae oppas aja setuju kok," rajuk Hyoyeon lagi.

.

"Iya, tak ada salahnya, 'kan?" ujar Jessica mulai sedikit sinis.

.

"Aku tak berminat. Kalau mau bawa saja Donghae bersama kalian," usir Eunhyuk sambil melepaskan tangan yang melingkar di lengannya secara paksa.

.

Jessica tersenyum lebar, ia terpekik kegirangan, "Kyaa! Jinjjayo? Kajja, Oppa!" serunya semangat sambil menarik pergelangan tangan Donghae.

.

"E-ehh? Lho, kau tidak ikut, Hyukkie?" tanya Donghae mulai panik saat Eunhyuk memandangnya acuh.

.

"Yaaah, masa Oppa gak ikut? Andwae! Aku sama siapa?" rengek Hyoyeon manja. Dia kembali menarik-narik lengan Eunhyuk.

Haah, aksi mereka yang tergolong sangat terbuka di tengah jalan itu lumayan mengundang tatapan banyak murid. Huhhh...

.

"Waktu beberapa hari lalu aku memberimu cokelat kau masih bersikap baik padaku, Oppa!" Hyoyeon benar-benar keras kepala.

.

Eunhyuk tersentak, "Aiiish, aku akan baik padamu jika kau tidak se-agresive ini!" dia memijat pelipis kepalanya yang sudah mulai pusing mendengar berbagai macam pembelaan yang dilontarkan Hyoyeon.

.

Donghae diam. Jadi yang memberikan cokelat itu yeoja gak jelas ini? Kok Donghae bisa gak tahu?

.

"Oppaaa~ kajja! Nanti di sana akan ramai!"

.

Eunhyuk melipat kedua lengannya di depan dada. Dia melirik ke arah Donghae yang masih sibuk mengabaikan Jessica yang tak juga jengah mengajaknya.

Donghae menatap Eunhyuk dengan pandangan, 'tolong-aku-Hyukkie-bagaimanapun-caranya!'.

.

.

Haaaahh, Eunhyuk mendesah pelan.

.

"Sudah kubilang kalau kalian mau sarapan bersama bawa saja Donghae—"

.

"Ya! Hyukkie-yaapa yang kau lakukan, sih?" protes Donghae. Sekali ini dia harus merajuk!

Sejujurnya sekarang Eunhyuk sedang berpikir bagaimana caranya lepas dari dua lalat pengganggu ini.

.

Eerrggh!

.

Triinngg!

.

Pupil mata Eunhyuk berbinar melihat empat sosok yang sangat dikenalnya sedang berjalan santai dengan jarak yang tak terlalu jauh dari mereka. Dengan hebohnya dia melambaikan tangan dan terpekik senang.

.

"Hyungggdeuullll!" panggilnya penuh semangat.

.

Tiga orang yang berada di dekatnya itu segera menengok secara serempak. Terlihat empat orang yang sangat tidak asing tersenyum dan mulai berjalan ke arah mereka.

.

'Yosh! Mampus kalian lalat pengganggu!' batin Eunhyuk senang.

.

"Annyeong? Wah, baru pulang jogging, ya?" sapa salah satu dia antara mereka.

.

Kakak tertua mereka—Park Jungsoo atau akrab disapa Leeteuk menyapa mereka ramah. Tiga orang dibelakangnya tersenyum juga. Yayaya, kalian sudah tahu siapa mereka; Kangin, Heechul, dan Hangeng.

.

Eunhyuk kembali menghempaskan tangan Hyoyeon yang menarik-narik tangannya. Dia menghambur di pelukkan Leeteuk dan memeluk lehernya.

.

"Eommaaaa! Aku lapaaarrr~!" rengeknya seperti anak kecil. Leeteuk yang sudah biasa mendapat perlakuan dari anaknya yang paling manja ini tersenyum maklum. Sekarang 'kan lagi gak ada Sungmin, wajarlah dia yang jadi tempat pelampiasan bermanja-manjanya Eunhyuk.

.

"Ne, arraseo. Kami juga mau sarapan. Ayo kita sarapan," hibur Leeteuk sambil menepuk-nepuk punggung Eunhyuk.

.

Karena posisi Eunhyuk yang membelakangi sebagian orang, tak akan ada yang tahu bagaimana ekspresi jahilnya. Namun dia langsung berhadapan dengan Heechul yang berdiri di belakang Leeteuk. Ini menguntungkan.

.

"Hyuuung~ jebbal," bisiknya dengan gelisah.

.

Heechul melirik ke arah Donghae yang tangannya sudah digenggam oleh Jessica secara posesif. Sedangkan raut wajah Donghae sangat kusut. Sepertinya acara merajuknya tadi gagal.

.

Heechul tersenyum lebar ke arah Jessica. Dia mengenal hoobae-nya ini cukup dekat, dan dia terlalu tahu bagaimana sifat yeoja di depannya ini.

Namja cantik itu menyeringai. Seringaiannya itu sulit untuk diartikan. Siapa yang akan dia bela nanti?

.

"Kalian mau sarapan bersama?" tawarnya lembut.

.

Eunhyuk dan Donghae melotot. Aiissshh, kenapa jadi begini?

.

Heechul mendekat ke arah Jessica yang menggengam pergelangan tangan Donghae. Dia ikut memegang pergelangan tangan Jessica.

.

"E-eeh, Oppa?" Jessica nampaknya langsung menyadari ada aura yang tak beres pada namja cantik itu. Dengan tiba-tiba Heechul mendekatkan wajahnya ke telinga Jessica lalu berbisik,"Kau tampaknya sedang mencoba 'merebut' sesuatu, ya?" Sebaris kalimat itu diakhiri dengan Jessica yang menarik paksa pergelangan tangganya—yang otomatis melepas pergelangan tangan Donghae juga.

Dia mundur secara teratur dan meraih lengan Hyoyeon.

.

"Jadi, kalian mau ikut dengan kami?" tanya Heechul dengan wajah ramah luar biasa.

.

Jessica tersenyum masam. "Ti-dak perlu, kami mau sarapan sendiri saja, ya 'kan?" ringis Jessica saat melihat Heechul menyeringai.

.

Yeoja yang ditatap Jessica tadi menatap Jessica balik dengan tatapan bingung. "Lho, kok gitu?"

.

"Waah, sayang sekali. Padahal aku berharap kalian ikut, lho." Heechul mengubah raut wajahnya menjadi kecewa.

.

Eunhyuk yang melihat itu dari belakang sudah sangat susah menahan ketawanya. Sedangkan Donghae nampaknya belum 'ngeh' dengan urusan ini.

.

Heechul semakin menyeringai melihat hoobae yang lumayan dekat dengannya itu meringis ketakutan.

"Haha, mian, Oppa. Lain kali saja, ya? Kami permisi dulu. Annyeong!" pamitnya sebelum mengambil langkah seribu sambil menarik Hyoyeon menjauh dari kumpulan namja itu.

.

Heechul memang susah ditebak. Dia bahkan dijuluki kembarannya Jessica di sekolah itu karena kedekatan keduanya saat Heechul masih di kelas sebelas. Namun ternyata, dia lebih memilih memberikan kebahagiaan pada adiknya yang kurang ajar tapi disayanginya—Eunhyuk. Dia memang campuran iblis dan malaikat secara tidak langsung. Ck.

Hankyung yang tahu akal-akalan Heechul tersenyum ringan. Heenim-nya memang yang terbaik.

.

"Mereka kenapa?" tanya Leeteuk polos.

.

Heechul berbalik menatap kakaknya itu. "Aah, tidak tahu. Kajja! Aku mau sarapan!" Sambil bersiul pelan dia menarik lengan Hankyung dan membawanya berjalan. Bodo amat dengan pandangan orang.

.

"Chagi, ayo kita susul mereka," ajak Kangin yang menggandeng tangan Leeteuk dan menyusul dua couple di depan.

.

Menyisakan Eunhyuk dan Donghae di belakang.

.

Ahh, mereka memang rata-rata tak tahu malu, ya?

.

Donghae masih terdiam di tempatnya. Dia memandangi punggung Eunhyuk yang masih sibuk memandang kepergian kedua pasang hyung-nya itu.

.

.

"Kau nunggu apa? Ppali!" ajak Eunhyuk tiba-tiba kepada Donghae yang masih menatapnya. Aduuh, ada sesuatu yang berdetak lebih cepat di dadanya ini!

Donghae mengangguk singkat. Mereka berdua mulai berjalan beriringan tanpa ada yang berniat memulai percakapan.

.

.

IoI

.

.

.

"Kenapa tadi kau melepasku?" tanya Donghae pelan. Dia cukup tak betah rupanya berdiam diri.

Eunhyuk mengernyit heran. Dia menghentikan langkahnya dan menoleh pada Donghae. "Apa maksudmu?"

.

"Kenapa tadi kau melepasku demi Jessica? Bukankah kau tidak suka aku dekat-dekat dia?" tanya Donghae lebih memaksa. Dia tatap dua bola mata Eunhyuk dalam.

.

Deg!

.

Eunhyuk memalingkan wajahnya. Tak mau ditatap oleh dua bola mata kelam namun teduh itu.

"Hhh, mau aku larang juga dia begitu padamu. Kau juga biasanya nurut-nurut saja dengannya. Kau tidak peduli padaku bukan? Toh, kalau aku bilang aku memang tidak suka kau dekat dengannya kenapa?"

.

Donghae diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Eunhyuk. Dia tiba-tiba bimbang begini.

.

"Kalau aku bilang aku juga gak suka kamu di tempel-tempel sama yeoja gak jelas itu gimana?" tanya Donghae polos. Entahlah, hanya sebaris kalimat itu yang keluar dari mulutnya.

"Hyoyeon?"

.

"Siapapun yang memberimu cokelat itulah. Aku tak suka."

.

Deg!

.

Deg!

.

Astagaaaa! Donghae tadi bilang apa? Aaaaaiiigooo~ wajah Eunhyuk seketika merona merah.

"Kau sakit Hyukkie?" tanyanya dengan innocent sambil memiringkan kepalanya. Sepertinya dia sadar wajah Eunhyuk sudah berubah menjadi merah. Dan caranya menghawatirkan Eunhyuk dapat dibilang sangat menggemaskan.

Ck, sifatnya yang itu datang lagi.

.

Eunhyuk menggeleng. Lalu dengan polosnya dia berjalan dengan cepat untuk menyusul hyungdeul-nya yang sudah mendahului mereka—bahkan mungkin dua pasang hyung-nya itu sudah sampai di kafetaria mengingat jalan mereka yang sangat lambat.

Haah, lihatlah. Dia bahkan masih menundukkan kepalanya saat berjalan. Ck, benar-benar pemalu.

Sedangkan Donghae hanya menatap punggung namja yang lebih tua darinya itu semakin menjauh tanpa ada niat memanggilnya sama sekali. Dia kembali bingung dengan sikap Eunhyuk. Aah, lebih baik dia juga segera pergi ke kafetaria. Perutnya sudah tak bisa diajak kompromi.

.

.

Grrr~

.

.

Aisshh, dua orang itu benar-benar membuatku gemas luar biasa! Bagaimana pendapat kalian?

.


Cafetaria.

.

Heechul dan Hankyung yang telah sampai duluan di kafetaria segera mencari tempat duduk yang masih kosong. Lumayan ramai juga kafetaria pagi ini.

.

"Kita duduk di sana saja," ajak Hanyung sembari menarik Heechul ke tempat yang lumayan strategis. Tak terlalu mencolok tapi nyaman.

.

Heechul sih hanya menurut jika yang mengajaknya itu Hankyung. Dengan cepat mereka berjalan ke arah meja itu dan duduk dengan manis di kursinya. Tak lama dari itu Kangin dan dan Leeteuk datang dan duduk di depan mereka. Posisinya Hankyung duduk paling pojok dengan Heechul di sampingnya. Di depan Hankyung itu Kangin dan Teukkie di samping Kangin.

.

"Mana dua makhluk beda spesies itu?" tanya Heechul pedas.

.

Leeteuk dan Kangin mengangkat bahu tanda tak tahu.

.

"Entahlah. Tapi paling tidak kita kedatangan satu tamu," ujar Kangin sambil menunjuk kedatangan seseorang ke arah mereka.

.

Orang yang ditunjuk Kangin tadi berjalan dengan wajah datar ke arah mereka. Tak pakai permisi dia langsung duduk di samping Heechul. Membuat namja cantik itu menjitak kepala dongsaeng kurang ajar sok dewasanya ini.

.

Pletak!

.

"Aaa—au! Appo, Hyung! Aku baru datang kok udah main pukul aja?" sungutnya tak terima. Dia langsung melirik malaikat yang duduk di depannya, sepertinya dia juga mau ngambek.

.

"Berani kau merajuk pada Teukkie. Kupastikan kau benar-benar habis ku cakar, Kim Jongwoon," ancam Heechul.

Jongwoon kita, alias Yesung melirik kesal pada Heechul. "Kau sudah seperti Heebum yang main cakar saja!" Yesung ngeri juga membayangkan Heechul bertingkah seperti Heebum—kucing peliharaan milik Heechul yang lumayan galak itu. Walaupun kucing itu tidak ada di sini—.

.

"Aiigoooo~ bisakah kalian jangan adu mulut? Ini masih sangat pagi, uri baby," nasihat Leeteuk bosan. Jengah juga melihat dongsaengdeul-nya ini adu mulut. Yah, walaupun sebenarnya itu cara mereka untuk menyalurkan rasakasih sayangnya.

Bagaimanapun juga mereka bukan anak muda gaul yang baru ketemu kemarin sore dan semerta-merta meng-klaim diri menjadi sahabat. Mereka sudah bertahun-tahun bersama.

Dan Leeteuk paham semua itu.

"Hei, Jongwoon! Kudengar kau baru dapat namjachingu, ya?" tanya Kangin jahil.

.

Semua yang ada di situ langsung memandang Yesung. Meminta penjelasan. Lihat saja Heechul, sepertinya dia yang paling semangat mengorek cerita tentang kisah cinta namja bermata sipit itu. Hankyung tertawa kecil melihat sikap Heenim-nya yang tak pernah berubah.

Walau kasar, dia selalu perhatian kepada keluarganya. Dan Hankyung sadar dia sudah jatuh sepenuhnya pada pesona seorang Kim Heechul. Yang mempersulit adalah saat Hankyung mengingat kenyataan bahwa Heechul adalah namja. Dan itu salah satu faktor yang menghambatnya untuk mandapatkan namja cantik itu secara seutuhnya. Haaaahh!

Kembali ke Yesung yang sekarang justru senyum-senyum gak jelas. Sepertinya otak namja itu sedikit terbentur sesuatu. Ah, aku lupa. Dia 'kan memang seperti itu.

.

Pletaak!

.

"Kau kami suruh bercerita! Bukannya senyum-senyum begitu, pabboya!" Heechul sedikit menggeram berbicara pada Yesung yang menurutnya sangatlah 'pabbo' itu.

.

"Omo! Kau anarkis sekali, Hyung!" sekarang giliran Yesung yang marah-marah. Dia mengusap ubun-ubunnya yang tadi menjadi tempat pendaratan jitakkan Heechul.

.

Kangin, Leeteuk dan Hankyung mendesah pelan melihat kelakuan mereka.

.

"Yesungie..."

.

"Chullie..."

.

"Kalian—"

.

Dua namja itu menghentikan pertengkaran tak penting mereka sejenak ketika mendengar suara tiga orang yang berbeda namun serempak memanggil mereka.

Yesung sedikit meringis saat melihat ketiga pasang mata itu manatapnya tajam. Seketika dia menghentikan tindakan konyolnya bersama Heechul. Sedangkan Heechul memalingkan wajah dengan tangan tersilang di depan dada. Hankyung yang sadar si Cinderella itu ngambek mode on, segera bertindak. Dia rengkuh pundak Heechul dan meletakkan kepala Heechul di pundaknya dan mengusap-ngusap puncak kepalanya.

.

"Jangan ngambek, ne?" rayu Hankyung. Berulang kali dia kecup puncak kepala Heechul sambil mengusap bahu kurus namja cantik itu.

.

Sudah kubilang berapa kali. Mana peduli mereka dengan tatapan aneh dari murid lain. Seperti mereka yang melihat tak mengenal siapa kelima namja itu saja. Mau cari gara-gara? Heh, bisa-bisa mereka mundur teratur duluan ketika melihat Sungmin ada di tengah-tengah mereka. Walau pada kenyataannya mungkin Sungmin bahkan tak tahu apa-apa.

.

Entah bagaimana nasib kelinci itu sekarang.

.

"Lovely dovey act," ujar Kangin sebal. Kuberitahu saja ya, Heechul dan Hankyung itu belum resmi pacaran! Mereka saja yang terlalu mesra. Sedangkan Kangin? Dia bahkan tak sanggup mengecup kening Leeteuk di depan banyak orang. Itu terlalu beresiko!

Mau diletakkan di mana reputasi mereka? Ini bukan negara di benua Eropa maupun Amerika. Ini Korea Selatan! Sebuah negara maju yang ada di Benua Asia, saat ini gay bukanlah sesuatu yang umum untuk diperlihatkan. Yah, walaupun tak sedikit pasangan gay di negeri ini. Contohnya di sekolah ini lah...

Kadang Kangin berpikir, bagaimana kelanjutan hubungan dua hyung-nya itu. Kisah mereka tak semanis kelihatannya. Tak akan ada yang mau memulai suatu hubungan.

Yah, menurut Hankyung. Jika mereka pacaran dari sekarang, dia sudah dipastikan tak akan sanggup melepas namja cantik itu. Setidaknya dia ingin membereskan masalah dengan appa-nya dulu. Baru mau memulai suatu hubungan dengan orang yang dia cintai.

Dengan begitu dia tak akan sebimbang sekarang. Itu sih yang Kangin tahu dari kisah cinta dua namja di depannya itu. Dan sekarang dia penasaran dengan si kepala besar Jongwoon ini!

.

"Hyung, ceritakan bagaimana kisahmuuu!" pinta Kangin kepada Yesung. Tumben dia memanggil Yesung dengan embel-embel 'hyung'?

.

"Tak ada yang menarik, yang penting aku sudah mendapatkannya," ujar Yesung santai.

.

"Aaaaahhh! Kau tak menarik, Hyung!" keluh Kangin yang kecewa mendengar jawaban dari Yesung.

.

"Tapi setidaknya berikan kisahmu pada kami, Sungie!" Leeteuk memandang Yesung dengan mata berbinar. Aissh, seketika hati Yesung luluh dengan tatapan ibu tercintanya itu.

.

Huuuuh, haruskah aku dan Jongwoon menceritakannya pada kalian, hmm?

.

Oke, oke. Akan aku beritahu sedikit! Sedikit saja, lho!

.

Yesung mendesah pelan. Sepertinya dia memang harus membagi sedikit ceritanya, "Baiklah—"

.


Flashback.

.

Ryeowook mengigit bibir bawahnya, "Aku––aku tadi siang––"

.

Yesung membulatkan matanya. Jantungnya berdegub lebih kencang.

.

"Kau––jangan bilang kau melihatku––"

.

Ryeowook menutup kedua telingannya dan menggeleng kuat, "Hentikan, Hyung! Aku––aku––aku tak suka!"

.

Yesung tiba-tiba mencengkram bahu Ryeowook dan mengecup kening namja itu, "Mianhae, tapi aku dan dia sebenarnya bukan siapa-siapa. Kumohon, percayalah."

.

"Eh?"

.

"Sebenarnya aku––"

.

Yesung terdiam. Dia harus memilih kata-kata yang tepat untuk menjelaskan situasinya sekarang!

.

"Se-sebenarnya dia itu mantan yeojachingu-ku! Sumpah! Aku sekarang tak ada hubungan apa-apa lagi dengannya!" jelas Yesung setengah panik. Cengkraman di bahu Ryeowook mengencang tanda dia benar-benar akan panik.

.

"Aaau—appo, Hyung," ringis Ryeowook yang merasa Yesung mencengkram bahunya terlalu kuat. Raut wajahnya terlihat masih takut.

.

Yesung tersadar, dia mendesah pelan. Kemudian dia longgarkan cengramannya di bahu itu, lalu kedua telapak tangannya mengelus dua bahu mungil Ryeowook. Dia berbisik pelan dengan wajah tertunduk, "Mianhae—jeongmal mianhae—"

.

Ryeowook yang merasa mulai tenang dengan sentuhan Yesung memberanikan diri menyentuh pipi Yesung dengan jari-jari tangannya.

.

Ah... pipi Yesung dingin.

.

Yesung tersentak saat Ryeowook menyentuhnya. Kedekatan mereka selama ini belum pernah membuat Ryeowook berani menyentuhnya.

.

"Hyung, wajahmu jeleeeekkk sekali. Aku tak mau melihatmu begini. Jadi, jangan sedih, ne?" Ryeowook tersenyum kecil setelah mengucapkan hal itu. Dibelainya pelan kulit pipi Yesung. Dan namja bermata sipit itu mendongakkan kepalanya perlahan. Bola matanya menatap langsung bola mata Ryeowook. Membuat namja mungil itu refleks menarik tangannya dan tersenyum salah tingkah.

.

"E-eh, mian..."

.

"Kau benar-benar memaafkan aku?" tanya Yesung memastikan. Dia menegakkan tubuhnya. Ryeowook mengangguk pelan. "Aku 'kan bukan siapa-siapanya, Hyung. Kenapa aku harus marah?" Ryeowook menarik tubuhnya sedikit menjauh dari Yesung.

.

Namja berjuluk eternal magnae itu beringsut dari ranjangnya. Dia duduk di tepi ranjang Henry. Yesung tersenyum miris.

.

Benar juga.

.

Siapa Kim Ryeowook bagi Kim Jongwoon? Siapa Kim Jongwoon bagi Ryeowook? Apa hubungan mereka berdua? Tak ada sesuatu yang mengikat mereka berdua.

.

Jadi buat apa bertindak seperti ini?

.

"Tunggu sebentar di sini," pinta Yesung sembari turun dari ranjang Ryeowook.

.

Ryeowook memandang kepergian Yesung dengan mata yang masih sembab. Tak terasa air matanya kembali mengalir—entah untuk alasan apa.

.

"H-hyung? Mau kemana?" tanya Ryeowook dengan suara parau.

.

Yesung menoleh sekilas ke arah Ryeowook. Dia tak menjawab panggilan namja mungil itu dan terus berjalan mendekat ke arah piano milik Ryeowook dan duduk di kursinya.

.

Ryeowook terdiam. Apa maksud Yesung?

.

.

"Kau ingat... saat pertama kali aku masuk ke kamarmu ini, kau memainkanku sebuah lagu dari piano ini dan aku ikut bernyanyi denganmu." Yesung bernostalgia. Bola matanya seakan tak berhenti menatap piano putih milik Ryeowook.

.

Jari-jari kecilnya mulai menyusuri bentuk piano itu dan berhenti di salah satu tuts.

.

JENG!

.

Dia menekan dengan keras tuts itu. "Walau belum ada sebulan mengenalmu. Aku tahu aku sudah jatuh ke dalam dirimu," bisiknya pelan tanpa mengalihkan gerakan jarinya. Sekarang jarinya berpindah ke tuts yang lain.

.

JEENG!

.

"Aku akan berusaha membahagiakan dirimu. Aku janji—ah, terdengar konyol, ya?" Yesung terkekeh pelan saat mengatakannya.

.

Ryeowook hanya diam. Ada sesuatu yang serasa mengalir di dadanya. Dia akui, dia cukup merinding melihat Yesung yang seperti itu. Pandangan mata namja itu benar-benar bukan pandangan hangat yang biasanya ditunjukkan untuknya.

.

JENG!

Yesung menekan satu tuts lain lagi. Dia tertawa pelan saat bunyi itu keluar cukup keras. "Dan hari ini aku melihat kau menangis karena aku—"

.

"Hyu—hyung—hentikan..."

.

Yesung mengulum senyumnya. Dia mengangkat kepalanya yang semula tertunduk untuk menoleh ke arah Ryeowook. Pandangannya yang semula dingin berubah menjadi hangat.

.

Deg!

.

Deg!

.

Perasaan Ryeowook berdesir hebat saat melihat pandangat itu. Yesung tersenyum! Senyum yang sangat tulus dan hangat. Berbeda dengan senyuman jahilnya, senyuman datarnya, ataupun senyuman tanpa maknanya. Ini senyum yang sangat-sangat hangat!

"Aku tidak suka melihat kau bersedih—"

.

Pandangan Yesung kembali datar. Jari-jarinya mulai menari-nari di atas tuts-tuts piano.

.

"Ini laguku—lagu yang mereka kira untuk Geun Young. Lagu yang mempertemukan aku dengan dia beberapa tahun silam—"

.

Yesung mulai fokus dengan piano itu. Memainkan akord yang dia hapal—akord lagunya.

.

...Oneuldo nae giegeul ttarahemaeda.
I gil kkeuteseo seoseongineun na
Dasin bol sudo eomneun niga nareul butjaba
Naneun tto i gireul mutneunda...

.

Yesung menarik napas panjang setelah menyanyikan bait pertama lagunya. Dia kembali memandang Ryeowook dengan pandangan teduhnya.

.

.

"Aku tak tahu kenapa mereka berkata seperti itu. Ini lagu yang aku nyanyikan sebelum aku bertemu dengannya. Tapi—entahlah, OSIS itu yang membuatku kenal lagi dengannya—" Yesung kembali dengan wajah datarnya. Aura hangatnya seketika hilang begitu saja.

.

Air mata Ryeowook tumpah begitu saja. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. Berusaha meredam suara tangisannya yang akan semakin keras.

.

Yesung melembutkan pandangannya. "Kau menangis lagi, Wookie."

.

...Neol bogo sipdago. Tto ango sipdago.

Jeo haneulbomyeo gidohaneun nal...

.

Satu lagi bait lirik yang Yesung nyanyikan. Dia memejamkan matanya, meresapi lagu yang akan dia nyanyikan sepenuh hati untuk pujaan hatinya ini.

.

...Niga animyeon andwae. Neo eobsin nan andwae. Na ireoke haru handareul tto illyeoneul. Na apado joha. Nae mam dachyeodo joha nan. Geurae nan neo hanaman saranghanikka...

.

Tangis Ryeowook makin deras. Dia melihat sisi Yesung yang lain. Sosok itu begitu misterius. Dengan pandangannya yang sangat dingin seperti ini, ada rasa asing yang menyusup di dalam dadanya.

Dentingan piano yang dimainkan oleh Yesung begitu dingin dan menusuk perasaannya. Memancing air matanya jatuh lebih banyak.

.

...Na du beon dasineun. Bonael su eopdago. Na neoreul itgo salsun eopdago...

.

"Hyuu—ung, hentikan—hiks—"

.

...Niga animyeon andwae. Neo eobsin nan andwae. Na ireoke haru handareul tto illyeoneul. Na apado joha. Nae mam dachyeodo joha nan. Geurae nan neo hanaman saranghanikka...

.

"Aaakkhh! Sudaaaahh!" teriak Ryeowook sambil menutup kedua telinganya dengan dua telapak tangannya. Dia menutup erat matanya yang makin banyak mengeluarkan air mata.

.

Sakit!

.

Hatinya sakit mendengar lagu ini. Dia tak mau lagi!

.

Yesung menghentikan permainan pianonya sejenak. Dia tatap Wookie-nya yang sudah meringkuk sambil terisak kuat. Yesung tersenyum miris.

.

"Kemarilah..." ajak Yesung pada Ryeowook. Dia mengulurkan satu tangannya. Berharap namja mungil itu mau menghampirinya dan menggenggam erat tangannya.

Ryeowook menghentikan teriakkannya. Dia melihat Yesung kembali tersenyum lembut sambil mengulurkan tangannya.

Seperti terhipnotis, Ryeowook bangkit dengan cepat dari tempat tidur dan menghampiri Yesung.

.

Greeeepp!

.

Setelah Ryeowook meraih tangan Yesung. Yesung dengan cepat menarik Ryeowook ke dalam pelukkannya. Memangkunya sambil menghirup dalam-dalam aroma Wookie.

.

"Saranghae—jeongmal saranghae, Wookie-ya—" bisik Yesung pada Ryeowook yang masih terdiam di pelukkan Yesung. Yesung mengusap-ngusap punggung yang masih sedikit begetar itu.

.

Sebenarnya Yesung merutukki dirinya sendiri. Bagaimana jika Wookie menolaknya? Ini perasaan yang terlalu cepat bukan? Tapi—

.

"Nado, Hyung—nado saranghae—hiks, hiks," balas Ryeowook sambil memeluk leher Yesung. Mengeratkan pelukkannya seakan tak mau lepas.

.

Yesung tersenyum lega. Dia senang dengan aroma ini. Aroma Kim Ryeowook-nya.

.

"Sekarang kau namjachingu-ku, ya? Awas saja kalau kau berani menangis seperti tadi." Yesung melonggarkan pelukkannya. Dia tatap mata Ryeowook yang sangat merah. Sama merahnya dengan rona wajah namjamungil itu..

.

.

Lihat betapa manisnya kekeasih Yesung itu.

.

.

Lama mereka terdiam sampai Yesung mengusap tengkuk Ryeowook dan menekannya. Mendekatkan wajahnya dan wajah Ryeowook. Seharusnya itu dapat terjadi jika—

Kruuuuyyuuuukk~!

—tidak ada suara aneh yang mengganggu.

.

Ryeowook menepuk wajahnya sendiri. Bagaimana bisa suasana seromantis ini dikacaukan dengan suara perutnya? Aaiiiigoooo!

"Hahahaha~ Kau lapar, chagiya?" tanya Yesung jahil. Dia sentil kening Ryewook pelan.

.

"E-hehe—mian, Hyung, aku—"

.

"Belum makan dari siang, eoh?" tebak Yesung sesaat sebelum Ryeowook menuntaskan ucapannya. Ryeowook mengangguk malu-malu—sebenarnya sih dia sangat malu!

.

"Makanya, jangan sering berburuk sangka seperti tadi," nasihat Yesung yang ditanggapi dengan tatapan sebal Ryeowook.

.

"Kalau begitu ayo kita makan!" seru Yesung semangat sambil menepuk-nepuk kedua pipi chubbyRyeowook.

.

Ryeowook mengangguk canggung. Yesungnya sudah kembali seperti semula. Sumpah, dia lebih suka Yesung-nya seperti ini! Mau dikatakan pabbo luar biasa juga Ryeowook terima! Daripada seperti tadi, omooo!

.

.

.

End of Flaschback

.


Keempat namja yang sedari tadi mendengarkan cerita Yesung mau tak mau speechless. Sedangkan Yesung yang menceritakan kisahnya dengan amat sangat cepat tiba-tiba menghirup banyak oksigen dan mengeluarkannya pelan.

.

"—jadi begitu ceritanya. Puas?"

Kangin bertepuk tangan tanpa suara. Hankyung tersenyum kecil—benar-benar diluar dugaan. Heechul tersenyum meremehkan, namun di dalam hatinya dia bangga juga. Sedangkan Leeteuk yang mendengarkan secara seksama langsung mencondongkan setengah badannya ke arah Yesung. Yesung secara refleks agak mundur ke belakang—apalagi diarasa aura perang langsung berkibar dari diri Kangin.

Greeep!

.

"Aaiiiigoooooo~Kau memang anakku yang luar biasaaaa!" serunya sambil memeluk leher Yesung. Dan itu benar-benar menarik perhatian seisi kafetaria.

.

"E-eomma!Malu tahu!"

.

"Sejak kapan kau punya malu, eh?" sindir Heechul saat Yesung berusaha melepaskan pelukkan Leeteuk di lehernya.

.

Yesung mendelik sebal.

.

"Seperti kau punya saja, Hyung!"

.

Heechul tersenyum kesal. Benar-benar kurang ajar namdongsaeng-nya ini. Hankyung merangkul leher Heechul dari belakang—karena posisi Heechul dan Yesung bersebelahan, otomatis jika Heechul menghadap Yesung dia akan membelakangi Hankyung—.

"Tapi aku akui kau hebat. Chukkae dongsaeng-ah," ujar namja keturunan China itu bijak. Heechul mendengus kesal, "Yayaya, ku akui kau beruntung, walau caramu itu membuatku merinding. Setidaknya kau mungkin akan mengurangi sifat 'tidak warasmu'jika berpacaran dengannya."

.

Jleb!

.

"Seperti kau waras saja sih, Hyung~?" ejek Yesung yang benar-benar geram dengan kata-kata Heechul.

.

Satu pemikiran ketiga namja yang ada di sekeliling dua namjaitu.

.

'AB, LINE~!'

.

.

"Kalau begitu—hanya satu pasang yang masih sangat pabbo tentang perasaannya sendiri." Heechul berkata dengan nada meremehkan.

.

.

Semua pasang mata memandang heran ke Heechul. "Siapa maksudmu, Hyung?" tanya Yesung penasaran.

.

.

Bukannya menjawab Heechul malah menunjuk ke arah pintu masuk kafetaria. Membuat yang lain ikut memandang ke arah yang dia tunjuk.

.

.

Keempat namja itu mengangguk mengerti.

.

.

Tak lain tak bukan, yang ditunjuk Heechul adalah dua adiknya yang -katanya- beda spesies itu. Donghae dan Eunhyuk yang sedari tadi terlihat bertengkar kecil sambil berjalan ke arah tempat duduk mereka.

"Aaahh~ sepertinya kita punya tugas, ya 'kan, Hannie?" Heechul mengerling dengan jahil ke arah Hankyung.

"Sepertinya iya," respon namja China itu singkat. Yang lain lagi-lagi mengangguk setuju.

Aahhh, Cinderella mereka ini selalu tak terduga.

.

Setidaknya couple yang sangat lambat reaksinya itu akan lebih cepat 'sadar'.

.

Kalian setuju 'kan dengan rencana kami?

.

.


10.08 a.m

.

"Ya! Cho Kyuhyun berhenti menarikku!" seru Sungmin keras. Pegal juga ditarik-tarik terus oleh Kyuhyun.

.

Kyuhyun lagi-lagi mengabaikannya. "Aku mau cepat-cepat ke sana, Hyung!" alasannya mutlak.

.

Sungmin menggumam kesal. Bocah ini selalu saja seenaknya!

.

Bruuaagh!

.

"Yyaaa! Appo! Apa lagi sekarang, hah?"

.

Sungmin mengusap-ngusap hidungnya yang dengan sukses tertabrak punggung Kyuhyun saat namja itu dengan tiba-tiba menghentikan langkahnya.

.

"Aaaiiiissh! Kau ini kenapa, sih?" tanya Sungmin jengkel. Dilihatnya Kyuhyun malah terdiam menatap sebangun toko yang lumayan besar. Mau tak mau Sungmin harus menyipitkan matanya untuk membaca tulisan di toko tersebut.

.

Glek!

.

*GAME CENTER.*

.

Oh, tidak...

.

"Kau tidak berniat mengajakku ke sana, 'kan, Kyu?" Sungmin memandang Kyuhyun penuh harap.

.

Ini masih pagi, lho! Sungmin belum mau dirinya diracuni oleh suara-suara ataupun efek dari suara hingar bingar di dalam sana.

.

Berbeda dengan Sungmin. Kyuhyun bahkan tidak mengedipkan matanya. Dengan pasti dia menyeret Sungmin untuk masuk ke dalam tempat yang dianggap 'laknat' oleh Sungmin itu.

Aku hanya sekedar memberi informasi saja, ya. Dulu waktu masih kecil, Sungmin diajak Sungjin ke game center. Karena Sungmin benar-benar 'polos' mengenai game, yang ada di tempat itu dia benar-benar dipermalukan.

.

Aaiiisshhhh! Apa salahnya coba kalau dia tidak tertarik dengan dunia virtual itu? Dih, dia sungguh benci game center.

.

.

"Kau tarik aku ke dalam sana—kencan kita batal!" seru Sungmin menyadarkan diri dari lamunannya sendiri.

.

Kyuhyun melirik Sungmin. "Yasudah, Hyung pulang sendiri saja. Aku mau main, salah siapa menahan PSP-ku tanpa alasan yang jelas!" belanya telak. Dari raut wajahnya dia akan merajuk lagi. Iiissh... namjachingu yang sangat kekanakkan!

Sungmin bungkam. Semua yang ada di dalam diri Kyuhyun memang menyusahkan!

.

"Aku janji deh hanya sebentar sajaaa~ ne? Tungguin aku ya, Hyuuung~?" pintanya manja di depan toko itu. Sungmin benar-benar kehabisan kata-kata.

.

Tak mau berurusan lebih lama dengan setan ini dia menganggukan kepalanya lemas. Percuma berdebat dengan Kyuhyun. Serius, deh!

.

Kyuhyun tersenyum lebar. Dengan pasti dia menarik Sungmin untuk memasuki toko itu.

.

Krrriieeet!

.

Kyuhyun masuk dengan wajah sumringah. Sedangkan Sungmin benar-benar memasang wajah suntuk. Suara dentuman musik dari berbagai macam alat game bahkan terdengar dari sini. Padahal Sungmin yakin ruang intinya ada di lantai atas—melihat ruangan yang ukurannya cukup kecil ini hanya ada sofa memanjang berbentuk L di pojong ruangan, dilengkapi dengan mesin penjual minuman. Dan di ujung satunya lagi ada semacam kasir atau apapun itu atau juga tempat membeli 'cash', mungkin?

Wah, pemilik game center ini pintar juga memanfaatkan ruangan. Setidaknya saat kalian masuk tidak akan langsung dihajar oleh berbagai macam peralatan yang namanya saja Sungmin tak tahu.

Yang Sungmin tahu Kyuhyun ternyata sudah meninggalkannya ke kasir itu.

.

Sungmin merasa diacuhkan!

.

Hei, namja berambut ikal itu belum pernah mengacuhkannya! Dan sekarang dia diacuhkan demi game?

.

What the—?

.

"Hyung, mau ikut aku ke dalam atau tunggu di sini?"

Sungmin tersadar dari lamunannya. Ternyata Kyuhyun sudah berdiri tepat di depannya sambil memasang wajah sok polosnya. Namja di depannya ini benar-benar persis iblis! Datang dan pergi tiba-tiba.

.

"Aku tunggu di sana saja," ujar Sungmin sambil menunjuk sofa tadi.

.

"Tapi—nanti kalau aku lupa waktu dan main sampai malam gimana?" Kyuhyun bertanya cemas sembari menampakkan ekspresi wajah yang kelewat polos itu.

.

Plak!

.

"Berani kau lupakan aku, kupatahkan tulang-tulangmu, Cho Kyuhyun." Sungmin menarik kerah kemeja Kyuhyun cukup keras setelah menempeleng kepala bocah itu.

.

Sedangkan ahjussi yang melihat kelakuan dua anak muda itu hanya menggelengkan kepalanya. Sepasang kekasih bertengkar karena salah satunya diacuhkan demi game?

.

Oh, dia sudah biasa melihat itu.

.

"Aaaiiish, kau ini bersikap kasar terus!" Kyuhyun menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Sungmin. Dengan perlahan namja kelinci itu melepaskan cengkramannya di kerah baju Kyuhyun.

.

Hangat.

.

Tangan Kyuhyun di pipinya sangat hangat dan nyaman. Uuuh, dia memang tak bisa menolak jika pangeran neraka ini sudah menyentuhnya.

.

Kyuhyun tersenyum simpul. Sepertinya dia sudah mulai menemukan cara agar kelinci ini diam. Yeeaah!

.

"Benar, Hyung mau nungguin aku di sini? Di dalam sana lebih asyik, lho!" bujuk Kyuhyun. Sepertinya dia tidak sadar di mana mereka ini. Ahjussi penjaga kasir itu semakin terkekeh pelan melihat kelakuan dua anak muda di depannya.

.

Karena penampilan Sungmin yang persis yeoja, sepertinya ahjussi itu belum sadar bahwa dua orang itu adalah namja. Dan Kyuhyun sepertinya bersyukur tentang itu. Setidaknya dia tak usah repot-repot mendengar bisikkan-bisikkan tak penting, 'kan? Yah, walaupun dia tidak peduli juga, sih.

.

"Arraseo, arraseo. Kalau kau bosan masuk saja ke dalam, ne?" tanya Kyuhyun memastikan. Sepertinya keputusan Sungmin sudah bulat.

.

"Oh iya, berikan ponselmu padaku," perintah Kyuhyun lagi sembari mengeluarkan ponselnya juga.

.

Sungmin memandang Kyuhyun dengan tatapan bingung. Namun dia tetap mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Kyuhyun. Ternyata Kyuhyun juga memberikan ponselnya ke Sungmin.

.

"Apa maksudnya?"

.

"Kalau Hyung benar-benar tak mau masuk ke sana. Telpon saja aku. Tapi sepertinya kau bahkan tak mau repot-repot 'kan mencari nomorku di kontakmu? Kalau begitu kau ketik nomormu di situ saja. Lagipula kalau ada yang memanggilmu aku akan segera keluar. Arraseo?" jelas Kyuhyun sambil memainkan ponsel Sungmin dengan tangannya.

Sungmin menganggukan kepalanya sedikit ragu Kyuhyun kembali menangkup wajah imut itu dengan kedua telapak tangannya. Terserahlah hari ini mau disebut apa. Kencan? Yeah, kencan.

.

Hei, bahkan ini pertama kalinya Sungmin berkencan!

.

Arrggh! Dia benar-benar menyesali keputusannya mengikuti kemauan seorang Cho Kyuhyun.

.

Kyuhyun yang sebenarnya sadar dengan aura tak enak yang ditunjukkan Sungmin tanpa ditutupi merasa tak enak hati. Bagaimanapun juga dia yang mengajak Sungmin berkencan. Tapi dia sungguh ingin main game!

.

Aahhh—mianhae Lee Sungmin-ssi. Sepertinya Cho Kyuhyun kita terlalu kangen dengan 'pacar'-nya itu sehingga mengabaikanmu uri Minnie bunny.

.

Haaaah, Kyuhyun memang titisan iblis.

.

"Kau marah?" tanya Kyuhyun sembari menatap Sungmin. Wajah itu kembali beradadi dalam tangkupan telapak tangan Kyuhyun.

"Pergi sana! Kau mengulur-ngulur waktu! Habiskan saja kencanmu bersama game-game konyol itu! Kalau begitu kenapa kau mengajakku kencan hari ini!" bentak Sungmin sambil memalingkan wajahnya. Bola matanya bergerak-gerak gelisah. Bahkan mata kelinci yang sangat cantik itu tak mau menatap mata Kyuhyun dengan pandangan menantang seperti biasanya.

.

Phuuuuuh~

.

"Kau marah..."

.

Kyuhyun dengan lembut meniup-niup kedua kelopak mata Sungmin. Membuat namja yang akan melancarkan protes itu menutup matanya dan menikmati apa yang Kyuhyun lakukan.

.

Brrr...

.

Tubuh Sungmin merinding seketika. Ada perasaan sesak bergumul di hatinya. Dia kembali merasakan sensasi itu.

.

"Jangan marah. Kau jelek tahu," gombal Kyuhyun yang masih setia dengan aksinya.

.

Sungmin yang hanya merespon perkataan Kyuhyun dengan mengerucutkan bibirnya—mencibir.

.

Dia pikir Sungmin dengan gampang akan tergoda apa?

Jangan sementang Sungmin belakangan ini mau meladeni Kyuhyun, lantas dia jadi mudah digoda! Huuuuh! Simpan pemikiran itu jauh-jauh, bung!

.

"Kau pikir aku tergoda, huh?"

.

Hei...! Tapi kenyataannya memang begitu, 'kan?

.

Kyuhyun terkekeh pelan. Dia mengecupi dengan lembut kedua kelopak mata yang masih terpejam itu.

.

"Tapi kupikir kau suka..."

.

Sungmin kembali merending ketika dirasanya kelopak matanya sedikit basah. Oh tidak... Kyuhyun menjilatnya.

.

"Uunngh—apa yang kau lakukan, brengsek!" bentak Sungmin sembari berusaha menjauhkan wajahnya. Kelopak mata itu sontak terbuka. Namun wajahnya yang masih berada dalam tangkupan telapak tangan Kyuhyun tak bisa menjauh.

.

"Pergi sana! Aiiisshh—"

"Kau cemburu pada game? Atau kau tak rela aku tinggal?"

.

Sungmin berjengit. Dia tatap bola mata Kyuhyun tajam—ah, dia sudah kembali menjadi garang.

.

"Tidak! Aku bahkan tak peduli ak—"

.

"Lalu kenapa kau merajuk, Hyung?" Kyuhyun tersenyum evil sambil menggesekkan ujung hidungnya di pipi Sungmin. Badan Sungmin lemas seketika.

"Uu—ng—"

.

Kyuhyun kembali menjilat pipi chubby itu, "Tunggu saja di sini. Aku tak lama—"

.

Sungmin mengangguk dengan susah payah. Dan ketika Kyuhyun kembali mendekatkan bibir ke bibir Sungmin, Sungmin memejamkan matanya erat. Dadanya kembali bergemuruh.

Ya—sedikit lagi!

.

Cu—

.

"EHEM!"

.

Brak!

.

Sungmin dan Kyuhyun refleks mendorong tubuh masing-masing ketika ada suara yang mengintrupsi kegiatan tersebut.

Oh ternyata sang ahjussi itu tak dapat membiarkan kejadian tadi berlangsung dengan sangat indahnya di depan matanya sendiri. Kyuhyun mencibir dalam hati ketika melihat ahjussi itu menggelengkan kepalanya pelan sambil bergumam, 'Anak muda zaman sekarang benar-benar tak tahu tempat.'

Jangan tanya Sungmin. Dia sedang mencengkram erat dada sebelah kirinya, sesuatu di dalam dadanya itu berdetak tak tahu aturan. Wajahnya sudah sangat panas. Aaaarrgggh! Bisa-bisanya dia bersikap sepasrah tadi!

.

"E—ehm, aku main dulu! Annyeong!" Sekarang si bocah neraka itu benar-benar pergi dari hadapannya dan menghilang di balik pintu. Sungmin menghembuskan napasnya berat.

.

Dia berjalan gontai ke arah sofa yang di matanya terlihat sangat menggiurkan—kepalanya begitu pusing dan dia butuh istirahat.

.

Tap.

.

Tap.

.

"Nona beruntung sekali mempunyai namjachingu tampan seperti anak tadi."

.

.

What the heck?

.

.

Sungmin yang baru saja ingin mendudukkan tubuhnya di sofa menoleh dengan sangat pelan ke arah ahjussi itu.

.

Kurang ajar. Dia benar-benar dipermalukan hari ini.

.

"Aahh, tapi nona harus sabar ya dengan tingkahnya—kulihat dia lebih muda darimu, ya?"

Sungmin memaksakan senyumnya mendengar perkataan ahjussi itu. Ingin sekali dia berteriak bahwa dia adalah seorang NAMJA! Namun diurungkan niatnya itu. Dia mau istirahat saja.

Setelah mendapat tempat nyaman di sofa itu. Dia bersenandung kecil sembari menatap ke luar jendela. Ketika dia menengok, sang ahjussi sudah tidak ada lagi. Yah, setidaknya dia bisa sendirian di ruang ini. Hei, sofa ini letaknya agak dipojokkan. Dan disebelahnya ada mesin penjual minuman—artinya dia agak tersembunyi.

.

"Pasti setan itu sedang asyik dengan game-nya. Huuuuh, menyebalkan," gerutu Sungmin sambil menggembungkan pipinya.

Kita lihat saja. Berapa lama si bocah itu akan meninggalkannya.

.


11.03 a.m

.

Terlihat seorang namja jangkung berambut kemerahan sedang berjalan santai di koridor sebuah asrama. Santai atau melamun? Oh, entahlah.

Hari ini dia mau benar-benar bersantai sepertinya. Terlihat dari dia hanya menggunakan kaos tipis berlengan panjang dan celana jeans panjang.

Hari ini hari libur! Mana ada yang protes dia berpakaian seperti itu. Toh asrama ini asrama laki-laki jadi tak akan ada yeoja yang berteriak histeris ketika dia mengenakan baju yang lumayan tipis seperti itu. Daritadi juga dia banyak melihat namja-namja berpakaian tak jauh berbeda dengannya. Wajar saja, diluar itu panas sekali hari ini.

Yah, walaupun di dalam sini sangat sejuk. Tempat memang ini luar biasa nyaman. Walau diluar panas, di dalam sini udaranya sungguh lembab, menjadikan gedung ini sangat sejuk. Jangan lupakan tempat ini ada di mana. Keluarga Cho memang luar biasa.

Berbicara tentang keluarga Cho. Zhoumi jadi ingat dengan teman kecilnya itu. Yah, setidaknya anak bermarga Cho itu tidak banyak membuat masalah. Kalau dipikir-pikir Kyuhyun dewasa juga.

Haah, tadi melamun. Sekarang memikirkan Kyuhyun. Nanti apa lagi?

.

"Kau tak boleh melamun saat sedang berjalan."

.

Zhoumi menolehkan kepalanya. Senyum berkembang di wajahnya ketika melihat teman kecilnya itu—Henry. Namja berpipi chubby itu memandang ke arahnya sambil menggembungkan pipinya. Imut sekali. Ditambah dengan penampilannya yang sedang mengenakan hoodie tanpa lengan berwana putih dengan kaus ketat berwarna hitam untuk dalamannya—terlihat karena hoodie Henry sedikit kebesaran, lalu celana jeans selutut dengan sandal santai. Zhoumi tak bisa melepaskan pandangannya dari sosok imut itu.

"Lihat apa kau?" Henry bertanya dengan suara yang tidak bersahabat. Kedua lengannya disilangkan di depan dada.

.

Zhoumi memutar bola matanya secara imajinatif. Oh ayolah, siapa sih yang menyapanya duluan? Kenapa jadi Zhoumi yang disalahkan dalam percakapan ini?

.

"Kau itu selalu saja marah-marah," ujar Zhoumi sambil berjalan pelan. Henry sekarang berjalan di sampingnya.

.

"Itu 'kan urusanku."

.

Oh... oke. Zhoumi tahu kalimat itu tak akan tinggal di setiap percakapannya dengan Henry.

.

"Kenapa kau tiba-tiba ada di belakangku? Mengikuti aku?" tanya Zhoumi jahil. Henry mendelik ke arah Zhoumi sesaat.

.

"Entah," jawabnya pendek. Zhoumi menghela napas.

.

"Lantas?"

.

Henry melirik Zhoumi sekilas, lalu bibirnya bergerak-gerak gelisah. Zhoumi menaikkan salah satu alisnya. Kenapa bocah itu?

.

"Eemm, sebenarnya aku mau main ke tempat temanku."

.

Zhoumi masih terlihat bingung. "Lalu kenapa kau ada di sini?" tanyanya dengan wajah polos.

.

Henry melayangkan tatapan mautnya pada Zhoumi. Harus dia akui. Dia sangat-sangat malu jika harus mengatakan ini!

.

"Apa sih?" desak Zhoumi.

.

"E—ehm—a-aku-tapi—aku tak—tahu di mana—kamarnya," jawab Henry pelan seperti mencicit. Kata-kata itu diucapkannya sambil membuang wajahnya ke arah samping. Ternyata mochi kita tak tahu jalan. Ck, dia sangat malu.

Zhoumi tersadar dari ke-polossannya. Insting untuk menjalani keusilannya mencuat ke permukaan begitu cepat. Dia menyeringai.

.

"Lalu?" Zhoumi memandang Henry jahil. Aahh, yang dipandang sudah mengumpat tak jelas. Intinya dia minta bantuan Zhoumi 'kan?

.

"Itu—ak—aku mau minta—aiissh! Bisakah kau mengantarkan aku ke tempat temanku?" tanyanya sedikit keras. Untung saja koridor siang hari ini sepi.

.

"Hummph—"

.

"Y-ya! Kenapa tertawa lagi?" sentak Henry saat mengetahui Zhoumi sudah mati-matian menahan tawanya dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan sendiri. Dia akan tertawa keras sebentar lagi.

.

"Buahahaha! K-kau? Tersesat? Haha—" bahkan Zhoumi tak dapat berbicara dengan benar sekarang ini.

.

Henry kembali menggembungkan pipinya tanda tak terima. "Kalau tak mau membantu bilang saja!" lalu dengan cepat namja mungil itu berjalan mendahului Zhoumi.

Zhoumi yang sadar akan hal itu dengan cepat menyusul Henry yang menarik tangannya.

.

"Hei! Siapa bilang aku tak mau? Sekarang siapa nama temanmu itu?" Zhoumi bertanya dengan cepat—antisipasi. Daripada Henry tiba-tiba mengomel karena tindakkannya ini 'kan?

.

Zhoumi terkekeh pelan saat melihat mata Henry menyipit dan memandangnya sebal. Aahh, Zhoumi begitu mengaggumi namja mungil ini.

.

Eh?

.

Zhoumi jatuh cinta?

.

"Namanya Kim Kibum. Katanya sekamar dengan Siwon hyung yang Ketua OSIS itu," jelasnya pelan. Tak sadar bahwa tangannya masih ada di dalam genggaman Zhoumi.

.

"Ooh, namja yang dekat dengan Siwon? Arraseo... aku tahu di mana mereka. Kajja, ikuti aku!" seru Zhoumi sambil menarik Henry untuk mengikuti langkahnya yang besar-besar itu.

.

.

Henry yang tiba-tiba ditarik itu hanya bisa berseru dengan keras,"Ya! Pelan-pelan!"

.

Kenapa si Zhoumi ini senang sekali berbuat yang aneh-aneh padanya? Aaaakkh! Maksudnya, kenapa dia harus membawa diri untuk bertemu dengan Zhoumi sehingga harus mendapatkan perlakuan aneh begini?

.

Aaarrgghh...

.

.

Henry akui dia benar-benar merasa aman jika bersama Zhoumi. Mungkin itu alasannya tadi mencari-cari Zhoumi. Dia seperti yakin bahwa dia akan selalu merasa aman dengan Zhoumi jika namja itu yang menunjukkan jalan ke kamar Kibum.

Um—Henry nampak termenung dengan kata batinnya itu.

.

'Tunggu—!'

.

'Jadi—aku gay seperti Ryeowook hyung, hah?'

.

Andwaeyooo!

.

.


11.05 a.m

Game Center.

.

Sungmin berulang kali mengecek arloji-nya. dan waktu masih terus bergulir. Benar-benar melewatinya tanpa pemberitahuan. Dan saat itu benar-benar Sungmin ditinggal dengan Kyuhyun selama kurang lebih satu jam!

Aku tahu. Untuk manusia yang tenggelam dalam kenikmatan dunia seperti Kyuhyun yang tenggelam dalam dunia virtualnya mungkin satu jam tak berarti apa-apa.

.

Tapi ini Lee Sungmin yang menunggu bocah neraka itu sendirian, lho!

.

Aaaaaiiiish, satu jam serasa bertahun-tahun. "Aku bosan!" keluhnya pada diri sendiri.

.

Selama kurun waktu itu. Memang tak sedikit yang memasuki toko itu. Namun mereka seakan tak peduli ada Sungmin di situ. Setelah menemui sang ahjussi penjaga kasir mereka langsung masuk ke dalam ruangan nista itu dengan wajah yang kelewat sumringah.

.

Sungmin sampai heran dibuatnya.

.

"Lebih baik kau minum sesuatu."

.

Sungmin menengok ke sumber suara. Dilihatnya sang ahjussi penjaga kasir atau apapun itu namanya sedang memandang Sungmin kasihan. Kyuhyun benar-benar mengacuhkannya.

Sungmin tersenyum menanggapi perhatian dari sang ahjussi. Ternyata masih ada yang sadar dengan keberadaan namja cantik itu. Sekarang kepalanya serasa pusing. Dia belum makan siang, 'kan?

Aaahh—semoga anemianya tak kambuh.

.

.

"Gomawo ahjussi, saya baik-baik saja," respon Sungmin yang sebenarnya merasa tak enak hati.

.

.

Ahjussi itu tersenyum. Namun tak lama dari itu telepon di sampingnya berdering. Sungmin yang melihat itu kembali larut dengan aktifitasnya satu jam belakangan ini. Melihat ke jalanan. Sesekali bersenandung kecil.

Sepertinya di luar panas, ya? Huh, Sungmin setidaknya bersyukur dia berada di ruangan se-sejuk ini. Pendingin ruangannya bekerja dengan sangat baik.

"Aah, mianhamnida, nona muda," panggil sang ahjussi. Sungmin menengok.

.

"Ne?"

.

"Bisakah kau jaga tempat ini sebentar? Aku ada urusan. Jika ada anak yang ingin bermain game, bisa kau suruh dia menunggu sebentar?" pinta ahjussi itu. Sungmin mengangguk pasti—tak ada salahnya membantu bukan?

.

"Kasahamnida, nona muda." Ahjussi itu segera berjalan cepat menuju pintu keluar namun langkahnya terhentikan oleh ucapan Sungmin.

.

"Mianhae, tapi saya seorang namja." Ahjussi itu menengok kaget pada Sungmin.

.

"Aah, mian," tambahnya lagi. Merasa tak enak hati karena dari tadi dia menganggap Sungmin seorang yeoja. Setelah Sungmin mengangguk sang ahjussi benar-benar keluar dari ruangan itu.

.

Sungmin hembuskan napasnya lagi. Kali ini dia benar-benar sendirian. Dia menyenderkan punggung dan kepalanya di sofa. Baiklah dia akan menunggu satu jam lagi.

.

.

Sepuluh menit pertama berhasil dilalui Sungmin dengan sukses.

.

Beranjak ke menit dua puluh lima Sungmin berulang kali melirik arloji pink-nya. Dia mulai tak nyaman.

.

Menit ke empat puluh lima Sungmin merengut sebal. Dia semakin melesakkan kepanya ke sofa. Bodo amat dengan keadaan sekarang—tak ada orang 'kan?

Aaargh... Sudah lima puluh menit berlalu begitu saja. Ahjussi itu juga belum kembali.

.

Oke, ini menit ke lima puluh lima. Sungmin mendecak kesal. Dia menengok ke kanan dan kiri. Benar-benar tak ada orang. Dan suara-suara aneh masih setia terdengar dari dalam sana. Sungmin benar-benar bosan!

.

Namja kelinci itu menaikkan kedua kakinya ke atas sofa dan mulai memeluk lututnya sendiri. Rasanya Sungmin benar-benar ingin pergi dari tempat ini!

.

"Hooaaam, ngantuk sekali," gumam Sungmin. Dia menyembunyikan wajahnya di balik kedua lututnya.

"Bocah sialan! Aaargg—"

.

Ddrrtt—drrtt—drrrt.

.

Sungmin yang sedang asyik mengumpat Kyuhyun tiba-tiba terlonjak kaget karena getaran di dalam saku celananya. Dengan setengah mengumpat Sungmin mengambil ponsel yang diyakininya milik Kyuhyun. Dia sedikit tersentak ketika melihat tampilan awal ponsel Kyuhyun. Mata kelincinya memincing melihat ada lebih dari lima e-mail yang masuk ke dalam ponsel Kyuhyun.

.

"Anak itu benar-benar terkenal, ya?" gumam Sungmin sedikit sinis.

.

Eehh—terus kenapa?

.

Cemburu?

.

Aaargggh, shireo!

.

Tapi sebenarnya bukan itu juga yang membuat Sungmin kaget. Namun wallpaper ponsel Kyuhyun!

Yap! Itu foto Sungmin ketika sedang tidur. Menunjukkan wajahnya yang sangat polos. Aaahhh—so cute! Walau sekarang yang ada di pikiran Sungmin sangat berbeda. Tentu saja dia tak suka. Apa-apaan ini?

.

'Saranghae~'

.

Sungmin menajamkan pengelihatannya pada tulisan yang ada di pojok kanan atas ponsel Kyuhyun. Itu tulisan 'saranghae', 'kan?

.

Ya ampun... Sungmin benar-benar serasa yeojasekarang. Aiiihhhh...

.

Ddrrrtt—drrrtti—

.

Ponsel Kyuhyun bergetar lagi. Sungmin meniman-nimang ponsel di dalam genggamannya. Apakah dia harus masuk ke dalam ruangan terkutuk itu untuk menyerahkan ponsel yang bergetar terus ini?

.

Hiiii~!

.

Bagaimana kalau dia membacanya? Kalau itu penting baru masuk ke sana. Bagaimana?

.

Tapi itu tidak sopan, 'kan?

.

Sudahlah~

.

Lihat sekali-kali tak apa 'kan?

.

Yaah! Tak apalah, nanti Sungmin tinggal minta maaf saja pada Kyuhyun.

.

Klik!

.


From : SH.
Subject : -
Re: -

Aku lelah dengan sikapmu, Kyuhyun-ssi=(


Sungmin mengerutkan alis heran. Hanya segini isinya? Benar-benar tak penting. Tapi kenapa e-mail-nya banyak sekali dari si 'SH' ini?

.

Dia ingin melihat yang lain lagi. Semakin kebawah e-mail-nya semakin lama, dan semakin jelas bukan?

.

Klik!

.


From : SH.
Subject : Aku ada di Korea.
Re: -

Oppa, aku tahu mungkin kau tak akan menganggapku lagi. Tapi aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku sudah ada di Korea. Aku harap kita bisa bertemu.


Sungmin mengernyit membaca e-mail itu. Siapa sih 'SH'? Oppa? Berarti dia yeoja, 'kan?

.

Tangan Sungmin tanpa sadar terus membuka e-mail demi e-mail lainnya. Dan tiba-tiba ada sesuatu yang serasa menyeruak di dalam dadanya.


From : SH.
Subject : Bogoshipo, Oppa =')
Re: -

Oppa, aku tahu aku mengganggumu. Tapi aku hanya ingin minta maaf. Maafkan aku yang dulu bersalah padamu. Oppa saranghaeyo :'(


.

.

.

Nyuuuuuuttt—

.

Sungmin merasa napasnya mulai memburu. Ada sesuatu yang berdetak lebih cepat di dadanya—biasanya dia menyukai ini. Namun tidak untuk sekarang, detakkan ini begitu sakit. Rata-rata e-mail-nya seputar permintaan maaf, kata-kata cinta, rindu, dan—aaarrgghhh! Sungmin mulai merasa aneh membaca e-mail ini.


From : SH.
Subject : Oppa aku ingin bertemu denganmu.
Re: -

Oppa, aku benar-benar minta maaf. Paling tidak balas e-mail-ku ini. Sudah hampir sebulan kau meninggalkan aku seperti ini. Aku—aku ingin hubungan kita ini diperjelas! Jebbal, Kyuhyun oppa. Aku sangat mencintaimu. Aku rindu dengamu. Aku ingin bertemu denganmu.


.

.

Klik!

.

.

"Cih, kasihan sekali yeoja ini—" Sungmin mengeluarkan aplikasi pesan itu. Dia memandang rendah pada ponsel Kyuhyun. Diremasnya ponsel itu kuat.

"Bisa-bisanya ada yeoja yang mencintai namja brengsek seperti dia sampai seperti itu," ujar Sungmin sambil tertawa hambar.

.

Hei, ternyata ini benar-benar taruhan, ya?

.

Kyuhyun tak benar-benar cinta padanya?

.

'Saranghaeyo, Hyung...'

.

"Brengsek—" Sungmin mengacak rambutnya sendiri saat kata-kata Kyuhyun kembali terngiang di telinganya.

.

Ada apa dengannya?

.

Dia dan Kyuhyun ternyata memang sama-sama normal, ya?

.

Sungmin tertawa hambar, "Harusnya itu bagus, tapi kenapa—" Sungmin kembali meremas dada sebelah kirinya. Benar-benar ada yang sakit di sini.

.

Geunyuhga doraoneyo mianhadago haneyo. Iksookhaedduhn geuriwoon geu songillo uhroomanjyuhyo~ Nal boneun ansseuruhn noongil, deudgo shipduhn geu moksiri. Dajunghage ijen woolji mallaneyo~

.

Sungmin memandang ponsel Kyuhyun yang terus berdering. Dengan enggan dia melihat siapa si pemanggil. Namun yang nampak hanya nomor-nomor yang tidak dikenal. Mungkin penting, Sungmin mengangkat telepon itu.

.

"Yeobosse—"

"Syukurlah kau mengangkat teleponku! Oppa, aku tahu kau tak akan mengangkat teleponku jika aku menghubungimu dengan nomor-ku."

.

Sungmin mengernyit. Yeoja yang menelpon Kyuhyun ini benar-benar tak tahu tata krama, ya? Sungmin bahkan belum menjawabnya.

.

"E-eh tapi ak-"

.

"Oppa aku hanya ingin memberitahumu. Aku sekolah di Korea sama sepertimu. Aku sangat merindukanmu, aku masih sangat mencintaimu—aku—"

.

Sungmin memejamkan matanya. Entahlah, setiap kata yang dilontarkan yeoja itu bagai jarum yang menusuk hati Sungmin. Sungguh dia tak tahu ada apa ini.

.

"Kyuhyun oppa?"

.

Suara ini... entah kenapa suara ini begitu masuk ke dalam pikirannya. Suara ini sulit untuk dihapus.

.

"Kyuhyun oppa?"

.

Berhenti... berhenti memanggil Kyuhyun seperti itu.

.

"Oppa? Oppa kenapa diam saja, aku—"

.

"Mian, tapi aku bukan Kyuhyun," potong Sungmin. Dia menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk mengurangi rasa sesak.

.

Hei, apa-apaan ini?

.

"Mwo? Aiigo! Mianhamnida! Aku sungguh tak tahu. Apakah anda temannya Kyuhyun oppa?" tanya yeoja itu.

.

"Ne, aku temannya."

.

"Aaahh! Tolong jangan katakan aku menelponnya! Jebbal!" pinta yeoja itu panik. Sungmin menggigit bibir bawahnya.

.

"Ne..." jawab Sungmin dengan suara yang sedikit serak. Aaah, sekarang apa lagi?

.

"Gomawoyo, Oppa!"

.

Tuuuut—tuuttt—

.

Sungmin menghela napas. Dia pandangi ponsel Kyuhyun dengan tatapan yang—uhm, apa ya? Terluka mungkin?

.

Ahhh, entahlah.

.

.

Brak!

.

.

Dengan kasar Sungmin menghempaskan ponsel milik Kyuhyun. Mana peduli dia setelah ini Kyuhyun akan marah-marah? Huh, menyebalkan.

Sungmin kembali mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Matanya terasa panas. Dadanya berdetak sakit.

.

Sakit.

.

Entahlah, ini sangat konyol.

.

.

IoI

.

Kriieeeetttt—

.

"Huaaa, Ahjussi aku mau main ga—lho, kok gak ada orang?"

.

Sungmin berdecak sebal saat tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke ruangan itu dengan suara melengking. Aah, seorang namja yang sangat tinggi.

"Ahjussi sedang ada urusan. Katanya tunggu saja."

.

Namja tinggi itu menengok kaget pada Sungmin. Tatapan matanya terlihat bingung, namun tak lama dia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.

.

"Lho? Kamu gak masuk? Sedang menunggu ahjussi juga?" tanyanya dengan polos.

.

Sungmin menurunkan kakinya yang tadi masih terlipat di dekat dadanya—sopan santun.

.

"Aku di sini hanya sedang menunggu seseorang," jawab Sungmin singkat. Diambilnya ponsel Kyuhyun dan disimpan dengan baik-baik di sakunya.

.

"Namjachingu-mu, ya?"

.

Uhuuuuk!

.

Sungmin dengan sangat tidak elitnya tersedak salivanya sendiri. Namja yang bertanya itu sedikit tak enak hati, "Gwaenchana?"

.

Sungmin mengangguk cepat. Bagaimana namja di depannya itu bisa terlihat sangat polos? Padahal aura dan gerak-gerik namja itu sangat mirip dengan seseorang.

.

Aura evil yang sangat kental seakan menguar di balik wajah polosnya.

.

Dia seperti—Kyuhyun?

.

Ya! Apa yang kau pikirkan Lee Sungmin?

.

"Gwaenchana... kau tak perlu khawatir," hibur Sungmin. Namja jangkung yang duduk tak jauh darinya itu menganggukan kepala tanda mengerti.

.

"Sudah berapa lama menunggu?"

.

Sungmin mengerutkan alisnya ketika mendengar pertanyaan dari namja jangkung itu. "Tak lama. Sekitar dua jam mungkin?" jawabnya sambil mengangkat bahu. Namja itu terkekeh.

"Waw, lalu waktu 'lama' bagimu itu berapa?"

.

Namja aegyo kita ikut tertawa pelan mendengar pertanyaan yang diajukan dengan nada mengejek itu.

.

"Ooh, entahlah. Aku tak peduli padanya."

.

"Bagaimana bisa kau bilang tak peduli? Kau saja masih setia di sini. Jangan bercanda—"

.

Sungmin tersenyum miring. Benar juga, ya? Buat apa dia rela menunggu di sini? Dia bisa jalan-jalan sendiri, 'kan?

.

"Kau juga datang sendiri?" tanya Sungmin. Setidaknya sekarang dia ada teman mengobrol.

"Yup, aku datang sendiri."

.

Sungmin mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Lima menit kemudian keduanya sudah tak saling bicara lagi. Sungmin terlihat sangat mengantuk. Dia senderkan kepalanya di sandaran sofa, dia gunakan lengan kanannya untuk menutupi matanya—dia ingin berisitarahat sebentar saja, oke?

"Oh, iya. Namamu sia—" namja jangkung itu baru saja ingin meluncurkan satu pertanyaan ketika dilihatnya Sungmin tengah tertidur sambil menutup matanya dengan lengan kanannya sendiri. Sosok itu tergelak pelan melihat tindakkan Sungmin.

.

"Yaaa~ kurasa namjachingu-mu itu keterlaluan meninggalkan yeoja secantik dirimu di sini.

.

Ooops, sepertinya namja jangkung itu salah sangka juga, ya?

.

Kriieeet~

.

"Omooo, sepertinya aku terlalu lama meninggalkan toko ini."

.

"Aahh~ ahjussi, dari mana saja?"

.

Ahjussi yang baru datang itu menengok ke arah namja jangkung tadi. Senyumnya berkembang, "Wah, kau datang lagi, Minnie?"

.

"Tentu saja. Aku ingin main game!" jawab namjayang dipanggil Minnie itu semangat.

.

Ahjussi itu kembali tersenyum dia berjalan menuju mejanya.

.

"Baik, baik. Sebentar ya—aah, anak muda itu tertidur," ujar ahjussii tu yang melihat Sungmin sudah terlelap.

.

Minnie memiringkan kepalanya sambil menunjuk Sungmin. "Ahjussi kenal dia?"

.

Pria tua itu tersenyum lembut, "Dia tadi datang bersama pacarnya. Kasihan sekali dia, sampai tertidur seperti itu," komentarnya seraya menatap Sungmin kasihan. "Apa perlu dibangunkan?"

.

"Biarkan saja ahjussi, kurasa dia benar-benar mengantuk," tambah Minnie. Dia memperhatikan Sungmin yang masih terlelap. Dia sangat cantik rupanya.

Minnie pun tak mengalihkan pandangannya dari sosok malaikat itu. Tapi Minnie sama sekali tak ada niat untuk mendekatinya. Ada suatu aura yang dirasanya mirip dengan auranya mengelilingi Sungmin. Dan Minnie tak mau berurusan dengan apapun itu—lagipula katanya dia sudah punya namjachingu, 'kan?

.

"Ya, kurasa juga begitu. Nah, Minnie, ini kartumu dan selamat bersenang-senang," perkataan ahjussi itu menyadarkan Minnie dari lamunannya.

.

Minnie berdiri dan mengambil kartu itu. "Yuuhuuu~ gomawo ahjussi. Oh ya, aku titip anak manis ini, ne?" tunjukknya pada Sungmin.

.

"Jangan sampai kau menyukainya juga, Minnie!" tegur ahjussi itu dengan kerlingan mengejek.

.

Minnie memutar bola matanya jengah. Seakan anak yang diperingati oleh orang tuanya agar tak membeli permen gulali karena dapat merusak giginya.

.

"Aiiiggo, ahjussi! Cinta sejatiku itu hanya makanan! Hahaha~" canda Minnie sambil menghilang di balik pintu yang di dalamnya penuh dengan hingar bingar musik.

.

.

IoI

.

.

Mata namja bertubuh jangkung itu berbinar melihat segala macam benda yang aku pun tak tahu namanya dan aku tak mau mencari tahu tentang nama mesin itu.

"Uwoooo~ rasanya aku baru seminggu yang lalu main ke sini, tapi rasanya kangen sekali, uuuuukkhh~" gumamnya sambil merenggangkan anggota badannya.

.

"Uwaaahh, ayo, Hyung! Terus, hyung,yeeaahh!"

.

"Huaaa, Hyuuuunnggg, menang lagiiii!"

.

Minnie menengokkan kepalanya ke kanan dan kiri. Pasti ada seseorang yang hebat sedang bermain di sana. Dan namja jangkung berwajah polos itu tertarik akan hal itu.

.

Ahh, pasti namja berambut ikal yang sedang main di sana, 'kan? Lihat saja banyak yang mengelilinginya sambil memberi semangat.

.

Mwwoo?

.

Bola mata bening itu terbuka lebar. Dia melihat seorang namja yang sangat-sangat dikenalnya. Bibirnya berucap tanpa disuruh. "Kyuhyunnie?"

.

Dengan cepat namja jangkung itu menghampiri sosok Kyuhyun yang sedang berkonsentrasi dengan game-nya. Senyum Minnie berkembang.

.

.

"GaemGyu!" Minnie menepuk pundak Kyuhyun.

.

Namja penggila game itu tersentak. Dia menoleh kaget. Namun setelah melihat siapa yang menepuknya dia semakin kaget, matanya sedikit berbinar dan dia berseru kecil, "Changminnie?"

Ohhh, ternyata Minnie adalah sebuah nickname dari Changmin.

.

Changmin menerjang tubuh Kyuhyun dan langsung memeluknya. "Yaaaa! Apa kabar, Kyu?"

Kyuhyun menempeleng kepala Changmin sehingga namja tinggi itu mengaduh kesakitan, sepertinya kebiasaan Sungmin menular padanya. "Bagaimanapun aku lebih tua darimu, panggil aku 'hyung'!"

.

Changmin mencibir, "Kau itu cuma lebih beruntung lahir lebih dulu beberapa hari dari aku, tahu!"

.

Kyuhyun mendelik. Changmin balas menyeringai. "Hei, untuk pertemuan tak terduga ini. Bagaimana kalau tanding game? Kalau kau menang, aku akan memanggilmu 'hyung', bagaimana?" tantang Changmin. Kyuhyun mengangguk semangat.

.

"Siapa takut?"

.

.

.

Tiga jam berlalu dengan sangat cepat. Setidaknya itu yang dirasakan oleh dua anak manusia ini. Dua namja yang sekarang sedang duduk di kursi yang ada di pojok ruangan. Sedang bersitirahat rupanya.

.

.

"Jadi bagaimana keadaanmu dan kapan kau pulang dari Amerika, Hyung?" Changmin bertanya sambil menggembungkan pipinya. Tumben sekali Kyuhyun menang darinya? Uukh!

Yah, kalian sudah tahu. Kyuhyun keluar sebagai pemenang. Dan Changmin mau tak mau harus memanggilnya dengan sebutan 'hyung'.

"Yaah, tentu saja aku baik-baik saja. Minggu lalu aku datang. Dan sekarang aku bersekolah di sini."

.

Changmin mengangguk-anggukkan kepalanya. "Aaahh, menjadi murid baru itu merepotkan, ne?" tanyanya sambil sedikit tertawa. Changmin yang senasib dengan Kyuhyun yaitu murid baru. Tentu saja tahu akan hal itu. Paling enak memang jadi murid kelas sebelas atau tingkat dua. Semuanya ada di tengah-tengah.

.

"Kurasa kau benar. Sangat merepotkan."

.

"Jangan-jangan kau selalu dihukum oleh ketua kedisiplinan di sekolahmu, ya? Kau 'kan anaknya lumayan gak jelas," tebak Changmin.

"Ya! Apa maksudmu Shim Changmin?" gerutunya.

.

"Hahaha, jangan marah dong, Hyung! Lagipula kau juga 'kan nempel terus dengan si 'cantik'-mu itu. Mana mungkin ketua kedisiplinan akan mengabaikan hal itu?"

.

Kyuhyun mau tak mau tersenyum juga. Mendengar kata-kata 'ketua kedisiplinan' selalu membuatnya ingat dengan Sungmin.

.

"Kalau itu tak usah kau tanya. Bahkan PSP-ku disita."

.

Changmin membulatkan matanya lucu. "Mwoo? Kok kau tidak melawan?"

.

"Aiisshh, dia itu jago matrial art! Padahal mukanya seperti anak-anak. Mungkin kalau kau melihatnya, kau akan tertipu apakah dia yeoja atau namja. Matanya seperti mata kelinci, dan bibirnya itu berbentuk 'hati' yang minta dikecup berkali-kali. Huumph, aku saja sudah mengecupnya berkali-kali—"

.

"Stop! Kau bilang dia namja?" potong Changmin sebelum Kyuhyun terus berceloteh tentang ketua kedisiplinannya itu.

.

"Ne, memang. Lalu?"

.

Changmin menepuk jidatnya sendiri. Kadang Kyuhyun bisa begitu bodoh.

.

"Bagaimana kau? Lho—aissh, Cho Kyuhyun kauu—?" Changmin mendesis pada Kyuhyun. Sekarang giliran Changmin yang bertingkah bodoh.

.

Aaah, kedua evil magnae pabbo.

.

"Ssshhh! Pabboya Shim Changmin! Jangan keras-keras! Di sini juga banyak anak kecil!" Kyuhyun menutup mulut Changmin. Namja itu mau berseru di sini bahwa dia -ehm- gay begitu? Jeongmal pabboya namja.

.

.

"Aiigooo! Aku kira kau masih normal! Bukankah kau berpacaran dengan Seo?"

.

Kyuhyun berjengit mendengar nama itu disebut. "Aaaiiih, jangan ungkit-ungkit itu lagi! Kami sudah putus!"

.

"Ha? Bagaimana bisa? Bukankah kau dulu bahkan mengejarnya ke Amerika?"

.

Deg!

.

Kyuhyun merasa dadanya sangat sesak mendengar nama itu. "Entahlah, itu cerita lama. Dan menurutku sekarang aku sudah jatuh cinta dengan seseorang," jawab Kyuhyun santai.

.

Changmin tiba-tiba mencengkram pundak Kyuhyun.

.

"Mwo? Siapa? Siapa?" tanyanya penuh semangat.

.

Kyuhyun mendengus sebal. "Aiiisssh, pelankan suaramu, Shim Changmin! Orangnya sangat manis. Dia kekasihku, lhooo~" nada bicara Kyuhyun tiba-tiba melembut saat menceritakan tentang 'kekasih'-nya itu.

.

"Perkenalkan padakuu!" seru Changmin bersemangat -lagi-.

.

"Ne, ne. Aku membawanya, kok."

.

"Ha? Jeongmal? Dimana? Wah, dia suka game juga?"

.

"Anio, dia sepertinya malah sangat membencinya. Anaknya ada di luar. Kau melihatnya, 'kan?"

.

Changmin terlihat sedang berpikir dia hanya mengingat seoarang yeoja cantik yang tengah merengut di luar sana.

.

"Ehhh—maksudmu yeoja berpakaian pink-hitam yang ada di luar? Itu kekasihmu, Hyung? Yang benar? Dia manis sekali! Eehh—Hyung dia ketiduran di luar!"

.

.

Kyuhyun membulatkan matanya ketika Changmin memberi tahu hal penting itu. "Mwooo? Ketiduran? Aiissshh, ini jam berapa?"

.

Changmin melihat arlojinya. "Jam setengah empat kurang, Hyung. Wae?" tanyanya dengan wajah begitu polos.

.

Lama-lama Kyuhyun ingin menendang wajah namja jangkung di depannya ini.

.

"Mwoooo? Aiigooo! Aku meninggalkannya berapa jam? Aiisshh, ini semua gara-gara kamu!" tunjukknya pada wajah Changmin. Dengan tergesa dia beranjak dari tempat duduknya.

.

"Lho? Kok aku yang disalahin? Yaa! Hyung mau kemana?" panggil Changmin sembari mengikuti Kyuhyun. Sebenarnya dia tak rela juga disalahkan.

.

IoI

.

Kyuhyun sampai di tempat di mana Sungmin menunggu. Dia melihat kekasihnya itu sedang tertidur dengan leher mendongak. Dengan segera dia mendatangi namja mungil itu.

.

"Aaiish, kelinci ini tertidur dengan posisi begini," gumamnya khawatir. Dengan perlahan dia menurunkan lengan yang menutupi wajahnya. Lehernya disandarkan di bahu Kyuhyun.

.

Puk! Puk!

.

"Minnie? Minnie hyuung~?" panggil Kyuhyun sembari menepuk-nepuk pipi Sungmin.

.

"Euuunnnnggghhh—" lenguh Sungmin. Bukannya bangun dia malah menyamankan letak kepalanya di bahu Kyuhyun. Tanpa sadar tangannya memeluk pinggang Kyuhyun.

"Aiiigoo~ lihat, Hyung. Dia sangat manis. Kau tega membiarkan yeoja secantik dirinya menunggumu sambil tertidur.

.

Kyuhyun memelototi Changmin. Walau kedua tangannya yang lain langsung setia mengusap-ngusap punggung Sungmin. Sepertinya namja itu benar-benar kelelahan, ya?

.

.

"Tumben dia tidak langsung terbangun? Hhh—batal deh kencan dengan Sungmin hyung," bisik Kyuhyun sambil mendekap Sungmin dan mengelus-ngelus rambut hitamnya.

.

"Ha?"

.

Kyuhyun menoleh malas pada Changmin, "Apa lagi sekarang?"

.

"Dia—namja—Hyung?" tanya Changmin sedikit takut. Hei, kemana aura evil yang biasanya menguar dengan indahnya itu?

.

Kenapa sekarang terlihat sangat penakut, eh, Changmin?

.

.

"Kau bawa mobil, gak?" Kyuhyun bertanya balik. Nanti saja mengurusi pertanyaan tak mutu Changmin itu.

.

Changmin menggaruk belakang kepalanya. "Bawa sih, wae?"

.

Oh, tidak... Changmin merasa sebentar lagi dia akan menjadi supir mendadak. Apalagi melihat seringaian di wajah Kyuhyun, oooouuw...

"Nah, karena kita baru bertemu hari ini. Bagaimana jika kau mengantarku pulang? Mau 'kan?" tanya Kyuhyun dengan senyuman evil-nya. Changmin mendengus kesal. Oke, dia juga tak boleh kehilangan predikat 'Evil Magnae'y ang disandangnya. Dia pandang Kyuhyun dengan tatapan menusuk.

.

"Antarkan aku pulang atau kau akan kulaporkan Jae hyung karena main game lagi, huh?" ancam Kyuhyun dengan seringaian yang bertambah lebar.

.

What?

.

Dia kenal betul siapa itu sosok Kim Jaejoong. Kakak sepupu dari Shim Changmin itu sangat over protektif padanya. Mana terima dia jika Changmin ketahuan pergi ke game center setelah ini? Aiiggo~ bagaimana Kyuhyun bisa ingat dengan sosok kakak sepupunya itu?

.

.

Jangan lupakan predikatnya yang menyandang status 'Evil Magnae' juga, ya!

.

"Ne, ne. Ppali, aku antar. Huh, dasar menyebalkan."

.

.

Kyuhyun tersenyum lebar. Dia gendong Sungmin ala bridal style, dan segera mengikuti Changmin. Ketika dia sampai di depan pintu. Kyuhyun tiba-tiba berhenti. Dia pandangi wajah kekasihnya itu. Kyuhyun baru sadar, kemana perginya ahjussi itu, ya?

.

.

Tiba-tiba Kyuhyun tersenyum...

.

.

Bagaimana sosok Lee Sungmin bisa sangat menggoda? Aaaahhhh~ kesempatan yang tak boleh disia-siakan.

.

.

Cupppp~

.

.

Kyuhyun melumat dengan pelan bibir bawah Sungmin. Dia rasakan Sungmin di dalam dekapannya menggeliat tak nyaman. Namun yang namanya setan. Mana mau Kyuhyun berhenti?

Kyuhyun menghisap dengan pelan bibir bawah dan atas Sungmin secara bergantian. Posisi mereka benar-benar seperti pengantin baru yang turun dari altar pernikahan.

Bibir Sungmin harus diakui benar-benar bibir termanis dan terkenyal yang ia rasakan. Sangat lembut dan jika Kyuhyun tak ingat itu bibir manusia, mungkin setan kecil itu sudah memakannya.

.

.

"Mmmhh~"

.

.

Oke! Stop sampai situ! Lenguhan Sungmin menyadarkannya dari tindakkan barusan. Dia menggumam pelan. Lalu segera diikutinya Shim Changmin yang terlihat sudah bersiap di dalam mobilnya.

.

.

Hei, ada apa dengan Sungminnie-nya?

.

.


03.42 p.m

.

"Mereka benar-benar tipe uke sejati," gumam seorang namja berotot yang sedang sibuk menekan-nekan tombol di remote Tv. Berusaha mengalihkan kebosanannya sejak beberapa jam yang lalu.

.

.

"Heemm, tak kusangka dua orang itu begitu dekat," sahut seorang namja berambut merah lainnya.
Siwon dan Zhoumi—sebut mereka begitu. Sedang terduduk di sebuah sofa sambil menikmati sebuah acara Tv yang namanya saja mereka tak tahu, atau lebih tepatnya mereka tak mau tahu.

"Kalau kau tidak membawa mochi itu, Bummie tak akan mengacuhkan akau seperti ini," tuntut Siwon kepada Zhoumi. Semenjak Zhoumi datang membawa Henry. Kedua namja itu bagai lem yang tak bisa dipisahkan. Dan terpaksa Zhoumi dan Siwon harus menyingkir. Zhoumi juga tak tahu kenapa tiba-tiba dia berdiam diri di sini. Tak ingin melihat Siwon menderita sendiri, mungkin?

.

.

"Mereka dekat gara-gara kemarin jadi pengurus kelas," jelas Zhoumi. Tampak sesekali dia melirik ke arah tempat tidur. Dua namja manis itu sedang mengobrol entah apa itu.

.

Kibum yang biasanya dingin juga nampak sering tersenyum bersama mochi itu. Dan jujur saja Siwon merasa sedikit cemburu. Yak! Begitulah kira-kira.

.

Yaaah, walaupun Kibum belum resmi dengannya. Setidaknya dia masih bisa bermanja-manja dengan makhluk dingin itu. Menyenderkan kepala di pahanya saja sudah cukup. Menggelikan memang jika orang lain melihat. Tapi tidak untuknya, untuk aku, dan untuk kalian, benar 'kan?

.

.

"Jangan memasang wajah seperti itu. Itu sedikit menggelikan," komentar Zhoumi. Ekspresi kesal Siwon benar-benar buruk.

.

Siwon menoleh malas pada Zhoumi. "Semoga mereka cepat sadar dan mochi-mu itu pulang," doa Siwon ngaco.

Zhoumi memutar matanya jengah, bosan mendengar keluhan Siwon. "Mochi, kita pulang sekarang, ne?" tanya Zhoumi sekalian. Biar namja di sampinya ini tidak protes lebih jauh lagi.

Henry yang masih sibuk dengan Kibum mengalihkan pandangannya pada Zhoumi. Ternyata namja jangkung serba merah itu masih ada di situ.

.

"Kok masih ada di sini?" tanyanya ketus. Zhoumi melengos. Benar-benar tidak diangggap rupanya.

.

"Ayolah, pulang, ne? Kau tega meninggalkan Li Xu sendirian?" tanyanya sambil mengalihkan topik pembicaraan. Dia tak mau berdebat sekarang.

.

"Memangnya Wookie hyung sudah pulang? Tadi 'kan dia sedang pergi dengan Yesung sunbae?" Henry menggembungkan pipinya tak terima diajak pulang. Kibum hanya melihat Siwon yang sudah melayangkan tatapan aku-ingin-berduaan-denganmu.

"Henry-ah, lebih baik kau dengarkan Zhoumi sunbae. Dia sudah mengantarmu dan menunggumu di sini, pulanglah," perintah Kibum dengan suara pelan. Huh, beda sekali jika Kyuhyun sedang merajuk padanya.

Henry tadinya mau menolak. Tapi karena Kibum yang menyuruh. Yah, apa boleh buat. Dia juga di sini sudah lumayan lama. Dia mengangguk dan beranjak dari kasur. Ekspresi Siwon berubah seketika.

"Kalau begitu aku pulang dulu. Sampai besok, Hyung!" pamitnya pada Kibum. Dia juga melakukan hal yang sama pada Siwon sebelum menarik Zhoumi keluar.

.

Blaaaamm!

.

IoI

.

.

"Kalau Wookie hyung belum pulang. Kau harus menemaniku di kamar!" perintah Henry mutlak. Dia menyilangkan tangannya di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya. Zhoumi mau tak mau tersenyum melihat tingkah Henry yang tak diduga.

.

"Lho, kok mau aku yang nemenin? Biasanya aku diusir?" kekeh Zhoumi lagi. Mereka kembali berjalan beriringan.

.

"Aiish, kau tak perlu banyak bertanya, aku ha—"

.

BRUAGH!

.

"Aaarrggh!"

.

Zhoumi tersentak ketika tiba-tiba mochi kecilnya itu terjatuh karena ditabrak oleh seseorang.

.

"A-appo—"

.

Zhoumi terhenyak. Kenapa bisa yang menabrak Henry itu yeoja? Dan lagi, siapa yeoja ini?

.

"Gwaenchana?" tanya Zhoumi sembari membantu yeoja mungil itu berdiri. Tak sadar bahwa namja mungil di sampingnya mengumpat tak jelas melihat hal itu.

.

"E-eeh, gomawoyo, Oppa. Dan, mianhamnida, Oppa. Tadi ku sungguh tak sengaja!" yeoja yang ternyata sangat mungil itu menundukkan badannya dalam-dalam. Henry yang sudah bangkit dari ke-terjatuhannya menatap yeoja itu tajam.

Yeoja itu tampak salah tingkah dipandangi oleh Zhoumi dan Henry. Henry mengangkat salah satu alisnya, 'Apa-apaan yeoja sok imut ini?'.

.

.

"Yaaa—Eonni kenapa kau meninggalkan aku?"

Tiba-tiba seorang yeoja lainnya muncul. Dia langsung menghampiri yeoja mungil yang menabrak Henry tadi. Melihat ada dua namja di depannya, yeoja berambut hitam itu menundukkan badannya.

"Aah, apa kami mengganggu kalian?"

Zhoumi menggeleng pelan sambil tersenyum. Henry? Masih pasang muka ketus rupanya.

.

"Kalau boleh aku tahu, apakah kalian tahu dimana kamar Lee Sungmin?" tanyanya cepat pada Zhoumi dan Henry. Henry mengangkat bahu tak tahu. Zhoumi mengangguk sekilas.

"Biar aku tuliskan..."

.

.


1132.

.

Kyuhyun membaringkan Sungmin dengan benar di kasurnya. Dia rapihkan pakaian Sungmin dan melepas sepatunya. Wajahnya juga kelihatan pucat.

.

Sungmin tak makan siang. Sungmin kelelahan. Sungmin punya anemia.

.

Plak!

.

Kyuhyun menepuk dahinya. Bagaimana dia bisa lupa? Sungmin pasti kelelahan lagi. Kemarin 'kan dia seharian merawat Kyuhyun. Kurang tidur, dan sekarang tidak makan lagi? Aiiggoo~ Kyuhyunnie sungguh pabbo.

Kyuhyun melepaskan rompi Sungmin. Setidaknya pakaian yang dipakai Sungmin hari ini cukup nyaman untuk dibawa tidur. Jadi Kyuhyun memutuskan untuk tidak melepaskannya.

'Aiiggo~ jadi aku bisa dekat dengannya jika salah satu dari kami sakit, begitu? Konyol...' batin Kyuhyun miris. Dia rapihkan penampilannya yang sedikit kusut.

Paling tidak dia harus berterimakasih dengan Shim Changmin karena mau mengantarnya sampai sini. Yah, dengan sedikit ancaman tentu saja.

Evil magnae itu sungguh polos. Kalau dilogikakan. Bagaimana dia mau menghubungi Jaejoong hyung jika dia sendiri tak tahu nomor Jae? Aahh, magnae itu sungguh gampang dibohongin. Yah, kalau diingai-ngat tidak beda jauh dengan kekasih Jae hyung,'kan? Jung Yunho itu, dia begitu gampang tertipu. Kyuhyun masih ingat bagaimana dulu dia dan Changmin sering menipu kakak kelas mereka itu.

Nyahahaha~ tinggal di Amerika benar-benar membuatnya rindu dengan teman-teman yang sudah dia anggap saudara itu.

.

Sepertinya besok dia akan meminta Sungmin untuk 'kencan' sekali lagi dengannya. Tanpa game tentu saja.

Dia cukup merutuki kebodohannya hari ini.

Kyuhyun kembali menatap Sungmin. Dia baringkan tubuhnya sendiri di samping tubuh Sungmin. Lalu tangannya terjulur untuk mendekap tubuh mungil itu. Dielusnya dengan pelan punggung Sungmin. Dan seperti biasa, Sungmin mengira Kyuhyun adalah gulingnya, hahaha~

Kyuhyun tersenyum ringan. Dia menyukai saat-saat seperti ini. Begitu bodoh dia tadi menelantarkan Sungmin. Aaarggh, pabboya.

.

Kyuhyun mengeluarkan ponsel milik Sungmin. Lalu dihidupkan aplikasi kamera-nya. Dengan iseng, Kyuhyun berpose mengecup dahi Sungmin yang sedang terlelap.

.

Ckrek!

.

Aahh, begitu manis hasil foto itu. Dengan cepat Kyuhyun menyetelnya sebagai sebuah wallpaper ponsel Sungmin. Dia tersenyum melihat foto itu. Sungmin memang luar biasa.

Sekali lagi aku tanya. Kenapa laki-laki bsa begitu cantik sepertinya?

.

Tunggu—ini ponsel milik, Sungmin?

.

Upps!

.

Kyuhyun berjengit. Dia lupa, ponselnya masih ada pada Sungmin. Dengan sedikit meraba-raba—yah, anggap saja bonus— Kyuhyun berhasil menemukan ponsel nya kembali tersenyum. Setidaknya wallpaper ponselnya tak diubah-ubah oleh Sungmin.

.

Ehhhh—yeoja itu mengiriminya e-mail lagi tidak, ya?

.

Bukan. Bukan itu yang dia khawatirkan.

.

Sungmin membaca e-mail di inbox Kyuhyun tidak, ya?

Kyuhyun setengah panik membuka inbox e-mail-nya. Dan benar saja. Beberapa e-mail yang belum dibacanya sudah terbuka. Jadi—

.

Oh, tidak...

.

"Apa perasaanmu setelah membacanya, Hyung?" tanya Kyuhyun lirih.

.

Bagaimana perasaan Sungmin?

.

Tapi bukankah Sungmin membencinya? Tapi,'kan—

.

Tok! Tok! Tok!

.

Kyuhyun mendengus setengah mengumpat mendengar ketukan tak sabar di luar pintu kamarnya.

.

"Ya! Tunggu sebentar!" sahut Kyuhyun. Dia berjalan gontai kea rah pintu.

.

Cklek!

.

"Ya? Siapa—ya?"

.

Pupil mata Kyuhyun melebar saat melihat siapa tamunya. Dua yeoja asing—ani, salah satunya tak asing bagi Kyuhyun— tengah berdiri di depan pintu kamar Kyuhyun dan Sungmin.

.

"Ini benar kamarnya, Lee Sungmin?" tanya yeoja berambut pendek pirang itu innocent.

.

Kyuhyun seakan tak mendengar pertanyaan itu. Matanya terfokus menatap yeoja yang sama terkejutnya dengannya. Yeoja yang sangat-sangat dikenal Kyuhyun dengan baik.

.

"Seo—hyun?"

.

Yeoja berambut pirang itu nampak bingung. Baru saja dia akan bertanya apakah namja di depannya ini mengenal adik sepupunya atau tidak. Namun senyumannya langsung merekah tatkala melihat siapa yang muncul di balik tubuh Kyuhyun.

.

"Kyu, siapa?" tanyanya sambil mengucek-ngucek mata.

.

Kyuhyun entah kenapa langsung menghalangi Sungmin yang ingin maju lebih depan. Refleks melindungi. "Hyung, kau terbangun? Lebih baik istirahat saja, anemiamu sepertinya kambuh," ujar Kyuhyun sambil menepuk puncak kepala Sungmin.

.

Namun Sungmin malah semakin penasaran dengan tamunya. "Memang tamunya siapa sih—ah, SUNNY?" pekik Sungmin ketika mengetahui siapa yang datang.

"Annyeong, Oppa!" sapa yeoja bernama Sunny itu. Dari pandangannya ia seakan ingin menerkam Sungmin.

Kyuhyun mendecak tak suka. Terlebih saat Seohyun yang berdiri di belakang Sunny memandangnya penuh harap.

"Minnie, dia siapa?" tanya Kyuhyun. Dia sungguh tak suka dengan kedatangan kedua orang ini.

Sungmin mengigit bibir bawahnya. Bola matanya bergerak-gerak gelisah.

.

"Dia—"

.

Kyuhyun memandang Sunny dengan tatapan membunuh. Sungmin yang lebih peka kali ini refleks mencengkram kemeja bagian belakang Kyuhyun. Entah apa maksudnya.

.

.

"Kyuhyun oppa—"

.

Deg!

.

Sungmin merasa kenal dengan suara ini. Dia mengalihkan pandangannya pada yeoja yang berdiri di belakang Sunny. Wajah gadis itu seakan mau menangis.

.

"Kyuhyun oppa?" panggilnya sekali lagi. Eksprasi Kyuhyun tampak mengeras.

Tidak... suara itu—Sungmin sangat yakin.

.

Dia—SH?

.

.

"Lee Sun Kyu imnida, kau bisa memanggilku Sunny. Aku tunangannya Sungmin oppa!" sambung Sunny sumringah.

.

Deg!

.

Deg!

.

Kyuhyun dan Sungmin saling pandang. Detak jantung keduanya sangat sulit untuk digambarkan. Kalau boleh jujur, detak jantung ini sangat menyakitkan. Baik Kyuhyun dan Sungmin tak mampu berkata-kata.

.

.

Ada apa ini? Benarkah badai itu mulai menerpa? Tapi kenapa rasanya sakit sekali?

.

.

To Be Continued...

.

.


A/N: Panjaaaaaannngggg! XD

Mianhamnida yeorobun. Cerita ini benar-benar makin ngasal. Tadinya saya ingin membalas review kalian semua. Tetapi mengingat panjang FF ini yang -uhm- sangat panjang. editan cerita ini agak acak-acakkan saya rasa -_- , yeorobun mianhaaeee! tapi sungguh semoga FF ini memuaskan, ini hadiah saya untuk perginya saya dari daerah saya ini untuk pergi berlibur, yaa!

Aah, saya ini yeoja. Mianhae, kemarin saya melakukan kesalahan yang fatal. Dan untuk typo(s) saya akan berusaha memperbaikinya. Doakan saya. ^^

Bagaimana? Bagaimana cerita ini? Makin gak jelaskah? Alur kecepetan kah? Segala masukan diterima di sini.

Thanks to:

-VitaMinnieMin, Yenni Gaemgyu, Mutsuchi gabisa login, Kim Kwangwook, Rima KyuMin Elf, ikachuu, Cassie Uchiha, HeezepKyuminELF, Can0404, YellowRainbow2109, Drak 038, Saeko Hichoru, gamegyu, kyuminlinz92, blackivy, Chikyumin , White Lucifer, Fujita Hoshiko,-, Manami Katayanagi, Evilkyu Vee, wulan yeppo ,Sena , Beautiful Garnet, JiYoo861015, chacha95, doradora dongdong , Park HyunRa , Park Rin, Meong, MinnieGalz, rainy hearT, hyena, minnie beliebers ,HaruKimMinhyuk, Viivii-ken , MiEunMinWook, Jirania.

Gomawo yeorobun! Arigatou gozaimasu minna-san!

Akhir kata...

Mind to Review?