Satu hal yang saya lupa, untuk penyebutan nama Naruto disini seharusnya Yuki bukan Mashiro. Sebelumnya saya selalu menyebut Naruto dengan Mashiro, tapi saya lupa di chap sebelumnya Naruto disini disebut dengan Yuki. Maaf jika membuat bingung.
~Kuroyuki no Shinigami~
©Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Adventure, Tragedy, Fantasy dan lainnya
Rate: M
Pairing: Naruto x ….
Warning: OC, OOC, Bashing Chara, Typo dimana-mana, dan beberapa kata yang mungkin tak sesuai dengan KBBI.
~Selamat Membaca~
Namikaze Kasumi. Seorang gadis yang bisa dikatakan menakjubkan. Lahir didesa Konoha dari pasangan paling termahsur di desa, Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Dianugrahi bakat yang terpendam sejak kecil membuatnya banyak dikagumi oleh semua penduduk desa. Sikapnya yang ramah dan terbuka pada semua orang menambah daya tariknya sendiri. Penampilan Kasumi sendiri seakan campuran dari kedua orang tuanya. Rambut pirang panjang runcing seperti sang ayah, wajah putih tanpa noda seperti sang ibu. Perpaduan itu menambah daya tariknya lagi, khususnya karena dia seorang perempuan.
Dulu sekali ia dikenal sebagai seorang anak yang tomboy. Penampilannya bahkan cenderung mirip anak laki-laki. Suka sekali bermain dengan semua anak seusianya, tak peduli laki-laki maupun perempuan. Ia suka sekali bermain dengan mereka semua. Keceriannya seakan tak pernah pudar walau ia diterpa oleh badai kemalangan.
Tapi itu dulu, seiring waktu sikapnya perlahan mulai berubah. Kecerian yang terukir diwajahnya perlahan demi perlahan mulai menghilang. Sering waktu dengan bertambahnya usia, Kasumi perlahan mulai berubah. Sering termenung sendiri adalah salah satunya. Teman-temannya bertanya kepada Kasumi apa yang terjadi padanya. Mereka semua khawatir pada Kasumi yang tak seperti biasanya. Penasaran karena memang ingin tahu, mereka semua bertanya kepada Kasumi apa yang terjadi. Dan yang mereka dapat hanyalah sebuah senyuman tulus darinya. Ia juga berkata pada mereka semua untuk tidak khawatir. Walau mereka tahu itu hanyalah senyum yang dipaksakan.
Hingga pada akhirnya, mereka sadar jika Kasumi memang sedang dalam masalah. Kasumi sekarang jarang sekali bermain. Jikalau mereka mengajak, pasti akan ada penolakan dengan alasan sedang latihan. Mendengar itu mereka semua bisa menerima alasan itu. Tak ingin berhenti, teman-teman Kasumi terus mengajak untuk bermain dilain hari. Dan pada akhirnya selalu saja ditolak dengan alasan latihan. Mereka semua ingin tahu apa yang terjadi pada Kasumi hingga bermain saja sulit.
Ada suatu waktu ketika Kasumi mulai kembali bermain dengan mereka. Namun entah kenapa Kasumi yang mereka lihat begitu berbeda dari biasanya. Wajah itu entah kenapa penuh akan kesedihan. Tatapan mata yang terus saja tertunduk, seakan sebuah rasa salah menghinggapi isi kepalanya. Ingin bertanya apa yang terjadi, lagi dan lagi jawaban itu tetap sama. Sebuah senyum tanpa perlu khawatir padanya.
Dan apa yang mereka takutkan terjadi, Kasumi sekarang tak pernah bertemu lagi dengan mereka. Tak tahu apa yang menimpa Kasumi hingga membuatnya menjadi seperti itu. Wajah yang penuh dengan kecerian perlahan mulai menghilang dibenak mereka semua. Lagipula mereka semua yang menjadi teman Kasumi sadar akan satu hal. Keluarga terpandang. Terlahir dari keluarga terpandang pastinya memberikannya tekanan dalam berinteraksi dengan sesama. Mereka semua pasti yakin jika terjadi sesuatu didalam keluarga Kasumi. Menyadari itu akhirnya Kasumi perlahan mulai menghilang dari benak mereka semua. Kesengan yang mereka alami bersama, harus berakhir secara sepihak.
Kasumi sendiri bukan tak ingin bermain lagi dengan mereka semua. Hanya saja sebuah kejadian tak diharapkan menimpa dirinya. Salah satu anggota keluarga Namikaze, adiknya hilang tanpa jejak. Ada yang mengatakan kalau dia diculik atau tersesat tanpa tahu jalan pulang. Saat ia menyadari itu sesuatu dengan cepat datang langsung mengisi kepala Kasumi. Wajah itu, tatapan itu, semuanya. Wajah kesakitannya, tatapan yang begitu menyedihkan hingga ia tak ingin hidup. Hilangnya Naruto membuat dirinya tersadar.
Tapi kenapa!. Kenapa Naruto bisa menghilang begitu saja.
Dengan perasaan yang bercampur. Ia langsung menghadap sang ayah guna memerintahkan semua pasukan Shinobi untuk mencari Naruto. Sang ayah yang mendengar itu sejenak berpikir dan akhirnya membuat keputusan. Baginya ini pertama kalinya melihat Kasumi yang seperti itu. Tapi satu hal yang terasa ganjal dalam batin Kasumi. Sang ayah entah kenapa begitu tenang menghadapi situasi seperti ini. Walau seorang Hokage sekalipun seharusnya ada rasa kegelisahan pada dirinya pada ketika salah satu anggota keluarga menghilang. Ini hanya perasaannya saja mungkin. Mengingat sang ayah yang merupakan pemimpin desa sudah sewajarnya ia bersikap tenang tak peduli dengan situasi apapun.
Segala bentuk upaya pencarian telah dilakukan. Dengan radius pencarian sampai 50 km dari luar desa. Para Shinobi yang diperintahkan untuk mencari Naruto hanya pulang membawa tangan kosong. Tak ada tanda-tanda dari keberadaan Naruto. Semua Shinobi tipe sensor pun digerakkan guna membantu pencarian. Sama seperti Shinobi lainnya mereka tak mendapat apa-apa. Dari kejadian ini terdapat 1 kesimpulan yang didapat. Naruto diculik oleh seseorang atau kelompok hingga keberadaannya sudah tak berada lagi di desa Konoha. Penculik itu mungkin sudah berlabuh dinegara lain dengan Naruto bersamanya. Mengingat Naruto yang masih kecil rasanya tak mungkin jika Naruto memilih untuk kabur dari desa. Bahkan jika Naruto sendiri nekat, tindakannya sudah pasti sudah diketahui oleh penjaga gerbang.
Tanpa adanya satupun petunjuk mengenai keberadaan Naruto yang diculik akhirnya pencarian dihentikan. Menunggu hari esok guna melakukan persiapan lebih matang dan kembali melanjutkan pencarian. Karena kejadian ini, pihak desa sendiri menjadi tegang. Takut musuh yang menculik Naruto menggunakannya sebagai sandera guna meminta tebusan. Untuk sekarang pihak desa bisa tenang karena pihak musuh yang menculik Naruto belum meminta tebusan. Naruto harus segera ditemukan. Karena statusnya yang merupakan anak kandung dari Hokage sudah pasti musuh memanfaatkan ini.
Pencarian demi pencarian terus berlanjut. Segenap Shinobi dikerahkan guna menemukan Naruto secepatnya. Kali ini tim pelacak dari klan Inuzuka ikut andil dalam pencarian ini. Berharap anjing pelacak mereka bisa mengendus bau dari tubuh Naruto. Untuk pertama kalinya klan Inuzuka tak bisa menemukan Naruto. Alasannya cukup sederhana. Bau Naruto tak terendus. Mereka semua dari Inuzuka berpencari dengan radius pencarian sejauh 100km. Dan tentu saja, pencarian ini tidaklah membuahkan hasil. Ketiadan petunjuk hilangnya Naruto tidak menguntungkan pihak pencari. Dari laporan Inuzuka, mereka terkejut tak bisa menemukan bau dari Naruto. Menggunakan salah satu pakainnya guna mencari melalui bau. Namun sejauh mereka mencari bau yang sama tak pernah mereka endus.
Dengan segala pencarian yang sudah dilakukan, pihak desa memutuskan untuk mengentikan semua pencarian Naruto. Mengenai pihak musuh yang menculik Naruto, mereka sama sekali tak meminta tebusan. Ini aneh. Penculik manapun pasti tahu mengenai Naruto yang merupakan keturunan langsung dari Hokage. Tapi tak ada satupun ancaman yang dikirimkan musuh kepada desa. Dengan mengambil kesimpulan ini, Naruto tidaklah diculik. Ia menghilang tanpa bekas.
Mengetahui semua pencarian tak ada yang berhasil. Kasumi hanya bisa tertunduk lesuh. Mata yang bergetar tak tahan untuk menbendung air mata. Air berwarna bening itu akhirnya mulai membasahi pipi putih Kasumi. Begitu sakit, mengetahui realita yang terjadi. Bukan hanya itu kilas balik mengenai adiknya langsung berputar di dalam kepalanya. Bagaikan melihat sebuah film jadul, ia kembali melihat adiknya. Ia tak kuasa berkata apa-apa. Adiknya yang tak pernah ia perhatikan sama sekali. Begitu dibenci oleh penduduk desa dan jarang mendapat perhatian dari kedua orang tuanya.
Sakit! Begitu sakit mengetahui kesalahannya sebagai seorang kakak.
Naruto adalah adiknya tapi kenapa ia tak begitu memperhatikan Naruto yang begitu menderita. Apa saja yang telah ia lakukan sampai bisa melupakan begitu saja adiknya. Tidak, ia tidak lupa. Ia tahu itu. Namun ia bersikap biasa saja seolah bukanlah sesuatu yang buruk. Dengan kejadian ini akhirnya ia menyadari semua kesalahannya.
"Naruto maafkan kakakmu yang kejam ini. Jika saja aku cepat menyadarinya kau tak akan berakhir seperti ini".
Berkata dengan lirih kepada dirinya. Menangis seorang diri disana atas semua kesalahan yang telah ia lakukan. Kenapa ia begitu bodoh sampai tak bisa memahami semua ini. Terpana akan kehidupan menyenangkan yang ia lakukan, membuatnya lupa jika ada satu lagi kehadiran yang ingin merasakannya juga. Karena kesalahan ini, ia bertekad untuk menemukan Naruto dengan cara apapun. Tak peduli ada dimana dia sekarang. Kehidupan apa yang ia jalani disana. Ia hanya berharap jika Naruto saat ini tengah tersenyum bahagia disana.
Karena kejadian ini hubungan Kasumi dan keluarganya sedikit berubah. Ia sempat mempertanyakan akan sikap mereka pada Naruto. Lagi-lagi jawaban yang ia terima tidak memuaskan. Entah kenapa mereka seakan tak begitu peduli dengan keadaan Naruto yang menghilang. Tapi dari penjelasan ayah dan ibunya, serta ekspresi sang ibu yang terlihat khawatir membuat Kasumi menjadi sulit mengerti. Apa memang ayah dan ibunya menyayangi Naruto. Jika ia kenapa ia merasa aneh seperti ini.
Sempat mengurung diri dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Segala kesedihan yang terjadi padanya membuat ia ingin sendiri dan merenungi semua kesalahannya. Bahkan ketika sang ibu mengajak Kasumi untuk makan malam, Kasumi menolak tawaran sang ibu. Ia tak ingin bertemu dengan siapapun sekarang termasuk keluarganya. Ia hanya ingin sendiri saja sekarang. Merenungi setiap kesalahan yang ia lakukan pada Naruto.
Waktu berlalu. Kasumi sadar ia tak bisa terus seperti ini. Merenungi apa yang sudah terjadi tak akan membuahkan hasil apa-apa. Karena itulah ia sadar, ia tak bisa terus-menerus mengurung dirinya. Dengan tekad baru dan semangat yang membara. Kasumi putuskan untuk mencari keberadaan Naruto. Tak peduli sejauh apapun itu, seberbahaya sekalipun ia akan tetap mencarinya. Mencari keberadaanya dan membawanya pulang. Menjalani kehidupan yang baru dan memulai lagi lembaran hidup bersama keluarga tercinta.
Karena alasan dan tekad itu, ia lebih sering berlatih guna mempersiapkan dirinya dimana kelak ia akan memulai mencari Naruto. Menolak ajakan teman-temannya untuk bermain, lebih memilih menjalankan misi dan berlatih. Beberapa hal terjadi dikala ia memulai aktifitas barunya. Serangan yang terjadi didesa Konoha dan kepergian salah satu teman terdekatnya, Uchiha Sasuke. Lagi-lagi rasa sakit dihatinya menjalar ke seluruh tubuh. Pertama adiknya dan sekarang adalah teman akrabnya.
Ia tak tahu harus berbuat apa sekarang dengan serangkaian peristiwa yang terjadi. Ia tahu Sasuke pergi meninggalkan desa atas kehendaknya. Alasan kenapa Sasuke pergi juga ia tak tahu. Dan salah satu temannya akhirnya merasakan perasaan yang sama dengannya. Kepergian seseorang yang berharga dalam hidupnya. Salah satu temannya Sakura yang paling sedih atas kepergian Sasuke. Namun dalam hatinya ia tak bisa pergi menuju Sakura untuk menenangkannya. Karena ia juga sama, seseorang yang paling berharga pergi darinya.
Sama seperti sebelumnya, grup pencari langsung dikirim guna membawa kembali Sasuke. Tim yang terdiri dari 5 orang diutus pergi untuk menyelamatkan Sasuke. Dan pencarian itu kembali berakhir dengan kegagalan. Di sebuah tempat bernama lembah akhir ia dan sasuke akhirnya bertarung satu sama lain. Karena perbedaan kekuatan dan mental membuat dirinya kalah dari Sasuke. Misi akhirnya gagal.
Kasumi merasa bersalah pada dirinya karena gagal untuk membawanya kembali pulang. Hanya bisa membawa sebuah duka pada seseorang yang menunggu di desa. Tapi mau bagaimana lagi, dengan semua usaha yang sudah dilakukan oleh teman-temannya. Hanya kegalalan yang bisa mereka bawa.
Untuk masalah Sasuke saat ini, pihak desa memutuskan untuk berhenti melakukan pengejaran. Lebih memprioritaskan pada mereka yang terluka akibat mengejar Sasuke. Untuk kedepannya Sasuke mendapat julukan sebagai Nukenin, ninja yang berkhianat. Karena alasan sepihak dari Sasuke yang memilih untuk meninggalkan desa membuatnya layak dicap sebagai ninja pengkhianat.
Serangkaian masalah yang terus terjadi tanpa ada habisnya. Bahkan sampai sekarang ia masih belum menemukan satupun petunjuk mengenai adiknya. Begitu kesal atas ketidakbecusannya dalam mencari informasi. Memanfaatkan setiap misi yang keluar dari desa, tapi tak ada satupun petunjuk yang ia dapat.
"Sialan! Kenapa aku tak bisa menemukan satu pun petunjuk mengenai keberadaannya. Jawaban yang mereka berikan selalu saja sama. Tak tahu dan tak pernah melihat, aku muak mendengarnya. Naruto, dimana kau berada sekarang. Aku merindukanmu. Tuhan tolong kabulkanlah doaku ini untuk bertemu dengan adikku"
Kemarahan yang meluap dari dalam dirinya meluber keluar. Bagai sebuah magma api yang meletus dari sebuah gunung. Pencarian yang tak membuahkan hasil apapun. Lagi-lagi meratapi kepedihan ini seorang diri. Dijalan yang sepi ini, bersandar pada sebuah tembok rumah. Air mata kembali mengalir. Safir biru itu begitu sembab oleh tangisan kecilnya. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah berharap pada sang maha kuasa agar ia bisa berharap untuk dipertemukan dengan adiknya.
Setitik harapan mulai muncul. Sinar harapan dari seorang pria tua yang menemuinya. Salah satu dari legenda Sannin yang merupakan Shinobi legenda, seperti Tsunade dan Orochimaru. Dia juga merupakan guru dari ayahnya. Sang pertapa katak, Jiraiya atau sering disebut sebagai Ero-sennin olehnya. Mengajaknya melakukan latihan khusus diluar desa tentunya membuatnya senang. Karena latihan ini dibarengi dengan perjalan jauh ada kemungkinan ia bisa menemukan adiknya.
Akhirnya dengan izin sang ayah, Kasumi pergi bersama sang pertapa katak untuk memulai latihannya. Ini juga diperlukan dikala ia mendapat kesulitan dalam mencari keberadaan Naruto. Sedikit berprasangka buruk, bisa saja Naruto berada dalam kendali seseorang yang membuatnya harus bertarung dengannya. Jikalau itu terjadi, dengan segenap kekuatan yang ia punya akan ia buat Naruto sadar mengenainya dan membawanya pulang. Ia janji itu.
Perjalanan jauh akhirnya dimulai. Dengan serangkaian latihan yang dijalani dan berbagai macam peristiwa yang ia alami. Membuatnya sadar jika kehidupan diluar ternyata sekeras ini. Latihan dari Jiraiya akan ia anggap sebagai tujuan kedua. Prioritas utamanya sekarang ini adalah mencari keberadaan Naruto. Karena pastinya ini memakan waktu yang lama sampai saatnya ia kembali kedesa. Akan ia manfaatkan untuk mencari tahu dimana Naruto berada.
2 tahun berlalu begitu saja tanpa terasa. Selesai melaksanakan perjalan keluar desa yang dimaksudkan untuk berlatih, akhirnya Kasumi pulang kembali kedesanya. Berharap menemukan apa yang ia cari, sayangnya takdir berkata untuk tidak mempertemukan mereka. Kasumi harus menelan pil pahit dimana ia tak berhasil menemukan Naruto. Ia juga meminta bantuan pada sang guru, Jiraiya untuk menggunakan mata-matanya mencari Naruto. Kasumi setidaknya berharap jika sang guru mempunyai sedikit informasi mengenai Naruto sekarang. Dan jawaban dari Jiraiya juga sama. Mata-matanya tak menemukan apapun mengenai Naruto. Informasi mengenai ciri-cirinya mungkin saat ini sudah berubah. 10 tahun Naruto menghilang dari desa. 10 tahun itu juga Kasumi dedikasikan hidupnya untuk mencari keberadaannya yang sayangnya sulit sekali untuk ditemukan.
Namun sekarang kembali menuju kampung halaman bukanlah hal yang buruk. Karena sudah pergi selama itu, kira-kira apa yang sudah berubah. Memikirkan itu membuatnya sedikit penasaran. Bisa saja wajah baru dari gunung Konoha sudah ada pahatan baru. Atau dengan penampilan semua teman-temannya yang telah berubah. Ia tak sabar untuk melihatnya.
Memang benar. Banyak hal yang telah terjadi ketika dia melakukan perjalannya bersama sang guru. Keadaan desa sepertinya masih tetap sama. Bahkan pahatan wajah digunung itu belumlah bertambah. Jikalau adanya suatu hal yang baru, mungkin itu dari penampilan teman-temannya dan juga dirinya. Kasumi ingin segera tahu bagaimana tampilan mereka semua saat ini. Ia juga ingin menunjukkan penampilan barunya saat ini pada semua orang.
Menikmati suasana yang ada. Ia sekarang mencoba untuk menghilangkan sedikit penatnya akibat dari ambisinya. Sesaat ia memang berhasil menyikirkan sementara hal mengenai Naruto, memilih untuk bersenda gurau bersama teman dan keluarganya. Sudah lama dirinya tak tertawa seperti ini. Syukurlah walau banyak hal yang telah terjadi beberapa tahun ini. Setidaknya masih ada keluarga dan temannya yang membuat ia tersenyum. Ia bersyukur karena itu.
Sesaat Kasumi bisa sejenak beristirahat, masalah kembali datang menghampirinya. Seakan begitu melekat bagai sahabat karib, sahabat bernama masalah ini memang tak mau menjauh darinya. Kabar buruk datang dari desa tetangga. Sunagakure meminta bantuan pada Konoha untuk membantu mengamankan Gaara yang telah diculik oleh anggota Akatsuki. Mendengar ini lantas membuat safir itu membulat. Siapa sangka akhirnya Akatsuki berhasil menangkap Gaara.
Respon yang cepat dari Konoha, Hokage memutuskan untuk mengirim tim 7 ke lokasi sekarang juga. Karena ini keadaan darurat hanya tim ini saja yang bisa dikirim. Berada didalam ruangan Hokage yang terdiri dari Sakura, Kakashi dan Kasumi. Menggunakan Jutsu khas Hokage keempat, mereka bertiga langsung berada didaerah gurun pasir. Tak ingin menunggu lebih lama, tim 7 langsung bergegas menuju gerbang desa Suna yang berada didepan mata. Berlari lebih cepat, terlihat Kasumi begitu gelisah mendengar Gaara yang sudah berada ditangan Akatsuki.
Sampai digerbang desa Suna Kasumi merasa sedikit aneh dengan tidak adanya seorang penjaga. Apa mereka terbunuh atau sedang berada didalam desa karena keadaan penting hingga meninggalkan seseorang untuk menjaga gerbang desa. Bukan itu saatnya. Harus sampai di kantor Kazekage dan meminta informasi yang bisa digunakan untuk melacak anggota Akatsuki yang berhasil membawa Gaara.
Melihat adanya sebuah kerumunan entah ada apa yang terjadi. Sedikit mendorong beberapa orang yang dirasa menghalangi jalan, Kasumi dengan cepat menerobos kerumunan manusia ini. Ia tak ingin membuang waktu satu detikpun. Tapi keinginan untuk menyelamatkan Gaara terhenti begitu saja. Tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kedua kakinya terlihat gemetar, safir birunya yang membulat dengan sempurna. Berada didepannya seorang pemuda dengan rambut pirang jabrik yang berantakkan. Tak salah lagi dia adalah Naruto.
Berteriak dengan keras untuk memanggil adiknya. Rasanya air mata miliknya tak bisa ia bendung. Pencariannya yang seakan tak membuahkan hasil. Mendapati sebuah keajaiban didepannya ia sangat bersyukur. Karena kehendak dari yang maha kuasa akhirnya ia bisa dipertemukan dengan adiknya.
Tak ingin hanya berdiam diri dan memandang Naruto dengan haru, kedua kakinya yang gemetar ia paksakan bergerak maju. Ia ingin memeluk adiknya dengan erat dan tak ingin melepasnya. Tak ingin lagi rasanya Kasumi kehilangan adiknya untuk kedua kalinya. Jarak yang terpisah semakin mendekat, hanya menunggu beberapa jarak lagi agar ia bisa memeluk Naruto.
Ia seharusnya tahu, kalau semua hal ini tak akan sesuai dengan keinginannya. Berada dibalik dinding jeruji yang semuanya terbuat dari es, menghalangi niatannya untuk memeluk Naruto. Ia dengan jelas melihat tatapan itu, ekspresi itu dan suara kecil miliknya yang sudah lama tak ia dengarkan.
Ia gemetar.
Mendengar ucapannya yang tak mengenal dirinya. Tatapan mayat hidup yang dipaksa untuk terus melanjutkan kehidupan tanpa akhir. Kenapa harus seperti ini. Dalam 10 tahun ini apa yang sudah terjadi padanya. Kehidupan macam apa yang membuatnya bisa sampai seperti ini. Menyadari semua hal yang terpikirkan olehnya, membuat tangan itu terkepal kuat. Kesal rasanya ia tak tahu apapun mengenai adiknya sekarang.
Berharap bisa memeluk sang adik yang sudah lama hilang, harapan itu pupus seketika. Tubuhnya yang terlilit oleh sulur-sulur yang terbuat dari es. Tak bisa bergerak sedikitpun untuk keluar dari lilitannya. Memandang Naruto dengan wajah yang begitu sendu, mengharapkan Naruto mengenalinya dan bisa pulang bersamanya. Namun apa yang ia dapat hanyalah tatapan dingin darinya.
Dia pergi. Pergi begitu saja tanpa sepatah kata mengenai dirinya. Terbang bebas dengan sepasang sayap yang terbuat dari es. Es yang begitu bening berkilauan terkena cahaya matahari. Ada setitik rasa kagum darinya melihat Naruto menguasai kemapuan ini. Namun kepedihannya menghalangi itu semua.
Setelah beberapa saat akhirnya ia bisa tenang. Es-es yang mengikat tubuhnya langsung hencur menjadi partikel bening. Gaara yang sudah selamat dari tangan Akatsuki menjelaskan beberapa hal terjadi sebelum kedatangan mereka. Dari penjelasannya Narutolah yang telah menyelamatkannya. Tak ingin percaya tapi itu fakta yang diberikan oleh pemimpin desa Suna. Terlebih ada satu informasi yang diberikan oleh Naruto pada mereka. Mengenai keberadaan anggota Akatsuki yang saat ini berada diperbatasan antara Suna dan Kusa. Berbekal petunjuk yang diberikan oleh Kankuro setelah Sakura menyembuhkan keadaannya yang terbaring lemah karena sebuah racun. Ditemani seorang nenek tua tim 7 akhirnya pergi mencari keberadaan 2 orang itu dengan anjing pelacak milik Kakashi.
….
...
..
.
Akhirnya misi penyelamatan Gaara bisa dikatakan selesai. Walau bukan pihak Konoha yang menyelesaikannya. Tim 7 memutuskan untuk mengejar 2 anggota Akatsuki yang tengah berada didareh Kusakagure. Setelah mengiriminkan pengantar pesan guna meminta bantuan tambahan, menyembuhkan Kankuro yang terkena racun dari musuh dan menggunakan sebuah kain sobek yang merupakan milik salah satu anggota Akatsuki, tim 7 bergegas maju. Walau Gaara sudah berada dalam keadaan yang bisa dibilang aman, keberaadaan 2 orang ini tak bisa dibiarkan begitu saja. Ditemani seorang nenek tua sebagai tim tambahan, menggunakan salah satu peliharan Kakashi sebagai petunjuk jalan. Itu semua membuahkan hasil, tim 7 akhirnya bertemu dengan 2 anggota Akatsuki itu. Terlihat adanya sebuah raut kekeselan di wajah kedua orang itu.
Pertarungan yang memang tak bisa dihindarkan akhirnya terjadi. Sakura dan nenek Chiyo melawan anggota Akatsuki yang bungkuk sementara Kasumi dan Kakashi mengejar satu orang lagi yang langsung kabur menggunakan seekor burung. Dari pengejaran ini sayang Kasumi dan Kakashi gagal untuk menangkap orang itu. Menggunakan kemampuan spesial dari mata kirinya, berharap bisa langsung membunuh anggota Akatsuki itu tapi sayang serangannya hanya mengenai salah satu lengannya saja. Setelah itu ia langsung kabur dengan cepat.
Sakura dan Chiyo sendiri berhasil membunuh anggota Akatsuki yang bernama Sasori. Pertarungan yang begitu dashyat hingga menghancurkan ruangan sekitar. Banyaknya tubuh boneka yang tergeletak dan hancur dengan dinding gua yang rubuh. Tak terbayang pertarungan macam apa yang terjadi disini. Tapi syukurlah semua terbayar puas dengan kematian anggota Akatsuki itu. Serta dengan informasi yang didapat Sakura disaat Sasori akan meregang nyawa.
Setelah bertemu satu sama lain tim 7 memutuskan untuk kembali kedesa Suna. Ada beberapa hal yang perlu diklarifikasi mengenai sosok yang telah menyelamatkan Gaara. Dari apa yang dikatakan Gaara dia sebenarnya sedang mencari seseorang yang bahkan Gaara sendiri tak tahu siapa yang dia cari. Dari apa yang dikatakannya dia mencari seorang wanita dengan ciri-ciri rambut perak panjang sampai punggung dengan iris mata berwarna keemasan. Pastinya ada suatu hubungan yang terjadi diantara mereka berdua hingga seorang pembunuh seperti dia mencari keberadaan orang itu. Entah itu hubungan baik ataupun hubungan buruk. Walau tak banyak yang didapat dari Gaara tapi mengenai keberadaanya sudah lebih dari cukup.
Kakashi yang bahkan melihatnya tak tahu bagaimana reaksi nanti dari Hokage mengenai keberadaannya. Karena dia adalah beberapa orang yang diberitahu tahu oleh Hokage mengenai orang itu. Sang Malaikat Maut, Kuroyuki no Shinigami. Walau sekedar desas-desus yang terjadi di 5 negara Shinobi tapi keberadaanya saja tadi bahkan sudah mengancam. Kekuatan yang dia tunjukkan saat itu sulit untuk dijelaskan. Menguasai elemen gabungan antara air dan angin. Menciptakan sebuah serangan tanpa segel tangan bahkan di kondisi yang tak memungkinkan untuk menciptakan es seperti desa Suna. Ia berbahaya.
Gaara juga berpesan satu hal pada Kasumi. Jika kelak dirinya bertemu dengan orang itu maka waspadalah. Sejujurnya saja dirinya juga terkejut saat melihat rupa dari orang itu yang begitu mirip dengan Hokage keempat. Melihat Reaksi Kasumi yang bertemu dengannya, pasti dia adalah adiknya yang telah menghilang dari desa. Tapi dari apa yang dia katakan padanya bahwa ia sama sekali tak mempunyai hubungan dengan siapapun. Seperti yang Gaara duga otak miliknya sudah dimanipulasi.
Dengan segala informasi yang sudah diterima tim 7 memutuskan untuk segera kembali kedesa Konoha. Tak ingin berleha-leha dengan informasi yang sudah didapat. Kasumi juga tidak puas dengan informasi yang didapat dari Gaara. Satu-satunya orang yang pastinya tahu mengenai Naruto adalah sang ayah. Harus cepat-cepat untuk kembali kedesa sekarang juga dan membicarakan ini semua.
Dan begitulah. Setelah melakukan beberapa perjalanan jauh untuk kembali ke Konoha akhirnya mereka semua sampai. Berada didalam ruangan Hokage yang kebetulan saat itu ada Jiraiya disana. Kebetulan ada banyak hal yang ingin diketahui Kasumi sekarang dengan adanya Jiraiya saat ini sekarang.
Suasana didalam ruangan Hokage sebenarnya santai-santai saja. Seperti biasa Minato hanya mengerjakan lembaran-lembaran kertas yang menumpuk tanpa habisnya. Berharap dirinya bisa terbebas satu hari dari tumpukan kertas-kertas ini. Namun pekerjaannya memaksanya untuk menyelesaikan semua ini tanpa kecuali. Dan saat itulah dia datang. Seseorang yang telah menjadi gurunya saat masih di peringkat Jounin. Jiraiya. Karena memang moodnya sedang tidak enak mungkin membicarakan sesuatu dengan gurunya bukanlah hal yang buruk. Sedikit merubah suasana yang dari dulu hanya ini-ini saja.
Tapi itu semua terusik tak kala putri tercintanya datang. Begitu tergesa-gesa memasuki kantor ruang Hokage tanpa ada ketukan terlebih dulu. Dibelakang Kasumi terlihat Kakashi dengan wajah bersalah seakan berkata meminta maaf karena tak bisa menghentikan Kasumi. Tapi itu tak penting, ia ingin tahu kenapa Kasumi begitu terburu-buru sekarang.
Brakk!
Walau tak keras tapi tetap saja itu membuat dirinya sedikit terkejut dengan aksi menggebrak meja Kasumi.
"Tou-san, aku mohon padamu. Beritahu semua yang Tou-san tahu mengenai Naruto".
"Kasumi ada apa denganmu tiba-tiba seperti ini. Apa telah terjadi sesuatu padamu?"
Melihat ini Minato tentu saja cemas. Tak biasanya kasumi bertingkah seperti ini. Ingin tahu apa yang terjadi padanya tapi Kasumi memilih diam. Hanya saja memberitahu semua hal mengenai Naruto, tentunya ia tak bisa melakukannya. Karena pada dasaranya ialah yang paling tahu mengenai Naruto. Itu akan menjadi rahasia paling kelamnya.
"Informasi akan keberadaannya masih belum ditemukan. Ayah juga menugaskan beberapa Shinobi untuk melakukan pencarian. Ayah juga saat ini belum menemukan laporan akan adanya keberadaan Naruto. Maaf Kasumi ayah tak bisa berkata banyak tentang Naruto. Hanya sedikit saja yang ayah tahu tentang Naruto sekarang".
Entah memang ia menyimpan perasaan bersalah atau tidak. Tapi tangan yang terkepal kuat itu seakan menunjukkan perasaan bersalah yang teramat dalam. Mendengar penuturan sang ayah kasumi hanya mengeraskan rahangnya. Bukan itu yang ingin Kasumi dengar sekarang. Lagi-lagi sang ayah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Jaa beritahu aku sekarang juga! Semua hal tentang Kuroyuki no Shinigami sekarang juga!".
Tak bisa berkata apa-apa. Suara yang tersendat seperti dicekik oleh tali dengan kuat. Mendengar tutur kata dari anaknya ini ia begitu terperangah. Bukan hanya Minato tapi Jiraiya juga sama. Ia tak menyangka jika Kasumi bisa tahu mengenai informasi mengenainya. Tapi kenapa bisa bocor? Hanya beberapa orang saja yang mengetahui tentang ini. Apa Kakashi memberitahunya, itu tidak mungkin. Kakashi bukanlah orang yang seperti itu. Ia juga menyuruh Kakashi untuk tutup mulut mengenai informasi ini pada anaknya. Lalu apa yang terjadi kenapa Kasumi bisa tahu.
"Saat kami tiba didesa Suna dalam tugas menyelamatkan Gaara, dia ada disana. Naruto, adikku berada disana. Tapi karena beberapa alasan yang tak kuketahui dia tak mengingatku. Aku bahkan tak bisa melupakan wajah dinginnya itu dan tatapan kosong tanpa jiwanya. Tou-san kau pasti tahu semua ini'kan. Aku lebih suka memanggilnya Naruto daripada julukan anehnya itu. Kumohon beritahu aku semuanya pada putrimu ini".
Menjadi salah tingkah dengan suasana saat ini. Anaknya yang tiba-tiba datang dan memintanya membeberkan semua hal mengenai seseorang. Tapi kenapa harus secepat ini. Hari dimana putrinya tahu akan seseorang yang begitu mirip dengan Naruto. Karena ia yakin jika putrinya ini belum siap menerima kenyataan. Karena orang yang mirip dengan Naruto ini yang sering disebut sebagi Shinigami telah melakukan perbuatan yang diluar nalar manusia.
Melihat sang guru disana, berharap bisa membantunya untuk keluar dari situasi ini. Tapi dari tatapannya yang berkata 'Beritahu dia' membuatnya tak bisa mengambil keputusan lain. Dengan berat hati akhirnya ia memilih untuk mengatakan semua yang ia tahu mengenai Naruto, yang dijuluki sebagai Kuroyuki no Shinigami ini.
"Kasumi Tou-san sebenarnya tak ingin kau tahu mengenai pria ini. Tapi karena sudah terlanjur dan mengingat keberadaannya yang muncul didesa Suna ada kemungkinan dia akan datang kedesa ini, sudah saatnya kalian tahu tentang informasi ini".
Minato langsung mengambil sebuah kertas yang tersimpan didalam laci meja kerjanya. Mengeluarkannya dan memberikannya pada Kasumi agar ia tahu dengan informasi yang berhasil ia dapatkan dengan bantuan sang guru, Jiraiya.
"Ini adalah informasi tambahan dari Jiraiya-sensei yang lebih terperinci. Kalian juga boleh melihatnya".
Kasumi yang melihat itu seketika melebarkan kedua iris safirnya. Tak mungkin! Apa-apaan semua ini. Informasi ini memang terperinci tapi ia tak bisa mempercayai akan keterangan yang telah dilakukan oleh Naruto yang terpampang di kertas ini. Nama asli dan asal tempat yang tak diketahui, hanya sebatas julukan saja. Tapi dari keterangan yang telah dilakukannya, tangan itu bergetar tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Seorang kriminal dengan tingkat SS dengan jenis kejahatan yang tak bisa dimaafkan. Pembunuhan dan mutilasi serta pembantaian para penduduk desa yang didatanginya. Kemunculannya yang selalu diawali dengan langit yang tiba-tiba mendung dan salju hitam yang langsung turun dari langit, membuatnya mendapat julukan sebagai Kuroyuki no Shinigami. Jumlah korban yang tertera pada sepucuk kertas ini bukanlah main-main. Jumlah korban diperkirakan lebih dari 2000 orang. Ini bukanlah kejahatan yang bisa dimaafkan dan tak mungkin dilakukan oleh manusia manapun. Hanya hukuman mati yang bisa diberikan pada sosok yang terpampang di kertas ini.
Akhirnya kedua kaki yang menopang tubuh itu lemas tak berdaya. Tertunduk lesu seraya ingin menolak pahitnya kenyataan yang ia tahu. Membayangkan wajah polos adiknya yang lemah bisa sampai seperti ini. 10 tahun ini tampaknya telah memberikan perubahan yang begitu drastis pada adiknya. Naruto bukanlah orang yang kuat ataupun mempunyai kemampuan bertarung disaat dia masih tinggal bersama dengannya. Menyebutnya lemah tak berdaya memang kejam, tapi itulah yang ia tahu mengenai Naruto dan penderitaanya.
Sedih atau senang sulit sekali menentukannya. Sedih rasanya mengetahui adiknya yang tak bisa berbuat banyak hal menjadi individu yang mengerikan. Membunuh ribuan nyawa dengan tangannya, tanpa ada perasaan bersalah apapun yang terlukis di wajah dingin itu. Sudah pasti perbuatan mengerikan itu menjadi hal biasa baginya. Membunuh manusia sama seperti menyambil seekor nyawa serangga. Kasumi tak bisa membayangkan wajah seperti apa yang Naruto tunjukan dikala ia melakukan semua kejahatan ini. Apakah wajah itu tersenyum puas melihat darah dan mayat musuhnya atau merasa begitu bersalah dan tertekan seakan dipaksa untuk melakukan tindakan keji ini. Lebih buruk lagi apa wajah itu kehilangan emosinya, terbiasa dan tak peduli dengan pemandangan yang penuh dengan darah.
Jikalaupun Kasumi merasa senang, tentunya ada. Naruto yang ia tahu hanya anak biasa yang tak diberkati oleh apapun, kembali muncul dengan kekuatan yang begitu mengagumkan. Ia tak akan lupa dengan perbuatan Naruto saat didesa Suna. Menciptakan dinding jeruji dari es serta melilit tubuhnya dengan es. Kemampuan seperti itu sulit didapat. Apalagi tak adanya segel tangan yang tercipta seakan menuruti kehendak Naruto. Desa Suna sangat kering bahkan air pun akan langsung menguap jika tumpah di dataran kering itu. Tapi Naruto, seakan menyingkirkan hal mustahil itu dengan kemampuannya. Menciptakan es di tanah yang tandus, bahkan seorang Hokage pun perlu kekuatan lebih untuk melakukannya.
Sekarang ini lagi-lagi ia berada didalam kamarnya seperti dulu. Bersandar disalah satu sudut kamarnya dengan tatapan kosong. Setelah mendengar informasi dari ayahnya mengenai Naruto yang seperti itu membuatnya kembali tertekan. Perasaan bersalah kembali menyelimutinya. Karena dirinya lah Naruto bisa menjadi seperti ini. Tidak. Bukan hanya dia, ayah dan ibunya juga sama. Walau begitu ia merasa ini semua adalah kesalahannya. Ditambah sang ayah yang seakan membohongi dirinya dan juga sang ibu yang entah kenapa begitu biasa melewati semua ini. Apa ada sesuatu yang terjadi antara Naruto dengan ayah dan ibu. Sesuatu yang hanya diketahui oleh mereka, ia tak tahu. Dengan perasaannya yang begitu campur aduk, Kasumi tak ingin berprasangka buruk pada siapapun bahkan kedua orang tuanya.
"Naruto…..Naruto…..Naruto".
Berguman sendiri disana dengan pelan. Bagai mantra khusus yang mana dapat mengabulkan suatu permintaan. Dan permintaan itu adalah dengan kembalinya Naruto pada keluarga ini. Memaafkan kesalahan dirinya beserta kedua orang tua yang telah mengabaikannya. Walau begitu, dihati kecilnya berkata bahwa Naruto tak akan pernah memaafkan mereka semua.
….
…
..
.
Meninggalkan Kasumi. Ditempat yang jauh dari desa Konoha. Berada didaerah wilayah tanah yang mana wilayah ini terkenal dengan Shinobi mereka, Iwagakure. Di salah satu perkampungan yang cukup besar atau dulunya. Menyebut tempat ini sebagai perkampungan nampaknya perlu di garis bawahi. Keadaan tempat ini sekarang sangat hancur. Banyaknya bangunan rubuh tak pantas tempat ini disebut sebagai perkampungan. Tempat ini lebih cocok disebut desa yang terbengkalai.
Itu memang benar, ini hanyalah tempat terbengkalai yang sudah ditinggalkan oleh semua masyarakat. Itu semua dulu, sebelum kedatangannya menapaki desa ini. Disebut sebagai desa tidaklah terlalu besar tapi disebut sebagai perkampungan juga tidak terlalu kecil. Memasuki gerbang utama desa terlihat adanya beberapa aktifitas penduduk. Entah itu hanya sekedar mengobrol biasa, minum-minum sampai mabuk dan beberapa aktifitas lainnya. Tapi begitu ia memasuki tempat ini lebih dalam, semua pasang mata tertuju padanya. Melihat adanya kedatangan orang asing ketempat ini tentunya tidak biasa. Apalagi jika orang itu berpakaian serba hitam layaknya seseorang yang datang dari ranah kematian.
Dan apa yang terjadi beberapa orang langsung datang menghampirinya. Ekspresi orang-orang yang mendatanginya semuanya sama. Tak suka dan memandang remeh. Seakan tak ingin menerima seorang pendatang baru dan tempat ini hanya dikhusukan untuk orang-orang terntentu saja. Melihat sekeliling dengan seksama, untuk sebuah perkampungan tempat ini agak kumuh dimana banyak sekali berceceran sampah. Belum lagi orang-orang yang ada disini. Penampilan mereka berkata bahwa mereka bukanlah orang baik-baik. Tatapan yang meremehkan, wajah yang terdapat luka sayatan, pakaian yang terlihat seperti seorang prajurit dengan senjata masing-masing. Mereka semua cocok sekali disebut bandit.
Dari apa yang dilihat, ia akhirnya mengambil satu kesimpulan. Tempat ini hanyalah sarang bagi sekelompok bandit untuk bersanti setelah melakukan aksi kejahatan mereka. Tak ada bedanya. Teringat dimana ia pernah mengunjungi tempat seperti ini dimana tempat itu berubah menjadi lautan darah dengan mayat dimana-mana. Apa ia perlu mengubah tempat ini menjadi seperti itu.
Dilihat dari ekspresi mereka yang tak suka serta dirinya yang sudah dikepung oleh banyaknya bandit ditempat ini. Menjadikan desa ini menjadi lautan darah dan mayat tampaknya bukan masalah berat untuknya. Karena pada dasarnya semua itu adalah hal yang telah ditanamkan padanya sejak berada ditempat penelitian. Bahkan negosiasi dengan orang-orang seperti mereka tak ada yang bisa didapat. Mereka semua hanyalah orang-orang bodoh yang menginginkan kekuasan semata. Membunuh mereka semua juga tak akan berdampak apapun. Negara bahkan akan membiarkan orang-orang ini mati begitu saja. Keberadaan mereka juga tak memberikan dampak apapun. Jikalau berdampak reputasinya sebagai seorang Malaikat Maut akan semakin menguat.
Memang mau bagaimana lagi. Karena hakikatnya sebagai senjata hidup, membunuh adalah hal yang bisa dilakukan oleh seorang senjata. Ia sekarang bagaikan Katana tanpa tuan. Mencari tuan baru yang mau menggenggam dirinya sebagai senjata. Menebas semua musuh sesuai apa yang telah dikehendakkan oleh tuannya. Jikalau ada baginya hanya ada 1 orang yang berhak memegang Katana hidup ini. Orang itu bebas menggunakan dirinya sebagai senjata. Bahkan jika diperintahkan untuk menghancurkan sebuah negara, ia tak segan akan langsung menjalankannya.
Katana tanpa tuan yang terus berjalan menapaki dunia guna mencari pemegang baru. Karena pada dasarnya tuan pertama yang sekaligus telah menciptakannya telah tiada. Walau sebatas senjata hidup ia mempunyai satu tujuan didalam dirinya. Menemukan seseorang yang sangat pantas untuk menggenggam seluruh hidupnya.
Kembali menuju mereka. Sepertinya suasana sudah menjadi lebih ramai daripada sebelumnya. Dikelilingi oleh bandit dengan jumlah yang sangat banyak. Ia sudah menduga jika otak mereka hanya tahu tentang bertarung saja. Bisa ia dengar ucapan mereka semua untuk menyerahkan semua harta berharga miliknya pada mereka. Mengatainya atas kesialan karena telah datang menuju neraka ini. cukup basa basinya, saatnya kembali membuat tempat ini menjadi penuh dengan warna merah.
Itulah sedikit yang terjadi dimana ia menapaki desa ini. Semua bangunan yang ada hancur tanpa sisa dengan banyaknya bongkahan es dimana-mana. Percikan darah mengalir disetiap tempat dan mengotori beberapa dinding rumah. Dari itu semua yang paling mengerikan adalah tumpukan mayat yang berada di tengah desa. Mereka adalah para bandit yang telah menantang dirinya. Tubuh tanpa nyawa yang sudah terpotong menjadi beberapa bagian. Bau yang begitu menyengat bisa tercium dalam radius 20 meter. Melihat pemandangan seperti ini bahkan orang dewasa sekalipun akan memuntahkan isi perut mereka.
Mashiro Yuki. Sebuah senjata hidup. Katana tanpa tuan yang menebas tanpa ampun pada orang-orang yang menghalanginya. Duduk terdiam diatas tumpukkan para mayat dengan kondisi yang sulit dicerna oleh akal sehat. Tubuh terpotong menjadi beberapa bagian mungkin sudah biasa. Tapi entah kenapa isi perut mereka yang keluar dimana usus dan organ lainnya seakan memiliki kengerian yang berbeda. Beberapa kepala yang terpotong dengan isi otak yang terlihat. Tak salah jika menyebut semua ini sangat mengerikan.
Kondisinya saat ini dipenuhi oleh cipratan darah. Seperti mandi disebuah air terjun, tubuh itu penuh dengan darah. Tak mengidahkan bau amis yang begitu kuat dari darah yang berada ditubuhnya serta para mayat menjadi gunung. Ia duduk disana sambil memainkan sebuah potongan kepala dengan salah satu tangannya. Tangan itu berbeda dari biasanya. Berbentuk cakar dengan panjang 18 cm. Ia gunakan tangan itu untuk memegang kepala tersebut tanpa rasa jijik.
Sesekali tangan satunya lagi memegang kepalanya miliknya. Entah kenapa belakangan ini rasa sakit dikepalanya terus menyerang, ditambah dengan ingatan asing yang terus berputar didalam kepalanya. Ia tak bisa menjelaskan apa yang terjadi. Semua ini terjadi begitu saja ketika ia bertemu dengan seorang gadis yang menyebutnya Naruto. Dia mengaku sebagai kakak dan ingin mengajak dirinya pulang. Tentu saja ia menolak permintaan aneh dari gadis itu.
Kalau ia tak salah namanya adalah kasumi. Seorang gadis yang mempunyai rambut pirang runcing sampai punggung, dengan salah satu poni yang hampir menutupi mata. Mempunyai iris safir berwarna biru dengan kulit putih tanpa noda seperti salju. Kalau diingat lagi ada beberapa ingatan asing dimana ada seorang anak perempuan. Walau masih kecil dia mempunyai karakter yang mirip dengan Kasumi. Ia bisa melihat dimana anak perempuan tersebut memandang tak peduli pada seorang anak laki-laki dengan perawakan yang sama. Apa mungkin, ingatan ini ada maksud tertentu mengenainya. Tak mungkin sebuah ingatan bisa muncul begitu saja.
Memikirkan semua itu, lagi-lagi kepalanya berdenyut sakit.
Tak lama sebuah burung berwarna putih datang. Terbang mengitar dirinya hingga burung itu hinggap dilengan kirinya. Ini adalah burung hantu salju dengan bulunya yang sebening kaca dan iris mata berwarna biru cerah seperti berlian. Dilihat lebih jelas memang ini hanya sekedar burung biasa tak ada yang spesial, namun itu salah. Burung ini merupakan ciptaannya langsung. Karena kedatangan burung ini sudah pasti informasi yang dibawa olehnya telah selesai. Seperti sebuah drone hidup, ia membuat burung ini guna mengamati seseorang.
"Begitu rupanya pertarungan yang hebat. Gadis berambut pink itu berhasil mengalahkan pria berjubah awan merah itu sementara satunya lagi berhasil melarikan diri. Jutsu dari pria berjubah merah itu maupun gadis bermabut pink itu memang hebat. Pasir besi yang dapat berubah menjadi bentuk apapun serta kekuatan pukulan gadis itu yang bagaikan monster. Aku tak menyangka jika para Shinobi itu akan tetap mengejar 2 orang berjubah awan merah ini. Setidaknya aku mendaptkan hal yang menarik dari kejadian ini. Untunglah aku mengirimkan mata-mata untuk mengawasi mereka".
Itu semua adalah hasil informasi yang telah dibawa oleh burung hantu itu. Begitu burung itu hinggap deretan informasi seperti sebuah film langsung mengisi otaknya. Setiap pertarungan dan percakapan terekam dengan jelas, sangat detail. Karena pada dasarnya burung ini memang terbuat dari sebagian tubuhnya, perlahan burung itu menjadi suatu gumpalan seperti jeli yang mana langsung menyatu dengan tubuhnya.
Tatapannya berganti pada apa yang ia pegang. Memandangi sedikit lebih lama seakan apa yang dipegangnya adalah sebuah batu permata yang bersinar. Hingga ia meremas kepala itu sampai hancur tanpa sisa. Cipratan darah lagi-lagi mengenai wajahnya. Dengan isi tengkoraknya yang sudah hancur dan cairan otak yang meluber. Tak mengidahkan kengerian saat ia menghancurkan kepala itu.
Sekarang alangkah baiknya ia membersihkan tubuhnya ini dari semua darah. Bukannya terngganggu dengan bau darah ini tapi ini akan sulit saat ia akan datang mengunjungi desa lainnya. Kalau tidak salah dari sini sejauh 25 km ada sebuah kehidupan yang besar. Sebuah desa yang terkenal akan penghasilan utama desa itu.
Desa permata.
Sebuah desa dengan penjagaan yang sangat ketat dimana transaksi permata sering terjadi didesa ini. Permata yang ditawarkan juga tak main-main. Semua permata yang ditawarkan mempunyai nilai kekerasan 6 keatas. Dengan keindahan yang dimilikinya serta kekerasan yang dimiliki oleh permata tersebut, sudah pasti itu adalah barang mahal yang patut ditemani dengan penjagaan yang ketat.
Yuki datang kedesa itu bukan untuk melakukan transaksi dengan semua orang yang ada disana. Ia juga tak mengerti akan keindahan sebuah batu berwarna. Jikalau mau ia dengan mudah bisa menciptakan sebuah batu seperti itu dengan kemampuannya. Tapi ia juga tak mengerti akan nilai dan kegunaan batu itu untuk dirinya. Jikalau nilai kekerasannya bisa berguna untuk menjadi senjata, tapi dengan bentuk dan ukurannya yang seperti itu memang tidak mungkin.
Berbicara mengenai sesuatu yang keras, salah satu temannya mempunyai kemampuan merubah anggota tubuhnya menjadi suatu bentuk dengan kekerasan melebihi berlian. Ia yakin dengan kemampuan temannya itu bahwa tak ada didunia ini yang lebih keras dari tubuhnya. Ia sedikit penasaran akan keberadaannya sekarang. Tapi biarlah, bukan itu yang menjadi tujuannya sekarang.
Sekarang, setelah membersihkan semua darah yang berada ditubuhnya saatnya kembali melanjutkan perjalanan. Tak mungkin jika ia berkeliaran dengan bekas darah dimana-mana. Begitu ia sampai dipemukiman, orang-orang pasti akan langsung menatap heran dan ngeri akan kondisinya yang seperti itu dan tentunya dengan masalah yang akan terjadi.
Karena daerah ini merupakan pegununan tanpa tumbuhan, sulit sekali mencari air yang mengalir. Tak adanya wilayah hijau dimana hanya ada bebatuan saja, sumber mata air seakan mustahil untuk ditemukan. Jika ini tak cepat darah disetiap tubuhnya akan mengering dan akhirnya meninggalkan bau tak sedap. Untunglah dia dibekali dengan kemampuan yang serba guna. Menciptakan suatu gumpalan berwarna biru putih dari ketiadaan. Dengan cepat layaknya sebuah busa hidup, gumpalan itu langsung membersihkan tubuhnya. Dengan cepat tubuh itu akhirnya bersih tanpa noda sedikitpun bahkan bau amis dari darah langsung hilang. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, perjalan tetap berlangsung.
Seperti yang sudah dikatakan dimana tak adanya daerah hijau. Struktur wilayah ini dipenuhi oleh tanah kering dan keras dimana tumbuhan tak bisa tumbuh. Bahkan sedikit kemungkinan jika bisa menemukan daerah hijau dimana banyak sekali tumbuhan. Jarak dari desa permata hanya tinggal 4 km lagi. Hanya menunggu waktu sampai ia sampai ditempat itu. Mengenai kondisi wilayah sekitarnya hanya hamparan tanah yang keras. Bahkan terdapat beberapa gundukkan tanah setinggi 15 m. Mengingat wilayah ini yang disebut sebagai negara tanah, sesuai dengan namanya.
Langkah kaki itu berjalan dengan pelan menapaki jalan. Hanya ada semilir angin yang menemani perjalanannya. Melihat sekeliling sembari melihat apakah ada suatu kehidupan atau tidak, entah itu serangga atau hewan berbulu. Bukan berarti tempat seperti ini tidak terdapat kehidupan. Pastinya ada satu atau dua mahluk hidup. Berpikir bahwa perjalan ini akan berjalan dengan baik tanpa adanya gangguan. Tapi dengan cepat ia menangkis pemikiran seperti itu.
Insting menghindar miliknya langsung berteriak. Menjatuhkan tubuhnya kesamping, menghindari adanya sebuah bahaya yang menuju padanya. Dengan gerakan lambat iris berwarna biru torquise itu melihat adanya sebuah batu berukuran besar yang akan menghantam dirinya. Dari kecepatannya batu ini dilempar dengan kuat.
Blarrr!
Ledakan yang cukup besar terjadi ketika batu itu menghantam tanah. Dengan gerakan tambahan Yuki langsung melakukan Backflip guna mengambil jarak menghindar. Kembali menggunakan kakinya untuk menapaki tanah, iris itu mulai mencari tahu siapa gerangan yang telah melempar batu itu kearahnya. Hingga tatapannya tertuju pada 3 orang yang berada diangkasa. Benar, mereka bertiga melayang seperti balon. Yuki tak tahu tehnik macam apa yang bisa membuat manusia melayang. 3 orang itu mempunyai perawakan yang berbeda.
Pertama adalah seorang kakek dengan tubuh kecil. Dilihat dari keriputnya yang banyak serta surai rambutnya yang telah memutih menandakan ia sudah sangat tua. Disampingnya terlihat seorang wanita yang terpaut usia 20 tahunan mempunyai rambut hitam pendek dengan penampilan agak terbuka. Kaki yang putih itu tertutup oleh stocking berwarna hitam. Satu lagi sepertinya berumur 30 tahunan. Mempunyai tubuh yang kekar serta wajah yang terlihat dewasa dengan janggut tipis miliknya. Memakai atribut berwarna merah hati yang sama kecuali sang kakek tua. Salah satu tangan pria berumur 30 tahunan itu berubah menjadi tangan batu, kemungkinan dialah yang melempar batu itu.
"Tidak kusangka akan bertemu dengan seseorang yang tengah menjadi perbincangan seluruh negara Shinobi. Dari rute yang kau ambil apa kau berencana untuk pergi ke desa permata dan memulai aksi kejimu disana, Shinigami?!".
"Entahlah kakek tua. Aku memang berencana pergi kedesa itu tapi bukan dalam rangka pembantaian. Namun jika terjadi sesuatu yang tak teruga, mungkin kau harus merelakan desa itu menjadi lautan darah".
Onoki. Seorang pemimpin dari desa Shinobi dari Iwagakure. Gelar tertinggi dari Iwagakure sebagai Tsuchikage ketiga. Kedatangannya memang tertuju pada desa permata. Karena beberapa alasan yang tak bisa dijelaskan membuatnya ingin pergi kedesa permata. Karena memang insting bahaya, atau adanya sebuah pertanda membuatnya ingin pergi kedesa permata dengan cepat. Dan apa yang ia duga, dalam perjalan akan bertemu dengan orang ini. Kepekaannya terhadap bahaya memang kuat.
"Kakek apa benar orang itu yang dirumorkan oleh semua negara Shinobi. Seorang pembunuh keji yang telah membantai ribuan nyawa".
Mereka bertiga perlahan mulai turun menapaki tanah berwarna jingga. Sedikit melompat guna meredam efek jatuh, sementara sang kakek masih melayang.
"Tentu saja. Dari informasi yang diterima oleh intelijen desa, ciri-cirinya memang mirip. Tapi siapa sangka wajah itu begitu mirip dengan Hokage keempat".
Sang wanita, Kurotsuchi melihat kembali orang itu dengan menerawang. Tak salah lagi apa yang dikatakan oleh kakeknya memang benar. Dia begitu mirip dengan Hokage keempat.
"Tsuchikage-sama apa kita perlu meminta bantuan. Dengan jumlah kita saat ini saya rasa akan sulit untuk menjatuhkan orang ini. Terlebih saya belum tahu akan kekuatan macam apa yang dimilikinya".
"Itu tidak perlu. Bantuan tidak akan cepat datang bahkan jika kita mengirim sinyal sekarang. Karena sudah terlanjur terpaksa kita bertiga yang harus melawannya. Untuk mengantisipasi hal ini karena itulah aku membawa kalian".
Sang pria kekar, Kitsuchi mencoba untuk meminta bantuan yang langsung ditolak sang kakek dengan cepat. Alasannya memang bisa diterima. Mengirim sinyal bantuan sekarang hanya membuang waktu. Jarak dari Iwagakure dan daerah ini juga jauh, karena mereka bertiga terbang hanya membutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk sampai. Tapi jika menggunakan jalur darat dengan berjalan kaki, waktu yang terbuang sangat banyak.
Yuki yang melihat mereka masih berinteraksi mulai memasang sikap waspada. Entah apa yang akan mereka rencanakan, tapi dilihat dari sikap mereka sepertinya pertarungan tak bisa dihindarkan. Ia tak ingin itu. Terlalu membuang waktu. Setelah selesai dengan urusan desa Suna sekarang ditambah dengan munculnya mereka. Lagi-lagi masalah yang tak diinginkan muncul.
"Kalian tahu, aku tak mempunyai niatan untuk bertarung sekarang. Jikalau boleh bisakah kita melupakan pertemuan ini dan bersikap seolah ini tak terjadi?".
"Kau pikir kami akan mengabulkan keinginanmu begitu saja, jangan bercanda. Sebelum sampai kesini kami sudah disuguhi pemandangan yang sangat mengerikan. Hanya satu orang yang bisa melakukan pembantaian pada sebuah desa dengan keji. Hanya kaulah yang bisa, Shinigami".
Onoki langsung menolak mentah-mentah tawaran yang diberikan oleh Yuki padanya. Kata-katanya penuh tekanan. Emosi yang terpendam seakan siap meledak kapan saja. mendengar itu, Yuki tak terkejut sama sekali dengan apa yang dikatakan kakek tua ini padanya. Walau begitu ia ingin menghindari pertempuran tak berarti ini sebisa mungkin.
"Tapi kau harusnya tahu juga'kan? Desa itu hanya dipenuhi oleh sampah-sampah masyarakat yang tak ada nilainya. Bahkan negarapun pastinya lebih memilih memusnahkan sebuah hama daripada mengurusnya. Dengan demikian perbuatanku itu sebenarnya mendukung negara ini bukan, walau tak langsung".
"Itu mungkin bisa dibenarkan. Tetap saja kau tak boleh mengambil hak hidup seseorang dengan cara kejam seperti itu. Walau mereka semua adalah hama yang hinggap disebuah negara, ada hukum yang mengatur itu semua. Bahkan jikalau hukuman mati sekalipun harus setimpal dengan kejahatan yang telah dilakukannya. Contoh tepatnya adalah dirimu. Hukuman mati sangat cocok untukmu".
Negosiasi sepertinya tidak akan berhasil. Keteguhan mereka bertiga sangat kuat untuk bertarung dan mengalahkannya disini. Senjata sudah terhunus. Hanya tinggal menunggu satu perintah untuk memulai serangan. Tak tahu siapa yang akan menyerang duluan. Dirinya atau mereka bertiga.
"Maju!".
Dengan satu terikan kuat mereka bertiga bergegas maju menyerbu. Melihat itu, Yuki tak tinggal diam. Dengan sepasang pedang es di kedua tangannya ia juga bergerak maju guna meladeni setiap serangan yang akan diberikan. Lawan pertama adalah gadis itu. Kurotsuchi dengan kuat menggenggam Katana miliknya. Ia sadar jika ia akan menjadi pembuka pertarungan ini. Lawan didepannya juga tak bisa dianggap remeh. Bukti dari kekuatan orang itu ada pada pedang es yang ia ciptakan. Tanpa segel tangan seakan memberi perintah pada ketiadaan dan pedang itu langsung tercipta.
Trank!
Serangan pertama dengan mengadu senjata mereka. Belum selesai disitu Yuki mendorong Katana itu dan melancarkan beberapa sayatan dengan dua senjatanya. Walau terbuat dari es, namun benturan yang tercipta antara es dan pedang milik Kurotsuchi bagai dua bilah baja yang saling beradu. Menghindari dan menangkis setiap sayatan dari pria ini yang bisa dikatakan handal dengan kedua pedangnnya. Namun dirinya juga tak bisa dianggap remeh. Walau hanya satu senjata Kurotsuchi bisa mengimbangi setiap serangan dari dua pedang itu. Saling tukar serangan terjadi diantara mereka dimana Yuki yang lebih mendomiasi dengan kedua pedangnya. Seakan terdesak dengan serangan milik pria itu, Kurotsuchi langsung mundur digantikan dengan pria kekar.
Kitsuchi menggunkan kedua tangannya yang telah berubah menjadi batu. Menggunakan pukulan dengan kuat untuk memberi efek besa pada setiap luka yang akan diterima. Namun musuh tampaknya lihai menghidari setiap pukulannya. Ia yakin jika pukulannya tidak lemah dan kurang cepat untuk mengenai tubuh kecil orang ini. Tapi reflek dan ketanggapannya terhadap serangan memang tak bisa diremehkan. Seperti sebuah kera yang bergelantungan dengan lincah diatas tubuh Gorila. Memanfaatkan celah kecil Yuki mencoba menyerang tubuh kekar Kitsuchi yang tak terlindungi. Hanya kedua lengannya saja yang berubah menjadi tangan batu tidak dengan tubuhnya. Walau begitu Kitsuchi masih bisa menangkis dua pedang miliknya yang lagi-lagi menggores tangan batu itu.
Yuki perlahan mundur tak kala tangan besar itu akan menghantamnya dari atas. Kembali melakukan Backflip dan mengambil jarak aman namun itu tidak terjadi. Sang kakek tua Onoki memulai aksinya. Tubuhnya memang kecil tapi semangat bertarungnya tidak kalah dengan anak muda. Dengan kemampuan melayangnya ia menyerang disetiap celah dengan lengan yang terbuat dari batu. Karena ukurannya kecil, kecepatan pukulannya lebih cepat dari Kitsuchi. Tak ingin terus diserang, Yuki membalas serangan Onoki dengan kedua pedangnya. Seperti menebas ruang kosong, itulah yang terjadi pada Yuki. Siapa sangka kakek tua ini dengan mudahnya menghindari setiap tebasan yang ia lancarkan. Mengambang diudara seharusnya membuat tubuh tak bisa bergerak leluasa. Tapi tubuh kakek kecil ini dengan mudahnya bergerak sesuka hatinya. Tebasan secara vertikal ia layangkan dengan kuat untuk membelah kakek ini menjadi 2 bagian. Begitu pedang itu melesat kuat untuk menebas Onoki, tangan batunya langsung mencengkram pedang itu dengan kuat. Memang terkejut karena dengan mudahnya menangkap pedang miliknya. Menggunakan pedang yang tersisa ia layangkan pedang itu dengan cara menusuk. Sangat cepat untuk menusuk jantung Onoki. Tapi tangan batu yang lebih besar langsung datang dan menjadi perisai. Yuki tak mengira jika orang kekar ini sudah berada didekat kakek ini untuk menjadi perisai.
Mengambil kedua pedangnya rasanya percuma. Satu tergenggam dengan kuat sementara satunya lagi menusuk cukup dalam pada lengan batu itu. Dengan cepat Yuki langsung melompat mundur menghindari sebuah sabetan dari udara. Kurotsuchi datang untuk melakukan serangan penghabisan. Namun ia harus tersenyum kecut karena orang ini dengan mudah menghindarinya.
Berdiri dengan tenang, wajah dingin itu melihat mereka bertiga yang sangat kompak untuk membunuhnya. Terlihat adanya keringat kecil mengalir dipelipis mereka. Serangan tersebut cukup memakai tenaga untuk dilakukan. Berbeda dengannya. Tak ada satupun keringat yang mengalir dan adanya rasa lelah dari setiap serangan dan gerakan menghidar yang ia lakukan. Sementara mereka bertiga, walau tak tampak tapi terlihat adanya rasa lelah.
"Sudahlah kita hentikan pertarungan ini. Jika terus berlanjut hanya akan memakan waktu lama untuk melihat siapa yang berdiri diakhir. Aku tak mau itu. Bahkan situasi terburuknya kalian bertiga yang akan mati. Bagaimana, apa kalian ingin menolak tawaranku lagi?".
Mendengar ucapan datar di wajah dinginnya. Raut kekesalan bisa terlihat dari mereka bertiga. Kesal rasanya diremehkan olehnya. Seenaknya berkata untuk menghentikan pertarungan ini. Harga diri mereka sebagai seorang Shinobi tak ingin menerima itu. Apalagi Onoki, sebagai seorang Tsuchikage dari Iwagakure tak akan menghentikan pertarungan ini sampai lawan didepannya menyerah, atau kemungkinan terburuk mati. Lagipula sosok didepannya ini tak bisa dilepaskan begitu saja.
"Seperti yang sudah kubilang. Kami akan mengalahkanmu bahkan jika perlu membunuhmu sekarang juga. Apa kau berpikir kami akan berkata iya dan menuruti kemauanmu. Kami semua sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi".
Tak ada keraguan dari setiap perkataanya. Bahkan terbesit amarah yang begitu kuat.
"Hoi bocah jangan sombong karena kau bisa mengimbangi kami. Serangan selanjutnya akan kami buat darah menetes hingga akhir dari tubuhmu. Camkan itu!".
Kurotsuchi seakan meledek dengan keras pada sosok itu. Hitung-hitung membalas ucapannya yang telah meremehkan mereka. Bahkan untuk seorang wanita nampaknya agak mengejutkan mengetahui Kurotsuchi bersikap seperti itu.
Mendengar penolakan yang keras itu serta nada ejekkan dari wanita ini. Yuki hanya menanggapi itu semua dengan wajah dingin. Tawarannya kembali ditolak mentah-mentah. Ia merasa enggan untuk melanjutkan pertarungan ini. Bahkan jika harus lari, itu pasti akan sulit. Walau ia bisa menggunakan jalur udara untuk kabur kemungkinan besar mereka akan tetap mengejarnya. Kakek tua itu mempunyai kemampuan yang sama dengannya. Pertarungan pasti akan terus berlanjut dimana langit yang akan menjadi arenanya.
"Begitu ya. Tak pilihan lain. Kalau begitu aku harus menghentikan kalian semua disini".
Menyilangkan kedua tangannya setinggi dada. Tangan itu kembali berubah menjadi sepasang cakar yang sangat tajam. Terkena sabetannya cukup untuk merobek daging sampai ketulang. Merasa musuh mulai serius mereka bertiga kembali memasang sikap bertarung. Kali berbeda. Dia tidak menggunakan pedang melainkan tangannya sendiri sebagai senjata.
"Kalian berdua cobalah untuk membuatnya sibuk dan lengah. Aku akan langsung menghabisinya dengan Jutsuku. Menangkapnya hidup-hidup memang tak memungkinkan. Jika tak bisa maka eksekusi ditempat adalah pilihannya".
Mengerti dengan apa yang diperintahkan, Kurotsuchi dan Kitsuchi mengangguk paham. Membuatnya sibuk dan lengah bisa dilakukan. Mereka berdua tahu apa yang akan dilancarkan oleh Tsuchikage mereka untuk membunuh orang ini. Salah satu kemampuan terkuat dari Tsuchikage ketiga, Jinton. Mereka juga tahu kapan disaat yang tepat untuk menghindar agar tak terkena efek jutsu itu.
Yuki tahu mereka sedang merencanakan sesuatu untuk kembali melawannya. Apa mereka akan menyerang kembali secara bersama atau membagi diri mereka menjadi tiga. Lagipula serang tiga arah bisa saja membuatnya sibuk untuk menahan setiap serangan yang dilancarkan. Jika itu yang akan terjadi ia harus memikirkan cara untuk bisa menangai 3 orang ini. Ia tahu itu tak akan mudah karena mereka ini berada dilevel yang berbeda.
Kembali maju untuk menyerang namun prediksi Yuki sepertinya meleset. Hanya 2 orang yang maju. Melihat itu dengan cepat ia juga maju untuk menghentikan mereka. Sedikit mencengkram tangannya untuk memberi efek takut pada musuh, namun sepertinya itu tak bekerja. Karena hanya mereka berdua yang maju ia tak boleh melupakan satu orang lagi yang menjadi otak dalam rencana ini. Kakek tua itu pasti akan melakukan sesuatu padanya.
Kali mereka berdua menyerang secara berbarengan. Sayatan pedang dan pukulan tangan batu saling berganti satu sama lain. Menghidari pukulan dan menahan sayatan dari pedang. Tak lupa ia membalas kembali dengan cakar es miliknya. Tak disangka ini menjadi sulit. Siapa sangka kombinasi mereka bisa selaras. Jika ia telat sedikit saja ia bisa terkena pukulan yang sangat menyakitkan. Walau bisa menghindari pukulan itu, ia juga harus menghidari serangan dari sayatan pedang wanita ini. Serangan miliknya juga tak memberikan efek yang berarti. Mengumpulkan tenaga untuk melakukan serangan lebih dalam. Serangan itu akhirnya hanya mengenai tangan batu itu, meninggakan goresan cukup dalam. Ia tersudut. Serangan mereka mulai mendominasi. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk serangan mereka mengenai tubuhnya.
Direksi miliknya beralih pada kakek tua dibelakang mereka. Kakek tua itu terlihat sedang melakukan sesuatu. Seperti mengumpulkan energi atau apalah. Jika itu benar dia akan menggunakan sebuah serangan untuk mengakhiri pertarungan ini dengan kekalahannya. Itu tak boleh terjadi.
Dengan gerakannya yang begitu lincah, menghindari serangan berupa pukulan itu dengan melompati tubuh besar miliknya. Sadar akan musuh yang mencoba menyerang dari belakang, Kitsuchi dan Kurotsuchi langsung bertindak untuk menghalau serangan yang akan terjadi. Namun prediksi mereka kurang tepat. Karena targetnya bukan mereka berdua, melainkan sang pemimpin desa yang berad dibelakang. Kecepatannya juga diluar logika, hanya tinggal beberapa jarak lagi sebelum cakar itu menusuk kearah tubuh Onoki. Tentunya mereka tak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Doton: Doryūheki!".
Dinding batu dengan cepat muncul untuk menghalau serangan berupa tusukan, membuat tangan itu menembus tembok. Ia tak terlalu terkejut dengan apa yang terjadi. Karena ia yakin mereka berdua tak akan membiarkan dirinya sedikitpun menyentuh Kakek ini. Mencoba menarik tangannya keluar, sedikit sulit. Perlu tenaga yang cukup untuk menarik tangannya keluar. Tapi sebelum itu ia perlu menghidari sebuah serangan. Tanpa menengok untuk melihat apa yang terjadi, tubuhnya reflek menghindar kekiri membuat sayatan secara vertikal itu kembali menebas ruang kosong.
"Dihindari?! Bagaimana bisa?! Bahkan tanpa melihat sedikitpun".
Keterkejutkan Kurotsuchi harus dibayar dengan sebuah tendangan yang keras yang terarah menuju perut. Membuatnya terlempar cukup jauh dari jarak Yuki. Dengan kuat Yuki langsung mencabut tangan kirinya yang menembus dinding batu ini dan langsung menghindar dari pukulan Kitsuchi.
Kurotsuchi sedikit terbatuk ketika tendangan itu berhasil mengenainya. Memegangi perutnya yang sakit dari tendangan Yuki dan sedikit meringis menahan rasa sakit. Bagaimana bisa seharusnya orang itu sudah terbelah menjadi dua, tapi ia menghindarinya dengan mudah seolah tahu jika dirinya akan menyerang. Apa pandangannya memang luas? Jika iya maka serangan seperti itu tak akan pernah berhasil.
Kitsuchi dengan tangan batunya mencoba untuk mengungguli lawannya. Pukulannya serasa tak berarti dimana dia menghindarinya dengan mudah. Bukan hanya itu cakar miliknya juga dengan kuat bisa membuat luka pada tangan batunya. Walau tak memberi efek tapi lama-lama cakar itu pasti akan merobek dagingnya. Walau dengan muda dihindari, Kitsuchi tak pantang menyerah untuk bisa mendaratkan pukulannya pada orang ini. Memanfaatkan momen yang bagus, ia pertaruhkan serangannya ini dengan pukulan dari atas. Dengan tenaga yang kuat ia yakin siapapun yang terkena pukulan ini akan hancur berkeping-keping. Ingin berkata berhasil dimana musuhnya tak ada niatan untuk menghindari. Tapi orang ini malah membuatnya tak bisa berkata apa-apa.
Booom!
Sedikit ledakan kejut tercipta. Tak kala tangan es milik Yuki menahan pukulan dari tangan batu Kitsuchi. Tak mungkin!. Bagaiman bisa tubuh kecil itu menahan pukulannya. Kitsuchi yakin ia menaruh semua tenaganya untuk pukulan ini. Menahannya langsung dengan anggota tubuh sama saja dengan bunuh diri. Tapi orang ini, bahkan tatapannya yang tak menunjukkan ekpresi apapun. Seakan pukulannya tak lebih dari pukulan orang biasa. Sial!. Pria ini kuat sekali.
Belum sampai disitu. Perlahan es mulai merambat membekukan tangan batunya. Melihat ini dengan cepat ia mencabut lengannya dari tangan batu itu. Jika dibiarkan ia akan membeku bersama tangan batunya. Tidak sampai 3 detik tangan batu itu telah berubah sepenuhnya menjadi bongkahan es. Kitsuchi bisa melihat bagaimana orang itu menghancurkan batu yang telah berubah menjadi bongkahan es tanpa kesulitan. Ekspresi dinginnya berkata kalau ini hanyalah perkara kecil.
"Doton: Doryūsō!".
Kurotsuchi tak ingin diam saja merenungi luka yang ia terima. Dengan sebuah Jutsu miliknya, menempelkan telapak tangannya pada hamparan tanah untuk mengeksekusi Jutsunya. Dari dalam tanah muncul tombak runcing berukuran besar. Tombak-tombak itu dengan ganasnya menusuk kearah Yuki. Melihat ini tentunya ia tak tinggal diam. Menghindari tusukan tombak tanah ini dan memotongnya dengan cakar miliknya. Jutsu ini cukup hebat ia harus mengambil jarak untuk keluar dari jangkaun tombak ini. Tentunya tombak tanah ini tak ingin melepasnya. Walau berpindah tempat tombak ini tetap saja muncul untuk menusuk tubuhnya.
"Kitsuchi minggirlah!".
Tak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang berteriak padanya. Kitsuchi tanpa protes apapun langsung pergi dari tempatnya berpijak. Onoki muncul kembali dengan Jutsu melayangnya. Ia terlihat menempelakan kedua telapak tangannya dimana adanya pancaran putih disana. Mendengar teriakan direksinya tertuju pada kakek tua itu. Yuki tak tahu pancaran cahaya apa itu dikedua telapak tangannya. Namun entah kenapa sesuatu yang buruk akan segera terjadi. Sedikit lengah, dengan gerakan lambat ia melihat 4 buah tombak yang akan menusuknya. Belum lagi kakek tua itu akan mulai melancarkan serangan miliknya dilihat dari cahaya dikedua tangannya yang makin membesar. Berpikir dengan cepat, Yuki harus menemukan celah sekecil apapun untuk keluar dari serangan tombak ini. Seakan tak ada celah, Yuki melihat sebuah sinar terang berwarna putih yang membesar tertuju kearahnya. Ini buruk.
"Jinton: Genkai Hakuri no Jutsu!".
Berteriak mengeksekusi Jutsu. Sinar putih berbentuk kerucut langsung melesat dengan kecepatan bak cahaya. Sinar itu langsung menabrak apa saja didepannya tanpa terkecuali. Serangan itu sangat jauh bahkan menghancurkan beberapa gundukkan tanah yang ada dibelakangnya. Setelah mereda bisa terlihat bekas serangan itu yang mana tanah seakan terkikis dengan rapi. Bagai sebuah sungai yang baru saja tercipta. Namun mereka bertiga yang melihat serangan ini hanya tersenyum kecut. Pasalnya Yuki berhasil menghindar sepesekian detik sebelum serangan itu mengenai seluruh tubuhnya. Sayang bagi Yuki, dimana tangan kirinya menjadi korban serangan itu. Melihat bekas serangan yang begitu besar, syukurlah ia cepat menghindar.
"Tehnik yang sangat hebat. Mengeluarkan semacam sinar putih yang mana dapat mengikis suatu benda ke tingkat partikel. Syukurlah aku hanya kehilangan tangan kiriku. Sedetik saja telat menghindar, aku harus merelakan tubuhku berubah menjadi partikel atom".
Yuki memuji seranga Onoki yang mana dapat meleburkan benda hingga ke partikel terkecil. Serangan itu berhasil mengenai tangan kirinya, namun wajah miliknya tak menunjukkan ekspresi kesakitan. Hanya memandang dengan datar seolah tangan yang hilang itu bukanlah apa-apa.
'Jika ini terus berlanjut hanya akan membuang waktu lebih lama lagi. Si kakek itu, siapa sangka dia mempunyai sebuah tehnik mengerikan seperti itu. Dia menyebut tehnik itu Jinton, secara harpiah berarti elemen debu. Kemenanganku tidak terjamin dalam pertarungan ini. Saatnya melarikan diri'.
Menganalisa kemampuan mereka, terutama si kakek. Mereka semua ini masih menahan diri untuk tidak bertarung sampai menguras tenaga. Menyimpan kartu as mereka dan hanya akan menggunakannya disaat tertentu saja, contoh nyatanya kakek itu. Yuki bisa menebak pasti masih banyak tehnik yang belum mereka perlihatkan padanya dan itu berlaku untuknya. Karena pertarungan ini belum memanas sampai mau mengeluarkan tehnik yang kuat. Tapi itu akan terjadi dengan berlanjutnya pertarungan ini.
Menggunakan tangan kanannya, Yuki dengan cepat menapakan telapak tangannya menuju hamparan tanah dan berucap untuk mengeksekusi salah satu dari lusinan tehniknya.
"Hyoketsu Domu!".
Terkejut melihat Yuki yang merapal serangan, sebuah kubah es berukuran raksasa mengurung mereka bertiga. Hanya beberapa detik saja, es tebal langsung langsung tercipta. Layaknya mangkuk raksasa yang tercipta dari dua sisi dan bertemu satu sama lain. Menutup setiap jalan keluar tanpa celah. Ini miri sekali dengan Jutsu pertahan elemen tanah milik mereka. Belum lagi tanpa adanya segel, hanya berucap dan es seketika langsung tercipta. Apa-apaan orang itu! Ninjutsu miliknya berada pada level tinggi.
Menahan diri untuk tidak terkejut. Onoki kembali merapal segel tangan untuk mengeluarkan Jutsu andalannya. Sinar putih kembali tercipta ditelapak tangannya dan langsung menyerang untuk melenyapkan dinding es ini. Seketika lubang besar tercipta didepan mereka tak kala sinar putih berbentuk lingkaran sempurna menabrak es ini. Cahaya mereda mereka semua dengan cepat keluar dari es ini untuk kembali bertarung.
Sayang sekali apa yang mereka dapat hanyalah keheningan semata. Musuh telah pergi sesaat dia menciptakan kubah penjara es. Melihat sekeliling dan mencoba meraskan pancaran Cakra miliknya. Hasilnya nihil. Orang itu telah pergi jauh. Tangan kecil Onoki terkepal kuat karena gagal untuk membunuh orang itu.
"Sial!. Dia berhasil melarikan diri. Bahkan serangan terkuatku saja ia masih bisa bertahan. Jika saja aku cepat bertindak untuk tak terperangkap es sialan ini. Aku pasti bisa mengejarnya".
Merutuki kesalahannya sebagai seorang Tsuchikage karena melepaskan seorang kriminal dengan mudah. Ini salahnya karena ia bisa terperangkap dengan tehnik orang itu.
"Tsuchikage-sama mengenai orang itu beserta kemampuannya. Aku rasa dia masih menahan diri dalam mengeluarkan kemampuannya. Tak adanya segel tangan dan dengan mudah menciptakan serangan dengan jangkauan selebar ini. Aku ragu menyebutnya sebagai seorang Shinobi. Bahkan Shinobi bergelar Kage sekalipun membutuhkan setidaknya satu segel tangan".
Analisa Kitsuchi mengenai orang tadi. Menciptakan pedang es, tangan yang menjadi cakar es serta kubah es berukuran raksasa. Jika dia mempunyai elemen gabungan air dan angin itu bisa dimengerti. Tapi pengguna Hyoton untuk bisa mengluarkan Jutsu mereka ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi. Yang paling umum adalah kelembapan daerah sekitar. Mengingat daerah ini yang bisa dikatakan tandus dan hanya sedikit adanya kelembapan. Bukannya tak mungkin untuk bisa menggunakan Hyoton, hanya saja efek yang dikeluarkan mungkin agak rendah. Tapi dengan skala sebesar ini, Kitsuchi menjadi cemas akan lawan yang ia hadapi tadi.
"Bukan hanya itu saja, kakek. Saat aku akan menebasnya menjadi dua, ia dengan mudah menghindar seolah tahu aku akan menyerangnnya. Seharusnya itu adalah titik buta dimana musuh tak akan bisa bereaksi dengan cepat. Entah memang instingnya yang kuat atau penglihatannya memang luas. Dan serangan terakhir miliknya, jujur aku terkejut".
pendapat Kurotsuchi dan Kitsuchi memang benar. Onoki tak membantah apa yang mereka katakan mengenai musuh. Analisa mereka yang menyebut musuh kuat memang benar. Kemampuan bertarungnya serta tehnik yang dimiliknya. Rasanya munafik jika menyebut orang itu lemah dan pengecut karena melarikan diri.
"Aku merasa desa kita, tidak lebih tepatnya seluruh negara Shinobi berada dalam bahaya. Dia bagaikan malapetaka hidup yang mengambil mahluk bernyawa tanpa ampun. Pantas baginya mendapat julukan yang begitu mengerikan, Kuroyuki no Shinigami. Kalian berdua saat sampai di desa peringatkan semua para Shinobi dan penduduk kita untuk berhati-hati. Jika salju hitam turun didesa kita, kerahkan semua pasukan untuk menghentikan malapetaka yang akan menimpa desa kita. Ingat itu baik-baik".
"Ha'i. Tsuchikage-sama".
Jawab mereka berbarengan. Jika sang pemimpin desa bisa bersikap seperti ini karena orang itu. Sudah pasti bahaya akan menimpa desa mereka jika tak ada penanganan. Jika memang suatu saat itu terjadi, mereka takut jika desa Iwa mejadi medan peperangan.
"Tapi sebelum itu kita akan pergi kedesa permata untuk memastikan apa dia berada disana atau tidak".
Mengangguk setuju dengan apa yang diperintahkan. Mereka bertiga akhirnya pergi menuju desa permata menggunakan jalur udara. Memastikan jika keberadaan pria itu tak ada disana.
Dengan Yuki
Saat ini ia tengah berada di langit dengan kemampuan terbangnya. Setelah mengurung mereka dengan kubah es ciptaanya, Yuki langsung kabur saat itu juga. Untuk menghindari musuh yang akan mengejarnya karena mempunyai kemampuan yang sama, Yuki menggunakan tehnik tembus pandang. Menyalurkan energi miliknya ke seluruh anggota tubuh hingga membuatnya menjadi kasat mata.
Merasa jarak yang sudah jauh, Yuki langsung membatalkan tehniknya. Perlahan tubuhnya kembali terlihat dimana cahaya biru yang didominasi warna putih mulai menyebar dari seluruh tubuh, membuatnya kembali terlihat.
"Ini pertama kalinya aku kehilangan anggota badanku dalam sebuah pertarungan. Aku tak menyangka jika didunia ini ada seseorang dengan kemampuan seperti itu. Yah lagipula ini bukanlah masalah besar".
Perlahan dari tanganya yang telah tiada muncul sebuah gumpalan berwarna biru putih. Gumpalan itu kemudian membentuk replica sebuah tangan. Hingga tak lama tangan berwarna putih tanpa noda kembali tercipta. Seolah tangannya yang putus tidak pernah terjadi. Ia perlahan menggerakan tangan itu secara asal untuk mendapatkan sedikit rangsangan dari tangannya. Pemandangan yang mengejutkan, dengan kemampuannya ini sebuah luka seakan tak berarti untuknya.
"Menuju desa permata nampaknya tak mungkin. Mereka bertiga pasti pergi kesana untuk memastikan keberadaanku. Untuk keamananku mencari ketempat lain adalah pilihan yang bijak".
Sepasang sayap itu dengan cepat membawa Yuki melintasi angkasa. Membawa tubuh yang terbalut kain serba hitam itu sesuai kehendak. Derasnya angin yang berhembus kencang diwajahnya, ia hiraukan. Tak ingin melewatkan setiap kesempatan dimana orang yang ia cari akan muncul.
"Aku pasti akan menemukanmu…."
….
…
..
.
…Kanase…
TBC
